He is My Brother (Part 4)

Sampai sore, Ryu Jin masih belum menentukan kemana akan pulang. Kunci apartemen Hye Na masih dia pegang. Hye Na memang memberikan duplikat kunci itu padanya. Tapi untuk menginjak tempat itu lagi, dia enggan karena hatinya masih sakit. Keraguan Hye Na membuat Ryu Jin  kecewa.

Ryu Jin berjalan tak tentu arah, mengelilingi Seoul. Kota ini tampak tak ramah bagi pendatang dari desa seperti dirinya. Orang yang lalu-lalang seakan bergaya hidup hedonis. Mereka berjalan cepat, menatap lurus tanpa ekspresi. Tiba-tiba Ryu Jin merasa kesepian di antara keramaian itu.

Selepas pertengkarannya dengan Hye Na pagi tadi, Ryu Jin berjalan sendirian menyusuri jalan tol. Berusaha mencari arah menuju halte bis. Dia memang ke sekolah Shinwa. Dia hanya akan mengumpulkan tugas hukuman yang diberi nilai A plus oleh wali kelasnya.

“Bagus sekali, Ryu Jin. Sebagai korban, kau membahas masalah ‘Bulimia’ dengan sangat tajam. Bahasa Inggris-mu pun sangat tertata. Grammar-nya tepat sekali. Kau pasti terbiasa membuat essay dalam bahasa Inggris,” puji Nona Song, wali kelasnya. “Oh, ya… tentu saja, bukankah itu yang tertulis di CV-mu. Maaf, saya lupa.”

“Tidak apa, Nona,” Ryu Jin tersenyum menanggapi pujian Nona Song.

“Aku akan memasukkan tulisanmu ke lomba penulisan essay tingkat nasional. Kau boleh masuk kelas sekarang.”

Tapi Ryu Jin menggeleng. “Kenapa?” Nona Song tidak mengerti maksud gelengan kepala Ryu Jin.

“Saya menemui Nona untuk berpamitan,” jawab Ryu Jin.

“Berpamitan? Kau mau pindah sekolah? Oh, aku mohon jangan, Ryu Jin,” Nona Song jadi panik mendengarnya.

“Maaf, Nona.”

“Apa ini karena kejadian kemaren? Kalau masalah itu, kau tidak perlu kawatir. Gu Jun Pyo tidak akan berani mengganggumu lagi. Kemaren sore, Ibunya memang memarahi Kepala Sekolah karena kejadian di lapangan basket, tapi kami berhasil meyakinkan beliau kalau kau adalah asset berharga di sekolah ini. Kami juga menyebut nama kakakmu, dan anehnya dia terlihat gentar.”

Kakaknya? Ryu Jin merasa nelangsa karena kakak yang disebut Nona Song itu, kini berpikir kalau Ryu Jin pembohong dan bukan adiknya kerena menolak melakukan tes DNA.

“Nyonya Kang malah merasa malu, dia menekan Jun Pyo melakukan ujian persamaan agar bisa kuliah sesuai dengan umurnya. Aku melihatnya memarahi Jun Pyo dengan mata kepalaku sendiri,” sambung Nona Song.

“Saya…, saya tidak tahu apakah masih ada biaya untuk… .”

“Apa maksudmu tidak ada biaya? Nona Goo sangat kaya. Oh, Nona Goo pasti kawatir kalau Jun Pyo mencelakaimu lagi. Bilang padanya semuanya sudah diatasi.”

“Bukan begitu, Nona.” Ryu Jin bahkan tidak tahu masih maukah Hye Na menemuinya. Hatinya semakin perih saja.

“Ryu Jin,” Nona Song masih saja memotong perkataan Ryu Jin. “Aku tahu, di luar sana, banyak sekali sekolah yang berebut menampungmu karena kepandaianmu. Aku tahu kau berhak memilih. Jadi aku mohon, untuk hari ini, ikutilah pelajaran. Nikmatilah sarana prasarana di Shinwa, dan aku mohon berpikirlah. Kau membutuhkan sekolah yang mendukung kepandaianmu. Aku yakin, besok kau berubah pikiran,”

Nona Song masih saja berpikir semua itu karena perkelahian Ryu Jin dengan Jun Pyo. Ryu Jin hanya mengangguk lalu pergi ke kelasnya seperti yang diperintahkan Nona Song. Nona Song tidak tahu, kalau Ryu Jin sangat bimbang. Ryu Jin bimbang apakah Hye Na masih mau menjadi walinya lagi. Ryu Jin bimbang apakah Hye Na mau menyokong kehidupannya lagi. Ryu Jin mengikuti pelajaran hari itu dengan konsentrasi yang minim. Semuanya tidak ada guna. Shinwa memang megah dengan sarana-prasarana kelas internasional yang tidak dimiliki oleh sekolah lain, tapi semuanya bukan kesalahan Shinwa mau pun Gu Jun Pyo. Keadaannya yang salah. Kehadirannya di kehidupan Hye Na yang salah, bahkan Ryu Jin semakin yakin kalau kelahirannya juga salah.

Dalam keadaan itu, dia ingin menemui pengacara Kim. Tentu saja, bukankah pengacara Kim sendiri yang bilang, Ryu Jin bisa menemuinya jika ada masalah. Ryu Jin bahkan teringat perkataan Hye Na,”Oh, ya? Kenapa tidak sekalian saja dia mengadopsimu?”

Diadopsi Pak Kim? Bisakah Ryu Jin meyakinkan Pak Kim agar mengadopsinya? Yang Ryu Jin perlukan sekarang ini hanyalah wali. Kalau pun Pak Kim tidak mau membiayai sekolahnya, Ryu Jin merasa kalau bisa bekerja sambil sekolah. Ya, dia akan meyakinkan pengacara itu untuk mengadopsinya.

Tapi ternyata Pak Kim sedang tidak ada di kantornya. “Maaf, pengacara Kim ada tugas di luar kota,” itulah perkataan sekretarisnya siang tadi. Ryu Jin keluar dari gedung kantor Pak Kim dengan tangan hampa dan kebingungan lagi.

Hari semakin larut, keramaian Seoul semakin menggila.  Ryu Jin masih berjalan tanpa arah. Perutnya sudah memprotes minta diisi. Bahkan tas ransel yang tadi pagi serasa ringan, entah kenapa kini berubah menjadi berat. Seorang gelandangan melewatinya. Dia sadar, kini bernasib sama dengan gelandangan itu. Gelandangan yang tidak punya rumah, tak ada saudara dan dianggap penyakit masyarakat. Kehidupannya begitu jungkir balik dalam waktu selang sehari.

Kemaren dia bahagia karena sang kakak membelanya di hadapan Gu Jun Pyo. Kemaren dia bahagia mendapati kalau dirinya punya sepasang keponakan kembar yang cantik-cantik dan lucu. Tapi sekarang… dia bukan siapa-siapa. Bukan adik seseorang, bukan pula paman seseorang. Dia sendirian, semua orang meninggalkannya.

Orang-tuanya pun meninggalkannya. Setelah pertengkaran demi pertengkaran yang mereka lakukan di depan Ryu Jin, mereka meninggalkannya. Ryu Jin semakin yakin kalau kelahirannya memang salah. Setiap malam, selama empat belas tahun, dia harus pura-pura tidak mendengar pertengkaran mereka. Setiap pagi, dia harus pura-pura tidak melihat mata Ibunya yang bengkak karena menangis. Dia tak habis pikir kenapa Ibunya masih bertahan. Apakah semua itu karena dirinya? Apakah Ibunya bertahan karena kelahiran Ryu Jin? Dia tidak tahu.

Yang Ryu Jin tahu, pertengkaran mereka selalu di dasari masalah ekonomi. Ayahnya selalu punya uang untuk wanita-wanita hina di luar rumah tapi mengabaikan wanita di dalam rumah. Durjana itu bahkan tidak menyadari kalau Ryu Jin semakin besar dan sekolahnya semakin membutuhkan biaya banyak.

Ryu Jin masuk SMA tahun ini. Tentu saja biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Ibunya kebingungan. Ibunya mencari kabar keberadaan Ayahnya, dan tahu kalau pria itu sedang ada syuting di Bussan. Dan malam itulah, terakhir kalinya, Ryu Jin melihat sang Ibu. Malam itulah, Ryu Jin melihat sang Ibu menyampirkan tas yang berisi baju yang mungkin diperlukannya selama di Bussan. Dia bahkan mengantar ibunya sampai di pintu. Ibunya berpamitan padanya, menggenggam tangannya erat-erat sebelum masuk ke dalam mobil. “Ryu Jin, Ibu akan menemui Ayahmu, Nak. Ibu akan minta uang padanya untuk biaya sekolahmu masuk SMA. Jangan kawatir, Nak. Kau pasti berhasil masuk sekolah favorit itu. Tunggu Ibu, ya, Nak… Ibu pasti datang. Ibu pasti pulang.”

Tapi kenyataannya, Ibunya tidak pernah pulang. Mereka tidak pernah datang. Hanya kabar buruk yang datang. Bahwa kecelakaan merenggut nyawa orang-tuanya. Bahwa pada akhirnya dia menjadi yatim-piatu. Hatinya semakin perih, merasa kalau nasibnya lebih buruk daripada gelandangan yang melewatinya tadi.

Ryu Jin menghentikan langkah. Dia mendongak, menatap gedung apartemen yang sederhana itu. Dia tidak mengerti, kenapa langkah kakinya mengarah ke sini. Tapi dia merasa, hanya di sini, dia diterima. Sebenarnya, dia juga tidak yakin, akankah mereka menerimanya kembali. Ryu Jin sampai di sebuah pintu dan keraguan semakin mendera. Hari sudah sangat larut, dia yakin, orang-orang di dalam pasti sudah tidur. Akhirnya, Ryu Jin berjongkok di samping pintu dengan kepala tertunduk. Biarlah dia menunggu pagi dari pada harus mengetuk pintu dan mengganggu tidur penghuni apartemen itu.

—-He is My Brother—-

Hal yang paling membuat Hye Na muak adalah kehidupan ayahnya, Goo Bon Hyung, sang aktor kawakan yang digilai oleh banyak wanita itu. Seminggu yang lalu Hye Na dikejutkan oleh kabar kematian sang Ayah akibat kecelakaan bersama wanita simpanannya. Dan kini dia dikejutkan oleh kehadiran Goo Ryu Jin, anak sang ayah dengan wanita simpanannya itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Additional Cast :

Kim Soe Oen as Choi Yumi (Goo Jae Min’s  wife)

Cameo:

Kim Min Ji as Im Yuri (Goo Ryu Jin’s mother)

Song Hye Kyo as Miss Song

Hye Na sampai di villa keluarganya di Jeju ketika hari sudah sangat larut. Akhir pekan membuatnya kehabisan tiket pesawat. Dia masih beruntung ketika ada orang yang membatalkan penerbangan ke Jeju walau pun penerbangan itu adalah penerbangan terakhir.

Pak Kim sudah menunggunya di sini. Tulisan “Villa ini sedang dalam proses penyitaan” adalah hal pertama yang menyapu pandangan Hye Na saat taksinya memasuki pekarangan Villa. Hye Na keluar dari taksi dengan hati bingung.

“Selamat datang, Nona Goo,” sambut Pak Kim di serambi Villa sambil menunduk. Hye Na masih memandang tulisan aneh itu. “Apa maksud semua ini, Pak Kim?” tanyanya.

“Mungkin akan lebih baik kalau kita bicara di dalam,” tawar pengacara itu.

Hye Na menyanggupi. Dia membuka pintu depan Villa dan terheran karena pintu itu tidak terkunci. Semakin heran lagi ketika memasuki Villa itu. Semua barang di dalam sudah ditandai label penyitaan. Bahkan sofa yang kini mereka duduki pun tak luput dari label berwarna merah itu.

“Villa ini di sita?” Suara Hye Na terdengar ling-lung. Bahkan oleh Pak Kim yang mengangguk. “Tapi… .” Hye Na masih tidak percaya dengan kenyataan di hadapannya.

“Ibu Ryu Jin, Im Yuri, menjaminkan sertifikat Villa ini kepada Bank,” kabar dari Pak Kim.

“Apa?” Hye Na terkejut mendengarnya. “Tapi bagaimana mungkin? Villa ini milik keluarga kami. Ayah-Ibuku membeli Villa ini bersama-sama.” Hye Na tampak tidak terima dengan tindakan Ibu Ryu Jin.

“Tapi inilah yang terjadi, Nona. Pihak Bank baru menghubungiku pagi tadi. Karenanya saya langsung kemari mencari tahu. Ini surat-suratnya,” Pak Kim menyodorkan sebuah map berisi penuh surat keterangan hutang. Hye Na memeriksa keabsyahan surat tersebut. Sebagai seseorang yang berpengalaman menguji keaslian lembaran saham dan obligasi, hal itu adalah masalah ringan untuknya. Surat itu syah. Ibu Ryu Jin memang menggadaikan villa itu.

“Bagaimana bisa orang yang tidak berhak atas sertifikat ini menggadaikannya, Pak Kim?” tanya Hye Na.

“Bisa saja kalau ayah anda tanda-tangan, menyetujuinya.”

“Tapi untuk apa? Apakah honor ayah sebagai aktor tenar itu tidak cukup menghidupi wanita simpanannya dan anaknya?” Hye Na agak nyinyir di sini, kehidupan ayahnya membuatnya muak.

“Saya tidak tahu, Nona. Benar-benar tidak tahu,” sahut Pak Kim.

Hye Na menghela nafas. Dia marah, benar-benar marah. Dia berdiri, mengitarkan pandangan pada setiap sudut interior villa mewah itu. Kenangan masa lalunya timbul kembali. Suara cerianya masa kanak-kanak seakan memantul kembali di dinding-dinding sekelilingnya. Suara tawa Jae Min yang berderai-derai saat mereka bermain kejar-kejaran di antara barang-barang yang berlabel penyitaan itu. Suara Ibunya dari arah dapur yang menyanyi sambil memasak, lalu suara ayahnya yang berdehem saat mereka terlalu berisik. Tak terasa Hye Na menitikkan air mata mengingatnya.

“Pak Kim, saya akan menebus Villa ini,” kata Hye Na sambil memejamkan mata. Tekadnya sudah bulat. Villa ini tidak boleh jatuh ke tangan orang lain. Hye Na menoleh pada pengacara Kim, dan dengan menekankan setiap kata, dia menyakinkan pengacara itu,”Saya sangat kaya, Pak Kim.  Berapa pun akan saya keluarkan untuk menebus villa ini kembali.”

Hari Keempat bersama Adik ABG

Yumi menaiki tangga menuju apartemennya. Pagi ini dia sangat kelelahan setelah bekerja shift malam di rumah sakit. Dia yakin  anak kembarnya pasti masih pulas, dan dia berniat tidur sebentar untuk menyegarkan diri sebelum anak-anak itu mengganggunya. Namun saat akan membuka pintu apartemen, dia terkejut mendapati seseorang yang berjongkok, memeluk lutut sambil menunduk di samping pintu.

Dengan takut-takut, kawatir jika orang itu mungkin pemabuk, Yumi menepuk pundak orang itu. Orang itu bergerak malas, mengucek-ucek matanya lalu menengadah. Yumi terkejut,  “Ryu Jin?”

Ryu Jin mengangguk. Bahkan tersenyum dibalik wajahnya yang lesu.

“Kau kenapa? Kau semalaman berjongkok di sini?” tanya Yumi. Sekali lagi Ryu Jin mengangguk.

“Ya, Tuhan,” Yumi tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi.

“Boleh aku minta makan? Aku lapar sekali,” kata Ryu Jin. Yumi jadi terenyuh. “Tentu saja, Ryu Jin. Ayo masuk.”

Yumi segera menyiapkan makanan untuk Ryu Jin. Saat mendengar suara pintu apartemen dibuka, Jae Min juga sudah bangun. Mereka berdua menatap Ryu Jin yang makan lahap, seolah belum makan berhari-hari. Mereka saling berpandangan, merasa heran dengan tingkah Ryu Jin lalu Jae Min memberi kode agar Yumi mengikutinya ke kamar.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Jae Min pada Yumi saat mereka sudah di dalam kamar.

“Aku juga tidak tahu, dia sudah ada di depan pintu saat aku mau masuk,” jawab Yumi.

“Kau telphonlah Kak Hye Na, kabarkan kalau Ryu Jin ada di sini, sementara aku menginterogasinya,” perintah Jae Min. Yumi mengangguk. Jae Min keluar kamar lagi untuk menginterogasi Ryu Jin.

Sementara Yumi menghubungi Hye Na. Hasilnya nihil. Handphone Hye Na tidak aktif. Dengan menghela nafas, Yumi mengirim pesan pada Hye Na tentang keberadaan Ryu Jin. Jae Min masuk lagi ke kamar setelah itu.

“Mereka bertengkar,” kata Jae Min.

Wajah suaminya terlihat sangat jengkel. Yumi mengelus-elus punggung Jae Min untuk menenangkan. “Si kaku itu memaksanya melakukan tes DNA. Bodoh sekali. Bukankah dia bisa melakukan semua itu dengan diam-diam? Mencuri helai rambut Ryu Jin misalnya,” Jae Min menyesali kekakuan pribadi Hye Na.

“Sudahlah, Sayang. Sudah pasti Ryu Jin merasa tersinggung. Siapa juga yang tidak tersinggung diragukan seperti itu,” ujar Yumi menenangkan.

“Kau sudah menghubunginya?” tanya Jae Min.

Yumi menggeleng, “Telephonnya seperti dinonaktifkan, tapi aku sudah mengirim pesan padanya. Aku yakin setelah membaca pesan itu, dia pasti kemari.”

“Aku tidak habis pikir, kenapa kakak tidak panik mencarinya?” kata Jae Min kesal.

Tentu saja Hye Na mematikan telephone karena sedang berada dalam pesawat menuju Seoul. Dan tentu saja Hye Na panik, panik menghadapi kenyataan tentang Villa di Jeju. Hye Na merasa marah pada tindakan Ibu Ryu Jin. Im Yu Ri tidak berhak atas villa itu. Memang setelah keluarga Hye Na tercerai berai, Yu Ri dan Ryu Jin yang menempati villa itu tapi kepemilikan villa itu masih di tangan Goo Bun Hyung, ayah Hye Na dan Goo Yo Won, Ibu Hye Na.

Saat membaca pesan Yumi tentang Ryu Jin, Hye Na semakin marah. Dia ingin mengetahui kenapa Ibu anak itu begitu lancang menggandaikan sertifikat villa yang bukan miliknya. Dia marah saat memasuki apartemen Jae Min. Dia mengabaikan Yumi yang membukakan pintu. Dia langsung mencari keberadaan Ryu Jin.

“Katakan padaku, kenapa Ibumu menggadaikan villa di jeju?” bentak Hye Na saat menemui Ryu Jin di kamar si kembar. Suasana ceria di kamar itu menguap seketika. Kedua keponakannya ketakutan. Jae Min yang sedari tadi mengikuti Hye Na, memberi kode pada Yumi agar membawa anak-anak keluar kamar.

“Ayo, anak-anak. Kita sarapan, ya?” ajak Yumi pada Hye Mi dan Hye Ri. Kedua anaknya bergerak takut-takut. Mereka memandang Hye Na dan Ryu Jin bergantian lalu beralih pada Yumi yang mengulurkan tangan. Yumi mengangguk untuk meyakinkan anak-anaknya. Kedua balita itu akhirnya berhasil diyakinkan untuk keluar kamar.

“Jawab! Kau tidak tuli, kan?” bentak Hye Na lagi. Nafasnya turun naik karena amarah.

“Aku tidak tahu!” sahut Ryu Jin. Dia memang tidak tahu kalau Ibunya menggadaikan villa tersebut.

“Kakak, aku mohon tenanglah,” kata Jae Min.

“Bagaimana aku bisa tenang? Ibu anak ini menggadaikan villa kita. Villa kita, Jae Min,” tekan Hye Na.

“Tapi belum tentu Ryu Jin tahu sebabnya, kan?” Jae Min berargumen. Bagaimana bisa anak seumuran Ryu Jin tahu masalah semacam itu.

“Mereka selalu bertengkar,” desah Ryu Jin. Hye Na dan Jae Min menoleh lambat ke arahnya. “Karena itu aku selalu berusaha masuk kelas akselerasi. Agar sekolahku cepat selesai dan Ibu tidak perlu bertengkar, minta uang pada Ayah lagi,” lanjutnya dengan kepala menunduk.

Jae Min mulai bisa menyimpulkan duduk persoalannya. Dia menepuk-nepuk punggung Hye Na untuk menenangkan.

“Aku tidak perlu cerita melodramamu itu,” ujar Hye Na sengit. Jae Min menghela nafas. Kemarahan Hye Na sudah menutupi akal sehatnya.

“Ryu Jin, keluarlah sebentar. Temui Hye Mi dan Hye Ri,” perintah Jae Min. Dia merasa harus menyadarkan Kakaknya. Ryu Jin dan Ibunya tidak bersalah. Ayah mereka-lah yang bersalah.

Ryu Jin keluar dari kamar si kembar dengan berjalan lesu. Jae Min mengajak Hye Na duduk di ranjang anak-anaknya untuk bisa bercakap-cakap dengan tenang.

“Dia tidak tahu apa-apa, Kakak. Tapi mungkin aku tahu sebabnya,” kata Jae Min sambil menepuk-nepuk tangan Hye Na.

“Jangan percaya perkataan anak itu,” tegur Hye Na. Jae Min tersenyum, “Aku bahkan tidak tahu apa yang kupercayai tapi… aku bisa menyimpulkan dari perkataan anak itu, kalau Ayah dan Ibu Ryu Jin tidak akur selama ini.”

“Aku tidak perduli dengan kehidupan mereka,” Hye Na masih saja marah.

“Ayah menggila lagi. Mungkin ada wanita idaman lain lagi dan ayah mengabaikan Ibu Ryu Jin. Ya, ayah tidak menafkahi Ibu Ryu Jin, sama seperti saat Ayah tidak menafkahi Ibu.”

“Apa maksudmu ayah tidak menafkahi Ibu? Ayah selalu menafkahi Ibu sebelum mereka bercerai!”

“Tidak, kakak! Tidak! Kakak tidak tahu hal ini, karena pada waktu itu Kakak sudah sekolah. Aku yang belum sekolah tahu semuanya. Ayah tidak menafkahi Ibu,” tekan Jae Min. “Mereka bertengkar jika Kakak berangkat sekolah, setiap pagi, setiap kali Ibu minta uang belanja dan Ayah selalu punya alasan untuk tidak memberikannya. Ibu bisa bertahan selama itu tanpa menggadaikan satu barang pun, karena Ibu berasal dari keluarga kaya. Selama Ayah berselingkuh dengan Ibu Ryu Jin, selama Ayah dan Ibu belum bercerai, kita hidup dengan uang kiriman dari kakek.”

Hye Na terbelalak mendengarkan cerita Jae Min. Adiknya masih sangat kecil waktu itu. Dia tidak menyangka Jae Min melihat semuanya. Selama ini, Hye Na hanya tahu bahwa orang tuanya baru bertengkar satu kali, dan Ibunya langsung memboyong mereka ke Seoul karena memutuskan bercerai. Dia tidak tahu pertengkaran-pertengkaran mereka sebelumnya.

“Aku minta maaf, Kakak. Pada waktu itu, aku mendengar para pelayan yang berkata,’lebih baik Tuan dan Nyonya bercerai dari pada hidup seperti ini terus-terusan’ lalu aku menemui Ibu, bertanya apa maksud dari kata ‘bercerai’ dan… aku tidak tahu, mungkin saja perkataanku yang membuat Ibu memutuskan bercerai dari Ayah.”

“Jae Min…,”  Telapak tangan Hye Na menangkup di wajahnya dan menangis sesenggukan. Kebahagiaan masa kecilnya ternyata semu. Semua itu karena gaya hidup Ayahnya yang tidak bertanggungjawab. Dan Hye Na bersedih, karena bukan hanya Ibunya dan Jae Min yang jadi korban tapi juga Ryu Jin dan Ibunya, Im Yu Ri, wanita yang selama ini dianggap duri dalam kehidupan mereka.

“Kakak, soal Ryu Jin,” Jae Min berusaha membalikkan persoalan pada Ryu Jin. Hye Na menatapnya dengan air mata yang masih terbendung di antara bulu-bulu matanya. “Kalau kakak sudah tidak mau menampungnya, biarlah dia di sini. Aku minta maaf karena memaksa Kakak menandatangani surat perwalian Ryu Jin. Tapi, Hye Mi dan Hye Ri menyukainya. Dia bisa tidur di kamar ini bersama mereka. Aku akan mencari apartemen yang lebih besar nantinya.”

Tapi Hye Na menolak usul itu. “Tidak! Ryu Jin akan tetap bersamaku.”

Hye Na mengusap air matanya, menghela nafas lalu berdiri. Meninggalkan kamar untuk menemui Ryu Jin di ruang makan.

“Ryu Jin, ayo pulang!” kata Hye Na saat sampai di ruang makan.

Ryu Jin terkejut mendengarnya. Pulang? Hye Na mengajaknya pulang? Benarkah?

“Ayo, Ryu Jin! Aku rasa sudah cukup kau merepotkan Yumi,” perintah Hye Na. Ryu Jin tersenyum sumringah tapi tidak segera beranjak dari tempat duduk.

“Kalau kau tidak segera berdiri dari kursi itu, kau harus pulang dengan jalan kaki!” tandas Hye Na.

“Iya, Kak! Aku pulang sama kakak!” kata Ryu Jin sambil bergegas mencari tas ranselnya. Jae Min tersenyum melihatnya. Ryu Jin menggendong tas ranselnya yang dia temukan di sofa ruang tamu lalu berpamitan pada Yumi. Hye Mi dan Hye Ri masih saja menggodanya untuk tetap tinggal. Hye Na memutar matanya, bosan menunggu. “Ryu Jin!” panggil Hye Na setengah membentak.

Ryu Jin tergagap. “Iya, Kak!” sahut Ryu Jin sambil menyusul kakaknya yang sudah menuruni tangga gedung apartemen itu.

BERSAMBUNG

Iklan

2 thoughts on “He is My Brother (Part 4)

  1. aku suka neh jalan , ketegangan” yang terjadi antara HN & RJ bisa di selesaikan , ternyata RJ tidak bisa pergi kemana” SEOUL sangat asing baginya

    • iya, cz RJ dari pulau terpencil, belum sekali pun ke Seoul, ni anak tahunya cuma jalan ke sekolah, ke kantor pak Kim ma ke rumah JM, mau balik ke Jeju, gak punya duit, mau gak mau ya… ke rumah JM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s