THE SECRET II (Temptation of Island — part 3)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 3

Robert sempat terpaku saat menemui Charlie di pavilyun hotel yang ditempati Antoine selama di Bali. Wanita itu…, wanita yang sempat mengisi kehidupannya sebagai istri sang paman, kini berdiri di depannya sebagai Charlie d’Varney. Wajah Charlie tampak mendung karena Camille. Mata lebar itu membengkak, entah berapa kali dia menangis. Robert hanya mampu menjabat tangannya. Berusaha meyakinkan bahwa Camille pasti ditemukan, bahkan memamerkan tim pencari yang dia bentuk bersama Brian.

“Terima kasih, Tuan Cassidy,”  tersendat-sendat, Charlie mengucapkan itu. Setelah itu membenamkan tangis kembali di dada Antoine, suaminya. Robert menghela nafas. Ingin rasanya berteriak, “Ini aku, Bibi. Tidakkah kau mengingatku?”

Tapi tidak mungkin. Robert yakin benar, lebih baik Charlie melupakan masa lalunya. Sementara Brian yang mendampingi Robert, memperhatikan keluarga yang tengah berduka itu tanpa ekspresi. Di pikirannya, dia merasa jika Camille sangatlah beruntung. Ayah, Ibu dan Kakaknya begitu mengkawatirkannya. Apalagi saat pihak berwajib menerangkan keadaan sekarang  dengan bahasa Inggris yang kaku.

“Semenjak gempa Jogja tahun 2006. Memang ada pergeseran lempeng dari Samudra Hindia. Bali bahkan pernah mengalami gempa dengan kekuatan 7,6 skala Richter, semenjak itu terkadang terjadi gempa susulan. Kasus yang terjadi pada putri anda, kemungkinan badai terjadi akibat gempa dari Samudra Hindia. Apalagi saat kejadian itu, bulan dalam posisi sempurna.”

Charlie semakin terduduk lunglai mendengar penjelasan itu. Antoine merasa, hal ini terlalu menyedihkan bagi istrinya sehingga menyuruh Nathan mengantar Ibunya menuju kamar.

“Ma Femme, kau pasti sangat capek. Akan lebih baik kalau kau dan Nathan beristirahat. Bukan begitu, Nathan?” Antoine menoleh pada Nathan, mencari dukungan.

“Yes, Mom. Aku antar Mom ke kamar.”

“Tidak, aku ingin mendengar semuanya.” Rupanya Charlie terlalu keras kepala. Robert tersenyum tipis, menyadari jika masih terdapat sisi Charlie Bouwens di diri Charlie d’ Varney.

“But, Mom…

“Enough,  Nathan! Stop thinking I am weak!” Charlie memberi peringatan dengan mata melebar.

Nathan mati kutu. Robert merasa perlu menengahi keributan kecil itu. “Nyonya d’Varney,” bahkan Robert merasa kaku memanggil Charlie dengan sebutan itu. “Jika kata-kata saya cukup menenangkan anda. Mungkin anda bisa membantu kami dengan beristirahat. Saya lihat anda begitu lelah, bahkan semenjak saya memasuki ruangan ini.”

“Jadi anda menganggap kalau saya hanya menyusahkan?”

Ups! Ternyata Charlie menanggapi salah ucapan Robert. Antoine merangkul Charlie, bahkan menepuk-nepuk lengan wanita itu agar lebih tenang.

“I am sorry, Madam,” kali ini petugas itu angkat bicara. “Please, believe us! Saat ini, tim SAR kami sedang menyisir perairan. Bantulah kami dengan doa anda. Saya yakin doa Ibu untuk putrinya selalu di dengar oleh Tuhan.”

Charlie terkesiap oleh kata-kata pria itu. Doa seorang Ibu. Tentu saja, saat ini Camille membutuhkan doanya. Charlie merasa bodoh. Kenapa harus orang asing yang mengingatkannya.

“Di mana aku bisa menemukan kapel?”

Semua orang di ruangan itu melega saat mendengar ucapan Charlie. Setidaknya mereka terbebas dari Charlie yang cengeng di ruangan itu untuk sementara waktu.

“Kau bisa berdoa di kamarmu, Sayang. Percayalah, Tuhan ada di mana saja,” sekali lagi Antoine membujuk. Brian memperhatikan interaksi suami-istri itu. sekali lagi dia merasa iri. Seandainya saja kedua orang tuanya seperti itu, bukannya orang tua yang berbagi hak asuh karena tidak pernah menikah.

“Nathan,” panggil Antoine. “Antarkan Ibumu.”

Nathan menghela nafas. Setiap kali ada masalah, selalu dia yang harus menenangkan Ibunya. Bahkan jika kedua orang tuanya bertengkar, Nathan selalu menjadi pihak mediasi bagi keduanya. Kenapa bukan Camille? Kenapa selalu aku? Huft! Nathan memutar bola matanya.

“Oke, Dad!”  Seperti biasa, Nathan tak pernah menolak perintah Antoine walau pun hatinya enggan. Pemuda itu segera berdiri dan mengulurkan tangannya pada sang Ibu. “Mom… .”

Charlie memandang tangan Nathan yang terulur. Nathan menggerakkan tangannya dengan mimik wajah untuk meyakinkan ajakannya. Charlie menyambut uluran tangan putranya lalu berdiri. Keempat  pria yang lain di ruangan itu juga berdiri menyongsong kepergian Charlie. Antoine memberikan ciuman perpisahan pada istrinya. “Istirahatlah, Sayang.”

Charlie tersenyum enggan. Robert dan Brian membungkuk, memberi salam perpisahan. Perbincangan dilanjutkan setelah itu. Lebih serius dari sebelumnya.

“Bagaimana hasilnya sampai di sini?” Antoine tampak tidak sabar.

“Kami masih berusaha, Tuan d’ Varney. Sebenarnya, karena badai kemaren, bukan hanya putri anda yang mengalami nasib naas. Petugas terpecah untuk mengatasi yang lainnya,” terang sang petugas. Antoine berusaha tegar. Rasa bersalah akibat menghilangnya Camille semakin merajai benaknya. “Katakan sebenarnya. Berapa persen kemungkinan putriku ditemukan?”

Petugas itu berkata lirih. “Jangan bicara angka di sini, Tuan d’ Varney. Kami sama sekali tidak tahu.”

Robert kembali meyakinkan sahabatnya. “Jangan kawatir. Jika petugas pantai tidak bisa menemukannya. Tim independent bentukanku pasti bisa!”

Antoine mengalami tekanan hebat. Tapi demi Charlie, dia berusaha tenang. Setelah pembicaraan itu, Antoine menuju kamar. Agak lega hatinya saat melihat sang istri meringkuk di ranjang, dengan posisi kepala di pangkuan Nathan. Perlahan pemuda itu menggeser kepala Charlie menuju bantal lalu beranjak keluar kamar.

“Mau kemana, kau?” suara Sang Ayah menghentikan langkah Nathan.

“Mengamati bagaimana tim penolong itu mencari adikku.” Nathan mengamati sang Ayah yang duduk di samping Charlie demi mencium keningnya. “Dad,” panggil Nathan.

“Hm..,” Antoine masih mengamati Charlie yang terlelap.

“Mom very shock!”

“I know,” respon Antoine sambil mengelus lembut dahi istrinya. “I can’t imagine if we can’t find Camille. She won’t forgive me.”

“Dad, Why did you let Camille go alone?”

Dan itulah yang benar-benar disesali Antoine. “I don’t know, Nathan.”

Nathan mengangkat bahu. Musibah ini benar-benar mengejutkan mereka. Nathan melihat tim SAR lokal memang disibukkan oleh hilangnya beberapa orang akibat badai itu. Dia juga tahu kalau tim pencari bukan hanya dibentuk oleh petugas pantai dan Robert Cassidy tapi juga oleh Brian setelah mencuri dengar pembicaraan di antara para kru pantai.

“Kira-kira mereka memerintahkan pencarian sampai kapan?”

Nathan pura-pura acuh, padahal telinganya bisa menangkap ucapan salah seorang yang ada di situ.  Apalagi, pria itu bicara dalam bahasa Halyu. Salah satu bahasa yang dikuasainya. Mungkin pria itu merasa kalau Nathan tidak mengerti ucapannya sehingga dengan tenangnya membicarakan gossip yang tentu saja baru dimengerti oleh Nathan.

“Sepertinya sampai gadis itu ditemukan. Aku dengar Brian mendapat suntikan dana dari Bouwens Inc,” jawab teman dari kru pertama yang bicara. Nathan masih berlaku seolah-olah menikmat ombak pantai.

“Ah, Brian Rothman…., anak itu pasti sudah sangat tergila-gila dengan gadis ini,” perkataan itu diikuti oleh tawa serempak para kru yang lain.

Nathan mengkerutkan kening. Dia beranjak dari area gossip itu, mencari keberadaan Brian. Pria itu ada di sisi lain pantai saat Nathan menemuinya, memberikan komando pada timnya.

“Bisa bicara sebentar?”

Brian terkejut saat Nathan menepuk pundaknya. Lebih terkejut lagi karena pemuda di depannya mampu berbahasa Halyu dengan fasih. “Tentu saja, Tuan Muda d’ Varney,” Brian menjawab dengan membungkukkan badan.

Nathan tersenyum geli. “Tuan Muda? Seperti itukah kau akan memanggilku?”

“Iya, maaf jika anda keberatan.”

“Ya, aku keberatan,” Nathan bersedekap. “Jangan terlalu formal. Panggil saja aku Nathan.”

Persis seperti adiknya, pikir Brian.

“Bisa kita bicara di tempat yang enak?” Nathan merasa percakapan di pinggir pantai, dengan banyaknya kru pantai di sekeliling mereka, bukanlah hal yang nyaman.

“Baiklah, kita bisa bicara di… balkon itu?” Brian menyetujui ajakan Nathan sambil menunjuk salah satu sisi balkon hotel yang menghadap ke pantai. Nathan mengangguk dan segera menuju tempat itu.

“Aku dengar kau juga membentuk tim pencari khusus untuk adikku?” tanya Nathan saat mereka sudah duduk nyaman di balkon.

Brian mengangguk. Sesaat dia mengamati beberapa kru yang mulai terjun ke laut dengan kapal bermesin milik Bouwens Inc demi mencari Camille.

“Kau dekat dengan adikku selama di Seoul?”

Brian mengkerutkan dahi. “Ada masalah dengan hal ini?”

Nathan mengangkat bahu. “Aku tidak pernah tahu segala romantika adikku. Tapi bisa kupastikan kalau daya tarik Camille memang susah untuk dihindari.”

Brian menyipitkan mata, berusaha mencerna segala ucapan Nathan. “Adik anda baik pada saya selama di Korea.”

“Oke, aku ucapkan terima kasih atas semua usahamu mencari adikku.”

“Bouwens Inc ikut bertanggung-jawab atas hilangnya Camille, Tuan muda. Sekedar info, kapal  yang ditumpangi Camille adalah milik Bouwens Inc.”

Apa-apaan ini? Bouwens Inc? Kapal milik Bouwens Inc? Jadi orang ini hanya mencari kapal karam? Nathan menarik kesimpulan dari ucapan Brian. Yang tak disadari Nathan adalah Brian berusaha menutupi perasaan dan mengalihkan perhatian dengan membicarakan kapal. Tapi Nathan cukup tahu kalau pria itu jatuh cinta pada adiknya. Dua kali Brian menyebut nama Camille tanpa rasa sungkan.

Nathan menghela nafas. “Kau memanggil adikku seperti itu. tapi kau memanggilku Tuan muda?” Nathan mengibaskan tangan. “Terserahlah.”

Nathan berdiri dari kursinya lalu meninggalkan balkon begitu saja. Brian menghela nafas lega. Perilaku menginterogasi dari Nathan sungguh  sangat merepotkan.  Brian belum siap jika harus ditanya tentang perasaannya pada Camille. Dia bahkan tidak yakin jika Camille mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.

Malam yang datang masih disibukkan oleh pencarian terhadap orang-orang yang hilang karena badai. Brian masih menunggu kabar dari laut lepas tentang pencarian Camille. Dia berjalan di sepanjang pantai yang pasang dengan handphone di tangan. Bulan menguning di perairan. Bulan setengah, berbeda dengan bulan yang terjadi saat badai. Jika saja Brian berada di tempat ini dalam suasana yang lebih menyenangkan, mungkin saja segalanya serasa berbeda.

Langkah Brian terhenti saat melihat sosok yang berdiri beberapa kaki di depannya. Charlie d’Varney melamun, menatap kosong ke arah ombak yang berkejaran menuju pantai. Bahkan gelapnya malam tak mampu mengkelamkan sinar kemilau dari kulit wanita itu. Wajahnya yang mendung karena kehilangan Camille, belum mampu menutupi keayuan akibat sifat keibuan yang dimilikinya.

Wajah itu selalu berada di benak Brian selama ini. Wajah yang mengganggu pikirannya semenjak dia temukan pada sebuah potret yang tersimpan di dompet ayahnya. Brian diam-diam mengagumi wajah itu, dan berpikir kalau wanita inilah yang dicintai Ayahnya. Wanita yang membuat sang Ayah rela melajang.

Sempat juga Brian menanyakan kelemahan Ayahnya itu. Beberapa kali dia menggoda sang Ayah dengan pertanyaan konyol. “Jika Ibu saja bisa menikah dengan Ayah Harris dan punya anak sebanyak itu, kenapa ayah tidak?”

Sang Ayah tersenyum mendengarnya. Brian baru berumur tiga belas tahun waktu itu dan pertanyaan itu tentu saja dianggap lucu.

“Apakah karena wanita itu?” perkataan Brian langsung terarah pada potret yang diam-diam dia temukan di dompet ayahnya.

“Wanita? Wanita yang mana?”

“Wanita yang ada di dompet ayah. Dia sangat cantik. Apakah dia calon istri Ayah?” terdengar keantusiasan dari nada bicara Brian.

“Jadi kau diam-diam membuka-buka dompet Ayah?”

Brian mati kutu. Sang Ayah memberikan pandangan memperingatkan. Dengan takut-takut, Brian pun meminta maaf. Ayahnya hanya tersenyum sambil mengelus kepalanya.

Dan sekarang, wanita itu ada di depannya. Brian sempat terkesiap melihatnya pertama kali di pavilyun. Wajah itu tak berubah selama bertahun-tahun. Perlahan Brian mendekati Charlie. Brian bisa mendengar desahan  suara Charlie. Wanita itu sedang berdoa. Memohon agar putrinya terselamatkan. Memohon masih ada kesempatan lagi melihat putrinya hidup, tak kurang suatu apa pun.

Saat mata Charlie terbuka, Brian sudah ada di sampingnya. Charlie menoleh pada Brian dan pemuda itu membungkuk hormat.

“Oh, Anda…,” Charlie teringat percakapannya dengan Nathan dan Antoine tadi sore. Dari situ, Charlie tahu kalau Brian membentuk tim pencari untuk Camille. Charlie merasa perlu untuk berterima kasih. “Nathan bercerita kalau anda memprakarsai pencarian untuk Camille. Saya benar-benar berterima kasih.”

“Saya tidak akan berhenti sampai Camille ditemukan.”

Charlie menangkap adanya harapan dibalik suara Brian. “Terima kasih. Anda tahu benar kalau hal itu sangat berarti bagi saya. Camille sangat rapuh. Saya bahkan hampir kehilangannya saat dia lahir.”

Air mata Charlie mengalir lagi. Sebenarnya bukan hanya Camille yang hampir tak terselamatkan, tapi juga nyawanya sendiri. Karenanya mereka sekeluarga begitu melindungi Camille.

“Percayalah pada saya, Nyonya. Camille pasti ditemukan.”

Brian meraih tangan Charlie dan menganggukkan kepalanya, memberikan kepastian pada wanita itu.

“Saya akan membantu anda,” ucap Charlie kemudian.

“Membantu?” Brian menyipitkan mata.

“Berikan saya salah satu tim anda. Saya akan mengkoordinir dari darat.”

Brian sangsi jika Charlie bisa melakukannya. Mimik wajah Brian menyiratkan hal itu.

“Percayalah pada saya. Hanya satu tim. Tidak akan merepotkan anda, Nak.” Charlie berusaha meyakinkan Brian.

“Baiklah. Hanya satu tim.”

“Oh,” hati Charlie lega mendengarnya. Serasa salah satu beban berat mulai terangkat. Charlie menautkan jari-jari tangannya di dada. Bibir Charlie mulai menyunggingkan senyum. Brian terpana. Senyum itu sungguh menawan. Mirip senyum Camille. Pantas saja jika sang Ayah begitu mendamba wanita ini. Bahkan rela melajang seumur hidup, laksana pungguk merindukan bulan.

“Ma Femme…”

Panggilan itu membuat keduanya menoleh. Antoine berdiri lima langkah dari mereka.

“You are not at room. I am so worry,” Antoine memegang kedua bahu Charlie dan menatap penuh kasih seperti biasanya. Charlie tersenyum lepas untuk pertama kalinya semenjak sampai di pulau ini dan itu karena Brian yang menjanjikan satu tim pencari Camille untuknya.

“I am sory. Aku hanya berpikir kalau mungkin jalan-jalan bisa menenangkan,” Charlie tidak berniat menceritakan pembicaraannya dengan Brian. “Pemuda ini menemaniku,” lanjutnya sambil menunjuk Brian.

“Brian,” jawab Antoine.

“Iya, Tuan.”

“Terima kasih telah menemani istriku.”

Brian mengangguk. Charlie menempelkan jari telunjuk di mulut sebagai isyarat agar Brian merahasiakan pembicaraan mereka barusan. Sekali lagi Brian mengangguk, menjawab isyarat itu. Antoine melirik curiga pada istrinya dan Charlie buru-buru menyembunyikan isyarat itu.

“Ma Femme, bisakah aku membawamu masuk sekarang? Aku bisa gila kalau terus-terusan mengkawatirkanmu.”

Charlie mengangguk walau pun merasa kalau kalimat Antoine terlalu berlebihan. “Tentu saja. Aku juga sudah sangat lelah. Aku perlu tidur nyenyak untuk menyongsong esok.”

Menyongsong esok untuk mengkomando tim pencari Camille, tentu saja. Charlie membatin.

Charlie berbalik pada Brian. “Terima kasih atas pembicaraan yang menyenangkan, Nak.”

“Sama-sama, Nyonya.”

Brian membungkuk hormat saat Antoine merangkul Charlie. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan Brian yang terpaku. Tak seorang pun tega merusak keromantisan suami-istri itu, termasuk Ayahnya. Kini Brian mengerti.

 

—oOo—

“Kau sudah bangun?” pria itu mendekati kepala Camille saat terlihat wanita itu mulai membuka mata. Semakin lama, Camille bisa melihat kalau goa itu sudah agak gelap dari sebelumnya. Hanya penerangan api yang keluar dari dua bilah bambu yang menghasilkan cahaya temaram di gua itu.

“Mom…, please, wake me up…,” Camille masih saja berharap semuanya ini mimpi. Pria di depannya menyodorkan batok kelapa padanya. “Drink it. I am sure you need it.” Bahkan pria itu mengubah bahasanya saat tangan kanannya menyangga kepala Camille agar lebih mudah minum.

Kiranya Camille akan merasakan air kelapa tapi ternyata air tawar yang tertampung di batok kelapa itu. Air itu berasal dari air terjun. Pria itu mengambilnya sesaat setelah Camille terbaring lagi di goa. Sempat dia terkejut saat kembali ke air terjun. Rupanya dia tidak sendiri. Sekawanan monyet sudah menguasai areal itu. Dia berkesimpulan kalau monyet-monyet itu pasti turun mencari air jika hari semakin panas. Sempat dia kebingungan bagaimana caranya menampung air saat akhirnya dia melihat tingkah unik seekor monyet yang mengambil air dengan batok kelapa. Pria itu menirunya, mencari pohon kelapa di sekitar pantai dan kebingungan lagi saat menemukan kelapa yang jatuh begitu saja karena tidak ada alat  yang digunakan untuk membelah setelah mengupasnya. Dengan keputus-asaan, dia membanting kelapa itu di atas batu karang yang tajam lalu bersorak girang karena kelapa itu terbelah.

Ya, Tuhan, kenapa aku harus belajar dari para monyet? Sebagai ABK senior, tentu saja dia diajari cara bertahan di alam liar dari kursus pecinta alam tapi sekarang ini lain. Tidak ada pisau lipat serbaguna yang selalu terselip di pinggangnya, inilah yang menyulitkan. Pengalaman dengan kelapa dan batu karang tadi memberinya inspirasi. Dia mencari pecahan batu yang berujung pipih sebagai pengganti pisau yang akan dibawanya ke mana pun selama berada di pulau ini.

Dia juga membuat tanda di pantai. Dia menyobek sedikit lengan bajunya lalu mengikatnya di sebilah ranting yang kiranya cukup kuat dan menancapkan bendera sekedarnya itu di pasir. Cukup dalam supaya angin tidak mudah merobohkannya. Di pasir, dia membuat tulisan “SOS” besar agar cukup jelas jika terlihat dari pesawat. Besok dia akan membuat tulisan itu lagi jika laut pasang  menghapusnya. Dia lalu masuk kembali ke hutan untuk mengambil persediaan air dan makanan.

Camille terbatuk-batuk, saluran kerongkongannya belum siap menerima air setelah pingsan selama lima jam.

“Be carefull,” pria itu menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. “Do you want to eat? Are you strong enough to eat?” tawarnya.

Camille menggeleng lalu berbaring kembali. Pria itu menempatkan batok kelapa di samping kepalanya lalu bergerak di satu sisi goa itu, mengambil lima biji pisang untuk Camille. “Eat is if you want,” katanya. Camille mengangguk tapi belum berminat pada pisang itu.

Pria itu meraba keningnya. “Syukurlah dia tidak demam,” desahnya. Bahasa Halyu!

Camille memperhatikan keadaan goa ketika pria itu membenahi daun-daun kering yang dijadikan alas bagi Camille tidur. “Bagaimana…. kau bisa… membuat obor?”

Pria itu menghentikan aktifitasnya untuk menoleh ke obor di pintu masuk goa. “Aku menemukan tanaman jarak, aku tampung getahnya.” Dia lalu memastikan lagi daun-daun itu menghangat untuk Camille dengan meninggikan tumpukannya. “Tidurlah lagi kalau kau tidak berminat makan.” Pria itu bahkan tersenyum.

Saat ini Camille mulai mengingat perkataan Ibunya di dalam mimpinya, “Everything gone be oke. Everywhere you are…, good people always take care of you.”

 Mungkinkah pria ini yang dimaksud?

“Namamu… siapa namamu?” Camille belum mau tidur sebelum tahu nama pria itu.

“Shin Hyun kwang,” jawab pria itu.

“Sin… Yu..  ,” ah.. nama korea memang terlalu asing baginya. Orang ini bahkan tidak mempunyai nama barat.

“Panggil saja Kwang.”

Itu lebih mudah diingat, pikir Camille. Dia tersenyum lalu mulai memejamkan mata. Dia merasa semuanya aman sekarang. Setidaknya karena berpikir “Kang” adalah orang baik.

Malam itu Camille tidur lagi sampai pagi. Dia terbangun saat mendengar kicauan burung. Agak kesulitan untuk duduk karena tulang punggungnya terasa kaku. Dia belum terbiasa dengan tempat tidur alam buatan “Kang”. Lalu di mana pria itu? ‘tempat tidur’ pria itu sudah kosong.

Perut Camille berbunyi. Sementara keberadaan ‘Kang’ teralihkan. Dia menatap pisang dan sebatok air di dekatnya. Rasa lapar membuat tangan Camille meraih pisang. Tanpa pikir panjang lagi, pisang itu tenggelam dalam kunyahannya. Rasanya yang manis membuat lidah Camille semakin nyaman. Tak terasa dia sudah menghabiskan lima buah. Sudah berapa hari sebenarnya aku kelaparan? Dia berpikir demikian saat minum tergesa-gesa dan akhirnya tersedak.

Perut yang kenyang membuat Camille teringat lagi pada ‘Kang’. Dia keluar dari goa. Sesaat rimbunnya hutan menyambut penglihatannya lagi. Tidak ada ‘Kang’ di sekitar goa. Camille berjalan menuju air terjun dan menemukan ‘Kang’ di sana, berusaha menangkap ikan dengan ‘tongkat’.

“Apa yang kau lakukan?”

Pria itu jadi sebal karena konsentrasinya buyar. Dia mengangkat tongkat yang dipegangnya lalu memanggulnya di pundak. Camille memperhatikan tongkat itu. ujung yang masuk ke air ternyata terdapat batu runcing yang diikatkan dengan akar kering. “Itu tombak?” Camille menunjuk ujung yang berbatu runcing.

“Kau sudah sehat?” bukannya menjawab, ‘Kang’ malah bertanya balik.

“Lumayan. Terima kasih, ‘Kang’.” Camille tersenyum dengan sungguh-sungguh.

“Kang? Semalam aku menyuruhmu memanggilku ‘Kwang’ bukan ‘Kang’.”

Di sini bola mata Camille bergerak kebingungan. “Kang?”

“Kwang.”

“Bolehkah aku memanggilmu ‘Kang’? Itu lebih mudah diucapkan,” Camille memang merasa sulit mengucap huruf w di tengah nama pria itu. Tidak umum sepertinya.

“Kau bisa mengucap huruf w itu seperti kau bilang ‘Quality’ dalam bahasa Inggris.”

Ya ampun, sampai kapan percakapan tentang nama berlangsung?

“Kau mencari ikan? Sudah dapat?” Camille berusaha mengalihkan perhatian dari pembicaraan ‘nama’ yang membosankan.

“Belum seekor pun! Makanya jangan menggangguku dengan ocehanmu. Ambil jarak dariku kalau mau mandi, jangan membuat ikan-ikan ini takut!”

Bibir Camille monyong beberapa centi mendengar omongan Kang. Pria itu sudah berancang-ancang untuk menusuk air lagi.

“Kang, buat apa tumpukan kelapa itu?” Camille menunjuk lima butir kelapa yang teronggok di tepi sungai. Kang jadi jengkel. Sekali lagi ikan yang akan ditusuk terlepas. “Itu air untuk persediaan malam ini.”

Camille bergerak ke kelapa yang tertumpuk. Langkah kakinya membuat aliran sungai bergerak bebas, membuyarkan kerumunan ikan yang sedianya akan ditusuk Kang dengan tombak. “Hei! Kau membuat ikan-ikan ini takut!”

Camille tak menggubris. Kang semakin uring-uringan. “Kemaren sepertinya dia sangat lemah, kenapa sekarang lincah sekali?”

Camille memperhatikan kelapa itu. Kang hanya membuat lubang berdiameter lima centimeter di setiap kelapa. Camille mengangkat sebiji kelapa lalu meneropong bagian dalam kelapa. Daging kelapa sudah dihilangkan Kang sehingga tinggal cangkang dan serabut luarnya saja.

Kang memperhatikan tingkahnya. “Kau pengen minum air kelapa?” tanya Kang.

Camille menoleh pada Kang yang mulai berjalan mendekatinya. “Di mana daging buahnya?” tanyanya saat Kang sudah di depannya.

“Oh.., aku membungkusnya di daun itu,” Kang menunjuk sesuatu di batu besar. “Kau mau?”

Camille menggeleng. Kang menuju kumpulan ikan lagi yang sekarang tentu saja komunitasnya sudah jauh berkurang kerana ulah Camille.

“Kau aktifis pecinta alam?” tanya Camille.

Kang mulai berancang-ancang menusuk air lagi. Dia tidak menggubris ocehan Camille. Dia berkonsentrasi penuh. Satu ikan saja, dan itu cukup untuk makan malam, dengan Camille tentu saja. gadis itu tidak mungkin makan terlalu banyak. Dan….. jlep! Behasil! Ikan itu menggelepar-gelepar di ujung tombak.

“Yuhuuu!!!” Kang bersorak. Camille berlari ke arahnya. Ikut senang. “Kau dapat! Kau dapat!”

“Malam ini kita makan ikan!”

Tapi rupanya Kang salah. Camille makan seperti orang kelaparan. Gadis itu bahkan memonopoli bagian ikan yang berdaging banyak. Alhasil, Kang hanya kebagian sedikit daging di bagian kepala ikan. Dia meringis melihat Camille yang menjilat-jilat jari tangannya sebagai ganti mencuci tangan. Lalu harus puas dengan pisang sebagai tambahan pengganjal perut sementara Camille mengelus-elus perutnya yang agak buncit dengan tersenyum. Senyum orang kekenyangan.

“Kau mau minum?” Camille menuangkan air dari kelapa ke batok kelapa yang terbelah setengah. Hari mulai gelap. Sebentar lagi mereka harus masuk ke dalam goa yang sudah terang karena obor sudah dinyalakan  Kang satu jam yang lalu. Mereka memang makan di depan api unggun di mulut goa. Kang tidak bodoh dengan membiarkan asap membuat pernafasan sesak jika memasak di dalam goa.

Kang memperhatikan Camille yang menyodorkan air minum di depannya. “Silahkan..,” bahkan Camille tersenyum manis. Dia berusaha melayaniku setelah hanya duduk-duduk saja selama aku memasak? Sayangnya tidak ada  piring kotor yang harus dicuci.  Mungkin itu tanda terima kasih Camille.

“Terima kasih,” Kang meraih batok kelapa lalu menenggak air di dalamnya. Camille menuangkan air ke batok kelapa yang lain. Kali ini untuk dirinya sendiri.

“Kau orang korea?”

Kang memberikan anggukan untuk menjawab.

“Seoul?”

“Jeju.”

“Oh,” Camille manggut-manggut. “Kang, kira-kira sampai kapan kita terdampar di sini?” Camille meringis  dengan kenyataan itu. Pulau ini memang menyenangkan tapi mereka benar-benar terasing dari peradaban.

“Aku tidak tahu. Bahkan berandai-andai kita di mana juga susah. Pulau ini dikelilingi air.”

Camille jadi tertunduk lesu. Kang menepuk-nepuk bahunya. Camille melirik tangan Kang yang ada di bahunya, sesaat dia teringat pada Antoine. Sang ayah juga sering berlaku seperti itu jika menenangkannya bahkan Ibunya. “Jangan kawatir. Aku sudah membuat tanda di pinggir pantai. Besok kita harus memperjelas lagi tulisan ‘SOS’ di sana.”

Camille hanya bisa manggut-manggut walau pun wajahnya masih lesu. Kang memadamkan api unggun lalu memberesi sisa makanan dan dua batok kelapa yang terbelah setengah. “Bawa kelapa itu kalau masuk goa,” perintahnya pada Camille lalu masuk ke goa.

Sekali lagi Camille mengangguk. Dia tidak langsung masuk goa. Dia masih duduk berpangku tangan di dagu, meratapi nasib sambil memandang kelapa yang seharusnya dibawa masuk ke goa. “Mom…, Dad…, Are you looking for me? Please, God! Give me an opportunity to meet them again.” Camille menutup mata, mendoakan keinginannya.

“Hei, Anak manja… masuklah! Hari sudah mau gelap!” Kang mengomel dari dalam goa.

“Iya.. iya…,” Camille bersungut-sungut. Dia menjinjing kelapa itu di pinggangnya lalu memasuki goa. Tempat mereka bernaung lagi malam ini. Sampai kapan? Seperti yang Kang katakan tadi. Mereka berdoa tidak tahu. Mereka terpencil. Di pulau aneh yang menawarkan sejuta sorga. Bahkan terdampar di lautan luas. Hanya setitik saja jika terlihat di udara. Dan tim penyelamat pun susah mendeteksi keberadaan pulau itu.

 

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s