He is My Brother (End Part)

Yo Won menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kembali perlahan. Dengan berbuat demikian, dia berusaha mengontrol emosinya. Hye Na masih di ruang tamu, memberikan penjelasan pada Ji Woon akan kemungkinan batalnya rencana makan malam, sedangkan dia yang shock dengan kenyataan siapa anak ABG yang hidup bersama Hye Na, duduk di meja makan bertemankan sebotol air mineral dingin.

Penghianat! Yo Won menganggap Hye Na penghianat. Bagaimana mungkin Hye Na menampung anak yang sangat dia benci kelahirannya itu?

Sementara Hye Na yang mulai bisa menjelaskan situasinya pada Ji Woon, mengantarkan pria itu keluar dari apartemen. Ji Woon agak enggan meninggalkan Hye Na. “Kau yakin tidak memerlukan bantuanku menghadapi kemarahan Ibumu?”

Hye Na menoleh ke arah dapur sebentar lalu berpaling lagi pada Ji Woon. “Tidak,” katanya sambil menggeleng. “Aku bisa menangani masalah ini sendiri. Doakan aku ya, Kak.”

Harapan Hye Na membuahkan lengkungan manis di bibir Ji Woon. Namun Hye Na terkejut saat tiba-tiba lelaki ini memeluknya. Sesaat Hye Na menikmati kehangatan dada bidang pria itu. “Aku tidak tahu apakah harus bersedih atau senang mendengar hal ini,” desah Ji Woon. “Kenyataan kalau Ryu Jin adalah adik tirimu sangatlah mengejutkan.”

“Aku pun juga terkejut saat pertama kali mendengarnya,” respon Hye Na.

Ji Woon melepaskan pelukannya, lalu menatap mata Hye Na lekat-lekat. “oh, ya. Tentang pernikahan kita? Masih tetap dua minggu lagi, kan?” Ji Woon seolah kawatir jika terjadi penundaan.

“Iya, Kakak…, tenang saja.” Jawaban Hye Na membuat ji Woon menghela nafas lega.

“Oke, kalau begitu… aku akan mengurus semuanya.”

“Iya…, sekarang… Kakak pergi dulu, ya… biar aku urus dulu masalah keluargaku?”

Ji Woon mengangguk. Sekali lagi dia ragu untuk meninggalkan Hye Na. “Kau yakin tidak mau kutemani menghadapi.. . “

“Tidak!” potong Hye Na secara tegas. Ji Woon terbahak dibuatnya, “Oke, selamat malam, Manis.” Jawaban dari Hye Na yang berupa senyuman, membuat Ji Woon lega untuk meninggalkan gadis itu.

Hye Na hanya mampu menatap punggung Ji Woon yang berangsur menghilang di tikungan koridor gedung apartemennya. Dia menghela nafas panjang, menghimpun kekuatan untuk menghadapi kemarahan Yo Won. Langkahnya menuju dapur serasa berat. Di sinilah Yo Won berada, duduk di kursi makan dengan sebotol air mineral dingin. “Kenapa kau menampung anak itu?” Hye Na sedikit tersentak karena rupanya Yo Won cukup mengenali kehadirannya di ruangan itu.

“Ibu, aku mohon mengertilah,” Hye Na bergerak ke kursi di depan Yo Won lalu berusaha memegang tangan Ibunya itu. Tapi Yo Won mengibaskan tangannya. “Kau penghianat, Hye Na!”

Mulut Hye Na ternganga seketika mendengar tuduhan itu. “Penghianat?’

“Iya! Kau penghianat! Kau tahu betul bagaimana sakitnya hati Ibu karena kelakuan orang tua anak itu!”

“Salah satu orang tuanya adalah Ayahku, Ibu!”

“Aku tidak perduli!” bentak Yo Won. Nyata benar sakit hati wanita itu karena bekas suaminya. Hye Na bisa melihat itu dari air mata yang berusaha dibendung oleh Yo Won.

“Ini bukan masalah Ibu perduli atau tidak! Ryu Jin tetaplah adikku walau…

“Dia bukan adikmu! Hanya Jae Min lah adikmu! Hanya anak yang terlahir dari rahimku yang berhak jadi adikmu!”

“Ibu.. Tidak bisa seperti itu….”

“Sekarang…,” Yo Won masih tetap memotong penjelasan Hye Na. Tidak seperti sebelumnya, dia berusaha lebih tenang dan berkata lebih lambat namun tegas. “Pilih aku atau anak itu!” Keputusan itu membuat Hye Na semakin kalang kabut.

“Kakak…,” panggilan Ryu Jin membuat Ibu dan anak itu menoleh. Yo Won hanya sekilas melihat Ryu Jin sebelum berpaling dengan lagak seakan melihat kotoran, sedangkan Hye Na berusaha menampakkan senyum tabahnya.

“Ya, Ru Jin.” Hye Na sebenarnya terkejut dengan penampilan Ryu Jin yang mirip orang hendak bepergian lengkap dengan tas ransel yang sudah tersampir di pundaknya.

“Janganlah jadi anak durhaka kepada Ibu Kakak hanya karena saya,” kata Ryu Jin yang membuat hati Hye Na mencelos. Apalagi saat melihat Ryu Jin mendekati mereka dan membungkuk hormat pada Yo Won. “Jika memang Nyonya menginginkan saya pergi, saya akan pergi.”

“Bagus! Kau sadar benar dengan posisimu!” ujar Yo Won sengit.

“Ibu!” larang Hye Na.

Yo Won menatap Ryu Jin dengan penuh dendam. “Kau mau pergi,kan? Ayo pergi! Tunggu apa lagi, kau!”

“Ibu!”

Ryu Jin membungkuk lagi pada Yo Won lalu berbalik, melangkah meninggalkan ruangan itu. Hye Na yang panik berusaha mengejar. “Tunggu! Kau mau kemana? Sudah kubilang masuk ke kamarmu dan…

“Dan Kakak bertengkar dengan Ibu Kakak?” jawab Ryu Jin saat sampai di ruang tamu.

“Dengar! Bukan hanya sekali ini aku beradu mulut dengan Ibuku.”

“Aku tidak suka dijadikan obyek adu mulut!”

Hye Na berusaha menetralisir keadaan tapi rupanya hal itu malah semakin dianggap runyam oleh Ryu Jin. “Aku tahu dari awal kalau tempatku memang bukan di sini,” kata Ryu Jin sambil melewati Hye Na yang kehabisan kata untuk menenangkan Ryu Jin.

Hye Na tertegun sejenak. Sedetik saja keadaan sudah berada di luar kendalinya. Dia tersadar dan mulai mengejar Ryu Jin yang sudah memasuki lift. Terlambat! Pintu lift tertutup. Hye Na terpaksa turun melalui tangga darurat demi mengejar Ryu Jin. Dia bahkan mencari ke segala arah saat sampai di lobi gedung apartemen. Bahkan bayangan Ryu Jin pun sudah tak tampak lagi. Dengan panik, dia menghubungi HP Ryu Jin, rupanya anak itu sengaja mereject panggilannya. Sekali lagi, dia berusaha menghubungi Ryu Jin. Ryu Jin sudah menonaktifkan nomornya.

Hye Na meneruskan pencariannya di pelataran parkir. Keputusa-asaan semakin tampak di wajahnya karena tidak juga menemukan Ryu Jin. Hye Na mempunyai pikiran untuk menghubungi Jae Min. Bukankah saat Ryu Jin ‘minggat’ beberapa waktu yang lalu, rumah Jae Min yang dia tuju? Ya, apalagi Ryu Jin belum mengenal banyak orang di Seoul. Sudah pasti Ryu Jin akan ke rumah Jae Min lagi.

“Halo! Jae Min?” Hye Na menghubungi Jae Min dengan nafas ngos-ngosan. “Ibu tahu tentang Ryu Jin!”

Jae Min mengumpat di telephon. Hye Na jadi protes.”Ini bukan waktunya bicara kotor! Ryu Jin kabur! Kalau dia ke tempatmu seperti waktu itu, kabarkan padaku!”

Hye Na menutup telephon setelah Jae Min mengiyakan perintahnya. Namun yang tidak Hye Na ketahui adalah Ryu Jin  bersembunyi tak jauh dari tempatnya berdiri, tepatnya di balik sebuah mobil di belakang Hye Na, Ryu Jin berjongkok hingga mampu mendengar Hye Na menghubungi Jae Min. Rupanya Ryu Jin tidak mungkin menuju rumah Jae Min lagi, semuanya yang berbau keluarga Goo…., dia merasa tidak berhak di situ. Dia merasa marga yang selalu disandangnya sejak kecil itu, memanglah bukan haknya.

 

— He is My Brother —

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Cameo :

Kim Joon as Woo Bin

Ryu Jin berjalan lunglai membelah malam kota Seoul. Kota yang begitu hingar-bingar itu rupanya tidak ramah padanya. Kota yang terlalu membahayakan jika diarungi oleh anak ABG dari pedesaan seperti dirinya. Namun apa dikata, tak ada satu pun tempat yang dia tuju sekarang. Rumah Goo Jae Min? Dia tahu konsekuensinya, sudah pasti Jae Min akan menghubungi kakaknya dan Hye Na langsung meluncur ke rumah Jae Min. Ke tempat pengacara Kim? Hanya akan menambah luka saja, kebobrokan orang tuanya tentu semakin kentara di depan pengacara itu. Bukankah masalah vila saja belum selesai?

Ryu Jin semakin melangkah. Entah dia sadari atau tidak, dia melewati sebuah lorong yang sangat berbahaya jika dilewati sendirian. Benar saja! Beberapa orang perlahan mengepungnya. Tepatnya ada sepuluh orang. Ryu Jin tidak mengenali sembilan orang lainnya tapi Ryu Jin kenal betul suara orang yang ke sepuluh. “Hm, Goo Ryu Jin, senang sekali berjumpa denganmu di sini!”

Woo Bin! Pekik hati Ryu Jin. Kesembilan orang lainnya sudah berancang-ancang dengan pemukul softball mereka. Ryu Jin semakin waspada, tapi dia yakin kalau kalah jumlah dan kekuatan.

“Gu Jun Pyo pasti senang mendengar semua ini,” seru Woo Bin lagi.

Ryu Jin yakin kalau gerombolen itu akan membalaskan dendam Jun Pyo. Dia berusaha melarikan diri melalui celah salah seorang gerombolan itu yang bertubuh ceking.

“Tangkap dia!” teriak Woo Bin. Sontak gerombolan itu melakukan perintahnya. Ryu Jin berlari sambil mengumpat. Suasana hatinya sudah sangat buruk malam ini dan sekarang ditambah amukan gerombolan yang kurang kerjaan. Tidak punya urusan sendiri selain ikut campur urusan orang lain atas nama solidaritas.

Naas bagi Ryu Jin karena memilih jalan buntu. Dia tidak bisa lagi bergerak. Gerombolan itu mengepung lagi. Menghantamkan tongkat softball di tangan mereka ke tubuh Ryu Jin. Beberapa kali Ryu Jin mampu mengelak tapi karena cara kerja gerombolan itu yang sukanya keroyokan, akhirnya tenaga Ryu Jin habis. Pukulan telak mengenai perutnya. Ryu Jin oleng. Hanya dengan sekali dorong, Woo Bin mampu merobohkan Ryu Jin ke tembok di belakangnya. Tanpa sadar akan bahaya yang terjadi pada lawannya, pimpinan Geng itu membuat sebuah paku karatan yang lumayan besar, yang kebetulan tertancap di tembok, menusuk punggung Ryu Jin. Woo Bin terkejut saat Ryu Jin terjatuh dengan posisi menelungkup. Darah sudah banyak keluar dari punggung Ryu Jin.

Woo Bin panik. Dia menyesali apa yang diperbuat tapi semuanya sudah terlambat.

“Bos! Ayo pergi! Sebelum polisi datang!” salah satu anak buahnya mengingatkan Woo Bin yang mendadak linglung melihat kondisi Ryu Jin. “Tapi…,”

“Ayo, Bos!” Mereka menarik Woo Bin agar meninggalkan tempat kejadian. Ryu Jin yang malang benar-benar sendirian.

“Tidak… semua ini tidak mungkin,” Hye Na menggeleng lemah. Beberapa waktu yang lalu polisi menghubunginya perihal kondisi Ryu Jin di rumah sakit, dan sekarang polisi mengatakan kalau ada kemungkinan pengkeroyokan Ryu Jin dilatar-belakangi pembalasan dendam Geng. Ji Woon yang ikut mendampingi Hye Na di rumah sakit hanya bisa mengelus punggungnya untuk menenangkan. Hye Na merasa tidak mampu menghadapi semua ini sendirian dan merasa perlu menghubungi Ji Woon karenanya. Namun yang tidak dimengerti oleh Hye Na adalah… ikut hadirnya Yo Won di situ. Mau apa wanita itu sebenarnya?

“Apakah mungkin adik anda terlibat dalam keanggotaan geng tertentu?” tanya petugas polisi itu pada Hye Na. Hye Na tidak mampu lagi menahan tangisnya. Pertanyaan polisi itu tidak mampu dia jawab. Baru seminggu dia mengenal Ryu Jin, dia agak ragu bisa mengenal anak itu seratus persen.

“Tidak! Ryu Jin tidak mungkin terlibat hal semacam itu,” Ji Woon menjawab sambil menenangkan Hye Na yang menangis di pelukannya.

“Baiklah, jika nanti dia sadar, satu-satunya jalan untuk mengetahui siapa pelakunya adalah menginterogasi Ryu Jin sendiri. Kami pergi dulu, Nona Goo.”

Ji Woon mengucapkan terima kasih pada petugas-petugas itu. Hye Na masih membenamkan tangis di dadanya. Komplotan geng? Benarkah anak sepintar dan selugu itu, jadi begitu naif sehingga ikut serta dalam pergaulan geng? Tunggu! Dendam geng? Hye Na tiba-tiba sampai pada titik kesimpulan lalu melepaskan diri dari pelukan Ji Woon untuk berdiri di depan Yo Won. “Katakan padaku, Ibu! Apa andil Ibu dalam kejadian ini?”kata Hye Na tanpa ekspresi.

“Apa maksudmu?”  tanya Yo Won yang tak habis pikir dengan perkataan Hye Na.

“Dendam antar geng? Sebegitu dendamkah Ibu pada anak itu hingga mengerahkan anggota Yakuza untuk mengeroyok Ryu Jin?” perkataan Hye Na membuat alis Ji Woon bertaut.

“Hah!” Yo Won memalingkan muka dari Hye Na dengan anggun. “Sudah kubilang pengetahuanmu tentang kelompok itu sangatlah minim. Buat apa geng besar macam Yakuza mengeroyok bocah ingusan macam Ryu Jin!”

“Hanya Ibu yang tahu alasannya!” Hye Na masih saja menuduh Yo Won, membuat Ibunya menoleh lagi padanya dan menatap tajam. “Kau ingin tahu jawabnya? Aku tidak tahu! Aku tidak tahu kenapa harus ada geng yang mengkeroyok anak itu! Tapi bisa kupastikan itu bukan Yakuza! Mungkin benar kata polisi itu kalau … kalau… siapa nama anak itu? Ryu Jin! Kalau Ryu Jin memang ikut suatu geng abal-abal!”

“Ryu Jin tidak mungkin sebodoh itu!”

“Siapa yang tahu? Jawab aku sekarang! Berapa lama kau mengenal anak itu? Jawab!”

“Hye Na, sudahlah..,” Ji Woon melerai adu mulut Ibu dan anak itu dengan merangkul Hye Na. Sekali lagi kekasihnya menangis di dadanya.

Tangisan Hye Na terhenti saat dokter yang menangani Ryu Jin keluar ruangan. Tentu saja HYe Na menyambut dokter itu dengan berondongan pertanyaan seputar keadaan Ryu Jin. “Dia masih beruntung karena paku itu tidak mengenai organ vitalnya.”

“Lalu…, apakah dia bisa terkena tetanus? Aku dengar paku yang menusuknya berkarat!” Ji Woon berusaha memperjelas keadaan Ryu Jin.

“Apa anda tahu kalau Ryu Jin mendapat suntikan ATS tiga hari yang lalu?”

“Saya… mungkin dia mendapatkan itu di SMA Shinwa, dia cerita kalau dokter di sana memeriksanya sehabis berkelahi.”

“Itu keuntungan ganda, Nona. Hanya saja, dia kehilangan banyak darah saat ini dan persediaan darah yang sesuai dengan golongan darahnya sangat minim.”

“Katakan padaku, dokter. Apa golongan darahnya?” Hye Na terlihat tak sabar.

“Golongan darah A dengan Rhesus positif.”

“Saya bergolongan darah A,” kata Hye Na hampir terpekik. “Ambil darah saya asalkan Ryu Jin selamat!”

Percakapan itu membuat Yo Won yang masih terdiam di kursinya menyadari sesuatu. Sesuatu hal yang selama ini dia yakini bahwa darah lebih kental dari pada air. Hye Na dan Ryu Jin memang bersaudara, lihatlah persamaan golongan darah di antara mereka. Sebenci-bencinya Yo Won pada Ryu Jin, dia tidak bisa memisahkan Ryu Jin dari Hye Na, kakaknya. Waktu seakan melambat bagi Yo Won, apalagi saat melihat antusiasme Hye Na untuk menyumbangkan darah bagi Ryu Jin.

Hye Na dan Ji Woon memasuki ruang UGD itu hanya sekedar menjalani pemeriksaan untuk mencocokkan darah Hye Na dengan Ryu Jin. Yo Won berdiri dari duduknya, berjalan ke arah pintu UGD. Melongok ke dalamnya melalui lubang kaca pintu UGD.

Kenapa harus anak-anak yang selalu menjadi korban percekcokan orang tua? Tapi salahkah aku jika masih sakit hati atas perselingkuhan Ayah Hye Na dengan Ibu anak itu? Oh, Ya Tuhan, Apa yang harus kulakukan?Aku kurang bijak menjadi Ibu.

Hye Na merasa lega karena darahnya cocok bagi Ryu Jin. Dia menyumbangkan lima kantong darahnya tanpa memperdulikan wajahnya yang berubah pucat sehingga Ji Woon harus memapahnya saat keluar dari ruang UGD. “Kau terlalu memaksakan diri, Hye Na,” sesal Ji Woon.

“Tidak apa, Kak. Yang penting Ryu Jin selamat,” desah Hye Na. Ji Woon mendudukkannya di sebuah kursi di lorong rumah sakit lalu berjongkok dan meremas tangannya.  “Duduklah di sini. Aku carikan susu hangat untukmu.”  Hye Na mengangguk sambil tersenyum manis. Sekejap Ji Woon menepuk-nepuk tangan Hye Na sebelum berdiri meninggalkan Hye Na.

Yo Won yang melihat Hye Na sendirian semenjak ditinggalkan Ji Woon, mendekati putrinya. Dia menyodorkan sekotak susu kemasan pada Hye Na. Dia terkejut kerana Hye Na menampik bantuannya. Susu kemasan itu terhempas cukup keras hingga pecah di lantai.

“Ibu…,” desah Hye Na ketika Yo Won menatap susu kemasan itu dengan pandangan tak percaya. “Apa sebenarnya arti kami, anak-anak bagi kalian?”

Yo Won menoleh pada Hye Na, menatap pandangan mata Hye Na yang tampak menerawang. “Bahkan kalian mengharapkan kelahiran kami sebagai pengikat tali cinta kalian sebagai orang dewasa yang saling jatuh cinta,” lanjut Hye Na lagi.

“Hye Na…,”

“Dan saat kalian bercerai, kalian sama sekali tak menghiraukan kami. Kenapa? Karena kami gagal mengikat tali cinta kalian?”

“Hye Na…, bukan begitu, Sayang… .”

“Lupakan!”

“Lupakan?”

“Lupakan ocehanku, Ibu. Karena aku hanyalah seorang anak. Tidak pantas rasanya mendikte Ibu.”

Hye Na berdiri agak susah payah. Setidaknya uneg-unegnya selama ini sudah diutarakan. Kesedihan hatinya akibat perubahan karakter sang Ibu semenjak perceraiannya dengan sang Ayah. Sang Ibu yang terlalu berkubang dengan kesibukannya atas nama pengalihan perhatian dari kekecewaan yang terpendam hingga tak menghiraukan anak-anaknya. Ibunya yang tiba-tiba menjadi penuntut yang ulung atas dirinya. Menututnya menjadi yang ter- dan ter- hanya karena anak sulung, sampai pada kisah Jae Min yang naif dan urakan hanya demi mencari perhatian.

Hye Na melangkah tertatih. Dia menangis kembali. Di mana orang tua itu saat dia membutuhkan di masa puber? Di mana mereka saat Hye Na berubah menjadi pribadi yang kaku dan suka meledak? Lima belas tahun kelabu dan dia berusaha tegar menghadapinya. Dia merasa lelah. Peran sebagai anak sulung, yang selalu harus sempurna di depan sang Ibu, sungguh membuatnya merasa lelah. Kali ini bukan hanya hatinya yang lelah, fisiknya pun serasa sangat lemah. Hye Na pun ambruk di lorong rumah sakit. Teriakan panik Ji Woon dan Yo Won adalah hal terakhir dia dengar malam itu.

—oOo—

“Ya…, syukurlah kau sadar,” kata Ji Woon saat melihat Hye Na yang perlahan membuka matanya.

“Di mana, aku?”  bisik Hye Na sambil meliukkan tubuhnya. Dia terkejut melihat peralatan medis yang berbentuk mirip lampu dan teropong yang tergantung di langit-langit tepat di atasnya.

“Di ruang UGD, Sayang,” jawab Ji Woon sambil terkekeh.

“Aku… aku tidak akan dioperasi, kan?” Hye Na masih saja melihat benda di atasnya itu ngeri. Ji Woon semakin geli mendengarnya. “Tentu saja tidak. Kau pingsan tadi malam.”

“Tadi malam?” Hye Na mulai mengingat apa yang terjadi. “Jam berapa sekarang?” Hye Na meremas kemeja Ji Woon di dadanya. “Ryu Jin… Bagaimana Ryu Jin?” Hye Na semakin panik.

“Tenanglah,” desah Ji Woon. Selanjutnya pria itu menjawab pertanyan Hye Na. “Pertama, ini jam dua belas siang. Kedua, Ryu Jin sudah sadar sebelum dipindahkan ke kamar. Masa kritisnya sudah lewat. Jangan kawatir, Ibumu menjaganya dengan baik.”

Dahi Hye Na langsung berkerut. “Ibu?”

Ji Woon mengangguk. “Kenapa?”

Hye Na tiba-tiba menyingkap selimutnya dan bangkit. “Aku harus menemui Ryu Jin.”

“Pelan-pelan, Sayang.”

“Tidak bisa, aku harus cepat. Ibu pasti akan menyakiti Ryu Jin lagi.”

“Lagi?” Ji Woon menekan bahu Hye Na saat gadis untuk kembali duduk di ranjang. “Soal geng itu? Bukan Ibumu pelakunya.”

“Maksudnya?”

“Bisa dibilang anak-anak petinggi geng lokal Korea yang membalas dendam karena Ryu Jin memukul salah satu teman mereka.”

“Gerombolan anak-anak nakal SMA Shinwa?” Hye Na mulai menyadari apa yang terjadi.

“Ya, kau tahu juga rupanya. Jadi bukan Ibumu atau pun Yakuza pelakunya.”

Hye Na mendesah. Di satu sisi dia lega karena Ibunya bukan dalang pengeroyokan Ryu Jin tapi di sisi lain, dia merasa bersalah telah berprasangka buruk pada Yo Won.

“Aku tetap harus menemui Ryu Jin,” kata Hye Na sambil menuruni ranjang. “Antarkan aku, Kak.”

“Baiklah,” Ji Woon menghela nafas lalu membimbing Hye Na berjalan menuju kamar Ryu Jin.

“Kira-kira apakah dua minggu lagi, Ryu Jin benar-benar pulih?” tanya Ji Woon saat mereka berjalan di lorong rumah sakit.

“Entahlah, Kak. Kita tanyakan saja pada dokter. Memangnya ada apa dua minggu lagi?”

Ji Woon berdecak dan memberi tatapan jengkel pada Hye Na.

“Eh, Iya. Dua minggu lagi pernikahan kita,” kata Hye Na sambil nyengir, menyadari arti tatapan Ji Woon. Pria itu jadi tak habis pikir dan mengucek puncak kepala Hye Na saking gemasnya.

“Masih kuat jalan? Atau aku ambilkan kursi roda saja? Kita masih harus naik lift menuju kamar Ryu Jin,” tawar Ji Woon yang merasa Hye Na belum kuat betul berjalan. Hye Na menggeleng. “Aku bukan orang lumpuh yang musti pake kursi roda, Kak.”

Sekali lagi Ji Woon tersenyum. Dia masih saja memapah Hye Na memasuki lift lalu berjalan menyusuri koridor lantai tiga, tempat kamar Ryu Jin berada. “Nah, ini dia,” seru Ji Woon saat sampai di depan kamar Ryu Jin.

Saat membuka pintu kamar Ryu Jin, hal yang membuat Hye Na tak percaya adalah… saat dia melihat Yo Won yang menyodorkan gelas, membantu Ryu Jin minum melalui sedotan. Ryu Jin terbatuk-batuk karena tersedak. Yo Won bahkan menepuk-nepuk pelan punggung Ryu Jin. “Minumnya pelan-pelan saja.”

Saat Yo Won melihat Hye Na mendekat. Dia merasa harus menjauhkan diri dan berbisik pada Ryu Jin, “Aku tinggal sebentar.” Dia bahkan menarik lengan Ji Woon untuk meninggalkan ruangan itu, memberikan kesempatan pada Hye Na agar bicara berdua dengan Ryu Jin.

“Aku tinggal sebentar,” bisik Ji Woon  pada Hye Na sebelum meninggalkan ruangan itu.

Pada mulanya suasana kaku di antara keduanya yang ada, lalu Hye Na tersenyum, meraih telapak tangan Ryu Jin lalu mengenggamnya. Ryu Jin merasa kalau telapak tangan Hye Na serasa hangat, dia membalas senyuman Hye Na.

“Kau anak nakal yang selalu membuatku kawatir,” omel Hye Na.

Ryu Jin menghela nafas. “Kenapa kakak harus mengkawatirkan aku?”

“Karena kau adikku. Apalagi sekarang… darahku mengalir di tubuhmu,” tegas Hye Na. Mulut Ryu Jin manyun mendengarnya. “Apakah aku dihukum?”

Hye Na memutar kedua bola matanya. “Tentu saja kau dihukum karena membuatku kawatir setengah mati. Kau dihukum menjadi adikku seumur hidup!”

“Jadi adik wanita kaku dan emosian seperti Kakak? Wah, dosa apa aku di kehidupan sebelumnya?” candaan Ryu Jin membuahkan cubitan dari Hye Na di lengan anak itu. Ryu Jin meringis karenanya.

“Kau juga harus sudah sembuh dua minggu lagi!” perintah Hye Na. “Kalau tidak… , kau tidak boleh hadir di pernikahanku!”

“Menikah? Kakak menikah? Dengan siapa?” kabar itu sungguh mengejutkan Ryu Jin. Hye Na jadi sewot. “Ya…, kau tidak lihat aku datang dengan siapa tadi?”

“Oh, Yoon Ji Woon? Kok bisa?”

“Aush! Sudah jangan banyak tanya!” Hye Na tambah sewot. Ryu Jin tersenyum tipis, padahal dalam hati sudah sangat kegelian melihat wajah Hye Na yang memerah. Untuk tertawa terbahak-bahak, rasanya punggungnya masih ngilu.

Setidaknya keadaan Ryu Jin sudah membaik dua minggu kemudian walau pun sesekali punggungnya masih terasa ngilu. Dia menghadiri pernikahan Hye Na dengan duduk di atas kursi roda. Jae Min – lah yang bertugas mendorong kursi roda itu kemana pun Ryu Jin ingin bergerak. Termasuk saat Ryu Jin mau menyapa pengantin pria yang sudah siap di depan altar.

“Kau gugup?” tanya Jae Min pada Ji Woon. Ryu Jin menatap Ji Woon yang tampak tinggi dengan stelan yang berpotongan pas dengan tubuhnya.

“Sedikit,” jawab Ji Woon. Dia semakin salah tingkah saat membenahi dasi kupu-kupunya yang sebenarnya tidak bermasalah. “Bagaimana penampilanku?”

“Cukup tampan,” jawab Jae Min.

“Cih! Tidak ada yang lebih tampan dariku di ruangan ini,” protes Ryu Jin yang berbuah tatapan protes dari Jae Min dan Ji Woon.

“Hai! Jae Min, kenapa kau di sini? Bukankah kau seharusnya jadi pengiring pengantin Hye Na?” Ji Woon bingung dengan keberadaan Jae Min di situ.

“Hye Na adalah cucu kesayangan kakek. Sudah pasti kakek ingin jadi orang yang mengantarkan Hye Na menuju altar. Nah, itu dia!”

Percakapan ketiganya terhenti saat pintu gereja terbuka. Hye Na tampak cantik dengan gaun pengantinnya, berjalan ke altar dengan diiringi sang kakek serta si kembar Hye Mi dan Hye Ri yang tampak cantik berbaris di depan mereka.  Jae Min mendorong kursi roda Ryu Jin ke dekat tempat duduk Yo Won.

Hari ini keluarga besar Goo menyaksikan Hye Na dan Ji Woon saling bersumpah setia. Berjanji untuk saling berbagi suka dan duka  dalam ikatan pernikahan. Yumi meneteskan air mata haru. Yo Won menyeka air matanya dengan tissue, mencoba agar tidak terbawa suasana. Dia menoleh pada Ryu Jin yang duduk di kursi roda di sebelahnya. Wajah anak itu tak kalah sumringah.

“Kau tidak mungkin tinggal dengan Hye Na setelah ini, bukan?” tanya Yo Won tiba-tiba. Ryu Jin menoleh padanya dengan dahi berkerut. “Setelah ini…, mereka mungkin akan membuatmu risih jika kau berdekatan dengan mereka,” lanjut Yo Won sambil menunjuk Hye Na dan Ji Woon yang kini berciuman di altar.

“Kau akan tinggal bersamaku. Aku sudah membicarakan hal ini dengan Hye Na,” kalimat itu bagaikan Guntur yang menggelegar bagi Ryu Jin.

—oOo—

Hye Na menghela nafas sambil melentangkan tangannya, lalu menghembuskannya kembali perlahan. Selepasnya pesta pernikahan tadi, Hye Na dan Ji Woon langsung bertolak ke Jeju. Mereka akan menikmati bulan madu di Villa milik keluarga Goo di Jeju. Tentu saja pengacara Kim sudah memberesi masalah dengan pihak bank, sehingga segel ‘disita’ sudah lenyap seluruhnya dari setiap sudut vila itu. Dan sekarang di sinilah Hye Na, di pantai belakang Vila itu, berjalan menuju perairan yang tenang diikuti Ji Woon yang berjalan di belakangnya.

Saat kakinya menyentuh air yang menjilat-jilat itu, dia berhenti, mengitarkan pandangannya di panorama yang indah lalu tersenyum pada Ji Woon. Pria itu membalas senyumannya lalu merangkulnya mesra, memberikan ungkapan cinta dalam ciuman yang hangat dan penuh gairah.

Ji Woon tersenyum saat melepaskan ciumannya, tangannya masih menangkup pipi Hye Na yang kini memerah. “Aku mencintaimu, Nyonya Yoon.”

“Aku juga mencintaimu, Tuan Yoon.”

Ji Woon tertawa bahagia karenanya lalu merangkul Hye Na, mengitarkan pandangan ke sekeliling. “Laut tenang malam ini,” ujarnya.

Hye Na mengangguk. “Inilah yang selalu aku rindukan dari tempat ini.”

Tiba-tiba ada ide liar di benak Ji Woon. “Kau pernah lihat film ‘Breakingdown’? Bagaimana kalau kita berbulan madu ala ‘Breakingdown’.”

“Bulan madu ala Breakingdown?”

Ji Woon berkerling mencurigakan. “Berenang telanjang bersama-sama lalu… .”

“Hm, sepertinya aku tahu kelanjutannya,” Hye Na menyipitkan mata. Ji Woon mencolek hidung Hye Na sambil berujar,”Istri pintar… .”

Tentu saja Hye Na pintar menebak. Hye Na memberikan pukulan kecil di dada Ji Woon. Suaminya tertawa melihatnya merajuk lalu memeluknya erat-erat.

“Yang tak kumengerti adalah kau ngotot berbulan madu ke sini,” ujar Ji Woon sambil melepaskan pelukan. “Oh, iya, tentu saja, setelah ini, kita berbulan madu sepuasnya di apartemenku di Amerika,” tebak Ji Woon.

Tapi Hye Na menggeleng. “Aku tidak akan ikut kakak ke Amerika,” keputusan sepihak yang membuat Ji Woon terkejut. “Kenapa?”

Hye Na menghela nafas lalu memandang lautan lepas kembali.

“Apa karena Ryu Jin?” tebak Ji Woon. “Ayolah, Sayang. Kau dengar, kan.. niat tulus Ibu untuk merawat Ryu Jin selama kita di Amerika. Kau harus memberi kepercayaan pada Ibumu untuk melakukan niatannya itu.”

Hye Na tersenyum saat menoleh pada Ji Woon. “Aku ingin anakku lahir di Korea.” Ji Woon tertawa mendengar ucapan Hye Na. “Kita bisa menunda mempunyai anak kalau begitu.”

Giliran Hye Na terkekeh karena ucapan Ji Woon. “Bagaimana bisa menunda kalau anak itu sudah ada di perutku?” Mata Ji Woon melebar seketika.

“Malam itu Kakak terlalu serius meyakinkan cinta kakak hingga membuatku hamil,” Hye Na tersipu mengakuinya. Sungguh peristiwa konyol yang dialami mereka yang nyata-nyata pasangan dengan pendidikan yang tidak bisa dibilang rendah.

Ji Woon bahkan tak bisa berucap apa-apa. “Ya, Tuhan…, aku… .” Mendadak Ji Woon bagai orang linglung. Hye Na masih saja terkekeh melihatnya memandangi wajah lalu turun ke perut istrinya. “Aku… aku sudah jadi calon ayah … di malam bulan maduku?” Hye Na mengangguk cepat. Ji Woon memeluk lagi. “Terima kasih, Sayang.” Langit di atasnya tampak cerah saat Ji Woon menengadah. Bintang serasa dekat hingga dia bagaikan mudah memetiknya. “Terima kasih, Tuhan,” desahnya lagi sambil menutup mata.

“Hm, Kakak!”

Ji Woon melepaskan pelukannya dan memandang Hye Na yang memainkan kancing di dadanya. “Bagaimana dengan bulan madu ala ‘Breakingdown’-nya?” tanya Hye Na. Ji Woon tampak menimbang-nimbang sesuatu. Bulan madu ala ‘Breakingdown’ dengan keadaan Hye Na yang hamil muda? Oh, Tidak! Jangan jadi gila.

“Kita istirahat saja,” kata Ji Woon sambil merangkul Hye Na, mengajaknya kembali ke vila. Hye Na jadi merajuk, “Yah, Kakak… katanya mau… .”

“Tidak!” tolak Ji Woon. Tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Dia bahkan bergegas kembali ke vila. Mau tak mau Hye Na mengikutinya walau masih menggoda untuk melakukan bulan madu ala ‘Breakingdown’.

“Jadi tidak jadi, nih?”

“Tidak!”

“Kenapa?”

“Karena anak kita.”

“Memangnya kenapa anak kita?”

Oh My God, Hye Na. Pleasse, deh!….

Sementara itu… Apa yang dilakukan Yo Won untuk mendidik Ryu Jin? Rupanya Ibu satu ini tidak belajar dari pengalaman. Cara mendidiknya masih sama dengan cara dia mendidik Hye Na dan Jae Min. Lihat saja tingkahnya yang tiba-tiba menghadapkan Ryu Jin dengan beberapa gepok uang di salah satu ruangan megah di mansion mewahnya.

“Ini ada uang di depanmu. Apa yang akan kau lakukan dengan uang itu? Jika kau sebagai Goo Jae Min, kau akan menghabiskan uang itu untuk hal-hal yang tidak perlu. Jika kau jadi Goo Hye Na, kau akan menginvestasikan uang itu di bursa saham hingga berlipat ganda. Dan sekarang… Kau!… Goo Ryu Jin.. Apa yang akan kau lakukan?”

Ryu Jin berpikir sejenak. Di tangannya tergenggam uang itu. Lima juta Won bukanlah jumlah yang sedikit. “Bagaimana kalau aku ikut audisi drama?” tanya Ryu Jin.

“Tidak!” bentak Yo Won. “Kau tidak boleh jadi actor playboy macam Ayahmu!”

Well…, Ryu Jin…. Selamat berakrab-akrab dengan Go Yo Won, ya…. HEhehehe….

TAMAT

Good Bye 2011, Wellcome 2012

HAPPY NEW YEAR 2012

WISH YOU ALL THE BEST

THANK FOR THE ATTENTION

SISICIA

😉

Iklan

He is My Brother (Part 6)

Jam weker berbunyi nyaring tepat pukul enam pagi, cukup membuat tidur Ryu Jin terganggu. Dengan malas dan masih memejamkan mata, dia menjulurkan tangannya, meraba-raba meja tepi ranjang  untuk memencet tombol ‘jam cerewet’ itu. Masih malas rasanya untuk bangun, Ryu Jin menggosok-gosokkan pipinya di bantal, mencari kenyamanan lagi setelah terusik. Namun, suara jam kuk-kuk yang terpasang di lorong depan kamarnya membuat telinganya berdenyut, suara boneka burung kenari yang keluar dari kotak kecil jam dinding itu cukup berisik sehingga Ryu Jin yang jengkel menutupi kepalanya dengan bantal. Dia lupa kalau semalam menaruh handphone-nya di bawah bantal, hasilnya… handphone itu jatuh ke lantai dan terbelah jadi tiga.

“Aish!” Mata Ryu Jin akhirnya terbelalak lebar menatap handphone malang itu. Rasa kantuknya hilang sudah dan perlahan duduk di tepi ranjang lalu menunduk memungut handphone itu. “Malangnya nasibmu, Handphone,” kata Ryu Jin sambil berusaha menyatukan ketiga bagian handphonenya.

“Tapi karenamu rasa malasku hilang,” Ryu Jin cengar-cengir tak jelas.

Ryu Jin berdiri lalu berjalan keluar kamar sambil sesekali meliukkan pinggangnya ke kiri dan kanan, merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur di kasur empuk. Saat melewati kamar Hye Na, dia berhenti sesaat di depan pintunya. Ryu jin teringat kalau Hye Na langsung memasuki kamar sepulangnya dari berbelanja. “Apakah dia masih tidur?” batin Ryu Jin. Tangannya terulur hendak mengetuk pintu kamar itu tapi dia berpikir ulang. Enggan rasanya mengetuk pintu kamar Hye Na. Ryu Jin tahu kalau kakaknya itu pasti menangis semalaman, memikirkan pertunangan Ji Woon dan Sae Yon.

Ryu Jin mengedikkan bahu tanda kalau dia masa bodoh dengan urusan Hye Na lalu meneruskan langkah menuju dapur. Seperti biasa, benda yang dia tuju ketika di dapur adalah lemari es. Dia mengambil sekotak susu dari dalamnya lalu menenggaknya langsung tanpa dituang dalam gelas.  Sambil agak menyandarkan pantat  di bartable, Ryu Jin masih memikirkan ‘kisah percintaan’ Hye Na. Entah karena kebetulan atau apa, tertulis kalimat di kotak susu itu,

‘Biarlah aku bahagia melihat senyum bahagiamu karena mencintaimu tak harus memiliki bagiku.’

Gubrak! Ryu Jin hampir terjengkang membacanya. “Alay banget, nih,” Ryu Jin jadi cengengesan sendiri. Sekali lagi dia mendekati lemari es, mengeluarkan sekotak sereal dan roti tawar dari dalamnya.

“Pagi ini malas masak,” batin Ryu Jin sambil berjalan ke arah meja makan.

 “Sereal yang diberi sobekan roti tawar di atasnya, aku rasa cukup membuat kenyang,” kali ini dia bergumam saat menduduki kursi makan lalu mulai meracik menu yang sudah direncanakan. Pertama-tama dia membuka cup sereal itu lalu menyobek-nyobek roti tawar di atasnya dan menuangkan susu yang sudah sempat diminumnya sekali tengguk.

Saat dia akan memasukkan resep dadakannya di malam mulut, Ryu Jin teringat lagi pada Hye Na. “Kenapa jam segini dia belum bangun? Apa tidak kerja?” Ryu Jin jadi bertanya-tanya.

“Apa aku bangunkan saja? Tapi kalau nanti dia ngamuk?” sekali lagi Ryu Jin ragu. “Ah, biarin saja lah. Dia kalau ngamuk nyeremin,” itulah keputusan terakhir Ryu Jin. Dia mengangkat sendoknya dan berseru seolah ada orang yang duduk di depannya,” Selamat makan!”

Lagi asyik-asyiknya menikmati sarapan,Ryu Jin mendengar ada yang membuka pintu depan. “Pintu depan tidak dikunci semalaman?” Dahinya jadi berkerut. Apalagi saat mendengar suara langkah kaki yang berat berjalan menuju dapur. Ryu Jin membalikkan tubuh, memandang pintu masuk dapur.

Hatinya lega saat melihat Hye Na memasuki dapur, Ryu Jin mengira kalau orang lain yang masuk apartemen. Tunggu! Bukannya dia mengira Hye Na masih tidur? Lalu, bagaimana bisa Hye Na baru memasuki apartemen?

“Kakak dari mana?” tanya Ryu Jin masih dari kursi makannya saat Hye Na menyalakan heather untuk memanaskan air minum.

“Hm,” hanya gumaman yang keluar dari mulut Hye Na.

“Berarti Kakak bangun pagi-pagi sekali? Olah raga ya, Kak? Tapi kok masih pake piyama dan kimono?” Ryu Jin mengamati penampilan Kakaknya dari atas kebawah.

Hye Na jadi serba salah. Ryu Jin heran melihat perubahan muka Kakaknya yang tiba-tiba bersemu merah. “Kakak…,” Ryu Jin memandang penuh selidik. “Kakak pergi lagi semalam dan baru pulang?”

Tuing! Hye Na mati kutu.

“Ah, Sudahlah! Aku mau mandi!” Hye Na menutupi kecanggungannya. Ryu Jin semakin heran melihatnya terburu-buru memasuki kamar.

“Ada apa dengannya,” desah Ryu Jin. “Ah, masa bodo, lah,” Ryu Jin meneruskan makannya lagi.

He is My Brother

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

 Yo Won mendatangi pusat perbelanjaan yang merupakan anak bisnis dari perusahaannya. Dia memang langsung menuju ruangan besar yang khusus disediakan untuknya jika berkunjung. Gayanya yang sombong memang terkesan cuek, tapi dia tahu apa yang digosipkan para karyawan di pusat perbelanjaan ini dan karena itulah dia berkunjung.

Kepala security, manager tiap bagian penjualan dan kasir sudah menunggunya di ruangan besar itu. orang-orang yang kebanyakan berbeda gender dengannya itu langsung membungkuk saat dia memasuki ruangan dan duduk di ‘singgasana’-nya.

“Apa yang kalian ketahui,” suara keibuan Yo Won yang tegas memenuhi ruangan bagaikan perintah mutlak bagi para ‘abdi-abdi’nya itu.

“Nona muda ke sini semalam,” kata kepala security.

“Kau yakin itu Hye Na?”

“Iya, Nyonya. Ini beberapa rekaman yang sempat menangkap aktifitas mereka melalui CCTV,” kata kepala pelayan sambil menyodorkan sebuah kaset video.

Yo Won sedikit menggerakkan kepalanya.

“Oh, maaf, Nyonya.” Seakan tahu arti gerakan itu, Sang kepala Security mendekati mesin pemutar video untuk menampilkan hasil rekamannya di monitor. Jelas sekali kalau wanita yang terlihat di layar itu adalah Hye Na. Tampak Hye Na sedang di stand busana pria bersama seorang bocah ABG, lalu di stand peralatan kantor, Yo Won bisa melihat Hye Na saat membayar semua pengeluarannya di meja kasir.

“Berapa uang yang dibelanjakan?” tanya Yo Won.

Manajer bagian kasir yang merasa kalau itu tugasnya untuk menjawab pertanyaan Yo Won, mulai buka suara,”Cukup menguras isi kantong Nona muda, Nyonya.”

“Jawab yang jelas!” teriak Yo Won.

“I… iya, Nyonya,” Manajer Kasir menyodorkan tagihan kartu kredit Hye Na yang masuk pagi ini.

Yo Won mengkerutkan keningnya,” Nominal sebanyak ini untuk memanjakan pria muda?” batin Yo Won. Emosinya semakin meletup-letup. Tak disangka, anak pertamanya yang selama ini dia banggakan ternyata mulai berulah, bahkan lebih buruk dari anak keduanya. Mengkencani pria muda? Yang benar saja, Hye Na?

Hari Keenam bersama Adik ABG

Sama seperti kemaren-kemaren, Ryu Jin menumpang mobil Hye Na menuju sekolah. Ryu Jin merasa perjalanan pagi ini sangat sunyi. Dia sedikit enggan memulai pembicaraan. Dia takut Hye Na masih sedih karena masalah Ji Won.  Sekali lagi dia menoleh pada Hye Na. kakaknya itu langsung melengos, seolah menghindari bersitatap dengannya.

Ryu Jin  menghela nafas. Dia yang biasanya cerewet agak susah kalau tidak bicara lebih lama lagi. “Kakak masih sedih karena pertunangan Kak Ji Won?”

Hye Na masih menatap jalan di depannya. Sebenarnya dia berusaha menyembunyikan rasa malunya pada Ryu Jin, kupingnya berubah warna jadi merah. Tapi fenomena ini malah diartikan salah oleh Ryu Jin. Ryu Jin mengira kalau Hye Na mau menangis sehingga menenangkan Hye Na, “Sudahlah, Kak. Jangan sedih terus, Ehm… aku ada kata puitis buat kakak, begini…” Ryu Jin agak ragu memilih kalimat yang tepat.

“Biarlah aku bahagia melihat senyum bahagiamu karena mencintaimu tak harus memiliki bagiku,” kata Ryu Jin menirukan kalimat yang tertulis di kardus susu. Gubrak! Kenapa yang terpikir malah kalimat alay itu? Ryu Jin memukul-mukul kepalanya sendiri.

Hye Na jadi tak tahan lagi, dia tertawa terbahak-bahak saat menjalankan kemudi. Ryu Jin senang melihatnya. “Kakak tertawa? Kata-kata alay itu membuat Kakak tertawa?” Ryu Jin menyatukan telapak tangannya hingga terdengar suara tepukan keras.

Well, sebenarnya bukan kata-kata alay itu yang membuat Hye Na tertawa, tapi anggapan Ryu Jin kalau Hye Na masih bersedih masalah Ji Woon. Tapi untuk menceritakan apa yang terjadi semalam pada Ryu Jin, Hye Na merasa tidak perlu.

Hye Na menghentikan mobil tepat berada di halte bis. “Turun di sini!” perintahnya pada Ryu Jin. Anak ABG itu malah protes,”Kakak tidak mengantarku sampai sekolah?”

“Aku harus mengajar di  kuliah pagi, takut terlambat kalau mengantarmu sampai sekolah,” jawab Hye Na yang sebenarnya alasan saja, agar dia tidak keceplosan di depan Ryu Jin.

“Yah…,” desah Ryu Jin sambil keluar dari mobil.

“Kalau pulang cepat pulang. Jangan buat keributan lagi di sekolah!” teriak Hye Na sambil menjalankan mobil. Ryu Jin mengangguk sambil melambaikan tangan lalu duduk di kursi halte bis.

—oOo—

“Kena, kau!”  Ji Woon memeluk Hye Na dari belakang saat gadis itu berjalan di lorong kampus menuju kantornya. Tentu saja Hye Na kaget bukan main. Sekarang jam makan siang, Hye Na berniat ke kantor dulu untuk meletakkan tas dan laptopnya sebelum menuju kantin.

“Kakak,” Hye Na berusaha lepas dari pelukan Ji Woon. “Jangan seperti itu di sini. Malu dilihat orang,” bisiknya.

Masih saja memeluk Hye Na, malahan semakin erat, Ji Woon kini menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan. “Tidak ada orang di sini,” kilahnya.

“Ah, Kakak!” rengek Hye Na sambil mengibaskan tangan Ji Woon hingga melepas pelukan. Lalu berjalan cepat ke kantornya.

“Hei! Tunggu, Sayang!” teriak Ji Woon sambil mengejar Hye Na.

Aduh! Hye Na semakin malu saat mendengar Ji Woon memanggilnya ‘sayang’. Kalau ada rekan kerja lain yang mendengar, bagaimana?

Hye Na memasuki ruang kerjanya. Ji Woon pun ikut-ikutan masuk. Hye Na langsung meletakkan tas dan buku-bukunya di meja kerja, lalu mengambil dompet berniat segera ke kantin. Tapi tarikan tangan Ji Woon membuatnya terjerembab lagi di pelukan pria itu.

“Buru-buru amat, sih?” rajuk Ji Woon manja.

“Uh, Kakak mau apa, sih?” Hye Na jadi merengek.

“Bicara empat mata, Sayang.”

Aduh! Panggilan itu lagi. Pleasse, deh!

“Apa?” tanya Hye Na sambil mendongak, menatap mata Ji Woon. Pria itu malah tersenyum, membalas tatapan Hye Na secara lembut, membuat Hye Na tambah penasaran.

“Katakan sekarang, aku sudah lapar, Kak!”

Ji Woon pun menghentikan kekonyolannya. Jangan berani-berani membuat orang lapar penasaran, bisa-bisa diterkam nanti. Memangnya Hye Na macan? Capek, deh!

“Baiklah- baiklah,” Ji Woon melepaskan pelukannya lalu kedua tangannya menangkup wajah Hye Na. “Orang tuaku sudah tahu semuanya. Dua minggu lagi kita menikah!”

Hye Na terbelalak mendengar kabar itu. “Secepat itu? Kapan Kakak ketemu orang tua Kakak?”

“Pagi ini!”

Hye Na jadi gugup. “Lalu… lalu..,” Hye Na melepaskan tangan Ji Woon dari wajahnya lalu berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku. “Bagaimana bisa mereka menerima begitu saja keputusan Kakak? Lebih lagi.. lebih-lebih, bagaimana pertunangan Kakak dengan Sae Yon?”

Ji Woon setengah duduk di meja kerja Hye Na. Tangannya membalik jam pasir yang menjadi hiasan meja itu. “Pertunangan batal. Sae Yon sudah berbicara pada orang tuanya semalam. Paginya orang tua Sae Yon menelphon Ayah, dan Ayah menelphonku. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena pihak Sae Yon yang membatalkan. Lalu aku berbicara pada Ayah tentang hubungan kita.”

“Coba tebak,” Ji Woon mendekati Hye Na lagi, melingkarkan lengannya di pinggang ramping Hye Na. “Ibu senang karena kau akan menjadi menantunya. Selama ini ternyata Ibu menyukaimu.”

“Tapi kenapa secepat ini, Kakak? Dua minggu lagi?”

“Memangnya kenapa? Tiga Minggu lagi aku harus ke Amerika, SAyang. Lebih cepat kau jadi istriku lebih baik.”

“Tapi…,”

“Kenapa?” Ji Woon menyipitkan mata,”Apa karena Ryu Jin? Ya ampun, Hye Na, Kau belum memutuskan hubungan dengannya?”

“Apa?” Hye Na tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Ji Woon. Mungkin acting Ryu Jin terlalu bagus hingga berhasil menipu Ji Woon hingga mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih.

“Ya, kenapa kau tertawa?”

“Tidak…Ehm.. Tidak,” Hye Na agak susah menghentikan tawa. “Masalah Ryu Jin itu bisa diatur.”

“Apa maksudmu bilang begitu?”

“Ah, aku lapar. Ke kantin, yuk! Apa kakak tidak lapar?” Hye Na melepaskan diri dari pelukan Ji Woon.

“Ya… Goo Hye Na, jawab dulu pertanyaanku!”

“Nanti sesudah makan siang,” kata Hye Na sambil membuka pintu.

“Aish!” mau tak mau Ji Woon mengikuti Hye Na ke kantin.

—oOo—

Ting-tong! Bel apartemen Hye Na berbunyi. Hye Na yang sibuk memasak di dapur menghentikan aktifitasnya. “Tumben ada tamu sore-sore begini? Apa mereka tahu kalau aku di rumah sore ini?”

Ting-tong!

“Ryu Jin! Buka pintunya! Lihat siapa yang datang!” teriak Hye Na. Dia merasa tanggung kalau menghentikan aktifitas memasaknya untuk membuka pintu.

“Iya! Iya!,” Ryu Jin yang sedari tadi duduk di meja makan sambil membaca majalah akhirnya berdiri untuk membukakan pintu.

Saat anak ABG itu membuka pintu, yang tampak adalah seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik dengan dandanan glamornya. Ryu Jin tampak segan melihat wanita itu. Tapi yang ada malah wanita itu memandanginya dengan mata yang marah.

“Kau! Kau ada di sini?” tanya wanita itu sambil menunjuk Ryu Jin.

“Aku tinggal di sini,” kata Ryu Jin.

“Apa?” tentu saja wanita itu terkejut setengah mati. Gila! Hye Na benar-benar sudah gila, batinnya.“Di mana, Goo Hye Na?” tanyanya.

Belum sempat Ryu Jin menjawab. Wanita itu sudah menerobos pintu dengan congkaknya. Ryu Jin agak terjengkang karena lengannya tersenggol. “Hye Na!”

Hye Na tercekat mendengar panggilan itu. Tiba-tiba dia merasa ngeri memikirkan perkataan Jae Min,” “Coba saja kalau kau mau dicincang Ibu habis-habisan? Hatinya masih terluka walau pun sudah lama cerai dengan Ayah.”

“Ibu?” Hye Na menggigit-gigit kukunya.

“Hye Na!” sekali lagi panggilan itu menggelegar.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Goo Hye Na!” panggil Yo Won untuk terakhir kalinya. Kali ini lebih keras dan tegas dengan nada menyentak. Mau tak mau Hye Na menuju ruang tamu untuk menemui Yo Won. Benar saja, mata lebar Yo Won sudah seperti macan kelaparan yang siap menerkam.

“Kau tahu Ibu tidak suka kalau panggilan Ibu kau abaikan!” kata Yo Won dengan tegasnya.

“I…iya, Ibu,” Hye Na menjawab kikuk.

“Siapa laki-laki ini?” Yo Won menunjuk pada Ryu Jin. Hye Na menunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Kalau dia berterus terang kalau Ryu Jin adiknya, Yo Won pasti tambah marah. Ryu Jin adalah buah perselingkuhan ayahnya dengan wanita lain. Sudah pasti Yo Won murka kalau tahu Hye Na menampung anak itu.

“Bagaimana mungkin kau menjalin hubungan dengan pria semuda ini?” kata Yo Won tak habis pikir. Hye Na memandang cengoh pada Yo Won. Jadi Yo Won mengira kalau mereka… Tiba-tiba Hye Na merasa itu adalah alasan yang tepat untuk menyembunyikan identitas Ryu Jin sebenarnya.

“Ibu…, aku… .”

“Apa tidak ada pria dewasa yang bisa kau kencani, hah!” Yo Won masih saja emosi.

“Kakak,” Ryu Jin memanggil. Yo Won semakin menunjuk-nunjuk Ryu Jin. “Kau lihat ini? Kau lihat, Hah? Dia bahkan memanggilmu Kakak! Berani taruhan kalau umurnya pasti lebih muda dari Jae Min!”

“Sayang, apakah aku terlambat?”

Aduh! Ji Woon muncul di saat yang tidak tepat. Tidak tepat bagaimana? BUkankah Hye Na sendiri yang mengundangnya makan malam sekalian menjelaskan identitas Ryu Jin yang sebenarnya.

“Ji Woon?” tanya Yo Won yang memang sudah mengenal Ji Woon sejak kecil.

“Bibi,” Ji Woon membungkuk hormat. Hye Na tambah serba salah.

“Kakak,” Ryu Jin memanggil lagi. Ji Woon mengkernyit mendengar panggilan Ryu Jin.

Hye Na merasa kalau semua ini tidak bisa disembunyikan lagi. Dia menghela nafas. “Masuk ke kamarmu, Ryu.”

“Tapi…

“Masuk ke kamar kubilang!”

Ji Woon semakin bingung dengan suasana di ruang tamu itu. Ryu Jin menuju ke kamarnya dengan kepala tertunduk. Hye Na menatap Yo Won bagaikan pesakitan di depan hakim yang siap menghukumnya.

“Ayah meninggal dua minggu yang lalu dan Ryu Jin adalah anak Ayah.”

Kalimat itu bagaikan tamparan keras di pipi Yo Won. Seketika suhu ruangan bertambah panas di tubuh NYonya besar itu.

BERSAMBUNG

He Is My Brother (part 5)

Goo Yo Won berjalan dengan mantap menuju kantornya. Para orang kepercayaannya, seperti biasa mengikuti dari belakang. Goo Yo Won adalah cerminan wanita yang berhasil dalam karier tapi kurang beruntung dalam urusan rumah tangga. Perceraian dengan Ayah Hye Na terkadang membuatnya sensitive jika ada orang yang menyinggung. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengurus perusahaan warisan keluarga demi melupakan kegagalannya itu. Tak dipungkiri, temperamennya yang keras mampu membuat perusahaan tua itu semakin meroket dan sifat kerasnya itu pula yang diwarisi Hye Na.

Gerakan anggun Goo Yo Won semakin kentara saat menduduki kursi kerjanya. Bak seorang permaisuri yang menduduki singgasana, nyaris tanpa cela sedikit pun bahkan saat semua pengikutnya duduk di tempat masing-masing hanya dengan anggukan kepalanya sebagai perintah.

“Ada masalah ?” tanya Yo Won pada akuntannya.

Jawaban takut-takut terlontar dari mulut akuntan itu. “Be…be.. gini, Nyonya. Hutang Nona Goo Hye Na sudah jatuh tempo.”

“Lalu?” Yo Won mulai membuka berkas yang disodorkan manajemen pemasarannya walau pun pertanyaan masih dia ajukan pada akuntannya.

“Saya sungkan memerintahkan debt collector buat menagih.”

Pandangan Yo Won beralih lagi pada sang akuntan. “Hutang tetaplah hutang. Kirim orang untuk mengingatkan kalau dia belum juga membayar.”

“Tapi, Nyonya. Dia itu putri anda.”

Yo Won menghela nafas. Tampak bosan dengan perdebatan itu. “Hye Na harus membayar pinjaman itu karena itu uang perusahaan.”

Akuntan itu mau tak mau mengangguk. Apalagi saat Yo Won mengibaskan tangan, memberi bahasa tubuh mengusir.

“Apalagi ini? Bagaimana bisa penjualan merosot drastis?” Saat akuntan itu membuka pintu, Yo Won mulai mengomeli manajer pemasarannya.

Perkenalkan, Goo Yo Won. Ibunda Hye Na dan Jae Min. Wanita bertangan besi dengan pandangan mata yang tajam. Tak ada yang berani menentang kehendaknya. Dia mempunyai instiusi bisnis yang tajam, tak seorang pun memungkiri hal itu. Masih keturunan ‘Penggede’ Yakuza di Jepang. Hal itulah yang membuat bisnisnya di Jepang lancar bagaikan air yang mengalir dan lawan-lawan bisnisnya semakin segan. Namun, sebenarnya Yo Won mempunyai sisi lembut yang selalu tampak sebelum bercerai dengan Ayah Hye Na.

Sikapnya ‘tanpa tedeng aling-aling’bisa terlihat saat akuntannya mengingatkan tentang hutang Hye Na tadi. Beberapa tahun yang lalu, Hye Na memang meminjam uang perusahaan karena perkiraannya terhadap suatu saham meleset. Setiap bulan, Yo Won mengirimkan debt collector ke apartemen Hye Na dan setiap bulan pula debt collector itu datang di hadapan Hye Na dengan perasaan sungkan.

He is My Brother

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Cameo:

Yoon Eun Hye as Uhm Sae Yon.

 Hye Na mengeluarkan semua pakaian kotor dari dalam kamar. Ryu Jin baru saja keluar dari dalam kamar saat melihatnya begitu sibuk dengan buntalan besar itu.

“Apa itu?” tanya Ryu Jin sambil menunjuk buntalan besar.

“Kau pikir apa? Sudah pasti baju kotor.”

Mata Ryu Jin langsung terbelalak. “Sebanyak itu?”

Hye Na mengangguk sambil menaruh buntalan itu di lantai. Dia menuju ke handphone yang berada di atas meja untuk menghubungi layanan laundry apartemen.

“Hallo, ada banyak baju kotor di apartemen 213, tolong segera diambil,” perintahnya. Ryu Jin mengkernyitkan dahi.

“OKe! Seperti biasa, aku taruh di depan pintu,” kata Hye Na sebelum mematikan telephon.

“Kakak bicara dengan siapa?”

Hye Na menghempaskan pantatnya di sofa. “Petugas laundry,” jawabnya sambil menggapai majalah di meja.

“Buat apa ada mesin cuci kalau masih menghubungi laundry,” omel Ryu Jin sambil duduk disamping kakaknya.

“Ah, diam, kau! Badanku terlalu pegal buat mencuci. Sudah, angkut buntalan itu ke depan pintu masuk. Sebentar lagi petugas laundry datang.”

Ryu Jin bergerak malas melakukan perintah Hye Na. Pintu apartemen tertutup lagi dan Ryu Jin kembali duduk di samping Hye Na. “Kakak di rumah saja kalau minggu?”

“Hm,” Hye Na mengangguk saja. Pandangannya masih terkonsen pada bacaan di tangan.

“Membosankan kalau begitu,” desah Ryu Jin sambil merebahkan punggung di sandaran sofa.

“Apanya yang membosankan?” gumam Hye Na.

“Hidup kakak,” sahut Ryu Jin,.

“Membosankan bagaimana?”

“Ya, membosankan. Kerja dari Senin sampai Sabtu, Minggu hanya di rumah. Pantas saja sampai tua belum punya pacar.”

Cerocosan Ryu Jin membuat Hye Na naik pitam. “Apa kau bilang?” Hye Na menatap Ryu Jin secara tajam.

“Sampai tua belum punya pacar!” ulang Ryu Jin sambil nyegir.

“What ever you said!”

Ting tong! Bel apartemen berbunyi. “Tumben-tumbenan petugas laundry itu memencet bel,” pikir Hye Na.

“Bajunya sudah kukeluarkan, lho.”

“Ya…, siapa juga yang menyalahkanmu?”

Ting tong! Sekali lagi bel itu berbunyi. “Iya sebentar,” teriak Hye Na. dia lalu memerintah Ryu Jin, “Buka pintunya!”

“Uh, aku mlulu yang buka!”  walau pun mengeluh, bocah ABG itu membuka pintu juga.

“Maaf, apakah Nona Goo ada?” tanya sang tamu saat Ryu Jin membukakan pintu.

“Siapa, kau?”

“Saya orang suruhan ibunya, untuk menagih hutang.”

Gubrak! Ryu Jin rasanya ingin pingsan sekarang juga.

Hari Kelima Bersama Adik ABG

“Jadi Kakak punya hutang pada Ibu Kakak dan musti membayar lima juta Won setiap bulannya?” tanya Ryu Jin saat debt collector sudah pergi dengan uang hasil tagihannya.

“Iya, memangnya kenapa?” Hye Na mengangguk mantap.

“Agak aneh melihat Ibu yang menagih hutang anaknya, biasanya sih, Ibu itu mengikhlaskan uang yang dipinjamkan pada anaknya.”

Hye Na melirik Ryu Jin, “He, tidak usah heran. Bisnis is bisnis. Lagi pula yang kupinjam adalah uang perusahaan jadi aku punya kewajiban mengembalikan.”

“Keluarga yang aneh,” desis Ryu Jin sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Dan kau bagian dari keluarga aneh itu,” Hye Na bangkit dari duduknya. “Sudahlah! Cepat ganti bajumu! Kita ke mall. Cari baju yang kira-kira keluaran terbaru untuk kau pakai. Bajumu terlihat kurang up date.”

“Hah! Benar, Kak?” Ryu Jin melonjak senang.

“Iya, masa bohong!”

“Tapi Kakak baru saja bayar hutang.”

“Aish! Aku masih punya simpanan!”

“Yes!” Ryu Jin mengepalkan tangannya di udara.

Ryu Jin semakin girang saat berada di pusat perbelanjaan. Semua baju yang terpajang inginnya diborong semua. Hye Na memilihkan model baju yang sekiranya cocok untuk anak SMU walau pun usia Ryu Jin masih empat belas tahun, terkadang adu pendapat menyilingi acara shoping.

“Aku tidak mau pakai yang terlalu resmi!” protes Ryu Jin.

“Satu atau dua baju resmi mungkin kau perlukan,” Hye Na pun tak mau kalah.

“Terserahlah, kau kan bosnya,” biasanya Ryu Jin mengatakan itu kalau sudah capek berdebat.

Yang tidak Ryu Jin sadari, pusat perbelanjaan itu merupakan salah satu anak bisnis perusahaan keluarga Goo. Tentu saja semua pegawai di situ mengkerutkan dahi saat melihat Nona muda mereka datang bersama anak ABG. Tidak ada yang bisa disalahkan. Bukankah mereka tidak tahu kalau Ryu Jin adalah tiri Hye Na? Bahkan ada yang berbisik-bisik tak jelas, berpikiran buruk kalau Hye Na tertarik pada bocah ingusan.

“Nona muda rupanya sangat suka daun hijau,” bisik salah satu pegawai pada rekannya.

“Biar awet muda, kali.” Seperti halnya gossip. Yang lain menggosok bahan omongan itu hingga makin panas dan sip. Apalagi saat mereka melihat kalau Hye Na yang ternyata mengelurkan kartu kredit demi membayar semua pengeluaran Ryu Jin. Wah, makin heboh.

“Work sheet-ku habis, belikan juga, dong!” Ryu Jin tanpa malu-malu meminta pada Hye Na.

“Oke, kita ke stand peralatan kantor,” Hye Na menyetujui permintaan Ryu Jin. Pegawai yang mendengar hal itu semakin heboh.

Siapa yang menjalani hidup, siapa pula yang heboh!

Bukan hanya worksheet yang mereka borong dari stand peralatan kantor, tapi Hye Na yang menyadari kalau persediaan kertasnya menipis, juga memborong berpak-pak kertas.  Hye Na tampak kewalahan membawa belanjaannya, anehnya, dia menampik tawaran seorang pegawai untuk membantunya. Hye Na hanya menerima troli yang diberikan pegawai itu untuk mengangkut bawaannya.

“Ke foodcourt dulu, yuk! Lapar, nih!” ajak Hye Na. Ryu Jin yang bertugas mendorong troli Cuma bisa mengangguk.Mereka segera memasuki lift.

“Tunggu!” seorang pria menghentikan pintu lift yang sudah akan tertutup. Kakak-beradik yang sudah berada di dalam lift terkejut melihat pria itu.

“Kak Ji Woon?”

“Hye Na?”

“Siapa, kak?” seorang wanita bertanya pada Ji Woon, membuyarkan keterkejutan Hye Na dan Ji Woon karena pertemuan mendadak itu.

Greep! Wajah Ji Woon mendadak memucat. Hye Na memandangi wanita itu dari ujung rambut ke ujung kaki.

“Dia… dia Hye Na, teman kerjaku,” jawab Ji Woon gugup lalu menoleh pada Hye Na, “Hye Na… ini…

“AKu Sae Yon, kekasih Kak Ji Won,” potong wanita itu sambil mengulurkan jabat tangan. Dan lift yang bergerak ke lantai empat itu tiba-tiba bersuasana panas.

——————————–

“Jadi orang tua kalian menjodohkan kalian?” tanya Ryu Jin demi menegaskan kembali kabar yang dikatakan Sae Yon, beberapa menit setelah mereka duduk berempat di salah satu stand foodcourt.

“Iya, kami bahkan baru bertemu pagi tadi,” Sae Yon mengangguk riang. Hye Na dan Ji Woon sama-sama menunduk. Hye Na sudah kehilangan nafsu makannya. Dia hanya memainkan pasta yang dipesannya, memuntirk-muntirkan di garpu tanpa mau mendekatkannya ke mulut.

“Sepertinya kau sangat senang dengan perjodohan ini?”

“Tentu saja!” Sae Yon menoleh pada Ji Woon. “Siapa yang tidak suka jadi calon istrinya Kak Ji Woon?”

Hati Hye Na tambah panas mendengarnya. Ji Woon semakin menunduk, mati kutu di samping Hye Na.

“Oh, ya?” Ryu Jin menoleh pada Ji Woon lalu merangkul Hye Na. “Aku juga bangga bersama Hye Na kalau begitu.” Tindakan Ryu Jin yang tiba-tiba membuat Hye Na kaget.

Apa-apaan nih, bocah! Batin Hye Na. Ji Woon mendongak, menatap Kakak-beradik yang disangkanya sepasang kekasih itu.

“Iya, dong. Hye Na dan Kak Ji Woon kan setipe. Kalau kau saja bangga menjadi kekasih Ji Woon, aku juga bangga jadi… .”

“Au!” cerocosan Ryu Jin berubah jadi teriakan keras  saat Hye Na menginjak kakinya.

“Kita pulang! Sudah larut malam!” tegas Hye Na sambil beranjak dari kursi. Mau tak mau Ryu Jin mengikuti Hye Na walau pun makanannya belum habis.

Perasaan Hye Na sungguh campur aduk. Dia tidak tahu bagaimana bisa mempunyai perasaan macam itu. bukankah selama ini dia dan Ji Woon hanya teman baik? Apakah rasa menghormati antar teman itu kini bisa berubah jadi rasa cinta? Hye Na merasa dikhianati, dia hanya diam saat mengendarai mobilnya. Ryu Jin rupanya cukup tahu kegalauan hati kakaknya. Dia memilih diam selama perjalanan pulang.

Bahkan saat sampai di apartemen, Ryu Jin hanya mengiyakan perintah Hye Na untuk memasukkan barang bawaan, tanpa mendebat seperti biasanya, sementara kakaknya itu segera memasuki kamar. Ryu Jin yakin di dalam kamar itu, Hye Na pasti menangis, tapi untuk sekedar mengetuk pintu kamar itu, Ryu Jin tidak berani. Dia mulai tahu karakter Hye Na yang menakutkan jika sedang marah.

Sedangkan Ji Woon dan Sae yon mengalami perjalanan pulang yang cukup sunyi juga. Sae Yon belum juga turun dari mobil walau pun sudah sampai di pelataran rumahnya. Dia memperhatikan perubahan sikap Ji Woon yang mendadak murung setelah bertemu Hye Na, dan dia mulai menyadari posisi Hye Na si hati pria itu.

“Kakak,” sapaan lirih  Sae Yon membuat Ji Woon agak terkesiap. Suasana hening kembali. Sae Yon berusaha menyusun kalimat yang tepat untuk memulai pembicaraan.

“Apakah kakak mencintai Hye Na?” akhirnya kalimat itu yang Sae Yon pilih. Tak dipungkiri pikiran itu yang mengganggu otak Sae yon selama di perjalanan.

 Ji Woon terdiam dan menundukkan kepala. Sepertinya dia bukanlah pria yang pandai berbohong. Ya, dia memang mencintai Hye Na.

“Tidak apa jika Kakak menolak perjodohan ini,” kata Sae Yon kemudian. Sae Yon tersenyum. “Seperti yang dikatakan Ryu Jin tadi, kakak dan Hye Na setipe. Jadi tidak salah, kan kalau aku berkesimpulan kalau kalian saling menyukai. Biasanya kemiripan selalu tarik-menarik.”

“Tapi Hye Na memilih Ryu Jin,” kilah Ji Woon. Sae Yon menertawakan kebodohan Ji Woon tadi. “Kakak terlalu lugu dalam bercinta, apakah Hye Na pernah berkata kalau dia mencintai Ryu Jin?”

“Tidak perlu kata-kata untuk…

“Ya, tidak perlu kata-kata. Sama seperti kejadian tadi. Hye Na dan kakak sama-sama bersedih mendengar rencana perjodohan kita. Tanpa kata-kata, aku bisa merasakannya. Kalian berdua sama-sama kecewa. Sama-sama merasa terkhianati. Sama-sama… Ah, entahlah.. galau mungkin?” Sae Yon nyegir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau mengatakan itu, seolah-olah perjodohan ini tak berarti apa-apa bagimu.”

“Well, anggap saja aku wanita modern yang tidak setuju dijodoh-jodohkan.”

“Jadi?”

Sae Yon menghela nafas, “Jadi, kejarlah Hye Na. Yakinkan cinta Kakak padanya. Katakan kalau Kakak mencintainya.”

“Lalu Ryu Jin?”

“Jangan jadikan Ryu Jin sebagai alasan kepengecutan Kakak,” bentak Sae Yon sambil mengacungkan telunjuk pada Ji Woon. Sae Yon mendesah lagi, lalu tangannya menggapai pembuka pintu mobil. “Oke, selamat berjuang, Pemabuk cinta.”

Sae yon keluar dari mobil Ji Woon lalu menutup pintunya kembali. “Masalah perjodohan tidak usah dipikirkan, aku akan bilang pada Ayah Ibu kalau aku tidak mau dijodohkan,” kata Sae Yon melalui jendela mobil yang disambut dengan senyuman lega dari Ji Woon sebelum melajukan mobilnya kembali.

 

—————————-

Hye Na terbangun dari tidurnya saat merasakan perutnya yang keroncongan. Pasta yang dipesannya di Foodcourt sama sekali tidak dia makan jadi pantas saja kalau kelaparan. Dengan langkah terseok, dia menuju dapur untuk membuat mie ramen. Pintu kamar Ryu Jin sudah tertutup rapat, mungkin anak itu sudah tertidur. Sambil sesekali menguap, Hye Na memanaskan air untuk menanak mie.

Dia berhenti sebentar mengamati bayangannya yang terpantul di panci. Matanya membengkak akibat menangis sebelum tidur tadi. Dia mulai merasakan lagi kesedihan karena Ji Woon dan dia mulai mengutuki perasaannya.

Hye Na bahkan tidak menuangkan mie yang sudah jadi itu ke dalam mangkok, melainkan langsung memakan dari panci, rasa frustasi dan lapar bercampur jadi satu, dia ingin menghilangkannya secepat mungkin. Tidak puas dengan satu porsi mie ramen, Hye Na membuka sebungkus lagi dan menanakkannya, begitu seterusnya sampai perutnya tidak lagi mampu menampung dan hampir muntah.

Saat sadar, tempat sampah di dapurnya sudah penuh dengan bungkus mie ramen. Hye Na merasa harus membuang sampah itu keluar dari apartemen sekarang juga karena besok dia pasti terburu-buru menuju kampus sementara Ryu Jin belum bisa diandalkan. Akhirnya Hye Na mengenakan jubahnya untuk keluar apartemen demi membuang sampah.

Suasana di pelataran gedung apartemen cukup sepi walau pun para penghuni apartemen yang lain ada yang belum mematikan lampu, bahkan sayup-sayup irama pesta terdengar. Maklum, mungkin mereka belum sadar, Minggu malam semakin merayap dan harus tidur menyambut Senin pagi yang sibuk. Hye Na meletakkan kantong plastik yang berisi sampah dari dapurnya bersama kumpulan sampah lain yang sudah ada di salah satu sudut pelataran lalu kembali menuju gedung apartemen.

Sekali lagi, heningnya suasana pelataran cukup bisa membuat Hye Na mendengar kalau ada seseorang yang mengutitnya. Hye Na menoleh ke belakang dengan dahi berkerut. Nihil, tak ada seorang pun di belakang. Hye Na mempercepat langkah, takut kalau-kalau yang mengutit adalah hantu mengingat cerita-cerita horror yang pernah diceritakan para penghuni apartemen yang lain tentang pelataran ini.

Hye Na terkesiap saat tiba-tiba lengan yang kekar melingkar di perutnya. Menariknya lebih dalam hingga punggungnya membentur dada yang begitu bidang. Hye Na agak panik namun kepanikan itu terhenti saat menoleh ke samping, melihat wajah orang yang memeluknya itu. Kehangatan udara berhembus dari hidung  yang menempel di pipinya membuat Hye Na terhipnotis, apalagi saat orang itu membisikkan kalimat yang membuat Hye Na melayang,”Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

“Kakak,” Hye Na membalikkan badan, membalas pelukan itu dengan buraian air mata.

Katakan ini mimpi, tapi ini terlalu nyata untuk hanya menjadi sekedar mimpi. Biarkan aku melayang untuk saat ini. Sekali ini saja, biarkan aku melupakan hari esok.

BERSAMBUNG

He is My Brother (Part 4)

Sampai sore, Ryu Jin masih belum menentukan kemana akan pulang. Kunci apartemen Hye Na masih dia pegang. Hye Na memang memberikan duplikat kunci itu padanya. Tapi untuk menginjak tempat itu lagi, dia enggan karena hatinya masih sakit. Keraguan Hye Na membuat Ryu Jin  kecewa.

Ryu Jin berjalan tak tentu arah, mengelilingi Seoul. Kota ini tampak tak ramah bagi pendatang dari desa seperti dirinya. Orang yang lalu-lalang seakan bergaya hidup hedonis. Mereka berjalan cepat, menatap lurus tanpa ekspresi. Tiba-tiba Ryu Jin merasa kesepian di antara keramaian itu.

Selepas pertengkarannya dengan Hye Na pagi tadi, Ryu Jin berjalan sendirian menyusuri jalan tol. Berusaha mencari arah menuju halte bis. Dia memang ke sekolah Shinwa. Dia hanya akan mengumpulkan tugas hukuman yang diberi nilai A plus oleh wali kelasnya.

“Bagus sekali, Ryu Jin. Sebagai korban, kau membahas masalah ‘Bulimia’ dengan sangat tajam. Bahasa Inggris-mu pun sangat tertata. Grammar-nya tepat sekali. Kau pasti terbiasa membuat essay dalam bahasa Inggris,” puji Nona Song, wali kelasnya. “Oh, ya… tentu saja, bukankah itu yang tertulis di CV-mu. Maaf, saya lupa.”

“Tidak apa, Nona,” Ryu Jin tersenyum menanggapi pujian Nona Song.

“Aku akan memasukkan tulisanmu ke lomba penulisan essay tingkat nasional. Kau boleh masuk kelas sekarang.”

Tapi Ryu Jin menggeleng. “Kenapa?” Nona Song tidak mengerti maksud gelengan kepala Ryu Jin.

“Saya menemui Nona untuk berpamitan,” jawab Ryu Jin.

“Berpamitan? Kau mau pindah sekolah? Oh, aku mohon jangan, Ryu Jin,” Nona Song jadi panik mendengarnya.

“Maaf, Nona.”

“Apa ini karena kejadian kemaren? Kalau masalah itu, kau tidak perlu kawatir. Gu Jun Pyo tidak akan berani mengganggumu lagi. Kemaren sore, Ibunya memang memarahi Kepala Sekolah karena kejadian di lapangan basket, tapi kami berhasil meyakinkan beliau kalau kau adalah asset berharga di sekolah ini. Kami juga menyebut nama kakakmu, dan anehnya dia terlihat gentar.”

Kakaknya? Ryu Jin merasa nelangsa karena kakak yang disebut Nona Song itu, kini berpikir kalau Ryu Jin pembohong dan bukan adiknya kerena menolak melakukan tes DNA.

“Nyonya Kang malah merasa malu, dia menekan Jun Pyo melakukan ujian persamaan agar bisa kuliah sesuai dengan umurnya. Aku melihatnya memarahi Jun Pyo dengan mata kepalaku sendiri,” sambung Nona Song.

“Saya…, saya tidak tahu apakah masih ada biaya untuk… .”

“Apa maksudmu tidak ada biaya? Nona Goo sangat kaya. Oh, Nona Goo pasti kawatir kalau Jun Pyo mencelakaimu lagi. Bilang padanya semuanya sudah diatasi.”

“Bukan begitu, Nona.” Ryu Jin bahkan tidak tahu masih maukah Hye Na menemuinya. Hatinya semakin perih saja.

“Ryu Jin,” Nona Song masih saja memotong perkataan Ryu Jin. “Aku tahu, di luar sana, banyak sekali sekolah yang berebut menampungmu karena kepandaianmu. Aku tahu kau berhak memilih. Jadi aku mohon, untuk hari ini, ikutilah pelajaran. Nikmatilah sarana prasarana di Shinwa, dan aku mohon berpikirlah. Kau membutuhkan sekolah yang mendukung kepandaianmu. Aku yakin, besok kau berubah pikiran,”

Nona Song masih saja berpikir semua itu karena perkelahian Ryu Jin dengan Jun Pyo. Ryu Jin hanya mengangguk lalu pergi ke kelasnya seperti yang diperintahkan Nona Song. Nona Song tidak tahu, kalau Ryu Jin sangat bimbang. Ryu Jin bimbang apakah Hye Na masih mau menjadi walinya lagi. Ryu Jin bimbang apakah Hye Na mau menyokong kehidupannya lagi. Ryu Jin mengikuti pelajaran hari itu dengan konsentrasi yang minim. Semuanya tidak ada guna. Shinwa memang megah dengan sarana-prasarana kelas internasional yang tidak dimiliki oleh sekolah lain, tapi semuanya bukan kesalahan Shinwa mau pun Gu Jun Pyo. Keadaannya yang salah. Kehadirannya di kehidupan Hye Na yang salah, bahkan Ryu Jin semakin yakin kalau kelahirannya juga salah.

Dalam keadaan itu, dia ingin menemui pengacara Kim. Tentu saja, bukankah pengacara Kim sendiri yang bilang, Ryu Jin bisa menemuinya jika ada masalah. Ryu Jin bahkan teringat perkataan Hye Na,”Oh, ya? Kenapa tidak sekalian saja dia mengadopsimu?”

Diadopsi Pak Kim? Bisakah Ryu Jin meyakinkan Pak Kim agar mengadopsinya? Yang Ryu Jin perlukan sekarang ini hanyalah wali. Kalau pun Pak Kim tidak mau membiayai sekolahnya, Ryu Jin merasa kalau bisa bekerja sambil sekolah. Ya, dia akan meyakinkan pengacara itu untuk mengadopsinya.

Tapi ternyata Pak Kim sedang tidak ada di kantornya. “Maaf, pengacara Kim ada tugas di luar kota,” itulah perkataan sekretarisnya siang tadi. Ryu Jin keluar dari gedung kantor Pak Kim dengan tangan hampa dan kebingungan lagi.

Hari semakin larut, keramaian Seoul semakin menggila.  Ryu Jin masih berjalan tanpa arah. Perutnya sudah memprotes minta diisi. Bahkan tas ransel yang tadi pagi serasa ringan, entah kenapa kini berubah menjadi berat. Seorang gelandangan melewatinya. Dia sadar, kini bernasib sama dengan gelandangan itu. Gelandangan yang tidak punya rumah, tak ada saudara dan dianggap penyakit masyarakat. Kehidupannya begitu jungkir balik dalam waktu selang sehari.

Kemaren dia bahagia karena sang kakak membelanya di hadapan Gu Jun Pyo. Kemaren dia bahagia mendapati kalau dirinya punya sepasang keponakan kembar yang cantik-cantik dan lucu. Tapi sekarang… dia bukan siapa-siapa. Bukan adik seseorang, bukan pula paman seseorang. Dia sendirian, semua orang meninggalkannya.

Orang-tuanya pun meninggalkannya. Setelah pertengkaran demi pertengkaran yang mereka lakukan di depan Ryu Jin, mereka meninggalkannya. Ryu Jin semakin yakin kalau kelahirannya memang salah. Setiap malam, selama empat belas tahun, dia harus pura-pura tidak mendengar pertengkaran mereka. Setiap pagi, dia harus pura-pura tidak melihat mata Ibunya yang bengkak karena menangis. Dia tak habis pikir kenapa Ibunya masih bertahan. Apakah semua itu karena dirinya? Apakah Ibunya bertahan karena kelahiran Ryu Jin? Dia tidak tahu.

Yang Ryu Jin tahu, pertengkaran mereka selalu di dasari masalah ekonomi. Ayahnya selalu punya uang untuk wanita-wanita hina di luar rumah tapi mengabaikan wanita di dalam rumah. Durjana itu bahkan tidak menyadari kalau Ryu Jin semakin besar dan sekolahnya semakin membutuhkan biaya banyak.

Ryu Jin masuk SMA tahun ini. Tentu saja biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Ibunya kebingungan. Ibunya mencari kabar keberadaan Ayahnya, dan tahu kalau pria itu sedang ada syuting di Bussan. Dan malam itulah, terakhir kalinya, Ryu Jin melihat sang Ibu. Malam itulah, Ryu Jin melihat sang Ibu menyampirkan tas yang berisi baju yang mungkin diperlukannya selama di Bussan. Dia bahkan mengantar ibunya sampai di pintu. Ibunya berpamitan padanya, menggenggam tangannya erat-erat sebelum masuk ke dalam mobil. “Ryu Jin, Ibu akan menemui Ayahmu, Nak. Ibu akan minta uang padanya untuk biaya sekolahmu masuk SMA. Jangan kawatir, Nak. Kau pasti berhasil masuk sekolah favorit itu. Tunggu Ibu, ya, Nak… Ibu pasti datang. Ibu pasti pulang.”

Tapi kenyataannya, Ibunya tidak pernah pulang. Mereka tidak pernah datang. Hanya kabar buruk yang datang. Bahwa kecelakaan merenggut nyawa orang-tuanya. Bahwa pada akhirnya dia menjadi yatim-piatu. Hatinya semakin perih, merasa kalau nasibnya lebih buruk daripada gelandangan yang melewatinya tadi.

Ryu Jin menghentikan langkah. Dia mendongak, menatap gedung apartemen yang sederhana itu. Dia tidak mengerti, kenapa langkah kakinya mengarah ke sini. Tapi dia merasa, hanya di sini, dia diterima. Sebenarnya, dia juga tidak yakin, akankah mereka menerimanya kembali. Ryu Jin sampai di sebuah pintu dan keraguan semakin mendera. Hari sudah sangat larut, dia yakin, orang-orang di dalam pasti sudah tidur. Akhirnya, Ryu Jin berjongkok di samping pintu dengan kepala tertunduk. Biarlah dia menunggu pagi dari pada harus mengetuk pintu dan mengganggu tidur penghuni apartemen itu.

—-He is My Brother—-

Hal yang paling membuat Hye Na muak adalah kehidupan ayahnya, Goo Bon Hyung, sang aktor kawakan yang digilai oleh banyak wanita itu. Seminggu yang lalu Hye Na dikejutkan oleh kabar kematian sang Ayah akibat kecelakaan bersama wanita simpanannya. Dan kini dia dikejutkan oleh kehadiran Goo Ryu Jin, anak sang ayah dengan wanita simpanannya itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Additional Cast :

Kim Soe Oen as Choi Yumi (Goo Jae Min’s  wife)

Cameo:

Kim Min Ji as Im Yuri (Goo Ryu Jin’s mother)

Song Hye Kyo as Miss Song

Hye Na sampai di villa keluarganya di Jeju ketika hari sudah sangat larut. Akhir pekan membuatnya kehabisan tiket pesawat. Dia masih beruntung ketika ada orang yang membatalkan penerbangan ke Jeju walau pun penerbangan itu adalah penerbangan terakhir.

Pak Kim sudah menunggunya di sini. Tulisan “Villa ini sedang dalam proses penyitaan” adalah hal pertama yang menyapu pandangan Hye Na saat taksinya memasuki pekarangan Villa. Hye Na keluar dari taksi dengan hati bingung.

“Selamat datang, Nona Goo,” sambut Pak Kim di serambi Villa sambil menunduk. Hye Na masih memandang tulisan aneh itu. “Apa maksud semua ini, Pak Kim?” tanyanya.

“Mungkin akan lebih baik kalau kita bicara di dalam,” tawar pengacara itu.

Hye Na menyanggupi. Dia membuka pintu depan Villa dan terheran karena pintu itu tidak terkunci. Semakin heran lagi ketika memasuki Villa itu. Semua barang di dalam sudah ditandai label penyitaan. Bahkan sofa yang kini mereka duduki pun tak luput dari label berwarna merah itu.

“Villa ini di sita?” Suara Hye Na terdengar ling-lung. Bahkan oleh Pak Kim yang mengangguk. “Tapi… .” Hye Na masih tidak percaya dengan kenyataan di hadapannya.

“Ibu Ryu Jin, Im Yuri, menjaminkan sertifikat Villa ini kepada Bank,” kabar dari Pak Kim.

“Apa?” Hye Na terkejut mendengarnya. “Tapi bagaimana mungkin? Villa ini milik keluarga kami. Ayah-Ibuku membeli Villa ini bersama-sama.” Hye Na tampak tidak terima dengan tindakan Ibu Ryu Jin.

“Tapi inilah yang terjadi, Nona. Pihak Bank baru menghubungiku pagi tadi. Karenanya saya langsung kemari mencari tahu. Ini surat-suratnya,” Pak Kim menyodorkan sebuah map berisi penuh surat keterangan hutang. Hye Na memeriksa keabsyahan surat tersebut. Sebagai seseorang yang berpengalaman menguji keaslian lembaran saham dan obligasi, hal itu adalah masalah ringan untuknya. Surat itu syah. Ibu Ryu Jin memang menggadaikan villa itu.

“Bagaimana bisa orang yang tidak berhak atas sertifikat ini menggadaikannya, Pak Kim?” tanya Hye Na.

“Bisa saja kalau ayah anda tanda-tangan, menyetujuinya.”

“Tapi untuk apa? Apakah honor ayah sebagai aktor tenar itu tidak cukup menghidupi wanita simpanannya dan anaknya?” Hye Na agak nyinyir di sini, kehidupan ayahnya membuatnya muak.

“Saya tidak tahu, Nona. Benar-benar tidak tahu,” sahut Pak Kim.

Hye Na menghela nafas. Dia marah, benar-benar marah. Dia berdiri, mengitarkan pandangan pada setiap sudut interior villa mewah itu. Kenangan masa lalunya timbul kembali. Suara cerianya masa kanak-kanak seakan memantul kembali di dinding-dinding sekelilingnya. Suara tawa Jae Min yang berderai-derai saat mereka bermain kejar-kejaran di antara barang-barang yang berlabel penyitaan itu. Suara Ibunya dari arah dapur yang menyanyi sambil memasak, lalu suara ayahnya yang berdehem saat mereka terlalu berisik. Tak terasa Hye Na menitikkan air mata mengingatnya.

“Pak Kim, saya akan menebus Villa ini,” kata Hye Na sambil memejamkan mata. Tekadnya sudah bulat. Villa ini tidak boleh jatuh ke tangan orang lain. Hye Na menoleh pada pengacara Kim, dan dengan menekankan setiap kata, dia menyakinkan pengacara itu,”Saya sangat kaya, Pak Kim.  Berapa pun akan saya keluarkan untuk menebus villa ini kembali.”

Hari Keempat bersama Adik ABG

Yumi menaiki tangga menuju apartemennya. Pagi ini dia sangat kelelahan setelah bekerja shift malam di rumah sakit. Dia yakin  anak kembarnya pasti masih pulas, dan dia berniat tidur sebentar untuk menyegarkan diri sebelum anak-anak itu mengganggunya. Namun saat akan membuka pintu apartemen, dia terkejut mendapati seseorang yang berjongkok, memeluk lutut sambil menunduk di samping pintu.

Dengan takut-takut, kawatir jika orang itu mungkin pemabuk, Yumi menepuk pundak orang itu. Orang itu bergerak malas, mengucek-ucek matanya lalu menengadah. Yumi terkejut,  “Ryu Jin?”

Ryu Jin mengangguk. Bahkan tersenyum dibalik wajahnya yang lesu.

“Kau kenapa? Kau semalaman berjongkok di sini?” tanya Yumi. Sekali lagi Ryu Jin mengangguk.

“Ya, Tuhan,” Yumi tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi.

“Boleh aku minta makan? Aku lapar sekali,” kata Ryu Jin. Yumi jadi terenyuh. “Tentu saja, Ryu Jin. Ayo masuk.”

Yumi segera menyiapkan makanan untuk Ryu Jin. Saat mendengar suara pintu apartemen dibuka, Jae Min juga sudah bangun. Mereka berdua menatap Ryu Jin yang makan lahap, seolah belum makan berhari-hari. Mereka saling berpandangan, merasa heran dengan tingkah Ryu Jin lalu Jae Min memberi kode agar Yumi mengikutinya ke kamar.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Jae Min pada Yumi saat mereka sudah di dalam kamar.

“Aku juga tidak tahu, dia sudah ada di depan pintu saat aku mau masuk,” jawab Yumi.

“Kau telphonlah Kak Hye Na, kabarkan kalau Ryu Jin ada di sini, sementara aku menginterogasinya,” perintah Jae Min. Yumi mengangguk. Jae Min keluar kamar lagi untuk menginterogasi Ryu Jin.

Sementara Yumi menghubungi Hye Na. Hasilnya nihil. Handphone Hye Na tidak aktif. Dengan menghela nafas, Yumi mengirim pesan pada Hye Na tentang keberadaan Ryu Jin. Jae Min masuk lagi ke kamar setelah itu.

“Mereka bertengkar,” kata Jae Min.

Wajah suaminya terlihat sangat jengkel. Yumi mengelus-elus punggung Jae Min untuk menenangkan. “Si kaku itu memaksanya melakukan tes DNA. Bodoh sekali. Bukankah dia bisa melakukan semua itu dengan diam-diam? Mencuri helai rambut Ryu Jin misalnya,” Jae Min menyesali kekakuan pribadi Hye Na.

“Sudahlah, Sayang. Sudah pasti Ryu Jin merasa tersinggung. Siapa juga yang tidak tersinggung diragukan seperti itu,” ujar Yumi menenangkan.

“Kau sudah menghubunginya?” tanya Jae Min.

Yumi menggeleng, “Telephonnya seperti dinonaktifkan, tapi aku sudah mengirim pesan padanya. Aku yakin setelah membaca pesan itu, dia pasti kemari.”

“Aku tidak habis pikir, kenapa kakak tidak panik mencarinya?” kata Jae Min kesal.

Tentu saja Hye Na mematikan telephone karena sedang berada dalam pesawat menuju Seoul. Dan tentu saja Hye Na panik, panik menghadapi kenyataan tentang Villa di Jeju. Hye Na merasa marah pada tindakan Ibu Ryu Jin. Im Yu Ri tidak berhak atas villa itu. Memang setelah keluarga Hye Na tercerai berai, Yu Ri dan Ryu Jin yang menempati villa itu tapi kepemilikan villa itu masih di tangan Goo Bun Hyung, ayah Hye Na dan Goo Yo Won, Ibu Hye Na.

Saat membaca pesan Yumi tentang Ryu Jin, Hye Na semakin marah. Dia ingin mengetahui kenapa Ibu anak itu begitu lancang menggandaikan sertifikat villa yang bukan miliknya. Dia marah saat memasuki apartemen Jae Min. Dia mengabaikan Yumi yang membukakan pintu. Dia langsung mencari keberadaan Ryu Jin.

“Katakan padaku, kenapa Ibumu menggadaikan villa di jeju?” bentak Hye Na saat menemui Ryu Jin di kamar si kembar. Suasana ceria di kamar itu menguap seketika. Kedua keponakannya ketakutan. Jae Min yang sedari tadi mengikuti Hye Na, memberi kode pada Yumi agar membawa anak-anak keluar kamar.

“Ayo, anak-anak. Kita sarapan, ya?” ajak Yumi pada Hye Mi dan Hye Ri. Kedua anaknya bergerak takut-takut. Mereka memandang Hye Na dan Ryu Jin bergantian lalu beralih pada Yumi yang mengulurkan tangan. Yumi mengangguk untuk meyakinkan anak-anaknya. Kedua balita itu akhirnya berhasil diyakinkan untuk keluar kamar.

“Jawab! Kau tidak tuli, kan?” bentak Hye Na lagi. Nafasnya turun naik karena amarah.

“Aku tidak tahu!” sahut Ryu Jin. Dia memang tidak tahu kalau Ibunya menggadaikan villa tersebut.

“Kakak, aku mohon tenanglah,” kata Jae Min.

“Bagaimana aku bisa tenang? Ibu anak ini menggadaikan villa kita. Villa kita, Jae Min,” tekan Hye Na.

“Tapi belum tentu Ryu Jin tahu sebabnya, kan?” Jae Min berargumen. Bagaimana bisa anak seumuran Ryu Jin tahu masalah semacam itu.

“Mereka selalu bertengkar,” desah Ryu Jin. Hye Na dan Jae Min menoleh lambat ke arahnya. “Karena itu aku selalu berusaha masuk kelas akselerasi. Agar sekolahku cepat selesai dan Ibu tidak perlu bertengkar, minta uang pada Ayah lagi,” lanjutnya dengan kepala menunduk.

Jae Min mulai bisa menyimpulkan duduk persoalannya. Dia menepuk-nepuk punggung Hye Na untuk menenangkan.

“Aku tidak perlu cerita melodramamu itu,” ujar Hye Na sengit. Jae Min menghela nafas. Kemarahan Hye Na sudah menutupi akal sehatnya.

“Ryu Jin, keluarlah sebentar. Temui Hye Mi dan Hye Ri,” perintah Jae Min. Dia merasa harus menyadarkan Kakaknya. Ryu Jin dan Ibunya tidak bersalah. Ayah mereka-lah yang bersalah.

Ryu Jin keluar dari kamar si kembar dengan berjalan lesu. Jae Min mengajak Hye Na duduk di ranjang anak-anaknya untuk bisa bercakap-cakap dengan tenang.

“Dia tidak tahu apa-apa, Kakak. Tapi mungkin aku tahu sebabnya,” kata Jae Min sambil menepuk-nepuk tangan Hye Na.

“Jangan percaya perkataan anak itu,” tegur Hye Na. Jae Min tersenyum, “Aku bahkan tidak tahu apa yang kupercayai tapi… aku bisa menyimpulkan dari perkataan anak itu, kalau Ayah dan Ibu Ryu Jin tidak akur selama ini.”

“Aku tidak perduli dengan kehidupan mereka,” Hye Na masih saja marah.

“Ayah menggila lagi. Mungkin ada wanita idaman lain lagi dan ayah mengabaikan Ibu Ryu Jin. Ya, ayah tidak menafkahi Ibu Ryu Jin, sama seperti saat Ayah tidak menafkahi Ibu.”

“Apa maksudmu ayah tidak menafkahi Ibu? Ayah selalu menafkahi Ibu sebelum mereka bercerai!”

“Tidak, kakak! Tidak! Kakak tidak tahu hal ini, karena pada waktu itu Kakak sudah sekolah. Aku yang belum sekolah tahu semuanya. Ayah tidak menafkahi Ibu,” tekan Jae Min. “Mereka bertengkar jika Kakak berangkat sekolah, setiap pagi, setiap kali Ibu minta uang belanja dan Ayah selalu punya alasan untuk tidak memberikannya. Ibu bisa bertahan selama itu tanpa menggadaikan satu barang pun, karena Ibu berasal dari keluarga kaya. Selama Ayah berselingkuh dengan Ibu Ryu Jin, selama Ayah dan Ibu belum bercerai, kita hidup dengan uang kiriman dari kakek.”

Hye Na terbelalak mendengarkan cerita Jae Min. Adiknya masih sangat kecil waktu itu. Dia tidak menyangka Jae Min melihat semuanya. Selama ini, Hye Na hanya tahu bahwa orang tuanya baru bertengkar satu kali, dan Ibunya langsung memboyong mereka ke Seoul karena memutuskan bercerai. Dia tidak tahu pertengkaran-pertengkaran mereka sebelumnya.

“Aku minta maaf, Kakak. Pada waktu itu, aku mendengar para pelayan yang berkata,’lebih baik Tuan dan Nyonya bercerai dari pada hidup seperti ini terus-terusan’ lalu aku menemui Ibu, bertanya apa maksud dari kata ‘bercerai’ dan… aku tidak tahu, mungkin saja perkataanku yang membuat Ibu memutuskan bercerai dari Ayah.”

“Jae Min…,”  Telapak tangan Hye Na menangkup di wajahnya dan menangis sesenggukan. Kebahagiaan masa kecilnya ternyata semu. Semua itu karena gaya hidup Ayahnya yang tidak bertanggungjawab. Dan Hye Na bersedih, karena bukan hanya Ibunya dan Jae Min yang jadi korban tapi juga Ryu Jin dan Ibunya, Im Yu Ri, wanita yang selama ini dianggap duri dalam kehidupan mereka.

“Kakak, soal Ryu Jin,” Jae Min berusaha membalikkan persoalan pada Ryu Jin. Hye Na menatapnya dengan air mata yang masih terbendung di antara bulu-bulu matanya. “Kalau kakak sudah tidak mau menampungnya, biarlah dia di sini. Aku minta maaf karena memaksa Kakak menandatangani surat perwalian Ryu Jin. Tapi, Hye Mi dan Hye Ri menyukainya. Dia bisa tidur di kamar ini bersama mereka. Aku akan mencari apartemen yang lebih besar nantinya.”

Tapi Hye Na menolak usul itu. “Tidak! Ryu Jin akan tetap bersamaku.”

Hye Na mengusap air matanya, menghela nafas lalu berdiri. Meninggalkan kamar untuk menemui Ryu Jin di ruang makan.

“Ryu Jin, ayo pulang!” kata Hye Na saat sampai di ruang makan.

Ryu Jin terkejut mendengarnya. Pulang? Hye Na mengajaknya pulang? Benarkah?

“Ayo, Ryu Jin! Aku rasa sudah cukup kau merepotkan Yumi,” perintah Hye Na. Ryu Jin tersenyum sumringah tapi tidak segera beranjak dari tempat duduk.

“Kalau kau tidak segera berdiri dari kursi itu, kau harus pulang dengan jalan kaki!” tandas Hye Na.

“Iya, Kak! Aku pulang sama kakak!” kata Ryu Jin sambil bergegas mencari tas ranselnya. Jae Min tersenyum melihatnya. Ryu Jin menggendong tas ranselnya yang dia temukan di sofa ruang tamu lalu berpamitan pada Yumi. Hye Mi dan Hye Ri masih saja menggodanya untuk tetap tinggal. Hye Na memutar matanya, bosan menunggu. “Ryu Jin!” panggil Hye Na setengah membentak.

Ryu Jin tergagap. “Iya, Kak!” sahut Ryu Jin sambil menyusul kakaknya yang sudah menuruni tangga gedung apartemen itu.

BERSAMBUNG

He is My Brother (part 3)

“Ah !” desis Hye Na, menahan perih di tangan kanannya yang kini sedang diobati Yumi, adik iparnya. Setelah aksinya memukul Jun Pyo tadi, Hye Na langsung ke apartemen Jae Min agar Yumi bisa mengobati memar di tangan kanannya akibat berbenturan dengan cuping hidung Jun Pyo. Maklum, Yumi adalah perawat. “Aush, sakit sekali,” keluh Hye Na lagi.

Yumi jadi merasa bersalah. “Maaf, kakak. Terlalu keras, ya?”

Hye Na mengangguk. Jae Min yang duduk di sofa, berseberangan meja dengan mereka memonyongkan bibir. “Makanya, jangan sok jadi jagoan. Pake acara mukul hidung orang segala.”

“Diam, kau!” bentak Hye Na. Rasa perih melanda lagi saat Yumi meneteskan larutan Iodin pada memarnya. “Aduh,” terpaksa Hye Na meringis lagi. Yumi pun sementara berhenti meneteskan larutan Iodin itu.

Merasa gemas, Jae Min mencolek tangan Hye Na tepat di memarnya sambil menyelutuk, “Begini saja manja!”

“Au!” tentu saja Hye Na tambah menjerit.

“Au!” giliran Jae Min yang menjerit  karena Yumi mencubitnya. “Sayang, kenapa malah mencubitku?”

“Kamu tidak sopan, tahu kakak sedang kesakitan malah bercanda,” kilah Yumi.

“Habisnya dia manja sekali.”

“Aish! Kau memang adik yang tidak pengertian dan sungguh kasar,” kata Hye Na. Dia lalu menoleh pada Yumi. “Aku heran, kenapa kau yang lembut ini bisa jatuh cinta sama pria sekasar ini, Yumi?”

“Ah, itu sih jodoh!” sahut Jae Min tanpa memberi celah pada Yumi yang sekarang ini tampak malu-malu kucing.

“Oh, ya? Jodoh atau bodoh?” pertanyaan Hye Na itu ditujukan pada Yumi. Merasa tak terima, Jae Min tambah sewot, “Ah, kakak… kenapa harus mengejek kami di rumah kami sendiri?” protesnya.

“Sayang!” Jae Min memanggil Yumi kemudian,”Sudah sana! Siapkan makan siang! Jangan mengurus anak manja ini terus-terusan,” suruhnya.

Hye Na tertawa cekikikan. Yumi memberesi kotak P3K lalu ngeloyor ke dapur. Hye Na meniup-niup luka tangannya yang kini tampak coklat karena Iodine itu. Setelah meyakinkan diri kalau mereka hanya berdua saja di ruang tamu yang sempit itu, Jae Min mulai bicara,”Kenapa kakak percaya sekali pada anak itu?”

“Maksudmu?” Mata Hye Na menyipit dan berhenti meniupi lukanya.

“Dia bilang Jun Pyo menjelek-jelekkan Ayah, lalu Kakak percaya dan memukul Jun Pyo,” jelas Jae Min.

“Memangnya kenapa?” Hye Na jadi tambah tidak mengerti.

“Ayolah, Kak. Ini bukan Kakak banget. Kakak selalu melihat segala sesuatunya dari dua sisi.” Jae Min pun menunjuk-nunjuk keningnya,”Selama ini kakak selalu menggunakan ini,” katanya. Lalu telunjuknya turun ke dada, “Dari pada ini,” lanjutnya.

“Jadi menurutmu, aku sudah kehilangan kerasionalanku?”

Jae Min menggedikkan pundak. “Mungkin saja.”

“Jadi kau berpikir mungkin saja dia berbohong?”

“Mungkin saja,” Jae Min tersenyum tipis saat melakukan itu. Jae Min lalu teringat hal yang mengganjal di hatinya saat perjalanan dari apartemen Hye Na kemaren. “Oh, iya, Kak. Aku juga berpikir kalau kita terlalu bodoh. Kenapa kita percaya begitu saja perkataan pengacara itu kalau Ryu Jin adalah anak Ayah tanpa konfirmasi dulu?”

“Apa maksudmu? Jadi kau ragu kalau Ryu Jin bukan anak Ayah?”

“Iya,” Jae Min lalu mendesah,”Bukan begitu, Kak. Ah, susah menjelaskannya!”

“Kau ini aneh. Seharusnya kau yang lebih tahu dia anak Ayah atau bukan, kau yang selama kuliah mengunjungi Ayah ke Jeju seminggu sekali,” protes Hye Na.

Jae Min tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Dan Kakak percaya begitu saja kalau aku benar-benar ke Jeju?”

“Jadi kau tidak pernah ke Jeju?” pasti Hye Na.

“Kalau aku ke Jeju setiap minggu, sudah pasti aku tidak mendapatkan Yumi dan Hye Mi – Hye Ri tidak mungkin  lahir secepat itu,” jawab Jae Min, bangga.

“Dasar!” Hye Na memukul dada Jae Min. “Jadi kau tidak pernah bertemu Ryu Jin sebelumnya?” tanya Hye Na yang diberi jawaban oleh Jae Min dengan sebuah anggukan.

“Yang lebih mengherankan lagi, Kak, jika benar Ryu Jin anak ayah, kenapa Ayah tidak segera menikahi Ibunya? Kenapa membiarkan hubungan mereka tetap menggantung?  Bukankah itu merugikan bagi status Ryu Jin?”

Di sini Hye Na mulai berpikir. Argument Jae Min benar. Semenjak orang tuanya bercerai, Hye Na tidak pernah mengunjungi Ayahnya, sementara Jae Min yang diyakininya mengunjungi sang Ayah sekali seminggu, rupanya hanya alasan saja untuk berpacaran dengan Yumi. Jadi, bagaimana bisa mereka percaya begitu saja kalau Ryu Jin adalah anak Goo Bon Hyung, ayah mereka?

“Hanya ada satu cara untuk membuktikan dia anak ayah atau bukan,” gumam Hye Na. Jae Min mengangguk yakin. “Tes DNA,” ujarnya.

Kepala Hye Na menggeleng lemah, “Ah, tidak… .”

“Kenapa, Kak?”

“Aku, aku tidak tega melakukan itu padanya.”

“Melakukan apa?”

“Apa yang harus aku katakan padanya? Memintanya melakukan tes DNa dan bilang kalau aku tidak percaya dia adikku?” Hye Na jadi ragu. “Tidak! Aku tidak tega.”

“Tapi mau tidak mau, kita harus melakukannya, Kak. Harus!” Jae Min sangat ingin meyakinkan Hye Na agar melakukan tes DNA itu.

“Ah, sudahlah! Kita pikirkan itu nanti. Aku ada kelas jam satu siang. Sekarang, mana anak itu?” Hye Na mengitarkan pandangan di sekitar ruangan.

“Terakhir, aku melihatnya di kamar Hye Mi – Hye Ri,” jawab Jae Min.

—-He is My Brother—-

Hal yang paling membuat Hye Na muak adalah kehidupan ayahnya, Goo Bon Hyung, sang aktor kawakan yang digilai oleh banyak wanita itu. Seminggu yang lalu Hye Na dikejutkan oleh kabar kematian sang Ayah akibat kecelakaan bersama wanita simpanannya. Dan kini dia dikejutkan oleh kehadiran Goo Ryu Jin, anak sang ayah dengan wanita simpanannya itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Additional Cast :

Kim Soe Oen as Choi Yumi (Goo Jae Min’s  wife)

Hye Na berjalan menuju kamar kedua keponakannya. Jae Min bilang dengan sangat jelas kalau Ryu Jin ada di sana. Hye Na melewati koridor sempit menuju kamar itu. Apartemen Jae Min yang sempit, terlihat rapi karena ketelatenan Yumi menata dan membersihkan ruangan. Hye Na sadar benar kalau kehidupan Jae Min sangat sederhana jika dibandingkan dirinya. Beberapa kali Hye Na menawarkan bantuan pada Jae Min, namun rasa gengsi Jae Min terlalu tinggi sehingga menolak bantuan itu. Jae Min selalu bilang, pantang bagi pria yang sudah berumah tangga menerima uang dari orang tua, apalagi dari kakak perempuannya. Hye Na juga sadar keberadaan Yumi bisa merubah sifat Jae Min yang suka foya-foya itu menjadi pribadi yang betah hidup di apartemen sempit berkamar dua dan menjadi pria rumahan.

Hye Na sengaja tidak langsung masuk ke kamar si kembar, Hye Mi dan Hye Ri. Dia berdiri di depan pintu yang setengah terbuka itu, mengintip yang terjadi di dalam kamar. Dari situ terlihat Ryu Jin yang bergulat, melakukan permainan ‘Smackdown’ dengan kedua keponakannya di atas ranjang. Si kembar tertawa-tawa dan sesekali menjerit-jerit.

Ryu Jin pura-pura ambruk di ranjang. Lawannya, kedua gadis cilik itu, tidak berhenti malah memukul-mukul kepalanya dengan bantal. Ryu Jin pura-pura tak bergerak, Hye Mi memberi isyarat agar Hye Ri berhenti memukul. Mereka mencolek-colek lengan Ryu Jin, lalu tertawa cekikikkan dan berbisik-bisik kalau lawannya mati.

Tiba-tiba Ryu Jin bangkit dan berdiri di atas ranjang. “Hoa! Si manusia hijau, Hulk datang!” suara Ryu Jin sengaja diubahnya menjadi agak serak.

Gubrak! Hye Na hampir saja terjengkang melihatnya.

Si kembar Hye Mi dan Hye Ri meloncat-loncat, menghindar dari ‘Hulk yang sedang ngamuk’ saat Ryu Jin berjalan di atas ranjang dengan kaki terkangkang dan kedua tangan yang sesekali memukul-mukul dada supaya kelihatan seperti Hulk, padahal menurut Hye Na, cara berjalan Ryu Jin jadi lebih mirip gorilla yang mengamuk. Membayangkan semua itu, Hye Na cekikikan sendiri di balik pintu.

Hup! Hye Ri tertangkap oleh ‘Hulk yang mengamuk’. Hye Mi memukul-mukul Ryu Jin dengan bantal agar melepaskan Hye Ri yang menjerit-jerit. Bukannya dilepaskan, Hye Ri dibaringkan di ranjang lalu digelitiki sampai terpingkal-pingkal dan perutnya terasa kaku. Melihat kembarannya seperti itu, Hye Mi berhenti memukuli Ryu Jin, malah membantu Ryu Jin menggelitiki Hye Ri.

Mereka sangat gembira tapi sayangnya Hye Na harus menghentikan kegembiraan itu. Dia harus mengajar jam satu siang dan Ryu Jin harus segera diantar ke apartemen untuk mengerjakan tugas hukuman yang diberikan wali kelasnya. Hye Na memasuki kamar dan berdehem untuk menghentikan acara bergulat mereka. Ryu Jin berhenti menggelitiki Hye Ri, dan si kembar mulai berhenti tertawa.

“Ryu Jin, waktunya pulang,” kata Hye Na sambil menunjukkan arlojinya.

“Yah, Tante… Kak Ryu Jin ditinggal sini saja,” protes Hye Mi. Hye Ri yang masih merasakan perutnya kaku hanya bisa merengut.

“Sory, anak-anak, tapi Paman Ryu Jin. Ingat! Paman bukan Kakak! Paman Ryu Jin harus dihukum untuk mengerjakan tugas,” kata Hye Na.

“Memangnya tugas apa, sih? Kan Kakak, eh, Paman bisa mengerjakan di sini,” Hye Mi masih tetap mempertahankan keberadaan Ryu Jin di apartemen itu. Hye Ri sekali lagi tidak berkata apa-apa, Cuma mengangguk untuk menguatkan perkataan kembarannya.

Hye Na pura-pura merengut agar si kembar memberikan rasa pengertian padanya, padahal dalam hati geli juga melihat tingkah balita-balita itu.

Ryu Jin tertawa melihat kelakuan tiga orang di depannya. Dia mengulurkan tangan kanannya pada Hye Ri lalu mengulurkan pula tangan kirinya pada Hye Mi. Kedua gadis cilik itu menggapai uluran tangan Ryu Jin. Ryu Jin menarik mereka berdua agar mendekat, lalu memeluk keduanya dengan erat. “Adik-adik yang manis, sekarang waktunya bagi Paman untuk pulang. Janji, deh…. Kapan-kapan pasti ke sini lagi,” katanya untuk meredam kekecewaan si kembar.

“Benarkah?” tanya Hye Ri. Ryu Jin mengangguk, “Tentu, Bos!”

“Janji, lho…,” Hye Mi mengangkat kelingking kanannya. Ryu Jin mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingking Hye Mi. “Janji.”

“Ayo, Ryu Jin. Aku harus mengajar jam satu siang,” Hye Na ingin agar Ryu Jin segera beranjak. Ryu Jin melepas si kembar lalu menarik ranselnya yang tergeletak di lantai.

Mereka meninggalkan apartemen Jae Min dengan diantar si kembar dan orang tuanya sampai pelataran parkir

“Ayo, dada pada Paman,” kata Yumi pada kedua anaknya.

“Dada!” sorak mereka berempat sama-sama.

Ryu Jin dan Hye Na yang sudah berada di dalam mobil membalas lambaian tangan keluarga kecil itu. Lambat namun pasti, mobil Hye Na meninggalkan keluarga Jae Min dibelakangnya.

Hari Ketiga bersama Adik ABG

Hye Na mulai membuka matanya saat remang-remang mentari pagi mulai merambati celah-celah korden di jendela kamarnya. Dengan sedikit menguap dan meliukkan punggung, dia bisa merasakan kantuknya mulai hilang dan berjalan menuju kamar mandi. Dia menjalani rutinitas pagi seperti biasa, mandi pagi kemudian berdandan. Namun dia merasakan ada sesuatu yang aneh. Ada sesuatu yang hilang.  Hye Na menepuk jidat setelah menyadari sesuatu yang hilang itu adalah ribut-ribut di dapur kemaren.

“Ryu Jin,” gumam Hye Na lalu keluar kamar untuk bergegas ke dapur dengan setengah berlari.

“Pagi!” sapa Ryu Jin saat Hye Na sampai di dapur. Anak itu masih mengenakan piyama seperti kemaren, menikmati susu hangat dan roti bakar. Dia menghentikan aktifitasnya saat mendapati Hye Na berdiri terpaku menatapnya. “Hei! Kenapa melihatku seperti melihat hantu!”

“Kau tidak memporak-porandakan dapur?” tanya Hye Na.

Ryu Jin tertawa. “Aku ingin sarapan roti bakar pagi ini. Kalau roti bakar, sih… aku bisa membuatnya tanpa mengacaukan dapur. Aku juga membuatkan untukmu. Tuh!” Ryu Jin menunjuk roti bakar yang dibuatnya untuk Hye Na.

Hye Na mengacungkan ibu jarinya lalu duduk mendepani roti bakar yang ditunjuk Ryu Jin. Dia  mulai memegang pisau dan garpu, lalu sedikit memotong roti untuk dicicipi. Agak ragu Hye Na memasukkan potongan roti itu ke dalam mulut. Ryu Jin memberi isyarat agar Hye Na segera merasakan roti itu. Akhirnya roti bakar itu masuk mulut juga, Hye Na manggut-manggut. “Lumayan,” katanya. “Terlalu banyak mentega, sih… tapi untungnya aku suka  asin, jadi fine-fine saja.”

“Apa kubilang, Goo Ryu Jin gitu, loh.” Ryu Jin menepuk dada.

“Oh, ya… pagi ini, aku akan mengantarmu ke Shinwa,” kata Hye Na.

“Benarkah?” Mata Ryu Jin melebar mendengarnya. Dia merasa senang karena tidak harus menunggu bis di halte. Hye Na mengangguk. “Cepat selesaikan makanmu. Aku ada kelas jam delapan pagi, jangan sampai aku terlambat karena mengantarmu yang lelet,” suruh Hye Na.

“Oke, Bos!” sekali lagi, Ryu Jin menghormati Hye Na layaknya militer seperti kemaren, lalu cepat-cepat menghabiskan sarapannya agar bisa segera mandi.

Hye Na geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Ryu Jin benar-benar ABG yang konyol. Hanya niat untuk mengantarkannya ke sekolah, Ryu Jin sudah sesenang itu. Hye Na merasakan kalau Ryu Jin seperti orang yang belum pernah merasakan kasih sayang dan tiba-tiba kejatuhan kasih sayang yang bertumpuk sehingga begitu kegirangan. Ryu Jin bahkan lari ke kamarnya dan sudah bergabung dengan Hye Na di ruang tamu lima belas menit kemudian setelah siap dengan memakai seragam dan menggendong tas ranselnya.

“Kunci pintunya!” perintah Hye Na. Ryu Jin malah dengan patuh melakukan perintahnya. Kenapa dia sekarang jadi berlaku manis seperti ini? Hye Na jadi semakin tidak tega mengatakan niatannya. Bahwa dia ingin Ryu Jin melakukan tes DNA, bahwa dia meragukan Ryu Jin sebagai adiknya bahkan ingin sekali agar tes itu dilakukan pagi ini.

“Mobil kakak bagus!” puji Ryu Jin saat mereka sudah berada dalam perjalanan menuju Shinwa. Hye Na hanya diam. Bukan hanya Ryu Jin yang memuji mobilnya, rekan-rekan dosennya pun juga memujinya. Hye Na mendapatkan kemewahannya dengan kerja keras. Gaji sebagai dosen lulusan master belum bisa memberikan kemewahan semacam itu, jadi, kebanyakan dari hasilnya bermain saham di bursa efek.

“Oh, ya. Kenapa kakak bisa hidup kaya raya seperti ini padahal kak Jae Min tidak?” tanya Ryu Jin.

Hye Na tersenyum mendengarnya. Semua ini adalah pilihan. Pilihannya adalah sebagai wanita karier dan karena pilihan itu, dia harus rela adiknya menikah duluan, menyalipnya yang tidak segera menentukan pria pilihan. Sedangkan Jae Min… pilihannya adalah berfoya-foya dan menikah karena harus bertanggungjawab walau pun pada akhirnya dia harus hidup sederhana dalam membangun rumah tangga itu. Hye Na tidak menjawab. Biarlah Ryu Jin menilai sendiri.

“Ryu Jin, kau tahu kenapa aku ingin mengantarmu?” Hye Na sengaja mengalihkan pembicaraan.

“Tidak,” Ryu Jin menggeleng, dia tiba-tiba menebak-nebak alasan Hye Na mengantarnya. “Aaaa…, Kakak takut kalau aku berkelahi lagi?”

“Tidak!”

“Ah, Iya. Jangan kawatir, aku tidak akan melayani anak tengil itu lagi. Tugas hukuman juga sudah aku selesaikan.”

Hye Na mendesah. “Anak tengil? Apa benar anak tengil itu menghina ayah?” tanya Hye Na.

Ryu Jin mengangguk. “Seperti yang kemaren aku bilang.”

“Benarkah? Itu bukan akal-akalanmu untuk membenarkan tindakanmu?” pertanyaan Hye Na itu begitu menyelidik.

“Benar! Kakak tidak percaya?”

“Aku hanya tidak ingin mendapati kalau pada akhirnya memukul orang yang salah.”

“Jadi kakak tidak percaya? Aku berkata benar, aku tidak bohong!” Ryu Jin agak ngotot di sini. Dia memang tidak suka dituduh pembohong.

“Bohong atau tidak bohong hanya kau yang tahu,” desah Hye Na.

“Sebelum ke sekolah, aku akan memeriksakanmu ke rumah sakit,” kata Hye Na kemudian.

“Kenapa? Aku baik-baik saja,” Ryu Jin berkata sambil mengamati mobil jep yang melintas di samping mobil Hye Na.

“Aku kawatir ada luka dalam akibat perkelahian itu,” jawab Hye Na yang tentu saja sebagai alasan. Dia ingin melakukan tes DNA terhadap Ryu Jin secara diam-diam. Semalam dia sudah menelphone kenalannya, seorang dokter yang bisa melakukan tes itu. Di pemeriksaan itu, sang dokter bisa mendapatkan sampel untuk tes yang merupakan bagian dari Ryu Jin.

“Aku sudah diperiksa oleh dokter di sekolah Shinwa, mereka bilang aku tidak apa-apa.”

“Tapi aku ingin kau melakukan pemeriksaan itu, Ryu Jin,” tegas Hye Na.

“Aku tidak mau. Ini sudah terlambat, kau juga bilang kalau ada kuliah jam delapan pagi.”

“Aku bisa menelphon kalau sedikit terlambat,” kilah Hye Na.

“Aku sudah buat masalah kemaren, tidak lucu kalau hari ini aku tambah masalah karena terlambat.”

“Aku yang akan mengatakan alasan keterlambatanmu pada wali kelas.”

“Uuuhhh! Kenapa Kakak memaksa sekali!” jerit Ryu Jin jengkel. “Kenapa,sih? Kakak tidak percaya kalau Jun Pyo mengejek Ayah dan Kakak juga tidak percaya kalau dokter itu bilang aku tidak apa-apa.”

“Ya, sangat bodoh kalau aku percaya begitu saja padamu,” desah Hye Na yang masih bisa di dengar Ryu Jin.

“Jadi kakak tidak percaya padaku? Kakak menuduhku bohong?”

Hye Na tidak menjawab kesimpulan Ryu Jin.

“Apalagi yang tidak kakak percayai dariku?” tanya Ryu Jin yang terdengar agak sengak. Hye Na masih terdiam. “Jawab!” paksa  Ryu Jin.

Emosi Hye Na naik karena Ryu Jin membentaknya. “Cukup! Kau tidak sopan membentak-bentak seperti itu.”

“Aku tidak suka dituduh pembohong! Katakan! Katakan kenapa tidak percaya padaku?”

“Karena aku tidak percaya kau adikku!” akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Hye Na. Ryu Jin ternganga mendengar perkataan kakaknya.

“Aku ingin kau melakukan tes DNA,” kata Hye Na dengan mantap.

“Kakak meragukanku?” Ryu Jin benar-benar tidak mempercayai nasibnya.

“Kalau aku bilang ya?”

“Lalu kenapa kakak mau jadi waliku?”

Hye Na tidak tahu harus menjawab apa. Kenyataan itu tidak terpikirkan saat dia menandatangani surat perwalian Ryu Jin.

“Hentikan mobil ini!” teriak Ryu Jin.

“Apa?”

“Hentikan mobil ini!” Ryu Jin tambah menjerit.

“Kau mau apa?”

“Aku tidak bisa hidup dengan orang yang meragukanku dan menganggapku pembohong!”

“Tes itu akan membuktikan kalau kau bukan pembohong!” tegas Hye Na.

“Aku bilang berhenti!” Ryu Jin menginjak rem mobil.

“Ryu Jin!” Hye Na agak panic saat mobil tersentak karena di rem mendadak. Decitan keras terdengar. Untunglah Hye Na bisa mengendalikan mobil itu kembali yang kini berhenti tanpa menabrak sesuatu pun.

“Kau gila! Kau bisa membuat kita terbunuh!” maki Hye Na. Ryu Jin tidak perduli. Dia membuka pintu keluar dan membanting pintu mobil.

Hye Na ikut keluar dari mobil. Lalu lintas agak macet karena mobil itu berhenti tidak pada tempat dan waktu yang tepat. “Mau kemana, kau?” Hye Na meneriaki Ryu Jin yang berjalan menjauh.

“Sudah kubilang, aku tidak bisa hidup dengan orang yang meragukanku!” teriak Ryu Jin.

“Oh, ya? Lalu kau mau apa? Hidup sendiri? Jadi anak panti?”

Ryu Jin berbalik dan mendekati Hye Na lagi. “Jadi anak panti lebih baik bagiku daripada hidup dengan kakak yang tidak percaya kalau aku benar-benar adiknya,” tegas Ryu Jin dengan mata berair. Ryu Jin menangis. Keraguan Hye Na membuat Ryu Jin menangis. Ryu Jin menjauhi Hye Na dengan perasaan kecewa dan rapuh.

“Fine! Kau ingin jadi anak panti? Jadilah anak panti! Aku tidak perduli!” jerit Hye Na sekeras-kerasnya sambil meloncat  lalu memasuki mobil dengan menutup pintunya keras-keras saking jengkelnya. Mobil itu harus segera berjalan lagi karena kemacetan lalu lintas sudah begitu memprotes. Hye Na meninggalkan Ryu Jin yang akhirnya berjalan sendirian di jalan tol itu.

Di dalam mobil, Hye Na meneriakkan huruf A panjang sambil memukul dasbor mobil. Pagi ini benar-benar menguasainya emosinya. Hanya masalah tes  kecil dan pertengkaran tersulut. Hye Na merasa tidak mungkin mengajar dalam keadaan kacau begini.  Dia juga tidak perduli Ryu Jin ada di mana, anak itu benar-benar membuat kesabarannya habis.

Hye Na menelphon asistennya agar menggantikannya dalam kuliah jam delapan. Hye Na ingin menenangkan diri. Dia melajukan mobil menuju Namsan tower. Dia ingin merasakan lagi tamasya yang pernah dilaluinya waktu kanak-kanak dulu.

Bagaikan membangkitkan kenangan masa kecilnya, Hye Na menikmati pemandangan yang terhapar di bawah menara dari dalam kereta gantung. Di masa lalu, dia menikmati semua ini bersama Ayah-Ibunya.

Hye Na selalu senang jika Ayahnya mengajaknya ke sini. Ayahnya akan menggendongnya sepanjang perjalanan dengan kereta gantung, menerangkan apa saja yang bisa terlihat di bawah, sambil sesekali memujinya. Dia ingat benar panggilan kesayangan ayahnya untuknya, ayahnya selalu memanggilnya, “Peri kecilku.”

Panggilan itu, yang ayahnya rasa cocok dengan tubuhnya yang mungil dan tawanya yang ceria. Pernah Hye Na menanyakan, “Kenapa ayah memanggilku peri?”

Ayahnya menjawab, “Coba kau tertawa,” dan Hye Na pun tertawa. “Lalu berlari-larilah di sekeliling Ayah,” dan Hye Na pun berlari-lari bahkan meloncat-loncat.

Ayahnya menangkapnya, membalikkan tubuhnya, memandangi wajahnya lalu bicara sambil mencolek hidungnya, “Itulah maksud Ayah. Karena kau terlihat bagai peri bagi Ayah.”

Hye Na bisa merasakan kehidupannya waktu itu sangat bahagia. Udara pantai di Jeju selalu membawa aura kebahagiaan baginya dan orang tuanya. Dia dilimpahi kasih sayang, rasa aman dan dimanjakan. Ibunya selalu tertawa dan menjalankan kehidupan Ibu rumah tangga tanpa mengeluh.

Ayah dan Ibunya selalu bercanda di depannya, saling menggoda dan memuji. Ketika semakin intim, mereka meminta ijin untuk masuk ke kamar, menyerahkan Hye Na pada baby sister walau pun dia memprotes. Dan Ayahnya berusaha memberikan pengertian. “Sssttt, ada ‘urusan pribadi dalam kamar’ antara Ayah dan Ibu,” canda sang Ayah ketika Hye Na ngambek.

Tentu saja Hye Na tidak tahu apa maksud dari ‘urusan pribadi dalam kamar’ itu. Hingga akhirnya sang Ibu jadi kelihatan lebih gemuk dari sebelumnya dan Jae Min pun lahir, menambah kebahagiaan Hye Na saat sang ayah mengabarkan kalau sudah menghadiahinya adik laki-laki yang lucu.

Namun pada suatu hari mereka bertengkar hebat. Hye Na begitu ketakutan saat itu, dia memeluk Jae Min yang gemetaran erat-erat. Dan sang Ibu keluar dari kamar sambil menyeret tas besar, menghampiri Hye Na dan Jae Min yang sedang menangis berpelukan, berjongkok di depan mereka, mengelus pipi Hye Na dan Jae Min bergantian dengan tatapan mata bengkak dan hidung memerah yang berlendir kerana menangis. “Hye Na, Jae Min, kemasi barang kalian, Nak. Kita ke rumah Kakek di Seoul.”

“Ayah juga ikut, kan, Bu?” tanya Hye Na. Sang Ibu menggeleng. “Hanya kita bertiga, Nak.”

“Kenapa?” tentu saja Hye Na tidak tahu apa yang terjadi waktu itu. Sang Ibu tetap menggeleng. Ayahnya tidak mencegah kepergian mereka. Hye Na sama sekali tidak mengerti.

Saat Hye Na merasakan sudah terlalu lama tidak bertemu ayahnya. Hye Na masih tidak mengerti kenapa Ibunya melarang keras menemui Ayahnya. Namun Hye Na memberontak. Dia kabur dari rumah Kakeknya di Seoul. Pergi ke Jeju dengan uang tabungannya.

 Dia gembira saat sampai di villa keluarganya di Jeju. Sebentar lagi akan melepas rindu dengan Ayahnya. Sementara menunggu ayahnya yang belum pulang, dia merencanakan hal yang mungkin akan dilakukan bersama sang Ayah nantinya.

Dia melonjak senang saat mobil Ayahnya berhenti di halaman. Dia ingin berlari, menubruk ayahnya untuk memeluk, tapi urung ketika melihat Ayahnya ternyata tidak sendirian. Hye Na bahkan tak mengerti apa yang dia lakukan. Dia mundur, bersembunyi di balik sofa, mengintip Ayahnya yang berciuman dengan wanita asing di serambi lalu menggendong wanita itu.

Dia masih sembunyi-sembunyi mengikuti sang Ayah yang menggendong wanita itu memasuki kamar yang selama ini ditempati sang Ayah dengan Ibunya. Dia masih berumur empat belas tahun waktu itu tapi dia sadar, bahwa ‘urusan pribadi dalam kamar’ itu… sekarang bukan lagi antara Ayah dan Ibunya. Hye Na menyadari itu dengan hati yang perih, dan malam itu juga, dengan tabungan yang tersisa, dia kembali ke Seoul, bahkan tanpa memberitahukan kedatangannya itu pada sang Ayah.

Hye Na menangisi semua itu sekarang. Di sini, di Namsan Tower, di umurnya yang ke – dua puluh sembilan tahun dan mendapati kalau dia sendirian. Dia menyendiri selama ini. Menyimpan luka hingga menutup hatinya rapat-rapat karena takut jatuh cinta pada pria yang salah.

Hye Na terkesiap. Deringan telephone membuyarkan lamunannya. Sambil mengelap ingus, dia mendengarkan pembicaraan di telephone.

“Memangnya ada apa dengan Villa di Jeju?” tanyanya masih dengan suara serak.

“Baiklah, saya akan ke sana,” kalimat Hye Na menutup percakapan telephone. Hye Na menarik nafas panjang. Hari ini dia benar-benar membolos. Bolos mengajar dan bolos pula memantengi pergerakan saham di lantai bursa. Sementara, biarlah asisten dosen dan pialang-pialangnya yang bekerja.

BERSAMBUNG

He is My Brother (Part 2)

Sudah dua jam berlalu semenjak kedatangan Yoon Ji Woon di apartemennya. Sudah dua jam pula pria tampan ini tidak bisa tidur. Dia hanya bergerak-gerak gelisah di atas ranjang, memeluk guling yang sudah tak berbentuk karena jadi teman kegalauannya. Bayangan Hye Na dan mata lebarnya belum bisa disingkirkan. Kalau saja mata Hye Na tidak selebar itu? Dia mulai meracau ngawur, setidaknya mata itu yang membuat Ji Woon tertarik pada gadis itu tapi mata itu juga yang selalu membuatnya mati kutu.

“Aish!” Ji Woon bangkit dengan frustasi. Guling yang malang itu semakin tak berbentuk karena diremas-remas. Bayangan Ryu Jin yang merangkul Hye Na di restoran tadi mulai mengganggu imajinasinya.

“Aku?” Bahkan Ji Woon  masih mengingat tingkah Ryu Jin di restoran tadi. ”Aku Ryu Jin, kekasih Goo Hye Na.”

 Gubrak! Hati Ji Woon tambah panas. Hye Na sama sekali tidak menampik perkataan Ryu Jin, malahan meninggalkannya sambil berangkulan mesra dengan pria itu.

“Aaahhhh!” Ji Woon berteriak lagi sambil memukul-mukul guling.  “Apa benar pria itu pacarnya?” Ji Woon mulai bicara sendiri.

“Ah, tapi kayaknya dia terlalu muda buat Hye Na,” Ji Woon menampik sendiri anggapannya, “Tapi mungkin saja, kan ? Bukankah berhubungan dengan pria yang lebih muda lagi jadi trend sekarang?”

Ji Woon berdiri lalu duduk di sofa dekat jendela, masih melayangkan pikiran pada kejadian di restoran tadi. “Akan kubuktikan kalau aku bisa lebih baik daripada brondong itu!” sumpah Ji Woon sambil memandang pemandangan malam Seoul melalui kaca jendela, mengacungkan tinju ke udara. Lalu memejamkan mata dan mendekatkan tinju  yang terkepal itu di dada. “Aku bersumpah, Goo Hye Na. Kalau tidak, namaku bukan Yoon Ji Woon.”

Nah, kalau bukan Yoon Ji Woon, terus namamu siapa? pikirnya kemudian. Konyol!

“Aaahhh!!! Kok aku jadi kayak orang gila begini, sih?” Ji Woon mengucek-ucek rambutnya. “Ngomomg-ngomong sendiri, dijawab sendiri.”

Syukur, deh kalau dia sadar.

“Sudah tujuh tahun, Hye Na… sampai kapan aku memendam semua ini?”

Memang Ji Woon sudah menyukai Hye Na sejak lama. Sejak Hye Na duduk di semester pertama. Anehnya mahasiswa terpopular di kampus, Yoon Ji Woon, sama sekali tidak punya keberanian buat nembak. Cuma mendekati tanpa kata cinta, hanya itu yang bisa Ji Woon lakukan. Bahkan Ji Woon memutuskan bekerja sebagai dosen di kampus juga, tak lain karena keberadaan Hye Na di situ. Tak perduli ayahnya marah-marah karena lebih menginginkannya meneruskan bisnis keluarga.

“Aku sudah bilang kalau bulan depan ke Amerika, dia tidak tanggap juga?” masih Ji Woon yang bicara sendiri. “Ah, hatimu terbuat dari apa, sih, Hye Na? Apa hatimu sudah terpaku pada bocah brondong itu?”

“Tapi apa benar dia pacar Hye Na?”

Aduh, Yoon Ji Woon… sudah hampir pagi. Tidur dulu, napa? Ngantuk, tahu?

—-He is My Brother—-

Hal yang paling membuat Hye Na muak adalah kehidupan ayahnya, Goo Bon Hyung, sang aktor kawakan yang digilai oleh banyak wanita itu. Seminggu yang lalu Hye Na dikejutkan oleh kabar kematian sang Ayah akibat kecelakaan bersama wanita simpanannya. Dan kini dia dikejutkan oleh kehadiran Goo Ryu Jin, anak sang ayah dengan wanita simpanannya itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Cameo :

Lee Min Ho as Gu Jun Pyo

(Hehehehe)

“Kak Ji Woon,” panggil Hye Na. Ji Woon menoleh. Mereka sedang duduk bersisihan sementara lalu lalang kesibukan bandara ada di sekeliling  namun tak menyurutkan kesedihan di hati keduanya. “Apakah kakak harus benar-benar pergi?” tanya Hye Na.

“Sayangnya begitu,” jawab lirih Ji Woon sambil menunduk sedih.

Hye Na menggapai tangan Ji Woon dan meremasnya tepat di dadanya. Ji Woon menatap perbuatannya itu dengan pandangan tak percaya. “Kalau aku berkata jangan pergi, apakah kakak akan tetap pergi?”

“Hye Na… .”

“Kakak…. .”

“Hye Na, aku… .”

“Kakak, aku… .”

“Kakak, aku lapar… buatkan makanan!”  Gubrak! Ryu Jin merusak suasana.

Krompyang!

Pyar!

Duk!

“Ah, siapa, sih?!!!” Hye Na bergerak malas di tempat tidurnya. Suara berisik dari arah dapur itu benar-benar mengganggu. Maunya sih memuaskan rasa kantuk, tapi kehadiran Ryu Jin di mimpinya tadi sudah sangat-sangat mengobrak-abrik scenario khayal alam sadarnya, ditambah suara gaduh itu yang bikin pusing kepala.

Krompyang! Sekali lagi bunyi peralatan dapur yang jatuh terdengar.  Di saat itulah Hye Na mulai berpikir kalau Ryu Jin-lah biang kerok keributan di dapur pagi-pagi begini. “Huh! Itu anak maunya apa, sih?” omel Hye Na yang sudah mulai tersadar sambil menyampirkan jubah ke tubuhnya, lalu keluar dari kamar.

Tempat yang dituju Hye Na tentu saja dapur. Yang sekarang ini ditatapnya dengan mata melotot, setengah tak percaya. Dapur yang biasanya rapi dan bersih itu, sekarang amburadul. Dan si tengil, Ryu Jin? Mungkin anak itu tahu kedatangan kakaknya, jadi berbalik ke arah Hye Na dan cengar-cengir tak jelas. Tangan kanannya memegang sendok sayur, tangan kirinya menggaruk-garuk rambut, berlagak pilon.

“Astaga! Persis kayak kapal pecah!” seru Hye Na sambil mendelik. Sayuran berceceran di meja dapur. Panci terjatuh di lantai dalam keadaan telungkup dengan buraian mie instan di bawahnya. Jangan ditanya lagi kemana air yang dipakai untuk merebus mie instan itu, meluber kemana-mana. Hye Na bahkan harus mengganti sandal piyamanya dengan sandal jepit biasa lalu berjalan berjingkat untuk menghindari genangan air yang masih panas itu ketika akan mematikan kompor.

“Sebenarnya kamu mau buat apa, sih?” keluh Hye Na sambil mematikan kompor.

“Mie ramen,” jawab Ryu Jin masih cengar-cengir.

“Kenapa tidak bangunkan aku?” Hye Na  yang masih jengkel, berkacak pinggang di depan Ryu Jin.

“Kau sendiri yang bilang,… self service! Jangan jadi anak manja!” Ryu Jin menirukan ucapan Hye Na dengan bibir yang nyinyir.

Hye Na memutar kedua bola matanya dan menghela nafas panjang. Sabar… sabar… . Ni anak masih ABG, anak yang baru bisa melihat isi dunia memang kadang menjengkelkan dan sok pintar, pikir Hye Na.

“Bereskan panci dan mie yang sudah tak layak makan itu! Biar aku yang memasak!” perintah Hye Na akhirnya.

“Beres, Bos!” seru Ryu Jin sambil menghormat pada Hye Na layaknya militer lalu pergi sebentar untuk mengambil peralatan buat bersih-bersih.

Capek, deh! Keluh Hye Na. Dalam lima menit, Ryu Jin sudah membereskan kekacauan yang dia buat dan duduk di depan bartable.

“Kau tidak mandi?” tanya Hye Na. Dari penampilannya, orang bisa melihat kalau Ryu Jin belum mandi. Rambutnya masih awut-awutan, ada beberapa kerut bekas bantal di wajahnya, dan dari semua itu, piyama yang masih dia kenakan, sudah cukup jadi pertanda.

“Aku biasa makan dulu baru mandi,” jawab Ryu Jin sambil mencomot roti tawar. Disobeknya roti itu sedikit, dimasukkan di mulut lalu dikunyah dengan gaya cuek.

Hye Na meniriskan mie yang sudah tanak, lalu beralih pada daging yang dia rebus bersama bumbu. “Aku akan mendaftarkanmu ke sekolah pagi ini,” kata Hye Na sambil memasukkan sayuran ke dalam daging yang sudah empuk.

“Tidak perlu, Pak Kim sudah mendaftarkanku kemarin.”

Hye Na menoleh sebentar pada Ryu Jin untuk berkata, “Oh, ya? Kenapa tidak sekalian saja dia mengadopsimu?”

“Kalau aku, sih.. maunya begitu…,” kata Ryu Jin sekenanya.

“Di mana dia mendaftarkanmu?” tanya Hye Na sambil mengaduk-aduk sayuran di dalam panci yang berisi daging dan kaldu.

“SMA Shinwa.”

“Apa?”

“Hei, sepertinya perkataanku sudah sangat jelas. SMA Shinwa!” ulang Ryu Jin.

“Tapi umurmu, kan baru empat belas tahun?”

“Aku mengikuti kelas akselerasi sejak sekolah dasar,” Ryu Jin menepuk dada, menyombongkan diri. Hye Na nyinyir. Syukurlah, setidaknya ABG ini tidak sebodoh yang kukira.

Ting-tong! Suara bel apartemen berbunyi.

“Siapa yang datang pagi-pagi begini?” tanya Ryu Jin.

“Kau tidak akan tahu kalau tidak membukanya,” sahut Hye Na asal. “Buka pintunya!” perintahnya kemudian.

“Sekarang?”

Hye Na mendelik kesal, “Tidak! Besok! Ya sekarang, Goo Ryu Jin!”

Ryu Jin beranjak dari tempat duduknya dengan malas-malasan. Sementara Hye Na sudah mulai menata ramen  di dua mangkok. Suara pintu depan yang dibuka terdengar, lalu Hye Na bisa mendengar Ryu Jin berteriak, “Sayang, lihat siapa yang datang?”

Dahi Hye Na membentuk kerutan mendengar teriakan itu. Dia segera menuju ruang tamu setelah menyelesaikan masakannya. Dan terkejut melihat pria yang berdiri di ambang pintu apartemen, Yoon Ji Woon.

Hari kedua bersama adik ABG

Ji Woon menatap Ryu Jin dan Hye Na bergantian. Ryu Jin dengan piyamanya dan Hye Na dengan jubah tidurnya. Cukup bagi Ji Woon untuk meyakinkan diri kalau Hye Na dan Ryu Jin tinggal bersama. Memikirkan hal itu, membuat hati Ji Woon merana. Jadi hubungan mereka sudah sejauh ini? Pikirnya.

Hye Na menatap Ji Woon kikuk. Ji Woon berusaha mengontrol perasaan. Ryu Jin yang sepertinya tahu suasana, mulai memancing di air keruh. Ryu Jin merangkul Hye Na dan berlagak sok mesra,”Bukankah dia pria yang kita temui di restoran?”

Keadaan Ji Woon semakin memelas. Hye Na yang merasa bersalah hanya mengangguk sambil meringis. “Ada apa kakak kemari?” dalam hati Hye Na memaki diri sendiri karena menanyakan hal konyol seperti itu.

“E… e… aku… aku hanya ingin menjemputmu.”

“Menjemput?” Bukannya Hye Na, malah Ryu Jin yang merespon.

“Ryu Jin, sana! Jangan ikut campur!” usir Hye Na. Ryu Jin bersungut-sungut sambil berjalan ke arah sofa. Dia menduduki sofa di ruang tamu, jadi masih bisa melihat adegan antara Hye Na dan Ji Woon.

Ji Woon melihat tingkah Ryu Jin dan mulai menyimpulkan kalau Hye Na lebih mendominasi. Mungkin karena factor usia, begitu pikir Ji Woon. Bukankah di mana pun, Hye Na selalu mendominasi? Ketika kuliah, Hye Na adalah mahasiswa yang paling menonjol, kiprahnya paling mendominasi dari pada mahasiswa yang lain. Dalam hubungan mereka, yang dari dulu sampai sekarang masih belum naik pangkat dari sekedar berteman, Hye Na juga lebih mendominasi.

“Kakak,” panggil Hye Na.

“Oh,” Ji Woon tersadar dari lamunannya. “Kau tahu, kan? Hari ini penobatan professor Sean sebagai guru besar. Aku ingin mengajakmu berangkat bersama.” Ji Woon lalu menyodorkan bungkusan yang dari tadi dibawanya. “Aku juga membawakanmu bubur ayam untuk sarapan bersama.”

“Wah! Bubur ayam! Aku mau!” Ryu Jin yang mendengar kata ‘bubur ayam’ lari untuk merebut bungkusan dari tangan Ji Woon.

“Ryu Jin!” Hye Na mendelik kesal.

“Kenapa?” tanya Ryu Jin tanpa dosa lalu menoleh lagi pada Ji Woon. “Eh, kau… om-om senang!”

Tatapan mata Hye Na berubah menjadi horror. Ji Woon menunjuk diri sendiri dengan muka merah padam.

“Ya, kamu!” tegas Ryu Jin. “Peletmu di bubur ayam ini tidak akan mempan pada Hye Na karena aku yang akan memakan semuanya. Kau dan Hye Na bisa makan mie ramen yang aku yakin sudah siap di dapur!” Ryu Jin memutuskan seenaknya.

Hye Na memonyongkan bibir. Ji Woon semakin frustasi sedangkan Ryu Jin merasa menang karena sebentar lagi perutnya akan keyang karena dua porsi bubur ayam.

“Ah, jangan didengarkan perkataannya, kakak!” sela Hye Na. “Ayo, kita sarapan sama-sama !”

Tapi sepertinya Ji Woon lebih baik menolak tawaran itu. Dia bisa membayangkan suasana kaku di meja makan nanti. “Ah, tidak usah, lebih baik aku pergi saja.”

“Lho? Tidak jadi menjemput Hye Na buat jalan sama-sama?” Ryu Jin keheranan.

Ji Woon jadi salah tingkah. Hye Na melotot pada Ryu Jin yang berkerling padanya.

“Aa!” Ji Woon berlagak menepuk jidatnya. “Aku lupa kalau ada janji dengan … ,” Ji Woon tiba-tiba kehabisan akal untuk menyebutkan salah satu nama sebagai alasan saat melihat mata Hye Na mengerjap. Sedetik saja dia jadi seperti orang ling-lung. “Ah, pokoknya aku ada janji!” kata Ji Woon putus asa.

Hye Na mengkerutkan dahi. Apalagi melihat Ji Woon yang akhirnya undur diri. “Sampai jumpa di auditorium,” lalu berjalan menjauhi pintu apartemen Hye Na.

Ryu Jin terkikik setelah pintu apartemen di tutup Hye Na.

“Kau!” Hye Na menunjuk pada Ryu Jin dengan pandangan mengancam lalu berjalan ke dapur.

“Om – om itu naksir kakak!” kata Ryu Jin sambil mengekori Hye Na ke dapur.

“Ji Woon bukanlah om-om dan aku juga bukan kakakmu!” ujar Hye Na sengit.

————————————-

Acara pengukuhan professor Sean sebagai guru besar? Menyenangkan bagi yang lain tapi tidak bagi Hye Na dan Ji Woon. Senior-yunior yang biasanya kompak ini, mendadak menjadi canggung satu sama lain. Ji Woon sama sekali tidak percaya kalau dia bisa dikalahkan oleh seorang brondong macam Ryu Jin dalam mendekati Hye Na.  Sesekali Ji Woon menoleh pada Hye Na. Tempat duduk mereka memang sebaris, hanya diselangi oleh dua orang di antara mereka, sehingga Ji Woon bisa leluasa mengamati gerak-gerik Hye Na.

Sementara Profesor Sean menyampaikan pidato pengukuhan,  tanpa Ji Woon sadari, Hye Na juga sesekali meliriknya. Hye Na merasa bersalah karena perbuatan Ryu Jin sungguh sangat keterlaluan. Anak itu pasti sudah sangat menyinggung perasaan Ji Woon, kalau tidak, tidak mungkin Ji Woon jadi sekaku ini di depannya, bahkan tidak menyapa saat mereka bertemu di auditorium.

Hye Na melirik pada Ji Woon lagi. Dia memutuskan untuk meminta maaf pada Ji Woon demi Ryu Jin. Setengah berbisik, dia memanggil Ji Woon melalui punggung orang di sebelahnya, “Kakak.”

Satu panggilan, Ji Woon tidak menoleh. Mungkin kurang keras. “Pst! Kak Ji Woon,” panggil Hye Na lagi. Ji Woon belum juga menoleh.

“Kak Ji Woon!” panggil Hye Na agak keras. Ji Woon menoleh.

“Sssstttt!!” tapi orang di sebelah Hye Na memperingatkannya agar tidak terlalu berisik. Ji Woon dan Hye Na jadi salah tingkah.  Tidak ada hal lain yang bisa Hye Na lakukan selain menunggu acara itu selesai untuk meminta maaf pada Ji Woon.

Tapi Ji Woon malah segera menyalami Profesor Sean begitu acara selesai. Hye Na mengikutinya, bahkan menyalami Profesor Sean setelah dirinya. Untuk bertatapan muka dengan Hye Na lagi, Ji Woon membutuhkan waktu, dia memutuskan segera menghindar dari Hye Na.

“Kakak!” panggil Hye Na saat melihat Ji Woon keluar dari auditorium.

“Kakak!” Hye Na mengejar Ji Woon sampai di koridor menuju kantornya. Ji Woon yang tahu kalau Hye Na mengejarnya sejak dari auditorium, merasa kasihan dan berhenti untuk menghadapi Hye Na dengan perasaan yang jungkir balik.

“Kakak…, maafkan kelakukan Ryu Jin tadi, ya?” pinta Hye Na memelas.

Bagus! Kau meminta maaf buat kekasihmu, Hye Na. Ji Woon berusaha tabah.

“Kakak,” Hye Na meminta kepastian kalau Ji Woon akan memaafkan Ryu Jin. Hye Na selalu bisa bertingkah manja layaknya anak kecil di depan Ji Woon. Mata lebar itu mengerjap lagi, meruntuhkan pertahanan Ji Woon hingga kemarahannya mereda dan akhirnya tersenyum sambil mengangguk.

“Kakak, sebenarnya… .”

Hye Na sebenarnya akan mengatakan kalau Ryu Jin bukanlah kekasihnya. Dia adalah adik tiri Hye Na.  Akan tetapi telephon genggam Hye Na tiba-tiba berbunyi. Ji Woon menghela nafas frustasi. Selalu saja begitu, setiap kali pembicaraan mereka selalu terpotong oleh deringan handphone Hye Na. Ji Woon jadi kesal lalu meninggalkan Hye Na begitu saja di koridor.

“Kakak…,” desah Hye Na saat melihat punggung Ji Woon yang semakin mengecil di pandangannya.

Handphone Hye Na berbunyi lagi. Sebuah nomor yang tidak dikenal terpampang di layar. “Ya, Goo Hye Na di sini,” sapa Hye Na pada orang yang menelphone.

“SMA Shinwa?” Alis Hye Na agak menyatu sampai di sini.

“Ryu Jin berkelahi?”

Hye Na jadi tak habis pikir. Ryu Jin berkelahi dengan seniornya di hari pertama sekolah dan pihak sekolah memanggilnya sebagai wali Ryu Jin. Tugas wali itu dirasa Hye Na semakin berat. Hye Na mengendarai mobilnya menuju Shinwa dengan perasaan gondok.

“Apa sebenarnya yang dipikirkan anak itu?” keluh Hye Na di dalam mobil. “Ah! Tidak bisakah anak itu membiarkanku tenang sehari saja?”

Tapi Ryu Jin memang tidak bisa membuat Hye Na tenang. Anak itu ditemuinya di ruang kepala sekolah SMA Shinwa dalam keadaan babak belur, kotor dengan seragam sobek-sobek tapi Ryu Jin  merasa tidak bersalah dengan tindakannya. Menurut Ryu Jin, perbuatannya tidak salah. Lawannya yang mulai duluan dan dia merasa harus meladeni, sebab kalau tidak… dia akan selamanya jadi korban buli di Shinwa.

“Saya harap anda bisa menyadarkan adik anda, Nona Goo,” kata kepala sekolah SMA Shinwa. Hye Na agak heran. Kenakalan Ryu Jin bisa dibilang kenakalan biasa, tapi kenapa harus kepala sekolah yang turun tangan? Kenapa tidak wali kelasnya dulu?

“Saya rasa Nyonya Kang tidak akan terima putranya jadi bulan-bulanan seperti ini,” lanjut kepala sekolah itu lagi.

Nyonya Kang ? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? pikir Hye Na.

“Saya terpaksa mensekors adik anda selama satu hari dengan tugas yang akan diberikan oleh wali kelasnya,” kata kepala sekolah. “Saya harap, besok Ryu Jin akan kembali dengan pemikiran yang lebih cerdas.”

Hye Na tersenyum dan berusaha tetap tenang. “Adik saya selalu cerdas, Pak kepala sekolah. Anda bisa lihat, dalam umurnya yang keempatbelas, dia sudah duduk di bangku SMA. Tapi kalau skorsing itu bapak rasa perlu sebagai pembelajaran bagi Ryu Jin, saya terima saja.”

“Bagus, saya senang anda mau mengerti,” kepala sekolah itu merasa lega pada rasa pengertian yang diberikan Hye Na.

Ketika sudah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan, Hye Na undur diri sambil mendorong Ryu Jin agar meninggalkan ruangan kepala sekolah. Di sepanjang jalan menuju tempat parkir, Hye Na mengomeli Ryu Jin, bahkan ketika menunggu Ryu Jin mengambil tugasnya di kantor wali kelasnya, Hye Na mengomel pada diri sendiri. Ngomel pada nasibnya karena harus menjadi wali Ryu Jin.

“Aku jadi tak habis pikir. Apa sebenarnya yang kau mau? Berkelahi di hari pertama masuk sekolah!” omel Hye Na saat mulai mendekati mobilnya.

“Dia yang mulai. Dia mengejekku,” Ryu Jin membela diri.

“Pernahkah Ibumu mengajarimu untuk tidak menghiraukan pendapat orang?” tanya Hye Na sebagai respon perkataan Ryu Jin.

“Aku tidak akan menggubris semuanya kalau dia tidak mengolok-olok ayahku!” kata Ryu Jin sengit. Hye Na menoleh pada  Ryu Jin saat nama ayah mereka disebut.

“Apa kau bilang? Dia mengolok ayah?”

“Iya!” Ryu Jin mengangguk mantap. “Gu Jun Pyo sialan itu bilang kalau Ayahku orang tidak jelas. Penjahat kelas kakap! Tidak berani muncul untuk mendaftarkan anaknya sehingga harus menyuruh pengacara untuk mendaftarkanku.” Ada kemarahan di mata Ryu Jin saat menceritakan ejekan itu. Kemarahan itu juga menjalar pada Hye Na. Dia tidak terima kalau sang Ayah dijelek-jelekkan.

“Tunjukkan padaku dimana anak sialan itu!” suruh Hye Na.

“Aku tidak tahu, mungkin di lapangan basket!” jawab Ryu Jin.

“Di mana pun, dia, tunjukkan padaku!” bentak Hye Na. Ryu Jin jadi kaget dan mengangguk takut-takut.

Mereka urung pulang ke rumah karena Hye Na ingin menemui anak yang mengajak berkelahi Ryu Jin. Ryu Jin berjalan ke sana – ke mari mencari Gu Jun Pyo. Sumpah mati, dia tidak berani menatap mata kakaknya. Rupanya kemarahan Hye Na sudah memuncak.

Tebakan Ryu Jin benar, Gu Jun Pyo ada di lapangan basket, dikelilingi teman-temannya dan ditonton oleh fans-fans ceweknya yang agak gila dan sedikit lebai. Ryu Jin menunjuk kea rah Jun Pyo, “Itu dia, itu Gu Jun Pyo,” kata Ryu Jin kepada Hye Na.

Hye Na akan mendekati Jun Pyo. Ryu Jin tiba-tiba menarik tangannya, “Mau apa?”

Hye Na menatap lengannya yang dipegang Ryu Jin. Merasa ngeri dengan tatapan Hye Na, perlahan Ryu Jin melepaskan lengan Hye Na.

Tidak perlu berpikir lagi, Hye Na berjalan memasuki lapangan basket, berdiri di depan Gu Jun Pyo yang tampak lebih tinggi darinya. Dilihatnya tepi bibir Jun Pyo yang agak sobek, mungkin karena perkelahiannya dengan Ryu Jin tadi. Dan wajah Jun Pyo? Hye Na tak habis pikir bagaimana bisa anak sekarang pada bongsor-bongsor dan cepat tua. Lihat saja wajah Jun Pyo yang boros, lebih mirip wajah om-om dari pada wajah anak SMA. Tentu saja Hye Na tidak tahu kalau sebenarnya Jun Pyo adalah siswa bodoh yang masih duduk di bangku SMA di usia dua puluh dua tahun karena berkali-kali tinggal kelas. Kalau saja orang tuanya bukan pemilik sekolah, sudah pasti anak setolol itu sudah dikeluarkan dari sekolah.

Bukannya  menyadari kemarahan Hye Na, Jun Pyo malah  ke-PD-an, diperhatikan Hye Na dengan mata melotot dan berkacak pinggang seperti itu. Yang membuat Hye Na tambah muak, anak yang dikiranya masih ABG itu malah pasang muka sok menawan di depannya.

“Kau yang bernama Gu Jun Pyo?” tanya Hye Na. Tentu saja perkataannya disambut sorakan ‘Huuu’ panjang dari teman-teman dan fans gila Jun Pyo.

Dengan gaya sok cool, Jun Pyo mengangkat tangan, memberi kode pada yang lain agar tenang. “Wah, wah, rupanya pesonaku sangat terkenal, sehingga nona manis sepertimu mencariku,” kata Jun Pyo sambil mencolek dagu Hye Na dengan kerling menggoda dan terlihat… errr… mesum!

Buk! Bogem mentah mendarat di hidung Jun Pyo! Semua yang ada di lapangan terkejut seketika. Baru saja Jun Pyo berkelahi dengan siswa baru, dan sekarang, hidungnya harus berdarah lagi akibat pukulan dari Hye Na, si wanita mungil yang tingginya bahkan tak sampai dadanya. Jun Pyo membungkuk-bungkuk, kedua tangannya menangkup hidungnya yang berdenyut-denyut nyeri, dan matanya mulai berkunang-kunang.

“Lain kali, jika ada masalah dengan adikku, kalian selesaikan tanpa menjelek-jelekkan orang tua masing-masing!” kata Hye Na sambil menunjuk-nunjuk.

Dia akan kembali ke tempat Ryu Jin yang berdiri dan kelihatan terkejut pada kelakuannya barusan pada Jun Pyo, tapi berhenti untuk berbalik lagi pada Jun Pyo yang kini sudah dikerubungi teman-temannya yang sok memberikan perhatian untuk berkata, “Oh, ya! Besok, kau mungkin akan menuduh adikku pengecut karena bersembunyi di balik rok kakaknya untuk memukulmu, tapi  bagiku… aku menuduhmu pecundang karena tidak bisa melawan adikku tanpa menjelekkan orang-tuanya bahkan tak bisa menahan sakit yang diakibatkan pukulan kakak perempuannya.”

Hye Na berjalan keluar lapangan dengan dada terbusung. Baru kali ini, dia merasa puas. Baru kali ini, dia merasakan lepas kendali dan dia menyukainya. Dia menyukai keliaran sementaranya.

“Kau memukulnya?” kata Ryu Jin yang kini berjalan menjejerinya. Seakan tak percaya dengan perbuatan nekat kakaknya.

“Aku tak percaya kau memukulnya,” kata Ryu Jin sambil tertawa dan geleng-geleng kepala. Tak disadarinya, Hye Na sudah jauh mendahuluinya di depan.

“Hei, Kakak! Tunggu aku!” teriak Ryu Jin pada Hye Na yang berjarak beberapa kaki di depannya.

“Kakak!” Ryu Jin berlari mengejar kakaknya.

BERSAMBUNG

Buat yang gak terima karakter Jun Pyo di sini, gak usah baca!

Hehehehehehe

🙂

He Is My Brother

Bel yang berbunyi nyaring membangunkan tidur Hye Na yang sedang pulas-pulasnya. Maklum… baru jam empat pagi dia baru tidur setelah lembur dari jam delapan malam kemaren, memeriksa laporan-laporan dari para pialang yang dia tunjuk untuk mengurus saham-sahamnya di bursa efek. Belum lagi materi kuliah yang harus dipersiapkannya untuk mengajar jam sembilan pagi nanti.

Ting tong!Sekali lagi bel berbunyi. Terpaksa Hye Na harus membuka mata ngantuknya lebar-lebar. Semakin tak habis pikir karena orang di balik pintu ternyata tidak sabar dan terus memencet bel.

“Ya, sebentar!” teriaknya setelah meliukkan punggung dan menguap. Dia lalu berjalan menuju pintu masuk apartemennya dengan langkah terseok-seok, menimbulkan bunyi dari sandal piyamanya yang empuk.

Pintu terbuka sudah, dan kini berdiri di depannya seorang pria paruh baya bersama seorang anak lelaki remaja yang menggendong tas ransel, menatapnya dengan mata menyipit.

“Nona Goo?” sapa pria paru baya itu.

“Ya?” jawab Hye Na.

Pria itu mengulurkan tangan. Dengan senyumnya yang khas, dia memperkenalkan diri. “Saya Kim Jae Jong, pengacara almarhum Ayah anda.”

“O…,” Hye Na membulatkan mulutnya.

Pria itu menepuk pundak bocah yang ada di sampingnya. “Dan ini Goo Ryu Jin, adik anda.”

“Apa?!” Rasa kantuk Hye Na hilang sudah pagi ini.

—-He is My Brother—-

Hal yang paling membuat Hye Na muak adalah kehidupan ayahnya, Goo Bon Hyung, sang aktor kawakan yang digilai oleh banyak wanita itu. Seminggu yang lalu Hye Na dikejutkan oleh kabar kematian sang Ayah akibat kecelakaan bersama wanita simpanannya. Dan kini dia dikejutkan oleh kehadiran Goo Ryu Jin, anak sang ayah dengan wanita simpanannya itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

 

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Pengacara Kim Jae Joon masih menekuri berkas-berkas yang ada di tangannya sementara Ryu Jin yang duduk di sampingnya, memandangi interior sekeliling ruangan. Satu setengah jam Hye Na meninggalkan mereka di ruang tamu untuk berdiskusi dengan adiknya, Goo Jae Min di kamar Hye Na. Rupanya pembicaraan mereka di dalam kamar cukup alot, buktinya, terlalu lama kakak beradik itu mengabaikan tamunya.

Ryu Jin menghela nafas. Kegelisahan tampak di wajahnya. Pengacara Kim meliriknya sekilas lalu kembali pada surat-surat di tangannya lagi. Ryu Jin menggerak-gerakkan kakinya, memang sudah kebiasaannya melakukan itu jika merasa gugup. “Pak Kim,” panggilnya tiba-tiba. Pengacara Kim Jae Joon tanpa menoleh menjawab dengan deheman sekali.

“Aku tidak harus bersama mereka kalau memang mereka keberatan. Aku bisa hidup sendiri,” kata Ryu Jin menahan jengkel. Dia yakin kalau kehadirannya di depan kakak-kakaknya seayah tapi lain ibu itu, akan merepotkan.

“Ada beberapa syarat yang harus kau penuhi agar bisa hidup sendiri,” kata Pengacara Kim tanpa menoleh.

“Apa itu? Aku pasti memenuhinya, asalkan keinginanku untuk hidup sendiri dikabulkan.”

“Oke,” barulah pengacara Kim menoleh. “Syarat pertama, kau harus berumur lebih dari delapan belas tahun, umurmu baru empat belas, well… baru syarat pertama saja kau sudah gugur.”

Ryu Jin memonyongkan bibir. Pengacara Kim merasa di atas angin. Ryu Jin yang merasa mati kutu hanya bisa terdiam dan mengitarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu lagi.

Sementara di kamarnya, Hye Na dan Jae Min masih berdebat tentang siapa yang seharusnya mengurus Ryu Jin.

“Kau yang harus mengurusnya. Bukankah selama ini Ayah lebih dekat denganmu?” Hye Na berargumen.

“Oh, tidak bisa!” jawab Jae Min sambil menggerak-gerakkan tangannya dengan bahasa tubuh menolak. “Kau tahu sendiri, kan? Anakku sudah dua. Apartemenku sempit. Untuk  hidup sehari-hari pun, aku masih kekurangan. Dia tidak bisa bersamaku. Kau yang harus mengurusnya.”

“Ah, salahmu sendiri…, siapa suruh menghamili anak gadis orang  dan harus bertanggung-jawab?” omel Hye Na.

“Jiah! Kau sendiri! Siapa suruh tidak segera menikah, jadi perawan tua dan aku menyalipmu?” omel balik Jae Min.

Huft! Jae Min memang tak berperasaan. Kenapa kenyataan kalau Hye Na perawan tua harus digembar-gemborkan, sih?

“Lagi pula,” kata Jae Min lagi,” Lihat saja apartemenmu ini,” Jae Min merentangkan tangannya. “Terlalu luas untuk kau tinggali sendiri. Kalau pun kau tidak mau melihatnya karena dia mirip dengan wanita sundal itu, kau bisa menempatkannya di kamar paling belakang dan berani bertaruh, kau pasti pergi pagi-pulang malam, jadi interaksi di antara kalian nanti jarang.”

“Justru karena aku pergi pagi-pulang malam, dia tidak bisa bersamaku. Dia butuh sosok wali yang penuh keteladanan,” kilah Hye Na.

“Apakah pria yang terpaksa berkeluarga karena pacarnya hamil duluan patut dijadikan teladan?”  kilah Jae Min balik.

“Lalu bagaimana? Apa kita telephon Ibu saja? Memohon supaya beliau menerima anak itu?”

“Coba saja kalau kau mau dicincang Ibu habis-habisan? Hatinya masih terluka walau pun sudah lama cerai dengan Ayah.”

“Terus gimana, dong?” Hye Na buntu lagi.

Telephon genggam Jae Min berbunyi. Percakapan terhenti sementara karena Jae Min harus berbicara dengan bosnya. Hye Na masih saja dengan pendapatnya, seorang bujangan seperti dia, tidak mungkin diberi tanggung-jawab mengurus remaja tanggung seperti Ryu Jin. Ryu Jin butuh sosok keluarga yang utuh dan Jae Min sebenarnya bisa memberikannya kalau mau.

Bip! Jae Min mematikan telephonnya dan memandang Hye Na. “Itu tadi bosku. Dia menyuruhku  ke Bussan siang ini. Well, pokoknya anak itu harus bersamamu. Aku tidak mau mengurusnya. Titik!” tekan Jae Min. Dia segera berjalan ke arah pintu kamar untuk keluar.

“Hei! Tunggu! Tidak bisa begitu, dong!” teriak Hye Na sambil mengikuti Jae Min.

Adik tengilnya itu sudah sampai di ruang tamu karena kaki-kakinya yang panjang, sedangkan Hye Na harus lari pontang-panting mengejarnya.

“Sudah diputuskan pengacara Kim,” kata Jae Min. Hye Na yang sudah sampai di ruang tamu jadi ngos-ngosan. “Kakakku Hye Na  akan mengurus anak itu di sini,” Jae Min memutuskan seenaknya.

“Apa?” mata Hye Na melotot, seolah akan keluar dari rongganya ke arah Jae Min. Jae Min membungkam mulut Hye Na dengan tangan kanannya sebelum Hye Na ngomel-ngomel.

“Bagus kalau begitu!” potong Kim Jae Joon.

“Ryu Jin,” panggilnya sambil menepuk pundak Ryu Jin. “Kau akan tinggal di sini dengan kakak perempuanmu, Goo Hye Na.” Lalu dia memanggil Hye Na. “Saudara Goo HYe Na. Anda bisa tanda-tangan di sini. Sebagai bukti kalau anda adalah wali syah dari Goo Ryu Jin.”

Hye Na yang masih dalam bekapan Jae Min, menggelengkan kepala sementara tatapan matanya ke arah Jae Min. Jae Min mendelik untuk mengancam.

“Nona Goo,” panggil Kim Jae Joon karena merasa tidak direspon.

“Ha ha ha, tentu saja kakakku akan tanda tangan, Pak pengacara. Iya, kan, Kakak?”

Nasib! Mimpi apa semalam? Nikah aja belum, sudah jadi wali anak ABG.

Hari Pertama Bersama Adik ABG

“Ini kamarmu,” kata Hye Na sambil membuka pintu kamar yang terletak paling belakang apartemennya. Dia segera memasuki kamar itu bersama Ryu Jin yang mengekorinya. Remaja tanggung itu meletakkan tas ransel di atas ranjang lalu memandang sekeliling kamar.

Hye Na bergerak ke arah almari dan membuka pintunya. “Aku rasa, kau bisa langsung menata baju-bajumu di sini.” Hye Na menunjukkan fungsi dari almari itu walau pun sebenarnya Ryu Jin tidak perlu diajari, dia lalu menuju kamar mandi. “Kamar mandinya sebelah sini,” tunjuknya sambil membuka pintu yang menghubungkan antara kamar tidur dan kamar mandi.

“Kau tidak harus menampungku kalau memang tidak mau,” ucap Ryu Jin tiba-tiba.

Hye Na yang sebenarnya akan masuk kamar mandi untuk mengecek aliran air jadi mengurungkan niat. Dia jadi mendengarkan kalimat Ryu Jin selanjutnya. “Aku tahu kalau kau terpaksa,” perkataan Ryu Jin itu terdengar…. Sengit?

Hye Na menghembuskan nafas kesal. “Aku harus segera berbenah karena ada kelas pukul Sembilan. Kalau kau lapar, ambil sendiri makanan di kulkas. Self service, oke! Jangan jadi anak manja!” tekan Hye Na sambil meninggalkan kamar itu dengan hati dongkol.

Kehadiran Ryu Jin pagi ini membuat suasana hati Hye Na jadi uring-uringan. Ditambah lagi mahasiswa-mahasiswa di kelasnya yang berulah, lengkap sudah penderitaan Hye Na. Dia merelakskan pikiran dengan menikmati secangkir teh hijau di kantin. Mahasiswa yang melewatinya jadi agak canggung, tapi dia tidak perduli. Yang ada dalam pikirannya adalah, bagaimana aroma teh hijau yang menenangkan itu. Dia menghirup cairan coklat kekuningan itu sedikit demi sedikit, menikmati sensasi rasa sepat di lidahnya. Hingga sebuah tepukan yang mendarat keras di pundaknya begitu mengganggu. Hampir saja dia tersedak.

“Kau sangat menikmati minumanmu, Nona,” sapa orang yang menepuk pundaknya tadi sambil duduk di depannya. Hye Na menelan sisa cairan yang ada di kerongkongannya dengan susah payah. Orang yang berseberangan meja dengannya sekarang ini adalah Yoon Ji Woon, seniornya waktu kuliah yang sekarang ini sama-sama bekerja sama dengannya sebagai pengajar di almamater kampusnya.

“Hanya teh hijau biasa,” kilah Hye Na.

“Kalau kau minum teh hijau, biasanya kau ada masalah.”

Bagus sekali! Sejak kapan dia tahu kebiasaanku?

“Ah, kakak ada-ada saja. Tidak ada masalah sama sekali,” Hye Na menggerakkan tangannya membentuk garis horizontal. Ji Woon tersenyum ke arahnya. Manis sekali. Madu saja kalah, sumpah, deh! Hye Na membalas senyumnya dengan agak aneh.

“Permohonan beasiswaku diterima,” kabar dari Ji Woon.

“Wah, selamat!” Hye Na merespon riang sambil mengulurkan tangan.

“Aku akan berangkat ke Amerika bulan depan,” lanjut Ji Woon tanpa menyambut jabat tangan Hye Na.

“Sekali lagi selamat kalau begitu!” Hye Na berkata lagi dan masih menjulurkan tangannya.

“Hye Na… .” panggil Ji Woon dengan tatapan sendu.

“Ya?” Hye Na mengerjapkan kedua matanya. Sekali lagi mata lebar itu membuat Ji Woon gugup. Buyar sudah kalimat yang tersusun rapi sejak tadi pagi.

Tlululut! Handphone Hye Na berbunyi.  “Ya?” Hye Na mengangkat telephon.

“Apa?!” teriak Hye Na sekerasnya. “Lepas sebagian!” lanjutnya. “Sebentar…,” Hye Na menutupi corong HP dengan telapak tangan lalu menoleh pada Ji Woon. “Kakak, maaf, ya… Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa!” Hye Na menggapai tasnya lalu berdiri. Kepergiaannya diiringi tatapan kosong Yoon Ji Woon.

“Hye Na, aku mencintaimu,” ucap Ji Woon dalam hati.

Urusan saham memang membuat Hye Na kelimpungan kalau perkiraannya meleset. Dia hampir saja mengalami kerugian kalau saja siang tadi tidak segera bertindak. Dan sekarang, dia melangkah dengan gontai ke pintu masuk apartemennya. Dia berhenti sebentar untuk merogoh kunci di dalam tas. Ketemu! Sekarang tinggal memasukkan anak kunci itu ke lubangnya dan… . Pintu terbuka bahkan sebelum dia memasukkan kunci.

“Belum tidur?” tanya Hye Na dengan malas. Malas karena harus berinteraksi dengan Ryu Jin malam-malam begini.

“Malam sekali kau pulang?” mungkin Ryu Jin tahu kalau pertanyaan Hye Na hanya basa-basi, jadi dia mengajukan pertanyaan balik.

Hye Na cuek saja ketika melewati Ryu Jin dan duduk di sofa sambil melepas sepatu.

“Aku lapar, buatkan makanan!” kata Ryu Jin yang sudah berdiri di depan Hye Na.

Hye Na memutar matanya bosan. “Bukankah tadi pagi sudah kubilang! Self service! Jangan jadi anak manja!”

“Anak seusiaku belum bisa memasak!” jawab Ryu Jin.

Hye Na mendengus! Setiap harinya, dia pulang jam segini, langsung mandi dan tidur. Tak ada yang mengganggu,  tak ada anak ABG yang merengek minta dibuatkan makan. Oh, God! Baru sehari, tapi Hye Na sudah merindukan saat-saat itu. Hye Na mengeluarkan dompet dari tas, menarik beberapa lembar won lalu menyodorkan pada Ryu Jin. “Belilah yang kau mau!” perintahnya.

ABG itu masih saja ragu. “Aku pergi keluar sendiri?” katanya sambil menerima uang Hye Na.

“Tentu saja, kau bukan anak kecil lagi, kan?” pasti Hye Na.

Ryu Jin memandangi  Hye Na. Suasana jadi agak mencurigakan bagi Hye Na. Ada yang salahkah? Pikirnya.

“Oke,” kata Ryu Jin lalu keluar dari apartemen.

Hye Na mengkernyit saat suara pintu yang ditutup terdengar. Kok ada yang aneh, ya? Pikirnya lagi.

Oh, Damn! Hye Na bergegas menyusul Ryu Jin. Tentu saja. Sudah tengah malam. Ryu Jin baru berumur empat belas tahun. Tidak mungkin dia keluar sendiri.

Hye Na menoleh ke kiri-kanan saat sampai di depan gedung apartemen, mengira-ira kemana arah Ryu Jin. Sekelebat kaos kuning yang dipakai Ryu Jin terlihat. Hye Na segera mengejar Ryu Jin.

“Hei! Tunggu!” panggil Hye Na. Agaknya Ryu Jin tidak mendengar. Hye Na menuju mobilnya. Dia menyusul Ryu Jin dengan mengendarai mobil.

“Hei! Ryu Jin!” panggil Hye Na dari dalam mobil. Ryu Jin berhenti dan menoleh dengan pandangan cengo.

“Masuklah! Biar kuantar ke restoran yang masih buka jam segini.”

Di restoran hanya Ryu Jin yang makan. Hye Na hanya memesan susu untuk sedikit mencari rasa kantuk sehingga bisa langsung tertidur sesampai di apartemen. Hye Na melihat Ryu Jin ternyata sangat kelaparan. Cara makan anak itu seperti belum makan tiga hari saja. Aneh sekali, anak itu tidak tersedak.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”

Nah… baru saja Hye Na membatin, sudah kejadian. Ryu Jin meraih botol air mineral dan menegak isinya.

“Kau makan seperti pengemis yang kelaparan selama tiga hari.”

“Bodo!” respon Ryu Jin cuek dan melanjutkan makannya.

“Kalau kau masih mau tinggal di apartemenku, kau harus jaga sikap di depanku,” ucap Hye Na datar. Ryu Jin menghentikan makanannya. “Apartemenmu bagus. Ada lima kamar di dalamnya. Kenapa kau memilihkan kamar yang paling belakang untukku. Aku lihat, kamar di samping kamarmu masih kosong, aku lebih menyukai kamar itu… .”

“Aku yang memutuskan. Terima saja kamar di belakang itu!” potong Hye Na sebelum Ryu Jin mengatakan keinginannya untuk pindah ke kamar yang dia incar.

“Aku suka kamar itu karena kamar itu mirip dengan kamarku di Jeju.”

“Aku tidak perduli!” bentak Hye Na.

Ya, tentu saja! Villa di Jeju. Villa tenang itu dulunya adalah rumah indah bagi keluarga Goo versi Hye Na, Jae Min dan Ayah dan Ibu mereka, sebelum ayah dan ibu mereka bercerai.

Ting! Pintu restoran yang dibuka menghasilkan bunyi nyaring. Tanda bagi para pelayan untuk menyapa ramah tamu yang datang. “Selamat datang,” sambut kedua penjaga pintu sambil membungkuk.

Tamu yang baru datang itu tersenyum lalu berjalan, hendak mengambil salah satu tempat untuk duduk, namun terhenti saat dia melihat Hye Na. Dia tersenyum pada Hye Na yang kebetulan juga melihatnya. Ryu Jin yang melihat sang kakak tersenyum pada pria yang dianggapnya asing, menoleh pada pria itu dengan pandangan memicing. Apalagi pria itu malah mendekati meja mereka.

“Hai, Hye Na. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini,” sapa pria itu sambil duduk di samping Hye Na.

“Kak Ji Woon, alarm kelaparan kakak berbunyi nyaring rupanya, jadi mencari makan di sini,” Hye Na membalas basa-basi Ji Woon.

“Ha ha ha, ada-ada saja,” kata Ji Woon sambil menerima buku menu yang disodorkan pelayan restoran yang mendekati mereka. “Well, menu apa yang terenak di sini?”

“Coba saja Tom Yam-nya,” jawab Ryu Jin cepat, “Tom Yam-nya sangat enak!”

Ji Woon menoleh pada Ryu Jin dengan tatapan heran. Ji Woon menoleh pada Hye Na untuk bertanya, “Nona Goo, siapa dia?”

“Aku?” kata Ryu Jin menunjuk dirinya sendiri, lalu merangkul Hye Na dan memperkenalkan diri,”Aku Ryu Jin, kekasih Goo Hye Na.”

Perkataan Ryu Jin barusan membuahkan tatapan horror di mata Hye Na dan Ji Woon. Lambat-lambat Hye Na menoleh pada Yoon Ji Woon, menerka-nerka apa yang dipikirkan pria itu. Tidak mungkin Ji Woon percaya omongan anak sinting ini, pikir Hye Na. Tapi Ji Woon memang terpengaruh. Apa lagi fisik Ryu Jin yang terlalu tinggi untuk anak berusia empat belas tahun.

Hye Na pun ngomel-ngomel sampai di apartemen. Dia bergegas menarik tangan Ryu Jin untuk angkat kaki dari restoran tadi. Ryu Jin malah seenaknya melingkarkan tangan dengan mesra di sekitar pinggang belakangnya. Well, habis sudah si Hye Na karena Ji Woon melihat semua itu. Bisa-bisa Ji Woon menganggapku pedophile. Arkh! Apa maunya anak si sundal ini?

“Apa maksudmu dengan mengatakan padanya seperti itu?” teriak Hye Na emosi.

“Kau ingin aku menjawab apa? Adikmu?” tantang Ryu Jin. “Berani bertaruh kalau kau  menyembunyikan identitasku. Apa yang kau harapkan? Dia tahu kalau ayahmu punya anak haram, aku?”

“Oh, bagus kalau kau sadar diri.”

“Jadi aku memang anak haram?” Ryu Jin terduduk lesu. Dia menatap lantai dengan pandangan nanar.

“Well, rupanya Ibumu terlalu senang melahirkanmu hingga lupa meminta Ayahku untuk menikahinya, bukan?”

“Aku bukan anak haram!” jerit Ryu Jin.

“Kau sendiri yang membuka masalah ini. Jangan teriak-teriak di apartemenku!”

“Kau brengsek!” teriak Ryu Jin sambil berlari ke kamarnya.

Hye Na mendengus. Seharian ini begitu berat untuknya. Ayahnya yang berulah, dia yang harus menanggung buahnya. Ryu Jin benar-benar anak yang aneh, suka membuka aib sendiri, tapi tidak terima kalau orang lain membenarkan aib itu. Tapi apa yang dikatakan Ryu Jin ada benarnya juga. Tidak mungkin Hye Na mengatakan pada Ji Woon kalau Ryu Jin adalah adiknya. Selama ini Ji Woon hanya tahu kalau adiknya hanyalah Goo Jae Min. Sebenarnya, Hye Na, Jae Min dan Ibunya, menyembunyikan kenyataan kalau Goo Boon Hyung, actor senior yang terkenal itu adalah Ayah mereka.

Untuk sementara, Hye Na berpikir, biarlah Ji Woon berpikir kalau Ryu Jin adalah kekasihnya. Toh, Ji Woon juga akan pergi ke Amerika? Tunggu! Kenapa aku harus perduli sama  pikiran Ji Woon? Arkh! Semakin pusing!

 

BERSAMBUNG

HAPPY BIRTHDAY, GOO HYE SUN

WISH U ALL THE BEST

FOR ALL SUNIEZ… HAPPY SUNDAY !!!!!

🙂