I AM SENIOR NOW

Tulisan ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di tahun 2002, jadi kalau ada yang keberatan….. silahkan protes pada masa lalu:

Hari ini satu tahun berlalu sejak waktu itu. Waktu dimana aku yang belum berpengalaman sama sekali ditunjuk menjadi sekretaris dalam acara OSPEK. Sungguh pengalaman yang mendebarkan. Apalagi aku harus bekerja sama dengan seseorang yang aku taksir.

Bisa kau tebak apa yang terjadi. Aku hampir tak bisa bernapas jika harus berhadapan dengan’nya’ dan jantungku serasa bergemuruh. Segalanya yang terjadi bersamanya memang sulit terlupakan. Aku kini hampir gila karena berusaha melupakan’nya’. Kenapa semua ini terjadi padaku? Setahun yang lalu aku mengurusi OSPEK karena patah hati pada sosok yang lain dan sekarang…  aku harus menghadapi OSPEK dengan hati broken karena ‘nya’. Apa-apaan ini? Kepalaku serasa pusing!

Setahun berlalu. Dalam setahun aku berusaha memahami arti cinta, arti kebesaran cinta dan kesabaran. Hatiku ini terlalu besar untuk menyimpan segala macam perasaan. Rasa sedih, gembira, kecewa, bangga dan riang.

Satu tahun dalam hidupku aku jatuh cinta pada seseorang dan aku yakin satu tahun pula nanti…. Aku membenci’nya’….

I AM SENIOR NOW

Theme Song :

Walau Habis Terang

By. Peterpan

ku terbiasa tersenyum tenang walau
aaah, hatiku menangis
kau lah cerita tertulis dengan pasti
selamanya dalam pikiranku

aa… selamanya

kau tubuhku untuk sejenak
dan biarkan kita memudar dengan pasti
biarkan semua seperti seharusnya
takkan pernah menjadi milikku

lupakan semua tinggalkan ini
ku kan tenang dan kau kan pergi

Reff:
berjalanlah walau habis terang
ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu
di antara beribu lainnya
kau tetap kau tetap kau tetap benderang

lupakan semua tinggalkan ini
ku kan tenang dan kau kan pergi

Reff:
berjalanlah walau habis terang
ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu
di antara beribu lainnya
kau tetap kau tetap kau tetap benderang

 

Perjalanan memusingkan

Halo, kota Padang! Akhirnya aku sampai juga kepadamu setelah perjalanan panjang yang memusingkan dan membingungkan. Seseorang menjemput kami berlima dari pemberhentian bus terakhir untuk menuju asrama tempat kami dikarantina selama seminggu nanti. Kegiatan semacam ini bukan pertama kali aku ikuti. Setengah tahun yang lalu aku berkenalan dengan ISMAFARSI (IKatan Senat MAhasiswa Farmasi Seluruh Indonesia) lewat Pramunas-nya di Bandung. Pada waktu itu aku juga sudah tahu rencana MUNAS yang akan diadakan di Padang dan begitu pesimis untuk bisa mengikutinya. Namun sekarang, dinginnya kota Padang menusuk sampai ke tulang. Di antara berderet rumah Minang yang juga kutemui di sepanjang perjalanan tadi, tak mampu ku menghalau rindingan bulu kuduk.

“Bagaimana perjalanan ke sini, Uda?” seorang gadis yang menjemput kami dengan mobilnya, yang berusan kami kenal bernama Ririn bertanya pada Udin sambil menyetir.

“Cukup memusingkan,”jawab Udin disambut tawa kami berlima.

“Lho, memangnya kenapa?” tanya Ririn heran.

“Iya, kami cukup pusing dengan keramahan orang Padang,” celutuk Bambang, tentu saja disambut tawa lagi oleh yang lain.

Ririn bertambah heran tapi tidak bertanya lagi. Aku rasa dia tidak melanjutkan masalah ‘Perjalanan yang memusingkan’ kerana sudah tahu apa yang kami maksud. Tentu saja, siapa coba yang tidak pusing dengan perjalanan panjang selama dua hari dua malam ke tempat yang sama sekali belum kita kenal sebelumnya. Ditambah bus yang ternyata tidak membawa kami sampai tujuan, tapi hanya sampai di suatu tempat yang masih sangat jauh dari Padang dan mengoperkannya pada bis lain serta insiden di terminal Solok yang cukup membuat Dian, adik tingkatku yang juga ikut kesini, menjadi syok.

Dian menahan tangis saat seseorang mengganggunya di dalam bis yang membawa kami dari Solok ke Padang. Tapi semua itu telah kami lewati, dan kini ketakutan itu telah terbekukan oleh dinginnya kota Padang dan cantiknya paras wajah sang sopir yang menjemput kami. He he he, Sory, Rin…

—oOo—

“Ini kamarnya, Uni,” kata seorang panitia yang telah mengantar ke kamar begitu kami tiba di asrama. Dia mengetuk pintu kamar dan bersalam, “Assalamu’allaikum.”

“Wallaikum sallam.”

Ternyata sudah ada orang lain di dalam kamar.

“Maaf, Ni. Ini ada teman yang juga akan menempati kamar ini,” kata gadis panitia.

Aku dan Dian memasuki kamar setelah penghuni yang mendahului kami mengangguk.

“Selamat istrirahat, Ni.”

“Terima kasih, ya,” sahutku dan Dian serempak.

“Assallamu’alaikum.”

Gadis itu pergi setelah kami menjawab salamnya.

“Hei, Namaku Sisi,” Aku mulai memperkenalkan diri pada teman sekamar kami.

“Aku Ela,”katanya menyambut jabat tangan kami.

“Aku Dian.”

Kami pun segera membongkar bawaan kami dan menatanya di dalam lemari.

“Mbak, aku mandi duluan, ya?” kata Dian yang memang sudah selesai menata barang bawaannya. Aku mengangguk.

Akhirnya beres juga. Senang sekali kalau semuanya telah rapi. Kulihat sekeliling kamar yang akan menjadi tempat kami berlindung selama seminggu nanti dan akhirnya duduk dengan sebotol milk cleanser di tangan. Mulailah rutinitasku sebelum mandi, membersihkan wajah dan mengoleskan minyak zaitun ke seluruh tubuh.

“Sendirian aja di Padang, La?” tanyaku pada Ela yang sedari tadi memperhatikanku.

“Tidak, kami berdua dari Lampung tapi temanku itu cowok, namanya Ardi. Jadinya tidak satu kamar,” Jawab Ela.

“Tentu dong. Emangnya mau bulan madu, dijadikan satu kamar.”

Kami tertawa berdua. Dia pun menanyakan hal yang sama padaku. Pembicaraan itu cukup membuat kami akrab. Aku pun mulai tahu kalau dia berasal dari Universitas Tulang Bawang, Lampung. Aku juga berhasil mengorek segala aktivitas di kampusnya yang ternyata tak jauh beda dengan di kampusku.

Ela cukup menyenangkan untuk diajak ngobrol. Aku memang terkecoh dengan jilbab besarnya yang pertama kali kulihat, hingga mengecap dengan anggapan sepihak yang kurang baik. Tapi sekarang, dengan sikapnya yang friendly, aku merasa satu minggu nanti akan terasa menyenangkan bersamanya.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Aku dan Ela sama-sama berteriak menyuruh masuk. Ternyata seorang panitia.

“Uni, kalau sudah mandi, segera makan karena sudah ditunggu ruang pagelaran untuk ‘Opening party’” jelas gadis itu .

“Bukankah acara itu sudah mulai dari tadi?” tanya Ela.

“Iya, Uni.”

“Tidak ikut ajalah. Aku capek banget. Mau langsung tidur saja,”kataku yang memang sudah berniat untuk tidak mandi dan langsung tidur.

“Maaf, Ni. Tidak bisa. Sudah ditunggu dari yang lain.”

Aku menghela nafas. Gagal deh acara tidur lamaku setelah perjalanan yang memusingkan.

“Udah, Ni. Itu saja. Assallamu’alaikum.” Panitia itu segera berlalu. Aku memonyongkan bibir.

Dian yang sudah selesai mandi memasuki kamar setelah itu. “Mau apa panitia itu tadi?” katanya setelah meletakkan peralatan mandi dan duduk menyisir rambut.

“Tanya Ela saja,lah. Aku mau mandi.”

Aku ngeloyor sambil menenteng peralatan mandi dan handuk yang tergantung di leher. Sayup-sayup terdengar suara Dian bertanya pada Ela hal yang dia tanyakan padaku.

Di sepanjang koridor yang menghubungkan kamar mandi dan kamar, Aku berjalan dengan hati dongkol. Dongkol karena harus mandi malam-malam begini apalagi harus cuci rambut. Tak mungkin, kan, aku datang ke pesta dengan rambut bau? Tapi kalau nanti rambut belum kering dan langsung ditutup jilbab, apa tidak tambah bau? Tenang… Ada hairdyer yang kubawa dari rumah.

Sampai juga ku di kamar mandi dan akhirnya… Brrrrr… dingin banget air di sini.

MAKAN MALAM

Ruang makan sudah tidak ada orang saat Dian, Ela dan aku yang diantar seorang panitia memasukinya. Beberapa kursi plastic sudah tertumpuk dan sebuah meja yang di atasnya terdapat beberapa piring makanan yang tersisa. Beginilah kalau datang belakangan. Makanan enak sudah habis semua. Tinggal beberapa makanan yang menurutku kurang begitu menarik. Tapi karena perut keroncongan, akhirnya kuputuskan makan juga, menyusul Dian dan Ela yang sudah stand by menghadapi piring masing-masing.

“Oh, iya, Mbak. Cowok yang satu delegasi denganku sudah makan, belum tadi?”tanyaku pada panitia yang seketika teringat pada Riki.

“Sudah, Ni. Dia tadi juga menanyakan Uni berdua.”

Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Aku hanya memastikan tak ada anggota kelompokku yang kelaparan. Masih kuingat bagaimana rasanya menahan rasa lapar saat di perjalanan dan Dian yang merengek kelaparan namun bus yang kami tumpangi tidak juga berhenti untuk makan siang.

Aku melihat Ela yang mengunyah dengan tertib dan Dian yang dengan mulut penuh, bercengkrama dengan gadis panitia yang semeja dengan kami, menanyakan tentang perjalanan ke Padang. Sementara masih belum juga satu makanan masuk ke mulutku. Aku hanya terheran dengan tingkah Dian yang begitu menikmati suasana di ruang makan ini. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan tingkahnya selama di perjalanan tadi yang membuatku pusing tujuh keliling, mencari akal untuk membuat dia riang dan melupakan perjalanan panjang yang kami lalui.

Ela pun menikmatinya dengan cara tersendiri. Aku merasa dia menyukai cara Dian yang begitu ekspresif membalas keramahtamahan gadis panitia itu walau pun tidak serta merta bertingkah seperti adik tingkatku itu.

Ela terlalu tertib. Hanya kata “Oh, Ya” atau pun “Boleh”, “Ya”, mau pun “Tidak”, yang sesekali dia lontarkan untuk membalas cengkrama Dian dan gadis panitia itu. Aku rasa jilbab besarnya memang menuntut dia berbuat demikian. Namun adakalanya dia membuatku terheran. Misalnya saja, saat dia menertawakan leluconku tentang tidak dijadikannya dia dan Ardi dalam satu kamar. Aku tidak menyangka kalau orang seperti Ela, menganggap semua itu lucu.

Saat ini pun Ela tak henti-hentinya membuatku terheran kerana dia dengan santainya melayani pertanyaan Dian tentang perbedaan sifat antara cowok Jawa dan Cowok Minang, apakah dia sudah punya pacar atau pertanyaan lain seputar itu.

“Kok tidak lekas dimakan, Ni? Tidak enak, ya?”

Aku terkejut dengan pertanyaan gadis panitia itu.

“Oh, Tidak… Bukan begitu,” Aku menyuapkan makanan ke mulut untuk membuatnya puas.

“Mbak Sisi ini kalau tidak lekas makan, bukan karena makanannya tidak enak, tapi karena ada sesuatu yang dipikirkan,”celutuk Dian asal.

“Wah, mikirin apa, nih?” tanya Ela.

“Tahu, tuh. Kangen sama pacarnya di Solo kali?”

“Uh! NGaco!”

Aku mencubit paha Dian karena sudah bicara asal dan membuat kedua teman baruku itu tertawa terpingkal-pingkal. Tentu saja dia meringis kesakitan. Rupanya cubitanku barusan terlalu keras.

“Gimana makanannya, Ni? Terlalu pedas, tidak?” tanya si gadis panitia.

“Tidak terlalu, Cuma rasanya agak aneh saja di lidahku. Maklum, lidah orang jawa.”

Gadis itu mengangguk-angguk. Aku rasa dia menanyakan makanan itu sebagai pertimbangan untuk menu berikutnya. Sepintas aku teringat pada Rusdy, anak  Universitas Andalas yang kini menjadi ketua panitia di Event ini. Dulu waktu di Bandung, dia berjanji untuk memastikan makanan tidak terlalu pedas saat aku berkelakar tentang masakan padang yang bagiku terlalu pedas.

“Oh, iya. Rusdy mana, nih? Dari tadi aku tidak lihat dia.”

“Mungkin dia ada di ruang pegelaran, Ni. Nanti Uni juga pasti bertemu dia di sana.”

Jawaban panitia itu segera memacuku untuk menghabiskan makan malam. Aku sudah tak sabar lagi bertemu anak-anak yang kutemui saat ‘Pramunas’ dulu. Apalagi Dian dan Ela sudah hampir menghabiskan makanannya. Aku tidak mau menjadi alasan yang menghambat jalan menuju opening party.

OPENING PARTY

Rusdy menyambut kami dengan ramah. Gadis panitia itu benar dengan mengatakan bahwa Rusdy ada di ruang pagelaran.  Ruangan begitu semarak dengan hiasan kain berwarna menyala dan prada emas berkilau-kilau terkena sinar. Lantunan nasyid popular dan tarian khas minang dilengkapi gemuruh tepuk tangan yang menambah meriah suasana.

Aneh, selama ini aku mengira Padang sangat kuat memegang aturan-aturan Islam, sehingga pasti para wanitanya berjilbab besar. Namun yang terlihat malam ini, gadis berjilbab besar bisa dihitung dengan jari sedangkan yang lain enjoy saja dengan jilbab gaul, sama dengan aku dan Dian atau bahkan tidak berjilbab sama sekali namun tetap berpakaian rapi dan tertutup.

“Silahkan, Uni,” seorang gadis panitia menyuruh kami duduk setelah menarik kursi yang menurutnya nyaman bagi kami bertiga. Aku melihat Riki sudah cukup akrab dengan teman-teman barunya. Seorang gadis berjilbab yang aku kenal dengan panggilan ‘Mbak Ulin’ waktu pramunas dulu, melambai padaku. Serta merta ku menghampirinya tanpa memperdulikan Ela dan Dian. Aku menjabat tangan dan memeluknya. Tak ku sangka aku bisa sekangen ini padanya.

Anak-anak yang lain menyalamiku begitu mereka melihatku. Ada Zainal dengan pernyataannya yang selalu tajam, Andi yang menurutku sangat ambisius, Nanang yang terlalu serius. Ika, anak Universitas Indonesia dengan jilbab lebarnya tapi suka usil. Vicki yang selalu memposisikan dirinya sebagai obyek lelucon konyol. Teh Mawar yang cantik yang aku kenal sebagai ‘cem-cemannya’ Andi (Cie cie cie). Mbak Dyah dan Mas Rahmat yang aku kenal sebagai BPH-nya ISMAFARSI. Agus Hilman yang sok filsafatis, juga anak-anak yang lain yang baru kukenal karena mereka tidak hadir waktu “PRAMUNAS” atau ‘yunior’ yang baru hadir di ISMAFARSI event ini.

Oh, Iya. Ternyata Anton, cowok yang selalu aku ingat dengan celutuknya,”Aku dari Bandung, lho!”, juga ada. Dan juga Zaldy, teman satu delegasi Anton dari Universitas Jenderal Achmad Yani. Cowok yang satu ini selalu jadi bulan-bulanan teman-teman sekamarku waktu di Bandung karena mereka menjodohkannya denganku. Mereka mengira kami terlibat ‘cinta lokasi’ (GUBRAK!).

Masih kuingat, Mbak Ulin yang tak henti-hentinya menggodaku perihal Zaldy. Ketika kutanya,”Kenapa Mbak Ulin suka banget menggodaku?”

Beliaunya menjawab,”Aku senang melihat wajahmu yang memerah, menahan malu setiap kali aku menggodamu.”

“Uh! Dasar, Mbak Uliiiiinnnnnn!!!!

Tapi terus terang, kenangan itulah yang selalu kuingat selama sebulan sepulang dari Bandung. Aku selalu bingung untuk menghubunginya namun tidak kulakukan karena merasa semua itu konyol. Apa yang kuharap? Aku bahkan tidak tahu perasaannya padaku. Toh, jika memang itu adalah cinta lokasi, sekarang lokasinya sudah berbeda. Mungkin cinta lokasi lain nantinya menancap di hatiku. (Au au au)

Masih kuingat juga bagaimana usahaku untuk menyibukkan diri hanya agar bisa melupakan Zaldy.  Dan sekarang ternyata dia di sini, di depanku dengan tangan terulur sembari berkata, “Apa kabar?”

Aku menjawab, “Kabar baik.” Mataku menyapu sekeliling, mencari sosok Ela dan Dian. Ternyata Ela sedang ngobrol dengan Teh Mawar. Sedangkan Dian… Lho! Dian kok sudah akrab dengan Suryadi?

“Hei, Si! Sini atuh teh, Kita ngobrol sebentar!” panggil Agus Hilman. Aku segera duduk di depannya.

“Si, pokoknya kita harus mengangkat wacana dari kampus swasta,” katanya menggebu-gebu.

“Wacana kampus swasta? Maksudnya?”

“Ya, sudah saatnya kampus swasta unjuk gigi. Jangan kalah dengan yang negeri. Caranya… pilih pemimpin dari kampus swasta,” penjelasan Agus Hilman yang tentu saja menggebu-gebu lagi.

“Oh,jadi ceritanya kamu mencalonkan diri jadi Sek Jend ISMAFARSI dan butuh dukungan?” tanyaku. “Mekanisme lobi-lobi, ya?”

“Siapa juga yang mencalonkan diri?” Nah. Dia mulai menggerutu. “Bukannya kamu yang mencalonkan diri?”

“Apa! Dapat gossip dari mana?”

“Dari anak-anak Jogja. Kalau kau benar-benar mencalonkan diri…,” Agus Hilman menepuk dada mantap, “Tenang… seratus persen aku dukung!”

“Gila! Tapi aku gak ada niatan untuk…

“Sisi… ,” seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh dan berusaha mengingat-ingat wajah di depanku yang sepertinya tidak asing. Cukup lama aku membuka-buka memori otak.

“U’uL!” teraikku saat mulai ingat kalau cowok itu adalah U’ul, temanku waktu di bangku SMF Nasional, Solo. Aku jadi semakin heboh. “Subhahanallah, ini benar kamu, Ul? Apa kabar?”

“Baik! Aku tadi dapat kabar dari anak-anak kalau calon Sek Jend dari Solo itu Sisi. Aku jadi mikir, itu pasti kamu.”

“Ngaco! Semuanya ngaco!” Aku sangat kesal dengan berita bohong itu.

“Oh, ceritany reuni, nih?” canda Agus Hilman yang sedari tadi kami cuekin.

“Sorry, Gus. U’ul ini temanku waktu SMA. Sudah tiga tahun kami tidak bertemu. Eh, ketemu-ketemu kok yo neng Padang. Opo ra ono enggon sing luweh adoh yo, Ul, yo,”

“Stop! Jangan bicara bahasa planet. Aku yang dari planet lain jadi tidak dong!”  potong Agus yang memang berasal dari Garut. Tentu saja dia tidak paham bahasa Jawa.

“Sory, Gus,” kata U’ul. “begini ini nih, kalau orang Solo bertemu, jawa-nya langsung keluar.”

AROGANSI KORWIL?

Opening Party begitu cepat berlalu. Seseorang menyuruh kami semua tetap di tempat untuk penjelasan tata tertib. Namanya juga ISMAFARSI, tatib yang sudah tersusun rapi, ternyata masih diprotes. Aku rasa panitia harus menyusun ulang tatib itu. Sementara mataku ini sudah enggan terbuka. Aku rasa, aku membutuhkan sebatang korek api untuk mengganjal mata.

Anak-anak di sekelilingku juga merasakan hal yang sama. Sesekali terdengar suara menguap di antara protes demi protes terhadap semua tatib yang kurang sesuai. Dengan pandangan redup-redam, aku melihat Andi sudah tertidur pulas di kursinya. Aneh, biasanya dia paling getol dengan protes-protesnya.

Butir terakhir dari tatib tak jua lolos dari protes. Waktu udah menunjukkan pukul satu pagi. Padahal kalau dicermati, paling yang salah Cuma susunan kalimatnya saja.

Saat tidak ada sanggahan lagi, ketok palu berbunyi. tiba-tiba seseorang mengguyur Nanang dengan seember air. Anak-anak sepontan terjaga. Salah seorang delegasi dari Universitas Surabaya, yang barusan ku kenal bernama Meri, menyanyikan lagu ‘Hapy Birthday’ dengan nada seriosa.

Nanang cengar-cengir dengan tubuh basah kuyup. Tentu dia akan sakit. Bayangkan saja… basah kuyup pada jam 1 malam lewat. Dia berniat keluar untuk ganti pakaian tapi anak-anak yang sudah heboh, menariknya, membujuk untuk memotong kue yang sudah tersedia. Dia terpaksa menuruti kemauan gila anak-anak itu. Insiden berakhir setelah Nanang keluar ruangan dan Mas Rahmat berpidato.

“Teman-teman sekalian, saya hanya ingin menjelaskan bahwa satu minggu nanti akan diadakan Musyawarah Nasional, sebuah forum tertinggi yang memutuskan segala sesuatunya untuk kelangsungan ISMAFARSI. Saya harap teman-teman menyadari tugas berat ini dan menjaga kondisi tubuh. Karena sudah larut, beristirahtalah agar esok kalian merasa segar kembali.”

Aku segera beranjak menuju kamar. Ela dan Dian sudah mendahuluiku. Dalam benakku sudah terbayang nyamannya tidur di kasur setelah perjalanan panjang.

“Mbak Sisi, Tunggu!”

Aku menoleh kea rah orang yang memanggil. Ternyata Suryadi.

“Mbak, tolong kita kumpul dulu di kamar Mas U’ul.”

“Buat apa?”

“Ah, nanti juga tahu.”

Suryadi berjalan mendahuluiku setelah memberi syarat untuk mengikutinya. Uh! Mengganggu saja! Kasur empuk…., tunggu aku, ya….

Di kamar U’ul, sudah berkumpul anak-anak se- Korwil DIY-Jateng. Mereka duduk bersila di lantai, membentuk lingkaran. Aku memperhatikan mereka satu per satu. Lho, ternyata hanya aku yang perempuan. (Gubrak!)

“Wah, Sini, Teh! Duduk sini!” sambut Andi begitu melihatku. Aneh, bukannya dia di ruang pagelaran sudah pulas?

“Sengaja saya meminta semuanya berkumpul di sini untu membicarakan masalah pencalonan Sek Jend dari korwil kita,” Andi memulai pembicaraan.”Saya rasa, kalian sudah tahu ternyata lobi-lobi sudah dilakukan oleh para calon dari KOrwil lain.”

“Lalu,” Riki rupanya sudah tak sabar.

“Kita perlu strategi untuk memenangkan pemilihan itu,” celutuk Tulus, ‘Yunior’ dari Universitas Gadjah Mada.

“Iya, tadi aku dengar Sisi sudah didekati Agus,” ujar U’ul yang tentu saja membuatku kaget. Maksudnya?

Semuanya memandang ke arahku. Sampai risih, aku dibuatnya. Terpojok!!!!

“Oke, Agus memang sudah mendekatiku dengan ‘wacana dari kampus swasta’.” Semua mengamini saat aku mulai angkat bicara. Bahkan U’ul menunjuk-nunjuk,”tuh! Benar, kan?”

“Iya!” aku mulai jengkel dengan tingkah mereka yang menganggapku penghianat. “Cuma aku heran, dia bilang kalau aku mencalonkan diri. Padahal semua yang di sini tahu siapa yang kita pilih untuk jadi calon Sek Jend dari Korwil DIY-Jateng,” kataku sambil melirik Andi.

“Maaf, Si. Aku memang belum memberitahumu,” kata Andi. Dia merubah posisi duduknya,”Kami sengaja membuat cerita itu sebagai salah satu siasat.”

“Siasat?”

“Ya! Kau tahu bagaimana komentar mereka tentang calon tunggal dari Korwil DIY-Jateng?” kali ini Nanang mulai bicara. “Mereka menganggap hal ini arogansi Korwil. Kabar pencalonanmu dapat meredam tuduhan mereka. “

Aku rasa di ISMAFARSI, istilah ‘arogansi’ selalu di dengungkan jika ada delegasi yang begitu bersikukuh dengan pendapatnya. Aku tahu perasaan mereka jika dicap demikian. Masih kuingat Mbak Ulin yang tersinggung dengan istilah itu. Tapi saat anak-anak mencoba mengatasi cap ‘Arogansi’ itu dengan menyebarkan kabar bohong tentang diriku, apa itu bisa dimaafkan?

“Nah, sekarang aku minta tolong padamu, Si. Tolong kamu juga mencalonkan diri pada pemilihan nanti sesuai dengan siasat,” lanjut Andi.

“Apa?! Bukankah kemaren waktu rapat Korwil sudah diputuskan kalau calon sekjend dari DIY Jateng itu Cuma kamu? Lalu kenapa sekarang….

“Aku tahu, Si,”potong Andi, menenangkanku yang seang tinggi. “Seperti yang kubilang tadi, ini hanya siasat agar terlihat bahwa calon dari DIY-Jateng tidak hanya satu. Kamu bisa, kok… Cuma mengisi formulir pendaftaran calon sekjend lalu mencabutnya lagi satu hari sebelum pemilihan. Sekali lagi ini Cuma siasat!”

“Kalian bisa cari orang lain,kan? Kenapa harus aku?” teriakku.

Udin menyenggol lenganku. “Si, tidak ada salahnya kamu coba,”katanya lalu berbisik,” sudah saatnya Solo juga ikut unjuk gigi.”

Dengan lirih aku menjawab,”Tapi aku tidak berambisi jadi Sekjend ISMAFARSI. Kenapa tidak kamu saja?”

“Tidak bisa, Si. Kau tahu, kan.. kalau kampusku belum resmi jadi anggota,” bisik Udin lagi. Universitas Muhammadyah Surakarta memang masih berstatus peninjau.

Andi berdehem. Aku dan Udin menoleh kikuk.

“Bagaimana, Si?”

Udin memberi isyarat agar aku menerima tawaran itu.

“Baiklah, aku akan berpikir dulu.”

“Nah, gitu, dong!” perkataan Andi diamini yang lain. Puas, ya… bikin kelimpungan orang?

ARTI DIRI

Koridor  sudah lenggang, berbeda dengan beberapa waktu lalu yang rebut oleh panitia yang lalu lalang. Suara dengkuran terdengar dari setiap kamar. Aku masih memikirkan keputusanku yang menerima begitu saja kemauan anak-anak Korwil. Aku ragu apakah mungkin semua itu aku lakukan, mempermalukan diri sendiri. Itulah istilah tepatnya jika aku lakukan semua itu.

Sampai juga aku di kamar. Dian dan Ela ternyata belum tidur.

“ADa apa, Mbak?” tanya Dian saat aku memasuki kamar dengan muka tertekuk dua belas dan tekukan ke tiga belas sudah mulai tampak.

“Mereka menyuruhku mencalonkan diri,”jawabku.

“Wah, Tunggu apa lagi? Iyakan saja tawaran itu!” seru Dian antusias.

“Oh, ya? Jadi kau  mau dijadikan tameng dari senjata tajam yang seharusnya ditujukan untuk orang lain?”

“Tunggu, Si. Aku tidak tahu maksudmu,” Tanya Ela.

“Iya, Mbak. Memangnya ada apa, sih? Kalau memang Mbak tidak siap untuk mencalonkan diri, tidak usah dipaksakan.” Dian berusaha menenangkanku.

Aku duduk dengan nafas naik turun, “Kalian tahu? Mereka menyuruhku mencalonkan diri untuk mengatasi stempel ‘Arogansi Korwil’ yang dikenakan pada Korwil kita. Hanya sebagai siasat, katanya. Aku bisa saja mendaftarkan diri lalu mencabutnya satu hari sebelum hari H.”

“Kata hatimu sendiri bagaimana, Si?” tanya Ela padaku.

“Entahlah, Ela. Mereka sudah menyebar kabar kalau aku mau mencalonkan diri tanpa sepengetahuanku. Tentu saja aku kaget. Apalagi waktu Agus Hilman mendukung pencalonan diriku itu.”

“Mbak, aku rasa mbak harus berpikir jernih. Jangan mengambil keputusan dengan terburu-buru. Ingat, Mbak, kita di sini mewakili kampus. Ya, saya tahu Mbak nantinya mencalonkan diri sebagai diri Mbak pribadi tapi biar bagaimana pun nama kampus kita tetap dipertaruhakn.” Dian tiba-tiba saja jadi terlalu bijak hingga mampu mengkuliahiku tentang posisiku selama di Padang ini.

“Kalau memang Mbak ingin mencalonkan diri, itu harus  dari niatan Mbak. Jangan karena ancaman ‘Arogansi Korwil’,” lanjut Dian.

Ela mengamini perkataan Dian. Aku putuskan ke kamar mandi untuk cuci muka dan kaki lalu gosok gigi. Selesai dengan rutinitas itu, ternyata Ela dan Dian belum juga tidur. Aku bergabung dengan mereka dalam obrolan sebelum tidur.

“Aku tahu siapa cowok yang diincar Mbak Sisi di pesta itu!” kata Dian tiba-tiba yang membuat dahiku menkerut seketika.

“Siapa?” tanyaku. Sengaja ku test.

“Seseorang dengan inisial Z.”

“Ah, mana ada nama yang dimulai huruf ‘Z’? Iya, gak.. Ela?”

Ela berusaha mengeja satu persatu nama yang dikenalnya di opening party. Eng ing eng… aku menahan nafas saat dia akhirnya mengangkat tangan. “Aku tahu!”

“Zaldy, kan?”

Tuing! Tuing! Habis deh, aku… Ambulanceeee!!!! Aku pura-pura masa bodoh.

“Jangan pura-pura masa bodoh, Mbak.” Dian menggodaku.”Mas Angga dan Mas Agus yang cerita sama aku.”

“Apa?” wajahku sudak tidak bisa diselamatkan lagi.”Berani-beraninya mereka bilang  kalau….

“oh, jadi semua itu beneran?”

Dian dan Ela berteriak serempak diikuti “Huuu” panjang yang keluar dari mulut mereka kemudian. Lebay!

“Lalu bagaimana selanjutnya, Mbak?” tanya Dian.

“Bagaimana apanya?”

“Kisah di Bandung itu, lanjut apa tidak?”

“Entahlah, tapi yang pasti bukan aku yang harus memulai.”

“Kenapa begitu, Si,” Ih… Si Ela ikut-ikut saja.

“Karena cewek memang tidak mungkin memulai hal semacam itu. Cowoklah yang selalu ambil inisiatif.”

“Ah, itu sih cewek kuno namanya,” kata Dian sambil mengibaskan tangan. “Lalu bagaimana jika dia tidak mau memulai dan tidak mau ambil inisiatif gitu?”

“Ya, berarti kisah itu tidak berlanjut. Habis perkara!” kataku sewot.

“Benar, nih? Nggak nyesel kalau kisah itu tidak berlanjut?”Diannnnn!!! Nih anak, gak habis-habisnya bikin keki. “Awas, ya, kalau nanti pulang ke Solo dengan wajah ‘MUPENG’.”

“Uh, ngaco!” Aku berusaha mencubit lengan Dian. Tapi kali ini dia lebih gesit. Rupanya pengalaman di ruang makan tadi cukup membuahkan reflek terhadap cubitanku yang keras. Dia menghindar dengan naik tempat tidurnya yang memang bertingkat di atasku.

“Sudah ya, Mbak. Dian ngantuk! Dada, Ela,” pamit Dian pada Ela dan Aku sebelum tidur.

Aku pun menaiki tempat tidur. Demikian juga si Ela. Tiba-tiba aku merasa tenggorokanku gatal dan batuk-batuk.

“He! Yang di atas jangan gerak saja, dong… debunya bikin batuk!” protesku pada Dian.

“Siapa yang gerak? Aku kalau tidur tidak banyak gerak kok, Mbak. Mbaknya sendiri saja yang batuk,” jawab Dian.

Aku menutup muka dengan bantal. Aduh, sesak! Bodoh! Siapa suruh nutup muka dengan bantal? Tapi Diab tidak bohong. Dia memang tidak banyak bergerak dalam tidurnya. Lalu kenapa tenggorokkanku jadi gatal begini? Ah, mungkin karena pergantian udara.

Aneh, kenapa Dian bisa tahu tentang Zaldy? Aku bahkan tidak menyangka kalau Agus dan Mas Angga tahu tentang Zaldy. Malam ini Agus pasti sibuk dengan posisinya sebagai ketua OSPEK. Tiba-tiba aku merasa bersalah karena meninggalkan tugasku sebagai sekretaris di kepanitiaan OSPEK.

Mas Angga dan Agus adalah delegasi yang hadir bersamaku saat Pramunas ISMAFARSI di Bandung. Pada waktu itu aku masih ‘yunior’. Mereka menganggapku masih kecil bahkan sangat melindungiku. Kini aku merasakan kalau perlakuan mereka itu begitu berarti. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Apakah hal ini di sebabkan karena aku telah merasakan repotnya membimbing Riki dan Dian dalam Munas ini?

Mas Angga tahun ini sibuk dengan skripsinya dan Agus dengan OSPEK. Hal yang membuatku bersalah pada Agus adalah persoalanku dengan ‘nya’ yang melibatkan kepanitian OSpek kali ini.

Kejadian hari Rabu kemaren teringat lagi. Aku membentak ‘nya’ karena tingkahnya terlalu sok penting. Sok mengatur padahal sudah tidak ikut kepanitiaan OSPEK lagi. Aku bahkan tidak tahu kenapa peristiwa itu terjadi. Hal itu kulakukan demi kesolidan kepanitiaan OSPEK, atau karena masalah pribadi?

Tenggorokanku masih terasa gatal. Aku berusaha memejamkan mata walau pun pikiran-pikiran itu masih bersliweran di kepalaku. Esok… apa yang akan aku alami? Tidak ada yang tahu. Yang aku tahu, aku bukan lagi Yunior yang mengikuti kegiatan kampus hanya untuk having fun. Aku harus memikirkan setiap perkataan dan tindakanku. Jangan sampai segala keputusan terlampau idealis sehingga sangat sukar untuk terlaksana, namun jangan sampai terlalu asal-asalan jua. Dan yang paling penting dari semua itu…..     I AM SENIOR NOW

-THE END-

Iklan

5 thoughts on “I AM SENIOR NOW

    • dah lupa, akhirnya aku dulu gimana, hahahaha… pokoknya lo diceritain panjang, tapi akhirnya ku gak terima tawaran itu cz gak sesuai hati nurani

  1. mbak ini bisa bgt ngerangkai katanya, bikin enjoy yg baca………tapi di akhir malah bikin penasaran.hehe
    apa gak lebih bagus cerita sampai mbak pulang dari kegiatan itu???kan pasti lebih seru dan anti klimaksnya dapet….(bukan menggurui lho mbak, saya malah pengen belajar dari mbak).hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s