He is My Brother (Part 6)

Jam weker berbunyi nyaring tepat pukul enam pagi, cukup membuat tidur Ryu Jin terganggu. Dengan malas dan masih memejamkan mata, dia menjulurkan tangannya, meraba-raba meja tepi ranjang  untuk memencet tombol ‘jam cerewet’ itu. Masih malas rasanya untuk bangun, Ryu Jin menggosok-gosokkan pipinya di bantal, mencari kenyamanan lagi setelah terusik. Namun, suara jam kuk-kuk yang terpasang di lorong depan kamarnya membuat telinganya berdenyut, suara boneka burung kenari yang keluar dari kotak kecil jam dinding itu cukup berisik sehingga Ryu Jin yang jengkel menutupi kepalanya dengan bantal. Dia lupa kalau semalam menaruh handphone-nya di bawah bantal, hasilnya… handphone itu jatuh ke lantai dan terbelah jadi tiga.

“Aish!” Mata Ryu Jin akhirnya terbelalak lebar menatap handphone malang itu. Rasa kantuknya hilang sudah dan perlahan duduk di tepi ranjang lalu menunduk memungut handphone itu. “Malangnya nasibmu, Handphone,” kata Ryu Jin sambil berusaha menyatukan ketiga bagian handphonenya.

“Tapi karenamu rasa malasku hilang,” Ryu Jin cengar-cengir tak jelas.

Ryu Jin berdiri lalu berjalan keluar kamar sambil sesekali meliukkan pinggangnya ke kiri dan kanan, merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur di kasur empuk. Saat melewati kamar Hye Na, dia berhenti sesaat di depan pintunya. Ryu jin teringat kalau Hye Na langsung memasuki kamar sepulangnya dari berbelanja. “Apakah dia masih tidur?” batin Ryu Jin. Tangannya terulur hendak mengetuk pintu kamar itu tapi dia berpikir ulang. Enggan rasanya mengetuk pintu kamar Hye Na. Ryu Jin tahu kalau kakaknya itu pasti menangis semalaman, memikirkan pertunangan Ji Woon dan Sae Yon.

Ryu Jin mengedikkan bahu tanda kalau dia masa bodoh dengan urusan Hye Na lalu meneruskan langkah menuju dapur. Seperti biasa, benda yang dia tuju ketika di dapur adalah lemari es. Dia mengambil sekotak susu dari dalamnya lalu menenggaknya langsung tanpa dituang dalam gelas.  Sambil agak menyandarkan pantat  di bartable, Ryu Jin masih memikirkan ‘kisah percintaan’ Hye Na. Entah karena kebetulan atau apa, tertulis kalimat di kotak susu itu,

‘Biarlah aku bahagia melihat senyum bahagiamu karena mencintaimu tak harus memiliki bagiku.’

Gubrak! Ryu Jin hampir terjengkang membacanya. “Alay banget, nih,” Ryu Jin jadi cengengesan sendiri. Sekali lagi dia mendekati lemari es, mengeluarkan sekotak sereal dan roti tawar dari dalamnya.

“Pagi ini malas masak,” batin Ryu Jin sambil berjalan ke arah meja makan.

 “Sereal yang diberi sobekan roti tawar di atasnya, aku rasa cukup membuat kenyang,” kali ini dia bergumam saat menduduki kursi makan lalu mulai meracik menu yang sudah direncanakan. Pertama-tama dia membuka cup sereal itu lalu menyobek-nyobek roti tawar di atasnya dan menuangkan susu yang sudah sempat diminumnya sekali tengguk.

Saat dia akan memasukkan resep dadakannya di malam mulut, Ryu Jin teringat lagi pada Hye Na. “Kenapa jam segini dia belum bangun? Apa tidak kerja?” Ryu Jin jadi bertanya-tanya.

“Apa aku bangunkan saja? Tapi kalau nanti dia ngamuk?” sekali lagi Ryu Jin ragu. “Ah, biarin saja lah. Dia kalau ngamuk nyeremin,” itulah keputusan terakhir Ryu Jin. Dia mengangkat sendoknya dan berseru seolah ada orang yang duduk di depannya,” Selamat makan!”

Lagi asyik-asyiknya menikmati sarapan,Ryu Jin mendengar ada yang membuka pintu depan. “Pintu depan tidak dikunci semalaman?” Dahinya jadi berkerut. Apalagi saat mendengar suara langkah kaki yang berat berjalan menuju dapur. Ryu Jin membalikkan tubuh, memandang pintu masuk dapur.

Hatinya lega saat melihat Hye Na memasuki dapur, Ryu Jin mengira kalau orang lain yang masuk apartemen. Tunggu! Bukannya dia mengira Hye Na masih tidur? Lalu, bagaimana bisa Hye Na baru memasuki apartemen?

“Kakak dari mana?” tanya Ryu Jin masih dari kursi makannya saat Hye Na menyalakan heather untuk memanaskan air minum.

“Hm,” hanya gumaman yang keluar dari mulut Hye Na.

“Berarti Kakak bangun pagi-pagi sekali? Olah raga ya, Kak? Tapi kok masih pake piyama dan kimono?” Ryu Jin mengamati penampilan Kakaknya dari atas kebawah.

Hye Na jadi serba salah. Ryu Jin heran melihat perubahan muka Kakaknya yang tiba-tiba bersemu merah. “Kakak…,” Ryu Jin memandang penuh selidik. “Kakak pergi lagi semalam dan baru pulang?”

Tuing! Hye Na mati kutu.

“Ah, Sudahlah! Aku mau mandi!” Hye Na menutupi kecanggungannya. Ryu Jin semakin heran melihatnya terburu-buru memasuki kamar.

“Ada apa dengannya,” desah Ryu Jin. “Ah, masa bodo, lah,” Ryu Jin meneruskan makannya lagi.

He is My Brother

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

 Yo Won mendatangi pusat perbelanjaan yang merupakan anak bisnis dari perusahaannya. Dia memang langsung menuju ruangan besar yang khusus disediakan untuknya jika berkunjung. Gayanya yang sombong memang terkesan cuek, tapi dia tahu apa yang digosipkan para karyawan di pusat perbelanjaan ini dan karena itulah dia berkunjung.

Kepala security, manager tiap bagian penjualan dan kasir sudah menunggunya di ruangan besar itu. orang-orang yang kebanyakan berbeda gender dengannya itu langsung membungkuk saat dia memasuki ruangan dan duduk di ‘singgasana’-nya.

“Apa yang kalian ketahui,” suara keibuan Yo Won yang tegas memenuhi ruangan bagaikan perintah mutlak bagi para ‘abdi-abdi’nya itu.

“Nona muda ke sini semalam,” kata kepala security.

“Kau yakin itu Hye Na?”

“Iya, Nyonya. Ini beberapa rekaman yang sempat menangkap aktifitas mereka melalui CCTV,” kata kepala pelayan sambil menyodorkan sebuah kaset video.

Yo Won sedikit menggerakkan kepalanya.

“Oh, maaf, Nyonya.” Seakan tahu arti gerakan itu, Sang kepala Security mendekati mesin pemutar video untuk menampilkan hasil rekamannya di monitor. Jelas sekali kalau wanita yang terlihat di layar itu adalah Hye Na. Tampak Hye Na sedang di stand busana pria bersama seorang bocah ABG, lalu di stand peralatan kantor, Yo Won bisa melihat Hye Na saat membayar semua pengeluarannya di meja kasir.

“Berapa uang yang dibelanjakan?” tanya Yo Won.

Manajer bagian kasir yang merasa kalau itu tugasnya untuk menjawab pertanyaan Yo Won, mulai buka suara,”Cukup menguras isi kantong Nona muda, Nyonya.”

“Jawab yang jelas!” teriak Yo Won.

“I… iya, Nyonya,” Manajer Kasir menyodorkan tagihan kartu kredit Hye Na yang masuk pagi ini.

Yo Won mengkerutkan keningnya,” Nominal sebanyak ini untuk memanjakan pria muda?” batin Yo Won. Emosinya semakin meletup-letup. Tak disangka, anak pertamanya yang selama ini dia banggakan ternyata mulai berulah, bahkan lebih buruk dari anak keduanya. Mengkencani pria muda? Yang benar saja, Hye Na?

Hari Keenam bersama Adik ABG

Sama seperti kemaren-kemaren, Ryu Jin menumpang mobil Hye Na menuju sekolah. Ryu Jin merasa perjalanan pagi ini sangat sunyi. Dia sedikit enggan memulai pembicaraan. Dia takut Hye Na masih sedih karena masalah Ji Won.  Sekali lagi dia menoleh pada Hye Na. kakaknya itu langsung melengos, seolah menghindari bersitatap dengannya.

Ryu Jin  menghela nafas. Dia yang biasanya cerewet agak susah kalau tidak bicara lebih lama lagi. “Kakak masih sedih karena pertunangan Kak Ji Won?”

Hye Na masih menatap jalan di depannya. Sebenarnya dia berusaha menyembunyikan rasa malunya pada Ryu Jin, kupingnya berubah warna jadi merah. Tapi fenomena ini malah diartikan salah oleh Ryu Jin. Ryu Jin mengira kalau Hye Na mau menangis sehingga menenangkan Hye Na, “Sudahlah, Kak. Jangan sedih terus, Ehm… aku ada kata puitis buat kakak, begini…” Ryu Jin agak ragu memilih kalimat yang tepat.

“Biarlah aku bahagia melihat senyum bahagiamu karena mencintaimu tak harus memiliki bagiku,” kata Ryu Jin menirukan kalimat yang tertulis di kardus susu. Gubrak! Kenapa yang terpikir malah kalimat alay itu? Ryu Jin memukul-mukul kepalanya sendiri.

Hye Na jadi tak tahan lagi, dia tertawa terbahak-bahak saat menjalankan kemudi. Ryu Jin senang melihatnya. “Kakak tertawa? Kata-kata alay itu membuat Kakak tertawa?” Ryu Jin menyatukan telapak tangannya hingga terdengar suara tepukan keras.

Well, sebenarnya bukan kata-kata alay itu yang membuat Hye Na tertawa, tapi anggapan Ryu Jin kalau Hye Na masih bersedih masalah Ji Woon. Tapi untuk menceritakan apa yang terjadi semalam pada Ryu Jin, Hye Na merasa tidak perlu.

Hye Na menghentikan mobil tepat berada di halte bis. “Turun di sini!” perintahnya pada Ryu Jin. Anak ABG itu malah protes,”Kakak tidak mengantarku sampai sekolah?”

“Aku harus mengajar di  kuliah pagi, takut terlambat kalau mengantarmu sampai sekolah,” jawab Hye Na yang sebenarnya alasan saja, agar dia tidak keceplosan di depan Ryu Jin.

“Yah…,” desah Ryu Jin sambil keluar dari mobil.

“Kalau pulang cepat pulang. Jangan buat keributan lagi di sekolah!” teriak Hye Na sambil menjalankan mobil. Ryu Jin mengangguk sambil melambaikan tangan lalu duduk di kursi halte bis.

—oOo—

“Kena, kau!”  Ji Woon memeluk Hye Na dari belakang saat gadis itu berjalan di lorong kampus menuju kantornya. Tentu saja Hye Na kaget bukan main. Sekarang jam makan siang, Hye Na berniat ke kantor dulu untuk meletakkan tas dan laptopnya sebelum menuju kantin.

“Kakak,” Hye Na berusaha lepas dari pelukan Ji Woon. “Jangan seperti itu di sini. Malu dilihat orang,” bisiknya.

Masih saja memeluk Hye Na, malahan semakin erat, Ji Woon kini menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan. “Tidak ada orang di sini,” kilahnya.

“Ah, Kakak!” rengek Hye Na sambil mengibaskan tangan Ji Woon hingga melepas pelukan. Lalu berjalan cepat ke kantornya.

“Hei! Tunggu, Sayang!” teriak Ji Woon sambil mengejar Hye Na.

Aduh! Hye Na semakin malu saat mendengar Ji Woon memanggilnya ‘sayang’. Kalau ada rekan kerja lain yang mendengar, bagaimana?

Hye Na memasuki ruang kerjanya. Ji Woon pun ikut-ikutan masuk. Hye Na langsung meletakkan tas dan buku-bukunya di meja kerja, lalu mengambil dompet berniat segera ke kantin. Tapi tarikan tangan Ji Woon membuatnya terjerembab lagi di pelukan pria itu.

“Buru-buru amat, sih?” rajuk Ji Woon manja.

“Uh, Kakak mau apa, sih?” Hye Na jadi merengek.

“Bicara empat mata, Sayang.”

Aduh! Panggilan itu lagi. Pleasse, deh!

“Apa?” tanya Hye Na sambil mendongak, menatap mata Ji Woon. Pria itu malah tersenyum, membalas tatapan Hye Na secara lembut, membuat Hye Na tambah penasaran.

“Katakan sekarang, aku sudah lapar, Kak!”

Ji Woon pun menghentikan kekonyolannya. Jangan berani-berani membuat orang lapar penasaran, bisa-bisa diterkam nanti. Memangnya Hye Na macan? Capek, deh!

“Baiklah- baiklah,” Ji Woon melepaskan pelukannya lalu kedua tangannya menangkup wajah Hye Na. “Orang tuaku sudah tahu semuanya. Dua minggu lagi kita menikah!”

Hye Na terbelalak mendengar kabar itu. “Secepat itu? Kapan Kakak ketemu orang tua Kakak?”

“Pagi ini!”

Hye Na jadi gugup. “Lalu… lalu..,” Hye Na melepaskan tangan Ji Woon dari wajahnya lalu berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku. “Bagaimana bisa mereka menerima begitu saja keputusan Kakak? Lebih lagi.. lebih-lebih, bagaimana pertunangan Kakak dengan Sae Yon?”

Ji Woon setengah duduk di meja kerja Hye Na. Tangannya membalik jam pasir yang menjadi hiasan meja itu. “Pertunangan batal. Sae Yon sudah berbicara pada orang tuanya semalam. Paginya orang tua Sae Yon menelphon Ayah, dan Ayah menelphonku. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena pihak Sae Yon yang membatalkan. Lalu aku berbicara pada Ayah tentang hubungan kita.”

“Coba tebak,” Ji Woon mendekati Hye Na lagi, melingkarkan lengannya di pinggang ramping Hye Na. “Ibu senang karena kau akan menjadi menantunya. Selama ini ternyata Ibu menyukaimu.”

“Tapi kenapa secepat ini, Kakak? Dua minggu lagi?”

“Memangnya kenapa? Tiga Minggu lagi aku harus ke Amerika, SAyang. Lebih cepat kau jadi istriku lebih baik.”

“Tapi…,”

“Kenapa?” Ji Woon menyipitkan mata,”Apa karena Ryu Jin? Ya ampun, Hye Na, Kau belum memutuskan hubungan dengannya?”

“Apa?” Hye Na tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Ji Woon. Mungkin acting Ryu Jin terlalu bagus hingga berhasil menipu Ji Woon hingga mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih.

“Ya, kenapa kau tertawa?”

“Tidak…Ehm.. Tidak,” Hye Na agak susah menghentikan tawa. “Masalah Ryu Jin itu bisa diatur.”

“Apa maksudmu bilang begitu?”

“Ah, aku lapar. Ke kantin, yuk! Apa kakak tidak lapar?” Hye Na melepaskan diri dari pelukan Ji Woon.

“Ya… Goo Hye Na, jawab dulu pertanyaanku!”

“Nanti sesudah makan siang,” kata Hye Na sambil membuka pintu.

“Aish!” mau tak mau Ji Woon mengikuti Hye Na ke kantin.

—oOo—

Ting-tong! Bel apartemen Hye Na berbunyi. Hye Na yang sibuk memasak di dapur menghentikan aktifitasnya. “Tumben ada tamu sore-sore begini? Apa mereka tahu kalau aku di rumah sore ini?”

Ting-tong!

“Ryu Jin! Buka pintunya! Lihat siapa yang datang!” teriak Hye Na. Dia merasa tanggung kalau menghentikan aktifitas memasaknya untuk membuka pintu.

“Iya! Iya!,” Ryu Jin yang sedari tadi duduk di meja makan sambil membaca majalah akhirnya berdiri untuk membukakan pintu.

Saat anak ABG itu membuka pintu, yang tampak adalah seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik dengan dandanan glamornya. Ryu Jin tampak segan melihat wanita itu. Tapi yang ada malah wanita itu memandanginya dengan mata yang marah.

“Kau! Kau ada di sini?” tanya wanita itu sambil menunjuk Ryu Jin.

“Aku tinggal di sini,” kata Ryu Jin.

“Apa?” tentu saja wanita itu terkejut setengah mati. Gila! Hye Na benar-benar sudah gila, batinnya.“Di mana, Goo Hye Na?” tanyanya.

Belum sempat Ryu Jin menjawab. Wanita itu sudah menerobos pintu dengan congkaknya. Ryu Jin agak terjengkang karena lengannya tersenggol. “Hye Na!”

Hye Na tercekat mendengar panggilan itu. Tiba-tiba dia merasa ngeri memikirkan perkataan Jae Min,” “Coba saja kalau kau mau dicincang Ibu habis-habisan? Hatinya masih terluka walau pun sudah lama cerai dengan Ayah.”

“Ibu?” Hye Na menggigit-gigit kukunya.

“Hye Na!” sekali lagi panggilan itu menggelegar.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Goo Hye Na!” panggil Yo Won untuk terakhir kalinya. Kali ini lebih keras dan tegas dengan nada menyentak. Mau tak mau Hye Na menuju ruang tamu untuk menemui Yo Won. Benar saja, mata lebar Yo Won sudah seperti macan kelaparan yang siap menerkam.

“Kau tahu Ibu tidak suka kalau panggilan Ibu kau abaikan!” kata Yo Won dengan tegasnya.

“I…iya, Ibu,” Hye Na menjawab kikuk.

“Siapa laki-laki ini?” Yo Won menunjuk pada Ryu Jin. Hye Na menunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Kalau dia berterus terang kalau Ryu Jin adiknya, Yo Won pasti tambah marah. Ryu Jin adalah buah perselingkuhan ayahnya dengan wanita lain. Sudah pasti Yo Won murka kalau tahu Hye Na menampung anak itu.

“Bagaimana mungkin kau menjalin hubungan dengan pria semuda ini?” kata Yo Won tak habis pikir. Hye Na memandang cengoh pada Yo Won. Jadi Yo Won mengira kalau mereka… Tiba-tiba Hye Na merasa itu adalah alasan yang tepat untuk menyembunyikan identitas Ryu Jin sebenarnya.

“Ibu…, aku… .”

“Apa tidak ada pria dewasa yang bisa kau kencani, hah!” Yo Won masih saja emosi.

“Kakak,” Ryu Jin memanggil. Yo Won semakin menunjuk-nunjuk Ryu Jin. “Kau lihat ini? Kau lihat, Hah? Dia bahkan memanggilmu Kakak! Berani taruhan kalau umurnya pasti lebih muda dari Jae Min!”

“Sayang, apakah aku terlambat?”

Aduh! Ji Woon muncul di saat yang tidak tepat. Tidak tepat bagaimana? BUkankah Hye Na sendiri yang mengundangnya makan malam sekalian menjelaskan identitas Ryu Jin yang sebenarnya.

“Ji Woon?” tanya Yo Won yang memang sudah mengenal Ji Woon sejak kecil.

“Bibi,” Ji Woon membungkuk hormat. Hye Na tambah serba salah.

“Kakak,” Ryu Jin memanggil lagi. Ji Woon mengkernyit mendengar panggilan Ryu Jin.

Hye Na merasa kalau semua ini tidak bisa disembunyikan lagi. Dia menghela nafas. “Masuk ke kamarmu, Ryu.”

“Tapi…

“Masuk ke kamar kubilang!”

Ji Woon semakin bingung dengan suasana di ruang tamu itu. Ryu Jin menuju ke kamarnya dengan kepala tertunduk. Hye Na menatap Yo Won bagaikan pesakitan di depan hakim yang siap menghukumnya.

“Ayah meninggal dua minggu yang lalu dan Ryu Jin adalah anak Ayah.”

Kalimat itu bagaikan tamparan keras di pipi Yo Won. Seketika suhu ruangan bertambah panas di tubuh NYonya besar itu.

BERSAMBUNG

Iklan

2 thoughts on “He is My Brother (Part 6)

  1. akhirnya jati diri Ryu Jin terungkap juga dan penasaran reaksi Ny Goo setelah tahu kalo Ryu Jin anak hasil perselingkuhan suaminya,hufffff..

    buat Hye na dan Ji Woon chukae , berharap Ji Woon bisa membantu permasalahan di kel. Hye Na.

    sisi, thanx udinan di up date ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s