THE SECRET II (Temptation of Island — Part 12)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 12

Hujan  di pulau, serasa lain bagi Kwang hari ini. Pria ini duduk di dekat jendela, mengamati suasana luar yang berkabut, sementara itu Chamille kerepotan menenangkan tangis bayi mereka. Chamille sudah mengganti kain popoknya, bahkan sudah menyusuinya, tapi bayi itu masih saja menangis. Sempat kawatir, dipegangnya kening sang bayi, tidak demam. Putus asa, dia mencoba menyusuinya lagi, bayi itu menolak menyesap asinya, malahan semakin memperkeras tangisannya. Tangisan yang mampu mengalahkan suara deras hujan di luar dan membuat sang Ayah menoleh.

Kwang berjalan ke arah Ibu dan bayinya itu lalu duduk bersila di depannya. “Kenapa dia?”

Chamille menggeleng. Dia masih berusaha menenangkan bayi itu dengan menepuk-nepuk pantatnya. “Entahlah, dia sudah sangat kenyang. Suhu tubuhnya normal. Aku juga tidak tahu kenapa,” terdengar nada penyesalan di suara Chamille. Tak terasa matanya perih, merasa gagal menjadi Ibu dan menangis.

“Berikan dia padaku,” Kwang menyodorkan kedua tangannya. Chamille menatapnya ragu. Dia menggerakkan kedua tangannya lebih mendekat, Chamille pun perlahan mengulurkan sang bayi, meletakkannya dengan penuh kelembutan di gendongan Kwang.

Bayi itu masih menangis. Kwang mendekatkan bibirnya di telinga sang bayi, menyanyikan lagu rakyat lembut sambil menepuk-nepuk pantatnya. Perlahan, tangisan sang bayi semakin lirih, hingga terhenti dan tinggal satu-dua isakan kecil. Bayi itu menatap tepat di wajah Kwang dengan mata bening yang masih menyisakan air mata. Kwang terpesona kembali dengan bayinya.

Chamille menggeser duduknya hingga mendekati mereka. Senyuman tersungging di bibirnya dan dia meminta bayinya kembali. “Dia sudah tenang, berikan lagi padaku.”

Kwang semakin mempererat gendongannya. “Tidak, dia pasti menangis lagi kalau kau gendong.”

“Kang! Aku Ibunya.”

“Tapi kau tidak bisa menenangkannya.”

Chamille bersedekap, membuang muka dengan sewot. Kwang tidak menghiraukannya. Pria ini tetap menyanyikan lagu rakyat di telinga putranya. Chamille merasa dianak-tirikan. Dia berbaring di tempat tidur, menyelimuti tubuh sampai kepala secara kasar.

“Hai, kau kenapa?” Agak geli Kwang menanyakan itu. Tidak ada respon, Chamille benar-benar ngambek. Kwang mencium kening putranya. “Ibu ngambek, Il Hwan.”

Di balik selimut, telinga Chamille berjengit mendengar panggilan itu. Il Hwan?

Chamille bangun dan membuka selimut yang menutupi wajahnya. “Kau panggil siapa dia tadi?”

“Il Hwan,” Kwang menyebutkan nama itu tepat di telinga bayinya.

“Ya, siapa yang menyuruhmu memberi nama Korea!”

“Aku ayahnya. Aku orang Korea. Aku ingin dia bernama seperti itu. Il Hwan, tulus dan bersinar. Iya  kan, Sayang.” Kwang menepuk-nepuk lagi pantat Il Hwan.

“Aduh,” Chamille menggelengkan kepala,”Menyebut namamu saja susahnya minta ampun. Dia harus punya nama barat. Aku akan memberikan nama kakeknya padanya. Ya, namanya Anthoine… Anthoine Shin.”

“Tidak bisa!” Kwang menggeleng tegas.”Namanya Shin Il Hwan. Shin nama margaku, artinya kepercayaan. Il Hwan, tulus dan bersinar. Aku berharap dia bisa menjadi orang yang terpercaya, tulus dan dengan masa depan yang bersinar. Anthoine Shin terdengar seperti berarti….,” Kwang berhenti sebentar untuk berpikir “ ‘Anthoine yang pemalu’. Cih!” Kwang mencibir.

Masih dalam posisi duduk, Chamille berkacak pinggang. “Kau menghina nama ayahku?”

“Tidak! Hanya saja kata ‘Shin’ terdengar seperti ‘Sin’ kalau kamu yang mengucapkan, apalagi ditambah nama Anthoine di depannya. Anthoine yang pemalu atau Anthoine yang berdosa.”

“Hah!” Mata Chamille terbelalak lebar, dengan mengatur emosi, dia berargumen. “Itu karena nama Korea susah di sebut! Makanya jangan memberinya nama Korea!”

“Ayahnya orang Korea, jadi dia harus bernama Halyu. Lihat, bagaimana dia tenang kalau aku memanggilnya begitu,” lalu Kwang menimang bayinya lagi. “Il Hwan…, tidurlah, Il Hwan.. .”

Kwang benar, mata bayi itu semakin meredup, seolah menyetujui nama itu melekat padanya. Chamille mendengus lalu berbaring kembali. Kwang tersenyum geli melihatnya. Semakin lama dia tidak tega. Ditidurkannya Il Hwan di samping Chamille. Bayi itu membuka mata, merengek sebentar sebelum Kwang mengelus-elus lembut keningnya. Chamille memandang wajah Kwang. IL Hwan tertidur lagi, pandangan Chamille beralih pada Il Hwan.

“Mulai sekarang…,” Kwang berkata lembut pada Chamille masih dengan mengelus kening Il Hwan. “Kau harus lebih bisa mengucapkan namanya dengan benar. Ayo, coba ucapkan namanya, Chamille! Shin … .”

“Sin.”

Kwang membimbing Chamille. Masih terdengar seperti ‘Sin’, Kwang mengulanginya lagi. “Shin!”

“Sin!”

Kwang memutar bola matanya. Lupakan tentang Shin, yang penting bagaimana Chamille mengucapkan nama bayinya. “Il…,” Kwang membimbing lagi.

“Ill.”

Gubrak! Kenapa terdengar seperti ‘Ill’?

“Il, Sayang. Il dengan satu huruf L bukan dua huruf L!”

“Tuh, kan… artinya jadi buruk kalau diucapkan dalam bahasa Inggris,” Chamille terkikik. Kwang mendelik. Chamille membungkam mulut dengan tangan untuk menghentikan tawanya.

“Oke.. oke … ‘Ill’ !” Chamille sudah berusaha mengucapkan kata itu dengan benar tapi tetap saja terdengar seperti ‘Ill’. Kwang menggeleng.

“Ill?”

Kwang masih menggeleng.

Chamille berdehem lagi dengan menutup mata, dia berucap, “Il?” Chamille membuka matanya perlahan demi melihat reaksi Kwang. Suaminya tersenyum sekarang. “Sudah benar?”

Kwang mengangguk.

“Sekarang, nama belakangnya. Hwan!”

 “Hwan!”

Senyum Kwang semakin lebar. “Shin Il Hwan!” Kwang menyuruh Chamille mengulang nama putranya secara keseluruhan.

“Sin Ill Hwan!”

Gubrak!

Dosa dan sakit? Oh, No!

“Shin… Il… Hwan,” ulang Kwang perlahan-lahan.

“Shin… Ill…,” mimik wajah Kwang berubah kecewa, Chamille mengulangi lagi ucapannya. Kali ini lebih hati-hati. “Shin… Il…,” dan melihat senyuman Kwang, Chamille meneruskan bicaranya, “…Hwan.”

“Iya,” Kwang mengangguk. “Shin Il Hwan.”

“Shin Il Hwan,” Chamille menyebutkan nama itu lagi di dekat telinga sang bayi lalu mengecup pipinya.

“Nama putramu adalah Shin Il Hwan. Dan nama suamimu adalah Shin Hyun Kwang. Ingatlah itu, Sayang,” Kwang mencium kening Chamille. Chamille teringat pada Ibu dan Ayahnya. Dulu, sering kali Ayahnya juga mengatakan hal itu pada Ibunya. Seolah-olah Ibunya akan melupakan semua itu esok hari. “Nama putramu adalah Jonathan Louis d’Varney. Putrimu adalah Chamille Louis d’Varney  dan nama Suamimu adalah Anthoine Louis d’ Varney. Ingatlah itu, Sayang.”

Mata Chamille mengerjap. Dia semakin ingat kalau Ibunya adalah mantan pasien sang Ayah. Anthoine pernah bercerita kalau Charlie mempunyai memory yang buruk. Karena kenakalannya, Chamille bahkan bisa memasuki ruang rahasia Anthoine tanpa diketahui oleh Ayahnya itu. di ruangan itu tersimpan dokumen, tentang siapa sang Ibu dan apa yang dilakukan Ayahnya sebagai dokter.

“Kang,” Sebelum wajah Kang menjauh, Chamille menangkup kedua belah pipi Kwang. “Kenapa kau berkata begitu? Seolah aku akan melupakanmu?”

“Aku? Aku tidak bermaksud seperti itu?” Kwang menggedikkan pundaknya.

“Kang…, kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan ayahku.”

Masih dengan kedua telapak tangan Chamille yang menempel di kedua belah pipinya, alis Kwang menaik. “Memangnya apa yang bisa dia lakukan?”

Chamille semakin sedih memikirkan kemungkinan itu. Tapi dia merasa tidak baik jika membeberkan rahasia keluarganya pada Kwang. Hanya saja… entahlah… jika Anthoine melakukan hal itu lagi untuk memisahkan mereka. Melakukan padanya atau mungkin pada Kwang…, pada Kang? Chamille merasa kalau dia perlu mengatakan ini pada Kwang, “Nama putramu adalah Shin Il Hwan. Dan nama istrimu adalah Chamille Louis d’ Varney. Ingatlah itu, Kang.”

Mata Chamille berkaca-kaca. Dia bangun dan memeluk Kwang erat-erat. “Ingatlah itu… Ingatlah selalu,” Chamille berucap diantara senggukan tangisnya. Kwang bingung, namun saat ini, dia hanya bisa mengelus rambut istrinya, menenangkannya.

“Ingatlah selalu, Kang… Ingatlah selalu.”

—oOo—

Hujan hampir reda saat kapal motor Bouwens 117 yang dikomandoi Jin He hampir mendekati pulau. Ombak sangat tidak bersahabat, sementara Bill memperkirakan kalau pantai terlalu landai, dipagari karang-karang  untuk bisa mendarat.

“Kita harus berhenti atau kapal ini hancur menabrak pulau. Bukannya mencari orang terdampar, kitanya malah yang terdampar,” keluh Yun So.

 Sekali lagi Jin He mengarahkan teropongnya ke pulau. Ada ketidaksabaran di benaknya untuk segera sampai, dia yakin Chamille d’Varney ada di situ. Entah dari mana munculnya keyakinan itu. “Berhentika kapal. Turunkan sekoci,” katanya pada dua orang  anak buah dengan dua perintah yang berbeda. Mereka segera melaksanakan perintahnya.

“Apa?” Yun So kelihatan tidak setuju dengan pikiran Jin He.

Sambil membenahi perlengkapan yang melekat di tubuhnya, sekali lagi Jin He memerintah,“Kalian menjaga kapal. Pastikan kontak tetap terjaga dengan komando di darat. Aku akan ke pulau itu dengan sekoci.”

Yun So semakin kaget. “Kau gila! Kau kapten di sini! Bagaimana kalau di pulau itu ada suku kanibal, dan… .”

“Kau terlalu banyak menonton film bajak laut,” potong Jin He sambil meloncat ke sekoci.

“Tunggu! Aku ikut!” Yun So mengikuti Jin He melompat ke sekoci setelah mengulangi perintah Jin He pada para anak buah, “Jaga kapal!”

Jin He mendiamkan keputusan Yun So walau pun dalam hatinya tidak setuju. Dia malas berdebat dengan Yun So saat ini. Semakin tak sabar rasanya menjelajah pulau itu. Mereka mendayung membelah gelombang yang mengombang-ambingkan sekoci, melawan angin yang seolah melarang untuk mendekati pulau. Hingga saat sekoci masih tiga puluh langkah menuju dataran, Jin He tiba-tiba meloncat.

“Hai!” Yun So yang mendayung di belakangnya berteriak kaget. Jin He berenang menuju daratan saking tidak sabarnya dan Yun So hanya bisa pasrah mendayung sendirian. “Damn! Jika kau mati, aku akan mengutukmu!” ancam Yun So.

Namun Yun So lega saat melihat kemunculan Jin He dari air. Jin He terlihat berlari, dengan air masih menggenang sampai pahanya. Sekuat tenaga, dia melawan dan saat sampai di daratan, dia meloncat girang, bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

Yun So menyusul dengan sekocinya kemudian. Jin He sudah mulai mengamati keadaan pantai, tanpa memperdulikan Yun So yang kerepotan merapatkan sekoci. “Dasar! Huft!” Yun So mendengus. Sekoci itu terasa berat ditarik dengan tali tambang menuju darat.

Ketika melihat bendera yang terbuat dari ranting dan janur kering, apalagi susunan bendera itu yang berbaris membentuk huruf SOS, Jin He semakin yakin kalau ada orang yang terdampar di sini. “Isyarat yang tepat!” pikir Jin He.

“Fuh!” Selesai sudah, Yun So menarik sekoci ke daratan yang agak jauh dari pantai, dia juga sudah memastikan kalau ombak tidak bakal menyeret sekoci ke lautan. Tingkah Yun So tidak diperhatikan oleh Jin He, pria itu mendekati bendera-bendera yang berjajar, mengelusnya. Yun So berkacak pinggang melihat sahabatnya dan juga bendera itu, hingga mampu menyimpulkan jalan pikiran Jin He.

“Kau pikir Chamille Louis d’Varney bisa memikirkan hal seperti itu?” tanya Yun So.

“Entahlah,” Jin He menoleh pada Yun So.”Setidaknya ada orang lain yang terdampar, kalau pun itu bukan Chamille d’ Varney.”

Yun  So mendengus kesal. “Kalau itu bukan Chamille, apa gunanya?”

“Ssshhh! Diam kau!”

Jin He mengamati sekeliling pantai kemudian. “Kita berpencar,” usul Jin He. “Kau ke kanan, aku ke kiri.”

“Untuk apa?”

“Bodoh!” kata Jin He sambil memukul kepala Yun So. Yang dipukul meringis kesakitan. “Tentu saja mengelilingi pulau.”

Dan anehnya, nyali Yun So langsung mengkerut, “Tidak! Aku tetap di belakangmu!”

Mata Jin He bergerak sebal. Sebenarnya Yun So bukanlah pelaut, bisa dibilang dia pecundang yang mengikuti pelayaran untuk menghindari para preman yang menagih hutangnya kepada rentenir. Jin He mencabut pisau kecil yang terselib di pinggangnya. Dia harus berjaga-jaga. Angin masih sangat kencang menerbangkan pasir-pasir di sekitar mereka saat mengelilingi pantai. Jin He berjalan di muka, menantang angin, dan Yun So mengekor bagaikan anjing pudel yang setia.

“Aku rasa, kita harus memasuki hutan.” Puas dengan pantai, Jin He mengutarakan niatannya pada Yun So. “Kita tidak akan menemukan apa-apa jika tetap di sini. Orang itu pasti masuk ke hutan untuk bertahan hidup.”

Yun So bergidik mendengar Jin He tapi melihat pisau yang dipegang Jin He, dia yakin kalau Jin He mampu mengantisipasi bahaya yang ada. Termasuk bahaya binatang buas atau suku kanibal yang menghantui Yun So. “Terserah, kau yang kapten.”

 Jin He mendengus. Dia mulai melangkah mendekati hutan. Yun So berjalan semakin mendempet Jin He, bahkan tangannya memegangi pundak Jin He sehingga sang kapten merasa bagaikan membimbing anak kecil memasuki wahana  goa hantu. “Ya! Jauhkan tanganmu dari pundakku!” Jin He menggedikkan bahunya untuk menghalau tangan Yun So.

Rimbun pepohonan menyapa penglihatan mereka kemudian. Suasana berkabut, mereka semakin tenggelam dalam hutan dan anehnya hujan mereda. Bau tanah berhumus tercium, segera melenakan mereka. Bahkan Yun So yang tadinya takut, mulai berani berjalan sendiri. Di antara rimbunnya pepohonan itu, Jin He bisa melihat jalur-jalur yang sering dilewati manusia. Dia jadi berpikir ulang. Dia menyimpulkan kalau mungkin saja pulau ini berpenghuni. Tapi jika memang demikian, kenapa keberadaannya tidak tercantum di atlas dunia? Apa pula maksud tanda bendera di pinggir pantai tadi?

Ada banyak jalur. Jin He bingung mau memilih yang mana. Dia memejamkan mata. Berusaha memilah-milah suara alam di antara suara berisik Yun Ho mengomentari keindahan hutan. Dan sayup-sayup pertanda terdengar. Jin He mengangkat tangannya, lalu memberi isyarat agar Yun So diam dengan menempatkan telunjuk ke mulut. “Ssst…, dengar! Suara air.”

“Ya, belakang kita kan pantai, tentu saja itu suara air.”

Merasa bagai berkomunikasi dengan anak autis, Jin He meninggalkan Yun So menuju sumber suara. Yun So mengikutinya lagi. Dan berakhirlah mereka di air terjun.

“Bukan main!” sorak Yun So. Tanpa pikir panjang lagi, dia terjun ke air.

“Hai!” teriakan yang sia-sia dari Jin He karena Yun So sudah berada di dalam air.

“Ayolah! Ini segar sekali!”

“Bodoh!” cibir Jin He.

Setidaknya mereka menemukan air sebagai persediaan kapal. Begitulah pikir Jin He. Yun So sepertinya sudah tidak ketakutan lagi. Saat menunduk, Jin He melihat bekas telapak kaki. Dia yakin kalau itu bukan telapak kaki mereka, tanda itu adalah tanda telapak kaki telanjang, sedangkan mereka memakai sepatu.

Tanpa menghiraukan Yun So yang masih asyik berenang, ditambah keyakinan kalau sahabatnya sudah merasa nyaman dengan pulau, Jin He mengikuti jejak demi jejak telapak kaki. Keberadaannya semakin jauh dari Yun So.

Jejak itu membimbingnya menuju sebuah pondok. Mata Jin He terbelalak. Konstruksi pondok itu begitu mengagumkan, akar gantung dari pohon, justru memperkokoh keberadaan pondok dengan melilit setiap bingkai bambunya, sementara dinding anyaman janur, semakin mempertegas adanya keberadaan manusia dalam pondok. Sekali lagi Jin He memikirkan maksud tanda bendera SOS, langkahnya semakin mendekati pondok. Lalu berhenti saat melihat bekas perapian tepat di depan pondok. Jin He berjongkok, menyentuh abu perapian itu. Pagi ini rupanya perapian tidak menyala. Mungkin disebabkan hujan deras tadi.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Jin He mendongak, menatap pintu pondok. Dia berdiri, perlahan mendekati pondok. Satu langkah menaiki tangga pondok. Bambu yang dia pijak bergemeretak, menimbulkan suara. Satu langkah lagi dan…

“Kang, itu kau? Il Hwan menangis lagi. Aku tidak tahu kenapa.”

Kening Jin He berkerut. Seorang wanita? Berbahasa Halyu? Hati Jin He diliputi tanda tanya. Tangisan bayi masih terdengar, rupanya wanita itu kerepotan menenangkan bayinya. Apalagi saat pintu pomdok terbuka lebar, dan wanita dengan bayi di pangkuannya itu, mendadak panik melihat kehadiran Jin He yang dianggap orang asing. Wanita itu meringsut mundur, merapat ke pojok dengan mendekap bayinya erat-erat tanpa memperdulikan bayi itu semakin menjerit..

Jin He bisa merasakan kepanikan Ibu di depannya. Dia berjalan perlahan, mendekati wanita itu, tanpa menyadari kalau pisau di tangannya masih teracung. Pisau itulah yang membuat wanita itu ketakutan. “Tenang, Nyonya,” perkataannya sangat absurb, berlawanan dengan tingkahnya yang masih menodongkan pisau tanpa sadar.

“Jangan bergerak!” seorang lelaki, entah kenapa tiba-tiba bisa berada di belakangnya. Sesuatu yang dingin dan runcing sudah menempel di punggungnya.”Percayalah, alat ini lebih tajam dari pisau yang ada di tanganmu,” ancam lelaki itu lagi. Jin He menjatuhkan pisaunya lalu melipat kedua tangan di kepala. Lelaki itu menendang siku kakinya. Jin He terjerembab. Lantai pondok berdetum, anehnya tidak ambrol. Siku lelaki itu segera menekan kepalanya di lantai.

“Kang!” wanita itu berteriak, lega akan kehadiran lelaki itu.

“Tenanglah, Chamille… Pria ini tidak mungkin macam-macam lagi.”

Chamille? Mata Jin He melebar.

“Tu… tunggu!” Susah payah Jin He berkata. “Anda… anda Chamille … Chamille Louis d’ Varney?”

Lelaki yang mengancamnya masih berada di atasnya. Jin He berusaha melihat wanita dengan bayinya yang masih menangis itu walau berat. “Anda putri keluarga d’ Varney?” Jin He berusaha meyakinkan. Bagaimana tidak, penampilan Chamille sekarang ini sangat jauh berbeda dengan foto yang selama ini ada di sakunya. Berantakan, mirip suku primitif. Jin He memicingkan mata, bersikeras melihat mata wanita itu.

Matanya coklat kemerahan!. Ya! Itu Chamille Louis d’ Varney!

Wanita itu memandangnya. Ragu-ragu, lalu memandang lelaki yang menguncinya di lantai. “Apa urusanmu, Pak tua!” kata lelaki itu, semakin menekan kunciannya atas Jin He.

Tapi Jin He pantang menyerah. “Nona d’Varney…,” dia masih bicara dengan nafas sesak. “Saya… saya Han Jin He. Ibu anda… menugasi kami mencari anda.”

Wanita itu memandangnya lagi. “Kang… .” Tangisan sang bayi telah mereda.

“Lalu kenapa kau mengancamnya dengan pisau?” lelaki itu yang bertanya. Jin He menyadari kekeliruannya. Pisau itu ternyata sumber masalahnya. Mereka mengira kalau dia akan membunuh Chamille.

“Saya minta maaf. .. saya tidak sadar kalau… kalau itu membuat … anda takut.” Jin He batuk-batuk. Lengan lelaki yang dipanggil Kang itu semakin mencekik. “Believe me… Charlie d’ Varney said me,’Pleasse.., find my home’, Jin He menirukan perkataan Charlie ketika pertama kali dia menemui wanita itu.

Seakan kata itu adalah kata kunci, Chamille menoleh pada Kwang. “Dia benar, Kang. Ibuku memang mengirimnya.”

“Kau yakin?”

“Iya, Ibuku menganggap suami dan anak-anaknya adalah ‘home’nya.”

Cekikan Kwang pun melonggar. Namun keadaan berbalik kemudian. Seseorang gantian menyerang Kwang dari belakang. Sesaat Kwang-lah yang menggantikan posisi Jin He, telungkup di lantai dengan seseorang mengunci di atasnya.

“Jangan!” Chamille dan Jin He berteriak bersamaan.

“Kau baik-baik saja, Kapten!” lelaki itu menyeringai. Tubuh bahkan bajunya masih basah kuyup akibat berenang tanpa melepas pakaian di sungai, Yun So.

“Kau menyakiti suamiku!” Chamille beringsut mendekati Kwang. Kwang meringis, menghalau rasa sakit. Bayi mereka menangis lagi.

“Lepaskan dia, Yun So!”  Jin He memerintah.

“Tapi… .”

“Aku bilang lepaskan dia!”

Yun So mendengus. Dia melepaskan Kwang walau pun ogah-ogahan. Kwang adalah lawan pertama yang berhasil dia kalahkan, tapi Jin He malah menyuruhnya melepaskan Kwang.

“Kang,” Chamille memeluk Kwang setelah pria itu berhasil duduk. Kwang mengambil alih bayinya menciumi bayi itu hingga tangisannya mereda.

“Maafkan kami, Nona d’Varney,” sesal Jin He.

“Nona d’ Varney?” Yun So sama sekali tidak mempercayai ucapan Jin He. Wanita di depannya, wanita dengan baju seadanya dan lusuh itu Chamille d’ Varney?

“Dia anak buah saya, Kim Yun So.”

Yun So pun mendekati Jin He. “Kau yakin dia Chamille d’ Varney? Penampilannya… .”

“Dia terdampar selama hampir setahun. Kau berharap dia berpenampilan seperti apa? Bergaun pesta?” bisik Jin He jengkel.

“Jadi kau benar-benar ditugasi keluarga d’Varney?” tanya Kwang.

“Secara teknis seperti itu,” Jin He masih menyembunyikan peran serta Brian.

“Kenapa lama sekali?” Chamille gentian bertanya.

“Pulau ini sama sekali tak terdeteksi radar bahkan tak tercantum di peta.”

“Seperti yang kuperkirakan,” kata Kwang. Diangsurkannya Il Hwan ke gendongan Chamille. Bayi itu langsung menyesap putting susu sang Ibu begitu disodorkan. Yun So melihat semua itu dengan mulut menganga lalu memandangi Kwang dan beralih pada Jin He dengan pandangan penuh tanya.

Jin He memberi isyarat  dengan kedipan  mata agar Yun So diam lalu meneruskan percakapannya dengan Kwang. “Ada kapal yang menunggu kita, kira-kira satu kilometer dari pantai. Kami tidak berani terlalu merapat karena ombak begitu besar dan karang-karang yang membatasi pantai.”

“Ya, aku tahu itu,” respon Kwang lalu berdiri, melangkah mendekati Jin He dan Yun So. “Anyway…, namaku Kwang. Shin Hyun Kwang.”

Jin He membalas jabat tangan Kwang. “Saya… seperti yang saya katakan tadi, Han Jin He.”

“Kim Yun So,” Yun So menyodorkan tangannya, memperkenalkan diri. Kwang menyambut jabat tangan itu. “Dia anakmu?” Yun So bertanya tanpa basa-basi, sambil menunjuk bayi di gendongan Chamille.

“Ya, dia putra kami.”

Alis Yun So bertaut, sekali lagi memberikan pandangan penuh tanya pada Jin He. Sama seperti tadi, Jin He tidak mengacuhkannya. “Kita akan berangkat setelah kapal cukup mengumpulkan persediaan. Bisa saya pastikan sore  ini.”

“Lebih cepat, lebih baik,” ujar Kwang.

—oOo—

Chamille dan Kwang memandangi pondok mereka untuk terakhir kali. Jin He memberikan waktu pada mereka untuk mengucapkan perpisahan pada segala hal di pulau ini, sementara dia dan para krunya mengumpulkan persediaan air dan makanan. Hanya tinggal Bill di dalam kapal. Kapal masih di lepas pantai, mereka akan menggunakan sekoci menuju kapal nantinya.

Kenangan demi kenangan terbersit di benak pasangan itu ketika memandangi pondok itu. pondok itu adalah saksi bisu cinta mereka. Mereka bahagia di pondok itu. Bercinta, berdiskusi bahkan bertengkar di dalamnya. Terlebih lagi, Il Hwan, putra mereka terlahir di pondok itu. Chamille terhanyut suasana, tak terasa air mata mengalir. Kwang merangkul Chamille, mencium ubun-ubunnya.

“Kang, suatu saat, akankah ada orang lain yang terdampar di sini, lalu memakai pondok ini?”

Kwang tersenyum.”Entahlah, Chamille. Biarlah pondok ini tetap seperti ini. Mungkin berguna bagi mereka yang terdampar.”

“Iya,” Chamille mengelus pipi Il Hwan, membisikkan sesuatu di telinganya,”Ucapkan selamat tinggal pada pondok kelahiranmu, Sayang.” Lalu mencium keningnya.

“Eh hm!” Yun So, yang ditugasi Jin He untuk mengawal pasutri itu, memecahkan keheningan dengan deheman. “Waktunya sudah tiba, Tuan Shin.”

Kwang tergagap. “Oh, baiklah.” Lalu beralih pada Chamille.”Kau sudah kuat buat berjalan, Sayang.”

Chamille menggeleng.”Entahlah, aku tidak yakin.”

“Baiklah,” Kwang mencium kening Chamille lalu mengangkat Chamille di gendongannya, sementara Chamille menggendong Il Hwan.

Sambil berjalan keluar hutan, Yun So berjengit melihat tingkah mereka. “Biar aku bantu menggendong bayimu, Tuan Shin,” akhirnya pria ini menawarkan bantuan.

Chamille menyanggupi. Jin He berhenti sebentar agar Yun So bisa mengambil Il Hwan dari Chamille. Mereka bertiga berjalan kembali, menuju pantai. “Apakah Nona d’Varney sakit?” tanya Yun So lagi.

“Tidak! Chamille sebenarnya masih dalam masa nifas,” jawab Kwang.

“Apa?”

“Baru semalam dia lahir, Tuan Kim,” jawab Chamille.

Yun So langsung kaget. Dia menatap bayi mungil di gendongannya lebih seksama. Bayi itu memang masih merah, dia jadi gugup dan lebih berhati-hati menggendong.

Sampailah mereka di sekoci. Kali ini ada dua sekoci. Satu sekoci untuk mengangkut persediaan air dan makanan. Satunya lagi untuk mengangkut Chamille, Kwang dan bayi mereka dengan Jin He da Yun SO sebagai pendayung.

Ombak menyulitkan sekoci-sekoci itu untuk ke tengah laut, mereka harus mendayung lebih kuat. Saat semakin ke tengah, perairan mulai tenang. Kwang mengamati pulau yang semakin mengecil di belakang mereka.

“Kapten, sebenarnya di mana kami selama ini?” tanya Kwang pada Jin He.

“Sesungguhnya, Tuan Shin? Mendekati Samudra Hindia.”

Pulau semakin mengecil namun kapal yang sedianya akan mereka tumpangi semakin tampak jelas. Hingga Kwang melihat tanda pengenal di kapal itu, ‘Bouwens 117’ . Ada sedikit kekawatiran, tapi demi melihat kembali peradaban, demi berkumpul kembali dengan keluarganya, Kwang menekan rasa kawatir itu.

 

BERSAMBUNG

Iklan

THE MAESTRO — Part 2

THE MAESTRO

Part 2

Song of the Day

MY WAY

By. FRANK SINATRA

And now, the end is near,
And so I face the final curtain.
My friends, I’ll say it clear;
I’ll state my case of which I’m certain.

I’ve lived a life that’s full –
I’ve travelled each and every highway.
And more, much more than this,
I did it my way.

Regrets? I’ve had a few,
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course –
Each careful step along the byway,
And more, much more than this,
I did it my way.

Yes, there were times, I’m sure you knew,
When I bit off more than I could chew,
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall
And did it my way.

I’ve loved, I’ve laughed and cried,
I’ve had my fill – my share of losing.
But now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that,
And may I say, not in a shy way –
Oh no. Oh no, not me.
I did it my way.

For what is a man? What has he got?
If not himself – Then he has naught.
To say the things he truly feels
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows
And did it my way.

Yes, it was my way.

Sebulan berlalu, Aldian mulai sadar bahwa kehidupan harus tetap berjalan. Menanggalkan duka-lara dan berusaha melangkah kembali. Pada akhirnya Aldian menerima tawaran ayahnya untuk meneruskan usaha keluarga. Sebuah pilihan yang sangat bertentangan dengan impiannya. Rupanya kematian Alicia telah banyak membuat perubahan pada diri Aldian. Membelokkan segala usaha menjadi composer orchestra hingga harus menjadi bisnissman yang selalu dikejar waktu dan segala sesuatunya yang serba kaku, bahkan dia pindah jurusan kuliah ke fakultas ekonomi dan bisnis. Impian itu telah mati seperti sang kekasih hati.

Saat orang tuanya memutuskan pension dan menetap di villa peristirahatan di luar kota, Aldian mengajak Joana dan Mina pindah ke manshionnya. Dia benar-benar tak mau menoleh ke belakang. Ditinggalkannya rumah kecil yang penuh dengan kedukaan. Tak satu pun barang yang mereka bawa dari rumah itu selain piano tua kesayangan Alicia.

Rupanya piano tua itu sangat cocok berada di tempat yang baru. Manshion ini memang megah, dengan pekarangan bertata taman yang indah serta pagar besi yang menjulang tinggi seakan pamer keangkuhan. Di setiap sudut ruangan, terlihat tata interior dengan gaya Victoria. Dan piano tua itu mampu menambah kemewahan. Tak seorang pun bisa membayangkan hal ini bisa terjadi. Bagaimana tidak? Piano tua yang selama ini berada di antara barang-barang lapuk di rumah kecil.

Hari demi hari berlalu, Joana yang sibuk dengan sekolahnya dan Aldian sibuk dengan urusan bisnis dan kuliahnya. Piano tua itu masih berdiri kokoh. Aldian tidak pernah lagi menyentuh. Namun bukan berarti piano tua pension karena si kecil Joan selalu memainkannya setiap pulang sekolah. Gadis kecil itu masih mengingat segala yang diajarkan kakak iparnya.

Joana tidak pernah memainkan piano saat Aldian ada di rumah. Dia tahu Aldian tidak suka. Dia yakin suara piano itu akan mengingatkan segala kesedihan. Dalam hati Joana masih berharap Aldian mau bermaian piano lagi. Hal itu selalu dia panjatkan di setiap doa-doa. Membayangkan jika hari itu tiba, Aldian memainkan irama merdu hingga dia dengan gaun putih menari, melompat, tersenyum, tertawa gembira. Telah banyak segala kemungkinan yang dia bayangkan jikalau hari itu tiba. Dilaluinya hari-hari dengan harapan-harapan itu seolah semua itu merupakan pemacu semangat walau pun tahu sangat mustahil terjadi.

Pagi ini, setelah dua tahun berlalu. Joana dibangunkan oleh irama merdu. Sebuah simphoni yang indah yang dia yakini terdengar dari piano tua. Segeralah meloncat dari tempat tidur dan berlari ke sumber suara.

“Tidak mungkin!” itulah yang hadir di benak Joana saat melihat Aldian memainkan piano. Perlahan dia mendekati Aldian. Mendengarkan alunan simphoni itu dengan serius sambil mengingat-ingat lagu apa yang dimainkan Aldian. Tidak, Joana tidak tahu lagu apa itu. Dia belum pernah mendengar.

“Simphoni yang mana yang oppa mainkan?”  tanya Joana saat Aldian selesai memainkan piano.”Joan belum pernah mendengarnya.”

Aldian menoleh, lalu mencolek hidung mungil Joan dan menjawab,”Tentu saja kamu belum pernah mendengarnya, ini gubahanku sendiri.”

Joana mengambil buku not balok yang berada di atas piano. Dipandanginya satu demi satu not di paranada itu. Keningnya berkerut. “Oppa belum menyelesaikan simphoni ini?”

Aldian menghela nafas.”Simphoni itu tidak akan pernah selesai.”

“Waeyo?”

“Karena aku tak mau menyelesaikannya,” jawab Aldian datar.

Joana terkejut mendengar jawaban Aldian. Sungguh simphoni yang indah tapi sayang, Aldian tidak mau menyelesaikannya. Apa yang bisa diharapkan dari simphoni yang belum selesai? Tidak ada tema dan tidak hidup. Kenapa Sesuatu yang indah tidak bisa hidup?

Aldian menangkap kebingungan di wajah Joana. Dia tersenyum dan dengan lembut bertutur,”Mungkin kamu yang akan menyelesaikan simphoni ini suatu saat nantu, Joan.”

Joana hanya tersenyum mendengar ucapan Aldian.

“Saya tidak percaya Oppa mau main piano lagi. Terus terang hari inilah yang selama ini saya impikan. Dan sekarang Oppa akan terus main piano, kan?”

“Mungkin.”

“Lalu, apakah Oppa mau melanjutkan apa yang diajarkan padaku dua tahun yang lalu?”

Aldian tertawa, tak menyangka jika Joana menanyakan hal itu,”Tentu, Joan. Tapi aku tidak yakin apakah kamu masih mengingat pelajaran dua tahun yang lalu.”

“Joan ingat, kok. Tanpa Oppa tahu, Aku berlatih tiap hari.” Joan tertawa mengejek dan menjulurkan lidahnya. Aldian memberikan tinju pelan di dagunya. Sungguh keakraban yang indah. Tak dapat dipercaya hal itu terjadi setelah sekian lama.

Ternyata keakraban itu tetap berlanjut. Di sela-sela kesibukan, Aldian menyempatkan diri untuk memberi les pada Joana. Dia juga menyewa tutor pribadi untuk mengajari Joana music, tari dan sastra. Tiga bidang seni yang sebenarnya terlalu berat diterima oleh anak seusia Joana. Namun Joana memang cerdas, dengan cepat mampu menangkap materi-materi berat itu.

Joana tumbuh dewasa denngan segala didikan Aldian. Terkadang Mina menganggap bahwa cara mendidik Aldian ini salah. Mina selalu berpikir, Aldian ingin menghidupkan Alicia dalam diri Joana. Mina masih ingat betul ketertarikan Alicia pada music, tari dan sastra. Ya, Aldian ingin Joana menjadi Alicia kedua, begitu pikir Mina.

Ternyata Aldian berhasil. Disadari atau tidak, Joana kini benar-benar Alicia kedua. Semangatnya, minatnya, gaya bicara, cara berjalan, cara pandang terhadap hidup bahkan wajahnya yang mirip dengan Alicia.

Selama ini Mina salah menganggap Aldian sudah melupakan Alicia. Aldian telah merubah watak adik iparnya itu hingga mirip dengan Alicia. Bak seorang maestro yang selalu mengharapkan kesempurnaan ciptaannya. Tapi Mina tidak mampu berbuat apa-apa. Apalah arti Mina di mata Aldian selain hanya pengasuh Joana. Dan sebagai wali Joana yang syah, Aldian berhak menentukan segala sesuatu yang menurutnya baik bagi Joana.

“Aku tidak tahu sampai kapan semua ini terjadi. Aku tidak tahu,” suara hati Mina memendam kekawatiran dalam benaknya.

BERSAMBUNG

THE SECRET II (Temptation of Island — part 3)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 3

Robert sempat terpaku saat menemui Charlie di pavilyun hotel yang ditempati Antoine selama di Bali. Wanita itu…, wanita yang sempat mengisi kehidupannya sebagai istri sang paman, kini berdiri di depannya sebagai Charlie d’Varney. Wajah Charlie tampak mendung karena Camille. Mata lebar itu membengkak, entah berapa kali dia menangis. Robert hanya mampu menjabat tangannya. Berusaha meyakinkan bahwa Camille pasti ditemukan, bahkan memamerkan tim pencari yang dia bentuk bersama Brian.

“Terima kasih, Tuan Cassidy,”  tersendat-sendat, Charlie mengucapkan itu. Setelah itu membenamkan tangis kembali di dada Antoine, suaminya. Robert menghela nafas. Ingin rasanya berteriak, “Ini aku, Bibi. Tidakkah kau mengingatku?”

Tapi tidak mungkin. Robert yakin benar, lebih baik Charlie melupakan masa lalunya. Sementara Brian yang mendampingi Robert, memperhatikan keluarga yang tengah berduka itu tanpa ekspresi. Di pikirannya, dia merasa jika Camille sangatlah beruntung. Ayah, Ibu dan Kakaknya begitu mengkawatirkannya. Apalagi saat pihak berwajib menerangkan keadaan sekarang  dengan bahasa Inggris yang kaku.

“Semenjak gempa Jogja tahun 2006. Memang ada pergeseran lempeng dari Samudra Hindia. Bali bahkan pernah mengalami gempa dengan kekuatan 7,6 skala Richter, semenjak itu terkadang terjadi gempa susulan. Kasus yang terjadi pada putri anda, kemungkinan badai terjadi akibat gempa dari Samudra Hindia. Apalagi saat kejadian itu, bulan dalam posisi sempurna.”

Charlie semakin terduduk lunglai mendengar penjelasan itu. Antoine merasa, hal ini terlalu menyedihkan bagi istrinya sehingga menyuruh Nathan mengantar Ibunya menuju kamar.

“Ma Femme, kau pasti sangat capek. Akan lebih baik kalau kau dan Nathan beristirahat. Bukan begitu, Nathan?” Antoine menoleh pada Nathan, mencari dukungan.

“Yes, Mom. Aku antar Mom ke kamar.”

“Tidak, aku ingin mendengar semuanya.” Rupanya Charlie terlalu keras kepala. Robert tersenyum tipis, menyadari jika masih terdapat sisi Charlie Bouwens di diri Charlie d’ Varney.

“But, Mom…

“Enough,  Nathan! Stop thinking I am weak!” Charlie memberi peringatan dengan mata melebar.

Nathan mati kutu. Robert merasa perlu menengahi keributan kecil itu. “Nyonya d’Varney,” bahkan Robert merasa kaku memanggil Charlie dengan sebutan itu. “Jika kata-kata saya cukup menenangkan anda. Mungkin anda bisa membantu kami dengan beristirahat. Saya lihat anda begitu lelah, bahkan semenjak saya memasuki ruangan ini.”

“Jadi anda menganggap kalau saya hanya menyusahkan?”

Ups! Ternyata Charlie menanggapi salah ucapan Robert. Antoine merangkul Charlie, bahkan menepuk-nepuk lengan wanita itu agar lebih tenang.

“I am sorry, Madam,” kali ini petugas itu angkat bicara. “Please, believe us! Saat ini, tim SAR kami sedang menyisir perairan. Bantulah kami dengan doa anda. Saya yakin doa Ibu untuk putrinya selalu di dengar oleh Tuhan.”

Charlie terkesiap oleh kata-kata pria itu. Doa seorang Ibu. Tentu saja, saat ini Camille membutuhkan doanya. Charlie merasa bodoh. Kenapa harus orang asing yang mengingatkannya.

“Di mana aku bisa menemukan kapel?”

Semua orang di ruangan itu melega saat mendengar ucapan Charlie. Setidaknya mereka terbebas dari Charlie yang cengeng di ruangan itu untuk sementara waktu.

“Kau bisa berdoa di kamarmu, Sayang. Percayalah, Tuhan ada di mana saja,” sekali lagi Antoine membujuk. Brian memperhatikan interaksi suami-istri itu. sekali lagi dia merasa iri. Seandainya saja kedua orang tuanya seperti itu, bukannya orang tua yang berbagi hak asuh karena tidak pernah menikah.

“Nathan,” panggil Antoine. “Antarkan Ibumu.”

Nathan menghela nafas. Setiap kali ada masalah, selalu dia yang harus menenangkan Ibunya. Bahkan jika kedua orang tuanya bertengkar, Nathan selalu menjadi pihak mediasi bagi keduanya. Kenapa bukan Camille? Kenapa selalu aku? Huft! Nathan memutar bola matanya.

“Oke, Dad!”  Seperti biasa, Nathan tak pernah menolak perintah Antoine walau pun hatinya enggan. Pemuda itu segera berdiri dan mengulurkan tangannya pada sang Ibu. “Mom… .”

Charlie memandang tangan Nathan yang terulur. Nathan menggerakkan tangannya dengan mimik wajah untuk meyakinkan ajakannya. Charlie menyambut uluran tangan putranya lalu berdiri. Keempat  pria yang lain di ruangan itu juga berdiri menyongsong kepergian Charlie. Antoine memberikan ciuman perpisahan pada istrinya. “Istirahatlah, Sayang.”

Charlie tersenyum enggan. Robert dan Brian membungkuk, memberi salam perpisahan. Perbincangan dilanjutkan setelah itu. Lebih serius dari sebelumnya.

“Bagaimana hasilnya sampai di sini?” Antoine tampak tidak sabar.

“Kami masih berusaha, Tuan d’ Varney. Sebenarnya, karena badai kemaren, bukan hanya putri anda yang mengalami nasib naas. Petugas terpecah untuk mengatasi yang lainnya,” terang sang petugas. Antoine berusaha tegar. Rasa bersalah akibat menghilangnya Camille semakin merajai benaknya. “Katakan sebenarnya. Berapa persen kemungkinan putriku ditemukan?”

Petugas itu berkata lirih. “Jangan bicara angka di sini, Tuan d’ Varney. Kami sama sekali tidak tahu.”

Robert kembali meyakinkan sahabatnya. “Jangan kawatir. Jika petugas pantai tidak bisa menemukannya. Tim independent bentukanku pasti bisa!”

Antoine mengalami tekanan hebat. Tapi demi Charlie, dia berusaha tenang. Setelah pembicaraan itu, Antoine menuju kamar. Agak lega hatinya saat melihat sang istri meringkuk di ranjang, dengan posisi kepala di pangkuan Nathan. Perlahan pemuda itu menggeser kepala Charlie menuju bantal lalu beranjak keluar kamar.

“Mau kemana, kau?” suara Sang Ayah menghentikan langkah Nathan.

“Mengamati bagaimana tim penolong itu mencari adikku.” Nathan mengamati sang Ayah yang duduk di samping Charlie demi mencium keningnya. “Dad,” panggil Nathan.

“Hm..,” Antoine masih mengamati Charlie yang terlelap.

“Mom very shock!”

“I know,” respon Antoine sambil mengelus lembut dahi istrinya. “I can’t imagine if we can’t find Camille. She won’t forgive me.”

“Dad, Why did you let Camille go alone?”

Dan itulah yang benar-benar disesali Antoine. “I don’t know, Nathan.”

Nathan mengangkat bahu. Musibah ini benar-benar mengejutkan mereka. Nathan melihat tim SAR lokal memang disibukkan oleh hilangnya beberapa orang akibat badai itu. Dia juga tahu kalau tim pencari bukan hanya dibentuk oleh petugas pantai dan Robert Cassidy tapi juga oleh Brian setelah mencuri dengar pembicaraan di antara para kru pantai.

“Kira-kira mereka memerintahkan pencarian sampai kapan?”

Nathan pura-pura acuh, padahal telinganya bisa menangkap ucapan salah seorang yang ada di situ.  Apalagi, pria itu bicara dalam bahasa Halyu. Salah satu bahasa yang dikuasainya. Mungkin pria itu merasa kalau Nathan tidak mengerti ucapannya sehingga dengan tenangnya membicarakan gossip yang tentu saja baru dimengerti oleh Nathan.

“Sepertinya sampai gadis itu ditemukan. Aku dengar Brian mendapat suntikan dana dari Bouwens Inc,” jawab teman dari kru pertama yang bicara. Nathan masih berlaku seolah-olah menikmat ombak pantai.

“Ah, Brian Rothman…., anak itu pasti sudah sangat tergila-gila dengan gadis ini,” perkataan itu diikuti oleh tawa serempak para kru yang lain.

Nathan mengkerutkan kening. Dia beranjak dari area gossip itu, mencari keberadaan Brian. Pria itu ada di sisi lain pantai saat Nathan menemuinya, memberikan komando pada timnya.

“Bisa bicara sebentar?”

Brian terkejut saat Nathan menepuk pundaknya. Lebih terkejut lagi karena pemuda di depannya mampu berbahasa Halyu dengan fasih. “Tentu saja, Tuan Muda d’ Varney,” Brian menjawab dengan membungkukkan badan.

Nathan tersenyum geli. “Tuan Muda? Seperti itukah kau akan memanggilku?”

“Iya, maaf jika anda keberatan.”

“Ya, aku keberatan,” Nathan bersedekap. “Jangan terlalu formal. Panggil saja aku Nathan.”

Persis seperti adiknya, pikir Brian.

“Bisa kita bicara di tempat yang enak?” Nathan merasa percakapan di pinggir pantai, dengan banyaknya kru pantai di sekeliling mereka, bukanlah hal yang nyaman.

“Baiklah, kita bisa bicara di… balkon itu?” Brian menyetujui ajakan Nathan sambil menunjuk salah satu sisi balkon hotel yang menghadap ke pantai. Nathan mengangguk dan segera menuju tempat itu.

“Aku dengar kau juga membentuk tim pencari khusus untuk adikku?” tanya Nathan saat mereka sudah duduk nyaman di balkon.

Brian mengangguk. Sesaat dia mengamati beberapa kru yang mulai terjun ke laut dengan kapal bermesin milik Bouwens Inc demi mencari Camille.

“Kau dekat dengan adikku selama di Seoul?”

Brian mengkerutkan dahi. “Ada masalah dengan hal ini?”

Nathan mengangkat bahu. “Aku tidak pernah tahu segala romantika adikku. Tapi bisa kupastikan kalau daya tarik Camille memang susah untuk dihindari.”

Brian menyipitkan mata, berusaha mencerna segala ucapan Nathan. “Adik anda baik pada saya selama di Korea.”

“Oke, aku ucapkan terima kasih atas semua usahamu mencari adikku.”

“Bouwens Inc ikut bertanggung-jawab atas hilangnya Camille, Tuan muda. Sekedar info, kapal  yang ditumpangi Camille adalah milik Bouwens Inc.”

Apa-apaan ini? Bouwens Inc? Kapal milik Bouwens Inc? Jadi orang ini hanya mencari kapal karam? Nathan menarik kesimpulan dari ucapan Brian. Yang tak disadari Nathan adalah Brian berusaha menutupi perasaan dan mengalihkan perhatian dengan membicarakan kapal. Tapi Nathan cukup tahu kalau pria itu jatuh cinta pada adiknya. Dua kali Brian menyebut nama Camille tanpa rasa sungkan.

Nathan menghela nafas. “Kau memanggil adikku seperti itu. tapi kau memanggilku Tuan muda?” Nathan mengibaskan tangan. “Terserahlah.”

Nathan berdiri dari kursinya lalu meninggalkan balkon begitu saja. Brian menghela nafas lega. Perilaku menginterogasi dari Nathan sungguh  sangat merepotkan.  Brian belum siap jika harus ditanya tentang perasaannya pada Camille. Dia bahkan tidak yakin jika Camille mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.

Malam yang datang masih disibukkan oleh pencarian terhadap orang-orang yang hilang karena badai. Brian masih menunggu kabar dari laut lepas tentang pencarian Camille. Dia berjalan di sepanjang pantai yang pasang dengan handphone di tangan. Bulan menguning di perairan. Bulan setengah, berbeda dengan bulan yang terjadi saat badai. Jika saja Brian berada di tempat ini dalam suasana yang lebih menyenangkan, mungkin saja segalanya serasa berbeda.

Langkah Brian terhenti saat melihat sosok yang berdiri beberapa kaki di depannya. Charlie d’Varney melamun, menatap kosong ke arah ombak yang berkejaran menuju pantai. Bahkan gelapnya malam tak mampu mengkelamkan sinar kemilau dari kulit wanita itu. Wajahnya yang mendung karena kehilangan Camille, belum mampu menutupi keayuan akibat sifat keibuan yang dimilikinya.

Wajah itu selalu berada di benak Brian selama ini. Wajah yang mengganggu pikirannya semenjak dia temukan pada sebuah potret yang tersimpan di dompet ayahnya. Brian diam-diam mengagumi wajah itu, dan berpikir kalau wanita inilah yang dicintai Ayahnya. Wanita yang membuat sang Ayah rela melajang.

Sempat juga Brian menanyakan kelemahan Ayahnya itu. Beberapa kali dia menggoda sang Ayah dengan pertanyaan konyol. “Jika Ibu saja bisa menikah dengan Ayah Harris dan punya anak sebanyak itu, kenapa ayah tidak?”

Sang Ayah tersenyum mendengarnya. Brian baru berumur tiga belas tahun waktu itu dan pertanyaan itu tentu saja dianggap lucu.

“Apakah karena wanita itu?” perkataan Brian langsung terarah pada potret yang diam-diam dia temukan di dompet ayahnya.

“Wanita? Wanita yang mana?”

“Wanita yang ada di dompet ayah. Dia sangat cantik. Apakah dia calon istri Ayah?” terdengar keantusiasan dari nada bicara Brian.

“Jadi kau diam-diam membuka-buka dompet Ayah?”

Brian mati kutu. Sang Ayah memberikan pandangan memperingatkan. Dengan takut-takut, Brian pun meminta maaf. Ayahnya hanya tersenyum sambil mengelus kepalanya.

Dan sekarang, wanita itu ada di depannya. Brian sempat terkesiap melihatnya pertama kali di pavilyun. Wajah itu tak berubah selama bertahun-tahun. Perlahan Brian mendekati Charlie. Brian bisa mendengar desahan  suara Charlie. Wanita itu sedang berdoa. Memohon agar putrinya terselamatkan. Memohon masih ada kesempatan lagi melihat putrinya hidup, tak kurang suatu apa pun.

Saat mata Charlie terbuka, Brian sudah ada di sampingnya. Charlie menoleh pada Brian dan pemuda itu membungkuk hormat.

“Oh, Anda…,” Charlie teringat percakapannya dengan Nathan dan Antoine tadi sore. Dari situ, Charlie tahu kalau Brian membentuk tim pencari untuk Camille. Charlie merasa perlu untuk berterima kasih. “Nathan bercerita kalau anda memprakarsai pencarian untuk Camille. Saya benar-benar berterima kasih.”

“Saya tidak akan berhenti sampai Camille ditemukan.”

Charlie menangkap adanya harapan dibalik suara Brian. “Terima kasih. Anda tahu benar kalau hal itu sangat berarti bagi saya. Camille sangat rapuh. Saya bahkan hampir kehilangannya saat dia lahir.”

Air mata Charlie mengalir lagi. Sebenarnya bukan hanya Camille yang hampir tak terselamatkan, tapi juga nyawanya sendiri. Karenanya mereka sekeluarga begitu melindungi Camille.

“Percayalah pada saya, Nyonya. Camille pasti ditemukan.”

Brian meraih tangan Charlie dan menganggukkan kepalanya, memberikan kepastian pada wanita itu.

“Saya akan membantu anda,” ucap Charlie kemudian.

“Membantu?” Brian menyipitkan mata.

“Berikan saya salah satu tim anda. Saya akan mengkoordinir dari darat.”

Brian sangsi jika Charlie bisa melakukannya. Mimik wajah Brian menyiratkan hal itu.

“Percayalah pada saya. Hanya satu tim. Tidak akan merepotkan anda, Nak.” Charlie berusaha meyakinkan Brian.

“Baiklah. Hanya satu tim.”

“Oh,” hati Charlie lega mendengarnya. Serasa salah satu beban berat mulai terangkat. Charlie menautkan jari-jari tangannya di dada. Bibir Charlie mulai menyunggingkan senyum. Brian terpana. Senyum itu sungguh menawan. Mirip senyum Camille. Pantas saja jika sang Ayah begitu mendamba wanita ini. Bahkan rela melajang seumur hidup, laksana pungguk merindukan bulan.

“Ma Femme…”

Panggilan itu membuat keduanya menoleh. Antoine berdiri lima langkah dari mereka.

“You are not at room. I am so worry,” Antoine memegang kedua bahu Charlie dan menatap penuh kasih seperti biasanya. Charlie tersenyum lepas untuk pertama kalinya semenjak sampai di pulau ini dan itu karena Brian yang menjanjikan satu tim pencari Camille untuknya.

“I am sory. Aku hanya berpikir kalau mungkin jalan-jalan bisa menenangkan,” Charlie tidak berniat menceritakan pembicaraannya dengan Brian. “Pemuda ini menemaniku,” lanjutnya sambil menunjuk Brian.

“Brian,” jawab Antoine.

“Iya, Tuan.”

“Terima kasih telah menemani istriku.”

Brian mengangguk. Charlie menempelkan jari telunjuk di mulut sebagai isyarat agar Brian merahasiakan pembicaraan mereka barusan. Sekali lagi Brian mengangguk, menjawab isyarat itu. Antoine melirik curiga pada istrinya dan Charlie buru-buru menyembunyikan isyarat itu.

“Ma Femme, bisakah aku membawamu masuk sekarang? Aku bisa gila kalau terus-terusan mengkawatirkanmu.”

Charlie mengangguk walau pun merasa kalau kalimat Antoine terlalu berlebihan. “Tentu saja. Aku juga sudah sangat lelah. Aku perlu tidur nyenyak untuk menyongsong esok.”

Menyongsong esok untuk mengkomando tim pencari Camille, tentu saja. Charlie membatin.

Charlie berbalik pada Brian. “Terima kasih atas pembicaraan yang menyenangkan, Nak.”

“Sama-sama, Nyonya.”

Brian membungkuk hormat saat Antoine merangkul Charlie. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan Brian yang terpaku. Tak seorang pun tega merusak keromantisan suami-istri itu, termasuk Ayahnya. Kini Brian mengerti.

 

—oOo—

“Kau sudah bangun?” pria itu mendekati kepala Camille saat terlihat wanita itu mulai membuka mata. Semakin lama, Camille bisa melihat kalau goa itu sudah agak gelap dari sebelumnya. Hanya penerangan api yang keluar dari dua bilah bambu yang menghasilkan cahaya temaram di gua itu.

“Mom…, please, wake me up…,” Camille masih saja berharap semuanya ini mimpi. Pria di depannya menyodorkan batok kelapa padanya. “Drink it. I am sure you need it.” Bahkan pria itu mengubah bahasanya saat tangan kanannya menyangga kepala Camille agar lebih mudah minum.

Kiranya Camille akan merasakan air kelapa tapi ternyata air tawar yang tertampung di batok kelapa itu. Air itu berasal dari air terjun. Pria itu mengambilnya sesaat setelah Camille terbaring lagi di goa. Sempat dia terkejut saat kembali ke air terjun. Rupanya dia tidak sendiri. Sekawanan monyet sudah menguasai areal itu. Dia berkesimpulan kalau monyet-monyet itu pasti turun mencari air jika hari semakin panas. Sempat dia kebingungan bagaimana caranya menampung air saat akhirnya dia melihat tingkah unik seekor monyet yang mengambil air dengan batok kelapa. Pria itu menirunya, mencari pohon kelapa di sekitar pantai dan kebingungan lagi saat menemukan kelapa yang jatuh begitu saja karena tidak ada alat  yang digunakan untuk membelah setelah mengupasnya. Dengan keputus-asaan, dia membanting kelapa itu di atas batu karang yang tajam lalu bersorak girang karena kelapa itu terbelah.

Ya, Tuhan, kenapa aku harus belajar dari para monyet? Sebagai ABK senior, tentu saja dia diajari cara bertahan di alam liar dari kursus pecinta alam tapi sekarang ini lain. Tidak ada pisau lipat serbaguna yang selalu terselip di pinggangnya, inilah yang menyulitkan. Pengalaman dengan kelapa dan batu karang tadi memberinya inspirasi. Dia mencari pecahan batu yang berujung pipih sebagai pengganti pisau yang akan dibawanya ke mana pun selama berada di pulau ini.

Dia juga membuat tanda di pantai. Dia menyobek sedikit lengan bajunya lalu mengikatnya di sebilah ranting yang kiranya cukup kuat dan menancapkan bendera sekedarnya itu di pasir. Cukup dalam supaya angin tidak mudah merobohkannya. Di pasir, dia membuat tulisan “SOS” besar agar cukup jelas jika terlihat dari pesawat. Besok dia akan membuat tulisan itu lagi jika laut pasang  menghapusnya. Dia lalu masuk kembali ke hutan untuk mengambil persediaan air dan makanan.

Camille terbatuk-batuk, saluran kerongkongannya belum siap menerima air setelah pingsan selama lima jam.

“Be carefull,” pria itu menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. “Do you want to eat? Are you strong enough to eat?” tawarnya.

Camille menggeleng lalu berbaring kembali. Pria itu menempatkan batok kelapa di samping kepalanya lalu bergerak di satu sisi goa itu, mengambil lima biji pisang untuk Camille. “Eat is if you want,” katanya. Camille mengangguk tapi belum berminat pada pisang itu.

Pria itu meraba keningnya. “Syukurlah dia tidak demam,” desahnya. Bahasa Halyu!

Camille memperhatikan keadaan goa ketika pria itu membenahi daun-daun kering yang dijadikan alas bagi Camille tidur. “Bagaimana…. kau bisa… membuat obor?”

Pria itu menghentikan aktifitasnya untuk menoleh ke obor di pintu masuk goa. “Aku menemukan tanaman jarak, aku tampung getahnya.” Dia lalu memastikan lagi daun-daun itu menghangat untuk Camille dengan meninggikan tumpukannya. “Tidurlah lagi kalau kau tidak berminat makan.” Pria itu bahkan tersenyum.

Saat ini Camille mulai mengingat perkataan Ibunya di dalam mimpinya, “Everything gone be oke. Everywhere you are…, good people always take care of you.”

 Mungkinkah pria ini yang dimaksud?

“Namamu… siapa namamu?” Camille belum mau tidur sebelum tahu nama pria itu.

“Shin Hyun kwang,” jawab pria itu.

“Sin… Yu..  ,” ah.. nama korea memang terlalu asing baginya. Orang ini bahkan tidak mempunyai nama barat.

“Panggil saja Kwang.”

Itu lebih mudah diingat, pikir Camille. Dia tersenyum lalu mulai memejamkan mata. Dia merasa semuanya aman sekarang. Setidaknya karena berpikir “Kang” adalah orang baik.

Malam itu Camille tidur lagi sampai pagi. Dia terbangun saat mendengar kicauan burung. Agak kesulitan untuk duduk karena tulang punggungnya terasa kaku. Dia belum terbiasa dengan tempat tidur alam buatan “Kang”. Lalu di mana pria itu? ‘tempat tidur’ pria itu sudah kosong.

Perut Camille berbunyi. Sementara keberadaan ‘Kang’ teralihkan. Dia menatap pisang dan sebatok air di dekatnya. Rasa lapar membuat tangan Camille meraih pisang. Tanpa pikir panjang lagi, pisang itu tenggelam dalam kunyahannya. Rasanya yang manis membuat lidah Camille semakin nyaman. Tak terasa dia sudah menghabiskan lima buah. Sudah berapa hari sebenarnya aku kelaparan? Dia berpikir demikian saat minum tergesa-gesa dan akhirnya tersedak.

Perut yang kenyang membuat Camille teringat lagi pada ‘Kang’. Dia keluar dari goa. Sesaat rimbunnya hutan menyambut penglihatannya lagi. Tidak ada ‘Kang’ di sekitar goa. Camille berjalan menuju air terjun dan menemukan ‘Kang’ di sana, berusaha menangkap ikan dengan ‘tongkat’.

“Apa yang kau lakukan?”

Pria itu jadi sebal karena konsentrasinya buyar. Dia mengangkat tongkat yang dipegangnya lalu memanggulnya di pundak. Camille memperhatikan tongkat itu. ujung yang masuk ke air ternyata terdapat batu runcing yang diikatkan dengan akar kering. “Itu tombak?” Camille menunjuk ujung yang berbatu runcing.

“Kau sudah sehat?” bukannya menjawab, ‘Kang’ malah bertanya balik.

“Lumayan. Terima kasih, ‘Kang’.” Camille tersenyum dengan sungguh-sungguh.

“Kang? Semalam aku menyuruhmu memanggilku ‘Kwang’ bukan ‘Kang’.”

Di sini bola mata Camille bergerak kebingungan. “Kang?”

“Kwang.”

“Bolehkah aku memanggilmu ‘Kang’? Itu lebih mudah diucapkan,” Camille memang merasa sulit mengucap huruf w di tengah nama pria itu. Tidak umum sepertinya.

“Kau bisa mengucap huruf w itu seperti kau bilang ‘Quality’ dalam bahasa Inggris.”

Ya ampun, sampai kapan percakapan tentang nama berlangsung?

“Kau mencari ikan? Sudah dapat?” Camille berusaha mengalihkan perhatian dari pembicaraan ‘nama’ yang membosankan.

“Belum seekor pun! Makanya jangan menggangguku dengan ocehanmu. Ambil jarak dariku kalau mau mandi, jangan membuat ikan-ikan ini takut!”

Bibir Camille monyong beberapa centi mendengar omongan Kang. Pria itu sudah berancang-ancang untuk menusuk air lagi.

“Kang, buat apa tumpukan kelapa itu?” Camille menunjuk lima butir kelapa yang teronggok di tepi sungai. Kang jadi jengkel. Sekali lagi ikan yang akan ditusuk terlepas. “Itu air untuk persediaan malam ini.”

Camille bergerak ke kelapa yang tertumpuk. Langkah kakinya membuat aliran sungai bergerak bebas, membuyarkan kerumunan ikan yang sedianya akan ditusuk Kang dengan tombak. “Hei! Kau membuat ikan-ikan ini takut!”

Camille tak menggubris. Kang semakin uring-uringan. “Kemaren sepertinya dia sangat lemah, kenapa sekarang lincah sekali?”

Camille memperhatikan kelapa itu. Kang hanya membuat lubang berdiameter lima centimeter di setiap kelapa. Camille mengangkat sebiji kelapa lalu meneropong bagian dalam kelapa. Daging kelapa sudah dihilangkan Kang sehingga tinggal cangkang dan serabut luarnya saja.

Kang memperhatikan tingkahnya. “Kau pengen minum air kelapa?” tanya Kang.

Camille menoleh pada Kang yang mulai berjalan mendekatinya. “Di mana daging buahnya?” tanyanya saat Kang sudah di depannya.

“Oh.., aku membungkusnya di daun itu,” Kang menunjuk sesuatu di batu besar. “Kau mau?”

Camille menggeleng. Kang menuju kumpulan ikan lagi yang sekarang tentu saja komunitasnya sudah jauh berkurang kerana ulah Camille.

“Kau aktifis pecinta alam?” tanya Camille.

Kang mulai berancang-ancang menusuk air lagi. Dia tidak menggubris ocehan Camille. Dia berkonsentrasi penuh. Satu ikan saja, dan itu cukup untuk makan malam, dengan Camille tentu saja. gadis itu tidak mungkin makan terlalu banyak. Dan….. jlep! Behasil! Ikan itu menggelepar-gelepar di ujung tombak.

“Yuhuuu!!!” Kang bersorak. Camille berlari ke arahnya. Ikut senang. “Kau dapat! Kau dapat!”

“Malam ini kita makan ikan!”

Tapi rupanya Kang salah. Camille makan seperti orang kelaparan. Gadis itu bahkan memonopoli bagian ikan yang berdaging banyak. Alhasil, Kang hanya kebagian sedikit daging di bagian kepala ikan. Dia meringis melihat Camille yang menjilat-jilat jari tangannya sebagai ganti mencuci tangan. Lalu harus puas dengan pisang sebagai tambahan pengganjal perut sementara Camille mengelus-elus perutnya yang agak buncit dengan tersenyum. Senyum orang kekenyangan.

“Kau mau minum?” Camille menuangkan air dari kelapa ke batok kelapa yang terbelah setengah. Hari mulai gelap. Sebentar lagi mereka harus masuk ke dalam goa yang sudah terang karena obor sudah dinyalakan  Kang satu jam yang lalu. Mereka memang makan di depan api unggun di mulut goa. Kang tidak bodoh dengan membiarkan asap membuat pernafasan sesak jika memasak di dalam goa.

Kang memperhatikan Camille yang menyodorkan air minum di depannya. “Silahkan..,” bahkan Camille tersenyum manis. Dia berusaha melayaniku setelah hanya duduk-duduk saja selama aku memasak? Sayangnya tidak ada  piring kotor yang harus dicuci.  Mungkin itu tanda terima kasih Camille.

“Terima kasih,” Kang meraih batok kelapa lalu menenggak air di dalamnya. Camille menuangkan air ke batok kelapa yang lain. Kali ini untuk dirinya sendiri.

“Kau orang korea?”

Kang memberikan anggukan untuk menjawab.

“Seoul?”

“Jeju.”

“Oh,” Camille manggut-manggut. “Kang, kira-kira sampai kapan kita terdampar di sini?” Camille meringis  dengan kenyataan itu. Pulau ini memang menyenangkan tapi mereka benar-benar terasing dari peradaban.

“Aku tidak tahu. Bahkan berandai-andai kita di mana juga susah. Pulau ini dikelilingi air.”

Camille jadi tertunduk lesu. Kang menepuk-nepuk bahunya. Camille melirik tangan Kang yang ada di bahunya, sesaat dia teringat pada Antoine. Sang ayah juga sering berlaku seperti itu jika menenangkannya bahkan Ibunya. “Jangan kawatir. Aku sudah membuat tanda di pinggir pantai. Besok kita harus memperjelas lagi tulisan ‘SOS’ di sana.”

Camille hanya bisa manggut-manggut walau pun wajahnya masih lesu. Kang memadamkan api unggun lalu memberesi sisa makanan dan dua batok kelapa yang terbelah setengah. “Bawa kelapa itu kalau masuk goa,” perintahnya pada Camille lalu masuk ke goa.

Sekali lagi Camille mengangguk. Dia tidak langsung masuk goa. Dia masih duduk berpangku tangan di dagu, meratapi nasib sambil memandang kelapa yang seharusnya dibawa masuk ke goa. “Mom…, Dad…, Are you looking for me? Please, God! Give me an opportunity to meet them again.” Camille menutup mata, mendoakan keinginannya.

“Hei, Anak manja… masuklah! Hari sudah mau gelap!” Kang mengomel dari dalam goa.

“Iya.. iya…,” Camille bersungut-sungut. Dia menjinjing kelapa itu di pinggangnya lalu memasuki goa. Tempat mereka bernaung lagi malam ini. Sampai kapan? Seperti yang Kang katakan tadi. Mereka berdoa tidak tahu. Mereka terpencil. Di pulau aneh yang menawarkan sejuta sorga. Bahkan terdampar di lautan luas. Hanya setitik saja jika terlihat di udara. Dan tim penyelamat pun susah mendeteksi keberadaan pulau itu.

 

BERSAMBUNG

THE SECRET (End Part)

Tatapan mata Charlie melebar. Sama sekali dia tidak mempercayai pendengarannya. Antoine baru saja berkata kalau Nick Rothman adalah suaminya? Maksudnya? Dia sama sekali tidak mengerti, bahkan bingung mengungkapkan perasaan. “Bagaimana mungkin?” hanya itu yang bisa dia ucapkan.

“Sayang,” panggil Antoine, masih berjongkok di depan Charlie dan meremas-remas tangannya. “Kau tahu, kan… kalau ada sebagian ingatanmu yang dihapus?”

Mata Charlie menyipit seiring gerakan kepalanya yang memiring. Rupanya dia sedang berpikir keras. “Jadi ingatan itu tentang Nick Rothman?”

Antoine mengangguk. Genggamannya di telapak tangan Charlie melemah.

“Dia suamiku,” desah Charlie lirih, tak percaya dengan kenyataan hidupnya. “Lalu kamu?” Charlie tersentak oleh karena kenyataan yang lain lagi.

“Aku juga,” Antoine merasa jawabannya terdengar konyol.

“Kenapa kalau …. Kalau dia suamiku? Aku harus menghapusnya dalam hidupku? Kenapa… Kenapa kalau dia suamiku… aku… aku…,” Charlie mulai kehilangan kata-kata. “Ah!” dia mendesah kesal.

“Charlie,” Antoine memanggil lagi. Giliran dia yang kehilangan kata. Akankah dia mengatakan kejadian yang sebenarnya? Dan Charlie menggenggam tangannya erat. Sangat erat hingga tangan mungil itu membuat tangan kokohnya kesakitan. Dia menatap Charlie, penuh kebingungan. Charlie menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan kawatir Antoine akan mengucapkan sesuatu yang bisa mengingatkannya pada masa lalunya, Charlie memohon,” Jangan! Aku mohon jangan katakan apa pun. Aku yakin kalau ingatan itu membuatku terpuruk, jadi jangan katakan apa pun!”

“Tapi… Sayang, aku… .”

“Sstt…,” Charlie membungkam mulut Antoine dengan tangannya. “Aku mohon, Monsieur. Kau lihat, kan? Aku sedang hamil. Dokter Rae bilang kalau aku tidak boleh memikirkan hal yang berat-berat. Aku sangat ingin melahirkan anak ini, Antoine. Jadi aku mohon… Jangan katakan apa pun!”

Air mata mulai bercucuran di pipi Charlie. Antoine memeluknya dengan hangat. Benar! Antoine terlalu memikirkan Nick Rothman, hingga lupa pada keadaan Charlie. Kenyataan kalau Charlie tengah mengandung anaknya, mustinya lebih dia pikirkan.

Charlie melepaskan diri dari pelukan Antoine lalu menunduk, masih sesenggukan. Antoine merogoh saku jasnya, mengeluarkan sapu tangan lalu diberikan pada Charlie yang segera kotor oleh ingus karena Charlie berusaha meniupkan ingus di atas kain itu.

“Aku sama sekali tidak mengenal pria itu, Antoine,” kata Charlie setelah pernafasannya tenang.

“Itu karena ingatanmu tentang dia dihapus.”

“Aku tidak perduli!” tegas Charlie, lalu menangkup kedua belah pipi Antoine. “Yang kuingat adalah tentang kita. Yang kuingat adalah cinta kasih kita. Itu sudah cukup bagiku.”

Benar. Kisah Charlotte Whitely dan Nick Rothman sudah berlalu. Sedangkan kisah Antoine d’Varney dan Charlie Adams, adalah kisah yang sekarang ini begitu nyata bagi Charlie dan Antoine yakin, kisah ini bukan hanya kisah untuk saat ini, kisah ini akan mempunyai masa depan.

“Kau suamiku, Antoine. Kau!” Charlie kembali menegaskan segalanya, lalu mengelus perutnya, “Ayah dari anak ini, Kau… Kaulah suamiku.”

Sekali lagi mereka berpelukan. Semua jelaslah sudah. Ikatan diantara mereka tidak mungkin terhapus begitu saja. Mungkin ini adalah kekuatan dari bayi yang ada di perut Charlie, yang tetap menyatukan kedua orang tuanya.

“Sayang,” bisik Antoine. Charlie menatap mata Antoine lekat-lekat. “Nick Rothman akan pulang esok hari, maukah kau menemuinya?” sambung Antoine.

Mata Charlie bergerak bimbang, semakin tidak mengerti jalan pikiran Antoine. “Untuk apa?”

“Entahlah…,” Antoine menggedikkan bahu. “Hanya kau yang bisa memutuskan. Dan keputusan apakah yang akan kau ambil setelah bertemu dengannya…,” Antoine menghela nafas secara berat. “… Aku pasrah… Sungguh!”

Percakapannya dengan Charlie semalam masih begitu Antoine ingat. Dia bahkan mengingat saat mengantarkan Charlie ke rumah sakit untuk menemui Nick pagi ini. Keduanya sama-sama membisu di perjalanan. Antoine sibuk dengan kemudinya dan Charlie… entah apa yang dipikirkannya. Dalam hati Antoine benar-benar mempersiapkan diri jika Charlie berubah pikiran setelah bertemu Nick.

Tapi sekarang, Antoine tahu kalau Charlie tidak berubah pikiran. Pria itu terkejut melihat Charlie berlari ke arahnya di bukit belakang rumah sakit. Istrinya bahkan menghambur ke pelukannya. Pelukan itu begitu hangat, Charlie mencintainya. Masa depan itu masih ada.

Charlie menangkup wajahnya hingga menunduk lalu mencium bibirnya penuh hasrat dan gairah. “Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu,” ucap Charlie di sela-sela ciuman. Dia membalas dengan tuntutan yang lebih.

“Aku juga sangat mencintaimu, Ma Femme. Percayalah!” Dia mencium istrinya lagi, kali ini lebih dalam dan lama setelah sadar dari keterkejutan. Dan Antoine menyadari, masa depan berpihak pada ketulusan cinta mereka.

 

 

—————————– THE SECRET—————————–

 

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

 

Setidaknya Nick Rothman sudah mendapatkan suaranya kembali. Itu adalah inti dari pengobatannya ke Kanada, bukan? Tak perduli cuci otak urung dilakukan. Perlu setahun bagi Nick untuk memulihkan kondisi fisiknya. Setahun dia harus menjalani terapi untuk menguatkan otot-otot motoriknya, hingga bisa berjalan normal kembali.

Nick berdamai dengan Paoli Harris dan suaminya tentang hak asuh anaknya. Paoli memberinya kesempatan untuk menemui anak itu dua hari dalam seminggu dan dia juga mencukupi kebutuhan anak itu secara financial. Saat production house, salah satu anak perusahaan Bouwens Inc memproduksi drama, Nick Rothman ditawari untuk ikut berakting di dalamnya. Hal itu tak luput dari jasa Robert Cassidy yang meyakinkan produser akan kemampuannya.

Nick merasa banyak berhutang budi pada Robert, karena itu dia merasa harus berterima kasih. Didatanginya kantor Robert dan dia harus menunggu karena Robert sedang ada rapat. Setidaknya itu yang dikatakan sekretaris Robert. Pada saat itulah dia bertemu dengan Jack Hoebe, mantan manajernya.

“Hallo, Tuan Rothman!” sapa Jack Hoebe. Nick mengangkat tangannya sebagai jawaban. Jack duduk di sampingnya lalu menepuk-nepuk pundaknya,”Keadaanmu sudah jauh lebih baik rupanya.”

“Terima kasih atas doamu,” respon Nick.

Jack mengibaskan tangannya. “Ah, jangan sungkan!” Lalu memandang sekeliling ruangan. “Kau tahu? Aku bekerja di sini sekarang, sebagai humas,” pamernya.

“Ya, Aku tahu,” kata Nick datar. “Relasimu sangat banyak, aku rasa Tuan Cassidy tidak salah memilihmu.”

“Ya, begitulah. Gaji yang aku terima lebih besar lima kali lipat dari saat aku bekerja denganmu. Jadi aku minta maaf kalau dulu aku mengkhianatimu.”

Nick Rothman hanya bisa tersenyum garing, “Aku tahu itu. Tidak masalah bagiku. Aku yakin kalau kau sudah kewalahan mengurusku waktu itu.”

Jack menghela nafas lega. “Syukurlah kalau kau mau mengerti.”

Percakapan mereka terputus saat Robert sudah mulai terlihat berjalan mendekati ruang kerjanya, diikuti oleh orang-orang kepercayaannya. Nick dan Jack berdiri menyambut kedatangan Robert lalu membungkuk saat Robert sudah ada di hadapan mereka.

Tentu saja Robert terkejut dengan kehadiran mereka berdua. Terutama terhadap Nick, tidak biasanya Nick mendatangi kantornya. “Tuan Hoebe, Tuan Rothman. What a surprise!”

“Saya kemari untuk menyerahkan berkas ini untuk anda pelajari, Tuan Cassidy,” Jack yang terlebih dulu menyelesaikan urusannya dengan menyodorkan map.

“Oh, apakah ini tentang proyek kerja sama dengan Sean’s Capital?” kata Robert sambil membuka-buka berkas. Jack mengangguk. Robert menutup berkas itu dan menjawab,”Oke, staf ahliku akan mempelajarinya, kau sudah bisa menerima jawabannya besok.”

“Baiklah, Tuan Cassidy. Saya rasa, akan lebih baik kalau saya kembali bekerja.” Jack tahu kalau kalimat Robert barusan berarti mengusir, jadi dia mengundurkan diri. “Senang bertemu denganmu, Nick,” Jack menepuk pundak Nick sebelum meninggalkan tempat.

“Anda punya waktu untuk saya, Tuan Cassidy?”

Robert tertawa seketika. Gaya Nick begitu kaku di depannya. Nick Rothman yang sombong dan angkuh itu sudah banyak berubah. Semua itu membuat Robert geli. Andai saja Charlie melihat semua ini, siapa yang lebih terpuaskan?

“Tentu saja, saya ada waktu sampai jam makan siang,” jawab Robert lalu mengusir para manajer yang masih berdiri di belakangnya.

Dalam semenit, mereka sudah duduk berhadapan di ruang kerja Robert. Nick masih saja mati kutu di depan Robert. Sementara meja kerja Robert yang memisahkan jarak di antara mereka, menjadi saksi bisu kekakuan suasana. Nick melonggarkan dasinya, lalu berdehem untuk menghilangkan rasa canggung. “Saya hanya ingin berterima-kasih atas kebaikan anda selama ini.”

Sama halnya dengan Jack tadi, Robert juga mengibaskan tangan dan berujar, “Ah, jangan sungkan.”

“Ehm…,” Nick agak ragu dengan ucapannya, “Ada hal yang harus saya tanyakan, itu juga kalau anda tidak keberatan.”

Alis Robert menyatu penuh tanya, “Tentu saja, tanyakan saja!”

“Ini tentang Charlotte…,” sekali lagi Nick merasa ragu, “Ah, tidak jadi.”

“Kenapa?” tapi Robert ingin Nick meneruskan percakapan itu.

“Jika Charlie adalah Charlotte, kenapa pengadilan tidak bisa membuktikannya? Bagaimana bisa Charlie mendapatkan akta kelahiran yang meyakinkan keasliannya?”

Robert memajukan badan lalu menumpukan kedua lengan di atas meja. Pembicaraan ini akan sangat panjang dan serius, dia harus memastikan suasana cukup mendukung.

“Ada sepasang saudara kembar, yang dipisahkan oleh peristiwa penculikan bayi beberapa hari setelah mereka lahir.”

“Jadi mereka kembar?”

“Iya, Charlotte terpisah begitu jauh dari keluarganya. Dia korban dari trafficking, tapi untungnya diadopsi oleh saudara jauh Williams Bouwens.”

Nick semakin terkejut, riwayat kehidupan Charlotte ternyata begitu berliku. Robert meneruskan kisahnya kembali. “Kau tahu, kan? Bouwens’ Manajemen juga berkantor di Kanada. Kebetulan, keduanya terdaftar sebagai anak asuh di Bouwens’ Manajemen, bedanya kalau Charlotte di Manajemen yang ada di Korea, sedangkan Charlie di Kanada.

“Keduanya sama-sama berbakat. Tak disangka jiwa seni keduanya begitu kuat, hingga Williams begitu ingin bertemu mereka dan Williams benar-benar bertemu mereka secara terpisah. Tentu saja Williams terkejut, bagaimana mungkin dua orang yang tidak mempunyai ikatan darah bisa begitu mirip, dia merasa ada yang salah, sehingga mulai menyelidiki.

“Dan hasilnya adalah… kesalahan ada di pihak pasangan Whitely, mereka mengadopsi Charlotte secara illegal, dan itu adalah aib yang bisa menghancurkan nama besar keluarga Bouwens, tapi Williams berpikir, jika dia tidak buka mulut, maka orang lain tidak akan tahu. Williams menyimpan rahasia itu rapat-rapat.

“Sementara karier Charlotte semakin gemilang di dunia entertainment. Lalu tawaran berakting di salah satu drama datang padanya. Charlotte merasa ragu menerima tawaran itu, tapi Williams meyakinkannya untuk menerima. Di drama itulah Charlotte bertemu denganmu, dan itu adalah awal mula segalanya.

“Drama itu meledak di pasaran, Williams sangat bangga pada Charlie. Tapi Williams ingin agar drama itu tetap booming lebih lama walau pun sudah habis tayang, setidaknya selama tiga tahunan, lalu Williams mengatur suatu proyek pemasaran rahasia….”

“Blue’s clues,” potong Nick sambil menerawang.

“Oh, jadi anda masih ingat proyek itu, Tuan Rothman?”

Nick mengangguk.

Robert berkoar kembali. “Manajer memberikan pakaian dan aksesoris yang mirip di antara kalian selama tiga tahun, tentu saja semua itu adalah produk dari perusahaan garmen dan perhiasan milik Bouwens’ Inc. dan hasilnya….”

Robert menyatukan telapak tangannya membentuk tepukan, “Fantastis! Para fans dan paparazzi merespon permainan “Blues Clues” lalu mulai berimajinasi kalau kalian ada hubungan. Tentu saja! Bukankah hanya pasangan yang mempunyai baju-baju mirip?”

Lalu Robert menghela napas berat, “Tapi semuanya kacau karena bukan hanya fans yang ikut hanyut dalam permainan, tapi juga kalian berdua. Aku tidak tahu siapa yang memulai, tapi Williams sangat marah saat mengetahui pernikahan diam-diam kalian. Dia berusaha meyakinkan Charlotte  bahwa tindakannya salah, tapi cinta membutakan segalanya.”

Kepala Nick menunduk perlahan. Dialah yang memulai. Dia begitu takut kehilangan Charlotte waktu itu hingga mengusulkan pernikahan diam-diam itu.

“Dan saat semuanya mulai jelas bagi Charlotte siapa sebenarnya  dirimu, dia masih bertahan. Dia menunggumu mengakui pernikahan kalian, hingga kau bertemu lawan mainmu yang baru dan terlibat cinta lokasi baru, semuanya begitu menyakitkan bagi Charlotte. Apalagi saat ibu Paoli Harris, datang padanya untuk menjelaskan tentang kehamilan putrinya, padahal Charlotte juga sedang hamil waktu itu.”

“Cukup!” Nick berteriak keras lalu mulai sesenggukan.

“Kau cengeng sekali, Tuan Rothman. Aku kira hanya karakter di drama-dramamu saja yang seperti itu tapi ternyata… .”

“Dia menyusulku ke Toronto waktu itu dan aku menghinanya! Itulah kelanjutannya! Itulah akhirnya!”

“Belum berakhir, Tuan Rothman! Belum!” Gantian Robert yang berteriak. “Sementara kau kembali dari liburan ‘Toronto’ bodohmu ke Korea, dia masih di sana, patah hati dan terluka, sangat labil dan ingin terjun dari balkon. Kau tahu siapa yang memergokinya? Aku!”

Nick Rothman terkesiap. Bagaimana bisa Robert juga di Toronto?

“Williams sangat kawatir padanya, jadi menyuruhku memata-matainya ke Toronto. Aku segera menelphone Williams perihal percobaan bunuh diri itu, Williams berusaha menghubungi pasangan Whitely untuk menyadarkan putri mereka tapi percobaan bunuh diri kedua terjadi.

“Kau tahu apa yang dia lakukan, Tuan Rothman? Menegak racun serangga! Tapi dia selamat dan sebaliknya, bayi dalam kandungannya meninggal, karenanya dia jadi merasa bersalah. Dia merasa telah membunuh makhluk yang tidak berdosa itu, dia semakin kacau dan mabuk-mabukan, lalu kecelakaan itu terjadi.”

Nick bangkit dan meraih kerah baju Robert, “Dan kau… Kau tahu semua itu dan diam saja!” katanya berapi-api.

“Setelah menelphon Williams, beliau memerintahkanku kembali ke Korea. Aku tidak ada di Toronto waktu kecelakaan itu terjadi, tapi Williams menceritakan semuanya padaku sebagai keponakan yang paling dia percayai. Mungkin semua ini takdir, mobil yang ditabrak oleh Charlotte adalah mobil Charlie, saudara kembar yang belum pernah dia temui sekali pun. Charlie meninggal beberapa jam setibanya di rumah sakit dan Charlotte koma dengan kemungkinan hilang ingatan setelah tersadar.”

Nick melepaskan cengkeramannya di leher Robert dan terduduk lesu kembali di kursinya.

“Williams beranggapan, akan lebih baik jika Charlotte sadar, dia hidup sebagai Charlie. Williams merasa bersalah, jika saja dia tidak memaksa Charlotte menerima tawaran drama itu, Charlotte tidak akan bertemu denganmu, dan semuanya tidak akan terjadi. Ada kemungkinan Charlotte hilang ingatan setelah bangun dari koma, jadi dia meyakinkan d’Varney, yang pada waktu itu menangani mereka berdua, melakukan pertukaran antara Charlie dan Charlotte.”

“Kenapa dia harus melakukan itu? Dia hilang ingatan, kenapa harus memalsukan kematian?” Nick masih tidak terima.

“Karena jika dia hidup sebagai Charlotte, lingkungan Charlotte akan menarik ingatannya kembali padamu, dan bisa dipastikan… dia semakin depresi. Karena itu selama dia koma, d’Varney menjejalkan memory Charlie di otaknya, orang tua kandung mereka, pasangan Adams, dengan senang hati berbagi kenangan tentang putrinya pada Antoine, itu sangat memudahkannya. Tentu saja mereka tidak tahu siapa putri yang sedang tertidur panjang itu.

“Ketika Charlotte tersadar, dia terlahir kembali sebagai Charlie dan keluarga Adams membawa Charlie kembali ke rumah mereka. Untuk tetap bisa mengawasi Charlotte, Williams menikahinya sebagai Charlie Adams.”

“Lalu pasangan Whitely…, mereka tahu semua ini?”

“Iya, mereka tahu. Karena itu Williams menikahi Charlotte agar mereka bisa melihat Charlotte walau pun hanya dari jauh karena Williams mengancam mereka, akan membocorkan pada yang berwajib kalau mereka mengadopsi Charlotte secara illegal.”

Robert menghela nafasnya kemudian, “Itulah ceritanya, Tuan Rothman. Tentang wanita yang sama-sama kita cintai, Charlotte Whitely, atau Charlie Adams atau Charlie Bouwens dan sekarang … Charlie d’Varney.”

“Tunggu!” Nick mengangkat tangannya, “Dia sama sekali tidak mengenaliku ketika di Kanada, padahal kami sudah pernah bertemu ketika dia sebagai Charlie Bouwens, seharusnya dia mengenaliku. Apakah dia mengalami cuci otak?”

Robert mengangguk. “Sebagai Charlie Bouwens yang teringat pada masa lalunya denganmu, dia sangat membencimu, dia benci karena kau membuat Williams, yang selama ini dianggapnya sebagai pelindung meninggal. Selama menjadi Charlie Bouwens, Williams mengajarinya menjadi wanita yang ambisius, karena itu dia berambisi untuk membunuhmu. Aku tidak tahu hal itu, sampai dia merelakan semua harta kekayaan Bouwens padaku, aku mulai curiga.

Dan ternyata kecurigaanku benar. Orang suruhannya yang membuat rem mobilmu blong. Ya… walau pun kau juga tengah mabuk waktu itu. dan hal yang terakhir yang dia lakukan untuk membunuhmu sebelum pulang ke Kanada adalah… Dia menyuruh seseorang untuk menyuntikkan zat beracun ke cairan infusmu. Aku mengetahuinya sebelum semuanya terlambat. Aku menyimpulkan kalau obsesinya sudah sangat membahayakan, dia jadi seperti… entahlah… maniak?… Psikopat?… Entahlah…” Robert menggedikkan bahu. “ Karena itu aku menyuruh orang untuk menangkapnya. Aku terlalu kasihan untuk memenjarakannya, toh kamu juga belum mati. Karena itu, aku mengusulkan agar dia dicuci otak.”

Nick semakin terbelalak. Dia sangat tidak percaya kalau Charlotte tega mencelakainya. Oh ya, tentu saja, siapa yang tidak sakit hati dia perlakukan seperti itu. “Dan d’ Varney melakukan semua itu,” kesimpulan Nick.

“Bukan!” tegas Robert.

“Bukan?”

“D’ Varney memendam cintanya pada Charlotte, dia tidak obyektif dan menolak mencuci otak Charlotte. Jadi aku menyuruh orang lain tanpa sepengetahuan D’ Varney.”

“Siapa?”

“Asisten d’ Varney, dokter Stacy Longbotom!”

“Stacy?”

Robert mengangguk. Nick seakan tak percaya. Stacy? Asisten yang kelihatan kikuk itu?

“Saat mengetahui semua itu, d’Varney sangat marah, tapi terlambat. Stacy malah meyakinkannya kalau inilah saatnya d’Varney meraih cinta Charlie. D’Varney mengancam Stacy untuk melaporkan semuanya ke mahkamah profesi, tapi Stacy bisa meyakinkannya kalau tindakannya sudah seijin keluarga Charlie. D’Varney pun tidak bisa berbuat apa-apa.” Robert membuka kedua tangannya di udara lalu menyandar di kursinya. “Karena itu, Nick Rothman… , mana yang kau pilih? Charlotte yang terpuruk karena kisah cinta tragisnya denganmu? Charlie Bouwens yang berambisi membunuhmu karena sangat membencimu? Atau….. “ Robert memajukan tubuh kembali ke meja untuk menekankan pertanyaannya, “Charlie d’ Varney yang penuh cinta dan dilimpahi cinta oleh suaminya serta akan menantikan kehadiran anak?”

Nick tersedu lagi. Robert memutar bola matanya bosan. Cintanya juga ditolak oleh Charlie, tapi dia tak secengeng Nick. “Tentu saja pilihan terakhir yang terbaik, tapi dia sama sekali tidak mengingat cinta kalian.”

Lalu tangan Robert menggapai tangan Nick di seberang meja. “Relakan dia, Nick Rothman. Percayalah, dia sangat bahagia sekarang. Antoine d’Varney akan menjaganya dengan baik.”

Nick Rothman benar-benar harus melupakan cintanya. Dia mulai menganggap perumpamaan “Bahwa cinta tak harus memiliki” itu benar. Padahal dulunya dia mengira itu hanyalah ungkapan penghiburan bagi orang-orang yang kalah bercinta. Dia kalah bercinta karena kebodohannya sendiri. Dia terlalu silau dengan perak hingga menyia-nyiakan emas yang sudah di genggaman. Dia memutuskan melupakan hasratnya dalam cinta, lebih mendalami kesibukan kerohanian di gereja dan mendekatkan diri dengan putranya.

Charlie melahirkan anak pertamanya secara normal. Firasatnya selama ini benar. Anaknya laki-laki. Keluarga d’Varney menyambut gembira bayi itu. Mereka memberinya nama “Jonathan Louis d’Varney”. Seorang bayi laki-laki yang montok dan menggemaskan, menjadi bintang di keluarga d’ Varney. Antoine sangat memuja bayi itu, bahkan terlalu memanjakannya, hal itu membuat Charlie sedikit kawatir.

Antoine mengundurkan diri dari dewan direksi rumah sakit, dan menyerahkan kursi direktur pada Stacy. Kelegalan praktek cuci otaknya terkubur selamanya dan kembali hanya sebagai wacana. Dia memusatkan diri sebagai akademisi di University of Toronto.

Universitas itu akhirnya menobatkan Antoine menjadi guru besar di bidang Neurologi.  Jonathan, atau yang biasa mereka panggil Nathan sudah mulai belajar berjalan.  Antoine sudah menggendong Nathan di ujung tangga lantai bawah sementara Charlie, masih ribet di dalam kamar entah untuk apa. Tentu saja Antoine sedikit tidak sabar. Pagi ini penobatannya, dia sudah cukup canggung berlatih  untuk pidatonya di auditorium nanti dan sekarang harus menunggu Charlie yang lelet.

“Ma Femme, hurry up! We can be late!” teriak Antoine untuk kesekian kalinya.

“Sebentar!” teriak Charlie lagi.

Antoine mendengus. Nathan di gendongannya memandangi wajah juteknya dengan mata coklat kemerahan yang ekspresif. “What? Your mom will make us late!” kata Antoine pada Nathan dengan ekspresi mendelik yang dibuat-buat. Bayi itu tertawa sambil melengkungkan tubuh ke belakang, menunjukkan empat gigi mungilnya yang baru tumbuh. Antoine merasa gemas lalu menciumi perut Nathan. Bayi itu semakin meliuk-liuk di gendongan Antoine karena geli.

Charlie menuruni tangga dengan tergesa sambil menenteng tas besar. Tas itu berisi perlengkapan Nathan. Antoine bernafas lega. Dia mengambil alih tas berat di tangan Charlie lalu menyampirkannya di bahu. “Berangkat!” serunya.

“Tunggu! Toganya sudah kau siapkan?” tanya Charlie.

“Sudah tergantung di jok belakang!” jawab Antoine.

Antoine mendudukan Nathan di kursi khusus di jok belakang, memastikan sabuk pengaman rancangan khusus dari kursi itu terpasang aman di tubuh Nathan. Dia tak lupa meletakkan tas perlengkapan Nathan di samping bayi mungil itu lalu menutup pintu. Sesaat dia sudah duduk di kursi kemudi dan Charlie sudah duduk di sampingnya.

“Lets Go!” seru Antoine sambil menoleh ke belakang, menggoda Nathan tentu saja. Bayi itu terkekeh lagi. Charlie jadi sewot. “Ayo cepat, nanti terlambat!” protesnya.

Antoine meringis gaje lalu menghidupkan mesin. Mobil memasuki padatnya lalu-lintas Toronto beberapa saat kemudian.  Antoine menyetir mobil sambil bersenandung, kali ini dia tampak sangat bahagia.

“Senang banget kelihatannya?” goda Charlie. Antoine menoleh pada Charlie sebentar lalu kembali memandang jalan raya, “Hari ini istri dan anakku akan menyaksikan penobatanku, tentu saja aku sangat gembira.”

Charlie tersenyum, lalu dia menyadari kalau arah mereka salah. Jika ingin cepat, seharusnya Antoine memilih belok kanan tapi Antoine malah lurus. “Bukankah akan lebih cepat sampai kalau tadi kita belok kanan? Waktunya tinggal seperempat jam lagi,  Sayang.”

Antoine terkikik. “Siapa bilang… Acara baru dimulai satu jam lagi. Kau berhasil tertipu, hahahaha.”

Charlie mencubit perut Antoine karena kesal, membuat Antoine meringis kesakitan. “Ah! Teganya kau membuatku terburu-buru. Kau tidak tahu betapa sulitnya aku menahan mual karena anak keduamu ini?” omel Charlie. Kehamilan keduanya, membuatnya berubah jadi galak.

“Aduh, Sory, Baby… Really.”

“No! Tidak ada maaf bagimu!”

“Ayolah, Sayang… gitu saja marah…”

Nathan tertawa melihat tingkah orang tua yang di jok depan. Charlie menoleh padanya. “Apa, Sayang…? Senang, ya… karena Papa bohongin Mama?” Charlie melirik Antoine yang sekarang bersiul-siul tambah tidak jelas. “Besok kalau sudah besar, jangan kau tiru perbuatannya, ya… ingat!”

“Iya, Mama,” Antoine bersuara seolah-olah Nathan yang menjawab. Charlie tambah sewot lalu mencubit perut Antoine semakin keras. “Au!” teriakan Antoine semakin keras juga dan Nathan semakin tergelak sambil menggerak-gerakkan kakinya.

Penobatan bersifat resmi, anak kecil tidak boleh masuk, terpaksa Charlie pun tidak bisa masuk. Mereka tidak bisa meninggalkan Nathan tanpa pengawasan walau pun terdapat penitipan bayi. Charlie memilih duduk-duduk di taman, di depan layar raksasa yang menayangkan jalannya acara di Auditorium. Dengan begitu, dia masih bisa menyaksikan Antoine berpidato. Nathan didudukan di meja taman yang terbuat dari semen di depannya. Antoine yang memilihkan tempat itu bagi mereka sebelum masuk auditorium dan sepertinya bayi itu cukup tenang di sana, sesekali dia meloncat-loncat dalam duduknya, melihat Ayahnya berpidato.

“Iya, Sayang… Itu Papa yang pidato,” ucap Charlie sambil mencium pipi bayinya. Lalu memegang salah satu mainan yang dia sebar di sekitar Nathan dan memainkannya di depan wajah Nathan. “Pesawat terbang! Wush!”

Nathan tertawa lagi. Nathan adalah bayi yang sangat bahagia. Bayi itu mewarisi sifat tenang Antoine walau pun kulitnya lebih mirip Charlie. Matanya yang coklat kemerahan sangat mirip Antoine dan lesung pipit yang Charlie yakini mirip dirinya.

Charlie mendongak saat ada seseorang mendekatinya, berdiri menjulang di depannya dengan senyum ramah, Nick Rothman.

Nick menyapa Charlie. Dua tatapan mata terarah padanya, yang satu berwarna hitam, yang satu coklat kemerahan. Mungkin karena ketakutan, empunya mata coklat kemerahan itu merengek dan memeluk ibunya.

“Oh, Sayang. Jangan takut, ini hanya…,”

“Maaf membuat anak anda takut, Nyonya d’Varney,” sesal Nick.

“Oh, tidak apa. Duduklah, Tuan…”

“Nick Rothman, anda lupa?” kata Nick sambil duduk di kursi di seberang meja taman.

Charlie berusaha mengingat-ingat, “Tuan Rothman? What a surprise! Anda kelihatan lebih baik dari saat terakhir kita bertemu.”

“Begitulah!” Nick menggedikan bahu.

“Apa yang membuat anda mengunjungi Toronto?” kata Charlie sambil menyodorkan dot susu ke mulut Nathan. Anak itu mulai tenang dan meminum susunya.

“Hanya urusan amal gereja,” jawab Nick. “Saya dengar hari ini dokter d’Varney dinobatkan jadi guru besar, karena itu saya kemari untuk mengucapkan terima kasih. Karena jasanya saya sembuh.”

“O,” Charlie membulatkan mulutnya.

“Anak anda sangat lucu,” kata Nick sambil memperhatikan Nathan yang masih ngedot.

Charlie mengangguk. “Antoine sangat memujanya. Dia semakin memanjakannya. Aku tidak tahu apakah setelah adik Nathan lahir, Antoine masih memanjakannya.”

“Jadi anda hamil?”

Charlie mengakui itu sambil tertawa malu-malu. “Aku harap anak kedua ini perempuan. Biar Nathan bisa bertanggung jawab menjaga adiknya. Biasanya anak laki selalu melindungi adik perempuannya. Iya kan, Sayang?” Charlie memandang wajah Nathan.

“Jadi namanya Nathan?”

“Iya, Jonathan Louis d’Varney. Nama ayah Antoine digabung dengan nama kakeknya.”

Tiba-tiba Nathan melonjak-lonjak senang. “Pa.. pa…,” berceloteh sambil tangannya mengacung-acung. Bayi itu  yang paling pertama tahu kalau Papanya sudah keluar dari auditorium dan berjalan ke arah mereka. Nick melihat semua itu dengan kekaguman. Anak itu sungguh cerdas, mampu mengenali kehadiran Ayahnya secepat itu. Antoine menggendong bayi itu dan membungkuk untuk mengecup pipi Charlie.

“Sudah selesai, Sayang?” tanya Charlie. Ngobrol dengan Nick membuatnya terlena, tak terasa acara suaminya sudah selesai.

Antoine mengangguk, lalu menyerahkan piagam penghargaannya pada Charlie. Dia menyipit saat menatap Nick.

“Saya Nick Rothman, dokter,” kata Nick memperkenalkan diri.

“What? Oh, My God! Unbelievable. You look better then few year ago!” seru Antoine menjabat tangan Nick.

“Iya, Dokter. Berkat anda.”

“Ah, Anda yang berusaha mencari kesembuhan sendiri. Berterima-kasihlah pada Tuhan.”

Nick mengangguk. Antoine menoleh pada Charlie yang masih duduk, “Sayang, teman-teman mengadakan pesta kecil-kecilan di kantorku, mereka menunggu kita,” lalu menoleh pada Nick, “Anda juga diundang, Tuan Rothman.”

Tapi ternyata Nick menolak undangan itu. “Tidak, terima kasih. Saya ada urusan lain yang harus segera diselesaikan.”

“Oh, Sayang sekali,” sesal Charlie.

“Saya sangat tersanjung, tapi saya benar-benar tidak bisa.”

Kedua suami-istri itu berpandangan. “Baiklah kalau begitu,” kata Antoine. “Sampai jumpa lagi. Kalau ada waktu ke Toronto, mampir ke rumah kami.”

Nick tahu kalau kalimat Antoine hanya basa-basi. Dia hanya mengangguk. Antoine segera mengajak anak dan istrinya meninggalkan taman. Nick melihat Antoine begitu melindungi Charlie. Antoine bahkan membantu Charlie memasukkan kembali mainan-mainan Nathan ke dalam tas, lalu menyampirkan tas itu di pundaknya, padahal masih menggendong Nathan. Charlie hanya membawa map yang tadi dia sodorkan. Sekali lagi ketiganya saling mengucapkan kata perpisahan. Nathan merebahkan kepala dengan nyaman di bahu Antoine dan masih mengedot. Lalu pasangan suami istri itu berjalan berangkulan menuju gedung dimana ruang kerja Antoine berada.

Nick Rothman memperhatikan semua itu dengan perasaan lega. Lega kerana orang yang dicintainya telah menemukan kebahagiaan hidup. Lega kerana Charlotte tidak lagi membencinya.

Angin dingin bertiup. Nick tiba-tiba merasakan rasa nyeri dan seperti terbakar di dadanya. Dia menekan dadanya yang sakit itu, meringis menahan derita sampai terbungkuk-bungkuk, hingga terkapar tak sadarkan diri.

Charlotte Whitely mungkin sudah memaafkannya, tapi Williams Bouwens… Semua itu bagaikan kutukan bagi Nick kerena sekarang… dia harus merasakan apa yang diderita Williams Bouwens dengan penyakit jantungnya.

TAMAT

MET IEDUL ADHA, YA…

BAGI DAGING KORBANNYA, DUNK…LUMAYAN BUAT NAMBAH TENSI GUE, BIAR TAMBAH EMOSIAN, HAHAHAHAHA

MAKASIH DAH MENGIKUTI CERITA INI DARI AWAL SAMPAI AKHIR

SISICIA

😉