THE SECRET II (Temptation of Island —- part 2)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Part 2

“Sekilas tubuhnya kecil, tapi ternyata berat juga.”

Dengan langkah berat, pria itu berjalan ke arah gua yang satu jam lalu dia temukan. Di pundaknya, terpanggul tubuh lunglai dengan berat kira-kira  empat puluh sembilan  kilo gram.  Siang semakin terik. Pasir di kakinya tersepak-sepak. Berkilau terterpa cahaya matahari yang tepat di ubun-ubun, begitu juga dengan kulitnya yang semakin kemerahan, lengkap dengan peluh kelelahan.

“Kapal sialan!” berkali-kali dia merutuk dalam hati. Pulau ini serasa asing. Dia tidak mungkin bertahan dengan duduk-duduk di pantai. Air asin bukanlah pelepas dahaga yang baik. Masuk ke hutan adalah satu-satunya jalan dan  bersorak saat menemukan sebuah goa yang cukup nyaman di sana. Goa yang sejuk, kontras dengan suasana pantai yang panas dan berangin.

Makin lama jalannya melambat karena beban di pundak. Dia telah mengelilingi pulau ini tiga kali. Putaran yang cukup demi mengambil kesimpulan begitu lama terdampar di pulau kecil itu dalam keadaan tak sadarkan diri. Dia cukup bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup. Badai itu adalah badai terparah yang pernah dia alami. Namun rasa syukur itu seakan mencekat di kerongkongan ketika melihat sesosok tubuh tergolek lemah beberapa langkah di depannya.

“Ya, Tuhan,” dia menahan nafas saat membalikkan tubuh tergolek itu. Chamille d’ Varney! Di tepuk-tepuknya pipi Chamille lalu meraba denyut nadi di pergelangan tangan kiri gadis itu. Dia tidak sendirian, entah kenapa keberadaan Chamille jadi beban baginya. Demi Tuhan, dia lebih suka terdampar di Pulau ini sendiri. Di antara para penumpang kapal sialan itu, kenapa hanya dia dan Chamille yang ada di sini? Mana yang lain? Oh, tentu saja, satu terjangan ombak, lalu aku dan Nona d’ Varney yang bodoh ini jatuh ke air!

Walau pun jengkel, dia merasa harus bertanggungjawab perihal gadis itu. egonya sebagai lelaki menuntunnya. Di mana pun, bukankah pria harus melindungi wanita? Tunggu! Pria? Wanita? Apa-apaan? Aku adalah ABK yang harus melindungi anak manja ini! Perlahan, dia mendirikan tubuh Chamille dan karena menunduk, akhirnya Chamille roboh tepat di pundaknya. Posisi tepat untuk mengangkut gadis itu menuju goa.

“Fuh! Berat juga,” Dia berjongkok sesampainya di goa.  Kaki Chamille menyentuh tanah lalu perlahan dia mencondongkan tubuh, sontak Chamille yang lemas terdorong dan kedua tangan kekar pria itu menangkap tubuhnya dengan lembut. Dengan hati-hati dia menidurkan gadis itu. Chamille masih belum sadar. Diamatinya wajah pucat Chamille. Gadis itu masih terbuai di dunia mimpi.

“Apa yang dia impikan?” Dia tersenyum. “Gadis yang aneh, bisa-bisanya dia bermimpi setelah kejadian yang mengerikan.”

Sayup-sayup pria itu  mendengar bunyi gemericik. Bunyi air? Deburan ombak membuatnya berhalusinasi. Tunggu! Itu bukan suara ombak! Dia mendengarkan lagi bunyi itu lebih seksama. Benar-benar gemericik air! Ditinggalkannya Chamille yang tergolek demi menuju suara itu.

Bukan hanya air yang bergemericik! Tapi…. air besar yang terjun dari bukit tinggi menuju sungai di bawahnya. Air terjun! Dia bersorak dan terjun ke sungai berair jernih. Sesaat dia merasakan kesejukan air tawar. Bahagia setelah berkutat dengan air asin, dia mengendorkan seluruh urat syaraf bersamaan dengan hilangnya kotoran badan yang melekat. Gerakan kakinya mendorong tubuhnya ke permukaan air.

“Terima kasih, Pulau Aneh!” dengan mengepalkan tangan ke atas, teriakkannya menggema di antara batu-batu tebing.

 

—oOo—

“Kenapa Ibu selalu menolak mengunjungi Korea?”

Charlie tersenyum saja saat Chamille menanyakan itu. Sebenarnya, saat beberapa orang membicarakan negara itu, Charlie selalu menghindar. Negeri itu selalu memberi kesedihan baginya. Dia kehilangan semuanya di sana dan menemukan kebahagiaan di Kanada. Terlebih lagi, di Kanada ada kehidupannya,  Suami dan anak-anaknya. Charlie takut, Korea akan merampas semua itu darinya.

“Tidakkah Ibu merindukan kampung halaman Ibu?”

Charlie menggeleng. Perlahan, dia mengelus kepala putrinya. “Kau, Nathan dan Ayahmu, adalah kampung halamanku. You are ‘my home’.”

Charlie tergugu mengenang percakapan itu. Nathan yang duduk di sebelahnya menoleh. Dengan penuh pengertian, pemuda itu merangkulnya. Sekali lagi menawarkan bahu sebagai sandaran. Salah satu ‘home’-nya, kini tak diketahui keberadaannya. Charlie semakin sedih membayangkan Chamille yang ketakutan di antara ombak yang ganas.

“Everything gona be alright, Mom,” Nathan berusaha menenangkan Ibunya. Penerbangan kali ini serasa sunyi. Sangat kontras dengan penerbangan yang biasa mereka lakukan jika sedang berlibur. Nathan sendiri sebenarnya juga ragu dengan ucapannya. Benarkah Chamille baik-baik saja seperti yang dia katakan? Nathan memang tak pandai menghibur. Bahkan berbohong untuk menenangkan sang Ibu pun dia gagal.

Saat pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Charlie bahkan tak sabar untuk keluar dari pesawat. Ingin rasanya menuntut penjelasan pada Antoine tentang semuanya. Alasan apa yang menyebabkan suaminya itu begitu ceroboh. Kenapa jika menyangkut Chamille, Antoine selalu ceroboh? Jika dibandingkan dengan sikapnya terhadap Nathan, Antoine terlalu memanjakan Chamille. Antoine selalu menuruti kemauan Chamille, dan tak ayal hal itu kadang jadi boomerang bagi Antoine.

Apalagi sekarang, saat Charlie yang langsung menatapnya dengan air mata berlinangan di lobi bandara. Istrinya bahkan menolak pelukannya. Nathan hanya mengangkat bahu, saat dia melayangkan pandangan penuh tanya pada pemuda itu. Charlie sedang marah. Antoine tahu itu.

“Ma Femme…,” panggilan lirih Antoine serasa memohon. Charlie tahu kalau Antoine merasa bersalah. Namun kemarahan masih menguasai benak Charlie.

“Mom…,” bahkan putra mereka pun ingin agar mereka berpelukan seperti biasanya. Antoine memeluk tubuh istrinya yang masih serasa kaku pada mulanya.  Namun, tubuh itu bergetar seiring isak tangis Charlie di dada Antoine. Charlie memukuli dada Antoine, menghempaskan kekesalan akibat kecerobohan pria itu.

Antoine semakin erat memeluk. Sesekali dia mencium ubun-ubun Charlie dan berbisik kalau dia sangat menyesal.

“I am sorry… I really-really sorry,” tak ayal Antoine pun menangis juga. Nathan melihat semua  itu, lega karena orang tuanya tidak bertengkar walau pun nasib sang adik masih belum jelas.

Robert sudah mengetahui kedatangan Charlie. Namun hal penting yang musti diurusnya sekarang ini adalah kemunculan Brian di Bali. Robert menganggap kalau jalan pikiran Brian tidak masuk akal. Bisa-bisanya dia membentuk tim pencari Chamille secara pribadi. Robert terlihat berang di ruangannya. Pemuda tanggung itu berdiri di depannya, bersikukuh dengan tim mandiri pencari Chamille yang terdiri dari sepuluh  kelompok yang masig-masing beranggotakan sepuluh orang

“Aku rasa ini bukan urusanmu, Brian,” Robert berpangku dagu dan agak menyorongkan posisi duduknya ke depan demi untuk memberikan ketegasan pada ucapannya. Namun dahinya berkerut, de Javu seakan melanda dirinya.

“Chamille baik pada saya ketika di Korea. Saya harus bisa menemukannya.”

“Chamille?” Robert menaikkan salah satu alis. “Kau memanggil Nona d’ Varney seperti itu?”

Brian mengangguk.

“Lancang sekali!” Robert berdiri tegak. Brian segera membungkuk, meminta maaf.

“Maaf, Tuan Cassidy. Bukan maksud…

“Cukup,” Robert mengangkat tangan kanannya. Dia tahu kalau mungkin saja Chamille sendiri yang menyuruh Brian memanggil seperti itu. Chamille adalah jiwa yang bebas. Bahkan Robert yakin kalau Chamille berwatak agak pemberontak. Terlalu resmi bukanlah sifat Chamille.

Namun, Robert rupanya ingin menggali lagi niat terpendam di hati Brian.

“Brian, jawab aku. Apakah semua ini murni karena kebaikan Nona d’ Varney selama di Korea atau hal lain?”

Brian menunduk. Robert menghela nafas. Brian si pemuda lugu. Bahkan menutupi perasaannya pun tak bisa.

“Kau mencintai Chamille?” pasti Robert lagi. Brian tetap membisu.

Robert Cassidy tidak pernah ikut campur masalah pribadi anak buahnya. Tapi untuk masalah ini, diperlukan pengecualian.

“Aku sudah bilang kalau ini semua bukan urusanmu. Sekarang semuanya terserah, kau,” Robert menunjuk Brian dengan ekspresi meyakinkan seakan tindakan Brian terlalu gegabah.

“Terima kasih, Tuan Cassidy,”sekali lagi Brian membungkuk.

“Kau pasti akan perlu banyak uang nantinya. Biarlah aku yang menangani pendanaan.”

“Tidak usah, Tuan. Bukankah Tuan juga membentuk tim pencari juga?”

“Dan uangku masih cukup banyak untuk membayari tim-mu,” potong Cassidy. Raut wajah Brian berubah sumringah.

Dasar pecinta amatir, Robert mendesah dalam hati. Dia merasa pembicaraan dengan Brian cukup. Dengan isyarat tangan, dia menyuruh Brian keluar ruangan.

Robert mengetuk-ketukkan pena saat Brian keluar ruangan sembari menutup pintu. Anak itu … begitu mirip!  Robert merasakan d’Javu.kembali. Akankah masa lalu terulang?

Sekali lagi Robert menghela nafas. Dia yakin Charlie pasti sudah sampai di hotel, tapi dia masih ingin berlama-lama dengan kenangannya.

“Kau gila! Semua itu bukanlah urusanmu lagi! Sudah ada suaminya di sana!” Robert bahkan masih mengingat bagaimana dia berteriak pada orang itu. Namun orang itu masih saja berkeras. Tanpa mengingat keadaannya sendiri, bahkan menjawab dengan penuh keyakinan, “Golongan darah Charlie sama denganku! Aku harus menolongnya!”

Dinding-dinding ruang itu seakan memantulkan kenangan lagi.

Semuanya tak akan berhasil, Brian. Walau pun Chamille ditemukan dan kau berjasa besar di situ, d’ Varney akan tetap menolak, jika tahu asal-usulmu.

—o0o—

“Kau, Nathan dan Ayahmu, adalah kampung halamanku. You are ‘my home’.”

Chamille tersenyum mendengar perkataan Ibunya. “My home? Mom…, I am glad you are here. You don’t know what happened with me.” Chamille memeluk Charlie. Tubuh itu, serasa nyata. Chamille bisa menghirup aroma wangi tubuh yang selalu membuatnya nyaman.

“Everything gone be oke. Everywhere you are…, good people always take care of you,” bisik Charlie di antara rambut Chamille yang berwarna coklat keemasan. Suara lembut itu menelusup di hatinya, begitu menenangkan jiwanya.

“Mom..,” Chamille mengingau. Bola matanya bergerak-gerak walau pun kelopaknya terpejam. “Mom, please, don’t leave me.” Kepala Chamille bergerak gusar. Di mimpinya, badai memisahkannya dari pelukan Charlie. Dia terhampar di tempat yang gelap, terasing bahkan bagi dirinya sendiri.

“Mom!” Matanya terbuka di teriakan yang terakhir. Udara lembab dalam goa menyambut penciumannya. Bola matanya bergerak searah kepalanya yang menoleh, mengitari pemandangan sekelilingnya yang tak bisa dipercaya. Perlahan dia bangkit. Tulang-tulang punggungnya serasa kaku kerana terlalu lama tidur si tanah yang dingin. Pertama dia duduk, mengusap-usap pergelangan tanggannya yang membiru. ABK itu terlalu keras menarik lengannya. Chamille mulai mengingat semuanya.

Lalu di mana aku sekarang? Terdampar bersama manusia goa? Oh, dam! bukan waktunya untuk berteori. Tapi siapa yang membawaku ke tempat ini? Ya, Tuhan, katakan saja ini mimpi. Mimpi yang lain. Aku akan terbangun dan melihat diriku baik-baik saja, terbaring di kamarku di Toronto. Please, God!

Namun semuanya nyata. Badai itu dan goa ini? Chamille meratapi semua itu saat suara gemericik air menyambut pendengarannya. Dia merasa kehausan. Mungkin sudah bergalon-galon air asin yang tertelan, mungkin tubuhnya mengalami hipernatremia. Sungguh berlebihan! Hanya karena sang Ayah seorang dokter, Chamille selalu mengkaitkan segalanya dengan istilah medis.

Rasa haus menuntun langkahnya menuju sumber air. Dia harus melewati ilalang cukup tinggi yang menutupi mulut goa. Chamille mengamati tiap helai ilalang itu, beberapa patahan menunjukkan kalau sudah ada orang  selain dirinya yang merusak tumbuhan itu. Chamille semakin yakin kalau dia tak sendirian.

Tersibaknya ilalang tinggi itu, menghantarkan Chamille pada pemandangan surga yang jarang terlihat di Kanada. Beraneka tumbuhan tropis terhampar di hadapannya. Perdu, semak, paku-pakuan, palem bahkan lumut. Menghijau di sepanjang dia memandang. Dia merasa nyaman, tak perduli seberapa jauh dia dari rumah, Chamille serasa menemukan kebebasannya.

Dan suara itu… suara surga yang lain. Suara kehidupan yang membuatnya melangkah semakin menjauhi goa.  Membayangkan begitu segarnya air yang menjelajahi kerongkongannya, Chamille sudah tak sabar untuk sampai di sumber air. Namun kelemahan memperlambat langkah dan dia masih harus berjuang dengan rasa sakit di sekujur tubuh.

Chamille bahkan harus meringis setiap kali daun yang tajam menggores kulitnya. Di depannya begitu rimbun, pepohonan itu adalah surga sekaligus hambatan bagi Chamille. Dia harus lebih hati-hati, berkali-kali dia menyibakkan daun-daun yang menghalangi jalannya. Sangat mudah baginya melakukan itu. Tanda yang diberikan oleh orang yang melewati jalan ini sebelumnya begitu jelas. Sebagai mahasiswa yang aktif mengikuti kegiatan kepanduan, Chamille berpikir kalau orang itu sangat ceroboh.

Chamille juga tahu kalau perbuatannya ceroboh. Dia menuju ke arah orang itu. Orang asing yang bahkan tidak dia ketahui baik atau  jahat. Tapi kalau orang itu adalah orang yang membawanya dari pantai menuju goa, Chamille pikir, mungkin dia bisa sedikit bernegosiasi.

Akhirnya, tebing berair terjun lamat-lamat menyapa pandangannya. Semakin dia melangkah, semakin jelas aliran sungai di bawah tebing itu. Chamille yakin jika sungai itu menuju ke perairan asin, namun asal air dari tebing curam itu…. Chamille tidak habis pikir. Sebuah karya arsitek agung. Tuhan pasti sangat memberkati pulau asing ini.

Chamille bersimpuh di pinggir aliran sungai. Dengan tangannya, dia merasakan kesegaran air tawar itu membasahi kerongkongannya. Chamille minum sambil mendendangkan lagu-lagu syukur di dalam hati. Arah pandangannya berlawanan dengan arus air. Sungai itu ternyata lebih besar dari perkiraannya.

Tenggorokan Chamille serasa tercekat saat melihat sosok di bawah air terjun. Beberapa kaki di depan, pria itu telanjang bulat. Kulit pria itu  memucat tertampar-tampar air yang jatuh bebas dari atas. Dia bahkan berdiri begitu saja, mengucek rambutnya di bawah air terjun laksana keramas di bawah sower kamar mandi mewah. Dan sial! Saat Chamille meneruskan pandangan ke bawah tubuh pria itu, keerotisan menyambut. Chamille hampir tak bisa bernafas.

Dada itu berlekuk, memaparkan pundak yang lebar, serta lengan berotot bisep yang sempurna. Perut terpahat tanpa lemak yang begitu inginnya Chamille mengelus dan muara dari semua itu…. Chamille menelan ludah. Sial! Mabuk laut membuat Chamille berpikiran aneh-aneh. Mabuk laut? Aku bahkan sudah tidak ada di laut!

Oke! Kita lewati muara itu…, Chamille memicingkan matanya yang mulai mengabur. Kaki itu… kaki itu begitu jenjang. Kaki panjang yang mirip kaki ayahnya. Apakah itu ayah? Tidak mungkin! Ayahnya tidak pernah menampakkan keerotisan. Setidaknya ketika di depannya dan Nathan. Siapa pria itu?

Chamille menolehkan kepalanya dari pria asing yang tak menyadari perbuatannya itu. Tidak ada orang lain di situ. Chamille pening membayangkan kemungkinan mereka hanya berdua di pulau. Chamille semakin pusing. Kehadiran pria itu, bisa jadi merupakan anugrah bagi Chamille. Tapi sekarang ini, yang Chamille pikirkan adalah hal-hal negatif yang bisa saja timbul dari pria itu. Dunia seakan berkeliling di sekitar Chamille. Kegelapan akhirnya menyambut lagi, bersamaan ambruknya tubuh lemah itu.

 Air beriak saat lengan Chamille menimpa. Ibu… Ibu….sekali lagi dia mencari kenyamanan di antara bayang-bayang Ibunya.

Pria di air terjun rupanya sudah selesai dengan aktifitasnya. Baju yang tadinya dia cuci dan dijemur di atas batu, rupanya sudah mengering, dia mendekati batu itu untuk berpakaian. Tubuhnya lebih segar setelah berendam cukup lama di sungai. Air tawar itu mempunyai daya membersihkan yang luar biasa. Begitu nyata ketampanan pria itu setelah kebersihan menyapa tubuhnya. Bahkan saat dia akhirnya menutup mata, menghirup udara sejuk lewat hidungnya yang bangir. Berusaha mensyukuri hal yang melimpah di pulau asing ini. Kulit yang memucat karena terlalu lama berendam, rupanya mulai menampakkan rona aslinya lagi. Rona kecoklatan. Rona asing bagi orang-orang Korea. Rona yang didapatnya karena sering menghadapi cuaca terik di laut lepas. Kerasnya hidup sebagai ABK telah lama menerpanya dan baru kali ini dia terdampar karena cuaca buruk.

Saat membuka mata. Dia makin menyadari keindahan pulau ini. Apa maksud semua ini? Terdampar di pulau yang penuh rayuan. Di manakah kira-kira tepatnya letak pulau ini di atlas dunia? Jika melihat dari suhu udara di sini, dia yakin masih berada di sekitar garis katulistiwa. Matahari pasti sudah tenggelam saat ini jika dia di bagian bumi yang lain. Pulau indah di daerah tropis. Dan apakah pulau ini memang sudah ada di atlas dunia? Jika memang ada, kenapa pulau seindah ini dibiarkan tak berpenghuni?

Pria itu berjongkok lalu meraih ranting kering yang kebetulan ada di dekatnya. Dia menggambar kemungkinan keberadaan pulau itu di atas tanah dengan ranting di tangannya. Kapal naas itu berangkat dari Nusa dua. Dia menggambarkan pulau Bali asal-asalan di atas gambar pulau asingnya.  Perairan Nusa dua berbatasan dengan Samudra Hindia dan di sebelah tenggara pulau Bali adalah Australia. Mungkinkah dia berada di kepulauan wilayah Australia? Dahinya berkerut memikirkan semua itu. Tidak mungkin! Australia tidak mungkin membiarkan pulau seindah ini terlantar. Lalu…. Indonesia? Mungkinkah dia masih di territory Indonesia? Atau mungkin kapal itu terhanyut di Samudra Hindia dan pulau ini masuk di perairan Internasional?

Ibu… ibu…

Telinganya berdenging. Dia seakan mendengar seseorang merintih. Rintihan itu bahkan tertelan oleh suara air terjun dan dia musti menajamkan pendengaran.

Ibu… Ibu….

Dia mencari sumber suara. Di sana, di beberapa kaki di depannya, tubuh Chamille menelungkup  di pinggir sungai. Pria itu melompat dan lari ke arah Chamille.

“Ya, Tuhan. Dia berjalan sejauh ini?” Dia membalikkan tubuh Chamille, meletakkan kepala Chamille di pangkuannya.

“Nona d’ Varney… Nona….”

Chamille masih mengigau saat dia menepuk-nepuk pipi gadis itu. Dia menarik lengan Chamille lalu melingkarkan di lehernya. Dengan mengambil nafas, dia mengangkat tubuh Chamille di gendongan.

Dia kembali ke goa dengan Chamille yang masih mengigau di dadanya. Setelah Chamille kembali ke goa, dia akan ke air terjun lagi mengambil persediaan air. Dia juga akan mencari bahan pangan yang mungkin aman dikonsumsi. Pulau ini pulau tropis dan dia yakin banyak buah-buahan layak makan di sini. Memikirkan semua itu, dia seolah kembali hidup di jaman purba. Entah kapan ada kapal penolong yang melewati pulau ini. Tapi mengingat begitu pentingnya gadis ini di mata keluarganya, dia yakin sebentar lagi mereka ditemukan. Dia harus memasang tanda di pinggir pantai agar kapal penolong itu mengetahui keberadaan mereka di pulau.

Begitu banyak rencana dalam otaknya setelah merasakan kesegaran air terjun itu. Saat Chamille akhirnya kembali terbaring aman di dalam goa, pria itu benar-benar akan melakukan rencananya.

 

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s