THE SECRET II (Temptation of Island — Part 12)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 12

Hujan  di pulau, serasa lain bagi Kwang hari ini. Pria ini duduk di dekat jendela, mengamati suasana luar yang berkabut, sementara itu Chamille kerepotan menenangkan tangis bayi mereka. Chamille sudah mengganti kain popoknya, bahkan sudah menyusuinya, tapi bayi itu masih saja menangis. Sempat kawatir, dipegangnya kening sang bayi, tidak demam. Putus asa, dia mencoba menyusuinya lagi, bayi itu menolak menyesap asinya, malahan semakin memperkeras tangisannya. Tangisan yang mampu mengalahkan suara deras hujan di luar dan membuat sang Ayah menoleh.

Kwang berjalan ke arah Ibu dan bayinya itu lalu duduk bersila di depannya. “Kenapa dia?”

Chamille menggeleng. Dia masih berusaha menenangkan bayi itu dengan menepuk-nepuk pantatnya. “Entahlah, dia sudah sangat kenyang. Suhu tubuhnya normal. Aku juga tidak tahu kenapa,” terdengar nada penyesalan di suara Chamille. Tak terasa matanya perih, merasa gagal menjadi Ibu dan menangis.

“Berikan dia padaku,” Kwang menyodorkan kedua tangannya. Chamille menatapnya ragu. Dia menggerakkan kedua tangannya lebih mendekat, Chamille pun perlahan mengulurkan sang bayi, meletakkannya dengan penuh kelembutan di gendongan Kwang.

Bayi itu masih menangis. Kwang mendekatkan bibirnya di telinga sang bayi, menyanyikan lagu rakyat lembut sambil menepuk-nepuk pantatnya. Perlahan, tangisan sang bayi semakin lirih, hingga terhenti dan tinggal satu-dua isakan kecil. Bayi itu menatap tepat di wajah Kwang dengan mata bening yang masih menyisakan air mata. Kwang terpesona kembali dengan bayinya.

Chamille menggeser duduknya hingga mendekati mereka. Senyuman tersungging di bibirnya dan dia meminta bayinya kembali. “Dia sudah tenang, berikan lagi padaku.”

Kwang semakin mempererat gendongannya. “Tidak, dia pasti menangis lagi kalau kau gendong.”

“Kang! Aku Ibunya.”

“Tapi kau tidak bisa menenangkannya.”

Chamille bersedekap, membuang muka dengan sewot. Kwang tidak menghiraukannya. Pria ini tetap menyanyikan lagu rakyat di telinga putranya. Chamille merasa dianak-tirikan. Dia berbaring di tempat tidur, menyelimuti tubuh sampai kepala secara kasar.

“Hai, kau kenapa?” Agak geli Kwang menanyakan itu. Tidak ada respon, Chamille benar-benar ngambek. Kwang mencium kening putranya. “Ibu ngambek, Il Hwan.”

Di balik selimut, telinga Chamille berjengit mendengar panggilan itu. Il Hwan?

Chamille bangun dan membuka selimut yang menutupi wajahnya. “Kau panggil siapa dia tadi?”

“Il Hwan,” Kwang menyebutkan nama itu tepat di telinga bayinya.

“Ya, siapa yang menyuruhmu memberi nama Korea!”

“Aku ayahnya. Aku orang Korea. Aku ingin dia bernama seperti itu. Il Hwan, tulus dan bersinar. Iya  kan, Sayang.” Kwang menepuk-nepuk lagi pantat Il Hwan.

“Aduh,” Chamille menggelengkan kepala,”Menyebut namamu saja susahnya minta ampun. Dia harus punya nama barat. Aku akan memberikan nama kakeknya padanya. Ya, namanya Anthoine… Anthoine Shin.”

“Tidak bisa!” Kwang menggeleng tegas.”Namanya Shin Il Hwan. Shin nama margaku, artinya kepercayaan. Il Hwan, tulus dan bersinar. Aku berharap dia bisa menjadi orang yang terpercaya, tulus dan dengan masa depan yang bersinar. Anthoine Shin terdengar seperti berarti….,” Kwang berhenti sebentar untuk berpikir “ ‘Anthoine yang pemalu’. Cih!” Kwang mencibir.

Masih dalam posisi duduk, Chamille berkacak pinggang. “Kau menghina nama ayahku?”

“Tidak! Hanya saja kata ‘Shin’ terdengar seperti ‘Sin’ kalau kamu yang mengucapkan, apalagi ditambah nama Anthoine di depannya. Anthoine yang pemalu atau Anthoine yang berdosa.”

“Hah!” Mata Chamille terbelalak lebar, dengan mengatur emosi, dia berargumen. “Itu karena nama Korea susah di sebut! Makanya jangan memberinya nama Korea!”

“Ayahnya orang Korea, jadi dia harus bernama Halyu. Lihat, bagaimana dia tenang kalau aku memanggilnya begitu,” lalu Kwang menimang bayinya lagi. “Il Hwan…, tidurlah, Il Hwan.. .”

Kwang benar, mata bayi itu semakin meredup, seolah menyetujui nama itu melekat padanya. Chamille mendengus lalu berbaring kembali. Kwang tersenyum geli melihatnya. Semakin lama dia tidak tega. Ditidurkannya Il Hwan di samping Chamille. Bayi itu membuka mata, merengek sebentar sebelum Kwang mengelus-elus lembut keningnya. Chamille memandang wajah Kwang. IL Hwan tertidur lagi, pandangan Chamille beralih pada Il Hwan.

“Mulai sekarang…,” Kwang berkata lembut pada Chamille masih dengan mengelus kening Il Hwan. “Kau harus lebih bisa mengucapkan namanya dengan benar. Ayo, coba ucapkan namanya, Chamille! Shin … .”

“Sin.”

Kwang membimbing Chamille. Masih terdengar seperti ‘Sin’, Kwang mengulanginya lagi. “Shin!”

“Sin!”

Kwang memutar bola matanya. Lupakan tentang Shin, yang penting bagaimana Chamille mengucapkan nama bayinya. “Il…,” Kwang membimbing lagi.

“Ill.”

Gubrak! Kenapa terdengar seperti ‘Ill’?

“Il, Sayang. Il dengan satu huruf L bukan dua huruf L!”

“Tuh, kan… artinya jadi buruk kalau diucapkan dalam bahasa Inggris,” Chamille terkikik. Kwang mendelik. Chamille membungkam mulut dengan tangan untuk menghentikan tawanya.

“Oke.. oke … ‘Ill’ !” Chamille sudah berusaha mengucapkan kata itu dengan benar tapi tetap saja terdengar seperti ‘Ill’. Kwang menggeleng.

“Ill?”

Kwang masih menggeleng.

Chamille berdehem lagi dengan menutup mata, dia berucap, “Il?” Chamille membuka matanya perlahan demi melihat reaksi Kwang. Suaminya tersenyum sekarang. “Sudah benar?”

Kwang mengangguk.

“Sekarang, nama belakangnya. Hwan!”

 “Hwan!”

Senyum Kwang semakin lebar. “Shin Il Hwan!” Kwang menyuruh Chamille mengulang nama putranya secara keseluruhan.

“Sin Ill Hwan!”

Gubrak!

Dosa dan sakit? Oh, No!

“Shin… Il… Hwan,” ulang Kwang perlahan-lahan.

“Shin… Ill…,” mimik wajah Kwang berubah kecewa, Chamille mengulangi lagi ucapannya. Kali ini lebih hati-hati. “Shin… Il…,” dan melihat senyuman Kwang, Chamille meneruskan bicaranya, “…Hwan.”

“Iya,” Kwang mengangguk. “Shin Il Hwan.”

“Shin Il Hwan,” Chamille menyebutkan nama itu lagi di dekat telinga sang bayi lalu mengecup pipinya.

“Nama putramu adalah Shin Il Hwan. Dan nama suamimu adalah Shin Hyun Kwang. Ingatlah itu, Sayang,” Kwang mencium kening Chamille. Chamille teringat pada Ibu dan Ayahnya. Dulu, sering kali Ayahnya juga mengatakan hal itu pada Ibunya. Seolah-olah Ibunya akan melupakan semua itu esok hari. “Nama putramu adalah Jonathan Louis d’Varney. Putrimu adalah Chamille Louis d’Varney  dan nama Suamimu adalah Anthoine Louis d’ Varney. Ingatlah itu, Sayang.”

Mata Chamille mengerjap. Dia semakin ingat kalau Ibunya adalah mantan pasien sang Ayah. Anthoine pernah bercerita kalau Charlie mempunyai memory yang buruk. Karena kenakalannya, Chamille bahkan bisa memasuki ruang rahasia Anthoine tanpa diketahui oleh Ayahnya itu. di ruangan itu tersimpan dokumen, tentang siapa sang Ibu dan apa yang dilakukan Ayahnya sebagai dokter.

“Kang,” Sebelum wajah Kang menjauh, Chamille menangkup kedua belah pipi Kwang. “Kenapa kau berkata begitu? Seolah aku akan melupakanmu?”

“Aku? Aku tidak bermaksud seperti itu?” Kwang menggedikkan pundaknya.

“Kang…, kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan ayahku.”

Masih dengan kedua telapak tangan Chamille yang menempel di kedua belah pipinya, alis Kwang menaik. “Memangnya apa yang bisa dia lakukan?”

Chamille semakin sedih memikirkan kemungkinan itu. Tapi dia merasa tidak baik jika membeberkan rahasia keluarganya pada Kwang. Hanya saja… entahlah… jika Anthoine melakukan hal itu lagi untuk memisahkan mereka. Melakukan padanya atau mungkin pada Kwang…, pada Kang? Chamille merasa kalau dia perlu mengatakan ini pada Kwang, “Nama putramu adalah Shin Il Hwan. Dan nama istrimu adalah Chamille Louis d’ Varney. Ingatlah itu, Kang.”

Mata Chamille berkaca-kaca. Dia bangun dan memeluk Kwang erat-erat. “Ingatlah itu… Ingatlah selalu,” Chamille berucap diantara senggukan tangisnya. Kwang bingung, namun saat ini, dia hanya bisa mengelus rambut istrinya, menenangkannya.

“Ingatlah selalu, Kang… Ingatlah selalu.”

—oOo—

Hujan hampir reda saat kapal motor Bouwens 117 yang dikomandoi Jin He hampir mendekati pulau. Ombak sangat tidak bersahabat, sementara Bill memperkirakan kalau pantai terlalu landai, dipagari karang-karang  untuk bisa mendarat.

“Kita harus berhenti atau kapal ini hancur menabrak pulau. Bukannya mencari orang terdampar, kitanya malah yang terdampar,” keluh Yun So.

 Sekali lagi Jin He mengarahkan teropongnya ke pulau. Ada ketidaksabaran di benaknya untuk segera sampai, dia yakin Chamille d’Varney ada di situ. Entah dari mana munculnya keyakinan itu. “Berhentika kapal. Turunkan sekoci,” katanya pada dua orang  anak buah dengan dua perintah yang berbeda. Mereka segera melaksanakan perintahnya.

“Apa?” Yun So kelihatan tidak setuju dengan pikiran Jin He.

Sambil membenahi perlengkapan yang melekat di tubuhnya, sekali lagi Jin He memerintah,“Kalian menjaga kapal. Pastikan kontak tetap terjaga dengan komando di darat. Aku akan ke pulau itu dengan sekoci.”

Yun So semakin kaget. “Kau gila! Kau kapten di sini! Bagaimana kalau di pulau itu ada suku kanibal, dan… .”

“Kau terlalu banyak menonton film bajak laut,” potong Jin He sambil meloncat ke sekoci.

“Tunggu! Aku ikut!” Yun So mengikuti Jin He melompat ke sekoci setelah mengulangi perintah Jin He pada para anak buah, “Jaga kapal!”

Jin He mendiamkan keputusan Yun So walau pun dalam hatinya tidak setuju. Dia malas berdebat dengan Yun So saat ini. Semakin tak sabar rasanya menjelajah pulau itu. Mereka mendayung membelah gelombang yang mengombang-ambingkan sekoci, melawan angin yang seolah melarang untuk mendekati pulau. Hingga saat sekoci masih tiga puluh langkah menuju dataran, Jin He tiba-tiba meloncat.

“Hai!” Yun So yang mendayung di belakangnya berteriak kaget. Jin He berenang menuju daratan saking tidak sabarnya dan Yun So hanya bisa pasrah mendayung sendirian. “Damn! Jika kau mati, aku akan mengutukmu!” ancam Yun So.

Namun Yun So lega saat melihat kemunculan Jin He dari air. Jin He terlihat berlari, dengan air masih menggenang sampai pahanya. Sekuat tenaga, dia melawan dan saat sampai di daratan, dia meloncat girang, bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

Yun So menyusul dengan sekocinya kemudian. Jin He sudah mulai mengamati keadaan pantai, tanpa memperdulikan Yun So yang kerepotan merapatkan sekoci. “Dasar! Huft!” Yun So mendengus. Sekoci itu terasa berat ditarik dengan tali tambang menuju darat.

Ketika melihat bendera yang terbuat dari ranting dan janur kering, apalagi susunan bendera itu yang berbaris membentuk huruf SOS, Jin He semakin yakin kalau ada orang yang terdampar di sini. “Isyarat yang tepat!” pikir Jin He.

“Fuh!” Selesai sudah, Yun So menarik sekoci ke daratan yang agak jauh dari pantai, dia juga sudah memastikan kalau ombak tidak bakal menyeret sekoci ke lautan. Tingkah Yun So tidak diperhatikan oleh Jin He, pria itu mendekati bendera-bendera yang berjajar, mengelusnya. Yun So berkacak pinggang melihat sahabatnya dan juga bendera itu, hingga mampu menyimpulkan jalan pikiran Jin He.

“Kau pikir Chamille Louis d’Varney bisa memikirkan hal seperti itu?” tanya Yun So.

“Entahlah,” Jin He menoleh pada Yun So.”Setidaknya ada orang lain yang terdampar, kalau pun itu bukan Chamille d’ Varney.”

Yun  So mendengus kesal. “Kalau itu bukan Chamille, apa gunanya?”

“Ssshhh! Diam kau!”

Jin He mengamati sekeliling pantai kemudian. “Kita berpencar,” usul Jin He. “Kau ke kanan, aku ke kiri.”

“Untuk apa?”

“Bodoh!” kata Jin He sambil memukul kepala Yun So. Yang dipukul meringis kesakitan. “Tentu saja mengelilingi pulau.”

Dan anehnya, nyali Yun So langsung mengkerut, “Tidak! Aku tetap di belakangmu!”

Mata Jin He bergerak sebal. Sebenarnya Yun So bukanlah pelaut, bisa dibilang dia pecundang yang mengikuti pelayaran untuk menghindari para preman yang menagih hutangnya kepada rentenir. Jin He mencabut pisau kecil yang terselib di pinggangnya. Dia harus berjaga-jaga. Angin masih sangat kencang menerbangkan pasir-pasir di sekitar mereka saat mengelilingi pantai. Jin He berjalan di muka, menantang angin, dan Yun So mengekor bagaikan anjing pudel yang setia.

“Aku rasa, kita harus memasuki hutan.” Puas dengan pantai, Jin He mengutarakan niatannya pada Yun So. “Kita tidak akan menemukan apa-apa jika tetap di sini. Orang itu pasti masuk ke hutan untuk bertahan hidup.”

Yun So bergidik mendengar Jin He tapi melihat pisau yang dipegang Jin He, dia yakin kalau Jin He mampu mengantisipasi bahaya yang ada. Termasuk bahaya binatang buas atau suku kanibal yang menghantui Yun So. “Terserah, kau yang kapten.”

 Jin He mendengus. Dia mulai melangkah mendekati hutan. Yun So berjalan semakin mendempet Jin He, bahkan tangannya memegangi pundak Jin He sehingga sang kapten merasa bagaikan membimbing anak kecil memasuki wahana  goa hantu. “Ya! Jauhkan tanganmu dari pundakku!” Jin He menggedikkan bahunya untuk menghalau tangan Yun So.

Rimbun pepohonan menyapa penglihatan mereka kemudian. Suasana berkabut, mereka semakin tenggelam dalam hutan dan anehnya hujan mereda. Bau tanah berhumus tercium, segera melenakan mereka. Bahkan Yun So yang tadinya takut, mulai berani berjalan sendiri. Di antara rimbunnya pepohonan itu, Jin He bisa melihat jalur-jalur yang sering dilewati manusia. Dia jadi berpikir ulang. Dia menyimpulkan kalau mungkin saja pulau ini berpenghuni. Tapi jika memang demikian, kenapa keberadaannya tidak tercantum di atlas dunia? Apa pula maksud tanda bendera di pinggir pantai tadi?

Ada banyak jalur. Jin He bingung mau memilih yang mana. Dia memejamkan mata. Berusaha memilah-milah suara alam di antara suara berisik Yun Ho mengomentari keindahan hutan. Dan sayup-sayup pertanda terdengar. Jin He mengangkat tangannya, lalu memberi isyarat agar Yun So diam dengan menempatkan telunjuk ke mulut. “Ssst…, dengar! Suara air.”

“Ya, belakang kita kan pantai, tentu saja itu suara air.”

Merasa bagai berkomunikasi dengan anak autis, Jin He meninggalkan Yun So menuju sumber suara. Yun So mengikutinya lagi. Dan berakhirlah mereka di air terjun.

“Bukan main!” sorak Yun So. Tanpa pikir panjang lagi, dia terjun ke air.

“Hai!” teriakan yang sia-sia dari Jin He karena Yun So sudah berada di dalam air.

“Ayolah! Ini segar sekali!”

“Bodoh!” cibir Jin He.

Setidaknya mereka menemukan air sebagai persediaan kapal. Begitulah pikir Jin He. Yun So sepertinya sudah tidak ketakutan lagi. Saat menunduk, Jin He melihat bekas telapak kaki. Dia yakin kalau itu bukan telapak kaki mereka, tanda itu adalah tanda telapak kaki telanjang, sedangkan mereka memakai sepatu.

Tanpa menghiraukan Yun So yang masih asyik berenang, ditambah keyakinan kalau sahabatnya sudah merasa nyaman dengan pulau, Jin He mengikuti jejak demi jejak telapak kaki. Keberadaannya semakin jauh dari Yun So.

Jejak itu membimbingnya menuju sebuah pondok. Mata Jin He terbelalak. Konstruksi pondok itu begitu mengagumkan, akar gantung dari pohon, justru memperkokoh keberadaan pondok dengan melilit setiap bingkai bambunya, sementara dinding anyaman janur, semakin mempertegas adanya keberadaan manusia dalam pondok. Sekali lagi Jin He memikirkan maksud tanda bendera SOS, langkahnya semakin mendekati pondok. Lalu berhenti saat melihat bekas perapian tepat di depan pondok. Jin He berjongkok, menyentuh abu perapian itu. Pagi ini rupanya perapian tidak menyala. Mungkin disebabkan hujan deras tadi.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Jin He mendongak, menatap pintu pondok. Dia berdiri, perlahan mendekati pondok. Satu langkah menaiki tangga pondok. Bambu yang dia pijak bergemeretak, menimbulkan suara. Satu langkah lagi dan…

“Kang, itu kau? Il Hwan menangis lagi. Aku tidak tahu kenapa.”

Kening Jin He berkerut. Seorang wanita? Berbahasa Halyu? Hati Jin He diliputi tanda tanya. Tangisan bayi masih terdengar, rupanya wanita itu kerepotan menenangkan bayinya. Apalagi saat pintu pomdok terbuka lebar, dan wanita dengan bayi di pangkuannya itu, mendadak panik melihat kehadiran Jin He yang dianggap orang asing. Wanita itu meringsut mundur, merapat ke pojok dengan mendekap bayinya erat-erat tanpa memperdulikan bayi itu semakin menjerit..

Jin He bisa merasakan kepanikan Ibu di depannya. Dia berjalan perlahan, mendekati wanita itu, tanpa menyadari kalau pisau di tangannya masih teracung. Pisau itulah yang membuat wanita itu ketakutan. “Tenang, Nyonya,” perkataannya sangat absurb, berlawanan dengan tingkahnya yang masih menodongkan pisau tanpa sadar.

“Jangan bergerak!” seorang lelaki, entah kenapa tiba-tiba bisa berada di belakangnya. Sesuatu yang dingin dan runcing sudah menempel di punggungnya.”Percayalah, alat ini lebih tajam dari pisau yang ada di tanganmu,” ancam lelaki itu lagi. Jin He menjatuhkan pisaunya lalu melipat kedua tangan di kepala. Lelaki itu menendang siku kakinya. Jin He terjerembab. Lantai pondok berdetum, anehnya tidak ambrol. Siku lelaki itu segera menekan kepalanya di lantai.

“Kang!” wanita itu berteriak, lega akan kehadiran lelaki itu.

“Tenanglah, Chamille… Pria ini tidak mungkin macam-macam lagi.”

Chamille? Mata Jin He melebar.

“Tu… tunggu!” Susah payah Jin He berkata. “Anda… anda Chamille … Chamille Louis d’ Varney?”

Lelaki yang mengancamnya masih berada di atasnya. Jin He berusaha melihat wanita dengan bayinya yang masih menangis itu walau berat. “Anda putri keluarga d’ Varney?” Jin He berusaha meyakinkan. Bagaimana tidak, penampilan Chamille sekarang ini sangat jauh berbeda dengan foto yang selama ini ada di sakunya. Berantakan, mirip suku primitif. Jin He memicingkan mata, bersikeras melihat mata wanita itu.

Matanya coklat kemerahan!. Ya! Itu Chamille Louis d’ Varney!

Wanita itu memandangnya. Ragu-ragu, lalu memandang lelaki yang menguncinya di lantai. “Apa urusanmu, Pak tua!” kata lelaki itu, semakin menekan kunciannya atas Jin He.

Tapi Jin He pantang menyerah. “Nona d’Varney…,” dia masih bicara dengan nafas sesak. “Saya… saya Han Jin He. Ibu anda… menugasi kami mencari anda.”

Wanita itu memandangnya lagi. “Kang… .” Tangisan sang bayi telah mereda.

“Lalu kenapa kau mengancamnya dengan pisau?” lelaki itu yang bertanya. Jin He menyadari kekeliruannya. Pisau itu ternyata sumber masalahnya. Mereka mengira kalau dia akan membunuh Chamille.

“Saya minta maaf. .. saya tidak sadar kalau… kalau itu membuat … anda takut.” Jin He batuk-batuk. Lengan lelaki yang dipanggil Kang itu semakin mencekik. “Believe me… Charlie d’ Varney said me,’Pleasse.., find my home’, Jin He menirukan perkataan Charlie ketika pertama kali dia menemui wanita itu.

Seakan kata itu adalah kata kunci, Chamille menoleh pada Kwang. “Dia benar, Kang. Ibuku memang mengirimnya.”

“Kau yakin?”

“Iya, Ibuku menganggap suami dan anak-anaknya adalah ‘home’nya.”

Cekikan Kwang pun melonggar. Namun keadaan berbalik kemudian. Seseorang gantian menyerang Kwang dari belakang. Sesaat Kwang-lah yang menggantikan posisi Jin He, telungkup di lantai dengan seseorang mengunci di atasnya.

“Jangan!” Chamille dan Jin He berteriak bersamaan.

“Kau baik-baik saja, Kapten!” lelaki itu menyeringai. Tubuh bahkan bajunya masih basah kuyup akibat berenang tanpa melepas pakaian di sungai, Yun So.

“Kau menyakiti suamiku!” Chamille beringsut mendekati Kwang. Kwang meringis, menghalau rasa sakit. Bayi mereka menangis lagi.

“Lepaskan dia, Yun So!”  Jin He memerintah.

“Tapi… .”

“Aku bilang lepaskan dia!”

Yun So mendengus. Dia melepaskan Kwang walau pun ogah-ogahan. Kwang adalah lawan pertama yang berhasil dia kalahkan, tapi Jin He malah menyuruhnya melepaskan Kwang.

“Kang,” Chamille memeluk Kwang setelah pria itu berhasil duduk. Kwang mengambil alih bayinya menciumi bayi itu hingga tangisannya mereda.

“Maafkan kami, Nona d’Varney,” sesal Jin He.

“Nona d’ Varney?” Yun So sama sekali tidak mempercayai ucapan Jin He. Wanita di depannya, wanita dengan baju seadanya dan lusuh itu Chamille d’ Varney?

“Dia anak buah saya, Kim Yun So.”

Yun So pun mendekati Jin He. “Kau yakin dia Chamille d’ Varney? Penampilannya… .”

“Dia terdampar selama hampir setahun. Kau berharap dia berpenampilan seperti apa? Bergaun pesta?” bisik Jin He jengkel.

“Jadi kau benar-benar ditugasi keluarga d’Varney?” tanya Kwang.

“Secara teknis seperti itu,” Jin He masih menyembunyikan peran serta Brian.

“Kenapa lama sekali?” Chamille gentian bertanya.

“Pulau ini sama sekali tak terdeteksi radar bahkan tak tercantum di peta.”

“Seperti yang kuperkirakan,” kata Kwang. Diangsurkannya Il Hwan ke gendongan Chamille. Bayi itu langsung menyesap putting susu sang Ibu begitu disodorkan. Yun So melihat semua itu dengan mulut menganga lalu memandangi Kwang dan beralih pada Jin He dengan pandangan penuh tanya.

Jin He memberi isyarat  dengan kedipan  mata agar Yun So diam lalu meneruskan percakapannya dengan Kwang. “Ada kapal yang menunggu kita, kira-kira satu kilometer dari pantai. Kami tidak berani terlalu merapat karena ombak begitu besar dan karang-karang yang membatasi pantai.”

“Ya, aku tahu itu,” respon Kwang lalu berdiri, melangkah mendekati Jin He dan Yun So. “Anyway…, namaku Kwang. Shin Hyun Kwang.”

Jin He membalas jabat tangan Kwang. “Saya… seperti yang saya katakan tadi, Han Jin He.”

“Kim Yun So,” Yun So menyodorkan tangannya, memperkenalkan diri. Kwang menyambut jabat tangan itu. “Dia anakmu?” Yun So bertanya tanpa basa-basi, sambil menunjuk bayi di gendongan Chamille.

“Ya, dia putra kami.”

Alis Yun So bertaut, sekali lagi memberikan pandangan penuh tanya pada Jin He. Sama seperti tadi, Jin He tidak mengacuhkannya. “Kita akan berangkat setelah kapal cukup mengumpulkan persediaan. Bisa saya pastikan sore  ini.”

“Lebih cepat, lebih baik,” ujar Kwang.

—oOo—

Chamille dan Kwang memandangi pondok mereka untuk terakhir kali. Jin He memberikan waktu pada mereka untuk mengucapkan perpisahan pada segala hal di pulau ini, sementara dia dan para krunya mengumpulkan persediaan air dan makanan. Hanya tinggal Bill di dalam kapal. Kapal masih di lepas pantai, mereka akan menggunakan sekoci menuju kapal nantinya.

Kenangan demi kenangan terbersit di benak pasangan itu ketika memandangi pondok itu. pondok itu adalah saksi bisu cinta mereka. Mereka bahagia di pondok itu. Bercinta, berdiskusi bahkan bertengkar di dalamnya. Terlebih lagi, Il Hwan, putra mereka terlahir di pondok itu. Chamille terhanyut suasana, tak terasa air mata mengalir. Kwang merangkul Chamille, mencium ubun-ubunnya.

“Kang, suatu saat, akankah ada orang lain yang terdampar di sini, lalu memakai pondok ini?”

Kwang tersenyum.”Entahlah, Chamille. Biarlah pondok ini tetap seperti ini. Mungkin berguna bagi mereka yang terdampar.”

“Iya,” Chamille mengelus pipi Il Hwan, membisikkan sesuatu di telinganya,”Ucapkan selamat tinggal pada pondok kelahiranmu, Sayang.” Lalu mencium keningnya.

“Eh hm!” Yun So, yang ditugasi Jin He untuk mengawal pasutri itu, memecahkan keheningan dengan deheman. “Waktunya sudah tiba, Tuan Shin.”

Kwang tergagap. “Oh, baiklah.” Lalu beralih pada Chamille.”Kau sudah kuat buat berjalan, Sayang.”

Chamille menggeleng.”Entahlah, aku tidak yakin.”

“Baiklah,” Kwang mencium kening Chamille lalu mengangkat Chamille di gendongannya, sementara Chamille menggendong Il Hwan.

Sambil berjalan keluar hutan, Yun So berjengit melihat tingkah mereka. “Biar aku bantu menggendong bayimu, Tuan Shin,” akhirnya pria ini menawarkan bantuan.

Chamille menyanggupi. Jin He berhenti sebentar agar Yun So bisa mengambil Il Hwan dari Chamille. Mereka bertiga berjalan kembali, menuju pantai. “Apakah Nona d’Varney sakit?” tanya Yun So lagi.

“Tidak! Chamille sebenarnya masih dalam masa nifas,” jawab Kwang.

“Apa?”

“Baru semalam dia lahir, Tuan Kim,” jawab Chamille.

Yun So langsung kaget. Dia menatap bayi mungil di gendongannya lebih seksama. Bayi itu memang masih merah, dia jadi gugup dan lebih berhati-hati menggendong.

Sampailah mereka di sekoci. Kali ini ada dua sekoci. Satu sekoci untuk mengangkut persediaan air dan makanan. Satunya lagi untuk mengangkut Chamille, Kwang dan bayi mereka dengan Jin He da Yun SO sebagai pendayung.

Ombak menyulitkan sekoci-sekoci itu untuk ke tengah laut, mereka harus mendayung lebih kuat. Saat semakin ke tengah, perairan mulai tenang. Kwang mengamati pulau yang semakin mengecil di belakang mereka.

“Kapten, sebenarnya di mana kami selama ini?” tanya Kwang pada Jin He.

“Sesungguhnya, Tuan Shin? Mendekati Samudra Hindia.”

Pulau semakin mengecil namun kapal yang sedianya akan mereka tumpangi semakin tampak jelas. Hingga Kwang melihat tanda pengenal di kapal itu, ‘Bouwens 117’ . Ada sedikit kekawatiran, tapi demi melihat kembali peradaban, demi berkumpul kembali dengan keluarganya, Kwang menekan rasa kawatir itu.

 

BERSAMBUNG

Iklan

THE SECRET II (Temptation of Island — Part 7)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 7

Apa yang akan kau lakukan, Camille? Seperti yang kau harapkan, tak ada satu pun wanita yang mengikat Kang. Lalu apa? Apa yang kau harapkan setelah tahu?

Mungkin benar teori Kwang, akan lebih baik jika tak ada satu pun ikatan di antara mereka. Saat mereka ditemukan, mereka berpisah. That’s it! Nothing to lose! Semua akan berjalan seperti sedia kala. Kwang kembali ke pekerjaannya dan Camille dengan kehidupan borjuis-nya. Akan ada banyak pria di Kanada yang menantinya, bertekuk lutut memohon saat matanya mengerling. Pria-pria dengan gaya metro. Rapi dan elegan seperti Brian. Oh, ya… tentu akan sangat menyenangkan! Masa depan yang cerah menanti baginya, seorang putri keluarga d’Varney. Sementara Kwang hanya tinggal kenangan. Masa lalu yang terkubur kesenangan pribadi.

Namun bagaimana jika mereka tidak pernah ditemukan? Selama ini tim pencari hanya mencari Camille.  Gadis itu yakin, mereka pasti tidak memprediksi keberadaan Kwang bersamanya atau mungkin mereka sudah berkesimpulan jika seorang Camille Louis d’Varney sudah mati saking putus asa. Antoine merutuki kesalahannya, Nathan menggeleng tak percaya dan Charlie histeris. Mata Camille memejam, mengusir bayang kesedihan itu dari angannya. Tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi. Dia dan Kwang terdampar di pulau ini selamanya. Dan apa yang akan kita lakukan?

Pesona Kwang semakin menjerat. Tidak ada rambut yang tersisir rapi. Kulit pria itu semakin kelam karena hawa panas pulau. Dan aroma kemaskulinan alami yang tercium setiap pagi. Segala hal yang menarik insting primitive Camille. Apa daya, jika penelitian tentang feromon masih diperdebatkan, mungkin para pakar berkaca mata tebal itu harus mengalami apa yang dia rasakan. Terdampar di sebuah pulau eksotik bersama pria semisterius Kwang.

Setiap malam, Camille harus menahan diri untuk tidak memandang wajah pria itu. Rautnya semakin mengeras, mungkin karena kefrustasian akan rumah pohon yang terus gagal. Dan rambut-rambut kasar yang mulai tumbuh di sekitar dagu dan pipinya, Camille diam-diam merabanya jika Kwang terlelap. Dengan bayangan di kepala jika saja pipi itu bersentuhan dengan pipinya lalu…

Oh, damn! Stop thinking something stupid!

Camille menggeleng, bergerak gusar ke tempat tidurnya, berusaha menepis pikiran yang aneh-aneh.

Keseharian yang terlalui semakin memendek. Kedekatan mereka yang menyebabkan. Kang masih sibuk dengan rumah pohon, meramu, berburu, bahkan menjaring ikan dan Camille memasak, menganyam janur, memintal benang dan merajutnya. Kehidupan yang sederhana, tanpa status, kekawatiran akan uang dan pandangan masyarakat. Pulau ini memberikan lebih dari apa yang mereka harapkan.

Tidak! Bahkan Kwang pun berusaha menarik diri dari jeratan wanita itu. Jalan Camille masih panjang sebagai gadis yang baru berusia sembilan belas tahun. Masih banyak pria-pria kaya yang berpeluang menjadi kekasihnya, dan Kwang yakin dirinya tidak termasuk kriteria itu. Terlalu pedih terjerat dalam cinta Camille jika pada akhirnya gadis itu meninggalkannya setelah berkumpul dengan keluarganya. Kerterpurukan pasti terjadi, Kwang belum pernah terlibat hubungan dengan wanita secara serius namun wanita seperti Camille.. . mungkin bisa menariknya ke dalam pusaran tanpa tepi yang di sebut cinta atau mungkin… hasrat seks?

Dasar otak primitif! Kwang merutuk bayangan-bayangan itu dalam hati.

Dan, ya… Camille sanggup melakukannya. Saat dia berhasil merajut setelan baju untuk Kwang. Sebuah baju berpotongan sederhana dari serat kapas yang dipintalnya. Agak butut karena pintalan yang kurang rapi, tapi lumayan sebagai pakaian ganti.

“Bisa kau coba ini?” Gadis itu berdiri di depan Kwang, menyodorkan baju berwarna putih kekuningan di depannya.

 Camille…

Camille menengadah, menatap wajah Kwang dengan mata meyakinkan. Kwang melepas kemeja usangnya. Otot-otot dada yang padat terpampang jelas dan Camille harus menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Dia bahkan menunduk, gemetar merasakan aura hangat yang tiba-tiba muncul di dalam goa.

Kang…

Kwang meraih baju rajutan di tangan Camille. Baju itu pas di badannya. Dia tersenyum, mematut-matut baju ditubuhnya itu tanpa cermin dan berterima-kasih. “Thanks.”

“I hope you like it!” Camille tersenyum.

“Dan kau… mana untukmu?”

“Ada… sebentar lagi selesai.”

Gadis itu mendahulukan kepentinganku? Kwang merasa tersanjung. Dia menatap pergerakan Camille ke tempat tidur. Gerakan kikuk seperti sebelum-sebelumnya. Tidak ada lagi kesan ceplas-ceplos Camille seperti sebulan yang lalu. Semuanya serasa berbeda. Kwang kadang memergoki gadis itu mencuri-curi pandang ke arahnya. Begitu juga dirinya  pada gadis itu.  Bisa dibayangkan saat mereka memandang bersamaan dan segalanya bertambah kikuk.

Tidak ada kesan menggoda di setiap tingkah laku Camille. Setiap malam gadis itu memintal benang dan merajut. Kealamian gerakannya membuat Kwang terjerat tanpa sadar. Camille bukanlah gadis-gadis penggoda seperti wanita-wanita bar yang dikunjungi teman-temannya ketika di darat. Mungkin itu sebabnya. Kwang tidak pernah mau jika teman-teman ABK-nya mengajak bersenang-senang dengan wanita penghibur, karenanya Kwang tertarik dengan wanita seperti Camille.

Rumah pohon selesai sudah. Mereka berdiri di depannya, berangkulan tanpa sadar.

“Home sweet home!” Kwang mendesis. Camille menoleh padanya dengan senyum mengembang.

Camille senang Kwang merangkulnya. Entah pria itu sadar atau tidak karena mata Kwang masih tertuju pada rumah pohon.

Rumah berdasar lima puluh centimeter dari atas tanah. Kwang melakukan itu untuk menghindari air yang meluap jika hujan. Tidak ada kayu ibu tangkai kelapa sebagai dasar yang dulu gagal. Kang menggantinya dengan bambu yang kuat. Itulah sebabnya rumah ini begitu lama selesai. Kwang harus mencari cara bagaimana merobohkan bambu dengan batu runcingnya. Kerangka dindingnya juga berasal dari bambu yang diikat dengan akar larak di setiap sudut dan dinding rumah itu… inilah hasil karya Camille, anyaman janur menjadi atap dan dinding rumah.

“Home sweet home,” bisikan Camille membuat Kwang menoleh. Mata Camille penuh dengan cinta dan mulai menelusuri lengannya yang melingkari pundak gadis itu. Kwang tersadar, melepaskan rangkulan dan berdiri kikuk.

Camille tersipu. Home? Home adalah tempat orang-orang tercinta berkumpul, dan benarkah rumah pohon itu adalah ‘home’ mereka? Tempat mereka saling mencintai? Tiba-tiba saja Camille berpikir untuk mencium pipi Kwang dan… ya… dia melakukannya. Kwang menjenggit.

“Thanks!”

Hanya itu? Camille mencium dan berterima kasih?  Gadis itu menaiki tangga masuk rumah pohon, meninggalkan Kwang yang belum sadar, masih mengelus-elus pipinya.

Oh…, apa yang akan terjadi nanti? Siapa pun… kapal, tim SAR atau iblis sekalipun… pisahkan kami!

Kekecewaan terus-menerus harus dialami Kwang. Hari terus berlalu namun tidak ada kapal penolong yang melintas, bahkan helicopter atau pesawat. Sebegitu misteriuskah pulau ini? Dia harus berinteraksi lagi dengan Camille, menekan perasaaannya dalam-dalam dan tersiksa.

Kwang berusaha bersyukur walau pun sulit. Setidaknya dia tidak sendirian di pulau ini. Ada Camille yang memasak, merajut baju untuknya. Sebab jika tidak, mungkin nasibnya akan seperti Tom Hanks di film ‘Cast Away’, bertingkah seperti orang gila, bicara dengan bola.

Pulau ini juga tak terlalu buruk. Setidaknya itu yang dia pelajari dari Camille. Gadis itu suka berpetualang, mengumpulkan flora apa saja yang dianggapnya unik, menjadikannya obat atau sekedar bumbu masak. Camille… gadis kaya itu… Ibunya pasti mendidik dengan baik, keterampilan kewanitaannya begitu terasah. Seperti bibinya…, Kwang mengakui. Calon istri ideal bagi Kwang.

Itukah sebabnya? Itukah makna dari kejadian ini? Kwang memang mengharapkan wanita seperti Camille dan sekarang Tuhan mengirimkan Camille untuknya. Tunggu! Tuhan?

Sejak kapan dia mulai percaya pada Tuhan? Mungkin karena pengaruh Camille. Gadis itu memindahkan salip di depan goa ke depan rumah pohon. Berdoa setiap pagi di bawahnya dan begitu yakin. Harus ada pegangan dalam hidup, dan Kwang masih bingung.  Keluarganya beragama Budha, sebenarnya dia dibesarkan dalam lingkungan Budha, namun di pertambahan usianya Kwang ragu.

Semua yang ada di diri gadis itu membuatnya gila. Dunianya jungkir balik. Bisa-bisanya mengharap Chamile Louis d’Varney sebagai istri? Bagaimana pendapat teman-temannya jika tahu? Mungkin mereka menganggapnya tak tahu malu. Seorang yang tak jelas bapaknya mencintai Putri d’ Varney, bagaimana reaksi Antoine d’Varney sendiri? Mungkin membunuhnya, ya… Antoine pasti melakukan itu.

Dia tidak pantas! Kwang meyakinkan hal itu di hatinya saat berdiri di bawah air terjun, menikmati air yang jatuh bebas di kepalanya. Dia ingin melenyapkan impian-impian gilanya itu. Dia juga ingin Camille menghilang atau dirinya lenyap dari kehidupan Camille. Air itu sangat jernih, Kwang menengadah dan yakin, kejernihan air yang menampar-nampar pipinya pasti bisa menjernihkan otaknya.

Camille yang kelelahan sampai di pinggir sungai. Dia meletakkan tas anyaman janurnya di tanah lalu berjongkok, menegak air yang tertampung di telapak tangannya. Saat matanya beralih pandang ke air terjun, sosok Kwang terlihat. Berdiri di bawah air terjun, tanpa pakaian dan air mengalir bebas di sekeliling tubuhnya. Dia teringat saat melihat hal itu pertama kali. Dia terlalu lemah waktu itu, berpikir aneh-aneh dan pingsan.

Sekarang pun Camille juga berpikir aneh-aneh. Kwang berdiri di depannya beberapa kaki, menikmati kesegaran air dan… apa yang akan dilakukan pria itu jika Camille mendekat? Udara sangatlah terik siang ini dan Camille juga ingin mandi.

Camille memang melakukannya. Dia menanggalkan semua pakaian dan berjalan menuju air terjun. Menuju Kwang tentu saja.

Apa yang sebenarnya aku lakukan? Menggodanya?

Kwang masih terlena dengan dinginnya air. Camille kini berada di belakangnya. Tangan halus itu menggapai. Ada sedikit keraguan tapi hasrat hati semakin menuntut. Dan saat tangan itu menempel di punggung Kwang, jantung Camille tak beraturan. Sebuah getaran membuat perutnya jungkir balik.

Kwang menoleh perlahan. Wajah cantik menyambutnya, rambut yang basah dan tak perlu melihat keseluruhan, karena keremajaan tubuh Camille terpampang sekejap dan dia terlarut.

Telapak tangan Kwang yang kasar meraba kedua pipinya. Mata Camille memejam, merekam kejadian itu di memory otaknya. Hal ini akan dia ingat sepanjang hidupnya, hatinya bersorak karena Kwang menerima cintanya, hingga saat dagu pria itu menelusuri tulang rahangnya seperti yang pernah dia bayangkan. Dagu dengan jenggot tak beraturan yang memberikan sensasi aneh. Dan dadanya serasa meledak. Kwang menciumnya! Kwang merebut ciuman pertamanya. Dia melotot, terkejut dan harus mengatur nafas.

Ini gila! Gadis ini membuatku gila!

Bibir Camille serasa manis. Kwang ingin mereguk lebih dalam lagi. Dia ingin mengukung gadis itu dalam cintanya. Semenit yang lalu dia ingin Camille menghilang namun melihat gadis itu menawarkan keindahan di depannya, bahkan tak menolak ciumannya yang liar… Kwang tersesat… pusaran itu benar-benar menjerat. Air yang mengguyur serasa menghilang. Segala tentang Camille melenakan Kwang dan sekarang bibir gadis itu direguknya. Dia ingin lebih, begitu juga Camille. Kwang tahu itu saat jemari Camille memainkan rambut di belakang kepalanya.

Oh, aku mohon jangan…

Kwang menahan diri untuk tidak menurunkan tangannya dari pipi Camille. Namun dada yang bergesekan membuat Kwang merasakan Camille yang semakin mengeras. Gadis itu menegang dan menginginkannya. Sama seperti dirinya. Sama seperti kegilaan primitifnya.

Bayangan wajah marah Antoine d’Varney tiba-tiba muncul, begitu juga bayangan teman-teman seprofesinya yang pemabuk, mengacungkan gelas-gelas berisi minuman beralkohol murahan padanya. Bersorak! Memberinya selamat karena berhasil menjerat putri kaya. Menikahi Camille yang mungkin sedang mengandung anaknya saat mereka ditemukan. Lalu apa maksudnya sikap alim yang dia tampakkan pada teman-temannya selama ini? Hebat! Kau lebih hebat dari kami, Shin Hyun Kwang… .

Kwang melepaskan diri dari Camille. Kekecewaan menyelinap di mata Camille. Ini salah, Kwang menyadarkannya lewat pandangan mata lalu berbalik ke batu tempat bajunya dijemur. Entah kenapa kepedihan merambati mata Camille. Dia menangis menatap punggung Kwang yang menjauh. Rasanya tertolak, hatinya perih.

Apanya yang salah? Jika cinta ini salah, dimana letak kesalahannya?

Kwang naik ke daratan, memakai pakaian dan meninggalkannya begitu saja. Camille merasa keadaan akan sangat jauh berbeda bagi mereka sekarang. Setidaknya cinta itu ada. Camille bisa merasakannya sekejap yang lalu, sebelum bayangan kelabu meragukan Kwang dan melepaskan ciuman.

Kekakuan terasa saat mereka makan malam.  Mereka membisu. Camille menyodorkan ikan bakar pada Kwang. Kwang menerimanya tanpa memandang wajahnya. Suara binatang malam menjadi iringan dan suara ombak terkadang membuat telinga Kwang menaik.

Hanya Kwang yang menghindari bersitatap dengan Camille, gadis itu tidak. Dalam kebisuan, Camille mengamati gerak-gerik Kwang dan mendamba walau sakit hati karena ditolak masih ada. Dia tidak berkonsentrasi pada ikan di tangannya padahal duri-duri sangatlah tajam. Duri ikan membuat jarinya tertusuk dan menjerit kesakitan.

Kwang reflek meraih jari yang tertusuk itu untuk melihat lukanya tapi Camille menepis uluran tangan Kwang. “Apa pedulimu?”

Kwang menurunkan tangannya yang terulur lalu mendesah. Camille menghisap darah yang keluar di jarinya.

“Camille…, segalanya semakin sulit bagi kita.”

Akhirnya …  setelah kebungkamannya, Kwang mengakui. “Apa yang harus kita lakukan?” Kwang merasa pertanyaannya itu bodoh.

“Aku akan menjilati lukaku karena tertolak,” jawab Camille. Kwang memberikan tatapan penuh penyesalan.

“Kalau kau…,” Camille meneruskan bicara, “Terserah!”

Camille menuju tangga, namun sebelum naik, dia berbalik, menatap punggung Kwang yang masih duduk di depan api unggun. “Kenapa kau menganggap ini sulit?”

Kwang tidak menjawab. Suara jangkrik menyahut dan kayu yang terbakar di api unggun berderit-derit. Camille merasa kesal karena seperti bicara dengan batu. “Apa susahnya mengakui perasaanmu?”

Masih tidak ada jawaban.

“Jangan membohongi diri sendiri, Kang!” Camille semakin menuntut. Air mata menelusuri lembah antara hidung dan tulang pipinya, dadanya serasa nyeri.

“Bercinta di air terjun seperti makhluk primitive bukanlah kelakukan manusia beradab.”

Kenapa pria ini malah mengajukan terori konyol.”Lalu bagaimana yang beradab itu?”

“Harus ada pernikahan, Camille…”

“Kalau begitu mari kita menikah! Ada salib, kita bisa berjanji saling setia di sini!”

Gadis itu seperti bernegosiasi. Berusaha memutar penalaran dan memang benar… seperti berhitung, bukan? Bahwa satu ditambah satu sama dengan dua?

Kwang mulai kesal. Dia berdiri, berjalan ke depan Camille dan mencengkeran lengannya. “Sadarlah, Camille!  Ini hanya hasrat primitifmu sementara. Mungkin karena hanya ada kita berdua di pulau ini. Aku satu-satunya pria yang kau lihat sebulan terakhir ini jadi kau berpikiran yang aneh-aneh. Seperti yang aku katakan sebelumnya, akan lebih baik jika kita tidak terikat saat ditemukan. Kau kembali ke keluargamu. Pria-pria kaya akan menyambutmu di pesta-pesta dan  semua yang terjadi di pulau ini terlupakan.”

“Persetan dengan hari esok!” Suara Camile semakin parau. “Bagaimana jika kita tidak pernah ditemukan?”

Mata Kwang bergerak bimbang. Hal itu tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Yang dia harapkan hanyalah satu… ada kapal penolong yang datang dan dia terlepas dari Camille. Tapi kelakukan mereka adalah sebaliknya. Dan dia sendiri… Membangun rumah pohon yang kokoh seakan mereka akan menempatinya selama ribuan tahun bahkan menyebutnya ‘home sweet home’? Apa-apaan!

“Aku mencintaimu, Kang. Secara jujur aku akui itu. Walau pun kau menganggapku wanita konyol yang tak tahu malu, terserah!” Camille menaiki tangga memasuki rumah pohon. Tergesa-gesa dan marah.

Kwang mengatur nafas.  Perasaan masing-masing sudah jelas. Harusnya ini mudah. Tapi perbedaan status mereka begitu terbentang. Kwang bisa merasakan kemarahan orang tua gadis itu jika Camille terikat dengannya dan sekali lagi bayangan olok-olok teman-temannya mengganggu. Tunggu! Apa ini hanya ketakutanku saja?

Kwang menuju pantai. Laut pasang malam ini. Dia ingin menenangkan diri sejenak. Berdekatan dengan Camille membuat dadanya sesak. Camille tidak mungkin menghilang darinya, bagaimana kalau dia yang menghilang? Tentu saja, laut pasang akan memudahkan semuanya. Namun sekali lagi, wajah Camille yang bersedih karena kehilangannya terbayang. Dan memikirkan bagaimana nasib gadis itu sendirian di pulau, membuatnya tidak tega. Camille sudah benar-benar mengikatnya. Itu sulit. Sangat sulit!

 

—oOo—

Brian memasuki ruangan Robert dengan tergesa-gesa. Keputusan Robert Casssidy benar-benar di luar dugaan, pria itu menarik separuh kapal pencari Camille dan itu membuatnya marah.

Saat dilihatnya Cassidy duduk santai di kursinya, Brian kehilangan kata. Niat untuk memaki dan membentak urung begitu saja. Karisma Robert tidak bisa dikalahkan. Karisma itu bahkan membantunya selama ini.  Brian mengatur nafasnya bahkan bicara dengan pelan. “Alasan yang buruk menarik separuh kapal, Tuan.”

Casssidy menyandar di kursi dengan lengkungan di sudut mulutnya. Mungkin sebentar lagi Antoine juga melakukan hal yang sama dengan Brian tapi sepertinya tidak karena Antoine sudah mengerahkan orang sendiri, pelaut-pelaut lokal untuk mencari Camille.

“Aku yakin kau akan berpikiran begitu, Brian. Tapi ini sudah hampir dua bulan dan tidak ada hasil. Aku harus kembali ke Korea dan kau juga.”

“Saya tidak akan kembali sebelum Camille ditemukan!” tekan Brian. Tangannya terkepal di atas meja dan dia mulai gusar.

Cassidy tertawa perlahan. Inilah saatnya mengatakan pada Brian yang sesungguhnya. “Brian Rothman yang terhormat, ada banyak wanita cantik di luar sana. Kenapa kau terpaku pada wanita yang kau temui selama kunjungan singkatnya di Seoul?”

Brian menunduk. Cassidy benar, mungkin dia memang sudah gila. Dia ingin menemukan Camille, mengikat gadis itu dengan cintanya atau mungkin menikahinya. Dia bahkan rela menunggu Camille lulus kuliah untuk itu.

“Belum tentu juga Camille menyukaimu. Lagi pula… ada sedikit permusuhan antara mendiang ayahmu dengan Antoine,” Cassidy berdiri memandang jendela kaca yang berada di belakangnya dan menghela nafas. Ombak tampak berkejaran sejauh dia memandang. “Antoine tidak akan pernah setuju kau menjalin hubungan dengan putrinya jika tahu kau anak Nick Rothman.”

“Apakah ini karena cinta segitiga di antara mereka?” Brian mengibaskan tangannya. “Saya rasa Tuan d’Varney cukup besar hati untuk berpikir bahwa anak-anak tidak ada hubungannya dengan semua itu.”

Cassidy jadi geram mendengar omongan Brian. Dia menyeberangi meja lalu mencengkeram kerah baju Brian. “Jangan sok tahu, anak muda. Ini perintah! Kembali ke Korea sekarang juga! Biarkan d’Varney yang mengurus semua ini sendiri!”

“Apakah… apakah Tuan d’Varney yang menghendaki ini?” tanya Brian gugup.

Casssidy perlahan melepaskan cengkeramannya. “Bukan, tapi ini kehendak Nyonya d’Varney.”

Ya, ini kehendak Charlie. Cassidy semakin yakin dengan arti ‘mimpi’ itu. Charlie ingin Brian hengkang dari usaha pencarian Camille. Itu maksudnya! Dan itu lebih baik!

 

—oOo—

Mereka benar-benar terasing di dunia sendiri-sendiri. Bulan di langit bulat sempurna. Kwang yakin malam ini laut pasang lagi. Hawa lembab semakin menusuk pori-pori kulit. Bulan tertutup awan seketika dan benar saja… hujan turun! Kwang menurunkan anyaman-anyaman janur penutup jendela-jendela. Camille membantunya menutup pintu rumah dan berharap atap tidak bocor.

Jika mereka masih tinggal di dalam goa, mungkin mereka sudah kebanjiran seperti biasanya. Namun hujan hari ini lain, hujan pertama untuk menguji kekokohan atap rumah itu, dan ternyata memang kokoh, tak ada satu pun air yang merembes masuk, daun-daun yang rimbun dari pohon itu menaungi mereka , menjadi keuntungan dari rumah pohon itu.

Kwang terlalu mengkawatirkan rumah pohon. Bajunya basah saat menutup jendela, dia melepaskan baju itu untuk berganti dengan baju yang lain. Sekilas dia melirik Camille, gadis itu melakukan hal serupa. Apa-apaan ini? Mereka bahkan berbagi tempat untuk berganti baju? Kwang merasa tidak ada privasi di tempat ini dan dia memalingkan wajah dari Camille.

Namun sial… bayangan Camille memantul di dinding. Lekuk tubuh Camille terlihat jelas di dinding berterang jingga karena obor yang kian meredup dan akhirnya padam karena air hujan… atau pun angin… Kwang tidak perduli! Yang penting bayangan erotis itu tak terlihat lagi.

Kwang memejamkan mata, menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan.

“Kang, kau masih di situ?” Camille ketakutan karena gelap. Hanya ada suara hujan dan kilatan di langit yang sesekali kentara.

“Iya, Camille. Aku di sini.”

Camille berbaring di tempat tidurnya. Menghadap kepada Kwang walau pun Kwang tak terlihat. “Kang, mendekatlah.”

“Tidak!”

Kwang bisa mendengar Camille mendesah. Dia mengira Camille sedang kesal. Tapi dia salah, Camille sedang tersenyum. “Kenapa? Apa wajahku menakutkan?”

Pertanyaan macam apa itu?

“Justru karena kau cantik, aku jadi ketakutan,” jawaban yang tepat, Kwang.

“Kau bilang aku cantik? Aku tersanjung! Kau juga tampan.”

Oh, apa yang kau katakan, Camille… sebenarnya mau mengarah kemana pembicaraanmu?

Camille agak bangkit, menopangkan kepala dengan tangannya saat sikunya ditekuk. “Semua orang tahu apa yang terjadi jika pria dan wanita berada di satu ruangan dalam keadaan begini? Aku tahu siapa dirimu, Kang. Kau mengintipku tadi.”

Camille benar-benar menantang Kwang. “Camille, hentikan!”

Camille tersenyum. Kwang mencintainya, dia tahu itu. “Atau kau ingin aku menggodamu lagi? Seperti di air terjun. ”

“Perkataan bodoh!”

Camille merambat menuju Kwang. Indra penciumannya menuntun. Di sana ada Kwang, dengan sejuta pesonanya yang mengganggu otaknya beberapa hari terakhir ini. Membuatnya penasaran karena pria itu menolaknya. Membohongi diri sendiri, dan Camille terluka, menangis berhari-hari karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Camille tidak ingin  kesedihan itu berlarut. Dia sangat mencintai Kwang. Lepas dari Kwang yang menganggapnya gila, dia ingin terikat dengan pria itu. Saat mereka ditemukan nanti, dia ingin ada alasan untuk tetap bersama Kwang. Mungkin memohon pada ayahnya, dia rela meninggalkan kuliah demi mengikuti pria itu kemana pun. Dia gila… ya… dia gila… . Camille mengkerling, ini memang sudah keturunan, Neneknya meninggalkan Ayahnya yang masih kecil demi mengejar pria Perancis,  Ayahnya melakukan apa saja demi memanjakan Ibunya yang cantik dan sekarang…. dia… dia akan melakukan apa saja demi Kwang.

Kwang tersentak saat tangan Camille tiba-tiba menyentuh pahanya. “Camille, kau!”

Kata-katanya terputus karena ciuman gadis itu membungkam mulutnya.  Dia berusaha melepaskan ciuman itu. Kilat menyala di langit sehingga dia bisa melihat wajah Camille sekilas lalu menamparnya. Camille menangis, rasa panas menjalar di pipi kirinya dan Kwang menyesali semua itu. “Maafkan aku… Ini demi untuk kebaikanmu sendiri.”

Camille semakin merasa tersakiti. “Demi kebaikanku atau karena ketakutanmu?”

“Apa maksudmu?”

Semua  ini gila. Gelap di sekeliling dan mereka bertengkar.

“Kau takut! Kau hanya takut jika dunia mencerca kita jika ditemukan.”

“Justru aku takut masyarakat mencibirmu jika melakukan kesalahan.”

“Apakah mencintaimu adalah kesalahan?”

Kwang menahan gejolak dadanya yang turun naik. Dengan berat hati dia mengaku. “Iya!” suara sesenggukan Camille masih terdengar, Kwang mengulurkan tangannya, membekap gadis itu di dadanya. “Camille…, semuanya akan lebih sulit bagimu jika mencintaiku.”

“Kenapa? Karena kau orang miskin? Anak wanita penghibur, begitu?”  Camille menengadah, mengelus wajah Kwang yang lamat-lamat kentara, mungkin di sebabkan matanya yang semakin terbiasa dengan kegelapan. Bulu kasar di wajah Kang menusuk-nusuk pergelangan tangannya. “Aku rela menanggung semua itu, Kang. Aku ingin terikat denganmu.”

Kwang menangis. Dia tidak bisa menekan perasaan itu lebih lama. Dia juga menginginkan gadis ini. Dia mencium tapak tangan Camille yang masih menempel di pipinya dan menangis. “Aku mohon jangan, kau gadis terhormat, ada pria-pria lain di luar sana yang lebih layak.”

Camille menghapus air mata Kwang dengan Ibu jarinya. dia juga menangis, tamparan Kwang masih terasa di pipinya. “Tapi aku memilihmu. Tidak bolehkah aku, gadis terhormat ini memilihmu?”

“Kang…,” Camille menegakkan punggungnya, sekali lagi mencium pria yang sangat dicintainya. Pria yang dia yakin benar akan menjadi suaminya. Kwang tidak menolaknya kali ini. Lengan kekar pria itu mengukungnya dan ciuman itu menghangat. Dia benar-benar terperangkap sekarang. Kwang benar-benar tak akan melepaskannya, karena tangan kasar pria itu menelusuri sepanjang punggungnya, menelusup ke balik baju rajutan bututnya.

Tubuhnya semakin menegang dan dia merasakan ketakutan dan kesenangan bercampur aduk di dadanya, saat Kwang membaringkannya di tempat tidur dengan lembut. Sekali lagi Kwang mencium bibirnya, menyusuri tulang rahang, turun ke lehernya…. dan berhenti… Kwang menghentikan semua itu untuk memandang wajahnya dan Camille melongo seperti orang bego karena mengharapkan lebih.

“Kang…, kenapa?”

Kwang tersenyum. “Apa yang kau harapkan, Camille?”

“Cintamu.”

Kwang mengelus pipi Camille lalu mencium keningnya. “Tidurlah.”

“Di sini! Satu tempat tidur bersamamu?”

Kwang menggeleng. “Kau tidak tahu apa yang kau inginkan. Kau hanya…

“Apa?” Camille melingkarkan lengannya di seputar leher Kwang.

“Kau mungkin hamil jika kita tidur satu tempat tidur.”

“Seorang anak pasti bisa mengikat kita, Kwang.”

Sekali lagi Kwang menggeleng. “Orang-orang di luar sana pasti akan mengira aku menjebakmu.”

“Tapi kita tahu kalau kau tidak menjebakku.” Camille tersenyum. “Bahkan aku yang menjebakmu.”

Kwang merasa geli mendengarnya. “Kau bilang mengharapkan cintaku.”  Camille mengangguk, Kwang merebah di sampingnya. Tangan Camille terulur ke dada Kwang. Mereka berdekapan, menghalau hawa dingin. “Kau sudah mendapatkannya. Bahkan jauh sebelum kau meminta.”

“Aku tahu, kau mencintaiku. Karena itu aku bersikeras.”

Kwang mengangguk. “Kau gadis keras kepala dan terbodoh yang pernah kutemui.”

Camille mempererat pelukannya. “Menikahlah denganku, Kang. Besok kita saling bersumpah setia di depan salib.”

“Aku bukan Nasrani, kau ingat!”

“Iya, tapi biarkan aku yakin… kau tidak akan meninggalkanku setelah kita ditemukan. Hanya itu satu-satunya cara agar aku yakin.” Camille membenamkan wajahnya di dada Kwang, memukul-mukul dan menangis. “Aku bahkan berharap kita tidak pernah ditemukan, jika… jika … pandangan dunia membuatmu takut. Aku mohon, Kwang. Aku mohon turuti permintaanku!”

Gadis itu sangat tulus mencintainya. Kwang mencium ubun-ubunnya dan membisikkan kata-kata indah. “Iya…, jika itu bisa menenangkanmu, akan kulakukan. Aku mencintaimu.”

Dan Camille semakin terharu di dada Kwang.

“Tidurlah.”

Camille mengangguk. Setidaknya Kwang sudah mendeklarasikan cinta mereka. Camille tertidur dengan kepuasan hati di pelukan Kwang. Mimpinya tentang bersumpah setia di depan altar gereja saat mereka ditemukan. Besok, salib di depan rumah itu yang sementara menyaksikan kesungguhan cinta mereka. Besok akan serasa berbeda bagi mereka berdua serta pulau ini di mata mereka.

BERSAMBUNG