THE MAESTRO — part 3

THE MAESTRO

part 3

Saat kekawatiran Mina semakin menjadi, dan menganggap tindakan Aldian terhadap Joana itu sebagai pembunuhan karakter, dia memutuskan untuk membicarakan hal ini pada Aldian. Takut-takut, Mina mengetuk ruang kerja Aldian. Mina tahu mungkin ini semua terlambat. Usia Joana bahkan sudah sembilan belas tahun minggu depan. Tapi ada kekawatiran aneh yang menyelimuti Mina, berhubungan dengan bertambahnya usia Joana.

“Masuk!” perintah Aldian dari dalam ruang kerjanya. Perlahan Mina membuka pintu besar itu dan berjalan ke depan meja kerja Aldian. Tampak di depannya, pria itu sedang menekuri layar notebooknya. Malam sudah larut dan pria ini masih saja bekerja. Saat Mina hanya terpaku, Aldian memandanginya dan menyilahkan,”Duduklah, Nany.”

Nany adalah panggilan yang diberikan Joana untuk Mina. Wanita paruh baya itu pun menurut, dia duduk, dan saat Aldian mulai memandangi dengan mimic penuh tanya, Mina mengutarakan maksud hatinya,”Miane jika hal ini kurang sopan menurutmu, Doronim.”

“Kurang sopan? Maksudnya?”

Mina berdehem, entah kenapa tenggorokannya serasa tercekat, tapi dia harus meneruskan bicaranya,”Saya merasa cara mendidik Doronim pada Joana itu salah.”

Aldian jadi mengkerutkan kening.”Apa maksudnya salah? Apa Joan tidak bahagia selama di sini?”

“Anhi, bukan begitu maksud saya, Doronim,” tukas Mina cepat-cepat.
“Dhe?”
“Joana jadi mirip dengan Alicia dan saya curiga Doronim sengaja melakukan itu?” jelas Mina sambil mengakhirinya dengan nada bertanya.”Sengaja membentuk Alicia kedua?”

Pandangan mata Aldian jadi menyipit, lalu sambil tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih dia balik bertanya,”Jeongmal?”

Mina mengangguk mantap.

“Aku malah tidak memperhatikan hal itu,” kata Aldian.”Mungkin mereka mirip karena mereka kakak adik.”

Mina Menggeleng.”Tidak mungkin, Doronim. Bahkan saudara kembar pun punya perbedaan watak. Saya berkesimpulan didikan Doronim yang menyebabkannya. Kenapa Doronim harus ngotot membuat Joana tertarik pada music, tari dan sastra?”

“Memangnya apa salahnya? Joan menikmati semua itu dan dia semakin ahli,” ujar Aldian membela diri.

“Entahlah, Doronim. Ada perasaan aneh di hati saya, dan itu mengenai Doronim dan Joana.”

Aldian semakin bingung. Wanita di depannya itu hanya berteka-teki. Kenapa tidak langsung pada pokok masalah? Sebenarnya apa yang dikawatirkan wanita ini?

“Langsung saja katakan apa yang kau takutkan, Nany?” tanya Aldian jengkel. Mina menunduk sambil menutup mata, dia berkata,”Miane, saya… saya tidak berani.”

Aldian mendengus sebal. Lalu dengan tegas dia memutuskan,”Kalau begitu tidak usah kau katakan. Lanjutkan saja pekerjaanmu, Nany. Aku masih banyak urusan dengan laporan-laporan online ini.”

Mina berdiri takut, dia sadar sudah membuat Aldian marah, tapi sebelum meninggalkan ruangan itu, dia berpesan bijak,”Suatu saat anda akan mengerti kekawatiran saya, Doronim. Saya hanya bisa berkata, hentikan semua ini sebelum terlambat.”

Ya, hanya itu yang sanggup diucapkan Mina. Yang membuat Aldian semakin bingung. Kepalanya jadi pusing, sampai bayangan Alicia datang lagi di hadapannya. Ruangan itu bagai tertutup kabut tebal, dan hanya Alicia yang mampu dia lihat. Mengenakan pakaian serba putih dengan rambut terurai dan tersenyum manis hingga Aldian tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memeluk dan berbisik di rambutnya yang harum,”Kau datang lagi, Sayang.”

Alicia melepaskan diri dari pelukan itu, lalu mundur beberapa langkah dari Aldian dan entah angin dari mana berhembus mengibarkan rambut panjangnya, hingga si cantik itu tambah erotis saja. “Aku selalu datang jika kau perlu bantuan, Aldian,” suara si cantik itu lembut.

Ya, Alicia selalu hadir di mimpi Aldian, saat pikiran Aldian kalut. Dan akan tetap begitu entah sampai kapan.

“Kulihat Mina ajhuma menyusahkanmu?” tanya Alicia. Suara itu begitu halus dan jauh, membuat Aldian tak mampu menyembunyikan kegundahan hatinya.”Aku tidak tahu apa yang ditakutkan Nany. Apa salahnya jika Joan mirip denganmu? Bukankah kalian kakak adik?”

Alicia mengulurkan jari-jarinya yang lembut dan segera disambut dengan genggaman hangat tangan kokoh Aldian. “Aku tak dapat memastikannya sekarang, Aldian. Hanya waktu yang bisa menjawabnya, dan saat hal itu tiba, semua keputusan ada di tanganmu.”

Lalu Alicia mencium punggung tangan Aldian,”Keputusan ada di tangan ini, dan saat keputusan baik yang kau buat…

Alicia menghentikan kalimatnya, dan waktu seakan menarik Alicia kembali ke tempatnya, namun sayup-sayup suara itu masih terdengar oleh Aldian,”….. aku mungkin akan berhenti menemuimu…..”

Aldian terbangun dari tidurnya. Rupanya semalam dia tertidur di ruang kerja. Mentari pagi sudah menyambutnya, merembesi celah-celah gorden di ruangan itu.

“Yuhu….! Aku menang !” teriakan nyaring Joana terdengar. Aldian tahu kalau suara itu berasal dari lapangan tenis di belakang manshion. Gadis itu pasti bertanding lagi dengan Daniel, putra dari almarhum kakak Aldian yang seumuran dengan Joana.

Aldian segera berjalan ke pintu kaca dan keluar ke balkon hingga dapat mengamati polah Joana yang meloncat-loncat girang karena berhasil mengalahkan lawan, dan Daniel sangat kesal pada nasibnya hari ini yang dikalahkan cewek.

“Kau mujur hari ini, tapi tidak lain kali,” Daniel membela diri. Joana masih saja tertawa-tawa mengejek, setelah menjulurkan lidah, dia bersuara nyaring,”Jangan membela diri, kalau kalah ya kalah saja. Huuuuu…, masa songsaenim kalah?”

Daniel memang yang selama ini melatih Joana bermain tenis sehingga kedua pemuda ini akrab. Daniel jadi tambah kesal dengan kalimat Joana barusan. Saat keduanya sadar kalau Aldian mengamati dari balkon, mereka sama-sama melambai pada Aldian dan pria itu membalas dengan mengangkat tangan lalu masuk kembali ke ruang kerja.

“Oppa sudah bangun rupanya,” Joana jadi sumringah lalu meletakkan begitu saja raketnya dan berlari meninggalkan lapangan tenis.

“Hei! Hei, mau kemana, kau?” panggil Daniel. Protes karena ditinggal begitu saja. Joana hanya berhenti sebentar untuk menjawab panggilan itu,”Ketemu sama Oppa… Bye!” dan melangkah lagi dengan riang. Daniel hanya bisa memajukan bibir dan memunguti perlengkapan tenis.

Joana berlari riang memasuki manshion dan bertemu Aldian di dekat tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai dasar. Dia segera mengapit, lengan Aldian. Bersama mereka berjalan ke ruang makan setelah Aldian mengucek kepala Joana gemas.

“Oppa pasti lapar,” ujar Joana sambil meletakkan napkin di pangkuan Aldian saat keduanya telah sampai di ruang makan.

“Gumawo,” ucap Aldian dan Joana memeluknya dari belakang saat pelayanan menuangkan sup di mangkoknya.

“Oppa…,” panggil Joana manja, masih bergelayut di punggung Aldian.
“Ne?”
“Rumah ini jarang berpesta, ya?” tanya Joana. Tangan Aldian jadi urung untuk menyentuh sendok sop.”Dhe?”
“Oppa tahu, tidak hari ini tanggal berapa?” tanya Joana lagi.

“Tanggal tiga,” jawab Aldian sambil menoleh ke muka gadis manja itu. Lalu Joana terkekeh.”Kalau seminggu lagi tanggal berapa, Oppa?”

“Tanggal sembilan,” jawab Aldian, dia jadi tahu maksud Joana, apalagi kalau bukan hari ulang tahunnya, hingga pria tampan itu tertawa-tawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kau mau pesta untuk ulang tahunmu?”

“Ne, Oppa.” Joana manggut-manggut. Aldian menghela nafas panjang,”Baiklah…., akan ada pesta tapi tidak di rumah ini.”
“Mwo?”
“Bagaimana jika di JW Mariot?” tawar Aldian.

“Jinja?” Joana tidak percaya dengan kata Aldian barusan, dia jadi melepaskan pelukan dan memandang tajam Aldian dengan mata berbinar.

“Ne…, apanya yang tidak buat Joan-ku yang manis,” goda Aldian sambil mencubit pipi Joana yang memerah. Joana melonjak girang, lalu memeluk Aldian lagi sembari memberi ciuman lengket di pipi kiri dan kanan pria itu hingga menimbulkan suara. “Gumawo, Oppa.”

DEngan riang, Joana lari ke belakang manshion sambil berteriak-teriak,”Dany! Dany! Oppa bilang pestaku akan diadakan di JW Mariot.” Dan Aldian hanya geleng-geleng kepala, geli pada tingkah dan polah gadis manja itu.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s