THE SECRET II (Temptation of Island — Part 8)

THE SECRET

(Temptation of Island)

Part 8

Angin pantai menelisir wajah Antoine saat Charlie berlari-lari kecil ke arahnya. Ada sedikit kekawatiran menyelinap saat melihat tingkah wanita itu. Kandungannya mulai kentara, Antoine memberikan peringatan padanya dan sepertinya tidak digubris. Kabar angin yang terdengar seakan lebih penting dari pada keadaannya sendiri. Kabar kembalinya Robert Cassidy dan Brian ke Seoul hari ini.

“Charlie, Stop! I’ll go there!” suara jengkel Antoine mengalahkan debur ombak yang menghempas. Para pelaut menoleh pada Charlie. Seakan dijadikan tontonan, Charlie berhenti, menghentak-hentakkan kaki tidak sabar.

Antoine berdiri di depannya dan segera kabar itu terucap dari mulut Charlie. “Kau dengar kabar itu? Cassidy telah menarik separuh kapalnya dan kembali ke Seoul!”

“Apa?” Antoine yang belum mendengar kabar itu terkejut.

“Brian tadi menelphonku. Dia menyayangkan keputusanku agar dia tidak ikut campur,” Charlie mendongak, menatap Antoine yang lebih menjulang darinya. Diremasnya kemeja di dada Antoine. “Antoine, apa maksud semua ini? Aku tidak pernah mengatakan agar Brian tidak ikut campur. Kenapa dia bilang begitu?”

Kening Antoine berkerut. “Kau pernah bertemu Brian sebelum ini?”

“Tidak pernah,” Charlie menggeleng, “Hanya percakapan lewat telephon, itu pun, aku bersumpah, tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu. Sejujurnya bantuan Brian sangat aku butuhkan.”

“Brian bekerja atas perintah Robert. Hanya Robert yang bisa menjelaskan semuanya.. Ayo!”

Antoine memapah Charlie ke arah pavilyun Robert. “Mau kemana?” pertanyaan Charlie membuat mereka berhenti sebentar.

“Menemui Robert.”

“Mereka menuju bandara sepuluh menit yang lalu.”

“Kalau begitu, kita harus bergegas menyusul mereka.”

Menyusul kedua orang itu,  Antoine benar-benar tak bisa mengikuti jalan pikiran Robert. Hanya sependek itukah wujud tanggung jawab Robert terhadap kecelakaan yang menimpa Camille? Jika memang waktu bagi pewaris Bouwens Inc itu untuk kembali ke Seoul sudah tiba, setidaknya dia bisa pergi sendiri. Tanpa Brian, dan tanpa menarik separuh kapal.

Antoine melirik Charlie yang membisu selama perjalanan ke bandara. Sang sopir sepertinya sudah terbiasa dengan kemacetan kota. Besok adalah perayaan Nyepi. Jika mau keluar dari Bali dengan menggunakan transportasi udara, inilah saatnya, membuat lalu lintas semakin merayap.

“Antarkan istriku ke lobi, aku harus masuk duluan.” Antoine membuka pintu mobil dan keluar, padahal jarak menuju pelataran Bandara masih beberapa meter lagi.

“Antoine,” panggilan Charlie pun tidak dia hiraukan. Pria jangkung itu sudah lari menjauh. Charlie mendengus sambil mengusap perutnya, pandangannya tak lepas dari iring-iringan mobil di depan mobilnya yang sama-sama akan memasuki lobi Bandara.

Tinggal lima menit lagi pesawat yang akan ditumpangi Robert tiba. Antoine mencari pria itu di VIP launch. Pandangan matanya menangkap sosok dua orang pria berkulit kuning di salah satu sudut ruangan. Sangat kontras dibanding warna kulit  para turis ras Kauskasia ataupun kulit wisatawan domestik.

“Cassidy.”

Robert mendongak. Antoine langsung memberondongkan pertanyaan. “Ada apa sebenarnya? Apa maksudmu dengan Charlie yang menginginkan Brian tidak ikut campur?”

Brian pun menatap keduanya dengan kening terlipat. Merasakan kecurigaan Brian, Robert berdiri dan berbisik di telinga Antoine. “Ini hanyalah cara agar pemuda itu mau pulang.”

Antoine melirik Brian. “Memangnya kenapa?”

“Pemuda itu… kau pasti ingat, kan?” Robert memandang lurus ke mata Antoine. Antoine menyipitkan mata sementara berpikir. Setelah tahu maksud isyarat Robert, Antoine menggeleng. “Tidak mungkin!”

Robert mengangguk, “Iya.”

Ada bayangan-bayangan masa lalu yang mulai menghantui kepala Antoine. Terakhir kali mereka bertemu dengan Brian kecil adalah sehari sebelum Camille lahir. Seharusnya Charlie tidak boleh melihatnya lagi, atau pun Ayah anak itu… atau…. Atau…

“Antoine,” Charlie muncul kemudian. Ketiga pria itu menatap dengan perasaan masing-masing. Robert yang ketakutan jika kebohongannya pada Brian terbongkar. Antoine yang tiba-tiba ketakutan jika Charlie terus berinteraksi dengan Brian dan Brian sendiri melihat Charlie sebagai dewi penolong yang bisa mengurungkan perintah Robert agar dia kembali ke Seoul.

Masih dengan kekawatiran, Robert berbisik pada Antoine. “Urus dia dengan baik. Jangan sampai dia tahu semuanya.”

“Nyonya d’ Varney, senang sekali anda menghantarkan kepergian kami,” Robert membungkuk pada Charlie, menawarkan basa-basi ala Korea.

“Kenapa kau menarik separuh kapal?”

Bersamaan itu, pengumuman tersedianya pesawat  terdengar. Seakan diselamatkan oleh keadaan, Robert berkata lega,”Saya sudah menjelaskan segalanya pada suami Anda, Nyonya. Dengan rendah hati saya mengaku kalau sedang kesulitan dana sekarang. Jangan kawatir. Kapal yang disewa oleh suami anda sudah lebih dari cukup.”

Charlie menaikkan alisnya. Robert melihat hal itu dan teringat sosok Charlie Bouwens. Charlie sudah menaruh curiga, mereka harus segera pergi dari Charlie. “Brian,” panggil Robert agar pemuda itu segera mengikutinya menuju pesawat. Brian yang menurut, berjalan di belakang Robert dengan menarik dua travel-bag di tangan kanan-kirinya. Satu miliknya, satu kepunyaan Robert. Saat melewati pasutri itu, Brian membungkuk hormat lalu melangkah lagi.

Tinggal Antoine saja yang tersisa di depan Charlie. Pandangan wanita itu menuntut jawaban dari suaminya. Antoine merangkulnya kemudian. “Kita kembali ke pavilyun.”

“Tidak! Sebelum kau jelaskan semuanya,” Charlie membebaskan diri dari rangkulan Antoine lalu melipat kedua tangan di dada. Antoine menggaruk-garuk tengkuk kepalanya sendiri untuk menghilangkan kegugupan. “Seperti yang dikatakan Robert tadi.”

“Lalu Brian?”

“Brian adalah tangan kanan Robert. Jasa Brian sangat dibutuhkan di Seoul.”

“Lalu yang katanya aku menginginkan Brian tidak ikut campur?”

“Itu hanya akal-akalan Robert agar Brian mau kembali ke Seoul.”

Charlie menghela nafas setelahnya. “Oh, jadi seperti itu?”

Senyum Antoine seperti dipaksakan, tapi setidaknya Charlie sudah mau dirangkul lagi. “Iya, sekarang kita kembali. Kau harus tidur siang, kalau tidak bayi ini akan protes lagi.” Tangan Antoine yang bebas mengelus perut buncit Charlie.

“Brian yang malang. Dia begitu penurut di depan Robert Cassidy.” Bukannya segera jalan, Charlie malah kepikiran Brian. “Aku bisa lihat kalau pemuda itu enggan meninggalkan Bali. Dia bersungguh-sungguh dalam mencari Chamille. Sayang…,” Charlie menatap wajah Antoine. “Kau yang lebih tahu interaksi pemuda itu dengan Camille selama di Seoul. Apakah Camille juga tertarik dengannya? Jika iya…, akan lebih baik jika Brian menjadi calon menantu kita.”

“Kau bicara seolah Camille ditemukan besok,” Antoine mulai membimbing Charlie meninggalkan ruang tunggu.

“Besok kita mulai mencari tanpa mereka.”

Antoine menggeleng,”Tidak! Besok perayaan Nyepi. Semua kegiatan terhenti selama dua puluh empat jam.” Charlie menatap Antoine dengan pandangan kurang paham. “Nanti aku jelaskan diperjalanan.”

Brian sebagai menantu keluarga d’ Varney? Dalam hati Antoine berkata tegas, tidak!

Sementara itu, Brian dan Robert  sudah berada di dalam pesawat yang menembus mega. Tidak seperti biasanya, Robert lebih menikmati penerbangannya saat ini. Dia tertidur. Hal yang jarang Brian temui jika bepergian dengan bos-nya itu. Robert selalu disuguhi dengan file-file yang harus ditanda-tangani di atas pesawat, atau menghafalkan pidato untuk pembukaan event. Tapi sekarang lain, pria super sibuk itu tertidur. Janggal memang, apalagi jika ditilik kepergiannya saat ini. Tanpa pesawat pribadi dan setengah lusin asisten seperti biasanya. Hanya ada Brian di situ. Sangat kentara jika kepergian itu terburu-buru.

Brian memandang awan dari balik jendela pesawat. Pulau Bali telah tertinggal beberapa kilo meter dibawah mereka. Sebentar lagi kesibukan di Seoul menanti. Brian tidak tahu bagaimana harus kembali ke masa itu, meninggalkan impiannya atas Camille. Walau pun gadis itu mungkin sudah mati dimakan ikan seperti anggapan orang-orang lokal Bali, seperti halnya Charlie, Brian percaya kalau Camille masih hidup. Brian bisa merasakannya. Setiap malam, gadis itu menghantui tidurnya, menyerukan keinginan agar Brian tak berhenti mencari. Hanya tinggal satu kapal yang ada dibawah komandonya dan itu pun juga dibawah komando Charlie. Tanpa uang Robert Cassidy, kesembilan kapal itu ditarik karena kehabisan dana. Brian mengutuki kemiskinannya.

Bayangan Camille datang lagi di angannya. Senyum lebar Camille saat dia mengajak gadis itu di Namsan Tower. Dia sudah benar-benar jatuh cinta waktu itu. dia jatuh cinta pada karakter Camille yang apa adanya. Spontanitas Camille yang selalu menunjuk jika ada obeyek menarik yang terlihat dari kereta gantung sembari berucap,”Look! So tiny from here.” Dan dia tersenyum. Camille belum begitu fasih berbahasa Halyu. Beberapa kalimat bahkan serasa lucu terdengar, namun dalam sehari peningkatan ‘conversation’nya bertambah.

“What is lover gate?” tanya Camille saat menuruni kereta gantung.

“Lover gate? Jembatan cinta,” jawab Brian asal. Camille memberikan jotosan kecil di bahu pria itu. “I know it! Maksudku kenapa diberi nama seperti itu?”

“Kau ingin tahu?”

Camille mengangguk.

“Ayo, ikuti aku,” Brian menarik lengan Camille menuju jembatan cinta. Sepertinya Camille cukup cerdas menangkap maksud ‘lover gate’ saat melihat jembatan itu. gembok-gembok yang dikaitkan hampir memenuhi besi pembatas jembatan. Camille bahkan mengeja salah satu nama di situ. “Kim… Sang..

“Kim Sang Gun,” potong Brian.

“Yah, kau mengacaukan belajar membaca huruf Halyu-ku.” Camille jadi cemberut. Brian terkekeh melihatnya. Namun mata Camille mengerjap kemudian. Brian agak kikuk.

“Jadi …. Pasangan-pasangan itu mengaitkan gembok di sini, lalu membuang kuncinya di laut agar hubungan mereka abadi, begitu?”

Brian mengangguk. Seolah memikirkan sesuatu, Camille mengetuk-ketukkan jari telunjuk di bibirnya. “Bagaimana kalau kita mengaitkan gembok kita?” Brian terbatuk-batuk mendengarnya.

“Hei, jangan berlebihan begitu,” Camille menyenggolkan bahu kanannya ke bahu kiri Brian. Kedua tangannya masih meraba satu persatu gembok yang ada di situ. “Kita bukan pasangan,” kilah Brian.

“Kita pasangan, kok. Pasangan teman, kan?” Camille menatap mata Brian. Brian memalingkan pandangan dari Camille. “Tidak harus pasangan kekasih, kan? Persahabatan yang tulus juga impian setiap orang.”

Brian masih saja menatap pemandangan di bawah jembatan. Pasangan sahabat? Benarkah bisa mengkaitkan gembok di jembatan? Mungkinkah persahabatan itu berubah jadi cinta?

“Ah, aku tak mau tahu,” Camille menyeret lengan Brian.

“Kemana?” tanya Brian.

“Mencari gembok, tentu saja!”

Dan gembok mereka pun terpasang. Bersama gembok-gembok pasangan lain. Gembok dengan nama mereka berdua. Brian pun berharap jika nantinya cintanya bersambut. Sedangkan Camille… sampai saat ini perasaan gadis itu masih misteri  bagi Brian. Hanya Camille yang bisa menjawab kegundahannya jika gadis itu ditemukan utuh dan sehat. Jika tidak, mungkin misteri itu akan terkubur bersama ikan-ikan di perairan Nusa Dua.

—oOo—

Mereka benar-benar melakukan sumpah di depan salib. Pagi hari itu adalah awal yang baru bagi keduanya. Camille menyeret Kwang ke depan salib. Antusias dan percaya diri. Kwang yang agak ragu pun menengadah ke salib yang menjulang beberapa centi dari mereka. “Lalu… apa yang harus aku lakukan?”

Camille tersenyum dan menyenggol bahu Kwang. “Bersumpahlah.”

“Demi apa Camille? Kau tahu kan…

“Ya ya ya,” Camille menggerakkan bola mata jengkel. Udara terhembus dari hidungnya di atas mulut yang dimonyongkan karena kesal. Telunjuk Camille terarah pada Kwang kemudian. “Oke, aku dulu yang bersumpah dan kau harus mengikutiku.”

“Terserahlah,” Kwang menggedikkan bahu. Camille mulai menatap serius salib yang berdiri kokoh. Perlahan tangan kanannya menggapai pergelangan tangan kiri Kwang. Kwang menoleh saat merasakan tangan hangat Camille menggenggam tangannya dan mendengar gadis itu mengucapkan sumpah setia. “Aku, Camille Louis d’Varney bersumpah untuk menjadi istri Shin Hyun Kwang. Selalu bersamanya dalam suka dan duka sampai ajal memisahkan kami berdua.”

“Jadi kalau aku mati, kamu kawin lagi?” tanya Kwang. Camille langsung melotot. Kwang telah mengacaukan suasana khidmat yang sedang dia bangun. “Pertanyaan macam apa itu?” Kuku panjang Camille mencubit. Kwang meringis sambil mengelus bekas cubitan Camille di lengannya.

“Giliranmu,” perintah Camille.

“Oh, oke..,” Kwang berdehem sebab dirasa tenggorokannya mengering. “Seperti tadi, kan?” Camille tambah melotot. Kwang masih saja bercanda. “Oke, oke… dengarkan ini, Cantik.”

Tidak seperti Camille, Kwang memilih menatap wajah Camille saat mengucapkan sumpah. Perlahan kedua tangannya menangkup wajah Camille. Mata lebar Camille mengerjap tepat dibawah pandangannya, sinar keemasan cahaya pagi terpantul di rambut Camille yang coklat kemerahan. Udara pagi dan rasa malu menyebar di pipi gadis itu, mamunculkan rona kemerahan yang menambah kecantikannya. Dan Ya… Kwang bersumpah. Kwang bersumpah demi cinta mereka.

“Aku, Shin Hyun Kwang bersumpah untuk menjadi suami Camille Louis d’Varney. Selalu bersamanya dalam suka dan duka sampai ajal memisahkan kami berdua.”

Kwang membungkuk, menggapai bibir Camille. Ciuman hangat menggetarkan jiwa Camille di pagi hari. Liar, kasar dan menuntut. Benar-benar membuat Camille sesak nafas. Kwang mendengar Camille yang megap-megap bagaikan ikan yang dikeluarkan dari habitat airnya, sedangkan tubuh Camille bergolak di dadanya, bisa dipastikan kaki gadis itu sudah kehilangan daya menyangga. Mungkin sudah jatuh tersimpuh jika lengan Kwang tidak melingkari punggungnya. Saat Camille benar-benar menyerah, Kwang melepaskan ciuman dan menatap wajah pengantinnya yang semakin memerah.

“Masih kuat berdiri, Sayang?”

Tentu saja tidak. Camille benar-benar lemas. Kwang tersenyum menggoda.

“Kau membuatku sakit. Gendong aku!”

Kwang terkekeh mendengarnya. “Oke,” pria itu membelakangi Camille lalu berjongkok. “Naiklah ke punggungku.”  Kwang bisa merasakan Camille langsung memeluk punggungnya. Pria itu berdiri, menggendong Camille di punggungnya menuju rumah pohon.

“Kau tahu … seperti inilah pertama kali aku mengangkatmu di pulau ini,” Kwang menceritakan awal mereka terdampar di pulau ini. Camille yang menikmati punggung Kwang, menempelkan pipinya mencari kehangatan. “Benarkah?”

“He-eh,” Kwang mengangguk, dia merasakan senyum Camille di balik punggungnya.. “Tapi dengan posisi kepala di bawah,” sambungnya sambil tertawa. Jotosan Camille terasa kemudian. “Jahat sekali.”

Tawa Kwang semakin berderai. “Kau berat sekali waktu itu. Sekarang juga berat tapi tidak seberat dulu.”

“Pulau ini membuat berat badanku menyusut.”

“Tidak,” sanggah Kwang. Mereka sudah sampai di depan rumah pohon. “Mungkin karena waktu itu, aku mengangkatmu dalam keadaan bingung.” Kwang merendahkan tubuh hingga Kaki Camille bisa  menapak sendiri di tanah lalu menghadapi gadis itu yang sudah meletakkan kedua tangan di dadanya. “Dan sekarang…, dalam keadaan apa kau mengangkatku?”

Kwang mencium kening Camille. “Dalam keadaan bahagia, tentu saja.” Camille pun menghambur ke pelukan Kwang. “Oh, Kang… aku benar-benar mencintaimu. Sungguh!” Kali ini gadis itu yang membuat Kwang sesak nafas.

Kwang mengelakkan tubuhnya dari rangkulan Camille. “Ehm, tidak-tidak! Jangan katakana kau akan pergi dariku pagi ini,” Camille mempererat pelukan.

“Jika tidak bekerja, kau harus terima hanya makan pisang seharian, Camille.”

Namun kepala gadis itu masih menyender di dadanya. Saat Kwang menunduk, dia yakin kalau mata Camille memejam. “Aku tidak mau memasak hari ini. Kita makan diluar saja, yuk!” Kwang terkekeh saat mendorong tubuh Camille demi melepaskan pelukannya. “Kau semakin ngacau.”

Makan di luar? Memangnya ada restoran buka di pulau?

Camille mendengus. Kwang mulai meraih tas anyaman yang berisi perlengkapan berburu. Dia berkata ketus saat tas anyaman bertengger di punggung Kwang,”Aku mau makan daging kelinci malam ini!”

Kwang menoleh,”Jika kau masih menahanku, elang akan mendahuluiku memangsa kelinci.”

“Setidaknya itu sepadan karena kau meninggakanku di hari pertama pernikahan.” Camille melipat tangannya di dada, mendongak dengan congkak. Kwang menggeleng-gelengkan kepala, tertawa keras. “Lucu sekali,” katanya sambil mengucek puncak kepala Camille seperti anak kecil.

“Aku pergi,”

Camille mendengus lagi.

Pulau ini menjanjikan pemandangan eksotis bagi pengantin baru tapi juga neraka kelaparan bagi orang-orang yang malas bekerja. Tidak ada layanan hotel bintang lima di sini. Semua tersedia, tapi mereka harus berusaha meraihnya. Tidak ada istilah ‘meminjam tangan’ atau pun ‘bantuan’.

Ambillah sendiri atau tidak sama sekali!

Camille sudah bisa menerima cara berpikir Kwang saat membakar ubi jalar di depan pondok. Jika tidak bekerja, jangan harap bisa makan! Atau makan saja pisang-pisang persediaan itu, membiasakan diri bertingkah laku seperti monyet dan bersiap-siap mendapat serangan migraine. Tindak-tanduk Kwang adalah wujud tanggung-jawabnya terhadap diri Camille, dan Camille berusaha memenuhi tanggung-jawabnya sendiri. Camille tersipu di depan bara api. Memikirkan bagaimana dirinya sebelum terdampar dan siapa dirinya sekarang, seorang istri yang memikirkan tanggung-jawab. Dia harus kensekuen dengan langkah yang telah diambil.

Camille berdiri lalu masuk pondoknya. Rumah pohon itu perlu sentuhan feminine, setidaknya malam ini. Malam pertama mereka. Rona merah semakin melebar ke cuping telinga Camille. Dia menuruni tangga tergesa-gesa. Berjongkok di depan bara api demi mengambil ubi jalar yang sekiranya telah lunak untuk ditaruh di tempat penyimpanan lalu menuju hutan setelah memadamkan api.

Sifat melankolisnya lebih menonjol sekarang, saat dia mengumpulkan bunga-bunga liar yang dia kempit di telapak tangan kirinya. Sikap ilmiahnya lenyap sudah, dia tidak menganalisa dari familia, atau spesies apa bunga itu seperti biasanya. Masa bodoh, lah. Yang dia perhatikan adalah keindahan, keharuman dan kepantasan bunga-bunga itu menghiasi pondoknya.

Dan Camille pun melakukannya. Pondok dengan sentuhan feminine. Dia mengingat-ingat apa saja yang Charlie lakukan ketika menghias rumah. Melakukan ‘Mom’s miracle’, seperti yang dikatakan Charlie. Rumah yang kusam pun jadi serasa hangat karena ‘mom’s miracle’ dan Camille menikmatinya saat berbaring sejenak di tempat tidurnya, meluruskan punggung setelah seharian menghias rumah.

“Home sweet home,” desah Camille menirukan kalimat Kwang ketika melihat pondok ini pertama kali. Senyum sipu menghias kemudian, dia membenamkan wajahnya ke tempat tidur. Malu sendiri dengan buah pikirannya.

Saat dia menatap langit-langit kembali. Udara semakin panas. Camille bangkit sambil mengibas-ngibaskan tangannya di dada lalu keluar pondok menuju air terjun.

Kwang sampai di pondok sepuluh menit kemudian. Sepi!

Tidak ada senyuman istri menyambut? Kwang tertawa sendiri sambil menggelengkan kepala, menghalau pikiran itu. Dikeluarkannya kelinci hasil buruannya dari dalam tas lalu disembelih dan dikuliti. Camille pasti tidak tega memakannya jika melihat pembantaian ini karenanya dia selalu menghindari dari Camille saat mengurusi hasil buruannya. Biasanya Camille tinggal memasak sambil berkicau, menanyakan ‘daging apa ini?’ atau ‘dimana kau mendapatkannya?’ tapi siang ini, Kwang ingin membebaskan Camille dari kewajiban memasak karena Kwang sendiri yang akhirnya memanggang daging kelinci itu.

Kelinci panggang sudah siap, namun Camille tidak juga nampak. Rahang Kwang mengeras saat meletakkan kelinci panggang itu di tempat penyimpanan, setelah melewati ruangan pondoknya yang tidak seperti biasanya. Ruangan itu mengesankan, namun keterlambatan Camille membuat Kwang kesal. Apalagi rasa lapar sudah membuahkan bunyi gemuruh di perutnya. Kwang memakan ubi bakar sebagai pengganjal perut lalu mencari Camille.

Tidak susah rupanya menemukan gadis itu. Camille tengah menikmati mandinya. Kwang mengelus dada, mengucap syukur. Hari semakin panas, sebentar lagi kawanan monyet akan segera turun, Camille tidak mungkin berebut sungai dengan monyet-monyet itu. Kwang melemparkan batu kecil tepat di depan Camille, memperingatkan gadis itu pada kehadirannya.

“Sebentar lagi monyet-monyet akan memenuhi sungai. Kau harus naik sekarang!”

Camille menoleh, binar matanya terpancar seiring ulasan senyum. Rambut panjangnya yang basah menempel, melewati di kedua sisi pundaknya demi menutupi dadanya yang telanjang. Kwang terpaku sesaat lalu membuang muka. Gadis itu menyadari pesonanya sendiri. Dia tersenyum, mengerling pada Kwang saat merambat dalam air menuju Kwang. Pria itu berkacak pinggang, berdiri di atas batu pinggir sungai dengan kepala mendongak, menghindari pemandangan erotis yang disuguhkan Camille.

Dan Camille mendekat padanya, masih di dalam air mendongak. “Sepertinya kau yang harus menangkapku,” tantang Camille.

“Tidak akan!” jawab Kwang yakin.

“oh, ya?”

Camille menghentakkan kakinya, mendorong tubuhnya ke atas lalu meliuk. Air bergelepak menerima dentuman punggungnya. Kwang kawatir mendengar dentuman itu lalu memandang ke bawah, ke arah Camille yang ternyata sudah berenang gaya punggung. Tak elak lagi! Kwang kalah lagi! Sekali lagi Camille berhasil menarik perhatiannya. Kwang bisa melihat tubuh polos gadis itu  meliuk-liuk di dalam air. Saat mentari yang tepat di ubun-ubun menyinari tubuh Camille di antara aliran air, menambahkan desiran  aneh di benak Kwang untuk menjamah.

“Tangkap aku! Aku baru mau naik!” tantang Camille.

Kwang mengerang. Tangannya terkepal menahan gejolak dadanya yang turun naik. Gadis itu…? Benar-benar membangunkan singa yang sedang tidur! Tunggu! Singa siapa yang tidur?

Brengsek!

Benar saja. Satu demi satu monyet mulai menuruni tebing terjal di sisi kanan sungai. Kwang mengerang lagi sebelum menanggalkan semua pakaiannya lalu terjun ke air. Gadis itu semakin nakal saja, itulah yang ada di benak Kwang saat tubuhnya membentur permukaan air. Dia berenang mengejar Camille, dan gadis itu sengaja menyelam, menghindarinya. Kwang membenamkan diri lebih ke dalam, mencari Camille dengan pandangan yang terbatas warna biru air di sekelilingnya.

Camille sudah tidak ada. Kwang menggerakan kakinya, mendorong tubuhnya ke atas, mencari Camille dengan kepala di atas permukaan air lalu mendongak ke batu tempat dia tadi berdiri. Camille sudah menggantikannya berdiri berkacak pinggang di batu itu, polos dengan rambut basah dan rembesan air yang mengalir jatuh di antara kedua kakinya. “Kau lamban sekali!”

Kwang semakin gemas. Dia berenang ke arah batu dan Camille sudah berpakaian. “Aku harap kau tidak keberatan pulang telanjang.”

Sial! Camille pulang ke pondok dengan membawa pakaiannya. Kwang urung keluar dari air sementara para monyet sudah mulai mengepung area itu.

 Awas kau, Camille!

Camille tertawa saat melihat penampilan Kwang sesampainya di pondok. Lilitan daun pisang menutupi bawah tubuh pria itu. Camille sama sekali tak bisa menghentikan tawanya hingga air matanya berderai.

“Tidak lucu!” Kwang menunjuk padanya lalu masuk ke pondok. Camille berhenti tertawa, menggedikkan bahu lalu melahap lagi ubi bakar di tangannya. Di dalam pondok, Kwang bisa mendengar tawa Camille yang timbul tenggelam, mungkin Camille masih kesulitan menahan tawa atau mungkin masih teringat kejadian di sungai. Camille ditambah keerotisan pulau tropis yang misterius ini, jawabannya adalah kehancuran. Itulah yang dipikirkan Kwang saat meraih salah satu pakaiannya, hasil rajutan Camille yang terakhir. Benarkah itu? Dan dia menikahi Camille untuk hancur bersamanya? Mungkin!

Kwang mendesah saat berpakaian.

Saat dia keluar dari pondok, Camille sudah lenyap lagi. Sekali lagi Kwang mencari keberadaan gadis itu dan menemukannya sedang duduk di atas pasir pinggir pantai sambil memeluk lutut.

Kwang menepuk punggung Camille dan duduk di sampingnya saat kepala Camille menoleh sesaat sebelum memandang lagi ke laut lepas. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Angin memainkan rambut keduanya. Buih yang ditinggalkan oleh ombak semakin lama merambat, mendekati mereka seiring semakin menggelincirnya matahari. Perlahan kepala Camille menyandar ke pundak Kwang. Dia tertidur. Kwang mengamati wajahnya yang tampak tenang jika tertidur.

“Kau lebih manis kalau seperti ini,” desis Kwang. Seolah itu adalah lagu nina bobo, Camille tersenyum dalam tidurnya. Kwang menghela nafas dan memandang laut lepas kembali. Tidak ada kapal yang melintas hanya ada air yang berbatasan dengan langit di satu garis horizontal. Kwang mulai bisa menerima kenyataan kalau mereka harus berada di pulau ini lebih lama. Lebih lama atau bahkan mungkin selamanya.

 Selamanya… seperti janji yang mereka ucapkan. Itu mungkin lebih baik atau mungkin buruk. Entahlah… mungkin benar kata Camille, apa perdulinya pada hari esok? Mereka menikmati malam. Berpesta dengan kelinci bakar dan merengguk manisnya air yang dicampur dua tetes madu persediaan. Bersulang dengan air madu itu dan berdansa dengan iringan lagu yang keluar dari mulut Kwang. Lagu berbahasa Halyu yang terasa asing di telinga Camille hingga Camille menyanyikan lagunya sendiri.

“Kau pedansa yang buruk,” sindir Camille di akhir dansa mereka.

“Aku bukan kaum sosialita.” Kwang duduk, menghadap jendela yang mengarah ke laut. Camille ikut duduk di sampingnya, menulusur pandang ke obyek pengamatan Kwang. “Apa yang kau pikirkan?”

Kwang menoleh sesaat, tersenyum hingga Camille bisa mendengar desahan nafasnya lalu mengamati laut lagi saat Camille menatap wajahnya. “Entah ini perasaanku saja atau apa, yang pasti aku merasakan kalau pulau ini lebih sunyi malam  ini.”

“Bukankah setiap hari memang pulau ini sepi?”

Kwang mengangguk.”Tapi ini lain, dengarlah… bahkan burung hantu pun enggan berbunyi.” Camille mengapitkan rambut di belakang kedua telinganya, ikut mendengarkan alam bersama Kwang. “Kau adalah pelaut, semua ini tentu lebih mahir bagimu, mendengarkan tanda-tanda alam.”

Kwang terkekeh pelan.”Camille, kenapa pulau ini serasa jauh. Aku bahkan tidak bisa menangkap cahaya dari mercu suar pulau terdekat yang lebih beradab. Pernahkah kau berpikir di mana kita?”

Camille menggelang. “Kita menghilang dari peradaban, Kang. Terimalah itu!” Gadis itu menyandar di pundak Kwang, sama seperti kejadian di pantai. Kwang mengulurkan lengan, merangkulnya dan dia menangadah, menatap mata Kwang yang tepat di atas matanya. Mata itu seakan mencari sesuatu dibalik mata Camille, meragu lalu memejam. Kwang menunduk, menempelkan dahinya di dahi Camille lalu mendesah. “Kenapa kau semakin indah di mataku.”

Pada mulanya mata Camille ikut memejam, namun mendengar perkataan Kwang tadi, dia menatap mata Kwang yang masih terpejam itu dengan dahi yang masih menempel di dahinya. “Karena itukah kau menutup matamu?”

Kwang mengangguk pelan.

“Bodoh sekali.” Camille menangkup kedua belah pipi Kwang, mencium bibirnya lembut. Lalu tangan kanannya menarik kepala Kwang, membekapnya di dada. “Kalau pun kau menutup matamu, Kang.. aku nyata, di mana pun kau mengingkariku… bayanganku akan menghantuimu seumur hidup.” Camille menangis saat mengatakan itu, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika mereka ditemukan. Kwang mungkin terlalu lemah menghadapi dunia, dan mungkin meninggalkannya karena tidak kuat mendengar ocehan para pendengki. Dan jika itu terjadi, Camille akan mengejarnya ke mana pun. “Aku mencintaimu, Kang. Tidakkah kau percaya?”

Kwang mengangguk di dada Camille. Mengangkat kepalanya dan mengusap air mata di pipi Camille. “Aku membuatmu menangis lagi.”

Camille tertawa walau air mata masih mengalir. “Iya, dan kau harus membayar.”

“Hm, sayangnya aku tidak punya apa-apa untuk membayar,” Kwang berdiri, Camille memegangi kakinya. “Bagaimana jika kau membayarnya dengan cintamu?”

Camille masih duduk, melihat Kwang yang menyipitkan matanya, tidak faham atau pura-pura tidak faham. “Ini malam pengantin kita, Kwang.”

“Kau tidak sadar dengan apa yang kau katakan.” Kwang melangkah lagi, namun genggaman Camille di pergelangan kakinya semakin kuat. “Aku sadar seratus persen!” Camille setengah menjerit.

“Tidak!”

Camille berdiri dengan lututnya, tangannya terulur berusaha membuka daerah terlarang Kwang. “Camille, hentikan!” Kwang mundur dari Camille.

“Tidak akan!”

“Kau mabuk!” Kwang menuju pintu keluar. “Daging kelinci itu membuatmu mabuk!”

Camille menghentak-hentakkan kakinya di lantai pondok, membuat bambu-bambu itu berdecit di bawahnya. “Ya, dulu kau menuduhku gila, sekarang mabuk!” Kwang sudah menuruni tangga. Seperti biasanya, menuju pantai jika sedang kesal. Camille berteriak di ambang pintu,”Ke pantai lagi! Selalu saja itu yang kau lakukan kalau menolakku!”

Kwang memang ke pantai. Berjalan kesal, menyepak-nyepak pasir di kakinya dan berteriak. Dadanya serasa meledak ketika berteriak. Camille membuat segalanya serasa gila. Lautan menelan begitu saja teriakannya, membalas dengan suara dentaman ombak ke karang-karang terjal tapi setidaknya ganjalan itu telah melega dan Kwang bisa bernafas kembali. Dia kembali ke pondok dan menemukan Camille sudah di atas tempat tidur membelakanginya dan menangis sesenggukan.

Kwang menghela nafas. Sudah pasti gadis itu menangis. Malam ini adalah malam pengantinnya dan sang suami telah menolaknya. Kwang berjongkok dengan lututnya dan menepuk pundak Camille. “Camille.., aku… .”

“Apa kau seorang gay?” tanya Camille di antara tangisnya. Kwang menghembuskan kekesalan di udara, tak habis pikir dengan ucapan Camille. “Apakah aku jatuh cinta dengan seorang gay?”

“Bukan!”  Kwang hampir saja berteriak. Camille mengangkat mukanya dari bantal, menatap Kwang dengan mata berkaca-kaca. Jika saja semua itu benar, Camille akan mencekik lehernya sendiri. Pikiran itu datang sesaat setelah dia melihat punggung Kwang yang semakin menghilang menuju pantai. Setidaknya itu yang bisa dipikirkan Camille, alasan kenapa Kwang selalu menolaknya.

“Kau tidak jatuh cinta dengan seorang gay,” jawaban Kwang belum juga melegakan hati Camille. Wanita itu duduk, meremas baju di dada Kwang dan menantang, “Buktikan! Buktikan sekarang!”

Baju itu robek di dada Kwang. Camille telah memporak-porandakan pertahanan Kwang. Saat pria itu akhirnya menyerangnya. Tangisan itu berubah menjadi keharuan. Camille pun tersadar. Kwang benar. Dia tidak sadar dengan apa yang dia katakan. Saat semua begitu menyakitkan dan dia menjerit. Kwang gugup, berhenti dan memandang Camille yang menangis di bawahnya. “Sakit? Maaf. Ini yang pertama bagiku.”

Camille terisak. Kwang masih di dalamnya, berdenyut-denyut dan tidak berani bergerak karena takut semakin menyakitinya. Pria itu mengecup dahi Camille, seakan menenangkannya padahal dia sendiri ketakutan. Camille memberanikan diri membuka mata dan menangkap pandangan Kwang yang penuh penyesalan. “Ini juga pertama kali bagiku, Kang.” Camille berusaha tersenyum, mengelus pipi Kwang.

“Aku akan melepaskannya. Aku akan melepaskan pelan-pelan jadi kau tidak kesakitan,” Kwang berbisik di telinga Camille dan bisa merasakan Camille mengangguk. Dan seperti yang dikatakannya, Kwang mulai menarik, perlahan. Mata Camille memejam, menikmati gerakan itu di dalam tubuhnya.

“Tunggu,” Camille mendesah,”Rasanya  enak.” Kwang mengernyit. “Masukkan lagi, Kang.”

Kwang menghentakkan masuk! Mata Camille membelalak menahan nafas lalu mengeluarkannya perlahan seiring tarikan yang dilakukan Kwang. Sepertinya mereka sudah mulai menikmatinya bahkan Camille ingin ritmenya dipercepat. Kwang semakin meleleh di dalam. Camille semakin memuncak. Hingga keduanya terkalahkan. Kwang terbenam di dada Camille yang tak bergerak, merasakan kepuasan sorga malam pengantinnya.

“Kau bukan gay. Suamiku bukan gay.”

Dan hanya wanita konyol yang menganggap Kwang seorang gay.

Camille ditambah keerotisan pulau tropis yang misterius ini, jawabannya adalah kebahagiaan Kwang. Kwang mengkoreksi anggapannya. Seminggu penuh mereka bertingkah seperti pengantin baru. Mengarungi pulau dalam kebersamaan, berciuman bahkan bercinta di bawah air terjun sampai-sampai tak memperdulikan sekawanan monyet yang semakin mendekat. Seakan sudah terbiasa dengan keberadaan mereka, makhluk-makhluk primata itu mengabaikan, seolah ada batasan antara mereka.

Mereka masih suka berselisih. Kwang juga masih suka mengadu ke pantai jika Camille membuatnya kesal atau sekedar berdiri memandang lautan, menatap jikalau ada titik kecil yang semakin mendekati pulau dan berubah menjadi kapal yang menjemput mereka. Lalu Camille berjalan di belakangnya dan bertanya,”Menanti kapal lagi?”

Kwang mengangguk.

“Kita menghilang dari peradaban, Kang. Terimalah itu.”

Kwang tersenyum lalu merangkul istrinya. Berdua mereka menuju pondok. Sekali lagi menikmati malam  penuh dengan keintiman. Kepala Camille yang selalu tertidur di dadanya atau dia yang terkulai di pundak Camille setelah bertekuk lutut di bawah kerlingan istrinya itu. Gadis manja itu sudah berubah menjadi penyihir kecil, menjeratnya diam-diam dan tak mungkin mudah melepas. Seutuhnya, penyihir kecil itu menggodanya namun bersamaan itu… penyihir itu juga menyerahkan segala apa yang ada seutuhnya padanya. Itulah pusaran gelombang penjerat yang tiada akhir dan Kwang tenggelam tanpa ampun. Tak berkutik.

Ini mimpi?

Tidak.

Ini nyata!

Kwang mendapatkan kembali kesadarannya. Suara pagi membuatnya terbangun. Camille sudah tak ada di sisinya. Mungkin Camille tidak tega membangunkan. Kwang tersenyum membayangkan malam penuh pergulatan yang pasti juga menguras tenaga Camille. Namun Camille bangun lebih dulu darinya. Camille semakin rajin akhir-akhir ini. Kwang semakin merasa bagai suami yang sangat disayangi. Senyuman di wajahnya semakin melebar. Dia duduk di tempat tidurnya, meliukkan punggungnya seiring rentangan tangannya ke belakang.

Dia bermaksud keluar pondok dan terkejut sampai di ambang pintu. Camille sudah terkapar lunglai di depan perapian. Bergegas Kwang mendekati Camille, berjongkok untuk mengangkat Camille di pangkuannya. “Camille, kau kenapa?”

Susah payah, Camille membuka matanya. “Kwang, rasanya aku mau mati.”

“Camille! Camille!”

Camille pingsan lagi. Kwang mengangkat Camille di dadanya, masuk ke pondok. Saat Camille terbaring di tempat tidur, Kwang memeriksa setiap bagian tubuhnya.  Tidak ada luka serius atau bekas gigitan binatang buas, yang ada adalah tanda kebuasannya semalam. Muka Kwang memerah karenanya.

“Camille… Camille,” Kwang menepuk-nepuk pipi Camille. Mata Camille terbuka perlahan. “Apanya yang sakit, Sayang.”

Senyum tipis timbul di bibir Camille. Tangan Camille terulur, menyentuh dagu Kwang yang ditumbuhi jenggot lebat.  “Aku tidak menstruasi bulan ini.”

Mata Kwang membelalak, mulutnya setengah ternganga. Pengakuan itu…, itu berarti…

“Aku hamil, Kang.”

Kwang menggelengkan kepalanya. Tubuhnya serasa lemas. Dia mundur, keluar dari pondok, menuju pantai. Binar wajah Camille pun meredup. Kabar ini seharusnya menggembirakan tapi reaksi Kwang sama sekali berbeda dengan yang dia perkirakan. Camille bergerak menyamping, meringkuk memegangi perutnya. Ada kehidupan di dalamnya, kehidupan yang akan mengikat keduanya seumur hidup. Namun sekali lagi Kwang meragu, entah apa yang diragukannya. Camille terisak memikirkannya.

Kwang memasuki pondok sepuluh menit kemudian. Camille masih dalam posisi itu, meringkuk membelakanginya di tempat tidur.  Kwang berbaring, memeluknya, membenamkan wajahnya di rambut Camille. “Maafkan, aku. Aku hanya bingung tadi.”

Camille mengangguk dalam isakkan. Kwang mempererat pelukannya, seolah bisa menenangkan tangisan Camille dengan berbuat demikian. “Aku senang mendengarnya. Tapi membayangkan kau melahirkan di pulau ini tanpa bantuan medis, membuatku takut.” Kwang mendesah. “Aku berdoa tadi. Berharap kita segera ditemukan sebelum anak kita lahir.”

Camille membalikkan tubuhnya, menghadapi Kwang. “Kau berdoa? Pada siapa?”

Kwang menghapus air mata Camille. “Pada sang Budha. Dari kecil, bibiku mengajariku agama itu.”

“Oh,” Camille tersenyum.

“Kau tidak keberatan, kan? Kalau aku memilih agama keluargaku?”

Camille menggeleng. “Anak ini memberikan keajaiban pada Ayahnya. Lihat! Kau sudah memutuskan pegangan hidupmu.” Kwang menghelakan senyuman. “Camille.., bagaimana jika kau harus melahirkan di sini?” Ketakutan itu masih menghantui Kwang.

“Kenapa? Ada kau. Kau sudah pernah membantu Ibumu melahirkan. Kau bisa membantuku.”

“Ibuku meninggal setelah itu.”

Camille tersenyum, memberikan tatapan meyakinkan pada suaminya. “Aku lebih kuat dari Ibumu. Lagi pula, monyet saja selamat melahirkan di pulau ini,” candaan Camille itu serasa garing di telinga Kwang.

“Kau bukan monyet, Sayang.”

Camille mengelus dada Kwang. “Tenanglah, kau terlalu tegang.”  Sekali lagi Kwang bergerak, mengukung Camille dalam pelukannya. “Kau pasti akan kesakitan, Sayang. Melahirkan itu sakit. Aku bisa melihatnya di mata Ibuku waktu itu.”

Camille mengistirahatkan dagunya di pundak Kwang. Menepuk-nepuk punggung Kwang demi melegakan pemikiran suaminya itu. “Aku akan menahan rasa sakitnya, bahkan akan berusaha menikmatinya demi kau. Asalkan kau selalu bersamaku, aku akan baik-baik saja, Kang.”

Kwang menangis pagi itu. Tangisan pertama yang laki-laki itu lakukan setelah bertahun-tahun yang lalu, saat Ibunya meninggal. Dan sekarang dia menangis demi Camille, demi anak di dalam rahim Camille. Dia akan menjadi seorang Ayah. Ya Tuhan, seorang Ayah di umurnya kedua puluh lima dan itu membuatnya bahagia. “Terima kasih, Sayang. Terima kasih.”

—oOo—

“Kita harus kembali ke Toronto,” kata-kata Antoine bagaikan dentuman badai di telinga Charlie. Malam semakin kelam memikirkan Camille yang belum ditemukan dan laki-laki itu mengajaknya pulang. Charlie bergerak, menekuri lagi peta dan hitungan navigasinya. “Kau pulanglah sendiri. Aku akan bertahan di sini.

Antoine menghelakan kekesalan di udara. “Charlie, Ayah sakit di Toronto.”

“Aku tahu!” Charlie membentak. “Tapi di sini cucunya belum ditemukan!”

“Charlie, kau tahu benar kalau aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini. Dalam keadaan hamil! Ayolah, Sayang. Kau masih bisa mengomandoi pecarian dari sana.”

Charlie berbalik menantang Antoine. “Kenapa kau selalu menganggapku lemah! Bukan kau saja, bahkan Nathan, anak kita! Hanya Camille yang menganggapku dewi penolong! Hanya Camille! Dan kau mengabaikannya! Kau membuatnya menghilang di lautan! Kau dulu juga membuatku hampir kehilangannya sebelum melahirkan!”

Antoine mendengar semuanya dan hatinya ambruk.  Peristiwa itu sangat menakutkan, dia begitu ingin membantu Charlie, tapi bahkan Rhesus darahnya berbeda dengan Charlie. Dia semakin hancur mengingat siapa yang akhirnya menyumbangkan darah bagi istrinya. Pria yang seumur hidup dia benci. Charlie menyadari kehancuran itu dan meminta maaf. Tapi sepertinya perkataan Charlie tadi sudah sangat menyakiti Antoine. “Kau sudah berjanji tidak akan mengungkit kecelakaan itu.” Antoine meninggalkan kamar dengan kesal.

“Antoine, aku minta maaf!”

Pintu sudah tertutup! Charlie terduduk di ranjang mereka,  menangis sambil mengelus perutnya. “Aku sudah membuat Ayahmu marah, Sayang. Aku sudah membuatnya marah.”

Antoine menenangkan diri di pantai. Charlie adalah istri yang menyenangkan tapi terkadang tingkahnya tidak terkontrol. Dan mengingatkan peristiwa sembilan belas tahun yang lalu selalu dihindari Charlie, tapi barusan wanita itu menyinggungnya. Kecelakaan yang mengerikan, kesalahan Antoine karena mengajak Charlie ke Seoul. Kesalahan yang harus ditanggungnya seumur hidup. Dia harus berbohong dengan mengatakan kalau dialah yang mengemudikan mobil naas itu. Dia melakukan itu dan Charlie menyalahkannya. Dia tidak ingin Charlie menyalahkan diri sendiri. Dia tidak ingin jika Charlie meragukan dirinya sendiri. Oh, Damn! Kenapa harus laki-laki itu! Tangan Antoine mengepal membayangkan Nick yang berjalan ke arahnya setelah melakukan donor darah. Terhuyung-huyung tanpa memikirkan keselamatan jantungnya sendiri.

“Ini wujud permintaan maafku, Dokter. Maafkan, aku!”

Antoine ingin meninju muka Nick waktu itu. Tapi tanpa darah Nick, kelahiran Camille mungkin tidak akan berhasil karena Charlie terpaksa melahirkan secara Caesar dalam keadaan tak sadar. Untunglah pria itu meninggal enam tahun kemudian. Sementara dia  terus hidup, menceritakan kebohongan itu. Pada kenyataannya, Charlie mengendarai mobil sendiri. Brutal! Entah karena apa dan itu setelah bertemu dengan Nick. Pertemuan itu adalah pengakuan Nick. Atas dasar apa, hanya Nick yang tahu dan terkubur bersama mayatnya di tanah.

Antoine memejamkan mata dengan kepala menengadah. Berusaha memenuhi paru-parunya dengan udara pantai yang lembab. Hingga panggilan Charlie membuatnya menoleh.

“Antoine, aku benar-benar minta maaf,” Charlie berdiri di belakangnya. Ujung kimononya dikibarkan angin dan dia berusaha membekap dengan tangannya. “Aku mohon maafkan aku.” Charlie maju beberapa langkah ke arah Antoine. “Aku akan ikut pulang bersamamu. Aku sudah berpikir tadi. Aku mencoba tidur sendirian di kamar itu tapi ternyata aku ketakutan.”

Antoine mengulurkan tangannya, memeluk Charlie. Istrinya menangis di dadanya. “Jangan marah lagi padaku. Aku mohon, jangan.”

“Tidak akan, Charlie. Aku juga minta maaf.”

Charlie melonggarkan pelukan, mendongak padanya. “Kapan kita pulang, Antoine?”

“Besok! Maaf jika terlalu cepat.”

Charlie menggeleng. “Aku rasa Ayahmu harus tahu tentang cucunya yang akan lahir.”

“Dia sudah tahu. Karena itu sangat ingin bertemu denganmu.” Antoine menikmati pelukan istrinya lagi. Aku mencintaimu, Charlie. Tidak akan kulepaskan.

 

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s