The Secret II (Temptation of Island – Part 1)

THE SECRET II

(Temptation of Island)

Camille Louis d’ Varney menghela nafas. Aroma asin perairan laut terbentang di depannya. Dia berada tepat di dek belakang. Saat melongok di bawah, air asin itu berbuih karena kincir pendorong yang berputar. Sebenarnya, dia enggan memenuhi undangan Robert Cassidy, teman baik Antoine d’ Varney, Ayahnya. Robert, pria keturunan Korea itu tiba-tiba mengundang mereka sekeluarga berkunjung ke negerinya. Sementara Antoine penuh semangat, Charlie, Ibu Camille hanya angkat bahu.

“Mommy, do you know Robert Cassidy?” tanya Camille dengan kerling curiga. Charlie menggeleng. Aneh, Charlie berdarah Korea tapi tak satu pun mengenal orang dari negerinya?

“After your Dad work with family bussiness, I even don’t know all his business partner.”

“Don’t ask your mother. She don’t know him. I think if She know him, She must forget him,” Antoine melirik Charlie. Seketika dahi Charlie membentuk kerutan.  Masa lalu lagi. Dia sama sekali tidak mau mengingatnya.

“What ever !,” Charlie mendengus sebal. “Just Both of you go, I wouldn’t come! I will be here with Nathan.”

Camille  bahkan tak habis pikir, bagaimana mungkin sang Ayah begitu antusias dengan undangan itu. Teringat jelas di otaknya saat Antoine meggerak-gerakkan undangan itu tepat di depan kepalanya. “And, there is sailing event too; It will be great!”

“You know that I hate sailing,”

Apa daya, gerutuan itu tak dianggap oleh Antoine. Obrolan di ruang tamu di sore itu berhenti. Mereka berdua tetap terbang ke Seoul walau pun di sepanjang perjalanan bibir  Camille maju beberapa senti.

Dan untungnya, mereka datang di musim panas Korea. Udara hangat membuat mata Camille terbuka lebar. Hatinya pun mulai tertarik dengan negeri asal keluarga Ibunya itu. dia merasa, inilah saatnya mempraktekkan kemampuannya berbahasa Halyu yang selama ini terpendam “Apakah Korea selalu seramah ini, Ayah?” tanya Chamille saat mereka menelusuri koridor Bandara Incheon.

“Well, kau bilang orang-orang ini ramah? Aku kira mereka adalah para pria  tanpa ekspresi yang suka melihat gambar wanita telanjang,” bisik Antoine saat dilihatnya Chamille melirik beberapa pria ABG yang bergerombol memasuki lobi bandara. Chamille jadi cemberut.

Tawa Antoine terhenti saat seorang pria muda mendekat dan memberi penghormatan ala Korea di depan mereka. “Mr. d’ Varney. I am Brian. Mr. Cassidy assigned me to pick you up.”

Antoine memandangi wajah pria muda itu dengan seksama. Sepertinya wajah itu tidak asing. Sangat familiar malah. Begitu juga dengan Chamille, rupanya dia tertarik dengan wajah ramah di depan mereka itu. Ayah pasti salah, pikir Chamille. Pria ini pasti bukan termasuk pria yang suka melihat foto wanita telanjang.

“Mr. d’ Varney?” merasa dicuekin, pemuda yang memperkenalkan diri sebagai Brian itu, menyentuh pelan lengan Antoine.

“Oh, ya. Mari kita pergi,” agak mengambang respon Antoine kerana dia masih mengingat-ingat kesamaan wajah itu dengan orang yang mungkin dikenalnya.

Namun, Antoine menggandeng putrinya juga, mengikuti arah Brian melangkah. Limousin sudah siap di depan pintu lobi.

“Robert menjaga semuanya dengan sangat baik,” pikir Antoine saat memasuki limo setelah putrinya.

Brian duduk di depan, di samping sopir. Rupanya Chamille mulai tertarik untuk berkenalan dengan Brian, gadis itu membuka  jendela kaca yang menghubungkan ruangan sopir dengan bagian belakang limo, lalu melongokkan kepalanya demi memulai pembicaraan dengan Brian. “Kau orang asli Korea?” Agak kaku lidah Chamille mengucapkan kalimat itu.  Dia agak bingung mau menggunakan akhiran –ka ataukah –da. Huft! Ayah kurang tegas mengajariku, jadinya kayak gini, deh.

“Iya, Nona,” Brian melirik pada Chamille dengan senyuman manis. Sesaat matanya terpaku pada mata Chamille yang coklat kemerahan, sangat mirip dengan ayahnya. Di banding Nathan, kakaknya, fisik Chamille memang jauh mendekati Antoine.

“Jadi kau bisa mengantarku berkeliling nantinya?”

“Jika Tuan Cassidy mengijinkan.”

“Tuan Cassidy…,” ulang Chamille.

“Ya.”

Antoine menepuk pundak Chamille. “Tidak sopan berbicara seperti itu.”

Chamille menoleh lalu menyandar. Antoine hanya melirik saat dia tiba-tiba jadi senyum-senyum sendiri. Menyadari kalau tingkahnya sedang diperhatikan sang Ayah, gadis itu mendekatkan bibirnya di telinga Antoine lalu berbisik, “Dia tampan juga, Ayah.”

Antoine hanya tersenyum geli. Chamille terkikik sementara kedua tangannya menutupi mulutnya.

“Dasar,” Antoine mengucek puncak kepala Chamille.

Jika Tuan Cassidy mengijinkan. Rupanya memang Robert mengijinkan Brian menjadi pemandu wisata  bagi Chamille. Jadilah mereka berdua sebagai penjelajah dadakan Seoul. Apa pun mereka sambangi, namun semuanya berakhir saat  Robert Cassidy mengumumkan sesuatu di acara jamuan minum teh, di sore ketiga keberadaan mereka di Seoul.

“Besok adalah waktu berlayar, Chamille. Paman jamin, kau pasti senang.”

Chamille agak begidik saat pria berumur empat puluhan itu menepuk-nepuk lengan atasnya. Namun Robert tak sadar kalau mata gadis itu sudah memandang telapak tangan yang menepuk-nepuk itu dengan tatapan protes.

“Hahaha, kau tidak tahu kalau dia tidak begitu suka berlayar,” Antoine menimpali dengan tawa khasnya. “Memangnya kemana kau akan membawa kami? Perairan Jeju?”tanya Antoine sambil menyesap tehnya.

“Bukan,” Jawab Robert. Dia menuju ke meja kerjanya, setengah duduk di meja itu, dia memutar-mutar globe. “Suatu tempat yang jauh dari sini,” saat dia menemukan tempat yang dicarinya, dia menghentikan putaran globe dan menunjuk, “Bali.. Cukup jauh dari sini.”

Antoine hampir saja menyemburkan tehnya. “Apa?”

“Nusa dua. Kami mendirikan usaha kapal layar di sana.”

Chamille mendengarkan obrolan itu dengan kurang bersemangat.

“Bagaimana kau bisa meyakinkan pemerintah setempat? Perusahaan asing menanam modal di situ?” Antoine meletakkan cangkir teh di atas meja.

“Indonesia sangat ramah pada para investor. Aku bekerja sama dengan konglomlerat local, tentu saja itu ide yang brilliant.”

Robert berjalan lagi di kursi yang berhadapan dengan Antoine. “Bagaimana,  kawan?” Dia bahkan menuangkan teh ke gelas kosong Antoine lalu menyodorkan pada tamunya. “Tertarik ikut bergabung? Atau kau bisa memikirkannya sambil menikmati pemandangan di sana?”

Tampak Antoine berpikir sebentar, lalu gerakan kepala mengikuti ucapannya. “Ide bagus.”

Antoine menerima uluran cangkir Robert. Berdua mereka melakukan tosh. Chamille mendengus sebal. Jadi perjalanan ini adalah bisnis? Chamille tak habis pikir, kenapa Ayahnya yang pada mulanya akademisi di Fakultas kedokteran University of Toronto itu, berbalik arah menjadi pebisnis ulung sejak sepuluh tahun yang lalu. Tak tanggung-tanggung, dunia pendidikan benar-benar ditinggalkan Antoine. Kalau begini, Chamille jadi berpikir, apa gunanya gelar dokter yang disandang Antoine?

Chamille bisa membayangkan kalau acara berlayar nanti pasti sangat membosankan. Apalagi setelah dia tahu, Brian tidak ikut di acara itu.

“Apa? Kau tidak ikut?” nada kecewa terdengar di suara Chamille, “Yah… .”

“Banyak pekerjaan yang harus kulakukan di sini, Chamille.” Brian memanggil namanya tanpa embel-embel Nona. Chamille yang menyuruh. Chamille tidak suka kekakuan yang ditimbulkan oleh kata ‘Nona d’ Varney saat bersama pemuda itu.

“Di sana pasti membosankan tanpamu,” Chamille bersungut.

“Apakah ini rayuan?” Mata Brian berbinar karenanya. Tapi Chamille menatapnya heran. Rayuan? Maksudnya?

Brian  pun menyadari kekurang-ajarannya. “Maaf. Lupakan kata-kata itu tadi.”

Bodoh sekali kau, Brian. Yang kau hadapi adalah Nona d’ Varney. Brian berusaha menyembunyikan perasaan. Chamille tidak mungkin tertarik padaku. Tetaplah jadi pungguk yang merindukan bulan.

“Jangan kawatir, Nona. Nusa Dua adalah pantai yang indah.”

Nona? Kenapa Brian memanggilnya ‘Nona’ lagi? Adakah aku membuat kesalahan?

Sepi. Hanya itu yang dirasa Chamille di negeri orang yang katanya bernama ‘Bali’ itu. Dia bahkan tidak mengerti kenapa orang-orang di sini bilang kalau negaranya adalah Indonesia padahal mereka terkenal dengan nama ‘Bali’.

Dan… berlayar… mereka bilang berlayar? Mereka? Antoine dan Robert lebih banyak bertemu rekan bisnis di hotel sekitar pantai. Malahan Chamille yang sering berlayar sendiri dengan kapal bermesin seperti sekarang ini. Robert selalu mengerahkan orang kepercayaannya untuk mengawal Chamille, termasuk para ABK yang khusus dibawanya dari Korea. Hal ini  lebih diperuntukkan kenyamanan Chamille. Antoine bahkan mendukung jalan pikiran Robert. Dia berpikir, inilah saatnya Chamille mengenal orang-orang yang serumpun dengan Charlie walau pun berada di rumpun lain.

Antoine tidak berpikir kalau Chamille bahkan tidak pernah berinteraksi dengan orang-orang itu. mereka bekerja laksana robot. Terlalu efisien. Brian memang efisien, tapi tidak seserius itu. Chamille lebih menikmati interaksi dengan penduduk local yang ramah. Kulit mereka yang kemerahan tampak menarik di mata Chamille. Guratan senyum selalu tampak di wajah mereka tak perduli seberapa keriputnya. Selain itu, tidak ada. Selain buih ombak di dek belakang karena rotasi motor penggerak. Senja yang indah menguap begitu saja karena Chamille melamun. Rindu rasanya pada Ibu dan Kakaknya.

“Nona, bagaimana kalau kita kembali? Hari sudah sore,” Lamunan Chamille terganggu karena teriakan itu. Seorang ABK berkulit kemerahan karena sering panas-panasan bertanya padanya. Chamille bahkan tidak pernah tahu kalau pria itu termasuk dalam kru. What ever! Bagaimana bisa dia mengenal kru sebanyak itu?

Malas rasanya cepat-cepat ke darat. Mau dijadikan arca penghias rapat bisnis?

“Tidak, tunggu sebentar lagi,” jawab Chamille.

“Tapi, Nona… sebentar lagi laut pasang.”

“Aku bilang tunggu sebentar lagi!” Chamile membentak galak. Agak emosi juga.

“Baik, Nona.” ABK itu undur diri dengan lesu. Chamille tidak tahu kalau dalam hati ABK itu merutuk kesombongan Chamille. Si Nona angkuh pewaris d’Varney yang tak pernah menyapa siapa pun di dalam kapal. Suka meledak jika kemauannya tak dituruti. Sombong sekali.

Chamille tidak menyadari kalau badai menanti. Dalam sepersekian jam, cuaca berubah tak bersahabat. Awan hitam bergumul di langit. Arus laut mulai tak beraturan. Kapten kapal dan asistennya panic.

“Lindungi Nona d’ Varney,” teriak kapten kapal.

Chamille hanya pasrah saat ABK yang memanggilnya tadi menyeretnya menjauhi dek. Mereka berjalan terhuyung-huyung karena kapal yang oleng. Satu gerakan kapal yang cukup keras membuat Chamille terhempas, hampir saja dia jatuh ke laut ganas jika saja tangannya tak berhasil meraih besi di tepi dek.

“Nona!” Sang ABK mencengkeram kuat lengan Chamille yang berpegangan pada besi.

“Tolong aku!”

ABK itu berusaha menarik Chamille tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri. Kru yang lain berusaha membantu. Mereka bergandengan tangan sepanjang jarak tiang layar sampai ujung yang lain memegang tangan sang ABK yang berusaha menarik Chamille.

“Bertahan, Nona!”

Ganasnya ombak menjilat tubuh Chamille. Dia timbul tenggelam bersamaan gerakan kapal yang masih oleng. Nafasnya megap-megap dan tekadang harus menelan air asin. Kondisi yang tak jauh beda dengan yang dialami sang ABK. Wajah ABK yang semula kemerahan berubah pucat kerana tamparan air yang bertubi-tubi.

Gulungan air besar menghantam badan kapal. Rantai manusia itu buyar seketika. Beberapa berhasil meraih pegangan. Namun tidak bagi Chamille dan ABK yang berusaha menolongnya. Keduanya jatuh dari kapal. Chamille berusaha tidak panik. Gagal! Bagaimana bisa tenang di saat seperti ini. teknik berenang sama sekali terlupakan. Bahkan perenang terhebat pun akan menyerah kalah pada bencana ini. Hingga di titik kelelahannya, dia kehilangan kesadaran. Gelap! Tiba-tiba semuanya senyap.

Oh, Ibu… . Chamille berharap sang Ibu menolong. Membangunkannya dari mimpi buruk ini.

—-oOo—-

“Tidak!” Charlie berteriak histeris ketika mendengar kabar Chamille melalui telephon. Nathan yang mendengar teriakan dari kamarnya yang memang bersebelahan dengan kamar orang tuanya, membuka pintu kamar dengan kasar.

“What happened, Mom?”

Tak ada jawaban memuaskan dari Charlie. Wanita itu hanya tergugu sambil membekap handphone di dada.

“Mom, What happened?” Nathan menggoyang-goyang tubuh Charlie. Terdengar suara berisik di telephon, Nathan merebutnya dari tangan Charlie. “Dad?” Dia mulai terlibat pembicaraan dengan Antoine.

Sama seperti Charlie, dia juga merasakan tubuhnya yang tiba-tiba lemas. Chamille tenggelam karena badai. Tim penyelamat sedang berusaha mencarinya.

“But, you said that you go to Korea?” Nathan benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa Ayah dan Adiknya tiba-tiba ada di Bali. Nusa Dua Bali, pantai itu berbatasan dengan Samudra Hindia. Beberapa situs internet meberitakan kalau perairan di sana berombak tenang. Tapi tak ada yang tahu juga, kan? Apalagi di saat fenomena La Nina yang telah terjadi. Alam semakin tak bersahabat. Kalau pun Charlie terdampar di suatu pulau, Pulau mana yang musti dia sambangi? Menurut survey tahun 2004, negeri itu punya 17.504 buah, 9.634 belum memiliki nama atau bahkan mungkin ada pulau lain yang sebenarnya ada tapi tidak mereka temukan? Hanya Tuhan yang tahu!

“Oke, Dad!” Nathan menutup telephone tanpa semangat dan kepala yang dihantui pikiran-pikiran buruk.

“How can it happened! What your father think? Why  let Chamille go alone!” Sekali lagi Charlie histeris. Nathan memeluknya. Dia tersedu di dada putranya itu. Haruskah dia menyusul Antoine? Tapi… dia takut jika teringat masa lalunya lagi. Tidak! Antoine tidak di Korea. Dia di Bali. Dan akan tetap di sana sampai Chamille ditemukan. Dia akan menyusul ke Bali. Ya, aku akan menyusul Antoine ke Bali.

Tidak hanya Charlie yang lemas mendengar kabar itu, Brian juga  kalang kabut. Dalam hati dia merutuki keputusan Robert. Dia juga merutuki keberadaannya yang jauh dari gadis yang mulai menarik hatinya itu.

“Apakah dia masih hidup?” Brian berkata gamang. Dia bergerak, duduk di ranjang sementara tangan kanannya merogoh-rogoh laci di meja samping ranjang. Notes kecil yang dicarinya. Notes berisi nomor telephon teman-teman lamanya.

Brian memilah-milah beberapa nama di buku itu. beberapa teman yang kiranya berpengalaman di kegiatan SAR dia pilih. Dia membentuk kelompok kecil pencari Chamille. Tentu saja dia harus berkorban  uang untuk penerbangan dan akomodasi mereka selama di  Bali.

“Apa pun itu.. apa pun itu untuk menemukanmu, Chamille,”

Brian mulai menghubungi nomor-nomor yang terpilih. Semua akan baik-baik saja. Chamille akan kembali pada orang tuanya. Segera!

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s