Something to remember

Something to remember

(One Short )

Huft, udara begitu lembab. Sepertinya akan turun hujan. Kalau saja tidak karena pacarku, Eun ye minta di antar ke asrama mahasiswa, yang merupakan lokasi  South Korean Medical student organization conference, mungkin aku tidak akan terdampar di sini. Sekalinya ku sanggupi permintaannya, aku malah dicuekin. Dia ngeloyor pergi ke dalam gedung dan gak balik-balik sejak setengah jam yang lalu. Anehnya, dia mengirim sms,”tunggu, Chagiya. Sebentar lagi kelar.”

Menyebalkan! Sudah sejak lama aku ingin memutus dia kalau tidak karena kakaknya yang satu grup band denganku itu. Alasannya sederhana, karena aku rasa makin lama dia makin menyebalkan, terlalu manja. Setiap detik selalu mengkontrol lewat sms. Kemana pun aku manggung, dia selalu ada. Bikin risih menurutku.

“Kau yakin mau keluar sendiri?” lagi enak-enak ngedumel tentang Eun Ye, dua orang cewek lewat di depanku. Salah satunya bertanya pada temannya, seakan tidak yakin temannya itu mempunyai keberanian pergi sendiri.

“Mau bagaimana lagi? Aku butuh film buat dokumentasi di rapat nanti, Shin Ye-a,” jawab temannya, yang berkulit putih dan berambut pendek.

“Tapi, Sun-a…. kamu belum tahu daerah sini,” sanggah orang yang dipanggil Shin Ye. Gadis itu lalu menatapku, dia berhenti sebentar sambil tangannya menahan gadis yang dipanggil Sun agar tidak meneruskan langkah.

Shin Ye melangkah ke arahku, lalu dengan agak ragu menyapa,”Anyong, Sunbae.”

“Anyong,” balasku. Sesaat Shin Ye menoleh lagi ke temannya yang masih berdiri di tempat semula, menatap heran kami berdua. “Sunbae panitia di sini, kan? Bisa tolong antar temanku ke studio foto yang dekat-dekat sini?”

“A…”

“Pleaseeee…”

Baru saja aku mau menyanggah kalau aku bukan panitia, dia sudah memohon. Melas banget kelihatannya. Aku jadi tidak tega dan akhirnya mengangguk. Wajah Shin Ye jadi berubah senang lalu memanggil temannya,”Sunbae ini mau mengantarmu, Sun-a.”

“Kacha!” ajakku pada Sun, ah… siapa sebenarnya namanya. Aku segera menghampiri motor dengan Sun yang mengekoriku sedangkan Shin Ye sudah masuk kembali ke gedung asrama. Baru mau ku naiki motor, ku ingat kalau kunci motorku di bawa Eun Ye. Satu lagi kebiasaan jelek Eun Ye, tidak mau ku tinggal, jadi sebagai jaminan, kunci motorku di bawanya.

“Ada masalah, Sunbae?” tanya Sun.

“Anyi, kunciku dibawa pacarku ke dalam,” jawabku gugup. Lho, kenapa aku sejujur itu, ya? Ngaku kalau sudah punya pacar. Tampak Sun membulatkan mulutnya. “Antarnya jalan kaki saja, Sunbae.”

Kali ini giliran mulutku yang menganga.”Apa tidak capek?”tanyaku.

“Anyi. Sudah biasa. Aku terbiasa jalan kaki pulang-pergi kampus,” jawab Sun.

Well, akhirnya perjalanan di mulai. Lebay! Cuma jalan sebentar saja, kok. Tentu saja diselingi obrolan. “Namaku Lee Dong Hae,” aku perkenalkan diri juga padanya. Tidak enak, sudah bicara banyak tapi tidak tahu identitas orang yang kau ajak bicara.

“Goo Hye Sun Imnida,” balas gadis itu dengan senyum malaikat yang mebuatku melumer seketika. Aneh, waktu pertama kali aku bicara dengannya di dekat motor tadi, rasanya dia tidak semanis ini, tapi kenapa sekarang wajahnya begitu menarik, ya? Lengsung pipitnya itu, aigo…. Jadi pengen nyium, deh.

“Kau sepertinya bukan orang Seoul, ya?” tebakkanku asal. Tapi tidak asal banget, ding… orang Shin Ye tadi nyata-nyata bilang kalau Hye Sun tidak kenal daerah sini.

“Ne, kami dari Bussan.”

“Oh, peserta conference, ya?” tebakku lagi. Memang konferensi itu dihadiri mahasiswa kedokteran se Korea selatan. Gadis itu Cuma mengangguk. Rambutnya yang pendek bergoyang-goyang seiring anggukan kepalanya. Ih… so cute…

“Ini studionya!” teriak Hye Sun saat kami sampai di depan studio foto.

“Kacha!” Aku menarik tangannya agar segera masuk. Ku biarkan dia menemui pelayan studio sendiri. Lima menit kemudian dia kembali dengan raut wajah kecewa yang membuatku bertanya,”Waeyo?”

“Film yang sesuai dengan tustel ini habis, Sunbae,” jawab Hye Sun sambil menunjukkan tustel di tangannya padaku. Oh my God! Jaman sudah digital gini, masih saja pakai tustel yang perlu diisi roll film. Tentu saja tidak ada studio foto yang sedia. “Uni tadi bilang kalau studio foto yang sebelah barat masih punya,” sambung Hye Sun lagi. Studio sebelah barat? Itu berarti berlawanan arah dari gedung asrama. Aku tahu betul itu. Aku jadi senang karena kebersamaanku dengan Hye Sun jadi lebih lama.

“Kacha!” ajakku sambil menarik tangannya. Lalu setengah berlari aku keluar dari studio foto itu.

“Hai! Pelan-pelan jalannya, Sunbae!” teriak Hye Sun. Aku memang lupa diri. Saking senangnya aku mengambil langkah lebar-lebar. Tentu saja Hye Sun agak kewalahan menandingi jalanku sehingga dia jadi agak berlari. “Oh, miane,” sesalku.

——<*>——-

“Pokoknya sekarang kita putus!” teriak Eun Hye tepat di mukaku. Pada waktu itu, dia datang ke kampusku. Marah-marah tak jelas. SEdikit berbagi rahasia, sudah sebulan aku mencuekkan Eun Hye. SMSnya tidak ku balas, telpon juga tidak kuangkat. Sengaja, sih… Menurutku, buat apa harus mempertahankan hubungan yang saling menyiksa diri masing-masing.

“Oke, siapa takut!” sahutku cuek. Secepat kilat dia enyah dari depanku dan terus terang angin surga mulai bertiup ke mukaku. Yuhuuuuu! Akhirnya bebas juga dari nenek lampir itu.

Goo Hye Sun, ku ketik nama emailnya di pencarian friendster. Nah, ini dia. Segera ku add akun Hye Sun dengan harapan dia bersedia mengapprove permintaan pertemananku. Tidak sampai sepuluh menit, dia sudah merespon. Well…. Senangnya aku.

—–<*>—–

Lima tahun kemudian……

“Lee Dong Hae-ssi, sebagai seorang penyanyi solo terbaik tahun ini. Saya dengar, anda juga berhasil dalam studi anda. Dan kabarnya rancangan gedung hasil skripsi anda di beli oleh pengembang asing. Is it true?” tanya reporter KBS TV pada seorang penyanyi terkenal, Lee Dong Hae. Para Fans yang hadir di studio semakin kagum. Teriakan histeris terdengar lagi.

“Saya berusaha sebaik mungkin,” jawab Dong Hae.

“Bisa kami tahu rancangan gedung apa itu?” tanya reporter itu lagi. Lee Dong Hae tampak mengingat-ingat karena sudah tiga tahun yang lalu dia diwisuda.”Judulnya Something to remember.”

“Something to remember? Maksudnya?”

“Saya punya teman di dunia maya. Dia selalu berkeliling dunia untuk aksi sosial karena tugasnya sebagai ketua South Korean Medical student organization. Dia selalu update foto di blognya dengan latar belakang bangunan-bangunan khas Negara yang dia kunjungi. Bangunan-bangunan itulah sumber inspirasi ‘something to remember’. Perpaduan arsitektur kontemporer dan tradisional dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan,” jelas Dong Hae panjang lebar.

“Oh, great! Bisa saya tahu juga nama blognya?” tanya iseng reporter. Dong Hae hanya tertawa.”Dia sudah lama tidak mengupdatenya.”

Penonton menyuarakan kesedihan hati Dong Hae juga. “Jadi bisa dibilang anda kehilangan kontak dengannya?”

Dong Hae mengangguk.

Sejak saat itu para Fans jadi bertanya-tanya siapa sebenarnya teman maya seorang Lee Dong Hae. Tak heran jika akunt jejaring social Dong Hae jadi rame dikunjungi Fans. Anehnya tidak ada apa-apa yang bisa mereka dapat. Bahkan yang di follow Dong Hae di Twitternya kosong. Ya iyalah… akunt itu kan dibuat setelah Dong Hae terkenal, lagian  yang diadd Dong Hae kan Friendster, bukan Facebook.

Hari-hari Dong Hae pun berlalu seperti biasanya. Gossip dia sedang dekat dengan artis A, artis B, artis C….sudah biasa! Resiko jadi penyanyi terkenal memang begitu. Manggung sana-sini, itu pula rutinitas Dong Hae selama ini. Belum lagi pekerjaannya sebagai arsitek lepas di perusahaan pengembang asing. Sungguh menyita waktu hingga ketahanan tubuhnya down dan terjadi gangguan pada pita suaranya.

Sekarang di sinilah dia. Di Seoul International Hospital dengan suara serak-serak becek, diantar Ommanya buat periksa ke dokter (?)

“Makanya punya tubuh itu jangan diforsir!” omel Sang Omma saat mereka menunggu giliran di ruang tunggu. Mereka menunggu di eksecutive lounge sehingga tidak ada penggemar rese yang teriak-teriak tak jelas memanggil Dong Hae. Dong Hae Cuma bisa meringis tanpa pembelaan. Kalau lagi sakit memang sikap manja Dong Hae kambuh. Tidak bisa lepas dari perawatan lembut Ommanya.

“Kau seharusnya sudah cari pendamping hidup, Dong Hae-a. Kalau sakit begini, istrimu kan bisa merawatmu. Jadi Omma tidak perlu datang jauh-jauh dari Jeju,” Mulai deh ni Omma nagih menantu.

“Apa tidak ada satu pun gadis yang dekat denganmu yang kau sukai?” Oh, please…., sudah, dong Omma.

“Tuan Lee Dong Hae?” panggil salah seorang perawat.

Yuhuu… save by the bell! Ups, salah! Save by the nurse!

“Ne, suster!” jawab Dong Hae.

“Dokter Jang sedang cuti, anda akan diperiksa oleh penggantinya. Silahkan masuk!”

Dong Hae memasuki ruangan yang ditunjuk suster itu. Tentu saja masih diikuti sang Omma. Dan…

“Goo…. Goo Hye Sun!” teriak Dong Hae dengan suara seraknya. Ommanya jadi kaget melihat tingkah konyolnya yang bagai melihat hantu di siang bolong. Di depan mereka, dokter muda itu menyunggingkan senyum manis, lengkap dengan lesung pipit yang masih membuat Dong Hae ingin mencium.

“Silahkan duduk, Lee Dong Hae-ssi.”

Oh, senyum itu lagi. Gadis ini tambah manis saja, apalagi dengan rambut panjangnya sekarang ini, batin Dong Hae.

Sang Omma jadi menyenggol lengannya. Bagaimana tidak? Sudah di suruh duduk, itu anak masih melongo saja. Tergagap, Dong Hae menduduki kursi pasien.

“Maaf, Apa keluhan anda?” tanya Hye Sun. Dong Hae berdehem sebentar dan mencoba menjawab. Shit! Kenapa suaraku tambah lenyap begini? Umpat Dong Hae dalam hati saat mendengar suaranya sendiri yang seperti terjepit dan membuat sang Omma ngakak.

Dengan mengulum senyum, Hye Sun mendekat, lalu menduduki kursi di depan Dong Hae. “Coba buka mulut dan julurkan lidah!” perintahnya.

“Aaa…,” jadilah pasien yang penurut, Dong Hae. Setelah mengamati rongga mulut Dong Hae dengan penerangan senter kecil, Hye Sun memasang stetoskop di telinga dan mulai menempelkan alat itu di dada Dong Hae. Detak jantung sang pasien semakin tidak karuan. Tapi bukan detak jantung yang di dengar sang dokter saat ini, lebih ke suara paru-parunya. Ada mur-murkah?

Setelah dirasa cukup. Hye Sun memasang pengukur tensi di lengan Dong Hae. Nah, yang ini tentu saja bikin Dong Hae keki, mau tidak mau Dong Hae menatap mata bulat Hye Sun yang nampak serius mengamati letak alat itu agar pas.

“Bagaimana, Dok?” tanya  Omma Dong Hae saat Hye Sun mulai menuliskan sesuatu di lembar resep.

“Lee Dong Hae-ssi terkena radang tenggorokan,” jawab Hye Sun. Dong Hae hanya bisa menelan ludah, pantas saja sakit sekali rasanya.

“Berapa lama sembuhnya?” tanya sang Omma lagi.

“Saya tadi mendapati ada pembengkakan di pita suara, jadi agak lama. Saya sarankan jangan menyanyi dulu.” Setelah menyobek kertas resep itu, Hye Sun menyerahkan pada Omma Dong Hae,”Silahkan obatnya diambil di apotek.”

“Gomawo, dokter.”

Itulah perjumpaan Dong Hae dengan Hye Sun kembali. Setelah itu kesibukan Dong Hae bertambah satu, yaitu menjadi pengunjung tetap Seoul International Hospital. Tentu saja bukan sebagai pasien. Penyakitan amat! Tapi benar juga, sih… ada saja alasan Dong Hae untuk pedekate sama Hye Sun. Mulai dari sakit perut, lah… gigi tanggal… kesleo… desmorhoe.. ups! Ya gak mungkin lah yao… orang Dong Hae gak punya rahim, kok… mau dismorhoe dari mana?

Seorang Lee Dong Hae yang digilai para yoejaitu harus berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan cinta Hye Sun. Perjuangannya berat karena banyak juga dokter-dokter kece yang sudah mengincar Hye Sun jauh-jauh hari, bahkan sejak gadis itu kuliah tingkat pertama. Apalagi saat Dong Hae tahu kalau direktur rumah sakit itu berniat menjodohkan Hye Sun dengan putranya, yang sedang mengejar gelar doktor di bidang ilmu forensik di Amerika, tambah puyenglah kepala Dong Hae.

Kalau waktu pacaran dengan Eun Ye dulu, Dong Hae risih karena nenek lampir itu selalu mengikutinya manggung. Kali ini Dong Hae yang kelabakan. Hye Sun hampir tidak pernah  bisa menemaninya manggung karena kesibukannya di rumah sakit. Kalau sudah begini, pikiran Dong Hae jadi tambah tidak tenang, mikirin ceweknya dikelilingi dokter-dokter tampan di rumah sakit itu.

—–< * >——

Satu tahun kemudian (Malam ini)

Kami sampai di tempat tujuan tepat pukul tujuh malam. Sebenarnya para orang tua itu tidak mengijinkan kepergian kami malam ini. Alasannya simpel saja, tetamu masih berdatangan walau pesta sudah berakhir. Yap… benar dugaan kalian. Aku dan Hye Sun menikah pagi tadi dan sekarang aku adalah lelaki paling bahagia di dunia.

Ku lirik wanita mungil di sampingku ini, yang menatap bangunan di depan kami dengan sorot kekaguman,”Aigo… indah sekali!”

“Kau suka?” tanyaku. Dia mengangguk-angguk riang, persis enam tahun yang lalu. “Bangunan apa ini?” tanyaku lagi.

“Joglo!” jawabnya sepontan lalu menoleh ke arahku, kali ini dengan sorot heran,”Joglo adalah salah satu rumah adat Indonesia tepatnya Jawa Tengah, bagaimana kau bisa tahu?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Tentu saja aku tahu dari salah satu foto yang ada di blognya, tapi aku masih ingin menggodanya dengan teka-teki hingga aku menjawab,”Rahasia.”

Sekarang dia memonyongkan bibirnya. Aku jadi geli.”Ayo masuk!” ajakku.

Mata Hye Sun tambah melebar setelah berkeliling dalam rumah. Jika dari luar rumah ini tampak seperti ‘Joglo’, interior di dalamnya lebih menunjukkan kesan Korea. Tentu saja, kami orang Korea. Kenyamanan suasana dalam negeri masih kami butuhkan karena itu aku mendesain kesan korea di rumah ini.

Hye Sun menjatuhkan tubuh capeknya di ruang tengah. Aku juga ikut-ikut, lalu dia menoleh ke arahku dengan menampakkan senyum malaikatnya.”Sejak kapan kau persiapkan rumah ini?” tanyanya padaku.

“Rahasia,” godaku lagi yang sekali lagi membuatnya mengkerucutkan bibir. Kali ini aku tidak tinggal diam. Ku cumbu bibir yang meruncing itu dan membuatnya agak terkejut. Sesaat aku menginginkan lebih, hingga akhirnya tubuh mungil itu agak terpojok di sofa karena ketidaksabaranku.

“Mau menikmati kenyamanan kamar tidur utama?” tanyaku setelah agak tidak rela melepaskan ciuman panas kami. Wajah Hye Sun sudah merah padam, membuat aku semakin bersemangat menggodanya. Tanpa menunggu jawaban darinya, yang menurutku sebenarnya terlalu lama karena aku sudah tidak tahan, kuangkat tubuh mungilnya untuk memasuki ruangan yang ku sebutkan tadi. Istriku tertawa-tawa senang dengan perlakuan itu.

Aku benar-benar melakukan niatanku, memanjakannya sekaligus memuaskan diri atas Hye Sun-ku yang manis. Hatiku sangat bahagia mendengar desahan lirihnya. Itu bukti kalau aku begitu mengagungkannya. Di setiap sentuhan itu, aku berdoa agar Tuhan memberkati pernikahan kami hingga usia kami sama-sama senja nanti. Aku berdoa akan kehadiran anak-anak kami, anakku dan Hye Sun, dan aku berjanji akan melakukan apa saja demi kesejahteraan hidup mereka. Hingga akhirnya dia terkulai lemah di dadaku dan masih bergumam dengan desahan memujaku. Ku kecup ubun-ubunnya yang kini agak basah oleh peluh akibat perlakuanku tadi. Dia tersenyum dengan pandangan mata yang semakin berbinar. Membuatku semakin memujanya.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya. Dia memandang serius ke arahku. Aku yakin ekspresi wajahku sekarang ini menunjukkan mimic heran. Rupanya dia benar-benar melupakan pertemuan pertama kami.

“Kau begitu keras mengejarku, padahal kita sama sekali belum pernah kenal sebelumnya,” katanya lagi. Dia benar-benar lupa dan aku masih ingin membuatnya penasaran.

“Cek saja friendstermu,” jawabku. Sontak istriku itu bangun. Aku jadi kaget.”Mau kemana?” cegahku sambil memeluk tubuh polosnya erat.

“Mengecek friendsterku!” jawabnya seketika. Shit! Kenapa tidak besok saja, sih? Aku jadi membatin. “Anhi, Chagiya. Tidak perlu,” sanggahku.

“Makanya jangan membuatku penasaran terus,” sewotnya. Aku jadi mempererat pelukan, menciumi leher dan punggungnya. Sesaat ku dengar dia mendesah, memendam hasratnya yang timbul kembali. “Please, … jawab dulu,” pintanya  tersengal-senggal. Ku tarik tubuhnya agar berbaring kembali lalu kulakukan sentuhan yang membuat gairahnya meletup-letup. Sesaat dia melupakan pertanyaannya karena pada akhirnya kami melakukannya lagi.

Saat dia merasa lemas kembali, aku masih berada di atasnya. Memperhatikan wajah cantiknya dengan  kedua tangan yang kupakai sebagai penopang tubuh. Dia benar-benar tersenyum sekarang. Senyuman yang kurindukan selama ini, akhirnya menjadi milikku seutuhnya. Ku dekatkan wajahku ke telinganya untuk berbisik,” South Korean Medical student organization conference tahun 2005.”

Kulihat dia mulai mengingat-ingat sesuatu dan aku yakin betul apa yang coba dia ingat. “Jadi kau?” teriaknya kemudian.  Aku mengangguk,”Ne, Chagiya! Aku mencarimu selama ini. Saranghe, istriku.”

“Sarangheyo…” balasnya sambil melingkarkan lengan ke leherku. Well, sekali lagi dia membangunkan ular yang sedang tidur. Tak perduli dia sudah lemas atau tidak?…. Kalian tahu, lah… apa yang terjadi selanjutnya….

—-THE END—-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s