THE MAESTRO — part 3

THE MAESTRO

part 3

Saat kekawatiran Mina semakin menjadi, dan menganggap tindakan Aldian terhadap Joana itu sebagai pembunuhan karakter, dia memutuskan untuk membicarakan hal ini pada Aldian. Takut-takut, Mina mengetuk ruang kerja Aldian. Mina tahu mungkin ini semua terlambat. Usia Joana bahkan sudah sembilan belas tahun minggu depan. Tapi ada kekawatiran aneh yang menyelimuti Mina, berhubungan dengan bertambahnya usia Joana.

“Masuk!” perintah Aldian dari dalam ruang kerjanya. Perlahan Mina membuka pintu besar itu dan berjalan ke depan meja kerja Aldian. Tampak di depannya, pria itu sedang menekuri layar notebooknya. Malam sudah larut dan pria ini masih saja bekerja. Saat Mina hanya terpaku, Aldian memandanginya dan menyilahkan,”Duduklah, Nany.”

Nany adalah panggilan yang diberikan Joana untuk Mina. Wanita paruh baya itu pun menurut, dia duduk, dan saat Aldian mulai memandangi dengan mimic penuh tanya, Mina mengutarakan maksud hatinya,”Miane jika hal ini kurang sopan menurutmu, Doronim.”

“Kurang sopan? Maksudnya?”

Mina berdehem, entah kenapa tenggorokannya serasa tercekat, tapi dia harus meneruskan bicaranya,”Saya merasa cara mendidik Doronim pada Joana itu salah.”

Aldian jadi mengkerutkan kening.”Apa maksudnya salah? Apa Joan tidak bahagia selama di sini?”

“Anhi, bukan begitu maksud saya, Doronim,” tukas Mina cepat-cepat.
“Dhe?”
“Joana jadi mirip dengan Alicia dan saya curiga Doronim sengaja melakukan itu?” jelas Mina sambil mengakhirinya dengan nada bertanya.”Sengaja membentuk Alicia kedua?”

Pandangan mata Aldian jadi menyipit, lalu sambil tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih dia balik bertanya,”Jeongmal?”

Mina mengangguk mantap.

“Aku malah tidak memperhatikan hal itu,” kata Aldian.”Mungkin mereka mirip karena mereka kakak adik.”

Mina Menggeleng.”Tidak mungkin, Doronim. Bahkan saudara kembar pun punya perbedaan watak. Saya berkesimpulan didikan Doronim yang menyebabkannya. Kenapa Doronim harus ngotot membuat Joana tertarik pada music, tari dan sastra?”

“Memangnya apa salahnya? Joan menikmati semua itu dan dia semakin ahli,” ujar Aldian membela diri.

“Entahlah, Doronim. Ada perasaan aneh di hati saya, dan itu mengenai Doronim dan Joana.”

Aldian semakin bingung. Wanita di depannya itu hanya berteka-teki. Kenapa tidak langsung pada pokok masalah? Sebenarnya apa yang dikawatirkan wanita ini?

“Langsung saja katakan apa yang kau takutkan, Nany?” tanya Aldian jengkel. Mina menunduk sambil menutup mata, dia berkata,”Miane, saya… saya tidak berani.”

Aldian mendengus sebal. Lalu dengan tegas dia memutuskan,”Kalau begitu tidak usah kau katakan. Lanjutkan saja pekerjaanmu, Nany. Aku masih banyak urusan dengan laporan-laporan online ini.”

Mina berdiri takut, dia sadar sudah membuat Aldian marah, tapi sebelum meninggalkan ruangan itu, dia berpesan bijak,”Suatu saat anda akan mengerti kekawatiran saya, Doronim. Saya hanya bisa berkata, hentikan semua ini sebelum terlambat.”

Ya, hanya itu yang sanggup diucapkan Mina. Yang membuat Aldian semakin bingung. Kepalanya jadi pusing, sampai bayangan Alicia datang lagi di hadapannya. Ruangan itu bagai tertutup kabut tebal, dan hanya Alicia yang mampu dia lihat. Mengenakan pakaian serba putih dengan rambut terurai dan tersenyum manis hingga Aldian tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memeluk dan berbisik di rambutnya yang harum,”Kau datang lagi, Sayang.”

Alicia melepaskan diri dari pelukan itu, lalu mundur beberapa langkah dari Aldian dan entah angin dari mana berhembus mengibarkan rambut panjangnya, hingga si cantik itu tambah erotis saja. “Aku selalu datang jika kau perlu bantuan, Aldian,” suara si cantik itu lembut.

Ya, Alicia selalu hadir di mimpi Aldian, saat pikiran Aldian kalut. Dan akan tetap begitu entah sampai kapan.

“Kulihat Mina ajhuma menyusahkanmu?” tanya Alicia. Suara itu begitu halus dan jauh, membuat Aldian tak mampu menyembunyikan kegundahan hatinya.”Aku tidak tahu apa yang ditakutkan Nany. Apa salahnya jika Joan mirip denganmu? Bukankah kalian kakak adik?”

Alicia mengulurkan jari-jarinya yang lembut dan segera disambut dengan genggaman hangat tangan kokoh Aldian. “Aku tak dapat memastikannya sekarang, Aldian. Hanya waktu yang bisa menjawabnya, dan saat hal itu tiba, semua keputusan ada di tanganmu.”

Lalu Alicia mencium punggung tangan Aldian,”Keputusan ada di tangan ini, dan saat keputusan baik yang kau buat…

Alicia menghentikan kalimatnya, dan waktu seakan menarik Alicia kembali ke tempatnya, namun sayup-sayup suara itu masih terdengar oleh Aldian,”….. aku mungkin akan berhenti menemuimu…..”

Aldian terbangun dari tidurnya. Rupanya semalam dia tertidur di ruang kerja. Mentari pagi sudah menyambutnya, merembesi celah-celah gorden di ruangan itu.

“Yuhu….! Aku menang !” teriakan nyaring Joana terdengar. Aldian tahu kalau suara itu berasal dari lapangan tenis di belakang manshion. Gadis itu pasti bertanding lagi dengan Daniel, putra dari almarhum kakak Aldian yang seumuran dengan Joana.

Aldian segera berjalan ke pintu kaca dan keluar ke balkon hingga dapat mengamati polah Joana yang meloncat-loncat girang karena berhasil mengalahkan lawan, dan Daniel sangat kesal pada nasibnya hari ini yang dikalahkan cewek.

“Kau mujur hari ini, tapi tidak lain kali,” Daniel membela diri. Joana masih saja tertawa-tawa mengejek, setelah menjulurkan lidah, dia bersuara nyaring,”Jangan membela diri, kalau kalah ya kalah saja. Huuuuu…, masa songsaenim kalah?”

Daniel memang yang selama ini melatih Joana bermain tenis sehingga kedua pemuda ini akrab. Daniel jadi tambah kesal dengan kalimat Joana barusan. Saat keduanya sadar kalau Aldian mengamati dari balkon, mereka sama-sama melambai pada Aldian dan pria itu membalas dengan mengangkat tangan lalu masuk kembali ke ruang kerja.

“Oppa sudah bangun rupanya,” Joana jadi sumringah lalu meletakkan begitu saja raketnya dan berlari meninggalkan lapangan tenis.

“Hei! Hei, mau kemana, kau?” panggil Daniel. Protes karena ditinggal begitu saja. Joana hanya berhenti sebentar untuk menjawab panggilan itu,”Ketemu sama Oppa… Bye!” dan melangkah lagi dengan riang. Daniel hanya bisa memajukan bibir dan memunguti perlengkapan tenis.

Joana berlari riang memasuki manshion dan bertemu Aldian di dekat tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai dasar. Dia segera mengapit, lengan Aldian. Bersama mereka berjalan ke ruang makan setelah Aldian mengucek kepala Joana gemas.

“Oppa pasti lapar,” ujar Joana sambil meletakkan napkin di pangkuan Aldian saat keduanya telah sampai di ruang makan.

“Gumawo,” ucap Aldian dan Joana memeluknya dari belakang saat pelayanan menuangkan sup di mangkoknya.

“Oppa…,” panggil Joana manja, masih bergelayut di punggung Aldian.
“Ne?”
“Rumah ini jarang berpesta, ya?” tanya Joana. Tangan Aldian jadi urung untuk menyentuh sendok sop.”Dhe?”
“Oppa tahu, tidak hari ini tanggal berapa?” tanya Joana lagi.

“Tanggal tiga,” jawab Aldian sambil menoleh ke muka gadis manja itu. Lalu Joana terkekeh.”Kalau seminggu lagi tanggal berapa, Oppa?”

“Tanggal sembilan,” jawab Aldian, dia jadi tahu maksud Joana, apalagi kalau bukan hari ulang tahunnya, hingga pria tampan itu tertawa-tawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kau mau pesta untuk ulang tahunmu?”

“Ne, Oppa.” Joana manggut-manggut. Aldian menghela nafas panjang,”Baiklah…., akan ada pesta tapi tidak di rumah ini.”
“Mwo?”
“Bagaimana jika di JW Mariot?” tawar Aldian.

“Jinja?” Joana tidak percaya dengan kata Aldian barusan, dia jadi melepaskan pelukan dan memandang tajam Aldian dengan mata berbinar.

“Ne…, apanya yang tidak buat Joan-ku yang manis,” goda Aldian sambil mencubit pipi Joana yang memerah. Joana melonjak girang, lalu memeluk Aldian lagi sembari memberi ciuman lengket di pipi kiri dan kanan pria itu hingga menimbulkan suara. “Gumawo, Oppa.”

DEngan riang, Joana lari ke belakang manshion sambil berteriak-teriak,”Dany! Dany! Oppa bilang pestaku akan diadakan di JW Mariot.” Dan Aldian hanya geleng-geleng kepala, geli pada tingkah dan polah gadis manja itu.

BERSAMBUNG

THE MAESTRO — Part 2

THE MAESTRO

Part 2

Song of the Day

MY WAY

By. FRANK SINATRA

And now, the end is near,
And so I face the final curtain.
My friends, I’ll say it clear;
I’ll state my case of which I’m certain.

I’ve lived a life that’s full –
I’ve travelled each and every highway.
And more, much more than this,
I did it my way.

Regrets? I’ve had a few,
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course –
Each careful step along the byway,
And more, much more than this,
I did it my way.

Yes, there were times, I’m sure you knew,
When I bit off more than I could chew,
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall
And did it my way.

I’ve loved, I’ve laughed and cried,
I’ve had my fill – my share of losing.
But now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that,
And may I say, not in a shy way –
Oh no. Oh no, not me.
I did it my way.

For what is a man? What has he got?
If not himself – Then he has naught.
To say the things he truly feels
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows
And did it my way.

Yes, it was my way.

Sebulan berlalu, Aldian mulai sadar bahwa kehidupan harus tetap berjalan. Menanggalkan duka-lara dan berusaha melangkah kembali. Pada akhirnya Aldian menerima tawaran ayahnya untuk meneruskan usaha keluarga. Sebuah pilihan yang sangat bertentangan dengan impiannya. Rupanya kematian Alicia telah banyak membuat perubahan pada diri Aldian. Membelokkan segala usaha menjadi composer orchestra hingga harus menjadi bisnissman yang selalu dikejar waktu dan segala sesuatunya yang serba kaku, bahkan dia pindah jurusan kuliah ke fakultas ekonomi dan bisnis. Impian itu telah mati seperti sang kekasih hati.

Saat orang tuanya memutuskan pension dan menetap di villa peristirahatan di luar kota, Aldian mengajak Joana dan Mina pindah ke manshionnya. Dia benar-benar tak mau menoleh ke belakang. Ditinggalkannya rumah kecil yang penuh dengan kedukaan. Tak satu pun barang yang mereka bawa dari rumah itu selain piano tua kesayangan Alicia.

Rupanya piano tua itu sangat cocok berada di tempat yang baru. Manshion ini memang megah, dengan pekarangan bertata taman yang indah serta pagar besi yang menjulang tinggi seakan pamer keangkuhan. Di setiap sudut ruangan, terlihat tata interior dengan gaya Victoria. Dan piano tua itu mampu menambah kemewahan. Tak seorang pun bisa membayangkan hal ini bisa terjadi. Bagaimana tidak? Piano tua yang selama ini berada di antara barang-barang lapuk di rumah kecil.

Hari demi hari berlalu, Joana yang sibuk dengan sekolahnya dan Aldian sibuk dengan urusan bisnis dan kuliahnya. Piano tua itu masih berdiri kokoh. Aldian tidak pernah lagi menyentuh. Namun bukan berarti piano tua pension karena si kecil Joan selalu memainkannya setiap pulang sekolah. Gadis kecil itu masih mengingat segala yang diajarkan kakak iparnya.

Joana tidak pernah memainkan piano saat Aldian ada di rumah. Dia tahu Aldian tidak suka. Dia yakin suara piano itu akan mengingatkan segala kesedihan. Dalam hati Joana masih berharap Aldian mau bermaian piano lagi. Hal itu selalu dia panjatkan di setiap doa-doa. Membayangkan jika hari itu tiba, Aldian memainkan irama merdu hingga dia dengan gaun putih menari, melompat, tersenyum, tertawa gembira. Telah banyak segala kemungkinan yang dia bayangkan jikalau hari itu tiba. Dilaluinya hari-hari dengan harapan-harapan itu seolah semua itu merupakan pemacu semangat walau pun tahu sangat mustahil terjadi.

Pagi ini, setelah dua tahun berlalu. Joana dibangunkan oleh irama merdu. Sebuah simphoni yang indah yang dia yakini terdengar dari piano tua. Segeralah meloncat dari tempat tidur dan berlari ke sumber suara.

“Tidak mungkin!” itulah yang hadir di benak Joana saat melihat Aldian memainkan piano. Perlahan dia mendekati Aldian. Mendengarkan alunan simphoni itu dengan serius sambil mengingat-ingat lagu apa yang dimainkan Aldian. Tidak, Joana tidak tahu lagu apa itu. Dia belum pernah mendengar.

“Simphoni yang mana yang oppa mainkan?”  tanya Joana saat Aldian selesai memainkan piano.”Joan belum pernah mendengarnya.”

Aldian menoleh, lalu mencolek hidung mungil Joan dan menjawab,”Tentu saja kamu belum pernah mendengarnya, ini gubahanku sendiri.”

Joana mengambil buku not balok yang berada di atas piano. Dipandanginya satu demi satu not di paranada itu. Keningnya berkerut. “Oppa belum menyelesaikan simphoni ini?”

Aldian menghela nafas.”Simphoni itu tidak akan pernah selesai.”

“Waeyo?”

“Karena aku tak mau menyelesaikannya,” jawab Aldian datar.

Joana terkejut mendengar jawaban Aldian. Sungguh simphoni yang indah tapi sayang, Aldian tidak mau menyelesaikannya. Apa yang bisa diharapkan dari simphoni yang belum selesai? Tidak ada tema dan tidak hidup. Kenapa Sesuatu yang indah tidak bisa hidup?

Aldian menangkap kebingungan di wajah Joana. Dia tersenyum dan dengan lembut bertutur,”Mungkin kamu yang akan menyelesaikan simphoni ini suatu saat nantu, Joan.”

Joana hanya tersenyum mendengar ucapan Aldian.

“Saya tidak percaya Oppa mau main piano lagi. Terus terang hari inilah yang selama ini saya impikan. Dan sekarang Oppa akan terus main piano, kan?”

“Mungkin.”

“Lalu, apakah Oppa mau melanjutkan apa yang diajarkan padaku dua tahun yang lalu?”

Aldian tertawa, tak menyangka jika Joana menanyakan hal itu,”Tentu, Joan. Tapi aku tidak yakin apakah kamu masih mengingat pelajaran dua tahun yang lalu.”

“Joan ingat, kok. Tanpa Oppa tahu, Aku berlatih tiap hari.” Joan tertawa mengejek dan menjulurkan lidahnya. Aldian memberikan tinju pelan di dagunya. Sungguh keakraban yang indah. Tak dapat dipercaya hal itu terjadi setelah sekian lama.

Ternyata keakraban itu tetap berlanjut. Di sela-sela kesibukan, Aldian menyempatkan diri untuk memberi les pada Joana. Dia juga menyewa tutor pribadi untuk mengajari Joana music, tari dan sastra. Tiga bidang seni yang sebenarnya terlalu berat diterima oleh anak seusia Joana. Namun Joana memang cerdas, dengan cepat mampu menangkap materi-materi berat itu.

Joana tumbuh dewasa denngan segala didikan Aldian. Terkadang Mina menganggap bahwa cara mendidik Aldian ini salah. Mina selalu berpikir, Aldian ingin menghidupkan Alicia dalam diri Joana. Mina masih ingat betul ketertarikan Alicia pada music, tari dan sastra. Ya, Aldian ingin Joana menjadi Alicia kedua, begitu pikir Mina.

Ternyata Aldian berhasil. Disadari atau tidak, Joana kini benar-benar Alicia kedua. Semangatnya, minatnya, gaya bicara, cara berjalan, cara pandang terhadap hidup bahkan wajahnya yang mirip dengan Alicia.

Selama ini Mina salah menganggap Aldian sudah melupakan Alicia. Aldian telah merubah watak adik iparnya itu hingga mirip dengan Alicia. Bak seorang maestro yang selalu mengharapkan kesempurnaan ciptaannya. Tapi Mina tidak mampu berbuat apa-apa. Apalah arti Mina di mata Aldian selain hanya pengasuh Joana. Dan sebagai wali Joana yang syah, Aldian berhak menentukan segala sesuatu yang menurutnya baik bagi Joana.

“Aku tidak tahu sampai kapan semua ini terjadi. Aku tidak tahu,” suara hati Mina memendam kekawatiran dalam benaknya.

BERSAMBUNG

THE MAESTRO (part 1)

THE MAESTRO

part 1

Long-long time Ago….

Rumah kecil itu memang terlihat lebih menonjol diantara rumah-rumah lain di komplek. Sebuah rumah dua lantai dengan modelnya yang sedikit kuno. Apalah arti model sebuah rumah, mengingat fungsi utamanya sebagai pelindung dari ekstrimnya cuaca. Kenyamananlah yang selama ini diciptakan manusia di dalam rumah. Dari sini kita mampu berkesimpulan betapa manusia merupakan makhluk lemah. Namun bukan hal itu yang membuat rumah pensiunan tentara-Kolonel Goo itu begitu menonjol dilihat mata, hari ini. Hal ini lebih disebabkan oleh mobil Roll Royce mewah yang terparkir di pelataran yang tak lain adalah milik Aldian Lee, calon menantu keluarga ini, yang membuat tetangga kanan  kiri mencibir karena iri. Tak ada yang menyangka bahwa salah satu cucu keluarga itu mampu menggaet Aldian. Siapa yang tidak mengenal Aldian Lee, calon pewaris tunggal pengusaha Harriot Lee. Setiap orang pasti berpikir jika hal itu hanya dilakukan untuk keluar dari kemiskinan yang menyelimuti rumah ini. Itulah mengapa rumah ini selalu dibicarakan oleh ibu-ibu kompleks, tak luput pula penghuni rumah ini yang terdiri dari Kolonel Goo, dua orang cucunya, Alicia yang kini tengah berusia dua puluh tahun dan adiknya yang baru berusia enam tahun-Joana, serta seorang nani pengasuh, Mina Im.

Kakak beradik itu sudah yatim piatu, ibu mereka meninggal karena melahirkan Joana. Hal ini bisa dimengerti mengingat umur sang ibu yang sudah tua ketika mengandung Joana, sedangkan ayah mereka yang seorang pilot itu meninggal karena kecelakaan pesawat yang dikemudikannya. Tiga tahun yang lalu, saat pertama kali mereka memasuki rumah ini untuk hidup di bawah asuhan kakek mereka. Alicia selalu mengurung diri di kamar, menangisi nasib malangnya tanpa perduli pada Joana. Sedang Joana, sikecil ini terlalu muda untuk memahami kesedihan yang ada disekelilingnya.

Betapa cepatnya waktu berlalu, hingga dalam dua tahun, kebahagiaan di rumah ini kembali. Pertemuan Alicia dan Aldian mampu mengubah pandangan gadis muda tersebut tentang kehidupan. Aldian-lah pemacu semangat hidup Alicia. Dan hari ini adalah saat pertama Alicia memperkenalkan calon suaminya itu pada sang Kakek.

Alunan melodi yang dihasilkan oleh permainan piano, kini mampu memecah suasana yang hening, sayup-sayup irama “Love story” terdengar dari ruang tengah rumah ini, menghentarkan dinding-dinding tua di sekitarnya. Terlihat dekorasi ruangan yang tanpa barang mewah kecuali sebuah piano yang kini tengah dimainkan Aldian. Kesedihan, hal itulah yang mampu ditangkap oleh setiap telinga yang mendengar lagu ini. Tak ada yang dapat mengerti kenapa dia harus memainkan melodi sedih pada saat seperti ini. Tak ada yang tahu, begitu juga Aldian. Yang dia fikirkan hanyalah bagaimana membuat kakek sang kekasih itu terkesan.

Aldian berhasil, telinga tua itu dengan penuh pemahaman menikmati alunan pianonya. Alicia tak lepas memandang dengan perasaan bangga. Dan rupanya hal ini juga menarik perhatian Joana. Si kecil Joana segera keluar dari kamar, meninggalkan tugas menggambarnya yang setengah jadi. Sambil berlari menuruni satu-satunya tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai dasar. Setelah hampir sampai di ruang tengah, dia berhenti. Perlahan dia mendekati Aldian. Dipandangnya jari-jemari Aldian yang menari-nari, memencet tut demi tut piano, mengikuti not demi not yang ada di buku music hingga terdengarlah irama indah itu. Kekaguman terpancar dalam pandangan gadis kecil ini hingga mata bulat yang indah itu semakin berbinar, sementara kakek dan sang kakak yang terlena tidak menyadari kehadirannya.

Akhirnya usai sudah permainan piano itu. Kakek dan cucu-cucunya itu bertepuk tangan. Aldian pun mengucapkan terima kasih, terlihat Joana yang sedari tadi berdiri di samping kanannya. Dia tersenyum dan Joana membalas dengan tawanya yang khas anak-anak.

“Hei, siapa gadis kecil yang cantik ini?” ujar Aldian sembari mencubit pipi Joana. Alicia segera menyadari kesalahannya yang tidak mengikutsertakan adiknya dalam pertemuan ini. Dia segera memperkenalkan Joana pada Aldian.

”Dia adalah Joana, dongsaengku. Kami selalu memanggilnya Joan,” kata Alicia. “Joan, ini adalah calon suami Uni, namanya Aldian Lee.”

Joana mengangguk-anggukkan kepalanya yang mungil dan berhias rambut hitamnya yang panjang dan lebat.

“Kau suka piano, Joan?” Aldian memulai pembicaraan.

Senyuman Joana semakin melebar saja, dan anggukan kepalanya itu semakin cepat seiring jawaban dengan suara nyaring yang dia berikan,”Ne…., habis oppa mainnya bagus. Oppa mau mengajariku, kan?”

“Boleh!” Aldian mengangkat tubuh kecil Joana dan mendudukkan di pangkuannya. Dia lalu memperkenalkan Joana tentang dasar-dasar memainkan piano.

Joana tertawa-tawa saat tangannya dalam genggaman Aldian, dituntun dalam memencet tut piano, hingga lagu dengan nada sederhana terdengar dari alat music itu,’Tinckle-tinckle little star’

“Do.. do..sol…sol… la… la… sol. Fa… fa… mi… mi… re… re… do,” senandung Aldian sembari tangannya membimbing bocah kecil di pangkuannya. Dan hal itu berlanjut setiap dia mengunjungi Alicia. Rupanya Aldian memang serius  menepati janjinya pada Joana, hingga membuat Alicia sedikit kesal. Kedekatan Aldian pada si kecil Joan sering membuat Alicia cemburu.

“Kau melupakan rencana kita malam ini.” Protes Alicia, di malam itu, saat dia menghantarkan Aldian menuju mobilnya di depan rumah. Aldian memang lupa waktu, mengajari Joana sampai larut, hingga rencana mereka untuk jalan-jalan di luar pun batal.

Pria tampan itu hanya tertawa dan penuh rasa bersalah dia minta maaf pada kekasihnya yang sedang mayun itu, “Miane… .” Direngkuhnya tubuh itu lalu membawanya dalam pelukan dadanya yang bidang,”Lain kali masih ada waktu untuk kita jalan-jalan.”

Alicia masih saja kesal. “Aku benci kalau dia lebih menarik perhatianmu dari pada aku. Aku selalu iri padanya.”

Aldian melonggarkan pelukan lalu menatap lurus ke bola mata Alicia,”Iri?”

“Ne… , Iri,” pasti Alicia sambil mengelus dada bidang itu.”Aku iri karena dia tidak terpengaruh saat orang tua kami meninggal, dia masih saja bermain dengan riang sedangkan aku harus bersedih.”

“Hai, dia masih tiga tahun waktu itu, tentu saja dia belum bisa merasakan,” Aldian berusaha menyadarkan  kekasihnya.

“Kadang aku berharap kami bertukar tempat,” ucap Alicia asal. Aldian tertawa mendengar semua itu, hingga timbul suatu gurauan konyol di otaknya,”Kalau begitu, dia yang akan menikah denganku dan kau yang jadi anak kecil dengan pelajaran pianonya.”

Mendengar gurauan itu sontak bibir Alicia tambah manyun. Aldian pun jadi tambah geli lalu mempererat pelukannya atas Alicia, menghirup bau harum tubuh kekasihnya itu dan berbisik,”Tapi kau-lah yang akan menikah denganku, seorang gadis yang membuatku lupa segalanya hingga memutuskan cepat-cepat menikahimu setelah lulus SMA.”

 Yup, kecemburuan itu tidak menggagalkan rencana  mereka. Pernikahan keduanya berlangsung sangat meriah. Tak ada alasan yang membuat Alicia cemburu lagi. Kebahagiaan benar-benar terasa di rumah ini, bahkan wajah tua Kolonel Goo semakin sumringah. Apalah yang diharapkan pensiunan tua itu selain kebahagiaan cucunya. Cucu yang merupakan generasi penerus, penerus perjuangan, penerus impian dan penerus kehidupan.

Namun entah kenapa kebahagiaan itu tidak dapat berlangsung lama. Seakan-akan rumah kecil ini begitu alergi dengan kebahagiaan, hingga sangat kerasan dengan sejuta penderitaan. Alicia meninggal karena kecelakaan pada perjalanan bulan madu mereka, sedangkan Aldian harus mengalami operasi pemasangan platina pada kakinya yang retak.

Mata tua Kolonel Goo semakin mencekung, tak ada lagi gairah hidup di sana. Semakin lama, ketahanan tubuh yang dulu pernah dia gunakan untuk membela Negara dari tirani itu hilang dan akhirnya nyawa sudah enggan bersemayam di dalamnya. Beliau meninggal dua bulan setelah kematian Alicia.

Angin bulan Desember bertiup sembari membawa hawa dingin. Alam seakan tahu kesedihan yang memenuhi hati Aldian. Tak ada yang dapat dia lakukan selain berdiri, memandangi dua gundukan tanah pemakaman dua orang yang sangat dicintai. Dia tetap di sana, tak perduli kakinya yang masih belum lepas dari balutan perban, tak perduli tubuhnya yang masih ditopang oleh tongkat penyangga jika harus berdiri. Mungkin kesedihan sudah merupakan zat adiktif ampuh bagi dirinya, hingga tidak dapat merasakan lagi sakit lahiriah.

Joana terdiam melihat perilaku kakak iparnya. Entah apa yang berkecamuk dalam otaknya. Adakah dia tahu bahwa sudah sebatang kara? Setiap orang yang mengetahui nasibnya memandang dengan penuh simpati, kasihan… . Apakah dia menyadari itu?

Joana mendekati Aldian, mencoba meraih tangan kakak iparnya itu. Kehangatan genggaman tangan kecil Joan membuat Aldian sadar dari lamunan. Disekanya air mata yang terbendung di kelopak bawah matanya, lalu menoleh ke arah Joan. Berusaha memberi senyuman pada anak kecil itu walau pun hatinya menolak. SEakan dengan senyuman itu, dia ingin mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Sungguh munafik, dia ingin meyakinkan orang lain padahal dia sendiri tidak yakin apakah keadaan nanti benar-benar baik.

Hari-hari berikutnya seakan berjalan lambat. Kesunyian masih terasa di rumah ini. Aldian belum memutuskan apa pun. Waktu demi waktu dia habiskan untuk melamun. Apakah dia bersedia menjadi wali bagi si kecil Joan? Sedang Joan sendiri hanya mengurung diri dalam kamar. Persis dengan apa yang dilakukan almarhum kakaknya saat kedua orang tuanya meninggal. Setiap kali Mina, nani pengasuh menengok sambil membawakan makanan. Terlihat dia terbaring di atas tempat tidur menatap langit-langit. Mina juga melihat nampan sarapan tadi pagi. “Hanya dimakan sedikit,” pikirnya dalam hati. Namun hal itu masih membuat  Mina lega, setidaknya dia masih mau makan.

Tubuh kecil Joan ternyata belum mampu menahan lapar. Hal itulah yang membuat dia terbangun di malam hari, keluar kamar dan bergegas ke dapur. Sesaat kemudian perutnya sudah penuh dengan biscuit dan susu. Joan segera kembali ke kamar namun ketika melewati ruang tengah, dia berhenti.

Terlihat dari tempatnya berdiri, Aldian tengah duduk di hadapan piano yang terbuka. Mata Aldian memandang tajam ke arah tut-tut piano namun dia tidak hendak memainkannya. Satu per satu rasa berjejal dalam hati seakan tidak mau mengerti bahwa hati itu telah penuh. Dia mencoba mengatur nafas. Jika dia mau, dia bisa menghancurkan piano itu, namun tak mungkin mengingat Alicia sangat mencintai piano itu.

Aldian tetap terduduk. Sunyi… .

Namun tidak demikian bagi Joan yang masih berdiri di tempatnya memandangi Aldian. Di telinga gadis kecil itu mulai terdengar irama yang begitu pelan. Harmoni itu teramat pelan. Dia yakin dibalik diamnya Aldian ada sebuah irama yang Aldian mainkan. Namun irama itu begitu pelan. Sangat-sangat pelan hingga hampir-hampir Joan tak dapat mendengarnya. Joan terduduk, lalu merebahkan tubuhnya di atas lantai. Telinganya ditempelkan di lantai dan berharap dengan melakukan itu, irama hati Aldian terdengar lebih jelas.

Ternyata Joana salah. Irama itu masih sangat pelan. Namun dia tidak putus asa, tetap menempelkan telinganya di lantai yang dingin itu hingga akhirnya tertidur.

 

BERSAMBUNG