THE SECRET II (Temptation of Island — Part 12)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 12

Hujan  di pulau, serasa lain bagi Kwang hari ini. Pria ini duduk di dekat jendela, mengamati suasana luar yang berkabut, sementara itu Chamille kerepotan menenangkan tangis bayi mereka. Chamille sudah mengganti kain popoknya, bahkan sudah menyusuinya, tapi bayi itu masih saja menangis. Sempat kawatir, dipegangnya kening sang bayi, tidak demam. Putus asa, dia mencoba menyusuinya lagi, bayi itu menolak menyesap asinya, malahan semakin memperkeras tangisannya. Tangisan yang mampu mengalahkan suara deras hujan di luar dan membuat sang Ayah menoleh.

Kwang berjalan ke arah Ibu dan bayinya itu lalu duduk bersila di depannya. “Kenapa dia?”

Chamille menggeleng. Dia masih berusaha menenangkan bayi itu dengan menepuk-nepuk pantatnya. “Entahlah, dia sudah sangat kenyang. Suhu tubuhnya normal. Aku juga tidak tahu kenapa,” terdengar nada penyesalan di suara Chamille. Tak terasa matanya perih, merasa gagal menjadi Ibu dan menangis.

“Berikan dia padaku,” Kwang menyodorkan kedua tangannya. Chamille menatapnya ragu. Dia menggerakkan kedua tangannya lebih mendekat, Chamille pun perlahan mengulurkan sang bayi, meletakkannya dengan penuh kelembutan di gendongan Kwang.

Bayi itu masih menangis. Kwang mendekatkan bibirnya di telinga sang bayi, menyanyikan lagu rakyat lembut sambil menepuk-nepuk pantatnya. Perlahan, tangisan sang bayi semakin lirih, hingga terhenti dan tinggal satu-dua isakan kecil. Bayi itu menatap tepat di wajah Kwang dengan mata bening yang masih menyisakan air mata. Kwang terpesona kembali dengan bayinya.

Chamille menggeser duduknya hingga mendekati mereka. Senyuman tersungging di bibirnya dan dia meminta bayinya kembali. “Dia sudah tenang, berikan lagi padaku.”

Kwang semakin mempererat gendongannya. “Tidak, dia pasti menangis lagi kalau kau gendong.”

“Kang! Aku Ibunya.”

“Tapi kau tidak bisa menenangkannya.”

Chamille bersedekap, membuang muka dengan sewot. Kwang tidak menghiraukannya. Pria ini tetap menyanyikan lagu rakyat di telinga putranya. Chamille merasa dianak-tirikan. Dia berbaring di tempat tidur, menyelimuti tubuh sampai kepala secara kasar.

“Hai, kau kenapa?” Agak geli Kwang menanyakan itu. Tidak ada respon, Chamille benar-benar ngambek. Kwang mencium kening putranya. “Ibu ngambek, Il Hwan.”

Di balik selimut, telinga Chamille berjengit mendengar panggilan itu. Il Hwan?

Chamille bangun dan membuka selimut yang menutupi wajahnya. “Kau panggil siapa dia tadi?”

“Il Hwan,” Kwang menyebutkan nama itu tepat di telinga bayinya.

“Ya, siapa yang menyuruhmu memberi nama Korea!”

“Aku ayahnya. Aku orang Korea. Aku ingin dia bernama seperti itu. Il Hwan, tulus dan bersinar. Iya  kan, Sayang.” Kwang menepuk-nepuk lagi pantat Il Hwan.

“Aduh,” Chamille menggelengkan kepala,”Menyebut namamu saja susahnya minta ampun. Dia harus punya nama barat. Aku akan memberikan nama kakeknya padanya. Ya, namanya Anthoine… Anthoine Shin.”

“Tidak bisa!” Kwang menggeleng tegas.”Namanya Shin Il Hwan. Shin nama margaku, artinya kepercayaan. Il Hwan, tulus dan bersinar. Aku berharap dia bisa menjadi orang yang terpercaya, tulus dan dengan masa depan yang bersinar. Anthoine Shin terdengar seperti berarti….,” Kwang berhenti sebentar untuk berpikir “ ‘Anthoine yang pemalu’. Cih!” Kwang mencibir.

Masih dalam posisi duduk, Chamille berkacak pinggang. “Kau menghina nama ayahku?”

“Tidak! Hanya saja kata ‘Shin’ terdengar seperti ‘Sin’ kalau kamu yang mengucapkan, apalagi ditambah nama Anthoine di depannya. Anthoine yang pemalu atau Anthoine yang berdosa.”

“Hah!” Mata Chamille terbelalak lebar, dengan mengatur emosi, dia berargumen. “Itu karena nama Korea susah di sebut! Makanya jangan memberinya nama Korea!”

“Ayahnya orang Korea, jadi dia harus bernama Halyu. Lihat, bagaimana dia tenang kalau aku memanggilnya begitu,” lalu Kwang menimang bayinya lagi. “Il Hwan…, tidurlah, Il Hwan.. .”

Kwang benar, mata bayi itu semakin meredup, seolah menyetujui nama itu melekat padanya. Chamille mendengus lalu berbaring kembali. Kwang tersenyum geli melihatnya. Semakin lama dia tidak tega. Ditidurkannya Il Hwan di samping Chamille. Bayi itu membuka mata, merengek sebentar sebelum Kwang mengelus-elus lembut keningnya. Chamille memandang wajah Kwang. IL Hwan tertidur lagi, pandangan Chamille beralih pada Il Hwan.

“Mulai sekarang…,” Kwang berkata lembut pada Chamille masih dengan mengelus kening Il Hwan. “Kau harus lebih bisa mengucapkan namanya dengan benar. Ayo, coba ucapkan namanya, Chamille! Shin … .”

“Sin.”

Kwang membimbing Chamille. Masih terdengar seperti ‘Sin’, Kwang mengulanginya lagi. “Shin!”

“Sin!”

Kwang memutar bola matanya. Lupakan tentang Shin, yang penting bagaimana Chamille mengucapkan nama bayinya. “Il…,” Kwang membimbing lagi.

“Ill.”

Gubrak! Kenapa terdengar seperti ‘Ill’?

“Il, Sayang. Il dengan satu huruf L bukan dua huruf L!”

“Tuh, kan… artinya jadi buruk kalau diucapkan dalam bahasa Inggris,” Chamille terkikik. Kwang mendelik. Chamille membungkam mulut dengan tangan untuk menghentikan tawanya.

“Oke.. oke … ‘Ill’ !” Chamille sudah berusaha mengucapkan kata itu dengan benar tapi tetap saja terdengar seperti ‘Ill’. Kwang menggeleng.

“Ill?”

Kwang masih menggeleng.

Chamille berdehem lagi dengan menutup mata, dia berucap, “Il?” Chamille membuka matanya perlahan demi melihat reaksi Kwang. Suaminya tersenyum sekarang. “Sudah benar?”

Kwang mengangguk.

“Sekarang, nama belakangnya. Hwan!”

 “Hwan!”

Senyum Kwang semakin lebar. “Shin Il Hwan!” Kwang menyuruh Chamille mengulang nama putranya secara keseluruhan.

“Sin Ill Hwan!”

Gubrak!

Dosa dan sakit? Oh, No!

“Shin… Il… Hwan,” ulang Kwang perlahan-lahan.

“Shin… Ill…,” mimik wajah Kwang berubah kecewa, Chamille mengulangi lagi ucapannya. Kali ini lebih hati-hati. “Shin… Il…,” dan melihat senyuman Kwang, Chamille meneruskan bicaranya, “…Hwan.”

“Iya,” Kwang mengangguk. “Shin Il Hwan.”

“Shin Il Hwan,” Chamille menyebutkan nama itu lagi di dekat telinga sang bayi lalu mengecup pipinya.

“Nama putramu adalah Shin Il Hwan. Dan nama suamimu adalah Shin Hyun Kwang. Ingatlah itu, Sayang,” Kwang mencium kening Chamille. Chamille teringat pada Ibu dan Ayahnya. Dulu, sering kali Ayahnya juga mengatakan hal itu pada Ibunya. Seolah-olah Ibunya akan melupakan semua itu esok hari. “Nama putramu adalah Jonathan Louis d’Varney. Putrimu adalah Chamille Louis d’Varney  dan nama Suamimu adalah Anthoine Louis d’ Varney. Ingatlah itu, Sayang.”

Mata Chamille mengerjap. Dia semakin ingat kalau Ibunya adalah mantan pasien sang Ayah. Anthoine pernah bercerita kalau Charlie mempunyai memory yang buruk. Karena kenakalannya, Chamille bahkan bisa memasuki ruang rahasia Anthoine tanpa diketahui oleh Ayahnya itu. di ruangan itu tersimpan dokumen, tentang siapa sang Ibu dan apa yang dilakukan Ayahnya sebagai dokter.

“Kang,” Sebelum wajah Kang menjauh, Chamille menangkup kedua belah pipi Kwang. “Kenapa kau berkata begitu? Seolah aku akan melupakanmu?”

“Aku? Aku tidak bermaksud seperti itu?” Kwang menggedikkan pundaknya.

“Kang…, kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan ayahku.”

Masih dengan kedua telapak tangan Chamille yang menempel di kedua belah pipinya, alis Kwang menaik. “Memangnya apa yang bisa dia lakukan?”

Chamille semakin sedih memikirkan kemungkinan itu. Tapi dia merasa tidak baik jika membeberkan rahasia keluarganya pada Kwang. Hanya saja… entahlah… jika Anthoine melakukan hal itu lagi untuk memisahkan mereka. Melakukan padanya atau mungkin pada Kwang…, pada Kang? Chamille merasa kalau dia perlu mengatakan ini pada Kwang, “Nama putramu adalah Shin Il Hwan. Dan nama istrimu adalah Chamille Louis d’ Varney. Ingatlah itu, Kang.”

Mata Chamille berkaca-kaca. Dia bangun dan memeluk Kwang erat-erat. “Ingatlah itu… Ingatlah selalu,” Chamille berucap diantara senggukan tangisnya. Kwang bingung, namun saat ini, dia hanya bisa mengelus rambut istrinya, menenangkannya.

“Ingatlah selalu, Kang… Ingatlah selalu.”

—oOo—

Hujan hampir reda saat kapal motor Bouwens 117 yang dikomandoi Jin He hampir mendekati pulau. Ombak sangat tidak bersahabat, sementara Bill memperkirakan kalau pantai terlalu landai, dipagari karang-karang  untuk bisa mendarat.

“Kita harus berhenti atau kapal ini hancur menabrak pulau. Bukannya mencari orang terdampar, kitanya malah yang terdampar,” keluh Yun So.

 Sekali lagi Jin He mengarahkan teropongnya ke pulau. Ada ketidaksabaran di benaknya untuk segera sampai, dia yakin Chamille d’Varney ada di situ. Entah dari mana munculnya keyakinan itu. “Berhentika kapal. Turunkan sekoci,” katanya pada dua orang  anak buah dengan dua perintah yang berbeda. Mereka segera melaksanakan perintahnya.

“Apa?” Yun So kelihatan tidak setuju dengan pikiran Jin He.

Sambil membenahi perlengkapan yang melekat di tubuhnya, sekali lagi Jin He memerintah,“Kalian menjaga kapal. Pastikan kontak tetap terjaga dengan komando di darat. Aku akan ke pulau itu dengan sekoci.”

Yun So semakin kaget. “Kau gila! Kau kapten di sini! Bagaimana kalau di pulau itu ada suku kanibal, dan… .”

“Kau terlalu banyak menonton film bajak laut,” potong Jin He sambil meloncat ke sekoci.

“Tunggu! Aku ikut!” Yun So mengikuti Jin He melompat ke sekoci setelah mengulangi perintah Jin He pada para anak buah, “Jaga kapal!”

Jin He mendiamkan keputusan Yun So walau pun dalam hatinya tidak setuju. Dia malas berdebat dengan Yun So saat ini. Semakin tak sabar rasanya menjelajah pulau itu. Mereka mendayung membelah gelombang yang mengombang-ambingkan sekoci, melawan angin yang seolah melarang untuk mendekati pulau. Hingga saat sekoci masih tiga puluh langkah menuju dataran, Jin He tiba-tiba meloncat.

“Hai!” Yun So yang mendayung di belakangnya berteriak kaget. Jin He berenang menuju daratan saking tidak sabarnya dan Yun So hanya bisa pasrah mendayung sendirian. “Damn! Jika kau mati, aku akan mengutukmu!” ancam Yun So.

Namun Yun So lega saat melihat kemunculan Jin He dari air. Jin He terlihat berlari, dengan air masih menggenang sampai pahanya. Sekuat tenaga, dia melawan dan saat sampai di daratan, dia meloncat girang, bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

Yun So menyusul dengan sekocinya kemudian. Jin He sudah mulai mengamati keadaan pantai, tanpa memperdulikan Yun So yang kerepotan merapatkan sekoci. “Dasar! Huft!” Yun So mendengus. Sekoci itu terasa berat ditarik dengan tali tambang menuju darat.

Ketika melihat bendera yang terbuat dari ranting dan janur kering, apalagi susunan bendera itu yang berbaris membentuk huruf SOS, Jin He semakin yakin kalau ada orang yang terdampar di sini. “Isyarat yang tepat!” pikir Jin He.

“Fuh!” Selesai sudah, Yun So menarik sekoci ke daratan yang agak jauh dari pantai, dia juga sudah memastikan kalau ombak tidak bakal menyeret sekoci ke lautan. Tingkah Yun So tidak diperhatikan oleh Jin He, pria itu mendekati bendera-bendera yang berjajar, mengelusnya. Yun So berkacak pinggang melihat sahabatnya dan juga bendera itu, hingga mampu menyimpulkan jalan pikiran Jin He.

“Kau pikir Chamille Louis d’Varney bisa memikirkan hal seperti itu?” tanya Yun So.

“Entahlah,” Jin He menoleh pada Yun So.”Setidaknya ada orang lain yang terdampar, kalau pun itu bukan Chamille d’ Varney.”

Yun  So mendengus kesal. “Kalau itu bukan Chamille, apa gunanya?”

“Ssshhh! Diam kau!”

Jin He mengamati sekeliling pantai kemudian. “Kita berpencar,” usul Jin He. “Kau ke kanan, aku ke kiri.”

“Untuk apa?”

“Bodoh!” kata Jin He sambil memukul kepala Yun So. Yang dipukul meringis kesakitan. “Tentu saja mengelilingi pulau.”

Dan anehnya, nyali Yun So langsung mengkerut, “Tidak! Aku tetap di belakangmu!”

Mata Jin He bergerak sebal. Sebenarnya Yun So bukanlah pelaut, bisa dibilang dia pecundang yang mengikuti pelayaran untuk menghindari para preman yang menagih hutangnya kepada rentenir. Jin He mencabut pisau kecil yang terselib di pinggangnya. Dia harus berjaga-jaga. Angin masih sangat kencang menerbangkan pasir-pasir di sekitar mereka saat mengelilingi pantai. Jin He berjalan di muka, menantang angin, dan Yun So mengekor bagaikan anjing pudel yang setia.

“Aku rasa, kita harus memasuki hutan.” Puas dengan pantai, Jin He mengutarakan niatannya pada Yun So. “Kita tidak akan menemukan apa-apa jika tetap di sini. Orang itu pasti masuk ke hutan untuk bertahan hidup.”

Yun So bergidik mendengar Jin He tapi melihat pisau yang dipegang Jin He, dia yakin kalau Jin He mampu mengantisipasi bahaya yang ada. Termasuk bahaya binatang buas atau suku kanibal yang menghantui Yun So. “Terserah, kau yang kapten.”

 Jin He mendengus. Dia mulai melangkah mendekati hutan. Yun So berjalan semakin mendempet Jin He, bahkan tangannya memegangi pundak Jin He sehingga sang kapten merasa bagaikan membimbing anak kecil memasuki wahana  goa hantu. “Ya! Jauhkan tanganmu dari pundakku!” Jin He menggedikkan bahunya untuk menghalau tangan Yun So.

Rimbun pepohonan menyapa penglihatan mereka kemudian. Suasana berkabut, mereka semakin tenggelam dalam hutan dan anehnya hujan mereda. Bau tanah berhumus tercium, segera melenakan mereka. Bahkan Yun So yang tadinya takut, mulai berani berjalan sendiri. Di antara rimbunnya pepohonan itu, Jin He bisa melihat jalur-jalur yang sering dilewati manusia. Dia jadi berpikir ulang. Dia menyimpulkan kalau mungkin saja pulau ini berpenghuni. Tapi jika memang demikian, kenapa keberadaannya tidak tercantum di atlas dunia? Apa pula maksud tanda bendera di pinggir pantai tadi?

Ada banyak jalur. Jin He bingung mau memilih yang mana. Dia memejamkan mata. Berusaha memilah-milah suara alam di antara suara berisik Yun Ho mengomentari keindahan hutan. Dan sayup-sayup pertanda terdengar. Jin He mengangkat tangannya, lalu memberi isyarat agar Yun So diam dengan menempatkan telunjuk ke mulut. “Ssst…, dengar! Suara air.”

“Ya, belakang kita kan pantai, tentu saja itu suara air.”

Merasa bagai berkomunikasi dengan anak autis, Jin He meninggalkan Yun So menuju sumber suara. Yun So mengikutinya lagi. Dan berakhirlah mereka di air terjun.

“Bukan main!” sorak Yun So. Tanpa pikir panjang lagi, dia terjun ke air.

“Hai!” teriakan yang sia-sia dari Jin He karena Yun So sudah berada di dalam air.

“Ayolah! Ini segar sekali!”

“Bodoh!” cibir Jin He.

Setidaknya mereka menemukan air sebagai persediaan kapal. Begitulah pikir Jin He. Yun So sepertinya sudah tidak ketakutan lagi. Saat menunduk, Jin He melihat bekas telapak kaki. Dia yakin kalau itu bukan telapak kaki mereka, tanda itu adalah tanda telapak kaki telanjang, sedangkan mereka memakai sepatu.

Tanpa menghiraukan Yun So yang masih asyik berenang, ditambah keyakinan kalau sahabatnya sudah merasa nyaman dengan pulau, Jin He mengikuti jejak demi jejak telapak kaki. Keberadaannya semakin jauh dari Yun So.

Jejak itu membimbingnya menuju sebuah pondok. Mata Jin He terbelalak. Konstruksi pondok itu begitu mengagumkan, akar gantung dari pohon, justru memperkokoh keberadaan pondok dengan melilit setiap bingkai bambunya, sementara dinding anyaman janur, semakin mempertegas adanya keberadaan manusia dalam pondok. Sekali lagi Jin He memikirkan maksud tanda bendera SOS, langkahnya semakin mendekati pondok. Lalu berhenti saat melihat bekas perapian tepat di depan pondok. Jin He berjongkok, menyentuh abu perapian itu. Pagi ini rupanya perapian tidak menyala. Mungkin disebabkan hujan deras tadi.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Jin He mendongak, menatap pintu pondok. Dia berdiri, perlahan mendekati pondok. Satu langkah menaiki tangga pondok. Bambu yang dia pijak bergemeretak, menimbulkan suara. Satu langkah lagi dan…

“Kang, itu kau? Il Hwan menangis lagi. Aku tidak tahu kenapa.”

Kening Jin He berkerut. Seorang wanita? Berbahasa Halyu? Hati Jin He diliputi tanda tanya. Tangisan bayi masih terdengar, rupanya wanita itu kerepotan menenangkan bayinya. Apalagi saat pintu pomdok terbuka lebar, dan wanita dengan bayi di pangkuannya itu, mendadak panik melihat kehadiran Jin He yang dianggap orang asing. Wanita itu meringsut mundur, merapat ke pojok dengan mendekap bayinya erat-erat tanpa memperdulikan bayi itu semakin menjerit..

Jin He bisa merasakan kepanikan Ibu di depannya. Dia berjalan perlahan, mendekati wanita itu, tanpa menyadari kalau pisau di tangannya masih teracung. Pisau itulah yang membuat wanita itu ketakutan. “Tenang, Nyonya,” perkataannya sangat absurb, berlawanan dengan tingkahnya yang masih menodongkan pisau tanpa sadar.

“Jangan bergerak!” seorang lelaki, entah kenapa tiba-tiba bisa berada di belakangnya. Sesuatu yang dingin dan runcing sudah menempel di punggungnya.”Percayalah, alat ini lebih tajam dari pisau yang ada di tanganmu,” ancam lelaki itu lagi. Jin He menjatuhkan pisaunya lalu melipat kedua tangan di kepala. Lelaki itu menendang siku kakinya. Jin He terjerembab. Lantai pondok berdetum, anehnya tidak ambrol. Siku lelaki itu segera menekan kepalanya di lantai.

“Kang!” wanita itu berteriak, lega akan kehadiran lelaki itu.

“Tenanglah, Chamille… Pria ini tidak mungkin macam-macam lagi.”

Chamille? Mata Jin He melebar.

“Tu… tunggu!” Susah payah Jin He berkata. “Anda… anda Chamille … Chamille Louis d’ Varney?”

Lelaki yang mengancamnya masih berada di atasnya. Jin He berusaha melihat wanita dengan bayinya yang masih menangis itu walau berat. “Anda putri keluarga d’ Varney?” Jin He berusaha meyakinkan. Bagaimana tidak, penampilan Chamille sekarang ini sangat jauh berbeda dengan foto yang selama ini ada di sakunya. Berantakan, mirip suku primitif. Jin He memicingkan mata, bersikeras melihat mata wanita itu.

Matanya coklat kemerahan!. Ya! Itu Chamille Louis d’ Varney!

Wanita itu memandangnya. Ragu-ragu, lalu memandang lelaki yang menguncinya di lantai. “Apa urusanmu, Pak tua!” kata lelaki itu, semakin menekan kunciannya atas Jin He.

Tapi Jin He pantang menyerah. “Nona d’Varney…,” dia masih bicara dengan nafas sesak. “Saya… saya Han Jin He. Ibu anda… menugasi kami mencari anda.”

Wanita itu memandangnya lagi. “Kang… .” Tangisan sang bayi telah mereda.

“Lalu kenapa kau mengancamnya dengan pisau?” lelaki itu yang bertanya. Jin He menyadari kekeliruannya. Pisau itu ternyata sumber masalahnya. Mereka mengira kalau dia akan membunuh Chamille.

“Saya minta maaf. .. saya tidak sadar kalau… kalau itu membuat … anda takut.” Jin He batuk-batuk. Lengan lelaki yang dipanggil Kang itu semakin mencekik. “Believe me… Charlie d’ Varney said me,’Pleasse.., find my home’, Jin He menirukan perkataan Charlie ketika pertama kali dia menemui wanita itu.

Seakan kata itu adalah kata kunci, Chamille menoleh pada Kwang. “Dia benar, Kang. Ibuku memang mengirimnya.”

“Kau yakin?”

“Iya, Ibuku menganggap suami dan anak-anaknya adalah ‘home’nya.”

Cekikan Kwang pun melonggar. Namun keadaan berbalik kemudian. Seseorang gantian menyerang Kwang dari belakang. Sesaat Kwang-lah yang menggantikan posisi Jin He, telungkup di lantai dengan seseorang mengunci di atasnya.

“Jangan!” Chamille dan Jin He berteriak bersamaan.

“Kau baik-baik saja, Kapten!” lelaki itu menyeringai. Tubuh bahkan bajunya masih basah kuyup akibat berenang tanpa melepas pakaian di sungai, Yun So.

“Kau menyakiti suamiku!” Chamille beringsut mendekati Kwang. Kwang meringis, menghalau rasa sakit. Bayi mereka menangis lagi.

“Lepaskan dia, Yun So!”  Jin He memerintah.

“Tapi… .”

“Aku bilang lepaskan dia!”

Yun So mendengus. Dia melepaskan Kwang walau pun ogah-ogahan. Kwang adalah lawan pertama yang berhasil dia kalahkan, tapi Jin He malah menyuruhnya melepaskan Kwang.

“Kang,” Chamille memeluk Kwang setelah pria itu berhasil duduk. Kwang mengambil alih bayinya menciumi bayi itu hingga tangisannya mereda.

“Maafkan kami, Nona d’Varney,” sesal Jin He.

“Nona d’ Varney?” Yun So sama sekali tidak mempercayai ucapan Jin He. Wanita di depannya, wanita dengan baju seadanya dan lusuh itu Chamille d’ Varney?

“Dia anak buah saya, Kim Yun So.”

Yun So pun mendekati Jin He. “Kau yakin dia Chamille d’ Varney? Penampilannya… .”

“Dia terdampar selama hampir setahun. Kau berharap dia berpenampilan seperti apa? Bergaun pesta?” bisik Jin He jengkel.

“Jadi kau benar-benar ditugasi keluarga d’Varney?” tanya Kwang.

“Secara teknis seperti itu,” Jin He masih menyembunyikan peran serta Brian.

“Kenapa lama sekali?” Chamille gentian bertanya.

“Pulau ini sama sekali tak terdeteksi radar bahkan tak tercantum di peta.”

“Seperti yang kuperkirakan,” kata Kwang. Diangsurkannya Il Hwan ke gendongan Chamille. Bayi itu langsung menyesap putting susu sang Ibu begitu disodorkan. Yun So melihat semua itu dengan mulut menganga lalu memandangi Kwang dan beralih pada Jin He dengan pandangan penuh tanya.

Jin He memberi isyarat  dengan kedipan  mata agar Yun So diam lalu meneruskan percakapannya dengan Kwang. “Ada kapal yang menunggu kita, kira-kira satu kilometer dari pantai. Kami tidak berani terlalu merapat karena ombak begitu besar dan karang-karang yang membatasi pantai.”

“Ya, aku tahu itu,” respon Kwang lalu berdiri, melangkah mendekati Jin He dan Yun So. “Anyway…, namaku Kwang. Shin Hyun Kwang.”

Jin He membalas jabat tangan Kwang. “Saya… seperti yang saya katakan tadi, Han Jin He.”

“Kim Yun So,” Yun So menyodorkan tangannya, memperkenalkan diri. Kwang menyambut jabat tangan itu. “Dia anakmu?” Yun So bertanya tanpa basa-basi, sambil menunjuk bayi di gendongan Chamille.

“Ya, dia putra kami.”

Alis Yun So bertaut, sekali lagi memberikan pandangan penuh tanya pada Jin He. Sama seperti tadi, Jin He tidak mengacuhkannya. “Kita akan berangkat setelah kapal cukup mengumpulkan persediaan. Bisa saya pastikan sore  ini.”

“Lebih cepat, lebih baik,” ujar Kwang.

—oOo—

Chamille dan Kwang memandangi pondok mereka untuk terakhir kali. Jin He memberikan waktu pada mereka untuk mengucapkan perpisahan pada segala hal di pulau ini, sementara dia dan para krunya mengumpulkan persediaan air dan makanan. Hanya tinggal Bill di dalam kapal. Kapal masih di lepas pantai, mereka akan menggunakan sekoci menuju kapal nantinya.

Kenangan demi kenangan terbersit di benak pasangan itu ketika memandangi pondok itu. pondok itu adalah saksi bisu cinta mereka. Mereka bahagia di pondok itu. Bercinta, berdiskusi bahkan bertengkar di dalamnya. Terlebih lagi, Il Hwan, putra mereka terlahir di pondok itu. Chamille terhanyut suasana, tak terasa air mata mengalir. Kwang merangkul Chamille, mencium ubun-ubunnya.

“Kang, suatu saat, akankah ada orang lain yang terdampar di sini, lalu memakai pondok ini?”

Kwang tersenyum.”Entahlah, Chamille. Biarlah pondok ini tetap seperti ini. Mungkin berguna bagi mereka yang terdampar.”

“Iya,” Chamille mengelus pipi Il Hwan, membisikkan sesuatu di telinganya,”Ucapkan selamat tinggal pada pondok kelahiranmu, Sayang.” Lalu mencium keningnya.

“Eh hm!” Yun So, yang ditugasi Jin He untuk mengawal pasutri itu, memecahkan keheningan dengan deheman. “Waktunya sudah tiba, Tuan Shin.”

Kwang tergagap. “Oh, baiklah.” Lalu beralih pada Chamille.”Kau sudah kuat buat berjalan, Sayang.”

Chamille menggeleng.”Entahlah, aku tidak yakin.”

“Baiklah,” Kwang mencium kening Chamille lalu mengangkat Chamille di gendongannya, sementara Chamille menggendong Il Hwan.

Sambil berjalan keluar hutan, Yun So berjengit melihat tingkah mereka. “Biar aku bantu menggendong bayimu, Tuan Shin,” akhirnya pria ini menawarkan bantuan.

Chamille menyanggupi. Jin He berhenti sebentar agar Yun So bisa mengambil Il Hwan dari Chamille. Mereka bertiga berjalan kembali, menuju pantai. “Apakah Nona d’Varney sakit?” tanya Yun So lagi.

“Tidak! Chamille sebenarnya masih dalam masa nifas,” jawab Kwang.

“Apa?”

“Baru semalam dia lahir, Tuan Kim,” jawab Chamille.

Yun So langsung kaget. Dia menatap bayi mungil di gendongannya lebih seksama. Bayi itu memang masih merah, dia jadi gugup dan lebih berhati-hati menggendong.

Sampailah mereka di sekoci. Kali ini ada dua sekoci. Satu sekoci untuk mengangkut persediaan air dan makanan. Satunya lagi untuk mengangkut Chamille, Kwang dan bayi mereka dengan Jin He da Yun SO sebagai pendayung.

Ombak menyulitkan sekoci-sekoci itu untuk ke tengah laut, mereka harus mendayung lebih kuat. Saat semakin ke tengah, perairan mulai tenang. Kwang mengamati pulau yang semakin mengecil di belakang mereka.

“Kapten, sebenarnya di mana kami selama ini?” tanya Kwang pada Jin He.

“Sesungguhnya, Tuan Shin? Mendekati Samudra Hindia.”

Pulau semakin mengecil namun kapal yang sedianya akan mereka tumpangi semakin tampak jelas. Hingga Kwang melihat tanda pengenal di kapal itu, ‘Bouwens 117’ . Ada sedikit kekawatiran, tapi demi melihat kembali peradaban, demi berkumpul kembali dengan keluarganya, Kwang menekan rasa kawatir itu.

 

BERSAMBUNG

THE SECRET II (Temptation of Island — Part 11)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 11

“Waktu itu aku melihat sosoknya di mall. Aku tidak tahu bagaimana bisa berada di mall tapi aku melihatnya.”

Sambil menyandar di sofa, Anthoine menyaksikan rekaman penghipnotisan Charlie di ruang kerja Stacy. Tangan kanan yang pada mulanya menumpu di lengan sofa, bergerak ke atas demi memijit-mijit pelipisnya. Charlie di balik layar LCD itu terdiam sebentar, meremas-remas jemarinya gusar.

“Dia… dia… aku mengikutinya dan lalu…. .”

Sekali lagi Charlie terdiam. Anthoine menahan nafas. Mata Charlie memerah dan akhirnya air mata menetes seiring suaranya yang mulai timbul tenggelam. “Ada seorang anak laki-laki yang berlari padanya. Dia memeluknya. Sepertinya dia sangat bahagia karena anak itu. Lalu aku melihat seorang perempuan, demi Tuhan… aku semakin mendekati mereka. Perempuan itu… perempuan itu adalah Ibu anak itu dan… dan…. .”

Charlie semakin menyakiti diri dengan meremas jemarinya kuat-kuat. Tangan Stacy terulur, mencegah Charlie membuat jemari lentik itu semakin memerah.

Anthoine melihat adegan itu dan merasa jengah. Namun dia harus tahu semuanya. Stacy sudah tidak memperhatikan rekaman itu lagi. Respon Anthoine lebih menarik perhatiannya sekarang.

“Nick dan perempuan itu…  Anak itu adalah anak mereka!”

Charlie menunduk, membenamkan wajah penuh tangis di kedua telapak tangannya. Bahunya bergerak seiring isakan tangisnya lalu mendongak, mengatur nafas demi mengatakan kalimat selanjutnya.

“Aku semakin mendekat. Nick melihatku. Aku meminta penjelasan padanya. Bodohnya, dia malah kebingungan, memanggilku Nyonya d’ Varney. Dia berkhianat tapi … tapi malah mengatakan kalau pernikahan kami…  sudah lama berakhir dan…. dan aku menikahi orang lain.”

Sekali lagi, Charlie tidak bisa menahan tangisnya.  Tidak bisa lagi dibayangkan raut muka Anthoine. Rasa cemburu menjalari hatinya. Di dalam diri istrinya, Charlotte Whitely masih mencintai Nick Rothman.

Stacy menghentikan laju rekaman. “We can stop it if you …

“No! I want watch it,” elak Anthoine. Stacy menjalankan rekaman kembali.

“Aku tidak kuat lagi. Aku berlari menjauhi mereka, Nick mengejarku dan  memanggil-manggil. Aku tidak perduli. Sesak rasanya. Dia penghianat. Dia penghianat! Sakit sekali! Sakit sekali!”

Charlie memukul-mukul dada.

“Kematianku akan menghukumnya, aku berpikir begitu. Dia pasti merasa bersalah. Aku akan menghantuinya dengan perasaan bersalah. Aku akan menghukumnya seperti itu. Aku mati dan dia terhukum! Aku mati dan dia terhukum!”

Stacy mematikan rekaman. Anthoine mendesah, lemas bersandar di sofa. Stacy duduk di depannya, menuangkan air mineral  ke dalam gelas lalu disodorkan pada Anthoine.

“No.” Anthoine menolak minuman itu. Stacy meletakkan kembali gelas di atas meja yang memisahkan mereka berdua. “The meeting was unplanned,”  Stacy menanggapi isi rekaman itu.

“Nick Rothman is innocent. He didn’t cause the accident.” Stacy menyilangkan kakinya. Anthoine mendongak, menghembuskan nafas berat.

“Charlotte think if she is death, Nick will suffer and she will punish Nick with her death. She thought like that while driving  then she drove brutally and the accident occurred.”

Anthoine mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Stacy berhenti berkata-kata. Perlahan dia mengangkat punggungnya dari sofa yang nyaman  untuk bangkit. “Anthoine, how about the integration?” pertanyaan Stacy menghentikan langkah Anthoine yang akan meninggalkan ruangan itu.

“Just do it.” Anthoine menjawab tanpa menoleh lalu meneruskan niatannya untuk meninggalkan ruangan. Stacy menghela nafas panjang. Mungkin Anthoine ingin agar semua ini cepat berakhir, Stacy berpikir kalau hal ini tentu berat bagi Anthoine. Tiga pribadi dalam tubuh istrinya dan satu dari ketiga pribadi itu, mencintai pria lain.

Jadi itukah alasan yang menyebabkan kecelakaan itu? Kecelakaan yang hampir membuat mereka kehilangan Chamille? Anthoine sama sekali tidak percaya. Selama ini, dia merasa kalau Nick-lah yang paling bersalah. Tapi kenyataannya, kelabilan pribadi Charlotte yang menyebabkan semua itu. Charlotte yang labil, sialnya muncul di saat Charlie tanpa pengawasan. Itukah sebabnya Charlie ketakutan untuk menginjakkan kakinya di Korea lagi? Alam bawah sadar Charlie rupanya selalu mengingatkannya, Anthoine tahu itu sekarang.

Dan Anthoine masih memikirkan hal itu walau pun sekarang ini, laporan-laporan mengenai kondisi perusahaannya sudah berada di tangan. Tidak ada perubahan yang mengkawatirkan. Orang-orang kepercayaannya sudah bekerja dengan baik. Bukan bisnis yang perlu dia perhatikan, melainkan istrinya.

Charlie duduk di atas ranjang di dalam kamarnya. Di pangkuannya, Sabrina tertawa, memperlihatkan senyuman yang tanpa gigi. Charlie menggoda bayi itu dengan menggelitiki kakinya, respon bayi itu sungguh mengagumkan dan Charlie menikmatinya. “Oh, Sayang…ayo tertawa lagi!” Bukan hanya kaki, kini Charlie menggelitiki perut Sabrina. Kaki Sabrina menendang-nendang seiring tawanya yang tergelak. Tubuh bayi itu sudah sangat kaku saking gelinya sehingga dia merengek, memohon pada Charlie agar tidak menggelitikinya lagi dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti olehnya dan Charlie.

“Oh, sudah capek, ya tertawanya?” Charlie mendekatkan wajahnya pada Sabrina. Sabrina mengerang menjawab Charlie. “Oh, Sayang,” Charlie mengangkat Sabrina dari pangkuannya, diciumnya kening Sabrina sambil menepuk-nepuk pantatnya. “Capek? Iya?” Charlie memandangi Sabrina yang kini menggesek-gesekkan wajahnya di dada Charlie. “Dan sekarang pengen minum?” tanya Charlie.

Sabrina merengek. Charlie tertawa mendengar tangisan kesal Sabrina. “Iya, iya, Sayang,” Charlie membuka kancing dadanya lalu menyusui Sabrina.

Charlie terlalu asyik dengan Sabrina. Dia tidak menyadari kehadiran Anthoine di ruangan itu, yang sudah memperhatikannya selama lima menit. Baru setelah Sabrina tenang menyusu dan ruangan itu berubah senyap, langkah kaki Anthoine membuatnya berjengit. Charlie menyongsong Anthoine dengan senyuman manis dan pria itu mencium keningnya lalu mencium kening Sabrina.

“Aku sudah memasuki kamar ini lima menit yang lalu dan baru sekarang kau mengacuhkanku?” protes Anthoine setelah duduk di samping Charlie. Sama-sama menyandar di kepala ranjang, menyaksikan Sabrina yang sesekali mengerang, seolah berbicara sesuatu padahal mulutnya masih menyesap ASI.

“Maafkan aku, Anthoine. Aku benar-benar tidak mendengarnya.”

Anthoine mengelus kening Sabrina. Bayi itu mengerang protes. Charlie tertawa sejenak. “Dia tidak suka diganggu kalau sedang menyusu,” kata Charlie. Anthoine mendengus.”Anak ini… masih kecil saja sudah pilih kasih begitu.”

Charlie tertawa. Anthoine tersenyum lalu merangkul Charlie erat. Mata Sabrina semakin meredup tapi tangannya bergerak di atas dada Charlie, memijat-mijat. “Lihat, dia menandai apa yang dimilikinya,” ujar Anthoine. Charlie mengangguk. Suara mereka jadi lebih lirih dari sebelumnya. “Dia selalu menjawab perkataanku, Anthoine. Lucu sekali.”

“Dia mengantuk,” perkataan Anthoine diiyakan Charlie dengan anggukan. “Mungkin kecapekan karena tertawa terus tadi. Oh, ya… Bagaimana hasil pertemuanmu dengan Stacy?”

Rupanya Charlie sudah mulai menerima keadaannya. Anthoine mensyukuri hal itu. Setidaknya Charlie lebih siap menerima apa pun yang terjadi selanjutnya.

“Besok akan dilakukan pengintegrasian pertama. Kau harus benar-benar siap.”

Charlie  menatap wajah Anthoine. Rasa kawatir menjalari hatinya. Dia mengalihkan pandangannya pada Sabrina, memohon kekuatan dengan menatap kepolosan bayi itu. “Aku akan tetap kuat demi Sabrina.”

Anthoine tersenyum. Pandangannya juga tertuju pada Sabrina. Sekali lagi dia mengelus kening Sabrina. Mungkin sudah berada di alam mimpi, bayi itu tidak protes seperti sebelumnya. Memandangi Sabrina ketika tidur adalah hobi baru mereka. Bayi itu mampu menarik kedua orang tuanya ke dalam dunianya. Sesaat beban berat terlupa jika melihat ketenangan Sabrina dalam tidurnya. Kamar bayi Sabrina pun jarang digunakan karena Sabrina lebih banyak tidur di ranjang Anthoine dan Charlie.

Seperti malam-malam sebelumnya. Malam  ini pun demikian juga. Sabrina tidur di tengah-tengah mereka. Charlie belum bisa tidur. Dia menatap langit-langit memikirkan pengintegrasian besok. Anthoine melihat tangan Sabrina sedikit bergerak, mengacaukan selimutnya sehingga Anthoine harus membenahinya. Pada saat itulah, dia bisa merasakan kegundahan istrinya. Dia agak bangkit, menumpukan kepala dengan tangan kanannya. “Jangan terlalu dipikirkan,” ujar Anthoine.

“Kira-kira apa yang akan terjadi besok?” tanya Charlie lirih, masih memandang langit-langit.

“Kau akan tahu semuanya,” jawab Anthoine. Charlie menoleh perlahan,”Semuanya?”

Anhoine mengangguk, “Iya, termasuk kebusukanku.”

Mata Charlie menyipit.”Kebusukan?” Charlie bersuara terlalu keras. Sabrina terusik. Anthoine menepuk-nepuk pantat Sabrina, meninabobokannya lagi. Bayi itu meneruskan tidurnya lagi.

Charlie memperhatikan kasih sayang Anthoine pada Sabrina lalu berkata,”Kau sempurna, Anthoine. Suami pengertian, Ayah yang penyayang dan kekasih yang romantis. Aku bahkan tidak bisa menemukan letak kebusukanmu.”

“Karena kau tidak tahu. Kau akan tahu besok.”

Charlie kembali menatap langit-langit. “Kata-katamu semakin membuatku takut.”

Anthoine menjulurkan tubuhnya kepada Charlie demi mencium keningnya. “Tidurlah, Sayang. Yang terjadi besok, biarlah terjadi besok. Kau masih perlu istirahat. Jangan sampai ASI-mu tidak keluar karena stres. Sabrina pasti menangis keras jika hal itu terjadi.”

“Anthoine, aku…,” perkataan Charlie terhenti karena Anthoine mencium bibirnya ciuman yang lembut dan Charlie menjadi begitu tenang bahkan ketika Anthoine menatap tepat di matanya, Charlie sama sekali tidak protes lagi. “Tidurlah, Charlie. Kali ini perintah.”

Charlie mengangguk. Walau enggan, dia menutup mata. Anthoine masih mengamati wajahnya, memastikan kalau dia benar-benar tidur. Baru saat dia benar-benar pulas, pria itu mematikan lampu kenop di dekatnya, sesaat mengecup kening Sabrina lalu berusaha tidur.

Keesokan harinya, Charlie sudah bersiap di depan ruang praktek Stacy. Sabrina di gendongannya begitu polos, bayi itu menenangkan hati Charlie, sumber kekuatan Charlie. Nathan dan Neneknya duduk di satu sofa. Nenek itu menggenggam tangan Nathan, lebih gugup dari Charlie. Anthoine berdiri di dekat jendela, menikmati pemandangan luar yang bisa ditangkap penglihatannya.

Hingga pintu ruangan itu  terbuka, Stacy dan Rae melangkah masuk, Charlie tahu kalau inilah saatnya. Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali. Anthoine mendekatinya, mengulurkan kedua tangan, meminta Sabrina. Charlie memandang wajah Sabrina yang terlelap, perlahan dia mengecup kening Sabrina, hidungnya, kedua belah pipinya yang montok, lalu bibirnya. Tak terasa air matanya menetes. Dia meletakkan Sabrina secara hati-hati ke tangan Anthoine. Pria itu merangkulnya kemudian dan menciumi wajahnya seperti dia menciumi Sabrina.

Nathan mendekati Ibunya. Charlie menciuminya seperti menciumi adik bayinya. “Everything will be oke,” janji Charlie pada Nathan. Ibu Charlie pun memeluk anaknya erat-erat. Hingga akhirnya Stacy menarik lembut tangan Charlie, memasuki ruangan prakteknya bersama Rae. Dan saat pintu ruangan itu tertutup. Keheningan membuat ketiganya menggila. Dengkuran lirih Sabrina terdengar jelas sekarang. Sementara ketiga orang dewasa di sekitarnya mengkawatirkan keadaan Ibunya, bayi itu masih saja tidur, tak terpengaruh walau gempa mengguncang sekali pun. Anthoine mengecup kening Sabrina dan berusaha tenang dengan memandangi wajahnya.

 

—oOo—

 

Chamille mengaiskan telapak kakinya perlahan di atas pasir. Ada perasaan yang aneh saat dia berjalan-jalan di pinggir pantai siang ini. Janin di perutnya menendang, dia menunduk, mengelus perutnya lalu duduk dengan hati-hati. Buih ombak menjilati kakinya. Lautan lepas terbentang sampai cakrawala dan entah kenapa dia merasakan kebebasannya  sebentar lagi tiba. Chamille menghela nafas panjang. Pemandangan pantai ini selalu membuatnya tenang. Dia seakan bisa melihat peradaban dari sini, andaikan laut itu tidak membatasi pandangannya. Hingga dia merasakan punggungnya yang semakin pegal, akhirnya dia terbaring. Sejenak dia menikmati mimpi, namun Kwang yang berdiri di dekat kepalanya, menghalangi  cahaya matahari yang terarah ke wajahnya, membuatnya membuka mata.

“Kang,” dia tersenyum. Pria itu duduk di dekatnya, menarik kepala Chamille hingga menyandar pahanya. “Ku kira hanya aku yang suka memandangi pantai,” Kwang memulai pembicaraan.

“Pantai indah hari ini,” jawab Chamille sekenanya.

“Tapi angin pantai tidak baik untuk kesehatanmu,” Kwang menggerakkan telunjuknya di atas wajah Chamile, mewanti-wanti. Chamille tersenyum,”Kau semakin protektif akhir-akhir ini.”

“Kau mengandung anakku. Ingat?”

Sekali lagi Chamille tersenyum. “Iya, aku ingat.”

Kwang mengaitkan jemarinya di antara rambut Chamille lalu menyisirnya perlahan. Chamille memejam, menikmati sentuhan itu. Angin pantai kembali bertiup, mendesir di hati Chamille yang masih terlena kasih sayang Kwang.

“Aku sudah mengganti persediaan sere dan daun sirihnya,” ucap Kwang. Chamille merespon dengan anggukan. Dan seperti tidak fokus, pembicaraan berbelok pada hal lain. “Kenapa kau tidak menyentuhku selama hamil?”

Kwang mendengus.”Aku tidak tega.” Susah payah Camille bangkit dari pangkuan Kwang. “Apakah kau akan menyentuhku lagi setelah melahirkan?” Ucapan Chamille membuat Kwang tertawa, “Kau masih ingin punya anak lagi.”

“Apa salahnya, Kang. Sebanyak-banyaknya denganmu.” Jawaban bodoh yang membuahkan getokan Kwang di keningnya. “Jangan bicara bodoh. Waktunya makan siang, ayo! Aku sudah memasakkan sesuatu untukmu?”

Perlahan, Kwang membimbing Chamille untuk berdiri. Janin di perut Chamille menendang, kali ini lebih keras. Chamille sampai meringis. “Kau tidak apa?”

Chamille menggeleng. “Dia menendang.”

“Oh,” Kwang merangkul Chamille berjalan ke pondok mereka.  Pasir tersepak, tertiup angin saat mereka berjalan. Desiran ombak membentur pantai dan mendesis saat menarik diri ke laut lepas, meninggalkan buih yang terserap di pasir. Sekali lagi Chamille menoleh pada laut, sebelum akhirnya tubuh mereka memasuki rimbunan pepohonan dan langkah kaki menuntun mereka ke depan pondok.

Kwang mendudukkan Chamille di dekat perapian. Sekali lagi menikmati makan siang yang penuh kesederhanaan. Sesekali Kwang berhenti makan, lalu mengulurkan tangannya, mengelus perut buncit Chamille sambil tersenyum. Janin itu merespon, menendang hingga Kwang bisa merasakan tendangannya dan Chamille meringis.

“Kenapa dia semakin nakal?” ujar Kwang sambil tertawa. Chamille pun menjawab,”Mencari perhatian ayahnya dan… mencari jalan keluar.”

“Oh, ya… mencari jalan keluar,” kini kedua tangan Kwang memegangi perut Chamille. Dia sudah tak berniat makan lagi. Biarlah Chamille yang menghabiskan semuanya. Chamille pun bersiap menaiki tangga pondok setelah makan. “Aku tidur siang sebentar, Kang. Bangunkan aku kalau hari mulai sore.”

Kwang mengangguk. Tangannya sibuk memberesi peralatan makan. Chamille merebahkan diri di tempat tidur rumput, meluruskan tulang punggungnya yang serasa pegal karena duduk lama. Dia ingin menikmati istirahat siangnya, tapi ternyata tidak mungkin. Bayi itu menendang lagi. Chamille terkesiap, perlahan dia menarik bajunya ke atas hingga perutnya yang buncit terekspos, dia bisa melihat gerakan-gerakan di balik kulit perutnya. Chamille mendesis, mengatupkan kedua tangannya menahan sakit lalu gerakan itu menghilang dan Chamille bisa bernafas lega.

Itu tidak lama, satu gerakan lagi, dan Chamille pun meringkuk, menekan perutnya dengan lutut, dia berusaha untuk tidur. Mungkin rasa sakit itu menghilang jika dia tertidur, tapi boro-boro tertidur, rasa sakit yang timbul tenggelam itu benar-benar menyiksa. Chamille bersyukur karena Kwang segera memasuki pondok. Pria itu segera menghampirinya setelah melihatnya meringkuk.

“Kang,” Chamille mengaitkan jemarinya di telapak tangan Kwang. “Sepertinya sudah waktunya.”

“Kau yakin?” Kwang menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Chamille. Chamille mengangguk.”Tolong  ambilkan sari kunyit itu.”

Kwang bergerak ke tempat penyimpanan, lalu menyodorkan cairan kuning kental ke mulut Chamille. Wanita itu menyesap sebentar lalu menghalau batok kelapa itu setelah dirasa cukup. Kwang meletakkan batok kelapa di dekatnya. “Aku akan merebus daun sirih dan serehnya. Kau tak apa ditinggal sendiri dulu?”

Chamille mengangguk lemah. Kwang meninggalkannya sendirian, menikmati masa delivery yang menyiksa. Sesekali dia merubah posisinya, tapi sama saja. Rasa pegal menjalar di sekitar punggungnya, sedangkan mulas melingkari rahimnya. Tubuh Chamille berkeringat. Telapak tangannya menggenggam dan dia pun menangis lirih.

Kwang masuk pondok lagi. Chamille merasa kalau tangisannya pelan tapi ternyata Kwang masih bisa mendengarnya. Pria itu duduk di sampingnya, memijat punggungnya. “Sudah merasa enak?”

“Bagaimana kau tahu?” Chamille bersuara di antara nafasnya yang terengah-engah.

“Ibuku dulu memintaku melakukan ini,” Kwang memeluk Chamille, berbisik di telinganya,”Duduklah, biar aku menyangga punggungmu.”

Chamille mendesah, Kwang menarik tangan Chamille hingga terduduk, lalu duduk di belakang Chamille, mebiarkan wanita itu menyandar di dadanya lalu meliukkan tubuhnya ke belakang.  “Sampai berapa lama … aku… aku… huft… ya, Tuhan.”

“Ibuku dulu semalam suntuk.”

Chamille menggeleng. “Ya, Tuhan! … Lama sekali… Huft!” Kwang meringis saat kuku Chamille mencengkeram lengannya. “Hosh… hosh… hosh… .”

“Maaf,” Saat kontraksi itu tenggelam, Chamille sadar kalau sudah membuat lengan Kwang memar. Kwang menggeleng lalu mencium pipinya. “Kau sendiri yang tahu kapan waktunya mengejan, Sayang.”

Chamille menjilati bibirnya yang kering. Tak terasa peluhnya juga membasahi tubuh Kwang. Dia mencopoti semua bajunya, memilih menikmati rasa sakit itu dengan telanjang bulat. Kwang bisa melihat perut Chamille yang membulat sempurna, payudara wanita itu sudah berubah dari pertama yang dilihat Kwang. Lebih penuh, siap memberikan kehidupan bagi anak mereka. Dan benar juga kata Kwang siksaan itu benar-benar terjadi semalaman. Kwang sama sekali tidak tidur. Chamille kadang menungging, kadang meringkuk atau bahkan menyandar di dada Kwang, sementara pria itu menenangkannya sambil memijat-mijat pundaknya.

Hampir tengah malam saat kontraksi semakin kuat. Chamille bisa merasakan kepala bayi itu semakin mendesak, menuju kebebasannya.  Kwang duduk di bawahnya, menunggu sambil mengelus-elus pahanya. “Semakin sakit?”

Chamille mengangguk. “Kontraksinya semakin sering.”

Kwang mengelus perut Chamille. Hatinya mendesir merasakan gerakan di dalam perut Chamille. Chamille melengguh, sekali lagi meliukkan punggung ke belakang, sementara kedua tangannya menyangga di ranjang.

Chamille sempat panik saat melihat cairan yang tumpah dari bawah tubuhnya. Kwang melihat itu dan berteriak,”Ini saat, Chamille.” Kwang mengambil sehelai kain rajutan, dan menengadahkannya di bawah Chamille lalu bergerak di belakang Chamille. “Mengejanlah jika sudah siap.”

Chamille mengangguk. Gerakan kontraksi itu mempunyai rithme sendiri. Chamille mengejan saat kontraksi datang dan berhenti untuk mengambil nafas saat kontraksi menghilang. “Oh, Ya Tuhan, Kang,” Chamille masih sempat berkata sebelum akhirnya melengguh lalu menjerit sekuatnya seiring dengan gerakannya mendorong. “Arkkkhhhh!”

Chamille mengatur nafas lagi. Kwang bisa merasakan sakit yang di alami Chamille saat tubuh wanita itu serasa kaku di pelukannya. Dan benar juga, sebentar kemudian, Chamille mendorong lagi.

“Oh, Ya Tuhan… Ya Tuhan…,” Chamille menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu sampai kapan bertahan. Aku tidak tahu,” lalu menangis. Kwang mengecup keningnya. Tidak tahu harus mengucapkan apa. Ketika kontraksi itu kembali, Chamille mendorong dengan sisa-sisa tenaga.

Akhirnya kepala bayi itu menonjol, bersamaan dengan keluarnya sedikit air ketuban. “Oh, My God!” Chamille terkejut, begitu juga Kwang.  Chamille mengelus kepala mungil yang menonjol itu dan tangisan itu berubah menjadi keharuan. “Kang… akhirnya… .”

Kwang mencium ubun-ubun Chamille lalu berbisik. “Aku akan menariknya begitu bahunya keluar, kau tidak apa mengejan sendiri?” Chamille mengangguk. Kwang beralih ke bagian bawah Chamille lalu mengelus kepala bayinya yang sudah ditumbuhi rambut lembab. Kwang tersenyum menatap Chamille. Wanita itu membalas senyumnya sejenak sebelum kontraksi itu datang lagi, dan dia meleguh,  meliukan tubun ke belakang dan mendorong sang bayi kuat-kuat.

Tangan Kwang gemetaran saat menyongsong kehadiran bayi itu. Satu dorongan lagi dan kepala si bayi berputar, bersamaan dengan itu, membebaskan tangannya hingga menyembul keluar dan Kwang menariknya saat kedua belah bahu bayi itu terbebaskan. Cairan mengucur deras dari tubuh Chamille bersamaan dengan keluarnya bayi itu.

“Ya, Tuhan. Ya Tuhan!” Chamille bernafas lega. Dia bahkan tertawa saat Kwang menyerahkan sang bayi yang masih merah ke gendongannya. Bayi itu masih kesulitan bernafas karena lendir yang menutupi lubang hidungnya. Chamille menyedot lendir dari hidung bayi dengan mulutnya. Merasakan lingkungan asing, bayi itu menangis keras.

“Dia menangis sekarang,” Chamille mendekap bayi itu erat-erat. Kwang mengusap-ngusap tubuh sang bayi dengan kain basah.

“Oh, Ya Tuhan…,” sekali lagi Chamille mendesah. “Rasa sakit yang panjang dan hasilnya tidak mengecewakan, Kang. Lihatlah!” Chamille menunjuk bayinya yang mulai menyusu. Kwang tersenyum simpul. “Oh, Kang. Aku mohon katakan sesuatu.”

Kwang memang tidak tahu harus mengucapkan apa. Semua ini benar-benar keajaiban karenanya dia hanya terpaku, menatap sang bayi sambil mengelus-elus keningnya. Chamille mengejan lagi. Kali ini ari-ari sang bayi keluar, berakhir sudah tugasnya menemani sang bayi di dalam kandungan.

“Placentanya sudah keluar,” ujar Kwang. Chamille mengangguk. “Urus aku, Kang. Sementara aku mengurus bayinya.”

Kwang menyanggupi, seperti yang mereka rencanakan sebelumnya. Kwang menyeka Chamille, sedangkan Chamille memberikan kehangatan pada bayi itu dengan dekapannya. Kwang terheran dengan daya tahan tubuh Chamille dan sang bayi. Chamille sendiri yang memotong tali pusat bayi mereka. terlebih dahulu, dia menyiramkan air daun sirih ke tali pusat, lalu mengikatnya dengan benang sampai rapat dan kemudian memotong bagian luar dari ikatan itu dengan bambu tajam yang sudah direbus dengan air daun sirih semalaman. Terakhir kali, dia menyiramkan air daun sirih dan sereh lalu menngeringkannya dan mengolesi dengan madu pada ujung ikatannya.

Kini Chamille terbaring. Sudah dalam keadaan bersih dan si bayi terlelap di sampingnya. Kwang meninggalkan keduanya untuk mencuci placenta di pantai lalu menguburkan benda itu di samping kiri pondok mereka. Sudah hampir subuh saat dia melakukan itu. Dia lalu naik ke pondok, menatap Chamille dan bayinya yang sama-sama terlelap setelah pergulatan panjang mereka.

Di saat itulah air mata Kwang menetes, mengkawatirkan masa depan mereka, terutama sang bayi. Apa jadinya jika mereka tidak juga ditemukan? demi Tuhan, akan seperti apakah sang bayi kelak dalan didikan pulau primitif ini? Kwang masih terus mengamati mereka berdua, bahkan sedikit melamun. Hingga sang bayi bergerak dan membuka mata. Kwang bisa melihat bahwa pandangan pertama bayi itu terarah padanya. Pandangan mata yang begitu jernih, penuh penyerahan jiwa kepadanya. Kwang mengangkat bayi itu dalam gendongannya. Bayi itu tidak menjerit, malahan seolah menikmati sentuhan Kwang. Pria ini sama sekali belum tahu jenis kelamin bayinya. Dia terlalu gugup hingga langsung meberikannya pada Chamille sesaat setelah bayi itu lahir. Kwang menyingkap kain penutup bayi itu. bayi itu… laki-laki. Hati Kwang mencelos, dia tersenyum bahagia, ditatapnya wajah sang bayi dengan aura berbeda. Perlahan, dia menunduk, mengecup dahi bayi itu. Sekali lagi, dengan benar-benar khusuk, Kwang berdoa, agar mereka segera ditemukan.

 

—oOo—

Udara di laut lepas semakin lembab siang ini. Jengah terasa di antara kelima awak yang berada di atas kapal motor Bouwens 117. Mereka adalah tim pencari terakhir yang bertahan dalam ekspedisi ini. Bahkan anggota mereka sudah terlepas satu persatu, mulai dari sepuluh orang dan akhirnya tinggal lima orang, termasuk sang Kapten, Han Jin He. Sudah hampir setahun mereka menyisir satu persatu pulau demi mencari Chamille d’Varney, diiringi kepesimisan yang tinggi kalau tidak karena ambisi gila Brian Rothman atau sifat melankolis Charlie d’ Varney.

Mereka hanya diberi waktu istirahat satu hari dalam satu bulan, selanjutnya melakukan pencarian lagi di laut lepas, singgah dari pulau demi pulau kecil yang tersebar di penjuru negeri yang asing, dari yang berpenghuni mau pun yang tidak berpenghuni.

Dan udara lembab itu berubah saat awan mulai menggantung. Mereka bersiap-siap menyambut hujan di tengah laut. Yun So, salah satu awak kapal, sekaligus sahabat baik Han Jin He menghampiri Jin He di ruang kemudi. Jin He sedang mempelajari situasi laut tempatnya berada. Yun So duduk asal di kursi di depan Jin He. “Aku tidak tahu sampai kapan pencarian ini,” keluhnya.

Jin He menoleh sesaat, namun menekuri lagi atlas di mejanya untuk memberikan beberapa tanda di atasnya. “Kau sudah menanyakan itu dari awal ekspedisi dan kau juga sudah tahu jawabannya, sampai Chamille d’ Varney ditemukan.”

Yun So mengubah posisi duduknya menjadi bungkuk dengan menopangkan kedua siku lengan pada lututnya. “Kalau dia tidak ditemukan, kita membusuk selamanya di sini.”

Jin He mendengus,”Siapa yang setahun lalu menyuruhmu ikut? Kau sendiri yang mau. Untuk menghindari rentenir yang menagih hutangmu, bukan?”

Yun So terkekeh. “Setidaknya bayaran dari Bouwens Inc dan d’Varney cukup untuk membayar hutangku kalau aku kembali ke Seoul. Tapi untuk saat ini, boro-boro kembali ke Seoul.” Lalu pria ini mendekati meja Jin He, merenggut mug kopi Jin He lalu menenggak isinya.  Hujan di luar sudah mulai turun. “Ayolah, kenapa kita tidak akhiri saja ekspedisi ini. Kita kembali ke Seoul seperti yang lainnya. Bilang kalau kita sudah mencari ke mana pun dan memang gadis itu sudah mati dimakan ikan.”

Jin He merebut cangkir mug-nya dari tangan Yun So. “Dan menghancurkan reputasi yang sudah kubangun bertahun-tahun? Tidak akan!”

Jin He terkenal sebagai orang yang menepati janji. Janjinya pada keluarga Chamille hanya satu, dia akan menemukan gadis itu apa pun yang terjadi dan dia tidak akan berhenti sampai bisa memenuhi janjinya.

“Dan berapa orang yang harus menyertaimu dalam memegang reputasi itu?” tantang Yun So. Jin He jadi semakin jengah. “Kalau kau memang mau pulang, sebaiknya di pelayaran berikutnya setelah masa istirahat, kau tidak usah ikut!”

Yun So tertawa-tawa menikmati kemarahan Jin He. Pada saat itu mereka dikejutkan oleh teriakan Bill Hoftman, awak mereka yang berasal dari Australia. “Island! Island!”

Yun So langsung keluar menuju deks. Jin He menekuri atlasnya lagi. “Tidak mungkin! Di peta ini sama sekali tidak ada pulau!”  Jin He menyahut mantolnya lalu  berlari ke deks, bergabung dengan rekannya yang lain.

Bill mengamati pulau yang masih sangat jauh itu tanpa teropong. Hujan semakin deras. Pandangan mata mereka mengabur. Yun  So yang tadi merebut teropong dari tangan Bill masih asyik melihat pulau itu dengan mulut menganga tak percaya. Jin He yang pandangan matanya terbatasi oleh air hujan merebut teropong itu dari Yun So dan mengarahkannya pada pulau yang kecil itu, terpencil, menyendiri di tengah perairan yang luas.

“Apakah mungkin gadis itu di pulau?” Suara Yun So harus bersaing dengan derasnya air hujan. Jin He menggeleng. “Kita tidak tahu! Kemungkinan itu sangat kecil! Tapi apa pun harus kita coba!” Jawab Jin He keras-keras.

Ya, kemungkinan sangat kecil tapi mereka harus mencobanya. Janji adalah janji. Pulau itu sudah di depan mata. Chamille d’Varney kemungkinan berada di pulau itu. Masih di antara derasnya hujan, mereka mulai mempersiapkan pendaratan.

 

BERSAMBUNG

THE SECRET II (Temptation of Island) — part 9

THE SECRET

(Temptation of Island)

Part 9

Suara-suara itu menghantuinya lagi. Semakin kentara jika malam tiba. Bola matanya bergerak bimbang dibalik kelopak yang tertutup dan jika sudah begini, mulai terdengar perubahan ritme nafas. Kepalanya mulai menampakkan kegusaran. Apakah itu dia?

Bukan! Itu bukan aku!

Kau bersalah!

Tidak!

“Dasar tak tahu malu! Memohon cinta pada lelaki yang bahkan sudah tak mencintaimu!”

Lelaki itu? Lelaki yang sangat kucintai, dan ternyata….

”Apa yang kau harapkan dari selembar kertas yang ditandatangani secara rahasia di suatu tempat yang bahkan sangat jauh dari asalmu, Charlotte Whitely?”

Charlotte Whitely…. Charlotte Whitely… Siapa dia?….

Itu kau!

Gerakan kepalanya semakin cepat. Bibirnya menggumam, membuahkan igauan yang hanya dia sendiri yang tahu.

Bukan!

Ya…, Itu Kau!

“BUKAN!”

Tubuhnya terdorong bangun. Mata yang membelalak dan wajah memucat, sementara dia harus berusaha menenangkan nafasnya. Hanya mimpi, untunglah hanya mimpi. Dia menoleh ke samping, dimana pria yang sangat dia cintai masih terlelap.

Nick di sini. Itu hanya mimpi. Huft! Mimpi yang membuatku ketakutan.

Perlahan tangannya terulur, menyentuh wajah pria di sampingnya. Dahinya mengkernyit saat mendapati sesuatu yang asing dari lekukan wajah yang teraba oleh telapak tangannya. Tersentak! Dia menarik tangan  lalu  menyalakan lampu knop di dekatnya. Keremangan cahaya bisa memperjelas pandangannya akan wajah pria itu.

Rambut coklat? Kulit…

Tak biasa dengan sinar terang ketika tidur, pria itu membuka mata.

Mata coklat kemerahan?

Dia sendiri membelalak. Seketika panik saat lelaki itu menyandar ke kepala ranjang. Lelaki itu bertelanjang dada dan tersenyum padanya walau matanya masih mengantuk. “Are you wake up, Ma Femme?”

Ma Femme?

Dia merasakan ada yang salah. Dan ketika dia menyadari sesuatu, ketelanjangannya dan perutnya yang membuncit, keringat dingin merembes dari pori-pori kulitnya. “Siapa, kau?” Spontan dia menutupi dadanya dengan selimut.

“Charlie, ada apa?”

“Siapa kau?”

Pertanyaan lelaki itu tak dia hiraukan. Bahkan dia menepis tangan lelaki itu yang berusaha memegang tangannya.

“Charlie, kau mimpi buruk?”

“Aku bukan Charlie!” dia berteriak. Mereka tidur dalam satu selimut, dan dia menarik selimut itu saat berdiri, demi menutupi kepolosan tubuhnya. Panik dan mundur perlahan dari lelaki itu dengan ketakutan dan air mata berderai. Lelaki itu cepat-cepat bangkit dan mengenakan jubahnya.

Lelaki kulit putih! Dia semakin panik.

“Charlie, aku tidak tahu apa maksud semua ini, tapi percayalah ini semua tidak lucu!” Lelaki itu maju perlahan, tubuhnya yang tinggi agak membungkuk dengan tangan kanan terulur, berusaha menenangkannya.

“Aku bukan Charlie! Bukan Charlie!” Dia malah semakin histeris. “Nick… dimana Nick? Nick!” Dia lari ke pintu. Lelaki itu dengan langkah lebar menghadangnya. Dia terperangkap dalam kungkungan lelaki itu. Sekuat tenaga dia meronta, segalanya sia-sia. Entah kenapa teriakkannya seakan tak membuat lelaki itu bergeming. Lelaki itu terpaksa membantingnya di ranjang. Terpaksa! Ada kesedihan di mata lelaki itu saat dia terbaring kembali ke ranjang, menangis kalah karena kedua tangannya masing-masing ditahan oleh lelaki itu.

“Aku tahu kau di dalam sana,” kalimat itu seolah mencari seseorang dibalik tubuhnya. Bukan hanya kalimatnya, bahkan mata coklat kemerahan itu mencarinya. “Charlie, kau di sana?”

Dan semua berangsur gelap baginya. Sekeping ingatan menerobos masuk. Ingatan tentang lelaki yang mengukung di atasnya,”Antoine… .” lalu dia tak sadarkan diri.

“Iya. Iya, Sayang… Iya!”

Antoine menangis. Setengah mengangkat tubuh Charlie, dia memeluk istrinya. Ini tidak mungkin terjadi lagi. Bahkan dia sempat berselisih pendapat dengan Stacy dua puluh tahun yang lalu, sebulan setelah kelahiran Camille.

Stacy!

Antoine tidak menghiraukan perbedaan waktu antara Indonesia dan Kanada. Dia merasa harus menelfon Stacy, memberitahukan tentang Charlie. Antoine yang terpuruk bisa merasakan kegusaran dibalik suara Stacy.  “I told you it’s Dissociative Identity Disorder. You must take her here soon!”

“No! It’s just bipolar!” Antoine masih bersikeras.

“Pleasse, be objective, Proffesor!”

Stacy terdengar berang. Antoine menutup telefon dan sekali lagi merasakan kesedihannya. Pada saat itu Charlie mulai tersadar. Antoine bergegas mendekatinya  saat Charlie merasa kebingungan, menoleh ke sana kemari, menyadari posisinya di ranjang yang tidak pada tempatnya.

“Antoine…,” saat matanya menangkap sosok suaminya, dia memanggil lirih. Antoine berusaha menyembunyikan air mata saat mengelus wajahnya. “Ya, Petite.”

“Ada apa? Kenapa bisa aku tidur seperti ini?”

Antoine menggeleng. “Tidak apa-apa, Sayang.” Dia lalu mengangkat tubuh Charlie, menempatkannya di sisi ranjang yang tepat.

“Apakah aku berjalan sambil tidur lagi?”

Lebih buruk dari itu!

“Iya,” Antoine tersenyum. “Tidurlah lagi, Sayang. Besok adalah perjalanan panjang kita.”

Charlie tersenyum lalu mulai menutup mata, menuruti perintah suaminya. Antoine tidak tidur lagi malam itu. Mana mungkin dia bisa kembali tertidur. Ingatan yang harusnya terhapus. Karakter yang juga terhapus bersamaan ingatan itu, bagaimana bisa muncul sesekali? Kemunculannya akan membuat Charlie terasing. Pribadi itu seakan terpisah, tidak mengenal satu sama lain. Ada dua kepribadian yang muncul, Antoine belum mendapati Charlie Bouwens muncul. Harus ada lebih dari dua kepribadian, karenanya dia tidak setuju dengan pendapat Stacy. Hanya gangguan bipolar. Ya, hanya gangguan bipolar! Antoine berusaha meyakinkan diri sendiri. Tidak ada hubungan antara cuci otak dengan kepribadian ganda. Argumen Stacy tidak beralasan.

Perjalanan benar-benar terasa panjang keesokan harinya. Mereka bertolak dari Ngurah Rai. Sekali lagi Antoine tidak tidur. Sementara Charlie terlelap di sampingnya, Antoine mengawasi sambil membalik halaman demi halaman buku lama karya Colin A. Ross,  Multiple Personality Disorder: Diagnosis, Clinical Features, and Treatment. Di dalam pesawat itu, Antoine berusaha menggabungkan beberapa teori dan menelorkan hipotesis.

Tidak ada hubungannya. Buku ini mengatakan jika kepribadian ganda terjadi karena trauma berkepanjangan di masa kecil atau ketika remaja. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan cuci otak chemical yang dialami Charlie.

“I think it’s possible,” kata Stacy saat Antoine akhirnya mengunjungi kantornya di rumah sakit. Kemudian penjelasan dalam bahasa Inggris meluncur lancar dari bibir Stacy,” Brain washing is self defense mechanism. When there is bad experiences, these experiences as much as possible to be repressed into the subconscious. But there are some events that really can not be handled by the patient, thus forcing it to create another private person who is able to face the situation. It is same as the method of treatment that you apply to Charlie before, right? wash her brain and provide an artificial personality.”

Antoine menggelengkan kepala  dan tersenyum pahit. “So ridiculous. The theory doesn’t exist in any literature.”

“But the fact is the case. Charlie experienced it,” Charlie berkata pasti. “Where is she?” Stacy duduk di kursi kerjanya. Kursi yang dulu di duduki Antoine selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya meninggalkan dewan direksi rumah sakit untuk berkarier di bidang akademisi dan mengelola bisnis keluarga.

“She was at home under her mother supervision.”

“Nice! Never leave her without supervision. Charlotte characters can appear suddenly. The character has  tendency to despair, even self-harm.”

Itu memang yang Antoine kawatirkan. Karakter Charlotte! Karakter itu muncul jika ada situasi yang harus dihadapi. Tunggu! Bukankah itu seharusnya kepribadian asli Charlie? Antoine kembali berjibaku dengan buku-buku tebal di perpustakaan rumahnya. Segala teori muncul lagi di permukaan setelah lama dia pensiun dari dunia kedokteran.

Munculnya kepribadian-kepribadian itu tergantung pada situasi yang dihadapi. Kepribadian aslinya cenderung tidak mengetahui keberadaan kepribadian lainnya, karena memang hal itu yang diinginkan, yaitu melupakan hal-hal yang telah diambil alih oleh kepribadian lainnya. Pada kebanyakan kasus yang terjadi kepribadian asli tidaklah sadar akan keberadaan sosok lain dalam dirinya. Namun, kepribadian-kepribadian lainnya sadar akan keberadaan sosok asli.

“Jadi benarkah ini kepribadian ganda?” Antoine bertanya dalam hati, “Atau mungkin ingatan terselubung yang mungkin muncul ke permukaan?”

Antoine menutup buku tebal di tangannya lalu berdiri, mengamati  pemandangan luar yang terpampang di dekat jendela perpustakaan. Antoine bisa melihat Charlie yang sedak asyik berkebun dengan Ibunya. Wanita itu tahu kalau Antoine mengawasinya dan melambaikan tangan. Antoine tersenyum saat membalas lambaian tangan itu.

Charlie Bouwens. Ya, semuanya terjawab jika dia bisa melihat kemunculan Charlie Bouwens. Kita lihat apakah karakter itu bisa mengenali Charlie atau Charlotte Whitely.

Antoine manggut-manggut. Ini pasti akan terjadi. Tak akan lama lagi. Antoine yakin itu.

Charlie terlihat berbisik sejenak pada Ibunya. Antoine tahu maksud bisikan itu saat Charlie mendekati pintu perpustakaan yang mengarah ke taman. Cepat-cepat Antoine membereskan buku-buku tebal tentang Dissociative Identity Disorder. Setidaknya jangan sampai wanita itu tahu. Charlie tidak pernah ukt campur pekerjaannya di bidang medis tapi cukup membantu pekerjaan Antoine di bisnis keluarga.

Antoine sedang memasukkan buku-buku ke dalam laci saat Charlie mendekati mejanya. “Kau dari rumah sakit?” tanya Charlie. Antoine mengangguk.

“Aku tidak mengerti kenapa kau tidak mengajakku. Aku juga ingin menengok Ayahmu.”

Antoine duduk di kursi kerjanya kembali. “Keadaannya semakin membaik. Lagi pula ada hal lain yang musti kuurus di sana.”

“Apa?” tuntut Charlie. “Jangan katakana kau menemui Stacy.” Tebakkan yang tepat, tapi nada bicara Charlie seolah menaruh curiga. Antoine menghela nafas. “Kemarilah, Sayang.” Antoine menghela tangannya.

Charlie mendekatinya dan dia menarik sampai pantat istrinya berada di pangkuannya. “Sudah lebih dari dua puluh tahun dan kau masih saja mencurigainya, Sayang,” Antoine mencium pipi Charlie dan mengelus perutnya. Tubuh Charlie masih serasa ringan walau pun sedang mengandung empat bulan. “Kau sudah makan? Kenapa kau masih terasa ringan?”

“Aku sudah makan. Nambah dua piring malah,” canda Charlie. Antoine tertawa. “Sepertinya bayi ini lebih besar dari pada Nathan dan Camille. Baru empat bulan saja perutku sudah sebesar ini.” Charlie merajuk sambil mengelus-elus perutnya. “Lihat! Aku seperti menyembunyikan semangka di balik bajuku.”

Antoine semakin tergelak. “Itu karena umurmu yang sudah tidak muda lagi, Sayang. Kadar gula darahmu lebih tinggi daripada ketika muda, karenanya bayinya lebih besar.”

“Jadi aku harus mengurangi konsumsi gula?” Mata Charlie membulat ketika bertanya. Antoine mencolek hidung Charlie. “Ya, betul sekali!”

Lalu Antoine memeluk istrinya. “Kau juga pasti gampang lelah nantinya, Sayang.” Charlie mengangguk di dadanya. “Maafkan, aku… seharusnya aku tidak membuatmu mengandung di umur sekarang.”

“Aku menikmatinya, Antoine. Jangan kuatir hanya saja… .” Charlie ragu sejenak. Dia ingin mengadukan suara-suara yang kadang menggaung di telinga atau mungkin kejadian aneh lainnya, saat dia merasakan tubuhnya kadang tidak berada dalam kendalinya.

“Ada apa, Sayang?”

Charlie menggeleng lalu mendongak, mengelus pipi Antoine yang memandangnya dengan dahi berkerut. “Katakan saja semua keluhanmu?” tanya Antoine.

Charlie menghela nafas. “Saat kau meninggalkanku sejenak di malam terakhir kita di Bali. Entahlah… ada suara-suara.”

Alis Antoine menaik.

“Sebenarnya bukan hanya waktu itu tapi juga selama dua puluh tahun ini. Suara-suara itu semakin keras terdengar kalau sepi apalagi pas malam. Karenanya…

Sejenak Charlie berhenti bicara demi melihat mimik wajah Antoine yang berubah gusar. “Ada apa, Antoine? Apakah ini buruk?” Charlie juga ikut-ikutan gusar. Antoine tidak menjawab, membuat Charlie semakin ngeri.

“Oh, Antoine katakan sesuatu!” Charlie memukul dadanya. Antoine memegang tangan Charlie, menghentikan pukulan itu. “Tidak apa, Sayang. Kau hanya stress.”

“Benarkah?”

Antoine mengangguk.

“Oh, syukurlah. Aku takut jika penyakitku kambuh lagi. Aku tidak mau jadi pasienmu lagi, Antoine. Katakan, aku istrimu, bukan?”

Sekali lagi Antoine mengangguk lalu memeluk Charlie. Belum saatnya Charlie tahu yang sebenarnya. Antoine akan memastikannya jika Charlie Bouwens muncul dan jika  semua itu terjadi. Antoine harus mengakui kenyataan pahit ini.

“Setidaknya kau menikahi tiga orang perempuan dalam satu tubuh,” kata dokter Rae, dokter kandungan Charlie. Stacy memberitahukan padanya perihal keadaan Charlie. Kedua dokter itu akan bekerja sama menangani Charlie.

Dissociative Identity Disorder baru dugaan, Rae. Belum final,” Antoine masih belum terima penyakit itu mengganggu istrinya.

“Tapi Stacy sangat yakin. Sayangnya kau sudah kehilangan hak praktekmu. Stacy tidak bisa berbahasa Korea. Ini membingungkan kalau Stacy harus menghipnotis Charlie dan Charlie bicara bahasa Korea di ambang batas hipnotis.”

Antoine berbalik ke dinding kaca. Ruangan di sebelah adalah ruangan USG. Charlie terbaring di sana sementara asisten dokter Rae menyentuhkan stik USG di perut Charlie. Wanita itu tersenyum puas mendengar penjelasan sang asisten hingga Antoine bisa menyimpulkan kalau keadaan bayi mereka baik-baik saja. “Itulah gunanya kau di sini, Rae.”

Dokter Rae menunduk sedih. “Aku masih ingat, sepuluh tahun yang lalu aku belajar bahasa Korea dari istrimu untuk program  pertukaran dokter di Seoul, dan sekarang… kenapa aku harus menggunakannya untuk istrimu. Ini menyedihkan.”

Hati Rae mendesirkan kesedihan. Matanya hampir memerah, tapi sebagai dokter yang professional dia tidak boleh terlarut dalam perasaan. Antoine menoleh sejenak dan tersenyum. Lalu memasuki ruang sebelah, tempat Charlie di tes USG. Rae harus meneguhkan diri sebelum mengikuti Antoine.

“Mereka bilang dia baik-baik saja,” kata Charlie saat Antoine duduk di tepi tempat tidur, menggenggam tangannya. “Dia perempuan, Sayang.”

Antoine memeluk istrinya. Terharu dengan karunia Tuhan yang berada di perut Charlie saat ini. Sementara Rae sudah tidak bisa membendung kesedihan lagi. Dia keluar dari ruangan itu dan menangis di balik pintu. Oh, ayolah… hanya kepribadian ganda. Charlie tidak akan mati besok. Tapi entah kenapa, keadaan Charlie sekarang ini seakan lebih buruk dari pada penyakit mematikan.

 

—oOo—

Mata Chamille sedikit terbuka. Setengah tersadar, dia merasakan ciuman Kang di keningnya. Masih terkantuk-kantuk, dia melihat Kang yang kemudian duduk membelakanginya, berganti pakaian.

“Kang,” bahkan suara Chamille pun masih serak. Kang menjawab panggilan itu dengan eraman. “Kau sudah mau pergi?”

“Iya,” Kang berdiri dari tempat tidur rumput itu dan berjalan menuju pintu pondok.

“Jangan lupa carikan aku mangga muda.”

Kang menoleh sekilas pada Chamille, mengangguk mengiyakan lalu keluar pondok.  Suasana sepi seketika. Chamille pun bangun dan merasakan gelombang mual  menuju kerongkongannya. Setengah berlari dia keluar dan muntah di samping kiri pondok. Selalu seperti ini setiap pagi. Begitu menyiksa. Air mata keluar begitu saja, namun bukan tangisan hanya respon dari rasa pening yang menjalari kepala. Chamille bisa merasakan nafasnya tersenggal-senggal, berusaha mengeluarkan rasa mual lagi dari perutnya, dan berakhir dengan tumpahan air pahit dari mulutnya. Hanya air, karena memang begitulah adanya. Sangat berbeda dengan vomit karena mabuk perjalanan dimana rasa mual melega saat semua isi perut, yang merupakan sumber mual dikeluarkan. Tapi sumber mual Chamille belum akan keluar sekarang. Janin itu tumbuh di dalamnya, dia senang walau pun terkadang kerepotan menghadapi rasa mual tiap pagi.

Chamille menuju api unggun. Kwang sudah menyiapkan ubi bakar sebagai sarapan. Mau tidak mau Chamille memasukkan makanan itu ke mulut. Dia tidak boleh dikalahkan oleh mual. Anak ini perlu nutrisi. Chamille berusaha menelan walau pun perutnya menolak. “Sayang, Ibu harus makan,” Chamille seolah membujuk janin di perutnya. “Ijinkan Ibu makan sedikit, ya?” tangan kirinya mengelus perutnya sedang tangan kanannya kembali menyuapkan cuilan ubi bakar. Dia terus melakukan itu walau terkadang sia-sia. Rasa mual itu masih membandel.

Hingga Kwang muncul kembali lima menit kemudian, membawa mangga pesanan Chamille. “Kemarikan,” Chamille langsung merebut mangga itu dari Kang lalu menggigit, menyesap airnya.

Chamille sangat menikmati rasa asam buah itu sedangkan Kwang malah merasakan ngilu di giginya melihat ulah Chamille. “Apa kau tidak merasakan gigimu linu? Baunya saja sepertinya asam.”

“Ini obatku,” jawab Chamille, masih menyesapi mangga itu.

“Kau harus makan yang lain. Jangan hanya ubi bakar dan mangga terus.” Kang mengelus punggung Chamille.

“Aku mual jika mencium bau ikan.”

Kwang menghela nafas. Tidak bisa begini terus. Bisa-bisa Chamille dan bayinya kurang gizi. “Bagaimana kalau kangkung air. Kau mau memakannya?”

“Kau bisa memasaknya?” gantian Chamille yang bertanya.

“Lihat saja nanti.”

Kwang masuk ke hutan lagi. Chamille hanya melongo dengan  mangga yang masih tergigit di mulutnya. Akhir-akhir ini dia memang merepotkan Kwang. Chamille yakin itu, tapi mau bagaimana lagi. Itulah resiko menghadapi wanita hamil. Rasa mual itu sudah lenyap. Chamille masuk kembali ke pondok, melanjutkan rajutannya. Kegiatan itu akan berlangsung sampai matahari setegak kepala lalu Chamille pergi ke sungai untuk membersihkan diri dan mengambil persediaan air.

Biasanya Kwang sudah ada di depan pondok saat Chamille pulang dari sungai. Duduk di depan api unggun, memasak sesuatu. Chamille duduk di samping Kwang, melihat isi batok kelapa di atas api unggun. “Aku merebus kangkung dengan cabai, irisan mangga dan garam, semoga kau suka,” kata Kwang.

“Apakah enak?” Chamille menyangsikan kemampuan memasak Kwang. Pria itu melengkungkan bibir ke bawah. “Jangan merendahkan kemampuan memasakku.”

Chamille tersenyum saat menyodorkan batok kelapa pada Kwang. “Sudah matang, kan? Aku sudah sangat lapar.” Kwang meraih batok lalu mengisinya dengan masakan aji pengawurannya. Tapi Chamille sepertinya menikmati rasa masakan itu. “Ini enak sekali. Ada rasa asin, pedas dan juga manisnya. Lalu kangkung ini… ini benar kangkung? Rasanya manis.”

“Orang dewasa menganggap kangkung berasa manis tapi anak kecil merasakan kalau kangkung itu pahit.”

“Itu karena sensor pengecap di lidah anak kecil lebih peka, Kang. Tapi sumpah! Ini enak sekali. Jangan masak ikan lagi karena baunya membuatku mual.”

Kwang tertawa. Dia lega karena Chamille akhirnya mau makan. Dan dia harus menahan keinginannya untuk makan ikan sementara ini.

“Apa kerjamu sesiang ini?” tanya Kwang. Chamille menyeruput kuah makanannya, agak tersedak dan Kwang menepuk-nepuk punggungnya. “Hati-hati.”

“Ah, ini segar sekali.” Chamille menambahkan   lagi makanan ke batok kelapa di tangannya. “Aku hanya merajut. Untuk anak kita. Tunggu sebentar,” tanpa pikir panjang Chamille menyerahkan batok kelapa pada Kwang lalu memasuki pondok. Kwang berjengit, menatap batok di tangannya dan mengangkat bahu.

Chamille keluar pondok lagi, menyodorkan hasil rajutannya pada Kwang. “Kecil sekali,” komentar Kwang pada kemeja rajutan yang ada di tangannya. Chamille sudah menikmati makannya lagi. “Apa ini muat untuknya?” tanya Kwang lagi.

“Kau pikir dia akan sebesar apa? Itu cukup untuknya.”

“Ya… kalau memang kau berpikiran begitu. Oh, ya… aku akan membuat kasur  rumput untuknya, jadi kau harus merajut sprei lagi.”

Ide Kwang bagus juga. Mereka butuh tempat tidur bayi tapi gelengan kepala Chamille menjawab kalau dia tidak setuju dengan usul itu. “Dia akan tidur bersama kita. Di kasur kita, di tengah-tengah.”

“Tapi lama-lama dia butuh kasur sendiri, Sayang.”

“Itu kalau dia sudah besar. Untuk sementara ini, kita tidak perlu kasur lagi!”

“Ehmm.. terserahlah!” Kwang menyerah walau pun tidak rela. Chamille tersenyum dengan mulutnya masih mengunyah. “Peluk aku!” Kwang menurutinya, memeluk Chamille yang masih sibuk makan.

“Kau tidak makan?”

Kwang menggeleng. Melihat Chamille makan lahap saja, dia sudah merasa kenyang. Chamille semakin gemuk, sedangkan Kwang semakin kurus. Kalau di suruh menggendong Chamille lagi, mungkin dia tidak kuat. Setiap hari, Kwang melihat perubahan fisik Chamille. Lengan atas Chamille lebih menggembung sekarang. Setiap malam, Kwang memegang lengan itu mengukurnya dengan genggaman tangannya. Jika sudah begitu, Chamille pasti mengibaskan tangannya. “Kenapa? Aku semakin gemuk?”

Kwang terkekeh lalu memeluknya. “Tidak, tapi semakin empuk,” jawab Kwang seenaknya.

“Yah… ngomong sembarangan.”

“IYa loh… setiap dipeluk, kau semakin empuk. Aku jadi merindukan gulingku di rumah, hehehe.” Kwang geli sendiri dengan ucapannya, Chamille yang semakin sewot melipat tangan di dada dan cemberut.

“Tenang, Sayang. Jangan marah.” Kwang mencium pipi Chamille. Suara malam semakin memanggut. Chamille tersenyum lalu meraba pipi Kwang yang penuh dengan jenggot lebat.

“Apa kau sudah merasakan dia bergerak, menendang atau…

“Belum,” Chamille menggeleng. “Dua bulan lagi, dia akan menampakkan gerakan itu.”

Kwang menyingkap baju Chamille ke atas, meraba perut Chamille tanpa kain yang membatasinya saat menyentuh. Kulit bertemu langsung dengan kulit. Chamille bisa merasakan tangan kasar Kwang menelusuri kulit perutnya yang halus. “Aku sudah tak sabar merasakan dia bergerak-gerak,” ucapan Kwang diakhiri dengan tawa mereka berdua.

“Kalau dia bergerak, aku akan mengatakannya padamu. Jangan kuatir.” Chamille mencium pipi Kwang saat pria itu menyandarkan dagu di pundaknya. Mereka bahagia. Walau terkadang kawatir jika keadaan tak seperti yang diharapkan. Kwang kawatir jika Chamille tidak selamat saat melahirkan.

Beribu kali Chamille menenangkannya, beribu kali lipat rasa kawatir di benak Kwang bertambah. Jika sudah begitu, mereka memulai obrolan ringan. Apa saja untuk mencairkan kekawatiran Kwang. Perut Chamille semakin membesar. Tanaman-tanaman di pulau telah memberikan gizi yang cukup bagi janin di perut Chamille. Wanita itu mulai menyentuh ikan kembali saat masa penuh pergulatan morningsickness berlalu. Tubuh Chamille jadi mirip buah pear, dengan kepala kecil lalu dada, perut dan bokong yang semakin melebar.

“Lihatlah, Sayang. Kau semakin empuk.”

Empuk adalah istilah yang dipakai Kwang untuk mengatai kegemukan Chamille. “Ya, semua juga karenamu,” sahut Chamille. Kwang semakin mempererat pelukan.

“Dia bergerak!”

Reflek Kwang menyentuh perut Chamile. Tendangan janin itu terasa di bawah kulit tangannya.  Kwang tersenyum senang. Disingkapnya baju Chamille ke atas lalu mencium perutnya. Chamille bisa merasakan bibir Kwang menempel langsung di kulit perutnya dan merasa geli.

“Sudah empat bulan. Aku semakin takut,” perkataan Kwang membuat pandangan mata Chamille menyendu. “Huft! Dimana sebenarnya kita? Apa susahnya menemukan kita?”

“Kang…,” Chamille mengelus kepala Kwang yang masih membenamkan wajah di perutnya. “Mungkinkah mereka memang menganggap kita sudah meninggal?”

“Tidak.”

Chamille masih mengelus kepala Kwang, mengaitkan jemarinya di antara helaian rambut Kwag yang memanjang dan lebat. “Kang, jika dibandingkan denganmu, akulah yang paling ketakutan di sini. Tapi aku yakin, semua akan baik-baik saja.” Chamille mengangkat kepala Kwang, menghadapi tatapan kesedihan pria itu dengan belaian halus di wajahnya. “Kau akan membantuku nanti. Seperti kau membantu Ibumu waktu melahirkan. Tapi waktu itu kau kurang pengalaman, dan sekarang…

“Aku juga tidak berpengalaman menjadi seorang ayah yang mempersiapkan kelahiran anaknya.”

Chamille tersenyum tipis. “Kau kira bagaimana aku bisa bertahan selama ini? Kau lihat daun-daunan kering itu?” Chamille menujuk tas anyaman bambu. “Ada beberapa hal yang harus kau lakukan saat aku melahirkan nanti. Tentu saja berkaitan dengan daun-daunan kering itu.”

“Kau mengkonsumsinya selama ini?”

Chamille mengangguk. “Dan anak ini semakin sehat,” Dia menepuk perutnya.

“Ada beberapa daun yang harus kau siapkan saat aku melahirkan, Kang. Aku akan memberitahumu di akhir bulan kehamilan agar kau tidak lupa,” Chamille meraih tangan Kwang. Mengaitkan jarinya di antara jemari Kwang. “Jangan panik jika saat itu tiba. Biarkan aku yang panik, asal jangan kau.”

Kwang mengangguk lalu memeluk Chamille, semakin erat sementara perut Chamille menyundul perut Kwang hingga Kwang melepaskan pelukannya. “Anak ini mengganggu saja,” Kwang menepuk perut Chamille. Mereka tertawa bersama, dan akan seperti itu setiap malam, hingga anak mereka terlahir nanti.

 

—oOo—

Hal yang tidak disukai Charlie adalah, Stacy ikut campur dalam pengobatannya. Antoine beralasan kalau suara-suara yang mengganggu itu harus di atasi, dan jasa Stacy sangat dibutuhkan. Antoine mengatakan kalau dia stress biasa tapi tingkah laku Antoine seolah menunjukkan kalau dia mempunyai kelainan jiwa yang serius.

Charlie tidak menyukai mata Stacy jika menginterogasinya. Seakan penuh menyelidik lalu semuanya gelap. Charlie tidak merasakan apa-apa lagi setelah itu. Ketika bangun, dokter Rae sudah tersenyum di hadapannya, memujinya karena telah melakukan hal yang hebat. Charlie yakin kalau Stacy melakukan hipnotis, tapi untuk apa?

“Hanya untuk mencari penyebab stresmu, Sayang,” jawab Antoine jika Charlie bertanya.

“Kalau itu, sih… sebenarnya kau juga tahu jawabnya. Aku stress karena Chamille belum ditemukan, bahkan mayatnya pun belum.”

“Ya… ya… aku akan menambah tim pencari lagi,” Antoine hanya bisa menghela nafas. Kenyataannya satu persatu personil dalam pencarian Chamille mundur teratur, tinggal satu kapal saja, itu pun di bawah komando ganda dengan Brian. Pemuda itu masih belum menyerah jua.

Charlie tidak pernah menghubungi Brian lagi. Ibunya sengaja membatasi informasi dari dunia luar yang didengarnya. Charlie tidak pernah dibiarkan sendirian. Terkadang Nathan, yang sudah tahu keadaan Ibunya, menjaganya. Tapi kebanyakan yang berperan merawat Charlie adalah Ibunya.

Saat mulai jenuh, tiba-tiba sang Ibu mempunyai ide gila. Seperti berkebun, merangkai bunga atau…

“Bagaimana kalau nonton film?”

Charlie mengerjapkan mata. Wanita itu sudah mengibas-kibaskan DVD di hadapan Charlie. “Ada film bagus. Kau pasti suka. Kritikus film memuji kalau koreografi laganya bagus.”

Mendengar kata ‘kritikus film’ telinga Charlie menjengit. “Ah, ayolah. Ini film Indonesia yang memperoleh penghargaan festival film Toronto kemaren.” Ibu Charlie menyeret Charlie ke depan home theater, lampu ruangan dipadamkan setelah layar lebar itu menampakkan adegan demi adegan film laga. Sebentar saja ruangan itu hanya berisikan suara yang keluar dari televise. Ibu Charlie sangat antusias, terkagum dengan adegan laga yang dipertontonkan di film. “Kau tahu, itu namanya pencak silat. Hanya orang Indonesia yang tahu tehniknya, jadi kalau versi amerikanya dibuat nanti, mereka akan menunjuk sang pemeran utama,” saat layar menunjukkan sosok sang pemeran utama, Ibu Charlie menunjuk,” Dia.. dia akan menata koreografi versi Amerikanya. Dia aneh sekali, jago berkelahi tapi takutnya sama orang yang makan krupuk. Lucu sekali!” Wanita itu tertawa saat menyatukan kedua telapak tangannya membentuk tepukan.

Charlie tidak menggubris perkataan Ibunya. Keningnya semakin berkerut, entah kenapa dia merasa bisa menilai film itu. dan entah kenapa dia merasa kalau dunia film pernah dia jalani. Hingga suara-suara asing muncul lagi. Berselang-seling dengan suara ribut di televise, namun berangsur-angsur suara televise menghilang. Tinggallah suara-suara aneh yang mendominasi.

“Menurutku film ini sangat buruk!”

Suara itu terdengar parau, seperti suara pria yang lemah yang bahkan menopang tubuhnya sendiri pun tak bisa.

“Kita memang punya penilaian sama. Kau benar-benar mirip Andrea.”

Andrea, siapa andrea? Charlie mengerjapkan mata. Dia merasakan kemarahan yang tak biasa, marah karena dibandingkan dengan wanita lain.

“Kau masih juga mengingat wanita tua itu!”

Apakah itu dia? Dia benar-benar marah dibanding-bandingkan dengan Andrea?

“Cukup, Charlie Bouwens!”

Lelaki itu memanggilnya Charlie Bouwens. Mata Charlie mengerjap. Seketika suara-suara itu menghilang, berganti dengan suara dari televise lagi. Nyanyian penutup tanda berakhirnya film. Ibunya menyalakan lampu kembali. Charlie memandang sekeliling ruangan, mengingat-ingat di mana sebenarnya keberadaannya.

“Aku akan ke dapur, melihat apakah makan malam sudah siap,” Ibu Charlie langsung keluar ruangan. Charlie menoleh padanya dan mengkerutkan kening. Dengan cepat dia mempelajari situasi, lalu keluar ruangan juga. Saat berjalan di koridor, bayangannya terpantul di kaca, dia berhenti sejenak, mengamati bayangannya. “Style yang buruk,” omelnya dalam hati. Dia tampak seperti ibu rumah tangga yang tak terurus saja. Lalu menuju perpustakaan, tempat favoritnya di rumah ini.

Mata lebarnya segera tertohok pada tumpukan  buku tebal di atas meja. Entah kenapa ada hal yang menariknya untuk mendekati tumpukan itu tapi sebelumnya, dia bisa melihat foto-foto yang berjajar di meja itu. Foto pernikahannya dengan seorang pria. Dia mempelajari foto itu dengan cepat, pengantin wanita di foto itu adalah dirinya dan sang pria…

“dokter d’Varney?”

Foto yang lain segera menyapu penglihatannya, foto Nathan ketika berhasil masuk tim baseball nasional, foto Chamille, dan dia menyadari sosok di foto itu adalah Charlie d’Varney, bukan dirinya.

Sekali lagi buku tebal itu menarik perhatiannya. Colin A. Ross,  Multiple Personality Disorder: Diagnosis, Clinical Features, and Treatment, dia menyentuh tulisan di buku yang terletak paling atas tumpukkan itu. Dia menyimpulkan kalau d’Varney sudah menyadari sesuatu. Dia tersenyum tipis.

“Oh, di sini kau rupanya,” Sang Ibu tiba-tiba muncul dari balik pintu. Sekali lagi dia mengkerutkan kening, mempelajari wanita itu. “Makan malam sudah siap. Antoine menunggu kita di meja makan.”

Kesalahan wanita itu adalah meninggalkan putrinya sendiri. Dia sedikit kawatir tapi melihat sang putri berada di perpustakaan tak kurang suatu apa pun, hatinya melega.

“Tentu saja aku akan makan, Ibu. Aku ingin menemui suamiku tercinta,” dia melangkah keluar ruangan, melewati sang Ibu yang heran pada tingkahnya. Kata-katanya bernada sarkasme, terdengar begitu asing di telinga wanita tua itu. apalagi saat dia mengucapkan kalimat…

SUAMIKU TERCINTA…

 

BERSAMBUNG

 

THE SECRET II (Temptation of Island — Part 8)

THE SECRET

(Temptation of Island)

Part 8

Angin pantai menelisir wajah Antoine saat Charlie berlari-lari kecil ke arahnya. Ada sedikit kekawatiran menyelinap saat melihat tingkah wanita itu. Kandungannya mulai kentara, Antoine memberikan peringatan padanya dan sepertinya tidak digubris. Kabar angin yang terdengar seakan lebih penting dari pada keadaannya sendiri. Kabar kembalinya Robert Cassidy dan Brian ke Seoul hari ini.

“Charlie, Stop! I’ll go there!” suara jengkel Antoine mengalahkan debur ombak yang menghempas. Para pelaut menoleh pada Charlie. Seakan dijadikan tontonan, Charlie berhenti, menghentak-hentakkan kaki tidak sabar.

Antoine berdiri di depannya dan segera kabar itu terucap dari mulut Charlie. “Kau dengar kabar itu? Cassidy telah menarik separuh kapalnya dan kembali ke Seoul!”

“Apa?” Antoine yang belum mendengar kabar itu terkejut.

“Brian tadi menelphonku. Dia menyayangkan keputusanku agar dia tidak ikut campur,” Charlie mendongak, menatap Antoine yang lebih menjulang darinya. Diremasnya kemeja di dada Antoine. “Antoine, apa maksud semua ini? Aku tidak pernah mengatakan agar Brian tidak ikut campur. Kenapa dia bilang begitu?”

Kening Antoine berkerut. “Kau pernah bertemu Brian sebelum ini?”

“Tidak pernah,” Charlie menggeleng, “Hanya percakapan lewat telephon, itu pun, aku bersumpah, tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu. Sejujurnya bantuan Brian sangat aku butuhkan.”

“Brian bekerja atas perintah Robert. Hanya Robert yang bisa menjelaskan semuanya.. Ayo!”

Antoine memapah Charlie ke arah pavilyun Robert. “Mau kemana?” pertanyaan Charlie membuat mereka berhenti sebentar.

“Menemui Robert.”

“Mereka menuju bandara sepuluh menit yang lalu.”

“Kalau begitu, kita harus bergegas menyusul mereka.”

Menyusul kedua orang itu,  Antoine benar-benar tak bisa mengikuti jalan pikiran Robert. Hanya sependek itukah wujud tanggung jawab Robert terhadap kecelakaan yang menimpa Camille? Jika memang waktu bagi pewaris Bouwens Inc itu untuk kembali ke Seoul sudah tiba, setidaknya dia bisa pergi sendiri. Tanpa Brian, dan tanpa menarik separuh kapal.

Antoine melirik Charlie yang membisu selama perjalanan ke bandara. Sang sopir sepertinya sudah terbiasa dengan kemacetan kota. Besok adalah perayaan Nyepi. Jika mau keluar dari Bali dengan menggunakan transportasi udara, inilah saatnya, membuat lalu lintas semakin merayap.

“Antarkan istriku ke lobi, aku harus masuk duluan.” Antoine membuka pintu mobil dan keluar, padahal jarak menuju pelataran Bandara masih beberapa meter lagi.

“Antoine,” panggilan Charlie pun tidak dia hiraukan. Pria jangkung itu sudah lari menjauh. Charlie mendengus sambil mengusap perutnya, pandangannya tak lepas dari iring-iringan mobil di depan mobilnya yang sama-sama akan memasuki lobi Bandara.

Tinggal lima menit lagi pesawat yang akan ditumpangi Robert tiba. Antoine mencari pria itu di VIP launch. Pandangan matanya menangkap sosok dua orang pria berkulit kuning di salah satu sudut ruangan. Sangat kontras dibanding warna kulit  para turis ras Kauskasia ataupun kulit wisatawan domestik.

“Cassidy.”

Robert mendongak. Antoine langsung memberondongkan pertanyaan. “Ada apa sebenarnya? Apa maksudmu dengan Charlie yang menginginkan Brian tidak ikut campur?”

Brian pun menatap keduanya dengan kening terlipat. Merasakan kecurigaan Brian, Robert berdiri dan berbisik di telinga Antoine. “Ini hanyalah cara agar pemuda itu mau pulang.”

Antoine melirik Brian. “Memangnya kenapa?”

“Pemuda itu… kau pasti ingat, kan?” Robert memandang lurus ke mata Antoine. Antoine menyipitkan mata sementara berpikir. Setelah tahu maksud isyarat Robert, Antoine menggeleng. “Tidak mungkin!”

Robert mengangguk, “Iya.”

Ada bayangan-bayangan masa lalu yang mulai menghantui kepala Antoine. Terakhir kali mereka bertemu dengan Brian kecil adalah sehari sebelum Camille lahir. Seharusnya Charlie tidak boleh melihatnya lagi, atau pun Ayah anak itu… atau…. Atau…

“Antoine,” Charlie muncul kemudian. Ketiga pria itu menatap dengan perasaan masing-masing. Robert yang ketakutan jika kebohongannya pada Brian terbongkar. Antoine yang tiba-tiba ketakutan jika Charlie terus berinteraksi dengan Brian dan Brian sendiri melihat Charlie sebagai dewi penolong yang bisa mengurungkan perintah Robert agar dia kembali ke Seoul.

Masih dengan kekawatiran, Robert berbisik pada Antoine. “Urus dia dengan baik. Jangan sampai dia tahu semuanya.”

“Nyonya d’ Varney, senang sekali anda menghantarkan kepergian kami,” Robert membungkuk pada Charlie, menawarkan basa-basi ala Korea.

“Kenapa kau menarik separuh kapal?”

Bersamaan itu, pengumuman tersedianya pesawat  terdengar. Seakan diselamatkan oleh keadaan, Robert berkata lega,”Saya sudah menjelaskan segalanya pada suami Anda, Nyonya. Dengan rendah hati saya mengaku kalau sedang kesulitan dana sekarang. Jangan kawatir. Kapal yang disewa oleh suami anda sudah lebih dari cukup.”

Charlie menaikkan alisnya. Robert melihat hal itu dan teringat sosok Charlie Bouwens. Charlie sudah menaruh curiga, mereka harus segera pergi dari Charlie. “Brian,” panggil Robert agar pemuda itu segera mengikutinya menuju pesawat. Brian yang menurut, berjalan di belakang Robert dengan menarik dua travel-bag di tangan kanan-kirinya. Satu miliknya, satu kepunyaan Robert. Saat melewati pasutri itu, Brian membungkuk hormat lalu melangkah lagi.

Tinggal Antoine saja yang tersisa di depan Charlie. Pandangan wanita itu menuntut jawaban dari suaminya. Antoine merangkulnya kemudian. “Kita kembali ke pavilyun.”

“Tidak! Sebelum kau jelaskan semuanya,” Charlie membebaskan diri dari rangkulan Antoine lalu melipat kedua tangan di dada. Antoine menggaruk-garuk tengkuk kepalanya sendiri untuk menghilangkan kegugupan. “Seperti yang dikatakan Robert tadi.”

“Lalu Brian?”

“Brian adalah tangan kanan Robert. Jasa Brian sangat dibutuhkan di Seoul.”

“Lalu yang katanya aku menginginkan Brian tidak ikut campur?”

“Itu hanya akal-akalan Robert agar Brian mau kembali ke Seoul.”

Charlie menghela nafas setelahnya. “Oh, jadi seperti itu?”

Senyum Antoine seperti dipaksakan, tapi setidaknya Charlie sudah mau dirangkul lagi. “Iya, sekarang kita kembali. Kau harus tidur siang, kalau tidak bayi ini akan protes lagi.” Tangan Antoine yang bebas mengelus perut buncit Charlie.

“Brian yang malang. Dia begitu penurut di depan Robert Cassidy.” Bukannya segera jalan, Charlie malah kepikiran Brian. “Aku bisa lihat kalau pemuda itu enggan meninggalkan Bali. Dia bersungguh-sungguh dalam mencari Chamille. Sayang…,” Charlie menatap wajah Antoine. “Kau yang lebih tahu interaksi pemuda itu dengan Camille selama di Seoul. Apakah Camille juga tertarik dengannya? Jika iya…, akan lebih baik jika Brian menjadi calon menantu kita.”

“Kau bicara seolah Camille ditemukan besok,” Antoine mulai membimbing Charlie meninggalkan ruang tunggu.

“Besok kita mulai mencari tanpa mereka.”

Antoine menggeleng,”Tidak! Besok perayaan Nyepi. Semua kegiatan terhenti selama dua puluh empat jam.” Charlie menatap Antoine dengan pandangan kurang paham. “Nanti aku jelaskan diperjalanan.”

Brian sebagai menantu keluarga d’ Varney? Dalam hati Antoine berkata tegas, tidak!

Sementara itu, Brian dan Robert  sudah berada di dalam pesawat yang menembus mega. Tidak seperti biasanya, Robert lebih menikmati penerbangannya saat ini. Dia tertidur. Hal yang jarang Brian temui jika bepergian dengan bos-nya itu. Robert selalu disuguhi dengan file-file yang harus ditanda-tangani di atas pesawat, atau menghafalkan pidato untuk pembukaan event. Tapi sekarang lain, pria super sibuk itu tertidur. Janggal memang, apalagi jika ditilik kepergiannya saat ini. Tanpa pesawat pribadi dan setengah lusin asisten seperti biasanya. Hanya ada Brian di situ. Sangat kentara jika kepergian itu terburu-buru.

Brian memandang awan dari balik jendela pesawat. Pulau Bali telah tertinggal beberapa kilo meter dibawah mereka. Sebentar lagi kesibukan di Seoul menanti. Brian tidak tahu bagaimana harus kembali ke masa itu, meninggalkan impiannya atas Camille. Walau pun gadis itu mungkin sudah mati dimakan ikan seperti anggapan orang-orang lokal Bali, seperti halnya Charlie, Brian percaya kalau Camille masih hidup. Brian bisa merasakannya. Setiap malam, gadis itu menghantui tidurnya, menyerukan keinginan agar Brian tak berhenti mencari. Hanya tinggal satu kapal yang ada dibawah komandonya dan itu pun juga dibawah komando Charlie. Tanpa uang Robert Cassidy, kesembilan kapal itu ditarik karena kehabisan dana. Brian mengutuki kemiskinannya.

Bayangan Camille datang lagi di angannya. Senyum lebar Camille saat dia mengajak gadis itu di Namsan Tower. Dia sudah benar-benar jatuh cinta waktu itu. dia jatuh cinta pada karakter Camille yang apa adanya. Spontanitas Camille yang selalu menunjuk jika ada obeyek menarik yang terlihat dari kereta gantung sembari berucap,”Look! So tiny from here.” Dan dia tersenyum. Camille belum begitu fasih berbahasa Halyu. Beberapa kalimat bahkan serasa lucu terdengar, namun dalam sehari peningkatan ‘conversation’nya bertambah.

“What is lover gate?” tanya Camille saat menuruni kereta gantung.

“Lover gate? Jembatan cinta,” jawab Brian asal. Camille memberikan jotosan kecil di bahu pria itu. “I know it! Maksudku kenapa diberi nama seperti itu?”

“Kau ingin tahu?”

Camille mengangguk.

“Ayo, ikuti aku,” Brian menarik lengan Camille menuju jembatan cinta. Sepertinya Camille cukup cerdas menangkap maksud ‘lover gate’ saat melihat jembatan itu. gembok-gembok yang dikaitkan hampir memenuhi besi pembatas jembatan. Camille bahkan mengeja salah satu nama di situ. “Kim… Sang..

“Kim Sang Gun,” potong Brian.

“Yah, kau mengacaukan belajar membaca huruf Halyu-ku.” Camille jadi cemberut. Brian terkekeh melihatnya. Namun mata Camille mengerjap kemudian. Brian agak kikuk.

“Jadi …. Pasangan-pasangan itu mengaitkan gembok di sini, lalu membuang kuncinya di laut agar hubungan mereka abadi, begitu?”

Brian mengangguk. Seolah memikirkan sesuatu, Camille mengetuk-ketukkan jari telunjuk di bibirnya. “Bagaimana kalau kita mengaitkan gembok kita?” Brian terbatuk-batuk mendengarnya.

“Hei, jangan berlebihan begitu,” Camille menyenggolkan bahu kanannya ke bahu kiri Brian. Kedua tangannya masih meraba satu persatu gembok yang ada di situ. “Kita bukan pasangan,” kilah Brian.

“Kita pasangan, kok. Pasangan teman, kan?” Camille menatap mata Brian. Brian memalingkan pandangan dari Camille. “Tidak harus pasangan kekasih, kan? Persahabatan yang tulus juga impian setiap orang.”

Brian masih saja menatap pemandangan di bawah jembatan. Pasangan sahabat? Benarkah bisa mengkaitkan gembok di jembatan? Mungkinkah persahabatan itu berubah jadi cinta?

“Ah, aku tak mau tahu,” Camille menyeret lengan Brian.

“Kemana?” tanya Brian.

“Mencari gembok, tentu saja!”

Dan gembok mereka pun terpasang. Bersama gembok-gembok pasangan lain. Gembok dengan nama mereka berdua. Brian pun berharap jika nantinya cintanya bersambut. Sedangkan Camille… sampai saat ini perasaan gadis itu masih misteri  bagi Brian. Hanya Camille yang bisa menjawab kegundahannya jika gadis itu ditemukan utuh dan sehat. Jika tidak, mungkin misteri itu akan terkubur bersama ikan-ikan di perairan Nusa Dua.

—oOo—

Mereka benar-benar melakukan sumpah di depan salib. Pagi hari itu adalah awal yang baru bagi keduanya. Camille menyeret Kwang ke depan salib. Antusias dan percaya diri. Kwang yang agak ragu pun menengadah ke salib yang menjulang beberapa centi dari mereka. “Lalu… apa yang harus aku lakukan?”

Camille tersenyum dan menyenggol bahu Kwang. “Bersumpahlah.”

“Demi apa Camille? Kau tahu kan…

“Ya ya ya,” Camille menggerakkan bola mata jengkel. Udara terhembus dari hidungnya di atas mulut yang dimonyongkan karena kesal. Telunjuk Camille terarah pada Kwang kemudian. “Oke, aku dulu yang bersumpah dan kau harus mengikutiku.”

“Terserahlah,” Kwang menggedikkan bahu. Camille mulai menatap serius salib yang berdiri kokoh. Perlahan tangan kanannya menggapai pergelangan tangan kiri Kwang. Kwang menoleh saat merasakan tangan hangat Camille menggenggam tangannya dan mendengar gadis itu mengucapkan sumpah setia. “Aku, Camille Louis d’Varney bersumpah untuk menjadi istri Shin Hyun Kwang. Selalu bersamanya dalam suka dan duka sampai ajal memisahkan kami berdua.”

“Jadi kalau aku mati, kamu kawin lagi?” tanya Kwang. Camille langsung melotot. Kwang telah mengacaukan suasana khidmat yang sedang dia bangun. “Pertanyaan macam apa itu?” Kuku panjang Camille mencubit. Kwang meringis sambil mengelus bekas cubitan Camille di lengannya.

“Giliranmu,” perintah Camille.

“Oh, oke..,” Kwang berdehem sebab dirasa tenggorokannya mengering. “Seperti tadi, kan?” Camille tambah melotot. Kwang masih saja bercanda. “Oke, oke… dengarkan ini, Cantik.”

Tidak seperti Camille, Kwang memilih menatap wajah Camille saat mengucapkan sumpah. Perlahan kedua tangannya menangkup wajah Camille. Mata lebar Camille mengerjap tepat dibawah pandangannya, sinar keemasan cahaya pagi terpantul di rambut Camille yang coklat kemerahan. Udara pagi dan rasa malu menyebar di pipi gadis itu, mamunculkan rona kemerahan yang menambah kecantikannya. Dan Ya… Kwang bersumpah. Kwang bersumpah demi cinta mereka.

“Aku, Shin Hyun Kwang bersumpah untuk menjadi suami Camille Louis d’Varney. Selalu bersamanya dalam suka dan duka sampai ajal memisahkan kami berdua.”

Kwang membungkuk, menggapai bibir Camille. Ciuman hangat menggetarkan jiwa Camille di pagi hari. Liar, kasar dan menuntut. Benar-benar membuat Camille sesak nafas. Kwang mendengar Camille yang megap-megap bagaikan ikan yang dikeluarkan dari habitat airnya, sedangkan tubuh Camille bergolak di dadanya, bisa dipastikan kaki gadis itu sudah kehilangan daya menyangga. Mungkin sudah jatuh tersimpuh jika lengan Kwang tidak melingkari punggungnya. Saat Camille benar-benar menyerah, Kwang melepaskan ciuman dan menatap wajah pengantinnya yang semakin memerah.

“Masih kuat berdiri, Sayang?”

Tentu saja tidak. Camille benar-benar lemas. Kwang tersenyum menggoda.

“Kau membuatku sakit. Gendong aku!”

Kwang terkekeh mendengarnya. “Oke,” pria itu membelakangi Camille lalu berjongkok. “Naiklah ke punggungku.”  Kwang bisa merasakan Camille langsung memeluk punggungnya. Pria itu berdiri, menggendong Camille di punggungnya menuju rumah pohon.

“Kau tahu … seperti inilah pertama kali aku mengangkatmu di pulau ini,” Kwang menceritakan awal mereka terdampar di pulau ini. Camille yang menikmati punggung Kwang, menempelkan pipinya mencari kehangatan. “Benarkah?”

“He-eh,” Kwang mengangguk, dia merasakan senyum Camille di balik punggungnya.. “Tapi dengan posisi kepala di bawah,” sambungnya sambil tertawa. Jotosan Camille terasa kemudian. “Jahat sekali.”

Tawa Kwang semakin berderai. “Kau berat sekali waktu itu. Sekarang juga berat tapi tidak seberat dulu.”

“Pulau ini membuat berat badanku menyusut.”

“Tidak,” sanggah Kwang. Mereka sudah sampai di depan rumah pohon. “Mungkin karena waktu itu, aku mengangkatmu dalam keadaan bingung.” Kwang merendahkan tubuh hingga Kaki Camille bisa  menapak sendiri di tanah lalu menghadapi gadis itu yang sudah meletakkan kedua tangan di dadanya. “Dan sekarang…, dalam keadaan apa kau mengangkatku?”

Kwang mencium kening Camille. “Dalam keadaan bahagia, tentu saja.” Camille pun menghambur ke pelukan Kwang. “Oh, Kang… aku benar-benar mencintaimu. Sungguh!” Kali ini gadis itu yang membuat Kwang sesak nafas.

Kwang mengelakkan tubuhnya dari rangkulan Camille. “Ehm, tidak-tidak! Jangan katakana kau akan pergi dariku pagi ini,” Camille mempererat pelukan.

“Jika tidak bekerja, kau harus terima hanya makan pisang seharian, Camille.”

Namun kepala gadis itu masih menyender di dadanya. Saat Kwang menunduk, dia yakin kalau mata Camille memejam. “Aku tidak mau memasak hari ini. Kita makan diluar saja, yuk!” Kwang terkekeh saat mendorong tubuh Camille demi melepaskan pelukannya. “Kau semakin ngacau.”

Makan di luar? Memangnya ada restoran buka di pulau?

Camille mendengus. Kwang mulai meraih tas anyaman yang berisi perlengkapan berburu. Dia berkata ketus saat tas anyaman bertengger di punggung Kwang,”Aku mau makan daging kelinci malam ini!”

Kwang menoleh,”Jika kau masih menahanku, elang akan mendahuluiku memangsa kelinci.”

“Setidaknya itu sepadan karena kau meninggakanku di hari pertama pernikahan.” Camille melipat tangannya di dada, mendongak dengan congkak. Kwang menggeleng-gelengkan kepala, tertawa keras. “Lucu sekali,” katanya sambil mengucek puncak kepala Camille seperti anak kecil.

“Aku pergi,”

Camille mendengus lagi.

Pulau ini menjanjikan pemandangan eksotis bagi pengantin baru tapi juga neraka kelaparan bagi orang-orang yang malas bekerja. Tidak ada layanan hotel bintang lima di sini. Semua tersedia, tapi mereka harus berusaha meraihnya. Tidak ada istilah ‘meminjam tangan’ atau pun ‘bantuan’.

Ambillah sendiri atau tidak sama sekali!

Camille sudah bisa menerima cara berpikir Kwang saat membakar ubi jalar di depan pondok. Jika tidak bekerja, jangan harap bisa makan! Atau makan saja pisang-pisang persediaan itu, membiasakan diri bertingkah laku seperti monyet dan bersiap-siap mendapat serangan migraine. Tindak-tanduk Kwang adalah wujud tanggung-jawabnya terhadap diri Camille, dan Camille berusaha memenuhi tanggung-jawabnya sendiri. Camille tersipu di depan bara api. Memikirkan bagaimana dirinya sebelum terdampar dan siapa dirinya sekarang, seorang istri yang memikirkan tanggung-jawab. Dia harus kensekuen dengan langkah yang telah diambil.

Camille berdiri lalu masuk pondoknya. Rumah pohon itu perlu sentuhan feminine, setidaknya malam ini. Malam pertama mereka. Rona merah semakin melebar ke cuping telinga Camille. Dia menuruni tangga tergesa-gesa. Berjongkok di depan bara api demi mengambil ubi jalar yang sekiranya telah lunak untuk ditaruh di tempat penyimpanan lalu menuju hutan setelah memadamkan api.

Sifat melankolisnya lebih menonjol sekarang, saat dia mengumpulkan bunga-bunga liar yang dia kempit di telapak tangan kirinya. Sikap ilmiahnya lenyap sudah, dia tidak menganalisa dari familia, atau spesies apa bunga itu seperti biasanya. Masa bodoh, lah. Yang dia perhatikan adalah keindahan, keharuman dan kepantasan bunga-bunga itu menghiasi pondoknya.

Dan Camille pun melakukannya. Pondok dengan sentuhan feminine. Dia mengingat-ingat apa saja yang Charlie lakukan ketika menghias rumah. Melakukan ‘Mom’s miracle’, seperti yang dikatakan Charlie. Rumah yang kusam pun jadi serasa hangat karena ‘mom’s miracle’ dan Camille menikmatinya saat berbaring sejenak di tempat tidurnya, meluruskan punggung setelah seharian menghias rumah.

“Home sweet home,” desah Camille menirukan kalimat Kwang ketika melihat pondok ini pertama kali. Senyum sipu menghias kemudian, dia membenamkan wajahnya ke tempat tidur. Malu sendiri dengan buah pikirannya.

Saat dia menatap langit-langit kembali. Udara semakin panas. Camille bangkit sambil mengibas-ngibaskan tangannya di dada lalu keluar pondok menuju air terjun.

Kwang sampai di pondok sepuluh menit kemudian. Sepi!

Tidak ada senyuman istri menyambut? Kwang tertawa sendiri sambil menggelengkan kepala, menghalau pikiran itu. Dikeluarkannya kelinci hasil buruannya dari dalam tas lalu disembelih dan dikuliti. Camille pasti tidak tega memakannya jika melihat pembantaian ini karenanya dia selalu menghindari dari Camille saat mengurusi hasil buruannya. Biasanya Camille tinggal memasak sambil berkicau, menanyakan ‘daging apa ini?’ atau ‘dimana kau mendapatkannya?’ tapi siang ini, Kwang ingin membebaskan Camille dari kewajiban memasak karena Kwang sendiri yang akhirnya memanggang daging kelinci itu.

Kelinci panggang sudah siap, namun Camille tidak juga nampak. Rahang Kwang mengeras saat meletakkan kelinci panggang itu di tempat penyimpanan, setelah melewati ruangan pondoknya yang tidak seperti biasanya. Ruangan itu mengesankan, namun keterlambatan Camille membuat Kwang kesal. Apalagi rasa lapar sudah membuahkan bunyi gemuruh di perutnya. Kwang memakan ubi bakar sebagai pengganjal perut lalu mencari Camille.

Tidak susah rupanya menemukan gadis itu. Camille tengah menikmati mandinya. Kwang mengelus dada, mengucap syukur. Hari semakin panas, sebentar lagi kawanan monyet akan segera turun, Camille tidak mungkin berebut sungai dengan monyet-monyet itu. Kwang melemparkan batu kecil tepat di depan Camille, memperingatkan gadis itu pada kehadirannya.

“Sebentar lagi monyet-monyet akan memenuhi sungai. Kau harus naik sekarang!”

Camille menoleh, binar matanya terpancar seiring ulasan senyum. Rambut panjangnya yang basah menempel, melewati di kedua sisi pundaknya demi menutupi dadanya yang telanjang. Kwang terpaku sesaat lalu membuang muka. Gadis itu menyadari pesonanya sendiri. Dia tersenyum, mengerling pada Kwang saat merambat dalam air menuju Kwang. Pria itu berkacak pinggang, berdiri di atas batu pinggir sungai dengan kepala mendongak, menghindari pemandangan erotis yang disuguhkan Camille.

Dan Camille mendekat padanya, masih di dalam air mendongak. “Sepertinya kau yang harus menangkapku,” tantang Camille.

“Tidak akan!” jawab Kwang yakin.

“oh, ya?”

Camille menghentakkan kakinya, mendorong tubuhnya ke atas lalu meliuk. Air bergelepak menerima dentuman punggungnya. Kwang kawatir mendengar dentuman itu lalu memandang ke bawah, ke arah Camille yang ternyata sudah berenang gaya punggung. Tak elak lagi! Kwang kalah lagi! Sekali lagi Camille berhasil menarik perhatiannya. Kwang bisa melihat tubuh polos gadis itu  meliuk-liuk di dalam air. Saat mentari yang tepat di ubun-ubun menyinari tubuh Camille di antara aliran air, menambahkan desiran  aneh di benak Kwang untuk menjamah.

“Tangkap aku! Aku baru mau naik!” tantang Camille.

Kwang mengerang. Tangannya terkepal menahan gejolak dadanya yang turun naik. Gadis itu…? Benar-benar membangunkan singa yang sedang tidur! Tunggu! Singa siapa yang tidur?

Brengsek!

Benar saja. Satu demi satu monyet mulai menuruni tebing terjal di sisi kanan sungai. Kwang mengerang lagi sebelum menanggalkan semua pakaiannya lalu terjun ke air. Gadis itu semakin nakal saja, itulah yang ada di benak Kwang saat tubuhnya membentur permukaan air. Dia berenang mengejar Camille, dan gadis itu sengaja menyelam, menghindarinya. Kwang membenamkan diri lebih ke dalam, mencari Camille dengan pandangan yang terbatas warna biru air di sekelilingnya.

Camille sudah tidak ada. Kwang menggerakan kakinya, mendorong tubuhnya ke atas, mencari Camille dengan kepala di atas permukaan air lalu mendongak ke batu tempat dia tadi berdiri. Camille sudah menggantikannya berdiri berkacak pinggang di batu itu, polos dengan rambut basah dan rembesan air yang mengalir jatuh di antara kedua kakinya. “Kau lamban sekali!”

Kwang semakin gemas. Dia berenang ke arah batu dan Camille sudah berpakaian. “Aku harap kau tidak keberatan pulang telanjang.”

Sial! Camille pulang ke pondok dengan membawa pakaiannya. Kwang urung keluar dari air sementara para monyet sudah mulai mengepung area itu.

 Awas kau, Camille!

Camille tertawa saat melihat penampilan Kwang sesampainya di pondok. Lilitan daun pisang menutupi bawah tubuh pria itu. Camille sama sekali tak bisa menghentikan tawanya hingga air matanya berderai.

“Tidak lucu!” Kwang menunjuk padanya lalu masuk ke pondok. Camille berhenti tertawa, menggedikkan bahu lalu melahap lagi ubi bakar di tangannya. Di dalam pondok, Kwang bisa mendengar tawa Camille yang timbul tenggelam, mungkin Camille masih kesulitan menahan tawa atau mungkin masih teringat kejadian di sungai. Camille ditambah keerotisan pulau tropis yang misterius ini, jawabannya adalah kehancuran. Itulah yang dipikirkan Kwang saat meraih salah satu pakaiannya, hasil rajutan Camille yang terakhir. Benarkah itu? Dan dia menikahi Camille untuk hancur bersamanya? Mungkin!

Kwang mendesah saat berpakaian.

Saat dia keluar dari pondok, Camille sudah lenyap lagi. Sekali lagi Kwang mencari keberadaan gadis itu dan menemukannya sedang duduk di atas pasir pinggir pantai sambil memeluk lutut.

Kwang menepuk punggung Camille dan duduk di sampingnya saat kepala Camille menoleh sesaat sebelum memandang lagi ke laut lepas. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Angin memainkan rambut keduanya. Buih yang ditinggalkan oleh ombak semakin lama merambat, mendekati mereka seiring semakin menggelincirnya matahari. Perlahan kepala Camille menyandar ke pundak Kwang. Dia tertidur. Kwang mengamati wajahnya yang tampak tenang jika tertidur.

“Kau lebih manis kalau seperti ini,” desis Kwang. Seolah itu adalah lagu nina bobo, Camille tersenyum dalam tidurnya. Kwang menghela nafas dan memandang laut lepas kembali. Tidak ada kapal yang melintas hanya ada air yang berbatasan dengan langit di satu garis horizontal. Kwang mulai bisa menerima kenyataan kalau mereka harus berada di pulau ini lebih lama. Lebih lama atau bahkan mungkin selamanya.

 Selamanya… seperti janji yang mereka ucapkan. Itu mungkin lebih baik atau mungkin buruk. Entahlah… mungkin benar kata Camille, apa perdulinya pada hari esok? Mereka menikmati malam. Berpesta dengan kelinci bakar dan merengguk manisnya air yang dicampur dua tetes madu persediaan. Bersulang dengan air madu itu dan berdansa dengan iringan lagu yang keluar dari mulut Kwang. Lagu berbahasa Halyu yang terasa asing di telinga Camille hingga Camille menyanyikan lagunya sendiri.

“Kau pedansa yang buruk,” sindir Camille di akhir dansa mereka.

“Aku bukan kaum sosialita.” Kwang duduk, menghadap jendela yang mengarah ke laut. Camille ikut duduk di sampingnya, menulusur pandang ke obyek pengamatan Kwang. “Apa yang kau pikirkan?”

Kwang menoleh sesaat, tersenyum hingga Camille bisa mendengar desahan nafasnya lalu mengamati laut lagi saat Camille menatap wajahnya. “Entah ini perasaanku saja atau apa, yang pasti aku merasakan kalau pulau ini lebih sunyi malam  ini.”

“Bukankah setiap hari memang pulau ini sepi?”

Kwang mengangguk.”Tapi ini lain, dengarlah… bahkan burung hantu pun enggan berbunyi.” Camille mengapitkan rambut di belakang kedua telinganya, ikut mendengarkan alam bersama Kwang. “Kau adalah pelaut, semua ini tentu lebih mahir bagimu, mendengarkan tanda-tanda alam.”

Kwang terkekeh pelan.”Camille, kenapa pulau ini serasa jauh. Aku bahkan tidak bisa menangkap cahaya dari mercu suar pulau terdekat yang lebih beradab. Pernahkah kau berpikir di mana kita?”

Camille menggelang. “Kita menghilang dari peradaban, Kang. Terimalah itu!” Gadis itu menyandar di pundak Kwang, sama seperti kejadian di pantai. Kwang mengulurkan lengan, merangkulnya dan dia menangadah, menatap mata Kwang yang tepat di atas matanya. Mata itu seakan mencari sesuatu dibalik mata Camille, meragu lalu memejam. Kwang menunduk, menempelkan dahinya di dahi Camille lalu mendesah. “Kenapa kau semakin indah di mataku.”

Pada mulanya mata Camille ikut memejam, namun mendengar perkataan Kwang tadi, dia menatap mata Kwang yang masih terpejam itu dengan dahi yang masih menempel di dahinya. “Karena itukah kau menutup matamu?”

Kwang mengangguk pelan.

“Bodoh sekali.” Camille menangkup kedua belah pipi Kwang, mencium bibirnya lembut. Lalu tangan kanannya menarik kepala Kwang, membekapnya di dada. “Kalau pun kau menutup matamu, Kang.. aku nyata, di mana pun kau mengingkariku… bayanganku akan menghantuimu seumur hidup.” Camille menangis saat mengatakan itu, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika mereka ditemukan. Kwang mungkin terlalu lemah menghadapi dunia, dan mungkin meninggalkannya karena tidak kuat mendengar ocehan para pendengki. Dan jika itu terjadi, Camille akan mengejarnya ke mana pun. “Aku mencintaimu, Kang. Tidakkah kau percaya?”

Kwang mengangguk di dada Camille. Mengangkat kepalanya dan mengusap air mata di pipi Camille. “Aku membuatmu menangis lagi.”

Camille tertawa walau air mata masih mengalir. “Iya, dan kau harus membayar.”

“Hm, sayangnya aku tidak punya apa-apa untuk membayar,” Kwang berdiri, Camille memegangi kakinya. “Bagaimana jika kau membayarnya dengan cintamu?”

Camille masih duduk, melihat Kwang yang menyipitkan matanya, tidak faham atau pura-pura tidak faham. “Ini malam pengantin kita, Kwang.”

“Kau tidak sadar dengan apa yang kau katakan.” Kwang melangkah lagi, namun genggaman Camille di pergelangan kakinya semakin kuat. “Aku sadar seratus persen!” Camille setengah menjerit.

“Tidak!”

Camille berdiri dengan lututnya, tangannya terulur berusaha membuka daerah terlarang Kwang. “Camille, hentikan!” Kwang mundur dari Camille.

“Tidak akan!”

“Kau mabuk!” Kwang menuju pintu keluar. “Daging kelinci itu membuatmu mabuk!”

Camille menghentak-hentakkan kakinya di lantai pondok, membuat bambu-bambu itu berdecit di bawahnya. “Ya, dulu kau menuduhku gila, sekarang mabuk!” Kwang sudah menuruni tangga. Seperti biasanya, menuju pantai jika sedang kesal. Camille berteriak di ambang pintu,”Ke pantai lagi! Selalu saja itu yang kau lakukan kalau menolakku!”

Kwang memang ke pantai. Berjalan kesal, menyepak-nyepak pasir di kakinya dan berteriak. Dadanya serasa meledak ketika berteriak. Camille membuat segalanya serasa gila. Lautan menelan begitu saja teriakannya, membalas dengan suara dentaman ombak ke karang-karang terjal tapi setidaknya ganjalan itu telah melega dan Kwang bisa bernafas kembali. Dia kembali ke pondok dan menemukan Camille sudah di atas tempat tidur membelakanginya dan menangis sesenggukan.

Kwang menghela nafas. Sudah pasti gadis itu menangis. Malam ini adalah malam pengantinnya dan sang suami telah menolaknya. Kwang berjongkok dengan lututnya dan menepuk pundak Camille. “Camille.., aku… .”

“Apa kau seorang gay?” tanya Camille di antara tangisnya. Kwang menghembuskan kekesalan di udara, tak habis pikir dengan ucapan Camille. “Apakah aku jatuh cinta dengan seorang gay?”

“Bukan!”  Kwang hampir saja berteriak. Camille mengangkat mukanya dari bantal, menatap Kwang dengan mata berkaca-kaca. Jika saja semua itu benar, Camille akan mencekik lehernya sendiri. Pikiran itu datang sesaat setelah dia melihat punggung Kwang yang semakin menghilang menuju pantai. Setidaknya itu yang bisa dipikirkan Camille, alasan kenapa Kwang selalu menolaknya.

“Kau tidak jatuh cinta dengan seorang gay,” jawaban Kwang belum juga melegakan hati Camille. Wanita itu duduk, meremas baju di dada Kwang dan menantang, “Buktikan! Buktikan sekarang!”

Baju itu robek di dada Kwang. Camille telah memporak-porandakan pertahanan Kwang. Saat pria itu akhirnya menyerangnya. Tangisan itu berubah menjadi keharuan. Camille pun tersadar. Kwang benar. Dia tidak sadar dengan apa yang dia katakan. Saat semua begitu menyakitkan dan dia menjerit. Kwang gugup, berhenti dan memandang Camille yang menangis di bawahnya. “Sakit? Maaf. Ini yang pertama bagiku.”

Camille terisak. Kwang masih di dalamnya, berdenyut-denyut dan tidak berani bergerak karena takut semakin menyakitinya. Pria itu mengecup dahi Camille, seakan menenangkannya padahal dia sendiri ketakutan. Camille memberanikan diri membuka mata dan menangkap pandangan Kwang yang penuh penyesalan. “Ini juga pertama kali bagiku, Kang.” Camille berusaha tersenyum, mengelus pipi Kwang.

“Aku akan melepaskannya. Aku akan melepaskan pelan-pelan jadi kau tidak kesakitan,” Kwang berbisik di telinga Camille dan bisa merasakan Camille mengangguk. Dan seperti yang dikatakannya, Kwang mulai menarik, perlahan. Mata Camille memejam, menikmati gerakan itu di dalam tubuhnya.

“Tunggu,” Camille mendesah,”Rasanya  enak.” Kwang mengernyit. “Masukkan lagi, Kang.”

Kwang menghentakkan masuk! Mata Camille membelalak menahan nafas lalu mengeluarkannya perlahan seiring tarikan yang dilakukan Kwang. Sepertinya mereka sudah mulai menikmatinya bahkan Camille ingin ritmenya dipercepat. Kwang semakin meleleh di dalam. Camille semakin memuncak. Hingga keduanya terkalahkan. Kwang terbenam di dada Camille yang tak bergerak, merasakan kepuasan sorga malam pengantinnya.

“Kau bukan gay. Suamiku bukan gay.”

Dan hanya wanita konyol yang menganggap Kwang seorang gay.

Camille ditambah keerotisan pulau tropis yang misterius ini, jawabannya adalah kebahagiaan Kwang. Kwang mengkoreksi anggapannya. Seminggu penuh mereka bertingkah seperti pengantin baru. Mengarungi pulau dalam kebersamaan, berciuman bahkan bercinta di bawah air terjun sampai-sampai tak memperdulikan sekawanan monyet yang semakin mendekat. Seakan sudah terbiasa dengan keberadaan mereka, makhluk-makhluk primata itu mengabaikan, seolah ada batasan antara mereka.

Mereka masih suka berselisih. Kwang juga masih suka mengadu ke pantai jika Camille membuatnya kesal atau sekedar berdiri memandang lautan, menatap jikalau ada titik kecil yang semakin mendekati pulau dan berubah menjadi kapal yang menjemput mereka. Lalu Camille berjalan di belakangnya dan bertanya,”Menanti kapal lagi?”

Kwang mengangguk.

“Kita menghilang dari peradaban, Kang. Terimalah itu.”

Kwang tersenyum lalu merangkul istrinya. Berdua mereka menuju pondok. Sekali lagi menikmati malam  penuh dengan keintiman. Kepala Camille yang selalu tertidur di dadanya atau dia yang terkulai di pundak Camille setelah bertekuk lutut di bawah kerlingan istrinya itu. Gadis manja itu sudah berubah menjadi penyihir kecil, menjeratnya diam-diam dan tak mungkin mudah melepas. Seutuhnya, penyihir kecil itu menggodanya namun bersamaan itu… penyihir itu juga menyerahkan segala apa yang ada seutuhnya padanya. Itulah pusaran gelombang penjerat yang tiada akhir dan Kwang tenggelam tanpa ampun. Tak berkutik.

Ini mimpi?

Tidak.

Ini nyata!

Kwang mendapatkan kembali kesadarannya. Suara pagi membuatnya terbangun. Camille sudah tak ada di sisinya. Mungkin Camille tidak tega membangunkan. Kwang tersenyum membayangkan malam penuh pergulatan yang pasti juga menguras tenaga Camille. Namun Camille bangun lebih dulu darinya. Camille semakin rajin akhir-akhir ini. Kwang semakin merasa bagai suami yang sangat disayangi. Senyuman di wajahnya semakin melebar. Dia duduk di tempat tidurnya, meliukkan punggungnya seiring rentangan tangannya ke belakang.

Dia bermaksud keluar pondok dan terkejut sampai di ambang pintu. Camille sudah terkapar lunglai di depan perapian. Bergegas Kwang mendekati Camille, berjongkok untuk mengangkat Camille di pangkuannya. “Camille, kau kenapa?”

Susah payah, Camille membuka matanya. “Kwang, rasanya aku mau mati.”

“Camille! Camille!”

Camille pingsan lagi. Kwang mengangkat Camille di dadanya, masuk ke pondok. Saat Camille terbaring di tempat tidur, Kwang memeriksa setiap bagian tubuhnya.  Tidak ada luka serius atau bekas gigitan binatang buas, yang ada adalah tanda kebuasannya semalam. Muka Kwang memerah karenanya.

“Camille… Camille,” Kwang menepuk-nepuk pipi Camille. Mata Camille terbuka perlahan. “Apanya yang sakit, Sayang.”

Senyum tipis timbul di bibir Camille. Tangan Camille terulur, menyentuh dagu Kwang yang ditumbuhi jenggot lebat.  “Aku tidak menstruasi bulan ini.”

Mata Kwang membelalak, mulutnya setengah ternganga. Pengakuan itu…, itu berarti…

“Aku hamil, Kang.”

Kwang menggelengkan kepalanya. Tubuhnya serasa lemas. Dia mundur, keluar dari pondok, menuju pantai. Binar wajah Camille pun meredup. Kabar ini seharusnya menggembirakan tapi reaksi Kwang sama sekali berbeda dengan yang dia perkirakan. Camille bergerak menyamping, meringkuk memegangi perutnya. Ada kehidupan di dalamnya, kehidupan yang akan mengikat keduanya seumur hidup. Namun sekali lagi Kwang meragu, entah apa yang diragukannya. Camille terisak memikirkannya.

Kwang memasuki pondok sepuluh menit kemudian. Camille masih dalam posisi itu, meringkuk membelakanginya di tempat tidur.  Kwang berbaring, memeluknya, membenamkan wajahnya di rambut Camille. “Maafkan, aku. Aku hanya bingung tadi.”

Camille mengangguk dalam isakkan. Kwang mempererat pelukannya, seolah bisa menenangkan tangisan Camille dengan berbuat demikian. “Aku senang mendengarnya. Tapi membayangkan kau melahirkan di pulau ini tanpa bantuan medis, membuatku takut.” Kwang mendesah. “Aku berdoa tadi. Berharap kita segera ditemukan sebelum anak kita lahir.”

Camille membalikkan tubuhnya, menghadapi Kwang. “Kau berdoa? Pada siapa?”

Kwang menghapus air mata Camille. “Pada sang Budha. Dari kecil, bibiku mengajariku agama itu.”

“Oh,” Camille tersenyum.

“Kau tidak keberatan, kan? Kalau aku memilih agama keluargaku?”

Camille menggeleng. “Anak ini memberikan keajaiban pada Ayahnya. Lihat! Kau sudah memutuskan pegangan hidupmu.” Kwang menghelakan senyuman. “Camille.., bagaimana jika kau harus melahirkan di sini?” Ketakutan itu masih menghantui Kwang.

“Kenapa? Ada kau. Kau sudah pernah membantu Ibumu melahirkan. Kau bisa membantuku.”

“Ibuku meninggal setelah itu.”

Camille tersenyum, memberikan tatapan meyakinkan pada suaminya. “Aku lebih kuat dari Ibumu. Lagi pula, monyet saja selamat melahirkan di pulau ini,” candaan Camille itu serasa garing di telinga Kwang.

“Kau bukan monyet, Sayang.”

Camille mengelus dada Kwang. “Tenanglah, kau terlalu tegang.”  Sekali lagi Kwang bergerak, mengukung Camille dalam pelukannya. “Kau pasti akan kesakitan, Sayang. Melahirkan itu sakit. Aku bisa melihatnya di mata Ibuku waktu itu.”

Camille mengistirahatkan dagunya di pundak Kwang. Menepuk-nepuk punggung Kwang demi melegakan pemikiran suaminya itu. “Aku akan menahan rasa sakitnya, bahkan akan berusaha menikmatinya demi kau. Asalkan kau selalu bersamaku, aku akan baik-baik saja, Kang.”

Kwang menangis pagi itu. Tangisan pertama yang laki-laki itu lakukan setelah bertahun-tahun yang lalu, saat Ibunya meninggal. Dan sekarang dia menangis demi Camille, demi anak di dalam rahim Camille. Dia akan menjadi seorang Ayah. Ya Tuhan, seorang Ayah di umurnya kedua puluh lima dan itu membuatnya bahagia. “Terima kasih, Sayang. Terima kasih.”

—oOo—

“Kita harus kembali ke Toronto,” kata-kata Antoine bagaikan dentuman badai di telinga Charlie. Malam semakin kelam memikirkan Camille yang belum ditemukan dan laki-laki itu mengajaknya pulang. Charlie bergerak, menekuri lagi peta dan hitungan navigasinya. “Kau pulanglah sendiri. Aku akan bertahan di sini.

Antoine menghelakan kekesalan di udara. “Charlie, Ayah sakit di Toronto.”

“Aku tahu!” Charlie membentak. “Tapi di sini cucunya belum ditemukan!”

“Charlie, kau tahu benar kalau aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini. Dalam keadaan hamil! Ayolah, Sayang. Kau masih bisa mengomandoi pecarian dari sana.”

Charlie berbalik menantang Antoine. “Kenapa kau selalu menganggapku lemah! Bukan kau saja, bahkan Nathan, anak kita! Hanya Camille yang menganggapku dewi penolong! Hanya Camille! Dan kau mengabaikannya! Kau membuatnya menghilang di lautan! Kau dulu juga membuatku hampir kehilangannya sebelum melahirkan!”

Antoine mendengar semuanya dan hatinya ambruk.  Peristiwa itu sangat menakutkan, dia begitu ingin membantu Charlie, tapi bahkan Rhesus darahnya berbeda dengan Charlie. Dia semakin hancur mengingat siapa yang akhirnya menyumbangkan darah bagi istrinya. Pria yang seumur hidup dia benci. Charlie menyadari kehancuran itu dan meminta maaf. Tapi sepertinya perkataan Charlie tadi sudah sangat menyakiti Antoine. “Kau sudah berjanji tidak akan mengungkit kecelakaan itu.” Antoine meninggalkan kamar dengan kesal.

“Antoine, aku minta maaf!”

Pintu sudah tertutup! Charlie terduduk di ranjang mereka,  menangis sambil mengelus perutnya. “Aku sudah membuat Ayahmu marah, Sayang. Aku sudah membuatnya marah.”

Antoine menenangkan diri di pantai. Charlie adalah istri yang menyenangkan tapi terkadang tingkahnya tidak terkontrol. Dan mengingatkan peristiwa sembilan belas tahun yang lalu selalu dihindari Charlie, tapi barusan wanita itu menyinggungnya. Kecelakaan yang mengerikan, kesalahan Antoine karena mengajak Charlie ke Seoul. Kesalahan yang harus ditanggungnya seumur hidup. Dia harus berbohong dengan mengatakan kalau dialah yang mengemudikan mobil naas itu. Dia melakukan itu dan Charlie menyalahkannya. Dia tidak ingin Charlie menyalahkan diri sendiri. Dia tidak ingin jika Charlie meragukan dirinya sendiri. Oh, Damn! Kenapa harus laki-laki itu! Tangan Antoine mengepal membayangkan Nick yang berjalan ke arahnya setelah melakukan donor darah. Terhuyung-huyung tanpa memikirkan keselamatan jantungnya sendiri.

“Ini wujud permintaan maafku, Dokter. Maafkan, aku!”

Antoine ingin meninju muka Nick waktu itu. Tapi tanpa darah Nick, kelahiran Camille mungkin tidak akan berhasil karena Charlie terpaksa melahirkan secara Caesar dalam keadaan tak sadar. Untunglah pria itu meninggal enam tahun kemudian. Sementara dia  terus hidup, menceritakan kebohongan itu. Pada kenyataannya, Charlie mengendarai mobil sendiri. Brutal! Entah karena apa dan itu setelah bertemu dengan Nick. Pertemuan itu adalah pengakuan Nick. Atas dasar apa, hanya Nick yang tahu dan terkubur bersama mayatnya di tanah.

Antoine memejamkan mata dengan kepala menengadah. Berusaha memenuhi paru-parunya dengan udara pantai yang lembab. Hingga panggilan Charlie membuatnya menoleh.

“Antoine, aku benar-benar minta maaf,” Charlie berdiri di belakangnya. Ujung kimononya dikibarkan angin dan dia berusaha membekap dengan tangannya. “Aku mohon maafkan aku.” Charlie maju beberapa langkah ke arah Antoine. “Aku akan ikut pulang bersamamu. Aku sudah berpikir tadi. Aku mencoba tidur sendirian di kamar itu tapi ternyata aku ketakutan.”

Antoine mengulurkan tangannya, memeluk Charlie. Istrinya menangis di dadanya. “Jangan marah lagi padaku. Aku mohon, jangan.”

“Tidak akan, Charlie. Aku juga minta maaf.”

Charlie melonggarkan pelukan, mendongak padanya. “Kapan kita pulang, Antoine?”

“Besok! Maaf jika terlalu cepat.”

Charlie menggeleng. “Aku rasa Ayahmu harus tahu tentang cucunya yang akan lahir.”

“Dia sudah tahu. Karena itu sangat ingin bertemu denganmu.” Antoine menikmati pelukan istrinya lagi. Aku mencintaimu, Charlie. Tidak akan kulepaskan.

 

BERSAMBUNG

THE MAESTRO (part 1)

THE MAESTRO

part 1

Long-long time Ago….

Rumah kecil itu memang terlihat lebih menonjol diantara rumah-rumah lain di komplek. Sebuah rumah dua lantai dengan modelnya yang sedikit kuno. Apalah arti model sebuah rumah, mengingat fungsi utamanya sebagai pelindung dari ekstrimnya cuaca. Kenyamananlah yang selama ini diciptakan manusia di dalam rumah. Dari sini kita mampu berkesimpulan betapa manusia merupakan makhluk lemah. Namun bukan hal itu yang membuat rumah pensiunan tentara-Kolonel Goo itu begitu menonjol dilihat mata, hari ini. Hal ini lebih disebabkan oleh mobil Roll Royce mewah yang terparkir di pelataran yang tak lain adalah milik Aldian Lee, calon menantu keluarga ini, yang membuat tetangga kanan  kiri mencibir karena iri. Tak ada yang menyangka bahwa salah satu cucu keluarga itu mampu menggaet Aldian. Siapa yang tidak mengenal Aldian Lee, calon pewaris tunggal pengusaha Harriot Lee. Setiap orang pasti berpikir jika hal itu hanya dilakukan untuk keluar dari kemiskinan yang menyelimuti rumah ini. Itulah mengapa rumah ini selalu dibicarakan oleh ibu-ibu kompleks, tak luput pula penghuni rumah ini yang terdiri dari Kolonel Goo, dua orang cucunya, Alicia yang kini tengah berusia dua puluh tahun dan adiknya yang baru berusia enam tahun-Joana, serta seorang nani pengasuh, Mina Im.

Kakak beradik itu sudah yatim piatu, ibu mereka meninggal karena melahirkan Joana. Hal ini bisa dimengerti mengingat umur sang ibu yang sudah tua ketika mengandung Joana, sedangkan ayah mereka yang seorang pilot itu meninggal karena kecelakaan pesawat yang dikemudikannya. Tiga tahun yang lalu, saat pertama kali mereka memasuki rumah ini untuk hidup di bawah asuhan kakek mereka. Alicia selalu mengurung diri di kamar, menangisi nasib malangnya tanpa perduli pada Joana. Sedang Joana, sikecil ini terlalu muda untuk memahami kesedihan yang ada disekelilingnya.

Betapa cepatnya waktu berlalu, hingga dalam dua tahun, kebahagiaan di rumah ini kembali. Pertemuan Alicia dan Aldian mampu mengubah pandangan gadis muda tersebut tentang kehidupan. Aldian-lah pemacu semangat hidup Alicia. Dan hari ini adalah saat pertama Alicia memperkenalkan calon suaminya itu pada sang Kakek.

Alunan melodi yang dihasilkan oleh permainan piano, kini mampu memecah suasana yang hening, sayup-sayup irama “Love story” terdengar dari ruang tengah rumah ini, menghentarkan dinding-dinding tua di sekitarnya. Terlihat dekorasi ruangan yang tanpa barang mewah kecuali sebuah piano yang kini tengah dimainkan Aldian. Kesedihan, hal itulah yang mampu ditangkap oleh setiap telinga yang mendengar lagu ini. Tak ada yang dapat mengerti kenapa dia harus memainkan melodi sedih pada saat seperti ini. Tak ada yang tahu, begitu juga Aldian. Yang dia fikirkan hanyalah bagaimana membuat kakek sang kekasih itu terkesan.

Aldian berhasil, telinga tua itu dengan penuh pemahaman menikmati alunan pianonya. Alicia tak lepas memandang dengan perasaan bangga. Dan rupanya hal ini juga menarik perhatian Joana. Si kecil Joana segera keluar dari kamar, meninggalkan tugas menggambarnya yang setengah jadi. Sambil berlari menuruni satu-satunya tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai dasar. Setelah hampir sampai di ruang tengah, dia berhenti. Perlahan dia mendekati Aldian. Dipandangnya jari-jemari Aldian yang menari-nari, memencet tut demi tut piano, mengikuti not demi not yang ada di buku music hingga terdengarlah irama indah itu. Kekaguman terpancar dalam pandangan gadis kecil ini hingga mata bulat yang indah itu semakin berbinar, sementara kakek dan sang kakak yang terlena tidak menyadari kehadirannya.

Akhirnya usai sudah permainan piano itu. Kakek dan cucu-cucunya itu bertepuk tangan. Aldian pun mengucapkan terima kasih, terlihat Joana yang sedari tadi berdiri di samping kanannya. Dia tersenyum dan Joana membalas dengan tawanya yang khas anak-anak.

“Hei, siapa gadis kecil yang cantik ini?” ujar Aldian sembari mencubit pipi Joana. Alicia segera menyadari kesalahannya yang tidak mengikutsertakan adiknya dalam pertemuan ini. Dia segera memperkenalkan Joana pada Aldian.

”Dia adalah Joana, dongsaengku. Kami selalu memanggilnya Joan,” kata Alicia. “Joan, ini adalah calon suami Uni, namanya Aldian Lee.”

Joana mengangguk-anggukkan kepalanya yang mungil dan berhias rambut hitamnya yang panjang dan lebat.

“Kau suka piano, Joan?” Aldian memulai pembicaraan.

Senyuman Joana semakin melebar saja, dan anggukan kepalanya itu semakin cepat seiring jawaban dengan suara nyaring yang dia berikan,”Ne…., habis oppa mainnya bagus. Oppa mau mengajariku, kan?”

“Boleh!” Aldian mengangkat tubuh kecil Joana dan mendudukkan di pangkuannya. Dia lalu memperkenalkan Joana tentang dasar-dasar memainkan piano.

Joana tertawa-tawa saat tangannya dalam genggaman Aldian, dituntun dalam memencet tut piano, hingga lagu dengan nada sederhana terdengar dari alat music itu,’Tinckle-tinckle little star’

“Do.. do..sol…sol… la… la… sol. Fa… fa… mi… mi… re… re… do,” senandung Aldian sembari tangannya membimbing bocah kecil di pangkuannya. Dan hal itu berlanjut setiap dia mengunjungi Alicia. Rupanya Aldian memang serius  menepati janjinya pada Joana, hingga membuat Alicia sedikit kesal. Kedekatan Aldian pada si kecil Joan sering membuat Alicia cemburu.

“Kau melupakan rencana kita malam ini.” Protes Alicia, di malam itu, saat dia menghantarkan Aldian menuju mobilnya di depan rumah. Aldian memang lupa waktu, mengajari Joana sampai larut, hingga rencana mereka untuk jalan-jalan di luar pun batal.

Pria tampan itu hanya tertawa dan penuh rasa bersalah dia minta maaf pada kekasihnya yang sedang mayun itu, “Miane… .” Direngkuhnya tubuh itu lalu membawanya dalam pelukan dadanya yang bidang,”Lain kali masih ada waktu untuk kita jalan-jalan.”

Alicia masih saja kesal. “Aku benci kalau dia lebih menarik perhatianmu dari pada aku. Aku selalu iri padanya.”

Aldian melonggarkan pelukan lalu menatap lurus ke bola mata Alicia,”Iri?”

“Ne… , Iri,” pasti Alicia sambil mengelus dada bidang itu.”Aku iri karena dia tidak terpengaruh saat orang tua kami meninggal, dia masih saja bermain dengan riang sedangkan aku harus bersedih.”

“Hai, dia masih tiga tahun waktu itu, tentu saja dia belum bisa merasakan,” Aldian berusaha menyadarkan  kekasihnya.

“Kadang aku berharap kami bertukar tempat,” ucap Alicia asal. Aldian tertawa mendengar semua itu, hingga timbul suatu gurauan konyol di otaknya,”Kalau begitu, dia yang akan menikah denganku dan kau yang jadi anak kecil dengan pelajaran pianonya.”

Mendengar gurauan itu sontak bibir Alicia tambah manyun. Aldian pun jadi tambah geli lalu mempererat pelukannya atas Alicia, menghirup bau harum tubuh kekasihnya itu dan berbisik,”Tapi kau-lah yang akan menikah denganku, seorang gadis yang membuatku lupa segalanya hingga memutuskan cepat-cepat menikahimu setelah lulus SMA.”

 Yup, kecemburuan itu tidak menggagalkan rencana  mereka. Pernikahan keduanya berlangsung sangat meriah. Tak ada alasan yang membuat Alicia cemburu lagi. Kebahagiaan benar-benar terasa di rumah ini, bahkan wajah tua Kolonel Goo semakin sumringah. Apalah yang diharapkan pensiunan tua itu selain kebahagiaan cucunya. Cucu yang merupakan generasi penerus, penerus perjuangan, penerus impian dan penerus kehidupan.

Namun entah kenapa kebahagiaan itu tidak dapat berlangsung lama. Seakan-akan rumah kecil ini begitu alergi dengan kebahagiaan, hingga sangat kerasan dengan sejuta penderitaan. Alicia meninggal karena kecelakaan pada perjalanan bulan madu mereka, sedangkan Aldian harus mengalami operasi pemasangan platina pada kakinya yang retak.

Mata tua Kolonel Goo semakin mencekung, tak ada lagi gairah hidup di sana. Semakin lama, ketahanan tubuh yang dulu pernah dia gunakan untuk membela Negara dari tirani itu hilang dan akhirnya nyawa sudah enggan bersemayam di dalamnya. Beliau meninggal dua bulan setelah kematian Alicia.

Angin bulan Desember bertiup sembari membawa hawa dingin. Alam seakan tahu kesedihan yang memenuhi hati Aldian. Tak ada yang dapat dia lakukan selain berdiri, memandangi dua gundukan tanah pemakaman dua orang yang sangat dicintai. Dia tetap di sana, tak perduli kakinya yang masih belum lepas dari balutan perban, tak perduli tubuhnya yang masih ditopang oleh tongkat penyangga jika harus berdiri. Mungkin kesedihan sudah merupakan zat adiktif ampuh bagi dirinya, hingga tidak dapat merasakan lagi sakit lahiriah.

Joana terdiam melihat perilaku kakak iparnya. Entah apa yang berkecamuk dalam otaknya. Adakah dia tahu bahwa sudah sebatang kara? Setiap orang yang mengetahui nasibnya memandang dengan penuh simpati, kasihan… . Apakah dia menyadari itu?

Joana mendekati Aldian, mencoba meraih tangan kakak iparnya itu. Kehangatan genggaman tangan kecil Joan membuat Aldian sadar dari lamunan. Disekanya air mata yang terbendung di kelopak bawah matanya, lalu menoleh ke arah Joan. Berusaha memberi senyuman pada anak kecil itu walau pun hatinya menolak. SEakan dengan senyuman itu, dia ingin mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Sungguh munafik, dia ingin meyakinkan orang lain padahal dia sendiri tidak yakin apakah keadaan nanti benar-benar baik.

Hari-hari berikutnya seakan berjalan lambat. Kesunyian masih terasa di rumah ini. Aldian belum memutuskan apa pun. Waktu demi waktu dia habiskan untuk melamun. Apakah dia bersedia menjadi wali bagi si kecil Joan? Sedang Joan sendiri hanya mengurung diri dalam kamar. Persis dengan apa yang dilakukan almarhum kakaknya saat kedua orang tuanya meninggal. Setiap kali Mina, nani pengasuh menengok sambil membawakan makanan. Terlihat dia terbaring di atas tempat tidur menatap langit-langit. Mina juga melihat nampan sarapan tadi pagi. “Hanya dimakan sedikit,” pikirnya dalam hati. Namun hal itu masih membuat  Mina lega, setidaknya dia masih mau makan.

Tubuh kecil Joan ternyata belum mampu menahan lapar. Hal itulah yang membuat dia terbangun di malam hari, keluar kamar dan bergegas ke dapur. Sesaat kemudian perutnya sudah penuh dengan biscuit dan susu. Joan segera kembali ke kamar namun ketika melewati ruang tengah, dia berhenti.

Terlihat dari tempatnya berdiri, Aldian tengah duduk di hadapan piano yang terbuka. Mata Aldian memandang tajam ke arah tut-tut piano namun dia tidak hendak memainkannya. Satu per satu rasa berjejal dalam hati seakan tidak mau mengerti bahwa hati itu telah penuh. Dia mencoba mengatur nafas. Jika dia mau, dia bisa menghancurkan piano itu, namun tak mungkin mengingat Alicia sangat mencintai piano itu.

Aldian tetap terduduk. Sunyi… .

Namun tidak demikian bagi Joan yang masih berdiri di tempatnya memandangi Aldian. Di telinga gadis kecil itu mulai terdengar irama yang begitu pelan. Harmoni itu teramat pelan. Dia yakin dibalik diamnya Aldian ada sebuah irama yang Aldian mainkan. Namun irama itu begitu pelan. Sangat-sangat pelan hingga hampir-hampir Joan tak dapat mendengarnya. Joan terduduk, lalu merebahkan tubuhnya di atas lantai. Telinganya ditempelkan di lantai dan berharap dengan melakukan itu, irama hati Aldian terdengar lebih jelas.

Ternyata Joana salah. Irama itu masih sangat pelan. Namun dia tidak putus asa, tetap menempelkan telinganya di lantai yang dingin itu hingga akhirnya tertidur.

 

BERSAMBUNG

THE SECRET II (Temptation of Island — Part 6)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 6

Cassidy sama sekali tak mempercayai penglihatannya. Hal yang begitu samar. Mungkin hanya mimpi. Tidak! terlalu nyata untuk dianggap sebagai mimpi karena wanita itu benar-benar duduk di sana. Angkuh, sombong dan berani-beraninya mengotak-atik laptopnya. Dia mengerjapkan mata berulang-ulang. Mengetuk-etuk batok kepala sendiri dengan gumaman tak jelas. Sialan! Benar-benar alkohol sialan! Dia minum sedikit tapi efeknya benar-benar merepotkan bagi orang yang tidak biasa minum sepertinya.

Dan Cassidy benar-benar ingin menghukum mata-mata kecil di balik layar laptopnya itu. dia semakin mendekat, namun anehnya wanita itu  tak bergeming. Benar-benar spionase tangguh. Atau mungkin terlalu naif. Ya, wanita itu terlalu naif. Entah siapa yang menyuruhnya, pasti sangat menyesal telah menugaskan wanita bodoh seperti itu.

Cassidy sampai sudah di depan mejanya. Memicingkan mata demi melihat lebih jelas wajah yang hanya diterangi sinar dari layar laptop. Mata yang terpicing itu melebar kemudian. Sungguh-sungguh tak dapat dipercaya! Begitu mengejutkan, mulutnya ternganga. Dia gemetar. Bahkan gelas piala yang berada di tangannya terjatuh, membuahkan bunyi pecahan yang membuyarkan konsentrasi wanita yang dianggap penyusup itu.

Wanita itu mendongak ke arahnya. Wanita itu…

“Nyonya d’ Varney..,” Cassidy memanggil dengan tenggorokan yang tercekat.

Charlie berdiri dengan angkuh. Begitu congkak, sama sekali berbeda dengan yang terlihat sebelum-sebelumnya. Dan pakaian yang dia kenakan…, garis-garis tegas, potongan simple, warna-warna tanah khas kaum feminis? Bukan! Itu bukan Charlie d’Varney. Itu… itu Charlie Bouwens… Tapi…

“Bi… Bibi?” Cassidy semakin bingung. Tidak mungkin!

“Benar-benar bodoh!” Charlie melipat tangan di dada. Alisnya meninggi dengan tatapan menghardik. Tatapan yang selalu Cassidy temui dulu, saat dia masih menjadi asisten Charlie.

“Bibi, ini benar kau?”

“Tentu saja, Bodoh!”

Terdengar kekesalan dari suara Charlie. Wanita ini bahkan memejamkan mata saat mengumbar kejengkelan. Dan sekarang… Cassidy tampak seperti anak yang harus dihukum karena Charlie menunjuk-nunjuk padanya. “Aku menyerahkan Bouwens Inc padamu bukan untuk kau buat bangkrut!”

Ya, Tuhan… Ini nyata? Charlie mengingat semuanya? Cassidy mencubit lengannya sendiri dan meringis. Bukan mimpi!

“Bouwens Inc bergerak di Industri media. Siapa yang menyuruhmu memasuki bisnis pariwisata?” sekali lagi! Interogasi tegas yang menghukum.

Cassidy tidak focus dengan interogasi itu. dia menyeberangi meja. Mengabaikan kemarahan wanita itu untuk memeluknya. “Bibi, ini benar kau?”

Charlie berontak. Ditendangnya bagian vital Robert. Pria itu terbungkuk-bungkuk menahan sakit.

“Kau menginvestasikan uangku untuk kapal rongsokan tak berguna dan menghambur-hamburkan uang untuk pencarian gadis tak berguna dengan kapal itu?”

Robert  tersentak. Gadis tak berguna? Charlie menganggap Camille gadis tak berguna? Apa mungkin seorang Ibu menganggap anaknya tak berguna? Ini mimpi. Ini pasti mimpi. Aku mohon bangun. Siapa pun bangunkan aku sekarang juga.

“Hentikan pencarian! Batalkan investasi ini! Pulang segera ke Korea!”

Tunggu! Perintah yang tidak mungkin! Masih menahan rasa sakit, Robert meraih pundak Charlie. “Bibi sadarlah! Camille itu putrimu!”

Charlie menyeringai. Tatapannya membunuh ke arah Robert. Menoleh pada tangan Robert yang masih di pundaknya dan pria itu menurukan tangan perlahan. “Jangan bodoh, Robert. Jantung Pamanmu terlalu lemah untuk memberiku anak.”

Mata Robert mengerjap. Kebingungan semakin menderu. Wajah Charlie serasa berputar di depannya. Bukan! Bukan hanya wajah, ruangan ini berputar bahkan dunia jungkir balik. Robert terhuyung. Alkohol itu benar-benar bereaksi sekarang. Dia berusaha menahan tubuhn dengan bersandar di meja.

Aku mohon. Aku mohon jangan jatuh sekarang. Aku ingin memastikan semua ini nyata. Wanita ini nyata.

Tangan Robert menggapai. Dia ingin memegang Charlie sekali lagi. Namun matanya semakin mengabur. Dia jatuh. Benar-benar jatuh dan pelayan menemukannya esok harinya. Dia masih merasakan sisa pusing semalam tapi tidak ada lagi Charlie.

Antoine dan Brian menemuinya di siang hari, membicarakan kabar yang terdengar dari tim penyelamat Camille yang dikomandoi Charlie dari darat. Sementara Brian mendengarkan penjelasan Antoine, Robert tidak focus.

Begitu bertolak belakang. Jika yang semalam adalah orang yang sama dengan yang sekarang ini mengomandoi tim pencari Camille dari kamarnya, kenapa tindakannya begitu bertolak belakang? Apakah yang semalam memang mimpi?

Charlie muncul kemudian. Marah dan merasa dikhianati. Kesedihan seorang Ibu begitu kentara karena kabar tentang ditemukannya puing kapal ditutupi darinya. Wanita itu bahkan tak mau mendengarkan penjelasan suaminya. Menuduh Antoine sebagai pihak yang paling bersalah dan membentak Brian. Saat Robert tak tahan lagi, dia mengatakan kalau itu yang terbaik baginya. Charlie membentaknya, mengklaim kalau dia sama sekali tak mengenal Charlie.

Yang lebih mengejutkan… saat Charlie dengan jelas berucap, menyatakan rasa bencinya pada Antoine. Pria yang selama lebih dari dua puluh tahun menjadi suaminya itu, Robert melihat sekejap ada gurat kesedihan di wajah Antoine. Sebelum akhirnya wajah itu berubah menjadi raut kecemasan. Charlie pingsan!

Robert begitu mengkawatirkan Charlie. Dia tahu semua ini tidak pantas. Tapi kejadian semalam, yang dia sendiri ragu menyebutnya  mimpi. Karena Charlie memang di sana, mengotak-atik laporan keuangan dari laptopnya bahkan wanita itu tahu password rahasianya. Robert tahu itu. Robert yakin sudah mematikan laptop sebelum mendatangi bar tapi laptop itu masih menyala bahkan setelah dia tersadar dari pingsan. Dan Robert menyesal karenanya. Seharusnya dia merubah password setelah Bouwens Inc berada di tangannya. Ya, Pasword itu masih tetap sama, password dengan kombinasi angka, huruf dan sandi yang dirancang Charlie Bouwens. Charlie lah yang memberitahukan password itu setelah menyerahkan Bouwens Inc padanya.

Jika benar Stacy Longbotom sudah mencuci otak Charlie, harusnya Charlie tidak mengingat sandi itu. tapi Charlie ingat. Kemungkinan ingatan Charlie sudah kembali. Tapi bagaimana mungkin dia tidak mengingat Camille, menganggap Camille gadis tak berguna? Bahkan dia tidak mengingat Antoine. Yakin kalau tidak mungkin punya anak karena Williams berpenyakit jantung?

Robert mau mengatakan semua ini pada Antoine, tapi dia tak yakin yang semalam itu mimpi atau nyata. Apalagi yang menyebabkan Charlie pingsan sungguh diluar dugaan. Charlie hamil. Antoine mengatakan dengan jelas kalau Charlie hamil. Dia tidak bisa mengganggu kebahagiaan itu, dia mengurungkan niat. Bahkan kata-katanya tidak focus karena memang bingung harus memulai dari mana. Dari kejadian Charlie marah-marah di ruangannya sebelum pingsan, atau dari kejadian semalam yang dia sendiri ragu akan kesadarannya? Tapi kenapa kata-kata Antoine seolah meyakinkkannya… bukan…, Antoine bukan meyakinkannya. Antoine mengucapkan itu lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa tidak ada lagi Charlie Bouwens, hanya ada Charlie d’Varney sekarang, istrinya.

Berhari-hari Robert memikirkan semua itu. Dia bahkan mengontrol perkembangan Charlie. Sialnya, dia berlaku seperti orang iseng. Mengarahkan teropong ke pavilyun Antoine. Mengawasi aktifitas suami-istri itu. Charlie yang setiap pagi disibukkan oleh morningsickness. Antoine yang berlaku sebagai suami yang baik dengan menyediakan segala keperluan istrinya. Di siang hari, pria itu akan pergi ke pantai, kembali mengarahkan tim pencari Camille, sedangkan Charlie yang masih lemah memaksakan diri bekerja di depan  atlas, kompas bahkan hitungan navigasi, memberi perintah pada tim pencari dengan                   telekomunikasi satelit.

Setiap hari, tak pernah berhenti. Robert semakin ragu kalau kejadian malam itu nyata. Lalu siapa yang menyalakan laptopnya dengan password yang tepat?

Dan malam itu, saat dibalik teropongnya dia melihat Antoine mencium kening Charlie. Robert bisa melihat dengan jelas keromantisan suami-istri itu. Robert memejamkan mata, menghalau rasa cemburu di hatinya. Teropong itu pecah  menjadi korban kemarahannya.

Bodoh! Wanita gila! Pelacur!

Dia menghela nafas, berusaha mengkoreksi kesalahannya. Ini salah! Semua ini salah! Bagaimana mungkin aku menjadi maniak, memata-matainya dan cemburu. Mereka suami-istri. Antoine berhak akan Charlie dan aku…

Aku….

Ini adalah obsesinya. Kejadian semalam adalah benar mimpi. Kejadian yang merupakan buah obsesinya pada Charlie yang meletup-letup. Sekian kali Robert berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa alkohol memang membuatnya melihat yang tidak-tidak malam itu.

—oOo—

Goa sudah terang dengan obor di beberapa titik yang dia nyalakan, Kwang melihat Camille masih seperti posisi tadi siang, duduk di tempat tidurnya. Tapi kali ini ada aktifitas lain yang gadis itu lakukan. Entah apa, Kwang hanya menebak-nebak. Gadis itu menarik-narik gumpalan kapas di tangannya, serat yang terkandung di kapas membuahkan helaian panjang yang dia gulung di sebatang ranting. Sesekali tampak helaian itu terputus dan Camille harus dengan hati-hati mengulang prosesnya.

Kang hanya bisa melihat dari tempat tidurnya. Semenjak kejadian memalukan antara mereka berdua karena masalah datang bulan, hubungan diantara keduanya masih kaku. Camille yang biasanya cerewet lebih pendiam. Dia mungkin malu, pria yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengannya melihat dalam keadaan seperti itu.

Camille merasa kalau Kang memperhatikannya. Dia berhenti dengan kapas-kapas itu, membanting semuanya dan berbaring membelakangi Kang.

Kang menghela napas, berbaring dan berbalik membelakangi Chamille. Suara malam semakin kentara karena kesunyian di antara mereka. Kang bisa mendengar nafas Camille terpantul di dinding-dinding goa. Nafas penuh emosi. Entah apa yang membuat gadis itu marah, Kang tidak tahu.

“Kenapa kau tahu segalanya tentang aku, kau bahkan sudah melihat saat aku dalam keadaan paling lemah dan menyedihkan, tapi aku tidak tahu sama sekali tentang kau?”

Kang mendengar gerutuan Camille. Jadi itu yang membuat Camille marah? Jadi itu yang membuat  semuanya serba kaku beberapa hari ini?

“Apa untungnya, saat kita ditemukan, kau kembali ke keluargamu, aku kembali ke pekerjaanku dan selesai,” masih dalam posisi saling membelakangi mereka mengobrol.

“Ini tidak adil. Tentu saja aku berhak tahu tentangmu. Bagaimana pun kau adalah satu-satunya manusia di pulau ini yang bersamaku selama sebulan. Rasanya ini salah. Tidak sopan! Kau harusnya memperkenalkan diri. Jangan berlaku sebagai pahlawan tanpa nama… bukan… bukan  pahlawan tapi … hantu yang sok jadi pahlawan!”

Camille berbalik saking jengkelnya. Punggung Kang berkilat-kilat terterpa cahaya dari api obor. “oh, ya, tentu saja! Setelah kita ditemukan, aku akan mencarimu, bahkan aku akan menyuruh Brian mencari tahu siapa dirimu biar semuanya jelas!”

“Brian? Siapa Brian?”

Camille tersentak. Selama sebulan dia tidak mengingat Brian, pria yang sempat membuatnya jatuh hati selama kunjungan singkatnya di Seoul. Apa kabarnya pria itu sekarang? Perdulikah Brian terhadap menghilangnya dirinya di lautan?

“Dia temanku di Bouwens Inc, dia pasti membantuku!”

Kang berbalik. Dia bangkit dan mendekati Camille. Bahkan dia berjongkok di depan Camille, mencengkeram kedua sisi lengan Camille yang masih terbaring. “Teman? Benar hanya teman?”

Wajah Camille berubah pucat. Tak disangka Kang begitu marahnya, tapi kenapa? Dan Kang berusaha melembekkan wajahnya yang mengeras. Apa-apaan ini? Dia cemburu? Dia cemburu saat Camille menyebutkan nama pria lain? Sebulan ini Camille tidak pernah menyebut nama pria lain selain ayah dan kakaknya dan sekarang… Brian… siapa Brian?

Cengkeramannya di lengan Camille semakin mengendur. “Maaf… .” Kang melepaskan Camille dan duduk membelakangi Camille. Gadis itu ikut duduk dan kebingungan.

“Kau marah? Aku minta maaf kalau membuatmu marah.”

Tunggu! Kenapa aku jadi sedih kalau dia marah? Ini aneh. Camille sama sekali tak mengerti arus di hatinya. Ada apa memangnya? Bukankah memang benar kata-kata Kang, mungkin lebih baik dia tidak tahu segalanya tentang Kang. Pria itu bagaikan magnet.  Semenjak Camille memergoki Kang tanpa busana di air terjun, saat pertama dia sadar di pulau ini, Camille sudah merasakan keanehan di dirinya sendiri. Hatinya yang tak terkontrol, selalu ingin mencari perhatian Kang. Dia bahkan menikmati kekawatiran Kang. Dan punggung itu… Damn! Kenapa dia selalu tidur bertelanjang dada. Sungguh aneh mereka bisa bertahan sejauh ini.

“Aku punya Bibi di salah satu desa kecil di Jeju,” Kang mulai bersuara. Mata Camille menyipit, membuka telinga lebar-lebar. Kang menghela nafas. “Dan juga adik… adik perempuan.”

Kang mulai membuka jati dirinya. Camille mendengarkan dengan baik, menanti dengan sabar tanpa menyela. Jika memang Kang mulai jujur, dia tidak ingin suaranya membuat pria itu berubah pikiran, tertutup seperti sebelum-sebelumnya. Camille ingin tahu semuanya. Mendengar Kang menyebutkan Bibi lalu adik…, Camille ingin Kang meneruskan semuanya, mungkin memastikan pria itu belum beristri atau mungkin belum ada wanita yang menunggunya selama terdampar atau bahkan menangisinya setelah mendengar berita dia menghilang. Camille semakin bingung. Apa untungnya semua itu? Apa pedulinya Kang sudah beristri atau belum? Semakin aneh saja, kau, Camille…

“Aku yakin mereka sudah mendengar berita tenggelamnya kapalku. Mungkin mengira aku sudah meninggal.” Kang kembali duduk di tempat tidurnya. “Apakah itu cukup?”

Camille tidak tahu, dia ingin tahu lebih tapi kenapa Kang malah bertanya hal itu cukup baginya atau tidak. Camille ingin bertanya tentang orang tua Kang, tapi dia tahu Kang selalu marah jika ditanya tentang orang tuanya.

“Sepertinya memang tidak cukup,” Kang bisa menebak isi otak Camile. Ya, tidak akan cukup hanya segitu.

“Aku tidak suka kau menanyakan orang tuaku karena memang aku tidak punya,” sambung Kang.

Jadi begitu… Kang tidak suka ditanya masalah agama karena memang tak beragama dan Kang tidak suka ditanya tentang orang tuanya karena memang tidak punya. “Lalu marga Shin?” Camille keceplosan, dia seharusnya diam dulu tapi rasa penasaran sudah tidak bisa ditahan.

“Dari Ibuku .., tentu saja…”

“Kau bilang kau tidak punya orang tua,” Kenapa Camille berlaku sebaliknya? Semakin menuntut. Bersiap-siaplah menerima kebungkaman Kang lagi.

Tapi ternyata sekarang lain. Kang lebih terbuka. Gadis ini menyebut pria lain karena kebungkamannya. Dan karena itu dia ingin ‘show up’? untuk apa? Untuk merayu Camille dengan cerita sedih? Apakah taktik seperti ini masih berlaku bagi wanita seperti Camille. Oh, Gila! Kenapa harus terdampar dengan gadis secantik itu. Kang memejamkan mata, berusaha mengusir pikiran yang tidak-tidak.

“Orang tua adalah Ibu dan Ayah. Aku hanya punya Ibu tapi tidak punya Ayah … jadi…,” Kang menggelengkan kepala. Pulau ini benar-benar membuat keduanya gila. Dalam hati Kang berdoa agar segera ditemukan.

“Ibuku bahkan tidak tahu siapa Ayahku? Terlalu banyak pria dan dia tidak mungkin menuntut tanggung-jawab karena memilih pekerjaan yang beresiko seperti itu,” akhirnya… aib itu… aib itu mulai dia katakan. Ini bodoh, jika dia ingin menarik perhatian Camile, seharusnya dia menceritakan latar-belakang yang baik. Keluarga yang harmonis, bukan kenyataan kalau dia anak wanita penghibur.

Camille masih mendengarkan. Matanya masih menatap dengan penuh perhatian. Kang menebak-nebak apa yang mungkin dipikir gadis itu. Mungkin jijik setelah tahu kalau dia anak pelacur, tapi tidak… tidak ada kernyit jijik di wajah cantik itu. Hanya kernyit menunggu… entah apa yang ditunggu… Kang sekali lagi menerka-nerka. Mungkin dengan meneruskan ceritanya, Kang bisa tahu apa yang ditunggu gadis itu.

Dan cerita itu berlanjut dari bibir Kang. Begitu lancar tanpa selaan dari Camille.

Bibinya selalu menceritakan latar-belakangnya secara lengkap. Gamblang. Bisa saja sang Bibi menutupi semua itu dan mengarang cerita bodoh kalau Kang anaknya sendiri. Tapi bibinya tidak bisa melakukan itu. keluarga almarhum suaminya melarang, tidak rela jika nama ‘Ok’, marga suaminya melekat pada anak haram. Karenanya Kang tahu semuanya. Dia tahu bahwa empat bulan sebelum dia lahir, Ibunya tiba-tiba pulang dengan perut yang membuncit. Wanita itu, Shin Hae Young hamil lima bulan.

Bibinya, Shin Hae Deok sedang berduka karena kematian suaminya dan semakin pusing karena ulah Hae Young. Adiknya tidak mau mengaku tentang ayah bayinya, bukan hanya tidak mengaku, bahkan Hae Young tidak tahu yang mana. Bodoh sekali. Hae Young yang liar! Cantik tapi selalu mempermalukan keluarga. Penduduk desa mengusirnya selepas lulus SMA karena kedapatan menggoda anak tuan tanah, dia merantau ke Bussan dan Hae Deok sama sekali tak perduli waktu itu. Tapi sekarang lain, Hae Deok berpikir, seburuk-buruknya Hae Young, tetaplah adiknya.

Hae Deok merawat kehamilan adiknya itu. bersabar walau penduduk desa mencibirnya bahkan bersabar dengan ulah Hae Young karena setelah bayi itu lahir, adiknya itu tidak mau menyusui. Hae Young kecewa karena bayi itu laki-laki. Dia bahkan mengomel kalau-kalau bayi itu punya sifat seperti ayahnya yang hidung belang jika besar nanti.

Jangankan menyusui, menggendong bayi itu pun tidak pernah. Shin Hyun Kwang, nama itu diberikan oleh sang Kakek saat Hae Deok bingung-bingungnya karena Hae Young kabur lagi  dan keluarga suaminya menuntut hak warisan.

Mungkin ini kehendak tuhan, saat Hyun Kwang bayi menangis sekeras-kerasnya, Hae Deok menjulurkan payudaranya ke mulutnya dan bayi itu mulai menyesap. Ajaib! Air susunya keluar, berkali-kali Hae Deok mengucapkan syukur. Kesehatan bayi mungil itu berangsur membaik, bahkan tumbuh menjadi anak yang cerdas.

Sesekali, entah malaikat mana yang menempel di hatinya, membuat Hae young mengunjungi desanya kembali. Dia selalu membelikan oleh-oleh pada Hyun Kwang, mungkin dia sudah sadar dan Hae Deok bersyukur karenanya.

Hyun Kwang selalu memuji kalau Ibunya cantik. Cantik dan selalu berpakaian bagus. Dan Hae Young menjanjikan pendidikan yang lebih baik di Bussan. Entah apa maksudnya, Hae Deok berharap perkataan itu sungguh-sungguh. Anak secerdas Hyun Kwang memang harus meneruskan pendidikannya di kota. Bukan hanya stagnan di desa pegunungan seperti itu.

“Bibi…, aku lulus!” teriakan riang Kwang memenuhi rumah. Hae Deok memeluk bocah berusia lima belas tahun itu. Tahu kalau saat melepas Kwang ke Bussan hampir tiba. Kwang pasti akan melakukan niatannya, meneruskan sekolahnya di Bussan.

“Aku akan mencari Ibu. Ibu selalu bilang alamatnya di sini.” Kang menyodorkan secarik kertas pada Hae Deok. Mereka sedang berkemas untuk keberangkatan Hyun Kwang ke Bussan. Hae Deok menerima kertas itu lalu memasukkannya di saku kemeja Hyun Kwang. “Jaga tulisan ini baik-baik, Nak. Hanya ini yang bisa membawamu pada Ibumu.”

Hyun Kwang mengangguk dengan senyum di bibirnya. Di kepalanya sudah terbayang pertemuan dengan Ibunya. Bagaimana lega rasanya dipeluk Ibunya yang cantik. Sore itu Hae Deok mengantarkan kepergian Hyun Kwang dengan lambaian tangan di dermaga. Kapal penyeberangan itu semakin menjauh, membawa Hyun Kwang menjemput mimpi.

“Dan kau bertemu Ibumu?”

Kang menekuk siku lengannya, menjadikan telapak tangannya sebagai bantal. “Iya, dan sangat kacau! Alamat itu sebuah bar dengan beberapa kamar di tingkat tiga dan salah satunya ditinggali Shin Hae Young, Ibuku.” Kang kembali menelusuri ingatannya.

Saat menapaki bar itu. Tentu saja sepi karena dia sampai di pagi hari dan Bar hanya buka di malam hari.  Hyun Kwang remaja mengamati sekeliling interior bar itu. Beberapa pemabuk masih tertidur di sudut-sudut dan petugas berusaha mengusir. Hyun Kwang mendekati seorang wanita yang memberi perintah pada petugas itu. wanita dengan dandanan seronok tapi beraut kurang tidur, yang menatapnya dengan pandangan curiga.

“Apakah Shin Hae Young ada di sini? Dia memberikan alamat ini padaku?” Hyun Kwang mengulurkan secarik kertas yang selalu dipegangnya pada wanita itu.

Wanita seronok itu semakin memicingkan matanya dengan wajah yang semakin mendekat. “Kau! Siapa kau?”

“Saya Shin Hyun Kwang, anaknya,” Hyun Kwang menunduk sopan. Wanita itu memutar bola matanya bosan lalu memberi tanda dengan jarinya agar Kwang megikuti. Wanita itu berjalan tidak sabar dan mendumel. Hingga sampai di depan sebuah kamar, dia mengetok pintu dengan asal. “Hei…, Rose! Kau pikir Bar ini panti asuhan? Urus anakmu ini! Kau harus cari cara untuk membayar kamar ini, atau kalau tidak kau harus pergi dari sini!”

Tidak ada jawaban. Kwang menatap pintu itu bingung dan wanita itu semakin emosi. “Rose! Buka pintunya atau kudobrak!”

Gertakan itu berhasil. Pintu perlahan terbuka dan kepala berwajah pucat nongol setelah itu.  Wanita itu menunjuk pada Kwang. “Dia tidak bisa tinggal di sini! Ingat itu!”  Begitu  saja. Wanita itu pergi dan wanita berwajah pucat dari dalam kamar, yang Kwang kenali sebagai Ibunya menariknya ke dalam kamar. Hae Yeoung menutup pintu dibelakangnya lalu mencengkeram kuat lengan Hyun Kwang. “Mau apa kau ke sini?”

“Ibu… Aku lulus tingkat Yunior. Ibu janji mau menyekolahkanku di sini kalau lulus.”

Hae Young mendesis. Dia menegak dan berkacak pinggang. Bingung dengan janjinya sendiri. “Bodohnya kau mempercayai perkataanku.”

“Ibu… .”

Kwang merengek. Hae Young semakin bingung. Gelombang mual mulai naik dari perut menuju kerongkongannya. Dia tak tahan lagi dan lari ke kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya di wastafel. Tidak ada yang keluar, hanya cairan kehijauan.

“Dasar laki-laki! Bisanya Cuma… Huek!” sekali lagi dia muntah di wastafel.

“Ibu sakit?” Kwang menepuk-nepuk punggung Hae Young. Tatapan Hae Young mengarah pada Kwang. Pandangan orang kebingungan. Sebentar lagi kandungannya pasti kelihatan dan.. Kwang… Oh, Kenapa juga anak ini ada di sini? Dia tidak bisa menggugurkan bayi ini. Dia memang pelacur, tapi dia bukan wanita yang tega menggugurkan kandungan. Bagaimana pun, bayi ini sudah menjadi bagian darinya. Sama seperti Hyun Kwang, dia tidak bisa tinggal di bar ini lagi.

Hae Young masuk kembali ke kamar, membuka lemari, menarik koper besar dan mulai berkemas.

“Ibu…, Ibu mau kemana?”

“Sudah diam, Kwang!” bentak Hae Young. “Kau tidak dengar apa yang dibilang wanita itu tadi? Kau tidak bisa tinggal di sini! Ibu juga tidak bisa tinggal di sini!”

“Kami hanya berjalan tak tentu arah di kota,” Suara Kang semakin menampakkan kesedihan. Camille mendekatinya, menepuk-nepuk pundaknya. Dia sudah duduk kembali di atas tempat tidur. Cerita itu masih panjang dan Camille masih menampakkan raut prihatin. “Oh, Kang. Bagaimana kau tahu?”

“Aku tahu… Ibu selalu menghindari tatapan mataku. Itu juga menandakan kalau Ibu juga bingung mau pergi kemana.”

 

Hae Young memang kebingungan. Hae Young tidak mungkin kembali lagi ke desa. Kakaknya pasti memberikan wejangan-wejangan yang membuat kupingnya panas. Penduduk desa pasti semakin mencibir. Sekali lagi dia kecolongan, dia tidak bisa mengingat pria yang memberinya benih. Dia yakin pria-pria itu memakai pengaman, atau mungkin ada salah satu yang sobek waktu itu? Ah, dia tidak tahu.

Sementara Kwang yang berjalan di sampingnya semakin kelelahan. Dia tahu itu. Anak itu sesekali memandang penuh tanya dan dia terpaksa menghindari tatapannya. Hingga saat dia melihat sebuah rumah kecil dengan tulisan ‘For Rent’ di pintunya, Hae Young tahu ini saatnya mereka berhenti. Rumah kecil itu berhasil mereka sewa. Tentu saja sangat jauh dari kata nyaman. Hanya ada sebuah kamar, sebuah ruang tamu yang seruangan dengan dapur dan kamar mandi. Hyun Kwang merasa rumahnya di desa malah lebih layak.

Seperti janjinya,  Hae Young menyekolahkan Hyun Kwang di sekolah gratis program pemerintah. Kondisi keuangan tidak memungkinkan Hyun Kwang terdaftar di sekolah favorit, ditambah kondisi kesehatan Hae Young yang semakin memburuk.

Mulanya Hyun Kwang mengira itu sakit biasa, tapi melihat perut ibunya yang semakin membesar, dia tahu kalau Hae Young sedang hamil. Dia sangat senang waktu pertama kali melihat itu, bahkan berusaha mengelus perut Hae Young tapi tangannya ditepis oleh Hae Young.

“Ibu, di dalam situ ada adikku,” Hyun Kwang merajuk sambil cemberut.

“Diam, kau, Kwang! Tidak usah mengurus Ibu!” hardik Hae Young. Dia menyesap rokoknya, mengepulkan asap di udara.

“Ibu…, Ibu tahu, kan… merokok bisa mencelakai adik?”

Hae Young mendelik. “Iya! Dan aku memang sengaja melakukannya. Apa perdulimu, Kwang! Sudah kubilang jangan mengurus Ibu!”

Hae Young masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Dia menangis, menumpahkan semuanya di atas bantal. Hal ini terlalu berat baginya. Uang tabungannya semakin menipis dan dia tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Tapi Kwang tahu apa yang harus diperbuat. Ini waktunya mencari kerja. Ibunya tidak mungkin bekerja dalam kondisi seperti itu dan dia yang harus turun tangan. Sangat sulit mencari pekerjaan. Semuanya enggan menerima pekerja seumuran Kwang. Mereka tidak mau disalahkan jika mempekerjakan anak di bawah umur.

Hingga dia mengenal Tuan Bae, pemilik warung kelontong. “Kami tidak bisa menerimamu, Nak.” Dan Kwang pun berbalik lesu. Sama seperti sebelum-sebelumnya. Istri Tuan Bae melihat kelesuhan Kwang, sambil menggendong anaknya yang masih berumur satu tahun, dia menghampiri suaminya, “Kasihani dia, Sayang. Setidaknya berikan dia pekerjaan paruh waktu.”

“Tapi…

Nyonya Bae memberikan tatapan meyakinkan dan Tuan Bae tidak bisa menolaknya. Akhirnya Tuan Bae memanggil Kwang yang belum jauh dari warungnya. “Hei, Kau! Kemari!”

Kwang menoleh. Sambil memastikan dialah satu-satunya orang yang dipanggil, dia mendekati Tuan Bae kembali.

“Kau bantulah aku setiap pulang sekolah. Tapi ingat! Jangan sampai prestasimu turun gara-gara bekerja di warungku! Aku tidak mau disalahkan karena itu.”

“Iya…, tentu saja, Tuan. Terima kasih.”

“Berteima kasihlah pada istriku. Kalau tidak karena wanita baik ini yang meyakinkanku, aku tidak akan menerimamu!”

Kwang membungkuk hormat pada Nyonya Bae. “Terima kasih, Nyonya. Terima kasih!”

Kwang adalah remaja yang ulet. Kejujurannya membuat Tuan Bae mengacungkan jempol. Prestasi di sekolahnya pun tidak menurun karena aktifitasnya di warung Tuan Bae. Saat ujian akhir semester, dia mendapat peringkat pertama. Nyonya Bae yang sedari awal tahu keadaan Kwang, begitu kagum dan menyuruh suaminya ke rumah Kwang, memberikan hadiah berupa bahan pangan padanya. Wanita itu sangat baik tapi begitu naif. Dia tidak sadar kalau sudah mengirim suaminya ke kandang ular.

Kwang tidak tahu bagaimana semuanya berawal. Yang dia tahu, Tuan Bae hanya sekali mengunjunginya, yaitu waktu mengantarkan bahan pangan atas suruhan istrinya dan Tuan Bae memang bertemu dengan Hae Young waktu itu. Tapi Kwang tidak tahu kalau Tuan Bae juga menemui Hae Young saat Kwang sekolah bahkan jika Kwang bertugas menjaga warungnya. Hingga Nyonya Bae tahu semuanya. Wanita yang biasanya baik budi itu marah dan mengarahkan warga untuk mengusir Hae Young dan Hyun Kwang.

Semuanya telah terjadi. Bukannya menyesal, Hae Young malah memaki Nyonya Bae. “Lihat saja dirimu! Pantas kalau suamimu mencariku! Makanya punya suami itu di jaga!”

Kwang menyeret Ibunya meninggalkan rumah dengan perasaan malu. Berkali-kali dia meminta maaf pada Nyonya Bae untuk kesalahan yang dia lakukan. Mereka harus menghindari amukan warga  dengan meninggalkan rumah kontrakan itu padahal waktu itu kandungan Hae Young sudah seperti meledak.

Camille mendengarkan semua itu dan tak habis pikir. “Dia menggoda Tuan Bae? Dia menggoda Tuan Bae dalam keadaan hamil? Hah?” Camille menggeleng-gelengkan kepala. Ingin rasanya tertawa tapi takut menyinggung Kwang.

“Itulah yang terjadi. Aku sangat malu pada Nyonya Bae. Aku sudah banyak berhutang budi padanya dan Ibuku malah berlaku seperti itu dengan suaminya.” Kwang menunduk.

“Itu bukan salahmu, Kang,” Camille memiringkan kepalanya, sekali lagi memberkan tatapan penuh perhatian.

“Ini cukup, Camille. Aku tidak mau bicara lagi.”

“Kenapa?”

“Kau pasti jijik padaku setelah ini.”

Camille mendorong pundak Kwang. “Jangan bodoh! Kenapa harus jijik?”

“Aku anak wanita penghibur.”

Camille memotong kalimat Kang. “Tapi kau bukan!”

Ya, walau pun kadang semua hal tentang Kang begitu menggoda. Ups! Bicara apa, aku?

“Ceritakan lagi.., apa yang terjadi setelah itu? Kalian kembali ke desa?” Camille masih saja penasaran. Wajah ovalnya  penuh rasa ingin tahu. Kedua tangannya memegang telapak tangan Kang. Camille belum mendengar Kang menyebut nama wanita, kekasih atau istri dan itu yang ditunggunya. Dia tidak tahu apakah Shin Hyun kWang akan mengakui begitu saja. mengakui kalau dia punya istri atau pun kekasih.

Kang menggeleng. “Kali ini aku yang kebingungan. Ibu masih saja mengomel sepanjang perjalanan. Ingin rasanya menyumpal mulutnya tapi itu tidak mungkin. Dia Ibuku.”

 

Hyun Kwang berjalan menyusuri malam dengan Hae Young yang masih mengomel di sampingnya. Keramaian Busan membuatnya tambah pusing. Dia tidak bisa berpikir jernih dengan Hae Young yang masih menyalahkan Nyonya Bae atas perselingkuhan suaminya.

“Ibu, aku mohon diamlah!” sudah hilang akal. Hyun Kwang membentak Hae Young. Ibunya menganga melihat tingkah lakunya. “Kau membentakku? Kau berani membentakku sekarang?”

Hyun KWang menelan ludah. Berusaha meredamkan emosi, dia terus berjalan, menggandeng tangan Hae Young. Hingga Hyun Kwang merasa jalan Hae Young semakin melambat, dia berhenti dan melihat Hae Young yang sudah merintih-rintih, membungkuk memegangi perut.

“Ibu…, Ibu kenapa?”

Hae Young terduduk di tanah. Mereka sudah sampai di jalan yang sepi. Tak ada seorang pun di situ dan Hae Young menahan kontraksi yang semakin lama semakin terasa.

“Adikmu… dia… dia…,” Hae Young bersuara di antara nafasnya yang turun naik. Dan kontraksi itu berhenti tapi Hae Young tahu kalau inilah saatnya. Dia menggenggam tangan Hyun Kwang dan memohon. “Nak, aku mohon carilah tempat bernaung agar Ibu bisa melahirkan.”

“Kita ke rumah sakit,” Hyun Kwang akan menarik lengan Hae Young di pundaknya tapi Hae Young mengibaskannya. “Kita tidak punya uang untuk membayar rumah sakit.”

“Tapi, Ibu…

“Cukup! Dengarkan kata Ibu! Ah..!”

Kontraksi  itu datang lagi. Kwang harus bertindak cepat. Dia merangkul Hae Young, memapahnya mencari tempat bernaung. Sebuah gudang tak terawat  di pinggiran kota terpilih sebagai tempat. Kwang membersihkan lantainya dan   Hae Young langsung berbaring di atasnya, menikmati kontraksi yang semakin lama semakin pendek jarak timbul-tenggelamnya.

“Ibu… apa yang harus aku lakukan?” Remaja sekecil itu menghadapi kelahiran sendirian tentu saja dia kebingungan.

“Diam saja di situ, Kwang,” Hae Young mengatur nafas. Jeda kontraksi datang dan dia agak menghela nafas sekarang tapi dia masih meringkuk, menahan rasa sakit di rahimnya dan pergerakan bayi yang dia rasakan semakin ke bawah. “Turunlah, Sayang… capai kebebasanmu,” Hae Young mendumel. Perkataan yang tidak bisa ditangkap Kang. Dia bisa mengingat semuanya sekarang, dia ingat bagaimana pergerakan bayi ketika melahirkan Kang dan dia bahkan ingat kapan harus mengejan. Ini belum saatnya. Waktu masih panjang, bahkan air ketubannya belum pecah.

“Kwang, kemarilah!”

Kwang mendekati Hae Young, memegang tangannya. “Ini saatnya kau melihat bagaimana dulu aku melahirkanmu. Ah… Huft! .. . Sama seperti adikmu… aku… aku tidak tahu … siapa ayahmu. Jangan coba mencarinya karena aku juga tidak…. .Ah!… .”

“Iya…, Iya, Ibu… aku tahu!” Kwang menangis melihat penderitaan Ibunya. Kenapa Ibunya harus mengungkit masalah itu sekarang? Kenapa?

“Kwang… kau… tahu… Tuan Bae… Bae… menjanjikan biaya persalinan untuk Ibu.” Wanita itu mendesis-desis menahan rasa sakit. Tulang punggungnya serasa mau lepa dari tulangnya. “Kwang.. kwang… bisakah… kau… pijat punggungku, Kwang…”

Kwang masih menangis. Tangannya terulur ke begian belakang Ibunya, memijat sepnjang tulang belakang Ibunya.

“Ya… benar… benar seperti itu…sshhh..,”

“Maafkan Ibu, Kwang. Ibu lemah dan membuatmu malu di depan NYonya Bae.”

“Ibu, sudahlah.”

Hae Young mendongak, menatap wajah putranya yang begitu baik hati. Putra yang sempat dia ingkari setelah kelahirannya. Dulu dia menyusahkan kakaknya saat melahirkan anak itu dan sekarang dia merepotkan anak itu karena kelahiran adiknya. “Kau anak baik, Kwang… Jagalah adikmu. Berjanjilah kau akan menjaga adikmu.. .”

“Ibu… Ibu…,” Hyun Kwang merasa perkataan Hae Young aneh. Kita akan menjaganya bersama-sama, Ibu. Kita akan kembali ke desa. Aku tidak perduli dengan pendidikanku lagi. Semuanya pasti bahagia jika kembali ke sana.

Saat Hae Young merasa tiba saatnya untuk mengejan. Hyun Kwang melihat sang Ibu berpacu dengan maut, mendorong keluar bayi itu. Bahkan remaja ini bisa merasakan rasa ngilu di perutnya. Teriakan Hae Young membuat kepalanya berdenyut, dan dia memeluk tubuh Hae Young yang semakin basah oleh keringat. Selalu mendorong sampai kepala bayi itu keluar.

“Oh, ya Tuhan… Ya, Tuhan..,” Hae Young terkejut melihat kepala bayi yang muncul lalu tertawa sesaat dan melihat wajah Kwang yang masih merangkulnya. “Kwang…, ke bawahlah, jika tangannya sudah terlihat… tarik dia keluar.”

“Tapi…

“Lakukan sekarang!”

Kwang tergagap dan beralih ke bawah Hae Young. Dia gugup karena Hae Young mendorong lagi dan kepala bayi itu berputar, membebaskan bahu dan tangannya yang akhirnya terlihat.

“Sekarang…Akh…,” sekali dorongan lagi dan Kwang menarik tubuh bayi itu keluar walau dengan tangan gemetaran. Malam ini serasa melelahkan bagi mereka berdua. Sebuah mimpi buruk bagi Kwang yang tidak boleh terulang lagi di masa depan. Kwang berjanji dalam hati.

“Itulah kenapa kau marah ketika kutanya pernah atau tidak melihat wanita melahirkan?” Camille manarik kesimpulan dari kisah masa lalu Kang. Pria itu mendongak, menghembuskan kekesalan di udara. “Adikku perempuan.”

Camille tersenyum. “Aku tahu itu, kau sudah mengatakannya.”

Kang menatap wajah Camille. Wajah yang lebih teduh dari sebelum-sebelumnya. Ada kesimpulan lain yang ditarik oleh wanita itu dan Kang tidak mungkin tahu sekarang.

“Tangisan Nam Yoen membuat semua orang tahu kehadirannya. Mereka mengevakuasi Ibu. Pendarahan setelah itu tak juga berhenti. Ibu meninggal seminggu kemudian.”

“Itu buruk, Kang.”

Kang menghela nafas lalu berbaring kembali. “Sudahlah, jika tidak begitu kami tidak kembali ke Jeju.”

“Bibimu pasti terkejut melihatmu pulang bersama bayi,” tebak Camille.

“Iya, tapi dia cukup pintar menebak kalau itu adikku. Pengumuman tentang sekolah pelayaran aku baca dari Koran sebulan setelah aku tiba di Jeju. Sekolah gratis, langsung disalurkan ke perusahaan pelayaran jika prestasimu bagus. Dan aku harus berusaha untuk itu. Aku berhasil. Perusahaan pelayaran raksasa mengkontrakku tiga tahun sebelum aku bergabung dengan Bouwens Inc.”

Camille pikir inilah saatnya, inilah saatnya mengetahui lebih lanjut kehidupan pribadi Kang jadi dia bertanya. “Lalu cerita selingan di antara usahamu itu?”

Kang tertawa mengejek. “Kau pikir apa? Menjalin hubungan dengan wanita-wanita penggoda macam Ibuku?”

“Jahat sekali kau menuduh dia wanita penggoda!”

Kang terkekeh. Camille mendorong lagi pundaknya. “Tidurlah!”

Camille mengangguk. Dia menuruti perintah Kang, berjalan ke tempat tidur dan berbaring.

“Kang… tidak ada wanita yang menunggumu, kan?”

Dahi Kang berkernyit mendengar pertanyaan Camile. Maksudnya?

“Kang,” wanita itu masih menuntut jawab. Walau berbaring, Camille masih menghadap pada Kang. Matanya yang lebar seakan bisa menembus keremangan goa.

Kang menghela nafas. “Ada, Bibi dan adikku.”

“Kalau kekasih atau istri?”

Apa? Wanita ini… gila!

“Itu tidak penting bagimu!”

“Jawab saja…, ada… atau tidak….”

Kang membalikkan badan dengan jengkel. Camille tersenyum penuh kemenangan. Kang belum mempunyai istri atau pun kekasih. Dia lega mengetahuinya. Tunggu! Kenapa harus lega? Memangnya itu penting? Benar kata Kwang, itu tidak penting bagimu!

Itu tidak penting bagimu, Camille… Itu tidak penting!

Sama sekali tidak penting!

 

BERSAMBUNG

akhirnya…. selesai juga part ini… membingungkan.. gua juga bingung… mungkin part ini akan mengubah pendapat kalian tentang Kang mau pun Charlie, tapi part ini memberi clue tentang Kang dan juga Robert Cassidy… jangan menebak-nebak karena aku tidak suka jika ceritaku ketebak. Ngok!

 

THE SECRET II (TEmptation of Island — part 5)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 5

“Benar-benar anugrah,” Berkali-kali kalimat itu mendesis dari bibir Antoine. Charlie yang berada di sisinya menyunggingkan senyum. Setengah jam sudah mereka menyandar di punggung ranjang saling berpegangan tangan. “Aku takut sekali saat kau bilang membenciku.”

“Aku menyesal, Antoine. Maaf… .” Pandangan mata Charlie serasa penuh penyesalan. “Aku janji tak akan mengulanginya lagi.” Charlie mengangkat tangannya yang bebas dari genggaman Antoine. “Suer!”

Antoine meraih kepala istrinya hingga Charlie menyandar di dadanya dan mampu merasakan nafas kelegaannya. “Aku takut kehilanganmu. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Charlie terkekeh. “Kau pikir apa? Tentu saja merawat anugrah ini.” Charlie kembali mengelus perutnya kemudian mendongak pada Antoine. “Nathan harus tahu kabar ini. Telephon dia, Sayang.”

“Ehm,” Antoine tampak berpikir sebentar. “Oke, kita dengar bagaimana pendapatnya.”

Antoine merogoh handphone di saku celana. Komunikasi dengan Nathan terjalin kemudian. Anak itu terkejut mendengar hadirnya anggota keluarga baru di antara mereka. “What a surprise! Oh, My God, Dad. You are so fertile!”

Antoine langsung tersinggung mendengarnya. “It’s not polite!”

Nathan malah cekikikan di telephon. “I want to talk with Mom, please.”

“Hello, My Boy,” Nathan tidak sadar kalau Antoine me’loadspeaker’ handphone sehingga dengan mudah Charlie menyahut pembicaraan.

“Oh, Mom… . It’s you?” Nathan benar-benar terkejut. Tapi tawanya menggema lagi. Charlie heran sambil berpikir apanya yang lucu di sini. “Mom, I think I know what happened when I wasn’t there!” Sekali lagi Nathan menggoda mereka. “Nice summer, isn’t it?”

“Oh, Nathan!” Charlie jengah juga dengan godaan Nathan. Apa yang terjadi selama dia di Toronto sendirian? Pergaulannya masih seperti dulu, kan? pikir Charlie.

Nathan berusaha mengendalikan tawa. Dia tahu Sang Ibu tidak menyukai sikapnya barusan. “Sorry. Ehm,” Dia berdehem sebelum melanjutkan bicara. “Mom, Do you know the risk? You aren’t young anymore. You know…, preaklamsia,  difficult to push, even the possibility of down syndrome babies are born because the ovum is already weak.”

“Hei, hei, Don’t make us down!” Antoine memotong cepat. “We know you are smart in medical school but… don’t say that  to scare your Mom.” Antoine mengatakannya sambil mencium ubun-ubun Charlie. Mata Chalie memejam sesaat. Lebih tenang rasanya menghadapi segala kemungkinan buruk yang tadi disebut Nathan jika selalu ada Antoine di sampingnya.

“Just pray for me, oke?” Charlie mendesah. Nathan menyanggupi.

 “Mom, I want a baby boy,” Nathan tahu kalau Charlie sedikit kawatir karena ucapannya barusan sehingga membelokkan pembicaraan. Kini terdengar tawa khas Charlie. “Of course, dear. But … male or female, it’s not a problem for me  now. I just hoped the baby will  born healthy.”

“OK, enough talk about the baby,” Antoine mengambil alih pembicaraan. “Now …, how to Toronto? “

“It’s OK here. Don’t worry! Grandpa do the business well.”

Antoine menghela nafas. Tidak tega rasanya meninggalkan Sang Ayah yang seharusnya sudah pensiun itu mengurus bisnis keluarga sendirian, tapi Antoine yakin Charlie masih belum mau diajak pulang. “Regards for him. We would come home after Camille found.”

Charlie menatap mata sendu Antoine. Ada kesedihan di mata itu. Antoine sedikit menerawang. Charlie mengambil alih handphone dari tangan Antoine. “Dear.., I think we must end the conversation now. Take care of you, OK!”

“I will, Mom. Congratulation again!” salam perpisahan terdengar sebelum Charlie menutup telephon.

Antoine melorotkan tubuh hingga berbaring. Charlie mengamatinya, masih duduk menyandari punggung ranjang. “Kau ingin pulang?” tanya Charlie.

“Tidak! Aku hanya … tiba-tiba merasa ngantuk.”

Charlie tahu kalau Antoine berbohong. Tapi memang Antoine merasa lemas jika mengecewakan Ayahnya. “Aku tidak apa di sini sendiri. Pulanglah jika ingin.” Charlie menggigit bibir. Serasa perih mengatakan itu, dia teringat lagi kemungkinan buruk yang disebutkan Nathan.

Antoine menggeleng. “Seperti yang ku janjikan, aku akan tetap di sini. Bersamamu sampai Camille ditemukan.”

“Tapi, Ayahmu?”

Antoine merapat pada Charlie, menopangkan kepala di pangkuan Charlie, melingkarkan lengan di pinggangnya lalu mencium perutnya. “Tidak usah dipikirkan. Dia selalu bilang bosan di rumah terus kalau pensiun.”

Charlie tersenyum. Dibelainya rambut Antoine seperti biasa hingga ketukan di pintu membuyarkan keasyikan mereka. Antoine bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah pintu. Pelayan berdiri di depannya saat pintu itu terbuka.

“Mr. Cassidy at the living room, Sir.”

Antoine mendengus. Ada apa lagi?

“Thanks!” Antoine menutup pintu. Dia berjalan ke meja rias untuk merapikan rambut.

“Ada apa?”

Antoine meletakkan sisir pada tempatnya lalu menghampiri Charlie. “Ada Cassidy di ruang tamu. Aku tidak tahu apa lagi yang dia mau tapi… kau tidurlah!”

“Apa ada berita terbaru tentang Camille?” Mata Charlie melebar memikirkan kemungkinan itu. Antoine menggeleng. “Entahlah, tapi aku tetap bersikeras. Kau harus istirahat sekarang. Ayo, berbaringlah!” Antoine membimbing Charlie untuk terbaring nyaman di ranjang.

“Berjanjilah, Antoine…,”Charlie menggengam tangan Antoine sebelum pergi. “Berjanjilah kau akan mengatakan sejujurnya tentang perkembangan berita Camille. Jangan kau tutup-tutupi seperti kemaren.”

Antoine memberikan senyuman menenangkan. “Aku berjanji kalau kau juga berjanji untuk selalu kuat menerima kemungkinan terburuk.”

“Aku…,” Mata Charlie bergerak bimbang. “Aku akan berusaha… semampuku.. .”

Sekali lagi Antoine tersenyum. “Kau harus berusaha sebaik mungkin karena sekarang ada dia yang bergantung padamu,” Antoine menunjuk perut Charlie dengan dagunya. Gantian Charlie yang tersenyum sambil mengangguk.

“Tidurlah!” Antoine mengecup kening Charlie sebelum meninggalkan kamar. Dia menutup pintu perlahan seolah tidak mau suara angin mengganggu keheningan istrirahat istrinya.

Di ruang tamu, baru saja keduanya duduk,  Robert langsung memberondongi Antoine dengan pertanyaan seputar keadaan Charlie. Terlihat sekali kekawatiran Robert pada istrinya, Antoine sedikit risih. “Hei, She is my wife. Remember it!” Antoine mewanti-wanti.

Disadarkan dengan posisinya, Robert terlihat lebih tenang. “Tapi dia baik-baik saja, kan?”

Antoine mengangguk. “Anak ketiga kami akan segera lahir.” Tampak sekali keoptimisan di wajah Antoine, tak menyadari Robert yang jadi melongo mendengarnya.

Rasa sedih menyelinap di hati Robert, dia berusaha  menghalaunya. Bukankah seharusnya dia ikut bahagia untuk Charlie?

“Apakah tidak apa-apa mengandung di usianya sekarang?”

Antoine menghela nafas. “Dia akan baik-baik saja. Aku akan pastikan itu.”

Robert teringat saat Charlie marah-marah di ruangannya. “Saat dia marah… dan menunjuk-nunjuk seperti tadi… Charlie Bouwens…,” Robert menerawang. Antoine menyadari itu dan memotong lamunan Robert. “Tidak ada lagi Charlie Bouwens, yang ada adalah Charlie d’Varney, istriku.”

Antoine memastikan itu… Charlie Bouwens hanyalah khayalan, mungkin memang seharusnya terlupakan.

—oOo—

Berhari-hari Hyun Kwang disibukkan dengan pembangunan ‘rumahnya’. Setiap kali dia berangkat ke ‘proyeknya’, dia selalu memastikan api di depan goa menyala. Camille yang sudah terbiasa memasak masih kesulitan menyalakan api. Kang harus menyalakannya atau dia terima pisang saja sebagai makan siang ketika kembali ke goa karena Camille belum memasak.

Kadang-kadang Camille mengantarkan makan siang. Sekedar ikut melihat perkembangan ‘proyek’ Kang. Rupanya kali ini dasar rumah sudah terpasang. Kang menguji ketahanannya dengan naik ke atasnya. “Bagaimana? Lihat! Ini tahan sampai seratus tahun!” Kang berdiri sambil berkacak pinggang.

Camille mengangkat tangan, mengelus dasar  rumah pohon yang berada tepat di atas kepalanya yang terbuat ibu tulang daun kelapa. “Kau yakin? Menurutku kurang kuat! Kau dan aku akan menghuni rumah ini. Jadi setidaknya diperlukan kekuatan lima kali berat tubuh kita agar dasar ini tidak roboh.”

“Ah, Aku yakin ini kuat, badanmu tinggi kurus begitu! Lihat, nih!” Kang meloncat-loncat, menguji kekokohan dasar ‘proyeknya’.

Satu loncatan.

Dua loncatan.

Tiga loncatan.

Bruk! Alas rumah ambrol!

Kang jatuh dengan posisi duduk dan meringis kesakitan. Bukannya menolong, Camille malah tertawa-tawa senang. “Apa kubilang!”

Kang jadi sewot. Dia berdiri, bersungut-sungut sambil menepuk-nepuk pantatnya yang kotor.

“Makan dulu, yuk!”

Kang menolak ajakan Camille. Pria itu mengambil alat ‘batu runcingnya’ dan masuk lebih dalam ke hutan. Camille mengangkat bahu. “Ya, sudah! Ku habiskan sendiri makan siangnya!” Camille meneriakki angin karena Kang sama sekali tidak menghiraukannya.

Setelah kejadian itu, Kang tidak mengijinkan Camille menginjakkan kaki di sekitar ‘proyeknya’ lagi. Camille protes tapi keputusan Kang sudah bulat. Kang memberinya tugas untuk pergi ke pantai jika merasa bosan sendirian di goa, mengecek tanda SOS di pasir dan bendera buatan tetap ada di tempatnya.

Tapi lama-lama rutinitas itu membuat Camille bosan juga. Hingga akhirnya dia menemukan keasyikan baru, menjelajah hutan. Dia semakin menikmati pulau asing ini. Pulau asing? Entah kenapa, Camille merasa tidak asing lagi pada pulau ini. Di pulau ini dia menemukan flora yang selama ini hanya tergambar dari herbarium.

Ini….  Phyllantus niruri, L? Pipper betle ? Bukan hanya itu tapi … masih banyak lagi ! Camille menandai setiap tanaman yang ditemukan berdasarkan morfologinya. Dia menelusurinya sampai ke dalam tanah dan… Oh my God! Curcuma domestica Rhizoma ! Camille mencakar-cakar tanah dengan tangannya, menarik herba itu hingga umbinya terangkat.

Hingga akhirnya di suatu hari, dia mendengar suara dengungan. Saat kepalanya terangkat ke atas, dia melihat sarang lebah yang cukup besar tergantung di dahan pohon.

Mell depuratum!” teriaknya senang sambil mengangkat kedua tangan. Camille mengambil batu di tanah lalu melempar sarang lebah itu. Dalam sekali lemparan, sarang lebah jatuh. Camille memungut benda itu dan tentu saja para lebah yang terusik menyerangnya.  Camille lari menghindar sambil menjerit-jerit.

Kang yang mendengar jeritan Camille  terpaksa meninggalkan ‘proyek’ untuk melihat apa yang terjadi. Bukan main kagetnya Kang, Camille lari kencang dengan sarang lebah di tangan dan para lebah mengejar di belakangnya.

“Lepaskan benda itu, Bodoh!” teriak Kang sambil mengejar Camille.

“Tidak akan!” Camile terus menghindari sengatan lebah. Larinya cepat juga. Bahkan Kang agak kewalahan mengejarnya. Dia berlari ke arah sungai lalu terjun ke dalamnya. Gerombolan lebah tidak mungkin mengikutinya di dalam air. Koloni itu menyebar ke segala arah, hingga tak ada satu lebah pun di tempat itu.

Kang terbungkuk-bungkuk di pinggir sungai, mengatur nafas. Bodoh sekali, Kang tersenyum geli mengingat kejadian barusan. Anak manja itu rupanya sudah gila.

Pria itu berjalan ke arah Camille tenggelam. Tampak gelembung-gelembung udara pernafasan Camille di permukaan air. Saat Kang melihat ke dalam air, Camille ada di situ berenang gaya batu. “Hei, keluarlah! Mereka sudah pergi!” kata Kang.

Camille menggelengkan kepala. Kang mendengus. “Sampai kapan kau di situ terus! Persediaan udara di paru-parumu makin menipis.”

Camille menggerakkan kaki hingga kepala dan bahunya muncul di permukaan air. Terdengar nafasnya yang gelagapan. Tangan kanannya terangkat, sarang lebah curiannya basah. Air meluncur turun dari benda bulat itu.

“Untuk apa itu?” Kang menunjuk sarang lebah. Camille sudah bisa mengatasi pernafasannya lalu mulai menepi ke dataran. “Ini madu asli, tahu! Mahal kalau sudah ada di mal-mal Toronto.”

Kang mengamati Camille yang tertawa-tawa sambil menimang bulatan kecoklatan itu. sepertinya Camille cukup puas dengan temuannya…, bukan… rampasannya dari para lebah.

“Terserahlah! Asal jangan kau ulangi lagi! Tidak selamanya kau selamat dari sengatan lebah,” Kang memperingatkan sambil ngeloyor pergi.

“Jangan kawatir!” sekali lagi Camille meneriaki angin karena Kang meninggalkannya begitu saja.

Camille kembali ke goa. Diperasnya sarang lebah itu, menampung madu yang merembes keluar dari dalamnya di sebuah batok kelapa. Lalu   mengendapkannya di bawah sinar matahari sambil memasak. Sore hari, ketika Kang kembali ke goa. Madu sudah terpisah dari air. Camille menuangkan air yang ada di permukaan hingga hanya tertinggal cairan kental di dasar wadah. Wajahnya cukup puas ketika menenteng batok kelapa itu ke dalam goa.

Petualangan Camille tidak terbatas pada tanaman tapi juga pada masakan. Setiap hari, Kang dikejutkan dengan menu baru. Bisa-bisanya si anak manja mempunyai pikiran membungkus ikan bersama parutan kelapa, garam dan cabe di dalam daun pisang dan memangganngnya di atas api? Kang sempat uring-uringan karena Camille mengambil ‘batu runcing’ nya untuk mengerok kelapa. Tapi merasakan lezatnya masakan itu, sepertinya Kang harus berpikir dua kali untuk memarahi Camille walau pun ‘proyek’nya tertunda. Belum lagi saat Camille malas memasak, dia membenamkan ubi jalar begitu saja di bara api dan ternyata ubi bakar yang cukup mengenyangkan siap disantap. Dan Kang mulai bersyukur dengan keberadaan si anak manja Camille di masa-masa terdampar. Setidaknya berikan Camille kepercayaan. Sementara proyek rumah pohon hampir selesai, Kang tidak menyadari, si anak manja telah bertranformasi menjadi pribadi yang semakin matang dan cantik.

Pada akhirnya, Kang harus selalu menekan rasa tertariknya pada Camille. Dia meyakinkan pada diri sendiri, berusaha menganggap Camille sebagai adik. Dan dia harus bisa melakukan itu. Camille memang dekat, tapi pada dasarnya, mereka terpisah cukup jauh. Dan posisinya masihlah ABK yang harus melindungi klien kapalnya.

Namun Camille selalu tanpa sadar mengumbar pesonanya. Dengan sikap sok ingin tahunya dan terkadang membuat Kang kawatir. Camille hampir digigit ular dua hari yang lalu. Empat  hari yang lalu, sempat terperosok ke jurang karena jalan licin habis turun hujan. Oh, ya… dan jangan lupakan aksi Camille mengalihkan perhatian induk ayam hutan seminggu yang lalu untuk mengambil telurnya yang membuahkan luka patokan di lengan.

 Anak manja itu tetap saja nekat dan Kang memutuskan lebih fokus pada proyek rumah pohonnya . Dia membiarkan  Camille menyusuri hutan sendirian siang itu. Kang yakin benar kalau Camille mulai terbiasa dengan keadaan hutan. Camille cukup cerdas belajar dari pengalaman.

 Camille menjinjing tasnya yang terbuat dari anyaman janur kelapa, sebagai wadah daun apa saja yang menarik minatnya dan dia pikir berguna.   Camille berjalan terlalu jauh. Sisi lain pulau yang lebih tinggi terlewati. Seakan berada di ujung dunia, dia bisa melihat pulau itu di bawahnya namun di sekeliling pulau itu tetaplah air asin. Seketika suasana terasing menyeruak. Dia bahkan sudah lupa, berapa lama mereka terdampar. Hingga saat matanya terpaku pada tanaman yang mengering di sebelah barat pulau. Camille lebih berhati-hati menuruni tebing untuk mendekati tanaman itu. Tangkai dan daunnya memang kering,  tapi lihatlah buahnya… sesuatu yang putih kekuningan bergumpal, halus dan lembut, menyembul di atas kelopak.

Camille tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. “Kapas…,” lalu keningnya berkerut.., mengingat-ingat nama latin tanaman itu. “Jika masih berada di kepulauan asia tenggara, kemungkinan jenisnya Gossypium arboreum.” Camille bicara sendiri di depan serat kapas yang merekah.

Dengan senyum yang terkembang, dia memetik kapas sebanyak-banyaknya. Bukankah kami juga perlu baju? Dia memang tidak bisa memintal kapas menjadi benang, tapi setidaknya dia bisa mencoba.  Camille merasa puas dengan temuannya kali ini. Dia melewati bagian pulau yang dikuasai para monyet. Agak mengendap-endap dia berjalan, tanpa mau mengusik monyet itu dengan kehadirannya. Kemaren-kemaren dia sudah mengusik lebah, ular dan ayam hutan, dan dia tidak mau membuat Kang kawatir lagi dengan mengusik monyet.

Tapi Camille memang sudah membuat Kang kawatir. Kang panik saat dia masih belum kembali ke goa padahal matahari sudah mulai tergelincir. Masakan yang sudah disajikan Camille di atas batu dalam goa tidak menggugah seleranya makan. Camille yang belum pulang lebih menyita perhatian. Kang keluar goa lagi, menelusuri pulau demi Camille.

Kang mengikuti jejak yang ditinggalkan Camille. Cukup membuat Kang keheranan karena Camille bisa berjalan sejauh itu. Lebih heran lagi saat Kang melihat jejak Camille di tebing tertinggi pulau itu. Sama seperti Camille, dia bisa melihat keadaan seluruh pulau dari sini dan saat menolehkan kepalanya ke barat, semak kapas sudah tak beraturan. Kang menuruni tebing dan berpikir keras saat berada di antara semak kapas.

Jadi ini yang menarik perhatiannya? Bibir Kang menampakkan lengkungan. Camille berpikir mau membuat baju? Kang semakin yakin kalau si- anak manja itu tentu banyak akal. Sekali lagi Kang harus menekan rasa kagumnya.

Gadis manja itu masih belum nampak batang hidungnya.Tunggu! Gadis manja? Kang mengubah julukan Camille jadi ‘Gadis manja’. Satu tingkat lebih tinggi bukan?

Kang menyusuri lagi jejak langkah yang ditinggalkan Camille. Dan lihatlah… gadis manja itu rupanya sampai di kawasan para monyet, berjongkok dibalik batu, mengamati sesuatu… entahlah apa itu yang menarik perhatiannya. Bahkan dia tidak sadar kalau Kang sudah berdiri di belakangnya. “Hei, apa yang kau lakukan?”

“Ssst….,” Camille memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk di bibir lalu menarik lengan Kang agar ikut berjongkok di sisinya. “Lihat itu !” setengah berbisik, Camille menunjuk obyek yang menjadi pengamatannya.  Seekor monyet betina bunting yang terisolir sendiri di semak-semak.

“Apa yang dilakukan monyet itu sendirian di situ?” Camille bicara dengan mulut setengah tertutup. Suaranya mendesis di keheningan batu. Kang ikut memicingkan mata melihat monyet itu.

“Oh,” mata  Camille, membelalak satu tangannya  menutupi mulutnya yang terbuka saat dia melihat monyet itu menungging. Kang pun berhenti bernafas sebentar tapi dia tahu apa yang akan terjadi. Dan benar saja, monyet itu mengejan dan lima menit kemudian muncul bayi monyet mungil dari bagian bawah tubuhnya.

“Oh, ya Tuhan!” Camile memekik dalam bisikan, masih dengan membekap mulutnya.

“Dia hanya melahirkan,” Kang hendak berdiri tapi Camille menarik lengannya lagi. “Tunggu!” terpaksa Kang berjongkok lagi.

“Aku ingin melihat apa yang dilakukannya setelah ini,” Camille berbisik lagi, kali ini sambil tersenyum. Kang memutar mata bosan.

“Kenapa? Memangnya kau pernah melihat kelahiran?” Camille protes dengan bibir maju beberapa senti lalu menoleh lagi ke monyet. Monyet itu mulai menjilat-jilati bulu anaknya lalu menggigit tali pusarnya untuk memisahkan dari plasenta. Dan ternyata monyet itu tidak murni sendiri. Ada monyet lain yang menunggui tak jauh dari situ yang mulai mendekat saat suara monyet kecil yang baru lahir terdengar.

“Oh…, jadi begitu…,” Camille lupa kalau dia bicara cukup keras, hasilnya suasana hening para monyet terganggu. Sontak makhluk primata itu menoleh.

“Bodoh sekali!”

Kang menarik lengan Camille dan mereka lari sekencang-kencangnya, keluar dari kawasan monyet. Mereka berhenti setelah sampai  di pantai dan yakin kalau keberadaan cukup jauh dari jangkauan para monyet, duduk di atas batu, terengah-engah.

“Kau….,” Kang memaksakan diri bicara sambil mengatur nafas. “Bodoh sekali!” Tapi si gadis manja malah tertawa senang. “Aku senang sekali. Aku jadi tahu bagaimana monyet liar melahirkan. Pengalaman berharga sekali.”

Kang menoleh pada Camille tak menyangka sesuatu mengerikan seperti itu dianggap pengalaman berharga.

“Kenapa kau melihatku begitu?” sekali lagi bibir monyong Camille memprotes. Dan bibir itu membentuk lengkungan indah kembali. Saat itu Kang sudah mulai berjalan lagi kembali ke goa. “Sudah sore, ayo pulang!”

Camille mensejajari langkah Kang. Masih tampak riang karena pengalaman berharganya. Pasir tersepak-sepak di kaki mereka. Langit sudah menjingga.

“Oh, Iya, Kang… Kamu tahu, tidak! Aku sudah pernah melihat kelahiran anak anjing. Di rumah, ada tiga ekor anjing, jadi aku bisa melihat mereka melahirkan. Ternyata para hewan lebih hebat dari manusia, ya. Bayangkan  saja, mereka bisa melahirkan sendiri, sedangkan kita… perlu bantuan bidan dan dokter, bukan… .”

Kang tidak menghiraukan omongan Camille. Dia mempercepat langkah agar cepat sampai ke goa sebelum hari bertambah gelap.

“Tapi aku belum pernah melihat wanita melahirkan, Kang. Kau sudah pernah, belum?”

Sudah!

“Belum!” Kang menjawab cepat. Camille merasa kalau pertanyaannya sedikit menyinggung Kang. “Kau kenapa, sih… ? Kalau belum pernah lihat ya sudah, tidak usah membentak.”

Mimik wajah Kang berubah bimbang. Camille masih mendongak, menatap mata Kang yang bergerak, menyembunyikan sesuatu.

“Hari semakin gelap. Kita harus segera sampai ke goa,” Kang menghela nafas dan kembali berjalan. Baru sepuluh langkah mereka berjalan dalam keheningan. Mulut Camille sudah berkicau lagi. “Pantas saja di pulau ini banyak pisang… karena di sini banyak monyet.”

“Oh ,ya?” Kang memutuskan menanggapi kicauan Camille. Berjalan tanpa mendengar ocehan Camille ternyata membosankan juga.”Jadi pisang ini khusus disediakan untuk para monyet? Menurutmu monyet itu muncul karena ada pisang?”

“Kau berkata seperti mempertanyakan cara kerja Tuhan saja,” Camille menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh, jadi yang memberikan pisang pada monyet itu Tuhan atau memang pisang itu ada karena ada monyet?”

“Dan sekarang kau seperti orang yang mempertanyakan keyakinanmu?” potong Camille. Tunggu! Camille menarik lengan Kang. “Agamamu… Apa agamamu?”

Kang mendengus. Sekali lagi dia mendiamkan pertanyaan Camille.

“Hei, apa susahnya menjawab pertanyaan itu?” Camille mengejar Kang yang sudah mulai memasuki hutan.  “Aku tidak suka pertanyaan macam itu.” Pria itu melanjutkan langkah lagi.

“Kenapa? Aku bukanlah orang rasis. Kau tahu, Nenek dari Ibuku beragama Budha. Kakek dari Ibuku orang Kanada, jadi dia beragama Kristen protestan. Ibuku ikut agama ayahnya, Kristen protestan. Adik nenekku menikahi pria Muslim, jadi dia ikut agama suaminya. Keluarga ayahku beragama Kristen protestan, jadi kami sekeluarga dibesarkan dalam ajaran Kristen. Kami hidup rukun dalam keanekaragaman. Jadi.., apa susahnya mengatakan agamamu padaku?”

Kang mengeram bosan. “Sudah kubilang, Camille…! Aku tidak suka ditanya masalah itu!” Kang membentak Camille. Bibir Camille semakin maju beberapa senti. “Kau tidak suka kalau ditanya tentang keluargamu dan sekarang kau tidak suka ditanya tentang agamamu! Sepertinya kau memang menghindar kalau aku ingin tahu identitasmu! Kenapa sih? Apa memang kau tidak punya keluarga? Atau memang kau tidak punya agama?”

Camille berhenti setelah mengucapkan kalimat yang terakhir. Wajah Kang agak mendung. “Tunggu dulu!” Camille mengangkat tangan, menyentuh pudak Kang. “Jangan katakan kau tidak punya agama!”

Kang berjalan kembali, kali ini lebih lambat dari sebelumnya.

“Jadi benar? Benar kau atheis?” Camille menjajari Kang, menggoyang-goyangkan lengannya.

“Apakah beragama itu perlu?”

Hati Camille terenyuh mendengar perkataan Kang. Apakah beragama itu perlu?

“Tentu saja perlu sebagai pegangan hidup!”

Tak terasa mereka sudah sampai di depan goa. Kang mulai sibuk dengan aktifitas sore, menyalakan obor untuk menerangi goa. Saat api unggun menyala, Camille tahu kalau ini waktu untuknya menyiapkan makan malam. Obrolan tentang agama, keluarga dan segalanya tentang Kang berhenti sementara. Kang yang memang pendiam jadi lebih pendiam. Dia menjawab pertanyaan Camille pendek-pendek malam itu dan langsung tidur setelah menghabiskan makan malam. Rupanya dia memang menghindari interogasi Camille.

Camille memang pernah mendengar bahwa sebagian besar warga Korea tidak beragama. Mereka hanya hidup dengan aturan adat saja yang menurutnya sudah baik mengatur hidup. Camille bahkan merasa kasihan pada Kang. Camille merasa Kang bukanlah Atheis. Kang hanyalah pribadi yang masih bingung menentukan kepercayaan. Demi menunjukkan kepercayaannya pada Kang, Camille mengikat dua ranting dengan akar larak, membentuk salip dan menancapkannya di depan goa. Kang terkejut saat keluar goa  melihat salip yang sudah berdiri tegak dan kokoh itu.

“Apa yang kau lakukan?”

Camille menoleh. Sekali lagi dia memastikan salip tertancap sempurna dan kokoh. “Hanya mau menunjukkan padamu arti agama. Lagi pula aku memerlukannya untuk berdoa. Mungkin Tuhan akan lebih mendengar doaku jika aku berdoa di depan salib dan kita lebih cepat ditemukan.”

Bibir Kang mencibir, membentuk ejekan. “Sepertinya baru kemaren kau mengatakan kalau aku mempertanyakan cara kerja Tuhan dan sekarang kau sendiri yang mempertanyakan cara kerja Tuhan menjawab doamu.”

Damn! Sepertinya aku salah ngomong. Camille mendengus sebal. Kang menuju rumah pohonnya. Kali ini Camille mengikuti Kang. “Aku ikut, ya? Boleh, kan? Bukankah aku yang membantumu menganyam janur?”

Kang menghela nafas. Tapi ide Camille boleh juga, daripada gadis itu berkeliaran sendiri di hutan dan membuat dia kawatir? Camille bersorak saat Kang mengangguk.

“Kau tahu, Kang… Aku menemukan tumbuhan aneh, baunya seperti kambing tapi bunganya cantik berwarna ungu. Aku sempat salah mengenalinya sebagai rami…,”

Dan perjalanan singkat menuju rumah pohon yang sedang dibangun akhirnya rame lagi. Kang tersenyum-senyum geli.

“Sampai sekarang aku masih berpikir apa tumbuhan itu, tapi…,” Camille menghentikan langkahnya. Dia merasakan perutnya yang tiba-tiba mulas dan … Camille panik  karena…. Dia hanya bisa duduk di tanah, menahan darah yang mengalir. Ini sudah waktunya? Berarti satu bulan mereka terdampar?

“Kau… Kau kenapa?” Kang yang kawatir mendekatinya. Tapi Camille malah mengisyaratkan agar Kang tidak mendekat dengan tangannya. “Jangan medekat!”

“Hei, Kau kenapa, Camille?” tidak menghiraukan perintah Camille, Kang tetap berjongkok di sisi Camille. Wanita itu beringsut menjauhi Kang masih dengan berjongkok. “Aku bilang jangan dekat!”  Wajah Camille campur aduk, takut, malu dan serba salah. Bagaimana mengatasi masalah ini di pulau terpencil ini?

“Kau sakit?” Kang lebih melunakkan suaranya. Camille menggeleng sambil tetap beringsut menjauh.

“Lalu kenapa?”

Camille merasa putus asa. Hari pertama dan biasanya memang deras. Dia tidak mungkin berbohong, Kang pasti akan bertanya terus. “Aku…,” wajah Camille semakin memerah. “Aku … datang bulan,” Camille menunduk, suaranya jadi lirih.

Kang berpikir sebentar. Bagaimana mengatasi hal ini? Dia jadi kikuk sekarang. “Bi… biasanya apa yang kau lakukan kalau mengalami ini?”

“Aku tidak bisa berpikir kalau kau mendekat!” Camille beringsut menjauh lagi. Kang memang tidak sadar kalau dia semakin mendekati Camille. “Oh, maaf.. .”

Kang bisa melihat darah yang merembes di antara rumput yang sempat dilewati Camille. Tanpa pikir panjang, Kang menyobek lengan baju satu-satunya yang masih tersisa lalu menyodorkannya pada Camille. “Pakai ini!”

“Kang… ini…,” mata Camille terbelalak di depan potongan lengan baju yang tersodor.

“Mungkin bisa kau jadikan alas atau… ah.. apalah!” Jadi semakin serba salah di antara mereka berdua. “Aku akan meninggalkanmu sendirian kalau kau memang risih. Kembali saja ke goa. Istirahatlah!”

Camille mengangguk. Setelah memberikan tatapan memastikan Camille baik-baik saja setelah dtinggalkan, Kang meninggalkan gadis itu.

Terlebih dahulu, Camille membersihkan diri di sungai dan seperti saran Kang. Dia memakai potongan lengan baju Kang sebagai ‘pembalut’. Mungkin memang kurang higienis tapi untuk sementara, memang hanya itu yang terpikir. Camille jadi teringat kapas temuannya. Kapas-kapas itu harus segera tersulap sebagai benang. Benang sebagai kain. Camille yakin mereka akan memerlukannya. Bukan hanya sebagai pembalut tapi juga sebagai pakaian ganti. Setidaknya sudah sebulan mereka tidak ganti pakaian. Jangan sampai mereka terserang penyakit kulit ketika ditemukan nanti. Entah kapan mereka ditemukan? Harapan itu serasa semakin menguap di udara. Sudah sebulan berlalu dan keputus-asaan mulai merambat di benak hati Camille.

 

BERSAMBUNG