THE SECRET II (Temptation of Island — Part 8)

THE SECRET

(Temptation of Island)

Part 8

Angin pantai menelisir wajah Antoine saat Charlie berlari-lari kecil ke arahnya. Ada sedikit kekawatiran menyelinap saat melihat tingkah wanita itu. Kandungannya mulai kentara, Antoine memberikan peringatan padanya dan sepertinya tidak digubris. Kabar angin yang terdengar seakan lebih penting dari pada keadaannya sendiri. Kabar kembalinya Robert Cassidy dan Brian ke Seoul hari ini.

“Charlie, Stop! I’ll go there!” suara jengkel Antoine mengalahkan debur ombak yang menghempas. Para pelaut menoleh pada Charlie. Seakan dijadikan tontonan, Charlie berhenti, menghentak-hentakkan kaki tidak sabar.

Antoine berdiri di depannya dan segera kabar itu terucap dari mulut Charlie. “Kau dengar kabar itu? Cassidy telah menarik separuh kapalnya dan kembali ke Seoul!”

“Apa?” Antoine yang belum mendengar kabar itu terkejut.

“Brian tadi menelphonku. Dia menyayangkan keputusanku agar dia tidak ikut campur,” Charlie mendongak, menatap Antoine yang lebih menjulang darinya. Diremasnya kemeja di dada Antoine. “Antoine, apa maksud semua ini? Aku tidak pernah mengatakan agar Brian tidak ikut campur. Kenapa dia bilang begitu?”

Kening Antoine berkerut. “Kau pernah bertemu Brian sebelum ini?”

“Tidak pernah,” Charlie menggeleng, “Hanya percakapan lewat telephon, itu pun, aku bersumpah, tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu. Sejujurnya bantuan Brian sangat aku butuhkan.”

“Brian bekerja atas perintah Robert. Hanya Robert yang bisa menjelaskan semuanya.. Ayo!”

Antoine memapah Charlie ke arah pavilyun Robert. “Mau kemana?” pertanyaan Charlie membuat mereka berhenti sebentar.

“Menemui Robert.”

“Mereka menuju bandara sepuluh menit yang lalu.”

“Kalau begitu, kita harus bergegas menyusul mereka.”

Menyusul kedua orang itu,  Antoine benar-benar tak bisa mengikuti jalan pikiran Robert. Hanya sependek itukah wujud tanggung jawab Robert terhadap kecelakaan yang menimpa Camille? Jika memang waktu bagi pewaris Bouwens Inc itu untuk kembali ke Seoul sudah tiba, setidaknya dia bisa pergi sendiri. Tanpa Brian, dan tanpa menarik separuh kapal.

Antoine melirik Charlie yang membisu selama perjalanan ke bandara. Sang sopir sepertinya sudah terbiasa dengan kemacetan kota. Besok adalah perayaan Nyepi. Jika mau keluar dari Bali dengan menggunakan transportasi udara, inilah saatnya, membuat lalu lintas semakin merayap.

“Antarkan istriku ke lobi, aku harus masuk duluan.” Antoine membuka pintu mobil dan keluar, padahal jarak menuju pelataran Bandara masih beberapa meter lagi.

“Antoine,” panggilan Charlie pun tidak dia hiraukan. Pria jangkung itu sudah lari menjauh. Charlie mendengus sambil mengusap perutnya, pandangannya tak lepas dari iring-iringan mobil di depan mobilnya yang sama-sama akan memasuki lobi Bandara.

Tinggal lima menit lagi pesawat yang akan ditumpangi Robert tiba. Antoine mencari pria itu di VIP launch. Pandangan matanya menangkap sosok dua orang pria berkulit kuning di salah satu sudut ruangan. Sangat kontras dibanding warna kulit  para turis ras Kauskasia ataupun kulit wisatawan domestik.

“Cassidy.”

Robert mendongak. Antoine langsung memberondongkan pertanyaan. “Ada apa sebenarnya? Apa maksudmu dengan Charlie yang menginginkan Brian tidak ikut campur?”

Brian pun menatap keduanya dengan kening terlipat. Merasakan kecurigaan Brian, Robert berdiri dan berbisik di telinga Antoine. “Ini hanyalah cara agar pemuda itu mau pulang.”

Antoine melirik Brian. “Memangnya kenapa?”

“Pemuda itu… kau pasti ingat, kan?” Robert memandang lurus ke mata Antoine. Antoine menyipitkan mata sementara berpikir. Setelah tahu maksud isyarat Robert, Antoine menggeleng. “Tidak mungkin!”

Robert mengangguk, “Iya.”

Ada bayangan-bayangan masa lalu yang mulai menghantui kepala Antoine. Terakhir kali mereka bertemu dengan Brian kecil adalah sehari sebelum Camille lahir. Seharusnya Charlie tidak boleh melihatnya lagi, atau pun Ayah anak itu… atau…. Atau…

“Antoine,” Charlie muncul kemudian. Ketiga pria itu menatap dengan perasaan masing-masing. Robert yang ketakutan jika kebohongannya pada Brian terbongkar. Antoine yang tiba-tiba ketakutan jika Charlie terus berinteraksi dengan Brian dan Brian sendiri melihat Charlie sebagai dewi penolong yang bisa mengurungkan perintah Robert agar dia kembali ke Seoul.

Masih dengan kekawatiran, Robert berbisik pada Antoine. “Urus dia dengan baik. Jangan sampai dia tahu semuanya.”

“Nyonya d’ Varney, senang sekali anda menghantarkan kepergian kami,” Robert membungkuk pada Charlie, menawarkan basa-basi ala Korea.

“Kenapa kau menarik separuh kapal?”

Bersamaan itu, pengumuman tersedianya pesawat  terdengar. Seakan diselamatkan oleh keadaan, Robert berkata lega,”Saya sudah menjelaskan segalanya pada suami Anda, Nyonya. Dengan rendah hati saya mengaku kalau sedang kesulitan dana sekarang. Jangan kawatir. Kapal yang disewa oleh suami anda sudah lebih dari cukup.”

Charlie menaikkan alisnya. Robert melihat hal itu dan teringat sosok Charlie Bouwens. Charlie sudah menaruh curiga, mereka harus segera pergi dari Charlie. “Brian,” panggil Robert agar pemuda itu segera mengikutinya menuju pesawat. Brian yang menurut, berjalan di belakang Robert dengan menarik dua travel-bag di tangan kanan-kirinya. Satu miliknya, satu kepunyaan Robert. Saat melewati pasutri itu, Brian membungkuk hormat lalu melangkah lagi.

Tinggal Antoine saja yang tersisa di depan Charlie. Pandangan wanita itu menuntut jawaban dari suaminya. Antoine merangkulnya kemudian. “Kita kembali ke pavilyun.”

“Tidak! Sebelum kau jelaskan semuanya,” Charlie membebaskan diri dari rangkulan Antoine lalu melipat kedua tangan di dada. Antoine menggaruk-garuk tengkuk kepalanya sendiri untuk menghilangkan kegugupan. “Seperti yang dikatakan Robert tadi.”

“Lalu Brian?”

“Brian adalah tangan kanan Robert. Jasa Brian sangat dibutuhkan di Seoul.”

“Lalu yang katanya aku menginginkan Brian tidak ikut campur?”

“Itu hanya akal-akalan Robert agar Brian mau kembali ke Seoul.”

Charlie menghela nafas setelahnya. “Oh, jadi seperti itu?”

Senyum Antoine seperti dipaksakan, tapi setidaknya Charlie sudah mau dirangkul lagi. “Iya, sekarang kita kembali. Kau harus tidur siang, kalau tidak bayi ini akan protes lagi.” Tangan Antoine yang bebas mengelus perut buncit Charlie.

“Brian yang malang. Dia begitu penurut di depan Robert Cassidy.” Bukannya segera jalan, Charlie malah kepikiran Brian. “Aku bisa lihat kalau pemuda itu enggan meninggalkan Bali. Dia bersungguh-sungguh dalam mencari Chamille. Sayang…,” Charlie menatap wajah Antoine. “Kau yang lebih tahu interaksi pemuda itu dengan Camille selama di Seoul. Apakah Camille juga tertarik dengannya? Jika iya…, akan lebih baik jika Brian menjadi calon menantu kita.”

“Kau bicara seolah Camille ditemukan besok,” Antoine mulai membimbing Charlie meninggalkan ruang tunggu.

“Besok kita mulai mencari tanpa mereka.”

Antoine menggeleng,”Tidak! Besok perayaan Nyepi. Semua kegiatan terhenti selama dua puluh empat jam.” Charlie menatap Antoine dengan pandangan kurang paham. “Nanti aku jelaskan diperjalanan.”

Brian sebagai menantu keluarga d’ Varney? Dalam hati Antoine berkata tegas, tidak!

Sementara itu, Brian dan Robert  sudah berada di dalam pesawat yang menembus mega. Tidak seperti biasanya, Robert lebih menikmati penerbangannya saat ini. Dia tertidur. Hal yang jarang Brian temui jika bepergian dengan bos-nya itu. Robert selalu disuguhi dengan file-file yang harus ditanda-tangani di atas pesawat, atau menghafalkan pidato untuk pembukaan event. Tapi sekarang lain, pria super sibuk itu tertidur. Janggal memang, apalagi jika ditilik kepergiannya saat ini. Tanpa pesawat pribadi dan setengah lusin asisten seperti biasanya. Hanya ada Brian di situ. Sangat kentara jika kepergian itu terburu-buru.

Brian memandang awan dari balik jendela pesawat. Pulau Bali telah tertinggal beberapa kilo meter dibawah mereka. Sebentar lagi kesibukan di Seoul menanti. Brian tidak tahu bagaimana harus kembali ke masa itu, meninggalkan impiannya atas Camille. Walau pun gadis itu mungkin sudah mati dimakan ikan seperti anggapan orang-orang lokal Bali, seperti halnya Charlie, Brian percaya kalau Camille masih hidup. Brian bisa merasakannya. Setiap malam, gadis itu menghantui tidurnya, menyerukan keinginan agar Brian tak berhenti mencari. Hanya tinggal satu kapal yang ada dibawah komandonya dan itu pun juga dibawah komando Charlie. Tanpa uang Robert Cassidy, kesembilan kapal itu ditarik karena kehabisan dana. Brian mengutuki kemiskinannya.

Bayangan Camille datang lagi di angannya. Senyum lebar Camille saat dia mengajak gadis itu di Namsan Tower. Dia sudah benar-benar jatuh cinta waktu itu. dia jatuh cinta pada karakter Camille yang apa adanya. Spontanitas Camille yang selalu menunjuk jika ada obeyek menarik yang terlihat dari kereta gantung sembari berucap,”Look! So tiny from here.” Dan dia tersenyum. Camille belum begitu fasih berbahasa Halyu. Beberapa kalimat bahkan serasa lucu terdengar, namun dalam sehari peningkatan ‘conversation’nya bertambah.

“What is lover gate?” tanya Camille saat menuruni kereta gantung.

“Lover gate? Jembatan cinta,” jawab Brian asal. Camille memberikan jotosan kecil di bahu pria itu. “I know it! Maksudku kenapa diberi nama seperti itu?”

“Kau ingin tahu?”

Camille mengangguk.

“Ayo, ikuti aku,” Brian menarik lengan Camille menuju jembatan cinta. Sepertinya Camille cukup cerdas menangkap maksud ‘lover gate’ saat melihat jembatan itu. gembok-gembok yang dikaitkan hampir memenuhi besi pembatas jembatan. Camille bahkan mengeja salah satu nama di situ. “Kim… Sang..

“Kim Sang Gun,” potong Brian.

“Yah, kau mengacaukan belajar membaca huruf Halyu-ku.” Camille jadi cemberut. Brian terkekeh melihatnya. Namun mata Camille mengerjap kemudian. Brian agak kikuk.

“Jadi …. Pasangan-pasangan itu mengaitkan gembok di sini, lalu membuang kuncinya di laut agar hubungan mereka abadi, begitu?”

Brian mengangguk. Seolah memikirkan sesuatu, Camille mengetuk-ketukkan jari telunjuk di bibirnya. “Bagaimana kalau kita mengaitkan gembok kita?” Brian terbatuk-batuk mendengarnya.

“Hei, jangan berlebihan begitu,” Camille menyenggolkan bahu kanannya ke bahu kiri Brian. Kedua tangannya masih meraba satu persatu gembok yang ada di situ. “Kita bukan pasangan,” kilah Brian.

“Kita pasangan, kok. Pasangan teman, kan?” Camille menatap mata Brian. Brian memalingkan pandangan dari Camille. “Tidak harus pasangan kekasih, kan? Persahabatan yang tulus juga impian setiap orang.”

Brian masih saja menatap pemandangan di bawah jembatan. Pasangan sahabat? Benarkah bisa mengkaitkan gembok di jembatan? Mungkinkah persahabatan itu berubah jadi cinta?

“Ah, aku tak mau tahu,” Camille menyeret lengan Brian.

“Kemana?” tanya Brian.

“Mencari gembok, tentu saja!”

Dan gembok mereka pun terpasang. Bersama gembok-gembok pasangan lain. Gembok dengan nama mereka berdua. Brian pun berharap jika nantinya cintanya bersambut. Sedangkan Camille… sampai saat ini perasaan gadis itu masih misteri  bagi Brian. Hanya Camille yang bisa menjawab kegundahannya jika gadis itu ditemukan utuh dan sehat. Jika tidak, mungkin misteri itu akan terkubur bersama ikan-ikan di perairan Nusa Dua.

—oOo—

Mereka benar-benar melakukan sumpah di depan salib. Pagi hari itu adalah awal yang baru bagi keduanya. Camille menyeret Kwang ke depan salib. Antusias dan percaya diri. Kwang yang agak ragu pun menengadah ke salib yang menjulang beberapa centi dari mereka. “Lalu… apa yang harus aku lakukan?”

Camille tersenyum dan menyenggol bahu Kwang. “Bersumpahlah.”

“Demi apa Camille? Kau tahu kan…

“Ya ya ya,” Camille menggerakkan bola mata jengkel. Udara terhembus dari hidungnya di atas mulut yang dimonyongkan karena kesal. Telunjuk Camille terarah pada Kwang kemudian. “Oke, aku dulu yang bersumpah dan kau harus mengikutiku.”

“Terserahlah,” Kwang menggedikkan bahu. Camille mulai menatap serius salib yang berdiri kokoh. Perlahan tangan kanannya menggapai pergelangan tangan kiri Kwang. Kwang menoleh saat merasakan tangan hangat Camille menggenggam tangannya dan mendengar gadis itu mengucapkan sumpah setia. “Aku, Camille Louis d’Varney bersumpah untuk menjadi istri Shin Hyun Kwang. Selalu bersamanya dalam suka dan duka sampai ajal memisahkan kami berdua.”

“Jadi kalau aku mati, kamu kawin lagi?” tanya Kwang. Camille langsung melotot. Kwang telah mengacaukan suasana khidmat yang sedang dia bangun. “Pertanyaan macam apa itu?” Kuku panjang Camille mencubit. Kwang meringis sambil mengelus bekas cubitan Camille di lengannya.

“Giliranmu,” perintah Camille.

“Oh, oke..,” Kwang berdehem sebab dirasa tenggorokannya mengering. “Seperti tadi, kan?” Camille tambah melotot. Kwang masih saja bercanda. “Oke, oke… dengarkan ini, Cantik.”

Tidak seperti Camille, Kwang memilih menatap wajah Camille saat mengucapkan sumpah. Perlahan kedua tangannya menangkup wajah Camille. Mata lebar Camille mengerjap tepat dibawah pandangannya, sinar keemasan cahaya pagi terpantul di rambut Camille yang coklat kemerahan. Udara pagi dan rasa malu menyebar di pipi gadis itu, mamunculkan rona kemerahan yang menambah kecantikannya. Dan Ya… Kwang bersumpah. Kwang bersumpah demi cinta mereka.

“Aku, Shin Hyun Kwang bersumpah untuk menjadi suami Camille Louis d’Varney. Selalu bersamanya dalam suka dan duka sampai ajal memisahkan kami berdua.”

Kwang membungkuk, menggapai bibir Camille. Ciuman hangat menggetarkan jiwa Camille di pagi hari. Liar, kasar dan menuntut. Benar-benar membuat Camille sesak nafas. Kwang mendengar Camille yang megap-megap bagaikan ikan yang dikeluarkan dari habitat airnya, sedangkan tubuh Camille bergolak di dadanya, bisa dipastikan kaki gadis itu sudah kehilangan daya menyangga. Mungkin sudah jatuh tersimpuh jika lengan Kwang tidak melingkari punggungnya. Saat Camille benar-benar menyerah, Kwang melepaskan ciuman dan menatap wajah pengantinnya yang semakin memerah.

“Masih kuat berdiri, Sayang?”

Tentu saja tidak. Camille benar-benar lemas. Kwang tersenyum menggoda.

“Kau membuatku sakit. Gendong aku!”

Kwang terkekeh mendengarnya. “Oke,” pria itu membelakangi Camille lalu berjongkok. “Naiklah ke punggungku.”  Kwang bisa merasakan Camille langsung memeluk punggungnya. Pria itu berdiri, menggendong Camille di punggungnya menuju rumah pohon.

“Kau tahu … seperti inilah pertama kali aku mengangkatmu di pulau ini,” Kwang menceritakan awal mereka terdampar di pulau ini. Camille yang menikmati punggung Kwang, menempelkan pipinya mencari kehangatan. “Benarkah?”

“He-eh,” Kwang mengangguk, dia merasakan senyum Camille di balik punggungnya.. “Tapi dengan posisi kepala di bawah,” sambungnya sambil tertawa. Jotosan Camille terasa kemudian. “Jahat sekali.”

Tawa Kwang semakin berderai. “Kau berat sekali waktu itu. Sekarang juga berat tapi tidak seberat dulu.”

“Pulau ini membuat berat badanku menyusut.”

“Tidak,” sanggah Kwang. Mereka sudah sampai di depan rumah pohon. “Mungkin karena waktu itu, aku mengangkatmu dalam keadaan bingung.” Kwang merendahkan tubuh hingga Kaki Camille bisa  menapak sendiri di tanah lalu menghadapi gadis itu yang sudah meletakkan kedua tangan di dadanya. “Dan sekarang…, dalam keadaan apa kau mengangkatku?”

Kwang mencium kening Camille. “Dalam keadaan bahagia, tentu saja.” Camille pun menghambur ke pelukan Kwang. “Oh, Kang… aku benar-benar mencintaimu. Sungguh!” Kali ini gadis itu yang membuat Kwang sesak nafas.

Kwang mengelakkan tubuhnya dari rangkulan Camille. “Ehm, tidak-tidak! Jangan katakana kau akan pergi dariku pagi ini,” Camille mempererat pelukan.

“Jika tidak bekerja, kau harus terima hanya makan pisang seharian, Camille.”

Namun kepala gadis itu masih menyender di dadanya. Saat Kwang menunduk, dia yakin kalau mata Camille memejam. “Aku tidak mau memasak hari ini. Kita makan diluar saja, yuk!” Kwang terkekeh saat mendorong tubuh Camille demi melepaskan pelukannya. “Kau semakin ngacau.”

Makan di luar? Memangnya ada restoran buka di pulau?

Camille mendengus. Kwang mulai meraih tas anyaman yang berisi perlengkapan berburu. Dia berkata ketus saat tas anyaman bertengger di punggung Kwang,”Aku mau makan daging kelinci malam ini!”

Kwang menoleh,”Jika kau masih menahanku, elang akan mendahuluiku memangsa kelinci.”

“Setidaknya itu sepadan karena kau meninggakanku di hari pertama pernikahan.” Camille melipat tangannya di dada, mendongak dengan congkak. Kwang menggeleng-gelengkan kepala, tertawa keras. “Lucu sekali,” katanya sambil mengucek puncak kepala Camille seperti anak kecil.

“Aku pergi,”

Camille mendengus lagi.

Pulau ini menjanjikan pemandangan eksotis bagi pengantin baru tapi juga neraka kelaparan bagi orang-orang yang malas bekerja. Tidak ada layanan hotel bintang lima di sini. Semua tersedia, tapi mereka harus berusaha meraihnya. Tidak ada istilah ‘meminjam tangan’ atau pun ‘bantuan’.

Ambillah sendiri atau tidak sama sekali!

Camille sudah bisa menerima cara berpikir Kwang saat membakar ubi jalar di depan pondok. Jika tidak bekerja, jangan harap bisa makan! Atau makan saja pisang-pisang persediaan itu, membiasakan diri bertingkah laku seperti monyet dan bersiap-siap mendapat serangan migraine. Tindak-tanduk Kwang adalah wujud tanggung-jawabnya terhadap diri Camille, dan Camille berusaha memenuhi tanggung-jawabnya sendiri. Camille tersipu di depan bara api. Memikirkan bagaimana dirinya sebelum terdampar dan siapa dirinya sekarang, seorang istri yang memikirkan tanggung-jawab. Dia harus kensekuen dengan langkah yang telah diambil.

Camille berdiri lalu masuk pondoknya. Rumah pohon itu perlu sentuhan feminine, setidaknya malam ini. Malam pertama mereka. Rona merah semakin melebar ke cuping telinga Camille. Dia menuruni tangga tergesa-gesa. Berjongkok di depan bara api demi mengambil ubi jalar yang sekiranya telah lunak untuk ditaruh di tempat penyimpanan lalu menuju hutan setelah memadamkan api.

Sifat melankolisnya lebih menonjol sekarang, saat dia mengumpulkan bunga-bunga liar yang dia kempit di telapak tangan kirinya. Sikap ilmiahnya lenyap sudah, dia tidak menganalisa dari familia, atau spesies apa bunga itu seperti biasanya. Masa bodoh, lah. Yang dia perhatikan adalah keindahan, keharuman dan kepantasan bunga-bunga itu menghiasi pondoknya.

Dan Camille pun melakukannya. Pondok dengan sentuhan feminine. Dia mengingat-ingat apa saja yang Charlie lakukan ketika menghias rumah. Melakukan ‘Mom’s miracle’, seperti yang dikatakan Charlie. Rumah yang kusam pun jadi serasa hangat karena ‘mom’s miracle’ dan Camille menikmatinya saat berbaring sejenak di tempat tidurnya, meluruskan punggung setelah seharian menghias rumah.

“Home sweet home,” desah Camille menirukan kalimat Kwang ketika melihat pondok ini pertama kali. Senyum sipu menghias kemudian, dia membenamkan wajahnya ke tempat tidur. Malu sendiri dengan buah pikirannya.

Saat dia menatap langit-langit kembali. Udara semakin panas. Camille bangkit sambil mengibas-ngibaskan tangannya di dada lalu keluar pondok menuju air terjun.

Kwang sampai di pondok sepuluh menit kemudian. Sepi!

Tidak ada senyuman istri menyambut? Kwang tertawa sendiri sambil menggelengkan kepala, menghalau pikiran itu. Dikeluarkannya kelinci hasil buruannya dari dalam tas lalu disembelih dan dikuliti. Camille pasti tidak tega memakannya jika melihat pembantaian ini karenanya dia selalu menghindari dari Camille saat mengurusi hasil buruannya. Biasanya Camille tinggal memasak sambil berkicau, menanyakan ‘daging apa ini?’ atau ‘dimana kau mendapatkannya?’ tapi siang ini, Kwang ingin membebaskan Camille dari kewajiban memasak karena Kwang sendiri yang akhirnya memanggang daging kelinci itu.

Kelinci panggang sudah siap, namun Camille tidak juga nampak. Rahang Kwang mengeras saat meletakkan kelinci panggang itu di tempat penyimpanan, setelah melewati ruangan pondoknya yang tidak seperti biasanya. Ruangan itu mengesankan, namun keterlambatan Camille membuat Kwang kesal. Apalagi rasa lapar sudah membuahkan bunyi gemuruh di perutnya. Kwang memakan ubi bakar sebagai pengganjal perut lalu mencari Camille.

Tidak susah rupanya menemukan gadis itu. Camille tengah menikmati mandinya. Kwang mengelus dada, mengucap syukur. Hari semakin panas, sebentar lagi kawanan monyet akan segera turun, Camille tidak mungkin berebut sungai dengan monyet-monyet itu. Kwang melemparkan batu kecil tepat di depan Camille, memperingatkan gadis itu pada kehadirannya.

“Sebentar lagi monyet-monyet akan memenuhi sungai. Kau harus naik sekarang!”

Camille menoleh, binar matanya terpancar seiring ulasan senyum. Rambut panjangnya yang basah menempel, melewati di kedua sisi pundaknya demi menutupi dadanya yang telanjang. Kwang terpaku sesaat lalu membuang muka. Gadis itu menyadari pesonanya sendiri. Dia tersenyum, mengerling pada Kwang saat merambat dalam air menuju Kwang. Pria itu berkacak pinggang, berdiri di atas batu pinggir sungai dengan kepala mendongak, menghindari pemandangan erotis yang disuguhkan Camille.

Dan Camille mendekat padanya, masih di dalam air mendongak. “Sepertinya kau yang harus menangkapku,” tantang Camille.

“Tidak akan!” jawab Kwang yakin.

“oh, ya?”

Camille menghentakkan kakinya, mendorong tubuhnya ke atas lalu meliuk. Air bergelepak menerima dentuman punggungnya. Kwang kawatir mendengar dentuman itu lalu memandang ke bawah, ke arah Camille yang ternyata sudah berenang gaya punggung. Tak elak lagi! Kwang kalah lagi! Sekali lagi Camille berhasil menarik perhatiannya. Kwang bisa melihat tubuh polos gadis itu  meliuk-liuk di dalam air. Saat mentari yang tepat di ubun-ubun menyinari tubuh Camille di antara aliran air, menambahkan desiran  aneh di benak Kwang untuk menjamah.

“Tangkap aku! Aku baru mau naik!” tantang Camille.

Kwang mengerang. Tangannya terkepal menahan gejolak dadanya yang turun naik. Gadis itu…? Benar-benar membangunkan singa yang sedang tidur! Tunggu! Singa siapa yang tidur?

Brengsek!

Benar saja. Satu demi satu monyet mulai menuruni tebing terjal di sisi kanan sungai. Kwang mengerang lagi sebelum menanggalkan semua pakaiannya lalu terjun ke air. Gadis itu semakin nakal saja, itulah yang ada di benak Kwang saat tubuhnya membentur permukaan air. Dia berenang mengejar Camille, dan gadis itu sengaja menyelam, menghindarinya. Kwang membenamkan diri lebih ke dalam, mencari Camille dengan pandangan yang terbatas warna biru air di sekelilingnya.

Camille sudah tidak ada. Kwang menggerakan kakinya, mendorong tubuhnya ke atas, mencari Camille dengan kepala di atas permukaan air lalu mendongak ke batu tempat dia tadi berdiri. Camille sudah menggantikannya berdiri berkacak pinggang di batu itu, polos dengan rambut basah dan rembesan air yang mengalir jatuh di antara kedua kakinya. “Kau lamban sekali!”

Kwang semakin gemas. Dia berenang ke arah batu dan Camille sudah berpakaian. “Aku harap kau tidak keberatan pulang telanjang.”

Sial! Camille pulang ke pondok dengan membawa pakaiannya. Kwang urung keluar dari air sementara para monyet sudah mulai mengepung area itu.

 Awas kau, Camille!

Camille tertawa saat melihat penampilan Kwang sesampainya di pondok. Lilitan daun pisang menutupi bawah tubuh pria itu. Camille sama sekali tak bisa menghentikan tawanya hingga air matanya berderai.

“Tidak lucu!” Kwang menunjuk padanya lalu masuk ke pondok. Camille berhenti tertawa, menggedikkan bahu lalu melahap lagi ubi bakar di tangannya. Di dalam pondok, Kwang bisa mendengar tawa Camille yang timbul tenggelam, mungkin Camille masih kesulitan menahan tawa atau mungkin masih teringat kejadian di sungai. Camille ditambah keerotisan pulau tropis yang misterius ini, jawabannya adalah kehancuran. Itulah yang dipikirkan Kwang saat meraih salah satu pakaiannya, hasil rajutan Camille yang terakhir. Benarkah itu? Dan dia menikahi Camille untuk hancur bersamanya? Mungkin!

Kwang mendesah saat berpakaian.

Saat dia keluar dari pondok, Camille sudah lenyap lagi. Sekali lagi Kwang mencari keberadaan gadis itu dan menemukannya sedang duduk di atas pasir pinggir pantai sambil memeluk lutut.

Kwang menepuk punggung Camille dan duduk di sampingnya saat kepala Camille menoleh sesaat sebelum memandang lagi ke laut lepas. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Angin memainkan rambut keduanya. Buih yang ditinggalkan oleh ombak semakin lama merambat, mendekati mereka seiring semakin menggelincirnya matahari. Perlahan kepala Camille menyandar ke pundak Kwang. Dia tertidur. Kwang mengamati wajahnya yang tampak tenang jika tertidur.

“Kau lebih manis kalau seperti ini,” desis Kwang. Seolah itu adalah lagu nina bobo, Camille tersenyum dalam tidurnya. Kwang menghela nafas dan memandang laut lepas kembali. Tidak ada kapal yang melintas hanya ada air yang berbatasan dengan langit di satu garis horizontal. Kwang mulai bisa menerima kenyataan kalau mereka harus berada di pulau ini lebih lama. Lebih lama atau bahkan mungkin selamanya.

 Selamanya… seperti janji yang mereka ucapkan. Itu mungkin lebih baik atau mungkin buruk. Entahlah… mungkin benar kata Camille, apa perdulinya pada hari esok? Mereka menikmati malam. Berpesta dengan kelinci bakar dan merengguk manisnya air yang dicampur dua tetes madu persediaan. Bersulang dengan air madu itu dan berdansa dengan iringan lagu yang keluar dari mulut Kwang. Lagu berbahasa Halyu yang terasa asing di telinga Camille hingga Camille menyanyikan lagunya sendiri.

“Kau pedansa yang buruk,” sindir Camille di akhir dansa mereka.

“Aku bukan kaum sosialita.” Kwang duduk, menghadap jendela yang mengarah ke laut. Camille ikut duduk di sampingnya, menulusur pandang ke obyek pengamatan Kwang. “Apa yang kau pikirkan?”

Kwang menoleh sesaat, tersenyum hingga Camille bisa mendengar desahan nafasnya lalu mengamati laut lagi saat Camille menatap wajahnya. “Entah ini perasaanku saja atau apa, yang pasti aku merasakan kalau pulau ini lebih sunyi malam  ini.”

“Bukankah setiap hari memang pulau ini sepi?”

Kwang mengangguk.”Tapi ini lain, dengarlah… bahkan burung hantu pun enggan berbunyi.” Camille mengapitkan rambut di belakang kedua telinganya, ikut mendengarkan alam bersama Kwang. “Kau adalah pelaut, semua ini tentu lebih mahir bagimu, mendengarkan tanda-tanda alam.”

Kwang terkekeh pelan.”Camille, kenapa pulau ini serasa jauh. Aku bahkan tidak bisa menangkap cahaya dari mercu suar pulau terdekat yang lebih beradab. Pernahkah kau berpikir di mana kita?”

Camille menggelang. “Kita menghilang dari peradaban, Kang. Terimalah itu!” Gadis itu menyandar di pundak Kwang, sama seperti kejadian di pantai. Kwang mengulurkan lengan, merangkulnya dan dia menangadah, menatap mata Kwang yang tepat di atas matanya. Mata itu seakan mencari sesuatu dibalik mata Camille, meragu lalu memejam. Kwang menunduk, menempelkan dahinya di dahi Camille lalu mendesah. “Kenapa kau semakin indah di mataku.”

Pada mulanya mata Camille ikut memejam, namun mendengar perkataan Kwang tadi, dia menatap mata Kwang yang masih terpejam itu dengan dahi yang masih menempel di dahinya. “Karena itukah kau menutup matamu?”

Kwang mengangguk pelan.

“Bodoh sekali.” Camille menangkup kedua belah pipi Kwang, mencium bibirnya lembut. Lalu tangan kanannya menarik kepala Kwang, membekapnya di dada. “Kalau pun kau menutup matamu, Kang.. aku nyata, di mana pun kau mengingkariku… bayanganku akan menghantuimu seumur hidup.” Camille menangis saat mengatakan itu, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika mereka ditemukan. Kwang mungkin terlalu lemah menghadapi dunia, dan mungkin meninggalkannya karena tidak kuat mendengar ocehan para pendengki. Dan jika itu terjadi, Camille akan mengejarnya ke mana pun. “Aku mencintaimu, Kang. Tidakkah kau percaya?”

Kwang mengangguk di dada Camille. Mengangkat kepalanya dan mengusap air mata di pipi Camille. “Aku membuatmu menangis lagi.”

Camille tertawa walau air mata masih mengalir. “Iya, dan kau harus membayar.”

“Hm, sayangnya aku tidak punya apa-apa untuk membayar,” Kwang berdiri, Camille memegangi kakinya. “Bagaimana jika kau membayarnya dengan cintamu?”

Camille masih duduk, melihat Kwang yang menyipitkan matanya, tidak faham atau pura-pura tidak faham. “Ini malam pengantin kita, Kwang.”

“Kau tidak sadar dengan apa yang kau katakan.” Kwang melangkah lagi, namun genggaman Camille di pergelangan kakinya semakin kuat. “Aku sadar seratus persen!” Camille setengah menjerit.

“Tidak!”

Camille berdiri dengan lututnya, tangannya terulur berusaha membuka daerah terlarang Kwang. “Camille, hentikan!” Kwang mundur dari Camille.

“Tidak akan!”

“Kau mabuk!” Kwang menuju pintu keluar. “Daging kelinci itu membuatmu mabuk!”

Camille menghentak-hentakkan kakinya di lantai pondok, membuat bambu-bambu itu berdecit di bawahnya. “Ya, dulu kau menuduhku gila, sekarang mabuk!” Kwang sudah menuruni tangga. Seperti biasanya, menuju pantai jika sedang kesal. Camille berteriak di ambang pintu,”Ke pantai lagi! Selalu saja itu yang kau lakukan kalau menolakku!”

Kwang memang ke pantai. Berjalan kesal, menyepak-nyepak pasir di kakinya dan berteriak. Dadanya serasa meledak ketika berteriak. Camille membuat segalanya serasa gila. Lautan menelan begitu saja teriakannya, membalas dengan suara dentaman ombak ke karang-karang terjal tapi setidaknya ganjalan itu telah melega dan Kwang bisa bernafas kembali. Dia kembali ke pondok dan menemukan Camille sudah di atas tempat tidur membelakanginya dan menangis sesenggukan.

Kwang menghela nafas. Sudah pasti gadis itu menangis. Malam ini adalah malam pengantinnya dan sang suami telah menolaknya. Kwang berjongkok dengan lututnya dan menepuk pundak Camille. “Camille.., aku… .”

“Apa kau seorang gay?” tanya Camille di antara tangisnya. Kwang menghembuskan kekesalan di udara, tak habis pikir dengan ucapan Camille. “Apakah aku jatuh cinta dengan seorang gay?”

“Bukan!”  Kwang hampir saja berteriak. Camille mengangkat mukanya dari bantal, menatap Kwang dengan mata berkaca-kaca. Jika saja semua itu benar, Camille akan mencekik lehernya sendiri. Pikiran itu datang sesaat setelah dia melihat punggung Kwang yang semakin menghilang menuju pantai. Setidaknya itu yang bisa dipikirkan Camille, alasan kenapa Kwang selalu menolaknya.

“Kau tidak jatuh cinta dengan seorang gay,” jawaban Kwang belum juga melegakan hati Camille. Wanita itu duduk, meremas baju di dada Kwang dan menantang, “Buktikan! Buktikan sekarang!”

Baju itu robek di dada Kwang. Camille telah memporak-porandakan pertahanan Kwang. Saat pria itu akhirnya menyerangnya. Tangisan itu berubah menjadi keharuan. Camille pun tersadar. Kwang benar. Dia tidak sadar dengan apa yang dia katakan. Saat semua begitu menyakitkan dan dia menjerit. Kwang gugup, berhenti dan memandang Camille yang menangis di bawahnya. “Sakit? Maaf. Ini yang pertama bagiku.”

Camille terisak. Kwang masih di dalamnya, berdenyut-denyut dan tidak berani bergerak karena takut semakin menyakitinya. Pria itu mengecup dahi Camille, seakan menenangkannya padahal dia sendiri ketakutan. Camille memberanikan diri membuka mata dan menangkap pandangan Kwang yang penuh penyesalan. “Ini juga pertama kali bagiku, Kang.” Camille berusaha tersenyum, mengelus pipi Kwang.

“Aku akan melepaskannya. Aku akan melepaskan pelan-pelan jadi kau tidak kesakitan,” Kwang berbisik di telinga Camille dan bisa merasakan Camille mengangguk. Dan seperti yang dikatakannya, Kwang mulai menarik, perlahan. Mata Camille memejam, menikmati gerakan itu di dalam tubuhnya.

“Tunggu,” Camille mendesah,”Rasanya  enak.” Kwang mengernyit. “Masukkan lagi, Kang.”

Kwang menghentakkan masuk! Mata Camille membelalak menahan nafas lalu mengeluarkannya perlahan seiring tarikan yang dilakukan Kwang. Sepertinya mereka sudah mulai menikmatinya bahkan Camille ingin ritmenya dipercepat. Kwang semakin meleleh di dalam. Camille semakin memuncak. Hingga keduanya terkalahkan. Kwang terbenam di dada Camille yang tak bergerak, merasakan kepuasan sorga malam pengantinnya.

“Kau bukan gay. Suamiku bukan gay.”

Dan hanya wanita konyol yang menganggap Kwang seorang gay.

Camille ditambah keerotisan pulau tropis yang misterius ini, jawabannya adalah kebahagiaan Kwang. Kwang mengkoreksi anggapannya. Seminggu penuh mereka bertingkah seperti pengantin baru. Mengarungi pulau dalam kebersamaan, berciuman bahkan bercinta di bawah air terjun sampai-sampai tak memperdulikan sekawanan monyet yang semakin mendekat. Seakan sudah terbiasa dengan keberadaan mereka, makhluk-makhluk primata itu mengabaikan, seolah ada batasan antara mereka.

Mereka masih suka berselisih. Kwang juga masih suka mengadu ke pantai jika Camille membuatnya kesal atau sekedar berdiri memandang lautan, menatap jikalau ada titik kecil yang semakin mendekati pulau dan berubah menjadi kapal yang menjemput mereka. Lalu Camille berjalan di belakangnya dan bertanya,”Menanti kapal lagi?”

Kwang mengangguk.

“Kita menghilang dari peradaban, Kang. Terimalah itu.”

Kwang tersenyum lalu merangkul istrinya. Berdua mereka menuju pondok. Sekali lagi menikmati malam  penuh dengan keintiman. Kepala Camille yang selalu tertidur di dadanya atau dia yang terkulai di pundak Camille setelah bertekuk lutut di bawah kerlingan istrinya itu. Gadis manja itu sudah berubah menjadi penyihir kecil, menjeratnya diam-diam dan tak mungkin mudah melepas. Seutuhnya, penyihir kecil itu menggodanya namun bersamaan itu… penyihir itu juga menyerahkan segala apa yang ada seutuhnya padanya. Itulah pusaran gelombang penjerat yang tiada akhir dan Kwang tenggelam tanpa ampun. Tak berkutik.

Ini mimpi?

Tidak.

Ini nyata!

Kwang mendapatkan kembali kesadarannya. Suara pagi membuatnya terbangun. Camille sudah tak ada di sisinya. Mungkin Camille tidak tega membangunkan. Kwang tersenyum membayangkan malam penuh pergulatan yang pasti juga menguras tenaga Camille. Namun Camille bangun lebih dulu darinya. Camille semakin rajin akhir-akhir ini. Kwang semakin merasa bagai suami yang sangat disayangi. Senyuman di wajahnya semakin melebar. Dia duduk di tempat tidurnya, meliukkan punggungnya seiring rentangan tangannya ke belakang.

Dia bermaksud keluar pondok dan terkejut sampai di ambang pintu. Camille sudah terkapar lunglai di depan perapian. Bergegas Kwang mendekati Camille, berjongkok untuk mengangkat Camille di pangkuannya. “Camille, kau kenapa?”

Susah payah, Camille membuka matanya. “Kwang, rasanya aku mau mati.”

“Camille! Camille!”

Camille pingsan lagi. Kwang mengangkat Camille di dadanya, masuk ke pondok. Saat Camille terbaring di tempat tidur, Kwang memeriksa setiap bagian tubuhnya.  Tidak ada luka serius atau bekas gigitan binatang buas, yang ada adalah tanda kebuasannya semalam. Muka Kwang memerah karenanya.

“Camille… Camille,” Kwang menepuk-nepuk pipi Camille. Mata Camille terbuka perlahan. “Apanya yang sakit, Sayang.”

Senyum tipis timbul di bibir Camille. Tangan Camille terulur, menyentuh dagu Kwang yang ditumbuhi jenggot lebat.  “Aku tidak menstruasi bulan ini.”

Mata Kwang membelalak, mulutnya setengah ternganga. Pengakuan itu…, itu berarti…

“Aku hamil, Kang.”

Kwang menggelengkan kepalanya. Tubuhnya serasa lemas. Dia mundur, keluar dari pondok, menuju pantai. Binar wajah Camille pun meredup. Kabar ini seharusnya menggembirakan tapi reaksi Kwang sama sekali berbeda dengan yang dia perkirakan. Camille bergerak menyamping, meringkuk memegangi perutnya. Ada kehidupan di dalamnya, kehidupan yang akan mengikat keduanya seumur hidup. Namun sekali lagi Kwang meragu, entah apa yang diragukannya. Camille terisak memikirkannya.

Kwang memasuki pondok sepuluh menit kemudian. Camille masih dalam posisi itu, meringkuk membelakanginya di tempat tidur.  Kwang berbaring, memeluknya, membenamkan wajahnya di rambut Camille. “Maafkan, aku. Aku hanya bingung tadi.”

Camille mengangguk dalam isakkan. Kwang mempererat pelukannya, seolah bisa menenangkan tangisan Camille dengan berbuat demikian. “Aku senang mendengarnya. Tapi membayangkan kau melahirkan di pulau ini tanpa bantuan medis, membuatku takut.” Kwang mendesah. “Aku berdoa tadi. Berharap kita segera ditemukan sebelum anak kita lahir.”

Camille membalikkan tubuhnya, menghadapi Kwang. “Kau berdoa? Pada siapa?”

Kwang menghapus air mata Camille. “Pada sang Budha. Dari kecil, bibiku mengajariku agama itu.”

“Oh,” Camille tersenyum.

“Kau tidak keberatan, kan? Kalau aku memilih agama keluargaku?”

Camille menggeleng. “Anak ini memberikan keajaiban pada Ayahnya. Lihat! Kau sudah memutuskan pegangan hidupmu.” Kwang menghelakan senyuman. “Camille.., bagaimana jika kau harus melahirkan di sini?” Ketakutan itu masih menghantui Kwang.

“Kenapa? Ada kau. Kau sudah pernah membantu Ibumu melahirkan. Kau bisa membantuku.”

“Ibuku meninggal setelah itu.”

Camille tersenyum, memberikan tatapan meyakinkan pada suaminya. “Aku lebih kuat dari Ibumu. Lagi pula, monyet saja selamat melahirkan di pulau ini,” candaan Camille itu serasa garing di telinga Kwang.

“Kau bukan monyet, Sayang.”

Camille mengelus dada Kwang. “Tenanglah, kau terlalu tegang.”  Sekali lagi Kwang bergerak, mengukung Camille dalam pelukannya. “Kau pasti akan kesakitan, Sayang. Melahirkan itu sakit. Aku bisa melihatnya di mata Ibuku waktu itu.”

Camille mengistirahatkan dagunya di pundak Kwang. Menepuk-nepuk punggung Kwang demi melegakan pemikiran suaminya itu. “Aku akan menahan rasa sakitnya, bahkan akan berusaha menikmatinya demi kau. Asalkan kau selalu bersamaku, aku akan baik-baik saja, Kang.”

Kwang menangis pagi itu. Tangisan pertama yang laki-laki itu lakukan setelah bertahun-tahun yang lalu, saat Ibunya meninggal. Dan sekarang dia menangis demi Camille, demi anak di dalam rahim Camille. Dia akan menjadi seorang Ayah. Ya Tuhan, seorang Ayah di umurnya kedua puluh lima dan itu membuatnya bahagia. “Terima kasih, Sayang. Terima kasih.”

—oOo—

“Kita harus kembali ke Toronto,” kata-kata Antoine bagaikan dentuman badai di telinga Charlie. Malam semakin kelam memikirkan Camille yang belum ditemukan dan laki-laki itu mengajaknya pulang. Charlie bergerak, menekuri lagi peta dan hitungan navigasinya. “Kau pulanglah sendiri. Aku akan bertahan di sini.

Antoine menghelakan kekesalan di udara. “Charlie, Ayah sakit di Toronto.”

“Aku tahu!” Charlie membentak. “Tapi di sini cucunya belum ditemukan!”

“Charlie, kau tahu benar kalau aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini. Dalam keadaan hamil! Ayolah, Sayang. Kau masih bisa mengomandoi pecarian dari sana.”

Charlie berbalik menantang Antoine. “Kenapa kau selalu menganggapku lemah! Bukan kau saja, bahkan Nathan, anak kita! Hanya Camille yang menganggapku dewi penolong! Hanya Camille! Dan kau mengabaikannya! Kau membuatnya menghilang di lautan! Kau dulu juga membuatku hampir kehilangannya sebelum melahirkan!”

Antoine mendengar semuanya dan hatinya ambruk.  Peristiwa itu sangat menakutkan, dia begitu ingin membantu Charlie, tapi bahkan Rhesus darahnya berbeda dengan Charlie. Dia semakin hancur mengingat siapa yang akhirnya menyumbangkan darah bagi istrinya. Pria yang seumur hidup dia benci. Charlie menyadari kehancuran itu dan meminta maaf. Tapi sepertinya perkataan Charlie tadi sudah sangat menyakiti Antoine. “Kau sudah berjanji tidak akan mengungkit kecelakaan itu.” Antoine meninggalkan kamar dengan kesal.

“Antoine, aku minta maaf!”

Pintu sudah tertutup! Charlie terduduk di ranjang mereka,  menangis sambil mengelus perutnya. “Aku sudah membuat Ayahmu marah, Sayang. Aku sudah membuatnya marah.”

Antoine menenangkan diri di pantai. Charlie adalah istri yang menyenangkan tapi terkadang tingkahnya tidak terkontrol. Dan mengingatkan peristiwa sembilan belas tahun yang lalu selalu dihindari Charlie, tapi barusan wanita itu menyinggungnya. Kecelakaan yang mengerikan, kesalahan Antoine karena mengajak Charlie ke Seoul. Kesalahan yang harus ditanggungnya seumur hidup. Dia harus berbohong dengan mengatakan kalau dialah yang mengemudikan mobil naas itu. Dia melakukan itu dan Charlie menyalahkannya. Dia tidak ingin Charlie menyalahkan diri sendiri. Dia tidak ingin jika Charlie meragukan dirinya sendiri. Oh, Damn! Kenapa harus laki-laki itu! Tangan Antoine mengepal membayangkan Nick yang berjalan ke arahnya setelah melakukan donor darah. Terhuyung-huyung tanpa memikirkan keselamatan jantungnya sendiri.

“Ini wujud permintaan maafku, Dokter. Maafkan, aku!”

Antoine ingin meninju muka Nick waktu itu. Tapi tanpa darah Nick, kelahiran Camille mungkin tidak akan berhasil karena Charlie terpaksa melahirkan secara Caesar dalam keadaan tak sadar. Untunglah pria itu meninggal enam tahun kemudian. Sementara dia  terus hidup, menceritakan kebohongan itu. Pada kenyataannya, Charlie mengendarai mobil sendiri. Brutal! Entah karena apa dan itu setelah bertemu dengan Nick. Pertemuan itu adalah pengakuan Nick. Atas dasar apa, hanya Nick yang tahu dan terkubur bersama mayatnya di tanah.

Antoine memejamkan mata dengan kepala menengadah. Berusaha memenuhi paru-parunya dengan udara pantai yang lembab. Hingga panggilan Charlie membuatnya menoleh.

“Antoine, aku benar-benar minta maaf,” Charlie berdiri di belakangnya. Ujung kimononya dikibarkan angin dan dia berusaha membekap dengan tangannya. “Aku mohon maafkan aku.” Charlie maju beberapa langkah ke arah Antoine. “Aku akan ikut pulang bersamamu. Aku sudah berpikir tadi. Aku mencoba tidur sendirian di kamar itu tapi ternyata aku ketakutan.”

Antoine mengulurkan tangannya, memeluk Charlie. Istrinya menangis di dadanya. “Jangan marah lagi padaku. Aku mohon, jangan.”

“Tidak akan, Charlie. Aku juga minta maaf.”

Charlie melonggarkan pelukan, mendongak padanya. “Kapan kita pulang, Antoine?”

“Besok! Maaf jika terlalu cepat.”

Charlie menggeleng. “Aku rasa Ayahmu harus tahu tentang cucunya yang akan lahir.”

“Dia sudah tahu. Karena itu sangat ingin bertemu denganmu.” Antoine menikmati pelukan istrinya lagi. Aku mencintaimu, Charlie. Tidak akan kulepaskan.

 

BERSAMBUNG

THE MAESTRO (part 1)

THE MAESTRO

part 1

Long-long time Ago….

Rumah kecil itu memang terlihat lebih menonjol diantara rumah-rumah lain di komplek. Sebuah rumah dua lantai dengan modelnya yang sedikit kuno. Apalah arti model sebuah rumah, mengingat fungsi utamanya sebagai pelindung dari ekstrimnya cuaca. Kenyamananlah yang selama ini diciptakan manusia di dalam rumah. Dari sini kita mampu berkesimpulan betapa manusia merupakan makhluk lemah. Namun bukan hal itu yang membuat rumah pensiunan tentara-Kolonel Goo itu begitu menonjol dilihat mata, hari ini. Hal ini lebih disebabkan oleh mobil Roll Royce mewah yang terparkir di pelataran yang tak lain adalah milik Aldian Lee, calon menantu keluarga ini, yang membuat tetangga kanan  kiri mencibir karena iri. Tak ada yang menyangka bahwa salah satu cucu keluarga itu mampu menggaet Aldian. Siapa yang tidak mengenal Aldian Lee, calon pewaris tunggal pengusaha Harriot Lee. Setiap orang pasti berpikir jika hal itu hanya dilakukan untuk keluar dari kemiskinan yang menyelimuti rumah ini. Itulah mengapa rumah ini selalu dibicarakan oleh ibu-ibu kompleks, tak luput pula penghuni rumah ini yang terdiri dari Kolonel Goo, dua orang cucunya, Alicia yang kini tengah berusia dua puluh tahun dan adiknya yang baru berusia enam tahun-Joana, serta seorang nani pengasuh, Mina Im.

Kakak beradik itu sudah yatim piatu, ibu mereka meninggal karena melahirkan Joana. Hal ini bisa dimengerti mengingat umur sang ibu yang sudah tua ketika mengandung Joana, sedangkan ayah mereka yang seorang pilot itu meninggal karena kecelakaan pesawat yang dikemudikannya. Tiga tahun yang lalu, saat pertama kali mereka memasuki rumah ini untuk hidup di bawah asuhan kakek mereka. Alicia selalu mengurung diri di kamar, menangisi nasib malangnya tanpa perduli pada Joana. Sedang Joana, sikecil ini terlalu muda untuk memahami kesedihan yang ada disekelilingnya.

Betapa cepatnya waktu berlalu, hingga dalam dua tahun, kebahagiaan di rumah ini kembali. Pertemuan Alicia dan Aldian mampu mengubah pandangan gadis muda tersebut tentang kehidupan. Aldian-lah pemacu semangat hidup Alicia. Dan hari ini adalah saat pertama Alicia memperkenalkan calon suaminya itu pada sang Kakek.

Alunan melodi yang dihasilkan oleh permainan piano, kini mampu memecah suasana yang hening, sayup-sayup irama “Love story” terdengar dari ruang tengah rumah ini, menghentarkan dinding-dinding tua di sekitarnya. Terlihat dekorasi ruangan yang tanpa barang mewah kecuali sebuah piano yang kini tengah dimainkan Aldian. Kesedihan, hal itulah yang mampu ditangkap oleh setiap telinga yang mendengar lagu ini. Tak ada yang dapat mengerti kenapa dia harus memainkan melodi sedih pada saat seperti ini. Tak ada yang tahu, begitu juga Aldian. Yang dia fikirkan hanyalah bagaimana membuat kakek sang kekasih itu terkesan.

Aldian berhasil, telinga tua itu dengan penuh pemahaman menikmati alunan pianonya. Alicia tak lepas memandang dengan perasaan bangga. Dan rupanya hal ini juga menarik perhatian Joana. Si kecil Joana segera keluar dari kamar, meninggalkan tugas menggambarnya yang setengah jadi. Sambil berlari menuruni satu-satunya tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai dasar. Setelah hampir sampai di ruang tengah, dia berhenti. Perlahan dia mendekati Aldian. Dipandangnya jari-jemari Aldian yang menari-nari, memencet tut demi tut piano, mengikuti not demi not yang ada di buku music hingga terdengarlah irama indah itu. Kekaguman terpancar dalam pandangan gadis kecil ini hingga mata bulat yang indah itu semakin berbinar, sementara kakek dan sang kakak yang terlena tidak menyadari kehadirannya.

Akhirnya usai sudah permainan piano itu. Kakek dan cucu-cucunya itu bertepuk tangan. Aldian pun mengucapkan terima kasih, terlihat Joana yang sedari tadi berdiri di samping kanannya. Dia tersenyum dan Joana membalas dengan tawanya yang khas anak-anak.

“Hei, siapa gadis kecil yang cantik ini?” ujar Aldian sembari mencubit pipi Joana. Alicia segera menyadari kesalahannya yang tidak mengikutsertakan adiknya dalam pertemuan ini. Dia segera memperkenalkan Joana pada Aldian.

”Dia adalah Joana, dongsaengku. Kami selalu memanggilnya Joan,” kata Alicia. “Joan, ini adalah calon suami Uni, namanya Aldian Lee.”

Joana mengangguk-anggukkan kepalanya yang mungil dan berhias rambut hitamnya yang panjang dan lebat.

“Kau suka piano, Joan?” Aldian memulai pembicaraan.

Senyuman Joana semakin melebar saja, dan anggukan kepalanya itu semakin cepat seiring jawaban dengan suara nyaring yang dia berikan,”Ne…., habis oppa mainnya bagus. Oppa mau mengajariku, kan?”

“Boleh!” Aldian mengangkat tubuh kecil Joana dan mendudukkan di pangkuannya. Dia lalu memperkenalkan Joana tentang dasar-dasar memainkan piano.

Joana tertawa-tawa saat tangannya dalam genggaman Aldian, dituntun dalam memencet tut piano, hingga lagu dengan nada sederhana terdengar dari alat music itu,’Tinckle-tinckle little star’

“Do.. do..sol…sol… la… la… sol. Fa… fa… mi… mi… re… re… do,” senandung Aldian sembari tangannya membimbing bocah kecil di pangkuannya. Dan hal itu berlanjut setiap dia mengunjungi Alicia. Rupanya Aldian memang serius  menepati janjinya pada Joana, hingga membuat Alicia sedikit kesal. Kedekatan Aldian pada si kecil Joan sering membuat Alicia cemburu.

“Kau melupakan rencana kita malam ini.” Protes Alicia, di malam itu, saat dia menghantarkan Aldian menuju mobilnya di depan rumah. Aldian memang lupa waktu, mengajari Joana sampai larut, hingga rencana mereka untuk jalan-jalan di luar pun batal.

Pria tampan itu hanya tertawa dan penuh rasa bersalah dia minta maaf pada kekasihnya yang sedang mayun itu, “Miane… .” Direngkuhnya tubuh itu lalu membawanya dalam pelukan dadanya yang bidang,”Lain kali masih ada waktu untuk kita jalan-jalan.”

Alicia masih saja kesal. “Aku benci kalau dia lebih menarik perhatianmu dari pada aku. Aku selalu iri padanya.”

Aldian melonggarkan pelukan lalu menatap lurus ke bola mata Alicia,”Iri?”

“Ne… , Iri,” pasti Alicia sambil mengelus dada bidang itu.”Aku iri karena dia tidak terpengaruh saat orang tua kami meninggal, dia masih saja bermain dengan riang sedangkan aku harus bersedih.”

“Hai, dia masih tiga tahun waktu itu, tentu saja dia belum bisa merasakan,” Aldian berusaha menyadarkan  kekasihnya.

“Kadang aku berharap kami bertukar tempat,” ucap Alicia asal. Aldian tertawa mendengar semua itu, hingga timbul suatu gurauan konyol di otaknya,”Kalau begitu, dia yang akan menikah denganku dan kau yang jadi anak kecil dengan pelajaran pianonya.”

Mendengar gurauan itu sontak bibir Alicia tambah manyun. Aldian pun jadi tambah geli lalu mempererat pelukannya atas Alicia, menghirup bau harum tubuh kekasihnya itu dan berbisik,”Tapi kau-lah yang akan menikah denganku, seorang gadis yang membuatku lupa segalanya hingga memutuskan cepat-cepat menikahimu setelah lulus SMA.”

 Yup, kecemburuan itu tidak menggagalkan rencana  mereka. Pernikahan keduanya berlangsung sangat meriah. Tak ada alasan yang membuat Alicia cemburu lagi. Kebahagiaan benar-benar terasa di rumah ini, bahkan wajah tua Kolonel Goo semakin sumringah. Apalah yang diharapkan pensiunan tua itu selain kebahagiaan cucunya. Cucu yang merupakan generasi penerus, penerus perjuangan, penerus impian dan penerus kehidupan.

Namun entah kenapa kebahagiaan itu tidak dapat berlangsung lama. Seakan-akan rumah kecil ini begitu alergi dengan kebahagiaan, hingga sangat kerasan dengan sejuta penderitaan. Alicia meninggal karena kecelakaan pada perjalanan bulan madu mereka, sedangkan Aldian harus mengalami operasi pemasangan platina pada kakinya yang retak.

Mata tua Kolonel Goo semakin mencekung, tak ada lagi gairah hidup di sana. Semakin lama, ketahanan tubuh yang dulu pernah dia gunakan untuk membela Negara dari tirani itu hilang dan akhirnya nyawa sudah enggan bersemayam di dalamnya. Beliau meninggal dua bulan setelah kematian Alicia.

Angin bulan Desember bertiup sembari membawa hawa dingin. Alam seakan tahu kesedihan yang memenuhi hati Aldian. Tak ada yang dapat dia lakukan selain berdiri, memandangi dua gundukan tanah pemakaman dua orang yang sangat dicintai. Dia tetap di sana, tak perduli kakinya yang masih belum lepas dari balutan perban, tak perduli tubuhnya yang masih ditopang oleh tongkat penyangga jika harus berdiri. Mungkin kesedihan sudah merupakan zat adiktif ampuh bagi dirinya, hingga tidak dapat merasakan lagi sakit lahiriah.

Joana terdiam melihat perilaku kakak iparnya. Entah apa yang berkecamuk dalam otaknya. Adakah dia tahu bahwa sudah sebatang kara? Setiap orang yang mengetahui nasibnya memandang dengan penuh simpati, kasihan… . Apakah dia menyadari itu?

Joana mendekati Aldian, mencoba meraih tangan kakak iparnya itu. Kehangatan genggaman tangan kecil Joan membuat Aldian sadar dari lamunan. Disekanya air mata yang terbendung di kelopak bawah matanya, lalu menoleh ke arah Joan. Berusaha memberi senyuman pada anak kecil itu walau pun hatinya menolak. SEakan dengan senyuman itu, dia ingin mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Sungguh munafik, dia ingin meyakinkan orang lain padahal dia sendiri tidak yakin apakah keadaan nanti benar-benar baik.

Hari-hari berikutnya seakan berjalan lambat. Kesunyian masih terasa di rumah ini. Aldian belum memutuskan apa pun. Waktu demi waktu dia habiskan untuk melamun. Apakah dia bersedia menjadi wali bagi si kecil Joan? Sedang Joan sendiri hanya mengurung diri dalam kamar. Persis dengan apa yang dilakukan almarhum kakaknya saat kedua orang tuanya meninggal. Setiap kali Mina, nani pengasuh menengok sambil membawakan makanan. Terlihat dia terbaring di atas tempat tidur menatap langit-langit. Mina juga melihat nampan sarapan tadi pagi. “Hanya dimakan sedikit,” pikirnya dalam hati. Namun hal itu masih membuat  Mina lega, setidaknya dia masih mau makan.

Tubuh kecil Joan ternyata belum mampu menahan lapar. Hal itulah yang membuat dia terbangun di malam hari, keluar kamar dan bergegas ke dapur. Sesaat kemudian perutnya sudah penuh dengan biscuit dan susu. Joan segera kembali ke kamar namun ketika melewati ruang tengah, dia berhenti.

Terlihat dari tempatnya berdiri, Aldian tengah duduk di hadapan piano yang terbuka. Mata Aldian memandang tajam ke arah tut-tut piano namun dia tidak hendak memainkannya. Satu per satu rasa berjejal dalam hati seakan tidak mau mengerti bahwa hati itu telah penuh. Dia mencoba mengatur nafas. Jika dia mau, dia bisa menghancurkan piano itu, namun tak mungkin mengingat Alicia sangat mencintai piano itu.

Aldian tetap terduduk. Sunyi… .

Namun tidak demikian bagi Joan yang masih berdiri di tempatnya memandangi Aldian. Di telinga gadis kecil itu mulai terdengar irama yang begitu pelan. Harmoni itu teramat pelan. Dia yakin dibalik diamnya Aldian ada sebuah irama yang Aldian mainkan. Namun irama itu begitu pelan. Sangat-sangat pelan hingga hampir-hampir Joan tak dapat mendengarnya. Joan terduduk, lalu merebahkan tubuhnya di atas lantai. Telinganya ditempelkan di lantai dan berharap dengan melakukan itu, irama hati Aldian terdengar lebih jelas.

Ternyata Joana salah. Irama itu masih sangat pelan. Namun dia tidak putus asa, tetap menempelkan telinganya di lantai yang dingin itu hingga akhirnya tertidur.

 

BERSAMBUNG

THE SECRET II (Temptation of Island — Part 7)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 7

Apa yang akan kau lakukan, Camille? Seperti yang kau harapkan, tak ada satu pun wanita yang mengikat Kang. Lalu apa? Apa yang kau harapkan setelah tahu?

Mungkin benar teori Kwang, akan lebih baik jika tak ada satu pun ikatan di antara mereka. Saat mereka ditemukan, mereka berpisah. That’s it! Nothing to lose! Semua akan berjalan seperti sedia kala. Kwang kembali ke pekerjaannya dan Camille dengan kehidupan borjuis-nya. Akan ada banyak pria di Kanada yang menantinya, bertekuk lutut memohon saat matanya mengerling. Pria-pria dengan gaya metro. Rapi dan elegan seperti Brian. Oh, ya… tentu akan sangat menyenangkan! Masa depan yang cerah menanti baginya, seorang putri keluarga d’Varney. Sementara Kwang hanya tinggal kenangan. Masa lalu yang terkubur kesenangan pribadi.

Namun bagaimana jika mereka tidak pernah ditemukan? Selama ini tim pencari hanya mencari Camille.  Gadis itu yakin, mereka pasti tidak memprediksi keberadaan Kwang bersamanya atau mungkin mereka sudah berkesimpulan jika seorang Camille Louis d’Varney sudah mati saking putus asa. Antoine merutuki kesalahannya, Nathan menggeleng tak percaya dan Charlie histeris. Mata Camille memejam, mengusir bayang kesedihan itu dari angannya. Tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi. Dia dan Kwang terdampar di pulau ini selamanya. Dan apa yang akan kita lakukan?

Pesona Kwang semakin menjerat. Tidak ada rambut yang tersisir rapi. Kulit pria itu semakin kelam karena hawa panas pulau. Dan aroma kemaskulinan alami yang tercium setiap pagi. Segala hal yang menarik insting primitive Camille. Apa daya, jika penelitian tentang feromon masih diperdebatkan, mungkin para pakar berkaca mata tebal itu harus mengalami apa yang dia rasakan. Terdampar di sebuah pulau eksotik bersama pria semisterius Kwang.

Setiap malam, Camille harus menahan diri untuk tidak memandang wajah pria itu. Rautnya semakin mengeras, mungkin karena kefrustasian akan rumah pohon yang terus gagal. Dan rambut-rambut kasar yang mulai tumbuh di sekitar dagu dan pipinya, Camille diam-diam merabanya jika Kwang terlelap. Dengan bayangan di kepala jika saja pipi itu bersentuhan dengan pipinya lalu…

Oh, damn! Stop thinking something stupid!

Camille menggeleng, bergerak gusar ke tempat tidurnya, berusaha menepis pikiran yang aneh-aneh.

Keseharian yang terlalui semakin memendek. Kedekatan mereka yang menyebabkan. Kang masih sibuk dengan rumah pohon, meramu, berburu, bahkan menjaring ikan dan Camille memasak, menganyam janur, memintal benang dan merajutnya. Kehidupan yang sederhana, tanpa status, kekawatiran akan uang dan pandangan masyarakat. Pulau ini memberikan lebih dari apa yang mereka harapkan.

Tidak! Bahkan Kwang pun berusaha menarik diri dari jeratan wanita itu. Jalan Camille masih panjang sebagai gadis yang baru berusia sembilan belas tahun. Masih banyak pria-pria kaya yang berpeluang menjadi kekasihnya, dan Kwang yakin dirinya tidak termasuk kriteria itu. Terlalu pedih terjerat dalam cinta Camille jika pada akhirnya gadis itu meninggalkannya setelah berkumpul dengan keluarganya. Kerterpurukan pasti terjadi, Kwang belum pernah terlibat hubungan dengan wanita secara serius namun wanita seperti Camille.. . mungkin bisa menariknya ke dalam pusaran tanpa tepi yang di sebut cinta atau mungkin… hasrat seks?

Dasar otak primitif! Kwang merutuk bayangan-bayangan itu dalam hati.

Dan, ya… Camille sanggup melakukannya. Saat dia berhasil merajut setelan baju untuk Kwang. Sebuah baju berpotongan sederhana dari serat kapas yang dipintalnya. Agak butut karena pintalan yang kurang rapi, tapi lumayan sebagai pakaian ganti.

“Bisa kau coba ini?” Gadis itu berdiri di depan Kwang, menyodorkan baju berwarna putih kekuningan di depannya.

 Camille…

Camille menengadah, menatap wajah Kwang dengan mata meyakinkan. Kwang melepas kemeja usangnya. Otot-otot dada yang padat terpampang jelas dan Camille harus menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Dia bahkan menunduk, gemetar merasakan aura hangat yang tiba-tiba muncul di dalam goa.

Kang…

Kwang meraih baju rajutan di tangan Camille. Baju itu pas di badannya. Dia tersenyum, mematut-matut baju ditubuhnya itu tanpa cermin dan berterima-kasih. “Thanks.”

“I hope you like it!” Camille tersenyum.

“Dan kau… mana untukmu?”

“Ada… sebentar lagi selesai.”

Gadis itu mendahulukan kepentinganku? Kwang merasa tersanjung. Dia menatap pergerakan Camille ke tempat tidur. Gerakan kikuk seperti sebelum-sebelumnya. Tidak ada lagi kesan ceplas-ceplos Camille seperti sebulan yang lalu. Semuanya serasa berbeda. Kwang kadang memergoki gadis itu mencuri-curi pandang ke arahnya. Begitu juga dirinya  pada gadis itu.  Bisa dibayangkan saat mereka memandang bersamaan dan segalanya bertambah kikuk.

Tidak ada kesan menggoda di setiap tingkah laku Camille. Setiap malam gadis itu memintal benang dan merajut. Kealamian gerakannya membuat Kwang terjerat tanpa sadar. Camille bukanlah gadis-gadis penggoda seperti wanita-wanita bar yang dikunjungi teman-temannya ketika di darat. Mungkin itu sebabnya. Kwang tidak pernah mau jika teman-teman ABK-nya mengajak bersenang-senang dengan wanita penghibur, karenanya Kwang tertarik dengan wanita seperti Camille.

Rumah pohon selesai sudah. Mereka berdiri di depannya, berangkulan tanpa sadar.

“Home sweet home!” Kwang mendesis. Camille menoleh padanya dengan senyum mengembang.

Camille senang Kwang merangkulnya. Entah pria itu sadar atau tidak karena mata Kwang masih tertuju pada rumah pohon.

Rumah berdasar lima puluh centimeter dari atas tanah. Kwang melakukan itu untuk menghindari air yang meluap jika hujan. Tidak ada kayu ibu tangkai kelapa sebagai dasar yang dulu gagal. Kang menggantinya dengan bambu yang kuat. Itulah sebabnya rumah ini begitu lama selesai. Kwang harus mencari cara bagaimana merobohkan bambu dengan batu runcingnya. Kerangka dindingnya juga berasal dari bambu yang diikat dengan akar larak di setiap sudut dan dinding rumah itu… inilah hasil karya Camille, anyaman janur menjadi atap dan dinding rumah.

“Home sweet home,” bisikan Camille membuat Kwang menoleh. Mata Camille penuh dengan cinta dan mulai menelusuri lengannya yang melingkari pundak gadis itu. Kwang tersadar, melepaskan rangkulan dan berdiri kikuk.

Camille tersipu. Home? Home adalah tempat orang-orang tercinta berkumpul, dan benarkah rumah pohon itu adalah ‘home’ mereka? Tempat mereka saling mencintai? Tiba-tiba saja Camille berpikir untuk mencium pipi Kwang dan… ya… dia melakukannya. Kwang menjenggit.

“Thanks!”

Hanya itu? Camille mencium dan berterima kasih?  Gadis itu menaiki tangga masuk rumah pohon, meninggalkan Kwang yang belum sadar, masih mengelus-elus pipinya.

Oh…, apa yang akan terjadi nanti? Siapa pun… kapal, tim SAR atau iblis sekalipun… pisahkan kami!

Kekecewaan terus-menerus harus dialami Kwang. Hari terus berlalu namun tidak ada kapal penolong yang melintas, bahkan helicopter atau pesawat. Sebegitu misteriuskah pulau ini? Dia harus berinteraksi lagi dengan Camille, menekan perasaaannya dalam-dalam dan tersiksa.

Kwang berusaha bersyukur walau pun sulit. Setidaknya dia tidak sendirian di pulau ini. Ada Camille yang memasak, merajut baju untuknya. Sebab jika tidak, mungkin nasibnya akan seperti Tom Hanks di film ‘Cast Away’, bertingkah seperti orang gila, bicara dengan bola.

Pulau ini juga tak terlalu buruk. Setidaknya itu yang dia pelajari dari Camille. Gadis itu suka berpetualang, mengumpulkan flora apa saja yang dianggapnya unik, menjadikannya obat atau sekedar bumbu masak. Camille… gadis kaya itu… Ibunya pasti mendidik dengan baik, keterampilan kewanitaannya begitu terasah. Seperti bibinya…, Kwang mengakui. Calon istri ideal bagi Kwang.

Itukah sebabnya? Itukah makna dari kejadian ini? Kwang memang mengharapkan wanita seperti Camille dan sekarang Tuhan mengirimkan Camille untuknya. Tunggu! Tuhan?

Sejak kapan dia mulai percaya pada Tuhan? Mungkin karena pengaruh Camille. Gadis itu memindahkan salip di depan goa ke depan rumah pohon. Berdoa setiap pagi di bawahnya dan begitu yakin. Harus ada pegangan dalam hidup, dan Kwang masih bingung.  Keluarganya beragama Budha, sebenarnya dia dibesarkan dalam lingkungan Budha, namun di pertambahan usianya Kwang ragu.

Semua yang ada di diri gadis itu membuatnya gila. Dunianya jungkir balik. Bisa-bisanya mengharap Chamile Louis d’Varney sebagai istri? Bagaimana pendapat teman-temannya jika tahu? Mungkin mereka menganggapnya tak tahu malu. Seorang yang tak jelas bapaknya mencintai Putri d’ Varney, bagaimana reaksi Antoine d’Varney sendiri? Mungkin membunuhnya, ya… Antoine pasti melakukan itu.

Dia tidak pantas! Kwang meyakinkan hal itu di hatinya saat berdiri di bawah air terjun, menikmati air yang jatuh bebas di kepalanya. Dia ingin melenyapkan impian-impian gilanya itu. Dia juga ingin Camille menghilang atau dirinya lenyap dari kehidupan Camille. Air itu sangat jernih, Kwang menengadah dan yakin, kejernihan air yang menampar-nampar pipinya pasti bisa menjernihkan otaknya.

Camille yang kelelahan sampai di pinggir sungai. Dia meletakkan tas anyaman janurnya di tanah lalu berjongkok, menegak air yang tertampung di telapak tangannya. Saat matanya beralih pandang ke air terjun, sosok Kwang terlihat. Berdiri di bawah air terjun, tanpa pakaian dan air mengalir bebas di sekeliling tubuhnya. Dia teringat saat melihat hal itu pertama kali. Dia terlalu lemah waktu itu, berpikir aneh-aneh dan pingsan.

Sekarang pun Camille juga berpikir aneh-aneh. Kwang berdiri di depannya beberapa kaki, menikmati kesegaran air dan… apa yang akan dilakukan pria itu jika Camille mendekat? Udara sangatlah terik siang ini dan Camille juga ingin mandi.

Camille memang melakukannya. Dia menanggalkan semua pakaian dan berjalan menuju air terjun. Menuju Kwang tentu saja.

Apa yang sebenarnya aku lakukan? Menggodanya?

Kwang masih terlena dengan dinginnya air. Camille kini berada di belakangnya. Tangan halus itu menggapai. Ada sedikit keraguan tapi hasrat hati semakin menuntut. Dan saat tangan itu menempel di punggung Kwang, jantung Camille tak beraturan. Sebuah getaran membuat perutnya jungkir balik.

Kwang menoleh perlahan. Wajah cantik menyambutnya, rambut yang basah dan tak perlu melihat keseluruhan, karena keremajaan tubuh Camille terpampang sekejap dan dia terlarut.

Telapak tangan Kwang yang kasar meraba kedua pipinya. Mata Camille memejam, merekam kejadian itu di memory otaknya. Hal ini akan dia ingat sepanjang hidupnya, hatinya bersorak karena Kwang menerima cintanya, hingga saat dagu pria itu menelusuri tulang rahangnya seperti yang pernah dia bayangkan. Dagu dengan jenggot tak beraturan yang memberikan sensasi aneh. Dan dadanya serasa meledak. Kwang menciumnya! Kwang merebut ciuman pertamanya. Dia melotot, terkejut dan harus mengatur nafas.

Ini gila! Gadis ini membuatku gila!

Bibir Camille serasa manis. Kwang ingin mereguk lebih dalam lagi. Dia ingin mengukung gadis itu dalam cintanya. Semenit yang lalu dia ingin Camille menghilang namun melihat gadis itu menawarkan keindahan di depannya, bahkan tak menolak ciumannya yang liar… Kwang tersesat… pusaran itu benar-benar menjerat. Air yang mengguyur serasa menghilang. Segala tentang Camille melenakan Kwang dan sekarang bibir gadis itu direguknya. Dia ingin lebih, begitu juga Camille. Kwang tahu itu saat jemari Camille memainkan rambut di belakang kepalanya.

Oh, aku mohon jangan…

Kwang menahan diri untuk tidak menurunkan tangannya dari pipi Camille. Namun dada yang bergesekan membuat Kwang merasakan Camille yang semakin mengeras. Gadis itu menegang dan menginginkannya. Sama seperti dirinya. Sama seperti kegilaan primitifnya.

Bayangan wajah marah Antoine d’Varney tiba-tiba muncul, begitu juga bayangan teman-teman seprofesinya yang pemabuk, mengacungkan gelas-gelas berisi minuman beralkohol murahan padanya. Bersorak! Memberinya selamat karena berhasil menjerat putri kaya. Menikahi Camille yang mungkin sedang mengandung anaknya saat mereka ditemukan. Lalu apa maksudnya sikap alim yang dia tampakkan pada teman-temannya selama ini? Hebat! Kau lebih hebat dari kami, Shin Hyun Kwang… .

Kwang melepaskan diri dari Camille. Kekecewaan menyelinap di mata Camille. Ini salah, Kwang menyadarkannya lewat pandangan mata lalu berbalik ke batu tempat bajunya dijemur. Entah kenapa kepedihan merambati mata Camille. Dia menangis menatap punggung Kwang yang menjauh. Rasanya tertolak, hatinya perih.

Apanya yang salah? Jika cinta ini salah, dimana letak kesalahannya?

Kwang naik ke daratan, memakai pakaian dan meninggalkannya begitu saja. Camille merasa keadaan akan sangat jauh berbeda bagi mereka sekarang. Setidaknya cinta itu ada. Camille bisa merasakannya sekejap yang lalu, sebelum bayangan kelabu meragukan Kwang dan melepaskan ciuman.

Kekakuan terasa saat mereka makan malam.  Mereka membisu. Camille menyodorkan ikan bakar pada Kwang. Kwang menerimanya tanpa memandang wajahnya. Suara binatang malam menjadi iringan dan suara ombak terkadang membuat telinga Kwang menaik.

Hanya Kwang yang menghindari bersitatap dengan Camille, gadis itu tidak. Dalam kebisuan, Camille mengamati gerak-gerik Kwang dan mendamba walau sakit hati karena ditolak masih ada. Dia tidak berkonsentrasi pada ikan di tangannya padahal duri-duri sangatlah tajam. Duri ikan membuat jarinya tertusuk dan menjerit kesakitan.

Kwang reflek meraih jari yang tertusuk itu untuk melihat lukanya tapi Camille menepis uluran tangan Kwang. “Apa pedulimu?”

Kwang menurunkan tangannya yang terulur lalu mendesah. Camille menghisap darah yang keluar di jarinya.

“Camille…, segalanya semakin sulit bagi kita.”

Akhirnya …  setelah kebungkamannya, Kwang mengakui. “Apa yang harus kita lakukan?” Kwang merasa pertanyaannya itu bodoh.

“Aku akan menjilati lukaku karena tertolak,” jawab Camille. Kwang memberikan tatapan penuh penyesalan.

“Kalau kau…,” Camille meneruskan bicara, “Terserah!”

Camille menuju tangga, namun sebelum naik, dia berbalik, menatap punggung Kwang yang masih duduk di depan api unggun. “Kenapa kau menganggap ini sulit?”

Kwang tidak menjawab. Suara jangkrik menyahut dan kayu yang terbakar di api unggun berderit-derit. Camille merasa kesal karena seperti bicara dengan batu. “Apa susahnya mengakui perasaanmu?”

Masih tidak ada jawaban.

“Jangan membohongi diri sendiri, Kang!” Camille semakin menuntut. Air mata menelusuri lembah antara hidung dan tulang pipinya, dadanya serasa nyeri.

“Bercinta di air terjun seperti makhluk primitive bukanlah kelakukan manusia beradab.”

Kenapa pria ini malah mengajukan terori konyol.”Lalu bagaimana yang beradab itu?”

“Harus ada pernikahan, Camille…”

“Kalau begitu mari kita menikah! Ada salib, kita bisa berjanji saling setia di sini!”

Gadis itu seperti bernegosiasi. Berusaha memutar penalaran dan memang benar… seperti berhitung, bukan? Bahwa satu ditambah satu sama dengan dua?

Kwang mulai kesal. Dia berdiri, berjalan ke depan Camille dan mencengkeran lengannya. “Sadarlah, Camille!  Ini hanya hasrat primitifmu sementara. Mungkin karena hanya ada kita berdua di pulau ini. Aku satu-satunya pria yang kau lihat sebulan terakhir ini jadi kau berpikiran yang aneh-aneh. Seperti yang aku katakan sebelumnya, akan lebih baik jika kita tidak terikat saat ditemukan. Kau kembali ke keluargamu. Pria-pria kaya akan menyambutmu di pesta-pesta dan  semua yang terjadi di pulau ini terlupakan.”

“Persetan dengan hari esok!” Suara Camile semakin parau. “Bagaimana jika kita tidak pernah ditemukan?”

Mata Kwang bergerak bimbang. Hal itu tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Yang dia harapkan hanyalah satu… ada kapal penolong yang datang dan dia terlepas dari Camille. Tapi kelakukan mereka adalah sebaliknya. Dan dia sendiri… Membangun rumah pohon yang kokoh seakan mereka akan menempatinya selama ribuan tahun bahkan menyebutnya ‘home sweet home’? Apa-apaan!

“Aku mencintaimu, Kang. Secara jujur aku akui itu. Walau pun kau menganggapku wanita konyol yang tak tahu malu, terserah!” Camille menaiki tangga memasuki rumah pohon. Tergesa-gesa dan marah.

Kwang mengatur nafas.  Perasaan masing-masing sudah jelas. Harusnya ini mudah. Tapi perbedaan status mereka begitu terbentang. Kwang bisa merasakan kemarahan orang tua gadis itu jika Camille terikat dengannya dan sekali lagi bayangan olok-olok teman-temannya mengganggu. Tunggu! Apa ini hanya ketakutanku saja?

Kwang menuju pantai. Laut pasang malam ini. Dia ingin menenangkan diri sejenak. Berdekatan dengan Camille membuat dadanya sesak. Camille tidak mungkin menghilang darinya, bagaimana kalau dia yang menghilang? Tentu saja, laut pasang akan memudahkan semuanya. Namun sekali lagi, wajah Camille yang bersedih karena kehilangannya terbayang. Dan memikirkan bagaimana nasib gadis itu sendirian di pulau, membuatnya tidak tega. Camille sudah benar-benar mengikatnya. Itu sulit. Sangat sulit!

 

—oOo—

Brian memasuki ruangan Robert dengan tergesa-gesa. Keputusan Robert Casssidy benar-benar di luar dugaan, pria itu menarik separuh kapal pencari Camille dan itu membuatnya marah.

Saat dilihatnya Cassidy duduk santai di kursinya, Brian kehilangan kata. Niat untuk memaki dan membentak urung begitu saja. Karisma Robert tidak bisa dikalahkan. Karisma itu bahkan membantunya selama ini.  Brian mengatur nafasnya bahkan bicara dengan pelan. “Alasan yang buruk menarik separuh kapal, Tuan.”

Casssidy menyandar di kursi dengan lengkungan di sudut mulutnya. Mungkin sebentar lagi Antoine juga melakukan hal yang sama dengan Brian tapi sepertinya tidak karena Antoine sudah mengerahkan orang sendiri, pelaut-pelaut lokal untuk mencari Camille.

“Aku yakin kau akan berpikiran begitu, Brian. Tapi ini sudah hampir dua bulan dan tidak ada hasil. Aku harus kembali ke Korea dan kau juga.”

“Saya tidak akan kembali sebelum Camille ditemukan!” tekan Brian. Tangannya terkepal di atas meja dan dia mulai gusar.

Cassidy tertawa perlahan. Inilah saatnya mengatakan pada Brian yang sesungguhnya. “Brian Rothman yang terhormat, ada banyak wanita cantik di luar sana. Kenapa kau terpaku pada wanita yang kau temui selama kunjungan singkatnya di Seoul?”

Brian menunduk. Cassidy benar, mungkin dia memang sudah gila. Dia ingin menemukan Camille, mengikat gadis itu dengan cintanya atau mungkin menikahinya. Dia bahkan rela menunggu Camille lulus kuliah untuk itu.

“Belum tentu juga Camille menyukaimu. Lagi pula… ada sedikit permusuhan antara mendiang ayahmu dengan Antoine,” Cassidy berdiri memandang jendela kaca yang berada di belakangnya dan menghela nafas. Ombak tampak berkejaran sejauh dia memandang. “Antoine tidak akan pernah setuju kau menjalin hubungan dengan putrinya jika tahu kau anak Nick Rothman.”

“Apakah ini karena cinta segitiga di antara mereka?” Brian mengibaskan tangannya. “Saya rasa Tuan d’Varney cukup besar hati untuk berpikir bahwa anak-anak tidak ada hubungannya dengan semua itu.”

Cassidy jadi geram mendengar omongan Brian. Dia menyeberangi meja lalu mencengkeram kerah baju Brian. “Jangan sok tahu, anak muda. Ini perintah! Kembali ke Korea sekarang juga! Biarkan d’Varney yang mengurus semua ini sendiri!”

“Apakah… apakah Tuan d’Varney yang menghendaki ini?” tanya Brian gugup.

Casssidy perlahan melepaskan cengkeramannya. “Bukan, tapi ini kehendak Nyonya d’Varney.”

Ya, ini kehendak Charlie. Cassidy semakin yakin dengan arti ‘mimpi’ itu. Charlie ingin Brian hengkang dari usaha pencarian Camille. Itu maksudnya! Dan itu lebih baik!

 

—oOo—

Mereka benar-benar terasing di dunia sendiri-sendiri. Bulan di langit bulat sempurna. Kwang yakin malam ini laut pasang lagi. Hawa lembab semakin menusuk pori-pori kulit. Bulan tertutup awan seketika dan benar saja… hujan turun! Kwang menurunkan anyaman-anyaman janur penutup jendela-jendela. Camille membantunya menutup pintu rumah dan berharap atap tidak bocor.

Jika mereka masih tinggal di dalam goa, mungkin mereka sudah kebanjiran seperti biasanya. Namun hujan hari ini lain, hujan pertama untuk menguji kekokohan atap rumah itu, dan ternyata memang kokoh, tak ada satu pun air yang merembes masuk, daun-daun yang rimbun dari pohon itu menaungi mereka , menjadi keuntungan dari rumah pohon itu.

Kwang terlalu mengkawatirkan rumah pohon. Bajunya basah saat menutup jendela, dia melepaskan baju itu untuk berganti dengan baju yang lain. Sekilas dia melirik Camille, gadis itu melakukan hal serupa. Apa-apaan ini? Mereka bahkan berbagi tempat untuk berganti baju? Kwang merasa tidak ada privasi di tempat ini dan dia memalingkan wajah dari Camille.

Namun sial… bayangan Camille memantul di dinding. Lekuk tubuh Camille terlihat jelas di dinding berterang jingga karena obor yang kian meredup dan akhirnya padam karena air hujan… atau pun angin… Kwang tidak perduli! Yang penting bayangan erotis itu tak terlihat lagi.

Kwang memejamkan mata, menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan.

“Kang, kau masih di situ?” Camille ketakutan karena gelap. Hanya ada suara hujan dan kilatan di langit yang sesekali kentara.

“Iya, Camille. Aku di sini.”

Camille berbaring di tempat tidurnya. Menghadap kepada Kwang walau pun Kwang tak terlihat. “Kang, mendekatlah.”

“Tidak!”

Kwang bisa mendengar Camille mendesah. Dia mengira Camille sedang kesal. Tapi dia salah, Camille sedang tersenyum. “Kenapa? Apa wajahku menakutkan?”

Pertanyaan macam apa itu?

“Justru karena kau cantik, aku jadi ketakutan,” jawaban yang tepat, Kwang.

“Kau bilang aku cantik? Aku tersanjung! Kau juga tampan.”

Oh, apa yang kau katakan, Camille… sebenarnya mau mengarah kemana pembicaraanmu?

Camille agak bangkit, menopangkan kepala dengan tangannya saat sikunya ditekuk. “Semua orang tahu apa yang terjadi jika pria dan wanita berada di satu ruangan dalam keadaan begini? Aku tahu siapa dirimu, Kang. Kau mengintipku tadi.”

Camille benar-benar menantang Kwang. “Camille, hentikan!”

Camille tersenyum. Kwang mencintainya, dia tahu itu. “Atau kau ingin aku menggodamu lagi? Seperti di air terjun. ”

“Perkataan bodoh!”

Camille merambat menuju Kwang. Indra penciumannya menuntun. Di sana ada Kwang, dengan sejuta pesonanya yang mengganggu otaknya beberapa hari terakhir ini. Membuatnya penasaran karena pria itu menolaknya. Membohongi diri sendiri, dan Camille terluka, menangis berhari-hari karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Camille tidak ingin  kesedihan itu berlarut. Dia sangat mencintai Kwang. Lepas dari Kwang yang menganggapnya gila, dia ingin terikat dengan pria itu. Saat mereka ditemukan nanti, dia ingin ada alasan untuk tetap bersama Kwang. Mungkin memohon pada ayahnya, dia rela meninggalkan kuliah demi mengikuti pria itu kemana pun. Dia gila… ya… dia gila… . Camille mengkerling, ini memang sudah keturunan, Neneknya meninggalkan Ayahnya yang masih kecil demi mengejar pria Perancis,  Ayahnya melakukan apa saja demi memanjakan Ibunya yang cantik dan sekarang…. dia… dia akan melakukan apa saja demi Kwang.

Kwang tersentak saat tangan Camille tiba-tiba menyentuh pahanya. “Camille, kau!”

Kata-katanya terputus karena ciuman gadis itu membungkam mulutnya.  Dia berusaha melepaskan ciuman itu. Kilat menyala di langit sehingga dia bisa melihat wajah Camille sekilas lalu menamparnya. Camille menangis, rasa panas menjalar di pipi kirinya dan Kwang menyesali semua itu. “Maafkan aku… Ini demi untuk kebaikanmu sendiri.”

Camille semakin merasa tersakiti. “Demi kebaikanku atau karena ketakutanmu?”

“Apa maksudmu?”

Semua  ini gila. Gelap di sekeliling dan mereka bertengkar.

“Kau takut! Kau hanya takut jika dunia mencerca kita jika ditemukan.”

“Justru aku takut masyarakat mencibirmu jika melakukan kesalahan.”

“Apakah mencintaimu adalah kesalahan?”

Kwang menahan gejolak dadanya yang turun naik. Dengan berat hati dia mengaku. “Iya!” suara sesenggukan Camille masih terdengar, Kwang mengulurkan tangannya, membekap gadis itu di dadanya. “Camille…, semuanya akan lebih sulit bagimu jika mencintaiku.”

“Kenapa? Karena kau orang miskin? Anak wanita penghibur, begitu?”  Camille menengadah, mengelus wajah Kwang yang lamat-lamat kentara, mungkin di sebabkan matanya yang semakin terbiasa dengan kegelapan. Bulu kasar di wajah Kang menusuk-nusuk pergelangan tangannya. “Aku rela menanggung semua itu, Kang. Aku ingin terikat denganmu.”

Kwang menangis. Dia tidak bisa menekan perasaan itu lebih lama. Dia juga menginginkan gadis ini. Dia mencium tapak tangan Camille yang masih menempel di pipinya dan menangis. “Aku mohon jangan, kau gadis terhormat, ada pria-pria lain di luar sana yang lebih layak.”

Camille menghapus air mata Kwang dengan Ibu jarinya. dia juga menangis, tamparan Kwang masih terasa di pipinya. “Tapi aku memilihmu. Tidak bolehkah aku, gadis terhormat ini memilihmu?”

“Kang…,” Camille menegakkan punggungnya, sekali lagi mencium pria yang sangat dicintainya. Pria yang dia yakin benar akan menjadi suaminya. Kwang tidak menolaknya kali ini. Lengan kekar pria itu mengukungnya dan ciuman itu menghangat. Dia benar-benar terperangkap sekarang. Kwang benar-benar tak akan melepaskannya, karena tangan kasar pria itu menelusuri sepanjang punggungnya, menelusup ke balik baju rajutan bututnya.

Tubuhnya semakin menegang dan dia merasakan ketakutan dan kesenangan bercampur aduk di dadanya, saat Kwang membaringkannya di tempat tidur dengan lembut. Sekali lagi Kwang mencium bibirnya, menyusuri tulang rahang, turun ke lehernya…. dan berhenti… Kwang menghentikan semua itu untuk memandang wajahnya dan Camille melongo seperti orang bego karena mengharapkan lebih.

“Kang…, kenapa?”

Kwang tersenyum. “Apa yang kau harapkan, Camille?”

“Cintamu.”

Kwang mengelus pipi Camille lalu mencium keningnya. “Tidurlah.”

“Di sini! Satu tempat tidur bersamamu?”

Kwang menggeleng. “Kau tidak tahu apa yang kau inginkan. Kau hanya…

“Apa?” Camille melingkarkan lengannya di seputar leher Kwang.

“Kau mungkin hamil jika kita tidur satu tempat tidur.”

“Seorang anak pasti bisa mengikat kita, Kwang.”

Sekali lagi Kwang menggeleng. “Orang-orang di luar sana pasti akan mengira aku menjebakmu.”

“Tapi kita tahu kalau kau tidak menjebakku.” Camille tersenyum. “Bahkan aku yang menjebakmu.”

Kwang merasa geli mendengarnya. “Kau bilang mengharapkan cintaku.”  Camille mengangguk, Kwang merebah di sampingnya. Tangan Camille terulur ke dada Kwang. Mereka berdekapan, menghalau hawa dingin. “Kau sudah mendapatkannya. Bahkan jauh sebelum kau meminta.”

“Aku tahu, kau mencintaiku. Karena itu aku bersikeras.”

Kwang mengangguk. “Kau gadis keras kepala dan terbodoh yang pernah kutemui.”

Camille mempererat pelukannya. “Menikahlah denganku, Kang. Besok kita saling bersumpah setia di depan salib.”

“Aku bukan Nasrani, kau ingat!”

“Iya, tapi biarkan aku yakin… kau tidak akan meninggalkanku setelah kita ditemukan. Hanya itu satu-satunya cara agar aku yakin.” Camille membenamkan wajahnya di dada Kwang, memukul-mukul dan menangis. “Aku bahkan berharap kita tidak pernah ditemukan, jika… jika … pandangan dunia membuatmu takut. Aku mohon, Kwang. Aku mohon turuti permintaanku!”

Gadis itu sangat tulus mencintainya. Kwang mencium ubun-ubunnya dan membisikkan kata-kata indah. “Iya…, jika itu bisa menenangkanmu, akan kulakukan. Aku mencintaimu.”

Dan Camille semakin terharu di dada Kwang.

“Tidurlah.”

Camille mengangguk. Setidaknya Kwang sudah mendeklarasikan cinta mereka. Camille tertidur dengan kepuasan hati di pelukan Kwang. Mimpinya tentang bersumpah setia di depan altar gereja saat mereka ditemukan. Besok, salib di depan rumah itu yang sementara menyaksikan kesungguhan cinta mereka. Besok akan serasa berbeda bagi mereka berdua serta pulau ini di mata mereka.

BERSAMBUNG

Tahun 2005, dan Aku Masih Seorang AA

 Aku mengayuh sepeda perlahan. Jalan masih licin akibat hujan tadi sore. Bulan ini bulan februari. Seharusnya aku sudah memulai kuliah apotekerku. Tapi apa daya, uang untuk biaya kuliah belum mencukupi. Ketua program profesi apotekerku sudah SMS, menanyakan apakah aku jadi kuliah bulan ini atau tidak. Pada waktu itu yang menerima ibuku karena aku tidak punya HP. Sampai saat ini aku tidak menjawab. Toh, aku rasa dia tahu alasanku dan memberikan tempatku untuk orang lain.

Tiba-tiba aku teringat pembicaraan dengan Ridwan tadi sore. Dari mana aku punya keberanian mengatakan perasaan Mbak Dinar padanya? Bagaimana komentar Mbak Dinar jika tahu perbuatanku? Dan sekarang, apa yang dilakukan Ridwan setelah tahu?

Lucu juga, ya…

“Eh, tahu nggak? Kata Mbak Rani, Ridwan itu mau dijodohkan sama Mira, lho.” Aku teringat omongan Mbak Dinar seminggu yang lalu sebelum dia menyerahkan surat itu padaku.

“Masa sih, Mbak? Terus Riwan-nya gimana? Mau?” tanyaku.

Mbak Dinar hanya menggeleng.

Aku tersenyum geli. Dalam otakku berpikir, seumpama Ridwan dan Mira benar-benar jadi suami-istri. Yang cowok super lembut, yang cewek agak manja dan emosional. Bisa-bisa Ridwan jadi ‘Susis’.

Hehehe…

Ups, aku mulai senyum-senyum sendiri. Apa jadinya kalau orang-orang tahu? Bisa-bisa sudah dianggap gila, bersepeda sambil senyum-senyum gaje.

Malam ini aku mengambil rute yang lain dari biasanya aku lewati. Jadinya lebih jauh. Kehidupan malam mulai beraksi. Aku melewati daerah terminal Tirtonadi. Terminal kebanggaan kota Solo yang makin terkenal setelah Didi Kempot menciptakan lagu campur sari tentangnya. Terminal ini tidak hanya menjadi ladang usaha angkutan dan perdagangan, tapi juga ladang ‘penjaja malam’. Tahu kan maksudku? Apalagi kalau bukan PSK yang marak di setiap malam di kawasan ini.

Lihat saja sekarang, perempuan-perempuan dengan dandanan dan parfum seronok berdiri di sepanjang jalan yang aku lalui. Suara music dangdut yang super norak pun juga terdengar di sana-sini. Tidak focus dan amburadul.

“Trantib! Trantib! Trantib!”

Teriakan apa itu? Trantib?

PSK-PSK itu tiba-tiba berlarian, menghindari petugas …. Oh… ada operasi … PEKAT???

Tunggu! Ternyata mereka tidak kesulitan melarikan diri. Beberapa tukang ojek segera melarikan mereka dengan sepeda motor. Huft! Aku mengencangkan laju sepeda. Jangan sampai deh petugas itu salah menangkapku. Capek, deh!

Ternyata masih ada yang lebih tidak beruntung dariku. Aku masih bisa bekerja walau pun dengan ijazah SAA. Kerja halal dan menghasilkan. Kalau pun ijazah S1 Farmasiku belum bisa menjanjikan, aku tidak akan kekurangan uang karena keahlianku sebagai Asisten Apoteker masih bisa kuharapkan.

Akhirnya sampai juga di rumah. Seperti biasa, ayah-ibu asyik dengan acara TV.

“Tadi dosenmu nelphon lagi. Dia tanya apa kamu jadi kuliah?” kata Ibu.

“Uang belum cukup mau kuliah? Dibayar pakai apa?” jawabku sekenanya sambil masuk kamar. Aku segera ganti baju, gosok gigi, cuci tangan dan kaki dan akhirnya tidur. Esok… kesibukan pasti menyambutku lagi.

 

—oOo—

“Nih, suratnya Mbak Dinar!” Aku menyodorkan surat dari Mbak Dinar pada Ridwan. Dua hari sebelum keluar dari apotek, Mbak Dinar menitipkan surat itu padaku. Entah apa isinya, aku tidak tahu. Surat itu untuk Ridwan, tugasku hanya sebagai kurir.

Ridwan menerima surat itu dengan menatapku curiga.

“Kenapa liatin aku begitu?” tanyaku.

“Kayaknya sudah ada yang baca surat ini, deh,” selidik Ridwan.

“Siapa?”

“Tahu deh siapa,” Ridwan malah balik nanya.

“Oh, maksudnya… aku?”

“Siapa lagi?”

“Buat apa aku buka surat itu?”

“Tahu deh buat apa?”

“Ah, sudah ah, ngaco!” aku meninggalkan Ridwan dengan surat itu. adzan maghrib sayup-sayup terdengar, bersaing dengan bunyi teko yang menandakan air sudah matang, Uh, begini deh kalau mitra kerja cowok semua. Suruh nyiapin minum-lah, nyapu-lah. Kayak jadi ibu rumah tangga aja padahal nikah aja belum.

Malam ini hujan cukup deras, apotek pun jadi sepi tak seperti biasanya jadi ada waktu senggang untk bersantai. Aku ngobrol dengan Ridwan di ruang racik sementara Om Itok asyik dengan game di ruang HV.

“Kenapa kamu nggak ngelanjutin kuliah?” tanya Ridwan.

“Bukannya enggak tapi belum,” jawabku. “Belum ada biaya maksudnya.”

Ridwan manggut-manggut.

“Sepertinya aku harus membiayai kuliah apotekerku sendiri,” lanjutku.

“Kenapa? Apa orang tuamu tidak bisa membiayai?”

“Nggak tahu, ya. Waktu aku minta uang sama bapak untuk kuliah apoteker, Bapak bilang tidak ada uang. waktu aku ngeyel, Bapak bilang,’kalau gak ada uang, terus kamu mau apa?’” agak emosi aku waktu ingat hal itu. aku kecewa banget sama sikap Bapak. “Kalau tidak ada uang terus kamu mau apa? Pertanyaan yang bodoh, kan?”

“Kenapa bodoh? Bukannya Bapakmu memang mengatakan yang sebenarnya? Dia memang sedang tidak punya uang.”

“Hei, Mas. Orang tua  pasti akan melakukan apa saja agar anaknya bahagia. Apalagi ini, niatku sudah bagus mau kuliah lagi. Orang tua lain pasti sudah mengusahakan agar keinginan itu tercapai. Utang sana-sini, kek. Jual apalah gitu… tapi ini? Malah mengajukan pertanyaan konyol!”

“Itu bukan pertanyaan. Itu tantangan! Kamu harus bisa menjawab tantangan itu!”

“Makanya itu aku kerja. Selama ini gaji bulananku selalu kutabung untuk biaya kuliah nanti. Itulah usahaku untuk menjawab tantangan itu.”

“Bagus! Aku yakin kamu bisa!”

Hujan di luar semakin deras saja. Beberapa pelanggan datang tapi rata-rata hanya membeli obat bebas dan obat bebas terbatas, om Itok yang di depan cukup bisa mengatasi keadaan.

“Ngomong-ngomong, gimana surat Mbak Dinar? Sudah  dibaca?” entah kenapa aku teringat surat yang kuberikan pada Ridwan tadi sore.

“Ehm.. begitulah… .”

“Bagaimana menurut, Mas? Mau menghubungi Mbak Dinar?”

“Untuk apa?”

“Memangnya Mas nggak pengen tahu kabarnya gitu?”

“Enggak!”

“Atau jangan-jangan Mas lebih suka sama Mira? IYa, kan?”

“Hush, ngaco!”

Ridwan terlihat serba salah. Aku semakin semangat menggoda. “Cie cie. Ngaku aja, Mas.” Ku cubit dia.

“Eh, kok cubit-cubit? Aku balas, nih!”

Ya ampun. Perasaan aku nyubit nggak sekeras itu tadi? Cubitannya mirip cewek! Ih, dia cekakakan lagi… Om Itok yang di depan sampai ikut nimbrung. “Ada apa, sih? Kayaknya seru banget!”

“Ini, nih, Om. Katanya Mas Ridwan mau dijodohin sama Mira.”

Hahaha. Biar tambah malu, dia.

“Eh, yang benar saja, dik? Jangan ngaco, ah!”

“Alah, jangan kura-kura dalam perahu!”

Om Itok menengahi. “Ya, sekarang gimana Pak Ridwan-nya saja. Mau nggak sama Mira.”

Sok bijak kamu, Om.

Aku memutar-mutar jari telunjuk di depan hidung Ridwan.

“Apaan, sih?” elaknya. “Sik sik, to. Kamu tahu berita itu dari mana?”

“Dari Mbak Dinar,” jawabku.

“Dinar dapat berita itu dari mana?”

“Dari Mbak Rani.”

Aku dan Om Itok bersorak. Ridwan jadi mati gaya. “Jangan gitu dong, Dik. Ntar kalau ada cewek yang naksir aku, kecewa lagi kalau dengar berita bohong itu.”

“Emang siapa ceweknya?”

“Tahu, deh. Siapa tahu ada.”

Huuuuu!!! Aku dan Om ITok semakin keras mengejeknya. Wajah Ridwan semakin mirip kepiting rebus.

 

—oOo—

 

Pagi ini seperti biasa. Jalanan Solo semakin padat dengan sepeda motor. Kemudahan proses kredit kendaraan roda dua itu, membuat semua orang berlomba-lomba memilikinya. Bayangkan saja, mereka bisa mendapatkan kredit sepeda motor dengan uang muka nol. Masalah cicilan, kalau pun akhirnya ditengah jalan tidak bisa melunasi, anggap saja uang cicilan itu sebagai biaya sewa. Orang-orang semakin gila kredit. Akhirnya pengendara sepeda angin kian sedikit, termasuk aku di antaranya. Walau pun di beberapa kota besar mulai banyak kelompok yang menggalakkan ‘bike to work’, namun hal itu sia-sia saja.

Mengendarai sepeda angin yang diharapkan mampu mengurangi polusi, justru pengemudinya terkena polusi. Lihat saja sekarang, di depanku ada truk besar yang mengeluarkan asap hitam pekat dari knalpotnya. Aku terpaksa menutup hidung.

Aku jadi teringat kata-kata dosen Kimia Lingkungan tentang asap kendaraan ini. Asap yang keluar dari mobil mewah dan tidak hitam pekat seperti yang dikeluarkan truk tadi justru berbahaya karena mengandung gas CO. Tapi walau pun  asap pekat tidak berbahaya, masih saja bisa membuatku batuk-batuk. Polusi beneeeerrrr…..

Oh ya, aku belum memberitahu kalau selama ini aku bekerja di dua apotek. Aku tahu ini menyalahi peraturan. Tapi mau bagaimana lagi? Bulan februari yang kurencanakan sebagai bulan aku memulai kuliah apoteker, ternyata gagal total. Aku harus memundurkan rencana sampai bulan September. Kira-kira bisa tidak, ya?

Target tidak mungkin tercapai jika aku hanya bekerja di satu apotek. Upah Minimum Kota yang mencapai lima ratus ribu rupiah, ternyata banyak pengusaha ritel apotek yang tidak mematuhinya. Apalagi bagi kami, Asisten Apoteker yang menurutku sebagai pegawai kelas dua di apotek. Kelihatannya sih mentereng. Kalau ditanya orang, ”Kerja di mana?” Di jawab, “di apotek!” Gak tahunya? Gajinya aja kalah ma buruh pabrik! Apa lagi kalau ada masalah, makan ati deh!

Tiga bulan yang lalu aku masih kerja di satu apotek. Ya, apotek yang diapotekeri si- Ridwan. Dan pada suatu malam… atau bahasa jawanya… Ing sak wijining wengi,… hayah!

Pada suatu malam aku bermimpi kalau nantinya aku akan diterima di suatu apotek yang pintunya berwarna abu-abu. Letak apotek itu di ujung jalan, sebelum sampai di apotek itu, aku akan melewati suatu tempat yang dihiasi rumput-rumputan. Di sana aku akan mendapatkan kamar di lantai dua dengan kamar mandi di dekat kamar itu. Kalau dilihat dari pertanda di mimpi itu, sih… aku kayaknya tahu apotek itu. Aku dulu pernah memasukkan lamaran di apotek itu tapi tidak diterima karena masih sibuk skripsi. Esoknya aku membaca iklan lowongan kerja di Koran. Aku hubungi nomor yang tertera di Koran itu. eh, ternyata benar apotek itu!

Pada waktu wawancara, aku jujur mengatakan kalau aku berniat bekerja di dua apotek untuk biaya kuliah apoteker dan ternyata PSA tidak berkeberatan. Jadilah aku bekerja di apotek yang kedua. Apoteker di sana bernama Anik dan rupanya satu angkatan sama Ridwan waktu S1 dulu.

Aku jadi ingat pada Ridwan. Rupanya tuh cowok asyik juga diajak ngobrol. Beberapa waktu yang lalu, Ridwan pernah bertanya padaku,”Eh, tahu, nggak cara termudah jadi Bu Apoteker?”

“Cara termudah  buat jadi Bu Apoteker? Apa?” tanyaku.

“Gampang! Nikah aja sama apoteker. Kamu jadi Bu Apoteker ntar.”

Dasar!

“Emange ada, Mas, Apoteker nganggur?”

“Ada!”

“Siapa?”

“Yang di depanmu ini!”

What?!  Ngelaba nih… ngelaba…

Ups! Hampir aja aku terserempet mobil. Ngelamun aja, sih… OKe! NGgak boleh ngelamun! Apalagi ngelamunkan Ridwan! Jangan sampai aku jadi korban dia berikutnya! Lebih baik nyanyi aja deh… Lagu apa ya, enaknya? Yang membangkitkan semangat gito, lho…

Ini aja, deh…

“Hai, mujahid muda… maju ke hadapan! Singkirkan penghalang… satukan tujuan!”

 

—oOo—

 

Saat Anik datang, seperti biasa aku dan Pak Tris sudah sibuk dengan pembeli dan sales dari beberapa PBF. Sejenak kami mencuekkan Anik. Bukannya marah, tapi mau gimana lagi, kerjaan banyak. Bahkan kegiatan stok barang pun terhenti karena banyaknya pengunjung. Jika dibandingkan denganku, beban kerja Anik di apotek memang lebih ringan karena itu Anik selalu datang belakangan. Sesampai di apotek, dia sudah sibuk dengan tugasnya, menanda-tangani SP dan kopi resep, kadang ikut bantu nyetok.

Saat kesibukan berlalu. Barulah kami bertegur sapa. Biasanya pas jam makan siang, kami bicara ngalor-ngidul. Kadang obrolan tidak nyambung… malah nyasar di tema obrolan seks bebas lagi…

“Kamu pernah lihat video porno, Fit?”

Ups! Kenapa Pak Tris tanya itu, ya? Tentu saja aku menggeleng. “Belum, Pak.”

“Kalau kamu?” Pak Tris menoleh pada Anik.

Anik juga menggeleng. “Menurutku hal semacam itu terlalu pribadi, jadi tidak perlu jadi konsumsi public.”

Tiba-tiba saja aku teringat pada Ridwan. Ridwan lagi… Ridwan lagi… . “Oh, Iya, Pak. Beberapa waktu yang lalu Ridwan tiba-tiba saja tanya…, bagaimana, ya… wanita itu memulai hubungan seks, padahal dia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya?”

“Maksudnya waktu malam pertama, gitu?” tanya Pak Tris.

“Iya!”

“Kayaknya… dalam berhubungan seks, cowok harus lebih dominan. Apalagi pas malam pertama dan pasangan belum pernah ada gambaran tentang hal itu,” kata Anik.

“Oh, gitu…,” aku-nya manggut-manggut.

“Betul juga, sih,” Pak Tris menimpali. “Tapi malam-malam berikutnya, sang istri harus bisa ‘menegakkan’ suami.”

Maksud loe????

“What! Gampang, Pak itu. Biar tegak gampang!” yakinku.

“Gimana?”

“Tahan aja pake kawat. Dijamin tegak, deh!”

Gerrrr!!! Jadilah mereka berdua terpingkal-pingkal.

“Dasar kamu, Fit. Gak pake beton sekalian?”

Aduh, Pak Tris malah tambah ngaco. Kirain aku sudah super nagco deh tadi.

“Sepertinya aku punya cerita unik buat kalian. Fitri dan Anik, dengar kan baik-baik, ya…”

Wah, apa ini?? Kayaknya Pak Tris mulai serius.

Ing sak wijining dino… hayah!

“Pada suatu masa ada seorang gadis berusia… ya… kira-kira empat belas tahun lah. Tahu sendiri kan… jaman dahulu itu, kalau gadis sudah di usia segitu pasti dinikahkan. Nah, itulah yang terjadi pada gadis itu. Dia dinikahkan dengan pria yang berusia tujuh tahun di atasnya. Ya… seperti kalian ini… sang gadis itu tidak tahu sama sekali masalah malam pertama. Lalu dia minta penjelasan pada Ibunya tentang malam pertama.

Agak susah juga sang Ibu menjelaskan. Terlalu banyak symbol dan sandi. Tahu sendiri kan wanita jaman dulu agak kikuk kalao bicara masalah kayak gitu. Sang gadis tetap saja tidak ngerti. Dijelasin gimana pun tetep nggak ngerti.. eh… malah takut… minta ditemenin Ibunya lagi pas malam pertama.”

Gubrak!

“Akhirnya … saking jengkelnya… sang Ibu berkata, ‘Oke, gini aja! Besok pas malam pertama… kamu sama suamimu ada di kamar… aku akan berdiri di depan pintu kamar jadi kalau ada apa-apa kita bisa langsung ambil tindakan. Kamu kasih kode Ibu dari dalam. Kalau suamimu melakukan ini, kamu teriak, MANGGA! Kalau ini.. teriak PEPAYA!…’ dan seterusnya sampai semua nama buah-buahan disebut, bahkan dicatat dan dihafalin ama si gadis.”

O’on amat itu Ibu?

Aku dan Anik manggut-manggut aja.

“Nah, singkat cerita… jadilah malam pertama. Seperti perjanjian, sang Ibu mendengarkan dibalik pintu. Pertama kali sang gadis teriak dari dalam, MANGGA! Sang Ibu manggut-manggut, OH… BERARTI LAGI ITU….terus di dalam teriak lagi, PEPAYA! Manggut-manggut lagi itu Ibu. Terus lama-lama kok teriakkannya jadi RUJAK! RUJAK!”

Pak Tris cekikikan. Aku sama Anik malah bengong.

“Kok rujak?” tanyaku.

“Iya, kok Rujak, Pak?”

“Iya, dong… Rujak kan campuran dari buah-buahan tadi.”

Oh… gitu, to…Aku dan Anik tertawa. Telat sih ketawanya… namanya juga satelit kurang tinggi.

Akhirnya kisah itu sampai juga di telinga Ridwan. Tidak seperti si O’on aku dan Anik, Ridwan langsung tertawa.

Sudah pengalaman nih, kayaknya…

“Lucu juga ceritanya, Dik.”

“Lucu, ya? Tapi aku rasa cerita itu gambaran masyrakat kita. Selama ini masalah seks begitu tabu dibicarakan karena itu pendidikan seks kurang berkembang di sini. Bersamaan itu, kondisi moral bangsa semakin menurun akhirnya, banyak ABG yang terlibat seks bebas. Banyak yang hamil di luar nikah, pengguguran bayi illegal, kasus HIV-aids lah. Ya, walau pun semua itu ibarat fenomena gunung es, sih.”

“Iya juga, sih.. dan semua itu berawal dari satu kata ‘TABU’. Saat anak berbeda pendapat dengan orang tua, mereka bilang tabu juga. Padahal belum tentu pendapat orang yang lebih tua benar dan pendapat anak muda salah. Masih ingat pelajaran filsafat ilmu, gak?”

“Yang mana, Mas?”

“Seorang anak tiba-tiba malas pergi ke sekolah. Orang tuanya bingung dan bertanya kenapa tidak mau sekolah. Anak itu bilang dia nggak suka sama bu Guru karena BU Guru plin-plan. Dua hari yang lalu Bu Guru bilang empat itu dua dikali dua, tapi kemaren Bu guru bilang kalau mepat itu tiga ditambah satu., besoknya… gak tahu, deh. Terus yang benar yang mana?”

“Oh, yang itu…,”

“Seru banget ngobrolnya. Ada resep, nih!” Om Itok masuk ke ruang racik dan menyodorkan resep.

Aku semakin dekat dengan Ridwan. Sebagai anak sulung, aku merasa menemukan figure seorang kakak darinya. Tak ayal kedekatanku dengan Ridwan didengar Mira. Tentu saja Mira yang sudah lama menaruh hati pada Ridwan cemburu pada kedekatan kami. Hubunganku dengan Mira yang selama ini kurang baik pun tambah kacau karena Ridwan. Itu juga selalu jadi pembicaraan antara aku dan Ridwan.

Ridwan malah secara jujur menceritakan apa yang dikatakan Mira waktu dia bertanya kenapa tidak pernah ke apotek lagi.

“Mira bilang kalau dia cemburu karena aku dekat sama adikku terus,” kata Ridwan.

“Adikmu? Maksudnya aku?” tanyaku.

Ridwan mengangguk.

Hiya!!! Ada-ada aja… aku di sini tuh niatnya buat kerja. Mau cari uang buat biaya kuliah! Tapi lama-lama aku kawatir juga. Kawatir kalau sang empunya apotek yang juga kakaknya Mira jadi nggak obyektif menilai kinerjaku. Jadilah aku curhat sama Ridwan. “Aduh, Mas. Gimana nih? Mira itu semakin jutek aja sama aku.”

“Cuekin aja, Dik. Lagian PSA di apotek ini kan kakaknya, bukan dia.”

“Tapi kalau masalah ini sampai ke telingan kakaknya dan berpengaruh pada kinerjaku?”

“Nggak mungkin! Yang jadi manajer di Apotek ini kan aku. Aku apoteker pengelola apotel di sini. Jadi akulah yang menilai!”

Yah… enak juga ya… jadi apoteker… doakan aku cepat nyusul deh…

Aneh-aneh saja. Nggak papa… alhamdulilah… aku kuat di apotek itu sampai perkuliahan apoteker di mulai bulan September. Dan Mira… Apa dia berhasil mendapatkan Ridwan? Tidak! Ridwan menikah sama kakak kelasku waktu SAA. Rasain kamu, Mir… . Jadi cewek segitunya, sih… suka sama Ridwan sampai membenci semua cewek yang dekat sama Ridwan. Ya aku… ya Mbak Dinar… padahal kita kan murni ‘friendship’. Hayah!

Itu adalah sekilas ceritaku waktu jadi Asisten Apoteker di tahun 2005. Semoga menjadi pembelajaran bagi yang membacanya.  Ada kalanya aku down… saat melihat teman-temanku yang bisa langsung meneruskan kuliah apoteker padahal IPK mereka dibawahku. Apalagi melihat mereka yang kemana-mana naik sepeda motor bahkan mobil sedangkan aku Cuma naik sepeda angin. Pada saat itulah aku melihat filmnya Richard Gere yang berjudul “Red Corner”.  Di film itu, dikisahkan Richard Gere dituduh membunuh putri seorang pejabat di Cina dan yang membelanya adalah seorang pengacara wanita China. Sosok pengacara wanita itu yang meninggikan semangat saya lagi. Wanita cina itu dengan gigih membela kliennya di antara intrik politik negeri tirai bambu itu. Seorang  wanita sederhana yang kemana-mana selalu naik sepeda, tapi dibalik kesederhanaan itu… ada kecerdasan di sini… di dalam kepalanya.

Selalu ada jalan bagi orang yang berusaha. Sekian … Terima kasih….

THE SECRET II (Temptation of Island — Part 6)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 6

Cassidy sama sekali tak mempercayai penglihatannya. Hal yang begitu samar. Mungkin hanya mimpi. Tidak! terlalu nyata untuk dianggap sebagai mimpi karena wanita itu benar-benar duduk di sana. Angkuh, sombong dan berani-beraninya mengotak-atik laptopnya. Dia mengerjapkan mata berulang-ulang. Mengetuk-etuk batok kepala sendiri dengan gumaman tak jelas. Sialan! Benar-benar alkohol sialan! Dia minum sedikit tapi efeknya benar-benar merepotkan bagi orang yang tidak biasa minum sepertinya.

Dan Cassidy benar-benar ingin menghukum mata-mata kecil di balik layar laptopnya itu. dia semakin mendekat, namun anehnya wanita itu  tak bergeming. Benar-benar spionase tangguh. Atau mungkin terlalu naif. Ya, wanita itu terlalu naif. Entah siapa yang menyuruhnya, pasti sangat menyesal telah menugaskan wanita bodoh seperti itu.

Cassidy sampai sudah di depan mejanya. Memicingkan mata demi melihat lebih jelas wajah yang hanya diterangi sinar dari layar laptop. Mata yang terpicing itu melebar kemudian. Sungguh-sungguh tak dapat dipercaya! Begitu mengejutkan, mulutnya ternganga. Dia gemetar. Bahkan gelas piala yang berada di tangannya terjatuh, membuahkan bunyi pecahan yang membuyarkan konsentrasi wanita yang dianggap penyusup itu.

Wanita itu mendongak ke arahnya. Wanita itu…

“Nyonya d’ Varney..,” Cassidy memanggil dengan tenggorokan yang tercekat.

Charlie berdiri dengan angkuh. Begitu congkak, sama sekali berbeda dengan yang terlihat sebelum-sebelumnya. Dan pakaian yang dia kenakan…, garis-garis tegas, potongan simple, warna-warna tanah khas kaum feminis? Bukan! Itu bukan Charlie d’Varney. Itu… itu Charlie Bouwens… Tapi…

“Bi… Bibi?” Cassidy semakin bingung. Tidak mungkin!

“Benar-benar bodoh!” Charlie melipat tangan di dada. Alisnya meninggi dengan tatapan menghardik. Tatapan yang selalu Cassidy temui dulu, saat dia masih menjadi asisten Charlie.

“Bibi, ini benar kau?”

“Tentu saja, Bodoh!”

Terdengar kekesalan dari suara Charlie. Wanita ini bahkan memejamkan mata saat mengumbar kejengkelan. Dan sekarang… Cassidy tampak seperti anak yang harus dihukum karena Charlie menunjuk-nunjuk padanya. “Aku menyerahkan Bouwens Inc padamu bukan untuk kau buat bangkrut!”

Ya, Tuhan… Ini nyata? Charlie mengingat semuanya? Cassidy mencubit lengannya sendiri dan meringis. Bukan mimpi!

“Bouwens Inc bergerak di Industri media. Siapa yang menyuruhmu memasuki bisnis pariwisata?” sekali lagi! Interogasi tegas yang menghukum.

Cassidy tidak focus dengan interogasi itu. dia menyeberangi meja. Mengabaikan kemarahan wanita itu untuk memeluknya. “Bibi, ini benar kau?”

Charlie berontak. Ditendangnya bagian vital Robert. Pria itu terbungkuk-bungkuk menahan sakit.

“Kau menginvestasikan uangku untuk kapal rongsokan tak berguna dan menghambur-hamburkan uang untuk pencarian gadis tak berguna dengan kapal itu?”

Robert  tersentak. Gadis tak berguna? Charlie menganggap Camille gadis tak berguna? Apa mungkin seorang Ibu menganggap anaknya tak berguna? Ini mimpi. Ini pasti mimpi. Aku mohon bangun. Siapa pun bangunkan aku sekarang juga.

“Hentikan pencarian! Batalkan investasi ini! Pulang segera ke Korea!”

Tunggu! Perintah yang tidak mungkin! Masih menahan rasa sakit, Robert meraih pundak Charlie. “Bibi sadarlah! Camille itu putrimu!”

Charlie menyeringai. Tatapannya membunuh ke arah Robert. Menoleh pada tangan Robert yang masih di pundaknya dan pria itu menurukan tangan perlahan. “Jangan bodoh, Robert. Jantung Pamanmu terlalu lemah untuk memberiku anak.”

Mata Robert mengerjap. Kebingungan semakin menderu. Wajah Charlie serasa berputar di depannya. Bukan! Bukan hanya wajah, ruangan ini berputar bahkan dunia jungkir balik. Robert terhuyung. Alkohol itu benar-benar bereaksi sekarang. Dia berusaha menahan tubuhn dengan bersandar di meja.

Aku mohon. Aku mohon jangan jatuh sekarang. Aku ingin memastikan semua ini nyata. Wanita ini nyata.

Tangan Robert menggapai. Dia ingin memegang Charlie sekali lagi. Namun matanya semakin mengabur. Dia jatuh. Benar-benar jatuh dan pelayan menemukannya esok harinya. Dia masih merasakan sisa pusing semalam tapi tidak ada lagi Charlie.

Antoine dan Brian menemuinya di siang hari, membicarakan kabar yang terdengar dari tim penyelamat Camille yang dikomandoi Charlie dari darat. Sementara Brian mendengarkan penjelasan Antoine, Robert tidak focus.

Begitu bertolak belakang. Jika yang semalam adalah orang yang sama dengan yang sekarang ini mengomandoi tim pencari Camille dari kamarnya, kenapa tindakannya begitu bertolak belakang? Apakah yang semalam memang mimpi?

Charlie muncul kemudian. Marah dan merasa dikhianati. Kesedihan seorang Ibu begitu kentara karena kabar tentang ditemukannya puing kapal ditutupi darinya. Wanita itu bahkan tak mau mendengarkan penjelasan suaminya. Menuduh Antoine sebagai pihak yang paling bersalah dan membentak Brian. Saat Robert tak tahan lagi, dia mengatakan kalau itu yang terbaik baginya. Charlie membentaknya, mengklaim kalau dia sama sekali tak mengenal Charlie.

Yang lebih mengejutkan… saat Charlie dengan jelas berucap, menyatakan rasa bencinya pada Antoine. Pria yang selama lebih dari dua puluh tahun menjadi suaminya itu, Robert melihat sekejap ada gurat kesedihan di wajah Antoine. Sebelum akhirnya wajah itu berubah menjadi raut kecemasan. Charlie pingsan!

Robert begitu mengkawatirkan Charlie. Dia tahu semua ini tidak pantas. Tapi kejadian semalam, yang dia sendiri ragu menyebutnya  mimpi. Karena Charlie memang di sana, mengotak-atik laporan keuangan dari laptopnya bahkan wanita itu tahu password rahasianya. Robert tahu itu. Robert yakin sudah mematikan laptop sebelum mendatangi bar tapi laptop itu masih menyala bahkan setelah dia tersadar dari pingsan. Dan Robert menyesal karenanya. Seharusnya dia merubah password setelah Bouwens Inc berada di tangannya. Ya, Pasword itu masih tetap sama, password dengan kombinasi angka, huruf dan sandi yang dirancang Charlie Bouwens. Charlie lah yang memberitahukan password itu setelah menyerahkan Bouwens Inc padanya.

Jika benar Stacy Longbotom sudah mencuci otak Charlie, harusnya Charlie tidak mengingat sandi itu. tapi Charlie ingat. Kemungkinan ingatan Charlie sudah kembali. Tapi bagaimana mungkin dia tidak mengingat Camille, menganggap Camille gadis tak berguna? Bahkan dia tidak mengingat Antoine. Yakin kalau tidak mungkin punya anak karena Williams berpenyakit jantung?

Robert mau mengatakan semua ini pada Antoine, tapi dia tak yakin yang semalam itu mimpi atau nyata. Apalagi yang menyebabkan Charlie pingsan sungguh diluar dugaan. Charlie hamil. Antoine mengatakan dengan jelas kalau Charlie hamil. Dia tidak bisa mengganggu kebahagiaan itu, dia mengurungkan niat. Bahkan kata-katanya tidak focus karena memang bingung harus memulai dari mana. Dari kejadian Charlie marah-marah di ruangannya sebelum pingsan, atau dari kejadian semalam yang dia sendiri ragu akan kesadarannya? Tapi kenapa kata-kata Antoine seolah meyakinkkannya… bukan…, Antoine bukan meyakinkannya. Antoine mengucapkan itu lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa tidak ada lagi Charlie Bouwens, hanya ada Charlie d’Varney sekarang, istrinya.

Berhari-hari Robert memikirkan semua itu. Dia bahkan mengontrol perkembangan Charlie. Sialnya, dia berlaku seperti orang iseng. Mengarahkan teropong ke pavilyun Antoine. Mengawasi aktifitas suami-istri itu. Charlie yang setiap pagi disibukkan oleh morningsickness. Antoine yang berlaku sebagai suami yang baik dengan menyediakan segala keperluan istrinya. Di siang hari, pria itu akan pergi ke pantai, kembali mengarahkan tim pencari Camille, sedangkan Charlie yang masih lemah memaksakan diri bekerja di depan  atlas, kompas bahkan hitungan navigasi, memberi perintah pada tim pencari dengan                   telekomunikasi satelit.

Setiap hari, tak pernah berhenti. Robert semakin ragu kalau kejadian malam itu nyata. Lalu siapa yang menyalakan laptopnya dengan password yang tepat?

Dan malam itu, saat dibalik teropongnya dia melihat Antoine mencium kening Charlie. Robert bisa melihat dengan jelas keromantisan suami-istri itu. Robert memejamkan mata, menghalau rasa cemburu di hatinya. Teropong itu pecah  menjadi korban kemarahannya.

Bodoh! Wanita gila! Pelacur!

Dia menghela nafas, berusaha mengkoreksi kesalahannya. Ini salah! Semua ini salah! Bagaimana mungkin aku menjadi maniak, memata-matainya dan cemburu. Mereka suami-istri. Antoine berhak akan Charlie dan aku…

Aku….

Ini adalah obsesinya. Kejadian semalam adalah benar mimpi. Kejadian yang merupakan buah obsesinya pada Charlie yang meletup-letup. Sekian kali Robert berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa alkohol memang membuatnya melihat yang tidak-tidak malam itu.

—oOo—

Goa sudah terang dengan obor di beberapa titik yang dia nyalakan, Kwang melihat Camille masih seperti posisi tadi siang, duduk di tempat tidurnya. Tapi kali ini ada aktifitas lain yang gadis itu lakukan. Entah apa, Kwang hanya menebak-nebak. Gadis itu menarik-narik gumpalan kapas di tangannya, serat yang terkandung di kapas membuahkan helaian panjang yang dia gulung di sebatang ranting. Sesekali tampak helaian itu terputus dan Camille harus dengan hati-hati mengulang prosesnya.

Kang hanya bisa melihat dari tempat tidurnya. Semenjak kejadian memalukan antara mereka berdua karena masalah datang bulan, hubungan diantara keduanya masih kaku. Camille yang biasanya cerewet lebih pendiam. Dia mungkin malu, pria yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengannya melihat dalam keadaan seperti itu.

Camille merasa kalau Kang memperhatikannya. Dia berhenti dengan kapas-kapas itu, membanting semuanya dan berbaring membelakangi Kang.

Kang menghela napas, berbaring dan berbalik membelakangi Chamille. Suara malam semakin kentara karena kesunyian di antara mereka. Kang bisa mendengar nafas Camille terpantul di dinding-dinding goa. Nafas penuh emosi. Entah apa yang membuat gadis itu marah, Kang tidak tahu.

“Kenapa kau tahu segalanya tentang aku, kau bahkan sudah melihat saat aku dalam keadaan paling lemah dan menyedihkan, tapi aku tidak tahu sama sekali tentang kau?”

Kang mendengar gerutuan Camille. Jadi itu yang membuat Camille marah? Jadi itu yang membuat  semuanya serba kaku beberapa hari ini?

“Apa untungnya, saat kita ditemukan, kau kembali ke keluargamu, aku kembali ke pekerjaanku dan selesai,” masih dalam posisi saling membelakangi mereka mengobrol.

“Ini tidak adil. Tentu saja aku berhak tahu tentangmu. Bagaimana pun kau adalah satu-satunya manusia di pulau ini yang bersamaku selama sebulan. Rasanya ini salah. Tidak sopan! Kau harusnya memperkenalkan diri. Jangan berlaku sebagai pahlawan tanpa nama… bukan… bukan  pahlawan tapi … hantu yang sok jadi pahlawan!”

Camille berbalik saking jengkelnya. Punggung Kang berkilat-kilat terterpa cahaya dari api obor. “oh, ya, tentu saja! Setelah kita ditemukan, aku akan mencarimu, bahkan aku akan menyuruh Brian mencari tahu siapa dirimu biar semuanya jelas!”

“Brian? Siapa Brian?”

Camille tersentak. Selama sebulan dia tidak mengingat Brian, pria yang sempat membuatnya jatuh hati selama kunjungan singkatnya di Seoul. Apa kabarnya pria itu sekarang? Perdulikah Brian terhadap menghilangnya dirinya di lautan?

“Dia temanku di Bouwens Inc, dia pasti membantuku!”

Kang berbalik. Dia bangkit dan mendekati Camille. Bahkan dia berjongkok di depan Camille, mencengkeram kedua sisi lengan Camille yang masih terbaring. “Teman? Benar hanya teman?”

Wajah Camille berubah pucat. Tak disangka Kang begitu marahnya, tapi kenapa? Dan Kang berusaha melembekkan wajahnya yang mengeras. Apa-apaan ini? Dia cemburu? Dia cemburu saat Camille menyebutkan nama pria lain? Sebulan ini Camille tidak pernah menyebut nama pria lain selain ayah dan kakaknya dan sekarang… Brian… siapa Brian?

Cengkeramannya di lengan Camille semakin mengendur. “Maaf… .” Kang melepaskan Camille dan duduk membelakangi Camille. Gadis itu ikut duduk dan kebingungan.

“Kau marah? Aku minta maaf kalau membuatmu marah.”

Tunggu! Kenapa aku jadi sedih kalau dia marah? Ini aneh. Camille sama sekali tak mengerti arus di hatinya. Ada apa memangnya? Bukankah memang benar kata-kata Kang, mungkin lebih baik dia tidak tahu segalanya tentang Kang. Pria itu bagaikan magnet.  Semenjak Camille memergoki Kang tanpa busana di air terjun, saat pertama dia sadar di pulau ini, Camille sudah merasakan keanehan di dirinya sendiri. Hatinya yang tak terkontrol, selalu ingin mencari perhatian Kang. Dia bahkan menikmati kekawatiran Kang. Dan punggung itu… Damn! Kenapa dia selalu tidur bertelanjang dada. Sungguh aneh mereka bisa bertahan sejauh ini.

“Aku punya Bibi di salah satu desa kecil di Jeju,” Kang mulai bersuara. Mata Camille menyipit, membuka telinga lebar-lebar. Kang menghela nafas. “Dan juga adik… adik perempuan.”

Kang mulai membuka jati dirinya. Camille mendengarkan dengan baik, menanti dengan sabar tanpa menyela. Jika memang Kang mulai jujur, dia tidak ingin suaranya membuat pria itu berubah pikiran, tertutup seperti sebelum-sebelumnya. Camille ingin tahu semuanya. Mendengar Kang menyebutkan Bibi lalu adik…, Camille ingin Kang meneruskan semuanya, mungkin memastikan pria itu belum beristri atau mungkin belum ada wanita yang menunggunya selama terdampar atau bahkan menangisinya setelah mendengar berita dia menghilang. Camille semakin bingung. Apa untungnya semua itu? Apa pedulinya Kang sudah beristri atau belum? Semakin aneh saja, kau, Camille…

“Aku yakin mereka sudah mendengar berita tenggelamnya kapalku. Mungkin mengira aku sudah meninggal.” Kang kembali duduk di tempat tidurnya. “Apakah itu cukup?”

Camille tidak tahu, dia ingin tahu lebih tapi kenapa Kang malah bertanya hal itu cukup baginya atau tidak. Camille ingin bertanya tentang orang tua Kang, tapi dia tahu Kang selalu marah jika ditanya tentang orang tuanya.

“Sepertinya memang tidak cukup,” Kang bisa menebak isi otak Camile. Ya, tidak akan cukup hanya segitu.

“Aku tidak suka kau menanyakan orang tuaku karena memang aku tidak punya,” sambung Kang.

Jadi begitu… Kang tidak suka ditanya masalah agama karena memang tak beragama dan Kang tidak suka ditanya tentang orang tuanya karena memang tidak punya. “Lalu marga Shin?” Camille keceplosan, dia seharusnya diam dulu tapi rasa penasaran sudah tidak bisa ditahan.

“Dari Ibuku .., tentu saja…”

“Kau bilang kau tidak punya orang tua,” Kenapa Camille berlaku sebaliknya? Semakin menuntut. Bersiap-siaplah menerima kebungkaman Kang lagi.

Tapi ternyata sekarang lain. Kang lebih terbuka. Gadis ini menyebut pria lain karena kebungkamannya. Dan karena itu dia ingin ‘show up’? untuk apa? Untuk merayu Camille dengan cerita sedih? Apakah taktik seperti ini masih berlaku bagi wanita seperti Camille. Oh, Gila! Kenapa harus terdampar dengan gadis secantik itu. Kang memejamkan mata, berusaha mengusir pikiran yang tidak-tidak.

“Orang tua adalah Ibu dan Ayah. Aku hanya punya Ibu tapi tidak punya Ayah … jadi…,” Kang menggelengkan kepala. Pulau ini benar-benar membuat keduanya gila. Dalam hati Kang berdoa agar segera ditemukan.

“Ibuku bahkan tidak tahu siapa Ayahku? Terlalu banyak pria dan dia tidak mungkin menuntut tanggung-jawab karena memilih pekerjaan yang beresiko seperti itu,” akhirnya… aib itu… aib itu mulai dia katakan. Ini bodoh, jika dia ingin menarik perhatian Camile, seharusnya dia menceritakan latar-belakang yang baik. Keluarga yang harmonis, bukan kenyataan kalau dia anak wanita penghibur.

Camille masih mendengarkan. Matanya masih menatap dengan penuh perhatian. Kang menebak-nebak apa yang mungkin dipikir gadis itu. Mungkin jijik setelah tahu kalau dia anak pelacur, tapi tidak… tidak ada kernyit jijik di wajah cantik itu. Hanya kernyit menunggu… entah apa yang ditunggu… Kang sekali lagi menerka-nerka. Mungkin dengan meneruskan ceritanya, Kang bisa tahu apa yang ditunggu gadis itu.

Dan cerita itu berlanjut dari bibir Kang. Begitu lancar tanpa selaan dari Camille.

Bibinya selalu menceritakan latar-belakangnya secara lengkap. Gamblang. Bisa saja sang Bibi menutupi semua itu dan mengarang cerita bodoh kalau Kang anaknya sendiri. Tapi bibinya tidak bisa melakukan itu. keluarga almarhum suaminya melarang, tidak rela jika nama ‘Ok’, marga suaminya melekat pada anak haram. Karenanya Kang tahu semuanya. Dia tahu bahwa empat bulan sebelum dia lahir, Ibunya tiba-tiba pulang dengan perut yang membuncit. Wanita itu, Shin Hae Young hamil lima bulan.

Bibinya, Shin Hae Deok sedang berduka karena kematian suaminya dan semakin pusing karena ulah Hae Young. Adiknya tidak mau mengaku tentang ayah bayinya, bukan hanya tidak mengaku, bahkan Hae Young tidak tahu yang mana. Bodoh sekali. Hae Young yang liar! Cantik tapi selalu mempermalukan keluarga. Penduduk desa mengusirnya selepas lulus SMA karena kedapatan menggoda anak tuan tanah, dia merantau ke Bussan dan Hae Deok sama sekali tak perduli waktu itu. Tapi sekarang lain, Hae Deok berpikir, seburuk-buruknya Hae Young, tetaplah adiknya.

Hae Deok merawat kehamilan adiknya itu. bersabar walau penduduk desa mencibirnya bahkan bersabar dengan ulah Hae Young karena setelah bayi itu lahir, adiknya itu tidak mau menyusui. Hae Young kecewa karena bayi itu laki-laki. Dia bahkan mengomel kalau-kalau bayi itu punya sifat seperti ayahnya yang hidung belang jika besar nanti.

Jangankan menyusui, menggendong bayi itu pun tidak pernah. Shin Hyun Kwang, nama itu diberikan oleh sang Kakek saat Hae Deok bingung-bingungnya karena Hae Young kabur lagi  dan keluarga suaminya menuntut hak warisan.

Mungkin ini kehendak tuhan, saat Hyun Kwang bayi menangis sekeras-kerasnya, Hae Deok menjulurkan payudaranya ke mulutnya dan bayi itu mulai menyesap. Ajaib! Air susunya keluar, berkali-kali Hae Deok mengucapkan syukur. Kesehatan bayi mungil itu berangsur membaik, bahkan tumbuh menjadi anak yang cerdas.

Sesekali, entah malaikat mana yang menempel di hatinya, membuat Hae young mengunjungi desanya kembali. Dia selalu membelikan oleh-oleh pada Hyun Kwang, mungkin dia sudah sadar dan Hae Deok bersyukur karenanya.

Hyun Kwang selalu memuji kalau Ibunya cantik. Cantik dan selalu berpakaian bagus. Dan Hae Young menjanjikan pendidikan yang lebih baik di Bussan. Entah apa maksudnya, Hae Deok berharap perkataan itu sungguh-sungguh. Anak secerdas Hyun Kwang memang harus meneruskan pendidikannya di kota. Bukan hanya stagnan di desa pegunungan seperti itu.

“Bibi…, aku lulus!” teriakan riang Kwang memenuhi rumah. Hae Deok memeluk bocah berusia lima belas tahun itu. Tahu kalau saat melepas Kwang ke Bussan hampir tiba. Kwang pasti akan melakukan niatannya, meneruskan sekolahnya di Bussan.

“Aku akan mencari Ibu. Ibu selalu bilang alamatnya di sini.” Kang menyodorkan secarik kertas pada Hae Deok. Mereka sedang berkemas untuk keberangkatan Hyun Kwang ke Bussan. Hae Deok menerima kertas itu lalu memasukkannya di saku kemeja Hyun Kwang. “Jaga tulisan ini baik-baik, Nak. Hanya ini yang bisa membawamu pada Ibumu.”

Hyun Kwang mengangguk dengan senyum di bibirnya. Di kepalanya sudah terbayang pertemuan dengan Ibunya. Bagaimana lega rasanya dipeluk Ibunya yang cantik. Sore itu Hae Deok mengantarkan kepergian Hyun Kwang dengan lambaian tangan di dermaga. Kapal penyeberangan itu semakin menjauh, membawa Hyun Kwang menjemput mimpi.

“Dan kau bertemu Ibumu?”

Kang menekuk siku lengannya, menjadikan telapak tangannya sebagai bantal. “Iya, dan sangat kacau! Alamat itu sebuah bar dengan beberapa kamar di tingkat tiga dan salah satunya ditinggali Shin Hae Young, Ibuku.” Kang kembali menelusuri ingatannya.

Saat menapaki bar itu. Tentu saja sepi karena dia sampai di pagi hari dan Bar hanya buka di malam hari.  Hyun Kwang remaja mengamati sekeliling interior bar itu. Beberapa pemabuk masih tertidur di sudut-sudut dan petugas berusaha mengusir. Hyun Kwang mendekati seorang wanita yang memberi perintah pada petugas itu. wanita dengan dandanan seronok tapi beraut kurang tidur, yang menatapnya dengan pandangan curiga.

“Apakah Shin Hae Young ada di sini? Dia memberikan alamat ini padaku?” Hyun Kwang mengulurkan secarik kertas yang selalu dipegangnya pada wanita itu.

Wanita seronok itu semakin memicingkan matanya dengan wajah yang semakin mendekat. “Kau! Siapa kau?”

“Saya Shin Hyun Kwang, anaknya,” Hyun Kwang menunduk sopan. Wanita itu memutar bola matanya bosan lalu memberi tanda dengan jarinya agar Kwang megikuti. Wanita itu berjalan tidak sabar dan mendumel. Hingga sampai di depan sebuah kamar, dia mengetok pintu dengan asal. “Hei…, Rose! Kau pikir Bar ini panti asuhan? Urus anakmu ini! Kau harus cari cara untuk membayar kamar ini, atau kalau tidak kau harus pergi dari sini!”

Tidak ada jawaban. Kwang menatap pintu itu bingung dan wanita itu semakin emosi. “Rose! Buka pintunya atau kudobrak!”

Gertakan itu berhasil. Pintu perlahan terbuka dan kepala berwajah pucat nongol setelah itu.  Wanita itu menunjuk pada Kwang. “Dia tidak bisa tinggal di sini! Ingat itu!”  Begitu  saja. Wanita itu pergi dan wanita berwajah pucat dari dalam kamar, yang Kwang kenali sebagai Ibunya menariknya ke dalam kamar. Hae Yeoung menutup pintu dibelakangnya lalu mencengkeram kuat lengan Hyun Kwang. “Mau apa kau ke sini?”

“Ibu… Aku lulus tingkat Yunior. Ibu janji mau menyekolahkanku di sini kalau lulus.”

Hae Young mendesis. Dia menegak dan berkacak pinggang. Bingung dengan janjinya sendiri. “Bodohnya kau mempercayai perkataanku.”

“Ibu… .”

Kwang merengek. Hae Young semakin bingung. Gelombang mual mulai naik dari perut menuju kerongkongannya. Dia tak tahan lagi dan lari ke kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya di wastafel. Tidak ada yang keluar, hanya cairan kehijauan.

“Dasar laki-laki! Bisanya Cuma… Huek!” sekali lagi dia muntah di wastafel.

“Ibu sakit?” Kwang menepuk-nepuk punggung Hae Young. Tatapan Hae Young mengarah pada Kwang. Pandangan orang kebingungan. Sebentar lagi kandungannya pasti kelihatan dan.. Kwang… Oh, Kenapa juga anak ini ada di sini? Dia tidak bisa menggugurkan bayi ini. Dia memang pelacur, tapi dia bukan wanita yang tega menggugurkan kandungan. Bagaimana pun, bayi ini sudah menjadi bagian darinya. Sama seperti Hyun Kwang, dia tidak bisa tinggal di bar ini lagi.

Hae Young masuk kembali ke kamar, membuka lemari, menarik koper besar dan mulai berkemas.

“Ibu…, Ibu mau kemana?”

“Sudah diam, Kwang!” bentak Hae Young. “Kau tidak dengar apa yang dibilang wanita itu tadi? Kau tidak bisa tinggal di sini! Ibu juga tidak bisa tinggal di sini!”

“Kami hanya berjalan tak tentu arah di kota,” Suara Kang semakin menampakkan kesedihan. Camille mendekatinya, menepuk-nepuk pundaknya. Dia sudah duduk kembali di atas tempat tidur. Cerita itu masih panjang dan Camille masih menampakkan raut prihatin. “Oh, Kang. Bagaimana kau tahu?”

“Aku tahu… Ibu selalu menghindari tatapan mataku. Itu juga menandakan kalau Ibu juga bingung mau pergi kemana.”

 

Hae Young memang kebingungan. Hae Young tidak mungkin kembali lagi ke desa. Kakaknya pasti memberikan wejangan-wejangan yang membuat kupingnya panas. Penduduk desa pasti semakin mencibir. Sekali lagi dia kecolongan, dia tidak bisa mengingat pria yang memberinya benih. Dia yakin pria-pria itu memakai pengaman, atau mungkin ada salah satu yang sobek waktu itu? Ah, dia tidak tahu.

Sementara Kwang yang berjalan di sampingnya semakin kelelahan. Dia tahu itu. Anak itu sesekali memandang penuh tanya dan dia terpaksa menghindari tatapannya. Hingga saat dia melihat sebuah rumah kecil dengan tulisan ‘For Rent’ di pintunya, Hae Young tahu ini saatnya mereka berhenti. Rumah kecil itu berhasil mereka sewa. Tentu saja sangat jauh dari kata nyaman. Hanya ada sebuah kamar, sebuah ruang tamu yang seruangan dengan dapur dan kamar mandi. Hyun Kwang merasa rumahnya di desa malah lebih layak.

Seperti janjinya,  Hae Young menyekolahkan Hyun Kwang di sekolah gratis program pemerintah. Kondisi keuangan tidak memungkinkan Hyun Kwang terdaftar di sekolah favorit, ditambah kondisi kesehatan Hae Young yang semakin memburuk.

Mulanya Hyun Kwang mengira itu sakit biasa, tapi melihat perut ibunya yang semakin membesar, dia tahu kalau Hae Young sedang hamil. Dia sangat senang waktu pertama kali melihat itu, bahkan berusaha mengelus perut Hae Young tapi tangannya ditepis oleh Hae Young.

“Ibu, di dalam situ ada adikku,” Hyun Kwang merajuk sambil cemberut.

“Diam, kau, Kwang! Tidak usah mengurus Ibu!” hardik Hae Young. Dia menyesap rokoknya, mengepulkan asap di udara.

“Ibu…, Ibu tahu, kan… merokok bisa mencelakai adik?”

Hae Young mendelik. “Iya! Dan aku memang sengaja melakukannya. Apa perdulimu, Kwang! Sudah kubilang jangan mengurus Ibu!”

Hae Young masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Dia menangis, menumpahkan semuanya di atas bantal. Hal ini terlalu berat baginya. Uang tabungannya semakin menipis dan dia tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Tapi Kwang tahu apa yang harus diperbuat. Ini waktunya mencari kerja. Ibunya tidak mungkin bekerja dalam kondisi seperti itu dan dia yang harus turun tangan. Sangat sulit mencari pekerjaan. Semuanya enggan menerima pekerja seumuran Kwang. Mereka tidak mau disalahkan jika mempekerjakan anak di bawah umur.

Hingga dia mengenal Tuan Bae, pemilik warung kelontong. “Kami tidak bisa menerimamu, Nak.” Dan Kwang pun berbalik lesu. Sama seperti sebelum-sebelumnya. Istri Tuan Bae melihat kelesuhan Kwang, sambil menggendong anaknya yang masih berumur satu tahun, dia menghampiri suaminya, “Kasihani dia, Sayang. Setidaknya berikan dia pekerjaan paruh waktu.”

“Tapi…

Nyonya Bae memberikan tatapan meyakinkan dan Tuan Bae tidak bisa menolaknya. Akhirnya Tuan Bae memanggil Kwang yang belum jauh dari warungnya. “Hei, Kau! Kemari!”

Kwang menoleh. Sambil memastikan dialah satu-satunya orang yang dipanggil, dia mendekati Tuan Bae kembali.

“Kau bantulah aku setiap pulang sekolah. Tapi ingat! Jangan sampai prestasimu turun gara-gara bekerja di warungku! Aku tidak mau disalahkan karena itu.”

“Iya…, tentu saja, Tuan. Terima kasih.”

“Berteima kasihlah pada istriku. Kalau tidak karena wanita baik ini yang meyakinkanku, aku tidak akan menerimamu!”

Kwang membungkuk hormat pada Nyonya Bae. “Terima kasih, Nyonya. Terima kasih!”

Kwang adalah remaja yang ulet. Kejujurannya membuat Tuan Bae mengacungkan jempol. Prestasi di sekolahnya pun tidak menurun karena aktifitasnya di warung Tuan Bae. Saat ujian akhir semester, dia mendapat peringkat pertama. Nyonya Bae yang sedari awal tahu keadaan Kwang, begitu kagum dan menyuruh suaminya ke rumah Kwang, memberikan hadiah berupa bahan pangan padanya. Wanita itu sangat baik tapi begitu naif. Dia tidak sadar kalau sudah mengirim suaminya ke kandang ular.

Kwang tidak tahu bagaimana semuanya berawal. Yang dia tahu, Tuan Bae hanya sekali mengunjunginya, yaitu waktu mengantarkan bahan pangan atas suruhan istrinya dan Tuan Bae memang bertemu dengan Hae Young waktu itu. Tapi Kwang tidak tahu kalau Tuan Bae juga menemui Hae Young saat Kwang sekolah bahkan jika Kwang bertugas menjaga warungnya. Hingga Nyonya Bae tahu semuanya. Wanita yang biasanya baik budi itu marah dan mengarahkan warga untuk mengusir Hae Young dan Hyun Kwang.

Semuanya telah terjadi. Bukannya menyesal, Hae Young malah memaki Nyonya Bae. “Lihat saja dirimu! Pantas kalau suamimu mencariku! Makanya punya suami itu di jaga!”

Kwang menyeret Ibunya meninggalkan rumah dengan perasaan malu. Berkali-kali dia meminta maaf pada Nyonya Bae untuk kesalahan yang dia lakukan. Mereka harus menghindari amukan warga  dengan meninggalkan rumah kontrakan itu padahal waktu itu kandungan Hae Young sudah seperti meledak.

Camille mendengarkan semua itu dan tak habis pikir. “Dia menggoda Tuan Bae? Dia menggoda Tuan Bae dalam keadaan hamil? Hah?” Camille menggeleng-gelengkan kepala. Ingin rasanya tertawa tapi takut menyinggung Kwang.

“Itulah yang terjadi. Aku sangat malu pada Nyonya Bae. Aku sudah banyak berhutang budi padanya dan Ibuku malah berlaku seperti itu dengan suaminya.” Kwang menunduk.

“Itu bukan salahmu, Kang,” Camille memiringkan kepalanya, sekali lagi memberkan tatapan penuh perhatian.

“Ini cukup, Camille. Aku tidak mau bicara lagi.”

“Kenapa?”

“Kau pasti jijik padaku setelah ini.”

Camille mendorong pundak Kwang. “Jangan bodoh! Kenapa harus jijik?”

“Aku anak wanita penghibur.”

Camille memotong kalimat Kang. “Tapi kau bukan!”

Ya, walau pun kadang semua hal tentang Kang begitu menggoda. Ups! Bicara apa, aku?

“Ceritakan lagi.., apa yang terjadi setelah itu? Kalian kembali ke desa?” Camille masih saja penasaran. Wajah ovalnya  penuh rasa ingin tahu. Kedua tangannya memegang telapak tangan Kang. Camille belum mendengar Kang menyebut nama wanita, kekasih atau istri dan itu yang ditunggunya. Dia tidak tahu apakah Shin Hyun kWang akan mengakui begitu saja. mengakui kalau dia punya istri atau pun kekasih.

Kang menggeleng. “Kali ini aku yang kebingungan. Ibu masih saja mengomel sepanjang perjalanan. Ingin rasanya menyumpal mulutnya tapi itu tidak mungkin. Dia Ibuku.”

 

Hyun Kwang berjalan menyusuri malam dengan Hae Young yang masih mengomel di sampingnya. Keramaian Busan membuatnya tambah pusing. Dia tidak bisa berpikir jernih dengan Hae Young yang masih menyalahkan Nyonya Bae atas perselingkuhan suaminya.

“Ibu, aku mohon diamlah!” sudah hilang akal. Hyun Kwang membentak Hae Young. Ibunya menganga melihat tingkah lakunya. “Kau membentakku? Kau berani membentakku sekarang?”

Hyun KWang menelan ludah. Berusaha meredamkan emosi, dia terus berjalan, menggandeng tangan Hae Young. Hingga Hyun Kwang merasa jalan Hae Young semakin melambat, dia berhenti dan melihat Hae Young yang sudah merintih-rintih, membungkuk memegangi perut.

“Ibu…, Ibu kenapa?”

Hae Young terduduk di tanah. Mereka sudah sampai di jalan yang sepi. Tak ada seorang pun di situ dan Hae Young menahan kontraksi yang semakin lama semakin terasa.

“Adikmu… dia… dia…,” Hae Young bersuara di antara nafasnya yang turun naik. Dan kontraksi itu berhenti tapi Hae Young tahu kalau inilah saatnya. Dia menggenggam tangan Hyun Kwang dan memohon. “Nak, aku mohon carilah tempat bernaung agar Ibu bisa melahirkan.”

“Kita ke rumah sakit,” Hyun Kwang akan menarik lengan Hae Young di pundaknya tapi Hae Young mengibaskannya. “Kita tidak punya uang untuk membayar rumah sakit.”

“Tapi, Ibu…

“Cukup! Dengarkan kata Ibu! Ah..!”

Kontraksi  itu datang lagi. Kwang harus bertindak cepat. Dia merangkul Hae Young, memapahnya mencari tempat bernaung. Sebuah gudang tak terawat  di pinggiran kota terpilih sebagai tempat. Kwang membersihkan lantainya dan   Hae Young langsung berbaring di atasnya, menikmati kontraksi yang semakin lama semakin pendek jarak timbul-tenggelamnya.

“Ibu… apa yang harus aku lakukan?” Remaja sekecil itu menghadapi kelahiran sendirian tentu saja dia kebingungan.

“Diam saja di situ, Kwang,” Hae Young mengatur nafas. Jeda kontraksi datang dan dia agak menghela nafas sekarang tapi dia masih meringkuk, menahan rasa sakit di rahimnya dan pergerakan bayi yang dia rasakan semakin ke bawah. “Turunlah, Sayang… capai kebebasanmu,” Hae Young mendumel. Perkataan yang tidak bisa ditangkap Kang. Dia bisa mengingat semuanya sekarang, dia ingat bagaimana pergerakan bayi ketika melahirkan Kang dan dia bahkan ingat kapan harus mengejan. Ini belum saatnya. Waktu masih panjang, bahkan air ketubannya belum pecah.

“Kwang, kemarilah!”

Kwang mendekati Hae Young, memegang tangannya. “Ini saatnya kau melihat bagaimana dulu aku melahirkanmu. Ah… Huft! .. . Sama seperti adikmu… aku… aku tidak tahu … siapa ayahmu. Jangan coba mencarinya karena aku juga tidak…. .Ah!… .”

“Iya…, Iya, Ibu… aku tahu!” Kwang menangis melihat penderitaan Ibunya. Kenapa Ibunya harus mengungkit masalah itu sekarang? Kenapa?

“Kwang… kau… tahu… Tuan Bae… Bae… menjanjikan biaya persalinan untuk Ibu.” Wanita itu mendesis-desis menahan rasa sakit. Tulang punggungnya serasa mau lepa dari tulangnya. “Kwang.. kwang… bisakah… kau… pijat punggungku, Kwang…”

Kwang masih menangis. Tangannya terulur ke begian belakang Ibunya, memijat sepnjang tulang belakang Ibunya.

“Ya… benar… benar seperti itu…sshhh..,”

“Maafkan Ibu, Kwang. Ibu lemah dan membuatmu malu di depan NYonya Bae.”

“Ibu, sudahlah.”

Hae Young mendongak, menatap wajah putranya yang begitu baik hati. Putra yang sempat dia ingkari setelah kelahirannya. Dulu dia menyusahkan kakaknya saat melahirkan anak itu dan sekarang dia merepotkan anak itu karena kelahiran adiknya. “Kau anak baik, Kwang… Jagalah adikmu. Berjanjilah kau akan menjaga adikmu.. .”

“Ibu… Ibu…,” Hyun Kwang merasa perkataan Hae Young aneh. Kita akan menjaganya bersama-sama, Ibu. Kita akan kembali ke desa. Aku tidak perduli dengan pendidikanku lagi. Semuanya pasti bahagia jika kembali ke sana.

Saat Hae Young merasa tiba saatnya untuk mengejan. Hyun Kwang melihat sang Ibu berpacu dengan maut, mendorong keluar bayi itu. Bahkan remaja ini bisa merasakan rasa ngilu di perutnya. Teriakan Hae Young membuat kepalanya berdenyut, dan dia memeluk tubuh Hae Young yang semakin basah oleh keringat. Selalu mendorong sampai kepala bayi itu keluar.

“Oh, ya Tuhan… Ya, Tuhan..,” Hae Young terkejut melihat kepala bayi yang muncul lalu tertawa sesaat dan melihat wajah Kwang yang masih merangkulnya. “Kwang…, ke bawahlah, jika tangannya sudah terlihat… tarik dia keluar.”

“Tapi…

“Lakukan sekarang!”

Kwang tergagap dan beralih ke bawah Hae Young. Dia gugup karena Hae Young mendorong lagi dan kepala bayi itu berputar, membebaskan bahu dan tangannya yang akhirnya terlihat.

“Sekarang…Akh…,” sekali dorongan lagi dan Kwang menarik tubuh bayi itu keluar walau dengan tangan gemetaran. Malam ini serasa melelahkan bagi mereka berdua. Sebuah mimpi buruk bagi Kwang yang tidak boleh terulang lagi di masa depan. Kwang berjanji dalam hati.

“Itulah kenapa kau marah ketika kutanya pernah atau tidak melihat wanita melahirkan?” Camille manarik kesimpulan dari kisah masa lalu Kang. Pria itu mendongak, menghembuskan kekesalan di udara. “Adikku perempuan.”

Camille tersenyum. “Aku tahu itu, kau sudah mengatakannya.”

Kang menatap wajah Camille. Wajah yang lebih teduh dari sebelum-sebelumnya. Ada kesimpulan lain yang ditarik oleh wanita itu dan Kang tidak mungkin tahu sekarang.

“Tangisan Nam Yoen membuat semua orang tahu kehadirannya. Mereka mengevakuasi Ibu. Pendarahan setelah itu tak juga berhenti. Ibu meninggal seminggu kemudian.”

“Itu buruk, Kang.”

Kang menghela nafas lalu berbaring kembali. “Sudahlah, jika tidak begitu kami tidak kembali ke Jeju.”

“Bibimu pasti terkejut melihatmu pulang bersama bayi,” tebak Camille.

“Iya, tapi dia cukup pintar menebak kalau itu adikku. Pengumuman tentang sekolah pelayaran aku baca dari Koran sebulan setelah aku tiba di Jeju. Sekolah gratis, langsung disalurkan ke perusahaan pelayaran jika prestasimu bagus. Dan aku harus berusaha untuk itu. Aku berhasil. Perusahaan pelayaran raksasa mengkontrakku tiga tahun sebelum aku bergabung dengan Bouwens Inc.”

Camille pikir inilah saatnya, inilah saatnya mengetahui lebih lanjut kehidupan pribadi Kang jadi dia bertanya. “Lalu cerita selingan di antara usahamu itu?”

Kang tertawa mengejek. “Kau pikir apa? Menjalin hubungan dengan wanita-wanita penggoda macam Ibuku?”

“Jahat sekali kau menuduh dia wanita penggoda!”

Kang terkekeh. Camille mendorong lagi pundaknya. “Tidurlah!”

Camille mengangguk. Dia menuruti perintah Kang, berjalan ke tempat tidur dan berbaring.

“Kang… tidak ada wanita yang menunggumu, kan?”

Dahi Kang berkernyit mendengar pertanyaan Camile. Maksudnya?

“Kang,” wanita itu masih menuntut jawab. Walau berbaring, Camille masih menghadap pada Kang. Matanya yang lebar seakan bisa menembus keremangan goa.

Kang menghela nafas. “Ada, Bibi dan adikku.”

“Kalau kekasih atau istri?”

Apa? Wanita ini… gila!

“Itu tidak penting bagimu!”

“Jawab saja…, ada… atau tidak….”

Kang membalikkan badan dengan jengkel. Camille tersenyum penuh kemenangan. Kang belum mempunyai istri atau pun kekasih. Dia lega mengetahuinya. Tunggu! Kenapa harus lega? Memangnya itu penting? Benar kata Kwang, itu tidak penting bagimu!

Itu tidak penting bagimu, Camille… Itu tidak penting!

Sama sekali tidak penting!

 

BERSAMBUNG

akhirnya…. selesai juga part ini… membingungkan.. gua juga bingung… mungkin part ini akan mengubah pendapat kalian tentang Kang mau pun Charlie, tapi part ini memberi clue tentang Kang dan juga Robert Cassidy… jangan menebak-nebak karena aku tidak suka jika ceritaku ketebak. Ngok!

 

THE SECRET II (TEmptation of Island — part 5)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 5

“Benar-benar anugrah,” Berkali-kali kalimat itu mendesis dari bibir Antoine. Charlie yang berada di sisinya menyunggingkan senyum. Setengah jam sudah mereka menyandar di punggung ranjang saling berpegangan tangan. “Aku takut sekali saat kau bilang membenciku.”

“Aku menyesal, Antoine. Maaf… .” Pandangan mata Charlie serasa penuh penyesalan. “Aku janji tak akan mengulanginya lagi.” Charlie mengangkat tangannya yang bebas dari genggaman Antoine. “Suer!”

Antoine meraih kepala istrinya hingga Charlie menyandar di dadanya dan mampu merasakan nafas kelegaannya. “Aku takut kehilanganmu. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Charlie terkekeh. “Kau pikir apa? Tentu saja merawat anugrah ini.” Charlie kembali mengelus perutnya kemudian mendongak pada Antoine. “Nathan harus tahu kabar ini. Telephon dia, Sayang.”

“Ehm,” Antoine tampak berpikir sebentar. “Oke, kita dengar bagaimana pendapatnya.”

Antoine merogoh handphone di saku celana. Komunikasi dengan Nathan terjalin kemudian. Anak itu terkejut mendengar hadirnya anggota keluarga baru di antara mereka. “What a surprise! Oh, My God, Dad. You are so fertile!”

Antoine langsung tersinggung mendengarnya. “It’s not polite!”

Nathan malah cekikikan di telephon. “I want to talk with Mom, please.”

“Hello, My Boy,” Nathan tidak sadar kalau Antoine me’loadspeaker’ handphone sehingga dengan mudah Charlie menyahut pembicaraan.

“Oh, Mom… . It’s you?” Nathan benar-benar terkejut. Tapi tawanya menggema lagi. Charlie heran sambil berpikir apanya yang lucu di sini. “Mom, I think I know what happened when I wasn’t there!” Sekali lagi Nathan menggoda mereka. “Nice summer, isn’t it?”

“Oh, Nathan!” Charlie jengah juga dengan godaan Nathan. Apa yang terjadi selama dia di Toronto sendirian? Pergaulannya masih seperti dulu, kan? pikir Charlie.

Nathan berusaha mengendalikan tawa. Dia tahu Sang Ibu tidak menyukai sikapnya barusan. “Sorry. Ehm,” Dia berdehem sebelum melanjutkan bicara. “Mom, Do you know the risk? You aren’t young anymore. You know…, preaklamsia,  difficult to push, even the possibility of down syndrome babies are born because the ovum is already weak.”

“Hei, hei, Don’t make us down!” Antoine memotong cepat. “We know you are smart in medical school but… don’t say that  to scare your Mom.” Antoine mengatakannya sambil mencium ubun-ubun Charlie. Mata Chalie memejam sesaat. Lebih tenang rasanya menghadapi segala kemungkinan buruk yang tadi disebut Nathan jika selalu ada Antoine di sampingnya.

“Just pray for me, oke?” Charlie mendesah. Nathan menyanggupi.

 “Mom, I want a baby boy,” Nathan tahu kalau Charlie sedikit kawatir karena ucapannya barusan sehingga membelokkan pembicaraan. Kini terdengar tawa khas Charlie. “Of course, dear. But … male or female, it’s not a problem for me  now. I just hoped the baby will  born healthy.”

“OK, enough talk about the baby,” Antoine mengambil alih pembicaraan. “Now …, how to Toronto? “

“It’s OK here. Don’t worry! Grandpa do the business well.”

Antoine menghela nafas. Tidak tega rasanya meninggalkan Sang Ayah yang seharusnya sudah pensiun itu mengurus bisnis keluarga sendirian, tapi Antoine yakin Charlie masih belum mau diajak pulang. “Regards for him. We would come home after Camille found.”

Charlie menatap mata sendu Antoine. Ada kesedihan di mata itu. Antoine sedikit menerawang. Charlie mengambil alih handphone dari tangan Antoine. “Dear.., I think we must end the conversation now. Take care of you, OK!”

“I will, Mom. Congratulation again!” salam perpisahan terdengar sebelum Charlie menutup telephon.

Antoine melorotkan tubuh hingga berbaring. Charlie mengamatinya, masih duduk menyandari punggung ranjang. “Kau ingin pulang?” tanya Charlie.

“Tidak! Aku hanya … tiba-tiba merasa ngantuk.”

Charlie tahu kalau Antoine berbohong. Tapi memang Antoine merasa lemas jika mengecewakan Ayahnya. “Aku tidak apa di sini sendiri. Pulanglah jika ingin.” Charlie menggigit bibir. Serasa perih mengatakan itu, dia teringat lagi kemungkinan buruk yang disebutkan Nathan.

Antoine menggeleng. “Seperti yang ku janjikan, aku akan tetap di sini. Bersamamu sampai Camille ditemukan.”

“Tapi, Ayahmu?”

Antoine merapat pada Charlie, menopangkan kepala di pangkuan Charlie, melingkarkan lengan di pinggangnya lalu mencium perutnya. “Tidak usah dipikirkan. Dia selalu bilang bosan di rumah terus kalau pensiun.”

Charlie tersenyum. Dibelainya rambut Antoine seperti biasa hingga ketukan di pintu membuyarkan keasyikan mereka. Antoine bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah pintu. Pelayan berdiri di depannya saat pintu itu terbuka.

“Mr. Cassidy at the living room, Sir.”

Antoine mendengus. Ada apa lagi?

“Thanks!” Antoine menutup pintu. Dia berjalan ke meja rias untuk merapikan rambut.

“Ada apa?”

Antoine meletakkan sisir pada tempatnya lalu menghampiri Charlie. “Ada Cassidy di ruang tamu. Aku tidak tahu apa lagi yang dia mau tapi… kau tidurlah!”

“Apa ada berita terbaru tentang Camille?” Mata Charlie melebar memikirkan kemungkinan itu. Antoine menggeleng. “Entahlah, tapi aku tetap bersikeras. Kau harus istirahat sekarang. Ayo, berbaringlah!” Antoine membimbing Charlie untuk terbaring nyaman di ranjang.

“Berjanjilah, Antoine…,”Charlie menggengam tangan Antoine sebelum pergi. “Berjanjilah kau akan mengatakan sejujurnya tentang perkembangan berita Camille. Jangan kau tutup-tutupi seperti kemaren.”

Antoine memberikan senyuman menenangkan. “Aku berjanji kalau kau juga berjanji untuk selalu kuat menerima kemungkinan terburuk.”

“Aku…,” Mata Charlie bergerak bimbang. “Aku akan berusaha… semampuku.. .”

Sekali lagi Antoine tersenyum. “Kau harus berusaha sebaik mungkin karena sekarang ada dia yang bergantung padamu,” Antoine menunjuk perut Charlie dengan dagunya. Gantian Charlie yang tersenyum sambil mengangguk.

“Tidurlah!” Antoine mengecup kening Charlie sebelum meninggalkan kamar. Dia menutup pintu perlahan seolah tidak mau suara angin mengganggu keheningan istrirahat istrinya.

Di ruang tamu, baru saja keduanya duduk,  Robert langsung memberondongi Antoine dengan pertanyaan seputar keadaan Charlie. Terlihat sekali kekawatiran Robert pada istrinya, Antoine sedikit risih. “Hei, She is my wife. Remember it!” Antoine mewanti-wanti.

Disadarkan dengan posisinya, Robert terlihat lebih tenang. “Tapi dia baik-baik saja, kan?”

Antoine mengangguk. “Anak ketiga kami akan segera lahir.” Tampak sekali keoptimisan di wajah Antoine, tak menyadari Robert yang jadi melongo mendengarnya.

Rasa sedih menyelinap di hati Robert, dia berusaha  menghalaunya. Bukankah seharusnya dia ikut bahagia untuk Charlie?

“Apakah tidak apa-apa mengandung di usianya sekarang?”

Antoine menghela nafas. “Dia akan baik-baik saja. Aku akan pastikan itu.”

Robert teringat saat Charlie marah-marah di ruangannya. “Saat dia marah… dan menunjuk-nunjuk seperti tadi… Charlie Bouwens…,” Robert menerawang. Antoine menyadari itu dan memotong lamunan Robert. “Tidak ada lagi Charlie Bouwens, yang ada adalah Charlie d’Varney, istriku.”

Antoine memastikan itu… Charlie Bouwens hanyalah khayalan, mungkin memang seharusnya terlupakan.

—oOo—

Berhari-hari Hyun Kwang disibukkan dengan pembangunan ‘rumahnya’. Setiap kali dia berangkat ke ‘proyeknya’, dia selalu memastikan api di depan goa menyala. Camille yang sudah terbiasa memasak masih kesulitan menyalakan api. Kang harus menyalakannya atau dia terima pisang saja sebagai makan siang ketika kembali ke goa karena Camille belum memasak.

Kadang-kadang Camille mengantarkan makan siang. Sekedar ikut melihat perkembangan ‘proyek’ Kang. Rupanya kali ini dasar rumah sudah terpasang. Kang menguji ketahanannya dengan naik ke atasnya. “Bagaimana? Lihat! Ini tahan sampai seratus tahun!” Kang berdiri sambil berkacak pinggang.

Camille mengangkat tangan, mengelus dasar  rumah pohon yang berada tepat di atas kepalanya yang terbuat ibu tulang daun kelapa. “Kau yakin? Menurutku kurang kuat! Kau dan aku akan menghuni rumah ini. Jadi setidaknya diperlukan kekuatan lima kali berat tubuh kita agar dasar ini tidak roboh.”

“Ah, Aku yakin ini kuat, badanmu tinggi kurus begitu! Lihat, nih!” Kang meloncat-loncat, menguji kekokohan dasar ‘proyeknya’.

Satu loncatan.

Dua loncatan.

Tiga loncatan.

Bruk! Alas rumah ambrol!

Kang jatuh dengan posisi duduk dan meringis kesakitan. Bukannya menolong, Camille malah tertawa-tawa senang. “Apa kubilang!”

Kang jadi sewot. Dia berdiri, bersungut-sungut sambil menepuk-nepuk pantatnya yang kotor.

“Makan dulu, yuk!”

Kang menolak ajakan Camille. Pria itu mengambil alat ‘batu runcingnya’ dan masuk lebih dalam ke hutan. Camille mengangkat bahu. “Ya, sudah! Ku habiskan sendiri makan siangnya!” Camille meneriakki angin karena Kang sama sekali tidak menghiraukannya.

Setelah kejadian itu, Kang tidak mengijinkan Camille menginjakkan kaki di sekitar ‘proyeknya’ lagi. Camille protes tapi keputusan Kang sudah bulat. Kang memberinya tugas untuk pergi ke pantai jika merasa bosan sendirian di goa, mengecek tanda SOS di pasir dan bendera buatan tetap ada di tempatnya.

Tapi lama-lama rutinitas itu membuat Camille bosan juga. Hingga akhirnya dia menemukan keasyikan baru, menjelajah hutan. Dia semakin menikmati pulau asing ini. Pulau asing? Entah kenapa, Camille merasa tidak asing lagi pada pulau ini. Di pulau ini dia menemukan flora yang selama ini hanya tergambar dari herbarium.

Ini….  Phyllantus niruri, L? Pipper betle ? Bukan hanya itu tapi … masih banyak lagi ! Camille menandai setiap tanaman yang ditemukan berdasarkan morfologinya. Dia menelusurinya sampai ke dalam tanah dan… Oh my God! Curcuma domestica Rhizoma ! Camille mencakar-cakar tanah dengan tangannya, menarik herba itu hingga umbinya terangkat.

Hingga akhirnya di suatu hari, dia mendengar suara dengungan. Saat kepalanya terangkat ke atas, dia melihat sarang lebah yang cukup besar tergantung di dahan pohon.

Mell depuratum!” teriaknya senang sambil mengangkat kedua tangan. Camille mengambil batu di tanah lalu melempar sarang lebah itu. Dalam sekali lemparan, sarang lebah jatuh. Camille memungut benda itu dan tentu saja para lebah yang terusik menyerangnya.  Camille lari menghindar sambil menjerit-jerit.

Kang yang mendengar jeritan Camille  terpaksa meninggalkan ‘proyek’ untuk melihat apa yang terjadi. Bukan main kagetnya Kang, Camille lari kencang dengan sarang lebah di tangan dan para lebah mengejar di belakangnya.

“Lepaskan benda itu, Bodoh!” teriak Kang sambil mengejar Camille.

“Tidak akan!” Camile terus menghindari sengatan lebah. Larinya cepat juga. Bahkan Kang agak kewalahan mengejarnya. Dia berlari ke arah sungai lalu terjun ke dalamnya. Gerombolan lebah tidak mungkin mengikutinya di dalam air. Koloni itu menyebar ke segala arah, hingga tak ada satu lebah pun di tempat itu.

Kang terbungkuk-bungkuk di pinggir sungai, mengatur nafas. Bodoh sekali, Kang tersenyum geli mengingat kejadian barusan. Anak manja itu rupanya sudah gila.

Pria itu berjalan ke arah Camille tenggelam. Tampak gelembung-gelembung udara pernafasan Camille di permukaan air. Saat Kang melihat ke dalam air, Camille ada di situ berenang gaya batu. “Hei, keluarlah! Mereka sudah pergi!” kata Kang.

Camille menggelengkan kepala. Kang mendengus. “Sampai kapan kau di situ terus! Persediaan udara di paru-parumu makin menipis.”

Camille menggerakkan kaki hingga kepala dan bahunya muncul di permukaan air. Terdengar nafasnya yang gelagapan. Tangan kanannya terangkat, sarang lebah curiannya basah. Air meluncur turun dari benda bulat itu.

“Untuk apa itu?” Kang menunjuk sarang lebah. Camille sudah bisa mengatasi pernafasannya lalu mulai menepi ke dataran. “Ini madu asli, tahu! Mahal kalau sudah ada di mal-mal Toronto.”

Kang mengamati Camille yang tertawa-tawa sambil menimang bulatan kecoklatan itu. sepertinya Camille cukup puas dengan temuannya…, bukan… rampasannya dari para lebah.

“Terserahlah! Asal jangan kau ulangi lagi! Tidak selamanya kau selamat dari sengatan lebah,” Kang memperingatkan sambil ngeloyor pergi.

“Jangan kawatir!” sekali lagi Camille meneriaki angin karena Kang meninggalkannya begitu saja.

Camille kembali ke goa. Diperasnya sarang lebah itu, menampung madu yang merembes keluar dari dalamnya di sebuah batok kelapa. Lalu   mengendapkannya di bawah sinar matahari sambil memasak. Sore hari, ketika Kang kembali ke goa. Madu sudah terpisah dari air. Camille menuangkan air yang ada di permukaan hingga hanya tertinggal cairan kental di dasar wadah. Wajahnya cukup puas ketika menenteng batok kelapa itu ke dalam goa.

Petualangan Camille tidak terbatas pada tanaman tapi juga pada masakan. Setiap hari, Kang dikejutkan dengan menu baru. Bisa-bisanya si anak manja mempunyai pikiran membungkus ikan bersama parutan kelapa, garam dan cabe di dalam daun pisang dan memangganngnya di atas api? Kang sempat uring-uringan karena Camille mengambil ‘batu runcing’ nya untuk mengerok kelapa. Tapi merasakan lezatnya masakan itu, sepertinya Kang harus berpikir dua kali untuk memarahi Camille walau pun ‘proyek’nya tertunda. Belum lagi saat Camille malas memasak, dia membenamkan ubi jalar begitu saja di bara api dan ternyata ubi bakar yang cukup mengenyangkan siap disantap. Dan Kang mulai bersyukur dengan keberadaan si anak manja Camille di masa-masa terdampar. Setidaknya berikan Camille kepercayaan. Sementara proyek rumah pohon hampir selesai, Kang tidak menyadari, si anak manja telah bertranformasi menjadi pribadi yang semakin matang dan cantik.

Pada akhirnya, Kang harus selalu menekan rasa tertariknya pada Camille. Dia meyakinkan pada diri sendiri, berusaha menganggap Camille sebagai adik. Dan dia harus bisa melakukan itu. Camille memang dekat, tapi pada dasarnya, mereka terpisah cukup jauh. Dan posisinya masihlah ABK yang harus melindungi klien kapalnya.

Namun Camille selalu tanpa sadar mengumbar pesonanya. Dengan sikap sok ingin tahunya dan terkadang membuat Kang kawatir. Camille hampir digigit ular dua hari yang lalu. Empat  hari yang lalu, sempat terperosok ke jurang karena jalan licin habis turun hujan. Oh, ya… dan jangan lupakan aksi Camille mengalihkan perhatian induk ayam hutan seminggu yang lalu untuk mengambil telurnya yang membuahkan luka patokan di lengan.

 Anak manja itu tetap saja nekat dan Kang memutuskan lebih fokus pada proyek rumah pohonnya . Dia membiarkan  Camille menyusuri hutan sendirian siang itu. Kang yakin benar kalau Camille mulai terbiasa dengan keadaan hutan. Camille cukup cerdas belajar dari pengalaman.

 Camille menjinjing tasnya yang terbuat dari anyaman janur kelapa, sebagai wadah daun apa saja yang menarik minatnya dan dia pikir berguna.   Camille berjalan terlalu jauh. Sisi lain pulau yang lebih tinggi terlewati. Seakan berada di ujung dunia, dia bisa melihat pulau itu di bawahnya namun di sekeliling pulau itu tetaplah air asin. Seketika suasana terasing menyeruak. Dia bahkan sudah lupa, berapa lama mereka terdampar. Hingga saat matanya terpaku pada tanaman yang mengering di sebelah barat pulau. Camille lebih berhati-hati menuruni tebing untuk mendekati tanaman itu. Tangkai dan daunnya memang kering,  tapi lihatlah buahnya… sesuatu yang putih kekuningan bergumpal, halus dan lembut, menyembul di atas kelopak.

Camille tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. “Kapas…,” lalu keningnya berkerut.., mengingat-ingat nama latin tanaman itu. “Jika masih berada di kepulauan asia tenggara, kemungkinan jenisnya Gossypium arboreum.” Camille bicara sendiri di depan serat kapas yang merekah.

Dengan senyum yang terkembang, dia memetik kapas sebanyak-banyaknya. Bukankah kami juga perlu baju? Dia memang tidak bisa memintal kapas menjadi benang, tapi setidaknya dia bisa mencoba.  Camille merasa puas dengan temuannya kali ini. Dia melewati bagian pulau yang dikuasai para monyet. Agak mengendap-endap dia berjalan, tanpa mau mengusik monyet itu dengan kehadirannya. Kemaren-kemaren dia sudah mengusik lebah, ular dan ayam hutan, dan dia tidak mau membuat Kang kawatir lagi dengan mengusik monyet.

Tapi Camille memang sudah membuat Kang kawatir. Kang panik saat dia masih belum kembali ke goa padahal matahari sudah mulai tergelincir. Masakan yang sudah disajikan Camille di atas batu dalam goa tidak menggugah seleranya makan. Camille yang belum pulang lebih menyita perhatian. Kang keluar goa lagi, menelusuri pulau demi Camille.

Kang mengikuti jejak yang ditinggalkan Camille. Cukup membuat Kang keheranan karena Camille bisa berjalan sejauh itu. Lebih heran lagi saat Kang melihat jejak Camille di tebing tertinggi pulau itu. Sama seperti Camille, dia bisa melihat keadaan seluruh pulau dari sini dan saat menolehkan kepalanya ke barat, semak kapas sudah tak beraturan. Kang menuruni tebing dan berpikir keras saat berada di antara semak kapas.

Jadi ini yang menarik perhatiannya? Bibir Kang menampakkan lengkungan. Camille berpikir mau membuat baju? Kang semakin yakin kalau si- anak manja itu tentu banyak akal. Sekali lagi Kang harus menekan rasa kagumnya.

Gadis manja itu masih belum nampak batang hidungnya.Tunggu! Gadis manja? Kang mengubah julukan Camille jadi ‘Gadis manja’. Satu tingkat lebih tinggi bukan?

Kang menyusuri lagi jejak langkah yang ditinggalkan Camille. Dan lihatlah… gadis manja itu rupanya sampai di kawasan para monyet, berjongkok dibalik batu, mengamati sesuatu… entahlah apa itu yang menarik perhatiannya. Bahkan dia tidak sadar kalau Kang sudah berdiri di belakangnya. “Hei, apa yang kau lakukan?”

“Ssst….,” Camille memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk di bibir lalu menarik lengan Kang agar ikut berjongkok di sisinya. “Lihat itu !” setengah berbisik, Camille menunjuk obyek yang menjadi pengamatannya.  Seekor monyet betina bunting yang terisolir sendiri di semak-semak.

“Apa yang dilakukan monyet itu sendirian di situ?” Camille bicara dengan mulut setengah tertutup. Suaranya mendesis di keheningan batu. Kang ikut memicingkan mata melihat monyet itu.

“Oh,” mata  Camille, membelalak satu tangannya  menutupi mulutnya yang terbuka saat dia melihat monyet itu menungging. Kang pun berhenti bernafas sebentar tapi dia tahu apa yang akan terjadi. Dan benar saja, monyet itu mengejan dan lima menit kemudian muncul bayi monyet mungil dari bagian bawah tubuhnya.

“Oh, ya Tuhan!” Camile memekik dalam bisikan, masih dengan membekap mulutnya.

“Dia hanya melahirkan,” Kang hendak berdiri tapi Camille menarik lengannya lagi. “Tunggu!” terpaksa Kang berjongkok lagi.

“Aku ingin melihat apa yang dilakukannya setelah ini,” Camille berbisik lagi, kali ini sambil tersenyum. Kang memutar mata bosan.

“Kenapa? Memangnya kau pernah melihat kelahiran?” Camille protes dengan bibir maju beberapa senti lalu menoleh lagi ke monyet. Monyet itu mulai menjilat-jilati bulu anaknya lalu menggigit tali pusarnya untuk memisahkan dari plasenta. Dan ternyata monyet itu tidak murni sendiri. Ada monyet lain yang menunggui tak jauh dari situ yang mulai mendekat saat suara monyet kecil yang baru lahir terdengar.

“Oh…, jadi begitu…,” Camille lupa kalau dia bicara cukup keras, hasilnya suasana hening para monyet terganggu. Sontak makhluk primata itu menoleh.

“Bodoh sekali!”

Kang menarik lengan Camille dan mereka lari sekencang-kencangnya, keluar dari kawasan monyet. Mereka berhenti setelah sampai  di pantai dan yakin kalau keberadaan cukup jauh dari jangkauan para monyet, duduk di atas batu, terengah-engah.

“Kau….,” Kang memaksakan diri bicara sambil mengatur nafas. “Bodoh sekali!” Tapi si gadis manja malah tertawa senang. “Aku senang sekali. Aku jadi tahu bagaimana monyet liar melahirkan. Pengalaman berharga sekali.”

Kang menoleh pada Camille tak menyangka sesuatu mengerikan seperti itu dianggap pengalaman berharga.

“Kenapa kau melihatku begitu?” sekali lagi bibir monyong Camille memprotes. Dan bibir itu membentuk lengkungan indah kembali. Saat itu Kang sudah mulai berjalan lagi kembali ke goa. “Sudah sore, ayo pulang!”

Camille mensejajari langkah Kang. Masih tampak riang karena pengalaman berharganya. Pasir tersepak-sepak di kaki mereka. Langit sudah menjingga.

“Oh, Iya, Kang… Kamu tahu, tidak! Aku sudah pernah melihat kelahiran anak anjing. Di rumah, ada tiga ekor anjing, jadi aku bisa melihat mereka melahirkan. Ternyata para hewan lebih hebat dari manusia, ya. Bayangkan  saja, mereka bisa melahirkan sendiri, sedangkan kita… perlu bantuan bidan dan dokter, bukan… .”

Kang tidak menghiraukan omongan Camille. Dia mempercepat langkah agar cepat sampai ke goa sebelum hari bertambah gelap.

“Tapi aku belum pernah melihat wanita melahirkan, Kang. Kau sudah pernah, belum?”

Sudah!

“Belum!” Kang menjawab cepat. Camille merasa kalau pertanyaannya sedikit menyinggung Kang. “Kau kenapa, sih… ? Kalau belum pernah lihat ya sudah, tidak usah membentak.”

Mimik wajah Kang berubah bimbang. Camille masih mendongak, menatap mata Kang yang bergerak, menyembunyikan sesuatu.

“Hari semakin gelap. Kita harus segera sampai ke goa,” Kang menghela nafas dan kembali berjalan. Baru sepuluh langkah mereka berjalan dalam keheningan. Mulut Camille sudah berkicau lagi. “Pantas saja di pulau ini banyak pisang… karena di sini banyak monyet.”

“Oh ,ya?” Kang memutuskan menanggapi kicauan Camille. Berjalan tanpa mendengar ocehan Camille ternyata membosankan juga.”Jadi pisang ini khusus disediakan untuk para monyet? Menurutmu monyet itu muncul karena ada pisang?”

“Kau berkata seperti mempertanyakan cara kerja Tuhan saja,” Camille menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh, jadi yang memberikan pisang pada monyet itu Tuhan atau memang pisang itu ada karena ada monyet?”

“Dan sekarang kau seperti orang yang mempertanyakan keyakinanmu?” potong Camille. Tunggu! Camille menarik lengan Kang. “Agamamu… Apa agamamu?”

Kang mendengus. Sekali lagi dia mendiamkan pertanyaan Camille.

“Hei, apa susahnya menjawab pertanyaan itu?” Camille mengejar Kang yang sudah mulai memasuki hutan.  “Aku tidak suka pertanyaan macam itu.” Pria itu melanjutkan langkah lagi.

“Kenapa? Aku bukanlah orang rasis. Kau tahu, Nenek dari Ibuku beragama Budha. Kakek dari Ibuku orang Kanada, jadi dia beragama Kristen protestan. Ibuku ikut agama ayahnya, Kristen protestan. Adik nenekku menikahi pria Muslim, jadi dia ikut agama suaminya. Keluarga ayahku beragama Kristen protestan, jadi kami sekeluarga dibesarkan dalam ajaran Kristen. Kami hidup rukun dalam keanekaragaman. Jadi.., apa susahnya mengatakan agamamu padaku?”

Kang mengeram bosan. “Sudah kubilang, Camille…! Aku tidak suka ditanya masalah itu!” Kang membentak Camille. Bibir Camille semakin maju beberapa senti. “Kau tidak suka kalau ditanya tentang keluargamu dan sekarang kau tidak suka ditanya tentang agamamu! Sepertinya kau memang menghindar kalau aku ingin tahu identitasmu! Kenapa sih? Apa memang kau tidak punya keluarga? Atau memang kau tidak punya agama?”

Camille berhenti setelah mengucapkan kalimat yang terakhir. Wajah Kang agak mendung. “Tunggu dulu!” Camille mengangkat tangan, menyentuh pudak Kang. “Jangan katakan kau tidak punya agama!”

Kang berjalan kembali, kali ini lebih lambat dari sebelumnya.

“Jadi benar? Benar kau atheis?” Camille menjajari Kang, menggoyang-goyangkan lengannya.

“Apakah beragama itu perlu?”

Hati Camille terenyuh mendengar perkataan Kang. Apakah beragama itu perlu?

“Tentu saja perlu sebagai pegangan hidup!”

Tak terasa mereka sudah sampai di depan goa. Kang mulai sibuk dengan aktifitas sore, menyalakan obor untuk menerangi goa. Saat api unggun menyala, Camille tahu kalau ini waktu untuknya menyiapkan makan malam. Obrolan tentang agama, keluarga dan segalanya tentang Kang berhenti sementara. Kang yang memang pendiam jadi lebih pendiam. Dia menjawab pertanyaan Camille pendek-pendek malam itu dan langsung tidur setelah menghabiskan makan malam. Rupanya dia memang menghindari interogasi Camille.

Camille memang pernah mendengar bahwa sebagian besar warga Korea tidak beragama. Mereka hanya hidup dengan aturan adat saja yang menurutnya sudah baik mengatur hidup. Camille bahkan merasa kasihan pada Kang. Camille merasa Kang bukanlah Atheis. Kang hanyalah pribadi yang masih bingung menentukan kepercayaan. Demi menunjukkan kepercayaannya pada Kang, Camille mengikat dua ranting dengan akar larak, membentuk salip dan menancapkannya di depan goa. Kang terkejut saat keluar goa  melihat salip yang sudah berdiri tegak dan kokoh itu.

“Apa yang kau lakukan?”

Camille menoleh. Sekali lagi dia memastikan salip tertancap sempurna dan kokoh. “Hanya mau menunjukkan padamu arti agama. Lagi pula aku memerlukannya untuk berdoa. Mungkin Tuhan akan lebih mendengar doaku jika aku berdoa di depan salib dan kita lebih cepat ditemukan.”

Bibir Kang mencibir, membentuk ejekan. “Sepertinya baru kemaren kau mengatakan kalau aku mempertanyakan cara kerja Tuhan dan sekarang kau sendiri yang mempertanyakan cara kerja Tuhan menjawab doamu.”

Damn! Sepertinya aku salah ngomong. Camille mendengus sebal. Kang menuju rumah pohonnya. Kali ini Camille mengikuti Kang. “Aku ikut, ya? Boleh, kan? Bukankah aku yang membantumu menganyam janur?”

Kang menghela nafas. Tapi ide Camille boleh juga, daripada gadis itu berkeliaran sendiri di hutan dan membuat dia kawatir? Camille bersorak saat Kang mengangguk.

“Kau tahu, Kang… Aku menemukan tumbuhan aneh, baunya seperti kambing tapi bunganya cantik berwarna ungu. Aku sempat salah mengenalinya sebagai rami…,”

Dan perjalanan singkat menuju rumah pohon yang sedang dibangun akhirnya rame lagi. Kang tersenyum-senyum geli.

“Sampai sekarang aku masih berpikir apa tumbuhan itu, tapi…,” Camille menghentikan langkahnya. Dia merasakan perutnya yang tiba-tiba mulas dan … Camille panik  karena…. Dia hanya bisa duduk di tanah, menahan darah yang mengalir. Ini sudah waktunya? Berarti satu bulan mereka terdampar?

“Kau… Kau kenapa?” Kang yang kawatir mendekatinya. Tapi Camille malah mengisyaratkan agar Kang tidak mendekat dengan tangannya. “Jangan medekat!”

“Hei, Kau kenapa, Camille?” tidak menghiraukan perintah Camille, Kang tetap berjongkok di sisi Camille. Wanita itu beringsut menjauhi Kang masih dengan berjongkok. “Aku bilang jangan dekat!”  Wajah Camille campur aduk, takut, malu dan serba salah. Bagaimana mengatasi masalah ini di pulau terpencil ini?

“Kau sakit?” Kang lebih melunakkan suaranya. Camille menggeleng sambil tetap beringsut menjauh.

“Lalu kenapa?”

Camille merasa putus asa. Hari pertama dan biasanya memang deras. Dia tidak mungkin berbohong, Kang pasti akan bertanya terus. “Aku…,” wajah Camille semakin memerah. “Aku … datang bulan,” Camille menunduk, suaranya jadi lirih.

Kang berpikir sebentar. Bagaimana mengatasi hal ini? Dia jadi kikuk sekarang. “Bi… biasanya apa yang kau lakukan kalau mengalami ini?”

“Aku tidak bisa berpikir kalau kau mendekat!” Camille beringsut menjauh lagi. Kang memang tidak sadar kalau dia semakin mendekati Camille. “Oh, maaf.. .”

Kang bisa melihat darah yang merembes di antara rumput yang sempat dilewati Camille. Tanpa pikir panjang, Kang menyobek lengan baju satu-satunya yang masih tersisa lalu menyodorkannya pada Camille. “Pakai ini!”

“Kang… ini…,” mata Camille terbelalak di depan potongan lengan baju yang tersodor.

“Mungkin bisa kau jadikan alas atau… ah.. apalah!” Jadi semakin serba salah di antara mereka berdua. “Aku akan meninggalkanmu sendirian kalau kau memang risih. Kembali saja ke goa. Istirahatlah!”

Camille mengangguk. Setelah memberikan tatapan memastikan Camille baik-baik saja setelah dtinggalkan, Kang meninggalkan gadis itu.

Terlebih dahulu, Camille membersihkan diri di sungai dan seperti saran Kang. Dia memakai potongan lengan baju Kang sebagai ‘pembalut’. Mungkin memang kurang higienis tapi untuk sementara, memang hanya itu yang terpikir. Camille jadi teringat kapas temuannya. Kapas-kapas itu harus segera tersulap sebagai benang. Benang sebagai kain. Camille yakin mereka akan memerlukannya. Bukan hanya sebagai pembalut tapi juga sebagai pakaian ganti. Setidaknya sudah sebulan mereka tidak ganti pakaian. Jangan sampai mereka terserang penyakit kulit ketika ditemukan nanti. Entah kapan mereka ditemukan? Harapan itu serasa semakin menguap di udara. Sudah sebulan berlalu dan keputus-asaan mulai merambat di benak hati Camille.

 

BERSAMBUNG

THE SECRET II (Temptation of Island — part 4)

THE SECRET II
(Temptation of Island)
Part 4

Camille melihat Kang sudah menata daun-daun sebagai tempat tidur saat dia meletakkan kelapa bersama tumpukan kelapa yang lain. Langsung tidur ketika hari masih sore? Yang benar saja? batin Camille. Merasa diperhatikan, Kang bertanya walau pun matanya masih tertuju pada daun-daun kering, “Kenapa? Ada yang salah?”

Camille duduk di ‘tempat tidur’ bagiannya. “Kau mau langsung tidur?”

“Menurutmu?” Kang berbaring di atas daun-daun kering yang ditatanya menjadi tempat tidur yang nyaman.

“Bisakah kita ngobrol?”

Kang tersenyum tipis lalu melipat tangan sebagai alas kepala,”Aku sudah tahu semuanya tentangmu. Kau adalah costumer kami. Kami ditugasi untuk melayanimu dengan baik selama berlayar jadi… kami cukup tahu siapa kau.”

Camille duduk memeluk lutut untuk menghalau udara malam yang makin dingin. “Oh, ya? Memangnya siapa aku?”

Kang menoleh ke arah Camille. “Camille Louis d’Varney, putri Antoine d’ Varney, kau berumur delapan belas tahun. Mahasiswa tahun pertama Fakultas Kedokteran, University of Toronto. Pergi ke Bali untuk mengisi liburan musim panas. Agak manja, terkadang pendiam tapi kalau sudah kenal dengan orang cerewetnya minta ampun.”

Camille terkikik sambil menutupi mulut. “Oh, ya? Lalu, kau pikir semua itu benar?”

“Bagian cerewetnya benar, tapi bagian pendiamnya…,”Kang mengibaskan tangan. “Tidak! Kau jauh lebih menjengkelkan.”

“Kau pikir aku akan diam saja denganmu padahal kau satu-satunya manusia di pulau ini?”

Kang menghela nafas. Tapi perkataan Camille barusan benar juga.

“Ada yang salah dari infomu. Umurku akan sembilan belas Desember nanti. Memang sedang masa liburan musim panas di Kanada tapi aku ke Bali bukan untuk liburan. Bosmu…, maksudku Robert Cassidy, mengundang Ayah ke Seoul. Ayah mengajakku. Seminggu di Seoul, bosmu mengajak kami ke Bali.” Camille mendadak jadi kesal mengingat dia tidak begitu berminat untuk berlayar. “Andaikan saja aku tidak ikut… .”

Ya…, andai saja. Itu pasti lebih baik, mungkin aku terdampar sendirian di sini, pikir Kang.

“Lalu kau? Ceritakan tentang kau! Keluargamu pasti mengkawatirkanmu,” Camille merasa kalau dia perlu mengenal Kang. Pria itu sudah mengenalnya secara garis besar, jika dia igin mengenal penolongnya itu… apa salahnya?

“Aku tidak punya keluarga.”

Dahi Camille mengkerut seketika. “Orang tuamu sudah meninggal?”

Kang membalikkan tubuh, membelakangi Camille. “Aku tidak suka membicarakan masalah ini!” Camille heran karena Kang tiba-tiba jadi ketus. Ada apa?

“Jadi kau pria misterius dari Jeju, begitu?” agak kesal juga yang terdengar dari nada bicara Camille. Kang masih saja berbaring membelakanginya.

“Oke.., kalau memang kau tidak mau membicarakannya.”

“Tidurlah,” bukannya meladeni kekesalan Camille, Kang malah menyuruh tidur. Camille bisa mendengar kalau pria itu menguap. “Aku sangat lelah setelah bekerja seharian. Kau-nya enak, cuma duduk-duduk saja melihatku memanggang ikan.”

“Aku belum ngantuk!” Camille bersungut.

Kang mengeluarkan suara dengkuran. Sengaja dia melakukan itu agar Camille berhenti mengajak ngobrol. Bibir Camille jadi mayun. Dia memandang ke sekeliling goa. Titik-titik air yang terjatuh dari langit terdengar dari dalam goa. Makin lama suaranya semakin jelas, tanda kalau hujan di luar semakin deras. Air yang tergenang di mulut goa semakin banyak, bahkan menggenangi seperempat bagian goa.

“Kang…, airnya masuk,” Camille panik sambil menggoyang-goyangkan pundak Kang. Mimpi yang baru saja dialami Kang buyar seketika. Kang ikut-ikutan panik. “Pindah ke tempat yang kering!” teriak Kang sambil menarik lengan Camille menuju dataran yang lebih tinggi di dalam goa.

Air benar-benar menggenangi seluruh goa. Camille dan Kang duduk berdempetan di atas batu. Masing-masing meringkuk dengan memeluk kaki dan saling membelakangi. “Sepertinya besok kita harus mencari tempat berlindung yang lebih kering,” ujar Kang. Camille manggut-manggut di belakang Kang.

Mereka sama-sama tertidur dengan bersandarkan punggung masing-masing. Memang tidak nyaman. Untungnya batu itu cukup tinggi sehingga banjir tidak mencapai mereka. Saat mereka terbangun keesokan harinya, banjir sudah surut tapi tanah di goa jadi becek. Persediaan makanan dan air dalam batok kelapa sudah tidak pada tempatnya. Sebelumnya mereka meletakkan semua itu di atas batu. Mengingat batu itu satu-satunya tempat kering dalam goa, Kang menjatuhkan semuanya dalam satu sapuan semalam lalu naik ke atasnya bersama Camille.

“Persediaan pisangnya tergenang lumpur,” kata Camille sambil mengangkat satu pisang yang sudah berlumuran lumpur. Kang terkekeh pelan. “Aku harap kau terbiasa tidak sarapan.”

Kang mengumpulkan batok-batok kelapa yang tersebar di sekitar goa. “Jika malam ini hujan lagi dan kita belum mendapatkan tempat lain, matilah!”

Kang berpikir, hujan semalam pasti sangat deras. Mungkin ada badai lagi di laut lepas. Kang jadi teringat tanda SOS dan bendera buatannya yang tertancap di pantai. Bagaimana nasib kedua tanda itu? Kang ingin melihatnya. Dia menyerahkan batok-batok kelapa yang sudah terkumpul pada Camille. “Cuci semua ini di sungai dan isi lagi dengan air.”

“Kau mau kemana?” agak kewalahan Camille meraup batok-batok kelapa itu yang diletakkan begitu saja di kedua lengannya.

“Ke pantai!” jawab Kang sembari keluar goa. Mata Camille membulat, mengikuti gerakan tubuh Kang yang semakin menjauh. “Ke pantai?” Camille teringat kalau semalam Kang bercerita tentang tanda SOS yang dia buat di pasir. “Oh…, jadi itu.” Camille manggut-manggut. Dia keluar goa, pergi ke air terjun seperti yang diperintahkan Kang.

Seperti yang dikawatirkan. Tanda ‘SOS’ sudah terhapus laut pasang. Bahkan bendera buatannya raib. Alam menunjukkan kuasanya lagi. Kang menyepak-nyepak pasir dengan kesal. Tidak mungkin dia menyobek lengan baju yang satunya lagi. Semalam lengan kanannya lebih kedinginan dari yang kiri karena tidak tertutup baju. Kang memikirkan cara lain. Alam yang menghapus tanda buatannya, alam juga yang harus mengganti.

Kang mengumpulkan batang-batang bakau yang mengering dan daun nyiur yang terjatuh di sepanjang pantai. Diikatkannya daun nyiur di setiap batang bakau sampai terkumpul banyak bendera. Dia menancapkan bendera-bendera itu berjajar di satu sisi pantai lalu sekali lagi menuliskan tanda ‘SOS’ di pasir. Kapal penolong pasti bisa melihat orang tedampar di sini, pikirnya.

Kang berkacak pinggang, tersenyum puas melihat hasil kerjanya, lalu masuk kembali ke hutan. Kang tidak langsung menuju goa. Ini waktunya mencari tempat berlindung yang lain. Kang mengelilingi hutan sampai sisi lain dari pulau. Bahkan dia berpapasan dengan kawasan monyet. Areal yang dihuni binatang primata itu lebih didominasi oleh pohon-pohon berkayu kuat yang lebat. Kang bisa melihat mereka berteduh dibalik rimbunnya daun pepohonan. Kang berdoa jika saja ada pohon semacam itu di tempat yang jauh dari kawasan monyet. Sekali lagi dia belajar dari para monyet. Sial! Siapa sebenarnya makhluk paling sempurna di bumi ini?

Kang benar-benar menemukan pohon yang dimaksud. Dibagian timur pulau, terdapat dua pohon beringin besar yang saling berjajar. Batang kedua pohon itu saling menyatu di tengah-tengah. Kang berpikir, jika dia bisa menyisihkan sebagian batang sebagai jalan masuk, lalu membuat dinding di kedua sisinya, sudah terbangun rumah pohon. Sampai di sini Kang kebingungan, dari mana dia bisa mendapatkan dinding? Persediaan kayu di sini cukup banyak, tapi tidak ada alat untuk menumbangkan pohon-pohon itu. Buntu lagi!

Seperti yang diperintahkan Kwang, Camille mengumpulkan persediaan air. Dia menepuk-nepuk tangan, puas karena sudah melaksanakan tugas dengan baik. Tinggal sekarang dia kebingungan, duduk di atas batu di tengah goa, bertumpang dagu. Perut laparnya berbunyi. Tidak ada yang bisa dimakan. Pisang-pisang yang terbenam lumpur sudah tersingkirkan. Menunggu Kwang? Bisa-bisa dia tidak makan.

Rasa lapar mendorongnya keluar goa lagi. Entah dimana Kwang mendapatkan pisang, Camille pikir kalau dia bisa menemukan tempatnya. Sepanjang jalan, dia malah kebingungan. Dia tidak bisa begitu saja memetik. Macam buah di pulau ini banyak, tapi dia tidak tahu mana yang layak makan. Kebingungan membuat rasa lapar teralihkan. Kini Camille lebih memperhatikan macam-macam tumbuhan yang dia lewati, baik itu di kiri-kanan mau pun di bawah.

“If only Dad permitted me to choose Biology,” Camille menggerutu. Sebelum masuk kuliah, Camille bersitegang dengan Antoine. Camille ingin masuk fakultas Biologi disebabkan ketertarikannya pada ilmu tumbuhan, tapi Antoine lebih suka dia masuk fakultas kedokteran. Bahkan ketika Camille berganti pikiran untuk masuk fakultas Farmasi dengan alasan ada jurusan farmasi bahan alam di sana, Antoine tetap tidak setuju. Alhasil, Camille kuliah kedokteran asal-asalan. Prestasinya di semester pertama memang bagus. Tapi dia sama sekali tidak menikmati kuliahnya. Jika saja Antoine mengijinkannya masuk fakultas biologi, Camille pikir, dia tidak akan merasa kesulitan mengidentifikasi tanaman di pulau ini dari morfologinya.

Makin lama kepala Camille menunduk. Bayangan tentang Antoine membuatnya bersedih. Sang Ayah yang memanjakannya itu memang terkadang keras. Tapi kini dia merindukannya. Camille berharap bisa bertemu lagi dengan keluarganya. Tak memperhatikan jalan, Camille menubruk tanaman di depannya dan terjatuh. Camille meringis sambil menepuk-nepuk lutut yang kotor oleh tanah dengan kepala mendongak menatap tanaman yang sukses membuatnya terjerembab. Camille memetik satu helai daunnya. Tepi daun itu bergerigi, permukaannya berbulu, dengan tulang daun simetris dan bentuk yang mirip hati. Dia menelusuri dahan tanaman itu. Camille menggerak-gerakkan batangnya yang lunak itu, berdiameter sekitar 10 mm.

“Rami. Ini rami?” Camille menyipitkan matanya. Sepertinya memang rami. Camille mengumpulkan batang rami muda sebanyak-banyaknya. Dia bahkan menjaga agar batang-batang itu tidak patah dengan mencabutnya secara hati-hati.

Lima belas menit kemudian. Saat dia sampai di goa, dia membebaskan batang-batang rami dari daunnya. Dengan bantuan dua ranting kering yang dia patahkan hingga mempunyai panjang yang sama, dia mencoba merajut tangkai-tangkai rami itu. Ternyata tidak mudah melakukannya. Rami, tanaman dengan nama latin Boehmeria nivea, L. GAUD ini, Camille pernah membaca kalau serat rami digunakan untuk bahan tekstil, tapi tentu saja ada proses kimiawi panjang yang musti dilakukan, mulai dari memisahkan kulit rami dari batangnya, lalu kulit batang yang terkupas dilakukan proses degumming sampai pada proses cutting. Dan merajut begitu saja batang rami muda, jika terlalu kuat menarik akan patah. Merajut tidak akan berhasil. Bagaimana dengan menganyam? Liburan musim panas tahun lalu, Camille dan Charlie tertarik mengikuti kursus menganyam daun kelapa di Hawai. Sang Ibu lebih jago darinya karena lebih sabar, tapi hasil anyaman Camille juga lumayan. Camille yakin menganyam rami lebih mudah daripada merajut.

Untung saja dia masih ingat tehniknya. Jika ini berhasil, setidaknya ada selimut untuk malam ini. Camille jadi geli mengingat kejadian semalam. Dia dan Kang sama-sama duduk memeluk lutut di batu. Kedinginan dan tidak nyaman.

Rupanya menganyam lebih membuahkan hasil. Dalam waktu setengah jam, selimut sudah mencapai setengah panjang yang dia harapkan. Saat itulah Kang datang. Pria itu langsung minum dan meliriknya sambil meletakkan batok kelapa pada tempatnya. “Apa yang kau lakukan?” Kang mendekati Camille dan memegang lembaran selimut rami.

“Kau kira apa? Membuat selimut.”

Alis Kang bertaut. Anak manja ini bisa menganyam?

“Kau bisa menganyam?” Kang mengelus tangkai rami yang saling terkait kuat, jika dilihat sekilas, tentu orang tidak menyangka bahan selimut itu.

“Kau kira aku hanya anak manja yang menyusahkanmu saja?” Camille jadi sewot. “I have a lot of skill that you don’t know!” Bibir Camille membentuk ejekan.

“Berarti kau bisa menganyam janur kelapa juga?” Tiba-tiba Kang teringat pohon temuannya.

“Jika tangkai rami yang licin saja bisa, apa lagi daun kelapa yang kaku.”

“Binggo!” Kang menjetikkan telunjuk dan jempol tangan kanannya. Masalah bahan dinding rumah pohon selesai. Oh, bukan hanya dinding, tapi mungkin juga atap.

“Setelah selesai dengan selimut. Aku akan menyediakan janur sebanyak-banyaknya. Anyamlah sebanyak mungkin. Aku memerlukannya untuk dinding dan atap,” Kang terlalu bersemangat. Dia tidak sadar kalau Camille malah kebingungan.

“Dinding dan atap? Kau mau membuat rumah?”

Kang sadar kalau Camille sama sekali belum tahu rencananya. Kang duduk di sebelah Camille dan mulai bercerita. “Aku menemukan pohon yang cocok untuk dijadikan rumah.”

“Pohon dijadikan rumah? Maksudnya?”

Kang mengibaskan tangan jengkel. “Ah, pokoknya, aku akan membuat rumah pohon! Kau pasti akan tahu jika ku tunjukkan bentuk pohonnya. Menjelaskan di sini tanpa melihat pohonnya hanya membuang-buang waktu.” Kang berdiri cepat. Kepala Camille mendongak cepat juga, mengawasi gerak-geriknya. “Aku akan mencari janur sekarang juga.”

“Ya…, carilah juga buahnya, karena aku sudah sangat kelaparan,” Camille mengucapkan kalimat itu sambil mendesah. Kang menepuk jidat. “Ya, ampun. Kenapa kau tidak mencari makan sendiri?”

Camille meletakkan anyamannya lalu berdiri berkacak pinggang. “Halo…. Memangnya ada restoran buka di sini?”

“Aish!” Kang keluar goa dengan uring-uringan. Dasar anak manja!

—oOo—

Badai semalam membuat pencarian terhadap beberapa orang hilang dihentikan. Dan yang membuat Antoine kecewa adalah mundurnya tim SAR lokal dari upaya pencarian Camille. Antoine bahkan terkejut saat mereka mengabarkan ditemukannya bangkai kapal yang ditumpangi Camille. Seorang petugas bahkan memastikan tidak ada yang selamat dalam musibah itu. Kapal hancur lebur. Otopsi mengatakan beberapa komponen kapal ternyata tidak layak. Di sini Antoine semakin uring-uringan. Dia menemui Robert di ruang kerjanya dan menggebrak meja. “Kau memberikan kapal rongsokan pada putriku?”

Robert masih saja dengan ketenangannya yang tak terkalahkan. “Kapal itu adalah kapal baru keluaran Bouwens Inc. Hasil uji coba mengatakan keberhasilannya 95%.”

Antoine tambah kesal, Robert malah menjelaskan keunggulan kapal sialan itu. “Dan musibah putriku adalah salah satu dari yang 5%?” Rahang Antoine menegang.

“Aku minta maaf atas putrimu, D’ Varney,” ucapan Robert benar-benar penuh penyesalan.

“Oh, ya? Jelaskan permintaan maafmu itu pada Charlie kalau begitu! Dia tidak akan memaafkanmu seumur hidup!”

Robert memijit-mijit pelipis. Menghadapi Charlie sendirian? Dia takut salah ucap, semuanya terbongkar dan Charlie kembali pada keterpurukan. Antoine terduduk lemah di kursi di depannya. “Seandainya saja aku tidak mengajak Camille.”

“Akan lebih baik kalau Charlie tidak tahu berita ini,” saran Robert benar-benar tak masuk akal. Bagaimana bisa di saat berita sedang hangat-hangatnya?

“Kau gila! Aku merasa bersalah karena menyebabkan Camille hilang dan sekarang kau mau menambah rasa bersalahku dengan menyuruhku berbohong padanya?”

“Apa salahnya? Kau bahkan berbohong padanya selama bertahun-tahun dengan memalsukan masa lalunya,” Robert tak mau kalah.

“Oh, jadi ini semua dendam lama? Kau masih mencintai istriku? Karena itu kau tidak menikah?” Tangan Antoine terkepal. Selama ini bukan hanya Nick Rothman bahaya latennya, melainkan Robert yang lebih mempunyai banyak kartu struck.

“Kau cemburu d’ Varney?” Robert tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. “Kau bahkan sudah berumat-tangga dengannya selama lebih dari dua puluh tahun dan masih saja cemburu dengan kisah lama.”

Merasa diperolok, Antoine bangkit dari kursinya. “Persetan!” Baru lima langkah dia menuju pintu, perkataan Robert membuatnya berhenti. “Aku tidak menyuruhmu berbohong, setidaknya kau bisa menutupi berita ini sampai dia siap mendengar. Sebagai suami, kau pasti tahu betul kapan dia siap.Skreening semua info yang bisa dia dengar. Aku yakin betul kalau itu juga keahlianmu.”

Roman muka Antoine berubah bimbang. Namun dia tidak menoleh lagi. Ditinggalkannya ruangan Robert dengan berjuta pikiran yang berkecamuk. Dia berpikir seribu kali untuk kembali ke pavilyun. Dia bahkan ragu Charlie belum mendengar kabar ini. Dia sudah tahu kalau Brian memberikan satu tim pencari Camille dari Robert dan sekarang tim itu berada dalam komando ganda antara Charlie dan Brian.

Kebimbangan Antoine sudah diprediksi oleh Robert. Tim itu tidak sepenuhnya dalam kendali Charlie. Masih ada Brian di situ dan Brian adalah orang kepercayaannya. Robert sudah menghubungi Brian sebelum kemunculan Antoine di ruangannya. Memberi perintah yang tidak bisa diganggu gugat, Charlie tidak boleh tahu berita ditemukannya bangkai kapal dan kemungkinan Camille tak terselamatkan.

Pencarian Camille oleh tim Bouwens Inc tetap dilakukan. Itulah info yang berhasil ditangkap Antoine di perjalanan menuju pavilyun. Dia terduduk lemah di teras pavilyun. Seakan tenaganya lenyap sebelum menemui Charlie.

Charlie di kamarnya terlihat sibuk di depan peta dan hitungan navigasi yang dipelajarinya secara instan. Lima menit yang lalu Brian mengabarkan kalau tim mereka sedang menyisir ke salah satu pulau Indonesia yang berbatasan dengan Australia. Tidak ada kabar manusia terdampar. Mereka sekarang menyisir pulau terdekat lainnya.

Nathan selalu ada didekatnya. Pemuda itu bahkan lebih cepat tanggap terhadap ilmu navigasi. Dia menganggap semua itu mengasyikkan. Mereka bekerja tanpa sepengetahuan Antoine. Selalu ada pelayan yang ditugaskan untuk berjaga di depan pintu kamar. Pelayan itu akan memberi kode ketukan di pintu tiga kali jika Antoine datang.

“Mom, How long will we do this?” Nathan meletakkan bolpoin di atas peta. Aktifitas itu memang menyenangkan tapi mereka tidak bisa selamanya di Bali. “Summer will end, Mom.”

Charlie masih tetap mencermati peta. Menarik garis antara pulau satu dengan pulau lain dan mengkonversi skala dengan jarak sesungguhnya.
“What will you do if we find Camille death?”

Giliran Charlie yang meletakkan bolpoinnya. “Don’t say that. Don’t break my faith.”

“What faith?”

“Faith that Camille is still a live. She still life at one of the islands!” Camille menunjuk-nunjuk kumpulan pulau di depannya.

“But we must go home! Summer will end. I have lecture after this.”

Charlie menghela nafas. Beberapa hari ini dia memang mengabaikan Nathan. Semua ini karena Nathan dianggap lebih kuat dan lebih mandiri dari adiknya. Tapi dia tidak akan beranjak dari Bali sebelum Camille ditemukan. “Just go home! Both of you, you and your Dad. I will be here until Camille is found.”

Nathan terperangah mendengarnya. Dia ingin menyela tapi ketukan pintu tiga kali membuat mereka gelagapan. “Hide all of this!” dalam waktu singkat peta digulung. Peralatan navigasi masuk dalam tas. Nathan memanggul tas itu di punggungnya. Memungut gulungan peta dan segera keluar kamar.
Antoine masih berjalan di tangga. Tampak tanpa tenaga untuk menemui Charlie. Dia sempat melihat sekelebat sosok Nathan keluar dari kamarnya. Mereka sembunyi-sembunyi lagi, batin Antoine.

Nathan terlalu dekat dengan Ibunya. Antoine merasa perlu memberi-tahu Nathan akan rencananya. Rencana kalau dia akan merahasiakan berita ditemukannya puing bangkai kapal dan kemungkinan Camille tidak selamat sampai Charlie dianggap siap mendengar. Antoine mengirim pesan di handphone Nathan. Jawaban Nathan sangat cepat, dia terkejut dan tidak setuju dengan rencana itu, selain itu dia tidak terbiasa berbohong pada Ibunya. Antoine bahkan harus berhenti di tengah tangga untuk membalas pesan lagi. Dia menyuruh Nathan pulang saja ke Toronto jika tidak ingin semuanya terbongkar. Nathan setuju, kuliah memang sudah menanti.

Di kamar, Charlie duduk menyambutnya dengan pelukan. Lebih mesra dari kemaren-kemaren karena harapan tim pencarinya akan menemukan Camille. Antoine menatap mata penuh binar Charlie dan semakin sedih jika binar itu redup.

Tapi mata itu keburu menangkap kegalauan di mimik wajah Antoine. “Ada apa, Monsieur?” Antoine menggeleng. Charlie mengikutinya berdiri menghadap jendela. Laut tampak tenang setelah hujan lebat semalam. Charlie tidak boleh tahu, Antoine memantapkannya dalam hati. “Ma Femme, ada yang kau sembunyikan?” entah apa maksudnya berkata begitu, dia sendiri juga tidak tahu. Dia benar-benar bingung.

Charlie kaget. Bagi Charlie, pertanyaan Antoine adalah pancingan. Antoine sudah tahu tim pencari yang disembunyikannya, itulah kesimpulan Charlie. “Kau sudah tahu?”

Mata Antoine bergerak bimbang. Dia tidak bermaksud membelokkan keadaan, tapi kesalahpahaman Charlie membuat percakapan yang seharusnya tanpa arti jadi berlanjut.

“Ada tim yang berada di bawah komandoku dan Brian.” Charlie mengamati wajah Antoine yang menoleh padanya. “Pemuda yang ngobrol denganku di pantai waktu itu. Do you remember?”

Antoine mengangguk. Charlie meraih tangannya dan menciumnya. “Kau tidak marah, kan? Aku sembunyi-sembunyi karena takut kau marah.”

Antoine semakin tak tahu harus berbuat apa. Direngkuhnya tubuh Charlie, mendekapnya erat. Dia menangis tapi tak berani berkata yang sesungguhnya. Charlie melonggarkan pelukannya lalu menangkup wajah Antoine. “Camille akan ditemukan. Aku yakin itu. Aku mohon dukunglah aku. Jangan hancurkan harapanku.”

Antoine mengangguk. Dia tidak bisa menghancurkan harapan Charlie. Itu berarti berita itu tidak boleh diketahui Charlie sekarang. Antoine bergerak ke sofa, duduk dan menyandarkan punggung. Biasanya Charlie akan memijit bahu dan lehernya, tapi Antoine tak berani mengharapkan hal itu sekarang. Dia tidak hanya kehilangan putrinya tapi juga kehangatan istrinya. “Nathan akan kembali ke Toronto besok,”

Charlie mengangguk. “Anak itu sudah merengek tadi. Sepertinya dia takut ketinggalan kuliah. Kau bisa pulang dengannya kalau mau.” Perkataan Charlie itu… tantangan?

“Tidak! Aku di sini bersamamu.”

Charlie tersenyum lalu melesat cepat ke sisi Antoine. Dirangkulnya sang suami sambil berkata riang,”Aku tahu kau akan mengatakan itu. Aku senang.”

Dan lihatlah wanita ini sudah memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah suaminya. Tak menyadari kalau hasrat telah bangkit. Hari masih sore dan mereka tenggelam dalam romantika. Apa salahnya? Mereka suami-istri. Bukankah mereka seharusnya bersedih akan Camille? Mereka terlalu bersedih, Antoine merasa bersalah hingga pria ini berpikir untuk menyenangkan istrinya. Kehilangan Camille membuat ranjang mereka dingin selama beberapa hari. Dan saat inilah mereka menghangatkannya.

Antoine begitu merindukannya. Dia rindu perhatian Charlie. Dia merindukan kulit mereka yang bersentuhan bebas, desahan saat mereka bercinta bahkan saat Charlie menyebut namanya. Di sinilah mereka, sama-sama berpeluh di bawah selimut. Sama-sama saling memuaskan. Bahkan saat semuanya berakhir, Antoine menatap wajah Charlie yang tampak lebih cantik. Mentari pun bersembunyi di antara mega senja, memancarkan cahaya jingga ke dua tubuh polos yang hanya tertutup selimut.

“Kau… Ya, Tuhan… apa yang kita lakukan?” Antoine terkekeh sambil mengelus pipi Charlie. Charlie memejamkan mata dan tersenyum, menikmati sentuhannya. “Aku tidak tahu. Semuanya terjadi begitu cepat.”
Sekali lagi Antoine mencium Charlie. “Aku harus lebih menjaga jarak denganmu.” Tapi Charlie malah cemberut. “Maksudmu?”

Antoine duduk menyandar. Charlie menopangkan kepala di pahanya. Wanita itu terlena saat Antoine mengelus rambutnya. “Terima kasih, Tuhan. Istriku telah kembali.”

Charlie merasa tertampar mendengarnya. Bukan hanya Nathan yang terlantar, dia juga melupakan kewajibannya sebagai istri. “I am sorry, Monsieur.” Charlie terisak. Dia bersedih karena Camille tapi orang-orang yang dicintai bersedih karenanya. Antoine yang pengertian. Tak pernah menuntut apa pun di antara kepapaan Charlie. Charlie bersedih karena membuat Antoine menderita. “Aku berjanji, semuanya akan berbeda mulai saat ini.”

Antoine menghapus air mata Charlie. Dia membungkuk untuk mencium keningnya. “Kau terlalu sedih. Aku mengerti.”

Malam itu mereka makan malam di dalam kamar. Nathan berpikir kalau ini adalah cara Antoine mengisolir Charlie. Keesokan harinya, mereka mengantar Nathan ke Bandara Ngurah Rai. Nathan benar-benar mendahului mereka pulang ke Toronto.

“Don’t worry, Mom,” kata Nathan sambil menggenggam tangan Ibunya. Antoine sedang mengurus tiket dan masalah imigrasi di loket. “I will here if there is vacation.”

Charlie menepuk-nepuk punggung tangan Nathan. “Don’t worry, Dear. We will go home with Camille.” Nathan miris mendengar harapan Charlie yang masih tinggi.

Antoine yang sudah selesai dengan urusan imigrasi menyodorkan tiket dan paspor pada Nathan. “Your plane will arrive soon.”

Nathan berdiri. Tiket dan paspor berpindah tangan. Pemuda itu memasuki jalur menuju pesawat. Sesaat dia berbalik, melambaikan tangan pada orang tuanya. Mereka membalas lambaian itu. Nathan berdoa agar semuanya baik-baik saja.

Tiga hari kemudian, Charlie tahu semuanya dan begitu terpukul. Dia mencari Antoine, ingin menuntut penjelasan. Wanita itu uring-uringan saat menemukan suaminya di kantor Robert. Antoine dan Robert sedang membahas perkembangan berita tentang Camille, juga ada Brian di ruangan itu. Mereka terkejut dengan kedatangan Charlie.

“Kalian …. Tega-teganya kalian menyembunyikan semua ini dariku!” Charlie langsung berteriak ketika memasuki ruangan. Mata berair itu memberikan tatapan tak kenal ampun.

“Ma femme, aku mohon duduklah dulu.”

“Diam kau, Antoine!” Charlie menunjuk Antoine. “Kau yang paling bersalah di sini. Apa maksudmu tidak mengatakan yang sebenarnya?”

Robert baru saja mau buka mulut tapi suara Antoine sudah mendahuluinya. “Kami sepakat kalau kau belum siap menerima kabar ini.”

Charlie geleng-geleng kepala tak habis pikir. “Oh, ya? Kenapa kau selalu menganggapku lemah? Dan kau!” giliran Brian yang ditunjuk Charlie.

“Jangan katakan kau termasuk komplotan mereka?”

“Nyonya d’Varney, Saya…
“Jadi benar?” Charlie bertepuk tangan. “Kau pasti mengolokku selama ini!” air mata Charlie semakin deras.

“Nyonya d’ Varney, yakinlah kalau itu yang kami pikir terbaik untuk anda,” Robert berusaha agar tetap ada ketenangan di suaranya.

“Yang terbaik? Tahu apa kau yang terbaik untukku? Kau tidak mengenalku sama sekali!” Charlie membentak Robert. Antoine berdiri untuk merangkul tapi Charlie menolak uluran lengannya. Wanita itu menangis sesenggukan dengan menutupi muka. Robert hampir mau berdiri tapi isyarat tangan Antoine membuatnya duduk kembali.

“Sayang…,” Hati Antoine teriris melihat istrinya menangis. Bertahun-tahun yang lalu dia berjanji pada Robert bahwa Charlie tidak akan menangis jika bersamanya tapi nyatanya Charlie sekarang menangis di depan Robert.

“Antoine…,” tersenggal-senggal saat Charlie memanggilnya. “Aku membencimu.” Ucapan lirih itu membelalakkan mata Antoine. “Benar-benar membencimu sekarang.” Kata terakhir yang membuat Antoine bersedih, sebelum kepanikan tiba di ruangan karena Charlie mendadak pingsan.

Antoine dengan sigap menangkap tubuh Charlie sebelum kepalanya membentur lantai. Robert meloncat dari kursinya. Brian mendekati tapi tidak tahu harus berbuat apa.

“Sayang…, kau… ,” Antoine seorang dokter tapi saat ini dia tidak membawa peralatan medis. Dalam hati dia menyesali semua itu.

“Dia tidak apa-apa?” Robert tak kalah panik. Antoine memeriksa nadi Charlie. Dia memang tidak membawa peralatan tapi dia cukup mengenali macam denyut nadi. Denyut nadi Charlie adalah denyut nadi kehamilan. Wajah Antoine memerah seketika.

“Antoine, dia tidak apa?” sekali lagi Robert bertanya. Antoine menggendong Charlie. “Datangkan dokter ke pavilyunku!” teriaknya sambil membopong Charlie ke pavilyunnya.

Antoine yakin benar kalau itu denyut nadi kehamilan tapi harus ada dokter untuk memastikan. Dia mondar-mandir di depan pintu kamar. Sementara dokter yang didatangkan Robert memeriksa Charlie di dalam. Jika benar Charlie hamil, itu adalah anugrah. Mereka selalu berusaha setelah kelahiran Camille. Bertahun-tahun, dan menyimpulkan kalau Camille mungkin ditakdirkan sebagai anak bungsu. Apalagi mengingat betapa susahnya kelahiran Camille, mereka menyerah. Antoine tidak mau mengambil resiko atas nyawa Charlie. Tapi kenapa tiba-tiba mereka dikaruniai anak lagi? Kenapa semuanya terjadi sekarang di saat kekacauan ini? Dan… di umur mereka sekarang?

Saat dokter keluar dari kamar. Antoine bahkan langsung mengkonfirmasi, bukan bertanya. “Is she pregnant?” Dokter mengangguk. Antoine meremas kepalanya.

“I know it’s hard. I heard about the accident but… congratulatin!” Dokter itu mengulurkan jabat tangan padanya. “It’s a gift, Doctor. God bless your family. One person lost but one come.”

Antoine mencerna perkataan dokter itu. Orang Indonesia selalu religius. Apa pun diambil hikmahnya. “Thank you, Dokter.”

Antoine menyelipkan uang di tangan dokter lokal itu lalu masuk ke kamar. Charlie sedang menyandar di punggung ranjang. Antoine berhenti, ragu untuk menghampiri istrinya. Charlie masih menangis tapi pandangannya terarah padanya.

“Antoine…,” Charlie memanggil. Perlahan Antoine mendekat. Duduk di tepi ranjang untuk mencium tangan istrinya. Charlie mendongak padanya.

“Kenapa selalu ada hal yang membuatku tidak bisa membencimu?”
“Sayang, aku mohon, maafkan, aku.”

“Anak ini…,” Charlie mengelus perutnya. “Kenapa dia muncul di sini?” dia jadi geli sendiri. “Bali adalah pulau dewata. Rupanya dewa-dewa di sini begitu murah hati.” Lalu dia menyusuri wajah Antoine membimbing kepala Antoine agar merebah di pahanya. Antoine melingkarkan tangan di pinggangnya dan mencium perutnya.

“Anak ini adalah penghiburku, Antoine. Dia akan menemaniku dalam pencarian ini.” Dan Charlie pun mendesah. “Oh, betapa inginnya aku agara Camille kembali ketika anak ini lahir. Katakan padaku, Antoine. Camille akan kembali, kan? Kalian akan terus mencarinya, kan?”

Antoine mengangguk dalam benaman perut Charlie. “Tentu, Sayang. Sampai kapan pun kita akan mencari. Camille akan pulang dan melihat adiknya.”

Charlie tertawa lega. Anak itu adalah kekuatan baginya. Dia menyesal berkata telah membenci Antoine. Dia minta maaf atas ucapannya itu. Antoine yang pengertian sekali lagi memaafkannya.

Camille… , di mana pun kau berada, bisakah kau rasakan kebahagiaan ini? Maafkan kami, Sayang. Kami tidak tahu bagaimana harus bahagia di saat kau belum ditemukan. Ibu akan selalu kuat untukmu dan adikmu ini akan mendukung Ibu. Kembalilah, Nak… Ibu yakin kau masih hidup. Tuhan selalu sayang pada kita. Please, come back, my home… .

Charlie membungkuk, mencium kepala Antoine yang masih ada di pangkuannya. Sekali lagi Tuhan menyatukan mereka dan Charlie bersyukur karenanya.

BERSAMBUNG