THE MAESTRO — Part 2

THE MAESTRO

Part 2

Song of the Day

MY WAY

By. FRANK SINATRA

And now, the end is near,
And so I face the final curtain.
My friends, I’ll say it clear;
I’ll state my case of which I’m certain.

I’ve lived a life that’s full –
I’ve travelled each and every highway.
And more, much more than this,
I did it my way.

Regrets? I’ve had a few,
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course –
Each careful step along the byway,
And more, much more than this,
I did it my way.

Yes, there were times, I’m sure you knew,
When I bit off more than I could chew,
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall
And did it my way.

I’ve loved, I’ve laughed and cried,
I’ve had my fill – my share of losing.
But now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that,
And may I say, not in a shy way –
Oh no. Oh no, not me.
I did it my way.

For what is a man? What has he got?
If not himself – Then he has naught.
To say the things he truly feels
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows
And did it my way.

Yes, it was my way.

Sebulan berlalu, Aldian mulai sadar bahwa kehidupan harus tetap berjalan. Menanggalkan duka-lara dan berusaha melangkah kembali. Pada akhirnya Aldian menerima tawaran ayahnya untuk meneruskan usaha keluarga. Sebuah pilihan yang sangat bertentangan dengan impiannya. Rupanya kematian Alicia telah banyak membuat perubahan pada diri Aldian. Membelokkan segala usaha menjadi composer orchestra hingga harus menjadi bisnissman yang selalu dikejar waktu dan segala sesuatunya yang serba kaku, bahkan dia pindah jurusan kuliah ke fakultas ekonomi dan bisnis. Impian itu telah mati seperti sang kekasih hati.

Saat orang tuanya memutuskan pension dan menetap di villa peristirahatan di luar kota, Aldian mengajak Joana dan Mina pindah ke manshionnya. Dia benar-benar tak mau menoleh ke belakang. Ditinggalkannya rumah kecil yang penuh dengan kedukaan. Tak satu pun barang yang mereka bawa dari rumah itu selain piano tua kesayangan Alicia.

Rupanya piano tua itu sangat cocok berada di tempat yang baru. Manshion ini memang megah, dengan pekarangan bertata taman yang indah serta pagar besi yang menjulang tinggi seakan pamer keangkuhan. Di setiap sudut ruangan, terlihat tata interior dengan gaya Victoria. Dan piano tua itu mampu menambah kemewahan. Tak seorang pun bisa membayangkan hal ini bisa terjadi. Bagaimana tidak? Piano tua yang selama ini berada di antara barang-barang lapuk di rumah kecil.

Hari demi hari berlalu, Joana yang sibuk dengan sekolahnya dan Aldian sibuk dengan urusan bisnis dan kuliahnya. Piano tua itu masih berdiri kokoh. Aldian tidak pernah lagi menyentuh. Namun bukan berarti piano tua pension karena si kecil Joan selalu memainkannya setiap pulang sekolah. Gadis kecil itu masih mengingat segala yang diajarkan kakak iparnya.

Joana tidak pernah memainkan piano saat Aldian ada di rumah. Dia tahu Aldian tidak suka. Dia yakin suara piano itu akan mengingatkan segala kesedihan. Dalam hati Joana masih berharap Aldian mau bermaian piano lagi. Hal itu selalu dia panjatkan di setiap doa-doa. Membayangkan jika hari itu tiba, Aldian memainkan irama merdu hingga dia dengan gaun putih menari, melompat, tersenyum, tertawa gembira. Telah banyak segala kemungkinan yang dia bayangkan jikalau hari itu tiba. Dilaluinya hari-hari dengan harapan-harapan itu seolah semua itu merupakan pemacu semangat walau pun tahu sangat mustahil terjadi.

Pagi ini, setelah dua tahun berlalu. Joana dibangunkan oleh irama merdu. Sebuah simphoni yang indah yang dia yakini terdengar dari piano tua. Segeralah meloncat dari tempat tidur dan berlari ke sumber suara.

“Tidak mungkin!” itulah yang hadir di benak Joana saat melihat Aldian memainkan piano. Perlahan dia mendekati Aldian. Mendengarkan alunan simphoni itu dengan serius sambil mengingat-ingat lagu apa yang dimainkan Aldian. Tidak, Joana tidak tahu lagu apa itu. Dia belum pernah mendengar.

“Simphoni yang mana yang oppa mainkan?”  tanya Joana saat Aldian selesai memainkan piano.”Joan belum pernah mendengarnya.”

Aldian menoleh, lalu mencolek hidung mungil Joan dan menjawab,”Tentu saja kamu belum pernah mendengarnya, ini gubahanku sendiri.”

Joana mengambil buku not balok yang berada di atas piano. Dipandanginya satu demi satu not di paranada itu. Keningnya berkerut. “Oppa belum menyelesaikan simphoni ini?”

Aldian menghela nafas.”Simphoni itu tidak akan pernah selesai.”

“Waeyo?”

“Karena aku tak mau menyelesaikannya,” jawab Aldian datar.

Joana terkejut mendengar jawaban Aldian. Sungguh simphoni yang indah tapi sayang, Aldian tidak mau menyelesaikannya. Apa yang bisa diharapkan dari simphoni yang belum selesai? Tidak ada tema dan tidak hidup. Kenapa Sesuatu yang indah tidak bisa hidup?

Aldian menangkap kebingungan di wajah Joana. Dia tersenyum dan dengan lembut bertutur,”Mungkin kamu yang akan menyelesaikan simphoni ini suatu saat nantu, Joan.”

Joana hanya tersenyum mendengar ucapan Aldian.

“Saya tidak percaya Oppa mau main piano lagi. Terus terang hari inilah yang selama ini saya impikan. Dan sekarang Oppa akan terus main piano, kan?”

“Mungkin.”

“Lalu, apakah Oppa mau melanjutkan apa yang diajarkan padaku dua tahun yang lalu?”

Aldian tertawa, tak menyangka jika Joana menanyakan hal itu,”Tentu, Joan. Tapi aku tidak yakin apakah kamu masih mengingat pelajaran dua tahun yang lalu.”

“Joan ingat, kok. Tanpa Oppa tahu, Aku berlatih tiap hari.” Joan tertawa mengejek dan menjulurkan lidahnya. Aldian memberikan tinju pelan di dagunya. Sungguh keakraban yang indah. Tak dapat dipercaya hal itu terjadi setelah sekian lama.

Ternyata keakraban itu tetap berlanjut. Di sela-sela kesibukan, Aldian menyempatkan diri untuk memberi les pada Joana. Dia juga menyewa tutor pribadi untuk mengajari Joana music, tari dan sastra. Tiga bidang seni yang sebenarnya terlalu berat diterima oleh anak seusia Joana. Namun Joana memang cerdas, dengan cepat mampu menangkap materi-materi berat itu.

Joana tumbuh dewasa denngan segala didikan Aldian. Terkadang Mina menganggap bahwa cara mendidik Aldian ini salah. Mina selalu berpikir, Aldian ingin menghidupkan Alicia dalam diri Joana. Mina masih ingat betul ketertarikan Alicia pada music, tari dan sastra. Ya, Aldian ingin Joana menjadi Alicia kedua, begitu pikir Mina.

Ternyata Aldian berhasil. Disadari atau tidak, Joana kini benar-benar Alicia kedua. Semangatnya, minatnya, gaya bicara, cara berjalan, cara pandang terhadap hidup bahkan wajahnya yang mirip dengan Alicia.

Selama ini Mina salah menganggap Aldian sudah melupakan Alicia. Aldian telah merubah watak adik iparnya itu hingga mirip dengan Alicia. Bak seorang maestro yang selalu mengharapkan kesempurnaan ciptaannya. Tapi Mina tidak mampu berbuat apa-apa. Apalah arti Mina di mata Aldian selain hanya pengasuh Joana. Dan sebagai wali Joana yang syah, Aldian berhak menentukan segala sesuatu yang menurutnya baik bagi Joana.

“Aku tidak tahu sampai kapan semua ini terjadi. Aku tidak tahu,” suara hati Mina memendam kekawatiran dalam benaknya.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s