Tahun 2005, dan Aku Masih Seorang AA

 Aku mengayuh sepeda perlahan. Jalan masih licin akibat hujan tadi sore. Bulan ini bulan februari. Seharusnya aku sudah memulai kuliah apotekerku. Tapi apa daya, uang untuk biaya kuliah belum mencukupi. Ketua program profesi apotekerku sudah SMS, menanyakan apakah aku jadi kuliah bulan ini atau tidak. Pada waktu itu yang menerima ibuku karena aku tidak punya HP. Sampai saat ini aku tidak menjawab. Toh, aku rasa dia tahu alasanku dan memberikan tempatku untuk orang lain.

Tiba-tiba aku teringat pembicaraan dengan Ridwan tadi sore. Dari mana aku punya keberanian mengatakan perasaan Mbak Dinar padanya? Bagaimana komentar Mbak Dinar jika tahu perbuatanku? Dan sekarang, apa yang dilakukan Ridwan setelah tahu?

Lucu juga, ya…

“Eh, tahu nggak? Kata Mbak Rani, Ridwan itu mau dijodohkan sama Mira, lho.” Aku teringat omongan Mbak Dinar seminggu yang lalu sebelum dia menyerahkan surat itu padaku.

“Masa sih, Mbak? Terus Riwan-nya gimana? Mau?” tanyaku.

Mbak Dinar hanya menggeleng.

Aku tersenyum geli. Dalam otakku berpikir, seumpama Ridwan dan Mira benar-benar jadi suami-istri. Yang cowok super lembut, yang cewek agak manja dan emosional. Bisa-bisa Ridwan jadi ‘Susis’.

Hehehe…

Ups, aku mulai senyum-senyum sendiri. Apa jadinya kalau orang-orang tahu? Bisa-bisa sudah dianggap gila, bersepeda sambil senyum-senyum gaje.

Malam ini aku mengambil rute yang lain dari biasanya aku lewati. Jadinya lebih jauh. Kehidupan malam mulai beraksi. Aku melewati daerah terminal Tirtonadi. Terminal kebanggaan kota Solo yang makin terkenal setelah Didi Kempot menciptakan lagu campur sari tentangnya. Terminal ini tidak hanya menjadi ladang usaha angkutan dan perdagangan, tapi juga ladang ‘penjaja malam’. Tahu kan maksudku? Apalagi kalau bukan PSK yang marak di setiap malam di kawasan ini.

Lihat saja sekarang, perempuan-perempuan dengan dandanan dan parfum seronok berdiri di sepanjang jalan yang aku lalui. Suara music dangdut yang super norak pun juga terdengar di sana-sini. Tidak focus dan amburadul.

“Trantib! Trantib! Trantib!”

Teriakan apa itu? Trantib?

PSK-PSK itu tiba-tiba berlarian, menghindari petugas …. Oh… ada operasi … PEKAT???

Tunggu! Ternyata mereka tidak kesulitan melarikan diri. Beberapa tukang ojek segera melarikan mereka dengan sepeda motor. Huft! Aku mengencangkan laju sepeda. Jangan sampai deh petugas itu salah menangkapku. Capek, deh!

Ternyata masih ada yang lebih tidak beruntung dariku. Aku masih bisa bekerja walau pun dengan ijazah SAA. Kerja halal dan menghasilkan. Kalau pun ijazah S1 Farmasiku belum bisa menjanjikan, aku tidak akan kekurangan uang karena keahlianku sebagai Asisten Apoteker masih bisa kuharapkan.

Akhirnya sampai juga di rumah. Seperti biasa, ayah-ibu asyik dengan acara TV.

“Tadi dosenmu nelphon lagi. Dia tanya apa kamu jadi kuliah?” kata Ibu.

“Uang belum cukup mau kuliah? Dibayar pakai apa?” jawabku sekenanya sambil masuk kamar. Aku segera ganti baju, gosok gigi, cuci tangan dan kaki dan akhirnya tidur. Esok… kesibukan pasti menyambutku lagi.

 

—oOo—

“Nih, suratnya Mbak Dinar!” Aku menyodorkan surat dari Mbak Dinar pada Ridwan. Dua hari sebelum keluar dari apotek, Mbak Dinar menitipkan surat itu padaku. Entah apa isinya, aku tidak tahu. Surat itu untuk Ridwan, tugasku hanya sebagai kurir.

Ridwan menerima surat itu dengan menatapku curiga.

“Kenapa liatin aku begitu?” tanyaku.

“Kayaknya sudah ada yang baca surat ini, deh,” selidik Ridwan.

“Siapa?”

“Tahu deh siapa,” Ridwan malah balik nanya.

“Oh, maksudnya… aku?”

“Siapa lagi?”

“Buat apa aku buka surat itu?”

“Tahu deh buat apa?”

“Ah, sudah ah, ngaco!” aku meninggalkan Ridwan dengan surat itu. adzan maghrib sayup-sayup terdengar, bersaing dengan bunyi teko yang menandakan air sudah matang, Uh, begini deh kalau mitra kerja cowok semua. Suruh nyiapin minum-lah, nyapu-lah. Kayak jadi ibu rumah tangga aja padahal nikah aja belum.

Malam ini hujan cukup deras, apotek pun jadi sepi tak seperti biasanya jadi ada waktu senggang untk bersantai. Aku ngobrol dengan Ridwan di ruang racik sementara Om Itok asyik dengan game di ruang HV.

“Kenapa kamu nggak ngelanjutin kuliah?” tanya Ridwan.

“Bukannya enggak tapi belum,” jawabku. “Belum ada biaya maksudnya.”

Ridwan manggut-manggut.

“Sepertinya aku harus membiayai kuliah apotekerku sendiri,” lanjutku.

“Kenapa? Apa orang tuamu tidak bisa membiayai?”

“Nggak tahu, ya. Waktu aku minta uang sama bapak untuk kuliah apoteker, Bapak bilang tidak ada uang. waktu aku ngeyel, Bapak bilang,’kalau gak ada uang, terus kamu mau apa?’” agak emosi aku waktu ingat hal itu. aku kecewa banget sama sikap Bapak. “Kalau tidak ada uang terus kamu mau apa? Pertanyaan yang bodoh, kan?”

“Kenapa bodoh? Bukannya Bapakmu memang mengatakan yang sebenarnya? Dia memang sedang tidak punya uang.”

“Hei, Mas. Orang tua  pasti akan melakukan apa saja agar anaknya bahagia. Apalagi ini, niatku sudah bagus mau kuliah lagi. Orang tua lain pasti sudah mengusahakan agar keinginan itu tercapai. Utang sana-sini, kek. Jual apalah gitu… tapi ini? Malah mengajukan pertanyaan konyol!”

“Itu bukan pertanyaan. Itu tantangan! Kamu harus bisa menjawab tantangan itu!”

“Makanya itu aku kerja. Selama ini gaji bulananku selalu kutabung untuk biaya kuliah nanti. Itulah usahaku untuk menjawab tantangan itu.”

“Bagus! Aku yakin kamu bisa!”

Hujan di luar semakin deras saja. Beberapa pelanggan datang tapi rata-rata hanya membeli obat bebas dan obat bebas terbatas, om Itok yang di depan cukup bisa mengatasi keadaan.

“Ngomong-ngomong, gimana surat Mbak Dinar? Sudah  dibaca?” entah kenapa aku teringat surat yang kuberikan pada Ridwan tadi sore.

“Ehm.. begitulah… .”

“Bagaimana menurut, Mas? Mau menghubungi Mbak Dinar?”

“Untuk apa?”

“Memangnya Mas nggak pengen tahu kabarnya gitu?”

“Enggak!”

“Atau jangan-jangan Mas lebih suka sama Mira? IYa, kan?”

“Hush, ngaco!”

Ridwan terlihat serba salah. Aku semakin semangat menggoda. “Cie cie. Ngaku aja, Mas.” Ku cubit dia.

“Eh, kok cubit-cubit? Aku balas, nih!”

Ya ampun. Perasaan aku nyubit nggak sekeras itu tadi? Cubitannya mirip cewek! Ih, dia cekakakan lagi… Om Itok yang di depan sampai ikut nimbrung. “Ada apa, sih? Kayaknya seru banget!”

“Ini, nih, Om. Katanya Mas Ridwan mau dijodohin sama Mira.”

Hahaha. Biar tambah malu, dia.

“Eh, yang benar saja, dik? Jangan ngaco, ah!”

“Alah, jangan kura-kura dalam perahu!”

Om Itok menengahi. “Ya, sekarang gimana Pak Ridwan-nya saja. Mau nggak sama Mira.”

Sok bijak kamu, Om.

Aku memutar-mutar jari telunjuk di depan hidung Ridwan.

“Apaan, sih?” elaknya. “Sik sik, to. Kamu tahu berita itu dari mana?”

“Dari Mbak Dinar,” jawabku.

“Dinar dapat berita itu dari mana?”

“Dari Mbak Rani.”

Aku dan Om Itok bersorak. Ridwan jadi mati gaya. “Jangan gitu dong, Dik. Ntar kalau ada cewek yang naksir aku, kecewa lagi kalau dengar berita bohong itu.”

“Emang siapa ceweknya?”

“Tahu, deh. Siapa tahu ada.”

Huuuuu!!! Aku dan Om ITok semakin keras mengejeknya. Wajah Ridwan semakin mirip kepiting rebus.

 

—oOo—

 

Pagi ini seperti biasa. Jalanan Solo semakin padat dengan sepeda motor. Kemudahan proses kredit kendaraan roda dua itu, membuat semua orang berlomba-lomba memilikinya. Bayangkan saja, mereka bisa mendapatkan kredit sepeda motor dengan uang muka nol. Masalah cicilan, kalau pun akhirnya ditengah jalan tidak bisa melunasi, anggap saja uang cicilan itu sebagai biaya sewa. Orang-orang semakin gila kredit. Akhirnya pengendara sepeda angin kian sedikit, termasuk aku di antaranya. Walau pun di beberapa kota besar mulai banyak kelompok yang menggalakkan ‘bike to work’, namun hal itu sia-sia saja.

Mengendarai sepeda angin yang diharapkan mampu mengurangi polusi, justru pengemudinya terkena polusi. Lihat saja sekarang, di depanku ada truk besar yang mengeluarkan asap hitam pekat dari knalpotnya. Aku terpaksa menutup hidung.

Aku jadi teringat kata-kata dosen Kimia Lingkungan tentang asap kendaraan ini. Asap yang keluar dari mobil mewah dan tidak hitam pekat seperti yang dikeluarkan truk tadi justru berbahaya karena mengandung gas CO. Tapi walau pun  asap pekat tidak berbahaya, masih saja bisa membuatku batuk-batuk. Polusi beneeeerrrr…..

Oh ya, aku belum memberitahu kalau selama ini aku bekerja di dua apotek. Aku tahu ini menyalahi peraturan. Tapi mau bagaimana lagi? Bulan februari yang kurencanakan sebagai bulan aku memulai kuliah apoteker, ternyata gagal total. Aku harus memundurkan rencana sampai bulan September. Kira-kira bisa tidak, ya?

Target tidak mungkin tercapai jika aku hanya bekerja di satu apotek. Upah Minimum Kota yang mencapai lima ratus ribu rupiah, ternyata banyak pengusaha ritel apotek yang tidak mematuhinya. Apalagi bagi kami, Asisten Apoteker yang menurutku sebagai pegawai kelas dua di apotek. Kelihatannya sih mentereng. Kalau ditanya orang, ”Kerja di mana?” Di jawab, “di apotek!” Gak tahunya? Gajinya aja kalah ma buruh pabrik! Apa lagi kalau ada masalah, makan ati deh!

Tiga bulan yang lalu aku masih kerja di satu apotek. Ya, apotek yang diapotekeri si- Ridwan. Dan pada suatu malam… atau bahasa jawanya… Ing sak wijining wengi,… hayah!

Pada suatu malam aku bermimpi kalau nantinya aku akan diterima di suatu apotek yang pintunya berwarna abu-abu. Letak apotek itu di ujung jalan, sebelum sampai di apotek itu, aku akan melewati suatu tempat yang dihiasi rumput-rumputan. Di sana aku akan mendapatkan kamar di lantai dua dengan kamar mandi di dekat kamar itu. Kalau dilihat dari pertanda di mimpi itu, sih… aku kayaknya tahu apotek itu. Aku dulu pernah memasukkan lamaran di apotek itu tapi tidak diterima karena masih sibuk skripsi. Esoknya aku membaca iklan lowongan kerja di Koran. Aku hubungi nomor yang tertera di Koran itu. eh, ternyata benar apotek itu!

Pada waktu wawancara, aku jujur mengatakan kalau aku berniat bekerja di dua apotek untuk biaya kuliah apoteker dan ternyata PSA tidak berkeberatan. Jadilah aku bekerja di apotek yang kedua. Apoteker di sana bernama Anik dan rupanya satu angkatan sama Ridwan waktu S1 dulu.

Aku jadi ingat pada Ridwan. Rupanya tuh cowok asyik juga diajak ngobrol. Beberapa waktu yang lalu, Ridwan pernah bertanya padaku,”Eh, tahu, nggak cara termudah jadi Bu Apoteker?”

“Cara termudah  buat jadi Bu Apoteker? Apa?” tanyaku.

“Gampang! Nikah aja sama apoteker. Kamu jadi Bu Apoteker ntar.”

Dasar!

“Emange ada, Mas, Apoteker nganggur?”

“Ada!”

“Siapa?”

“Yang di depanmu ini!”

What?!  Ngelaba nih… ngelaba…

Ups! Hampir aja aku terserempet mobil. Ngelamun aja, sih… OKe! NGgak boleh ngelamun! Apalagi ngelamunkan Ridwan! Jangan sampai aku jadi korban dia berikutnya! Lebih baik nyanyi aja deh… Lagu apa ya, enaknya? Yang membangkitkan semangat gito, lho…

Ini aja, deh…

“Hai, mujahid muda… maju ke hadapan! Singkirkan penghalang… satukan tujuan!”

 

—oOo—

 

Saat Anik datang, seperti biasa aku dan Pak Tris sudah sibuk dengan pembeli dan sales dari beberapa PBF. Sejenak kami mencuekkan Anik. Bukannya marah, tapi mau gimana lagi, kerjaan banyak. Bahkan kegiatan stok barang pun terhenti karena banyaknya pengunjung. Jika dibandingkan denganku, beban kerja Anik di apotek memang lebih ringan karena itu Anik selalu datang belakangan. Sesampai di apotek, dia sudah sibuk dengan tugasnya, menanda-tangani SP dan kopi resep, kadang ikut bantu nyetok.

Saat kesibukan berlalu. Barulah kami bertegur sapa. Biasanya pas jam makan siang, kami bicara ngalor-ngidul. Kadang obrolan tidak nyambung… malah nyasar di tema obrolan seks bebas lagi…

“Kamu pernah lihat video porno, Fit?”

Ups! Kenapa Pak Tris tanya itu, ya? Tentu saja aku menggeleng. “Belum, Pak.”

“Kalau kamu?” Pak Tris menoleh pada Anik.

Anik juga menggeleng. “Menurutku hal semacam itu terlalu pribadi, jadi tidak perlu jadi konsumsi public.”

Tiba-tiba saja aku teringat pada Ridwan. Ridwan lagi… Ridwan lagi… . “Oh, Iya, Pak. Beberapa waktu yang lalu Ridwan tiba-tiba saja tanya…, bagaimana, ya… wanita itu memulai hubungan seks, padahal dia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya?”

“Maksudnya waktu malam pertama, gitu?” tanya Pak Tris.

“Iya!”

“Kayaknya… dalam berhubungan seks, cowok harus lebih dominan. Apalagi pas malam pertama dan pasangan belum pernah ada gambaran tentang hal itu,” kata Anik.

“Oh, gitu…,” aku-nya manggut-manggut.

“Betul juga, sih,” Pak Tris menimpali. “Tapi malam-malam berikutnya, sang istri harus bisa ‘menegakkan’ suami.”

Maksud loe????

“What! Gampang, Pak itu. Biar tegak gampang!” yakinku.

“Gimana?”

“Tahan aja pake kawat. Dijamin tegak, deh!”

Gerrrr!!! Jadilah mereka berdua terpingkal-pingkal.

“Dasar kamu, Fit. Gak pake beton sekalian?”

Aduh, Pak Tris malah tambah ngaco. Kirain aku sudah super nagco deh tadi.

“Sepertinya aku punya cerita unik buat kalian. Fitri dan Anik, dengar kan baik-baik, ya…”

Wah, apa ini?? Kayaknya Pak Tris mulai serius.

Ing sak wijining dino… hayah!

“Pada suatu masa ada seorang gadis berusia… ya… kira-kira empat belas tahun lah. Tahu sendiri kan… jaman dahulu itu, kalau gadis sudah di usia segitu pasti dinikahkan. Nah, itulah yang terjadi pada gadis itu. Dia dinikahkan dengan pria yang berusia tujuh tahun di atasnya. Ya… seperti kalian ini… sang gadis itu tidak tahu sama sekali masalah malam pertama. Lalu dia minta penjelasan pada Ibunya tentang malam pertama.

Agak susah juga sang Ibu menjelaskan. Terlalu banyak symbol dan sandi. Tahu sendiri kan wanita jaman dulu agak kikuk kalao bicara masalah kayak gitu. Sang gadis tetap saja tidak ngerti. Dijelasin gimana pun tetep nggak ngerti.. eh… malah takut… minta ditemenin Ibunya lagi pas malam pertama.”

Gubrak!

“Akhirnya … saking jengkelnya… sang Ibu berkata, ‘Oke, gini aja! Besok pas malam pertama… kamu sama suamimu ada di kamar… aku akan berdiri di depan pintu kamar jadi kalau ada apa-apa kita bisa langsung ambil tindakan. Kamu kasih kode Ibu dari dalam. Kalau suamimu melakukan ini, kamu teriak, MANGGA! Kalau ini.. teriak PEPAYA!…’ dan seterusnya sampai semua nama buah-buahan disebut, bahkan dicatat dan dihafalin ama si gadis.”

O’on amat itu Ibu?

Aku dan Anik manggut-manggut aja.

“Nah, singkat cerita… jadilah malam pertama. Seperti perjanjian, sang Ibu mendengarkan dibalik pintu. Pertama kali sang gadis teriak dari dalam, MANGGA! Sang Ibu manggut-manggut, OH… BERARTI LAGI ITU….terus di dalam teriak lagi, PEPAYA! Manggut-manggut lagi itu Ibu. Terus lama-lama kok teriakkannya jadi RUJAK! RUJAK!”

Pak Tris cekikikan. Aku sama Anik malah bengong.

“Kok rujak?” tanyaku.

“Iya, kok Rujak, Pak?”

“Iya, dong… Rujak kan campuran dari buah-buahan tadi.”

Oh… gitu, to…Aku dan Anik tertawa. Telat sih ketawanya… namanya juga satelit kurang tinggi.

Akhirnya kisah itu sampai juga di telinga Ridwan. Tidak seperti si O’on aku dan Anik, Ridwan langsung tertawa.

Sudah pengalaman nih, kayaknya…

“Lucu juga ceritanya, Dik.”

“Lucu, ya? Tapi aku rasa cerita itu gambaran masyrakat kita. Selama ini masalah seks begitu tabu dibicarakan karena itu pendidikan seks kurang berkembang di sini. Bersamaan itu, kondisi moral bangsa semakin menurun akhirnya, banyak ABG yang terlibat seks bebas. Banyak yang hamil di luar nikah, pengguguran bayi illegal, kasus HIV-aids lah. Ya, walau pun semua itu ibarat fenomena gunung es, sih.”

“Iya juga, sih.. dan semua itu berawal dari satu kata ‘TABU’. Saat anak berbeda pendapat dengan orang tua, mereka bilang tabu juga. Padahal belum tentu pendapat orang yang lebih tua benar dan pendapat anak muda salah. Masih ingat pelajaran filsafat ilmu, gak?”

“Yang mana, Mas?”

“Seorang anak tiba-tiba malas pergi ke sekolah. Orang tuanya bingung dan bertanya kenapa tidak mau sekolah. Anak itu bilang dia nggak suka sama bu Guru karena BU Guru plin-plan. Dua hari yang lalu Bu Guru bilang empat itu dua dikali dua, tapi kemaren Bu guru bilang kalau mepat itu tiga ditambah satu., besoknya… gak tahu, deh. Terus yang benar yang mana?”

“Oh, yang itu…,”

“Seru banget ngobrolnya. Ada resep, nih!” Om Itok masuk ke ruang racik dan menyodorkan resep.

Aku semakin dekat dengan Ridwan. Sebagai anak sulung, aku merasa menemukan figure seorang kakak darinya. Tak ayal kedekatanku dengan Ridwan didengar Mira. Tentu saja Mira yang sudah lama menaruh hati pada Ridwan cemburu pada kedekatan kami. Hubunganku dengan Mira yang selama ini kurang baik pun tambah kacau karena Ridwan. Itu juga selalu jadi pembicaraan antara aku dan Ridwan.

Ridwan malah secara jujur menceritakan apa yang dikatakan Mira waktu dia bertanya kenapa tidak pernah ke apotek lagi.

“Mira bilang kalau dia cemburu karena aku dekat sama adikku terus,” kata Ridwan.

“Adikmu? Maksudnya aku?” tanyaku.

Ridwan mengangguk.

Hiya!!! Ada-ada aja… aku di sini tuh niatnya buat kerja. Mau cari uang buat biaya kuliah! Tapi lama-lama aku kawatir juga. Kawatir kalau sang empunya apotek yang juga kakaknya Mira jadi nggak obyektif menilai kinerjaku. Jadilah aku curhat sama Ridwan. “Aduh, Mas. Gimana nih? Mira itu semakin jutek aja sama aku.”

“Cuekin aja, Dik. Lagian PSA di apotek ini kan kakaknya, bukan dia.”

“Tapi kalau masalah ini sampai ke telingan kakaknya dan berpengaruh pada kinerjaku?”

“Nggak mungkin! Yang jadi manajer di Apotek ini kan aku. Aku apoteker pengelola apotel di sini. Jadi akulah yang menilai!”

Yah… enak juga ya… jadi apoteker… doakan aku cepat nyusul deh…

Aneh-aneh saja. Nggak papa… alhamdulilah… aku kuat di apotek itu sampai perkuliahan apoteker di mulai bulan September. Dan Mira… Apa dia berhasil mendapatkan Ridwan? Tidak! Ridwan menikah sama kakak kelasku waktu SAA. Rasain kamu, Mir… . Jadi cewek segitunya, sih… suka sama Ridwan sampai membenci semua cewek yang dekat sama Ridwan. Ya aku… ya Mbak Dinar… padahal kita kan murni ‘friendship’. Hayah!

Itu adalah sekilas ceritaku waktu jadi Asisten Apoteker di tahun 2005. Semoga menjadi pembelajaran bagi yang membacanya.  Ada kalanya aku down… saat melihat teman-temanku yang bisa langsung meneruskan kuliah apoteker padahal IPK mereka dibawahku. Apalagi melihat mereka yang kemana-mana naik sepeda motor bahkan mobil sedangkan aku Cuma naik sepeda angin. Pada saat itulah aku melihat filmnya Richard Gere yang berjudul “Red Corner”.  Di film itu, dikisahkan Richard Gere dituduh membunuh putri seorang pejabat di Cina dan yang membelanya adalah seorang pengacara wanita China. Sosok pengacara wanita itu yang meninggikan semangat saya lagi. Wanita cina itu dengan gigih membela kliennya di antara intrik politik negeri tirai bambu itu. Seorang  wanita sederhana yang kemana-mana selalu naik sepeda, tapi dibalik kesederhanaan itu… ada kecerdasan di sini… di dalam kepalanya.

Selalu ada jalan bagi orang yang berusaha. Sekian … Terima kasih….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s