LILIN LILIN KECIL (Part 3)

Tanaman mawar tersebar indah di pekarangan samping rumah. Amelia sangat menyayangi bunga berduri itu. Kini dia tengah  bersimpuh di teras, hanya beralaskan koran sementara tanah berhumus, pot dan benih mawar ada di sekelilingnya. Benih itu berada di tangan nan cekatan, memasrahkan kehidupan di tangan Amelia karena subur atau tidaknya bergantung pada ketelatenan gadis itu.

Sesekali Amelia mendongak, menatap Pak Sukro yang menyirami bunga-bunga yang sudah berhasil tumbuh. Pak Sukro pula yang nantinya memindahkan pot-pot kecil itu jika Amelia sudah selesai menanam benih di dalamnya. Hobi yang dimulai semenjak Henry kecil membawakan satu ons benih mawar padanya, sebagai penghiburan baginya kerana keterpurukan akibat kelumpuhannya.

Amelia kecil menimang-nimang plastik kecil itu di tangannya. Seketika perhatian pada kursi roda yang musti dikuasai teralihkan. “Apa ini?”

Dan Amelia masih teringat senyuman penuh persahabatan dari Henry saat menjawab, “Benih mawar. Aku memintanya dari Mama. Aku bilang untuk menghiburmu, dan Mama sepertinya setuju. Kita bisa menanamnya sama-sama.”

“Benarkah?”

Menanam mawar bersama dengan Henry? Amelia tidak memikirkan rumitnya pekerjaan itu nantinya. Dia tidak perduli saat menyadari banyaknya buku yang musti dibaca tentang bercocok tanam mawar. Di benaknya dipenuhi rasa syukur karena sang sahabat  masih mau menemaninya saat dia sudah keluar dari sekolah. Dan itulah kegiatannya dengan Henry sampai sekarang, menanam mawar. Karena mawar pula, Amelia memutuskan kuliah pertanian melalui Universitas Terbuka.

Amelia tumbuh bersama mawar-mawar itu. Bahagia saat sekuncup mawar akhirnya tumbuh lalu sekuncup lagi hingga pekarangan itu sudah tidak muat lagi dan Pak Sukro lah yang musti pintar-pintar mengatur. Dia dan Henry mempunyai pemikiran yang sama untuk mawar itu. Impian untuk membangun konservatorium yang luas demi memamerkan dan menjual koleksi tanaman mawarnya. Entah kapan semua itu terwujud, mereka masih menggantungkannya di angan-angan.

Suatu ketika, saat mega berarak menuju senja dan sinar mentari yang terpantul dari wajah Amelia berwarna keemasan, mempertajam warna hitam mengkilat rambutnya, Henry yang terhipnotis dengan kecantikannya pernah berkata, “Kau tahu, Amel? Mawar-mawar ini bagaikan dirimu. Mereka sebenarnya rapuh, namun alam memberikan kemurahan padanya hingga duri-duri itu dengan rela tumbuh di tangkainya untuk melindungi.”

Amelia merasa perkataan Henry itu benar. Dia bukan hanya rapuh, tapi juga lemah dan penakut. Duri-duri itu…. ibarat orang-orang di sekelilingnya yang melindungi, Bu Mira, Pak Sukro, Kakek – Neneknya walau pun jauh, bahkan Henry sendiri. Amelia masih mengingat semuanya. Kata-kata Henry yang sebenarnya mengandung rayuan, yang tidak disadarinya pun masih dia ingat.

Henry pun mengenang semua itu. Dia yang berdiri menyandar di ambang pintu, di belakang Amelia, tanpa sepengetahuannya. Mengamati punggung Amel yang masih masyuk dengan hitamnya tanah dan benih di tangan. Sebenarnya sudah sejak lima menit yang lalu, Pak Sukro menyadari kehadiran Henry. Namun dengan isyarat telunjuk yang ditempelkan di hidung, Henry melarang Pak Sukro bilang pada Amelia. Henry tertawa lirih. Amelia mendengus kesal, “Henry mana, sih? Katanya mau ke sini sepulang dari kuliah, apa kuliahnya belum kelar?”

Namun, kekesalan itu rupanya menguap begitu saja, sedetik kemudian, lagu  lirih mulai dinyanyikan Amelia. Lagu tentang harapan yang ditangguhkan pada cahaya remang yang berasal dari sekumpulan lilin kecil di kala kelamnya malam dan manusia berusaha bertahan. Lagu yang pernah ngetop di tahun delapan puluhan oleh Almarhum Chrisye, ‘Lilin-lilin kecil’. Karena Amelia sering melagukannya, Henry pun hafal di luar kepala. Dengar saja…, Henry pun bersenandung tanpa sadar. Suara bass-nya membuat beberapa nada keluar dari pakemnya.

Amelia menoleh ke belakang. Gelak tawa tak terelakkan lagi. Henry lebih baik tidak menyanyi. “Suaramu jelek sekali,” cibir Amelia dengan maksud bercanda.

Henry tersipu. Amelia merengut, sadar kalau sudah lama Henry mengamatinya. “Sudah lama kamu di situ?”

Henry pura-pura berpikir. Mimik wajahnya sengaja dibuat-buat. “Cukup lama hingga bisa mendengar kau bilang, ‘Henry mana, sih? Katanya mau ke sini sepulang dari kuliah, apa kuliahnya belum kelar?’” dengan fasihnya, Henry menirukan suara Amelia. Dia mendekati Amelia  dan duduk bersila di depan gadis itu.

“Selama itu?” Mata dibalik kaca mata tebal itu mengerjap. Henry mengangguk. Dia teringat kejadian kemaren, waktu Amelia terjatuh di pinggir jalan dan kaca-matanya pecah. Henry pun mengamati kaca mata yang dipakai Amelia sekarang.

“Kaca matamu… sudah diperbaiki?”

Amelia mengangguk. Dengan mencondongkan tubuh ke telinga Henry, Amelia berbisik, “Aku langsung menyuruh Pak Sukro ke optik untuk memperbaikinya, sebelum Bu Mira datang.”

Henry terpingkal mendengarnya. Amelia membungkam mulutnya, takut kalau-kalau Bu Mira mendengarkan obrolan itu. Dia tidak mau Bu Mira memarahi semua pelayan karena membiarkannya keluyuran di luar sendirian.

“Anak nakal,” Henry mengucek kepala Amelia.

Bu Mira terlalu ‘over protective’. Saat perayaan tahun baru sepuluh tahun yang lalu, Henry, Anton dan Rani harus mengendap-endap, menculik Amelia dari pengawasan pengasuh itu, hanya untuk melihat kembang api yang berkerlip di langit tepat jam dua belas malam. Susah payah mereka bertiga mendorong kursi roda Amelia menuju bukit belakang rumah. Belum lagi rasa dag dig dig, takut ketahuan. Petualangan yang menegangkan bagi sekelompok anak kecil bandel. Hasilnya tidaklah mengecewakan. Sementara ketiga sahabatnya berbaring terlentang di atas rumput, Amelia duduk di kursi roda. Bersama mereka menatap langit yang bersuka cita karena kerlipan cahaya yang menyebar. Kesenangan itu pun berakhir dengan jatuh sakitnya Amelia keesokan hari dan Bu Mira menjuluki mereka ‘anak nakal’. Itulah kenapa Amelia cuma bisa nyengir kalau Henry menyebutnya ‘anak nakal’.

“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Sepertinya semua sudah kau bereskan?” Henry mengamati pot-pot kecil yang sudah berisi tanah dan benih, merasa kedatangannya tak berarti.

“Siapa bilang? Kau harus memotong bunga-bunga yang siap panen lalu kau letakkan di meja itu.” Amelia menunjuk meja yang terletak di dekat pintu masuk. “Nanti ada pelayan yang akan mengurus bunga-bunga itu sebagai penghias ruangan.”

“Sebanyak itu untuk menghias rumah ini?”

Amelia mengangguk. “Apa lagi yang bisa dilakukan? Membiarkan mereka membusuk di pohonnya juga tidak boleh, kan? Hanya itu yang bisa kita lakukan sebelum konservatorium betul-betul dibangun. Oh, iya. Aku sudah menelphon kakek untuk dana konservatorium. Aku sebel karena beliau tidak setuju. Sepertinya kita harus cari dana sendiri.” kata-kata sang kakek yang seolah menyangsikan niatannya berputar-putar lagi di benaknya. Amelia mendadak lesu.

Henry memungut gunting yang terletak di samping Amelia. Henry tahu kakek Amelia pasti akan berpikir begitu. Seakan menenangkan Amelia, Henry berujar, “Jangan  kawatir, masih banyak waktu untuk berpikir.”

Masih ada waktu untuk berpikir? Henry selalu menjawab demikian. Tentu saja Henry salah, setiap orang selalu dibatasi waktu. Karena itu perlu ketegasan untuk mensiasati waktu. Henry terlalu berhati-hati, bahkan untuk mengutarakan perasaannya.

Masih ada waktu untuk berpikir… ataukah menunda-nunda?

Saat Henry hendak menjatuhkan kaki kanannya ke tanah pekarangan, Henry berbalik, memanggil Amelia dengan ragu. Amelia mendongak padanya dengan alis terangkat. Mulut Henry seperti ingin mengucapkan sesuatu namun…

“Tidak… e… lanjutkan pekerjaanmu,” kata Henry akhirnya.

Selalu saja begitu. Dalam hati Henry memaki diri sendiri. Ayolah, Hen…  Dia itu Amelia, bukan putri pewaris monarkhi Inggris.

Tidak.., tentu saja semuanya sulit bagi Henry. Sebagai sahabat, mereka cukup nyaman bergaul. Henry tak bisa ambil resiko jika mereka berubah canggung saat dia mengungkapkan perasaan. Lalu Rani…, Ah! Masalah satu itu membuat Henry bingung. Hasilnya, konsentrasinya terpecah saat mengurusi mawar. Sesekali Amelia harus berteriak dari teras karena Henry menghancurkan tanaman-tanaman itu.

“Ada apa dengannya hari ini? Apa  ada masalah?” Amelia mendesah. Sekali lagi dia teringat pada ucapan Anton semalam. “Masalah dengan wanita yang ditaksirkah?”

Tentu saja Henry bermasalah dengan wanita yang diam-diam dicintainya dan wanita itu adalah Amelia sendiri.

Gadis itu masih berpikir. Dia berdiri di tengah ruang tamu. Anton belum juga pulang. Pintu apartemen masih dalam keadaan terkunci. Dia masih saja berusaha mencari jati diri. Menerawang segala hal yang mungkin bisa mengembalikan ingatannya sampai terkadang memijit-mijit pelipis. Nihil! Semakin keras dia berusaha, semakin pusing yang terasa. Dia pun bersimpuh lunglai di atas lantai marmer yang dingin, menangisi semuanya.

“Siapakah aku?” sayup-sayup suaranya merambati udara di antara isak tangis. “Aku mohon jawablah! Aku mohon.”

Semakin tergugu saat dia berusaha menekan dadanya, menahan segala asa untuk berteriak. Dia tidak ingat semuanya, namun  kenapa hatinya serasa sakit. Seakan ada bahaya laten yang bisa meledak sewaktu-waktu. Lalu menimbang-nimbang keamanan apartemen itu. Sampai di sini, dia semakin bingung. Apakah aku memang tersakiti? Apakah hilang ingatan ini adalah anugrah bagiku? Untuk melenyapkan rasa sakit itu, kah? Tapi siapa yang menyakitiku? Siapa aku?

Tidak ada jawaban. Tuhan seakan menghapus semuanya dalam semalam. Dia berusaha tabah. Sementara dia akan menerima usul pria itu. Anton Rahmadiar, ya… pria itu bernama Anton… . Aku adalah Emily… sementara ini, namaku adalah Emily.

Emily berusaha lebih tabah. Lambat-lambat dia mengangkat kepalanya. Sekali lagi dia sapukan pandangan ke sekeliling ruangan, lalu gerakan kepalanya berhenti saat menangkap piano yang berdiri kokoh di sudut ruang tamu. Entah kenapa dia merasa tentram melihat benda itu. Perlahan dia bangkit. Langkah kaki mungilnya, terseok-seok menuju benda itu. Dia meringis, luka di lutut akibat kecelakaan semalam menjadi perih jika digunakan untuk berjalan.

Dia duduk di depan piano. Menatap permukaan berkilat yang menutupi tut-tutnya. Saat dia membuka papan berkilat itu, ragu-ragu dia memposisikan ke sepuluh jarinya di sana. Seketika rangkaian nada terbersit begitu saja di otaknya. Jarinya pun bergerak mengikuti rangkaian nada itu.

Emily tidak sadar kalau piano itu telah memberikan sekeping ingatan yang dia perlukan.

Emily… Emily dan Emily! Entah kenapa gadis itu memenuhi benak Anton sepanjang siang. Membuat Anton tidak jengah dengan kuliahnya. Hafalan parasitologi lenyap semua. Emily yang hilang ingatan membuat otak kiri Anton kehilangan daya menghafal. Anton jadi sebal sendiri. Tes parasitologi gagal total. Jangan berharap nilai A untuk mata kuliah itu. Anton memaki dalam hati.

Tak ada guna memaksakan diri. Bertahan di kampus dengan pikiran tak pada tempatnya? Tidak mungkin! Anton memutuskan untuk mencari tahu identitas Emily. Hal pertama yang dilakukannya adalah kembali ke tempat terjadinya kecelakaan. Tidak seperti waktu kejadian, jalanan itu cukup rame jika sore, terlebih di jam pulang kantor. Anton menepikan mobilnya. Dia berpikir keras sementara tangannya mengetuk-ketuk ganggang setir. Kecelakaan itu terjadi malam hari dan dia sama sekali tidak ingat dari mana Emily muncul. Anton mengumpat sambil memukul dasbor.

Awan berarak keperakan saat Anton keluar dari mobil. Seketika dia mengamati keadaan sekeliling. Di sebelah kiri jalanan itu adalah areal perkampungan padat. Ada banyak kemungkinan kalau Emily mungkin berasal dari salah satu rumah yang ada di situ. Sedangkan di sebelah kanan adalah beberapa areal property mirip pengusaha pengembang. Beberapa tahun lagi, mungkin perkampungan bagian kiri jalan itu juga akan berubah menjadi seperti yang bagian kanan.

Saat memasuki mobil lagi, Anton merasa tidak mungkin jika arah kedatangan Emily dari kanan. Kemungkinannya sedikit sekali. Karenanya Anton melajukan mobilnya ke perkampungan sebelah kiri jalan. Sesekali mobilnya harus beradu dengan sulitnya medan. Bukan karena jalan berlekok  dan becek, bahkan jalanan di sini sudah dibeton semua. Jalanan kampong yang sempit membuat laju mobil melambat. Anton merasa pencarian kurang maksimal jika bertahan dengan mengendarai mobil dan memutuskan mencari tahu dengan berjalan kaki. Mobil mewah pun teronggok di areal parkir yang dia temukan di satu sisi perkampungan itu.

Setelah beberapa lama berjalan dan menajamkan pendengaran, Anton memasuki sebuah warung kopi tepat di tengah perkampungan itu. Letak warung itu bisa dikatakan di jalan pertemuan tiga kampung. Gossip apa pun yang beredar di sekitar kampung, pasti dibicarakan di sini. Anton duduk di kursi salah satu sudut, memesan kopi dan memasang telinga tinggi-tinggi untuk mendengarkan apa saja pembicaraan sekelilingnya.

Namun, sampai tiga gelas kopi habis ditenggaknya, tak ada obrolan berarti yang mengarah pada hilangnya seorang gadis dari kampung itu. Hanya pembicaraan membosankan dari bapak-bapak penggila bola tentang liga nasional. Tidak ada guna berlama-lama di sini, kecuali ingin kadar cafein di darah meningkat. Anton beranjak setelah membayar tanpa meminta kembalian uangnya yang sebenarnya masih bersisa.

Dia kembali ke areal parkir tempat mobilnya berada. Sekali lagi dia memandang sekeliling saat membuka pintu mobil. Besok dia akan mencari tahu lebih detil lagi. Mungkin pagi-pagi sekali saat Ibu-ibu kampung yang gemar bergosip memulai aktifitas. Secara psikologis, Wanita selalu bergosip jika berkumpul dengan sesamanya, sedangkan pria lebih senang membicarakan hobi. Itulah sebabnya tak ada satu pun pembicaraan para pria di warung kopi itu yang mengarah pada Emily, setidaknya itulah kesimpulan sementara Anton. Dia mengendarai mobilnya dengan keyakinan itu.

Hari sudah mulai gelap saat Anton tiba di apartemennya. Lega mendapati pintu apartemen masih dalam keadaan terkunci. Keadaan  di dalam apartemen pun masih sama seperti saat dia meninggalkannya pagi tadi. Emily bukan orang jahat. Hal pertama yang Anton lakukan adalah mencari gadis itu. Anton merasa bersalah mencurigai gadis malang itu. Emily sedang kebingungan dan dia meninggalkannya dalam keadaan terkunci. Tiba-tiba Anton kawatir jika Emily mencelakai diri sendiri.

Anton membuka pintu kamar tamu dengan nafas tertahan. Berdoa agar tidak terjadi hal buruk pada Emily. Nafasnya melega saat melihat tubuh Emily di ranjang. Sungguh pulas gadis itu tertidur. Nafasnya yang teratur membuat Anton berpikir begitu. Kaos Anton yang dipakai Emily masih tampak kedodoran walau tengah berbaring. Tak ada selimut yang menutupi Emily dan bahan dari kaos itu justru memperlihatkan  lekukan tubuh Emily yang menonjol dibawahnya. Anton harus menyingkirkan pikiran aneh-anehnya dan menyelimuti Emily.

Gadis itu tak menyadari perbuatannya, batin Anton. Memangnya apa yang Emily perbuat? Hanya tidur dan imajinasi Anton menghayal bahwa ada hal erotis pada Emily. Sial! Anton mengumpat sekali lagi. Aku harus cepat-cepat menemukan keluarganya tapi sebelumnya, aku harus membelikannya baju yang pantas. Anton keluar dari kamar tamu dan menutup pintu di belakangnya. Rupanya kehadiran Emily membuatnya semakin serba salah.

Anton duduk di sofa ruang tamu dan mencopot sepatu. Sejenak dia melegakan otot punggung dengan menyandar. Saat itulah handphonenya berbunyi. Anton mendengus. Rani menelphon. Agak enggan dia mengucap salam pada Rani.

“Kau bilang Henry sedang dekat dengan seseorang?” Musik yang memekak telinga melatar-belakangi suara Rani.

Anton tambah jengkel. “Ya, memangnya kenapa?” Anton pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.

“Kau tahu siapa orangnya?”

Kening Anton langsung berkernyit. “Tidak!” Jawaban spontan yang diberikannya. Ini bukan urusannya. Dia tidak akan buka mulut karena pasti keadaan tambah runyam.

“Ayolah…, kau pasti tahu, kau selalu bersemangat jika membicarakan gadis cantik, bukan?”

Amelia memang cantik tapi dia bukan tipeku, batin Anton. “Henry memang bercerita tapi dia tidak menyebut nama.”

“Apa mungkin salah seorang temanku di agency?” Rani masih saja menginterogasi.

“Aush! Sudah kubilang tidak tahu! Tanyakan saja pada orangnya langsung!”

Anton menutup telephon dengan kesal. Rani memang begitu. Selalu saja bawel dan sok tahu. Fisiknya memang cantik, tapi kelakuannya kadang membuat Anton dan Henry tidak nyaman. Kedua pria ini lebih menyukai Amelia dibanding Rani. Kalau saja Rani bukan teman Amel, sudah pasti keduanya menjauh dari cewek bawel itu. Apalagi Anton yang tidak suka cewek penggerutu.

Gerutuan juga terdengar dari mulut Rani saat Anton menutup telephonnya begitu saja. “Gak sopan banget,” umpatnya pada ganggang telephon. “Siapa yang menelphon, siapa pula yang memutuskan sambungan! Dasar tak beretika!”

Di sekelilingnya, rekan-rekannya sedang berlatih untuk fashion show minggu ini. Tema fashion show adalah “Wild and Smart”, beberapa model terjatuh dari sepatu hak tinggi mereka karena harus mengimbangkan langkah dengan irama musik yang cepat. Rani melompat ke catwalk saat pengarah gaya memberi tanda untuk segera masuk. Sesekali betisnya bergoyang, menyeimbangkan tubuh di ujung sepatu bertumit lancip. Apa yang terjadi selanjutnya sudah bisa ditebak. Semua orang menertawainya.

“Oke, oke, Istrirahat dulu!” pengarah gaya mulai frustasi. Model-model itu tidak ada yang serius. Rani berdiri dan mencoba menuruni catwalk. Dengan langkah tertatih, dia mendekati tasnya.

“Minum, Neng?” seorang asisten panggung menyodorkan air mineral padanya.

“Trims!” Rani merebut botol itu, membukanya tergesa lalu menegak isinya. Dia melirik ke sisi kiri. Agnes, model, sekaligus rival beratnya tampak sedang menelphon seseorang. Entah kenapa Rani tertarik pada orang yang ditelephon Agnes.

“Oh, Sayang… Kenapa tidak bisa? Bayangkan saja… kita pasti berada di surga nantinya.”

Rani merasa muak mendengar rayuan gombal Agnes. Mungkin pejabat jablay yang kesepian, begitu pikir Rani.

“Oh,.. dia? Dia ada di sini juga? Kenapa?”

Bagus! Teman mana lagi yang mau dijadikannya umpan pada om-om? Rani jadi kesal sendiri. Kenapa, sih… cewek-cewek itu begitu tergila-gila dengan uang hingga rela jadi simpanan pejabat-pejabat botak berperut buncit?

“Apa? Dia menyukaimu? Tapi kamu tidak, kan?” Agnes memegang dahi, berakting seolah-olah akan pingsan. “Oh! Kau membuatku patah hati, Henry.”

Henry? Pandangan Rani berubah menjadi marah. Jadi si centil itu merayu Henry? Tunggu! Henry siapa? Henryku? Rani mengingat kalau dia melihat Agnes memberikan kerlingan menggoda pada Henry beberapa waktu yang lalu. Jadi cewek itu adalah Agnes? Rani benar-benar tidak terima. Hanya dalam waktu singkat, handphone yang pada awalnya tertempel di telinga Agnes melayang di udara.

“Apa-apaan ini?” Agnes melotot pada Rani yang berdiri berkacak pinggang di depannya.

“Jauhi Henry atau…

“Atau apa?” Agnes menantang balik, berdiri dengan tangan di pinggang.

“Atau ini!”

Rani menjambak rambut Agnes. Agnes yang tidak terima menyerang balik. Sebentar saja ruangan itu sudah heboh karena dua model yang sedang bertengkar sampai bergumul di lantai dan yang lainnya malah menyemangati kedua belah pihak.

“Cukup…, cukup, anak-anak, cukup!” sang penata gaya berusaha melerai dengan gaya kemayunya. Alhasil, dia tertarik ke kedua model yang bergulat. keributan bukannya berakhir, malah tambah seru karena tingkah lucu penata gaya yang berusaha keluar dari pergulatan Rani dan Agnes.

Henry yang ditelephone pihak agency Rani terlihat kesal saat mendatangi tempat itu. Agnes yang cantik tampak kacau dengan rambut awut-awutan. Penampilan Rani pun sebelas dua belas dengannya. Berkali-kali Henry harus meyakinkan diri sendiri kalau hal ini hanyalah mimpi dan berusaha untuk terbangun. Kedua model itu bahkan akan adu mulut sekali lagi kalau Henry tidak menarik Rani untuk mengantarnya pulang.

Di dalam mobil, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Henry yang tidak percaya dirinya bisa diperebutkan dua model cantik dan Rani yang sesekali meliriknya dengan pandangan penuh selidik. Tiba-tiba saja Henry terkekeh karena merasa semua itu lucu.

“Kenapa tertawa?” Rani menoleh sekilas lalu kembali menatap kesal jalanan di depannya.

“Tidak ada,” jawab Henry enteng. Rani mendengus.

“Lucu juga lihat si banci tadi,” Henry membelokkan pembicaraan mengarah pada sang penata gaya. Rani merasa pembicaraan ini tidak lucu dan semakin sewot.

“Kau menyukai Agnes?” sedikit keberanian muncul saat Rani menanyakan itu.

Henry mengangguk.

“Ya… dia baik.”

Sekali lagi Rani merasa kalau kata-kata Henry itu serasa ringan, tanpa memperhatikan perasaannya. “Kau tahu kenapa aku bertengkar dengannya?” tanyanya.

Henry mengambil rute jalan yang lebih mempersingkat perjalanan ke rumah Rani. Keadaan jalan yang ruwet membuatnya tidak mengindahkan pertanyaan Rani sementara.

“Siapa wanita yang kau sukai?” tanya Rani tiba-tiba.

Henry berkernyit seketika.

“Dia Agnes, kan?”

Henry mendesah. “Bukan urusanmu!”

“Tentu saja urusanku!” bentak Rani lalu menangis

Henry melirik pada Rani. Obsesi wanita ini benar-benar gila. Agnes yang tidak bersalah saja bisa diserangnya. Bagaimana jika Rani tahu kalau wanita yang Henry sukai adalah Amelia? Amelia bukanlah Agnes yang bisa membela diri. Henry menghentikan laju mobilnya dan mematikan mesin. Walau enggan, dia mengelus punggung Rani dan menenangkannya.

Rani memeluknya dengan erat. Henry menghela nafas. Jangan sampai dia tahu tentang Amelia. Jangan sampai!

Malam semakin larut. Angin dingin bertiup sayup menghantarkan suara merdu harmonika ke telinga Emily. Melodi lembut itu membangunkan Emily dari tidur panjangnya sejak sore. Ya, Tuhan. Ini salah, aku belum sholat. Emily beranjak mengambil air wudhlu.

Saat basuhan terakhir di kakinya, Emily menyadari sesuatu. Dia masih mengingat agamanya tapi apakah Tuhan menerima doa orang hilang ingatan? Terlebih lagi…. Emily memandang bayangannya di cermin, wanita bertubuh kecil dengan kaos kedodoran. Bagaimana dia akan menutup auratnya.

Emily menarik kain selimut di ranjang. Menjadikan kain itu sebagai mukena sementara. Ragu-ragu dia melafalkan niat. Tidak! Dia tidak lupa kalimatnya. Bahkan surat demi surat masih meluncur lancar di mulutnya. Kenapa hafalan itu tidak lenyap dari otak bersama nama dan identitasnya?

Suara harmonika itu masih terdengar saat Emily mengucapkan salam di sholatnya. Dia bingung akan meminta apa dalam doa. Hanya permohonan singkat agar segera tahu segala hal di masa lalunya, kemudian keluar perlahan dari kamar menuju asal suara itu.

Sayup melodi itu semakin jelas saat langkah Emily mendekat. Emily musti meringkuk dengan tangan memeluk diri sendiri demi mengusir dingin. Anton duduk di dinding balkon dekat ruang tamu. Satu kakinya bertengger di dinding balkon sedang kaki yang lain menapak di lantai. Emily semakin maju. Tampak jelas olehnya, Anton yang memainkan harmonika itu, sepertinya menghayati hingga memejamkan mata.

Lagu yang lembut. Emily sangat menyukainya. Tak sadar, Emily menutup mata. Menikmati angin yang bertiup di wajahnya bersamaan syahdunya lagu itu. Otaknya menerka nada apa saja yang dia dengar, bahkan lengkap dengan tinggi rendahnya. Walau pun lagu itu serasa asing, Emily yakin lagu itu berisi pemujaan pada wanita yang dicintai.

Emily tidak sadar kalau Anton sudah tidak memainkan harmonika. Pria itu kini berdiri di depannya, menatapnya dengan pandangan teduh. Dan akhirnya Emily tersadar saat nafas hangat pria itu menerpa wajahnya. Emily membelalak. Sontak saja lehernya bagai tercekik.

Anton mendesah di antara senyumnya. Sekali lagi pria itu terpana dengan kehadiran Emily dan dia berusaha menyembunyikan perasaannya. Dia berjalan melewati Emily, memasuki ruang tamu.

Emily segera sadar dari keterkejutan dan mengejar Anton. Gadis itu bahkan memegang lengan Anton untuk menghentikan langkahnya. “Lagu yang bagus.”

Anton berhenti. Perlahan dia menatap tangan Emily yang memegang lengannya. “Kau sudah bangun?” tanyanya.

Emily mengangguk. Anton menuju ke dapur dan Emily mengikutinya. “Sudah makan?” Anton membuka lemari es.

“Belum,” Emily duduk di kursi depan bar table.

“Sudah kuduga,” desah Anton sambil mengeluarkan sekotak susu dan menutup lemari es di belakangnya.

“Aku tidak lapar,” kata Emily.

Anton menuangkan susu ke dalam gelas lalu menyodorkan pada Emily. “Tapi kau harus makan sesuatu.”

Dia berbalik saat Emily menerima susu itu dan membuka lemari makanan, mengambil persediaan mie instan.

“Aku bilang tidak lapar,” ucap Emily setelah menyesap susu.”Tidak usah buat mie.” Suara Emily bahkan lebih lembut dari pada suara Ibunya. Tiba-tiba Anton teringat almarhum Ibunya.

“Lagu tadi sangat bagus. Apa judulnya?”

Emily bahkan menyukai lagu itu, seperti Ibunya.

“Kenapa diam saja?”

Anton memang terpaku sebentar. “Oh, My little girl,” jawabnya kemudian.

“Oh.., my.. .”

“Oh, My little girl, Ozaki Yuttaka. Kau tidak perlu berusaha mengingatnya karena ini lagu lama, hanya orang-orang tertentu yang tahu lagu ini.” Anton menjelaskan sambil merebus mie. Kalau gadis ini menolak, biarkan aku yang makan mie nya, batin Anton.

“Tapi kau tahu… . Apa lagu ini istimewa?”

Ya, istimewa sekali.

“Bukan urusanmu,” Anton tidak ingin terlalu dekat dengan gadis ini. Dia tidak tahu siapa sebenarnya Emily. Mungkin saja Emily sudah bertunangan atau mungkin sudah bersuami. Umur Emily mungkin sama dengan Amelia, tapi bersuami… ah, bisa saja, kan?

“Urus mie itu jika sudah tanak. Kau tidak lupa caranya memasak mie, bukan? Kalau memang lupa, baca saja petunjuknya. Aku juga yakin kau tidak lupa cara membaca. Makanlah setelah itu. Besok kita cari keluargamu sama-sama.”

Anton meninggalkan Emily ke dalam kamar. Dia berbaring, berusaha menyingkirkan penat tubuh. Lagu itu… lagu kesukaan Ibunya. Lagu yang selalu didendangkan Ibunya, dan bercerita kalau lagu itu yang selalu dinyanyikan sang kakek sebagai penina bobo di masa kecil Ibunya. Mungkin bagi Ibunya, itu adalah lagu nina bobo, tapi bagi pria yang sedang jatuh cinta, lagu itu adalah lagu berisi pujian pada gadis yang dicintainya. Anton bergerak gelisah. Saat memainkan lagu itu, tak seperti biasanya, bukan wajah sang Ibu yang muncul … tapi wajah Emily… dan saat lagu itu semakin mengalun, Anton semakin terbayang wajah pucat Emily, mimik bego Emily ketika berusaha mengingat sesuatu dan matanya yang lebar. Tidak! Anton tidak ingin terpana pada gadis itu. Gadis asing yang misterius. Dia harus segera menyingkir dari sini. Harus!

Anton merapatkan selimut. Perasaan aneh ini pasti akan hilang besok. Pasti!

 

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s