He is My Brother (Part 2)

Sudah dua jam berlalu semenjak kedatangan Yoon Ji Woon di apartemennya. Sudah dua jam pula pria tampan ini tidak bisa tidur. Dia hanya bergerak-gerak gelisah di atas ranjang, memeluk guling yang sudah tak berbentuk karena jadi teman kegalauannya. Bayangan Hye Na dan mata lebarnya belum bisa disingkirkan. Kalau saja mata Hye Na tidak selebar itu? Dia mulai meracau ngawur, setidaknya mata itu yang membuat Ji Woon tertarik pada gadis itu tapi mata itu juga yang selalu membuatnya mati kutu.

“Aish!” Ji Woon bangkit dengan frustasi. Guling yang malang itu semakin tak berbentuk karena diremas-remas. Bayangan Ryu Jin yang merangkul Hye Na di restoran tadi mulai mengganggu imajinasinya.

“Aku?” Bahkan Ji Woon  masih mengingat tingkah Ryu Jin di restoran tadi. ”Aku Ryu Jin, kekasih Goo Hye Na.”

 Gubrak! Hati Ji Woon tambah panas. Hye Na sama sekali tidak menampik perkataan Ryu Jin, malahan meninggalkannya sambil berangkulan mesra dengan pria itu.

“Aaahhhh!” Ji Woon berteriak lagi sambil memukul-mukul guling.  “Apa benar pria itu pacarnya?” Ji Woon mulai bicara sendiri.

“Ah, tapi kayaknya dia terlalu muda buat Hye Na,” Ji Woon menampik sendiri anggapannya, “Tapi mungkin saja, kan ? Bukankah berhubungan dengan pria yang lebih muda lagi jadi trend sekarang?”

Ji Woon berdiri lalu duduk di sofa dekat jendela, masih melayangkan pikiran pada kejadian di restoran tadi. “Akan kubuktikan kalau aku bisa lebih baik daripada brondong itu!” sumpah Ji Woon sambil memandang pemandangan malam Seoul melalui kaca jendela, mengacungkan tinju ke udara. Lalu memejamkan mata dan mendekatkan tinju  yang terkepal itu di dada. “Aku bersumpah, Goo Hye Na. Kalau tidak, namaku bukan Yoon Ji Woon.”

Nah, kalau bukan Yoon Ji Woon, terus namamu siapa? pikirnya kemudian. Konyol!

“Aaahhh!!! Kok aku jadi kayak orang gila begini, sih?” Ji Woon mengucek-ucek rambutnya. “Ngomomg-ngomong sendiri, dijawab sendiri.”

Syukur, deh kalau dia sadar.

“Sudah tujuh tahun, Hye Na… sampai kapan aku memendam semua ini?”

Memang Ji Woon sudah menyukai Hye Na sejak lama. Sejak Hye Na duduk di semester pertama. Anehnya mahasiswa terpopular di kampus, Yoon Ji Woon, sama sekali tidak punya keberanian buat nembak. Cuma mendekati tanpa kata cinta, hanya itu yang bisa Ji Woon lakukan. Bahkan Ji Woon memutuskan bekerja sebagai dosen di kampus juga, tak lain karena keberadaan Hye Na di situ. Tak perduli ayahnya marah-marah karena lebih menginginkannya meneruskan bisnis keluarga.

“Aku sudah bilang kalau bulan depan ke Amerika, dia tidak tanggap juga?” masih Ji Woon yang bicara sendiri. “Ah, hatimu terbuat dari apa, sih, Hye Na? Apa hatimu sudah terpaku pada bocah brondong itu?”

“Tapi apa benar dia pacar Hye Na?”

Aduh, Yoon Ji Woon… sudah hampir pagi. Tidur dulu, napa? Ngantuk, tahu?

—-He is My Brother—-

Hal yang paling membuat Hye Na muak adalah kehidupan ayahnya, Goo Bon Hyung, sang aktor kawakan yang digilai oleh banyak wanita itu. Seminggu yang lalu Hye Na dikejutkan oleh kabar kematian sang Ayah akibat kecelakaan bersama wanita simpanannya. Dan kini dia dikejutkan oleh kehadiran Goo Ryu Jin, anak sang ayah dengan wanita simpanannya itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Cameo :

Lee Min Ho as Gu Jun Pyo

(Hehehehe)

“Kak Ji Woon,” panggil Hye Na. Ji Woon menoleh. Mereka sedang duduk bersisihan sementara lalu lalang kesibukan bandara ada di sekeliling  namun tak menyurutkan kesedihan di hati keduanya. “Apakah kakak harus benar-benar pergi?” tanya Hye Na.

“Sayangnya begitu,” jawab lirih Ji Woon sambil menunduk sedih.

Hye Na menggapai tangan Ji Woon dan meremasnya tepat di dadanya. Ji Woon menatap perbuatannya itu dengan pandangan tak percaya. “Kalau aku berkata jangan pergi, apakah kakak akan tetap pergi?”

“Hye Na… .”

“Kakak…. .”

“Hye Na, aku… .”

“Kakak, aku… .”

“Kakak, aku lapar… buatkan makanan!”  Gubrak! Ryu Jin merusak suasana.

Krompyang!

Pyar!

Duk!

“Ah, siapa, sih?!!!” Hye Na bergerak malas di tempat tidurnya. Suara berisik dari arah dapur itu benar-benar mengganggu. Maunya sih memuaskan rasa kantuk, tapi kehadiran Ryu Jin di mimpinya tadi sudah sangat-sangat mengobrak-abrik scenario khayal alam sadarnya, ditambah suara gaduh itu yang bikin pusing kepala.

Krompyang! Sekali lagi bunyi peralatan dapur yang jatuh terdengar.  Di saat itulah Hye Na mulai berpikir kalau Ryu Jin-lah biang kerok keributan di dapur pagi-pagi begini. “Huh! Itu anak maunya apa, sih?” omel Hye Na yang sudah mulai tersadar sambil menyampirkan jubah ke tubuhnya, lalu keluar dari kamar.

Tempat yang dituju Hye Na tentu saja dapur. Yang sekarang ini ditatapnya dengan mata melotot, setengah tak percaya. Dapur yang biasanya rapi dan bersih itu, sekarang amburadul. Dan si tengil, Ryu Jin? Mungkin anak itu tahu kedatangan kakaknya, jadi berbalik ke arah Hye Na dan cengar-cengir tak jelas. Tangan kanannya memegang sendok sayur, tangan kirinya menggaruk-garuk rambut, berlagak pilon.

“Astaga! Persis kayak kapal pecah!” seru Hye Na sambil mendelik. Sayuran berceceran di meja dapur. Panci terjatuh di lantai dalam keadaan telungkup dengan buraian mie instan di bawahnya. Jangan ditanya lagi kemana air yang dipakai untuk merebus mie instan itu, meluber kemana-mana. Hye Na bahkan harus mengganti sandal piyamanya dengan sandal jepit biasa lalu berjalan berjingkat untuk menghindari genangan air yang masih panas itu ketika akan mematikan kompor.

“Sebenarnya kamu mau buat apa, sih?” keluh Hye Na sambil mematikan kompor.

“Mie ramen,” jawab Ryu Jin masih cengar-cengir.

“Kenapa tidak bangunkan aku?” Hye Na  yang masih jengkel, berkacak pinggang di depan Ryu Jin.

“Kau sendiri yang bilang,… self service! Jangan jadi anak manja!” Ryu Jin menirukan ucapan Hye Na dengan bibir yang nyinyir.

Hye Na memutar kedua bola matanya dan menghela nafas panjang. Sabar… sabar… . Ni anak masih ABG, anak yang baru bisa melihat isi dunia memang kadang menjengkelkan dan sok pintar, pikir Hye Na.

“Bereskan panci dan mie yang sudah tak layak makan itu! Biar aku yang memasak!” perintah Hye Na akhirnya.

“Beres, Bos!” seru Ryu Jin sambil menghormat pada Hye Na layaknya militer lalu pergi sebentar untuk mengambil peralatan buat bersih-bersih.

Capek, deh! Keluh Hye Na. Dalam lima menit, Ryu Jin sudah membereskan kekacauan yang dia buat dan duduk di depan bartable.

“Kau tidak mandi?” tanya Hye Na. Dari penampilannya, orang bisa melihat kalau Ryu Jin belum mandi. Rambutnya masih awut-awutan, ada beberapa kerut bekas bantal di wajahnya, dan dari semua itu, piyama yang masih dia kenakan, sudah cukup jadi pertanda.

“Aku biasa makan dulu baru mandi,” jawab Ryu Jin sambil mencomot roti tawar. Disobeknya roti itu sedikit, dimasukkan di mulut lalu dikunyah dengan gaya cuek.

Hye Na meniriskan mie yang sudah tanak, lalu beralih pada daging yang dia rebus bersama bumbu. “Aku akan mendaftarkanmu ke sekolah pagi ini,” kata Hye Na sambil memasukkan sayuran ke dalam daging yang sudah empuk.

“Tidak perlu, Pak Kim sudah mendaftarkanku kemarin.”

Hye Na menoleh sebentar pada Ryu Jin untuk berkata, “Oh, ya? Kenapa tidak sekalian saja dia mengadopsimu?”

“Kalau aku, sih.. maunya begitu…,” kata Ryu Jin sekenanya.

“Di mana dia mendaftarkanmu?” tanya Hye Na sambil mengaduk-aduk sayuran di dalam panci yang berisi daging dan kaldu.

“SMA Shinwa.”

“Apa?”

“Hei, sepertinya perkataanku sudah sangat jelas. SMA Shinwa!” ulang Ryu Jin.

“Tapi umurmu, kan baru empat belas tahun?”

“Aku mengikuti kelas akselerasi sejak sekolah dasar,” Ryu Jin menepuk dada, menyombongkan diri. Hye Na nyinyir. Syukurlah, setidaknya ABG ini tidak sebodoh yang kukira.

Ting-tong! Suara bel apartemen berbunyi.

“Siapa yang datang pagi-pagi begini?” tanya Ryu Jin.

“Kau tidak akan tahu kalau tidak membukanya,” sahut Hye Na asal. “Buka pintunya!” perintahnya kemudian.

“Sekarang?”

Hye Na mendelik kesal, “Tidak! Besok! Ya sekarang, Goo Ryu Jin!”

Ryu Jin beranjak dari tempat duduknya dengan malas-malasan. Sementara Hye Na sudah mulai menata ramen  di dua mangkok. Suara pintu depan yang dibuka terdengar, lalu Hye Na bisa mendengar Ryu Jin berteriak, “Sayang, lihat siapa yang datang?”

Dahi Hye Na membentuk kerutan mendengar teriakan itu. Dia segera menuju ruang tamu setelah menyelesaikan masakannya. Dan terkejut melihat pria yang berdiri di ambang pintu apartemen, Yoon Ji Woon.

Hari kedua bersama adik ABG

Ji Woon menatap Ryu Jin dan Hye Na bergantian. Ryu Jin dengan piyamanya dan Hye Na dengan jubah tidurnya. Cukup bagi Ji Woon untuk meyakinkan diri kalau Hye Na dan Ryu Jin tinggal bersama. Memikirkan hal itu, membuat hati Ji Woon merana. Jadi hubungan mereka sudah sejauh ini? Pikirnya.

Hye Na menatap Ji Woon kikuk. Ji Woon berusaha mengontrol perasaan. Ryu Jin yang sepertinya tahu suasana, mulai memancing di air keruh. Ryu Jin merangkul Hye Na dan berlagak sok mesra,”Bukankah dia pria yang kita temui di restoran?”

Keadaan Ji Woon semakin memelas. Hye Na yang merasa bersalah hanya mengangguk sambil meringis. “Ada apa kakak kemari?” dalam hati Hye Na memaki diri sendiri karena menanyakan hal konyol seperti itu.

“E… e… aku… aku hanya ingin menjemputmu.”

“Menjemput?” Bukannya Hye Na, malah Ryu Jin yang merespon.

“Ryu Jin, sana! Jangan ikut campur!” usir Hye Na. Ryu Jin bersungut-sungut sambil berjalan ke arah sofa. Dia menduduki sofa di ruang tamu, jadi masih bisa melihat adegan antara Hye Na dan Ji Woon.

Ji Woon melihat tingkah Ryu Jin dan mulai menyimpulkan kalau Hye Na lebih mendominasi. Mungkin karena factor usia, begitu pikir Ji Woon. Bukankah di mana pun, Hye Na selalu mendominasi? Ketika kuliah, Hye Na adalah mahasiswa yang paling menonjol, kiprahnya paling mendominasi dari pada mahasiswa yang lain. Dalam hubungan mereka, yang dari dulu sampai sekarang masih belum naik pangkat dari sekedar berteman, Hye Na juga lebih mendominasi.

“Kakak,” panggil Hye Na.

“Oh,” Ji Woon tersadar dari lamunannya. “Kau tahu, kan? Hari ini penobatan professor Sean sebagai guru besar. Aku ingin mengajakmu berangkat bersama.” Ji Woon lalu menyodorkan bungkusan yang dari tadi dibawanya. “Aku juga membawakanmu bubur ayam untuk sarapan bersama.”

“Wah! Bubur ayam! Aku mau!” Ryu Jin yang mendengar kata ‘bubur ayam’ lari untuk merebut bungkusan dari tangan Ji Woon.

“Ryu Jin!” Hye Na mendelik kesal.

“Kenapa?” tanya Ryu Jin tanpa dosa lalu menoleh lagi pada Ji Woon. “Eh, kau… om-om senang!”

Tatapan mata Hye Na berubah menjadi horror. Ji Woon menunjuk diri sendiri dengan muka merah padam.

“Ya, kamu!” tegas Ryu Jin. “Peletmu di bubur ayam ini tidak akan mempan pada Hye Na karena aku yang akan memakan semuanya. Kau dan Hye Na bisa makan mie ramen yang aku yakin sudah siap di dapur!” Ryu Jin memutuskan seenaknya.

Hye Na memonyongkan bibir. Ji Woon semakin frustasi sedangkan Ryu Jin merasa menang karena sebentar lagi perutnya akan keyang karena dua porsi bubur ayam.

“Ah, jangan didengarkan perkataannya, kakak!” sela Hye Na. “Ayo, kita sarapan sama-sama !”

Tapi sepertinya Ji Woon lebih baik menolak tawaran itu. Dia bisa membayangkan suasana kaku di meja makan nanti. “Ah, tidak usah, lebih baik aku pergi saja.”

“Lho? Tidak jadi menjemput Hye Na buat jalan sama-sama?” Ryu Jin keheranan.

Ji Woon jadi salah tingkah. Hye Na melotot pada Ryu Jin yang berkerling padanya.

“Aa!” Ji Woon berlagak menepuk jidatnya. “Aku lupa kalau ada janji dengan … ,” Ji Woon tiba-tiba kehabisan akal untuk menyebutkan salah satu nama sebagai alasan saat melihat mata Hye Na mengerjap. Sedetik saja dia jadi seperti orang ling-lung. “Ah, pokoknya aku ada janji!” kata Ji Woon putus asa.

Hye Na mengkerutkan dahi. Apalagi melihat Ji Woon yang akhirnya undur diri. “Sampai jumpa di auditorium,” lalu berjalan menjauhi pintu apartemen Hye Na.

Ryu Jin terkikik setelah pintu apartemen di tutup Hye Na.

“Kau!” Hye Na menunjuk pada Ryu Jin dengan pandangan mengancam lalu berjalan ke dapur.

“Om – om itu naksir kakak!” kata Ryu Jin sambil mengekori Hye Na ke dapur.

“Ji Woon bukanlah om-om dan aku juga bukan kakakmu!” ujar Hye Na sengit.

————————————-

Acara pengukuhan professor Sean sebagai guru besar? Menyenangkan bagi yang lain tapi tidak bagi Hye Na dan Ji Woon. Senior-yunior yang biasanya kompak ini, mendadak menjadi canggung satu sama lain. Ji Woon sama sekali tidak percaya kalau dia bisa dikalahkan oleh seorang brondong macam Ryu Jin dalam mendekati Hye Na.  Sesekali Ji Woon menoleh pada Hye Na. Tempat duduk mereka memang sebaris, hanya diselangi oleh dua orang di antara mereka, sehingga Ji Woon bisa leluasa mengamati gerak-gerik Hye Na.

Sementara Profesor Sean menyampaikan pidato pengukuhan,  tanpa Ji Woon sadari, Hye Na juga sesekali meliriknya. Hye Na merasa bersalah karena perbuatan Ryu Jin sungguh sangat keterlaluan. Anak itu pasti sudah sangat menyinggung perasaan Ji Woon, kalau tidak, tidak mungkin Ji Woon jadi sekaku ini di depannya, bahkan tidak menyapa saat mereka bertemu di auditorium.

Hye Na melirik pada Ji Woon lagi. Dia memutuskan untuk meminta maaf pada Ji Woon demi Ryu Jin. Setengah berbisik, dia memanggil Ji Woon melalui punggung orang di sebelahnya, “Kakak.”

Satu panggilan, Ji Woon tidak menoleh. Mungkin kurang keras. “Pst! Kak Ji Woon,” panggil Hye Na lagi. Ji Woon belum juga menoleh.

“Kak Ji Woon!” panggil Hye Na agak keras. Ji Woon menoleh.

“Sssstttt!!” tapi orang di sebelah Hye Na memperingatkannya agar tidak terlalu berisik. Ji Woon dan Hye Na jadi salah tingkah.  Tidak ada hal lain yang bisa Hye Na lakukan selain menunggu acara itu selesai untuk meminta maaf pada Ji Woon.

Tapi Ji Woon malah segera menyalami Profesor Sean begitu acara selesai. Hye Na mengikutinya, bahkan menyalami Profesor Sean setelah dirinya. Untuk bertatapan muka dengan Hye Na lagi, Ji Woon membutuhkan waktu, dia memutuskan segera menghindar dari Hye Na.

“Kakak!” panggil Hye Na saat melihat Ji Woon keluar dari auditorium.

“Kakak!” Hye Na mengejar Ji Woon sampai di koridor menuju kantornya. Ji Woon yang tahu kalau Hye Na mengejarnya sejak dari auditorium, merasa kasihan dan berhenti untuk menghadapi Hye Na dengan perasaan yang jungkir balik.

“Kakak…, maafkan kelakukan Ryu Jin tadi, ya?” pinta Hye Na memelas.

Bagus! Kau meminta maaf buat kekasihmu, Hye Na. Ji Woon berusaha tabah.

“Kakak,” Hye Na meminta kepastian kalau Ji Woon akan memaafkan Ryu Jin. Hye Na selalu bisa bertingkah manja layaknya anak kecil di depan Ji Woon. Mata lebar itu mengerjap lagi, meruntuhkan pertahanan Ji Woon hingga kemarahannya mereda dan akhirnya tersenyum sambil mengangguk.

“Kakak, sebenarnya… .”

Hye Na sebenarnya akan mengatakan kalau Ryu Jin bukanlah kekasihnya. Dia adalah adik tiri Hye Na.  Akan tetapi telephon genggam Hye Na tiba-tiba berbunyi. Ji Woon menghela nafas frustasi. Selalu saja begitu, setiap kali pembicaraan mereka selalu terpotong oleh deringan handphone Hye Na. Ji Woon jadi kesal lalu meninggalkan Hye Na begitu saja di koridor.

“Kakak…,” desah Hye Na saat melihat punggung Ji Woon yang semakin mengecil di pandangannya.

Handphone Hye Na berbunyi lagi. Sebuah nomor yang tidak dikenal terpampang di layar. “Ya, Goo Hye Na di sini,” sapa Hye Na pada orang yang menelphone.

“SMA Shinwa?” Alis Hye Na agak menyatu sampai di sini.

“Ryu Jin berkelahi?”

Hye Na jadi tak habis pikir. Ryu Jin berkelahi dengan seniornya di hari pertama sekolah dan pihak sekolah memanggilnya sebagai wali Ryu Jin. Tugas wali itu dirasa Hye Na semakin berat. Hye Na mengendarai mobilnya menuju Shinwa dengan perasaan gondok.

“Apa sebenarnya yang dipikirkan anak itu?” keluh Hye Na di dalam mobil. “Ah! Tidak bisakah anak itu membiarkanku tenang sehari saja?”

Tapi Ryu Jin memang tidak bisa membuat Hye Na tenang. Anak itu ditemuinya di ruang kepala sekolah SMA Shinwa dalam keadaan babak belur, kotor dengan seragam sobek-sobek tapi Ryu Jin  merasa tidak bersalah dengan tindakannya. Menurut Ryu Jin, perbuatannya tidak salah. Lawannya yang mulai duluan dan dia merasa harus meladeni, sebab kalau tidak… dia akan selamanya jadi korban buli di Shinwa.

“Saya harap anda bisa menyadarkan adik anda, Nona Goo,” kata kepala sekolah SMA Shinwa. Hye Na agak heran. Kenakalan Ryu Jin bisa dibilang kenakalan biasa, tapi kenapa harus kepala sekolah yang turun tangan? Kenapa tidak wali kelasnya dulu?

“Saya rasa Nyonya Kang tidak akan terima putranya jadi bulan-bulanan seperti ini,” lanjut kepala sekolah itu lagi.

Nyonya Kang ? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? pikir Hye Na.

“Saya terpaksa mensekors adik anda selama satu hari dengan tugas yang akan diberikan oleh wali kelasnya,” kata kepala sekolah. “Saya harap, besok Ryu Jin akan kembali dengan pemikiran yang lebih cerdas.”

Hye Na tersenyum dan berusaha tetap tenang. “Adik saya selalu cerdas, Pak kepala sekolah. Anda bisa lihat, dalam umurnya yang keempatbelas, dia sudah duduk di bangku SMA. Tapi kalau skorsing itu bapak rasa perlu sebagai pembelajaran bagi Ryu Jin, saya terima saja.”

“Bagus, saya senang anda mau mengerti,” kepala sekolah itu merasa lega pada rasa pengertian yang diberikan Hye Na.

Ketika sudah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan, Hye Na undur diri sambil mendorong Ryu Jin agar meninggalkan ruangan kepala sekolah. Di sepanjang jalan menuju tempat parkir, Hye Na mengomeli Ryu Jin, bahkan ketika menunggu Ryu Jin mengambil tugasnya di kantor wali kelasnya, Hye Na mengomel pada diri sendiri. Ngomel pada nasibnya karena harus menjadi wali Ryu Jin.

“Aku jadi tak habis pikir. Apa sebenarnya yang kau mau? Berkelahi di hari pertama masuk sekolah!” omel Hye Na saat mulai mendekati mobilnya.

“Dia yang mulai. Dia mengejekku,” Ryu Jin membela diri.

“Pernahkah Ibumu mengajarimu untuk tidak menghiraukan pendapat orang?” tanya Hye Na sebagai respon perkataan Ryu Jin.

“Aku tidak akan menggubris semuanya kalau dia tidak mengolok-olok ayahku!” kata Ryu Jin sengit. Hye Na menoleh pada  Ryu Jin saat nama ayah mereka disebut.

“Apa kau bilang? Dia mengolok ayah?”

“Iya!” Ryu Jin mengangguk mantap. “Gu Jun Pyo sialan itu bilang kalau Ayahku orang tidak jelas. Penjahat kelas kakap! Tidak berani muncul untuk mendaftarkan anaknya sehingga harus menyuruh pengacara untuk mendaftarkanku.” Ada kemarahan di mata Ryu Jin saat menceritakan ejekan itu. Kemarahan itu juga menjalar pada Hye Na. Dia tidak terima kalau sang Ayah dijelek-jelekkan.

“Tunjukkan padaku dimana anak sialan itu!” suruh Hye Na.

“Aku tidak tahu, mungkin di lapangan basket!” jawab Ryu Jin.

“Di mana pun, dia, tunjukkan padaku!” bentak Hye Na. Ryu Jin jadi kaget dan mengangguk takut-takut.

Mereka urung pulang ke rumah karena Hye Na ingin menemui anak yang mengajak berkelahi Ryu Jin. Ryu Jin berjalan ke sana – ke mari mencari Gu Jun Pyo. Sumpah mati, dia tidak berani menatap mata kakaknya. Rupanya kemarahan Hye Na sudah memuncak.

Tebakan Ryu Jin benar, Gu Jun Pyo ada di lapangan basket, dikelilingi teman-temannya dan ditonton oleh fans-fans ceweknya yang agak gila dan sedikit lebai. Ryu Jin menunjuk kea rah Jun Pyo, “Itu dia, itu Gu Jun Pyo,” kata Ryu Jin kepada Hye Na.

Hye Na akan mendekati Jun Pyo. Ryu Jin tiba-tiba menarik tangannya, “Mau apa?”

Hye Na menatap lengannya yang dipegang Ryu Jin. Merasa ngeri dengan tatapan Hye Na, perlahan Ryu Jin melepaskan lengan Hye Na.

Tidak perlu berpikir lagi, Hye Na berjalan memasuki lapangan basket, berdiri di depan Gu Jun Pyo yang tampak lebih tinggi darinya. Dilihatnya tepi bibir Jun Pyo yang agak sobek, mungkin karena perkelahiannya dengan Ryu Jin tadi. Dan wajah Jun Pyo? Hye Na tak habis pikir bagaimana bisa anak sekarang pada bongsor-bongsor dan cepat tua. Lihat saja wajah Jun Pyo yang boros, lebih mirip wajah om-om dari pada wajah anak SMA. Tentu saja Hye Na tidak tahu kalau sebenarnya Jun Pyo adalah siswa bodoh yang masih duduk di bangku SMA di usia dua puluh dua tahun karena berkali-kali tinggal kelas. Kalau saja orang tuanya bukan pemilik sekolah, sudah pasti anak setolol itu sudah dikeluarkan dari sekolah.

Bukannya  menyadari kemarahan Hye Na, Jun Pyo malah  ke-PD-an, diperhatikan Hye Na dengan mata melotot dan berkacak pinggang seperti itu. Yang membuat Hye Na tambah muak, anak yang dikiranya masih ABG itu malah pasang muka sok menawan di depannya.

“Kau yang bernama Gu Jun Pyo?” tanya Hye Na. Tentu saja perkataannya disambut sorakan ‘Huuu’ panjang dari teman-teman dan fans gila Jun Pyo.

Dengan gaya sok cool, Jun Pyo mengangkat tangan, memberi kode pada yang lain agar tenang. “Wah, wah, rupanya pesonaku sangat terkenal, sehingga nona manis sepertimu mencariku,” kata Jun Pyo sambil mencolek dagu Hye Na dengan kerling menggoda dan terlihat… errr… mesum!

Buk! Bogem mentah mendarat di hidung Jun Pyo! Semua yang ada di lapangan terkejut seketika. Baru saja Jun Pyo berkelahi dengan siswa baru, dan sekarang, hidungnya harus berdarah lagi akibat pukulan dari Hye Na, si wanita mungil yang tingginya bahkan tak sampai dadanya. Jun Pyo membungkuk-bungkuk, kedua tangannya menangkup hidungnya yang berdenyut-denyut nyeri, dan matanya mulai berkunang-kunang.

“Lain kali, jika ada masalah dengan adikku, kalian selesaikan tanpa menjelek-jelekkan orang tua masing-masing!” kata Hye Na sambil menunjuk-nunjuk.

Dia akan kembali ke tempat Ryu Jin yang berdiri dan kelihatan terkejut pada kelakuannya barusan pada Jun Pyo, tapi berhenti untuk berbalik lagi pada Jun Pyo yang kini sudah dikerubungi teman-temannya yang sok memberikan perhatian untuk berkata, “Oh, ya! Besok, kau mungkin akan menuduh adikku pengecut karena bersembunyi di balik rok kakaknya untuk memukulmu, tapi  bagiku… aku menuduhmu pecundang karena tidak bisa melawan adikku tanpa menjelekkan orang-tuanya bahkan tak bisa menahan sakit yang diakibatkan pukulan kakak perempuannya.”

Hye Na berjalan keluar lapangan dengan dada terbusung. Baru kali ini, dia merasa puas. Baru kali ini, dia merasakan lepas kendali dan dia menyukainya. Dia menyukai keliaran sementaranya.

“Kau memukulnya?” kata Ryu Jin yang kini berjalan menjejerinya. Seakan tak percaya dengan perbuatan nekat kakaknya.

“Aku tak percaya kau memukulnya,” kata Ryu Jin sambil tertawa dan geleng-geleng kepala. Tak disadarinya, Hye Na sudah jauh mendahuluinya di depan.

“Hei, Kakak! Tunggu aku!” teriak Ryu Jin pada Hye Na yang berjarak beberapa kaki di depannya.

“Kakak!” Ryu Jin berlari mengejar kakaknya.

BERSAMBUNG

Buat yang gak terima karakter Jun Pyo di sini, gak usah baca!

Hehehehehehe

🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s