Lilin – Lilin Kecil (part 2)

Malam masih sangat panjang. Jalanan yang dilewati Anton begitu sunyi. Pria ini melirik korban yang tadi ditabraknya di jok belakang. Keadaannya cukup aneh mengingat kejadian tabrakan tadi. Luka memar di wajah perempuan itu… nyata benar bukan akibat kecelakaan. Anton memutuskan membawa wanita itu ke apartemen. Orang lain pasti menganggap langkah ini bodoh, demikian pikir Anton. Tapi untuk menghubungi polisi, Anton perlu berpikir beribu kali. Dia termasuk orang yang tidak menyukai prosedur ribet.

Anton bahkan harus memastikan area parkir gedung apartemen sepi untuk menggotong wanita itu. Menuju lantai dua, tempat apartemennya berada dengan lift pun dinilai beresiko. Dia memutuskan menggunakan tangga darurat walau agak ngos-ngosan. Bersyukur pada Tuhan karena sang Ayah memilihkan apartemen di lantai dua. Bersyukur pula karena wanita yang dipanggulnya itu tidak tergolong overweight.

Dia membaringkan korban kecelakan itu di ranjang kamar tamu. Wanita itu sedikit mengigau. Anton mengamati wajahnya sekilas. Luka itu…  luka tamparan? Sontak dia mendekatkan wajah, mengamati lebih teliti dan saat itu, handphone di kantong celananya berbunyi. Nomor milik kakaknya yang terpampang dilayar. Kebetulan banget, dia membatin.

“Halo!” Anton menyapa sambil masih mengamati wanita asing itu. “Hahaha, ada-ada saja. Tapi… ya! Aku memang butuh bantuan.” Anton duduk di sofa yang berada beberapa langkah dari ranjang. “Ke sinilah, bawa peralatan doktermu!”

Anton mematikan handphone. Ikatan batin antara dia dan kakaknya memanglah kuat. Andre, kakaknya, yang selalu bisa menjadi andalan keluarga, terlalu menyayanginya. Anton geli mengingat semua kenangan masa kecilnya dengan Andre. Dia yang selalu nakal dan Andre yang selalu berusaha melindunginya dari kemarahan orang tuanya. Seperti halnya yang terjadi barusan, Andre sepertinya merasa kalau Anton butuh bantuan sehingga menelphon.

Berusaha  lembut, Anton membasuh luka di sekujur tubuh wanita itu dengan kain basah. Luka memar di wajah, luka parut lengan, luka benturan di lutut, dengan mudah Anton bisa mengenali jenis-jenis luka pada  tubuh di depannya itu, bahkan lebih komplek jika dibandingkan hanya sekedar luka yang dialami korban tabrakan. Kau pasti punya masalah serius, batin Anton.

Hal itu dibenarkan oleh Andre. Andre bahkan mengkernyit saat memeriksa keadaan wanita itu. Kecurigaannya semakin kentara, seketika dia menyeret adiknya. Bicara empat mata di depan kamar tamu.

“Dari mana kau menemukannya?” Andre bicara lirih sambil melirik ranjang, tempat wanita itu berada.

Pandangan mata Anton menyipit. “Aku menabraknya, memangnya kenapa?”

“Luka di wajahnya bukan luka kecelakaan, Anton… . Kau tidak melakukan kekerasan padanya, kan?” Andre sedikit kawatir saat menanyakan itu. dia tahu kalau Anton adalah bocah bengal, tapi dia tidak yakin Anton penyiksa perempuan.

“Apa maksudmu? Sumpah mati aku bahkan tidak mengenalnya,” Anton mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya. Jawaban bodoh. Andre semakin mengkawatirkan keadaan Anton. “Kau memasukkan orang asing ke apartemenmu?”

Anton jadi jengkel. Sedetik yang lalu, Andre mencurigainya dan sekarang Andre menganggapnya terlalu tolol. “Lalu menurutmu, aku harus bagaimana? Aku tidak mau ribet berurusan dengan polisi!”

Andre menghela nafas. Urusan memang semakin ribet jika sudah berada di tangan polisi, karenanya dia memaklumi tindakan Anton. “Bagaimana jika dia orang jahat? Dilihat dari luka-lukanya, setidaknya dia mempunyai masalah cukup serius,” Andre mengingatkan.

“Aku bisa menanyainya kalau dia sadar.”

“Terserah, kau lah,” Andre mengibaskan tangannya. “Aku pulang dulu,” lanjutnya sambil memunguti perlengkapan kedokterannya.  Gerakan tangannya terhenti untuk mengamati gerak-gerik Anton yang kini memandang wajah wanita itu dengan mata menyipit. “Bagaimana kuliahmu?”

Anton jengkel jika ditanya perihal kuliahnya. Kedokteran bukanlah jurusan yang dia suka. Dia merasa tak cukup berbakat seperti Andre. “Jangan ditanya,” hanya itu yang terucap.

Tubuh Andre menegak. Dia tahu kalau Anton selalu menghindar jika ditanya perihal kuliahnya. “Kenapa kau dulu tidak menolak saja saat Ayah mendaftarkanmu di fakultas kedokteran?”

“Aku tidak punya cukup keberanian,” Anton tersenyum. Dia masih menatap wajah wanita yang terlelap di depannya. “Dan aku juga tidak cukup pintar di Fakultas.” Dia menertawakan diri sendiri. “Bodoh sekali,” katanya sambil menggelengkan kepala.

“Tidak ada anak bodoh di keluarga Rahmadiar. Kau hanya….,” Andre agak kesulitan menemukan ungkapan yang tepat. “Belum menemukan keasyikan kuliah di fakultas kedokteran.”

Anton sontak tertawa mendengar ungkapan Andre. “Apa asyiknya kuliah di kedokteran?”

“Terserah, kau!” Andre sudah lama putus asa menghadapi ulah Anton. Dia menjinjing tasnya. Sekali lagi berpamitan pada Anton yang hanya direspon dengan mengangkat tangan oleh adiknya itu.

Suara pintu depan yang tertutup, terdengar. Anton menyelimuti wanita asing yang masih belum tersadar itu. Anton merasa, ada aura aneh saat menatap wajah wanita itu. “Ada masalah apa, kau sebenarnya?” Anton mengelus pipinya. Serasa halus kulit itu tersentuh tangannya. Selain luka memar yang Anton yakini akibat tamparan itu…. secara keseluruhan wajah pucat itu sungguh elok.  Anton menertawakan kebodohannya. Wanita itu mungkin saja orang jahat. Mungkin saja anggota komplotannya menunggu dia lengah untuk merampoknya, tapi Anton yakin kalau dia tidak diikuti saat menuju apartemen.

Anton meninggalkan wanita itu di kamar tamu dalam keadaan terkunci. Dia tidak berani mengambil resiko kalau-kalau yang dikatakan Andre benar, dan wanita itu merampoknya saat tersadar. Anton tidak mampu terjaga malam ini. Kadar alkohol di darahnya membuahkan rasa kantuk. Dengan mengunci wanita asing itu di kamar tamu, setidaknya Anton bisa tidur nyenyak.

Baru saja lima menit Anton merebahkan diri di tempat tidur, suara handphone mengganggu lagi. Kali ini Amelia yang menelpohon. Anton selalu senang jika sahabatnya yang satu itu menelphon. Suara merdu Amelia memang selalu menemani malam menjelang tidurnya. Selalu… dan dalam beberapa menit… mereka sudah terlibat dalam pembicaraan seru. Amelia bercerita tentang Rani yang kini tidur mendengkur, Anton pun tertawa karena jelas sekali suara dengkuran Rani di telephon.

“Coba saja kau tekan hidungnya?” Anton merasa hal itu pasti sangat lucu. Sudah pasti Rani yang tidak bisa bernafas akan terbangun. Amelia merasa Anton sangat jahat. “Aku tidak bisa mengganggu ketenangan orang,” tolaknya halus. Sekali lagi Anton tertawa, hingga nada bicara Amelia terdengar lebih serius. “Apakah kau bertemu Henry malam ini?”

Anton jadi berpikir keras. Apakah Henry memang sudah menyatakan perasaan cintanya pada Amelia?

“Ya, tapi hanya sebentar. Kenapa?”

Amelia mendesah. Rani masihlah pulas. Amelia ingin menanyakan sesuatu pada Anton tentang Henry dan semua itu demi Rani. “Apakah… Apakah… Henry ada mempunyai pacar?”

Deg! Anton menelan ludah. Apakah mungkin cinta itu ada di hati masing-masing, baik Henry mau pun Amelia. “Tidak,” Jawaban Anton membuahkan helaan nafas lega Amelia yang terdengar nyata di telinga Anton.

“Syukurlah, aku hanya tidak mau Rani patah hati.”

Anton terheran. “Rani? Memangnya ada apa dengan Rani?”

“Rani menyukai Henry. Sebenarnya sudah sejak lama… kau tahu? Aku agak bosan, setiap kali Rani kemari, yang dibicarakan selalu Henry.” Sebuah pengakuan yang membuat Anton semakin terbahak, apalagi Anton tahu betul siapa gadis yang sebenarnya disukai Henry.

“Kenapa kau tertawa?”

Anton berhenti tertawa. Amelia masih mengejarnya dengan pertanyaan. “Kau pasti bohong, Henry pasti sudah punya pacar.”

“Amel…, bilang sama sahabatmu itu… dia harus cepat, sebab kalau tidak… mungkin orang terdekatlah yang mendapatkan Henry,” Anton tahu betul orang terdekat yang dia maksud, tentu saja orang itu adalah Amelia.

“Orang terdekat? Apakah itu berarti Henry … mungkin saja Henry dijodohkan dengan saudaranya, begitu?”

“Kau terlalu banyak nonton drama televisi, sayang… . Tapi… ya… bisa kupastikan, orang yang disukai Henry mungkin adalah orang yang dekat dengan Rani.”

“Benarkah?”

Anton berdehem sebagai pembenaran atas pernyataannya. “Bilang saja padanya, siapa cepat dia dapat,” Anton terdengar agak cengengesan di sini. Dia tidak tahu kalau di balik telephon, Amelia jadi merengut.

Suara dengkuran Rani semakin nyata. Amelia bahkan harus memindahkan Handphone di sisi telinganya yang jauh dari Rani. Dia masih ingin ngobrol lama dengan Anton, namun suara Anton yang menguap, membuat rasa kasihannya muncul. “Sudah ngantuk, kah?”

“Ha ha,” jawab Anton pendek.

“Kalau begitu… aku tutup dulu telephonnya. Selama beristirahat.”

“Selamat beristirahat, manis.”

Amelia tertawa. Anton selalu bisa merayu dengan kata-kata setinggi bintang. Wanita lain yang tidak mengenalnya pasti sudah melambung, namun tidak bagi Amelia. Anton masih bisa mendengar gelak tawa Amelia sebelum sambungan handphone terputus. Dia merasa kalau hubungan antara Amelia, Henry dan Rani, pada akhirnya nanti pasti berakhir rumit. Henry menyukai Amelia tapi tidak berani mengatakannya, sedangkan Rani malah menyukai Henry bahkan sering curhat pada Amelia perihal perasaannya. Ah, itu bukan urusanku, Anton membatin. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk berpikir.

Sementara Amelia mengamati wajah Rani yang terlelap. Dia masih mencerna perkataan Anton barusan. Wanita yang dekat dengan Rani, mungkin memenangkan hati Henry? Siapa? Semakin Amelia berpikir, dia semakin bingung. Amelia tidak begitu mengenal teman-teman Rani yang lain, apalagi teman Rani yang juga mengenal Henry.

Siapa sebenarnya orang terdekat itu? Kasihan Rani, jika benar itu yang terjadi. Rani baik, cantik, sempurna. Sosok yang ideal bagi Henry. Ah, aku begitu ingin keduanya bersatu. Sangat ingin.

Amelia tak sanggup lagi menahan rasa kantuknya. Suara dengkuran Rani bagaikan nyanyian Nina Bobo di telinganya. Malam semakin menggelincir menuju fajar. Saat mentari mulai muncul malu-malu dari ufuk timur, jam Westminster berdentang lima kali. Di luar, suasana subuh bersahutan. Amelia terbangun saat merasakan seseorang menyentuh bahunya. Senyum keibuan yang selalu menyapanya di pagi hari, kini terlihat lagi.

“Bu Mira,” Amelia meliukkan badannya sambil mengangkat tangan. Rasa kantuk yang masih mendominasi membuatnya menguap.

“Bangun, Sayang. Waktunya sholat Subuh, kau tidak sedang berhalangan, kan?” Bu Mira tersayang selalu mengingatkannya untuk beribadah. Wanita lembut yang sudah Amelia anggap sebagai Ibu sendiri. Amelia mengangguk. Bu Mira mendekatkan kursi rodanya, sehingga Amelia bisa mendudukinya dengan mudah.

“Rani tidak dibangunkan?” Bu Mira menatap Rani yang masih masyuk dengan tidurnya. Amelia menggeleng. “Tidak usah, Bu. Kemaren dia bilang sedang menstruasi.”

“Oh, baiklah, “ Bu Mira berusaha maklum. Seperti biasanya, Bu Mira membantunya berwudlu, lalu mereka menunaikan Subuh berjamaah dengan pelayan lainnya.

Cinta tak mungkin bisa ditebak. Hal itu Hedri sadari saat Anton tiba-tiba memberi tahu kalau Rani sudah lama menyukainya. “Tapi aku tidak menyukai Rani,” kilah Henry  di telephon. Pagi-pagi benar Anton sudah menelphon seperti orang yang kurang kerjaan saja.

Anton mengapit handphone di lehernya sementara kedua tangannya sibuk memakai sepatu. “Tapi itulah kenyataannya.”

Henry menjadi gusar. Dia bahkan belum bangkit dari ranjang. Tangan kanannya masih memegang handphone dan tangannya yang lain mengucek rambut di dahinya, frustasi. “Lalu apa yang kau katakan pada Amelia?”

“Amelia?” Anton sudah selesai memakai sepatu, tangan kanannya memegang handphone kembali. Sinar matahari merambat melalui gorden yang tertutup. Anton memadamkan lampu kamar lalu menyibakkan kain gorden itu hingga terangnya kamar dihiasi cahaya pagi. “Kau lebih tertarik pada perasaan Amelia dari pada Rani yang jelas-jelas menyukaimu?”

“Ya,” dari dulu hanya Amelia yang diperdulikan Henry. Hanya satu dan tidak ada yang lain, bahkan bukan Rani yang jauh lebih sempurna dari segi fisik.

“Dia bahkan tidak tahu bagaimana perasaanmu padanya. Dia malah mengkawatirkan Rani. Takut kalau-kalau kau sudah ada pacar dan membuat Rani kecewa.” Anton mendesah. Bayangan wanita asing yang kini ada di kamar tamunya berkelebat di kepala. “Ah, kenapa pula aku mengurusi percintaanmu? Pembicaraan kita sudah seperti Ibu-ibu biang gossip!” Anton kesal juga.

“Kau belum menjawab, apa yang kau katakan pada Amelia?” Henry bertanya sambil bangkit dari ranjang. Selop empuk di bawah ranjang sudah menyambut telapak kakinya sebagai alas menuju kamar mandi.

Anton mengusap-usap dagu licinnya di depan cermin, memastikan penampilannya tidak mengecewakan di hari pertamanya datang ke kampus setelah cuti satu semester. “Aku bilang pada Amel agar bilang pada Rani supaya cepat-cepat nembak kamu!”

Henry yang sedang berkumur sebagai awalan menggosok gigi tiba-tiba tersedak. Anton terkekeh mendengar suaranya yang batuk-batuk. “Kau gila!” rutuknya.

Tawa Anton makin nyaring,  bahkan dia agak kewalahan untuk menghentikannya. Anton berdehem untuk melancarkan ternggorokannya yang kering. “Sekarang terserah kamu. Kau yang cepat-cepat mendeklarasikan perasaanmu pada Amelia atau Rani yang duluan nembak kamu dan kamu tak enak hati menolak.”

“Aish! Dasar gila!” umpat Henry frustasi. Sikat gigi yang sudah siap dengan odol belum juga masuk ke mulutnya gara-gara ulah konyol Anton.

“Nikmati saja, Bro! Kau memang seorang Don Juan, sekali tepuk dua lalat klepek-klepek!” sekali lagi pria santai seperti Anton membuat Henry keki. “Aku tutup telephonnya dulu. Masih ada hal lain yang musti di urus!”

“Bodoh!” desis Henry saat menutup telephon. Tapi hatinya gamang juga. Dia sadar, kehadirannya akan merusak persahabatan antara Amel dan Rani. Masa bodoh, dia adalah Henry Wicaksono, pria yang  bisa menentukan pilihannya sendiri.

Luka tamparan di wajah gadis itu, kini berubah membiru, saat dia membuka mata perlahan. Sesaat dia mengerjap. Dia sama sekali tidak mempercayai segala hal yang tertangkap indera penglihatannya. Bukan! Bukan hanya penglihatan, tapi juga semuanya. Kamar mewah tempat dia berada. Ranjang empuk yang menopang tubuhnya. Dia merasa nyaman walau sekujur tubuhnya masih terasa ngilu. Digesekkannya kulit kedua tangannya di kain sprei yang terasa lembut bagai bulu itu. Luka parut yang ada di lengan kirinya, otomatis tergesek dan membuatnya meringis. Diamatinya luka iu secara seksama, berusaha mengumpulkan keping demi keping ingatan akan yang mungkin telah terjadi. Tidak! Tak satu pun terbersit. Siapa aku? Kenapa dengan tubuhku yang sakit semua? Bahkan dia tidak tahu dimanakah sekarang berada. Kamar mewah itu serasa nyaman, namun ada sesuatu di kepalanya yang mengingatkan kalau tempat itu asing baginya.

Susah payah dia bangkit. Bunyi gemelutuk tulang-tulangnya sangat kentara. Saat kakinya berpijak, dingin lantai marmer menyambut. Dalam berdiri, sekali lagi dia mengamati sekeliling ruangan. Suasana asing semakin menyapa. Tatapan matanya terpaku, saat melihat bayangannya di cermin meja rias. Seorang wanita dengan luka lebam di wajah berdiri di sana. Dia mendekati cermin, perlahan meraba wajahnya yang membiru di beberapa sisi. Saat pintu di belakangnya terbuka, dia berbalik.

Anton memasuki kamar itu dengan langkah pasti walau pun sebelumnya, dia tersentak dengan kondisi gadis itu yang sudah berdiri di depan meja rias. Gadis itu… korban kecelakaan yang dia sendiri ragu apakah benar-benar telah dicelakainya mengingat luka-luka di wajah gadis itu yang terbilang aneh. Gadis itu memandangnya dengan dahi berkerut. Matanya begitu lebar, semalaman mata itu terus tertutup hingga Anton tidak  menyadari keindahannya. Tubuhnya yang mungil masih mengenakan pakaian yang sobek akibat kecelakaan itu, Anton mengumpat dalam hati karena semalam tidak berpikir untuk mengganti pakaiannya.

“Siapa kau?” kalimat singkat yang seharusnya ditanyakan oleh Anton, sudah ditanyakan oleh gadis itu.

Anton mendekatinya. Pria ini bahkan masih terbuai dengan mata lebar gadis asing di depannya. “Seharusnya itu yang aku tanyakan padamu,” Anton merasa bodoh, dia hilang akal di depan gadis itu. Selain luka lebam, wajah sang gadis begitu lembut. Anton merasa pernah melihat gurat-guratan wajah itu sebelumnya. Wajah gadis itu… wajah gadis itu mirip Amelia. Ya, Amelia… jika saja tubuhnya lebih tinggi dan berkursi roda… gadis itu adalah Amelia, batin Anton.

Anton tidak sadar bahwa semakin dia mendekat, gadis itu semakin meringkuk takut, berjalan mundur hingga tepi meja rias membentur punggungnya, membatasi langkahnya untuk mundur lagi. “Siapa kau?” kali ini Anton memberikan pertanyaan balik.

Gadis itu mendongak. Sekali lagi Anton harus menahan nafas mengamati keindahan mata lebar itu. Berapa kira-kira umurnya? Dua puluh tahun seperti Amelia? Anton hanya mampu menebak-nebak. Apalagi si gadis, dia bahkan tidak tahu siapa dirinya. Dia mendesah, terduduk lunglai di meja rias dan menangkupkan telapak tangan kanan di wajah. “Aku… aku… tidak tahu!”

Anton semakin bingung. Si gadis menangis di depannya. Anton berkesimpulan benturan keras membuat gadis itu amnesia. Dia segera menghubungi Andre. Dia tahu, setelah tahu keadaan gadis itu, Andre pasti akan semakin di atas angin, semakin mengejawantah kalau tindakannya atas gadis itu salah. Seharusnya dari awal Anton melibatkan polisi. Dan sekarang, apa yang harus dia lakukan dengan gadis amnesia itu?

“Pagi!” Rani menyapa Amelia yang sudah rapi di meja makan, sedangkan dia… langkahnya masih terseok-seok karena masih menahan kantuk. Piyama pinjaman dari Amelia masih membungkus tubuh malas-malasannya. Amelia tersenyum dengan mulut tertutup, membalas sapaannya karena masih mengunyah sarapan.

“Kau selalu terlambat bangun jika menginap di sini,” ucapan Bu Mira mengawali percakapan di meja makan, saat Rani akhirnya duduk tegak menghadapi piringnya.

“Aku suka di sini, rumah ini membuatku nyaman,” Rani menggeser piringnya agar lebih dekat lalu mulai menikmati sarapannya.

Bu Mira menggelengkan kepala melihat tingkah Rani lalu menoleh ke Amelia. “Sayang, kau sudah dengar kalau Tina akan menikah?”

Amelia terperangah. Tina adalah anak saudara jauh ayahnya. Tina bahkan seumuran dengannya. Kabar itu membuat Amelia terkejut. “Tidak, saya tidak tahu.”

Bu Mira mendesah. “Ini adalah aib, aku harap kalian tidak menirunya.”

Rani menatap Bu Mira dengan mata terpicing. “Memangnya apa yang musti kami tiru?”

Amelia yang tahu  arah pembicaraan itu menimpali, “Ibu…, bukankah usia dua puluh tahun sudah cukup umur buat menikah?”

Bu Mira meraih tangan Amelia dan menepuk-nepuk punggung tangannya. “Ya, memang benar. Yang Ibu maksud bukan umur Tina, sayang. Tapi hal yang melatar-belakangi pernikahan mereka.”

“Apa Tina hamil?” Tiba-tiba saja Rani menyimpulkan begitu. Bu Mira agak gelagapan merespon. “Belum, tapi jika tidak segera dinikahkan, mungkin lama-lama dia hamil.”

“Ah, itu berarti orang tuanya yang terlalu kawatir.”

Gaya cuek Rani membuat Bu Mira semakin jengkel. “Pergaulan bebas anak-anak jaman sekarang sudah sangat memprihatinkan. Kalau orang jaman dulu, kalau anak gadis sudah menstruasi, sudah langsung dinikahkan. Itu karena mereka takut kalau-kalau anaknya hamil.”

“Memangnya sekali menstruasi bisa langsung hamil.”

Mata Amelia membuat tanda agar Rani lebih menjaga tingkah laku. Lebih-lebih di depan Bu Mira yang sangat menjunjung tinggi etika. Dari wajah Bu Mira, Rani tahu kalau wanita itu pasti akan marah. Dia mengkerling sambil menguyah makanannya, memberi tantangan agar Bu Mira meledak. Dia tahu kalau pengasuh Amelia itu sudah lama tidak menyukainya. Gayanya yang terlalu bebas dicap Bu Mira sebagai teman yang tidak pantas bagi Amelia. Bu Mira lebih suka Amelia berteman dengan Henry yang santun.

“Ah, sudahlah,” akhirnya Bu Mira menyerah juga. Memberikan penjelasan tentang hidup pada Amelia di saat ada Rani, sudah pasti ‘feedback’nya tidak seperti yang diharapkan. Bu Mira mengelap mulutnya dengan serbet lalu berdiri dari kursinya. “Aku sudah selesai sarapan. Amelia sayang, jika kau sudah selesai, Aku dan Bu Atin menunggumu di ruang belajar.”

“Iya, Bu,” Amelia mengangguk saat pengasuh itu berbalik meninggalkan ruang makan. Rani terkikik. Amelia mencubit sahabatnya itu.

“Aku juga mau dinikahkan, asal dengan Henry tentunya,” sahut Rani sekenanya. Nyata benar kepercayaan diri Rani saat itu. Amelia jadi teringat kata-kata Anton semalam. Orang terdekatlah yang akan mendapatkan cinta Henry dan Rani harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat.

“Rani,” keraguan menyelinapi benak Amel saat akan bicara pada Rani. Saat ini Rani langsung menghentikan tawa, menatapnya sambil mengunyah makanan. “Anton bilang… mungkin Henry sedang menyukai seseorang.”

Rani tersedak. Amelia menyodorkan segelas air padanya. Dia menerima air itu lalu  menegaknya sesaat. “Kapan dia bilang begitu?” tanyanya setelah bisa mengatasi keadaan.

“Semalam Anton bilang begitu di telephon. Tapi… sepertinya Henry masih ragu, Anton juga bilang… kau harus bergerak cepat sebelum… .”

“Sebelum mereka jadian?”

Amelia mengangguk. “Aku juga penasaran. Siapa orang yang disukai Henry? Anton bilang orang terdekat.”

“Orang terdekat?” Rani melihat Amelia mengangguk. “Maksudnya saudara dekat Henry?”

Amelia menggeleng. “Orang terdekatmu.”

“Orang terdekatku? Siapa?” Rani mengobrak-abrik makanan di depannya. Nafsu makannya hilang sudah. “Mungkin model-model di agensiku juga ada yang diam-diam mendekati Henry.” Rani jadi kesal memikirkannya. Beberapa teman model memang ada yang terang-terangan naksir Henry. Salahnya sendiri juga, seharusnya dia tidak mengundang Henry di sebuah pagelaran busana dua bulan yang lalu, di mana dia menjadi salah satu model di situ. sudah pasti wanita-wanita model itu keganjenan melihat Henry yang tampan dan kalem.

“Apakah Henry juga mengenal mereka?” tanya Amelia. Rani menghela nafas. Satu kesalahan lagi disadarinya.

 “Akulah yang memperkenalkan mereka pada Henry.”

Dan sumpah mati, Rani mengutuk waktu-waktu itu.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Kedua kakak beradik itu saling berpandangan. Sepuluh menit yang lalu Andre sudah memeriksa si gadis asing. Anton bisa merasakan bahwa urusannya dengan gadis itu akan berbuntut panjang dan pertanyaan Andre tadi membuatnya semakin bingung. “Kita harus membawanya ke rumah sakit untuk melakukan CT-Scan.”

“Dengan begitu orang-orang rumah sakit akan curiga pada identitas gadis itu?” Anton bahkan mengkhawatirkan jika sang Ayah yang juga pemilik rumah sakit itu tahu.

Andre setengah menyandar di buffet lalu menoleh sekilas ke kamar tamu, tempat sang pasien ‘amnesia’ yang baru diperiksanya berada. “Kita pun juga curiga padanya, kan?” Kode tangan yang diberikan, membuat Anton mencondongkan badan ke arahnya. “Aku punya teori lain.”

“Apa?” bahasa tubuh Andre membuat Anton penasaran.

“Aku pernah membaca novel, dalam novel itu seorang gadis asing membuat kecelakaan terencana untuk mencuri dokumen rahasia sang pangeran. Dia bahkan berpura-pura amnesia agar pangeran itu terperdaya.”

Anton hampir saja terjengkang mendengar teori konyol itu. “Kau kira dokumen rahasia apa yang bisa dia curi dariku? Kalau pun dia mau memperdaya pangeran, kita tahu siapa pangeran sesungguhnya di keluarga Rahmadiar, KAU!”

Pujian Anton membuat Andre membusungkan data sesaat. Tapi rasa kawatirnya pada sang adik membuat Andre mengembalikan topic pembicaraan kembali. “Hanya dengan membawanya ke rumah sakit, kita bisa tahu dia benar-benar amnesia atau tidak,” Andre kembali menekankan setiap kata-katanya.

Anton menggeleng. Oke, gadis itu dibawa ke rumah sakit, lalu Ayahnya mulai menginterogasi, polisi dilibatkan, mereka menanyai perihal kesadarannya waktu mengemudi, kemungkinan dia mabuk atau tidak, lalu habislah riwayatnya sebagai anak Rahmadiar. Gadis itu pasti punya keluarga, Anton berniat mencari keluarga gadis itu. Anton merasa masalah pasti akan selesai setelah gadis itu bertemu keluarganya, tanpa polisi dan prosedur ribetnya. “Aku akan mencari tahu asal-usul gadis itu.”

Andre menghembuskan uap kejengkelan di udara. “Terserah kau saja,” dia sudah mulai gerah dan menjinjing tas prakteknya. “Kau adalah pria naif dan demi tuhan… kenapa aku bisa bersaudara denganmu?”

Ungkapan jujur yang membuat Anton menyeringai. “Itu adalah hukuman bagimu.”

Andre beranjak ke pintu keluar. Tangannya sudah akan menyentuh handle pintu saat akhirnya dia berbalik pada Anton. “Emily.”

“Emily?”

“Nama perempuan di novel itu adalah Emily. Sementara kau bisa memberikan nama itu untuknya.”

Emily? Nama yang cantik. Anton merasa nama itu cocok bagi si gadis amnesia. Saat mengamati wajah gadis itu di depannya, ketika mereka sarapan bersama. Wajah yang Anton anggap mirip Amelia itu memang pantas pula menyandang nama yang mirip dengan Amelia. “Emily,” gumamnya.

Gadis itu mendongak, menghentikan aktifitas mengkunyah roti. Anton merasa geli melihatnya. Dengan kedua tangan memegang roti tawar tepat di dadanya, gadis itu nampak seperti anak kecil yang baru belajar makan. Apalagi melihat baju Anton yang jadi kebesaran di tubuhnya, ‘Emily’ jadi mirip anak kecil yang bermain-main dengan baju orang dewasa.

“Untuk sementara namamu adalah Emily,” Anton lebih menjelaskan gumamannya tadi. Dia harus berhenti menatap gadis itu, menahan untuk tidak tertawa. “Kau suka nama itu?”

“Aku tidak tahu,” Kalimat itu lagi yang si gadis katakan. Kalimat yang sama sejak setengah jam yang lalu.

Mungkin Anton salah. Mungkin Anton tidak perlu menanyakan pendapat gadis itu mengenai namanya. Bukankah para orang tua juga tidak menanyakan pendapat anaknya saat menamai anaknya itu?

“Oke, namamu Emily. Ini perintah!”

Anton menatap lurus ke mata ‘Emily’, merasakan suaranya menyentak gadis itu. Dia bisa melihatnya dari mata Emily yang membelalak sekejap. “Aku akan mencari di mana keluargamu,” Anton mengiris roti sandwich di piring lalu memasukkannya ke mulut. Gaya makannya sungguh kontras jika dibandingkan dengan gadis di depannya.

“Namamu siapa?”

Akhirnya… gadis itu mengucapkan kalimat lain selain ‘Aku tidak tahu’. Anton tersenyum lega. Sambil mengulurkan tangan, Anton memperkenalkan diri, “Anton Rahmadiar. Senang berkenalan denganmu, Emily.”

Emily tidak menjabat tangannya. Entah apa yang dicarinya, Emily menolehkan kepalanya ke segala arah di ruang makan. “Dokter itu tadi….”

“Kakakku,” potong Anton. “Dia sudah pergi.” Entah kenapa Anton bisa mempercayai Emily. Mungkin benar kata Andre, pikirnya. Aku terlalu naif.

“Dengar, aku akan berterus terang padamu,” Anton merasa kalau Emily harus tahu kecurigaannya. “Aku ragu kau benar-benar amnesia. Aku tinggal sendirian di sini dan aku harus segera ke kampus. Jadi untuk sementara aku tidak bisa mencari tahu tentang keluargamu.”

Berbelit-belit, Anton merasa kalimatnya cukup berbelit. “Karena aku harus ke kampus, aku akan meninggalkanmu sendirian di sini. Dan karena aku tidak mempercayaimu, ehm… aku curiga kau merampokku, aku akan meninggalkanmu dalam apartemen ini dengan keadaan terkunci. Cukup ada makanan di kulkas sehingga kau tidak kelaparan sampai aku datang.”

“Aku tidak tahu.”

Huft! Kenapa kalimat yang bikin jengkel itu yang dia bilang. Anton merutuk dalam hati. Emily bisa merasakan kekesalan Anton. Tapi memang dia benar-benar kebingungan. Anton mendesah sambil berdiri. Sarapan sudah dirasakan cukup mengenyangkan. Mata bundar Emily mengikuti gerak-geriknya saat menyampirkan tas ransel di pundak. “Aku pergi dulu. Seperti yang kukatakan tadi. Kau di sini dalam keadaan terkunci.”

Anton beranjak keluar dari apartemen. Dia benar-benar melakukan niatannya. Emily bisa mendengar suara pintu terkunci dari luar, sementara dirinya masih duduk di ruang makan. Tentang identitasnya, Emily  kehilangan petunjuk. Seakan satu nama itu benar-benar raib. Sebuah misteri yang mungkin harus dipecahkan.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s