THE SECRET II (Temptation of Island) — part 9

THE SECRET

(Temptation of Island)

Part 9

Suara-suara itu menghantuinya lagi. Semakin kentara jika malam tiba. Bola matanya bergerak bimbang dibalik kelopak yang tertutup dan jika sudah begini, mulai terdengar perubahan ritme nafas. Kepalanya mulai menampakkan kegusaran. Apakah itu dia?

Bukan! Itu bukan aku!

Kau bersalah!

Tidak!

“Dasar tak tahu malu! Memohon cinta pada lelaki yang bahkan sudah tak mencintaimu!”

Lelaki itu? Lelaki yang sangat kucintai, dan ternyata….

”Apa yang kau harapkan dari selembar kertas yang ditandatangani secara rahasia di suatu tempat yang bahkan sangat jauh dari asalmu, Charlotte Whitely?”

Charlotte Whitely…. Charlotte Whitely… Siapa dia?….

Itu kau!

Gerakan kepalanya semakin cepat. Bibirnya menggumam, membuahkan igauan yang hanya dia sendiri yang tahu.

Bukan!

Ya…, Itu Kau!

“BUKAN!”

Tubuhnya terdorong bangun. Mata yang membelalak dan wajah memucat, sementara dia harus berusaha menenangkan nafasnya. Hanya mimpi, untunglah hanya mimpi. Dia menoleh ke samping, dimana pria yang sangat dia cintai masih terlelap.

Nick di sini. Itu hanya mimpi. Huft! Mimpi yang membuatku ketakutan.

Perlahan tangannya terulur, menyentuh wajah pria di sampingnya. Dahinya mengkernyit saat mendapati sesuatu yang asing dari lekukan wajah yang teraba oleh telapak tangannya. Tersentak! Dia menarik tangan  lalu  menyalakan lampu knop di dekatnya. Keremangan cahaya bisa memperjelas pandangannya akan wajah pria itu.

Rambut coklat? Kulit…

Tak biasa dengan sinar terang ketika tidur, pria itu membuka mata.

Mata coklat kemerahan?

Dia sendiri membelalak. Seketika panik saat lelaki itu menyandar ke kepala ranjang. Lelaki itu bertelanjang dada dan tersenyum padanya walau matanya masih mengantuk. “Are you wake up, Ma Femme?”

Ma Femme?

Dia merasakan ada yang salah. Dan ketika dia menyadari sesuatu, ketelanjangannya dan perutnya yang membuncit, keringat dingin merembes dari pori-pori kulitnya. “Siapa, kau?” Spontan dia menutupi dadanya dengan selimut.

“Charlie, ada apa?”

“Siapa kau?”

Pertanyaan lelaki itu tak dia hiraukan. Bahkan dia menepis tangan lelaki itu yang berusaha memegang tangannya.

“Charlie, kau mimpi buruk?”

“Aku bukan Charlie!” dia berteriak. Mereka tidur dalam satu selimut, dan dia menarik selimut itu saat berdiri, demi menutupi kepolosan tubuhnya. Panik dan mundur perlahan dari lelaki itu dengan ketakutan dan air mata berderai. Lelaki itu cepat-cepat bangkit dan mengenakan jubahnya.

Lelaki kulit putih! Dia semakin panik.

“Charlie, aku tidak tahu apa maksud semua ini, tapi percayalah ini semua tidak lucu!” Lelaki itu maju perlahan, tubuhnya yang tinggi agak membungkuk dengan tangan kanan terulur, berusaha menenangkannya.

“Aku bukan Charlie! Bukan Charlie!” Dia malah semakin histeris. “Nick… dimana Nick? Nick!” Dia lari ke pintu. Lelaki itu dengan langkah lebar menghadangnya. Dia terperangkap dalam kungkungan lelaki itu. Sekuat tenaga dia meronta, segalanya sia-sia. Entah kenapa teriakkannya seakan tak membuat lelaki itu bergeming. Lelaki itu terpaksa membantingnya di ranjang. Terpaksa! Ada kesedihan di mata lelaki itu saat dia terbaring kembali ke ranjang, menangis kalah karena kedua tangannya masing-masing ditahan oleh lelaki itu.

“Aku tahu kau di dalam sana,” kalimat itu seolah mencari seseorang dibalik tubuhnya. Bukan hanya kalimatnya, bahkan mata coklat kemerahan itu mencarinya. “Charlie, kau di sana?”

Dan semua berangsur gelap baginya. Sekeping ingatan menerobos masuk. Ingatan tentang lelaki yang mengukung di atasnya,”Antoine… .” lalu dia tak sadarkan diri.

“Iya. Iya, Sayang… Iya!”

Antoine menangis. Setengah mengangkat tubuh Charlie, dia memeluk istrinya. Ini tidak mungkin terjadi lagi. Bahkan dia sempat berselisih pendapat dengan Stacy dua puluh tahun yang lalu, sebulan setelah kelahiran Camille.

Stacy!

Antoine tidak menghiraukan perbedaan waktu antara Indonesia dan Kanada. Dia merasa harus menelfon Stacy, memberitahukan tentang Charlie. Antoine yang terpuruk bisa merasakan kegusaran dibalik suara Stacy.  “I told you it’s Dissociative Identity Disorder. You must take her here soon!”

“No! It’s just bipolar!” Antoine masih bersikeras.

“Pleasse, be objective, Proffesor!”

Stacy terdengar berang. Antoine menutup telefon dan sekali lagi merasakan kesedihannya. Pada saat itu Charlie mulai tersadar. Antoine bergegas mendekatinya  saat Charlie merasa kebingungan, menoleh ke sana kemari, menyadari posisinya di ranjang yang tidak pada tempatnya.

“Antoine…,” saat matanya menangkap sosok suaminya, dia memanggil lirih. Antoine berusaha menyembunyikan air mata saat mengelus wajahnya. “Ya, Petite.”

“Ada apa? Kenapa bisa aku tidur seperti ini?”

Antoine menggeleng. “Tidak apa-apa, Sayang.” Dia lalu mengangkat tubuh Charlie, menempatkannya di sisi ranjang yang tepat.

“Apakah aku berjalan sambil tidur lagi?”

Lebih buruk dari itu!

“Iya,” Antoine tersenyum. “Tidurlah lagi, Sayang. Besok adalah perjalanan panjang kita.”

Charlie tersenyum lalu mulai menutup mata, menuruti perintah suaminya. Antoine tidak tidur lagi malam itu. Mana mungkin dia bisa kembali tertidur. Ingatan yang harusnya terhapus. Karakter yang juga terhapus bersamaan ingatan itu, bagaimana bisa muncul sesekali? Kemunculannya akan membuat Charlie terasing. Pribadi itu seakan terpisah, tidak mengenal satu sama lain. Ada dua kepribadian yang muncul, Antoine belum mendapati Charlie Bouwens muncul. Harus ada lebih dari dua kepribadian, karenanya dia tidak setuju dengan pendapat Stacy. Hanya gangguan bipolar. Ya, hanya gangguan bipolar! Antoine berusaha meyakinkan diri sendiri. Tidak ada hubungan antara cuci otak dengan kepribadian ganda. Argumen Stacy tidak beralasan.

Perjalanan benar-benar terasa panjang keesokan harinya. Mereka bertolak dari Ngurah Rai. Sekali lagi Antoine tidak tidur. Sementara Charlie terlelap di sampingnya, Antoine mengawasi sambil membalik halaman demi halaman buku lama karya Colin A. Ross,  Multiple Personality Disorder: Diagnosis, Clinical Features, and Treatment. Di dalam pesawat itu, Antoine berusaha menggabungkan beberapa teori dan menelorkan hipotesis.

Tidak ada hubungannya. Buku ini mengatakan jika kepribadian ganda terjadi karena trauma berkepanjangan di masa kecil atau ketika remaja. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan cuci otak chemical yang dialami Charlie.

“I think it’s possible,” kata Stacy saat Antoine akhirnya mengunjungi kantornya di rumah sakit. Kemudian penjelasan dalam bahasa Inggris meluncur lancar dari bibir Stacy,” Brain washing is self defense mechanism. When there is bad experiences, these experiences as much as possible to be repressed into the subconscious. But there are some events that really can not be handled by the patient, thus forcing it to create another private person who is able to face the situation. It is same as the method of treatment that you apply to Charlie before, right? wash her brain and provide an artificial personality.”

Antoine menggelengkan kepala  dan tersenyum pahit. “So ridiculous. The theory doesn’t exist in any literature.”

“But the fact is the case. Charlie experienced it,” Charlie berkata pasti. “Where is she?” Stacy duduk di kursi kerjanya. Kursi yang dulu di duduki Antoine selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya meninggalkan dewan direksi rumah sakit untuk berkarier di bidang akademisi dan mengelola bisnis keluarga.

“She was at home under her mother supervision.”

“Nice! Never leave her without supervision. Charlotte characters can appear suddenly. The character has  tendency to despair, even self-harm.”

Itu memang yang Antoine kawatirkan. Karakter Charlotte! Karakter itu muncul jika ada situasi yang harus dihadapi. Tunggu! Bukankah itu seharusnya kepribadian asli Charlie? Antoine kembali berjibaku dengan buku-buku tebal di perpustakaan rumahnya. Segala teori muncul lagi di permukaan setelah lama dia pensiun dari dunia kedokteran.

Munculnya kepribadian-kepribadian itu tergantung pada situasi yang dihadapi. Kepribadian aslinya cenderung tidak mengetahui keberadaan kepribadian lainnya, karena memang hal itu yang diinginkan, yaitu melupakan hal-hal yang telah diambil alih oleh kepribadian lainnya. Pada kebanyakan kasus yang terjadi kepribadian asli tidaklah sadar akan keberadaan sosok lain dalam dirinya. Namun, kepribadian-kepribadian lainnya sadar akan keberadaan sosok asli.

“Jadi benarkah ini kepribadian ganda?” Antoine bertanya dalam hati, “Atau mungkin ingatan terselubung yang mungkin muncul ke permukaan?”

Antoine menutup buku tebal di tangannya lalu berdiri, mengamati  pemandangan luar yang terpampang di dekat jendela perpustakaan. Antoine bisa melihat Charlie yang sedak asyik berkebun dengan Ibunya. Wanita itu tahu kalau Antoine mengawasinya dan melambaikan tangan. Antoine tersenyum saat membalas lambaian tangan itu.

Charlie Bouwens. Ya, semuanya terjawab jika dia bisa melihat kemunculan Charlie Bouwens. Kita lihat apakah karakter itu bisa mengenali Charlie atau Charlotte Whitely.

Antoine manggut-manggut. Ini pasti akan terjadi. Tak akan lama lagi. Antoine yakin itu.

Charlie terlihat berbisik sejenak pada Ibunya. Antoine tahu maksud bisikan itu saat Charlie mendekati pintu perpustakaan yang mengarah ke taman. Cepat-cepat Antoine membereskan buku-buku tebal tentang Dissociative Identity Disorder. Setidaknya jangan sampai wanita itu tahu. Charlie tidak pernah ukt campur pekerjaannya di bidang medis tapi cukup membantu pekerjaan Antoine di bisnis keluarga.

Antoine sedang memasukkan buku-buku ke dalam laci saat Charlie mendekati mejanya. “Kau dari rumah sakit?” tanya Charlie. Antoine mengangguk.

“Aku tidak mengerti kenapa kau tidak mengajakku. Aku juga ingin menengok Ayahmu.”

Antoine duduk di kursi kerjanya kembali. “Keadaannya semakin membaik. Lagi pula ada hal lain yang musti kuurus di sana.”

“Apa?” tuntut Charlie. “Jangan katakana kau menemui Stacy.” Tebakkan yang tepat, tapi nada bicara Charlie seolah menaruh curiga. Antoine menghela nafas. “Kemarilah, Sayang.” Antoine menghela tangannya.

Charlie mendekatinya dan dia menarik sampai pantat istrinya berada di pangkuannya. “Sudah lebih dari dua puluh tahun dan kau masih saja mencurigainya, Sayang,” Antoine mencium pipi Charlie dan mengelus perutnya. Tubuh Charlie masih serasa ringan walau pun sedang mengandung empat bulan. “Kau sudah makan? Kenapa kau masih terasa ringan?”

“Aku sudah makan. Nambah dua piring malah,” canda Charlie. Antoine tertawa. “Sepertinya bayi ini lebih besar dari pada Nathan dan Camille. Baru empat bulan saja perutku sudah sebesar ini.” Charlie merajuk sambil mengelus-elus perutnya. “Lihat! Aku seperti menyembunyikan semangka di balik bajuku.”

Antoine semakin tergelak. “Itu karena umurmu yang sudah tidak muda lagi, Sayang. Kadar gula darahmu lebih tinggi daripada ketika muda, karenanya bayinya lebih besar.”

“Jadi aku harus mengurangi konsumsi gula?” Mata Charlie membulat ketika bertanya. Antoine mencolek hidung Charlie. “Ya, betul sekali!”

Lalu Antoine memeluk istrinya. “Kau juga pasti gampang lelah nantinya, Sayang.” Charlie mengangguk di dadanya. “Maafkan, aku… seharusnya aku tidak membuatmu mengandung di umur sekarang.”

“Aku menikmatinya, Antoine. Jangan kuatir hanya saja… .” Charlie ragu sejenak. Dia ingin mengadukan suara-suara yang kadang menggaung di telinga atau mungkin kejadian aneh lainnya, saat dia merasakan tubuhnya kadang tidak berada dalam kendalinya.

“Ada apa, Sayang?”

Charlie menggeleng lalu mendongak, mengelus pipi Antoine yang memandangnya dengan dahi berkerut. “Katakan saja semua keluhanmu?” tanya Antoine.

Charlie menghela nafas. “Saat kau meninggalkanku sejenak di malam terakhir kita di Bali. Entahlah… ada suara-suara.”

Alis Antoine menaik.

“Sebenarnya bukan hanya waktu itu tapi juga selama dua puluh tahun ini. Suara-suara itu semakin keras terdengar kalau sepi apalagi pas malam. Karenanya…

Sejenak Charlie berhenti bicara demi melihat mimik wajah Antoine yang berubah gusar. “Ada apa, Antoine? Apakah ini buruk?” Charlie juga ikut-ikutan gusar. Antoine tidak menjawab, membuat Charlie semakin ngeri.

“Oh, Antoine katakan sesuatu!” Charlie memukul dadanya. Antoine memegang tangan Charlie, menghentikan pukulan itu. “Tidak apa, Sayang. Kau hanya stress.”

“Benarkah?”

Antoine mengangguk.

“Oh, syukurlah. Aku takut jika penyakitku kambuh lagi. Aku tidak mau jadi pasienmu lagi, Antoine. Katakan, aku istrimu, bukan?”

Sekali lagi Antoine mengangguk lalu memeluk Charlie. Belum saatnya Charlie tahu yang sebenarnya. Antoine akan memastikannya jika Charlie Bouwens muncul dan jika  semua itu terjadi. Antoine harus mengakui kenyataan pahit ini.

“Setidaknya kau menikahi tiga orang perempuan dalam satu tubuh,” kata dokter Rae, dokter kandungan Charlie. Stacy memberitahukan padanya perihal keadaan Charlie. Kedua dokter itu akan bekerja sama menangani Charlie.

Dissociative Identity Disorder baru dugaan, Rae. Belum final,” Antoine masih belum terima penyakit itu mengganggu istrinya.

“Tapi Stacy sangat yakin. Sayangnya kau sudah kehilangan hak praktekmu. Stacy tidak bisa berbahasa Korea. Ini membingungkan kalau Stacy harus menghipnotis Charlie dan Charlie bicara bahasa Korea di ambang batas hipnotis.”

Antoine berbalik ke dinding kaca. Ruangan di sebelah adalah ruangan USG. Charlie terbaring di sana sementara asisten dokter Rae menyentuhkan stik USG di perut Charlie. Wanita itu tersenyum puas mendengar penjelasan sang asisten hingga Antoine bisa menyimpulkan kalau keadaan bayi mereka baik-baik saja. “Itulah gunanya kau di sini, Rae.”

Dokter Rae menunduk sedih. “Aku masih ingat, sepuluh tahun yang lalu aku belajar bahasa Korea dari istrimu untuk program  pertukaran dokter di Seoul, dan sekarang… kenapa aku harus menggunakannya untuk istrimu. Ini menyedihkan.”

Hati Rae mendesirkan kesedihan. Matanya hampir memerah, tapi sebagai dokter yang professional dia tidak boleh terlarut dalam perasaan. Antoine menoleh sejenak dan tersenyum. Lalu memasuki ruang sebelah, tempat Charlie di tes USG. Rae harus meneguhkan diri sebelum mengikuti Antoine.

“Mereka bilang dia baik-baik saja,” kata Charlie saat Antoine duduk di tepi tempat tidur, menggenggam tangannya. “Dia perempuan, Sayang.”

Antoine memeluk istrinya. Terharu dengan karunia Tuhan yang berada di perut Charlie saat ini. Sementara Rae sudah tidak bisa membendung kesedihan lagi. Dia keluar dari ruangan itu dan menangis di balik pintu. Oh, ayolah… hanya kepribadian ganda. Charlie tidak akan mati besok. Tapi entah kenapa, keadaan Charlie sekarang ini seakan lebih buruk dari pada penyakit mematikan.

 

—oOo—

Mata Chamille sedikit terbuka. Setengah tersadar, dia merasakan ciuman Kang di keningnya. Masih terkantuk-kantuk, dia melihat Kang yang kemudian duduk membelakanginya, berganti pakaian.

“Kang,” bahkan suara Chamille pun masih serak. Kang menjawab panggilan itu dengan eraman. “Kau sudah mau pergi?”

“Iya,” Kang berdiri dari tempat tidur rumput itu dan berjalan menuju pintu pondok.

“Jangan lupa carikan aku mangga muda.”

Kang menoleh sekilas pada Chamille, mengangguk mengiyakan lalu keluar pondok.  Suasana sepi seketika. Chamille pun bangun dan merasakan gelombang mual  menuju kerongkongannya. Setengah berlari dia keluar dan muntah di samping kiri pondok. Selalu seperti ini setiap pagi. Begitu menyiksa. Air mata keluar begitu saja, namun bukan tangisan hanya respon dari rasa pening yang menjalari kepala. Chamille bisa merasakan nafasnya tersenggal-senggal, berusaha mengeluarkan rasa mual lagi dari perutnya, dan berakhir dengan tumpahan air pahit dari mulutnya. Hanya air, karena memang begitulah adanya. Sangat berbeda dengan vomit karena mabuk perjalanan dimana rasa mual melega saat semua isi perut, yang merupakan sumber mual dikeluarkan. Tapi sumber mual Chamille belum akan keluar sekarang. Janin itu tumbuh di dalamnya, dia senang walau pun terkadang kerepotan menghadapi rasa mual tiap pagi.

Chamille menuju api unggun. Kwang sudah menyiapkan ubi bakar sebagai sarapan. Mau tidak mau Chamille memasukkan makanan itu ke mulut. Dia tidak boleh dikalahkan oleh mual. Anak ini perlu nutrisi. Chamille berusaha menelan walau pun perutnya menolak. “Sayang, Ibu harus makan,” Chamille seolah membujuk janin di perutnya. “Ijinkan Ibu makan sedikit, ya?” tangan kirinya mengelus perutnya sedang tangan kanannya kembali menyuapkan cuilan ubi bakar. Dia terus melakukan itu walau terkadang sia-sia. Rasa mual itu masih membandel.

Hingga Kwang muncul kembali lima menit kemudian, membawa mangga pesanan Chamille. “Kemarikan,” Chamille langsung merebut mangga itu dari Kang lalu menggigit, menyesap airnya.

Chamille sangat menikmati rasa asam buah itu sedangkan Kwang malah merasakan ngilu di giginya melihat ulah Chamille. “Apa kau tidak merasakan gigimu linu? Baunya saja sepertinya asam.”

“Ini obatku,” jawab Chamille, masih menyesapi mangga itu.

“Kau harus makan yang lain. Jangan hanya ubi bakar dan mangga terus.” Kang mengelus punggung Chamille.

“Aku mual jika mencium bau ikan.”

Kwang menghela nafas. Tidak bisa begini terus. Bisa-bisa Chamille dan bayinya kurang gizi. “Bagaimana kalau kangkung air. Kau mau memakannya?”

“Kau bisa memasaknya?” gantian Chamille yang bertanya.

“Lihat saja nanti.”

Kwang masuk ke hutan lagi. Chamille hanya melongo dengan  mangga yang masih tergigit di mulutnya. Akhir-akhir ini dia memang merepotkan Kwang. Chamille yakin itu, tapi mau bagaimana lagi. Itulah resiko menghadapi wanita hamil. Rasa mual itu sudah lenyap. Chamille masuk kembali ke pondok, melanjutkan rajutannya. Kegiatan itu akan berlangsung sampai matahari setegak kepala lalu Chamille pergi ke sungai untuk membersihkan diri dan mengambil persediaan air.

Biasanya Kwang sudah ada di depan pondok saat Chamille pulang dari sungai. Duduk di depan api unggun, memasak sesuatu. Chamille duduk di samping Kwang, melihat isi batok kelapa di atas api unggun. “Aku merebus kangkung dengan cabai, irisan mangga dan garam, semoga kau suka,” kata Kwang.

“Apakah enak?” Chamille menyangsikan kemampuan memasak Kwang. Pria itu melengkungkan bibir ke bawah. “Jangan merendahkan kemampuan memasakku.”

Chamille tersenyum saat menyodorkan batok kelapa pada Kwang. “Sudah matang, kan? Aku sudah sangat lapar.” Kwang meraih batok lalu mengisinya dengan masakan aji pengawurannya. Tapi Chamille sepertinya menikmati rasa masakan itu. “Ini enak sekali. Ada rasa asin, pedas dan juga manisnya. Lalu kangkung ini… ini benar kangkung? Rasanya manis.”

“Orang dewasa menganggap kangkung berasa manis tapi anak kecil merasakan kalau kangkung itu pahit.”

“Itu karena sensor pengecap di lidah anak kecil lebih peka, Kang. Tapi sumpah! Ini enak sekali. Jangan masak ikan lagi karena baunya membuatku mual.”

Kwang tertawa. Dia lega karena Chamille akhirnya mau makan. Dan dia harus menahan keinginannya untuk makan ikan sementara ini.

“Apa kerjamu sesiang ini?” tanya Kwang. Chamille menyeruput kuah makanannya, agak tersedak dan Kwang menepuk-nepuk punggungnya. “Hati-hati.”

“Ah, ini segar sekali.” Chamille menambahkan   lagi makanan ke batok kelapa di tangannya. “Aku hanya merajut. Untuk anak kita. Tunggu sebentar,” tanpa pikir panjang Chamille menyerahkan batok kelapa pada Kwang lalu memasuki pondok. Kwang berjengit, menatap batok di tangannya dan mengangkat bahu.

Chamille keluar pondok lagi, menyodorkan hasil rajutannya pada Kwang. “Kecil sekali,” komentar Kwang pada kemeja rajutan yang ada di tangannya. Chamille sudah menikmati makannya lagi. “Apa ini muat untuknya?” tanya Kwang lagi.

“Kau pikir dia akan sebesar apa? Itu cukup untuknya.”

“Ya… kalau memang kau berpikiran begitu. Oh, ya… aku akan membuat kasur  rumput untuknya, jadi kau harus merajut sprei lagi.”

Ide Kwang bagus juga. Mereka butuh tempat tidur bayi tapi gelengan kepala Chamille menjawab kalau dia tidak setuju dengan usul itu. “Dia akan tidur bersama kita. Di kasur kita, di tengah-tengah.”

“Tapi lama-lama dia butuh kasur sendiri, Sayang.”

“Itu kalau dia sudah besar. Untuk sementara ini, kita tidak perlu kasur lagi!”

“Ehmm.. terserahlah!” Kwang menyerah walau pun tidak rela. Chamille tersenyum dengan mulutnya masih mengunyah. “Peluk aku!” Kwang menurutinya, memeluk Chamille yang masih sibuk makan.

“Kau tidak makan?”

Kwang menggeleng. Melihat Chamille makan lahap saja, dia sudah merasa kenyang. Chamille semakin gemuk, sedangkan Kwang semakin kurus. Kalau di suruh menggendong Chamille lagi, mungkin dia tidak kuat. Setiap hari, Kwang melihat perubahan fisik Chamille. Lengan atas Chamille lebih menggembung sekarang. Setiap malam, Kwang memegang lengan itu mengukurnya dengan genggaman tangannya. Jika sudah begitu, Chamille pasti mengibaskan tangannya. “Kenapa? Aku semakin gemuk?”

Kwang terkekeh lalu memeluknya. “Tidak, tapi semakin empuk,” jawab Kwang seenaknya.

“Yah… ngomong sembarangan.”

“IYa loh… setiap dipeluk, kau semakin empuk. Aku jadi merindukan gulingku di rumah, hehehe.” Kwang geli sendiri dengan ucapannya, Chamille yang semakin sewot melipat tangan di dada dan cemberut.

“Tenang, Sayang. Jangan marah.” Kwang mencium pipi Chamille. Suara malam semakin memanggut. Chamille tersenyum lalu meraba pipi Kwang yang penuh dengan jenggot lebat.

“Apa kau sudah merasakan dia bergerak, menendang atau…

“Belum,” Chamille menggeleng. “Dua bulan lagi, dia akan menampakkan gerakan itu.”

Kwang menyingkap baju Chamille ke atas, meraba perut Chamille tanpa kain yang membatasinya saat menyentuh. Kulit bertemu langsung dengan kulit. Chamille bisa merasakan tangan kasar Kwang menelusuri kulit perutnya yang halus. “Aku sudah tak sabar merasakan dia bergerak-gerak,” ucapan Kwang diakhiri dengan tawa mereka berdua.

“Kalau dia bergerak, aku akan mengatakannya padamu. Jangan kuatir.” Chamille mencium pipi Kwang saat pria itu menyandarkan dagu di pundaknya. Mereka bahagia. Walau terkadang kawatir jika keadaan tak seperti yang diharapkan. Kwang kawatir jika Chamille tidak selamat saat melahirkan.

Beribu kali Chamille menenangkannya, beribu kali lipat rasa kawatir di benak Kwang bertambah. Jika sudah begitu, mereka memulai obrolan ringan. Apa saja untuk mencairkan kekawatiran Kwang. Perut Chamille semakin membesar. Tanaman-tanaman di pulau telah memberikan gizi yang cukup bagi janin di perut Chamille. Wanita itu mulai menyentuh ikan kembali saat masa penuh pergulatan morningsickness berlalu. Tubuh Chamille jadi mirip buah pear, dengan kepala kecil lalu dada, perut dan bokong yang semakin melebar.

“Lihatlah, Sayang. Kau semakin empuk.”

Empuk adalah istilah yang dipakai Kwang untuk mengatai kegemukan Chamille. “Ya, semua juga karenamu,” sahut Chamille. Kwang semakin mempererat pelukan.

“Dia bergerak!”

Reflek Kwang menyentuh perut Chamile. Tendangan janin itu terasa di bawah kulit tangannya.  Kwang tersenyum senang. Disingkapnya baju Chamille ke atas lalu mencium perutnya. Chamille bisa merasakan bibir Kwang menempel langsung di kulit perutnya dan merasa geli.

“Sudah empat bulan. Aku semakin takut,” perkataan Kwang membuat pandangan mata Chamille menyendu. “Huft! Dimana sebenarnya kita? Apa susahnya menemukan kita?”

“Kang…,” Chamille mengelus kepala Kwang yang masih membenamkan wajah di perutnya. “Mungkinkah mereka memang menganggap kita sudah meninggal?”

“Tidak.”

Chamille masih mengelus kepala Kwang, mengaitkan jemarinya di antara helaian rambut Kwag yang memanjang dan lebat. “Kang, jika dibandingkan denganmu, akulah yang paling ketakutan di sini. Tapi aku yakin, semua akan baik-baik saja.” Chamille mengangkat kepala Kwang, menghadapi tatapan kesedihan pria itu dengan belaian halus di wajahnya. “Kau akan membantuku nanti. Seperti kau membantu Ibumu waktu melahirkan. Tapi waktu itu kau kurang pengalaman, dan sekarang…

“Aku juga tidak berpengalaman menjadi seorang ayah yang mempersiapkan kelahiran anaknya.”

Chamille tersenyum tipis. “Kau kira bagaimana aku bisa bertahan selama ini? Kau lihat daun-daunan kering itu?” Chamille menujuk tas anyaman bambu. “Ada beberapa hal yang harus kau lakukan saat aku melahirkan nanti. Tentu saja berkaitan dengan daun-daunan kering itu.”

“Kau mengkonsumsinya selama ini?”

Chamille mengangguk. “Dan anak ini semakin sehat,” Dia menepuk perutnya.

“Ada beberapa daun yang harus kau siapkan saat aku melahirkan, Kang. Aku akan memberitahumu di akhir bulan kehamilan agar kau tidak lupa,” Chamille meraih tangan Kwang. Mengaitkan jarinya di antara jemari Kwang. “Jangan panik jika saat itu tiba. Biarkan aku yang panik, asal jangan kau.”

Kwang mengangguk lalu memeluk Chamille, semakin erat sementara perut Chamille menyundul perut Kwang hingga Kwang melepaskan pelukannya. “Anak ini mengganggu saja,” Kwang menepuk perut Chamille. Mereka tertawa bersama, dan akan seperti itu setiap malam, hingga anak mereka terlahir nanti.

 

—oOo—

Hal yang tidak disukai Charlie adalah, Stacy ikut campur dalam pengobatannya. Antoine beralasan kalau suara-suara yang mengganggu itu harus di atasi, dan jasa Stacy sangat dibutuhkan. Antoine mengatakan kalau dia stress biasa tapi tingkah laku Antoine seolah menunjukkan kalau dia mempunyai kelainan jiwa yang serius.

Charlie tidak menyukai mata Stacy jika menginterogasinya. Seakan penuh menyelidik lalu semuanya gelap. Charlie tidak merasakan apa-apa lagi setelah itu. Ketika bangun, dokter Rae sudah tersenyum di hadapannya, memujinya karena telah melakukan hal yang hebat. Charlie yakin kalau Stacy melakukan hipnotis, tapi untuk apa?

“Hanya untuk mencari penyebab stresmu, Sayang,” jawab Antoine jika Charlie bertanya.

“Kalau itu, sih… sebenarnya kau juga tahu jawabnya. Aku stress karena Chamille belum ditemukan, bahkan mayatnya pun belum.”

“Ya… ya… aku akan menambah tim pencari lagi,” Antoine hanya bisa menghela nafas. Kenyataannya satu persatu personil dalam pencarian Chamille mundur teratur, tinggal satu kapal saja, itu pun di bawah komando ganda dengan Brian. Pemuda itu masih belum menyerah jua.

Charlie tidak pernah menghubungi Brian lagi. Ibunya sengaja membatasi informasi dari dunia luar yang didengarnya. Charlie tidak pernah dibiarkan sendirian. Terkadang Nathan, yang sudah tahu keadaan Ibunya, menjaganya. Tapi kebanyakan yang berperan merawat Charlie adalah Ibunya.

Saat mulai jenuh, tiba-tiba sang Ibu mempunyai ide gila. Seperti berkebun, merangkai bunga atau…

“Bagaimana kalau nonton film?”

Charlie mengerjapkan mata. Wanita itu sudah mengibas-kibaskan DVD di hadapan Charlie. “Ada film bagus. Kau pasti suka. Kritikus film memuji kalau koreografi laganya bagus.”

Mendengar kata ‘kritikus film’ telinga Charlie menjengit. “Ah, ayolah. Ini film Indonesia yang memperoleh penghargaan festival film Toronto kemaren.” Ibu Charlie menyeret Charlie ke depan home theater, lampu ruangan dipadamkan setelah layar lebar itu menampakkan adegan demi adegan film laga. Sebentar saja ruangan itu hanya berisikan suara yang keluar dari televise. Ibu Charlie sangat antusias, terkagum dengan adegan laga yang dipertontonkan di film. “Kau tahu, itu namanya pencak silat. Hanya orang Indonesia yang tahu tehniknya, jadi kalau versi amerikanya dibuat nanti, mereka akan menunjuk sang pemeran utama,” saat layar menunjukkan sosok sang pemeran utama, Ibu Charlie menunjuk,” Dia.. dia akan menata koreografi versi Amerikanya. Dia aneh sekali, jago berkelahi tapi takutnya sama orang yang makan krupuk. Lucu sekali!” Wanita itu tertawa saat menyatukan kedua telapak tangannya membentuk tepukan.

Charlie tidak menggubris perkataan Ibunya. Keningnya semakin berkerut, entah kenapa dia merasa bisa menilai film itu. dan entah kenapa dia merasa kalau dunia film pernah dia jalani. Hingga suara-suara asing muncul lagi. Berselang-seling dengan suara ribut di televise, namun berangsur-angsur suara televise menghilang. Tinggallah suara-suara aneh yang mendominasi.

“Menurutku film ini sangat buruk!”

Suara itu terdengar parau, seperti suara pria yang lemah yang bahkan menopang tubuhnya sendiri pun tak bisa.

“Kita memang punya penilaian sama. Kau benar-benar mirip Andrea.”

Andrea, siapa andrea? Charlie mengerjapkan mata. Dia merasakan kemarahan yang tak biasa, marah karena dibandingkan dengan wanita lain.

“Kau masih juga mengingat wanita tua itu!”

Apakah itu dia? Dia benar-benar marah dibanding-bandingkan dengan Andrea?

“Cukup, Charlie Bouwens!”

Lelaki itu memanggilnya Charlie Bouwens. Mata Charlie mengerjap. Seketika suara-suara itu menghilang, berganti dengan suara dari televise lagi. Nyanyian penutup tanda berakhirnya film. Ibunya menyalakan lampu kembali. Charlie memandang sekeliling ruangan, mengingat-ingat di mana sebenarnya keberadaannya.

“Aku akan ke dapur, melihat apakah makan malam sudah siap,” Ibu Charlie langsung keluar ruangan. Charlie menoleh padanya dan mengkerutkan kening. Dengan cepat dia mempelajari situasi, lalu keluar ruangan juga. Saat berjalan di koridor, bayangannya terpantul di kaca, dia berhenti sejenak, mengamati bayangannya. “Style yang buruk,” omelnya dalam hati. Dia tampak seperti ibu rumah tangga yang tak terurus saja. Lalu menuju perpustakaan, tempat favoritnya di rumah ini.

Mata lebarnya segera tertohok pada tumpukan  buku tebal di atas meja. Entah kenapa ada hal yang menariknya untuk mendekati tumpukan itu tapi sebelumnya, dia bisa melihat foto-foto yang berjajar di meja itu. Foto pernikahannya dengan seorang pria. Dia mempelajari foto itu dengan cepat, pengantin wanita di foto itu adalah dirinya dan sang pria…

“dokter d’Varney?”

Foto yang lain segera menyapu penglihatannya, foto Nathan ketika berhasil masuk tim baseball nasional, foto Chamille, dan dia menyadari sosok di foto itu adalah Charlie d’Varney, bukan dirinya.

Sekali lagi buku tebal itu menarik perhatiannya. Colin A. Ross,  Multiple Personality Disorder: Diagnosis, Clinical Features, and Treatment, dia menyentuh tulisan di buku yang terletak paling atas tumpukkan itu. Dia menyimpulkan kalau d’Varney sudah menyadari sesuatu. Dia tersenyum tipis.

“Oh, di sini kau rupanya,” Sang Ibu tiba-tiba muncul dari balik pintu. Sekali lagi dia mengkerutkan kening, mempelajari wanita itu. “Makan malam sudah siap. Antoine menunggu kita di meja makan.”

Kesalahan wanita itu adalah meninggalkan putrinya sendiri. Dia sedikit kawatir tapi melihat sang putri berada di perpustakaan tak kurang suatu apa pun, hatinya melega.

“Tentu saja aku akan makan, Ibu. Aku ingin menemui suamiku tercinta,” dia melangkah keluar ruangan, melewati sang Ibu yang heran pada tingkahnya. Kata-katanya bernada sarkasme, terdengar begitu asing di telinga wanita tua itu. apalagi saat dia mengucapkan kalimat…

SUAMIKU TERCINTA…

 

BERSAMBUNG

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s