THE SECRET II (TEmptation of Island — part 5)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 5

“Benar-benar anugrah,” Berkali-kali kalimat itu mendesis dari bibir Antoine. Charlie yang berada di sisinya menyunggingkan senyum. Setengah jam sudah mereka menyandar di punggung ranjang saling berpegangan tangan. “Aku takut sekali saat kau bilang membenciku.”

“Aku menyesal, Antoine. Maaf… .” Pandangan mata Charlie serasa penuh penyesalan. “Aku janji tak akan mengulanginya lagi.” Charlie mengangkat tangannya yang bebas dari genggaman Antoine. “Suer!”

Antoine meraih kepala istrinya hingga Charlie menyandar di dadanya dan mampu merasakan nafas kelegaannya. “Aku takut kehilanganmu. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Charlie terkekeh. “Kau pikir apa? Tentu saja merawat anugrah ini.” Charlie kembali mengelus perutnya kemudian mendongak pada Antoine. “Nathan harus tahu kabar ini. Telephon dia, Sayang.”

“Ehm,” Antoine tampak berpikir sebentar. “Oke, kita dengar bagaimana pendapatnya.”

Antoine merogoh handphone di saku celana. Komunikasi dengan Nathan terjalin kemudian. Anak itu terkejut mendengar hadirnya anggota keluarga baru di antara mereka. “What a surprise! Oh, My God, Dad. You are so fertile!”

Antoine langsung tersinggung mendengarnya. “It’s not polite!”

Nathan malah cekikikan di telephon. “I want to talk with Mom, please.”

“Hello, My Boy,” Nathan tidak sadar kalau Antoine me’loadspeaker’ handphone sehingga dengan mudah Charlie menyahut pembicaraan.

“Oh, Mom… . It’s you?” Nathan benar-benar terkejut. Tapi tawanya menggema lagi. Charlie heran sambil berpikir apanya yang lucu di sini. “Mom, I think I know what happened when I wasn’t there!” Sekali lagi Nathan menggoda mereka. “Nice summer, isn’t it?”

“Oh, Nathan!” Charlie jengah juga dengan godaan Nathan. Apa yang terjadi selama dia di Toronto sendirian? Pergaulannya masih seperti dulu, kan? pikir Charlie.

Nathan berusaha mengendalikan tawa. Dia tahu Sang Ibu tidak menyukai sikapnya barusan. “Sorry. Ehm,” Dia berdehem sebelum melanjutkan bicara. “Mom, Do you know the risk? You aren’t young anymore. You know…, preaklamsia,  difficult to push, even the possibility of down syndrome babies are born because the ovum is already weak.”

“Hei, hei, Don’t make us down!” Antoine memotong cepat. “We know you are smart in medical school but… don’t say that  to scare your Mom.” Antoine mengatakannya sambil mencium ubun-ubun Charlie. Mata Chalie memejam sesaat. Lebih tenang rasanya menghadapi segala kemungkinan buruk yang tadi disebut Nathan jika selalu ada Antoine di sampingnya.

“Just pray for me, oke?” Charlie mendesah. Nathan menyanggupi.

 “Mom, I want a baby boy,” Nathan tahu kalau Charlie sedikit kawatir karena ucapannya barusan sehingga membelokkan pembicaraan. Kini terdengar tawa khas Charlie. “Of course, dear. But … male or female, it’s not a problem for me  now. I just hoped the baby will  born healthy.”

“OK, enough talk about the baby,” Antoine mengambil alih pembicaraan. “Now …, how to Toronto? “

“It’s OK here. Don’t worry! Grandpa do the business well.”

Antoine menghela nafas. Tidak tega rasanya meninggalkan Sang Ayah yang seharusnya sudah pensiun itu mengurus bisnis keluarga sendirian, tapi Antoine yakin Charlie masih belum mau diajak pulang. “Regards for him. We would come home after Camille found.”

Charlie menatap mata sendu Antoine. Ada kesedihan di mata itu. Antoine sedikit menerawang. Charlie mengambil alih handphone dari tangan Antoine. “Dear.., I think we must end the conversation now. Take care of you, OK!”

“I will, Mom. Congratulation again!” salam perpisahan terdengar sebelum Charlie menutup telephon.

Antoine melorotkan tubuh hingga berbaring. Charlie mengamatinya, masih duduk menyandari punggung ranjang. “Kau ingin pulang?” tanya Charlie.

“Tidak! Aku hanya … tiba-tiba merasa ngantuk.”

Charlie tahu kalau Antoine berbohong. Tapi memang Antoine merasa lemas jika mengecewakan Ayahnya. “Aku tidak apa di sini sendiri. Pulanglah jika ingin.” Charlie menggigit bibir. Serasa perih mengatakan itu, dia teringat lagi kemungkinan buruk yang disebutkan Nathan.

Antoine menggeleng. “Seperti yang ku janjikan, aku akan tetap di sini. Bersamamu sampai Camille ditemukan.”

“Tapi, Ayahmu?”

Antoine merapat pada Charlie, menopangkan kepala di pangkuan Charlie, melingkarkan lengan di pinggangnya lalu mencium perutnya. “Tidak usah dipikirkan. Dia selalu bilang bosan di rumah terus kalau pensiun.”

Charlie tersenyum. Dibelainya rambut Antoine seperti biasa hingga ketukan di pintu membuyarkan keasyikan mereka. Antoine bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah pintu. Pelayan berdiri di depannya saat pintu itu terbuka.

“Mr. Cassidy at the living room, Sir.”

Antoine mendengus. Ada apa lagi?

“Thanks!” Antoine menutup pintu. Dia berjalan ke meja rias untuk merapikan rambut.

“Ada apa?”

Antoine meletakkan sisir pada tempatnya lalu menghampiri Charlie. “Ada Cassidy di ruang tamu. Aku tidak tahu apa lagi yang dia mau tapi… kau tidurlah!”

“Apa ada berita terbaru tentang Camille?” Mata Charlie melebar memikirkan kemungkinan itu. Antoine menggeleng. “Entahlah, tapi aku tetap bersikeras. Kau harus istirahat sekarang. Ayo, berbaringlah!” Antoine membimbing Charlie untuk terbaring nyaman di ranjang.

“Berjanjilah, Antoine…,”Charlie menggengam tangan Antoine sebelum pergi. “Berjanjilah kau akan mengatakan sejujurnya tentang perkembangan berita Camille. Jangan kau tutup-tutupi seperti kemaren.”

Antoine memberikan senyuman menenangkan. “Aku berjanji kalau kau juga berjanji untuk selalu kuat menerima kemungkinan terburuk.”

“Aku…,” Mata Charlie bergerak bimbang. “Aku akan berusaha… semampuku.. .”

Sekali lagi Antoine tersenyum. “Kau harus berusaha sebaik mungkin karena sekarang ada dia yang bergantung padamu,” Antoine menunjuk perut Charlie dengan dagunya. Gantian Charlie yang tersenyum sambil mengangguk.

“Tidurlah!” Antoine mengecup kening Charlie sebelum meninggalkan kamar. Dia menutup pintu perlahan seolah tidak mau suara angin mengganggu keheningan istrirahat istrinya.

Di ruang tamu, baru saja keduanya duduk,  Robert langsung memberondongi Antoine dengan pertanyaan seputar keadaan Charlie. Terlihat sekali kekawatiran Robert pada istrinya, Antoine sedikit risih. “Hei, She is my wife. Remember it!” Antoine mewanti-wanti.

Disadarkan dengan posisinya, Robert terlihat lebih tenang. “Tapi dia baik-baik saja, kan?”

Antoine mengangguk. “Anak ketiga kami akan segera lahir.” Tampak sekali keoptimisan di wajah Antoine, tak menyadari Robert yang jadi melongo mendengarnya.

Rasa sedih menyelinap di hati Robert, dia berusaha  menghalaunya. Bukankah seharusnya dia ikut bahagia untuk Charlie?

“Apakah tidak apa-apa mengandung di usianya sekarang?”

Antoine menghela nafas. “Dia akan baik-baik saja. Aku akan pastikan itu.”

Robert teringat saat Charlie marah-marah di ruangannya. “Saat dia marah… dan menunjuk-nunjuk seperti tadi… Charlie Bouwens…,” Robert menerawang. Antoine menyadari itu dan memotong lamunan Robert. “Tidak ada lagi Charlie Bouwens, yang ada adalah Charlie d’Varney, istriku.”

Antoine memastikan itu… Charlie Bouwens hanyalah khayalan, mungkin memang seharusnya terlupakan.

—oOo—

Berhari-hari Hyun Kwang disibukkan dengan pembangunan ‘rumahnya’. Setiap kali dia berangkat ke ‘proyeknya’, dia selalu memastikan api di depan goa menyala. Camille yang sudah terbiasa memasak masih kesulitan menyalakan api. Kang harus menyalakannya atau dia terima pisang saja sebagai makan siang ketika kembali ke goa karena Camille belum memasak.

Kadang-kadang Camille mengantarkan makan siang. Sekedar ikut melihat perkembangan ‘proyek’ Kang. Rupanya kali ini dasar rumah sudah terpasang. Kang menguji ketahanannya dengan naik ke atasnya. “Bagaimana? Lihat! Ini tahan sampai seratus tahun!” Kang berdiri sambil berkacak pinggang.

Camille mengangkat tangan, mengelus dasar  rumah pohon yang berada tepat di atas kepalanya yang terbuat ibu tulang daun kelapa. “Kau yakin? Menurutku kurang kuat! Kau dan aku akan menghuni rumah ini. Jadi setidaknya diperlukan kekuatan lima kali berat tubuh kita agar dasar ini tidak roboh.”

“Ah, Aku yakin ini kuat, badanmu tinggi kurus begitu! Lihat, nih!” Kang meloncat-loncat, menguji kekokohan dasar ‘proyeknya’.

Satu loncatan.

Dua loncatan.

Tiga loncatan.

Bruk! Alas rumah ambrol!

Kang jatuh dengan posisi duduk dan meringis kesakitan. Bukannya menolong, Camille malah tertawa-tawa senang. “Apa kubilang!”

Kang jadi sewot. Dia berdiri, bersungut-sungut sambil menepuk-nepuk pantatnya yang kotor.

“Makan dulu, yuk!”

Kang menolak ajakan Camille. Pria itu mengambil alat ‘batu runcingnya’ dan masuk lebih dalam ke hutan. Camille mengangkat bahu. “Ya, sudah! Ku habiskan sendiri makan siangnya!” Camille meneriakki angin karena Kang sama sekali tidak menghiraukannya.

Setelah kejadian itu, Kang tidak mengijinkan Camille menginjakkan kaki di sekitar ‘proyeknya’ lagi. Camille protes tapi keputusan Kang sudah bulat. Kang memberinya tugas untuk pergi ke pantai jika merasa bosan sendirian di goa, mengecek tanda SOS di pasir dan bendera buatan tetap ada di tempatnya.

Tapi lama-lama rutinitas itu membuat Camille bosan juga. Hingga akhirnya dia menemukan keasyikan baru, menjelajah hutan. Dia semakin menikmati pulau asing ini. Pulau asing? Entah kenapa, Camille merasa tidak asing lagi pada pulau ini. Di pulau ini dia menemukan flora yang selama ini hanya tergambar dari herbarium.

Ini….  Phyllantus niruri, L? Pipper betle ? Bukan hanya itu tapi … masih banyak lagi ! Camille menandai setiap tanaman yang ditemukan berdasarkan morfologinya. Dia menelusurinya sampai ke dalam tanah dan… Oh my God! Curcuma domestica Rhizoma ! Camille mencakar-cakar tanah dengan tangannya, menarik herba itu hingga umbinya terangkat.

Hingga akhirnya di suatu hari, dia mendengar suara dengungan. Saat kepalanya terangkat ke atas, dia melihat sarang lebah yang cukup besar tergantung di dahan pohon.

Mell depuratum!” teriaknya senang sambil mengangkat kedua tangan. Camille mengambil batu di tanah lalu melempar sarang lebah itu. Dalam sekali lemparan, sarang lebah jatuh. Camille memungut benda itu dan tentu saja para lebah yang terusik menyerangnya.  Camille lari menghindar sambil menjerit-jerit.

Kang yang mendengar jeritan Camille  terpaksa meninggalkan ‘proyek’ untuk melihat apa yang terjadi. Bukan main kagetnya Kang, Camille lari kencang dengan sarang lebah di tangan dan para lebah mengejar di belakangnya.

“Lepaskan benda itu, Bodoh!” teriak Kang sambil mengejar Camille.

“Tidak akan!” Camile terus menghindari sengatan lebah. Larinya cepat juga. Bahkan Kang agak kewalahan mengejarnya. Dia berlari ke arah sungai lalu terjun ke dalamnya. Gerombolan lebah tidak mungkin mengikutinya di dalam air. Koloni itu menyebar ke segala arah, hingga tak ada satu lebah pun di tempat itu.

Kang terbungkuk-bungkuk di pinggir sungai, mengatur nafas. Bodoh sekali, Kang tersenyum geli mengingat kejadian barusan. Anak manja itu rupanya sudah gila.

Pria itu berjalan ke arah Camille tenggelam. Tampak gelembung-gelembung udara pernafasan Camille di permukaan air. Saat Kang melihat ke dalam air, Camille ada di situ berenang gaya batu. “Hei, keluarlah! Mereka sudah pergi!” kata Kang.

Camille menggelengkan kepala. Kang mendengus. “Sampai kapan kau di situ terus! Persediaan udara di paru-parumu makin menipis.”

Camille menggerakkan kaki hingga kepala dan bahunya muncul di permukaan air. Terdengar nafasnya yang gelagapan. Tangan kanannya terangkat, sarang lebah curiannya basah. Air meluncur turun dari benda bulat itu.

“Untuk apa itu?” Kang menunjuk sarang lebah. Camille sudah bisa mengatasi pernafasannya lalu mulai menepi ke dataran. “Ini madu asli, tahu! Mahal kalau sudah ada di mal-mal Toronto.”

Kang mengamati Camille yang tertawa-tawa sambil menimang bulatan kecoklatan itu. sepertinya Camille cukup puas dengan temuannya…, bukan… rampasannya dari para lebah.

“Terserahlah! Asal jangan kau ulangi lagi! Tidak selamanya kau selamat dari sengatan lebah,” Kang memperingatkan sambil ngeloyor pergi.

“Jangan kawatir!” sekali lagi Camille meneriaki angin karena Kang meninggalkannya begitu saja.

Camille kembali ke goa. Diperasnya sarang lebah itu, menampung madu yang merembes keluar dari dalamnya di sebuah batok kelapa. Lalu   mengendapkannya di bawah sinar matahari sambil memasak. Sore hari, ketika Kang kembali ke goa. Madu sudah terpisah dari air. Camille menuangkan air yang ada di permukaan hingga hanya tertinggal cairan kental di dasar wadah. Wajahnya cukup puas ketika menenteng batok kelapa itu ke dalam goa.

Petualangan Camille tidak terbatas pada tanaman tapi juga pada masakan. Setiap hari, Kang dikejutkan dengan menu baru. Bisa-bisanya si anak manja mempunyai pikiran membungkus ikan bersama parutan kelapa, garam dan cabe di dalam daun pisang dan memangganngnya di atas api? Kang sempat uring-uringan karena Camille mengambil ‘batu runcing’ nya untuk mengerok kelapa. Tapi merasakan lezatnya masakan itu, sepertinya Kang harus berpikir dua kali untuk memarahi Camille walau pun ‘proyek’nya tertunda. Belum lagi saat Camille malas memasak, dia membenamkan ubi jalar begitu saja di bara api dan ternyata ubi bakar yang cukup mengenyangkan siap disantap. Dan Kang mulai bersyukur dengan keberadaan si anak manja Camille di masa-masa terdampar. Setidaknya berikan Camille kepercayaan. Sementara proyek rumah pohon hampir selesai, Kang tidak menyadari, si anak manja telah bertranformasi menjadi pribadi yang semakin matang dan cantik.

Pada akhirnya, Kang harus selalu menekan rasa tertariknya pada Camille. Dia meyakinkan pada diri sendiri, berusaha menganggap Camille sebagai adik. Dan dia harus bisa melakukan itu. Camille memang dekat, tapi pada dasarnya, mereka terpisah cukup jauh. Dan posisinya masihlah ABK yang harus melindungi klien kapalnya.

Namun Camille selalu tanpa sadar mengumbar pesonanya. Dengan sikap sok ingin tahunya dan terkadang membuat Kang kawatir. Camille hampir digigit ular dua hari yang lalu. Empat  hari yang lalu, sempat terperosok ke jurang karena jalan licin habis turun hujan. Oh, ya… dan jangan lupakan aksi Camille mengalihkan perhatian induk ayam hutan seminggu yang lalu untuk mengambil telurnya yang membuahkan luka patokan di lengan.

 Anak manja itu tetap saja nekat dan Kang memutuskan lebih fokus pada proyek rumah pohonnya . Dia membiarkan  Camille menyusuri hutan sendirian siang itu. Kang yakin benar kalau Camille mulai terbiasa dengan keadaan hutan. Camille cukup cerdas belajar dari pengalaman.

 Camille menjinjing tasnya yang terbuat dari anyaman janur kelapa, sebagai wadah daun apa saja yang menarik minatnya dan dia pikir berguna.   Camille berjalan terlalu jauh. Sisi lain pulau yang lebih tinggi terlewati. Seakan berada di ujung dunia, dia bisa melihat pulau itu di bawahnya namun di sekeliling pulau itu tetaplah air asin. Seketika suasana terasing menyeruak. Dia bahkan sudah lupa, berapa lama mereka terdampar. Hingga saat matanya terpaku pada tanaman yang mengering di sebelah barat pulau. Camille lebih berhati-hati menuruni tebing untuk mendekati tanaman itu. Tangkai dan daunnya memang kering,  tapi lihatlah buahnya… sesuatu yang putih kekuningan bergumpal, halus dan lembut, menyembul di atas kelopak.

Camille tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. “Kapas…,” lalu keningnya berkerut.., mengingat-ingat nama latin tanaman itu. “Jika masih berada di kepulauan asia tenggara, kemungkinan jenisnya Gossypium arboreum.” Camille bicara sendiri di depan serat kapas yang merekah.

Dengan senyum yang terkembang, dia memetik kapas sebanyak-banyaknya. Bukankah kami juga perlu baju? Dia memang tidak bisa memintal kapas menjadi benang, tapi setidaknya dia bisa mencoba.  Camille merasa puas dengan temuannya kali ini. Dia melewati bagian pulau yang dikuasai para monyet. Agak mengendap-endap dia berjalan, tanpa mau mengusik monyet itu dengan kehadirannya. Kemaren-kemaren dia sudah mengusik lebah, ular dan ayam hutan, dan dia tidak mau membuat Kang kawatir lagi dengan mengusik monyet.

Tapi Camille memang sudah membuat Kang kawatir. Kang panik saat dia masih belum kembali ke goa padahal matahari sudah mulai tergelincir. Masakan yang sudah disajikan Camille di atas batu dalam goa tidak menggugah seleranya makan. Camille yang belum pulang lebih menyita perhatian. Kang keluar goa lagi, menelusuri pulau demi Camille.

Kang mengikuti jejak yang ditinggalkan Camille. Cukup membuat Kang keheranan karena Camille bisa berjalan sejauh itu. Lebih heran lagi saat Kang melihat jejak Camille di tebing tertinggi pulau itu. Sama seperti Camille, dia bisa melihat keadaan seluruh pulau dari sini dan saat menolehkan kepalanya ke barat, semak kapas sudah tak beraturan. Kang menuruni tebing dan berpikir keras saat berada di antara semak kapas.

Jadi ini yang menarik perhatiannya? Bibir Kang menampakkan lengkungan. Camille berpikir mau membuat baju? Kang semakin yakin kalau si- anak manja itu tentu banyak akal. Sekali lagi Kang harus menekan rasa kagumnya.

Gadis manja itu masih belum nampak batang hidungnya.Tunggu! Gadis manja? Kang mengubah julukan Camille jadi ‘Gadis manja’. Satu tingkat lebih tinggi bukan?

Kang menyusuri lagi jejak langkah yang ditinggalkan Camille. Dan lihatlah… gadis manja itu rupanya sampai di kawasan para monyet, berjongkok dibalik batu, mengamati sesuatu… entahlah apa itu yang menarik perhatiannya. Bahkan dia tidak sadar kalau Kang sudah berdiri di belakangnya. “Hei, apa yang kau lakukan?”

“Ssst….,” Camille memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk di bibir lalu menarik lengan Kang agar ikut berjongkok di sisinya. “Lihat itu !” setengah berbisik, Camille menunjuk obyek yang menjadi pengamatannya.  Seekor monyet betina bunting yang terisolir sendiri di semak-semak.

“Apa yang dilakukan monyet itu sendirian di situ?” Camille bicara dengan mulut setengah tertutup. Suaranya mendesis di keheningan batu. Kang ikut memicingkan mata melihat monyet itu.

“Oh,” mata  Camille, membelalak satu tangannya  menutupi mulutnya yang terbuka saat dia melihat monyet itu menungging. Kang pun berhenti bernafas sebentar tapi dia tahu apa yang akan terjadi. Dan benar saja, monyet itu mengejan dan lima menit kemudian muncul bayi monyet mungil dari bagian bawah tubuhnya.

“Oh, ya Tuhan!” Camile memekik dalam bisikan, masih dengan membekap mulutnya.

“Dia hanya melahirkan,” Kang hendak berdiri tapi Camille menarik lengannya lagi. “Tunggu!” terpaksa Kang berjongkok lagi.

“Aku ingin melihat apa yang dilakukannya setelah ini,” Camille berbisik lagi, kali ini sambil tersenyum. Kang memutar mata bosan.

“Kenapa? Memangnya kau pernah melihat kelahiran?” Camille protes dengan bibir maju beberapa senti lalu menoleh lagi ke monyet. Monyet itu mulai menjilat-jilati bulu anaknya lalu menggigit tali pusarnya untuk memisahkan dari plasenta. Dan ternyata monyet itu tidak murni sendiri. Ada monyet lain yang menunggui tak jauh dari situ yang mulai mendekat saat suara monyet kecil yang baru lahir terdengar.

“Oh…, jadi begitu…,” Camille lupa kalau dia bicara cukup keras, hasilnya suasana hening para monyet terganggu. Sontak makhluk primata itu menoleh.

“Bodoh sekali!”

Kang menarik lengan Camille dan mereka lari sekencang-kencangnya, keluar dari kawasan monyet. Mereka berhenti setelah sampai  di pantai dan yakin kalau keberadaan cukup jauh dari jangkauan para monyet, duduk di atas batu, terengah-engah.

“Kau….,” Kang memaksakan diri bicara sambil mengatur nafas. “Bodoh sekali!” Tapi si gadis manja malah tertawa senang. “Aku senang sekali. Aku jadi tahu bagaimana monyet liar melahirkan. Pengalaman berharga sekali.”

Kang menoleh pada Camille tak menyangka sesuatu mengerikan seperti itu dianggap pengalaman berharga.

“Kenapa kau melihatku begitu?” sekali lagi bibir monyong Camille memprotes. Dan bibir itu membentuk lengkungan indah kembali. Saat itu Kang sudah mulai berjalan lagi kembali ke goa. “Sudah sore, ayo pulang!”

Camille mensejajari langkah Kang. Masih tampak riang karena pengalaman berharganya. Pasir tersepak-sepak di kaki mereka. Langit sudah menjingga.

“Oh, Iya, Kang… Kamu tahu, tidak! Aku sudah pernah melihat kelahiran anak anjing. Di rumah, ada tiga ekor anjing, jadi aku bisa melihat mereka melahirkan. Ternyata para hewan lebih hebat dari manusia, ya. Bayangkan  saja, mereka bisa melahirkan sendiri, sedangkan kita… perlu bantuan bidan dan dokter, bukan… .”

Kang tidak menghiraukan omongan Camille. Dia mempercepat langkah agar cepat sampai ke goa sebelum hari bertambah gelap.

“Tapi aku belum pernah melihat wanita melahirkan, Kang. Kau sudah pernah, belum?”

Sudah!

“Belum!” Kang menjawab cepat. Camille merasa kalau pertanyaannya sedikit menyinggung Kang. “Kau kenapa, sih… ? Kalau belum pernah lihat ya sudah, tidak usah membentak.”

Mimik wajah Kang berubah bimbang. Camille masih mendongak, menatap mata Kang yang bergerak, menyembunyikan sesuatu.

“Hari semakin gelap. Kita harus segera sampai ke goa,” Kang menghela nafas dan kembali berjalan. Baru sepuluh langkah mereka berjalan dalam keheningan. Mulut Camille sudah berkicau lagi. “Pantas saja di pulau ini banyak pisang… karena di sini banyak monyet.”

“Oh ,ya?” Kang memutuskan menanggapi kicauan Camille. Berjalan tanpa mendengar ocehan Camille ternyata membosankan juga.”Jadi pisang ini khusus disediakan untuk para monyet? Menurutmu monyet itu muncul karena ada pisang?”

“Kau berkata seperti mempertanyakan cara kerja Tuhan saja,” Camille menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh, jadi yang memberikan pisang pada monyet itu Tuhan atau memang pisang itu ada karena ada monyet?”

“Dan sekarang kau seperti orang yang mempertanyakan keyakinanmu?” potong Camille. Tunggu! Camille menarik lengan Kang. “Agamamu… Apa agamamu?”

Kang mendengus. Sekali lagi dia mendiamkan pertanyaan Camille.

“Hei, apa susahnya menjawab pertanyaan itu?” Camille mengejar Kang yang sudah mulai memasuki hutan.  “Aku tidak suka pertanyaan macam itu.” Pria itu melanjutkan langkah lagi.

“Kenapa? Aku bukanlah orang rasis. Kau tahu, Nenek dari Ibuku beragama Budha. Kakek dari Ibuku orang Kanada, jadi dia beragama Kristen protestan. Ibuku ikut agama ayahnya, Kristen protestan. Adik nenekku menikahi pria Muslim, jadi dia ikut agama suaminya. Keluarga ayahku beragama Kristen protestan, jadi kami sekeluarga dibesarkan dalam ajaran Kristen. Kami hidup rukun dalam keanekaragaman. Jadi.., apa susahnya mengatakan agamamu padaku?”

Kang mengeram bosan. “Sudah kubilang, Camille…! Aku tidak suka ditanya masalah itu!” Kang membentak Camille. Bibir Camille semakin maju beberapa senti. “Kau tidak suka kalau ditanya tentang keluargamu dan sekarang kau tidak suka ditanya tentang agamamu! Sepertinya kau memang menghindar kalau aku ingin tahu identitasmu! Kenapa sih? Apa memang kau tidak punya keluarga? Atau memang kau tidak punya agama?”

Camille berhenti setelah mengucapkan kalimat yang terakhir. Wajah Kang agak mendung. “Tunggu dulu!” Camille mengangkat tangan, menyentuh pudak Kang. “Jangan katakan kau tidak punya agama!”

Kang berjalan kembali, kali ini lebih lambat dari sebelumnya.

“Jadi benar? Benar kau atheis?” Camille menjajari Kang, menggoyang-goyangkan lengannya.

“Apakah beragama itu perlu?”

Hati Camille terenyuh mendengar perkataan Kang. Apakah beragama itu perlu?

“Tentu saja perlu sebagai pegangan hidup!”

Tak terasa mereka sudah sampai di depan goa. Kang mulai sibuk dengan aktifitas sore, menyalakan obor untuk menerangi goa. Saat api unggun menyala, Camille tahu kalau ini waktu untuknya menyiapkan makan malam. Obrolan tentang agama, keluarga dan segalanya tentang Kang berhenti sementara. Kang yang memang pendiam jadi lebih pendiam. Dia menjawab pertanyaan Camille pendek-pendek malam itu dan langsung tidur setelah menghabiskan makan malam. Rupanya dia memang menghindari interogasi Camille.

Camille memang pernah mendengar bahwa sebagian besar warga Korea tidak beragama. Mereka hanya hidup dengan aturan adat saja yang menurutnya sudah baik mengatur hidup. Camille bahkan merasa kasihan pada Kang. Camille merasa Kang bukanlah Atheis. Kang hanyalah pribadi yang masih bingung menentukan kepercayaan. Demi menunjukkan kepercayaannya pada Kang, Camille mengikat dua ranting dengan akar larak, membentuk salip dan menancapkannya di depan goa. Kang terkejut saat keluar goa  melihat salip yang sudah berdiri tegak dan kokoh itu.

“Apa yang kau lakukan?”

Camille menoleh. Sekali lagi dia memastikan salip tertancap sempurna dan kokoh. “Hanya mau menunjukkan padamu arti agama. Lagi pula aku memerlukannya untuk berdoa. Mungkin Tuhan akan lebih mendengar doaku jika aku berdoa di depan salib dan kita lebih cepat ditemukan.”

Bibir Kang mencibir, membentuk ejekan. “Sepertinya baru kemaren kau mengatakan kalau aku mempertanyakan cara kerja Tuhan dan sekarang kau sendiri yang mempertanyakan cara kerja Tuhan menjawab doamu.”

Damn! Sepertinya aku salah ngomong. Camille mendengus sebal. Kang menuju rumah pohonnya. Kali ini Camille mengikuti Kang. “Aku ikut, ya? Boleh, kan? Bukankah aku yang membantumu menganyam janur?”

Kang menghela nafas. Tapi ide Camille boleh juga, daripada gadis itu berkeliaran sendiri di hutan dan membuat dia kawatir? Camille bersorak saat Kang mengangguk.

“Kau tahu, Kang… Aku menemukan tumbuhan aneh, baunya seperti kambing tapi bunganya cantik berwarna ungu. Aku sempat salah mengenalinya sebagai rami…,”

Dan perjalanan singkat menuju rumah pohon yang sedang dibangun akhirnya rame lagi. Kang tersenyum-senyum geli.

“Sampai sekarang aku masih berpikir apa tumbuhan itu, tapi…,” Camille menghentikan langkahnya. Dia merasakan perutnya yang tiba-tiba mulas dan … Camille panik  karena…. Dia hanya bisa duduk di tanah, menahan darah yang mengalir. Ini sudah waktunya? Berarti satu bulan mereka terdampar?

“Kau… Kau kenapa?” Kang yang kawatir mendekatinya. Tapi Camille malah mengisyaratkan agar Kang tidak mendekat dengan tangannya. “Jangan medekat!”

“Hei, Kau kenapa, Camille?” tidak menghiraukan perintah Camille, Kang tetap berjongkok di sisi Camille. Wanita itu beringsut menjauhi Kang masih dengan berjongkok. “Aku bilang jangan dekat!”  Wajah Camille campur aduk, takut, malu dan serba salah. Bagaimana mengatasi masalah ini di pulau terpencil ini?

“Kau sakit?” Kang lebih melunakkan suaranya. Camille menggeleng sambil tetap beringsut menjauh.

“Lalu kenapa?”

Camille merasa putus asa. Hari pertama dan biasanya memang deras. Dia tidak mungkin berbohong, Kang pasti akan bertanya terus. “Aku…,” wajah Camille semakin memerah. “Aku … datang bulan,” Camille menunduk, suaranya jadi lirih.

Kang berpikir sebentar. Bagaimana mengatasi hal ini? Dia jadi kikuk sekarang. “Bi… biasanya apa yang kau lakukan kalau mengalami ini?”

“Aku tidak bisa berpikir kalau kau mendekat!” Camille beringsut menjauh lagi. Kang memang tidak sadar kalau dia semakin mendekati Camille. “Oh, maaf.. .”

Kang bisa melihat darah yang merembes di antara rumput yang sempat dilewati Camille. Tanpa pikir panjang, Kang menyobek lengan baju satu-satunya yang masih tersisa lalu menyodorkannya pada Camille. “Pakai ini!”

“Kang… ini…,” mata Camille terbelalak di depan potongan lengan baju yang tersodor.

“Mungkin bisa kau jadikan alas atau… ah.. apalah!” Jadi semakin serba salah di antara mereka berdua. “Aku akan meninggalkanmu sendirian kalau kau memang risih. Kembali saja ke goa. Istirahatlah!”

Camille mengangguk. Setelah memberikan tatapan memastikan Camille baik-baik saja setelah dtinggalkan, Kang meninggalkan gadis itu.

Terlebih dahulu, Camille membersihkan diri di sungai dan seperti saran Kang. Dia memakai potongan lengan baju Kang sebagai ‘pembalut’. Mungkin memang kurang higienis tapi untuk sementara, memang hanya itu yang terpikir. Camille jadi teringat kapas temuannya. Kapas-kapas itu harus segera tersulap sebagai benang. Benang sebagai kain. Camille yakin mereka akan memerlukannya. Bukan hanya sebagai pembalut tapi juga sebagai pakaian ganti. Setidaknya sudah sebulan mereka tidak ganti pakaian. Jangan sampai mereka terserang penyakit kulit ketika ditemukan nanti. Entah kapan mereka ditemukan? Harapan itu serasa semakin menguap di udara. Sudah sebulan berlalu dan keputus-asaan mulai merambat di benak hati Camille.

 

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s