He Is My Brother

Bel yang berbunyi nyaring membangunkan tidur Hye Na yang sedang pulas-pulasnya. Maklum… baru jam empat pagi dia baru tidur setelah lembur dari jam delapan malam kemaren, memeriksa laporan-laporan dari para pialang yang dia tunjuk untuk mengurus saham-sahamnya di bursa efek. Belum lagi materi kuliah yang harus dipersiapkannya untuk mengajar jam sembilan pagi nanti.

Ting tong!Sekali lagi bel berbunyi. Terpaksa Hye Na harus membuka mata ngantuknya lebar-lebar. Semakin tak habis pikir karena orang di balik pintu ternyata tidak sabar dan terus memencet bel.

“Ya, sebentar!” teriaknya setelah meliukkan punggung dan menguap. Dia lalu berjalan menuju pintu masuk apartemennya dengan langkah terseok-seok, menimbulkan bunyi dari sandal piyamanya yang empuk.

Pintu terbuka sudah, dan kini berdiri di depannya seorang pria paruh baya bersama seorang anak lelaki remaja yang menggendong tas ransel, menatapnya dengan mata menyipit.

“Nona Goo?” sapa pria paru baya itu.

“Ya?” jawab Hye Na.

Pria itu mengulurkan tangan. Dengan senyumnya yang khas, dia memperkenalkan diri. “Saya Kim Jae Jong, pengacara almarhum Ayah anda.”

“O…,” Hye Na membulatkan mulutnya.

Pria itu menepuk pundak bocah yang ada di sampingnya. “Dan ini Goo Ryu Jin, adik anda.”

“Apa?!” Rasa kantuk Hye Na hilang sudah pagi ini.

—-He is My Brother—-

Hal yang paling membuat Hye Na muak adalah kehidupan ayahnya, Goo Bon Hyung, sang aktor kawakan yang digilai oleh banyak wanita itu. Seminggu yang lalu Hye Na dikejutkan oleh kabar kematian sang Ayah akibat kecelakaan bersama wanita simpanannya. Dan kini dia dikejutkan oleh kehadiran Goo Ryu Jin, anak sang ayah dengan wanita simpanannya itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

 

Cast :

Goo Hye Sun as Goo Hye Na

Choi Min Hwan as Goo Ryu Jin

Go Hyun Jung as Goo Yo Won

Choi Shi Won as Goo Jae Min

Kim Gab So as Kim Jae Joon

Won Bin as Yoon Ji Woon

Pengacara Kim Jae Joon masih menekuri berkas-berkas yang ada di tangannya sementara Ryu Jin yang duduk di sampingnya, memandangi interior sekeliling ruangan. Satu setengah jam Hye Na meninggalkan mereka di ruang tamu untuk berdiskusi dengan adiknya, Goo Jae Min di kamar Hye Na. Rupanya pembicaraan mereka di dalam kamar cukup alot, buktinya, terlalu lama kakak beradik itu mengabaikan tamunya.

Ryu Jin menghela nafas. Kegelisahan tampak di wajahnya. Pengacara Kim meliriknya sekilas lalu kembali pada surat-surat di tangannya lagi. Ryu Jin menggerak-gerakkan kakinya, memang sudah kebiasaannya melakukan itu jika merasa gugup. “Pak Kim,” panggilnya tiba-tiba. Pengacara Kim Jae Joon tanpa menoleh menjawab dengan deheman sekali.

“Aku tidak harus bersama mereka kalau memang mereka keberatan. Aku bisa hidup sendiri,” kata Ryu Jin menahan jengkel. Dia yakin kalau kehadirannya di depan kakak-kakaknya seayah tapi lain ibu itu, akan merepotkan.

“Ada beberapa syarat yang harus kau penuhi agar bisa hidup sendiri,” kata Pengacara Kim tanpa menoleh.

“Apa itu? Aku pasti memenuhinya, asalkan keinginanku untuk hidup sendiri dikabulkan.”

“Oke,” barulah pengacara Kim menoleh. “Syarat pertama, kau harus berumur lebih dari delapan belas tahun, umurmu baru empat belas, well… baru syarat pertama saja kau sudah gugur.”

Ryu Jin memonyongkan bibir. Pengacara Kim merasa di atas angin. Ryu Jin yang merasa mati kutu hanya bisa terdiam dan mengitarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu lagi.

Sementara di kamarnya, Hye Na dan Jae Min masih berdebat tentang siapa yang seharusnya mengurus Ryu Jin.

“Kau yang harus mengurusnya. Bukankah selama ini Ayah lebih dekat denganmu?” Hye Na berargumen.

“Oh, tidak bisa!” jawab Jae Min sambil menggerak-gerakkan tangannya dengan bahasa tubuh menolak. “Kau tahu sendiri, kan? Anakku sudah dua. Apartemenku sempit. Untuk  hidup sehari-hari pun, aku masih kekurangan. Dia tidak bisa bersamaku. Kau yang harus mengurusnya.”

“Ah, salahmu sendiri…, siapa suruh menghamili anak gadis orang  dan harus bertanggung-jawab?” omel Hye Na.

“Jiah! Kau sendiri! Siapa suruh tidak segera menikah, jadi perawan tua dan aku menyalipmu?” omel balik Jae Min.

Huft! Jae Min memang tak berperasaan. Kenapa kenyataan kalau Hye Na perawan tua harus digembar-gemborkan, sih?

“Lagi pula,” kata Jae Min lagi,” Lihat saja apartemenmu ini,” Jae Min merentangkan tangannya. “Terlalu luas untuk kau tinggali sendiri. Kalau pun kau tidak mau melihatnya karena dia mirip dengan wanita sundal itu, kau bisa menempatkannya di kamar paling belakang dan berani bertaruh, kau pasti pergi pagi-pulang malam, jadi interaksi di antara kalian nanti jarang.”

“Justru karena aku pergi pagi-pulang malam, dia tidak bisa bersamaku. Dia butuh sosok wali yang penuh keteladanan,” kilah Hye Na.

“Apakah pria yang terpaksa berkeluarga karena pacarnya hamil duluan patut dijadikan teladan?”  kilah Jae Min balik.

“Lalu bagaimana? Apa kita telephon Ibu saja? Memohon supaya beliau menerima anak itu?”

“Coba saja kalau kau mau dicincang Ibu habis-habisan? Hatinya masih terluka walau pun sudah lama cerai dengan Ayah.”

“Terus gimana, dong?” Hye Na buntu lagi.

Telephon genggam Jae Min berbunyi. Percakapan terhenti sementara karena Jae Min harus berbicara dengan bosnya. Hye Na masih saja dengan pendapatnya, seorang bujangan seperti dia, tidak mungkin diberi tanggung-jawab mengurus remaja tanggung seperti Ryu Jin. Ryu Jin butuh sosok keluarga yang utuh dan Jae Min sebenarnya bisa memberikannya kalau mau.

Bip! Jae Min mematikan telephonnya dan memandang Hye Na. “Itu tadi bosku. Dia menyuruhku  ke Bussan siang ini. Well, pokoknya anak itu harus bersamamu. Aku tidak mau mengurusnya. Titik!” tekan Jae Min. Dia segera berjalan ke arah pintu kamar untuk keluar.

“Hei! Tunggu! Tidak bisa begitu, dong!” teriak Hye Na sambil mengikuti Jae Min.

Adik tengilnya itu sudah sampai di ruang tamu karena kaki-kakinya yang panjang, sedangkan Hye Na harus lari pontang-panting mengejarnya.

“Sudah diputuskan pengacara Kim,” kata Jae Min. Hye Na yang sudah sampai di ruang tamu jadi ngos-ngosan. “Kakakku Hye Na  akan mengurus anak itu di sini,” Jae Min memutuskan seenaknya.

“Apa?” mata Hye Na melotot, seolah akan keluar dari rongganya ke arah Jae Min. Jae Min membungkam mulut Hye Na dengan tangan kanannya sebelum Hye Na ngomel-ngomel.

“Bagus kalau begitu!” potong Kim Jae Joon.

“Ryu Jin,” panggilnya sambil menepuk pundak Ryu Jin. “Kau akan tinggal di sini dengan kakak perempuanmu, Goo Hye Na.” Lalu dia memanggil Hye Na. “Saudara Goo HYe Na. Anda bisa tanda-tangan di sini. Sebagai bukti kalau anda adalah wali syah dari Goo Ryu Jin.”

Hye Na yang masih dalam bekapan Jae Min, menggelengkan kepala sementara tatapan matanya ke arah Jae Min. Jae Min mendelik untuk mengancam.

“Nona Goo,” panggil Kim Jae Joon karena merasa tidak direspon.

“Ha ha ha, tentu saja kakakku akan tanda tangan, Pak pengacara. Iya, kan, Kakak?”

Nasib! Mimpi apa semalam? Nikah aja belum, sudah jadi wali anak ABG.

Hari Pertama Bersama Adik ABG

“Ini kamarmu,” kata Hye Na sambil membuka pintu kamar yang terletak paling belakang apartemennya. Dia segera memasuki kamar itu bersama Ryu Jin yang mengekorinya. Remaja tanggung itu meletakkan tas ransel di atas ranjang lalu memandang sekeliling kamar.

Hye Na bergerak ke arah almari dan membuka pintunya. “Aku rasa, kau bisa langsung menata baju-bajumu di sini.” Hye Na menunjukkan fungsi dari almari itu walau pun sebenarnya Ryu Jin tidak perlu diajari, dia lalu menuju kamar mandi. “Kamar mandinya sebelah sini,” tunjuknya sambil membuka pintu yang menghubungkan antara kamar tidur dan kamar mandi.

“Kau tidak harus menampungku kalau memang tidak mau,” ucap Ryu Jin tiba-tiba.

Hye Na yang sebenarnya akan masuk kamar mandi untuk mengecek aliran air jadi mengurungkan niat. Dia jadi mendengarkan kalimat Ryu Jin selanjutnya. “Aku tahu kalau kau terpaksa,” perkataan Ryu Jin itu terdengar…. Sengit?

Hye Na menghembuskan nafas kesal. “Aku harus segera berbenah karena ada kelas pukul Sembilan. Kalau kau lapar, ambil sendiri makanan di kulkas. Self service, oke! Jangan jadi anak manja!” tekan Hye Na sambil meninggalkan kamar itu dengan hati dongkol.

Kehadiran Ryu Jin pagi ini membuat suasana hati Hye Na jadi uring-uringan. Ditambah lagi mahasiswa-mahasiswa di kelasnya yang berulah, lengkap sudah penderitaan Hye Na. Dia merelakskan pikiran dengan menikmati secangkir teh hijau di kantin. Mahasiswa yang melewatinya jadi agak canggung, tapi dia tidak perduli. Yang ada dalam pikirannya adalah, bagaimana aroma teh hijau yang menenangkan itu. Dia menghirup cairan coklat kekuningan itu sedikit demi sedikit, menikmati sensasi rasa sepat di lidahnya. Hingga sebuah tepukan yang mendarat keras di pundaknya begitu mengganggu. Hampir saja dia tersedak.

“Kau sangat menikmati minumanmu, Nona,” sapa orang yang menepuk pundaknya tadi sambil duduk di depannya. Hye Na menelan sisa cairan yang ada di kerongkongannya dengan susah payah. Orang yang berseberangan meja dengannya sekarang ini adalah Yoon Ji Woon, seniornya waktu kuliah yang sekarang ini sama-sama bekerja sama dengannya sebagai pengajar di almamater kampusnya.

“Hanya teh hijau biasa,” kilah Hye Na.

“Kalau kau minum teh hijau, biasanya kau ada masalah.”

Bagus sekali! Sejak kapan dia tahu kebiasaanku?

“Ah, kakak ada-ada saja. Tidak ada masalah sama sekali,” Hye Na menggerakkan tangannya membentuk garis horizontal. Ji Woon tersenyum ke arahnya. Manis sekali. Madu saja kalah, sumpah, deh! Hye Na membalas senyumnya dengan agak aneh.

“Permohonan beasiswaku diterima,” kabar dari Ji Woon.

“Wah, selamat!” Hye Na merespon riang sambil mengulurkan tangan.

“Aku akan berangkat ke Amerika bulan depan,” lanjut Ji Woon tanpa menyambut jabat tangan Hye Na.

“Sekali lagi selamat kalau begitu!” Hye Na berkata lagi dan masih menjulurkan tangannya.

“Hye Na… .” panggil Ji Woon dengan tatapan sendu.

“Ya?” Hye Na mengerjapkan kedua matanya. Sekali lagi mata lebar itu membuat Ji Woon gugup. Buyar sudah kalimat yang tersusun rapi sejak tadi pagi.

Tlululut! Handphone Hye Na berbunyi.  “Ya?” Hye Na mengangkat telephon.

“Apa?!” teriak Hye Na sekerasnya. “Lepas sebagian!” lanjutnya. “Sebentar…,” Hye Na menutupi corong HP dengan telapak tangan lalu menoleh pada Ji Woon. “Kakak, maaf, ya… Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa!” Hye Na menggapai tasnya lalu berdiri. Kepergiaannya diiringi tatapan kosong Yoon Ji Woon.

“Hye Na, aku mencintaimu,” ucap Ji Woon dalam hati.

Urusan saham memang membuat Hye Na kelimpungan kalau perkiraannya meleset. Dia hampir saja mengalami kerugian kalau saja siang tadi tidak segera bertindak. Dan sekarang, dia melangkah dengan gontai ke pintu masuk apartemennya. Dia berhenti sebentar untuk merogoh kunci di dalam tas. Ketemu! Sekarang tinggal memasukkan anak kunci itu ke lubangnya dan… . Pintu terbuka bahkan sebelum dia memasukkan kunci.

“Belum tidur?” tanya Hye Na dengan malas. Malas karena harus berinteraksi dengan Ryu Jin malam-malam begini.

“Malam sekali kau pulang?” mungkin Ryu Jin tahu kalau pertanyaan Hye Na hanya basa-basi, jadi dia mengajukan pertanyaan balik.

Hye Na cuek saja ketika melewati Ryu Jin dan duduk di sofa sambil melepas sepatu.

“Aku lapar, buatkan makanan!” kata Ryu Jin yang sudah berdiri di depan Hye Na.

Hye Na memutar matanya bosan. “Bukankah tadi pagi sudah kubilang! Self service! Jangan jadi anak manja!”

“Anak seusiaku belum bisa memasak!” jawab Ryu Jin.

Hye Na mendengus! Setiap harinya, dia pulang jam segini, langsung mandi dan tidur. Tak ada yang mengganggu,  tak ada anak ABG yang merengek minta dibuatkan makan. Oh, God! Baru sehari, tapi Hye Na sudah merindukan saat-saat itu. Hye Na mengeluarkan dompet dari tas, menarik beberapa lembar won lalu menyodorkan pada Ryu Jin. “Belilah yang kau mau!” perintahnya.

ABG itu masih saja ragu. “Aku pergi keluar sendiri?” katanya sambil menerima uang Hye Na.

“Tentu saja, kau bukan anak kecil lagi, kan?” pasti Hye Na.

Ryu Jin memandangi  Hye Na. Suasana jadi agak mencurigakan bagi Hye Na. Ada yang salahkah? Pikirnya.

“Oke,” kata Ryu Jin lalu keluar dari apartemen.

Hye Na mengkernyit saat suara pintu yang ditutup terdengar. Kok ada yang aneh, ya? Pikirnya lagi.

Oh, Damn! Hye Na bergegas menyusul Ryu Jin. Tentu saja. Sudah tengah malam. Ryu Jin baru berumur empat belas tahun. Tidak mungkin dia keluar sendiri.

Hye Na menoleh ke kiri-kanan saat sampai di depan gedung apartemen, mengira-ira kemana arah Ryu Jin. Sekelebat kaos kuning yang dipakai Ryu Jin terlihat. Hye Na segera mengejar Ryu Jin.

“Hei! Tunggu!” panggil Hye Na. Agaknya Ryu Jin tidak mendengar. Hye Na menuju mobilnya. Dia menyusul Ryu Jin dengan mengendarai mobil.

“Hei! Ryu Jin!” panggil Hye Na dari dalam mobil. Ryu Jin berhenti dan menoleh dengan pandangan cengo.

“Masuklah! Biar kuantar ke restoran yang masih buka jam segini.”

Di restoran hanya Ryu Jin yang makan. Hye Na hanya memesan susu untuk sedikit mencari rasa kantuk sehingga bisa langsung tertidur sesampai di apartemen. Hye Na melihat Ryu Jin ternyata sangat kelaparan. Cara makan anak itu seperti belum makan tiga hari saja. Aneh sekali, anak itu tidak tersedak.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”

Nah… baru saja Hye Na membatin, sudah kejadian. Ryu Jin meraih botol air mineral dan menegak isinya.

“Kau makan seperti pengemis yang kelaparan selama tiga hari.”

“Bodo!” respon Ryu Jin cuek dan melanjutkan makannya.

“Kalau kau masih mau tinggal di apartemenku, kau harus jaga sikap di depanku,” ucap Hye Na datar. Ryu Jin menghentikan makanannya. “Apartemenmu bagus. Ada lima kamar di dalamnya. Kenapa kau memilihkan kamar yang paling belakang untukku. Aku lihat, kamar di samping kamarmu masih kosong, aku lebih menyukai kamar itu… .”

“Aku yang memutuskan. Terima saja kamar di belakang itu!” potong Hye Na sebelum Ryu Jin mengatakan keinginannya untuk pindah ke kamar yang dia incar.

“Aku suka kamar itu karena kamar itu mirip dengan kamarku di Jeju.”

“Aku tidak perduli!” bentak Hye Na.

Ya, tentu saja! Villa di Jeju. Villa tenang itu dulunya adalah rumah indah bagi keluarga Goo versi Hye Na, Jae Min dan Ayah dan Ibu mereka, sebelum ayah dan ibu mereka bercerai.

Ting! Pintu restoran yang dibuka menghasilkan bunyi nyaring. Tanda bagi para pelayan untuk menyapa ramah tamu yang datang. “Selamat datang,” sambut kedua penjaga pintu sambil membungkuk.

Tamu yang baru datang itu tersenyum lalu berjalan, hendak mengambil salah satu tempat untuk duduk, namun terhenti saat dia melihat Hye Na. Dia tersenyum pada Hye Na yang kebetulan juga melihatnya. Ryu Jin yang melihat sang kakak tersenyum pada pria yang dianggapnya asing, menoleh pada pria itu dengan pandangan memicing. Apalagi pria itu malah mendekati meja mereka.

“Hai, Hye Na. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini,” sapa pria itu sambil duduk di samping Hye Na.

“Kak Ji Woon, alarm kelaparan kakak berbunyi nyaring rupanya, jadi mencari makan di sini,” Hye Na membalas basa-basi Ji Woon.

“Ha ha ha, ada-ada saja,” kata Ji Woon sambil menerima buku menu yang disodorkan pelayan restoran yang mendekati mereka. “Well, menu apa yang terenak di sini?”

“Coba saja Tom Yam-nya,” jawab Ryu Jin cepat, “Tom Yam-nya sangat enak!”

Ji Woon menoleh pada Ryu Jin dengan tatapan heran. Ji Woon menoleh pada Hye Na untuk bertanya, “Nona Goo, siapa dia?”

“Aku?” kata Ryu Jin menunjuk dirinya sendiri, lalu merangkul Hye Na dan memperkenalkan diri,”Aku Ryu Jin, kekasih Goo Hye Na.”

Perkataan Ryu Jin barusan membuahkan tatapan horror di mata Hye Na dan Ji Woon. Lambat-lambat Hye Na menoleh pada Yoon Ji Woon, menerka-nerka apa yang dipikirkan pria itu. Tidak mungkin Ji Woon percaya omongan anak sinting ini, pikir Hye Na. Tapi Ji Woon memang terpengaruh. Apa lagi fisik Ryu Jin yang terlalu tinggi untuk anak berusia empat belas tahun.

Hye Na pun ngomel-ngomel sampai di apartemen. Dia bergegas menarik tangan Ryu Jin untuk angkat kaki dari restoran tadi. Ryu Jin malah seenaknya melingkarkan tangan dengan mesra di sekitar pinggang belakangnya. Well, habis sudah si Hye Na karena Ji Woon melihat semua itu. Bisa-bisa Ji Woon menganggapku pedophile. Arkh! Apa maunya anak si sundal ini?

“Apa maksudmu dengan mengatakan padanya seperti itu?” teriak Hye Na emosi.

“Kau ingin aku menjawab apa? Adikmu?” tantang Ryu Jin. “Berani bertaruh kalau kau  menyembunyikan identitasku. Apa yang kau harapkan? Dia tahu kalau ayahmu punya anak haram, aku?”

“Oh, bagus kalau kau sadar diri.”

“Jadi aku memang anak haram?” Ryu Jin terduduk lesu. Dia menatap lantai dengan pandangan nanar.

“Well, rupanya Ibumu terlalu senang melahirkanmu hingga lupa meminta Ayahku untuk menikahinya, bukan?”

“Aku bukan anak haram!” jerit Ryu Jin.

“Kau sendiri yang membuka masalah ini. Jangan teriak-teriak di apartemenku!”

“Kau brengsek!” teriak Ryu Jin sambil berlari ke kamarnya.

Hye Na mendengus. Seharian ini begitu berat untuknya. Ayahnya yang berulah, dia yang harus menanggung buahnya. Ryu Jin benar-benar anak yang aneh, suka membuka aib sendiri, tapi tidak terima kalau orang lain membenarkan aib itu. Tapi apa yang dikatakan Ryu Jin ada benarnya juga. Tidak mungkin Hye Na mengatakan pada Ji Woon kalau Ryu Jin adalah adiknya. Selama ini Ji Woon hanya tahu kalau adiknya hanyalah Goo Jae Min. Sebenarnya, Hye Na, Jae Min dan Ibunya, menyembunyikan kenyataan kalau Goo Boon Hyung, actor senior yang terkenal itu adalah Ayah mereka.

Untuk sementara, Hye Na berpikir, biarlah Ji Woon berpikir kalau Ryu Jin adalah kekasihnya. Toh, Ji Woon juga akan pergi ke Amerika? Tunggu! Kenapa aku harus perduli sama  pikiran Ji Woon? Arkh! Semakin pusing!

 

BERSAMBUNG

HAPPY BIRTHDAY, GOO HYE SUN

WISH U ALL THE BEST

FOR ALL SUNIEZ… HAPPY SUNDAY !!!!!

🙂

 

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “He Is My Brother

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s