LILIN LILIN KECIL (Introduching)

Suara  berdentang sembilan kali berasal dari Jam Westminster yang berumur lebih dari setengah abad. Keadaan rumah masih saja sunyi, hanya terdengar suara gemericik dari air mancur di kolam ikan samping rumah. Benda-benda kuno yang identik dengan seni memenuhi ruangan dengan dinding yang penuh terpampang potret-potret anggota keluarga.

Namun, tak satu pun dari wajah-wajah yang terpampang di potret itu yang tampak. Rumah megah itu masih menampakkan keangkuhannya. Jika menelusuri siapa saja yang pernah mendiami rumah itu. Apa yang terbersit di benak masing-masing? Apa yang kiranya diteriakkan dinding demi dinding di rumah ini. Cerita apa saja yang mungkin pernah menghiasi rumah ini? Dan inilah salah satu cerita yang menghiasi rumah ini.

Saat seseorang tiba-tiba keluar dari kamarnya. Seorang gadis berumur kira-kira dua puluh tahun. Rambutnya yang panjang sebahu terikat rapi. Mata beningnya agak tertutup di balik kaca matanya yang tebal dengan kulit kuning langsat dan kaki serta tangan yang panjang dan indah bentuknya. Nyata benar kecantikannya, namun sayang kaki yang berbentuk indah itu tidak berfungsi semestinya karena terlihat dia selalu tak bisa lepas dari kursi roda.

Gadis itu menghentikan kursi roda saat sampai di depan sebuah lift yang memang dikhususkan untuknya. Seorang pelayan yang melihatnya tampak kesusahan memencet tombol lift, tergopoh-gopoh mendekat, memberi bantuan padanya.

“Terima kasih, Pak Sukro,” ucap gadis itu sambil memamerkan senyum manis.

“Nona mau kemana?” tanya pelayan yang dipanggil ‘Pak Sukro’ itu.

“Turunkan saja saya,” perintah gadis itu, tanpa menghiraukan pertanyaan pelayannya.

Pak Sukro mendorong kursi roda gadis itu ke dalam lift lalu menemani majikannya turun menuju lantai dasar. Benda elektronik itu sudah dua belas tahun digunakan sebagai alat naik ke lantai dua mau pun sebaliknya, yang akhirnya meluncur mulus menuju lantai dasar rumah ini.

“Maaf, Nona.  Mau pergi kemana?” sekali lagi Pak Sukro bertanya.

“Aku ingin jalan-jalan,” jawab gadis itu. “Aku ingin menghirup udara segar. Sudah lama aku hidup di Jakarta tapi belum pernah sekali pun melihat kesibukan kota metropolitan ini.”

“Tapi, Nona. Sebaiknya saya antar. Saya takut terjadi apa-apa.”

“Tidak usah kawatir, aku bisa jaga diri.”

“Bagaimana kalau Bu Mira marah pada saya?”

Gadis itu tersenyum lagi. Dari wajahnya yang kalem itu, terlihat hatinya yang penuh kesabaran dan jiwa keibuan. Dia memandang wajah pembantunya yang kelihatan tak yakin dengan keinginannya itu. “Bu Mira pulang ke Malang karena Ibunya sakit. Bila beliau datang, katakana aku jalan-jalan. Aku yang bertanggung-jawab.”

Gadis itu meninggalkan Sukro yang hanya terbengong. Saat sampai di halaman rumah, dia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Seakan ingin mengeluarkan masalah yang berjejal dalam dadanya. Dia meneruskan perjalanannya sampai keluar dari halan yang lusa itu, mengitari suasana kawasan perumahan elit itu, dan akhirnya bergabung dengan keramaian kota.

“Hai, Namaku Amelia. Semua orang memanggilku Lia. Kalau kau dengar namaku, kau pasti ingat lagu anak-anak tahun tujuh puluhan dengan judul yang sama dengan namaku itu. aku juga tahu sepenggal lirik di lagu itu, kalau tidak salah, ‘Oh, Amelia… gadis cilik lincah nian.” Lirik yang indah, sayangnya aku bukan gadis cilik dalam lagu itu, kenyataannya, aku hanyalah seorang gadis cacat sejak berusia delapan tahun, yang selalu bersembunyi di balik tembok rumah besar itu. di rumah itu hanya ada aku, empat orang pembantu plus tukang kebun.

Orang tuaku sudah lama meninggal. Kira-kira dua belas tahun yang lalu, mereka meninggal dalam suatu kecelakaan dan kecelekaan itu pula yang membuatku kehilangan kemampuan berjalan. Aku sangat terpukul saat mengetahui kemalangan itu. sulit rasanya menerima kenyataan. Apalah daya, aku hanya anak kecil waktu itu.

Kehidupanku pun berubah. Sebelum kecelakaan, aku bisa berlari, melompat, menari bahkan yang paling sederhana yaitu berjalan. Aku bisa bermain ayunan kesukaanku yang berada di belakang rumah. Tapi aku harus membuang jauh-jauh semua itu ketika kakiku kehilangan fungsi. Kini aku tahu kenapa para orang tua selalu bersorak bahagia melihat anaknya yang mulai bisa berjalan. Selangkah demi selangkah. Setapak demi setapak. Dan aku iri dengan para bayi itu.

Aku harus keluar dari SD Negeri dan pindah ke Homescholling. Sebenarnya, para guru sangat menyayangkan, tapi aku memilih homescholling disebabkan keminderanku.

Oh, ya. Kakek dan Nenek menetap di Toronto, Kanada. Mereka hanya mengirimiku uang bulanan ke rekening khusus Bendahara keluarga kami, Bu Mira. Bu Mira juga yang mengatur semuanya. Dan Bu Mira pula yang memperkenalkanku pada dunia. Beliau adalah guruku yang terbaik dan Kakek akhirnya menyuruhnya tinggal bersamaku. Dan dia sudah menganggapku anak sendiri yang tidak pernah dia punyai.”

Jalan yang dilalui Amelia agak becek akibat hujan tadi malam. Genangan air di pinggiran menambahkan kesan kumuh. Semua orang menoleh ‘si gadis berkursi roda’ itu. Pandangan mata mereka seakan heran, apa yang dilakukan gadis itu di sini? Sendirian di jalan yang ramai, di dekat pasar.

“Copet! Copet!” teriak seorang wanita. Semua orang mengejar pencopet tas yang berlari kencang kea rah Amelia. Gadis yang tidak menyadari bahaya yang mungkin terjadi, masih sangat tenang. Tiba-tiba pencopet itu menyenggol kursi rodanya hingga oleng. Orang-orang yang mengejar copet itu pun, sepertinya tak memperhatikan jalan, sekali lagi kursi roda oleng dan akhirnya Amelia jatuh di atas genangan air.

Dengan tangan yang menyangga tubuh, Amelia berusaha bangkit. Dia merangkak, berusaha mendekati kursi rodanya yang jatuh terguling dengan pandangan kabur karena kaca matanya jatuh entah dimana. Kelihatan sekali kalau dia kerepotan menormalkan posisi kursi rodanya. Seorang pria tiba-tiba membantu menegakkan kursi roda itu kembali.

Amelia mengamati sosok laki-laki itu dari atas ke bawah dengan mata terpicing. Samar-samar terlihat kalau lelaki itu memungut kaca matanya lalu berjongkok di dekatnya. “Ini kaca matamu. Sayang sekali sudah pecah,” suara lembut laki-laki itu terdengar. Suara ramah yang tidak asing lagi bagi Amelia. “Seharusnya kau tidak jalan-jalan sendiri di sini. Orang-orang di sini bersifat individualistis seperti orang-orang yang menabrakmu tadi.”

“Ini siapa?” dengan lirih Amelia bertanya. Amelia bisa mendengar suara senyuman di bibir laki-laki itu. “Aku Henry, Lia.”

“Henry….,” Amelia memeluk Henry dan mulai sesenggukan. “Aku takut sekali. Sungguh!”

“Ssst, tenanglah. Ada aku di sini.” Henry mengangkat Amelia menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat kejadian. Setelah memasukkan kursi roda Amelia ke dalam bagasi, kendaraan roda empat itu membawa keduanya kembali ke rumah Amelia.

—oOo—

“Jam masih berdetak, aku tidak dapat menghentikannya. Begitu juga orang lain. Tapi setidaknya mereka dapat melakukan hal berguna selama jam berdetak, tidak seperti-ku yang hanya terbaring di kamar ini, berteman cahaya lilin yang sengaja ku nyalakan di atas meja tepi ranjang.

Sebenarnya ada lampu yang lebih terang dari pada lilin itu. PLN pun belum memadamkan aliran listrik di daerah ini. Aku sengaja mematikan semua lampu di kamar ini, dan sebagai gantinya, lilin itulah yang menghiasi pandangan mataku yang uram tanpa kaca mata dengan keremangan cahayanya. Sementara aku merenung, memikirkan apa yang telah kulakukan.”

Klik! Seseorang tanpa permisi menyalakan lampu. Mata Amelia yang harus mengerjap, menyesuaikan pandangannya yang sudah terbiasa dengan keremangan menuju cahaya terang benderang.

“Melamun lagi, Neng?” tanya orang yang menyalakan lampu. Seorang gadis cantik, berpotongan rambut super pendek setinggi kira-kira seratus tujuh puluh centimeter dengan kaki yang kurus. Amelia terkekeh. Mungkin dia terlalu larut dalam renungan hingga tak menyadari ada orang yang memasuki kamar.

“Kapan kau datang?” tanya Amelia saat gadis itu duduk di pinggir ranjangnya.

“Baru saja.” Gadis itu memandangi sekeliling kamar Amelia. “Huh! Kenapa kau masih saja menyukai cahaya remang. Serem tahu… .”

“Cahaya remang tidak seram. Malahan romantis. “

“Halah,” Tampik gadis itu.“Aku dengar Henry mengunjungimu pagi ini. Benar?”

Amelia mengangguk. “Cepat sekali kau dengar kabar itu?”

Dan muka gadis itu pun bersemu malu walau pun kata-katanya penuh percaya diri, “Maharani Subroto selalu tahu gerak-geriknya.”

Tentu saja Amelia terkekeh. “Rani… rani…, kenapa sampai sekarang kau tidak bilang padanya kalau kau menyukainya?”

Maharani Subroto mengambil salah satu bantal untuk menutupi mukanya. “Aku malu.”

Amelia bertambah geli. “Kau? Model kelas nasional malu menyatakan cinta pada Henry Wicaksono?”

“Ah, sudahlah! Malam ini aku menginap di sini, ya? Ya? Ya?”

Amelia semakin keras tertawa.

“Mau tak mau aku mengiyakan kemauan Rani. Lagi pula, aku senang kalau Rani menginap di rumah. Biasanya kami melakukan pesta piyama, ngobrol ngalor-ngidul sampai larut, dengan tema masih seputar ‘Henry Wicaksono’. Sudah menjadi rahasia umum kalau Maharani Subroto menyukai Henry. Tapi Henry sendiri… mungkinkah juga tahu? Kami bertiga adalah teman ketika masih bersekolah di SD Negeri. Sebenarnya masih ada satu orang lagi, seorang anak laki-laki benama Anton Rahmadiar. Selepas aku keluar dari SD Negeri, kami masih tetap mengunjungi di rumahnya hingga sama-sama dewasa.”

—oOo—

Cahaya gemerlap karena pengaturan sinar laser menghiasi ‘Haila Bar’. Musik rancak memekakkan telinga, di mainkan DJ yang bertugas semakin menambah gairah pengunjung untuk melantai. Di sudut bar, Henry tampak kesal menekuri arlojinya. Sudah dua gelas wine dia tenggak tapi yang ditunggu belum juga datang.

“Satu gelas lagi, Hen?” tawar sang bartender.

“Oke!” jawab Henry sambil menyodorkan gelasnya.

“Tidak ingin mencoba minuman yang lebih keras?”

Henry menggeleng. Saat gelasnya sudah penuh dengan wine, sekali lagi dia menyesapnya.

“Kau menunggu Anton?” tanya bartender itu.

“Ya, kau tahu, dia?”

“Dia ke sini kemaren malam, lalu kemaren dan kemarennya lagi. Bisa dibilang tiap hari dia kemari.”

Henry melengkungkan bibir sinis. Pria tampan dan kaya seperti Anton, pastilah hatinya selalu gamang hingga menghabiskan waktu tiap malam di Bar ini

“Nah, itu dia,” kata Bartender sambil menunjuk belakang Henry. Tampak Anton baru saja melewati pintu bar dan menuju ke arahnya.

“Hai, Bro. How are you tonight?” sapa Anton sambil menepuk pundak Henry. Tak perlu menunggu jawaban Henry, Anton duduk di kursi samping Henry dan memesan minuman. “Wine yang seperti Henry, dong!”

Henry memutar matanya bosan. Anton selalu saja menjadi plagiat di kehidupannya.

“Wow! Wow! Kenapa kau kelihatan kesal?”

Sang bartender terkekeh mendengar ocehan Anton. “Oke, silahkan menikmati minumannya. Masih banyak pemabuk yang musti ku urus.”

“Aku melihat mobilmu menuju rumah Amelia pagi ini, kau mengunjunginya?” tanya Anton saat Bartender itu terlihat tidak merecoki lagi.

“Memang,” jawab Henry pendek. Anton tertawa mengejek. “Sampai kapan kau memendam perasaan padanya? Hati-hati sirosis hepatis, Hahahahaha.”

Henry  yang merasa diperolok tambah kesal. “Ah, sudahlah!” elaknya sambil berdiri dari kursi lalu berniat pergi meninggalkan Bar.

“Hei! Mau kemana, Bro?”

“Pulang!”

“Kau bilang mau menghabiskan uang di sini?”

“Tidak jadi karena kau mengolokku!” teriak Henry sambil mempercepat langkah. Anton semakin keras tertawa. “Ha ha ha, tak kusangka seorang Henry Wicaksono begitu pemalu!”

Akhirnya Anton menikmati suasana Bar itu sendiri. Tidak sulit bagi seorang Anton Rahmadiar mencari partner untuk melantai. Wajah tampan pria ini sudah sangat familiar di antara para gadis yang sering berkunjung di sini.

Anton tidak pernah minum sampai mabuk karena harus menyetir sendiri. Apartemennya yang cukup jauh di pinggiran kota membuatnya harus berpikir dua kali untuk teler. Seperti biasanya, jalan padat di tengah kota, berganti sunyi saat memasuki pinggiran kota tempat apartemennya berada dan Anton yakin dia sedang tidak mabuk. Namun sesuatu tiba-tiba membentur mobilnya, bersamaan teriakkan keras.

“Shit!” Anton mengumpat, tak menyangka  bisa menabrak orang. Mau tak mau dia menghentikan mobil. Dia keluar dari mobil untuk melihat siapa yang ditabraknya.  Seorang wanita sudah terkulai di aspal. Anton yakin kalau benturan itu sangat pelan, tapi kenapa keadaan wanita itu sangatlah parah kelihatannya?

Anton berjongkok dan mengguncang-guncang bahu wanita itu, “Mbak? Mbak?”

Anton menekan bahu wanita itu agar bisa melihat mukanya. Dia bisa melihat beberapa goresan menghiasi wajah itu. “Mbak, anda tak apa-apa?”

Mata wanita itu terbuka perlahan. Nafas wanita itu tak beraturan saat mencoba bicara, “Tolong saya, Tuan. Tolong saya!”

Wanita itu pingsan lagi. Anton menghela nafas. Dia mengangkat tubuh wanita itu masuk ke dalam mobil. Mencoba bertanggung-jawab atas kecelakaan yang dialami wanita asing itu

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s