He is My Brother (part 3)

“Ah !” desis Hye Na, menahan perih di tangan kanannya yang kini sedang diobati Yumi, adik iparnya. Setelah aksinya memukul Jun Pyo tadi, Hye Na langsung ke apartemen Jae Min agar Yumi bisa mengobati memar di tangan kanannya akibat berbenturan dengan cuping hidung Jun Pyo. Maklum, Yumi adalah perawat. “Aush, sakit sekali,” keluh Hye Na lagi.

Yumi jadi merasa bersalah. “Maaf, kakak. Terlalu keras, ya?”

Hye Na mengangguk. Jae Min yang duduk di sofa, berseberangan meja dengan mereka memonyongkan bibir. “Makanya, jangan sok jadi jagoan. Pake acara mukul hidung orang segala.”

“Diam, kau!” bentak Hye Na. Rasa perih melanda lagi saat Yumi meneteskan larutan Iodin pada memarnya. “Aduh,” terpaksa Hye Na meringis lagi. Yumi pun sementara berhenti meneteskan larutan Iodin itu.

Merasa gemas, Jae Min mencolek tangan Hye Na tepat di memarnya sambil menyelutuk, “Begini saja manja!”

“Au!” tentu saja Hye Na tambah menjerit.

“Au!” giliran Jae Min yang menjerit  karena Yumi mencubitnya. “Sayang, kenapa malah mencubitku?”

“Kamu tidak sopan, tahu kakak sedang kesakitan malah bercanda,” kilah Yumi.

“Habisnya dia manja sekali.”

“Aish! Kau memang adik yang tidak pengertian dan sungguh kasar,” kata Hye Na. Dia lalu menoleh pada Yumi. “Aku heran, kenapa kau yang lembut ini bisa jatuh cinta sama pria sekasar ini, Yumi?”

“Ah, itu sih jodoh!” sahut Jae Min tanpa memberi celah pada Yumi yang sekarang ini tampak malu-malu kucing.

“Oh, ya? Jodoh atau bodoh?” pertanyaan Hye Na itu ditujukan pada Yumi. Merasa tak terima, Jae Min tambah sewot, “Ah, kakak… kenapa harus mengejek kami di rumah kami sendiri?” protesnya.

“Sayang!” Jae Min memanggil Yumi kemudian,”Sudah sana! Siapkan makan siang! Jangan mengurus anak manja ini terus-terusan,” suruhnya.

Hye Na tertawa cekikikan. Yumi memberesi kotak P3K lalu ngeloyor ke dapur. Hye Na meniup-niup luka tangannya yang kini tampak coklat karena Iodine itu. Setelah meyakinkan diri kalau mereka hanya berdua saja di ruang tamu yang sempit itu, Jae Min mulai bicara,”Kenapa kakak percaya sekali pada anak itu?”

“Maksudmu?” Mata Hye Na menyipit dan berhenti meniupi lukanya.

“Dia bilang Jun Pyo menjelek-jelekkan Ayah, lalu Kakak percaya dan memukul Jun Pyo,” jelas Jae Min.

“Memangnya kenapa?” Hye Na jadi tambah tidak mengerti.

“Ayolah, Kak. Ini bukan Kakak banget. Kakak selalu melihat segala sesuatunya dari dua sisi.” Jae Min pun menunjuk-nunjuk keningnya,”Selama ini kakak selalu menggunakan ini,” katanya. Lalu telunjuknya turun ke dada, “Dari pada ini,” lanjutnya.

“Jadi menurutmu, aku sudah kehilangan kerasionalanku?”

Jae Min menggedikkan pundak. “Mungkin saja.”

“Jadi kau berpikir mungkin saja dia berbohong?”

“Mungkin saja,” Jae Min tersenyum tipis saat melakukan itu. Jae Min lalu teringat hal yang mengganjal di hatinya saat perjalanan dari apartemen Hye Na kemaren. “Oh, iya, Kak. Aku juga berpikir kalau kita terlalu bodoh. Kenapa kita percaya begitu saja perkataan pengacara itu kalau Ryu Jin adalah anak Ayah tanpa konfirmasi dulu?”

“Apa maksudmu? Jadi kau ragu kalau Ryu Jin bukan anak Ayah?”

“Iya,” Jae Min lalu mendesah,”Bukan begitu, Kak. Ah, susah menjelaskannya!”

“Kau ini aneh. Seharusnya kau yang lebih tahu dia anak Ayah atau bukan, kau yang selama kuliah mengunjungi Ayah ke Jeju seminggu sekali,” protes Hye Na.

Jae Min tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Dan Kakak percaya begitu saja kalau aku benar-benar ke Jeju?”

“Jadi kau tidak pernah ke Jeju?” pasti Hye Na.

“Kalau aku ke Jeju setiap minggu, sudah pasti aku tidak mendapatkan Yumi dan Hye Mi – Hye Ri tidak mungkin  lahir secepat itu,” jawab Jae Min, bangga.

“Dasar!” Hye Na memukul dada Jae Min. “Jadi kau tidak pernah bertemu Ryu Jin sebelumnya?” tanya Hye Na yang diberi jawaban oleh Jae Min dengan sebuah anggukan.

“Yang lebih mengherankan lagi, Kak, jika benar Ryu Jin anak ayah, kenapa Ayah tidak segera menikahi Ibunya? Kenapa membiarkan hubungan mereka tetap menggantung?  Bukankah itu merugikan bagi status Ryu Jin?”

Di sini Hye Na mulai berpikir. Argument Jae Min benar. Semenjak orang tuanya bercerai, Hye Na tidak pernah mengunjungi Ayahnya, sementara Jae Min yang diyakininya mengunjungi sang Ayah sekali seminggu, rupanya hanya alasan saja untuk berpacaran dengan Yumi. Jadi, bagaimana bisa mereka percaya begitu saja kalau Ryu Jin adalah anak Goo Bon Hyung, ayah mereka?

“Hanya ada satu cara untuk membuktikan dia anak ayah atau bukan,” gumam Hye Na. Jae Min mengangguk yakin. “Tes DNA,” ujarnya.

Kepala Hye Na menggeleng lemah, “Ah, tidak… .”

“Kenapa, Kak?”

“Aku, aku tidak tega melakukan itu padanya.”

“Melakukan apa?”

“Apa yang harus aku katakan padanya? Memintanya melakukan tes DNa dan bilang kalau aku tidak percaya dia adikku?” Hye Na jadi ragu. “Tidak! Aku tidak tega.”

“Tapi mau tidak mau, kita harus melakukannya, Kak. Harus!” Jae Min sangat ingin meyakinkan Hye Na agar melakukan tes DNA itu.

“Ah, sudahlah! Kita pikirkan itu nanti. Aku ada kelas jam satu siang. Sekarang, mana anak itu?” Hye Na mengitarkan pandangan di sekitar ruangan.

“Terakhir, aku melihatnya di kamar Hye Mi – Hye Ri,” jawab Jae Min.

—-He is My Brother—-

Hal yang paling membuat Hye Na muak adalah kehidupan ayahnya, Goo Bon Hyung, sang aktor kawakan yang digilai oleh banyak wanita itu. Seminggu yang lalu Hye Na dikejutkan oleh kabar kematian sang Ayah akibat kecelakaan bersama wanita simpanannya. Dan kini dia dikejutkan oleh kehadiran Goo Ryu Jin, anak sang ayah dengan wanita simpanannya itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Additional Cast :

Kim Soe Oen as Choi Yumi (Goo Jae Min’s  wife)

Hye Na berjalan menuju kamar kedua keponakannya. Jae Min bilang dengan sangat jelas kalau Ryu Jin ada di sana. Hye Na melewati koridor sempit menuju kamar itu. Apartemen Jae Min yang sempit, terlihat rapi karena ketelatenan Yumi menata dan membersihkan ruangan. Hye Na sadar benar kalau kehidupan Jae Min sangat sederhana jika dibandingkan dirinya. Beberapa kali Hye Na menawarkan bantuan pada Jae Min, namun rasa gengsi Jae Min terlalu tinggi sehingga menolak bantuan itu. Jae Min selalu bilang, pantang bagi pria yang sudah berumah tangga menerima uang dari orang tua, apalagi dari kakak perempuannya. Hye Na juga sadar keberadaan Yumi bisa merubah sifat Jae Min yang suka foya-foya itu menjadi pribadi yang betah hidup di apartemen sempit berkamar dua dan menjadi pria rumahan.

Hye Na sengaja tidak langsung masuk ke kamar si kembar, Hye Mi dan Hye Ri. Dia berdiri di depan pintu yang setengah terbuka itu, mengintip yang terjadi di dalam kamar. Dari situ terlihat Ryu Jin yang bergulat, melakukan permainan ‘Smackdown’ dengan kedua keponakannya di atas ranjang. Si kembar tertawa-tawa dan sesekali menjerit-jerit.

Ryu Jin pura-pura ambruk di ranjang. Lawannya, kedua gadis cilik itu, tidak berhenti malah memukul-mukul kepalanya dengan bantal. Ryu Jin pura-pura tak bergerak, Hye Mi memberi isyarat agar Hye Ri berhenti memukul. Mereka mencolek-colek lengan Ryu Jin, lalu tertawa cekikikkan dan berbisik-bisik kalau lawannya mati.

Tiba-tiba Ryu Jin bangkit dan berdiri di atas ranjang. “Hoa! Si manusia hijau, Hulk datang!” suara Ryu Jin sengaja diubahnya menjadi agak serak.

Gubrak! Hye Na hampir saja terjengkang melihatnya.

Si kembar Hye Mi dan Hye Ri meloncat-loncat, menghindar dari ‘Hulk yang sedang ngamuk’ saat Ryu Jin berjalan di atas ranjang dengan kaki terkangkang dan kedua tangan yang sesekali memukul-mukul dada supaya kelihatan seperti Hulk, padahal menurut Hye Na, cara berjalan Ryu Jin jadi lebih mirip gorilla yang mengamuk. Membayangkan semua itu, Hye Na cekikikan sendiri di balik pintu.

Hup! Hye Ri tertangkap oleh ‘Hulk yang mengamuk’. Hye Mi memukul-mukul Ryu Jin dengan bantal agar melepaskan Hye Ri yang menjerit-jerit. Bukannya dilepaskan, Hye Ri dibaringkan di ranjang lalu digelitiki sampai terpingkal-pingkal dan perutnya terasa kaku. Melihat kembarannya seperti itu, Hye Mi berhenti memukuli Ryu Jin, malah membantu Ryu Jin menggelitiki Hye Ri.

Mereka sangat gembira tapi sayangnya Hye Na harus menghentikan kegembiraan itu. Dia harus mengajar jam satu siang dan Ryu Jin harus segera diantar ke apartemen untuk mengerjakan tugas hukuman yang diberikan wali kelasnya. Hye Na memasuki kamar dan berdehem untuk menghentikan acara bergulat mereka. Ryu Jin berhenti menggelitiki Hye Ri, dan si kembar mulai berhenti tertawa.

“Ryu Jin, waktunya pulang,” kata Hye Na sambil menunjukkan arlojinya.

“Yah, Tante… Kak Ryu Jin ditinggal sini saja,” protes Hye Mi. Hye Ri yang masih merasakan perutnya kaku hanya bisa merengut.

“Sory, anak-anak, tapi Paman Ryu Jin. Ingat! Paman bukan Kakak! Paman Ryu Jin harus dihukum untuk mengerjakan tugas,” kata Hye Na.

“Memangnya tugas apa, sih? Kan Kakak, eh, Paman bisa mengerjakan di sini,” Hye Mi masih tetap mempertahankan keberadaan Ryu Jin di apartemen itu. Hye Ri sekali lagi tidak berkata apa-apa, Cuma mengangguk untuk menguatkan perkataan kembarannya.

Hye Na pura-pura merengut agar si kembar memberikan rasa pengertian padanya, padahal dalam hati geli juga melihat tingkah balita-balita itu.

Ryu Jin tertawa melihat kelakuan tiga orang di depannya. Dia mengulurkan tangan kanannya pada Hye Ri lalu mengulurkan pula tangan kirinya pada Hye Mi. Kedua gadis cilik itu menggapai uluran tangan Ryu Jin. Ryu Jin menarik mereka berdua agar mendekat, lalu memeluk keduanya dengan erat. “Adik-adik yang manis, sekarang waktunya bagi Paman untuk pulang. Janji, deh…. Kapan-kapan pasti ke sini lagi,” katanya untuk meredam kekecewaan si kembar.

“Benarkah?” tanya Hye Ri. Ryu Jin mengangguk, “Tentu, Bos!”

“Janji, lho…,” Hye Mi mengangkat kelingking kanannya. Ryu Jin mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingking Hye Mi. “Janji.”

“Ayo, Ryu Jin. Aku harus mengajar jam satu siang,” Hye Na ingin agar Ryu Jin segera beranjak. Ryu Jin melepas si kembar lalu menarik ranselnya yang tergeletak di lantai.

Mereka meninggalkan apartemen Jae Min dengan diantar si kembar dan orang tuanya sampai pelataran parkir

“Ayo, dada pada Paman,” kata Yumi pada kedua anaknya.

“Dada!” sorak mereka berempat sama-sama.

Ryu Jin dan Hye Na yang sudah berada di dalam mobil membalas lambaian tangan keluarga kecil itu. Lambat namun pasti, mobil Hye Na meninggalkan keluarga Jae Min dibelakangnya.

Hari Ketiga bersama Adik ABG

Hye Na mulai membuka matanya saat remang-remang mentari pagi mulai merambati celah-celah korden di jendela kamarnya. Dengan sedikit menguap dan meliukkan punggung, dia bisa merasakan kantuknya mulai hilang dan berjalan menuju kamar mandi. Dia menjalani rutinitas pagi seperti biasa, mandi pagi kemudian berdandan. Namun dia merasakan ada sesuatu yang aneh. Ada sesuatu yang hilang.  Hye Na menepuk jidat setelah menyadari sesuatu yang hilang itu adalah ribut-ribut di dapur kemaren.

“Ryu Jin,” gumam Hye Na lalu keluar kamar untuk bergegas ke dapur dengan setengah berlari.

“Pagi!” sapa Ryu Jin saat Hye Na sampai di dapur. Anak itu masih mengenakan piyama seperti kemaren, menikmati susu hangat dan roti bakar. Dia menghentikan aktifitasnya saat mendapati Hye Na berdiri terpaku menatapnya. “Hei! Kenapa melihatku seperti melihat hantu!”

“Kau tidak memporak-porandakan dapur?” tanya Hye Na.

Ryu Jin tertawa. “Aku ingin sarapan roti bakar pagi ini. Kalau roti bakar, sih… aku bisa membuatnya tanpa mengacaukan dapur. Aku juga membuatkan untukmu. Tuh!” Ryu Jin menunjuk roti bakar yang dibuatnya untuk Hye Na.

Hye Na mengacungkan ibu jarinya lalu duduk mendepani roti bakar yang ditunjuk Ryu Jin. Dia  mulai memegang pisau dan garpu, lalu sedikit memotong roti untuk dicicipi. Agak ragu Hye Na memasukkan potongan roti itu ke dalam mulut. Ryu Jin memberi isyarat agar Hye Na segera merasakan roti itu. Akhirnya roti bakar itu masuk mulut juga, Hye Na manggut-manggut. “Lumayan,” katanya. “Terlalu banyak mentega, sih… tapi untungnya aku suka  asin, jadi fine-fine saja.”

“Apa kubilang, Goo Ryu Jin gitu, loh.” Ryu Jin menepuk dada.

“Oh, ya… pagi ini, aku akan mengantarmu ke Shinwa,” kata Hye Na.

“Benarkah?” Mata Ryu Jin melebar mendengarnya. Dia merasa senang karena tidak harus menunggu bis di halte. Hye Na mengangguk. “Cepat selesaikan makanmu. Aku ada kelas jam delapan pagi, jangan sampai aku terlambat karena mengantarmu yang lelet,” suruh Hye Na.

“Oke, Bos!” sekali lagi, Ryu Jin menghormati Hye Na layaknya militer seperti kemaren, lalu cepat-cepat menghabiskan sarapannya agar bisa segera mandi.

Hye Na geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Ryu Jin benar-benar ABG yang konyol. Hanya niat untuk mengantarkannya ke sekolah, Ryu Jin sudah sesenang itu. Hye Na merasakan kalau Ryu Jin seperti orang yang belum pernah merasakan kasih sayang dan tiba-tiba kejatuhan kasih sayang yang bertumpuk sehingga begitu kegirangan. Ryu Jin bahkan lari ke kamarnya dan sudah bergabung dengan Hye Na di ruang tamu lima belas menit kemudian setelah siap dengan memakai seragam dan menggendong tas ranselnya.

“Kunci pintunya!” perintah Hye Na. Ryu Jin malah dengan patuh melakukan perintahnya. Kenapa dia sekarang jadi berlaku manis seperti ini? Hye Na jadi semakin tidak tega mengatakan niatannya. Bahwa dia ingin Ryu Jin melakukan tes DNA, bahwa dia meragukan Ryu Jin sebagai adiknya bahkan ingin sekali agar tes itu dilakukan pagi ini.

“Mobil kakak bagus!” puji Ryu Jin saat mereka sudah berada dalam perjalanan menuju Shinwa. Hye Na hanya diam. Bukan hanya Ryu Jin yang memuji mobilnya, rekan-rekan dosennya pun juga memujinya. Hye Na mendapatkan kemewahannya dengan kerja keras. Gaji sebagai dosen lulusan master belum bisa memberikan kemewahan semacam itu, jadi, kebanyakan dari hasilnya bermain saham di bursa efek.

“Oh, ya. Kenapa kakak bisa hidup kaya raya seperti ini padahal kak Jae Min tidak?” tanya Ryu Jin.

Hye Na tersenyum mendengarnya. Semua ini adalah pilihan. Pilihannya adalah sebagai wanita karier dan karena pilihan itu, dia harus rela adiknya menikah duluan, menyalipnya yang tidak segera menentukan pria pilihan. Sedangkan Jae Min… pilihannya adalah berfoya-foya dan menikah karena harus bertanggungjawab walau pun pada akhirnya dia harus hidup sederhana dalam membangun rumah tangga itu. Hye Na tidak menjawab. Biarlah Ryu Jin menilai sendiri.

“Ryu Jin, kau tahu kenapa aku ingin mengantarmu?” Hye Na sengaja mengalihkan pembicaraan.

“Tidak,” Ryu Jin menggeleng, dia tiba-tiba menebak-nebak alasan Hye Na mengantarnya. “Aaaa…, Kakak takut kalau aku berkelahi lagi?”

“Tidak!”

“Ah, Iya. Jangan kawatir, aku tidak akan melayani anak tengil itu lagi. Tugas hukuman juga sudah aku selesaikan.”

Hye Na mendesah. “Anak tengil? Apa benar anak tengil itu menghina ayah?” tanya Hye Na.

Ryu Jin mengangguk. “Seperti yang kemaren aku bilang.”

“Benarkah? Itu bukan akal-akalanmu untuk membenarkan tindakanmu?” pertanyaan Hye Na itu begitu menyelidik.

“Benar! Kakak tidak percaya?”

“Aku hanya tidak ingin mendapati kalau pada akhirnya memukul orang yang salah.”

“Jadi kakak tidak percaya? Aku berkata benar, aku tidak bohong!” Ryu Jin agak ngotot di sini. Dia memang tidak suka dituduh pembohong.

“Bohong atau tidak bohong hanya kau yang tahu,” desah Hye Na.

“Sebelum ke sekolah, aku akan memeriksakanmu ke rumah sakit,” kata Hye Na kemudian.

“Kenapa? Aku baik-baik saja,” Ryu Jin berkata sambil mengamati mobil jep yang melintas di samping mobil Hye Na.

“Aku kawatir ada luka dalam akibat perkelahian itu,” jawab Hye Na yang tentu saja sebagai alasan. Dia ingin melakukan tes DNA terhadap Ryu Jin secara diam-diam. Semalam dia sudah menelphone kenalannya, seorang dokter yang bisa melakukan tes itu. Di pemeriksaan itu, sang dokter bisa mendapatkan sampel untuk tes yang merupakan bagian dari Ryu Jin.

“Aku sudah diperiksa oleh dokter di sekolah Shinwa, mereka bilang aku tidak apa-apa.”

“Tapi aku ingin kau melakukan pemeriksaan itu, Ryu Jin,” tegas Hye Na.

“Aku tidak mau. Ini sudah terlambat, kau juga bilang kalau ada kuliah jam delapan pagi.”

“Aku bisa menelphon kalau sedikit terlambat,” kilah Hye Na.

“Aku sudah buat masalah kemaren, tidak lucu kalau hari ini aku tambah masalah karena terlambat.”

“Aku yang akan mengatakan alasan keterlambatanmu pada wali kelas.”

“Uuuhhh! Kenapa Kakak memaksa sekali!” jerit Ryu Jin jengkel. “Kenapa,sih? Kakak tidak percaya kalau Jun Pyo mengejek Ayah dan Kakak juga tidak percaya kalau dokter itu bilang aku tidak apa-apa.”

“Ya, sangat bodoh kalau aku percaya begitu saja padamu,” desah Hye Na yang masih bisa di dengar Ryu Jin.

“Jadi kakak tidak percaya padaku? Kakak menuduhku bohong?”

Hye Na tidak menjawab kesimpulan Ryu Jin.

“Apalagi yang tidak kakak percayai dariku?” tanya Ryu Jin yang terdengar agak sengak. Hye Na masih terdiam. “Jawab!” paksa  Ryu Jin.

Emosi Hye Na naik karena Ryu Jin membentaknya. “Cukup! Kau tidak sopan membentak-bentak seperti itu.”

“Aku tidak suka dituduh pembohong! Katakan! Katakan kenapa tidak percaya padaku?”

“Karena aku tidak percaya kau adikku!” akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Hye Na. Ryu Jin ternganga mendengar perkataan kakaknya.

“Aku ingin kau melakukan tes DNA,” kata Hye Na dengan mantap.

“Kakak meragukanku?” Ryu Jin benar-benar tidak mempercayai nasibnya.

“Kalau aku bilang ya?”

“Lalu kenapa kakak mau jadi waliku?”

Hye Na tidak tahu harus menjawab apa. Kenyataan itu tidak terpikirkan saat dia menandatangani surat perwalian Ryu Jin.

“Hentikan mobil ini!” teriak Ryu Jin.

“Apa?”

“Hentikan mobil ini!” Ryu Jin tambah menjerit.

“Kau mau apa?”

“Aku tidak bisa hidup dengan orang yang meragukanku dan menganggapku pembohong!”

“Tes itu akan membuktikan kalau kau bukan pembohong!” tegas Hye Na.

“Aku bilang berhenti!” Ryu Jin menginjak rem mobil.

“Ryu Jin!” Hye Na agak panic saat mobil tersentak karena di rem mendadak. Decitan keras terdengar. Untunglah Hye Na bisa mengendalikan mobil itu kembali yang kini berhenti tanpa menabrak sesuatu pun.

“Kau gila! Kau bisa membuat kita terbunuh!” maki Hye Na. Ryu Jin tidak perduli. Dia membuka pintu keluar dan membanting pintu mobil.

Hye Na ikut keluar dari mobil. Lalu lintas agak macet karena mobil itu berhenti tidak pada tempat dan waktu yang tepat. “Mau kemana, kau?” Hye Na meneriaki Ryu Jin yang berjalan menjauh.

“Sudah kubilang, aku tidak bisa hidup dengan orang yang meragukanku!” teriak Ryu Jin.

“Oh, ya? Lalu kau mau apa? Hidup sendiri? Jadi anak panti?”

Ryu Jin berbalik dan mendekati Hye Na lagi. “Jadi anak panti lebih baik bagiku daripada hidup dengan kakak yang tidak percaya kalau aku benar-benar adiknya,” tegas Ryu Jin dengan mata berair. Ryu Jin menangis. Keraguan Hye Na membuat Ryu Jin menangis. Ryu Jin menjauhi Hye Na dengan perasaan kecewa dan rapuh.

“Fine! Kau ingin jadi anak panti? Jadilah anak panti! Aku tidak perduli!” jerit Hye Na sekeras-kerasnya sambil meloncat  lalu memasuki mobil dengan menutup pintunya keras-keras saking jengkelnya. Mobil itu harus segera berjalan lagi karena kemacetan lalu lintas sudah begitu memprotes. Hye Na meninggalkan Ryu Jin yang akhirnya berjalan sendirian di jalan tol itu.

Di dalam mobil, Hye Na meneriakkan huruf A panjang sambil memukul dasbor mobil. Pagi ini benar-benar menguasainya emosinya. Hanya masalah tes  kecil dan pertengkaran tersulut. Hye Na merasa tidak mungkin mengajar dalam keadaan kacau begini.  Dia juga tidak perduli Ryu Jin ada di mana, anak itu benar-benar membuat kesabarannya habis.

Hye Na menelphon asistennya agar menggantikannya dalam kuliah jam delapan. Hye Na ingin menenangkan diri. Dia melajukan mobil menuju Namsan tower. Dia ingin merasakan lagi tamasya yang pernah dilaluinya waktu kanak-kanak dulu.

Bagaikan membangkitkan kenangan masa kecilnya, Hye Na menikmati pemandangan yang terhapar di bawah menara dari dalam kereta gantung. Di masa lalu, dia menikmati semua ini bersama Ayah-Ibunya.

Hye Na selalu senang jika Ayahnya mengajaknya ke sini. Ayahnya akan menggendongnya sepanjang perjalanan dengan kereta gantung, menerangkan apa saja yang bisa terlihat di bawah, sambil sesekali memujinya. Dia ingat benar panggilan kesayangan ayahnya untuknya, ayahnya selalu memanggilnya, “Peri kecilku.”

Panggilan itu, yang ayahnya rasa cocok dengan tubuhnya yang mungil dan tawanya yang ceria. Pernah Hye Na menanyakan, “Kenapa ayah memanggilku peri?”

Ayahnya menjawab, “Coba kau tertawa,” dan Hye Na pun tertawa. “Lalu berlari-larilah di sekeliling Ayah,” dan Hye Na pun berlari-lari bahkan meloncat-loncat.

Ayahnya menangkapnya, membalikkan tubuhnya, memandangi wajahnya lalu bicara sambil mencolek hidungnya, “Itulah maksud Ayah. Karena kau terlihat bagai peri bagi Ayah.”

Hye Na bisa merasakan kehidupannya waktu itu sangat bahagia. Udara pantai di Jeju selalu membawa aura kebahagiaan baginya dan orang tuanya. Dia dilimpahi kasih sayang, rasa aman dan dimanjakan. Ibunya selalu tertawa dan menjalankan kehidupan Ibu rumah tangga tanpa mengeluh.

Ayah dan Ibunya selalu bercanda di depannya, saling menggoda dan memuji. Ketika semakin intim, mereka meminta ijin untuk masuk ke kamar, menyerahkan Hye Na pada baby sister walau pun dia memprotes. Dan Ayahnya berusaha memberikan pengertian. “Sssttt, ada ‘urusan pribadi dalam kamar’ antara Ayah dan Ibu,” canda sang Ayah ketika Hye Na ngambek.

Tentu saja Hye Na tidak tahu apa maksud dari ‘urusan pribadi dalam kamar’ itu. Hingga akhirnya sang Ibu jadi kelihatan lebih gemuk dari sebelumnya dan Jae Min pun lahir, menambah kebahagiaan Hye Na saat sang ayah mengabarkan kalau sudah menghadiahinya adik laki-laki yang lucu.

Namun pada suatu hari mereka bertengkar hebat. Hye Na begitu ketakutan saat itu, dia memeluk Jae Min yang gemetaran erat-erat. Dan sang Ibu keluar dari kamar sambil menyeret tas besar, menghampiri Hye Na dan Jae Min yang sedang menangis berpelukan, berjongkok di depan mereka, mengelus pipi Hye Na dan Jae Min bergantian dengan tatapan mata bengkak dan hidung memerah yang berlendir kerana menangis. “Hye Na, Jae Min, kemasi barang kalian, Nak. Kita ke rumah Kakek di Seoul.”

“Ayah juga ikut, kan, Bu?” tanya Hye Na. Sang Ibu menggeleng. “Hanya kita bertiga, Nak.”

“Kenapa?” tentu saja Hye Na tidak tahu apa yang terjadi waktu itu. Sang Ibu tetap menggeleng. Ayahnya tidak mencegah kepergian mereka. Hye Na sama sekali tidak mengerti.

Saat Hye Na merasakan sudah terlalu lama tidak bertemu ayahnya. Hye Na masih tidak mengerti kenapa Ibunya melarang keras menemui Ayahnya. Namun Hye Na memberontak. Dia kabur dari rumah Kakeknya di Seoul. Pergi ke Jeju dengan uang tabungannya.

 Dia gembira saat sampai di villa keluarganya di Jeju. Sebentar lagi akan melepas rindu dengan Ayahnya. Sementara menunggu ayahnya yang belum pulang, dia merencanakan hal yang mungkin akan dilakukan bersama sang Ayah nantinya.

Dia melonjak senang saat mobil Ayahnya berhenti di halaman. Dia ingin berlari, menubruk ayahnya untuk memeluk, tapi urung ketika melihat Ayahnya ternyata tidak sendirian. Hye Na bahkan tak mengerti apa yang dia lakukan. Dia mundur, bersembunyi di balik sofa, mengintip Ayahnya yang berciuman dengan wanita asing di serambi lalu menggendong wanita itu.

Dia masih sembunyi-sembunyi mengikuti sang Ayah yang menggendong wanita itu memasuki kamar yang selama ini ditempati sang Ayah dengan Ibunya. Dia masih berumur empat belas tahun waktu itu tapi dia sadar, bahwa ‘urusan pribadi dalam kamar’ itu… sekarang bukan lagi antara Ayah dan Ibunya. Hye Na menyadari itu dengan hati yang perih, dan malam itu juga, dengan tabungan yang tersisa, dia kembali ke Seoul, bahkan tanpa memberitahukan kedatangannya itu pada sang Ayah.

Hye Na menangisi semua itu sekarang. Di sini, di Namsan Tower, di umurnya yang ke – dua puluh sembilan tahun dan mendapati kalau dia sendirian. Dia menyendiri selama ini. Menyimpan luka hingga menutup hatinya rapat-rapat karena takut jatuh cinta pada pria yang salah.

Hye Na terkesiap. Deringan telephone membuyarkan lamunannya. Sambil mengelap ingus, dia mendengarkan pembicaraan di telephone.

“Memangnya ada apa dengan Villa di Jeju?” tanyanya masih dengan suara serak.

“Baiklah, saya akan ke sana,” kalimat Hye Na menutup percakapan telephone. Hye Na menarik nafas panjang. Hari ini dia benar-benar membolos. Bolos mengajar dan bolos pula memantengi pergerakan saham di lantai bursa. Sementara, biarlah asisten dosen dan pialang-pialangnya yang bekerja.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s