THE SECRET II (Temptation of Island — part 4)

THE SECRET II
(Temptation of Island)
Part 4

Camille melihat Kang sudah menata daun-daun sebagai tempat tidur saat dia meletakkan kelapa bersama tumpukan kelapa yang lain. Langsung tidur ketika hari masih sore? Yang benar saja? batin Camille. Merasa diperhatikan, Kang bertanya walau pun matanya masih tertuju pada daun-daun kering, “Kenapa? Ada yang salah?”

Camille duduk di ‘tempat tidur’ bagiannya. “Kau mau langsung tidur?”

“Menurutmu?” Kang berbaring di atas daun-daun kering yang ditatanya menjadi tempat tidur yang nyaman.

“Bisakah kita ngobrol?”

Kang tersenyum tipis lalu melipat tangan sebagai alas kepala,”Aku sudah tahu semuanya tentangmu. Kau adalah costumer kami. Kami ditugasi untuk melayanimu dengan baik selama berlayar jadi… kami cukup tahu siapa kau.”

Camille duduk memeluk lutut untuk menghalau udara malam yang makin dingin. “Oh, ya? Memangnya siapa aku?”

Kang menoleh ke arah Camille. “Camille Louis d’Varney, putri Antoine d’ Varney, kau berumur delapan belas tahun. Mahasiswa tahun pertama Fakultas Kedokteran, University of Toronto. Pergi ke Bali untuk mengisi liburan musim panas. Agak manja, terkadang pendiam tapi kalau sudah kenal dengan orang cerewetnya minta ampun.”

Camille terkikik sambil menutupi mulut. “Oh, ya? Lalu, kau pikir semua itu benar?”

“Bagian cerewetnya benar, tapi bagian pendiamnya…,”Kang mengibaskan tangan. “Tidak! Kau jauh lebih menjengkelkan.”

“Kau pikir aku akan diam saja denganmu padahal kau satu-satunya manusia di pulau ini?”

Kang menghela nafas. Tapi perkataan Camille barusan benar juga.

“Ada yang salah dari infomu. Umurku akan sembilan belas Desember nanti. Memang sedang masa liburan musim panas di Kanada tapi aku ke Bali bukan untuk liburan. Bosmu…, maksudku Robert Cassidy, mengundang Ayah ke Seoul. Ayah mengajakku. Seminggu di Seoul, bosmu mengajak kami ke Bali.” Camille mendadak jadi kesal mengingat dia tidak begitu berminat untuk berlayar. “Andaikan saja aku tidak ikut… .”

Ya…, andai saja. Itu pasti lebih baik, mungkin aku terdampar sendirian di sini, pikir Kang.

“Lalu kau? Ceritakan tentang kau! Keluargamu pasti mengkawatirkanmu,” Camille merasa kalau dia perlu mengenal Kang. Pria itu sudah mengenalnya secara garis besar, jika dia igin mengenal penolongnya itu… apa salahnya?

“Aku tidak punya keluarga.”

Dahi Camille mengkerut seketika. “Orang tuamu sudah meninggal?”

Kang membalikkan tubuh, membelakangi Camille. “Aku tidak suka membicarakan masalah ini!” Camille heran karena Kang tiba-tiba jadi ketus. Ada apa?

“Jadi kau pria misterius dari Jeju, begitu?” agak kesal juga yang terdengar dari nada bicara Camille. Kang masih saja berbaring membelakanginya.

“Oke.., kalau memang kau tidak mau membicarakannya.”

“Tidurlah,” bukannya meladeni kekesalan Camille, Kang malah menyuruh tidur. Camille bisa mendengar kalau pria itu menguap. “Aku sangat lelah setelah bekerja seharian. Kau-nya enak, cuma duduk-duduk saja melihatku memanggang ikan.”

“Aku belum ngantuk!” Camille bersungut.

Kang mengeluarkan suara dengkuran. Sengaja dia melakukan itu agar Camille berhenti mengajak ngobrol. Bibir Camille jadi mayun. Dia memandang ke sekeliling goa. Titik-titik air yang terjatuh dari langit terdengar dari dalam goa. Makin lama suaranya semakin jelas, tanda kalau hujan di luar semakin deras. Air yang tergenang di mulut goa semakin banyak, bahkan menggenangi seperempat bagian goa.

“Kang…, airnya masuk,” Camille panik sambil menggoyang-goyangkan pundak Kang. Mimpi yang baru saja dialami Kang buyar seketika. Kang ikut-ikutan panik. “Pindah ke tempat yang kering!” teriak Kang sambil menarik lengan Camille menuju dataran yang lebih tinggi di dalam goa.

Air benar-benar menggenangi seluruh goa. Camille dan Kang duduk berdempetan di atas batu. Masing-masing meringkuk dengan memeluk kaki dan saling membelakangi. “Sepertinya besok kita harus mencari tempat berlindung yang lebih kering,” ujar Kang. Camille manggut-manggut di belakang Kang.

Mereka sama-sama tertidur dengan bersandarkan punggung masing-masing. Memang tidak nyaman. Untungnya batu itu cukup tinggi sehingga banjir tidak mencapai mereka. Saat mereka terbangun keesokan harinya, banjir sudah surut tapi tanah di goa jadi becek. Persediaan makanan dan air dalam batok kelapa sudah tidak pada tempatnya. Sebelumnya mereka meletakkan semua itu di atas batu. Mengingat batu itu satu-satunya tempat kering dalam goa, Kang menjatuhkan semuanya dalam satu sapuan semalam lalu naik ke atasnya bersama Camille.

“Persediaan pisangnya tergenang lumpur,” kata Camille sambil mengangkat satu pisang yang sudah berlumuran lumpur. Kang terkekeh pelan. “Aku harap kau terbiasa tidak sarapan.”

Kang mengumpulkan batok-batok kelapa yang tersebar di sekitar goa. “Jika malam ini hujan lagi dan kita belum mendapatkan tempat lain, matilah!”

Kang berpikir, hujan semalam pasti sangat deras. Mungkin ada badai lagi di laut lepas. Kang jadi teringat tanda SOS dan bendera buatannya yang tertancap di pantai. Bagaimana nasib kedua tanda itu? Kang ingin melihatnya. Dia menyerahkan batok-batok kelapa yang sudah terkumpul pada Camille. “Cuci semua ini di sungai dan isi lagi dengan air.”

“Kau mau kemana?” agak kewalahan Camille meraup batok-batok kelapa itu yang diletakkan begitu saja di kedua lengannya.

“Ke pantai!” jawab Kang sembari keluar goa. Mata Camille membulat, mengikuti gerakan tubuh Kang yang semakin menjauh. “Ke pantai?” Camille teringat kalau semalam Kang bercerita tentang tanda SOS yang dia buat di pasir. “Oh…, jadi itu.” Camille manggut-manggut. Dia keluar goa, pergi ke air terjun seperti yang diperintahkan Kang.

Seperti yang dikawatirkan. Tanda ‘SOS’ sudah terhapus laut pasang. Bahkan bendera buatannya raib. Alam menunjukkan kuasanya lagi. Kang menyepak-nyepak pasir dengan kesal. Tidak mungkin dia menyobek lengan baju yang satunya lagi. Semalam lengan kanannya lebih kedinginan dari yang kiri karena tidak tertutup baju. Kang memikirkan cara lain. Alam yang menghapus tanda buatannya, alam juga yang harus mengganti.

Kang mengumpulkan batang-batang bakau yang mengering dan daun nyiur yang terjatuh di sepanjang pantai. Diikatkannya daun nyiur di setiap batang bakau sampai terkumpul banyak bendera. Dia menancapkan bendera-bendera itu berjajar di satu sisi pantai lalu sekali lagi menuliskan tanda ‘SOS’ di pasir. Kapal penolong pasti bisa melihat orang tedampar di sini, pikirnya.

Kang berkacak pinggang, tersenyum puas melihat hasil kerjanya, lalu masuk kembali ke hutan. Kang tidak langsung menuju goa. Ini waktunya mencari tempat berlindung yang lain. Kang mengelilingi hutan sampai sisi lain dari pulau. Bahkan dia berpapasan dengan kawasan monyet. Areal yang dihuni binatang primata itu lebih didominasi oleh pohon-pohon berkayu kuat yang lebat. Kang bisa melihat mereka berteduh dibalik rimbunnya daun pepohonan. Kang berdoa jika saja ada pohon semacam itu di tempat yang jauh dari kawasan monyet. Sekali lagi dia belajar dari para monyet. Sial! Siapa sebenarnya makhluk paling sempurna di bumi ini?

Kang benar-benar menemukan pohon yang dimaksud. Dibagian timur pulau, terdapat dua pohon beringin besar yang saling berjajar. Batang kedua pohon itu saling menyatu di tengah-tengah. Kang berpikir, jika dia bisa menyisihkan sebagian batang sebagai jalan masuk, lalu membuat dinding di kedua sisinya, sudah terbangun rumah pohon. Sampai di sini Kang kebingungan, dari mana dia bisa mendapatkan dinding? Persediaan kayu di sini cukup banyak, tapi tidak ada alat untuk menumbangkan pohon-pohon itu. Buntu lagi!

Seperti yang diperintahkan Kwang, Camille mengumpulkan persediaan air. Dia menepuk-nepuk tangan, puas karena sudah melaksanakan tugas dengan baik. Tinggal sekarang dia kebingungan, duduk di atas batu di tengah goa, bertumpang dagu. Perut laparnya berbunyi. Tidak ada yang bisa dimakan. Pisang-pisang yang terbenam lumpur sudah tersingkirkan. Menunggu Kwang? Bisa-bisa dia tidak makan.

Rasa lapar mendorongnya keluar goa lagi. Entah dimana Kwang mendapatkan pisang, Camille pikir kalau dia bisa menemukan tempatnya. Sepanjang jalan, dia malah kebingungan. Dia tidak bisa begitu saja memetik. Macam buah di pulau ini banyak, tapi dia tidak tahu mana yang layak makan. Kebingungan membuat rasa lapar teralihkan. Kini Camille lebih memperhatikan macam-macam tumbuhan yang dia lewati, baik itu di kiri-kanan mau pun di bawah.

“If only Dad permitted me to choose Biology,” Camille menggerutu. Sebelum masuk kuliah, Camille bersitegang dengan Antoine. Camille ingin masuk fakultas Biologi disebabkan ketertarikannya pada ilmu tumbuhan, tapi Antoine lebih suka dia masuk fakultas kedokteran. Bahkan ketika Camille berganti pikiran untuk masuk fakultas Farmasi dengan alasan ada jurusan farmasi bahan alam di sana, Antoine tetap tidak setuju. Alhasil, Camille kuliah kedokteran asal-asalan. Prestasinya di semester pertama memang bagus. Tapi dia sama sekali tidak menikmati kuliahnya. Jika saja Antoine mengijinkannya masuk fakultas biologi, Camille pikir, dia tidak akan merasa kesulitan mengidentifikasi tanaman di pulau ini dari morfologinya.

Makin lama kepala Camille menunduk. Bayangan tentang Antoine membuatnya bersedih. Sang Ayah yang memanjakannya itu memang terkadang keras. Tapi kini dia merindukannya. Camille berharap bisa bertemu lagi dengan keluarganya. Tak memperhatikan jalan, Camille menubruk tanaman di depannya dan terjatuh. Camille meringis sambil menepuk-nepuk lutut yang kotor oleh tanah dengan kepala mendongak menatap tanaman yang sukses membuatnya terjerembab. Camille memetik satu helai daunnya. Tepi daun itu bergerigi, permukaannya berbulu, dengan tulang daun simetris dan bentuk yang mirip hati. Dia menelusuri dahan tanaman itu. Camille menggerak-gerakkan batangnya yang lunak itu, berdiameter sekitar 10 mm.

“Rami. Ini rami?” Camille menyipitkan matanya. Sepertinya memang rami. Camille mengumpulkan batang rami muda sebanyak-banyaknya. Dia bahkan menjaga agar batang-batang itu tidak patah dengan mencabutnya secara hati-hati.

Lima belas menit kemudian. Saat dia sampai di goa, dia membebaskan batang-batang rami dari daunnya. Dengan bantuan dua ranting kering yang dia patahkan hingga mempunyai panjang yang sama, dia mencoba merajut tangkai-tangkai rami itu. Ternyata tidak mudah melakukannya. Rami, tanaman dengan nama latin Boehmeria nivea, L. GAUD ini, Camille pernah membaca kalau serat rami digunakan untuk bahan tekstil, tapi tentu saja ada proses kimiawi panjang yang musti dilakukan, mulai dari memisahkan kulit rami dari batangnya, lalu kulit batang yang terkupas dilakukan proses degumming sampai pada proses cutting. Dan merajut begitu saja batang rami muda, jika terlalu kuat menarik akan patah. Merajut tidak akan berhasil. Bagaimana dengan menganyam? Liburan musim panas tahun lalu, Camille dan Charlie tertarik mengikuti kursus menganyam daun kelapa di Hawai. Sang Ibu lebih jago darinya karena lebih sabar, tapi hasil anyaman Camille juga lumayan. Camille yakin menganyam rami lebih mudah daripada merajut.

Untung saja dia masih ingat tehniknya. Jika ini berhasil, setidaknya ada selimut untuk malam ini. Camille jadi geli mengingat kejadian semalam. Dia dan Kang sama-sama duduk memeluk lutut di batu. Kedinginan dan tidak nyaman.

Rupanya menganyam lebih membuahkan hasil. Dalam waktu setengah jam, selimut sudah mencapai setengah panjang yang dia harapkan. Saat itulah Kang datang. Pria itu langsung minum dan meliriknya sambil meletakkan batok kelapa pada tempatnya. “Apa yang kau lakukan?” Kang mendekati Camille dan memegang lembaran selimut rami.

“Kau kira apa? Membuat selimut.”

Alis Kang bertaut. Anak manja ini bisa menganyam?

“Kau bisa menganyam?” Kang mengelus tangkai rami yang saling terkait kuat, jika dilihat sekilas, tentu orang tidak menyangka bahan selimut itu.

“Kau kira aku hanya anak manja yang menyusahkanmu saja?” Camille jadi sewot. “I have a lot of skill that you don’t know!” Bibir Camille membentuk ejekan.

“Berarti kau bisa menganyam janur kelapa juga?” Tiba-tiba Kang teringat pohon temuannya.

“Jika tangkai rami yang licin saja bisa, apa lagi daun kelapa yang kaku.”

“Binggo!” Kang menjetikkan telunjuk dan jempol tangan kanannya. Masalah bahan dinding rumah pohon selesai. Oh, bukan hanya dinding, tapi mungkin juga atap.

“Setelah selesai dengan selimut. Aku akan menyediakan janur sebanyak-banyaknya. Anyamlah sebanyak mungkin. Aku memerlukannya untuk dinding dan atap,” Kang terlalu bersemangat. Dia tidak sadar kalau Camille malah kebingungan.

“Dinding dan atap? Kau mau membuat rumah?”

Kang sadar kalau Camille sama sekali belum tahu rencananya. Kang duduk di sebelah Camille dan mulai bercerita. “Aku menemukan pohon yang cocok untuk dijadikan rumah.”

“Pohon dijadikan rumah? Maksudnya?”

Kang mengibaskan tangan jengkel. “Ah, pokoknya, aku akan membuat rumah pohon! Kau pasti akan tahu jika ku tunjukkan bentuk pohonnya. Menjelaskan di sini tanpa melihat pohonnya hanya membuang-buang waktu.” Kang berdiri cepat. Kepala Camille mendongak cepat juga, mengawasi gerak-geriknya. “Aku akan mencari janur sekarang juga.”

“Ya…, carilah juga buahnya, karena aku sudah sangat kelaparan,” Camille mengucapkan kalimat itu sambil mendesah. Kang menepuk jidat. “Ya, ampun. Kenapa kau tidak mencari makan sendiri?”

Camille meletakkan anyamannya lalu berdiri berkacak pinggang. “Halo…. Memangnya ada restoran buka di sini?”

“Aish!” Kang keluar goa dengan uring-uringan. Dasar anak manja!

—oOo—

Badai semalam membuat pencarian terhadap beberapa orang hilang dihentikan. Dan yang membuat Antoine kecewa adalah mundurnya tim SAR lokal dari upaya pencarian Camille. Antoine bahkan terkejut saat mereka mengabarkan ditemukannya bangkai kapal yang ditumpangi Camille. Seorang petugas bahkan memastikan tidak ada yang selamat dalam musibah itu. Kapal hancur lebur. Otopsi mengatakan beberapa komponen kapal ternyata tidak layak. Di sini Antoine semakin uring-uringan. Dia menemui Robert di ruang kerjanya dan menggebrak meja. “Kau memberikan kapal rongsokan pada putriku?”

Robert masih saja dengan ketenangannya yang tak terkalahkan. “Kapal itu adalah kapal baru keluaran Bouwens Inc. Hasil uji coba mengatakan keberhasilannya 95%.”

Antoine tambah kesal, Robert malah menjelaskan keunggulan kapal sialan itu. “Dan musibah putriku adalah salah satu dari yang 5%?” Rahang Antoine menegang.

“Aku minta maaf atas putrimu, D’ Varney,” ucapan Robert benar-benar penuh penyesalan.

“Oh, ya? Jelaskan permintaan maafmu itu pada Charlie kalau begitu! Dia tidak akan memaafkanmu seumur hidup!”

Robert memijit-mijit pelipis. Menghadapi Charlie sendirian? Dia takut salah ucap, semuanya terbongkar dan Charlie kembali pada keterpurukan. Antoine terduduk lemah di kursi di depannya. “Seandainya saja aku tidak mengajak Camille.”

“Akan lebih baik kalau Charlie tidak tahu berita ini,” saran Robert benar-benar tak masuk akal. Bagaimana bisa di saat berita sedang hangat-hangatnya?

“Kau gila! Aku merasa bersalah karena menyebabkan Camille hilang dan sekarang kau mau menambah rasa bersalahku dengan menyuruhku berbohong padanya?”

“Apa salahnya? Kau bahkan berbohong padanya selama bertahun-tahun dengan memalsukan masa lalunya,” Robert tak mau kalah.

“Oh, jadi ini semua dendam lama? Kau masih mencintai istriku? Karena itu kau tidak menikah?” Tangan Antoine terkepal. Selama ini bukan hanya Nick Rothman bahaya latennya, melainkan Robert yang lebih mempunyai banyak kartu struck.

“Kau cemburu d’ Varney?” Robert tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. “Kau bahkan sudah berumat-tangga dengannya selama lebih dari dua puluh tahun dan masih saja cemburu dengan kisah lama.”

Merasa diperolok, Antoine bangkit dari kursinya. “Persetan!” Baru lima langkah dia menuju pintu, perkataan Robert membuatnya berhenti. “Aku tidak menyuruhmu berbohong, setidaknya kau bisa menutupi berita ini sampai dia siap mendengar. Sebagai suami, kau pasti tahu betul kapan dia siap.Skreening semua info yang bisa dia dengar. Aku yakin betul kalau itu juga keahlianmu.”

Roman muka Antoine berubah bimbang. Namun dia tidak menoleh lagi. Ditinggalkannya ruangan Robert dengan berjuta pikiran yang berkecamuk. Dia berpikir seribu kali untuk kembali ke pavilyun. Dia bahkan ragu Charlie belum mendengar kabar ini. Dia sudah tahu kalau Brian memberikan satu tim pencari Camille dari Robert dan sekarang tim itu berada dalam komando ganda antara Charlie dan Brian.

Kebimbangan Antoine sudah diprediksi oleh Robert. Tim itu tidak sepenuhnya dalam kendali Charlie. Masih ada Brian di situ dan Brian adalah orang kepercayaannya. Robert sudah menghubungi Brian sebelum kemunculan Antoine di ruangannya. Memberi perintah yang tidak bisa diganggu gugat, Charlie tidak boleh tahu berita ditemukannya bangkai kapal dan kemungkinan Camille tak terselamatkan.

Pencarian Camille oleh tim Bouwens Inc tetap dilakukan. Itulah info yang berhasil ditangkap Antoine di perjalanan menuju pavilyun. Dia terduduk lemah di teras pavilyun. Seakan tenaganya lenyap sebelum menemui Charlie.

Charlie di kamarnya terlihat sibuk di depan peta dan hitungan navigasi yang dipelajarinya secara instan. Lima menit yang lalu Brian mengabarkan kalau tim mereka sedang menyisir ke salah satu pulau Indonesia yang berbatasan dengan Australia. Tidak ada kabar manusia terdampar. Mereka sekarang menyisir pulau terdekat lainnya.

Nathan selalu ada didekatnya. Pemuda itu bahkan lebih cepat tanggap terhadap ilmu navigasi. Dia menganggap semua itu mengasyikkan. Mereka bekerja tanpa sepengetahuan Antoine. Selalu ada pelayan yang ditugaskan untuk berjaga di depan pintu kamar. Pelayan itu akan memberi kode ketukan di pintu tiga kali jika Antoine datang.

“Mom, How long will we do this?” Nathan meletakkan bolpoin di atas peta. Aktifitas itu memang menyenangkan tapi mereka tidak bisa selamanya di Bali. “Summer will end, Mom.”

Charlie masih tetap mencermati peta. Menarik garis antara pulau satu dengan pulau lain dan mengkonversi skala dengan jarak sesungguhnya.
“What will you do if we find Camille death?”

Giliran Charlie yang meletakkan bolpoinnya. “Don’t say that. Don’t break my faith.”

“What faith?”

“Faith that Camille is still a live. She still life at one of the islands!” Camille menunjuk-nunjuk kumpulan pulau di depannya.

“But we must go home! Summer will end. I have lecture after this.”

Charlie menghela nafas. Beberapa hari ini dia memang mengabaikan Nathan. Semua ini karena Nathan dianggap lebih kuat dan lebih mandiri dari adiknya. Tapi dia tidak akan beranjak dari Bali sebelum Camille ditemukan. “Just go home! Both of you, you and your Dad. I will be here until Camille is found.”

Nathan terperangah mendengarnya. Dia ingin menyela tapi ketukan pintu tiga kali membuat mereka gelagapan. “Hide all of this!” dalam waktu singkat peta digulung. Peralatan navigasi masuk dalam tas. Nathan memanggul tas itu di punggungnya. Memungut gulungan peta dan segera keluar kamar.
Antoine masih berjalan di tangga. Tampak tanpa tenaga untuk menemui Charlie. Dia sempat melihat sekelebat sosok Nathan keluar dari kamarnya. Mereka sembunyi-sembunyi lagi, batin Antoine.

Nathan terlalu dekat dengan Ibunya. Antoine merasa perlu memberi-tahu Nathan akan rencananya. Rencana kalau dia akan merahasiakan berita ditemukannya puing bangkai kapal dan kemungkinan Camille tidak selamat sampai Charlie dianggap siap mendengar. Antoine mengirim pesan di handphone Nathan. Jawaban Nathan sangat cepat, dia terkejut dan tidak setuju dengan rencana itu, selain itu dia tidak terbiasa berbohong pada Ibunya. Antoine bahkan harus berhenti di tengah tangga untuk membalas pesan lagi. Dia menyuruh Nathan pulang saja ke Toronto jika tidak ingin semuanya terbongkar. Nathan setuju, kuliah memang sudah menanti.

Di kamar, Charlie duduk menyambutnya dengan pelukan. Lebih mesra dari kemaren-kemaren karena harapan tim pencarinya akan menemukan Camille. Antoine menatap mata penuh binar Charlie dan semakin sedih jika binar itu redup.

Tapi mata itu keburu menangkap kegalauan di mimik wajah Antoine. “Ada apa, Monsieur?” Antoine menggeleng. Charlie mengikutinya berdiri menghadap jendela. Laut tampak tenang setelah hujan lebat semalam. Charlie tidak boleh tahu, Antoine memantapkannya dalam hati. “Ma Femme, ada yang kau sembunyikan?” entah apa maksudnya berkata begitu, dia sendiri juga tidak tahu. Dia benar-benar bingung.

Charlie kaget. Bagi Charlie, pertanyaan Antoine adalah pancingan. Antoine sudah tahu tim pencari yang disembunyikannya, itulah kesimpulan Charlie. “Kau sudah tahu?”

Mata Antoine bergerak bimbang. Dia tidak bermaksud membelokkan keadaan, tapi kesalahpahaman Charlie membuat percakapan yang seharusnya tanpa arti jadi berlanjut.

“Ada tim yang berada di bawah komandoku dan Brian.” Charlie mengamati wajah Antoine yang menoleh padanya. “Pemuda yang ngobrol denganku di pantai waktu itu. Do you remember?”

Antoine mengangguk. Charlie meraih tangannya dan menciumnya. “Kau tidak marah, kan? Aku sembunyi-sembunyi karena takut kau marah.”

Antoine semakin tak tahu harus berbuat apa. Direngkuhnya tubuh Charlie, mendekapnya erat. Dia menangis tapi tak berani berkata yang sesungguhnya. Charlie melonggarkan pelukannya lalu menangkup wajah Antoine. “Camille akan ditemukan. Aku yakin itu. Aku mohon dukunglah aku. Jangan hancurkan harapanku.”

Antoine mengangguk. Dia tidak bisa menghancurkan harapan Charlie. Itu berarti berita itu tidak boleh diketahui Charlie sekarang. Antoine bergerak ke sofa, duduk dan menyandarkan punggung. Biasanya Charlie akan memijit bahu dan lehernya, tapi Antoine tak berani mengharapkan hal itu sekarang. Dia tidak hanya kehilangan putrinya tapi juga kehangatan istrinya. “Nathan akan kembali ke Toronto besok,”

Charlie mengangguk. “Anak itu sudah merengek tadi. Sepertinya dia takut ketinggalan kuliah. Kau bisa pulang dengannya kalau mau.” Perkataan Charlie itu… tantangan?

“Tidak! Aku di sini bersamamu.”

Charlie tersenyum lalu melesat cepat ke sisi Antoine. Dirangkulnya sang suami sambil berkata riang,”Aku tahu kau akan mengatakan itu. Aku senang.”

Dan lihatlah wanita ini sudah memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah suaminya. Tak menyadari kalau hasrat telah bangkit. Hari masih sore dan mereka tenggelam dalam romantika. Apa salahnya? Mereka suami-istri. Bukankah mereka seharusnya bersedih akan Camille? Mereka terlalu bersedih, Antoine merasa bersalah hingga pria ini berpikir untuk menyenangkan istrinya. Kehilangan Camille membuat ranjang mereka dingin selama beberapa hari. Dan saat inilah mereka menghangatkannya.

Antoine begitu merindukannya. Dia rindu perhatian Charlie. Dia merindukan kulit mereka yang bersentuhan bebas, desahan saat mereka bercinta bahkan saat Charlie menyebut namanya. Di sinilah mereka, sama-sama berpeluh di bawah selimut. Sama-sama saling memuaskan. Bahkan saat semuanya berakhir, Antoine menatap wajah Charlie yang tampak lebih cantik. Mentari pun bersembunyi di antara mega senja, memancarkan cahaya jingga ke dua tubuh polos yang hanya tertutup selimut.

“Kau… Ya, Tuhan… apa yang kita lakukan?” Antoine terkekeh sambil mengelus pipi Charlie. Charlie memejamkan mata dan tersenyum, menikmati sentuhannya. “Aku tidak tahu. Semuanya terjadi begitu cepat.”
Sekali lagi Antoine mencium Charlie. “Aku harus lebih menjaga jarak denganmu.” Tapi Charlie malah cemberut. “Maksudmu?”

Antoine duduk menyandar. Charlie menopangkan kepala di pahanya. Wanita itu terlena saat Antoine mengelus rambutnya. “Terima kasih, Tuhan. Istriku telah kembali.”

Charlie merasa tertampar mendengarnya. Bukan hanya Nathan yang terlantar, dia juga melupakan kewajibannya sebagai istri. “I am sorry, Monsieur.” Charlie terisak. Dia bersedih karena Camille tapi orang-orang yang dicintai bersedih karenanya. Antoine yang pengertian. Tak pernah menuntut apa pun di antara kepapaan Charlie. Charlie bersedih karena membuat Antoine menderita. “Aku berjanji, semuanya akan berbeda mulai saat ini.”

Antoine menghapus air mata Charlie. Dia membungkuk untuk mencium keningnya. “Kau terlalu sedih. Aku mengerti.”

Malam itu mereka makan malam di dalam kamar. Nathan berpikir kalau ini adalah cara Antoine mengisolir Charlie. Keesokan harinya, mereka mengantar Nathan ke Bandara Ngurah Rai. Nathan benar-benar mendahului mereka pulang ke Toronto.

“Don’t worry, Mom,” kata Nathan sambil menggenggam tangan Ibunya. Antoine sedang mengurus tiket dan masalah imigrasi di loket. “I will here if there is vacation.”

Charlie menepuk-nepuk punggung tangan Nathan. “Don’t worry, Dear. We will go home with Camille.” Nathan miris mendengar harapan Charlie yang masih tinggi.

Antoine yang sudah selesai dengan urusan imigrasi menyodorkan tiket dan paspor pada Nathan. “Your plane will arrive soon.”

Nathan berdiri. Tiket dan paspor berpindah tangan. Pemuda itu memasuki jalur menuju pesawat. Sesaat dia berbalik, melambaikan tangan pada orang tuanya. Mereka membalas lambaian itu. Nathan berdoa agar semuanya baik-baik saja.

Tiga hari kemudian, Charlie tahu semuanya dan begitu terpukul. Dia mencari Antoine, ingin menuntut penjelasan. Wanita itu uring-uringan saat menemukan suaminya di kantor Robert. Antoine dan Robert sedang membahas perkembangan berita tentang Camille, juga ada Brian di ruangan itu. Mereka terkejut dengan kedatangan Charlie.

“Kalian …. Tega-teganya kalian menyembunyikan semua ini dariku!” Charlie langsung berteriak ketika memasuki ruangan. Mata berair itu memberikan tatapan tak kenal ampun.

“Ma femme, aku mohon duduklah dulu.”

“Diam kau, Antoine!” Charlie menunjuk Antoine. “Kau yang paling bersalah di sini. Apa maksudmu tidak mengatakan yang sebenarnya?”

Robert baru saja mau buka mulut tapi suara Antoine sudah mendahuluinya. “Kami sepakat kalau kau belum siap menerima kabar ini.”

Charlie geleng-geleng kepala tak habis pikir. “Oh, ya? Kenapa kau selalu menganggapku lemah? Dan kau!” giliran Brian yang ditunjuk Charlie.

“Jangan katakan kau termasuk komplotan mereka?”

“Nyonya d’Varney, Saya…
“Jadi benar?” Charlie bertepuk tangan. “Kau pasti mengolokku selama ini!” air mata Charlie semakin deras.

“Nyonya d’ Varney, yakinlah kalau itu yang kami pikir terbaik untuk anda,” Robert berusaha agar tetap ada ketenangan di suaranya.

“Yang terbaik? Tahu apa kau yang terbaik untukku? Kau tidak mengenalku sama sekali!” Charlie membentak Robert. Antoine berdiri untuk merangkul tapi Charlie menolak uluran lengannya. Wanita itu menangis sesenggukan dengan menutupi muka. Robert hampir mau berdiri tapi isyarat tangan Antoine membuatnya duduk kembali.

“Sayang…,” Hati Antoine teriris melihat istrinya menangis. Bertahun-tahun yang lalu dia berjanji pada Robert bahwa Charlie tidak akan menangis jika bersamanya tapi nyatanya Charlie sekarang menangis di depan Robert.

“Antoine…,” tersenggal-senggal saat Charlie memanggilnya. “Aku membencimu.” Ucapan lirih itu membelalakkan mata Antoine. “Benar-benar membencimu sekarang.” Kata terakhir yang membuat Antoine bersedih, sebelum kepanikan tiba di ruangan karena Charlie mendadak pingsan.

Antoine dengan sigap menangkap tubuh Charlie sebelum kepalanya membentur lantai. Robert meloncat dari kursinya. Brian mendekati tapi tidak tahu harus berbuat apa.

“Sayang…, kau… ,” Antoine seorang dokter tapi saat ini dia tidak membawa peralatan medis. Dalam hati dia menyesali semua itu.

“Dia tidak apa-apa?” Robert tak kalah panik. Antoine memeriksa nadi Charlie. Dia memang tidak membawa peralatan tapi dia cukup mengenali macam denyut nadi. Denyut nadi Charlie adalah denyut nadi kehamilan. Wajah Antoine memerah seketika.

“Antoine, dia tidak apa?” sekali lagi Robert bertanya. Antoine menggendong Charlie. “Datangkan dokter ke pavilyunku!” teriaknya sambil membopong Charlie ke pavilyunnya.

Antoine yakin benar kalau itu denyut nadi kehamilan tapi harus ada dokter untuk memastikan. Dia mondar-mandir di depan pintu kamar. Sementara dokter yang didatangkan Robert memeriksa Charlie di dalam. Jika benar Charlie hamil, itu adalah anugrah. Mereka selalu berusaha setelah kelahiran Camille. Bertahun-tahun, dan menyimpulkan kalau Camille mungkin ditakdirkan sebagai anak bungsu. Apalagi mengingat betapa susahnya kelahiran Camille, mereka menyerah. Antoine tidak mau mengambil resiko atas nyawa Charlie. Tapi kenapa tiba-tiba mereka dikaruniai anak lagi? Kenapa semuanya terjadi sekarang di saat kekacauan ini? Dan… di umur mereka sekarang?

Saat dokter keluar dari kamar. Antoine bahkan langsung mengkonfirmasi, bukan bertanya. “Is she pregnant?” Dokter mengangguk. Antoine meremas kepalanya.

“I know it’s hard. I heard about the accident but… congratulatin!” Dokter itu mengulurkan jabat tangan padanya. “It’s a gift, Doctor. God bless your family. One person lost but one come.”

Antoine mencerna perkataan dokter itu. Orang Indonesia selalu religius. Apa pun diambil hikmahnya. “Thank you, Dokter.”

Antoine menyelipkan uang di tangan dokter lokal itu lalu masuk ke kamar. Charlie sedang menyandar di punggung ranjang. Antoine berhenti, ragu untuk menghampiri istrinya. Charlie masih menangis tapi pandangannya terarah padanya.

“Antoine…,” Charlie memanggil. Perlahan Antoine mendekat. Duduk di tepi ranjang untuk mencium tangan istrinya. Charlie mendongak padanya.

“Kenapa selalu ada hal yang membuatku tidak bisa membencimu?”
“Sayang, aku mohon, maafkan, aku.”

“Anak ini…,” Charlie mengelus perutnya. “Kenapa dia muncul di sini?” dia jadi geli sendiri. “Bali adalah pulau dewata. Rupanya dewa-dewa di sini begitu murah hati.” Lalu dia menyusuri wajah Antoine membimbing kepala Antoine agar merebah di pahanya. Antoine melingkarkan tangan di pinggangnya dan mencium perutnya.

“Anak ini adalah penghiburku, Antoine. Dia akan menemaniku dalam pencarian ini.” Dan Charlie pun mendesah. “Oh, betapa inginnya aku agara Camille kembali ketika anak ini lahir. Katakan padaku, Antoine. Camille akan kembali, kan? Kalian akan terus mencarinya, kan?”

Antoine mengangguk dalam benaman perut Charlie. “Tentu, Sayang. Sampai kapan pun kita akan mencari. Camille akan pulang dan melihat adiknya.”

Charlie tertawa lega. Anak itu adalah kekuatan baginya. Dia menyesal berkata telah membenci Antoine. Dia minta maaf atas ucapannya itu. Antoine yang pengertian sekali lagi memaafkannya.

Camille… , di mana pun kau berada, bisakah kau rasakan kebahagiaan ini? Maafkan kami, Sayang. Kami tidak tahu bagaimana harus bahagia di saat kau belum ditemukan. Ibu akan selalu kuat untukmu dan adikmu ini akan mendukung Ibu. Kembalilah, Nak… Ibu yakin kau masih hidup. Tuhan selalu sayang pada kita. Please, come back, my home… .

Charlie membungkuk, mencium kepala Antoine yang masih ada di pangkuannya. Sekali lagi Tuhan menyatukan mereka dan Charlie bersyukur karenanya.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s