Tahun 2005, dan Aku Masih Seorang AA

 Aku mengayuh sepeda perlahan. Jalan masih licin akibat hujan tadi sore. Bulan ini bulan februari. Seharusnya aku sudah memulai kuliah apotekerku. Tapi apa daya, uang untuk biaya kuliah belum mencukupi. Ketua program profesi apotekerku sudah SMS, menanyakan apakah aku jadi kuliah bulan ini atau tidak. Pada waktu itu yang menerima ibuku karena aku tidak punya HP. Sampai saat ini aku tidak menjawab. Toh, aku rasa dia tahu alasanku dan memberikan tempatku untuk orang lain.

Tiba-tiba aku teringat pembicaraan dengan Ridwan tadi sore. Dari mana aku punya keberanian mengatakan perasaan Mbak Dinar padanya? Bagaimana komentar Mbak Dinar jika tahu perbuatanku? Dan sekarang, apa yang dilakukan Ridwan setelah tahu?

Lucu juga, ya…

“Eh, tahu nggak? Kata Mbak Rani, Ridwan itu mau dijodohkan sama Mira, lho.” Aku teringat omongan Mbak Dinar seminggu yang lalu sebelum dia menyerahkan surat itu padaku.

“Masa sih, Mbak? Terus Riwan-nya gimana? Mau?” tanyaku.

Mbak Dinar hanya menggeleng.

Aku tersenyum geli. Dalam otakku berpikir, seumpama Ridwan dan Mira benar-benar jadi suami-istri. Yang cowok super lembut, yang cewek agak manja dan emosional. Bisa-bisa Ridwan jadi ‘Susis’.

Hehehe…

Ups, aku mulai senyum-senyum sendiri. Apa jadinya kalau orang-orang tahu? Bisa-bisa sudah dianggap gila, bersepeda sambil senyum-senyum gaje.

Malam ini aku mengambil rute yang lain dari biasanya aku lewati. Jadinya lebih jauh. Kehidupan malam mulai beraksi. Aku melewati daerah terminal Tirtonadi. Terminal kebanggaan kota Solo yang makin terkenal setelah Didi Kempot menciptakan lagu campur sari tentangnya. Terminal ini tidak hanya menjadi ladang usaha angkutan dan perdagangan, tapi juga ladang ‘penjaja malam’. Tahu kan maksudku? Apalagi kalau bukan PSK yang marak di setiap malam di kawasan ini.

Lihat saja sekarang, perempuan-perempuan dengan dandanan dan parfum seronok berdiri di sepanjang jalan yang aku lalui. Suara music dangdut yang super norak pun juga terdengar di sana-sini. Tidak focus dan amburadul.

“Trantib! Trantib! Trantib!”

Teriakan apa itu? Trantib?

PSK-PSK itu tiba-tiba berlarian, menghindari petugas …. Oh… ada operasi … PEKAT???

Tunggu! Ternyata mereka tidak kesulitan melarikan diri. Beberapa tukang ojek segera melarikan mereka dengan sepeda motor. Huft! Aku mengencangkan laju sepeda. Jangan sampai deh petugas itu salah menangkapku. Capek, deh!

Ternyata masih ada yang lebih tidak beruntung dariku. Aku masih bisa bekerja walau pun dengan ijazah SAA. Kerja halal dan menghasilkan. Kalau pun ijazah S1 Farmasiku belum bisa menjanjikan, aku tidak akan kekurangan uang karena keahlianku sebagai Asisten Apoteker masih bisa kuharapkan.

Akhirnya sampai juga di rumah. Seperti biasa, ayah-ibu asyik dengan acara TV.

“Tadi dosenmu nelphon lagi. Dia tanya apa kamu jadi kuliah?” kata Ibu.

“Uang belum cukup mau kuliah? Dibayar pakai apa?” jawabku sekenanya sambil masuk kamar. Aku segera ganti baju, gosok gigi, cuci tangan dan kaki dan akhirnya tidur. Esok… kesibukan pasti menyambutku lagi.

 

—oOo—

“Nih, suratnya Mbak Dinar!” Aku menyodorkan surat dari Mbak Dinar pada Ridwan. Dua hari sebelum keluar dari apotek, Mbak Dinar menitipkan surat itu padaku. Entah apa isinya, aku tidak tahu. Surat itu untuk Ridwan, tugasku hanya sebagai kurir.

Ridwan menerima surat itu dengan menatapku curiga.

“Kenapa liatin aku begitu?” tanyaku.

“Kayaknya sudah ada yang baca surat ini, deh,” selidik Ridwan.

“Siapa?”

“Tahu deh siapa,” Ridwan malah balik nanya.

“Oh, maksudnya… aku?”

“Siapa lagi?”

“Buat apa aku buka surat itu?”

“Tahu deh buat apa?”

“Ah, sudah ah, ngaco!” aku meninggalkan Ridwan dengan surat itu. adzan maghrib sayup-sayup terdengar, bersaing dengan bunyi teko yang menandakan air sudah matang, Uh, begini deh kalau mitra kerja cowok semua. Suruh nyiapin minum-lah, nyapu-lah. Kayak jadi ibu rumah tangga aja padahal nikah aja belum.

Malam ini hujan cukup deras, apotek pun jadi sepi tak seperti biasanya jadi ada waktu senggang untk bersantai. Aku ngobrol dengan Ridwan di ruang racik sementara Om Itok asyik dengan game di ruang HV.

“Kenapa kamu nggak ngelanjutin kuliah?” tanya Ridwan.

“Bukannya enggak tapi belum,” jawabku. “Belum ada biaya maksudnya.”

Ridwan manggut-manggut.

“Sepertinya aku harus membiayai kuliah apotekerku sendiri,” lanjutku.

“Kenapa? Apa orang tuamu tidak bisa membiayai?”

“Nggak tahu, ya. Waktu aku minta uang sama bapak untuk kuliah apoteker, Bapak bilang tidak ada uang. waktu aku ngeyel, Bapak bilang,’kalau gak ada uang, terus kamu mau apa?’” agak emosi aku waktu ingat hal itu. aku kecewa banget sama sikap Bapak. “Kalau tidak ada uang terus kamu mau apa? Pertanyaan yang bodoh, kan?”

“Kenapa bodoh? Bukannya Bapakmu memang mengatakan yang sebenarnya? Dia memang sedang tidak punya uang.”

“Hei, Mas. Orang tua  pasti akan melakukan apa saja agar anaknya bahagia. Apalagi ini, niatku sudah bagus mau kuliah lagi. Orang tua lain pasti sudah mengusahakan agar keinginan itu tercapai. Utang sana-sini, kek. Jual apalah gitu… tapi ini? Malah mengajukan pertanyaan konyol!”

“Itu bukan pertanyaan. Itu tantangan! Kamu harus bisa menjawab tantangan itu!”

“Makanya itu aku kerja. Selama ini gaji bulananku selalu kutabung untuk biaya kuliah nanti. Itulah usahaku untuk menjawab tantangan itu.”

“Bagus! Aku yakin kamu bisa!”

Hujan di luar semakin deras saja. Beberapa pelanggan datang tapi rata-rata hanya membeli obat bebas dan obat bebas terbatas, om Itok yang di depan cukup bisa mengatasi keadaan.

“Ngomong-ngomong, gimana surat Mbak Dinar? Sudah  dibaca?” entah kenapa aku teringat surat yang kuberikan pada Ridwan tadi sore.

“Ehm.. begitulah… .”

“Bagaimana menurut, Mas? Mau menghubungi Mbak Dinar?”

“Untuk apa?”

“Memangnya Mas nggak pengen tahu kabarnya gitu?”

“Enggak!”

“Atau jangan-jangan Mas lebih suka sama Mira? IYa, kan?”

“Hush, ngaco!”

Ridwan terlihat serba salah. Aku semakin semangat menggoda. “Cie cie. Ngaku aja, Mas.” Ku cubit dia.

“Eh, kok cubit-cubit? Aku balas, nih!”

Ya ampun. Perasaan aku nyubit nggak sekeras itu tadi? Cubitannya mirip cewek! Ih, dia cekakakan lagi… Om Itok yang di depan sampai ikut nimbrung. “Ada apa, sih? Kayaknya seru banget!”

“Ini, nih, Om. Katanya Mas Ridwan mau dijodohin sama Mira.”

Hahaha. Biar tambah malu, dia.

“Eh, yang benar saja, dik? Jangan ngaco, ah!”

“Alah, jangan kura-kura dalam perahu!”

Om Itok menengahi. “Ya, sekarang gimana Pak Ridwan-nya saja. Mau nggak sama Mira.”

Sok bijak kamu, Om.

Aku memutar-mutar jari telunjuk di depan hidung Ridwan.

“Apaan, sih?” elaknya. “Sik sik, to. Kamu tahu berita itu dari mana?”

“Dari Mbak Dinar,” jawabku.

“Dinar dapat berita itu dari mana?”

“Dari Mbak Rani.”

Aku dan Om Itok bersorak. Ridwan jadi mati gaya. “Jangan gitu dong, Dik. Ntar kalau ada cewek yang naksir aku, kecewa lagi kalau dengar berita bohong itu.”

“Emang siapa ceweknya?”

“Tahu, deh. Siapa tahu ada.”

Huuuuu!!! Aku dan Om ITok semakin keras mengejeknya. Wajah Ridwan semakin mirip kepiting rebus.

 

—oOo—

 

Pagi ini seperti biasa. Jalanan Solo semakin padat dengan sepeda motor. Kemudahan proses kredit kendaraan roda dua itu, membuat semua orang berlomba-lomba memilikinya. Bayangkan saja, mereka bisa mendapatkan kredit sepeda motor dengan uang muka nol. Masalah cicilan, kalau pun akhirnya ditengah jalan tidak bisa melunasi, anggap saja uang cicilan itu sebagai biaya sewa. Orang-orang semakin gila kredit. Akhirnya pengendara sepeda angin kian sedikit, termasuk aku di antaranya. Walau pun di beberapa kota besar mulai banyak kelompok yang menggalakkan ‘bike to work’, namun hal itu sia-sia saja.

Mengendarai sepeda angin yang diharapkan mampu mengurangi polusi, justru pengemudinya terkena polusi. Lihat saja sekarang, di depanku ada truk besar yang mengeluarkan asap hitam pekat dari knalpotnya. Aku terpaksa menutup hidung.

Aku jadi teringat kata-kata dosen Kimia Lingkungan tentang asap kendaraan ini. Asap yang keluar dari mobil mewah dan tidak hitam pekat seperti yang dikeluarkan truk tadi justru berbahaya karena mengandung gas CO. Tapi walau pun  asap pekat tidak berbahaya, masih saja bisa membuatku batuk-batuk. Polusi beneeeerrrr…..

Oh ya, aku belum memberitahu kalau selama ini aku bekerja di dua apotek. Aku tahu ini menyalahi peraturan. Tapi mau bagaimana lagi? Bulan februari yang kurencanakan sebagai bulan aku memulai kuliah apoteker, ternyata gagal total. Aku harus memundurkan rencana sampai bulan September. Kira-kira bisa tidak, ya?

Target tidak mungkin tercapai jika aku hanya bekerja di satu apotek. Upah Minimum Kota yang mencapai lima ratus ribu rupiah, ternyata banyak pengusaha ritel apotek yang tidak mematuhinya. Apalagi bagi kami, Asisten Apoteker yang menurutku sebagai pegawai kelas dua di apotek. Kelihatannya sih mentereng. Kalau ditanya orang, ”Kerja di mana?” Di jawab, “di apotek!” Gak tahunya? Gajinya aja kalah ma buruh pabrik! Apa lagi kalau ada masalah, makan ati deh!

Tiga bulan yang lalu aku masih kerja di satu apotek. Ya, apotek yang diapotekeri si- Ridwan. Dan pada suatu malam… atau bahasa jawanya… Ing sak wijining wengi,… hayah!

Pada suatu malam aku bermimpi kalau nantinya aku akan diterima di suatu apotek yang pintunya berwarna abu-abu. Letak apotek itu di ujung jalan, sebelum sampai di apotek itu, aku akan melewati suatu tempat yang dihiasi rumput-rumputan. Di sana aku akan mendapatkan kamar di lantai dua dengan kamar mandi di dekat kamar itu. Kalau dilihat dari pertanda di mimpi itu, sih… aku kayaknya tahu apotek itu. Aku dulu pernah memasukkan lamaran di apotek itu tapi tidak diterima karena masih sibuk skripsi. Esoknya aku membaca iklan lowongan kerja di Koran. Aku hubungi nomor yang tertera di Koran itu. eh, ternyata benar apotek itu!

Pada waktu wawancara, aku jujur mengatakan kalau aku berniat bekerja di dua apotek untuk biaya kuliah apoteker dan ternyata PSA tidak berkeberatan. Jadilah aku bekerja di apotek yang kedua. Apoteker di sana bernama Anik dan rupanya satu angkatan sama Ridwan waktu S1 dulu.

Aku jadi ingat pada Ridwan. Rupanya tuh cowok asyik juga diajak ngobrol. Beberapa waktu yang lalu, Ridwan pernah bertanya padaku,”Eh, tahu, nggak cara termudah jadi Bu Apoteker?”

“Cara termudah  buat jadi Bu Apoteker? Apa?” tanyaku.

“Gampang! Nikah aja sama apoteker. Kamu jadi Bu Apoteker ntar.”

Dasar!

“Emange ada, Mas, Apoteker nganggur?”

“Ada!”

“Siapa?”

“Yang di depanmu ini!”

What?!  Ngelaba nih… ngelaba…

Ups! Hampir aja aku terserempet mobil. Ngelamun aja, sih… OKe! NGgak boleh ngelamun! Apalagi ngelamunkan Ridwan! Jangan sampai aku jadi korban dia berikutnya! Lebih baik nyanyi aja deh… Lagu apa ya, enaknya? Yang membangkitkan semangat gito, lho…

Ini aja, deh…

“Hai, mujahid muda… maju ke hadapan! Singkirkan penghalang… satukan tujuan!”

 

—oOo—

 

Saat Anik datang, seperti biasa aku dan Pak Tris sudah sibuk dengan pembeli dan sales dari beberapa PBF. Sejenak kami mencuekkan Anik. Bukannya marah, tapi mau gimana lagi, kerjaan banyak. Bahkan kegiatan stok barang pun terhenti karena banyaknya pengunjung. Jika dibandingkan denganku, beban kerja Anik di apotek memang lebih ringan karena itu Anik selalu datang belakangan. Sesampai di apotek, dia sudah sibuk dengan tugasnya, menanda-tangani SP dan kopi resep, kadang ikut bantu nyetok.

Saat kesibukan berlalu. Barulah kami bertegur sapa. Biasanya pas jam makan siang, kami bicara ngalor-ngidul. Kadang obrolan tidak nyambung… malah nyasar di tema obrolan seks bebas lagi…

“Kamu pernah lihat video porno, Fit?”

Ups! Kenapa Pak Tris tanya itu, ya? Tentu saja aku menggeleng. “Belum, Pak.”

“Kalau kamu?” Pak Tris menoleh pada Anik.

Anik juga menggeleng. “Menurutku hal semacam itu terlalu pribadi, jadi tidak perlu jadi konsumsi public.”

Tiba-tiba saja aku teringat pada Ridwan. Ridwan lagi… Ridwan lagi… . “Oh, Iya, Pak. Beberapa waktu yang lalu Ridwan tiba-tiba saja tanya…, bagaimana, ya… wanita itu memulai hubungan seks, padahal dia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya?”

“Maksudnya waktu malam pertama, gitu?” tanya Pak Tris.

“Iya!”

“Kayaknya… dalam berhubungan seks, cowok harus lebih dominan. Apalagi pas malam pertama dan pasangan belum pernah ada gambaran tentang hal itu,” kata Anik.

“Oh, gitu…,” aku-nya manggut-manggut.

“Betul juga, sih,” Pak Tris menimpali. “Tapi malam-malam berikutnya, sang istri harus bisa ‘menegakkan’ suami.”

Maksud loe????

“What! Gampang, Pak itu. Biar tegak gampang!” yakinku.

“Gimana?”

“Tahan aja pake kawat. Dijamin tegak, deh!”

Gerrrr!!! Jadilah mereka berdua terpingkal-pingkal.

“Dasar kamu, Fit. Gak pake beton sekalian?”

Aduh, Pak Tris malah tambah ngaco. Kirain aku sudah super nagco deh tadi.

“Sepertinya aku punya cerita unik buat kalian. Fitri dan Anik, dengar kan baik-baik, ya…”

Wah, apa ini?? Kayaknya Pak Tris mulai serius.

Ing sak wijining dino… hayah!

“Pada suatu masa ada seorang gadis berusia… ya… kira-kira empat belas tahun lah. Tahu sendiri kan… jaman dahulu itu, kalau gadis sudah di usia segitu pasti dinikahkan. Nah, itulah yang terjadi pada gadis itu. Dia dinikahkan dengan pria yang berusia tujuh tahun di atasnya. Ya… seperti kalian ini… sang gadis itu tidak tahu sama sekali masalah malam pertama. Lalu dia minta penjelasan pada Ibunya tentang malam pertama.

Agak susah juga sang Ibu menjelaskan. Terlalu banyak symbol dan sandi. Tahu sendiri kan wanita jaman dulu agak kikuk kalao bicara masalah kayak gitu. Sang gadis tetap saja tidak ngerti. Dijelasin gimana pun tetep nggak ngerti.. eh… malah takut… minta ditemenin Ibunya lagi pas malam pertama.”

Gubrak!

“Akhirnya … saking jengkelnya… sang Ibu berkata, ‘Oke, gini aja! Besok pas malam pertama… kamu sama suamimu ada di kamar… aku akan berdiri di depan pintu kamar jadi kalau ada apa-apa kita bisa langsung ambil tindakan. Kamu kasih kode Ibu dari dalam. Kalau suamimu melakukan ini, kamu teriak, MANGGA! Kalau ini.. teriak PEPAYA!…’ dan seterusnya sampai semua nama buah-buahan disebut, bahkan dicatat dan dihafalin ama si gadis.”

O’on amat itu Ibu?

Aku dan Anik manggut-manggut aja.

“Nah, singkat cerita… jadilah malam pertama. Seperti perjanjian, sang Ibu mendengarkan dibalik pintu. Pertama kali sang gadis teriak dari dalam, MANGGA! Sang Ibu manggut-manggut, OH… BERARTI LAGI ITU….terus di dalam teriak lagi, PEPAYA! Manggut-manggut lagi itu Ibu. Terus lama-lama kok teriakkannya jadi RUJAK! RUJAK!”

Pak Tris cekikikan. Aku sama Anik malah bengong.

“Kok rujak?” tanyaku.

“Iya, kok Rujak, Pak?”

“Iya, dong… Rujak kan campuran dari buah-buahan tadi.”

Oh… gitu, to…Aku dan Anik tertawa. Telat sih ketawanya… namanya juga satelit kurang tinggi.

Akhirnya kisah itu sampai juga di telinga Ridwan. Tidak seperti si O’on aku dan Anik, Ridwan langsung tertawa.

Sudah pengalaman nih, kayaknya…

“Lucu juga ceritanya, Dik.”

“Lucu, ya? Tapi aku rasa cerita itu gambaran masyrakat kita. Selama ini masalah seks begitu tabu dibicarakan karena itu pendidikan seks kurang berkembang di sini. Bersamaan itu, kondisi moral bangsa semakin menurun akhirnya, banyak ABG yang terlibat seks bebas. Banyak yang hamil di luar nikah, pengguguran bayi illegal, kasus HIV-aids lah. Ya, walau pun semua itu ibarat fenomena gunung es, sih.”

“Iya juga, sih.. dan semua itu berawal dari satu kata ‘TABU’. Saat anak berbeda pendapat dengan orang tua, mereka bilang tabu juga. Padahal belum tentu pendapat orang yang lebih tua benar dan pendapat anak muda salah. Masih ingat pelajaran filsafat ilmu, gak?”

“Yang mana, Mas?”

“Seorang anak tiba-tiba malas pergi ke sekolah. Orang tuanya bingung dan bertanya kenapa tidak mau sekolah. Anak itu bilang dia nggak suka sama bu Guru karena BU Guru plin-plan. Dua hari yang lalu Bu Guru bilang empat itu dua dikali dua, tapi kemaren Bu guru bilang kalau mepat itu tiga ditambah satu., besoknya… gak tahu, deh. Terus yang benar yang mana?”

“Oh, yang itu…,”

“Seru banget ngobrolnya. Ada resep, nih!” Om Itok masuk ke ruang racik dan menyodorkan resep.

Aku semakin dekat dengan Ridwan. Sebagai anak sulung, aku merasa menemukan figure seorang kakak darinya. Tak ayal kedekatanku dengan Ridwan didengar Mira. Tentu saja Mira yang sudah lama menaruh hati pada Ridwan cemburu pada kedekatan kami. Hubunganku dengan Mira yang selama ini kurang baik pun tambah kacau karena Ridwan. Itu juga selalu jadi pembicaraan antara aku dan Ridwan.

Ridwan malah secara jujur menceritakan apa yang dikatakan Mira waktu dia bertanya kenapa tidak pernah ke apotek lagi.

“Mira bilang kalau dia cemburu karena aku dekat sama adikku terus,” kata Ridwan.

“Adikmu? Maksudnya aku?” tanyaku.

Ridwan mengangguk.

Hiya!!! Ada-ada aja… aku di sini tuh niatnya buat kerja. Mau cari uang buat biaya kuliah! Tapi lama-lama aku kawatir juga. Kawatir kalau sang empunya apotek yang juga kakaknya Mira jadi nggak obyektif menilai kinerjaku. Jadilah aku curhat sama Ridwan. “Aduh, Mas. Gimana nih? Mira itu semakin jutek aja sama aku.”

“Cuekin aja, Dik. Lagian PSA di apotek ini kan kakaknya, bukan dia.”

“Tapi kalau masalah ini sampai ke telingan kakaknya dan berpengaruh pada kinerjaku?”

“Nggak mungkin! Yang jadi manajer di Apotek ini kan aku. Aku apoteker pengelola apotel di sini. Jadi akulah yang menilai!”

Yah… enak juga ya… jadi apoteker… doakan aku cepat nyusul deh…

Aneh-aneh saja. Nggak papa… alhamdulilah… aku kuat di apotek itu sampai perkuliahan apoteker di mulai bulan September. Dan Mira… Apa dia berhasil mendapatkan Ridwan? Tidak! Ridwan menikah sama kakak kelasku waktu SAA. Rasain kamu, Mir… . Jadi cewek segitunya, sih… suka sama Ridwan sampai membenci semua cewek yang dekat sama Ridwan. Ya aku… ya Mbak Dinar… padahal kita kan murni ‘friendship’. Hayah!

Itu adalah sekilas ceritaku waktu jadi Asisten Apoteker di tahun 2005. Semoga menjadi pembelajaran bagi yang membacanya.  Ada kalanya aku down… saat melihat teman-temanku yang bisa langsung meneruskan kuliah apoteker padahal IPK mereka dibawahku. Apalagi melihat mereka yang kemana-mana naik sepeda motor bahkan mobil sedangkan aku Cuma naik sepeda angin. Pada saat itulah aku melihat filmnya Richard Gere yang berjudul “Red Corner”.  Di film itu, dikisahkan Richard Gere dituduh membunuh putri seorang pejabat di Cina dan yang membelanya adalah seorang pengacara wanita China. Sosok pengacara wanita itu yang meninggikan semangat saya lagi. Wanita cina itu dengan gigih membela kliennya di antara intrik politik negeri tirai bambu itu. Seorang  wanita sederhana yang kemana-mana selalu naik sepeda, tapi dibalik kesederhanaan itu… ada kecerdasan di sini… di dalam kepalanya.

Selalu ada jalan bagi orang yang berusaha. Sekian … Terima kasih….

Iklan

Proud To Be Indonesia

Tulisan ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di tahun 1998, jadi kalau ada yang keberatan….. silahkan protes pada masa lalu:

Hal yang selalu aku nikmati jika bertamasya di pantai, sekedar menghilangkan kepenatan akibat kesibukan profesi adalah menyendiri dengan notes kecil dan pensil. Bukan, aku tidak pandai melukis. Aku hanya mampu bermain kata di atas kertas, sementara ombak berbuih menjilat-jilat kakiku, dan pantatku berkarpet hamparan pasir putih.

Di beberapa kaki sana, Paulus, kedua asistenku, dokter Gardho, pak bos, dan keluarga mereka menikmati keindahan pantai dengan cara mereka sendiri. Kadang aku tertawa mengamati polah anak-anak yang turut serta di sini. Lihatlah si Rafli, anak Mbak Anik yang protes pada Mbak Tri karena Mbak Tri terlalu narsis, sedikit-sedikit berfoto atau si Iwan, anak pak Bos, yang sepertinya takut ombak sehingga memilih membuat istana pasir di dekat karang sana.

Hm, semilir angin pantai tropis menerpa wajahku. Sekejap kututup mata, menikmati hawa surgawi itu, diantara suara desiran akibat ombak yang bergulung dan daun nyiur yang bergesekan. Ini adalah kunjungan keduaku di pantai Srau, Pacitan. Pantai yang kurang dikembangkan sebagai areal pariwisata ini, malah begitu mempesonaku dengan keaslian alamnya. Jika berada di sini, aku selalu teringat lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’. Bahkan kini dalam hatiku mulai menyenandungkan lagu itu.

Well, lagu itu menggambarkan keindahan pantai Indonesia. Dengan melihat pantainya saja, bahkan beberapa bangsa di Eropa begitu serakah ingin menguasainya. Dan keanekaragaman penduduknya…., mau cari warna kulit apa pun ada di sini, mulai dari warna putih sampai hitam legam. Mulai dari yang berambut lurus sampai yang keriting, begitu heterogen. Namun sedapat mungkin hidup rukun di negeri ini.

Tak dipungkiri, beberapa kali negeri ini berada di titik nadir. Dan kisahku ini nantinya, mungkin adalah salah satu dari titik nadir itu, namun kuharap….. akan ada pelajaran yang bisa kita petik dari sana.

Di sana…, kala itu….., di bulan Mei tahun 1998….

 

PROUD TO BE INDONESIA

Theme Song :

Rayuan Pulau Kelapa.

Pencipta dan Pengarang Lagu / Lirik : Ismail Marzuki

Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Reff:

Melambai lambai
Nyiur di pantai
Berbisik bisik
Raja Kelana

Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah Airku
Indonesia

Pagi Hari….

“Masa menduduki gedung parlemen selama tiga hari, dan sepertinya belum akan bubar sebelum tuntutan mereka di…

Bip!

Papa mematikan televise yang sedang asyik kami tonton. “Waktunya berangkat sekarang,” perintahnya sambil berjalan menuju teras. Robi, adikku langsung mengikutinya karena sekolahnya dan kantor Papa searah sehingga bisa membonceng motor papa, sedangkan aku bersungut-sungut karena harus berjalan kaki menuju pemberhetian bus. Nasib… nasib….

“Si! Peralatan tempurmu ketinggalan!” teriak Mama. Ternyata beliau mengingatkanku pada tas berisi alat-alat dan buku praktikum yang memang kulupakan. Alhasil aku segera balik kanan untuk menenteng tas yang amit-amit beratnya itu. Nasib… nasib… nasib jadi murid ‘Sekolah Menengah Farmasi’… alias ‘SMF’ yang sering diplesetkan kakak kelas menjadi ‘Sekolah Marahi Frustasi’.

Alhamdulilah, tidak perlu terlalu lama menunggu, bis dengan jalur yang kumaksud segera datang. Siap-siap berebut tempat duduk!!!

Hore! Aku dapat kursi juga, tapi…. Bersebelahan dengan koh Ahong! Gubrak!

“Pagi, Sisi… Mau school, kah?” tanyanya. Aku meringis-ringis gaje. “I… iya, koh.”

Masih untung, pemilik toko besi ini tidak mengajakku bicara bahasa kanton hanya karena mengira aku keturunan Thionghoa. Dulu pernah Koh Ahong melakukan itu, waktu Papa menyuruhku membeli paku di tokonya. Dia dengan PEDEnya berbicara bahasa kanton padaku. Aku Cuma bisa nyegir dan bilang, “Itu bahasa daerah mana, ya?”

“Haya… Oe ni gimana, ho?… gak bisa bahasa nenek moyang,” katanya waktu itu.

“Oh, Koh kenal nenek moyang saya, ya?”

“Oe punya nama siapa?” dia malah bertanya balik.

“Sisi!”

“Sisi?”

Aku mengangguk.

“Nama China?”

Aku mulai mengkernyitkan dahi. “Aku kan orang Jawa, Koh.”

Dia mulai mengamatiku secara serius. Pake manggut-manggut segala. Aku jadi risih. Ada yang salah dengan penampilanku? Dan yang paling bikin aku geli lagi saat aku pulang dari tokonya dan harus menyeberang jalan menuju rumah, seorang cowok berwajah Arabian menegurku, “Hati-hati, Cik. Jalannya sedang rame.”

Cik? Tacik? Oh, jadi…

“Gimana kabar Papamu, Si?” tanya Koh Ahong sekarang. Aku mau tak mau menoleh ke arahnya untuk menjawab,”Baik-baik saja, Koh.”

“Papamu sudah lama gak maen di toko Koh buat beli material.”

“Kan rumah sudah jadi, Koh,” responku. Memang ketika renovasi rumah waktu SMP dulu, Papa sering membeli bahan bangunan yang masih kurang di toko besi Koh Ahong. Dan kejadian dia mengajakku bicara dengan bahasa Kanton itu juga terjadi pas masa-masa renovasi dulu.

“Gemblegan! Gemblegan!” Kernet bus mulai meneriakkan lokasi dimana aku harus turun. Aku segera berdiri. “Duluan, Ya, koh!” Pamitku pada Koh Ahong. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum. Matanya yang sipit jadi semakin sipit kalau tersenyum begitu. Dan Aku mulai bersatu dengan desakan anak-anak sekolah lain yang mulai menuruni bis.

Siang Hari…

Jadwal ujian semesteran sudah keluar, kami mulai mencatat.

“Ujian untuk kelas dua akan dimulai setiap jam delapan pagi. Jangan sampai ada yang terlambat!” Bu Trisunu, wali kelas kami sekali lagi mewanti-wanti. “Ingat! Kartu ujian selalu dibawa.”

“Iya, Bu!” Anak-anak koor serempak.

Saat Bu Trisunu keluar kelas, seperti biasa anak-anak mulai ribut. Termasuk aku tentu saja yang bersorak-sorak aneh, “Cihui! Ujian sudah datang! Sebentar lagi aku jadi paling senior di sekolah ini.”

Dwi yang kebetulan hari ini duduk di sampingku karena Nu’lin memilih menempati bangkunya. Kayaknya Nu’lin lagi ada ‘something’ sama Yunita, teman sebangku Dwi. Tapi no problemo, lah… Toh aku dan Dwi juga berteman baik.

“Eh, Yakin mau jadi senior, Si? Senior yang kau taksir, sebentar lagi lulus, dong! Jadi senior tapi Jomblo apa enaknya?”

Yah… mulai, deh si Dwi nyindir. Aku memonyongkan bibir. Dwi cengar-cengir, apalagi saat mataku yang sipit jadi semakin sipit menatapnya. Sudah kebiasaanku berekspresi seperti itu kalau merasa tersindir. Aku teruskan mencatat jadwal ujian. Walau sebenarnya hatiku galau juga. Senior pujaan…. ! Oh…, sebentar lagi kita berjauhan. Lebay!

“Setelah ujian ini…,” Dwi mulai ngomyang sendiri.”Harus focus pada tes KDU. Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia. Kalau Bahasa Inggris, aku yakin kau tidak begitu kesulitan, sedangkan aku?”

Aku menghentikan kegiatan menulisku untuk menatapnya, “Tapi kau yang paling jago Matematika, ajari, dong!”

“Gak mau! Kita kan bersaing.”

“Uh, Pelit!”

Aku mencubit lengan Dwi sampai meringis. Kali ini giliran aku yang cengar-cengir menikmati penderitaannya.

Dwi memang murid kesayangan Pak Sri Widodo, Guru Matematika di sekolah ini. Masih kuingat perkenalanku pertama kali dengan Dwi. Perkenalan karena ulangan matematika pertama kali di kelas satu. Pak Sri Wid memang orangnya aneh, setiap kali pelajaran matematika selalu diawali dengan ulangan. Soalnya hanya satu tapi waktu mengerjakannya lima menit. Katanya,”Deg-degannya satu menit, mengerjakannya empat menit.”

Gubrak! Yang benar aja, Pak? Yang ada malah tangan jadi gemetaran terus selama lima menit dan pikiran jadi gak konsen. Boro-boro kalau soalnya mudah, orang soalnya selalu hitungan Aljabar yang ruwet. Tapi anehnya, kalau sudah ada satu anak yang selesai kurang dari lima menit, waktu mengerjakan langsung dihentikan. “Kumpulkan!” Nah, Lho… anak-anak mulai kelabakan kalau Pak Sri Wid sudah teriak begitu.

“Nulis soalnya saja belum,” nyiyir Tri Mulyani.

Aku jadi kepikiran, siapa sih anak yang bisa mengerjakan soal secepat itu? Yap! Jawaban anda betul! DWI! Apalagi saat Pak Sri Wid mulai mendekatinya dan berbisik-bisik, memujinya dengan acungan jempol. Jiah!

Seperti halnya anak-anak yang lain, aku juga mendekati Dwi untuk minta diterangkan soal matematika tadi di jam istirahat sekolah. Kayaknya dia lebih senang berteman denganku, buktinya… dia selalu menoleh padaku dan tersenyum. Persahabatan kami berlanjut. Aku mulai berkenalan dengan keluarganya. Dia bukan berasal dari keluarga yang berada. Adiknya banyak dan dia merupakan anak yang tertua. Rumahnya juga kunilai tidak layak untuk ditempati orang sebanyak itu. Dan yang paling miris lagi adalah saat aku bertanya,”Apa pekerjaan Bapakmu?”

Dia menjawab,”Tukang becak, memang kenapa, Si?”

Aku menggeleng,”Tidak apa-apa.”

Dia memalingkan muka dan mendesah,”Kadang aku minder berteman denganmu.”

“Kenapa?”

“Kau cantik dan dari keluarga berada.”

Aku mengibaskan tangan di mukanya,”Ah, Papa Cuma pegawai hotel. Mama saja yang pintar berhemat.”

“Hemat dan anaknya Cuma dua, jadi gak repot,” potongnya.

“Hehehehe, tapi syukurilah apa yang ada. Kau juga cantik, aku suka rambut bergelombangmu yang lebat dan tulang pipimu yang tirus.”

Aku memang selalu kagum dengan kecantikan Dwi yang menurutku mirip dengan penyanyi ‘Evi Tamala’ kalau saja kulitnya lebih putih.

“Tapi aku suka kulit putihmu dan rambutmu yang pirang.”

“Rambut jagung, kali…,” candaku. Dia cekikikan menutup mulutnya.

Oalah…, rambut kaya gini kok dikagumi. Aku malah mengira rambutku ini mirip warna rambut orang yang terkena penyakit cacingan. Bahkan gara-gara rambut ini, kakak kelas mencap aku keganjenan waktu OSPEK, mereka mengira aku sok artis dan mengecat rambutku. Alhasil, jadilah aku obyek bulan-bulanan mereka. Tapi gak papa, ding! Yang penting ketua OSIS naksir aku. Oh…, senior idaman…, please…, don’t Go!

Tet! Tet! Tet! Suara Bel istirahat membuyarkan lamunanku. Anak-anak yang sudah selesai mencatat jadwal ujian keluar dari kelas untuk menuju ke kantin atau menunaikan sholat Ashar. Bahkan Nu’lin mendekati kursinya di sampingku untuk mengambil mukena. “Sholat, yuk!” ajaknya padaku dan Dwi.

“Oke!” Aku mulai memberesi buku dan peralatan tulis, lalu mengeluarkan mukena. “Tidak sholat?” tanyaku pada Dwi.

Dia menggeleng. “Lagi mensis.”

“Oh,”

Aku berjalan ke arah mushola dengan Nu’lin. Seperti biasa, sebelum sholat selalu diawali dengan rutinitas berwudhlu. Antrian panjang dimulai di area wudhlu. Bagi yang berjilbab, memilih area yang dalam sedang yang tidak di luar. Aku berjilbab  mulai pertengahan semester kelas dua, jadi aku masuk antrian di area dalam. Di antrian paling depan adalah Evita, dan ternyata antrian semakin panjang saja.

Evita sempat mengira kalau aku nonmuslim waktu kelas satu dulu. Lagi-lagi hal ini disebabkan oleh penampilan fisiku. Ada kejadian lucu waktu pertama kali sholat di sekolah ini, dan kejadiannya juga di area wudhlu. Aku juga mendengar apa yang dia katakan pada Widyastuti waktu itu, tapi kudiamkan saja. Dia bilang, “Lho… lho, Tik! Ni anak kok ikut antri, sih.”

Tutik pun melirikku. Aku yakin itu. Malahan dia berbisik pada Evita, “Lho, Wudhu, Vit!”

Ya, ampun! Lo antri di sini ya jelas mau wudhu to, Mbakyu… masa mau minum air kran! Selidik punya  selidik, dia misspresepsi antara aku ma Anita. Aku yang muslim dikira Kristiani, Anita yang Kristiani dikira Muslim. Lucu juga, banyak orang yang tertipu dengan penampilanku. Saat aku memutuskan berjilbab, aku tidak tahu apa alasanku. Kalau kau bilang itu hidayah? Bukan! Atau karena ikut-ikutan? Big No! Aku selalu punya style sendiri. Bahkan teman yang mengenalku sejak SMP juga heran, mereka mengira kalau aku termasuk orang yang tidak mungkin mempunyai pikiran untuk berjilbab.

Jangankan temanku, orang tuaku pun mewanti-wanti niatku itu, Mama bilang,”Kamu yakin, Si? Komitmennya besar sekali, Lho. Kalau nantinya kau memutuskan lepas lagi, kamu malu, lho?”

“Ah, gak tahu lah, Ma. Yang penting sekarang aku mau pakai jilbab. Titik!”

Papa yang paling keras menentangku. Beliau memang tidak melarang secara frontal, tapi kata-katanya selalu menyindir. Seperti waktu aku mengeluh, rambutku rontok karena Papa mengganti shampoo untuk keluarga. Papa malah bilang,”Ya tentu saja rontok! Rambutmu, kan kau tutup terus!”

Sabar…! Sabar…!

Sore Hari, mendekati pukul  16.00 WIB

Dalam setengah jam, kami menyelesaikan ibadah sholat Ashar. Anehnya, bel masuk belum juga berbunyi. Malahan banyak siswa dan guru bergerombol di pagar sekolah. Dalam perjalanan dari mushola ke kelas, kami melewati jembatan yang menghubungkan lantai dua gedung laboratorium dan lantai dua gedung kelas. Di jembatan ini, Ari Sulist memberi kabar pada kami, “Kayaknya semua pelajaran hari ini kosong!”

“Apa? Minggu depan, kan sudah semesteran? Masa kosong?” protesku tidak percaya.

“Lihat saja, tuh!”  Ari menunjuk langit di sebelah utara. Asap hitam terlihat mengepul di langit.

“Apa itu?” tanya Evita.

“Matahari Singosaren katanya dibakar,” jawab Anik. Aku menyipitkan mata.

Segerombolan anak berlari melewati kami. Kami berpandangan penuh tanya. Mereka bergabung dengan anak-anak lain yang bergerombol di pagar dan pintu gerbang sekolah. Aku, Ari Sulis, Anik, Evita dan Nu’lin mengikuti gerombolan itu, tapi saat akan menuruni tangga, Dwi menarik tanganku untuk mengikutinya di ujung lain gedung ini, sehingga terpisah dari mereka.

Di sinilah kami sekarang, dari sini semuanya terlihat jelas karena di depan kami adalah dinding kaca di lantai dua. Arus jalan yang seharusnya satu-satunya arah dari Wonogiri ke Solo mulai semrawut karena bis ingin berbalik arah. Bau asap samar-samar tercium. Suasana bertambah muram dengan teriakan klakson yang bersahut-sahutan. Dan aku bisa mengira kalau wajah-wajah di bawah sana sedang panik.

“Demonstrasi, Si,” kata Dwi. Aku mengalihkan pandangan dari jalanan yang semrawut itu untuk memandangnya. “Mereka ingin Pak Harto ‘lengser’.”

Pandangan mataku tambah menyipit. Sayup-sayup suara pembawa acara di berita pagi itu terdengar lagi di telingaku walau terpotong karena Papa mematikan televisi, “Masa menduduki gedung parlemen selama tiga hari, dan sepertinya belum akan bubar sebelum tuntutan mereka di…

“Aku tidak tahu lagi, apakah masih bisa sekolah lagi setelah ini,” keluh Dwi bahkan sambil menutup mukanya dan mulai terisak. Aku tidak tahu apa maksudnya. Memangnya apa pengaruh dari lengsernya Pak Harto dengan sekolah kami? Dan bagaimana bisa seseorang seperti Dwi yang selalu kukenal dengan semangatnya bersekolah walau dalam keadaan ekonomi yang minim jadi sepesimis itu?

Tidak! Aku tidak mengerti. Yang aku tahu, dia pasti sangat sedih sekarang, dan aku harus menenangkannya. Tapi sayangnya aku bukanlah sahabat yang pandai menenangkannya ketika sedang kalut. Aku hanya membiarkannya menangis, menatapnya dengan keprihatinan dan menepuk-nepuk punggungnya. Aku yakin dengan bahasa tubuh semacam itu, dia tahu kalau aku perduli.

“Kenapa Dwi menangis?” pertanyaan Nu’lin membuatku terkaget. Tiba-tiba saja anak itu sudah ada di belakang kami.

“Dia bilang, dia tidak tahu apakah setelah ini masih bisa sekolah lagi,” jawabku.

Seperti tahu apa yang dimaksudkan Dwi. Nu’lin memeluknya. Aku semakin bingung. Sebenarnya ada apa, sih? Apa hubungannya lengser Pak Harto dengan sekolah kami?

Tepat Pukul 16.00 WIB

Kata-kata Ari Sulis benar. Semua pelajaran hari ini kosong, bahkan sekolah dipulangkan. Guru mengumumkan, untuk yang rumahnya jauh menginap dulu di kos teman yang dekat sekolah atau menunggu jemputan. Aku termasuk yang berumah jauh. Tapi aku merasa kalau aku harus pulang. Apa pun yang terjadi, aku harus pulang. Hanya rumah-lah tempat yang aman bagiku.

Beberapa teman antri di telepon umum lobi sekolah, menelphon orang tua masing-masing untuk dijemput. Sedangkan aku, di rumah tidak ada telephon. Ada, sih telephon tetangga, tapi aku juga gak tahu nomer telephonnya. Tapi pokoknya aku nekat pengen pulang. Apa pun yang terjadi!

Aku bahkan menerobos pintu gerbang yang mulai ditutup satpam untuk melindungi anak-anak yang masih bertahan di gedung sekolah. Busyet! Para Satpam itu pakai menanyai kami mau pergi kemana, ketat banget. Aku berbohong pada mereka. Aku bilang, “Kos-kosanku di Dawung wetan, dekat, kok.”

Sepertinya mereka percaya omonganku. Memang, sih, pada awal kelas dua dulu, aku sempat kos tiga bulan di Dawung wetan, mungkin itu sebabnya mereka percaya. Tapi….

Saat aku berhasil melewati barikade itu, aku jadi bingung sendiri. Arah Mojosongo, rumahku,  menuju utara. Padahal jalan begitu ruwet karena arus berusaha keras balik arah ke selatan. Aku berjalan menuju perempatan Gemblegan dengan perasaan linglung. Memanggul ransel besar dan menenteng tas berisi buku dan alat praktikum tadi. Udara sudah tidak layak untuk dihirup. Terpaksa kusingkap jilbabku untuk menutupi hidung.

Sesampai di depan rumah Bu Endang, salah satu guru Praktikum Resep, ternyata Bu Endang berdiri di depan rumah, melihat keadaan yang semakin kacau. Mungkin dia mengenaliku dari seragam yang kupakai bahkan bertanya, “Mau pulang kemana? Kalau rumahnya jauh mending balik ke sekolah lagi!”

Sekali lagi aku berbohong.”Kos saya dekat, kok, Bu. Di gang habis perempatan.”

Bu Endang manggut-manggut. Ya, Allah… maafkan hambamu ini. Dua kali sudah aku berbohong. Padahal di perempatan Gemblegan saja, belum tentu ada bus. Dan ternyata benar, perempatan yang selalu  ramai dengan bisnis pengangkutan itu, kini kosong melompong. Tidak ada bis menuju Mojosongo. Yang dari Mojosongo pun disinyalir berbalik arah saat sampai di Matahari Singosaren. Aku mulai bisa mengira-ira kalau pusat huru-hara masa pasti ada di kawasan Singosaren, maka kuputuskan untuk berjalan kaki menuju rumah dengan menghindari route Singosaren.

Aku memotong jalan ke perempatan Notosuman, lalu menuju jalan yang langsung menghubungkan ke daerah Pasar Kembang. Tapi naas, masa malah sudah sampai di situ, bahkan berlawanan arah denganku. Mereka meneriakkan hal-hal yang sama sekali tidak aku mengerti, mereka menjerit,”Reformasi! Reformasi!”

Bahkan ada yang bilang, “Turunkan Soeharto!” kalau yang ini sih aku tahu maksudnya.

Tapi ngeri juga. Apalagi melihat tampang-tampang mereka yang kelihatannya sangar. Aduh, gimana, Nih!

“Nak, mau kemana?” seorang bapak-bapak menyapaku.

“Pulang, Pak.”

“Rumahnya mana? Bahaya pulang sendiri, lagi gawat begini.”

“Rumah saya dekat, Pak. Di gang belakang Sami Luwes itu,” aku menunjuk ke toserba yang kumaksud. Bapak itu manggut-manggut, “Ya sudah. Hati-hati, ya!”

Aku mengangguk. Aku berbohong lagi. Kalian tahu jarak antara sekolah sampai Mojosongo? Bayangkan saja, Sekolahku ada di Dawung, ujung selatan dari kota Solo. Sedangkan Mojosongo, di ujung utara kota Solo. Kira-kira saja sendiri.

Di perempatan Pasar Kembang, massa sengaja membakar ban bekas. Suasana mencekam semakin terdramatisir. Aku berjalan semakin meminggir, menghindari masa yang berjalan berlawanan arah denganku. Beberapa toko tak luput dari penjarahan mereka. Hukum dan Polisi hanya bisa menyembunyikan taringnya sekarang. Botol-botol beling mereka lemparkan ke segala arah, meluapkan amarah mereka. Aneh, sebenarnya kenapa mereka marah? Aku hanya bisa berdoa, semoga selamat dari lemparan botol-botol itu.

Toserba yang kutunjuk tadi sudah tak layak disebut toserba. Hangus! Asap mengepul dari atapnya. Aku yakin toserba itu pasti juga dijarah sebelum dibakar. Novotel yang baru saja diresmikan pembukaannya juga begitu mengenaskan. Sebuah toko kecil di depan Novotel dijarah, dan anehnya, si empunya toko ada di tempat, tapi mendiamkannya saja dengan  tatapan pasrah. Aku mengelus dada. Ya, Allah! Sudah begitu brutalkah manusia?

Tepat Pukul 17.00 WIB

Aku sudah hampir sampai di daerah Pasar Legi. Alarm dari beberapa Bank yang memang sudah porak poranda berbunyi begitu saja. Asap dan kabut hitam tebal makin mengepul. Sesaat aku batuk-batuk. Rupanya cadar buatan dari jilbabku tak mampu menghalau udara pengap. Toko-toko di areal ini, bernasib sama dengan toko-toko yang aku lewati tadi, menjadi korban penjarahan masal dengan pelaku yang tidak mungkin dikenali karena saking banyaknya.

Beberapa orang tampak mengetuk-ketuk sebuah ruko yang tertutup. Aku mendengar dengan jelas teriakan salah satu pria di situ, dia bilang,”Koh! Cik! Keluarlah, bisa terpanggang kalian jika terus di dalam.”

Kepalaku mendongak, mengikuti pandangan orang-orang yang juga ada di situ. Astaghfirlahalladzim! Api sudah membara di atas ruko. Orang-orang yang mengetuk pintu ruko itu semakin keras berteriak, “Koh! Kebakaran!”

Semua menjadi lega saat pintu ruko terbuka. Sepasang suami istri renta keluar dari dalamnya. Sang istri membawa kain bungkusan yang aku yakini berisi pakaian seadanya. Saat ku menatap ke wajah mereka, hatiku miris, roman ketakutan tampak di sana.

Tiba-tiba sebilah papan berbara api jatuh dari atas. Sontak semua orang berlari menghindar sambil berteriak, termasuk diriku. Kewalahan juga berlari dengan rok panjang yang kupakai dan bawaan yang super berat. Di otakku masih terbayang wajah ketakutan suami istri renta itu, trenyuh hatiku rasanya. Semoga saja ada tempat berlindung bagi mereka malam ini.

Sementara senja semakin mempersuram suasana. Sebutan Solo sebagai ‘Kota yang tidak pernah tidur’ sepertinya tidak berlaku lagi. Lihat saja, hari masih sore, tapi suasana sudah seperti kota mati. Pasar Legi yang selama ini hiruk pikuk dengan kegiatan niaga, kini senyap. Bangunan-bangungan bank yang mengitari area ini sudah hancur lebur. Alarm yang berbunyi tak kuasa menangkal kejahatan karena sekali lagi, hukum dan polisi menyembunyikan giginya saat kejahatan dilakukan secara masal. Bahkan pemadam kebakaran pun, dimana fungsinya sekarang? Di saat kota membara karena huru hara. Memikirkan semua itu, air mataku menetes. Kini aku tahu arti dari perkataan Dwi. Aku rasa, untuk saat ini, bukan hanya Dwi yang mempertanyakan nasibnya di kemudian hari, tapi juga semua orang yang hidup dan mencari nafkah di Solo. Sebut saja pemilik, karyawan-karyawan Toserba dan Ruko yang dijarah dan dibakar tadi, pegawai Bank bahkan pekerja di bidang pariwisata dan perhotelan seperti Papa. Jika Papa saja mempertanyakan nasib di kemudian hari, lalu bagaimana denganku yang masih dibawah lindungan Papa? Bagaimana dengan cita-citaku selama ini? Memikirkan semua itu, aku terduduk di trotoar sepi dan menangis.

“Nduk, kok sendirian di sini?”

Aku mendongak saat seseorang memanggilku. Seorang pria yang sepertinya seumuran Papa, duduk di sepeda motornya. Aku mengamati orang itu, dan sama sekali tidak mengenalinya.

“Ku antar, yuk!” tawarnya padaku. Tentu saja aku menggeleng. Di saat seperti ini, tidak bijaksana menerima pertolongan dari orang yang tidak dikenal. Kita bahkan tidak bisa membedakan kebaikan atau keburukan yang terbungkus kebaikan.

“Kamu anak perempuan Pak Bambang Sayuti, kan?”

Pandangan mataku melebar saat nama Papa disebut. Sekali lagi kupandangi wajah di depanku itu. Tetap saja aku tak mengenalinya, tapi aku yakin dia mengenaliku. Dan aku mulai percaya padanya. Apalagi saat ini ku tak mampu melanjutkan perjalanan lagi. Kakiku serasa kebas dan menebal. Punggungku mulai sakit menahan beban berat. Dan akhirnya aku mengangguk, aku berdiri, naik ke sepeda motornya. Rupanya dia benar-benar mengenaliku, arah sepeda motornya benar-benar menuju Mojosongo walau pun terkadang berbelok melewati gang-gang karena menghindari massa huru-hara. Di saat itu, aku merasa angin sorga bertiup. Aku merasa aman sekarang, walau pun udara sore serasa panas, dan asap makin terkonsentrat di udara.

Mendekati pukul 18.00 WIB

Saat kami sampai di perempatan dekat rumah, keadaan semakin kacau di sini. Pria itu kebingungan mau menghindar kemana lagi. Aku jadi tidak enak hati karenanya. Aku putuskan untuk turun di sini saja, toh rumah juga sudah dekat.

“Yakin, Nduk?” Pria itu sepertinya sangsi akan keputusanku. Aku mengangguk mantap. “Terima kasih sudah mengantar.”

Pria itu tersenyum lalu membalikkan motornya. “Berhati-hatilah,” pesannya sebelum motornya meraung meninggalkanku. Sekali lagi aku memantapkan hati melanjutkan perjalanan. Aku seberangi jalan yang biasanya rame dengan bus-bus besar, karena merupakan jalur keluar kota ke arah Jawa Timur  dalam keadaan normal, namun kini rame dengan ban-ban bekas yang dibakar oleh orang-orang yang kurang kerjaan namun merasa tercampakkan oleh system.

Akhirnya…, tibalah aku memasuki gang rumahku. Semua tetangga heboh dengan kedatanganku. Papa baru saja mengeluarkan motor untuk menjemputku di sekolah. Beliau juga tak kalah terkejut. Kulihat penampilan Papa yang memakai jaket panjang bahkan menutupi mukanya. Mama menyongsongku dengan pelukan. “Bagaimana bisa kau pulang sendiri?” tanyanya dengan kawatir.

“Jalan kaki sampai Pasar legi lalu ada orang di sana yang mengantarku dengan motor,” jawabku.

“Siapa?” tanya Papa setelah menstandardkan motor. Semua tetangga mengerubungi kami.

“Gak tahu, dia malah tahu kalau aku anak Papa. Dia menyebut nama Papa.”

Mata Papa semakin menyipit.

“Kamu kok berani-beraninya pulang sendiri?” tanya Bi Ado, tetangga sebelah. Aku menoleh padanya dengan dahi berkerut.

“Untunglah sekarang dia pakai jilbab, kalau tidak… kita tak tahu apa yang terjadi,” seloroh Mbak Lastri, orang yang tinggal di sebelah kanan rumah kami. Mama mengangguk, sekali lagi menangis memelukku.

“Sudahlah, ayo sekarang masuk!” perintah Papa yang tentu saja diamini oleh Mama dan semua tetangga pun membubarkan diri untuk masuk ke rumah masing-masing.

Malam Hari.

PLN mengadakan pemadaman listrik  dari jam enam sore tadi. Alhasil kota Solo gulap gulita sepanjang malam. Bunyi sirine sesekali meraung, memecah keheningan malam. Rumah-rumah yang ada di komplek perumahan Mojosongo, yang selama ini menggantungkan diri pada listrik untuk mendapatkan air, harus berhemat air, termasuk rumah kami. Kami sekeluarga memutuskan untuk tidak mandi, karena air terbatas yang sudah tertampung di bak mandi harus di hemat untuk berwudhlu dan berbasuh setiap buang air. Gang rumah kami yang biasanya terang dan ramai dengan anak-anak kecil yang bermain, kini terlihat sepi. Hanya bapak-bapak yang bertugas berjaga-jaga di setiap sudut kampong, tampak bercakap-cakap.

Toko Besi Koh Ahong, ternyata juga tak luput dari penjarahan. Bahkan mobil barunya dikeluarkan paksa oleh massa dari garasi rumahnya yang memang berada di pinggir jalan besar, lalu dibakar. Koh Ahong dan keluarganya menumpang inap di rumah Mbah Roso, tetangga sebelah kiriku, karena merasa terancam jika berada di rumah sendiri.

Aku, Robi, Papa dan Mama, tidur di ruang tengah selepas Isya’. Hanya keremangan cahaya lampu teplok yang menerangi ruangan tengah, sedang ruangan lain dibiarkan tanpa penerangan. Suasana malam hari di rumah ini, yang biasanya terang benderang, hingar bingar dengan suara TV atau tape recorder karena Papa dan Mama berkaraoke, serasa muram kini. Semuram pikiranku memikirkan perkataan Dwi tadi siang.

Apa kabarnya sekolah? Besok tetap masuk atau tidak? Bukankah hari Senin sudah ujian? Bagaimana bisa jika keadaan kota saja seperti ini? Semua begitu tidak pasti malam  ini. Bukan saja bagiku, tapi aku rasa …. Juga bagi semua orang, yang masih punya pikiran jernih.

Keesokan harinya.

Tepat pukul lima pagi, PLN baru menyalakn aliran listrik kembali. Seperti halnya hari biasa, kami mengawali rutinitas pagi dengan Sholat Subuh berjama’ah, lalu antri mandi. Tapi Papa melarang kami masuk sekolah. Robi selalu menurut, tapi aku bersikeras masuk sekolah. Aku beralasan tidak mau ketinggalan pelajaran karena Senin sudah ujian semesteran.

“Mau pelajaran gimana? Suasana kota masih tidak menentu begini!” Papa ngotot melarangku. “Aku yakin sekolahmu juga pasti diliburkan.”

“Tidak, Pa. Kemaren tidak ada pengumuman libur.”

“Pokoknya Papa bilang tidak usah masuk!”

“Pokoknya aku mau masuk!”

“Berani membantah, ya!”

Aku langsung menciut kalau Papa sudah menampakkan taring. Hanya perkataan yang tegas tanpa bahasa tubuh menghardik, dan aku sudah ketakutan. Lari menaiki tangga menuju lantai dua, memasuki kamar dan membanting pintunya keras-keras dengan perasaan dongkol. Lalu berbaring di tempat tidur, menutup muka dengan bantal dan menangis.

Jam setengah tujuh pagi, seperti dugaanku, Papa pergi ke kantor. Aku mengganti seragamku dengan kaos oblong dan celana jeans serta jilbab bertali ke belakang, sedangkan seragamku, kumasukkan ke dalam tas yang biasa kupakai untuk hang out bersama teman-teman. Aku memutuskan ke sekolah tapi tentu saja tidak sepengetahuan orang tuaku.

Benar saja, saat sampai di ruang tengah. Mama melihatku dan bertanya,”Mau kemana?”

“Ke rumah Endah, Ma. Tanya tentang catatan yang belum lengkap,” Aku berbohong lagi. Kali ini tak tanggung-tanggung karena yang kubohongi Ibu kandungku sendiri.

“Oh, naik apa?” Mama manggut-manggut sambil bertanya lagi.

“Naik sepeda federal.”

“Ya sudah, hati-hati.”

Aku tersenyum menang! Menang pada kebohonganku! Aku Cuma berdoa agar Tuhan memaafkanku sekarang. Dan akhirnya sepeda federal keluar juga dari rumah, dan aku mengendarainya ke selatan, arah ke sekolahku, bukan ke utara, arah rumah Endah.

Di sepanjang perjalanan. Huru-hara kemaren masih memberikan sisa kemuraman walau pun jalanan mulai ramai. Namun kebanyakan pekerja akhirnya berbalik lagi menuju rumah masing-masing karena lokasi kerjanya sudah habis termakan huru-hara. Rupanya kekawatiranku benar-benar terjadi. Alhasil, aku harus melawan arus, sementara mereka menuju pinggiran kota. Aku menuju pusat kota, tempat sekolahku berada.

Beberapa sekolah yang kulewati benar-benar tutup. Dan sekolahku…, sama seperti sekolah-sekolah yang lain, pintu gerbangnya tertutup rapat-rapat. Di depannya ada pengumuman yang ditulis di papan triplek dengan spidol marker, “Sekolah diliburkan selama seminggu sejak tanggal pengumuman ini ditulis.” Lengkap dengan tanggal dan tanda tangan pembuat pengumuman yang aku yakini sebagai tanda tangan kepala sekolah. Berarti ujian mau tak mau juga diundur. Aku berjalan gontai menuju sepeda federalku dan mengendarainya lagi dengan perasaan ling lung.

Kemaren, di pagi hari, di waktu yang sama, aku bertemu teman-temanku dengan hati riang. Menerima materi yang memusingkan tapi begitu menyenangkan karena suasana yang penuh kepastian. Kami begitu ceria menatap hari, bahkan membuat sediaan pil yang bulat-bulat kecil dan menertawakannya karena ada yang peyok beberapa di sebabkan kurang ahli. Tapi sekarang? Apa yang akan terjadi? Jika dalam suasana normal, mungkin aku akan bersorak gembira sekolah diliburkan, tapi ini bukanlah liburan yang menyenangkan. Sama sekali tidak menyenangkan!

Aku memberanikan diri melewati Singosaren. Areal perbelanjaan ini kacau balau. Ruko-ruko, toko bahkan Toserba terbesar di areal ini, gosong karena di bakar huru-hara kemaren. Lalu lintas padat merayap, aku harus mengendarai sepedaku pelan-pelan. Pemadam kebakaran, petugas SAR dari Perguruan Tinggi Negeri kota ini tampak masih melakukan pertolongan. Pecahan-pecahan kaca menghiasi sepanjang jalan raya, bau-bauan aneh menusuk hidung. Kasak-kusuk terdengar, ditemukan lima mayat gosong di toko sepatu “Famous”. Aku begidik ngeri mendengarnya. Orang-orang itu pasti terjebak di dalam gedung saat huru-hara dan tidak sempat keluar. Dan pagi hari itu, udara serasa semakin panas saja di Kota Solo.

Aku sampai di rumahku kembali jam Sembilan pagi. Aku bilang pada Mama kalau Endah sudah menelphone Bu Atifah dan tahu kalau sekolah diliburkan selama seminggu. Tentu saja aku tidak bilang kalau aku tahu sendiri kabar itu dengan melihat papan pengumuman yang terpampang di pintu gerbang sekolah. Mama Cuma manggut-manggut. Aku yakin Mama sebenarnya tahu kalau aku berbohong, karena aku memang tidak pandai berbohong jika di depan orang tuaku. Namun kali ini, mungkin ada alasan kenapa Mama tidak menegurku, malahan menyuruhku makan karena memang aku belum makan pagi tadi.

Dan waktu kulihat apa yang dimasak Mama, hanya sayur orak-arik telur. Tidak ada lauk enak seperti biasanya. Pasar belum pulih, harus menghemat bahan makanan yang ada mulai sekarang. Aku makan sambil menonton televise yang tentu saja mengabarkan keadaan huru-hara yang terjadi di beberapa titik di wilayah Indonesia di antaranya di Jakarta dan … sialnya di Solo juga, kota kelahiranku.

Tiba-tiba saja Mama menutup pintu depan dengan kesal. Aku yang terkejut menoleh padanya. Mama ngomel-ngomel,”Kurang ajar, mau apa orang asing itu melirik-lirik rumah ini! Mau cari-cari rumah orang berkulit putih buat dijarah!”

“Mama ini kenapa, sih?” Aku ikut-ikutan berdiri di dekat jendela. Menatap obyek pengamatan Mama.

“Lihat saja itu orang! Bikin tidak tenang saja!” masih omel Mama.

Aku mengibaskan tangan,”Sudahlah, Ma. Jangan suudzon. Kita kan baik-baik saja di kampong ini. Rukun sama tetangga kiri kanan. Tidak mungkin orang semacam itu berani macam-macam sama kita. Papa saja sempat dicalonkan jadi ketua RT, kan?”

Aku kembali lagi ke piring makananku yang baru kuhabiskan separuh. Di saat itulah ada berita di televise, di Jakarta, ada gadis dengan kulit yang sama sepertiku, diperkosa di saat huru-hara berlangsung. Sekali lagi aku begidik ngeri. Kemaren aku pulang sendiri, aku jadi teringat perkataan Mbak Lastri, “Untunglah sekarang dia pakai jilbab, kalau tidak… kita tak tahu apa yang terjadi.”

Oh Ya, Allah. Kenapa semua itu terjadi? Bertahun-tahun aku hidup di sini, tidak ada yang mempermasalahkan warna kulit di antara kami. Provokasi busuk! Kenapa begitu menimbulkan sara? Mereka berdalih system yang tidak menguntungkan, padahal jika ditilik…., ada juga beberapa system yang tidak menguntungkan bagi kami. Sebut saja kami yang tidak bisa masuk jajaran Pegawai Negeri Sipil, atau bagi mahasiswa kedokteran, yang tidak bisa mengenyam pendidikan spesialis di beberapa perguruan tinggi Negeri, belum lagi perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang tidak boleh dilaksanakan terang-terangan serta kesenian Barongsai yang dilarang. Kami tidak mempermasalahkan semua itu. Kami tidak bisa duduk di jajaran Pegawai, kami bisa melakukan hal lain yaitu berniaga. Dan karena keuletan berbisnis dan berniaga itulah, secara ekonomi, kami bisa lebih kuat. Semua ini tergantung dari bagaimana kita menyikapi rintangan yang berupa system itu.

Ibaratkan saja ketika kau berjalan, ada batu besar yang menghalagi jalanmu. Apa yang kau lakukan? Kamu bisa tetap di situ, menyumpah-nyumpah  karena keadaan begitu tidak adil bagimu, atau kau berbalik, mengambil jalan lain yang lebih lapang, atau mungkin kau ambil palu, sedikit demi sedikit menghancurkan batu itu, hingga bukan hanya kau yang akhirnya bisa melewati jalan tapi juga orang lain, dan kau dikenang sebagai orang berjasa. Tapi kau juga harus menghormati perbedaan keputusan orang lain. Karena seperti yang didengungkan oleh semua ustadz di dunia ini, “Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, kecuali jika kaum itu yang mau mengubahnya.”

September 2011, hari ini.

Radio HP-ku menyiarkan suasana Ambon yang mencekam, karena itulah, aku jadi teringat masa huru-hara di Solo, padahal yang lain masih bermain-main dengan keasyikan alam pantai Srau. Aku tersenyum sekarang, aku tahu ada beberapa hal yang membuat bangsa ini kaya, yaitu keanekaragaman suku bangsa, kepercayaan dan kebudayaan. Sebuah bangsa yang besar dan begitu heterogen, namun keheterogenan itu bisa jadi boomerang saat isu sara tersulut. Mungkin kita harus selalu mengingat sejarah Bangsa ini berdiri jika provokasi mulai berdengung. Semua suku bersatu padu mewujudkan proklamasi. Bahkan serempak mengatasi agresi militer Belanda yang berupaya mengusik kedaulatan pasca Proklamasi. Bisakah hal ini kita lakukan sekarang? Karena saat ini, musuh yang paling membahayakan, bukanlah berasal dari luar, tapi dari dalam yang menggerogoti bangsa ini sendiri. Kerukunan harus selalu terjaga, mungkin ini semboyan klise. Tapi… bagi orang yang sudah pernah merasakan bagaimana rasanya suasana mencekam akibat huru-hara, percayalah… aku tahu sekali, bahwa kerukunan itu begitu berarti.

Byur! Air asin tiba-tiba mengguyur kepalaku. Aku mendongak. Si Rafli cengar-cengir berhasil membuatku basah kuyup. “Yang lain sudah pada basah. Mbak Sisi melamun saja, sih!”

“Awas, Ya!” Aku meletakkan bawaanku dan mengejarnya. Bocah usil itu menghindar ke arah ombak. Tiba-tiba saja Paulus, Mbak Tri dan Pak Bos mengukungku. Paulus dan Pak Bos memegang tanganku, menyeretku ke ombak yang datang dan…

Byur! Akhirnya aku jadi yang paling basah di antara kami. Semuanya tertawa-tawa senang mendapat hiburan gratis dari penampilanku sekarang.

Well, untuk saat ini, biarkan aku merasakan rayuan pantai ini. Sebuah pantai yang sangat indah, dengan hampatan pasir putihnya, air asinnya yang begitu biru, karang-karang tinggi yang tampak kokoh terterjang ombak dan daun-daun kelapa yang menjulang di antara batang-batang yang tinggi, bergesek-gesek tertiup angin. Aku hidup di Negara ini, lahir di Negara ini. Makan, minum, buang hajat di Negara ini. Bahkan aku mengabdikan profesi di Negara ini. Aku begitu menikmati kecantikan bangsa ini dan kerukunan suku bangsanya. Karena aku bangga menjadi Orang Indonesia.

 

TAMAT

NB :

Beberapa hari setelah huru-hara, Soeharto ‘lengser keprabon’. BJ Habibie menggantikannya. Setahun berikutnya, Timor-timur lepas dari genggaman Indonesia. Setahun berikutnya, diadakan PEMILU pertama dengan jumlah partai terbanyak, dan Amien Rais dengan gerbong “Poros tengah”-nya, menggolkan Abdul Rahman Wahid sebagai Presiden Republik Indonesia, namun beberapa pihak yang tidak setuju, melakukan huru-hara lagi di Kota Solo, suasana mencekam lagi, tapi tidak semencekam kejadian di tahun 1998.

Sampai sekarang aku dan Papa tidak tahu siapa pria yang memberi boncengan motor dari Pasar Legi sampai perempatan dekat Mojosongo. Anggap saja dia malaikat yang diutus Tuhan ketika aku sedang putus asa dalam perjalanan pulang.

Kami lulus SMF di tahun 1999. Dwi yang tidak bisa melanjutkan kuliah  karena keterbatasan ekonomi menikah setahun setelah kami lulus. Nu’lin merantau ke Jakarta dan bertemu jodohnya di sana. Ari Sulis melanjutkan kuliah di Jogjakarta. Evita melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadyah Surakarta. Anita bekerja di Jakarta sebagai sekretaris di sebuah sell distributor obat dan meninggal di tahun 2007 karena penyakit TBC. Tri Mulyani bekerja di Jakarta di sebuah rumah sakit sebagai Asisten Apoteker. Aku tidak tahu kabar Anik dan Widiastuti sampai sekarang. Yunita dan Endah memutuskan kuliah setelah lulus SMF, sedangkan aku bekerja dulu selama setahun sebagai Asisten Apoteker di apotek sebelum akhirnya kuliah di S1 Farmasi sekampus dengan Endah dan Yunita.

Terima kasih pada semua karakter real yang menghiasi kisah ini. Semoga kedamaian bangsa ini selalu menyelimuti kehidupan kita. Amin.

I AM SENIOR NOW

Tulisan ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di tahun 2002, jadi kalau ada yang keberatan….. silahkan protes pada masa lalu:

Hari ini satu tahun berlalu sejak waktu itu. Waktu dimana aku yang belum berpengalaman sama sekali ditunjuk menjadi sekretaris dalam acara OSPEK. Sungguh pengalaman yang mendebarkan. Apalagi aku harus bekerja sama dengan seseorang yang aku taksir.

Bisa kau tebak apa yang terjadi. Aku hampir tak bisa bernapas jika harus berhadapan dengan’nya’ dan jantungku serasa bergemuruh. Segalanya yang terjadi bersamanya memang sulit terlupakan. Aku kini hampir gila karena berusaha melupakan’nya’. Kenapa semua ini terjadi padaku? Setahun yang lalu aku mengurusi OSPEK karena patah hati pada sosok yang lain dan sekarang…  aku harus menghadapi OSPEK dengan hati broken karena ‘nya’. Apa-apaan ini? Kepalaku serasa pusing!

Setahun berlalu. Dalam setahun aku berusaha memahami arti cinta, arti kebesaran cinta dan kesabaran. Hatiku ini terlalu besar untuk menyimpan segala macam perasaan. Rasa sedih, gembira, kecewa, bangga dan riang.

Satu tahun dalam hidupku aku jatuh cinta pada seseorang dan aku yakin satu tahun pula nanti…. Aku membenci’nya’….

I AM SENIOR NOW

Theme Song :

Walau Habis Terang

By. Peterpan

ku terbiasa tersenyum tenang walau
aaah, hatiku menangis
kau lah cerita tertulis dengan pasti
selamanya dalam pikiranku

aa… selamanya

kau tubuhku untuk sejenak
dan biarkan kita memudar dengan pasti
biarkan semua seperti seharusnya
takkan pernah menjadi milikku

lupakan semua tinggalkan ini
ku kan tenang dan kau kan pergi

Reff:
berjalanlah walau habis terang
ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu
di antara beribu lainnya
kau tetap kau tetap kau tetap benderang

lupakan semua tinggalkan ini
ku kan tenang dan kau kan pergi

Reff:
berjalanlah walau habis terang
ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu
di antara beribu lainnya
kau tetap kau tetap kau tetap benderang

 

Perjalanan memusingkan

Halo, kota Padang! Akhirnya aku sampai juga kepadamu setelah perjalanan panjang yang memusingkan dan membingungkan. Seseorang menjemput kami berlima dari pemberhentian bus terakhir untuk menuju asrama tempat kami dikarantina selama seminggu nanti. Kegiatan semacam ini bukan pertama kali aku ikuti. Setengah tahun yang lalu aku berkenalan dengan ISMAFARSI (IKatan Senat MAhasiswa Farmasi Seluruh Indonesia) lewat Pramunas-nya di Bandung. Pada waktu itu aku juga sudah tahu rencana MUNAS yang akan diadakan di Padang dan begitu pesimis untuk bisa mengikutinya. Namun sekarang, dinginnya kota Padang menusuk sampai ke tulang. Di antara berderet rumah Minang yang juga kutemui di sepanjang perjalanan tadi, tak mampu ku menghalau rindingan bulu kuduk.

“Bagaimana perjalanan ke sini, Uda?” seorang gadis yang menjemput kami dengan mobilnya, yang berusan kami kenal bernama Ririn bertanya pada Udin sambil menyetir.

“Cukup memusingkan,”jawab Udin disambut tawa kami berlima.

“Lho, memangnya kenapa?” tanya Ririn heran.

“Iya, kami cukup pusing dengan keramahan orang Padang,” celutuk Bambang, tentu saja disambut tawa lagi oleh yang lain.

Ririn bertambah heran tapi tidak bertanya lagi. Aku rasa dia tidak melanjutkan masalah ‘Perjalanan yang memusingkan’ kerana sudah tahu apa yang kami maksud. Tentu saja, siapa coba yang tidak pusing dengan perjalanan panjang selama dua hari dua malam ke tempat yang sama sekali belum kita kenal sebelumnya. Ditambah bus yang ternyata tidak membawa kami sampai tujuan, tapi hanya sampai di suatu tempat yang masih sangat jauh dari Padang dan mengoperkannya pada bis lain serta insiden di terminal Solok yang cukup membuat Dian, adik tingkatku yang juga ikut kesini, menjadi syok.

Dian menahan tangis saat seseorang mengganggunya di dalam bis yang membawa kami dari Solok ke Padang. Tapi semua itu telah kami lewati, dan kini ketakutan itu telah terbekukan oleh dinginnya kota Padang dan cantiknya paras wajah sang sopir yang menjemput kami. He he he, Sory, Rin…

—oOo—

“Ini kamarnya, Uni,” kata seorang panitia yang telah mengantar ke kamar begitu kami tiba di asrama. Dia mengetuk pintu kamar dan bersalam, “Assalamu’allaikum.”

“Wallaikum sallam.”

Ternyata sudah ada orang lain di dalam kamar.

“Maaf, Ni. Ini ada teman yang juga akan menempati kamar ini,” kata gadis panitia.

Aku dan Dian memasuki kamar setelah penghuni yang mendahului kami mengangguk.

“Selamat istrirahat, Ni.”

“Terima kasih, ya,” sahutku dan Dian serempak.

“Assallamu’alaikum.”

Gadis itu pergi setelah kami menjawab salamnya.

“Hei, Namaku Sisi,” Aku mulai memperkenalkan diri pada teman sekamar kami.

“Aku Ela,”katanya menyambut jabat tangan kami.

“Aku Dian.”

Kami pun segera membongkar bawaan kami dan menatanya di dalam lemari.

“Mbak, aku mandi duluan, ya?” kata Dian yang memang sudah selesai menata barang bawaannya. Aku mengangguk.

Akhirnya beres juga. Senang sekali kalau semuanya telah rapi. Kulihat sekeliling kamar yang akan menjadi tempat kami berlindung selama seminggu nanti dan akhirnya duduk dengan sebotol milk cleanser di tangan. Mulailah rutinitasku sebelum mandi, membersihkan wajah dan mengoleskan minyak zaitun ke seluruh tubuh.

“Sendirian aja di Padang, La?” tanyaku pada Ela yang sedari tadi memperhatikanku.

“Tidak, kami berdua dari Lampung tapi temanku itu cowok, namanya Ardi. Jadinya tidak satu kamar,” Jawab Ela.

“Tentu dong. Emangnya mau bulan madu, dijadikan satu kamar.”

Kami tertawa berdua. Dia pun menanyakan hal yang sama padaku. Pembicaraan itu cukup membuat kami akrab. Aku pun mulai tahu kalau dia berasal dari Universitas Tulang Bawang, Lampung. Aku juga berhasil mengorek segala aktivitas di kampusnya yang ternyata tak jauh beda dengan di kampusku.

Ela cukup menyenangkan untuk diajak ngobrol. Aku memang terkecoh dengan jilbab besarnya yang pertama kali kulihat, hingga mengecap dengan anggapan sepihak yang kurang baik. Tapi sekarang, dengan sikapnya yang friendly, aku merasa satu minggu nanti akan terasa menyenangkan bersamanya.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Aku dan Ela sama-sama berteriak menyuruh masuk. Ternyata seorang panitia.

“Uni, kalau sudah mandi, segera makan karena sudah ditunggu ruang pagelaran untuk ‘Opening party’” jelas gadis itu .

“Bukankah acara itu sudah mulai dari tadi?” tanya Ela.

“Iya, Uni.”

“Tidak ikut ajalah. Aku capek banget. Mau langsung tidur saja,”kataku yang memang sudah berniat untuk tidak mandi dan langsung tidur.

“Maaf, Ni. Tidak bisa. Sudah ditunggu dari yang lain.”

Aku menghela nafas. Gagal deh acara tidur lamaku setelah perjalanan yang memusingkan.

“Udah, Ni. Itu saja. Assallamu’alaikum.” Panitia itu segera berlalu. Aku memonyongkan bibir.

Dian yang sudah selesai mandi memasuki kamar setelah itu. “Mau apa panitia itu tadi?” katanya setelah meletakkan peralatan mandi dan duduk menyisir rambut.

“Tanya Ela saja,lah. Aku mau mandi.”

Aku ngeloyor sambil menenteng peralatan mandi dan handuk yang tergantung di leher. Sayup-sayup terdengar suara Dian bertanya pada Ela hal yang dia tanyakan padaku.

Di sepanjang koridor yang menghubungkan kamar mandi dan kamar, Aku berjalan dengan hati dongkol. Dongkol karena harus mandi malam-malam begini apalagi harus cuci rambut. Tak mungkin, kan, aku datang ke pesta dengan rambut bau? Tapi kalau nanti rambut belum kering dan langsung ditutup jilbab, apa tidak tambah bau? Tenang… Ada hairdyer yang kubawa dari rumah.

Sampai juga ku di kamar mandi dan akhirnya… Brrrrr… dingin banget air di sini.

MAKAN MALAM

Ruang makan sudah tidak ada orang saat Dian, Ela dan aku yang diantar seorang panitia memasukinya. Beberapa kursi plastic sudah tertumpuk dan sebuah meja yang di atasnya terdapat beberapa piring makanan yang tersisa. Beginilah kalau datang belakangan. Makanan enak sudah habis semua. Tinggal beberapa makanan yang menurutku kurang begitu menarik. Tapi karena perut keroncongan, akhirnya kuputuskan makan juga, menyusul Dian dan Ela yang sudah stand by menghadapi piring masing-masing.

“Oh, iya, Mbak. Cowok yang satu delegasi denganku sudah makan, belum tadi?”tanyaku pada panitia yang seketika teringat pada Riki.

“Sudah, Ni. Dia tadi juga menanyakan Uni berdua.”

Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Aku hanya memastikan tak ada anggota kelompokku yang kelaparan. Masih kuingat bagaimana rasanya menahan rasa lapar saat di perjalanan dan Dian yang merengek kelaparan namun bus yang kami tumpangi tidak juga berhenti untuk makan siang.

Aku melihat Ela yang mengunyah dengan tertib dan Dian yang dengan mulut penuh, bercengkrama dengan gadis panitia yang semeja dengan kami, menanyakan tentang perjalanan ke Padang. Sementara masih belum juga satu makanan masuk ke mulutku. Aku hanya terheran dengan tingkah Dian yang begitu menikmati suasana di ruang makan ini. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan tingkahnya selama di perjalanan tadi yang membuatku pusing tujuh keliling, mencari akal untuk membuat dia riang dan melupakan perjalanan panjang yang kami lalui.

Ela pun menikmatinya dengan cara tersendiri. Aku merasa dia menyukai cara Dian yang begitu ekspresif membalas keramahtamahan gadis panitia itu walau pun tidak serta merta bertingkah seperti adik tingkatku itu.

Ela terlalu tertib. Hanya kata “Oh, Ya” atau pun “Boleh”, “Ya”, mau pun “Tidak”, yang sesekali dia lontarkan untuk membalas cengkrama Dian dan gadis panitia itu. Aku rasa jilbab besarnya memang menuntut dia berbuat demikian. Namun adakalanya dia membuatku terheran. Misalnya saja, saat dia menertawakan leluconku tentang tidak dijadikannya dia dan Ardi dalam satu kamar. Aku tidak menyangka kalau orang seperti Ela, menganggap semua itu lucu.

Saat ini pun Ela tak henti-hentinya membuatku terheran kerana dia dengan santainya melayani pertanyaan Dian tentang perbedaan sifat antara cowok Jawa dan Cowok Minang, apakah dia sudah punya pacar atau pertanyaan lain seputar itu.

“Kok tidak lekas dimakan, Ni? Tidak enak, ya?”

Aku terkejut dengan pertanyaan gadis panitia itu.

“Oh, Tidak… Bukan begitu,” Aku menyuapkan makanan ke mulut untuk membuatnya puas.

“Mbak Sisi ini kalau tidak lekas makan, bukan karena makanannya tidak enak, tapi karena ada sesuatu yang dipikirkan,”celutuk Dian asal.

“Wah, mikirin apa, nih?” tanya Ela.

“Tahu, tuh. Kangen sama pacarnya di Solo kali?”

“Uh! NGaco!”

Aku mencubit paha Dian karena sudah bicara asal dan membuat kedua teman baruku itu tertawa terpingkal-pingkal. Tentu saja dia meringis kesakitan. Rupanya cubitanku barusan terlalu keras.

“Gimana makanannya, Ni? Terlalu pedas, tidak?” tanya si gadis panitia.

“Tidak terlalu, Cuma rasanya agak aneh saja di lidahku. Maklum, lidah orang jawa.”

Gadis itu mengangguk-angguk. Aku rasa dia menanyakan makanan itu sebagai pertimbangan untuk menu berikutnya. Sepintas aku teringat pada Rusdy, anak  Universitas Andalas yang kini menjadi ketua panitia di Event ini. Dulu waktu di Bandung, dia berjanji untuk memastikan makanan tidak terlalu pedas saat aku berkelakar tentang masakan padang yang bagiku terlalu pedas.

“Oh, iya. Rusdy mana, nih? Dari tadi aku tidak lihat dia.”

“Mungkin dia ada di ruang pegelaran, Ni. Nanti Uni juga pasti bertemu dia di sana.”

Jawaban panitia itu segera memacuku untuk menghabiskan makan malam. Aku sudah tak sabar lagi bertemu anak-anak yang kutemui saat ‘Pramunas’ dulu. Apalagi Dian dan Ela sudah hampir menghabiskan makanannya. Aku tidak mau menjadi alasan yang menghambat jalan menuju opening party.

OPENING PARTY

Rusdy menyambut kami dengan ramah. Gadis panitia itu benar dengan mengatakan bahwa Rusdy ada di ruang pagelaran.  Ruangan begitu semarak dengan hiasan kain berwarna menyala dan prada emas berkilau-kilau terkena sinar. Lantunan nasyid popular dan tarian khas minang dilengkapi gemuruh tepuk tangan yang menambah meriah suasana.

Aneh, selama ini aku mengira Padang sangat kuat memegang aturan-aturan Islam, sehingga pasti para wanitanya berjilbab besar. Namun yang terlihat malam ini, gadis berjilbab besar bisa dihitung dengan jari sedangkan yang lain enjoy saja dengan jilbab gaul, sama dengan aku dan Dian atau bahkan tidak berjilbab sama sekali namun tetap berpakaian rapi dan tertutup.

“Silahkan, Uni,” seorang gadis panitia menyuruh kami duduk setelah menarik kursi yang menurutnya nyaman bagi kami bertiga. Aku melihat Riki sudah cukup akrab dengan teman-teman barunya. Seorang gadis berjilbab yang aku kenal dengan panggilan ‘Mbak Ulin’ waktu pramunas dulu, melambai padaku. Serta merta ku menghampirinya tanpa memperdulikan Ela dan Dian. Aku menjabat tangan dan memeluknya. Tak ku sangka aku bisa sekangen ini padanya.

Anak-anak yang lain menyalamiku begitu mereka melihatku. Ada Zainal dengan pernyataannya yang selalu tajam, Andi yang menurutku sangat ambisius, Nanang yang terlalu serius. Ika, anak Universitas Indonesia dengan jilbab lebarnya tapi suka usil. Vicki yang selalu memposisikan dirinya sebagai obyek lelucon konyol. Teh Mawar yang cantik yang aku kenal sebagai ‘cem-cemannya’ Andi (Cie cie cie). Mbak Dyah dan Mas Rahmat yang aku kenal sebagai BPH-nya ISMAFARSI. Agus Hilman yang sok filsafatis, juga anak-anak yang lain yang baru kukenal karena mereka tidak hadir waktu “PRAMUNAS” atau ‘yunior’ yang baru hadir di ISMAFARSI event ini.

Oh, Iya. Ternyata Anton, cowok yang selalu aku ingat dengan celutuknya,”Aku dari Bandung, lho!”, juga ada. Dan juga Zaldy, teman satu delegasi Anton dari Universitas Jenderal Achmad Yani. Cowok yang satu ini selalu jadi bulan-bulanan teman-teman sekamarku waktu di Bandung karena mereka menjodohkannya denganku. Mereka mengira kami terlibat ‘cinta lokasi’ (GUBRAK!).

Masih kuingat, Mbak Ulin yang tak henti-hentinya menggodaku perihal Zaldy. Ketika kutanya,”Kenapa Mbak Ulin suka banget menggodaku?”

Beliaunya menjawab,”Aku senang melihat wajahmu yang memerah, menahan malu setiap kali aku menggodamu.”

“Uh! Dasar, Mbak Uliiiiinnnnnn!!!!

Tapi terus terang, kenangan itulah yang selalu kuingat selama sebulan sepulang dari Bandung. Aku selalu bingung untuk menghubunginya namun tidak kulakukan karena merasa semua itu konyol. Apa yang kuharap? Aku bahkan tidak tahu perasaannya padaku. Toh, jika memang itu adalah cinta lokasi, sekarang lokasinya sudah berbeda. Mungkin cinta lokasi lain nantinya menancap di hatiku. (Au au au)

Masih kuingat juga bagaimana usahaku untuk menyibukkan diri hanya agar bisa melupakan Zaldy.  Dan sekarang ternyata dia di sini, di depanku dengan tangan terulur sembari berkata, “Apa kabar?”

Aku menjawab, “Kabar baik.” Mataku menyapu sekeliling, mencari sosok Ela dan Dian. Ternyata Ela sedang ngobrol dengan Teh Mawar. Sedangkan Dian… Lho! Dian kok sudah akrab dengan Suryadi?

“Hei, Si! Sini atuh teh, Kita ngobrol sebentar!” panggil Agus Hilman. Aku segera duduk di depannya.

“Si, pokoknya kita harus mengangkat wacana dari kampus swasta,” katanya menggebu-gebu.

“Wacana kampus swasta? Maksudnya?”

“Ya, sudah saatnya kampus swasta unjuk gigi. Jangan kalah dengan yang negeri. Caranya… pilih pemimpin dari kampus swasta,” penjelasan Agus Hilman yang tentu saja menggebu-gebu lagi.

“Oh,jadi ceritanya kamu mencalonkan diri jadi Sek Jend ISMAFARSI dan butuh dukungan?” tanyaku. “Mekanisme lobi-lobi, ya?”

“Siapa juga yang mencalonkan diri?” Nah. Dia mulai menggerutu. “Bukannya kamu yang mencalonkan diri?”

“Apa! Dapat gossip dari mana?”

“Dari anak-anak Jogja. Kalau kau benar-benar mencalonkan diri…,” Agus Hilman menepuk dada mantap, “Tenang… seratus persen aku dukung!”

“Gila! Tapi aku gak ada niatan untuk…

“Sisi… ,” seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh dan berusaha mengingat-ingat wajah di depanku yang sepertinya tidak asing. Cukup lama aku membuka-buka memori otak.

“U’uL!” teraikku saat mulai ingat kalau cowok itu adalah U’ul, temanku waktu di bangku SMF Nasional, Solo. Aku jadi semakin heboh. “Subhahanallah, ini benar kamu, Ul? Apa kabar?”

“Baik! Aku tadi dapat kabar dari anak-anak kalau calon Sek Jend dari Solo itu Sisi. Aku jadi mikir, itu pasti kamu.”

“Ngaco! Semuanya ngaco!” Aku sangat kesal dengan berita bohong itu.

“Oh, ceritany reuni, nih?” canda Agus Hilman yang sedari tadi kami cuekin.

“Sorry, Gus. U’ul ini temanku waktu SMA. Sudah tiga tahun kami tidak bertemu. Eh, ketemu-ketemu kok yo neng Padang. Opo ra ono enggon sing luweh adoh yo, Ul, yo,”

“Stop! Jangan bicara bahasa planet. Aku yang dari planet lain jadi tidak dong!”  potong Agus yang memang berasal dari Garut. Tentu saja dia tidak paham bahasa Jawa.

“Sory, Gus,” kata U’ul. “begini ini nih, kalau orang Solo bertemu, jawa-nya langsung keluar.”

AROGANSI KORWIL?

Opening Party begitu cepat berlalu. Seseorang menyuruh kami semua tetap di tempat untuk penjelasan tata tertib. Namanya juga ISMAFARSI, tatib yang sudah tersusun rapi, ternyata masih diprotes. Aku rasa panitia harus menyusun ulang tatib itu. Sementara mataku ini sudah enggan terbuka. Aku rasa, aku membutuhkan sebatang korek api untuk mengganjal mata.

Anak-anak di sekelilingku juga merasakan hal yang sama. Sesekali terdengar suara menguap di antara protes demi protes terhadap semua tatib yang kurang sesuai. Dengan pandangan redup-redam, aku melihat Andi sudah tertidur pulas di kursinya. Aneh, biasanya dia paling getol dengan protes-protesnya.

Butir terakhir dari tatib tak jua lolos dari protes. Waktu udah menunjukkan pukul satu pagi. Padahal kalau dicermati, paling yang salah Cuma susunan kalimatnya saja.

Saat tidak ada sanggahan lagi, ketok palu berbunyi. tiba-tiba seseorang mengguyur Nanang dengan seember air. Anak-anak sepontan terjaga. Salah seorang delegasi dari Universitas Surabaya, yang barusan ku kenal bernama Meri, menyanyikan lagu ‘Hapy Birthday’ dengan nada seriosa.

Nanang cengar-cengir dengan tubuh basah kuyup. Tentu dia akan sakit. Bayangkan saja… basah kuyup pada jam 1 malam lewat. Dia berniat keluar untuk ganti pakaian tapi anak-anak yang sudah heboh, menariknya, membujuk untuk memotong kue yang sudah tersedia. Dia terpaksa menuruti kemauan gila anak-anak itu. Insiden berakhir setelah Nanang keluar ruangan dan Mas Rahmat berpidato.

“Teman-teman sekalian, saya hanya ingin menjelaskan bahwa satu minggu nanti akan diadakan Musyawarah Nasional, sebuah forum tertinggi yang memutuskan segala sesuatunya untuk kelangsungan ISMAFARSI. Saya harap teman-teman menyadari tugas berat ini dan menjaga kondisi tubuh. Karena sudah larut, beristirahtalah agar esok kalian merasa segar kembali.”

Aku segera beranjak menuju kamar. Ela dan Dian sudah mendahuluiku. Dalam benakku sudah terbayang nyamannya tidur di kasur setelah perjalanan panjang.

“Mbak Sisi, Tunggu!”

Aku menoleh kea rah orang yang memanggil. Ternyata Suryadi.

“Mbak, tolong kita kumpul dulu di kamar Mas U’ul.”

“Buat apa?”

“Ah, nanti juga tahu.”

Suryadi berjalan mendahuluiku setelah memberi syarat untuk mengikutinya. Uh! Mengganggu saja! Kasur empuk…., tunggu aku, ya….

Di kamar U’ul, sudah berkumpul anak-anak se- Korwil DIY-Jateng. Mereka duduk bersila di lantai, membentuk lingkaran. Aku memperhatikan mereka satu per satu. Lho, ternyata hanya aku yang perempuan. (Gubrak!)

“Wah, Sini, Teh! Duduk sini!” sambut Andi begitu melihatku. Aneh, bukannya dia di ruang pagelaran sudah pulas?

“Sengaja saya meminta semuanya berkumpul di sini untu membicarakan masalah pencalonan Sek Jend dari korwil kita,” Andi memulai pembicaraan.”Saya rasa, kalian sudah tahu ternyata lobi-lobi sudah dilakukan oleh para calon dari KOrwil lain.”

“Lalu,” Riki rupanya sudah tak sabar.

“Kita perlu strategi untuk memenangkan pemilihan itu,” celutuk Tulus, ‘Yunior’ dari Universitas Gadjah Mada.

“Iya, tadi aku dengar Sisi sudah didekati Agus,” ujar U’ul yang tentu saja membuatku kaget. Maksudnya?

Semuanya memandang ke arahku. Sampai risih, aku dibuatnya. Terpojok!!!!

“Oke, Agus memang sudah mendekatiku dengan ‘wacana dari kampus swasta’.” Semua mengamini saat aku mulai angkat bicara. Bahkan U’ul menunjuk-nunjuk,”tuh! Benar, kan?”

“Iya!” aku mulai jengkel dengan tingkah mereka yang menganggapku penghianat. “Cuma aku heran, dia bilang kalau aku mencalonkan diri. Padahal semua yang di sini tahu siapa yang kita pilih untuk jadi calon Sek Jend dari Korwil DIY-Jateng,” kataku sambil melirik Andi.

“Maaf, Si. Aku memang belum memberitahumu,” kata Andi. Dia merubah posisi duduknya,”Kami sengaja membuat cerita itu sebagai salah satu siasat.”

“Siasat?”

“Ya! Kau tahu bagaimana komentar mereka tentang calon tunggal dari Korwil DIY-Jateng?” kali ini Nanang mulai bicara. “Mereka menganggap hal ini arogansi Korwil. Kabar pencalonanmu dapat meredam tuduhan mereka. “

Aku rasa di ISMAFARSI, istilah ‘arogansi’ selalu di dengungkan jika ada delegasi yang begitu bersikukuh dengan pendapatnya. Aku tahu perasaan mereka jika dicap demikian. Masih kuingat Mbak Ulin yang tersinggung dengan istilah itu. Tapi saat anak-anak mencoba mengatasi cap ‘Arogansi’ itu dengan menyebarkan kabar bohong tentang diriku, apa itu bisa dimaafkan?

“Nah, sekarang aku minta tolong padamu, Si. Tolong kamu juga mencalonkan diri pada pemilihan nanti sesuai dengan siasat,” lanjut Andi.

“Apa?! Bukankah kemaren waktu rapat Korwil sudah diputuskan kalau calon sekjend dari DIY Jateng itu Cuma kamu? Lalu kenapa sekarang….

“Aku tahu, Si,”potong Andi, menenangkanku yang seang tinggi. “Seperti yang kubilang tadi, ini hanya siasat agar terlihat bahwa calon dari DIY-Jateng tidak hanya satu. Kamu bisa, kok… Cuma mengisi formulir pendaftaran calon sekjend lalu mencabutnya lagi satu hari sebelum pemilihan. Sekali lagi ini Cuma siasat!”

“Kalian bisa cari orang lain,kan? Kenapa harus aku?” teriakku.

Udin menyenggol lenganku. “Si, tidak ada salahnya kamu coba,”katanya lalu berbisik,” sudah saatnya Solo juga ikut unjuk gigi.”

Dengan lirih aku menjawab,”Tapi aku tidak berambisi jadi Sekjend ISMAFARSI. Kenapa tidak kamu saja?”

“Tidak bisa, Si. Kau tahu, kan.. kalau kampusku belum resmi jadi anggota,” bisik Udin lagi. Universitas Muhammadyah Surakarta memang masih berstatus peninjau.

Andi berdehem. Aku dan Udin menoleh kikuk.

“Bagaimana, Si?”

Udin memberi isyarat agar aku menerima tawaran itu.

“Baiklah, aku akan berpikir dulu.”

“Nah, gitu, dong!” perkataan Andi diamini yang lain. Puas, ya… bikin kelimpungan orang?

ARTI DIRI

Koridor  sudah lenggang, berbeda dengan beberapa waktu lalu yang rebut oleh panitia yang lalu lalang. Suara dengkuran terdengar dari setiap kamar. Aku masih memikirkan keputusanku yang menerima begitu saja kemauan anak-anak Korwil. Aku ragu apakah mungkin semua itu aku lakukan, mempermalukan diri sendiri. Itulah istilah tepatnya jika aku lakukan semua itu.

Sampai juga aku di kamar. Dian dan Ela ternyata belum tidur.

“ADa apa, Mbak?” tanya Dian saat aku memasuki kamar dengan muka tertekuk dua belas dan tekukan ke tiga belas sudah mulai tampak.

“Mereka menyuruhku mencalonkan diri,”jawabku.

“Wah, Tunggu apa lagi? Iyakan saja tawaran itu!” seru Dian antusias.

“Oh, ya? Jadi kau  mau dijadikan tameng dari senjata tajam yang seharusnya ditujukan untuk orang lain?”

“Tunggu, Si. Aku tidak tahu maksudmu,” Tanya Ela.

“Iya, Mbak. Memangnya ada apa, sih? Kalau memang Mbak tidak siap untuk mencalonkan diri, tidak usah dipaksakan.” Dian berusaha menenangkanku.

Aku duduk dengan nafas naik turun, “Kalian tahu? Mereka menyuruhku mencalonkan diri untuk mengatasi stempel ‘Arogansi Korwil’ yang dikenakan pada Korwil kita. Hanya sebagai siasat, katanya. Aku bisa saja mendaftarkan diri lalu mencabutnya satu hari sebelum hari H.”

“Kata hatimu sendiri bagaimana, Si?” tanya Ela padaku.

“Entahlah, Ela. Mereka sudah menyebar kabar kalau aku mau mencalonkan diri tanpa sepengetahuanku. Tentu saja aku kaget. Apalagi waktu Agus Hilman mendukung pencalonan diriku itu.”

“Mbak, aku rasa mbak harus berpikir jernih. Jangan mengambil keputusan dengan terburu-buru. Ingat, Mbak, kita di sini mewakili kampus. Ya, saya tahu Mbak nantinya mencalonkan diri sebagai diri Mbak pribadi tapi biar bagaimana pun nama kampus kita tetap dipertaruhakn.” Dian tiba-tiba saja jadi terlalu bijak hingga mampu mengkuliahiku tentang posisiku selama di Padang ini.

“Kalau memang Mbak ingin mencalonkan diri, itu harus  dari niatan Mbak. Jangan karena ancaman ‘Arogansi Korwil’,” lanjut Dian.

Ela mengamini perkataan Dian. Aku putuskan ke kamar mandi untuk cuci muka dan kaki lalu gosok gigi. Selesai dengan rutinitas itu, ternyata Ela dan Dian belum juga tidur. Aku bergabung dengan mereka dalam obrolan sebelum tidur.

“Aku tahu siapa cowok yang diincar Mbak Sisi di pesta itu!” kata Dian tiba-tiba yang membuat dahiku menkerut seketika.

“Siapa?” tanyaku. Sengaja ku test.

“Seseorang dengan inisial Z.”

“Ah, mana ada nama yang dimulai huruf ‘Z’? Iya, gak.. Ela?”

Ela berusaha mengeja satu persatu nama yang dikenalnya di opening party. Eng ing eng… aku menahan nafas saat dia akhirnya mengangkat tangan. “Aku tahu!”

“Zaldy, kan?”

Tuing! Tuing! Habis deh, aku… Ambulanceeee!!!! Aku pura-pura masa bodoh.

“Jangan pura-pura masa bodoh, Mbak.” Dian menggodaku.”Mas Angga dan Mas Agus yang cerita sama aku.”

“Apa?” wajahku sudak tidak bisa diselamatkan lagi.”Berani-beraninya mereka bilang  kalau….

“oh, jadi semua itu beneran?”

Dian dan Ela berteriak serempak diikuti “Huuu” panjang yang keluar dari mulut mereka kemudian. Lebay!

“Lalu bagaimana selanjutnya, Mbak?” tanya Dian.

“Bagaimana apanya?”

“Kisah di Bandung itu, lanjut apa tidak?”

“Entahlah, tapi yang pasti bukan aku yang harus memulai.”

“Kenapa begitu, Si,” Ih… Si Ela ikut-ikut saja.

“Karena cewek memang tidak mungkin memulai hal semacam itu. Cowoklah yang selalu ambil inisiatif.”

“Ah, itu sih cewek kuno namanya,” kata Dian sambil mengibaskan tangan. “Lalu bagaimana jika dia tidak mau memulai dan tidak mau ambil inisiatif gitu?”

“Ya, berarti kisah itu tidak berlanjut. Habis perkara!” kataku sewot.

“Benar, nih? Nggak nyesel kalau kisah itu tidak berlanjut?”Diannnnn!!! Nih anak, gak habis-habisnya bikin keki. “Awas, ya, kalau nanti pulang ke Solo dengan wajah ‘MUPENG’.”

“Uh, ngaco!” Aku berusaha mencubit lengan Dian. Tapi kali ini dia lebih gesit. Rupanya pengalaman di ruang makan tadi cukup membuahkan reflek terhadap cubitanku yang keras. Dia menghindar dengan naik tempat tidurnya yang memang bertingkat di atasku.

“Sudah ya, Mbak. Dian ngantuk! Dada, Ela,” pamit Dian pada Ela dan Aku sebelum tidur.

Aku pun menaiki tempat tidur. Demikian juga si Ela. Tiba-tiba aku merasa tenggorokanku gatal dan batuk-batuk.

“He! Yang di atas jangan gerak saja, dong… debunya bikin batuk!” protesku pada Dian.

“Siapa yang gerak? Aku kalau tidur tidak banyak gerak kok, Mbak. Mbaknya sendiri saja yang batuk,” jawab Dian.

Aku menutup muka dengan bantal. Aduh, sesak! Bodoh! Siapa suruh nutup muka dengan bantal? Tapi Diab tidak bohong. Dia memang tidak banyak bergerak dalam tidurnya. Lalu kenapa tenggorokkanku jadi gatal begini? Ah, mungkin karena pergantian udara.

Aneh, kenapa Dian bisa tahu tentang Zaldy? Aku bahkan tidak menyangka kalau Agus dan Mas Angga tahu tentang Zaldy. Malam ini Agus pasti sibuk dengan posisinya sebagai ketua OSPEK. Tiba-tiba aku merasa bersalah karena meninggalkan tugasku sebagai sekretaris di kepanitiaan OSPEK.

Mas Angga dan Agus adalah delegasi yang hadir bersamaku saat Pramunas ISMAFARSI di Bandung. Pada waktu itu aku masih ‘yunior’. Mereka menganggapku masih kecil bahkan sangat melindungiku. Kini aku merasakan kalau perlakuan mereka itu begitu berarti. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Apakah hal ini di sebabkan karena aku telah merasakan repotnya membimbing Riki dan Dian dalam Munas ini?

Mas Angga tahun ini sibuk dengan skripsinya dan Agus dengan OSPEK. Hal yang membuatku bersalah pada Agus adalah persoalanku dengan ‘nya’ yang melibatkan kepanitian OSpek kali ini.

Kejadian hari Rabu kemaren teringat lagi. Aku membentak ‘nya’ karena tingkahnya terlalu sok penting. Sok mengatur padahal sudah tidak ikut kepanitiaan OSPEK lagi. Aku bahkan tidak tahu kenapa peristiwa itu terjadi. Hal itu kulakukan demi kesolidan kepanitiaan OSPEK, atau karena masalah pribadi?

Tenggorokanku masih terasa gatal. Aku berusaha memejamkan mata walau pun pikiran-pikiran itu masih bersliweran di kepalaku. Esok… apa yang akan aku alami? Tidak ada yang tahu. Yang aku tahu, aku bukan lagi Yunior yang mengikuti kegiatan kampus hanya untuk having fun. Aku harus memikirkan setiap perkataan dan tindakanku. Jangan sampai segala keputusan terlampau idealis sehingga sangat sukar untuk terlaksana, namun jangan sampai terlalu asal-asalan jua. Dan yang paling penting dari semua itu…..     I AM SENIOR NOW

-THE END-

Something to remember

Something to remember

(One Short )

Huft, udara begitu lembab. Sepertinya akan turun hujan. Kalau saja tidak karena pacarku, Eun ye minta di antar ke asrama mahasiswa, yang merupakan lokasi  South Korean Medical student organization conference, mungkin aku tidak akan terdampar di sini. Sekalinya ku sanggupi permintaannya, aku malah dicuekin. Dia ngeloyor pergi ke dalam gedung dan gak balik-balik sejak setengah jam yang lalu. Anehnya, dia mengirim sms,”tunggu, Chagiya. Sebentar lagi kelar.”

Menyebalkan! Sudah sejak lama aku ingin memutus dia kalau tidak karena kakaknya yang satu grup band denganku itu. Alasannya sederhana, karena aku rasa makin lama dia makin menyebalkan, terlalu manja. Setiap detik selalu mengkontrol lewat sms. Kemana pun aku manggung, dia selalu ada. Bikin risih menurutku.

“Kau yakin mau keluar sendiri?” lagi enak-enak ngedumel tentang Eun Ye, dua orang cewek lewat di depanku. Salah satunya bertanya pada temannya, seakan tidak yakin temannya itu mempunyai keberanian pergi sendiri.

“Mau bagaimana lagi? Aku butuh film buat dokumentasi di rapat nanti, Shin Ye-a,” jawab temannya, yang berkulit putih dan berambut pendek.

“Tapi, Sun-a…. kamu belum tahu daerah sini,” sanggah orang yang dipanggil Shin Ye. Gadis itu lalu menatapku, dia berhenti sebentar sambil tangannya menahan gadis yang dipanggil Sun agar tidak meneruskan langkah.

Shin Ye melangkah ke arahku, lalu dengan agak ragu menyapa,”Anyong, Sunbae.”

“Anyong,” balasku. Sesaat Shin Ye menoleh lagi ke temannya yang masih berdiri di tempat semula, menatap heran kami berdua. “Sunbae panitia di sini, kan? Bisa tolong antar temanku ke studio foto yang dekat-dekat sini?”

“A…”

“Pleaseeee…”

Baru saja aku mau menyanggah kalau aku bukan panitia, dia sudah memohon. Melas banget kelihatannya. Aku jadi tidak tega dan akhirnya mengangguk. Wajah Shin Ye jadi berubah senang lalu memanggil temannya,”Sunbae ini mau mengantarmu, Sun-a.”

“Kacha!” ajakku pada Sun, ah… siapa sebenarnya namanya. Aku segera menghampiri motor dengan Sun yang mengekoriku sedangkan Shin Ye sudah masuk kembali ke gedung asrama. Baru mau ku naiki motor, ku ingat kalau kunci motorku di bawa Eun Ye. Satu lagi kebiasaan jelek Eun Ye, tidak mau ku tinggal, jadi sebagai jaminan, kunci motorku di bawanya.

“Ada masalah, Sunbae?” tanya Sun.

“Anyi, kunciku dibawa pacarku ke dalam,” jawabku gugup. Lho, kenapa aku sejujur itu, ya? Ngaku kalau sudah punya pacar. Tampak Sun membulatkan mulutnya. “Antarnya jalan kaki saja, Sunbae.”

Kali ini giliran mulutku yang menganga.”Apa tidak capek?”tanyaku.

“Anyi. Sudah biasa. Aku terbiasa jalan kaki pulang-pergi kampus,” jawab Sun.

Well, akhirnya perjalanan di mulai. Lebay! Cuma jalan sebentar saja, kok. Tentu saja diselingi obrolan. “Namaku Lee Dong Hae,” aku perkenalkan diri juga padanya. Tidak enak, sudah bicara banyak tapi tidak tahu identitas orang yang kau ajak bicara.

“Goo Hye Sun Imnida,” balas gadis itu dengan senyum malaikat yang mebuatku melumer seketika. Aneh, waktu pertama kali aku bicara dengannya di dekat motor tadi, rasanya dia tidak semanis ini, tapi kenapa sekarang wajahnya begitu menarik, ya? Lengsung pipitnya itu, aigo…. Jadi pengen nyium, deh.

“Kau sepertinya bukan orang Seoul, ya?” tebakkanku asal. Tapi tidak asal banget, ding… orang Shin Ye tadi nyata-nyata bilang kalau Hye Sun tidak kenal daerah sini.

“Ne, kami dari Bussan.”

“Oh, peserta conference, ya?” tebakku lagi. Memang konferensi itu dihadiri mahasiswa kedokteran se Korea selatan. Gadis itu Cuma mengangguk. Rambutnya yang pendek bergoyang-goyang seiring anggukan kepalanya. Ih… so cute…

“Ini studionya!” teriak Hye Sun saat kami sampai di depan studio foto.

“Kacha!” Aku menarik tangannya agar segera masuk. Ku biarkan dia menemui pelayan studio sendiri. Lima menit kemudian dia kembali dengan raut wajah kecewa yang membuatku bertanya,”Waeyo?”

“Film yang sesuai dengan tustel ini habis, Sunbae,” jawab Hye Sun sambil menunjukkan tustel di tangannya padaku. Oh my God! Jaman sudah digital gini, masih saja pakai tustel yang perlu diisi roll film. Tentu saja tidak ada studio foto yang sedia. “Uni tadi bilang kalau studio foto yang sebelah barat masih punya,” sambung Hye Sun lagi. Studio sebelah barat? Itu berarti berlawanan arah dari gedung asrama. Aku tahu betul itu. Aku jadi senang karena kebersamaanku dengan Hye Sun jadi lebih lama.

“Kacha!” ajakku sambil menarik tangannya. Lalu setengah berlari aku keluar dari studio foto itu.

“Hai! Pelan-pelan jalannya, Sunbae!” teriak Hye Sun. Aku memang lupa diri. Saking senangnya aku mengambil langkah lebar-lebar. Tentu saja Hye Sun agak kewalahan menandingi jalanku sehingga dia jadi agak berlari. “Oh, miane,” sesalku.

——<*>——-

“Pokoknya sekarang kita putus!” teriak Eun Hye tepat di mukaku. Pada waktu itu, dia datang ke kampusku. Marah-marah tak jelas. SEdikit berbagi rahasia, sudah sebulan aku mencuekkan Eun Hye. SMSnya tidak ku balas, telpon juga tidak kuangkat. Sengaja, sih… Menurutku, buat apa harus mempertahankan hubungan yang saling menyiksa diri masing-masing.

“Oke, siapa takut!” sahutku cuek. Secepat kilat dia enyah dari depanku dan terus terang angin surga mulai bertiup ke mukaku. Yuhuuuuu! Akhirnya bebas juga dari nenek lampir itu.

Goo Hye Sun, ku ketik nama emailnya di pencarian friendster. Nah, ini dia. Segera ku add akun Hye Sun dengan harapan dia bersedia mengapprove permintaan pertemananku. Tidak sampai sepuluh menit, dia sudah merespon. Well…. Senangnya aku.

—–<*>—–

Lima tahun kemudian……

“Lee Dong Hae-ssi, sebagai seorang penyanyi solo terbaik tahun ini. Saya dengar, anda juga berhasil dalam studi anda. Dan kabarnya rancangan gedung hasil skripsi anda di beli oleh pengembang asing. Is it true?” tanya reporter KBS TV pada seorang penyanyi terkenal, Lee Dong Hae. Para Fans yang hadir di studio semakin kagum. Teriakan histeris terdengar lagi.

“Saya berusaha sebaik mungkin,” jawab Dong Hae.

“Bisa kami tahu rancangan gedung apa itu?” tanya reporter itu lagi. Lee Dong Hae tampak mengingat-ingat karena sudah tiga tahun yang lalu dia diwisuda.”Judulnya Something to remember.”

“Something to remember? Maksudnya?”

“Saya punya teman di dunia maya. Dia selalu berkeliling dunia untuk aksi sosial karena tugasnya sebagai ketua South Korean Medical student organization. Dia selalu update foto di blognya dengan latar belakang bangunan-bangunan khas Negara yang dia kunjungi. Bangunan-bangunan itulah sumber inspirasi ‘something to remember’. Perpaduan arsitektur kontemporer dan tradisional dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan,” jelas Dong Hae panjang lebar.

“Oh, great! Bisa saya tahu juga nama blognya?” tanya iseng reporter. Dong Hae hanya tertawa.”Dia sudah lama tidak mengupdatenya.”

Penonton menyuarakan kesedihan hati Dong Hae juga. “Jadi bisa dibilang anda kehilangan kontak dengannya?”

Dong Hae mengangguk.

Sejak saat itu para Fans jadi bertanya-tanya siapa sebenarnya teman maya seorang Lee Dong Hae. Tak heran jika akunt jejaring social Dong Hae jadi rame dikunjungi Fans. Anehnya tidak ada apa-apa yang bisa mereka dapat. Bahkan yang di follow Dong Hae di Twitternya kosong. Ya iyalah… akunt itu kan dibuat setelah Dong Hae terkenal, lagian  yang diadd Dong Hae kan Friendster, bukan Facebook.

Hari-hari Dong Hae pun berlalu seperti biasanya. Gossip dia sedang dekat dengan artis A, artis B, artis C….sudah biasa! Resiko jadi penyanyi terkenal memang begitu. Manggung sana-sini, itu pula rutinitas Dong Hae selama ini. Belum lagi pekerjaannya sebagai arsitek lepas di perusahaan pengembang asing. Sungguh menyita waktu hingga ketahanan tubuhnya down dan terjadi gangguan pada pita suaranya.

Sekarang di sinilah dia. Di Seoul International Hospital dengan suara serak-serak becek, diantar Ommanya buat periksa ke dokter (?)

“Makanya punya tubuh itu jangan diforsir!” omel Sang Omma saat mereka menunggu giliran di ruang tunggu. Mereka menunggu di eksecutive lounge sehingga tidak ada penggemar rese yang teriak-teriak tak jelas memanggil Dong Hae. Dong Hae Cuma bisa meringis tanpa pembelaan. Kalau lagi sakit memang sikap manja Dong Hae kambuh. Tidak bisa lepas dari perawatan lembut Ommanya.

“Kau seharusnya sudah cari pendamping hidup, Dong Hae-a. Kalau sakit begini, istrimu kan bisa merawatmu. Jadi Omma tidak perlu datang jauh-jauh dari Jeju,” Mulai deh ni Omma nagih menantu.

“Apa tidak ada satu pun gadis yang dekat denganmu yang kau sukai?” Oh, please…., sudah, dong Omma.

“Tuan Lee Dong Hae?” panggil salah seorang perawat.

Yuhuu… save by the bell! Ups, salah! Save by the nurse!

“Ne, suster!” jawab Dong Hae.

“Dokter Jang sedang cuti, anda akan diperiksa oleh penggantinya. Silahkan masuk!”

Dong Hae memasuki ruangan yang ditunjuk suster itu. Tentu saja masih diikuti sang Omma. Dan…

“Goo…. Goo Hye Sun!” teriak Dong Hae dengan suara seraknya. Ommanya jadi kaget melihat tingkah konyolnya yang bagai melihat hantu di siang bolong. Di depan mereka, dokter muda itu menyunggingkan senyum manis, lengkap dengan lesung pipit yang masih membuat Dong Hae ingin mencium.

“Silahkan duduk, Lee Dong Hae-ssi.”

Oh, senyum itu lagi. Gadis ini tambah manis saja, apalagi dengan rambut panjangnya sekarang ini, batin Dong Hae.

Sang Omma jadi menyenggol lengannya. Bagaimana tidak? Sudah di suruh duduk, itu anak masih melongo saja. Tergagap, Dong Hae menduduki kursi pasien.

“Maaf, Apa keluhan anda?” tanya Hye Sun. Dong Hae berdehem sebentar dan mencoba menjawab. Shit! Kenapa suaraku tambah lenyap begini? Umpat Dong Hae dalam hati saat mendengar suaranya sendiri yang seperti terjepit dan membuat sang Omma ngakak.

Dengan mengulum senyum, Hye Sun mendekat, lalu menduduki kursi di depan Dong Hae. “Coba buka mulut dan julurkan lidah!” perintahnya.

“Aaa…,” jadilah pasien yang penurut, Dong Hae. Setelah mengamati rongga mulut Dong Hae dengan penerangan senter kecil, Hye Sun memasang stetoskop di telinga dan mulai menempelkan alat itu di dada Dong Hae. Detak jantung sang pasien semakin tidak karuan. Tapi bukan detak jantung yang di dengar sang dokter saat ini, lebih ke suara paru-parunya. Ada mur-murkah?

Setelah dirasa cukup. Hye Sun memasang pengukur tensi di lengan Dong Hae. Nah, yang ini tentu saja bikin Dong Hae keki, mau tidak mau Dong Hae menatap mata bulat Hye Sun yang nampak serius mengamati letak alat itu agar pas.

“Bagaimana, Dok?” tanya  Omma Dong Hae saat Hye Sun mulai menuliskan sesuatu di lembar resep.

“Lee Dong Hae-ssi terkena radang tenggorokan,” jawab Hye Sun. Dong Hae hanya bisa menelan ludah, pantas saja sakit sekali rasanya.

“Berapa lama sembuhnya?” tanya sang Omma lagi.

“Saya tadi mendapati ada pembengkakan di pita suara, jadi agak lama. Saya sarankan jangan menyanyi dulu.” Setelah menyobek kertas resep itu, Hye Sun menyerahkan pada Omma Dong Hae,”Silahkan obatnya diambil di apotek.”

“Gomawo, dokter.”

Itulah perjumpaan Dong Hae dengan Hye Sun kembali. Setelah itu kesibukan Dong Hae bertambah satu, yaitu menjadi pengunjung tetap Seoul International Hospital. Tentu saja bukan sebagai pasien. Penyakitan amat! Tapi benar juga, sih… ada saja alasan Dong Hae untuk pedekate sama Hye Sun. Mulai dari sakit perut, lah… gigi tanggal… kesleo… desmorhoe.. ups! Ya gak mungkin lah yao… orang Dong Hae gak punya rahim, kok… mau dismorhoe dari mana?

Seorang Lee Dong Hae yang digilai para yoejaitu harus berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan cinta Hye Sun. Perjuangannya berat karena banyak juga dokter-dokter kece yang sudah mengincar Hye Sun jauh-jauh hari, bahkan sejak gadis itu kuliah tingkat pertama. Apalagi saat Dong Hae tahu kalau direktur rumah sakit itu berniat menjodohkan Hye Sun dengan putranya, yang sedang mengejar gelar doktor di bidang ilmu forensik di Amerika, tambah puyenglah kepala Dong Hae.

Kalau waktu pacaran dengan Eun Ye dulu, Dong Hae risih karena nenek lampir itu selalu mengikutinya manggung. Kali ini Dong Hae yang kelabakan. Hye Sun hampir tidak pernah  bisa menemaninya manggung karena kesibukannya di rumah sakit. Kalau sudah begini, pikiran Dong Hae jadi tambah tidak tenang, mikirin ceweknya dikelilingi dokter-dokter tampan di rumah sakit itu.

—–< * >——

Satu tahun kemudian (Malam ini)

Kami sampai di tempat tujuan tepat pukul tujuh malam. Sebenarnya para orang tua itu tidak mengijinkan kepergian kami malam ini. Alasannya simpel saja, tetamu masih berdatangan walau pesta sudah berakhir. Yap… benar dugaan kalian. Aku dan Hye Sun menikah pagi tadi dan sekarang aku adalah lelaki paling bahagia di dunia.

Ku lirik wanita mungil di sampingku ini, yang menatap bangunan di depan kami dengan sorot kekaguman,”Aigo… indah sekali!”

“Kau suka?” tanyaku. Dia mengangguk-angguk riang, persis enam tahun yang lalu. “Bangunan apa ini?” tanyaku lagi.

“Joglo!” jawabnya sepontan lalu menoleh ke arahku, kali ini dengan sorot heran,”Joglo adalah salah satu rumah adat Indonesia tepatnya Jawa Tengah, bagaimana kau bisa tahu?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Tentu saja aku tahu dari salah satu foto yang ada di blognya, tapi aku masih ingin menggodanya dengan teka-teki hingga aku menjawab,”Rahasia.”

Sekarang dia memonyongkan bibirnya. Aku jadi geli.”Ayo masuk!” ajakku.

Mata Hye Sun tambah melebar setelah berkeliling dalam rumah. Jika dari luar rumah ini tampak seperti ‘Joglo’, interior di dalamnya lebih menunjukkan kesan Korea. Tentu saja, kami orang Korea. Kenyamanan suasana dalam negeri masih kami butuhkan karena itu aku mendesain kesan korea di rumah ini.

Hye Sun menjatuhkan tubuh capeknya di ruang tengah. Aku juga ikut-ikut, lalu dia menoleh ke arahku dengan menampakkan senyum malaikatnya.”Sejak kapan kau persiapkan rumah ini?” tanyanya padaku.

“Rahasia,” godaku lagi yang sekali lagi membuatnya mengkerucutkan bibir. Kali ini aku tidak tinggal diam. Ku cumbu bibir yang meruncing itu dan membuatnya agak terkejut. Sesaat aku menginginkan lebih, hingga akhirnya tubuh mungil itu agak terpojok di sofa karena ketidaksabaranku.

“Mau menikmati kenyamanan kamar tidur utama?” tanyaku setelah agak tidak rela melepaskan ciuman panas kami. Wajah Hye Sun sudah merah padam, membuat aku semakin bersemangat menggodanya. Tanpa menunggu jawaban darinya, yang menurutku sebenarnya terlalu lama karena aku sudah tidak tahan, kuangkat tubuh mungilnya untuk memasuki ruangan yang ku sebutkan tadi. Istriku tertawa-tawa senang dengan perlakuan itu.

Aku benar-benar melakukan niatanku, memanjakannya sekaligus memuaskan diri atas Hye Sun-ku yang manis. Hatiku sangat bahagia mendengar desahan lirihnya. Itu bukti kalau aku begitu mengagungkannya. Di setiap sentuhan itu, aku berdoa agar Tuhan memberkati pernikahan kami hingga usia kami sama-sama senja nanti. Aku berdoa akan kehadiran anak-anak kami, anakku dan Hye Sun, dan aku berjanji akan melakukan apa saja demi kesejahteraan hidup mereka. Hingga akhirnya dia terkulai lemah di dadaku dan masih bergumam dengan desahan memujaku. Ku kecup ubun-ubunnya yang kini agak basah oleh peluh akibat perlakuanku tadi. Dia tersenyum dengan pandangan mata yang semakin berbinar. Membuatku semakin memujanya.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya. Dia memandang serius ke arahku. Aku yakin ekspresi wajahku sekarang ini menunjukkan mimic heran. Rupanya dia benar-benar melupakan pertemuan pertama kami.

“Kau begitu keras mengejarku, padahal kita sama sekali belum pernah kenal sebelumnya,” katanya lagi. Dia benar-benar lupa dan aku masih ingin membuatnya penasaran.

“Cek saja friendstermu,” jawabku. Sontak istriku itu bangun. Aku jadi kaget.”Mau kemana?” cegahku sambil memeluk tubuh polosnya erat.

“Mengecek friendsterku!” jawabnya seketika. Shit! Kenapa tidak besok saja, sih? Aku jadi membatin. “Anhi, Chagiya. Tidak perlu,” sanggahku.

“Makanya jangan membuatku penasaran terus,” sewotnya. Aku jadi mempererat pelukan, menciumi leher dan punggungnya. Sesaat ku dengar dia mendesah, memendam hasratnya yang timbul kembali. “Please, … jawab dulu,” pintanya  tersengal-senggal. Ku tarik tubuhnya agar berbaring kembali lalu kulakukan sentuhan yang membuat gairahnya meletup-letup. Sesaat dia melupakan pertanyaannya karena pada akhirnya kami melakukannya lagi.

Saat dia merasa lemas kembali, aku masih berada di atasnya. Memperhatikan wajah cantiknya dengan  kedua tangan yang kupakai sebagai penopang tubuh. Dia benar-benar tersenyum sekarang. Senyuman yang kurindukan selama ini, akhirnya menjadi milikku seutuhnya. Ku dekatkan wajahku ke telinganya untuk berbisik,” South Korean Medical student organization conference tahun 2005.”

Kulihat dia mulai mengingat-ingat sesuatu dan aku yakin betul apa yang coba dia ingat. “Jadi kau?” teriaknya kemudian.  Aku mengangguk,”Ne, Chagiya! Aku mencarimu selama ini. Saranghe, istriku.”

“Sarangheyo…” balasnya sambil melingkarkan lengan ke leherku. Well, sekali lagi dia membangunkan ular yang sedang tidur. Tak perduli dia sudah lemas atau tidak?…. Kalian tahu, lah… apa yang terjadi selanjutnya….

—-THE END—-

PRAHARA CLEOPATRA

Pagi yang indah, udara yang segar, suasana menyenangkan yang membuat kedua anak itu riang, bercanda, berkejaran, dan di sana, tak seberapa jauh dari mereka, seorang pria berdiri. Wajah yang bijaksana, sosok tubuh yang tegap, merentangkan ke dua tangannya di muka dan dengan senyum simpatik menyambut diriku yang segera berlari ke arahnya.

Stop!!!…. Stop dreaming, Cleo. Time to get up, now! Ya, ya, aku tahu semua itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini. Rudi, pria yang selama ini ku harapkan jadi sosok dalam mimpi itu, ternyata lebih memilih sepupuku. Sekarang, bagaimana bisa aku tetap memimpikan semua itu?

“Wah sudah bangun, rupanya.”

Nena, teman kuliah yang kuajak ke Jakarta untuk pernikahan Rudi, terkejut melihatku yang tak seperti biasanya karena bangun sebelum alarm berbunyi.

“Jam berapa sekarang?” tanyaku.

“Jam setengah tiga. Wudhu sana!”

Aku segera berwudhu dan mempersiapkan diri untuk sholat tahajud. Keheningan sepertiga malam terakhir menambah khusuk sholat ini. Sesaat kupasrahkan diri di hadapan Ilahi. Dzikir yang mampu menenangkan hati yang bergejolak dan doa yang selalu menjadi hiburanku serta lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang serasa bagai simphoni di telingaku.

Adzan subuh tak jua terdengar. Kuamati suasana sekeliling. Sepi… Beberap orang tidur berdesakan di ruang tengah. Barang-barang perlengkapan pernikahan terlihat terbengkalai di beberapa tempat. Mereka sangat capek dengan kesibukan ini. Kualihkan pandangan  ke pintu kamar Shinta. Pintu kamar itu masih tertutup. Sudah empat hari dia menjalani masa pingitan. Tradisi yang aneh… .

Shinta, saudara sepupuku yang lebih dipilih Rudi sebagai calon istrinya. Semua itu membuatku kecewa. Aku yang lebih dulu tertarik pada Rudi. Seharusnya dulu aku tidak memperkenalkan mereka. Dasar bodoh !

Adzan subuh menyadarkan lamunan. Segera kupenuhi panggilan itu dan melupakan masalah sejenak.

Kesibukan pun berlanjut. Terus terang, aku tidak betah di sini. Rasa iri dan patah hati pada calon pengantin… .

“Hai, kok bengong?” suara dari belakang mengagetkanku. Shinta!

“Kamu kok berani keluar kamar?” tanyaku.

“Suntuk di kamar terus. Eh, kamu lihat Rudi, gak?”

“Rudi? Bukannya kalian tidak boleh ketemu sampai acara pernikahan besok?”

“Aku tahu, tapi…

“Udah deh. Jangan bikin perkara.”

“Tapi, Cleo.”

“Udah sana masuk kamar!”

Shinta menuruti perintahku dengan bibir manyun. Aku muak dengan keadaan ini dimana harus pura-pura baik pada Shinta hanya karena dia sepupuku. Aku tahu, apalah aku dibandingkan Shinta. Kami memang sama-sama cucu nenek dan kakek tapi tetap saja berbeda nasib. Paman Hanafi, Ayah Shinta yang cukup berada, mampu memberikan apa saja untuknya. Sedangkan aku? Mungkin itu yang membuat Rudi berpaling dariku.

“Kau tahu? Semua itu tidak benar,” seorang pria yang tidak kukenal menyelutuk tiba-tiba. Aneh, seolah dia tahu jalan pikiranku. Ku lihat wajah pria itu. Cukup tampan, tapi di mana aku mengenalnya?

“Kau tahu? Jika seseorang telah memutuskan siapakah yang akan mendampinginya, segala sesuatu seperti kecantikan, kekayaan, kedudukan dan status tidak akan masuk hitungan,” lelaki itu menguliahiku dengan kata-kata yang menurutku penuh teori. Mana ada di jaman sekarang yang sarat materialisme masih berlaku hal semacam itu?

“Aku rasa kau sudah terlalu jauh mencampuri urusanku !” Aku bersikap ketus. Dia memang tidak sopan mengingat kami tidak saling kenal.

“Maaf, namaku Levy,” dia menjulurkan tangan. Sekali lagi dia mampu menebak yang ada di benakku. Tak ada yang bisa kulakukan selain membalas niatnya berkenalan.

“Dari mana kamu tahu tentangku?” tanyaku setelah kami cukup akrab.

“Hanya menebak.”

“Menebak?”
“Dari sikapmu.”

“Sikapku? Memangnya sikapku tidak wajar? Atau… terlihat munafik?”

“Tidak,” dia mengibaskan tangannya.”Entahlah, aku cuma tahu. Itu saja.”

Levy segera meninggalkanku setelah menjawab. Aku semakin tidak mengerti. Seseorang bisa tahu isi hati orang lain hanya dengan melihat sikapnya? Ah, mana mungkin?

Akhirnya tiba juga saat itu, saat Shinta dan Rudi menjalani ijab Kabul dan aku yang tidak mampu melihat kebahagiaan mereka. Aku memutuskan untuk keluar dari ruangan yang penuh sesak dengan tamu undangan. Aku menuju ke samping rumah karena di sana terlihat Levy berdiri termenung.

“Assalamu’alaikum,” salamku padanya.

“Walaikumsalam.”

“Aku keluar rumah karena jenuh dengan banyaknya orang di sana,”kataku memulai pembicaraan.”Aku rasa aku butuh udara segar.”

“Jangan munafik. Aku tahu kau keluar karena tidak tahan dengan pernikahan mereka,” Levy menyindir. “Kau lihat rumput ini?”

Levy menunjuk pada rumput yang terbentang di bawah kami.”Kau tahu apa warnanya?”

“Hijau!” jawabku.

“Apa warna rumput di halaman rumahmu di Jogja?”

“Hijau juga?”

“Aku rasa kau sudah tahu maksud pertanyaanku.”

Aku mengangguk. Aku melepaskan sepatu dan menginjakkan kaki telanjang di atas rumput. Rasa dingin menjalar di telapak kaki. Kulihat beberapa tamu memasuki rumah… . Au! Sebuah duri menusuk telapak kakiku. Aku meringis kesakitan. Levi terkejut.

“Tidak, Aku tidak apa-apa, kok. Cuma duri,”kataku sambil memijit-mijit bagian kaki yang terkena duri lalu kukeluarkan duri itu dan mencoba berdiri kembali.

“Sebenarnya kau sudah tahu, kan resikonya sebelum memutuskan untuk mencopot sepatu dan berjalan dengan kaki telanjang di atas rumput?”

Aku mengangguk,”Aku hanya ingin merasakan dinginnya rumput ini di kakiku.”

“Pernahkah kau berpikir bahwa Shinta menikahi Rudi juga dengan resiko?”

“Resiko? Memangnya resiko apa yang harus ditempuh oleh gadis yang menikahi Rudi?”

“Semua pilihan dalam hidup ini penuh resiko, Cleo. Hanya saja kita memutuskan untuk memilih karena manfaatnya yang lebih besar dari rsikonya tapi semua itu tidak membuat resiko itu hilang, bukan?”

“Ah, aku pusing kalau ngobrol sama kamu. Kamu sok filsafat banget, sih? Apa kamu kuliah jurusan filsafat”

“Tidak, Aku sedang menempuh S2 farmasi.”

Aku heran. Cowok semuda itu sudah S2? Wah, salut deh! Tapi cara bicaranya kok seperti ini? Apa dia salah jurusan?

“Kenapa kau tidak ambil saja sisi positif dari kejadian ini.”

“Sisi positif yang bagaimana?”

“Setidaknya bukan kamu yang ada di tempat Shinta dengan kepala pusing menahan berat dari sanggul, make up maupun kebaya yang melilit erat di tubuh.”

Aku tertawa mendengar kalimat Levy. Aku mulai berpikir bahwa dia adalah penghibur yang baik.

Pertemuanku dan Levy memang terbilang aneh. Dia tiba-tiba mendekatiku saat broken heart karena Rudi, menebak semua jalan pikiranku, membuatku berpikir tentang rumput dan resiko setiap pilihan, serta mengambil sisi positif dari suatu masalah.

“Ah, kau terlalu beranggapan baik padanya,” kata Nena setiap kali ku curhat tentang Levy. “Bisa saja dia sok bijak untuk mendekatimu yang lagi broken.”

“Jangan berpikiran jelek!” aku berusaha menampik pendapat Nena meski dalam hati setuju. “Tapi… sepertinya wajah Levy tidak begitu asing? Entahlah… sepertinya kami pernah bertemu sebelumnya.”

“Di mana? Di kehidupan yang lalu?”

“Uh, ngaco!” Kami tertawa berdua.

Seiring waktu berlalu, aku semakin mengenal Levy. Ternyata dia mengambil S2 di kampusku. Kampus yang paling ngetop di kota gudeg. Terkadang kulihat dia di perpustakaan. Dia selalu menyapa setiap kami bertemu tapi kami sepertinya sama-sama tahu dan tidak saling mengganggu jika terlihat sibuk satu sama lain. Sering juga kutemukan dia sholat di masjid kampus. Dia selalu berlama-lama dengan rutinitas yang satu itu. Aku merinding setiap melihatnya begitu khusuk dengan dzikir dan doanya, seolah pasrah dengan maut yang siap menjemput.

Hari ini aku ke perpustakaan untuk mengusir rasa jenuh. Sekedar menuliskan angan dan mimpiku ke buku harian. Tentu saja tentang dua orang anak yang berlari riang di lapangan berumput hijau dan seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka. Dengan senyum yang hangat, mengulurkan tangan tuk menyambutku yang segera berlari ke arahnya.

“Sedang menulis apa?”

Levy mengagetkanku. Aku tidak menyadari kehadirannya karena terlalu asyik. Dia segera duduk di depanku. Kusodorkan buku harian padanya. Sesaat dia membaca.

“Bagus,” dia mulai berkomentar.”Kamu bakat jadi penulis.”

“Itu bukan bahan tulisan.”

“Lalu?”

Aku tersenyum, tidak mungkin kuakui bahwa itulah impianku selama ini.

“Kehidupan yang sederhana. Kehidupan macam inikah yang kau harapkan, Cleo?”

“Aku mulai tidak percaya semua itu.”

“Kenapa?”

“Kehidupan semacam itu hanya terjadi jika kita punya uang.”

“Begitukah anggapanmu tentang hidup?”

“Ya!” aku menjawab penuh semangat.

“Lalu bagaimana dengan cinta? Semua itu pasti terwujud bila ada cinta.”

“Hah?” aku tertawa lirih, “Levy… aku rasa kau terlalu banyak nonton film roman picisan. Di jaman sekarang, masih adakah cinta sesederhana itu?”

“Aku yakin masih ada.”

Kali ini tertawaku agak keras hingga sekelilingku memperingatkan keadaanku yang sedang berada di area tenang. Cowok di depanku ini terlalu optimis dengan keyakinannya.

“Di jaman ini tidak ada cinta buta, Levy. Seorang gadis dari keluarga kaya tidak mungkin melirik pemuda miskin, pemuda cerdas tak mungkin jatuh hati pada gadis idiot.”

Levy terdiam, aku semakin yakin dengan argumenku,”Kau tahu kisah cinta Cleopatra dan Mark Anthony?” tanyaku.

Levy mengangguk.

“Jika saja Cleopatra tidak cantik dan bukan ratu Mesir, apa mungkin Mark Anthony tergila-gila padanya dan memberontak terhadap Romawi?”

Levy tersenyum. Dengan pelan dia bicara,”Kalau pun waktu itu Cleopatra tidak cantik dan kaya, Mark Anthony akan tetap memberontak pada Romawi karean memang begitulah takdirnya. Kenapa sih kau tidak mencari contoh lain?”

Kalimat Levy terdengar menngelikan dan akhirnya ku terbengong melihat tingkahnya yang meninggalkanku begitu saja. Mungkin dia bosan dengan obrolan ini. Ku teruskan saja curhatku di buku harian.

“Bacalah buku ini!”

Levy datang lagi dan menyodorkan sebuah buku padaku. Taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu, judul buku itu. Kemudian dia berlalu lagi. Dasar aneh!

Buku yang tebal. Kewalahan juga aku membacanya. Bukannya semakin jelas, aku semakin tidak mengerti. Menurutku buku itu menjelaskan makna cinta dengan begitu rumit. Serumit itukah cinta? Obrolan tentang cinta pun terus berlanjut. Aku bersikeras dengan pendapatku demikian juga Levy. Orang lain pasti akan mual dan muntah jika mendengar perdebatan kami. Seperti biasa tidak ada yang mau mengalah hingga kesibukanku PKL dan kesibukannya dengan tesis membuat perdebatan ini terputus.”

Setahun berlalu, Paman Hanafi mengabarkan bahwa Shinta sudah melahirkan bayi laki-laki. Wajah Shinta begitu sumringah saat aku datang menjenguk bayinya yang montok dan lucu. Rudi tidak terlihat di sana.

“Di mana Rudi?” tanyaku pada Shinta yang tengah menyusui. Aneh, wajah Shinta mendadak sayu. Tante Rubi segera menarikku keluar kamar.

“Kamu jangan tanya-tanya tentang Rudi lagi,” kata Tante Rubi.

“Lho, memangnya kenapa?”

“Pernikahan mereka kurang harmonis. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi dan selalu diakhiri dengan Rudi yang memukul Shinta.”

Deg! Tiba-tiba anganku melayang pada Levy, kata-katanya tentang rumput dan resiko setiap pilihan terngiang lagi di telingaku.

“Ngomong-omong, bagaimana persahabatanmu dengan Toni?” tante Rubi membuyarkan lamunanku.

“Toni?”

“Iya! Toni Syahlevy.”

“Toni… Syah… Levy?…. Levy?!”

“Iya, dia itu anak Pak Johan, tetangga kita waktu di Malang dulu. Waktu kalian masih kecil, Toni itu suka mengganggumu sampai kau menangis, kan?”

Kata-kata tante Rubi mampu menjawab pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati. Pantas saja aku merasa wajah levy tidak asing. Sosok bocah laki-laki yang selalu menarik rambutku hingga ku menjerit kesakitan, berkelabat di anganku. Semuanya semakin jelas. Sungguh aku menikmati persahabatanku dengannya tapi bukan karena aku naksir atau karena dia tertarik padaku. Aku tahu tidak ada persahabatan antara pria dan wanita. Tapi entahlah?

“Aku akan pergi jauh,”kata Levy di sekian kalinya kami bertemu.

“Kemana?” tanyaku.

“Ke tempat di mana rasa ikhlas menjadi raja, ketulusan sebagai permaisuri dan kemanusiaan adalah hukum yang berlaku. Tempat di mana pamrih terpinggirkan, ambisi terpelanting, kejujuran diunggulkan.”

“Memangnya ada tempat seperti itu?”

“Bukankah semua kitab suci di muka bumi ini menjanjikan tempat itu? Banyak nama yang diberikan, seperti nirwana, sorga… atau… heaven.”

“Jangan bilang kalau kau akan…

“Kenapa? Bukankah semua orang akan kesana? Hanya waktu dan caranya yang berbeda.”

Aku tidak suka dengan tingkah Levy. “Kau membuatku takut. Kenapa kau mengungkap kematian dengan kata-kata indah?”

“Good bye, Cleo… .”

“Levy?” aku memanggilnya pelan tapi dia tidak peduli. Dia berpaling, meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan yang tak terjawab. Kenapa harus kematian?

Gundukan tanah bernisan di depanku masih berwarna merah. Jasad Levy terbaring tenang di dalamnya. HIV-Aids menggerogoti tubuh itu sebelumnya. Perkataan orang-orang tentang Levy yang mengidap penyakit itu karena tranfusi darah mampu menangkis pikiran buruk di otakku tentang sebab-musabab Levy terkena penyakit mematikan itu. Aku merasa kerdil di depan batu nisan itu. Levy yang begitu optimis dengan hidup dan cinta walau pun umurnya tidak panjang. Sungguh beda denganku yang selalu menyalahkan nasib, menyia-nyiakan cinta yang selama ini berada di sekelilingku hanya untuk sebuah cinta yang tak mungkin ku miliki.

Tanpa ku sadari, dia telah menjadikanku obyek dakwah, tentu saja dengan kata-katanya yang sukar dicerna. “Good bye, Cleo,” kalimat terakhir yang dia ucapkan saat perpisahan itu. Begitu singkat, tak serumit kalimat-kalimat yang selalu dia katakan tentang cinta dan hidup. Begitu singkat, sesingkat kehidupan yang di jalaninya.

Namun kehidupan tetap berlanjut bagiku. Mimpi itu pun masih menghiasi setiap tidur, tentang dua orang anak yang berlarian riang di lapangan rumput dan seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka. Dengan tersenyum, direntangkanlah tangannya ke muka untuk menyambutku yang segera berlari ke arahnya.

THE END