THE SECRET II (Temptation of Island — Part 12)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 12

Hujan  di pulau, serasa lain bagi Kwang hari ini. Pria ini duduk di dekat jendela, mengamati suasana luar yang berkabut, sementara itu Chamille kerepotan menenangkan tangis bayi mereka. Chamille sudah mengganti kain popoknya, bahkan sudah menyusuinya, tapi bayi itu masih saja menangis. Sempat kawatir, dipegangnya kening sang bayi, tidak demam. Putus asa, dia mencoba menyusuinya lagi, bayi itu menolak menyesap asinya, malahan semakin memperkeras tangisannya. Tangisan yang mampu mengalahkan suara deras hujan di luar dan membuat sang Ayah menoleh.

Kwang berjalan ke arah Ibu dan bayinya itu lalu duduk bersila di depannya. “Kenapa dia?”

Chamille menggeleng. Dia masih berusaha menenangkan bayi itu dengan menepuk-nepuk pantatnya. “Entahlah, dia sudah sangat kenyang. Suhu tubuhnya normal. Aku juga tidak tahu kenapa,” terdengar nada penyesalan di suara Chamille. Tak terasa matanya perih, merasa gagal menjadi Ibu dan menangis.

“Berikan dia padaku,” Kwang menyodorkan kedua tangannya. Chamille menatapnya ragu. Dia menggerakkan kedua tangannya lebih mendekat, Chamille pun perlahan mengulurkan sang bayi, meletakkannya dengan penuh kelembutan di gendongan Kwang.

Bayi itu masih menangis. Kwang mendekatkan bibirnya di telinga sang bayi, menyanyikan lagu rakyat lembut sambil menepuk-nepuk pantatnya. Perlahan, tangisan sang bayi semakin lirih, hingga terhenti dan tinggal satu-dua isakan kecil. Bayi itu menatap tepat di wajah Kwang dengan mata bening yang masih menyisakan air mata. Kwang terpesona kembali dengan bayinya.

Chamille menggeser duduknya hingga mendekati mereka. Senyuman tersungging di bibirnya dan dia meminta bayinya kembali. “Dia sudah tenang, berikan lagi padaku.”

Kwang semakin mempererat gendongannya. “Tidak, dia pasti menangis lagi kalau kau gendong.”

“Kang! Aku Ibunya.”

“Tapi kau tidak bisa menenangkannya.”

Chamille bersedekap, membuang muka dengan sewot. Kwang tidak menghiraukannya. Pria ini tetap menyanyikan lagu rakyat di telinga putranya. Chamille merasa dianak-tirikan. Dia berbaring di tempat tidur, menyelimuti tubuh sampai kepala secara kasar.

“Hai, kau kenapa?” Agak geli Kwang menanyakan itu. Tidak ada respon, Chamille benar-benar ngambek. Kwang mencium kening putranya. “Ibu ngambek, Il Hwan.”

Di balik selimut, telinga Chamille berjengit mendengar panggilan itu. Il Hwan?

Chamille bangun dan membuka selimut yang menutupi wajahnya. “Kau panggil siapa dia tadi?”

“Il Hwan,” Kwang menyebutkan nama itu tepat di telinga bayinya.

“Ya, siapa yang menyuruhmu memberi nama Korea!”

“Aku ayahnya. Aku orang Korea. Aku ingin dia bernama seperti itu. Il Hwan, tulus dan bersinar. Iya  kan, Sayang.” Kwang menepuk-nepuk lagi pantat Il Hwan.

“Aduh,” Chamille menggelengkan kepala,”Menyebut namamu saja susahnya minta ampun. Dia harus punya nama barat. Aku akan memberikan nama kakeknya padanya. Ya, namanya Anthoine… Anthoine Shin.”

“Tidak bisa!” Kwang menggeleng tegas.”Namanya Shin Il Hwan. Shin nama margaku, artinya kepercayaan. Il Hwan, tulus dan bersinar. Aku berharap dia bisa menjadi orang yang terpercaya, tulus dan dengan masa depan yang bersinar. Anthoine Shin terdengar seperti berarti….,” Kwang berhenti sebentar untuk berpikir “ ‘Anthoine yang pemalu’. Cih!” Kwang mencibir.

Masih dalam posisi duduk, Chamille berkacak pinggang. “Kau menghina nama ayahku?”

“Tidak! Hanya saja kata ‘Shin’ terdengar seperti ‘Sin’ kalau kamu yang mengucapkan, apalagi ditambah nama Anthoine di depannya. Anthoine yang pemalu atau Anthoine yang berdosa.”

“Hah!” Mata Chamille terbelalak lebar, dengan mengatur emosi, dia berargumen. “Itu karena nama Korea susah di sebut! Makanya jangan memberinya nama Korea!”

“Ayahnya orang Korea, jadi dia harus bernama Halyu. Lihat, bagaimana dia tenang kalau aku memanggilnya begitu,” lalu Kwang menimang bayinya lagi. “Il Hwan…, tidurlah, Il Hwan.. .”

Kwang benar, mata bayi itu semakin meredup, seolah menyetujui nama itu melekat padanya. Chamille mendengus lalu berbaring kembali. Kwang tersenyum geli melihatnya. Semakin lama dia tidak tega. Ditidurkannya Il Hwan di samping Chamille. Bayi itu membuka mata, merengek sebentar sebelum Kwang mengelus-elus lembut keningnya. Chamille memandang wajah Kwang. IL Hwan tertidur lagi, pandangan Chamille beralih pada Il Hwan.

“Mulai sekarang…,” Kwang berkata lembut pada Chamille masih dengan mengelus kening Il Hwan. “Kau harus lebih bisa mengucapkan namanya dengan benar. Ayo, coba ucapkan namanya, Chamille! Shin … .”

“Sin.”

Kwang membimbing Chamille. Masih terdengar seperti ‘Sin’, Kwang mengulanginya lagi. “Shin!”

“Sin!”

Kwang memutar bola matanya. Lupakan tentang Shin, yang penting bagaimana Chamille mengucapkan nama bayinya. “Il…,” Kwang membimbing lagi.

“Ill.”

Gubrak! Kenapa terdengar seperti ‘Ill’?

“Il, Sayang. Il dengan satu huruf L bukan dua huruf L!”

“Tuh, kan… artinya jadi buruk kalau diucapkan dalam bahasa Inggris,” Chamille terkikik. Kwang mendelik. Chamille membungkam mulut dengan tangan untuk menghentikan tawanya.

“Oke.. oke … ‘Ill’ !” Chamille sudah berusaha mengucapkan kata itu dengan benar tapi tetap saja terdengar seperti ‘Ill’. Kwang menggeleng.

“Ill?”

Kwang masih menggeleng.

Chamille berdehem lagi dengan menutup mata, dia berucap, “Il?” Chamille membuka matanya perlahan demi melihat reaksi Kwang. Suaminya tersenyum sekarang. “Sudah benar?”

Kwang mengangguk.

“Sekarang, nama belakangnya. Hwan!”

 “Hwan!”

Senyum Kwang semakin lebar. “Shin Il Hwan!” Kwang menyuruh Chamille mengulang nama putranya secara keseluruhan.

“Sin Ill Hwan!”

Gubrak!

Dosa dan sakit? Oh, No!

“Shin… Il… Hwan,” ulang Kwang perlahan-lahan.

“Shin… Ill…,” mimik wajah Kwang berubah kecewa, Chamille mengulangi lagi ucapannya. Kali ini lebih hati-hati. “Shin… Il…,” dan melihat senyuman Kwang, Chamille meneruskan bicaranya, “…Hwan.”

“Iya,” Kwang mengangguk. “Shin Il Hwan.”

“Shin Il Hwan,” Chamille menyebutkan nama itu lagi di dekat telinga sang bayi lalu mengecup pipinya.

“Nama putramu adalah Shin Il Hwan. Dan nama suamimu adalah Shin Hyun Kwang. Ingatlah itu, Sayang,” Kwang mencium kening Chamille. Chamille teringat pada Ibu dan Ayahnya. Dulu, sering kali Ayahnya juga mengatakan hal itu pada Ibunya. Seolah-olah Ibunya akan melupakan semua itu esok hari. “Nama putramu adalah Jonathan Louis d’Varney. Putrimu adalah Chamille Louis d’Varney  dan nama Suamimu adalah Anthoine Louis d’ Varney. Ingatlah itu, Sayang.”

Mata Chamille mengerjap. Dia semakin ingat kalau Ibunya adalah mantan pasien sang Ayah. Anthoine pernah bercerita kalau Charlie mempunyai memory yang buruk. Karena kenakalannya, Chamille bahkan bisa memasuki ruang rahasia Anthoine tanpa diketahui oleh Ayahnya itu. di ruangan itu tersimpan dokumen, tentang siapa sang Ibu dan apa yang dilakukan Ayahnya sebagai dokter.

“Kang,” Sebelum wajah Kang menjauh, Chamille menangkup kedua belah pipi Kwang. “Kenapa kau berkata begitu? Seolah aku akan melupakanmu?”

“Aku? Aku tidak bermaksud seperti itu?” Kwang menggedikkan pundaknya.

“Kang…, kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan ayahku.”

Masih dengan kedua telapak tangan Chamille yang menempel di kedua belah pipinya, alis Kwang menaik. “Memangnya apa yang bisa dia lakukan?”

Chamille semakin sedih memikirkan kemungkinan itu. Tapi dia merasa tidak baik jika membeberkan rahasia keluarganya pada Kwang. Hanya saja… entahlah… jika Anthoine melakukan hal itu lagi untuk memisahkan mereka. Melakukan padanya atau mungkin pada Kwang…, pada Kang? Chamille merasa kalau dia perlu mengatakan ini pada Kwang, “Nama putramu adalah Shin Il Hwan. Dan nama istrimu adalah Chamille Louis d’ Varney. Ingatlah itu, Kang.”

Mata Chamille berkaca-kaca. Dia bangun dan memeluk Kwang erat-erat. “Ingatlah itu… Ingatlah selalu,” Chamille berucap diantara senggukan tangisnya. Kwang bingung, namun saat ini, dia hanya bisa mengelus rambut istrinya, menenangkannya.

“Ingatlah selalu, Kang… Ingatlah selalu.”

—oOo—

Hujan hampir reda saat kapal motor Bouwens 117 yang dikomandoi Jin He hampir mendekati pulau. Ombak sangat tidak bersahabat, sementara Bill memperkirakan kalau pantai terlalu landai, dipagari karang-karang  untuk bisa mendarat.

“Kita harus berhenti atau kapal ini hancur menabrak pulau. Bukannya mencari orang terdampar, kitanya malah yang terdampar,” keluh Yun So.

 Sekali lagi Jin He mengarahkan teropongnya ke pulau. Ada ketidaksabaran di benaknya untuk segera sampai, dia yakin Chamille d’Varney ada di situ. Entah dari mana munculnya keyakinan itu. “Berhentika kapal. Turunkan sekoci,” katanya pada dua orang  anak buah dengan dua perintah yang berbeda. Mereka segera melaksanakan perintahnya.

“Apa?” Yun So kelihatan tidak setuju dengan pikiran Jin He.

Sambil membenahi perlengkapan yang melekat di tubuhnya, sekali lagi Jin He memerintah,“Kalian menjaga kapal. Pastikan kontak tetap terjaga dengan komando di darat. Aku akan ke pulau itu dengan sekoci.”

Yun So semakin kaget. “Kau gila! Kau kapten di sini! Bagaimana kalau di pulau itu ada suku kanibal, dan… .”

“Kau terlalu banyak menonton film bajak laut,” potong Jin He sambil meloncat ke sekoci.

“Tunggu! Aku ikut!” Yun So mengikuti Jin He melompat ke sekoci setelah mengulangi perintah Jin He pada para anak buah, “Jaga kapal!”

Jin He mendiamkan keputusan Yun So walau pun dalam hatinya tidak setuju. Dia malas berdebat dengan Yun So saat ini. Semakin tak sabar rasanya menjelajah pulau itu. Mereka mendayung membelah gelombang yang mengombang-ambingkan sekoci, melawan angin yang seolah melarang untuk mendekati pulau. Hingga saat sekoci masih tiga puluh langkah menuju dataran, Jin He tiba-tiba meloncat.

“Hai!” Yun So yang mendayung di belakangnya berteriak kaget. Jin He berenang menuju daratan saking tidak sabarnya dan Yun So hanya bisa pasrah mendayung sendirian. “Damn! Jika kau mati, aku akan mengutukmu!” ancam Yun So.

Namun Yun So lega saat melihat kemunculan Jin He dari air. Jin He terlihat berlari, dengan air masih menggenang sampai pahanya. Sekuat tenaga, dia melawan dan saat sampai di daratan, dia meloncat girang, bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

Yun So menyusul dengan sekocinya kemudian. Jin He sudah mulai mengamati keadaan pantai, tanpa memperdulikan Yun So yang kerepotan merapatkan sekoci. “Dasar! Huft!” Yun So mendengus. Sekoci itu terasa berat ditarik dengan tali tambang menuju darat.

Ketika melihat bendera yang terbuat dari ranting dan janur kering, apalagi susunan bendera itu yang berbaris membentuk huruf SOS, Jin He semakin yakin kalau ada orang yang terdampar di sini. “Isyarat yang tepat!” pikir Jin He.

“Fuh!” Selesai sudah, Yun So menarik sekoci ke daratan yang agak jauh dari pantai, dia juga sudah memastikan kalau ombak tidak bakal menyeret sekoci ke lautan. Tingkah Yun So tidak diperhatikan oleh Jin He, pria itu mendekati bendera-bendera yang berjajar, mengelusnya. Yun So berkacak pinggang melihat sahabatnya dan juga bendera itu, hingga mampu menyimpulkan jalan pikiran Jin He.

“Kau pikir Chamille Louis d’Varney bisa memikirkan hal seperti itu?” tanya Yun So.

“Entahlah,” Jin He menoleh pada Yun So.”Setidaknya ada orang lain yang terdampar, kalau pun itu bukan Chamille d’ Varney.”

Yun  So mendengus kesal. “Kalau itu bukan Chamille, apa gunanya?”

“Ssshhh! Diam kau!”

Jin He mengamati sekeliling pantai kemudian. “Kita berpencar,” usul Jin He. “Kau ke kanan, aku ke kiri.”

“Untuk apa?”

“Bodoh!” kata Jin He sambil memukul kepala Yun So. Yang dipukul meringis kesakitan. “Tentu saja mengelilingi pulau.”

Dan anehnya, nyali Yun So langsung mengkerut, “Tidak! Aku tetap di belakangmu!”

Mata Jin He bergerak sebal. Sebenarnya Yun So bukanlah pelaut, bisa dibilang dia pecundang yang mengikuti pelayaran untuk menghindari para preman yang menagih hutangnya kepada rentenir. Jin He mencabut pisau kecil yang terselib di pinggangnya. Dia harus berjaga-jaga. Angin masih sangat kencang menerbangkan pasir-pasir di sekitar mereka saat mengelilingi pantai. Jin He berjalan di muka, menantang angin, dan Yun So mengekor bagaikan anjing pudel yang setia.

“Aku rasa, kita harus memasuki hutan.” Puas dengan pantai, Jin He mengutarakan niatannya pada Yun So. “Kita tidak akan menemukan apa-apa jika tetap di sini. Orang itu pasti masuk ke hutan untuk bertahan hidup.”

Yun So bergidik mendengar Jin He tapi melihat pisau yang dipegang Jin He, dia yakin kalau Jin He mampu mengantisipasi bahaya yang ada. Termasuk bahaya binatang buas atau suku kanibal yang menghantui Yun So. “Terserah, kau yang kapten.”

 Jin He mendengus. Dia mulai melangkah mendekati hutan. Yun So berjalan semakin mendempet Jin He, bahkan tangannya memegangi pundak Jin He sehingga sang kapten merasa bagaikan membimbing anak kecil memasuki wahana  goa hantu. “Ya! Jauhkan tanganmu dari pundakku!” Jin He menggedikkan bahunya untuk menghalau tangan Yun So.

Rimbun pepohonan menyapa penglihatan mereka kemudian. Suasana berkabut, mereka semakin tenggelam dalam hutan dan anehnya hujan mereda. Bau tanah berhumus tercium, segera melenakan mereka. Bahkan Yun So yang tadinya takut, mulai berani berjalan sendiri. Di antara rimbunnya pepohonan itu, Jin He bisa melihat jalur-jalur yang sering dilewati manusia. Dia jadi berpikir ulang. Dia menyimpulkan kalau mungkin saja pulau ini berpenghuni. Tapi jika memang demikian, kenapa keberadaannya tidak tercantum di atlas dunia? Apa pula maksud tanda bendera di pinggir pantai tadi?

Ada banyak jalur. Jin He bingung mau memilih yang mana. Dia memejamkan mata. Berusaha memilah-milah suara alam di antara suara berisik Yun Ho mengomentari keindahan hutan. Dan sayup-sayup pertanda terdengar. Jin He mengangkat tangannya, lalu memberi isyarat agar Yun So diam dengan menempatkan telunjuk ke mulut. “Ssst…, dengar! Suara air.”

“Ya, belakang kita kan pantai, tentu saja itu suara air.”

Merasa bagai berkomunikasi dengan anak autis, Jin He meninggalkan Yun So menuju sumber suara. Yun So mengikutinya lagi. Dan berakhirlah mereka di air terjun.

“Bukan main!” sorak Yun So. Tanpa pikir panjang lagi, dia terjun ke air.

“Hai!” teriakan yang sia-sia dari Jin He karena Yun So sudah berada di dalam air.

“Ayolah! Ini segar sekali!”

“Bodoh!” cibir Jin He.

Setidaknya mereka menemukan air sebagai persediaan kapal. Begitulah pikir Jin He. Yun So sepertinya sudah tidak ketakutan lagi. Saat menunduk, Jin He melihat bekas telapak kaki. Dia yakin kalau itu bukan telapak kaki mereka, tanda itu adalah tanda telapak kaki telanjang, sedangkan mereka memakai sepatu.

Tanpa menghiraukan Yun So yang masih asyik berenang, ditambah keyakinan kalau sahabatnya sudah merasa nyaman dengan pulau, Jin He mengikuti jejak demi jejak telapak kaki. Keberadaannya semakin jauh dari Yun So.

Jejak itu membimbingnya menuju sebuah pondok. Mata Jin He terbelalak. Konstruksi pondok itu begitu mengagumkan, akar gantung dari pohon, justru memperkokoh keberadaan pondok dengan melilit setiap bingkai bambunya, sementara dinding anyaman janur, semakin mempertegas adanya keberadaan manusia dalam pondok. Sekali lagi Jin He memikirkan maksud tanda bendera SOS, langkahnya semakin mendekati pondok. Lalu berhenti saat melihat bekas perapian tepat di depan pondok. Jin He berjongkok, menyentuh abu perapian itu. Pagi ini rupanya perapian tidak menyala. Mungkin disebabkan hujan deras tadi.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Jin He mendongak, menatap pintu pondok. Dia berdiri, perlahan mendekati pondok. Satu langkah menaiki tangga pondok. Bambu yang dia pijak bergemeretak, menimbulkan suara. Satu langkah lagi dan…

“Kang, itu kau? Il Hwan menangis lagi. Aku tidak tahu kenapa.”

Kening Jin He berkerut. Seorang wanita? Berbahasa Halyu? Hati Jin He diliputi tanda tanya. Tangisan bayi masih terdengar, rupanya wanita itu kerepotan menenangkan bayinya. Apalagi saat pintu pomdok terbuka lebar, dan wanita dengan bayi di pangkuannya itu, mendadak panik melihat kehadiran Jin He yang dianggap orang asing. Wanita itu meringsut mundur, merapat ke pojok dengan mendekap bayinya erat-erat tanpa memperdulikan bayi itu semakin menjerit..

Jin He bisa merasakan kepanikan Ibu di depannya. Dia berjalan perlahan, mendekati wanita itu, tanpa menyadari kalau pisau di tangannya masih teracung. Pisau itulah yang membuat wanita itu ketakutan. “Tenang, Nyonya,” perkataannya sangat absurb, berlawanan dengan tingkahnya yang masih menodongkan pisau tanpa sadar.

“Jangan bergerak!” seorang lelaki, entah kenapa tiba-tiba bisa berada di belakangnya. Sesuatu yang dingin dan runcing sudah menempel di punggungnya.”Percayalah, alat ini lebih tajam dari pisau yang ada di tanganmu,” ancam lelaki itu lagi. Jin He menjatuhkan pisaunya lalu melipat kedua tangan di kepala. Lelaki itu menendang siku kakinya. Jin He terjerembab. Lantai pondok berdetum, anehnya tidak ambrol. Siku lelaki itu segera menekan kepalanya di lantai.

“Kang!” wanita itu berteriak, lega akan kehadiran lelaki itu.

“Tenanglah, Chamille… Pria ini tidak mungkin macam-macam lagi.”

Chamille? Mata Jin He melebar.

“Tu… tunggu!” Susah payah Jin He berkata. “Anda… anda Chamille … Chamille Louis d’ Varney?”

Lelaki yang mengancamnya masih berada di atasnya. Jin He berusaha melihat wanita dengan bayinya yang masih menangis itu walau berat. “Anda putri keluarga d’ Varney?” Jin He berusaha meyakinkan. Bagaimana tidak, penampilan Chamille sekarang ini sangat jauh berbeda dengan foto yang selama ini ada di sakunya. Berantakan, mirip suku primitif. Jin He memicingkan mata, bersikeras melihat mata wanita itu.

Matanya coklat kemerahan!. Ya! Itu Chamille Louis d’ Varney!

Wanita itu memandangnya. Ragu-ragu, lalu memandang lelaki yang menguncinya di lantai. “Apa urusanmu, Pak tua!” kata lelaki itu, semakin menekan kunciannya atas Jin He.

Tapi Jin He pantang menyerah. “Nona d’Varney…,” dia masih bicara dengan nafas sesak. “Saya… saya Han Jin He. Ibu anda… menugasi kami mencari anda.”

Wanita itu memandangnya lagi. “Kang… .” Tangisan sang bayi telah mereda.

“Lalu kenapa kau mengancamnya dengan pisau?” lelaki itu yang bertanya. Jin He menyadari kekeliruannya. Pisau itu ternyata sumber masalahnya. Mereka mengira kalau dia akan membunuh Chamille.

“Saya minta maaf. .. saya tidak sadar kalau… kalau itu membuat … anda takut.” Jin He batuk-batuk. Lengan lelaki yang dipanggil Kang itu semakin mencekik. “Believe me… Charlie d’ Varney said me,’Pleasse.., find my home’, Jin He menirukan perkataan Charlie ketika pertama kali dia menemui wanita itu.

Seakan kata itu adalah kata kunci, Chamille menoleh pada Kwang. “Dia benar, Kang. Ibuku memang mengirimnya.”

“Kau yakin?”

“Iya, Ibuku menganggap suami dan anak-anaknya adalah ‘home’nya.”

Cekikan Kwang pun melonggar. Namun keadaan berbalik kemudian. Seseorang gantian menyerang Kwang dari belakang. Sesaat Kwang-lah yang menggantikan posisi Jin He, telungkup di lantai dengan seseorang mengunci di atasnya.

“Jangan!” Chamille dan Jin He berteriak bersamaan.

“Kau baik-baik saja, Kapten!” lelaki itu menyeringai. Tubuh bahkan bajunya masih basah kuyup akibat berenang tanpa melepas pakaian di sungai, Yun So.

“Kau menyakiti suamiku!” Chamille beringsut mendekati Kwang. Kwang meringis, menghalau rasa sakit. Bayi mereka menangis lagi.

“Lepaskan dia, Yun So!”  Jin He memerintah.

“Tapi… .”

“Aku bilang lepaskan dia!”

Yun So mendengus. Dia melepaskan Kwang walau pun ogah-ogahan. Kwang adalah lawan pertama yang berhasil dia kalahkan, tapi Jin He malah menyuruhnya melepaskan Kwang.

“Kang,” Chamille memeluk Kwang setelah pria itu berhasil duduk. Kwang mengambil alih bayinya menciumi bayi itu hingga tangisannya mereda.

“Maafkan kami, Nona d’Varney,” sesal Jin He.

“Nona d’ Varney?” Yun So sama sekali tidak mempercayai ucapan Jin He. Wanita di depannya, wanita dengan baju seadanya dan lusuh itu Chamille d’ Varney?

“Dia anak buah saya, Kim Yun So.”

Yun So pun mendekati Jin He. “Kau yakin dia Chamille d’ Varney? Penampilannya… .”

“Dia terdampar selama hampir setahun. Kau berharap dia berpenampilan seperti apa? Bergaun pesta?” bisik Jin He jengkel.

“Jadi kau benar-benar ditugasi keluarga d’Varney?” tanya Kwang.

“Secara teknis seperti itu,” Jin He masih menyembunyikan peran serta Brian.

“Kenapa lama sekali?” Chamille gentian bertanya.

“Pulau ini sama sekali tak terdeteksi radar bahkan tak tercantum di peta.”

“Seperti yang kuperkirakan,” kata Kwang. Diangsurkannya Il Hwan ke gendongan Chamille. Bayi itu langsung menyesap putting susu sang Ibu begitu disodorkan. Yun So melihat semua itu dengan mulut menganga lalu memandangi Kwang dan beralih pada Jin He dengan pandangan penuh tanya.

Jin He memberi isyarat  dengan kedipan  mata agar Yun So diam lalu meneruskan percakapannya dengan Kwang. “Ada kapal yang menunggu kita, kira-kira satu kilometer dari pantai. Kami tidak berani terlalu merapat karena ombak begitu besar dan karang-karang yang membatasi pantai.”

“Ya, aku tahu itu,” respon Kwang lalu berdiri, melangkah mendekati Jin He dan Yun So. “Anyway…, namaku Kwang. Shin Hyun Kwang.”

Jin He membalas jabat tangan Kwang. “Saya… seperti yang saya katakan tadi, Han Jin He.”

“Kim Yun So,” Yun So menyodorkan tangannya, memperkenalkan diri. Kwang menyambut jabat tangan itu. “Dia anakmu?” Yun So bertanya tanpa basa-basi, sambil menunjuk bayi di gendongan Chamille.

“Ya, dia putra kami.”

Alis Yun So bertaut, sekali lagi memberikan pandangan penuh tanya pada Jin He. Sama seperti tadi, Jin He tidak mengacuhkannya. “Kita akan berangkat setelah kapal cukup mengumpulkan persediaan. Bisa saya pastikan sore  ini.”

“Lebih cepat, lebih baik,” ujar Kwang.

—oOo—

Chamille dan Kwang memandangi pondok mereka untuk terakhir kali. Jin He memberikan waktu pada mereka untuk mengucapkan perpisahan pada segala hal di pulau ini, sementara dia dan para krunya mengumpulkan persediaan air dan makanan. Hanya tinggal Bill di dalam kapal. Kapal masih di lepas pantai, mereka akan menggunakan sekoci menuju kapal nantinya.

Kenangan demi kenangan terbersit di benak pasangan itu ketika memandangi pondok itu. pondok itu adalah saksi bisu cinta mereka. Mereka bahagia di pondok itu. Bercinta, berdiskusi bahkan bertengkar di dalamnya. Terlebih lagi, Il Hwan, putra mereka terlahir di pondok itu. Chamille terhanyut suasana, tak terasa air mata mengalir. Kwang merangkul Chamille, mencium ubun-ubunnya.

“Kang, suatu saat, akankah ada orang lain yang terdampar di sini, lalu memakai pondok ini?”

Kwang tersenyum.”Entahlah, Chamille. Biarlah pondok ini tetap seperti ini. Mungkin berguna bagi mereka yang terdampar.”

“Iya,” Chamille mengelus pipi Il Hwan, membisikkan sesuatu di telinganya,”Ucapkan selamat tinggal pada pondok kelahiranmu, Sayang.” Lalu mencium keningnya.

“Eh hm!” Yun So, yang ditugasi Jin He untuk mengawal pasutri itu, memecahkan keheningan dengan deheman. “Waktunya sudah tiba, Tuan Shin.”

Kwang tergagap. “Oh, baiklah.” Lalu beralih pada Chamille.”Kau sudah kuat buat berjalan, Sayang.”

Chamille menggeleng.”Entahlah, aku tidak yakin.”

“Baiklah,” Kwang mencium kening Chamille lalu mengangkat Chamille di gendongannya, sementara Chamille menggendong Il Hwan.

Sambil berjalan keluar hutan, Yun So berjengit melihat tingkah mereka. “Biar aku bantu menggendong bayimu, Tuan Shin,” akhirnya pria ini menawarkan bantuan.

Chamille menyanggupi. Jin He berhenti sebentar agar Yun So bisa mengambil Il Hwan dari Chamille. Mereka bertiga berjalan kembali, menuju pantai. “Apakah Nona d’Varney sakit?” tanya Yun So lagi.

“Tidak! Chamille sebenarnya masih dalam masa nifas,” jawab Kwang.

“Apa?”

“Baru semalam dia lahir, Tuan Kim,” jawab Chamille.

Yun So langsung kaget. Dia menatap bayi mungil di gendongannya lebih seksama. Bayi itu memang masih merah, dia jadi gugup dan lebih berhati-hati menggendong.

Sampailah mereka di sekoci. Kali ini ada dua sekoci. Satu sekoci untuk mengangkut persediaan air dan makanan. Satunya lagi untuk mengangkut Chamille, Kwang dan bayi mereka dengan Jin He da Yun SO sebagai pendayung.

Ombak menyulitkan sekoci-sekoci itu untuk ke tengah laut, mereka harus mendayung lebih kuat. Saat semakin ke tengah, perairan mulai tenang. Kwang mengamati pulau yang semakin mengecil di belakang mereka.

“Kapten, sebenarnya di mana kami selama ini?” tanya Kwang pada Jin He.

“Sesungguhnya, Tuan Shin? Mendekati Samudra Hindia.”

Pulau semakin mengecil namun kapal yang sedianya akan mereka tumpangi semakin tampak jelas. Hingga Kwang melihat tanda pengenal di kapal itu, ‘Bouwens 117’ . Ada sedikit kekawatiran, tapi demi melihat kembali peradaban, demi berkumpul kembali dengan keluarganya, Kwang menekan rasa kawatir itu.

 

BERSAMBUNG

THE SECRET II (Temptation of Island — Part 11)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 11

“Waktu itu aku melihat sosoknya di mall. Aku tidak tahu bagaimana bisa berada di mall tapi aku melihatnya.”

Sambil menyandar di sofa, Anthoine menyaksikan rekaman penghipnotisan Charlie di ruang kerja Stacy. Tangan kanan yang pada mulanya menumpu di lengan sofa, bergerak ke atas demi memijit-mijit pelipisnya. Charlie di balik layar LCD itu terdiam sebentar, meremas-remas jemarinya gusar.

“Dia… dia… aku mengikutinya dan lalu…. .”

Sekali lagi Charlie terdiam. Anthoine menahan nafas. Mata Charlie memerah dan akhirnya air mata menetes seiring suaranya yang mulai timbul tenggelam. “Ada seorang anak laki-laki yang berlari padanya. Dia memeluknya. Sepertinya dia sangat bahagia karena anak itu. Lalu aku melihat seorang perempuan, demi Tuhan… aku semakin mendekati mereka. Perempuan itu… perempuan itu adalah Ibu anak itu dan… dan…. .”

Charlie semakin menyakiti diri dengan meremas jemarinya kuat-kuat. Tangan Stacy terulur, mencegah Charlie membuat jemari lentik itu semakin memerah.

Anthoine melihat adegan itu dan merasa jengah. Namun dia harus tahu semuanya. Stacy sudah tidak memperhatikan rekaman itu lagi. Respon Anthoine lebih menarik perhatiannya sekarang.

“Nick dan perempuan itu…  Anak itu adalah anak mereka!”

Charlie menunduk, membenamkan wajah penuh tangis di kedua telapak tangannya. Bahunya bergerak seiring isakan tangisnya lalu mendongak, mengatur nafas demi mengatakan kalimat selanjutnya.

“Aku semakin mendekat. Nick melihatku. Aku meminta penjelasan padanya. Bodohnya, dia malah kebingungan, memanggilku Nyonya d’ Varney. Dia berkhianat tapi … tapi malah mengatakan kalau pernikahan kami…  sudah lama berakhir dan…. dan aku menikahi orang lain.”

Sekali lagi, Charlie tidak bisa menahan tangisnya.  Tidak bisa lagi dibayangkan raut muka Anthoine. Rasa cemburu menjalari hatinya. Di dalam diri istrinya, Charlotte Whitely masih mencintai Nick Rothman.

Stacy menghentikan laju rekaman. “We can stop it if you …

“No! I want watch it,” elak Anthoine. Stacy menjalankan rekaman kembali.

“Aku tidak kuat lagi. Aku berlari menjauhi mereka, Nick mengejarku dan  memanggil-manggil. Aku tidak perduli. Sesak rasanya. Dia penghianat. Dia penghianat! Sakit sekali! Sakit sekali!”

Charlie memukul-mukul dada.

“Kematianku akan menghukumnya, aku berpikir begitu. Dia pasti merasa bersalah. Aku akan menghantuinya dengan perasaan bersalah. Aku akan menghukumnya seperti itu. Aku mati dan dia terhukum! Aku mati dan dia terhukum!”

Stacy mematikan rekaman. Anthoine mendesah, lemas bersandar di sofa. Stacy duduk di depannya, menuangkan air mineral  ke dalam gelas lalu disodorkan pada Anthoine.

“No.” Anthoine menolak minuman itu. Stacy meletakkan kembali gelas di atas meja yang memisahkan mereka berdua. “The meeting was unplanned,”  Stacy menanggapi isi rekaman itu.

“Nick Rothman is innocent. He didn’t cause the accident.” Stacy menyilangkan kakinya. Anthoine mendongak, menghembuskan nafas berat.

“Charlotte think if she is death, Nick will suffer and she will punish Nick with her death. She thought like that while driving  then she drove brutally and the accident occurred.”

Anthoine mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Stacy berhenti berkata-kata. Perlahan dia mengangkat punggungnya dari sofa yang nyaman  untuk bangkit. “Anthoine, how about the integration?” pertanyaan Stacy menghentikan langkah Anthoine yang akan meninggalkan ruangan itu.

“Just do it.” Anthoine menjawab tanpa menoleh lalu meneruskan niatannya untuk meninggalkan ruangan. Stacy menghela nafas panjang. Mungkin Anthoine ingin agar semua ini cepat berakhir, Stacy berpikir kalau hal ini tentu berat bagi Anthoine. Tiga pribadi dalam tubuh istrinya dan satu dari ketiga pribadi itu, mencintai pria lain.

Jadi itukah alasan yang menyebabkan kecelakaan itu? Kecelakaan yang hampir membuat mereka kehilangan Chamille? Anthoine sama sekali tidak percaya. Selama ini, dia merasa kalau Nick-lah yang paling bersalah. Tapi kenyataannya, kelabilan pribadi Charlotte yang menyebabkan semua itu. Charlotte yang labil, sialnya muncul di saat Charlie tanpa pengawasan. Itukah sebabnya Charlie ketakutan untuk menginjakkan kakinya di Korea lagi? Alam bawah sadar Charlie rupanya selalu mengingatkannya, Anthoine tahu itu sekarang.

Dan Anthoine masih memikirkan hal itu walau pun sekarang ini, laporan-laporan mengenai kondisi perusahaannya sudah berada di tangan. Tidak ada perubahan yang mengkawatirkan. Orang-orang kepercayaannya sudah bekerja dengan baik. Bukan bisnis yang perlu dia perhatikan, melainkan istrinya.

Charlie duduk di atas ranjang di dalam kamarnya. Di pangkuannya, Sabrina tertawa, memperlihatkan senyuman yang tanpa gigi. Charlie menggoda bayi itu dengan menggelitiki kakinya, respon bayi itu sungguh mengagumkan dan Charlie menikmatinya. “Oh, Sayang…ayo tertawa lagi!” Bukan hanya kaki, kini Charlie menggelitiki perut Sabrina. Kaki Sabrina menendang-nendang seiring tawanya yang tergelak. Tubuh bayi itu sudah sangat kaku saking gelinya sehingga dia merengek, memohon pada Charlie agar tidak menggelitikinya lagi dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti olehnya dan Charlie.

“Oh, sudah capek, ya tertawanya?” Charlie mendekatkan wajahnya pada Sabrina. Sabrina mengerang menjawab Charlie. “Oh, Sayang,” Charlie mengangkat Sabrina dari pangkuannya, diciumnya kening Sabrina sambil menepuk-nepuk pantatnya. “Capek? Iya?” Charlie memandangi Sabrina yang kini menggesek-gesekkan wajahnya di dada Charlie. “Dan sekarang pengen minum?” tanya Charlie.

Sabrina merengek. Charlie tertawa mendengar tangisan kesal Sabrina. “Iya, iya, Sayang,” Charlie membuka kancing dadanya lalu menyusui Sabrina.

Charlie terlalu asyik dengan Sabrina. Dia tidak menyadari kehadiran Anthoine di ruangan itu, yang sudah memperhatikannya selama lima menit. Baru setelah Sabrina tenang menyusu dan ruangan itu berubah senyap, langkah kaki Anthoine membuatnya berjengit. Charlie menyongsong Anthoine dengan senyuman manis dan pria itu mencium keningnya lalu mencium kening Sabrina.

“Aku sudah memasuki kamar ini lima menit yang lalu dan baru sekarang kau mengacuhkanku?” protes Anthoine setelah duduk di samping Charlie. Sama-sama menyandar di kepala ranjang, menyaksikan Sabrina yang sesekali mengerang, seolah berbicara sesuatu padahal mulutnya masih menyesap ASI.

“Maafkan aku, Anthoine. Aku benar-benar tidak mendengarnya.”

Anthoine mengelus kening Sabrina. Bayi itu mengerang protes. Charlie tertawa sejenak. “Dia tidak suka diganggu kalau sedang menyusu,” kata Charlie. Anthoine mendengus.”Anak ini… masih kecil saja sudah pilih kasih begitu.”

Charlie tertawa. Anthoine tersenyum lalu merangkul Charlie erat. Mata Sabrina semakin meredup tapi tangannya bergerak di atas dada Charlie, memijat-mijat. “Lihat, dia menandai apa yang dimilikinya,” ujar Anthoine. Charlie mengangguk. Suara mereka jadi lebih lirih dari sebelumnya. “Dia selalu menjawab perkataanku, Anthoine. Lucu sekali.”

“Dia mengantuk,” perkataan Anthoine diiyakan Charlie dengan anggukan. “Mungkin kecapekan karena tertawa terus tadi. Oh, ya… Bagaimana hasil pertemuanmu dengan Stacy?”

Rupanya Charlie sudah mulai menerima keadaannya. Anthoine mensyukuri hal itu. Setidaknya Charlie lebih siap menerima apa pun yang terjadi selanjutnya.

“Besok akan dilakukan pengintegrasian pertama. Kau harus benar-benar siap.”

Charlie  menatap wajah Anthoine. Rasa kawatir menjalari hatinya. Dia mengalihkan pandangannya pada Sabrina, memohon kekuatan dengan menatap kepolosan bayi itu. “Aku akan tetap kuat demi Sabrina.”

Anthoine tersenyum. Pandangannya juga tertuju pada Sabrina. Sekali lagi dia mengelus kening Sabrina. Mungkin sudah berada di alam mimpi, bayi itu tidak protes seperti sebelumnya. Memandangi Sabrina ketika tidur adalah hobi baru mereka. Bayi itu mampu menarik kedua orang tuanya ke dalam dunianya. Sesaat beban berat terlupa jika melihat ketenangan Sabrina dalam tidurnya. Kamar bayi Sabrina pun jarang digunakan karena Sabrina lebih banyak tidur di ranjang Anthoine dan Charlie.

Seperti malam-malam sebelumnya. Malam  ini pun demikian juga. Sabrina tidur di tengah-tengah mereka. Charlie belum bisa tidur. Dia menatap langit-langit memikirkan pengintegrasian besok. Anthoine melihat tangan Sabrina sedikit bergerak, mengacaukan selimutnya sehingga Anthoine harus membenahinya. Pada saat itulah, dia bisa merasakan kegundahan istrinya. Dia agak bangkit, menumpukan kepala dengan tangan kanannya. “Jangan terlalu dipikirkan,” ujar Anthoine.

“Kira-kira apa yang akan terjadi besok?” tanya Charlie lirih, masih memandang langit-langit.

“Kau akan tahu semuanya,” jawab Anthoine. Charlie menoleh perlahan,”Semuanya?”

Anhoine mengangguk, “Iya, termasuk kebusukanku.”

Mata Charlie menyipit.”Kebusukan?” Charlie bersuara terlalu keras. Sabrina terusik. Anthoine menepuk-nepuk pantat Sabrina, meninabobokannya lagi. Bayi itu meneruskan tidurnya lagi.

Charlie memperhatikan kasih sayang Anthoine pada Sabrina lalu berkata,”Kau sempurna, Anthoine. Suami pengertian, Ayah yang penyayang dan kekasih yang romantis. Aku bahkan tidak bisa menemukan letak kebusukanmu.”

“Karena kau tidak tahu. Kau akan tahu besok.”

Charlie kembali menatap langit-langit. “Kata-katamu semakin membuatku takut.”

Anthoine menjulurkan tubuhnya kepada Charlie demi mencium keningnya. “Tidurlah, Sayang. Yang terjadi besok, biarlah terjadi besok. Kau masih perlu istirahat. Jangan sampai ASI-mu tidak keluar karena stres. Sabrina pasti menangis keras jika hal itu terjadi.”

“Anthoine, aku…,” perkataan Charlie terhenti karena Anthoine mencium bibirnya ciuman yang lembut dan Charlie menjadi begitu tenang bahkan ketika Anthoine menatap tepat di matanya, Charlie sama sekali tidak protes lagi. “Tidurlah, Charlie. Kali ini perintah.”

Charlie mengangguk. Walau enggan, dia menutup mata. Anthoine masih mengamati wajahnya, memastikan kalau dia benar-benar tidur. Baru saat dia benar-benar pulas, pria itu mematikan lampu kenop di dekatnya, sesaat mengecup kening Sabrina lalu berusaha tidur.

Keesokan harinya, Charlie sudah bersiap di depan ruang praktek Stacy. Sabrina di gendongannya begitu polos, bayi itu menenangkan hati Charlie, sumber kekuatan Charlie. Nathan dan Neneknya duduk di satu sofa. Nenek itu menggenggam tangan Nathan, lebih gugup dari Charlie. Anthoine berdiri di dekat jendela, menikmati pemandangan luar yang bisa ditangkap penglihatannya.

Hingga pintu ruangan itu  terbuka, Stacy dan Rae melangkah masuk, Charlie tahu kalau inilah saatnya. Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali. Anthoine mendekatinya, mengulurkan kedua tangan, meminta Sabrina. Charlie memandang wajah Sabrina yang terlelap, perlahan dia mengecup kening Sabrina, hidungnya, kedua belah pipinya yang montok, lalu bibirnya. Tak terasa air matanya menetes. Dia meletakkan Sabrina secara hati-hati ke tangan Anthoine. Pria itu merangkulnya kemudian dan menciumi wajahnya seperti dia menciumi Sabrina.

Nathan mendekati Ibunya. Charlie menciuminya seperti menciumi adik bayinya. “Everything will be oke,” janji Charlie pada Nathan. Ibu Charlie pun memeluk anaknya erat-erat. Hingga akhirnya Stacy menarik lembut tangan Charlie, memasuki ruangan prakteknya bersama Rae. Dan saat pintu ruangan itu tertutup. Keheningan membuat ketiganya menggila. Dengkuran lirih Sabrina terdengar jelas sekarang. Sementara ketiga orang dewasa di sekitarnya mengkawatirkan keadaan Ibunya, bayi itu masih saja tidur, tak terpengaruh walau gempa mengguncang sekali pun. Anthoine mengecup kening Sabrina dan berusaha tenang dengan memandangi wajahnya.

 

—oOo—

 

Chamille mengaiskan telapak kakinya perlahan di atas pasir. Ada perasaan yang aneh saat dia berjalan-jalan di pinggir pantai siang ini. Janin di perutnya menendang, dia menunduk, mengelus perutnya lalu duduk dengan hati-hati. Buih ombak menjilati kakinya. Lautan lepas terbentang sampai cakrawala dan entah kenapa dia merasakan kebebasannya  sebentar lagi tiba. Chamille menghela nafas panjang. Pemandangan pantai ini selalu membuatnya tenang. Dia seakan bisa melihat peradaban dari sini, andaikan laut itu tidak membatasi pandangannya. Hingga dia merasakan punggungnya yang semakin pegal, akhirnya dia terbaring. Sejenak dia menikmati mimpi, namun Kwang yang berdiri di dekat kepalanya, menghalangi  cahaya matahari yang terarah ke wajahnya, membuatnya membuka mata.

“Kang,” dia tersenyum. Pria itu duduk di dekatnya, menarik kepala Chamille hingga menyandar pahanya. “Ku kira hanya aku yang suka memandangi pantai,” Kwang memulai pembicaraan.

“Pantai indah hari ini,” jawab Chamille sekenanya.

“Tapi angin pantai tidak baik untuk kesehatanmu,” Kwang menggerakkan telunjuknya di atas wajah Chamile, mewanti-wanti. Chamille tersenyum,”Kau semakin protektif akhir-akhir ini.”

“Kau mengandung anakku. Ingat?”

Sekali lagi Chamille tersenyum. “Iya, aku ingat.”

Kwang mengaitkan jemarinya di antara rambut Chamille lalu menyisirnya perlahan. Chamille memejam, menikmati sentuhan itu. Angin pantai kembali bertiup, mendesir di hati Chamille yang masih terlena kasih sayang Kwang.

“Aku sudah mengganti persediaan sere dan daun sirihnya,” ucap Kwang. Chamille merespon dengan anggukan. Dan seperti tidak fokus, pembicaraan berbelok pada hal lain. “Kenapa kau tidak menyentuhku selama hamil?”

Kwang mendengus.”Aku tidak tega.” Susah payah Camille bangkit dari pangkuan Kwang. “Apakah kau akan menyentuhku lagi setelah melahirkan?” Ucapan Chamille membuat Kwang tertawa, “Kau masih ingin punya anak lagi.”

“Apa salahnya, Kang. Sebanyak-banyaknya denganmu.” Jawaban bodoh yang membuahkan getokan Kwang di keningnya. “Jangan bicara bodoh. Waktunya makan siang, ayo! Aku sudah memasakkan sesuatu untukmu?”

Perlahan, Kwang membimbing Chamille untuk berdiri. Janin di perut Chamille menendang, kali ini lebih keras. Chamille sampai meringis. “Kau tidak apa?”

Chamille menggeleng. “Dia menendang.”

“Oh,” Kwang merangkul Chamille berjalan ke pondok mereka.  Pasir tersepak, tertiup angin saat mereka berjalan. Desiran ombak membentur pantai dan mendesis saat menarik diri ke laut lepas, meninggalkan buih yang terserap di pasir. Sekali lagi Chamille menoleh pada laut, sebelum akhirnya tubuh mereka memasuki rimbunan pepohonan dan langkah kaki menuntun mereka ke depan pondok.

Kwang mendudukkan Chamille di dekat perapian. Sekali lagi menikmati makan siang yang penuh kesederhanaan. Sesekali Kwang berhenti makan, lalu mengulurkan tangannya, mengelus perut buncit Chamille sambil tersenyum. Janin itu merespon, menendang hingga Kwang bisa merasakan tendangannya dan Chamille meringis.

“Kenapa dia semakin nakal?” ujar Kwang sambil tertawa. Chamille pun menjawab,”Mencari perhatian ayahnya dan… mencari jalan keluar.”

“Oh, ya… mencari jalan keluar,” kini kedua tangan Kwang memegangi perut Chamille. Dia sudah tak berniat makan lagi. Biarlah Chamille yang menghabiskan semuanya. Chamille pun bersiap menaiki tangga pondok setelah makan. “Aku tidur siang sebentar, Kang. Bangunkan aku kalau hari mulai sore.”

Kwang mengangguk. Tangannya sibuk memberesi peralatan makan. Chamille merebahkan diri di tempat tidur rumput, meluruskan tulang punggungnya yang serasa pegal karena duduk lama. Dia ingin menikmati istirahat siangnya, tapi ternyata tidak mungkin. Bayi itu menendang lagi. Chamille terkesiap, perlahan dia menarik bajunya ke atas hingga perutnya yang buncit terekspos, dia bisa melihat gerakan-gerakan di balik kulit perutnya. Chamille mendesis, mengatupkan kedua tangannya menahan sakit lalu gerakan itu menghilang dan Chamille bisa bernafas lega.

Itu tidak lama, satu gerakan lagi, dan Chamille pun meringkuk, menekan perutnya dengan lutut, dia berusaha untuk tidur. Mungkin rasa sakit itu menghilang jika dia tertidur, tapi boro-boro tertidur, rasa sakit yang timbul tenggelam itu benar-benar menyiksa. Chamille bersyukur karena Kwang segera memasuki pondok. Pria itu segera menghampirinya setelah melihatnya meringkuk.

“Kang,” Chamille mengaitkan jemarinya di telapak tangan Kwang. “Sepertinya sudah waktunya.”

“Kau yakin?” Kwang menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Chamille. Chamille mengangguk.”Tolong  ambilkan sari kunyit itu.”

Kwang bergerak ke tempat penyimpanan, lalu menyodorkan cairan kuning kental ke mulut Chamille. Wanita itu menyesap sebentar lalu menghalau batok kelapa itu setelah dirasa cukup. Kwang meletakkan batok kelapa di dekatnya. “Aku akan merebus daun sirih dan serehnya. Kau tak apa ditinggal sendiri dulu?”

Chamille mengangguk lemah. Kwang meninggalkannya sendirian, menikmati masa delivery yang menyiksa. Sesekali dia merubah posisinya, tapi sama saja. Rasa pegal menjalar di sekitar punggungnya, sedangkan mulas melingkari rahimnya. Tubuh Chamille berkeringat. Telapak tangannya menggenggam dan dia pun menangis lirih.

Kwang masuk pondok lagi. Chamille merasa kalau tangisannya pelan tapi ternyata Kwang masih bisa mendengarnya. Pria itu duduk di sampingnya, memijat punggungnya. “Sudah merasa enak?”

“Bagaimana kau tahu?” Chamille bersuara di antara nafasnya yang terengah-engah.

“Ibuku dulu memintaku melakukan ini,” Kwang memeluk Chamille, berbisik di telinganya,”Duduklah, biar aku menyangga punggungmu.”

Chamille mendesah, Kwang menarik tangan Chamille hingga terduduk, lalu duduk di belakang Chamille, mebiarkan wanita itu menyandar di dadanya lalu meliukkan tubuhnya ke belakang.  “Sampai berapa lama … aku… aku… huft… ya, Tuhan.”

“Ibuku dulu semalam suntuk.”

Chamille menggeleng. “Ya, Tuhan! … Lama sekali… Huft!” Kwang meringis saat kuku Chamille mencengkeram lengannya. “Hosh… hosh… hosh… .”

“Maaf,” Saat kontraksi itu tenggelam, Chamille sadar kalau sudah membuat lengan Kwang memar. Kwang menggeleng lalu mencium pipinya. “Kau sendiri yang tahu kapan waktunya mengejan, Sayang.”

Chamille menjilati bibirnya yang kering. Tak terasa peluhnya juga membasahi tubuh Kwang. Dia mencopoti semua bajunya, memilih menikmati rasa sakit itu dengan telanjang bulat. Kwang bisa melihat perut Chamille yang membulat sempurna, payudara wanita itu sudah berubah dari pertama yang dilihat Kwang. Lebih penuh, siap memberikan kehidupan bagi anak mereka. Dan benar juga kata Kwang siksaan itu benar-benar terjadi semalaman. Kwang sama sekali tidak tidur. Chamille kadang menungging, kadang meringkuk atau bahkan menyandar di dada Kwang, sementara pria itu menenangkannya sambil memijat-mijat pundaknya.

Hampir tengah malam saat kontraksi semakin kuat. Chamille bisa merasakan kepala bayi itu semakin mendesak, menuju kebebasannya.  Kwang duduk di bawahnya, menunggu sambil mengelus-elus pahanya. “Semakin sakit?”

Chamille mengangguk. “Kontraksinya semakin sering.”

Kwang mengelus perut Chamille. Hatinya mendesir merasakan gerakan di dalam perut Chamille. Chamille melengguh, sekali lagi meliukkan punggung ke belakang, sementara kedua tangannya menyangga di ranjang.

Chamille sempat panik saat melihat cairan yang tumpah dari bawah tubuhnya. Kwang melihat itu dan berteriak,”Ini saat, Chamille.” Kwang mengambil sehelai kain rajutan, dan menengadahkannya di bawah Chamille lalu bergerak di belakang Chamille. “Mengejanlah jika sudah siap.”

Chamille mengangguk. Gerakan kontraksi itu mempunyai rithme sendiri. Chamille mengejan saat kontraksi datang dan berhenti untuk mengambil nafas saat kontraksi menghilang. “Oh, Ya Tuhan, Kang,” Chamille masih sempat berkata sebelum akhirnya melengguh lalu menjerit sekuatnya seiring dengan gerakannya mendorong. “Arkkkhhhh!”

Chamille mengatur nafas lagi. Kwang bisa merasakan sakit yang di alami Chamille saat tubuh wanita itu serasa kaku di pelukannya. Dan benar juga, sebentar kemudian, Chamille mendorong lagi.

“Oh, Ya Tuhan… Ya Tuhan…,” Chamille menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu sampai kapan bertahan. Aku tidak tahu,” lalu menangis. Kwang mengecup keningnya. Tidak tahu harus mengucapkan apa. Ketika kontraksi itu kembali, Chamille mendorong dengan sisa-sisa tenaga.

Akhirnya kepala bayi itu menonjol, bersamaan dengan keluarnya sedikit air ketuban. “Oh, My God!” Chamille terkejut, begitu juga Kwang.  Chamille mengelus kepala mungil yang menonjol itu dan tangisan itu berubah menjadi keharuan. “Kang… akhirnya… .”

Kwang mencium ubun-ubun Chamille lalu berbisik. “Aku akan menariknya begitu bahunya keluar, kau tidak apa mengejan sendiri?” Chamille mengangguk. Kwang beralih ke bagian bawah Chamille lalu mengelus kepala bayinya yang sudah ditumbuhi rambut lembab. Kwang tersenyum menatap Chamille. Wanita itu membalas senyumnya sejenak sebelum kontraksi itu datang lagi, dan dia meleguh,  meliukan tubun ke belakang dan mendorong sang bayi kuat-kuat.

Tangan Kwang gemetaran saat menyongsong kehadiran bayi itu. Satu dorongan lagi dan kepala si bayi berputar, bersamaan dengan itu, membebaskan tangannya hingga menyembul keluar dan Kwang menariknya saat kedua belah bahu bayi itu terbebaskan. Cairan mengucur deras dari tubuh Chamille bersamaan dengan keluarnya bayi itu.

“Ya, Tuhan. Ya Tuhan!” Chamille bernafas lega. Dia bahkan tertawa saat Kwang menyerahkan sang bayi yang masih merah ke gendongannya. Bayi itu masih kesulitan bernafas karena lendir yang menutupi lubang hidungnya. Chamille menyedot lendir dari hidung bayi dengan mulutnya. Merasakan lingkungan asing, bayi itu menangis keras.

“Dia menangis sekarang,” Chamille mendekap bayi itu erat-erat. Kwang mengusap-ngusap tubuh sang bayi dengan kain basah.

“Oh, Ya Tuhan…,” sekali lagi Chamille mendesah. “Rasa sakit yang panjang dan hasilnya tidak mengecewakan, Kang. Lihatlah!” Chamille menunjuk bayinya yang mulai menyusu. Kwang tersenyum simpul. “Oh, Kang. Aku mohon katakan sesuatu.”

Kwang memang tidak tahu harus mengucapkan apa. Semua ini benar-benar keajaiban karenanya dia hanya terpaku, menatap sang bayi sambil mengelus-elus keningnya. Chamille mengejan lagi. Kali ini ari-ari sang bayi keluar, berakhir sudah tugasnya menemani sang bayi di dalam kandungan.

“Placentanya sudah keluar,” ujar Kwang. Chamille mengangguk. “Urus aku, Kang. Sementara aku mengurus bayinya.”

Kwang menyanggupi, seperti yang mereka rencanakan sebelumnya. Kwang menyeka Chamille, sedangkan Chamille memberikan kehangatan pada bayi itu dengan dekapannya. Kwang terheran dengan daya tahan tubuh Chamille dan sang bayi. Chamille sendiri yang memotong tali pusat bayi mereka. terlebih dahulu, dia menyiramkan air daun sirih ke tali pusat, lalu mengikatnya dengan benang sampai rapat dan kemudian memotong bagian luar dari ikatan itu dengan bambu tajam yang sudah direbus dengan air daun sirih semalaman. Terakhir kali, dia menyiramkan air daun sirih dan sereh lalu menngeringkannya dan mengolesi dengan madu pada ujung ikatannya.

Kini Chamille terbaring. Sudah dalam keadaan bersih dan si bayi terlelap di sampingnya. Kwang meninggalkan keduanya untuk mencuci placenta di pantai lalu menguburkan benda itu di samping kiri pondok mereka. Sudah hampir subuh saat dia melakukan itu. Dia lalu naik ke pondok, menatap Chamille dan bayinya yang sama-sama terlelap setelah pergulatan panjang mereka.

Di saat itulah air mata Kwang menetes, mengkawatirkan masa depan mereka, terutama sang bayi. Apa jadinya jika mereka tidak juga ditemukan? demi Tuhan, akan seperti apakah sang bayi kelak dalan didikan pulau primitif ini? Kwang masih terus mengamati mereka berdua, bahkan sedikit melamun. Hingga sang bayi bergerak dan membuka mata. Kwang bisa melihat bahwa pandangan pertama bayi itu terarah padanya. Pandangan mata yang begitu jernih, penuh penyerahan jiwa kepadanya. Kwang mengangkat bayi itu dalam gendongannya. Bayi itu tidak menjerit, malahan seolah menikmati sentuhan Kwang. Pria ini sama sekali belum tahu jenis kelamin bayinya. Dia terlalu gugup hingga langsung meberikannya pada Chamille sesaat setelah bayi itu lahir. Kwang menyingkap kain penutup bayi itu. bayi itu… laki-laki. Hati Kwang mencelos, dia tersenyum bahagia, ditatapnya wajah sang bayi dengan aura berbeda. Perlahan, dia menunduk, mengecup dahi bayi itu. Sekali lagi, dengan benar-benar khusuk, Kwang berdoa, agar mereka segera ditemukan.

 

—oOo—

Udara di laut lepas semakin lembab siang ini. Jengah terasa di antara kelima awak yang berada di atas kapal motor Bouwens 117. Mereka adalah tim pencari terakhir yang bertahan dalam ekspedisi ini. Bahkan anggota mereka sudah terlepas satu persatu, mulai dari sepuluh orang dan akhirnya tinggal lima orang, termasuk sang Kapten, Han Jin He. Sudah hampir setahun mereka menyisir satu persatu pulau demi mencari Chamille d’Varney, diiringi kepesimisan yang tinggi kalau tidak karena ambisi gila Brian Rothman atau sifat melankolis Charlie d’ Varney.

Mereka hanya diberi waktu istirahat satu hari dalam satu bulan, selanjutnya melakukan pencarian lagi di laut lepas, singgah dari pulau demi pulau kecil yang tersebar di penjuru negeri yang asing, dari yang berpenghuni mau pun yang tidak berpenghuni.

Dan udara lembab itu berubah saat awan mulai menggantung. Mereka bersiap-siap menyambut hujan di tengah laut. Yun So, salah satu awak kapal, sekaligus sahabat baik Han Jin He menghampiri Jin He di ruang kemudi. Jin He sedang mempelajari situasi laut tempatnya berada. Yun So duduk asal di kursi di depan Jin He. “Aku tidak tahu sampai kapan pencarian ini,” keluhnya.

Jin He menoleh sesaat, namun menekuri lagi atlas di mejanya untuk memberikan beberapa tanda di atasnya. “Kau sudah menanyakan itu dari awal ekspedisi dan kau juga sudah tahu jawabannya, sampai Chamille d’ Varney ditemukan.”

Yun So mengubah posisi duduknya menjadi bungkuk dengan menopangkan kedua siku lengan pada lututnya. “Kalau dia tidak ditemukan, kita membusuk selamanya di sini.”

Jin He mendengus,”Siapa yang setahun lalu menyuruhmu ikut? Kau sendiri yang mau. Untuk menghindari rentenir yang menagih hutangmu, bukan?”

Yun So terkekeh. “Setidaknya bayaran dari Bouwens Inc dan d’Varney cukup untuk membayar hutangku kalau aku kembali ke Seoul. Tapi untuk saat ini, boro-boro kembali ke Seoul.” Lalu pria ini mendekati meja Jin He, merenggut mug kopi Jin He lalu menenggak isinya.  Hujan di luar sudah mulai turun. “Ayolah, kenapa kita tidak akhiri saja ekspedisi ini. Kita kembali ke Seoul seperti yang lainnya. Bilang kalau kita sudah mencari ke mana pun dan memang gadis itu sudah mati dimakan ikan.”

Jin He merebut cangkir mug-nya dari tangan Yun So. “Dan menghancurkan reputasi yang sudah kubangun bertahun-tahun? Tidak akan!”

Jin He terkenal sebagai orang yang menepati janji. Janjinya pada keluarga Chamille hanya satu, dia akan menemukan gadis itu apa pun yang terjadi dan dia tidak akan berhenti sampai bisa memenuhi janjinya.

“Dan berapa orang yang harus menyertaimu dalam memegang reputasi itu?” tantang Yun So. Jin He jadi semakin jengah. “Kalau kau memang mau pulang, sebaiknya di pelayaran berikutnya setelah masa istirahat, kau tidak usah ikut!”

Yun So tertawa-tawa menikmati kemarahan Jin He. Pada saat itu mereka dikejutkan oleh teriakan Bill Hoftman, awak mereka yang berasal dari Australia. “Island! Island!”

Yun So langsung keluar menuju deks. Jin He menekuri atlasnya lagi. “Tidak mungkin! Di peta ini sama sekali tidak ada pulau!”  Jin He menyahut mantolnya lalu  berlari ke deks, bergabung dengan rekannya yang lain.

Bill mengamati pulau yang masih sangat jauh itu tanpa teropong. Hujan semakin deras. Pandangan mata mereka mengabur. Yun  So yang tadi merebut teropong dari tangan Bill masih asyik melihat pulau itu dengan mulut menganga tak percaya. Jin He yang pandangan matanya terbatasi oleh air hujan merebut teropong itu dari Yun So dan mengarahkannya pada pulau yang kecil itu, terpencil, menyendiri di tengah perairan yang luas.

“Apakah mungkin gadis itu di pulau?” Suara Yun So harus bersaing dengan derasnya air hujan. Jin He menggeleng. “Kita tidak tahu! Kemungkinan itu sangat kecil! Tapi apa pun harus kita coba!” Jawab Jin He keras-keras.

Ya, kemungkinan sangat kecil tapi mereka harus mencobanya. Janji adalah janji. Pulau itu sudah di depan mata. Chamille d’Varney kemungkinan berada di pulau itu. Masih di antara derasnya hujan, mereka mulai mempersiapkan pendaratan.

 

BERSAMBUNG

THE MAESTRO — Part 2

THE MAESTRO

Part 2

Song of the Day

MY WAY

By. FRANK SINATRA

And now, the end is near,
And so I face the final curtain.
My friends, I’ll say it clear;
I’ll state my case of which I’m certain.

I’ve lived a life that’s full –
I’ve travelled each and every highway.
And more, much more than this,
I did it my way.

Regrets? I’ve had a few,
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course –
Each careful step along the byway,
And more, much more than this,
I did it my way.

Yes, there were times, I’m sure you knew,
When I bit off more than I could chew,
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall
And did it my way.

I’ve loved, I’ve laughed and cried,
I’ve had my fill – my share of losing.
But now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that,
And may I say, not in a shy way –
Oh no. Oh no, not me.
I did it my way.

For what is a man? What has he got?
If not himself – Then he has naught.
To say the things he truly feels
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows
And did it my way.

Yes, it was my way.

Sebulan berlalu, Aldian mulai sadar bahwa kehidupan harus tetap berjalan. Menanggalkan duka-lara dan berusaha melangkah kembali. Pada akhirnya Aldian menerima tawaran ayahnya untuk meneruskan usaha keluarga. Sebuah pilihan yang sangat bertentangan dengan impiannya. Rupanya kematian Alicia telah banyak membuat perubahan pada diri Aldian. Membelokkan segala usaha menjadi composer orchestra hingga harus menjadi bisnissman yang selalu dikejar waktu dan segala sesuatunya yang serba kaku, bahkan dia pindah jurusan kuliah ke fakultas ekonomi dan bisnis. Impian itu telah mati seperti sang kekasih hati.

Saat orang tuanya memutuskan pension dan menetap di villa peristirahatan di luar kota, Aldian mengajak Joana dan Mina pindah ke manshionnya. Dia benar-benar tak mau menoleh ke belakang. Ditinggalkannya rumah kecil yang penuh dengan kedukaan. Tak satu pun barang yang mereka bawa dari rumah itu selain piano tua kesayangan Alicia.

Rupanya piano tua itu sangat cocok berada di tempat yang baru. Manshion ini memang megah, dengan pekarangan bertata taman yang indah serta pagar besi yang menjulang tinggi seakan pamer keangkuhan. Di setiap sudut ruangan, terlihat tata interior dengan gaya Victoria. Dan piano tua itu mampu menambah kemewahan. Tak seorang pun bisa membayangkan hal ini bisa terjadi. Bagaimana tidak? Piano tua yang selama ini berada di antara barang-barang lapuk di rumah kecil.

Hari demi hari berlalu, Joana yang sibuk dengan sekolahnya dan Aldian sibuk dengan urusan bisnis dan kuliahnya. Piano tua itu masih berdiri kokoh. Aldian tidak pernah lagi menyentuh. Namun bukan berarti piano tua pension karena si kecil Joan selalu memainkannya setiap pulang sekolah. Gadis kecil itu masih mengingat segala yang diajarkan kakak iparnya.

Joana tidak pernah memainkan piano saat Aldian ada di rumah. Dia tahu Aldian tidak suka. Dia yakin suara piano itu akan mengingatkan segala kesedihan. Dalam hati Joana masih berharap Aldian mau bermaian piano lagi. Hal itu selalu dia panjatkan di setiap doa-doa. Membayangkan jika hari itu tiba, Aldian memainkan irama merdu hingga dia dengan gaun putih menari, melompat, tersenyum, tertawa gembira. Telah banyak segala kemungkinan yang dia bayangkan jikalau hari itu tiba. Dilaluinya hari-hari dengan harapan-harapan itu seolah semua itu merupakan pemacu semangat walau pun tahu sangat mustahil terjadi.

Pagi ini, setelah dua tahun berlalu. Joana dibangunkan oleh irama merdu. Sebuah simphoni yang indah yang dia yakini terdengar dari piano tua. Segeralah meloncat dari tempat tidur dan berlari ke sumber suara.

“Tidak mungkin!” itulah yang hadir di benak Joana saat melihat Aldian memainkan piano. Perlahan dia mendekati Aldian. Mendengarkan alunan simphoni itu dengan serius sambil mengingat-ingat lagu apa yang dimainkan Aldian. Tidak, Joana tidak tahu lagu apa itu. Dia belum pernah mendengar.

“Simphoni yang mana yang oppa mainkan?”  tanya Joana saat Aldian selesai memainkan piano.”Joan belum pernah mendengarnya.”

Aldian menoleh, lalu mencolek hidung mungil Joan dan menjawab,”Tentu saja kamu belum pernah mendengarnya, ini gubahanku sendiri.”

Joana mengambil buku not balok yang berada di atas piano. Dipandanginya satu demi satu not di paranada itu. Keningnya berkerut. “Oppa belum menyelesaikan simphoni ini?”

Aldian menghela nafas.”Simphoni itu tidak akan pernah selesai.”

“Waeyo?”

“Karena aku tak mau menyelesaikannya,” jawab Aldian datar.

Joana terkejut mendengar jawaban Aldian. Sungguh simphoni yang indah tapi sayang, Aldian tidak mau menyelesaikannya. Apa yang bisa diharapkan dari simphoni yang belum selesai? Tidak ada tema dan tidak hidup. Kenapa Sesuatu yang indah tidak bisa hidup?

Aldian menangkap kebingungan di wajah Joana. Dia tersenyum dan dengan lembut bertutur,”Mungkin kamu yang akan menyelesaikan simphoni ini suatu saat nantu, Joan.”

Joana hanya tersenyum mendengar ucapan Aldian.

“Saya tidak percaya Oppa mau main piano lagi. Terus terang hari inilah yang selama ini saya impikan. Dan sekarang Oppa akan terus main piano, kan?”

“Mungkin.”

“Lalu, apakah Oppa mau melanjutkan apa yang diajarkan padaku dua tahun yang lalu?”

Aldian tertawa, tak menyangka jika Joana menanyakan hal itu,”Tentu, Joan. Tapi aku tidak yakin apakah kamu masih mengingat pelajaran dua tahun yang lalu.”

“Joan ingat, kok. Tanpa Oppa tahu, Aku berlatih tiap hari.” Joan tertawa mengejek dan menjulurkan lidahnya. Aldian memberikan tinju pelan di dagunya. Sungguh keakraban yang indah. Tak dapat dipercaya hal itu terjadi setelah sekian lama.

Ternyata keakraban itu tetap berlanjut. Di sela-sela kesibukan, Aldian menyempatkan diri untuk memberi les pada Joana. Dia juga menyewa tutor pribadi untuk mengajari Joana music, tari dan sastra. Tiga bidang seni yang sebenarnya terlalu berat diterima oleh anak seusia Joana. Namun Joana memang cerdas, dengan cepat mampu menangkap materi-materi berat itu.

Joana tumbuh dewasa denngan segala didikan Aldian. Terkadang Mina menganggap bahwa cara mendidik Aldian ini salah. Mina selalu berpikir, Aldian ingin menghidupkan Alicia dalam diri Joana. Mina masih ingat betul ketertarikan Alicia pada music, tari dan sastra. Ya, Aldian ingin Joana menjadi Alicia kedua, begitu pikir Mina.

Ternyata Aldian berhasil. Disadari atau tidak, Joana kini benar-benar Alicia kedua. Semangatnya, minatnya, gaya bicara, cara berjalan, cara pandang terhadap hidup bahkan wajahnya yang mirip dengan Alicia.

Selama ini Mina salah menganggap Aldian sudah melupakan Alicia. Aldian telah merubah watak adik iparnya itu hingga mirip dengan Alicia. Bak seorang maestro yang selalu mengharapkan kesempurnaan ciptaannya. Tapi Mina tidak mampu berbuat apa-apa. Apalah arti Mina di mata Aldian selain hanya pengasuh Joana. Dan sebagai wali Joana yang syah, Aldian berhak menentukan segala sesuatu yang menurutnya baik bagi Joana.

“Aku tidak tahu sampai kapan semua ini terjadi. Aku tidak tahu,” suara hati Mina memendam kekawatiran dalam benaknya.

BERSAMBUNG

He is My Brother (End Part)

Yo Won menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kembali perlahan. Dengan berbuat demikian, dia berusaha mengontrol emosinya. Hye Na masih di ruang tamu, memberikan penjelasan pada Ji Woon akan kemungkinan batalnya rencana makan malam, sedangkan dia yang shock dengan kenyataan siapa anak ABG yang hidup bersama Hye Na, duduk di meja makan bertemankan sebotol air mineral dingin.

Penghianat! Yo Won menganggap Hye Na penghianat. Bagaimana mungkin Hye Na menampung anak yang sangat dia benci kelahirannya itu?

Sementara Hye Na yang mulai bisa menjelaskan situasinya pada Ji Woon, mengantarkan pria itu keluar dari apartemen. Ji Woon agak enggan meninggalkan Hye Na. “Kau yakin tidak memerlukan bantuanku menghadapi kemarahan Ibumu?”

Hye Na menoleh ke arah dapur sebentar lalu berpaling lagi pada Ji Woon. “Tidak,” katanya sambil menggeleng. “Aku bisa menangani masalah ini sendiri. Doakan aku ya, Kak.”

Harapan Hye Na membuahkan lengkungan manis di bibir Ji Woon. Namun Hye Na terkejut saat tiba-tiba lelaki ini memeluknya. Sesaat Hye Na menikmati kehangatan dada bidang pria itu. “Aku tidak tahu apakah harus bersedih atau senang mendengar hal ini,” desah Ji Woon. “Kenyataan kalau Ryu Jin adalah adik tirimu sangatlah mengejutkan.”

“Aku pun juga terkejut saat pertama kali mendengarnya,” respon Hye Na.

Ji Woon melepaskan pelukannya, lalu menatap mata Hye Na lekat-lekat. “oh, ya. Tentang pernikahan kita? Masih tetap dua minggu lagi, kan?” Ji Woon seolah kawatir jika terjadi penundaan.

“Iya, Kakak…, tenang saja.” Jawaban Hye Na membuat ji Woon menghela nafas lega.

“Oke, kalau begitu… aku akan mengurus semuanya.”

“Iya…, sekarang… Kakak pergi dulu, ya… biar aku urus dulu masalah keluargaku?”

Ji Woon mengangguk. Sekali lagi dia ragu untuk meninggalkan Hye Na. “Kau yakin tidak mau kutemani menghadapi.. . “

“Tidak!” potong Hye Na secara tegas. Ji Woon terbahak dibuatnya, “Oke, selamat malam, Manis.” Jawaban dari Hye Na yang berupa senyuman, membuat Ji Woon lega untuk meninggalkan gadis itu.

Hye Na hanya mampu menatap punggung Ji Woon yang berangsur menghilang di tikungan koridor gedung apartemennya. Dia menghela nafas panjang, menghimpun kekuatan untuk menghadapi kemarahan Yo Won. Langkahnya menuju dapur serasa berat. Di sinilah Yo Won berada, duduk di kursi makan dengan sebotol air mineral dingin. “Kenapa kau menampung anak itu?” Hye Na sedikit tersentak karena rupanya Yo Won cukup mengenali kehadirannya di ruangan itu.

“Ibu, aku mohon mengertilah,” Hye Na bergerak ke kursi di depan Yo Won lalu berusaha memegang tangan Ibunya itu. Tapi Yo Won mengibaskan tangannya. “Kau penghianat, Hye Na!”

Mulut Hye Na ternganga seketika mendengar tuduhan itu. “Penghianat?’

“Iya! Kau penghianat! Kau tahu betul bagaimana sakitnya hati Ibu karena kelakuan orang tua anak itu!”

“Salah satu orang tuanya adalah Ayahku, Ibu!”

“Aku tidak perduli!” bentak Yo Won. Nyata benar sakit hati wanita itu karena bekas suaminya. Hye Na bisa melihat itu dari air mata yang berusaha dibendung oleh Yo Won.

“Ini bukan masalah Ibu perduli atau tidak! Ryu Jin tetaplah adikku walau…

“Dia bukan adikmu! Hanya Jae Min lah adikmu! Hanya anak yang terlahir dari rahimku yang berhak jadi adikmu!”

“Ibu.. Tidak bisa seperti itu….”

“Sekarang…,” Yo Won masih tetap memotong penjelasan Hye Na. Tidak seperti sebelumnya, dia berusaha lebih tenang dan berkata lebih lambat namun tegas. “Pilih aku atau anak itu!” Keputusan itu membuat Hye Na semakin kalang kabut.

“Kakak…,” panggilan Ryu Jin membuat Ibu dan anak itu menoleh. Yo Won hanya sekilas melihat Ryu Jin sebelum berpaling dengan lagak seakan melihat kotoran, sedangkan Hye Na berusaha menampakkan senyum tabahnya.

“Ya, Ru Jin.” Hye Na sebenarnya terkejut dengan penampilan Ryu Jin yang mirip orang hendak bepergian lengkap dengan tas ransel yang sudah tersampir di pundaknya.

“Janganlah jadi anak durhaka kepada Ibu Kakak hanya karena saya,” kata Ryu Jin yang membuat hati Hye Na mencelos. Apalagi saat melihat Ryu Jin mendekati mereka dan membungkuk hormat pada Yo Won. “Jika memang Nyonya menginginkan saya pergi, saya akan pergi.”

“Bagus! Kau sadar benar dengan posisimu!” ujar Yo Won sengit.

“Ibu!” larang Hye Na.

Yo Won menatap Ryu Jin dengan penuh dendam. “Kau mau pergi,kan? Ayo pergi! Tunggu apa lagi, kau!”

“Ibu!”

Ryu Jin membungkuk lagi pada Yo Won lalu berbalik, melangkah meninggalkan ruangan itu. Hye Na yang panik berusaha mengejar. “Tunggu! Kau mau kemana? Sudah kubilang masuk ke kamarmu dan…

“Dan Kakak bertengkar dengan Ibu Kakak?” jawab Ryu Jin saat sampai di ruang tamu.

“Dengar! Bukan hanya sekali ini aku beradu mulut dengan Ibuku.”

“Aku tidak suka dijadikan obyek adu mulut!”

Hye Na berusaha menetralisir keadaan tapi rupanya hal itu malah semakin dianggap runyam oleh Ryu Jin. “Aku tahu dari awal kalau tempatku memang bukan di sini,” kata Ryu Jin sambil melewati Hye Na yang kehabisan kata untuk menenangkan Ryu Jin.

Hye Na tertegun sejenak. Sedetik saja keadaan sudah berada di luar kendalinya. Dia tersadar dan mulai mengejar Ryu Jin yang sudah memasuki lift. Terlambat! Pintu lift tertutup. Hye Na terpaksa turun melalui tangga darurat demi mengejar Ryu Jin. Dia bahkan mencari ke segala arah saat sampai di lobi gedung apartemen. Bahkan bayangan Ryu Jin pun sudah tak tampak lagi. Dengan panik, dia menghubungi HP Ryu Jin, rupanya anak itu sengaja mereject panggilannya. Sekali lagi, dia berusaha menghubungi Ryu Jin. Ryu Jin sudah menonaktifkan nomornya.

Hye Na meneruskan pencariannya di pelataran parkir. Keputusa-asaan semakin tampak di wajahnya karena tidak juga menemukan Ryu Jin. Hye Na mempunyai pikiran untuk menghubungi Jae Min. Bukankah saat Ryu Jin ‘minggat’ beberapa waktu yang lalu, rumah Jae Min yang dia tuju? Ya, apalagi Ryu Jin belum mengenal banyak orang di Seoul. Sudah pasti Ryu Jin akan ke rumah Jae Min lagi.

“Halo! Jae Min?” Hye Na menghubungi Jae Min dengan nafas ngos-ngosan. “Ibu tahu tentang Ryu Jin!”

Jae Min mengumpat di telephon. Hye Na jadi protes.”Ini bukan waktunya bicara kotor! Ryu Jin kabur! Kalau dia ke tempatmu seperti waktu itu, kabarkan padaku!”

Hye Na menutup telephon setelah Jae Min mengiyakan perintahnya. Namun yang tidak Hye Na ketahui adalah Ryu Jin  bersembunyi tak jauh dari tempatnya berdiri, tepatnya di balik sebuah mobil di belakang Hye Na, Ryu Jin berjongkok hingga mampu mendengar Hye Na menghubungi Jae Min. Rupanya Ryu Jin tidak mungkin menuju rumah Jae Min lagi, semuanya yang berbau keluarga Goo…., dia merasa tidak berhak di situ. Dia merasa marga yang selalu disandangnya sejak kecil itu, memanglah bukan haknya.

 

— He is My Brother —

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Cameo :

Kim Joon as Woo Bin

Ryu Jin berjalan lunglai membelah malam kota Seoul. Kota yang begitu hingar-bingar itu rupanya tidak ramah padanya. Kota yang terlalu membahayakan jika diarungi oleh anak ABG dari pedesaan seperti dirinya. Namun apa dikata, tak ada satu pun tempat yang dia tuju sekarang. Rumah Goo Jae Min? Dia tahu konsekuensinya, sudah pasti Jae Min akan menghubungi kakaknya dan Hye Na langsung meluncur ke rumah Jae Min. Ke tempat pengacara Kim? Hanya akan menambah luka saja, kebobrokan orang tuanya tentu semakin kentara di depan pengacara itu. Bukankah masalah vila saja belum selesai?

Ryu Jin semakin melangkah. Entah dia sadari atau tidak, dia melewati sebuah lorong yang sangat berbahaya jika dilewati sendirian. Benar saja! Beberapa orang perlahan mengepungnya. Tepatnya ada sepuluh orang. Ryu Jin tidak mengenali sembilan orang lainnya tapi Ryu Jin kenal betul suara orang yang ke sepuluh. “Hm, Goo Ryu Jin, senang sekali berjumpa denganmu di sini!”

Woo Bin! Pekik hati Ryu Jin. Kesembilan orang lainnya sudah berancang-ancang dengan pemukul softball mereka. Ryu Jin semakin waspada, tapi dia yakin kalau kalah jumlah dan kekuatan.

“Gu Jun Pyo pasti senang mendengar semua ini,” seru Woo Bin lagi.

Ryu Jin yakin kalau gerombolen itu akan membalaskan dendam Jun Pyo. Dia berusaha melarikan diri melalui celah salah seorang gerombolan itu yang bertubuh ceking.

“Tangkap dia!” teriak Woo Bin. Sontak gerombolan itu melakukan perintahnya. Ryu Jin berlari sambil mengumpat. Suasana hatinya sudah sangat buruk malam ini dan sekarang ditambah amukan gerombolan yang kurang kerjaan. Tidak punya urusan sendiri selain ikut campur urusan orang lain atas nama solidaritas.

Naas bagi Ryu Jin karena memilih jalan buntu. Dia tidak bisa lagi bergerak. Gerombolan itu mengepung lagi. Menghantamkan tongkat softball di tangan mereka ke tubuh Ryu Jin. Beberapa kali Ryu Jin mampu mengelak tapi karena cara kerja gerombolan itu yang sukanya keroyokan, akhirnya tenaga Ryu Jin habis. Pukulan telak mengenai perutnya. Ryu Jin oleng. Hanya dengan sekali dorong, Woo Bin mampu merobohkan Ryu Jin ke tembok di belakangnya. Tanpa sadar akan bahaya yang terjadi pada lawannya, pimpinan Geng itu membuat sebuah paku karatan yang lumayan besar, yang kebetulan tertancap di tembok, menusuk punggung Ryu Jin. Woo Bin terkejut saat Ryu Jin terjatuh dengan posisi menelungkup. Darah sudah banyak keluar dari punggung Ryu Jin.

Woo Bin panik. Dia menyesali apa yang diperbuat tapi semuanya sudah terlambat.

“Bos! Ayo pergi! Sebelum polisi datang!” salah satu anak buahnya mengingatkan Woo Bin yang mendadak linglung melihat kondisi Ryu Jin. “Tapi…,”

“Ayo, Bos!” Mereka menarik Woo Bin agar meninggalkan tempat kejadian. Ryu Jin yang malang benar-benar sendirian.

“Tidak… semua ini tidak mungkin,” Hye Na menggeleng lemah. Beberapa waktu yang lalu polisi menghubunginya perihal kondisi Ryu Jin di rumah sakit, dan sekarang polisi mengatakan kalau ada kemungkinan pengkeroyokan Ryu Jin dilatar-belakangi pembalasan dendam Geng. Ji Woon yang ikut mendampingi Hye Na di rumah sakit hanya bisa mengelus punggungnya untuk menenangkan. Hye Na merasa tidak mampu menghadapi semua ini sendirian dan merasa perlu menghubungi Ji Woon karenanya. Namun yang tidak dimengerti oleh Hye Na adalah… ikut hadirnya Yo Won di situ. Mau apa wanita itu sebenarnya?

“Apakah mungkin adik anda terlibat dalam keanggotaan geng tertentu?” tanya petugas polisi itu pada Hye Na. Hye Na tidak mampu lagi menahan tangisnya. Pertanyaan polisi itu tidak mampu dia jawab. Baru seminggu dia mengenal Ryu Jin, dia agak ragu bisa mengenal anak itu seratus persen.

“Tidak! Ryu Jin tidak mungkin terlibat hal semacam itu,” Ji Woon menjawab sambil menenangkan Hye Na yang menangis di pelukannya.

“Baiklah, jika nanti dia sadar, satu-satunya jalan untuk mengetahui siapa pelakunya adalah menginterogasi Ryu Jin sendiri. Kami pergi dulu, Nona Goo.”

Ji Woon mengucapkan terima kasih pada petugas-petugas itu. Hye Na masih membenamkan tangis di dadanya. Komplotan geng? Benarkah anak sepintar dan selugu itu, jadi begitu naif sehingga ikut serta dalam pergaulan geng? Tunggu! Dendam geng? Hye Na tiba-tiba sampai pada titik kesimpulan lalu melepaskan diri dari pelukan Ji Woon untuk berdiri di depan Yo Won. “Katakan padaku, Ibu! Apa andil Ibu dalam kejadian ini?”kata Hye Na tanpa ekspresi.

“Apa maksudmu?”  tanya Yo Won yang tak habis pikir dengan perkataan Hye Na.

“Dendam antar geng? Sebegitu dendamkah Ibu pada anak itu hingga mengerahkan anggota Yakuza untuk mengeroyok Ryu Jin?” perkataan Hye Na membuat alis Ji Woon bertaut.

“Hah!” Yo Won memalingkan muka dari Hye Na dengan anggun. “Sudah kubilang pengetahuanmu tentang kelompok itu sangatlah minim. Buat apa geng besar macam Yakuza mengeroyok bocah ingusan macam Ryu Jin!”

“Hanya Ibu yang tahu alasannya!” Hye Na masih saja menuduh Yo Won, membuat Ibunya menoleh lagi padanya dan menatap tajam. “Kau ingin tahu jawabnya? Aku tidak tahu! Aku tidak tahu kenapa harus ada geng yang mengkeroyok anak itu! Tapi bisa kupastikan itu bukan Yakuza! Mungkin benar kata polisi itu kalau … kalau… siapa nama anak itu? Ryu Jin! Kalau Ryu Jin memang ikut suatu geng abal-abal!”

“Ryu Jin tidak mungkin sebodoh itu!”

“Siapa yang tahu? Jawab aku sekarang! Berapa lama kau mengenal anak itu? Jawab!”

“Hye Na, sudahlah..,” Ji Woon melerai adu mulut Ibu dan anak itu dengan merangkul Hye Na. Sekali lagi kekasihnya menangis di dadanya.

Tangisan Hye Na terhenti saat dokter yang menangani Ryu Jin keluar ruangan. Tentu saja HYe Na menyambut dokter itu dengan berondongan pertanyaan seputar keadaan Ryu Jin. “Dia masih beruntung karena paku itu tidak mengenai organ vitalnya.”

“Lalu…, apakah dia bisa terkena tetanus? Aku dengar paku yang menusuknya berkarat!” Ji Woon berusaha memperjelas keadaan Ryu Jin.

“Apa anda tahu kalau Ryu Jin mendapat suntikan ATS tiga hari yang lalu?”

“Saya… mungkin dia mendapatkan itu di SMA Shinwa, dia cerita kalau dokter di sana memeriksanya sehabis berkelahi.”

“Itu keuntungan ganda, Nona. Hanya saja, dia kehilangan banyak darah saat ini dan persediaan darah yang sesuai dengan golongan darahnya sangat minim.”

“Katakan padaku, dokter. Apa golongan darahnya?” Hye Na terlihat tak sabar.

“Golongan darah A dengan Rhesus positif.”

“Saya bergolongan darah A,” kata Hye Na hampir terpekik. “Ambil darah saya asalkan Ryu Jin selamat!”

Percakapan itu membuat Yo Won yang masih terdiam di kursinya menyadari sesuatu. Sesuatu hal yang selama ini dia yakini bahwa darah lebih kental dari pada air. Hye Na dan Ryu Jin memang bersaudara, lihatlah persamaan golongan darah di antara mereka. Sebenci-bencinya Yo Won pada Ryu Jin, dia tidak bisa memisahkan Ryu Jin dari Hye Na, kakaknya. Waktu seakan melambat bagi Yo Won, apalagi saat melihat antusiasme Hye Na untuk menyumbangkan darah bagi Ryu Jin.

Hye Na dan Ji Woon memasuki ruang UGD itu hanya sekedar menjalani pemeriksaan untuk mencocokkan darah Hye Na dengan Ryu Jin. Yo Won berdiri dari duduknya, berjalan ke arah pintu UGD. Melongok ke dalamnya melalui lubang kaca pintu UGD.

Kenapa harus anak-anak yang selalu menjadi korban percekcokan orang tua? Tapi salahkah aku jika masih sakit hati atas perselingkuhan Ayah Hye Na dengan Ibu anak itu? Oh, Ya Tuhan, Apa yang harus kulakukan?Aku kurang bijak menjadi Ibu.

Hye Na merasa lega karena darahnya cocok bagi Ryu Jin. Dia menyumbangkan lima kantong darahnya tanpa memperdulikan wajahnya yang berubah pucat sehingga Ji Woon harus memapahnya saat keluar dari ruang UGD. “Kau terlalu memaksakan diri, Hye Na,” sesal Ji Woon.

“Tidak apa, Kak. Yang penting Ryu Jin selamat,” desah Hye Na. Ji Woon mendudukkannya di sebuah kursi di lorong rumah sakit lalu berjongkok dan meremas tangannya.  “Duduklah di sini. Aku carikan susu hangat untukmu.”  Hye Na mengangguk sambil tersenyum manis. Sekejap Ji Woon menepuk-nepuk tangan Hye Na sebelum berdiri meninggalkan Hye Na.

Yo Won yang melihat Hye Na sendirian semenjak ditinggalkan Ji Woon, mendekati putrinya. Dia menyodorkan sekotak susu kemasan pada Hye Na. Dia terkejut kerana Hye Na menampik bantuannya. Susu kemasan itu terhempas cukup keras hingga pecah di lantai.

“Ibu…,” desah Hye Na ketika Yo Won menatap susu kemasan itu dengan pandangan tak percaya. “Apa sebenarnya arti kami, anak-anak bagi kalian?”

Yo Won menoleh pada Hye Na, menatap pandangan mata Hye Na yang tampak menerawang. “Bahkan kalian mengharapkan kelahiran kami sebagai pengikat tali cinta kalian sebagai orang dewasa yang saling jatuh cinta,” lanjut Hye Na lagi.

“Hye Na…,”

“Dan saat kalian bercerai, kalian sama sekali tak menghiraukan kami. Kenapa? Karena kami gagal mengikat tali cinta kalian?”

“Hye Na…, bukan begitu, Sayang… .”

“Lupakan!”

“Lupakan?”

“Lupakan ocehanku, Ibu. Karena aku hanyalah seorang anak. Tidak pantas rasanya mendikte Ibu.”

Hye Na berdiri agak susah payah. Setidaknya uneg-unegnya selama ini sudah diutarakan. Kesedihan hatinya akibat perubahan karakter sang Ibu semenjak perceraiannya dengan sang Ayah. Sang Ibu yang terlalu berkubang dengan kesibukannya atas nama pengalihan perhatian dari kekecewaan yang terpendam hingga tak menghiraukan anak-anaknya. Ibunya yang tiba-tiba menjadi penuntut yang ulung atas dirinya. Menututnya menjadi yang ter- dan ter- hanya karena anak sulung, sampai pada kisah Jae Min yang naif dan urakan hanya demi mencari perhatian.

Hye Na melangkah tertatih. Dia menangis kembali. Di mana orang tua itu saat dia membutuhkan di masa puber? Di mana mereka saat Hye Na berubah menjadi pribadi yang kaku dan suka meledak? Lima belas tahun kelabu dan dia berusaha tegar menghadapinya. Dia merasa lelah. Peran sebagai anak sulung, yang selalu harus sempurna di depan sang Ibu, sungguh membuatnya merasa lelah. Kali ini bukan hanya hatinya yang lelah, fisiknya pun serasa sangat lemah. Hye Na pun ambruk di lorong rumah sakit. Teriakan panik Ji Woon dan Yo Won adalah hal terakhir dia dengar malam itu.

—oOo—

“Ya…, syukurlah kau sadar,” kata Ji Woon saat melihat Hye Na yang perlahan membuka matanya.

“Di mana, aku?”  bisik Hye Na sambil meliukkan tubuhnya. Dia terkejut melihat peralatan medis yang berbentuk mirip lampu dan teropong yang tergantung di langit-langit tepat di atasnya.

“Di ruang UGD, Sayang,” jawab Ji Woon sambil terkekeh.

“Aku… aku tidak akan dioperasi, kan?” Hye Na masih saja melihat benda di atasnya itu ngeri. Ji Woon semakin geli mendengarnya. “Tentu saja tidak. Kau pingsan tadi malam.”

“Tadi malam?” Hye Na mulai mengingat apa yang terjadi. “Jam berapa sekarang?” Hye Na meremas kemeja Ji Woon di dadanya. “Ryu Jin… Bagaimana Ryu Jin?” Hye Na semakin panik.

“Tenanglah,” desah Ji Woon. Selanjutnya pria itu menjawab pertanyan Hye Na. “Pertama, ini jam dua belas siang. Kedua, Ryu Jin sudah sadar sebelum dipindahkan ke kamar. Masa kritisnya sudah lewat. Jangan kawatir, Ibumu menjaganya dengan baik.”

Dahi Hye Na langsung berkerut. “Ibu?”

Ji Woon mengangguk. “Kenapa?”

Hye Na tiba-tiba menyingkap selimutnya dan bangkit. “Aku harus menemui Ryu Jin.”

“Pelan-pelan, Sayang.”

“Tidak bisa, aku harus cepat. Ibu pasti akan menyakiti Ryu Jin lagi.”

“Lagi?” Ji Woon menekan bahu Hye Na saat gadis untuk kembali duduk di ranjang. “Soal geng itu? Bukan Ibumu pelakunya.”

“Maksudnya?”

“Bisa dibilang anak-anak petinggi geng lokal Korea yang membalas dendam karena Ryu Jin memukul salah satu teman mereka.”

“Gerombolan anak-anak nakal SMA Shinwa?” Hye Na mulai menyadari apa yang terjadi.

“Ya, kau tahu juga rupanya. Jadi bukan Ibumu atau pun Yakuza pelakunya.”

Hye Na mendesah. Di satu sisi dia lega karena Ibunya bukan dalang pengeroyokan Ryu Jin tapi di sisi lain, dia merasa bersalah telah berprasangka buruk pada Yo Won.

“Aku tetap harus menemui Ryu Jin,” kata Hye Na sambil menuruni ranjang. “Antarkan aku, Kak.”

“Baiklah,” Ji Woon menghela nafas lalu membimbing Hye Na berjalan menuju kamar Ryu Jin.

“Kira-kira apakah dua minggu lagi, Ryu Jin benar-benar pulih?” tanya Ji Woon saat mereka berjalan di lorong rumah sakit.

“Entahlah, Kak. Kita tanyakan saja pada dokter. Memangnya ada apa dua minggu lagi?”

Ji Woon berdecak dan memberi tatapan jengkel pada Hye Na.

“Eh, Iya. Dua minggu lagi pernikahan kita,” kata Hye Na sambil nyengir, menyadari arti tatapan Ji Woon. Pria itu jadi tak habis pikir dan mengucek puncak kepala Hye Na saking gemasnya.

“Masih kuat jalan? Atau aku ambilkan kursi roda saja? Kita masih harus naik lift menuju kamar Ryu Jin,” tawar Ji Woon yang merasa Hye Na belum kuat betul berjalan. Hye Na menggeleng. “Aku bukan orang lumpuh yang musti pake kursi roda, Kak.”

Sekali lagi Ji Woon tersenyum. Dia masih saja memapah Hye Na memasuki lift lalu berjalan menyusuri koridor lantai tiga, tempat kamar Ryu Jin berada. “Nah, ini dia,” seru Ji Woon saat sampai di depan kamar Ryu Jin.

Saat membuka pintu kamar Ryu Jin, hal yang membuat Hye Na tak percaya adalah… saat dia melihat Yo Won yang menyodorkan gelas, membantu Ryu Jin minum melalui sedotan. Ryu Jin terbatuk-batuk karena tersedak. Yo Won bahkan menepuk-nepuk pelan punggung Ryu Jin. “Minumnya pelan-pelan saja.”

Saat Yo Won melihat Hye Na mendekat. Dia merasa harus menjauhkan diri dan berbisik pada Ryu Jin, “Aku tinggal sebentar.” Dia bahkan menarik lengan Ji Woon untuk meninggalkan ruangan itu, memberikan kesempatan pada Hye Na agar bicara berdua dengan Ryu Jin.

“Aku tinggal sebentar,” bisik Ji Woon  pada Hye Na sebelum meninggalkan ruangan itu.

Pada mulanya suasana kaku di antara keduanya yang ada, lalu Hye Na tersenyum, meraih telapak tangan Ryu Jin lalu mengenggamnya. Ryu Jin merasa kalau telapak tangan Hye Na serasa hangat, dia membalas senyuman Hye Na.

“Kau anak nakal yang selalu membuatku kawatir,” omel Hye Na.

Ryu Jin menghela nafas. “Kenapa kakak harus mengkawatirkan aku?”

“Karena kau adikku. Apalagi sekarang… darahku mengalir di tubuhmu,” tegas Hye Na. Mulut Ryu Jin manyun mendengarnya. “Apakah aku dihukum?”

Hye Na memutar kedua bola matanya. “Tentu saja kau dihukum karena membuatku kawatir setengah mati. Kau dihukum menjadi adikku seumur hidup!”

“Jadi adik wanita kaku dan emosian seperti Kakak? Wah, dosa apa aku di kehidupan sebelumnya?” candaan Ryu Jin membuahkan cubitan dari Hye Na di lengan anak itu. Ryu Jin meringis karenanya.

“Kau juga harus sudah sembuh dua minggu lagi!” perintah Hye Na. “Kalau tidak… , kau tidak boleh hadir di pernikahanku!”

“Menikah? Kakak menikah? Dengan siapa?” kabar itu sungguh mengejutkan Ryu Jin. Hye Na jadi sewot. “Ya…, kau tidak lihat aku datang dengan siapa tadi?”

“Oh, Yoon Ji Woon? Kok bisa?”

“Aush! Sudah jangan banyak tanya!” Hye Na tambah sewot. Ryu Jin tersenyum tipis, padahal dalam hati sudah sangat kegelian melihat wajah Hye Na yang memerah. Untuk tertawa terbahak-bahak, rasanya punggungnya masih ngilu.

Setidaknya keadaan Ryu Jin sudah membaik dua minggu kemudian walau pun sesekali punggungnya masih terasa ngilu. Dia menghadiri pernikahan Hye Na dengan duduk di atas kursi roda. Jae Min – lah yang bertugas mendorong kursi roda itu kemana pun Ryu Jin ingin bergerak. Termasuk saat Ryu Jin mau menyapa pengantin pria yang sudah siap di depan altar.

“Kau gugup?” tanya Jae Min pada Ji Woon. Ryu Jin menatap Ji Woon yang tampak tinggi dengan stelan yang berpotongan pas dengan tubuhnya.

“Sedikit,” jawab Ji Woon. Dia semakin salah tingkah saat membenahi dasi kupu-kupunya yang sebenarnya tidak bermasalah. “Bagaimana penampilanku?”

“Cukup tampan,” jawab Jae Min.

“Cih! Tidak ada yang lebih tampan dariku di ruangan ini,” protes Ryu Jin yang berbuah tatapan protes dari Jae Min dan Ji Woon.

“Hai! Jae Min, kenapa kau di sini? Bukankah kau seharusnya jadi pengiring pengantin Hye Na?” Ji Woon bingung dengan keberadaan Jae Min di situ.

“Hye Na adalah cucu kesayangan kakek. Sudah pasti kakek ingin jadi orang yang mengantarkan Hye Na menuju altar. Nah, itu dia!”

Percakapan ketiganya terhenti saat pintu gereja terbuka. Hye Na tampak cantik dengan gaun pengantinnya, berjalan ke altar dengan diiringi sang kakek serta si kembar Hye Mi dan Hye Ri yang tampak cantik berbaris di depan mereka.  Jae Min mendorong kursi roda Ryu Jin ke dekat tempat duduk Yo Won.

Hari ini keluarga besar Goo menyaksikan Hye Na dan Ji Woon saling bersumpah setia. Berjanji untuk saling berbagi suka dan duka  dalam ikatan pernikahan. Yumi meneteskan air mata haru. Yo Won menyeka air matanya dengan tissue, mencoba agar tidak terbawa suasana. Dia menoleh pada Ryu Jin yang duduk di kursi roda di sebelahnya. Wajah anak itu tak kalah sumringah.

“Kau tidak mungkin tinggal dengan Hye Na setelah ini, bukan?” tanya Yo Won tiba-tiba. Ryu Jin menoleh padanya dengan dahi berkerut. “Setelah ini…, mereka mungkin akan membuatmu risih jika kau berdekatan dengan mereka,” lanjut Yo Won sambil menunjuk Hye Na dan Ji Woon yang kini berciuman di altar.

“Kau akan tinggal bersamaku. Aku sudah membicarakan hal ini dengan Hye Na,” kalimat itu bagaikan Guntur yang menggelegar bagi Ryu Jin.

—oOo—

Hye Na menghela nafas sambil melentangkan tangannya, lalu menghembuskannya kembali perlahan. Selepasnya pesta pernikahan tadi, Hye Na dan Ji Woon langsung bertolak ke Jeju. Mereka akan menikmati bulan madu di Villa milik keluarga Goo di Jeju. Tentu saja pengacara Kim sudah memberesi masalah dengan pihak bank, sehingga segel ‘disita’ sudah lenyap seluruhnya dari setiap sudut vila itu. Dan sekarang di sinilah Hye Na, di pantai belakang Vila itu, berjalan menuju perairan yang tenang diikuti Ji Woon yang berjalan di belakangnya.

Saat kakinya menyentuh air yang menjilat-jilat itu, dia berhenti, mengitarkan pandangannya di panorama yang indah lalu tersenyum pada Ji Woon. Pria itu membalas senyumannya lalu merangkulnya mesra, memberikan ungkapan cinta dalam ciuman yang hangat dan penuh gairah.

Ji Woon tersenyum saat melepaskan ciumannya, tangannya masih menangkup pipi Hye Na yang kini memerah. “Aku mencintaimu, Nyonya Yoon.”

“Aku juga mencintaimu, Tuan Yoon.”

Ji Woon tertawa bahagia karenanya lalu merangkul Hye Na, mengitarkan pandangan ke sekeliling. “Laut tenang malam ini,” ujarnya.

Hye Na mengangguk. “Inilah yang selalu aku rindukan dari tempat ini.”

Tiba-tiba ada ide liar di benak Ji Woon. “Kau pernah lihat film ‘Breakingdown’? Bagaimana kalau kita berbulan madu ala ‘Breakingdown’.”

“Bulan madu ala Breakingdown?”

Ji Woon berkerling mencurigakan. “Berenang telanjang bersama-sama lalu… .”

“Hm, sepertinya aku tahu kelanjutannya,” Hye Na menyipitkan mata. Ji Woon mencolek hidung Hye Na sambil berujar,”Istri pintar… .”

Tentu saja Hye Na pintar menebak. Hye Na memberikan pukulan kecil di dada Ji Woon. Suaminya tertawa melihatnya merajuk lalu memeluknya erat-erat.

“Yang tak kumengerti adalah kau ngotot berbulan madu ke sini,” ujar Ji Woon sambil melepaskan pelukan. “Oh, iya, tentu saja, setelah ini, kita berbulan madu sepuasnya di apartemenku di Amerika,” tebak Ji Woon.

Tapi Hye Na menggeleng. “Aku tidak akan ikut kakak ke Amerika,” keputusan sepihak yang membuat Ji Woon terkejut. “Kenapa?”

Hye Na menghela nafas lalu memandang lautan lepas kembali.

“Apa karena Ryu Jin?” tebak Ji Woon. “Ayolah, Sayang. Kau dengar, kan.. niat tulus Ibu untuk merawat Ryu Jin selama kita di Amerika. Kau harus memberi kepercayaan pada Ibumu untuk melakukan niatannya itu.”

Hye Na tersenyum saat menoleh pada Ji Woon. “Aku ingin anakku lahir di Korea.” Ji Woon tertawa mendengar ucapan Hye Na. “Kita bisa menunda mempunyai anak kalau begitu.”

Giliran Hye Na terkekeh karena ucapan Ji Woon. “Bagaimana bisa menunda kalau anak itu sudah ada di perutku?” Mata Ji Woon melebar seketika.

“Malam itu Kakak terlalu serius meyakinkan cinta kakak hingga membuatku hamil,” Hye Na tersipu mengakuinya. Sungguh peristiwa konyol yang dialami mereka yang nyata-nyata pasangan dengan pendidikan yang tidak bisa dibilang rendah.

Ji Woon bahkan tak bisa berucap apa-apa. “Ya, Tuhan…, aku… .” Mendadak Ji Woon bagai orang linglung. Hye Na masih saja terkekeh melihatnya memandangi wajah lalu turun ke perut istrinya. “Aku… aku sudah jadi calon ayah … di malam bulan maduku?” Hye Na mengangguk cepat. Ji Woon memeluk lagi. “Terima kasih, Sayang.” Langit di atasnya tampak cerah saat Ji Woon menengadah. Bintang serasa dekat hingga dia bagaikan mudah memetiknya. “Terima kasih, Tuhan,” desahnya lagi sambil menutup mata.

“Hm, Kakak!”

Ji Woon melepaskan pelukannya dan memandang Hye Na yang memainkan kancing di dadanya. “Bagaimana dengan bulan madu ala ‘Breakingdown’-nya?” tanya Hye Na. Ji Woon tampak menimbang-nimbang sesuatu. Bulan madu ala ‘Breakingdown’ dengan keadaan Hye Na yang hamil muda? Oh, Tidak! Jangan jadi gila.

“Kita istirahat saja,” kata Ji Woon sambil merangkul Hye Na, mengajaknya kembali ke vila. Hye Na jadi merajuk, “Yah, Kakak… katanya mau… .”

“Tidak!” tolak Ji Woon. Tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Dia bahkan bergegas kembali ke vila. Mau tak mau Hye Na mengikutinya walau masih menggoda untuk melakukan bulan madu ala ‘Breakingdown’.

“Jadi tidak jadi, nih?”

“Tidak!”

“Kenapa?”

“Karena anak kita.”

“Memangnya kenapa anak kita?”

Oh My God, Hye Na. Pleasse, deh!….

Sementara itu… Apa yang dilakukan Yo Won untuk mendidik Ryu Jin? Rupanya Ibu satu ini tidak belajar dari pengalaman. Cara mendidiknya masih sama dengan cara dia mendidik Hye Na dan Jae Min. Lihat saja tingkahnya yang tiba-tiba menghadapkan Ryu Jin dengan beberapa gepok uang di salah satu ruangan megah di mansion mewahnya.

“Ini ada uang di depanmu. Apa yang akan kau lakukan dengan uang itu? Jika kau sebagai Goo Jae Min, kau akan menghabiskan uang itu untuk hal-hal yang tidak perlu. Jika kau jadi Goo Hye Na, kau akan menginvestasikan uang itu di bursa saham hingga berlipat ganda. Dan sekarang… Kau!… Goo Ryu Jin.. Apa yang akan kau lakukan?”

Ryu Jin berpikir sejenak. Di tangannya tergenggam uang itu. Lima juta Won bukanlah jumlah yang sedikit. “Bagaimana kalau aku ikut audisi drama?” tanya Ryu Jin.

“Tidak!” bentak Yo Won. “Kau tidak boleh jadi actor playboy macam Ayahmu!”

Well…, Ryu Jin…. Selamat berakrab-akrab dengan Go Yo Won, ya…. HEhehehe….

TAMAT

Good Bye 2011, Wellcome 2012

HAPPY NEW YEAR 2012

WISH YOU ALL THE BEST

THANK FOR THE ATTENTION

SISICIA

😉

He is My Brother (Part 6)

Jam weker berbunyi nyaring tepat pukul enam pagi, cukup membuat tidur Ryu Jin terganggu. Dengan malas dan masih memejamkan mata, dia menjulurkan tangannya, meraba-raba meja tepi ranjang  untuk memencet tombol ‘jam cerewet’ itu. Masih malas rasanya untuk bangun, Ryu Jin menggosok-gosokkan pipinya di bantal, mencari kenyamanan lagi setelah terusik. Namun, suara jam kuk-kuk yang terpasang di lorong depan kamarnya membuat telinganya berdenyut, suara boneka burung kenari yang keluar dari kotak kecil jam dinding itu cukup berisik sehingga Ryu Jin yang jengkel menutupi kepalanya dengan bantal. Dia lupa kalau semalam menaruh handphone-nya di bawah bantal, hasilnya… handphone itu jatuh ke lantai dan terbelah jadi tiga.

“Aish!” Mata Ryu Jin akhirnya terbelalak lebar menatap handphone malang itu. Rasa kantuknya hilang sudah dan perlahan duduk di tepi ranjang lalu menunduk memungut handphone itu. “Malangnya nasibmu, Handphone,” kata Ryu Jin sambil berusaha menyatukan ketiga bagian handphonenya.

“Tapi karenamu rasa malasku hilang,” Ryu Jin cengar-cengir tak jelas.

Ryu Jin berdiri lalu berjalan keluar kamar sambil sesekali meliukkan pinggangnya ke kiri dan kanan, merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur di kasur empuk. Saat melewati kamar Hye Na, dia berhenti sesaat di depan pintunya. Ryu jin teringat kalau Hye Na langsung memasuki kamar sepulangnya dari berbelanja. “Apakah dia masih tidur?” batin Ryu Jin. Tangannya terulur hendak mengetuk pintu kamar itu tapi dia berpikir ulang. Enggan rasanya mengetuk pintu kamar Hye Na. Ryu Jin tahu kalau kakaknya itu pasti menangis semalaman, memikirkan pertunangan Ji Woon dan Sae Yon.

Ryu Jin mengedikkan bahu tanda kalau dia masa bodoh dengan urusan Hye Na lalu meneruskan langkah menuju dapur. Seperti biasa, benda yang dia tuju ketika di dapur adalah lemari es. Dia mengambil sekotak susu dari dalamnya lalu menenggaknya langsung tanpa dituang dalam gelas.  Sambil agak menyandarkan pantat  di bartable, Ryu Jin masih memikirkan ‘kisah percintaan’ Hye Na. Entah karena kebetulan atau apa, tertulis kalimat di kotak susu itu,

‘Biarlah aku bahagia melihat senyum bahagiamu karena mencintaimu tak harus memiliki bagiku.’

Gubrak! Ryu Jin hampir terjengkang membacanya. “Alay banget, nih,” Ryu Jin jadi cengengesan sendiri. Sekali lagi dia mendekati lemari es, mengeluarkan sekotak sereal dan roti tawar dari dalamnya.

“Pagi ini malas masak,” batin Ryu Jin sambil berjalan ke arah meja makan.

 “Sereal yang diberi sobekan roti tawar di atasnya, aku rasa cukup membuat kenyang,” kali ini dia bergumam saat menduduki kursi makan lalu mulai meracik menu yang sudah direncanakan. Pertama-tama dia membuka cup sereal itu lalu menyobek-nyobek roti tawar di atasnya dan menuangkan susu yang sudah sempat diminumnya sekali tengguk.

Saat dia akan memasukkan resep dadakannya di malam mulut, Ryu Jin teringat lagi pada Hye Na. “Kenapa jam segini dia belum bangun? Apa tidak kerja?” Ryu Jin jadi bertanya-tanya.

“Apa aku bangunkan saja? Tapi kalau nanti dia ngamuk?” sekali lagi Ryu Jin ragu. “Ah, biarin saja lah. Dia kalau ngamuk nyeremin,” itulah keputusan terakhir Ryu Jin. Dia mengangkat sendoknya dan berseru seolah ada orang yang duduk di depannya,” Selamat makan!”

Lagi asyik-asyiknya menikmati sarapan,Ryu Jin mendengar ada yang membuka pintu depan. “Pintu depan tidak dikunci semalaman?” Dahinya jadi berkerut. Apalagi saat mendengar suara langkah kaki yang berat berjalan menuju dapur. Ryu Jin membalikkan tubuh, memandang pintu masuk dapur.

Hatinya lega saat melihat Hye Na memasuki dapur, Ryu Jin mengira kalau orang lain yang masuk apartemen. Tunggu! Bukannya dia mengira Hye Na masih tidur? Lalu, bagaimana bisa Hye Na baru memasuki apartemen?

“Kakak dari mana?” tanya Ryu Jin masih dari kursi makannya saat Hye Na menyalakan heather untuk memanaskan air minum.

“Hm,” hanya gumaman yang keluar dari mulut Hye Na.

“Berarti Kakak bangun pagi-pagi sekali? Olah raga ya, Kak? Tapi kok masih pake piyama dan kimono?” Ryu Jin mengamati penampilan Kakaknya dari atas kebawah.

Hye Na jadi serba salah. Ryu Jin heran melihat perubahan muka Kakaknya yang tiba-tiba bersemu merah. “Kakak…,” Ryu Jin memandang penuh selidik. “Kakak pergi lagi semalam dan baru pulang?”

Tuing! Hye Na mati kutu.

“Ah, Sudahlah! Aku mau mandi!” Hye Na menutupi kecanggungannya. Ryu Jin semakin heran melihatnya terburu-buru memasuki kamar.

“Ada apa dengannya,” desah Ryu Jin. “Ah, masa bodo, lah,” Ryu Jin meneruskan makannya lagi.

He is My Brother

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

 Yo Won mendatangi pusat perbelanjaan yang merupakan anak bisnis dari perusahaannya. Dia memang langsung menuju ruangan besar yang khusus disediakan untuknya jika berkunjung. Gayanya yang sombong memang terkesan cuek, tapi dia tahu apa yang digosipkan para karyawan di pusat perbelanjaan ini dan karena itulah dia berkunjung.

Kepala security, manager tiap bagian penjualan dan kasir sudah menunggunya di ruangan besar itu. orang-orang yang kebanyakan berbeda gender dengannya itu langsung membungkuk saat dia memasuki ruangan dan duduk di ‘singgasana’-nya.

“Apa yang kalian ketahui,” suara keibuan Yo Won yang tegas memenuhi ruangan bagaikan perintah mutlak bagi para ‘abdi-abdi’nya itu.

“Nona muda ke sini semalam,” kata kepala security.

“Kau yakin itu Hye Na?”

“Iya, Nyonya. Ini beberapa rekaman yang sempat menangkap aktifitas mereka melalui CCTV,” kata kepala pelayan sambil menyodorkan sebuah kaset video.

Yo Won sedikit menggerakkan kepalanya.

“Oh, maaf, Nyonya.” Seakan tahu arti gerakan itu, Sang kepala Security mendekati mesin pemutar video untuk menampilkan hasil rekamannya di monitor. Jelas sekali kalau wanita yang terlihat di layar itu adalah Hye Na. Tampak Hye Na sedang di stand busana pria bersama seorang bocah ABG, lalu di stand peralatan kantor, Yo Won bisa melihat Hye Na saat membayar semua pengeluarannya di meja kasir.

“Berapa uang yang dibelanjakan?” tanya Yo Won.

Manajer bagian kasir yang merasa kalau itu tugasnya untuk menjawab pertanyaan Yo Won, mulai buka suara,”Cukup menguras isi kantong Nona muda, Nyonya.”

“Jawab yang jelas!” teriak Yo Won.

“I… iya, Nyonya,” Manajer Kasir menyodorkan tagihan kartu kredit Hye Na yang masuk pagi ini.

Yo Won mengkerutkan keningnya,” Nominal sebanyak ini untuk memanjakan pria muda?” batin Yo Won. Emosinya semakin meletup-letup. Tak disangka, anak pertamanya yang selama ini dia banggakan ternyata mulai berulah, bahkan lebih buruk dari anak keduanya. Mengkencani pria muda? Yang benar saja, Hye Na?

Hari Keenam bersama Adik ABG

Sama seperti kemaren-kemaren, Ryu Jin menumpang mobil Hye Na menuju sekolah. Ryu Jin merasa perjalanan pagi ini sangat sunyi. Dia sedikit enggan memulai pembicaraan. Dia takut Hye Na masih sedih karena masalah Ji Won.  Sekali lagi dia menoleh pada Hye Na. kakaknya itu langsung melengos, seolah menghindari bersitatap dengannya.

Ryu Jin  menghela nafas. Dia yang biasanya cerewet agak susah kalau tidak bicara lebih lama lagi. “Kakak masih sedih karena pertunangan Kak Ji Won?”

Hye Na masih menatap jalan di depannya. Sebenarnya dia berusaha menyembunyikan rasa malunya pada Ryu Jin, kupingnya berubah warna jadi merah. Tapi fenomena ini malah diartikan salah oleh Ryu Jin. Ryu Jin mengira kalau Hye Na mau menangis sehingga menenangkan Hye Na, “Sudahlah, Kak. Jangan sedih terus, Ehm… aku ada kata puitis buat kakak, begini…” Ryu Jin agak ragu memilih kalimat yang tepat.

“Biarlah aku bahagia melihat senyum bahagiamu karena mencintaimu tak harus memiliki bagiku,” kata Ryu Jin menirukan kalimat yang tertulis di kardus susu. Gubrak! Kenapa yang terpikir malah kalimat alay itu? Ryu Jin memukul-mukul kepalanya sendiri.

Hye Na jadi tak tahan lagi, dia tertawa terbahak-bahak saat menjalankan kemudi. Ryu Jin senang melihatnya. “Kakak tertawa? Kata-kata alay itu membuat Kakak tertawa?” Ryu Jin menyatukan telapak tangannya hingga terdengar suara tepukan keras.

Well, sebenarnya bukan kata-kata alay itu yang membuat Hye Na tertawa, tapi anggapan Ryu Jin kalau Hye Na masih bersedih masalah Ji Woon. Tapi untuk menceritakan apa yang terjadi semalam pada Ryu Jin, Hye Na merasa tidak perlu.

Hye Na menghentikan mobil tepat berada di halte bis. “Turun di sini!” perintahnya pada Ryu Jin. Anak ABG itu malah protes,”Kakak tidak mengantarku sampai sekolah?”

“Aku harus mengajar di  kuliah pagi, takut terlambat kalau mengantarmu sampai sekolah,” jawab Hye Na yang sebenarnya alasan saja, agar dia tidak keceplosan di depan Ryu Jin.

“Yah…,” desah Ryu Jin sambil keluar dari mobil.

“Kalau pulang cepat pulang. Jangan buat keributan lagi di sekolah!” teriak Hye Na sambil menjalankan mobil. Ryu Jin mengangguk sambil melambaikan tangan lalu duduk di kursi halte bis.

—oOo—

“Kena, kau!”  Ji Woon memeluk Hye Na dari belakang saat gadis itu berjalan di lorong kampus menuju kantornya. Tentu saja Hye Na kaget bukan main. Sekarang jam makan siang, Hye Na berniat ke kantor dulu untuk meletakkan tas dan laptopnya sebelum menuju kantin.

“Kakak,” Hye Na berusaha lepas dari pelukan Ji Woon. “Jangan seperti itu di sini. Malu dilihat orang,” bisiknya.

Masih saja memeluk Hye Na, malahan semakin erat, Ji Woon kini menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan. “Tidak ada orang di sini,” kilahnya.

“Ah, Kakak!” rengek Hye Na sambil mengibaskan tangan Ji Woon hingga melepas pelukan. Lalu berjalan cepat ke kantornya.

“Hei! Tunggu, Sayang!” teriak Ji Woon sambil mengejar Hye Na.

Aduh! Hye Na semakin malu saat mendengar Ji Woon memanggilnya ‘sayang’. Kalau ada rekan kerja lain yang mendengar, bagaimana?

Hye Na memasuki ruang kerjanya. Ji Woon pun ikut-ikutan masuk. Hye Na langsung meletakkan tas dan buku-bukunya di meja kerja, lalu mengambil dompet berniat segera ke kantin. Tapi tarikan tangan Ji Woon membuatnya terjerembab lagi di pelukan pria itu.

“Buru-buru amat, sih?” rajuk Ji Woon manja.

“Uh, Kakak mau apa, sih?” Hye Na jadi merengek.

“Bicara empat mata, Sayang.”

Aduh! Panggilan itu lagi. Pleasse, deh!

“Apa?” tanya Hye Na sambil mendongak, menatap mata Ji Woon. Pria itu malah tersenyum, membalas tatapan Hye Na secara lembut, membuat Hye Na tambah penasaran.

“Katakan sekarang, aku sudah lapar, Kak!”

Ji Woon pun menghentikan kekonyolannya. Jangan berani-berani membuat orang lapar penasaran, bisa-bisa diterkam nanti. Memangnya Hye Na macan? Capek, deh!

“Baiklah- baiklah,” Ji Woon melepaskan pelukannya lalu kedua tangannya menangkup wajah Hye Na. “Orang tuaku sudah tahu semuanya. Dua minggu lagi kita menikah!”

Hye Na terbelalak mendengar kabar itu. “Secepat itu? Kapan Kakak ketemu orang tua Kakak?”

“Pagi ini!”

Hye Na jadi gugup. “Lalu… lalu..,” Hye Na melepaskan tangan Ji Woon dari wajahnya lalu berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku. “Bagaimana bisa mereka menerima begitu saja keputusan Kakak? Lebih lagi.. lebih-lebih, bagaimana pertunangan Kakak dengan Sae Yon?”

Ji Woon setengah duduk di meja kerja Hye Na. Tangannya membalik jam pasir yang menjadi hiasan meja itu. “Pertunangan batal. Sae Yon sudah berbicara pada orang tuanya semalam. Paginya orang tua Sae Yon menelphon Ayah, dan Ayah menelphonku. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena pihak Sae Yon yang membatalkan. Lalu aku berbicara pada Ayah tentang hubungan kita.”

“Coba tebak,” Ji Woon mendekati Hye Na lagi, melingkarkan lengannya di pinggang ramping Hye Na. “Ibu senang karena kau akan menjadi menantunya. Selama ini ternyata Ibu menyukaimu.”

“Tapi kenapa secepat ini, Kakak? Dua minggu lagi?”

“Memangnya kenapa? Tiga Minggu lagi aku harus ke Amerika, SAyang. Lebih cepat kau jadi istriku lebih baik.”

“Tapi…,”

“Kenapa?” Ji Woon menyipitkan mata,”Apa karena Ryu Jin? Ya ampun, Hye Na, Kau belum memutuskan hubungan dengannya?”

“Apa?” Hye Na tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Ji Woon. Mungkin acting Ryu Jin terlalu bagus hingga berhasil menipu Ji Woon hingga mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih.

“Ya, kenapa kau tertawa?”

“Tidak…Ehm.. Tidak,” Hye Na agak susah menghentikan tawa. “Masalah Ryu Jin itu bisa diatur.”

“Apa maksudmu bilang begitu?”

“Ah, aku lapar. Ke kantin, yuk! Apa kakak tidak lapar?” Hye Na melepaskan diri dari pelukan Ji Woon.

“Ya… Goo Hye Na, jawab dulu pertanyaanku!”

“Nanti sesudah makan siang,” kata Hye Na sambil membuka pintu.

“Aish!” mau tak mau Ji Woon mengikuti Hye Na ke kantin.

—oOo—

Ting-tong! Bel apartemen Hye Na berbunyi. Hye Na yang sibuk memasak di dapur menghentikan aktifitasnya. “Tumben ada tamu sore-sore begini? Apa mereka tahu kalau aku di rumah sore ini?”

Ting-tong!

“Ryu Jin! Buka pintunya! Lihat siapa yang datang!” teriak Hye Na. Dia merasa tanggung kalau menghentikan aktifitas memasaknya untuk membuka pintu.

“Iya! Iya!,” Ryu Jin yang sedari tadi duduk di meja makan sambil membaca majalah akhirnya berdiri untuk membukakan pintu.

Saat anak ABG itu membuka pintu, yang tampak adalah seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik dengan dandanan glamornya. Ryu Jin tampak segan melihat wanita itu. Tapi yang ada malah wanita itu memandanginya dengan mata yang marah.

“Kau! Kau ada di sini?” tanya wanita itu sambil menunjuk Ryu Jin.

“Aku tinggal di sini,” kata Ryu Jin.

“Apa?” tentu saja wanita itu terkejut setengah mati. Gila! Hye Na benar-benar sudah gila, batinnya.“Di mana, Goo Hye Na?” tanyanya.

Belum sempat Ryu Jin menjawab. Wanita itu sudah menerobos pintu dengan congkaknya. Ryu Jin agak terjengkang karena lengannya tersenggol. “Hye Na!”

Hye Na tercekat mendengar panggilan itu. Tiba-tiba dia merasa ngeri memikirkan perkataan Jae Min,” “Coba saja kalau kau mau dicincang Ibu habis-habisan? Hatinya masih terluka walau pun sudah lama cerai dengan Ayah.”

“Ibu?” Hye Na menggigit-gigit kukunya.

“Hye Na!” sekali lagi panggilan itu menggelegar.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Goo Hye Na!” panggil Yo Won untuk terakhir kalinya. Kali ini lebih keras dan tegas dengan nada menyentak. Mau tak mau Hye Na menuju ruang tamu untuk menemui Yo Won. Benar saja, mata lebar Yo Won sudah seperti macan kelaparan yang siap menerkam.

“Kau tahu Ibu tidak suka kalau panggilan Ibu kau abaikan!” kata Yo Won dengan tegasnya.

“I…iya, Ibu,” Hye Na menjawab kikuk.

“Siapa laki-laki ini?” Yo Won menunjuk pada Ryu Jin. Hye Na menunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Kalau dia berterus terang kalau Ryu Jin adiknya, Yo Won pasti tambah marah. Ryu Jin adalah buah perselingkuhan ayahnya dengan wanita lain. Sudah pasti Yo Won murka kalau tahu Hye Na menampung anak itu.

“Bagaimana mungkin kau menjalin hubungan dengan pria semuda ini?” kata Yo Won tak habis pikir. Hye Na memandang cengoh pada Yo Won. Jadi Yo Won mengira kalau mereka… Tiba-tiba Hye Na merasa itu adalah alasan yang tepat untuk menyembunyikan identitas Ryu Jin sebenarnya.

“Ibu…, aku… .”

“Apa tidak ada pria dewasa yang bisa kau kencani, hah!” Yo Won masih saja emosi.

“Kakak,” Ryu Jin memanggil. Yo Won semakin menunjuk-nunjuk Ryu Jin. “Kau lihat ini? Kau lihat, Hah? Dia bahkan memanggilmu Kakak! Berani taruhan kalau umurnya pasti lebih muda dari Jae Min!”

“Sayang, apakah aku terlambat?”

Aduh! Ji Woon muncul di saat yang tidak tepat. Tidak tepat bagaimana? BUkankah Hye Na sendiri yang mengundangnya makan malam sekalian menjelaskan identitas Ryu Jin yang sebenarnya.

“Ji Woon?” tanya Yo Won yang memang sudah mengenal Ji Woon sejak kecil.

“Bibi,” Ji Woon membungkuk hormat. Hye Na tambah serba salah.

“Kakak,” Ryu Jin memanggil lagi. Ji Woon mengkernyit mendengar panggilan Ryu Jin.

Hye Na merasa kalau semua ini tidak bisa disembunyikan lagi. Dia menghela nafas. “Masuk ke kamarmu, Ryu.”

“Tapi…

“Masuk ke kamar kubilang!”

Ji Woon semakin bingung dengan suasana di ruang tamu itu. Ryu Jin menuju ke kamarnya dengan kepala tertunduk. Hye Na menatap Yo Won bagaikan pesakitan di depan hakim yang siap menghukumnya.

“Ayah meninggal dua minggu yang lalu dan Ryu Jin adalah anak Ayah.”

Kalimat itu bagaikan tamparan keras di pipi Yo Won. Seketika suhu ruangan bertambah panas di tubuh NYonya besar itu.

BERSAMBUNG

He Is My Brother (part 5)

Goo Yo Won berjalan dengan mantap menuju kantornya. Para orang kepercayaannya, seperti biasa mengikuti dari belakang. Goo Yo Won adalah cerminan wanita yang berhasil dalam karier tapi kurang beruntung dalam urusan rumah tangga. Perceraian dengan Ayah Hye Na terkadang membuatnya sensitive jika ada orang yang menyinggung. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengurus perusahaan warisan keluarga demi melupakan kegagalannya itu. Tak dipungkiri, temperamennya yang keras mampu membuat perusahaan tua itu semakin meroket dan sifat kerasnya itu pula yang diwarisi Hye Na.

Gerakan anggun Goo Yo Won semakin kentara saat menduduki kursi kerjanya. Bak seorang permaisuri yang menduduki singgasana, nyaris tanpa cela sedikit pun bahkan saat semua pengikutnya duduk di tempat masing-masing hanya dengan anggukan kepalanya sebagai perintah.

“Ada masalah ?” tanya Yo Won pada akuntannya.

Jawaban takut-takut terlontar dari mulut akuntan itu. “Be…be.. gini, Nyonya. Hutang Nona Goo Hye Na sudah jatuh tempo.”

“Lalu?” Yo Won mulai membuka berkas yang disodorkan manajemen pemasarannya walau pun pertanyaan masih dia ajukan pada akuntannya.

“Saya sungkan memerintahkan debt collector buat menagih.”

Pandangan Yo Won beralih lagi pada sang akuntan. “Hutang tetaplah hutang. Kirim orang untuk mengingatkan kalau dia belum juga membayar.”

“Tapi, Nyonya. Dia itu putri anda.”

Yo Won menghela nafas. Tampak bosan dengan perdebatan itu. “Hye Na harus membayar pinjaman itu karena itu uang perusahaan.”

Akuntan itu mau tak mau mengangguk. Apalagi saat Yo Won mengibaskan tangan, memberi bahasa tubuh mengusir.

“Apalagi ini? Bagaimana bisa penjualan merosot drastis?” Saat akuntan itu membuka pintu, Yo Won mulai mengomeli manajer pemasarannya.

Perkenalkan, Goo Yo Won. Ibunda Hye Na dan Jae Min. Wanita bertangan besi dengan pandangan mata yang tajam. Tak ada yang berani menentang kehendaknya. Dia mempunyai instiusi bisnis yang tajam, tak seorang pun memungkiri hal itu. Masih keturunan ‘Penggede’ Yakuza di Jepang. Hal itulah yang membuat bisnisnya di Jepang lancar bagaikan air yang mengalir dan lawan-lawan bisnisnya semakin segan. Namun, sebenarnya Yo Won mempunyai sisi lembut yang selalu tampak sebelum bercerai dengan Ayah Hye Na.

Sikapnya ‘tanpa tedeng aling-aling’bisa terlihat saat akuntannya mengingatkan tentang hutang Hye Na tadi. Beberapa tahun yang lalu, Hye Na memang meminjam uang perusahaan karena perkiraannya terhadap suatu saham meleset. Setiap bulan, Yo Won mengirimkan debt collector ke apartemen Hye Na dan setiap bulan pula debt collector itu datang di hadapan Hye Na dengan perasaan sungkan.

He is My Brother

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Cameo:

Yoon Eun Hye as Uhm Sae Yon.

 Hye Na mengeluarkan semua pakaian kotor dari dalam kamar. Ryu Jin baru saja keluar dari dalam kamar saat melihatnya begitu sibuk dengan buntalan besar itu.

“Apa itu?” tanya Ryu Jin sambil menunjuk buntalan besar.

“Kau pikir apa? Sudah pasti baju kotor.”

Mata Ryu Jin langsung terbelalak. “Sebanyak itu?”

Hye Na mengangguk sambil menaruh buntalan itu di lantai. Dia menuju ke handphone yang berada di atas meja untuk menghubungi layanan laundry apartemen.

“Hallo, ada banyak baju kotor di apartemen 213, tolong segera diambil,” perintahnya. Ryu Jin mengkernyitkan dahi.

“OKe! Seperti biasa, aku taruh di depan pintu,” kata Hye Na sebelum mematikan telephon.

“Kakak bicara dengan siapa?”

Hye Na menghempaskan pantatnya di sofa. “Petugas laundry,” jawabnya sambil menggapai majalah di meja.

“Buat apa ada mesin cuci kalau masih menghubungi laundry,” omel Ryu Jin sambil duduk disamping kakaknya.

“Ah, diam, kau! Badanku terlalu pegal buat mencuci. Sudah, angkut buntalan itu ke depan pintu masuk. Sebentar lagi petugas laundry datang.”

Ryu Jin bergerak malas melakukan perintah Hye Na. Pintu apartemen tertutup lagi dan Ryu Jin kembali duduk di samping Hye Na. “Kakak di rumah saja kalau minggu?”

“Hm,” Hye Na mengangguk saja. Pandangannya masih terkonsen pada bacaan di tangan.

“Membosankan kalau begitu,” desah Ryu Jin sambil merebahkan punggung di sandaran sofa.

“Apanya yang membosankan?” gumam Hye Na.

“Hidup kakak,” sahut Ryu Jin,.

“Membosankan bagaimana?”

“Ya, membosankan. Kerja dari Senin sampai Sabtu, Minggu hanya di rumah. Pantas saja sampai tua belum punya pacar.”

Cerocosan Ryu Jin membuat Hye Na naik pitam. “Apa kau bilang?” Hye Na menatap Ryu Jin secara tajam.

“Sampai tua belum punya pacar!” ulang Ryu Jin sambil nyegir.

“What ever you said!”

Ting tong! Bel apartemen berbunyi. “Tumben-tumbenan petugas laundry itu memencet bel,” pikir Hye Na.

“Bajunya sudah kukeluarkan, lho.”

“Ya…, siapa juga yang menyalahkanmu?”

Ting tong! Sekali lagi bel itu berbunyi. “Iya sebentar,” teriak Hye Na. dia lalu memerintah Ryu Jin, “Buka pintunya!”

“Uh, aku mlulu yang buka!”  walau pun mengeluh, bocah ABG itu membuka pintu juga.

“Maaf, apakah Nona Goo ada?” tanya sang tamu saat Ryu Jin membukakan pintu.

“Siapa, kau?”

“Saya orang suruhan ibunya, untuk menagih hutang.”

Gubrak! Ryu Jin rasanya ingin pingsan sekarang juga.

Hari Kelima Bersama Adik ABG

“Jadi Kakak punya hutang pada Ibu Kakak dan musti membayar lima juta Won setiap bulannya?” tanya Ryu Jin saat debt collector sudah pergi dengan uang hasil tagihannya.

“Iya, memangnya kenapa?” Hye Na mengangguk mantap.

“Agak aneh melihat Ibu yang menagih hutang anaknya, biasanya sih, Ibu itu mengikhlaskan uang yang dipinjamkan pada anaknya.”

Hye Na melirik Ryu Jin, “He, tidak usah heran. Bisnis is bisnis. Lagi pula yang kupinjam adalah uang perusahaan jadi aku punya kewajiban mengembalikan.”

“Keluarga yang aneh,” desis Ryu Jin sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Dan kau bagian dari keluarga aneh itu,” Hye Na bangkit dari duduknya. “Sudahlah! Cepat ganti bajumu! Kita ke mall. Cari baju yang kira-kira keluaran terbaru untuk kau pakai. Bajumu terlihat kurang up date.”

“Hah! Benar, Kak?” Ryu Jin melonjak senang.

“Iya, masa bohong!”

“Tapi Kakak baru saja bayar hutang.”

“Aish! Aku masih punya simpanan!”

“Yes!” Ryu Jin mengepalkan tangannya di udara.

Ryu Jin semakin girang saat berada di pusat perbelanjaan. Semua baju yang terpajang inginnya diborong semua. Hye Na memilihkan model baju yang sekiranya cocok untuk anak SMU walau pun usia Ryu Jin masih empat belas tahun, terkadang adu pendapat menyilingi acara shoping.

“Aku tidak mau pakai yang terlalu resmi!” protes Ryu Jin.

“Satu atau dua baju resmi mungkin kau perlukan,” Hye Na pun tak mau kalah.

“Terserahlah, kau kan bosnya,” biasanya Ryu Jin mengatakan itu kalau sudah capek berdebat.

Yang tidak Ryu Jin sadari, pusat perbelanjaan itu merupakan salah satu anak bisnis perusahaan keluarga Goo. Tentu saja semua pegawai di situ mengkerutkan dahi saat melihat Nona muda mereka datang bersama anak ABG. Tidak ada yang bisa disalahkan. Bukankah mereka tidak tahu kalau Ryu Jin adalah tiri Hye Na? Bahkan ada yang berbisik-bisik tak jelas, berpikiran buruk kalau Hye Na tertarik pada bocah ingusan.

“Nona muda rupanya sangat suka daun hijau,” bisik salah satu pegawai pada rekannya.

“Biar awet muda, kali.” Seperti halnya gossip. Yang lain menggosok bahan omongan itu hingga makin panas dan sip. Apalagi saat mereka melihat kalau Hye Na yang ternyata mengelurkan kartu kredit demi membayar semua pengeluaran Ryu Jin. Wah, makin heboh.

“Work sheet-ku habis, belikan juga, dong!” Ryu Jin tanpa malu-malu meminta pada Hye Na.

“Oke, kita ke stand peralatan kantor,” Hye Na menyetujui permintaan Ryu Jin. Pegawai yang mendengar hal itu semakin heboh.

Siapa yang menjalani hidup, siapa pula yang heboh!

Bukan hanya worksheet yang mereka borong dari stand peralatan kantor, tapi Hye Na yang menyadari kalau persediaan kertasnya menipis, juga memborong berpak-pak kertas.  Hye Na tampak kewalahan membawa belanjaannya, anehnya, dia menampik tawaran seorang pegawai untuk membantunya. Hye Na hanya menerima troli yang diberikan pegawai itu untuk mengangkut bawaannya.

“Ke foodcourt dulu, yuk! Lapar, nih!” ajak Hye Na. Ryu Jin yang bertugas mendorong troli Cuma bisa mengangguk.Mereka segera memasuki lift.

“Tunggu!” seorang pria menghentikan pintu lift yang sudah akan tertutup. Kakak-beradik yang sudah berada di dalam lift terkejut melihat pria itu.

“Kak Ji Woon?”

“Hye Na?”

“Siapa, kak?” seorang wanita bertanya pada Ji Woon, membuyarkan keterkejutan Hye Na dan Ji Woon karena pertemuan mendadak itu.

Greep! Wajah Ji Woon mendadak memucat. Hye Na memandangi wanita itu dari ujung rambut ke ujung kaki.

“Dia… dia Hye Na, teman kerjaku,” jawab Ji Woon gugup lalu menoleh pada Hye Na, “Hye Na… ini…

“AKu Sae Yon, kekasih Kak Ji Won,” potong wanita itu sambil mengulurkan jabat tangan. Dan lift yang bergerak ke lantai empat itu tiba-tiba bersuasana panas.

——————————–

“Jadi orang tua kalian menjodohkan kalian?” tanya Ryu Jin demi menegaskan kembali kabar yang dikatakan Sae Yon, beberapa menit setelah mereka duduk berempat di salah satu stand foodcourt.

“Iya, kami bahkan baru bertemu pagi tadi,” Sae Yon mengangguk riang. Hye Na dan Ji Woon sama-sama menunduk. Hye Na sudah kehilangan nafsu makannya. Dia hanya memainkan pasta yang dipesannya, memuntirk-muntirkan di garpu tanpa mau mendekatkannya ke mulut.

“Sepertinya kau sangat senang dengan perjodohan ini?”

“Tentu saja!” Sae Yon menoleh pada Ji Woon. “Siapa yang tidak suka jadi calon istrinya Kak Ji Woon?”

Hati Hye Na tambah panas mendengarnya. Ji Woon semakin menunduk, mati kutu di samping Hye Na.

“Oh, ya?” Ryu Jin menoleh pada Ji Woon lalu merangkul Hye Na. “Aku juga bangga bersama Hye Na kalau begitu.” Tindakan Ryu Jin yang tiba-tiba membuat Hye Na kaget.

Apa-apaan nih, bocah! Batin Hye Na. Ji Woon mendongak, menatap Kakak-beradik yang disangkanya sepasang kekasih itu.

“Iya, dong. Hye Na dan Kak Ji Woon kan setipe. Kalau kau saja bangga menjadi kekasih Ji Woon, aku juga bangga jadi… .”

“Au!” cerocosan Ryu Jin berubah jadi teriakan keras  saat Hye Na menginjak kakinya.

“Kita pulang! Sudah larut malam!” tegas Hye Na sambil beranjak dari kursi. Mau tak mau Ryu Jin mengikuti Hye Na walau pun makanannya belum habis.

Perasaan Hye Na sungguh campur aduk. Dia tidak tahu bagaimana bisa mempunyai perasaan macam itu. bukankah selama ini dia dan Ji Woon hanya teman baik? Apakah rasa menghormati antar teman itu kini bisa berubah jadi rasa cinta? Hye Na merasa dikhianati, dia hanya diam saat mengendarai mobilnya. Ryu Jin rupanya cukup tahu kegalauan hati kakaknya. Dia memilih diam selama perjalanan pulang.

Bahkan saat sampai di apartemen, Ryu Jin hanya mengiyakan perintah Hye Na untuk memasukkan barang bawaan, tanpa mendebat seperti biasanya, sementara kakaknya itu segera memasuki kamar. Ryu Jin yakin di dalam kamar itu, Hye Na pasti menangis, tapi untuk sekedar mengetuk pintu kamar itu, Ryu Jin tidak berani. Dia mulai tahu karakter Hye Na yang menakutkan jika sedang marah.

Sedangkan Ji Woon dan Sae yon mengalami perjalanan pulang yang cukup sunyi juga. Sae Yon belum juga turun dari mobil walau pun sudah sampai di pelataran rumahnya. Dia memperhatikan perubahan sikap Ji Woon yang mendadak murung setelah bertemu Hye Na, dan dia mulai menyadari posisi Hye Na si hati pria itu.

“Kakak,” sapaan lirih  Sae Yon membuat Ji Woon agak terkesiap. Suasana hening kembali. Sae Yon berusaha menyusun kalimat yang tepat untuk memulai pembicaraan.

“Apakah kakak mencintai Hye Na?” akhirnya kalimat itu yang Sae Yon pilih. Tak dipungkiri pikiran itu yang mengganggu otak Sae yon selama di perjalanan.

 Ji Woon terdiam dan menundukkan kepala. Sepertinya dia bukanlah pria yang pandai berbohong. Ya, dia memang mencintai Hye Na.

“Tidak apa jika Kakak menolak perjodohan ini,” kata Sae Yon kemudian. Sae Yon tersenyum. “Seperti yang dikatakan Ryu Jin tadi, kakak dan Hye Na setipe. Jadi tidak salah, kan kalau aku berkesimpulan kalau kalian saling menyukai. Biasanya kemiripan selalu tarik-menarik.”

“Tapi Hye Na memilih Ryu Jin,” kilah Ji Woon. Sae Yon menertawakan kebodohan Ji Woon tadi. “Kakak terlalu lugu dalam bercinta, apakah Hye Na pernah berkata kalau dia mencintai Ryu Jin?”

“Tidak perlu kata-kata untuk…

“Ya, tidak perlu kata-kata. Sama seperti kejadian tadi. Hye Na dan kakak sama-sama bersedih mendengar rencana perjodohan kita. Tanpa kata-kata, aku bisa merasakannya. Kalian berdua sama-sama kecewa. Sama-sama merasa terkhianati. Sama-sama… Ah, entahlah.. galau mungkin?” Sae Yon nyegir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau mengatakan itu, seolah-olah perjodohan ini tak berarti apa-apa bagimu.”

“Well, anggap saja aku wanita modern yang tidak setuju dijodoh-jodohkan.”

“Jadi?”

Sae Yon menghela nafas, “Jadi, kejarlah Hye Na. Yakinkan cinta Kakak padanya. Katakan kalau Kakak mencintainya.”

“Lalu Ryu Jin?”

“Jangan jadikan Ryu Jin sebagai alasan kepengecutan Kakak,” bentak Sae Yon sambil mengacungkan telunjuk pada Ji Woon. Sae Yon mendesah lagi, lalu tangannya menggapai pembuka pintu mobil. “Oke, selamat berjuang, Pemabuk cinta.”

Sae yon keluar dari mobil Ji Woon lalu menutup pintunya kembali. “Masalah perjodohan tidak usah dipikirkan, aku akan bilang pada Ayah Ibu kalau aku tidak mau dijodohkan,” kata Sae Yon melalui jendela mobil yang disambut dengan senyuman lega dari Ji Woon sebelum melajukan mobilnya kembali.

 

—————————-

Hye Na terbangun dari tidurnya saat merasakan perutnya yang keroncongan. Pasta yang dipesannya di Foodcourt sama sekali tidak dia makan jadi pantas saja kalau kelaparan. Dengan langkah terseok, dia menuju dapur untuk membuat mie ramen. Pintu kamar Ryu Jin sudah tertutup rapat, mungkin anak itu sudah tertidur. Sambil sesekali menguap, Hye Na memanaskan air untuk menanak mie.

Dia berhenti sebentar mengamati bayangannya yang terpantul di panci. Matanya membengkak akibat menangis sebelum tidur tadi. Dia mulai merasakan lagi kesedihan karena Ji Woon dan dia mulai mengutuki perasaannya.

Hye Na bahkan tidak menuangkan mie yang sudah jadi itu ke dalam mangkok, melainkan langsung memakan dari panci, rasa frustasi dan lapar bercampur jadi satu, dia ingin menghilangkannya secepat mungkin. Tidak puas dengan satu porsi mie ramen, Hye Na membuka sebungkus lagi dan menanakkannya, begitu seterusnya sampai perutnya tidak lagi mampu menampung dan hampir muntah.

Saat sadar, tempat sampah di dapurnya sudah penuh dengan bungkus mie ramen. Hye Na merasa harus membuang sampah itu keluar dari apartemen sekarang juga karena besok dia pasti terburu-buru menuju kampus sementara Ryu Jin belum bisa diandalkan. Akhirnya Hye Na mengenakan jubahnya untuk keluar apartemen demi membuang sampah.

Suasana di pelataran gedung apartemen cukup sepi walau pun para penghuni apartemen yang lain ada yang belum mematikan lampu, bahkan sayup-sayup irama pesta terdengar. Maklum, mungkin mereka belum sadar, Minggu malam semakin merayap dan harus tidur menyambut Senin pagi yang sibuk. Hye Na meletakkan kantong plastik yang berisi sampah dari dapurnya bersama kumpulan sampah lain yang sudah ada di salah satu sudut pelataran lalu kembali menuju gedung apartemen.

Sekali lagi, heningnya suasana pelataran cukup bisa membuat Hye Na mendengar kalau ada seseorang yang mengutitnya. Hye Na menoleh ke belakang dengan dahi berkerut. Nihil, tak ada seorang pun di belakang. Hye Na mempercepat langkah, takut kalau-kalau yang mengutit adalah hantu mengingat cerita-cerita horror yang pernah diceritakan para penghuni apartemen yang lain tentang pelataran ini.

Hye Na terkesiap saat tiba-tiba lengan yang kekar melingkar di perutnya. Menariknya lebih dalam hingga punggungnya membentur dada yang begitu bidang. Hye Na agak panik namun kepanikan itu terhenti saat menoleh ke samping, melihat wajah orang yang memeluknya itu. Kehangatan udara berhembus dari hidung  yang menempel di pipinya membuat Hye Na terhipnotis, apalagi saat orang itu membisikkan kalimat yang membuat Hye Na melayang,”Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

“Kakak,” Hye Na membalikkan badan, membalas pelukan itu dengan buraian air mata.

Katakan ini mimpi, tapi ini terlalu nyata untuk hanya menjadi sekedar mimpi. Biarkan aku melayang untuk saat ini. Sekali ini saja, biarkan aku melupakan hari esok.

BERSAMBUNG

He is My Brother (Part 4)

Sampai sore, Ryu Jin masih belum menentukan kemana akan pulang. Kunci apartemen Hye Na masih dia pegang. Hye Na memang memberikan duplikat kunci itu padanya. Tapi untuk menginjak tempat itu lagi, dia enggan karena hatinya masih sakit. Keraguan Hye Na membuat Ryu Jin  kecewa.

Ryu Jin berjalan tak tentu arah, mengelilingi Seoul. Kota ini tampak tak ramah bagi pendatang dari desa seperti dirinya. Orang yang lalu-lalang seakan bergaya hidup hedonis. Mereka berjalan cepat, menatap lurus tanpa ekspresi. Tiba-tiba Ryu Jin merasa kesepian di antara keramaian itu.

Selepas pertengkarannya dengan Hye Na pagi tadi, Ryu Jin berjalan sendirian menyusuri jalan tol. Berusaha mencari arah menuju halte bis. Dia memang ke sekolah Shinwa. Dia hanya akan mengumpulkan tugas hukuman yang diberi nilai A plus oleh wali kelasnya.

“Bagus sekali, Ryu Jin. Sebagai korban, kau membahas masalah ‘Bulimia’ dengan sangat tajam. Bahasa Inggris-mu pun sangat tertata. Grammar-nya tepat sekali. Kau pasti terbiasa membuat essay dalam bahasa Inggris,” puji Nona Song, wali kelasnya. “Oh, ya… tentu saja, bukankah itu yang tertulis di CV-mu. Maaf, saya lupa.”

“Tidak apa, Nona,” Ryu Jin tersenyum menanggapi pujian Nona Song.

“Aku akan memasukkan tulisanmu ke lomba penulisan essay tingkat nasional. Kau boleh masuk kelas sekarang.”

Tapi Ryu Jin menggeleng. “Kenapa?” Nona Song tidak mengerti maksud gelengan kepala Ryu Jin.

“Saya menemui Nona untuk berpamitan,” jawab Ryu Jin.

“Berpamitan? Kau mau pindah sekolah? Oh, aku mohon jangan, Ryu Jin,” Nona Song jadi panik mendengarnya.

“Maaf, Nona.”

“Apa ini karena kejadian kemaren? Kalau masalah itu, kau tidak perlu kawatir. Gu Jun Pyo tidak akan berani mengganggumu lagi. Kemaren sore, Ibunya memang memarahi Kepala Sekolah karena kejadian di lapangan basket, tapi kami berhasil meyakinkan beliau kalau kau adalah asset berharga di sekolah ini. Kami juga menyebut nama kakakmu, dan anehnya dia terlihat gentar.”

Kakaknya? Ryu Jin merasa nelangsa karena kakak yang disebut Nona Song itu, kini berpikir kalau Ryu Jin pembohong dan bukan adiknya kerena menolak melakukan tes DNA.

“Nyonya Kang malah merasa malu, dia menekan Jun Pyo melakukan ujian persamaan agar bisa kuliah sesuai dengan umurnya. Aku melihatnya memarahi Jun Pyo dengan mata kepalaku sendiri,” sambung Nona Song.

“Saya…, saya tidak tahu apakah masih ada biaya untuk… .”

“Apa maksudmu tidak ada biaya? Nona Goo sangat kaya. Oh, Nona Goo pasti kawatir kalau Jun Pyo mencelakaimu lagi. Bilang padanya semuanya sudah diatasi.”

“Bukan begitu, Nona.” Ryu Jin bahkan tidak tahu masih maukah Hye Na menemuinya. Hatinya semakin perih saja.

“Ryu Jin,” Nona Song masih saja memotong perkataan Ryu Jin. “Aku tahu, di luar sana, banyak sekali sekolah yang berebut menampungmu karena kepandaianmu. Aku tahu kau berhak memilih. Jadi aku mohon, untuk hari ini, ikutilah pelajaran. Nikmatilah sarana prasarana di Shinwa, dan aku mohon berpikirlah. Kau membutuhkan sekolah yang mendukung kepandaianmu. Aku yakin, besok kau berubah pikiran,”

Nona Song masih saja berpikir semua itu karena perkelahian Ryu Jin dengan Jun Pyo. Ryu Jin hanya mengangguk lalu pergi ke kelasnya seperti yang diperintahkan Nona Song. Nona Song tidak tahu, kalau Ryu Jin sangat bimbang. Ryu Jin bimbang apakah Hye Na masih mau menjadi walinya lagi. Ryu Jin bimbang apakah Hye Na mau menyokong kehidupannya lagi. Ryu Jin mengikuti pelajaran hari itu dengan konsentrasi yang minim. Semuanya tidak ada guna. Shinwa memang megah dengan sarana-prasarana kelas internasional yang tidak dimiliki oleh sekolah lain, tapi semuanya bukan kesalahan Shinwa mau pun Gu Jun Pyo. Keadaannya yang salah. Kehadirannya di kehidupan Hye Na yang salah, bahkan Ryu Jin semakin yakin kalau kelahirannya juga salah.

Dalam keadaan itu, dia ingin menemui pengacara Kim. Tentu saja, bukankah pengacara Kim sendiri yang bilang, Ryu Jin bisa menemuinya jika ada masalah. Ryu Jin bahkan teringat perkataan Hye Na,”Oh, ya? Kenapa tidak sekalian saja dia mengadopsimu?”

Diadopsi Pak Kim? Bisakah Ryu Jin meyakinkan Pak Kim agar mengadopsinya? Yang Ryu Jin perlukan sekarang ini hanyalah wali. Kalau pun Pak Kim tidak mau membiayai sekolahnya, Ryu Jin merasa kalau bisa bekerja sambil sekolah. Ya, dia akan meyakinkan pengacara itu untuk mengadopsinya.

Tapi ternyata Pak Kim sedang tidak ada di kantornya. “Maaf, pengacara Kim ada tugas di luar kota,” itulah perkataan sekretarisnya siang tadi. Ryu Jin keluar dari gedung kantor Pak Kim dengan tangan hampa dan kebingungan lagi.

Hari semakin larut, keramaian Seoul semakin menggila.  Ryu Jin masih berjalan tanpa arah. Perutnya sudah memprotes minta diisi. Bahkan tas ransel yang tadi pagi serasa ringan, entah kenapa kini berubah menjadi berat. Seorang gelandangan melewatinya. Dia sadar, kini bernasib sama dengan gelandangan itu. Gelandangan yang tidak punya rumah, tak ada saudara dan dianggap penyakit masyarakat. Kehidupannya begitu jungkir balik dalam waktu selang sehari.

Kemaren dia bahagia karena sang kakak membelanya di hadapan Gu Jun Pyo. Kemaren dia bahagia mendapati kalau dirinya punya sepasang keponakan kembar yang cantik-cantik dan lucu. Tapi sekarang… dia bukan siapa-siapa. Bukan adik seseorang, bukan pula paman seseorang. Dia sendirian, semua orang meninggalkannya.

Orang-tuanya pun meninggalkannya. Setelah pertengkaran demi pertengkaran yang mereka lakukan di depan Ryu Jin, mereka meninggalkannya. Ryu Jin semakin yakin kalau kelahirannya memang salah. Setiap malam, selama empat belas tahun, dia harus pura-pura tidak mendengar pertengkaran mereka. Setiap pagi, dia harus pura-pura tidak melihat mata Ibunya yang bengkak karena menangis. Dia tak habis pikir kenapa Ibunya masih bertahan. Apakah semua itu karena dirinya? Apakah Ibunya bertahan karena kelahiran Ryu Jin? Dia tidak tahu.

Yang Ryu Jin tahu, pertengkaran mereka selalu di dasari masalah ekonomi. Ayahnya selalu punya uang untuk wanita-wanita hina di luar rumah tapi mengabaikan wanita di dalam rumah. Durjana itu bahkan tidak menyadari kalau Ryu Jin semakin besar dan sekolahnya semakin membutuhkan biaya banyak.

Ryu Jin masuk SMA tahun ini. Tentu saja biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Ibunya kebingungan. Ibunya mencari kabar keberadaan Ayahnya, dan tahu kalau pria itu sedang ada syuting di Bussan. Dan malam itulah, terakhir kalinya, Ryu Jin melihat sang Ibu. Malam itulah, Ryu Jin melihat sang Ibu menyampirkan tas yang berisi baju yang mungkin diperlukannya selama di Bussan. Dia bahkan mengantar ibunya sampai di pintu. Ibunya berpamitan padanya, menggenggam tangannya erat-erat sebelum masuk ke dalam mobil. “Ryu Jin, Ibu akan menemui Ayahmu, Nak. Ibu akan minta uang padanya untuk biaya sekolahmu masuk SMA. Jangan kawatir, Nak. Kau pasti berhasil masuk sekolah favorit itu. Tunggu Ibu, ya, Nak… Ibu pasti datang. Ibu pasti pulang.”

Tapi kenyataannya, Ibunya tidak pernah pulang. Mereka tidak pernah datang. Hanya kabar buruk yang datang. Bahwa kecelakaan merenggut nyawa orang-tuanya. Bahwa pada akhirnya dia menjadi yatim-piatu. Hatinya semakin perih, merasa kalau nasibnya lebih buruk daripada gelandangan yang melewatinya tadi.

Ryu Jin menghentikan langkah. Dia mendongak, menatap gedung apartemen yang sederhana itu. Dia tidak mengerti, kenapa langkah kakinya mengarah ke sini. Tapi dia merasa, hanya di sini, dia diterima. Sebenarnya, dia juga tidak yakin, akankah mereka menerimanya kembali. Ryu Jin sampai di sebuah pintu dan keraguan semakin mendera. Hari sudah sangat larut, dia yakin, orang-orang di dalam pasti sudah tidur. Akhirnya, Ryu Jin berjongkok di samping pintu dengan kepala tertunduk. Biarlah dia menunggu pagi dari pada harus mengetuk pintu dan mengganggu tidur penghuni apartemen itu.

—-He is My Brother—-

Hal yang paling membuat Hye Na muak adalah kehidupan ayahnya, Goo Bon Hyung, sang aktor kawakan yang digilai oleh banyak wanita itu. Seminggu yang lalu Hye Na dikejutkan oleh kabar kematian sang Ayah akibat kecelakaan bersama wanita simpanannya. Dan kini dia dikejutkan oleh kehadiran Goo Ryu Jin, anak sang ayah dengan wanita simpanannya itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Additional Cast :

Kim Soe Oen as Choi Yumi (Goo Jae Min’s  wife)

Cameo:

Kim Min Ji as Im Yuri (Goo Ryu Jin’s mother)

Song Hye Kyo as Miss Song

Hye Na sampai di villa keluarganya di Jeju ketika hari sudah sangat larut. Akhir pekan membuatnya kehabisan tiket pesawat. Dia masih beruntung ketika ada orang yang membatalkan penerbangan ke Jeju walau pun penerbangan itu adalah penerbangan terakhir.

Pak Kim sudah menunggunya di sini. Tulisan “Villa ini sedang dalam proses penyitaan” adalah hal pertama yang menyapu pandangan Hye Na saat taksinya memasuki pekarangan Villa. Hye Na keluar dari taksi dengan hati bingung.

“Selamat datang, Nona Goo,” sambut Pak Kim di serambi Villa sambil menunduk. Hye Na masih memandang tulisan aneh itu. “Apa maksud semua ini, Pak Kim?” tanyanya.

“Mungkin akan lebih baik kalau kita bicara di dalam,” tawar pengacara itu.

Hye Na menyanggupi. Dia membuka pintu depan Villa dan terheran karena pintu itu tidak terkunci. Semakin heran lagi ketika memasuki Villa itu. Semua barang di dalam sudah ditandai label penyitaan. Bahkan sofa yang kini mereka duduki pun tak luput dari label berwarna merah itu.

“Villa ini di sita?” Suara Hye Na terdengar ling-lung. Bahkan oleh Pak Kim yang mengangguk. “Tapi… .” Hye Na masih tidak percaya dengan kenyataan di hadapannya.

“Ibu Ryu Jin, Im Yuri, menjaminkan sertifikat Villa ini kepada Bank,” kabar dari Pak Kim.

“Apa?” Hye Na terkejut mendengarnya. “Tapi bagaimana mungkin? Villa ini milik keluarga kami. Ayah-Ibuku membeli Villa ini bersama-sama.” Hye Na tampak tidak terima dengan tindakan Ibu Ryu Jin.

“Tapi inilah yang terjadi, Nona. Pihak Bank baru menghubungiku pagi tadi. Karenanya saya langsung kemari mencari tahu. Ini surat-suratnya,” Pak Kim menyodorkan sebuah map berisi penuh surat keterangan hutang. Hye Na memeriksa keabsyahan surat tersebut. Sebagai seseorang yang berpengalaman menguji keaslian lembaran saham dan obligasi, hal itu adalah masalah ringan untuknya. Surat itu syah. Ibu Ryu Jin memang menggadaikan villa itu.

“Bagaimana bisa orang yang tidak berhak atas sertifikat ini menggadaikannya, Pak Kim?” tanya Hye Na.

“Bisa saja kalau ayah anda tanda-tangan, menyetujuinya.”

“Tapi untuk apa? Apakah honor ayah sebagai aktor tenar itu tidak cukup menghidupi wanita simpanannya dan anaknya?” Hye Na agak nyinyir di sini, kehidupan ayahnya membuatnya muak.

“Saya tidak tahu, Nona. Benar-benar tidak tahu,” sahut Pak Kim.

Hye Na menghela nafas. Dia marah, benar-benar marah. Dia berdiri, mengitarkan pandangan pada setiap sudut interior villa mewah itu. Kenangan masa lalunya timbul kembali. Suara cerianya masa kanak-kanak seakan memantul kembali di dinding-dinding sekelilingnya. Suara tawa Jae Min yang berderai-derai saat mereka bermain kejar-kejaran di antara barang-barang yang berlabel penyitaan itu. Suara Ibunya dari arah dapur yang menyanyi sambil memasak, lalu suara ayahnya yang berdehem saat mereka terlalu berisik. Tak terasa Hye Na menitikkan air mata mengingatnya.

“Pak Kim, saya akan menebus Villa ini,” kata Hye Na sambil memejamkan mata. Tekadnya sudah bulat. Villa ini tidak boleh jatuh ke tangan orang lain. Hye Na menoleh pada pengacara Kim, dan dengan menekankan setiap kata, dia menyakinkan pengacara itu,”Saya sangat kaya, Pak Kim.  Berapa pun akan saya keluarkan untuk menebus villa ini kembali.”

Hari Keempat bersama Adik ABG

Yumi menaiki tangga menuju apartemennya. Pagi ini dia sangat kelelahan setelah bekerja shift malam di rumah sakit. Dia yakin  anak kembarnya pasti masih pulas, dan dia berniat tidur sebentar untuk menyegarkan diri sebelum anak-anak itu mengganggunya. Namun saat akan membuka pintu apartemen, dia terkejut mendapati seseorang yang berjongkok, memeluk lutut sambil menunduk di samping pintu.

Dengan takut-takut, kawatir jika orang itu mungkin pemabuk, Yumi menepuk pundak orang itu. Orang itu bergerak malas, mengucek-ucek matanya lalu menengadah. Yumi terkejut,  “Ryu Jin?”

Ryu Jin mengangguk. Bahkan tersenyum dibalik wajahnya yang lesu.

“Kau kenapa? Kau semalaman berjongkok di sini?” tanya Yumi. Sekali lagi Ryu Jin mengangguk.

“Ya, Tuhan,” Yumi tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi.

“Boleh aku minta makan? Aku lapar sekali,” kata Ryu Jin. Yumi jadi terenyuh. “Tentu saja, Ryu Jin. Ayo masuk.”

Yumi segera menyiapkan makanan untuk Ryu Jin. Saat mendengar suara pintu apartemen dibuka, Jae Min juga sudah bangun. Mereka berdua menatap Ryu Jin yang makan lahap, seolah belum makan berhari-hari. Mereka saling berpandangan, merasa heran dengan tingkah Ryu Jin lalu Jae Min memberi kode agar Yumi mengikutinya ke kamar.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Jae Min pada Yumi saat mereka sudah di dalam kamar.

“Aku juga tidak tahu, dia sudah ada di depan pintu saat aku mau masuk,” jawab Yumi.

“Kau telphonlah Kak Hye Na, kabarkan kalau Ryu Jin ada di sini, sementara aku menginterogasinya,” perintah Jae Min. Yumi mengangguk. Jae Min keluar kamar lagi untuk menginterogasi Ryu Jin.

Sementara Yumi menghubungi Hye Na. Hasilnya nihil. Handphone Hye Na tidak aktif. Dengan menghela nafas, Yumi mengirim pesan pada Hye Na tentang keberadaan Ryu Jin. Jae Min masuk lagi ke kamar setelah itu.

“Mereka bertengkar,” kata Jae Min.

Wajah suaminya terlihat sangat jengkel. Yumi mengelus-elus punggung Jae Min untuk menenangkan. “Si kaku itu memaksanya melakukan tes DNA. Bodoh sekali. Bukankah dia bisa melakukan semua itu dengan diam-diam? Mencuri helai rambut Ryu Jin misalnya,” Jae Min menyesali kekakuan pribadi Hye Na.

“Sudahlah, Sayang. Sudah pasti Ryu Jin merasa tersinggung. Siapa juga yang tidak tersinggung diragukan seperti itu,” ujar Yumi menenangkan.

“Kau sudah menghubunginya?” tanya Jae Min.

Yumi menggeleng, “Telephonnya seperti dinonaktifkan, tapi aku sudah mengirim pesan padanya. Aku yakin setelah membaca pesan itu, dia pasti kemari.”

“Aku tidak habis pikir, kenapa kakak tidak panik mencarinya?” kata Jae Min kesal.

Tentu saja Hye Na mematikan telephone karena sedang berada dalam pesawat menuju Seoul. Dan tentu saja Hye Na panik, panik menghadapi kenyataan tentang Villa di Jeju. Hye Na merasa marah pada tindakan Ibu Ryu Jin. Im Yu Ri tidak berhak atas villa itu. Memang setelah keluarga Hye Na tercerai berai, Yu Ri dan Ryu Jin yang menempati villa itu tapi kepemilikan villa itu masih di tangan Goo Bun Hyung, ayah Hye Na dan Goo Yo Won, Ibu Hye Na.

Saat membaca pesan Yumi tentang Ryu Jin, Hye Na semakin marah. Dia ingin mengetahui kenapa Ibu anak itu begitu lancang menggandaikan sertifikat villa yang bukan miliknya. Dia marah saat memasuki apartemen Jae Min. Dia mengabaikan Yumi yang membukakan pintu. Dia langsung mencari keberadaan Ryu Jin.

“Katakan padaku, kenapa Ibumu menggadaikan villa di jeju?” bentak Hye Na saat menemui Ryu Jin di kamar si kembar. Suasana ceria di kamar itu menguap seketika. Kedua keponakannya ketakutan. Jae Min yang sedari tadi mengikuti Hye Na, memberi kode pada Yumi agar membawa anak-anak keluar kamar.

“Ayo, anak-anak. Kita sarapan, ya?” ajak Yumi pada Hye Mi dan Hye Ri. Kedua anaknya bergerak takut-takut. Mereka memandang Hye Na dan Ryu Jin bergantian lalu beralih pada Yumi yang mengulurkan tangan. Yumi mengangguk untuk meyakinkan anak-anaknya. Kedua balita itu akhirnya berhasil diyakinkan untuk keluar kamar.

“Jawab! Kau tidak tuli, kan?” bentak Hye Na lagi. Nafasnya turun naik karena amarah.

“Aku tidak tahu!” sahut Ryu Jin. Dia memang tidak tahu kalau Ibunya menggadaikan villa tersebut.

“Kakak, aku mohon tenanglah,” kata Jae Min.

“Bagaimana aku bisa tenang? Ibu anak ini menggadaikan villa kita. Villa kita, Jae Min,” tekan Hye Na.

“Tapi belum tentu Ryu Jin tahu sebabnya, kan?” Jae Min berargumen. Bagaimana bisa anak seumuran Ryu Jin tahu masalah semacam itu.

“Mereka selalu bertengkar,” desah Ryu Jin. Hye Na dan Jae Min menoleh lambat ke arahnya. “Karena itu aku selalu berusaha masuk kelas akselerasi. Agar sekolahku cepat selesai dan Ibu tidak perlu bertengkar, minta uang pada Ayah lagi,” lanjutnya dengan kepala menunduk.

Jae Min mulai bisa menyimpulkan duduk persoalannya. Dia menepuk-nepuk punggung Hye Na untuk menenangkan.

“Aku tidak perlu cerita melodramamu itu,” ujar Hye Na sengit. Jae Min menghela nafas. Kemarahan Hye Na sudah menutupi akal sehatnya.

“Ryu Jin, keluarlah sebentar. Temui Hye Mi dan Hye Ri,” perintah Jae Min. Dia merasa harus menyadarkan Kakaknya. Ryu Jin dan Ibunya tidak bersalah. Ayah mereka-lah yang bersalah.

Ryu Jin keluar dari kamar si kembar dengan berjalan lesu. Jae Min mengajak Hye Na duduk di ranjang anak-anaknya untuk bisa bercakap-cakap dengan tenang.

“Dia tidak tahu apa-apa, Kakak. Tapi mungkin aku tahu sebabnya,” kata Jae Min sambil menepuk-nepuk tangan Hye Na.

“Jangan percaya perkataan anak itu,” tegur Hye Na. Jae Min tersenyum, “Aku bahkan tidak tahu apa yang kupercayai tapi… aku bisa menyimpulkan dari perkataan anak itu, kalau Ayah dan Ibu Ryu Jin tidak akur selama ini.”

“Aku tidak perduli dengan kehidupan mereka,” Hye Na masih saja marah.

“Ayah menggila lagi. Mungkin ada wanita idaman lain lagi dan ayah mengabaikan Ibu Ryu Jin. Ya, ayah tidak menafkahi Ibu Ryu Jin, sama seperti saat Ayah tidak menafkahi Ibu.”

“Apa maksudmu ayah tidak menafkahi Ibu? Ayah selalu menafkahi Ibu sebelum mereka bercerai!”

“Tidak, kakak! Tidak! Kakak tidak tahu hal ini, karena pada waktu itu Kakak sudah sekolah. Aku yang belum sekolah tahu semuanya. Ayah tidak menafkahi Ibu,” tekan Jae Min. “Mereka bertengkar jika Kakak berangkat sekolah, setiap pagi, setiap kali Ibu minta uang belanja dan Ayah selalu punya alasan untuk tidak memberikannya. Ibu bisa bertahan selama itu tanpa menggadaikan satu barang pun, karena Ibu berasal dari keluarga kaya. Selama Ayah berselingkuh dengan Ibu Ryu Jin, selama Ayah dan Ibu belum bercerai, kita hidup dengan uang kiriman dari kakek.”

Hye Na terbelalak mendengarkan cerita Jae Min. Adiknya masih sangat kecil waktu itu. Dia tidak menyangka Jae Min melihat semuanya. Selama ini, Hye Na hanya tahu bahwa orang tuanya baru bertengkar satu kali, dan Ibunya langsung memboyong mereka ke Seoul karena memutuskan bercerai. Dia tidak tahu pertengkaran-pertengkaran mereka sebelumnya.

“Aku minta maaf, Kakak. Pada waktu itu, aku mendengar para pelayan yang berkata,’lebih baik Tuan dan Nyonya bercerai dari pada hidup seperti ini terus-terusan’ lalu aku menemui Ibu, bertanya apa maksud dari kata ‘bercerai’ dan… aku tidak tahu, mungkin saja perkataanku yang membuat Ibu memutuskan bercerai dari Ayah.”

“Jae Min…,”  Telapak tangan Hye Na menangkup di wajahnya dan menangis sesenggukan. Kebahagiaan masa kecilnya ternyata semu. Semua itu karena gaya hidup Ayahnya yang tidak bertanggungjawab. Dan Hye Na bersedih, karena bukan hanya Ibunya dan Jae Min yang jadi korban tapi juga Ryu Jin dan Ibunya, Im Yu Ri, wanita yang selama ini dianggap duri dalam kehidupan mereka.

“Kakak, soal Ryu Jin,” Jae Min berusaha membalikkan persoalan pada Ryu Jin. Hye Na menatapnya dengan air mata yang masih terbendung di antara bulu-bulu matanya. “Kalau kakak sudah tidak mau menampungnya, biarlah dia di sini. Aku minta maaf karena memaksa Kakak menandatangani surat perwalian Ryu Jin. Tapi, Hye Mi dan Hye Ri menyukainya. Dia bisa tidur di kamar ini bersama mereka. Aku akan mencari apartemen yang lebih besar nantinya.”

Tapi Hye Na menolak usul itu. “Tidak! Ryu Jin akan tetap bersamaku.”

Hye Na mengusap air matanya, menghela nafas lalu berdiri. Meninggalkan kamar untuk menemui Ryu Jin di ruang makan.

“Ryu Jin, ayo pulang!” kata Hye Na saat sampai di ruang makan.

Ryu Jin terkejut mendengarnya. Pulang? Hye Na mengajaknya pulang? Benarkah?

“Ayo, Ryu Jin! Aku rasa sudah cukup kau merepotkan Yumi,” perintah Hye Na. Ryu Jin tersenyum sumringah tapi tidak segera beranjak dari tempat duduk.

“Kalau kau tidak segera berdiri dari kursi itu, kau harus pulang dengan jalan kaki!” tandas Hye Na.

“Iya, Kak! Aku pulang sama kakak!” kata Ryu Jin sambil bergegas mencari tas ranselnya. Jae Min tersenyum melihatnya. Ryu Jin menggendong tas ranselnya yang dia temukan di sofa ruang tamu lalu berpamitan pada Yumi. Hye Mi dan Hye Ri masih saja menggodanya untuk tetap tinggal. Hye Na memutar matanya, bosan menunggu. “Ryu Jin!” panggil Hye Na setengah membentak.

Ryu Jin tergagap. “Iya, Kak!” sahut Ryu Jin sambil menyusul kakaknya yang sudah menuruni tangga gedung apartemen itu.

BERSAMBUNG