THE SECRET (End Part)

Tatapan mata Charlie melebar. Sama sekali dia tidak mempercayai pendengarannya. Antoine baru saja berkata kalau Nick Rothman adalah suaminya? Maksudnya? Dia sama sekali tidak mengerti, bahkan bingung mengungkapkan perasaan. “Bagaimana mungkin?” hanya itu yang bisa dia ucapkan.

“Sayang,” panggil Antoine, masih berjongkok di depan Charlie dan meremas-remas tangannya. “Kau tahu, kan… kalau ada sebagian ingatanmu yang dihapus?”

Mata Charlie menyipit seiring gerakan kepalanya yang memiring. Rupanya dia sedang berpikir keras. “Jadi ingatan itu tentang Nick Rothman?”

Antoine mengangguk. Genggamannya di telapak tangan Charlie melemah.

“Dia suamiku,” desah Charlie lirih, tak percaya dengan kenyataan hidupnya. “Lalu kamu?” Charlie tersentak oleh karena kenyataan yang lain lagi.

“Aku juga,” Antoine merasa jawabannya terdengar konyol.

“Kenapa kalau …. Kalau dia suamiku? Aku harus menghapusnya dalam hidupku? Kenapa… Kenapa kalau dia suamiku… aku… aku…,” Charlie mulai kehilangan kata-kata. “Ah!” dia mendesah kesal.

“Charlie,” Antoine memanggil lagi. Giliran dia yang kehilangan kata. Akankah dia mengatakan kejadian yang sebenarnya? Dan Charlie menggenggam tangannya erat. Sangat erat hingga tangan mungil itu membuat tangan kokohnya kesakitan. Dia menatap Charlie, penuh kebingungan. Charlie menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan kawatir Antoine akan mengucapkan sesuatu yang bisa mengingatkannya pada masa lalunya, Charlie memohon,” Jangan! Aku mohon jangan katakan apa pun. Aku yakin kalau ingatan itu membuatku terpuruk, jadi jangan katakan apa pun!”

“Tapi… Sayang, aku… .”

“Sstt…,” Charlie membungkam mulut Antoine dengan tangannya. “Aku mohon, Monsieur. Kau lihat, kan? Aku sedang hamil. Dokter Rae bilang kalau aku tidak boleh memikirkan hal yang berat-berat. Aku sangat ingin melahirkan anak ini, Antoine. Jadi aku mohon… Jangan katakan apa pun!”

Air mata mulai bercucuran di pipi Charlie. Antoine memeluknya dengan hangat. Benar! Antoine terlalu memikirkan Nick Rothman, hingga lupa pada keadaan Charlie. Kenyataan kalau Charlie tengah mengandung anaknya, mustinya lebih dia pikirkan.

Charlie melepaskan diri dari pelukan Antoine lalu menunduk, masih sesenggukan. Antoine merogoh saku jasnya, mengeluarkan sapu tangan lalu diberikan pada Charlie yang segera kotor oleh ingus karena Charlie berusaha meniupkan ingus di atas kain itu.

“Aku sama sekali tidak mengenal pria itu, Antoine,” kata Charlie setelah pernafasannya tenang.

“Itu karena ingatanmu tentang dia dihapus.”

“Aku tidak perduli!” tegas Charlie, lalu menangkup kedua belah pipi Antoine. “Yang kuingat adalah tentang kita. Yang kuingat adalah cinta kasih kita. Itu sudah cukup bagiku.”

Benar. Kisah Charlotte Whitely dan Nick Rothman sudah berlalu. Sedangkan kisah Antoine d’Varney dan Charlie Adams, adalah kisah yang sekarang ini begitu nyata bagi Charlie dan Antoine yakin, kisah ini bukan hanya kisah untuk saat ini, kisah ini akan mempunyai masa depan.

“Kau suamiku, Antoine. Kau!” Charlie kembali menegaskan segalanya, lalu mengelus perutnya, “Ayah dari anak ini, Kau… Kaulah suamiku.”

Sekali lagi mereka berpelukan. Semua jelaslah sudah. Ikatan diantara mereka tidak mungkin terhapus begitu saja. Mungkin ini adalah kekuatan dari bayi yang ada di perut Charlie, yang tetap menyatukan kedua orang tuanya.

“Sayang,” bisik Antoine. Charlie menatap mata Antoine lekat-lekat. “Nick Rothman akan pulang esok hari, maukah kau menemuinya?” sambung Antoine.

Mata Charlie bergerak bimbang, semakin tidak mengerti jalan pikiran Antoine. “Untuk apa?”

“Entahlah…,” Antoine menggedikkan bahu. “Hanya kau yang bisa memutuskan. Dan keputusan apakah yang akan kau ambil setelah bertemu dengannya…,” Antoine menghela nafas secara berat. “… Aku pasrah… Sungguh!”

Percakapannya dengan Charlie semalam masih begitu Antoine ingat. Dia bahkan mengingat saat mengantarkan Charlie ke rumah sakit untuk menemui Nick pagi ini. Keduanya sama-sama membisu di perjalanan. Antoine sibuk dengan kemudinya dan Charlie… entah apa yang dipikirkannya. Dalam hati Antoine benar-benar mempersiapkan diri jika Charlie berubah pikiran setelah bertemu Nick.

Tapi sekarang, Antoine tahu kalau Charlie tidak berubah pikiran. Pria itu terkejut melihat Charlie berlari ke arahnya di bukit belakang rumah sakit. Istrinya bahkan menghambur ke pelukannya. Pelukan itu begitu hangat, Charlie mencintainya. Masa depan itu masih ada.

Charlie menangkup wajahnya hingga menunduk lalu mencium bibirnya penuh hasrat dan gairah. “Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu,” ucap Charlie di sela-sela ciuman. Dia membalas dengan tuntutan yang lebih.

“Aku juga sangat mencintaimu, Ma Femme. Percayalah!” Dia mencium istrinya lagi, kali ini lebih dalam dan lama setelah sadar dari keterkejutan. Dan Antoine menyadari, masa depan berpihak pada ketulusan cinta mereka.

 

 

—————————– THE SECRET—————————–

 

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

 

Setidaknya Nick Rothman sudah mendapatkan suaranya kembali. Itu adalah inti dari pengobatannya ke Kanada, bukan? Tak perduli cuci otak urung dilakukan. Perlu setahun bagi Nick untuk memulihkan kondisi fisiknya. Setahun dia harus menjalani terapi untuk menguatkan otot-otot motoriknya, hingga bisa berjalan normal kembali.

Nick berdamai dengan Paoli Harris dan suaminya tentang hak asuh anaknya. Paoli memberinya kesempatan untuk menemui anak itu dua hari dalam seminggu dan dia juga mencukupi kebutuhan anak itu secara financial. Saat production house, salah satu anak perusahaan Bouwens Inc memproduksi drama, Nick Rothman ditawari untuk ikut berakting di dalamnya. Hal itu tak luput dari jasa Robert Cassidy yang meyakinkan produser akan kemampuannya.

Nick merasa banyak berhutang budi pada Robert, karena itu dia merasa harus berterima kasih. Didatanginya kantor Robert dan dia harus menunggu karena Robert sedang ada rapat. Setidaknya itu yang dikatakan sekretaris Robert. Pada saat itulah dia bertemu dengan Jack Hoebe, mantan manajernya.

“Hallo, Tuan Rothman!” sapa Jack Hoebe. Nick mengangkat tangannya sebagai jawaban. Jack duduk di sampingnya lalu menepuk-nepuk pundaknya,”Keadaanmu sudah jauh lebih baik rupanya.”

“Terima kasih atas doamu,” respon Nick.

Jack mengibaskan tangannya. “Ah, jangan sungkan!” Lalu memandang sekeliling ruangan. “Kau tahu? Aku bekerja di sini sekarang, sebagai humas,” pamernya.

“Ya, Aku tahu,” kata Nick datar. “Relasimu sangat banyak, aku rasa Tuan Cassidy tidak salah memilihmu.”

“Ya, begitulah. Gaji yang aku terima lebih besar lima kali lipat dari saat aku bekerja denganmu. Jadi aku minta maaf kalau dulu aku mengkhianatimu.”

Nick Rothman hanya bisa tersenyum garing, “Aku tahu itu. Tidak masalah bagiku. Aku yakin kalau kau sudah kewalahan mengurusku waktu itu.”

Jack menghela nafas lega. “Syukurlah kalau kau mau mengerti.”

Percakapan mereka terputus saat Robert sudah mulai terlihat berjalan mendekati ruang kerjanya, diikuti oleh orang-orang kepercayaannya. Nick dan Jack berdiri menyambut kedatangan Robert lalu membungkuk saat Robert sudah ada di hadapan mereka.

Tentu saja Robert terkejut dengan kehadiran mereka berdua. Terutama terhadap Nick, tidak biasanya Nick mendatangi kantornya. “Tuan Hoebe, Tuan Rothman. What a surprise!”

“Saya kemari untuk menyerahkan berkas ini untuk anda pelajari, Tuan Cassidy,” Jack yang terlebih dulu menyelesaikan urusannya dengan menyodorkan map.

“Oh, apakah ini tentang proyek kerja sama dengan Sean’s Capital?” kata Robert sambil membuka-buka berkas. Jack mengangguk. Robert menutup berkas itu dan menjawab,”Oke, staf ahliku akan mempelajarinya, kau sudah bisa menerima jawabannya besok.”

“Baiklah, Tuan Cassidy. Saya rasa, akan lebih baik kalau saya kembali bekerja.” Jack tahu kalau kalimat Robert barusan berarti mengusir, jadi dia mengundurkan diri. “Senang bertemu denganmu, Nick,” Jack menepuk pundak Nick sebelum meninggalkan tempat.

“Anda punya waktu untuk saya, Tuan Cassidy?”

Robert tertawa seketika. Gaya Nick begitu kaku di depannya. Nick Rothman yang sombong dan angkuh itu sudah banyak berubah. Semua itu membuat Robert geli. Andai saja Charlie melihat semua ini, siapa yang lebih terpuaskan?

“Tentu saja, saya ada waktu sampai jam makan siang,” jawab Robert lalu mengusir para manajer yang masih berdiri di belakangnya.

Dalam semenit, mereka sudah duduk berhadapan di ruang kerja Robert. Nick masih saja mati kutu di depan Robert. Sementara meja kerja Robert yang memisahkan jarak di antara mereka, menjadi saksi bisu kekakuan suasana. Nick melonggarkan dasinya, lalu berdehem untuk menghilangkan rasa canggung. “Saya hanya ingin berterima-kasih atas kebaikan anda selama ini.”

Sama halnya dengan Jack tadi, Robert juga mengibaskan tangan dan berujar, “Ah, jangan sungkan.”

“Ehm…,” Nick agak ragu dengan ucapannya, “Ada hal yang harus saya tanyakan, itu juga kalau anda tidak keberatan.”

Alis Robert menyatu penuh tanya, “Tentu saja, tanyakan saja!”

“Ini tentang Charlotte…,” sekali lagi Nick merasa ragu, “Ah, tidak jadi.”

“Kenapa?” tapi Robert ingin Nick meneruskan percakapan itu.

“Jika Charlie adalah Charlotte, kenapa pengadilan tidak bisa membuktikannya? Bagaimana bisa Charlie mendapatkan akta kelahiran yang meyakinkan keasliannya?”

Robert memajukan badan lalu menumpukan kedua lengan di atas meja. Pembicaraan ini akan sangat panjang dan serius, dia harus memastikan suasana cukup mendukung.

“Ada sepasang saudara kembar, yang dipisahkan oleh peristiwa penculikan bayi beberapa hari setelah mereka lahir.”

“Jadi mereka kembar?”

“Iya, Charlotte terpisah begitu jauh dari keluarganya. Dia korban dari trafficking, tapi untungnya diadopsi oleh saudara jauh Williams Bouwens.”

Nick semakin terkejut, riwayat kehidupan Charlotte ternyata begitu berliku. Robert meneruskan kisahnya kembali. “Kau tahu, kan? Bouwens’ Manajemen juga berkantor di Kanada. Kebetulan, keduanya terdaftar sebagai anak asuh di Bouwens’ Manajemen, bedanya kalau Charlotte di Manajemen yang ada di Korea, sedangkan Charlie di Kanada.

“Keduanya sama-sama berbakat. Tak disangka jiwa seni keduanya begitu kuat, hingga Williams begitu ingin bertemu mereka dan Williams benar-benar bertemu mereka secara terpisah. Tentu saja Williams terkejut, bagaimana mungkin dua orang yang tidak mempunyai ikatan darah bisa begitu mirip, dia merasa ada yang salah, sehingga mulai menyelidiki.

“Dan hasilnya adalah… kesalahan ada di pihak pasangan Whitely, mereka mengadopsi Charlotte secara illegal, dan itu adalah aib yang bisa menghancurkan nama besar keluarga Bouwens, tapi Williams berpikir, jika dia tidak buka mulut, maka orang lain tidak akan tahu. Williams menyimpan rahasia itu rapat-rapat.

“Sementara karier Charlotte semakin gemilang di dunia entertainment. Lalu tawaran berakting di salah satu drama datang padanya. Charlotte merasa ragu menerima tawaran itu, tapi Williams meyakinkannya untuk menerima. Di drama itulah Charlotte bertemu denganmu, dan itu adalah awal mula segalanya.

“Drama itu meledak di pasaran, Williams sangat bangga pada Charlie. Tapi Williams ingin agar drama itu tetap booming lebih lama walau pun sudah habis tayang, setidaknya selama tiga tahunan, lalu Williams mengatur suatu proyek pemasaran rahasia….”

“Blue’s clues,” potong Nick sambil menerawang.

“Oh, jadi anda masih ingat proyek itu, Tuan Rothman?”

Nick mengangguk.

Robert berkoar kembali. “Manajer memberikan pakaian dan aksesoris yang mirip di antara kalian selama tiga tahun, tentu saja semua itu adalah produk dari perusahaan garmen dan perhiasan milik Bouwens’ Inc. dan hasilnya….”

Robert menyatukan telapak tangannya membentuk tepukan, “Fantastis! Para fans dan paparazzi merespon permainan “Blues Clues” lalu mulai berimajinasi kalau kalian ada hubungan. Tentu saja! Bukankah hanya pasangan yang mempunyai baju-baju mirip?”

Lalu Robert menghela napas berat, “Tapi semuanya kacau karena bukan hanya fans yang ikut hanyut dalam permainan, tapi juga kalian berdua. Aku tidak tahu siapa yang memulai, tapi Williams sangat marah saat mengetahui pernikahan diam-diam kalian. Dia berusaha meyakinkan Charlotte  bahwa tindakannya salah, tapi cinta membutakan segalanya.”

Kepala Nick menunduk perlahan. Dialah yang memulai. Dia begitu takut kehilangan Charlotte waktu itu hingga mengusulkan pernikahan diam-diam itu.

“Dan saat semuanya mulai jelas bagi Charlotte siapa sebenarnya  dirimu, dia masih bertahan. Dia menunggumu mengakui pernikahan kalian, hingga kau bertemu lawan mainmu yang baru dan terlibat cinta lokasi baru, semuanya begitu menyakitkan bagi Charlotte. Apalagi saat ibu Paoli Harris, datang padanya untuk menjelaskan tentang kehamilan putrinya, padahal Charlotte juga sedang hamil waktu itu.”

“Cukup!” Nick berteriak keras lalu mulai sesenggukan.

“Kau cengeng sekali, Tuan Rothman. Aku kira hanya karakter di drama-dramamu saja yang seperti itu tapi ternyata… .”

“Dia menyusulku ke Toronto waktu itu dan aku menghinanya! Itulah kelanjutannya! Itulah akhirnya!”

“Belum berakhir, Tuan Rothman! Belum!” Gantian Robert yang berteriak. “Sementara kau kembali dari liburan ‘Toronto’ bodohmu ke Korea, dia masih di sana, patah hati dan terluka, sangat labil dan ingin terjun dari balkon. Kau tahu siapa yang memergokinya? Aku!”

Nick Rothman terkesiap. Bagaimana bisa Robert juga di Toronto?

“Williams sangat kawatir padanya, jadi menyuruhku memata-matainya ke Toronto. Aku segera menelphone Williams perihal percobaan bunuh diri itu, Williams berusaha menghubungi pasangan Whitely untuk menyadarkan putri mereka tapi percobaan bunuh diri kedua terjadi.

“Kau tahu apa yang dia lakukan, Tuan Rothman? Menegak racun serangga! Tapi dia selamat dan sebaliknya, bayi dalam kandungannya meninggal, karenanya dia jadi merasa bersalah. Dia merasa telah membunuh makhluk yang tidak berdosa itu, dia semakin kacau dan mabuk-mabukan, lalu kecelakaan itu terjadi.”

Nick bangkit dan meraih kerah baju Robert, “Dan kau… Kau tahu semua itu dan diam saja!” katanya berapi-api.

“Setelah menelphon Williams, beliau memerintahkanku kembali ke Korea. Aku tidak ada di Toronto waktu kecelakaan itu terjadi, tapi Williams menceritakan semuanya padaku sebagai keponakan yang paling dia percayai. Mungkin semua ini takdir, mobil yang ditabrak oleh Charlotte adalah mobil Charlie, saudara kembar yang belum pernah dia temui sekali pun. Charlie meninggal beberapa jam setibanya di rumah sakit dan Charlotte koma dengan kemungkinan hilang ingatan setelah tersadar.”

Nick melepaskan cengkeramannya di leher Robert dan terduduk lesu kembali di kursinya.

“Williams beranggapan, akan lebih baik jika Charlotte sadar, dia hidup sebagai Charlie. Williams merasa bersalah, jika saja dia tidak memaksa Charlotte menerima tawaran drama itu, Charlotte tidak akan bertemu denganmu, dan semuanya tidak akan terjadi. Ada kemungkinan Charlotte hilang ingatan setelah bangun dari koma, jadi dia meyakinkan d’Varney, yang pada waktu itu menangani mereka berdua, melakukan pertukaran antara Charlie dan Charlotte.”

“Kenapa dia harus melakukan itu? Dia hilang ingatan, kenapa harus memalsukan kematian?” Nick masih tidak terima.

“Karena jika dia hidup sebagai Charlotte, lingkungan Charlotte akan menarik ingatannya kembali padamu, dan bisa dipastikan… dia semakin depresi. Karena itu selama dia koma, d’Varney menjejalkan memory Charlie di otaknya, orang tua kandung mereka, pasangan Adams, dengan senang hati berbagi kenangan tentang putrinya pada Antoine, itu sangat memudahkannya. Tentu saja mereka tidak tahu siapa putri yang sedang tertidur panjang itu.

“Ketika Charlotte tersadar, dia terlahir kembali sebagai Charlie dan keluarga Adams membawa Charlie kembali ke rumah mereka. Untuk tetap bisa mengawasi Charlotte, Williams menikahinya sebagai Charlie Adams.”

“Lalu pasangan Whitely…, mereka tahu semua ini?”

“Iya, mereka tahu. Karena itu Williams menikahi Charlotte agar mereka bisa melihat Charlotte walau pun hanya dari jauh karena Williams mengancam mereka, akan membocorkan pada yang berwajib kalau mereka mengadopsi Charlotte secara illegal.”

Robert menghela nafasnya kemudian, “Itulah ceritanya, Tuan Rothman. Tentang wanita yang sama-sama kita cintai, Charlotte Whitely, atau Charlie Adams atau Charlie Bouwens dan sekarang … Charlie d’Varney.”

“Tunggu!” Nick mengangkat tangannya, “Dia sama sekali tidak mengenaliku ketika di Kanada, padahal kami sudah pernah bertemu ketika dia sebagai Charlie Bouwens, seharusnya dia mengenaliku. Apakah dia mengalami cuci otak?”

Robert mengangguk. “Sebagai Charlie Bouwens yang teringat pada masa lalunya denganmu, dia sangat membencimu, dia benci karena kau membuat Williams, yang selama ini dianggapnya sebagai pelindung meninggal. Selama menjadi Charlie Bouwens, Williams mengajarinya menjadi wanita yang ambisius, karena itu dia berambisi untuk membunuhmu. Aku tidak tahu hal itu, sampai dia merelakan semua harta kekayaan Bouwens padaku, aku mulai curiga.

Dan ternyata kecurigaanku benar. Orang suruhannya yang membuat rem mobilmu blong. Ya… walau pun kau juga tengah mabuk waktu itu. dan hal yang terakhir yang dia lakukan untuk membunuhmu sebelum pulang ke Kanada adalah… Dia menyuruh seseorang untuk menyuntikkan zat beracun ke cairan infusmu. Aku mengetahuinya sebelum semuanya terlambat. Aku menyimpulkan kalau obsesinya sudah sangat membahayakan, dia jadi seperti… entahlah… maniak?… Psikopat?… Entahlah…” Robert menggedikkan bahu. “ Karena itu aku menyuruh orang untuk menangkapnya. Aku terlalu kasihan untuk memenjarakannya, toh kamu juga belum mati. Karena itu, aku mengusulkan agar dia dicuci otak.”

Nick semakin terbelalak. Dia sangat tidak percaya kalau Charlotte tega mencelakainya. Oh ya, tentu saja, siapa yang tidak sakit hati dia perlakukan seperti itu. “Dan d’ Varney melakukan semua itu,” kesimpulan Nick.

“Bukan!” tegas Robert.

“Bukan?”

“D’ Varney memendam cintanya pada Charlotte, dia tidak obyektif dan menolak mencuci otak Charlotte. Jadi aku menyuruh orang lain tanpa sepengetahuan D’ Varney.”

“Siapa?”

“Asisten d’ Varney, dokter Stacy Longbotom!”

“Stacy?”

Robert mengangguk. Nick seakan tak percaya. Stacy? Asisten yang kelihatan kikuk itu?

“Saat mengetahui semua itu, d’Varney sangat marah, tapi terlambat. Stacy malah meyakinkannya kalau inilah saatnya d’Varney meraih cinta Charlie. D’Varney mengancam Stacy untuk melaporkan semuanya ke mahkamah profesi, tapi Stacy bisa meyakinkannya kalau tindakannya sudah seijin keluarga Charlie. D’Varney pun tidak bisa berbuat apa-apa.” Robert membuka kedua tangannya di udara lalu menyandar di kursinya. “Karena itu, Nick Rothman… , mana yang kau pilih? Charlotte yang terpuruk karena kisah cinta tragisnya denganmu? Charlie Bouwens yang berambisi membunuhmu karena sangat membencimu? Atau….. “ Robert memajukan tubuh kembali ke meja untuk menekankan pertanyaannya, “Charlie d’ Varney yang penuh cinta dan dilimpahi cinta oleh suaminya serta akan menantikan kehadiran anak?”

Nick tersedu lagi. Robert memutar bola matanya bosan. Cintanya juga ditolak oleh Charlie, tapi dia tak secengeng Nick. “Tentu saja pilihan terakhir yang terbaik, tapi dia sama sekali tidak mengingat cinta kalian.”

Lalu tangan Robert menggapai tangan Nick di seberang meja. “Relakan dia, Nick Rothman. Percayalah, dia sangat bahagia sekarang. Antoine d’Varney akan menjaganya dengan baik.”

Nick Rothman benar-benar harus melupakan cintanya. Dia mulai menganggap perumpamaan “Bahwa cinta tak harus memiliki” itu benar. Padahal dulunya dia mengira itu hanyalah ungkapan penghiburan bagi orang-orang yang kalah bercinta. Dia kalah bercinta karena kebodohannya sendiri. Dia terlalu silau dengan perak hingga menyia-nyiakan emas yang sudah di genggaman. Dia memutuskan melupakan hasratnya dalam cinta, lebih mendalami kesibukan kerohanian di gereja dan mendekatkan diri dengan putranya.

Charlie melahirkan anak pertamanya secara normal. Firasatnya selama ini benar. Anaknya laki-laki. Keluarga d’Varney menyambut gembira bayi itu. Mereka memberinya nama “Jonathan Louis d’Varney”. Seorang bayi laki-laki yang montok dan menggemaskan, menjadi bintang di keluarga d’ Varney. Antoine sangat memuja bayi itu, bahkan terlalu memanjakannya, hal itu membuat Charlie sedikit kawatir.

Antoine mengundurkan diri dari dewan direksi rumah sakit, dan menyerahkan kursi direktur pada Stacy. Kelegalan praktek cuci otaknya terkubur selamanya dan kembali hanya sebagai wacana. Dia memusatkan diri sebagai akademisi di University of Toronto.

Universitas itu akhirnya menobatkan Antoine menjadi guru besar di bidang Neurologi.  Jonathan, atau yang biasa mereka panggil Nathan sudah mulai belajar berjalan.  Antoine sudah menggendong Nathan di ujung tangga lantai bawah sementara Charlie, masih ribet di dalam kamar entah untuk apa. Tentu saja Antoine sedikit tidak sabar. Pagi ini penobatannya, dia sudah cukup canggung berlatih  untuk pidatonya di auditorium nanti dan sekarang harus menunggu Charlie yang lelet.

“Ma Femme, hurry up! We can be late!” teriak Antoine untuk kesekian kalinya.

“Sebentar!” teriak Charlie lagi.

Antoine mendengus. Nathan di gendongannya memandangi wajah juteknya dengan mata coklat kemerahan yang ekspresif. “What? Your mom will make us late!” kata Antoine pada Nathan dengan ekspresi mendelik yang dibuat-buat. Bayi itu tertawa sambil melengkungkan tubuh ke belakang, menunjukkan empat gigi mungilnya yang baru tumbuh. Antoine merasa gemas lalu menciumi perut Nathan. Bayi itu semakin meliuk-liuk di gendongan Antoine karena geli.

Charlie menuruni tangga dengan tergesa sambil menenteng tas besar. Tas itu berisi perlengkapan Nathan. Antoine bernafas lega. Dia mengambil alih tas berat di tangan Charlie lalu menyampirkannya di bahu. “Berangkat!” serunya.

“Tunggu! Toganya sudah kau siapkan?” tanya Charlie.

“Sudah tergantung di jok belakang!” jawab Antoine.

Antoine mendudukan Nathan di kursi khusus di jok belakang, memastikan sabuk pengaman rancangan khusus dari kursi itu terpasang aman di tubuh Nathan. Dia tak lupa meletakkan tas perlengkapan Nathan di samping bayi mungil itu lalu menutup pintu. Sesaat dia sudah duduk di kursi kemudi dan Charlie sudah duduk di sampingnya.

“Lets Go!” seru Antoine sambil menoleh ke belakang, menggoda Nathan tentu saja. Bayi itu terkekeh lagi. Charlie jadi sewot. “Ayo cepat, nanti terlambat!” protesnya.

Antoine meringis gaje lalu menghidupkan mesin. Mobil memasuki padatnya lalu-lintas Toronto beberapa saat kemudian.  Antoine menyetir mobil sambil bersenandung, kali ini dia tampak sangat bahagia.

“Senang banget kelihatannya?” goda Charlie. Antoine menoleh pada Charlie sebentar lalu kembali memandang jalan raya, “Hari ini istri dan anakku akan menyaksikan penobatanku, tentu saja aku sangat gembira.”

Charlie tersenyum, lalu dia menyadari kalau arah mereka salah. Jika ingin cepat, seharusnya Antoine memilih belok kanan tapi Antoine malah lurus. “Bukankah akan lebih cepat sampai kalau tadi kita belok kanan? Waktunya tinggal seperempat jam lagi,  Sayang.”

Antoine terkikik. “Siapa bilang… Acara baru dimulai satu jam lagi. Kau berhasil tertipu, hahahaha.”

Charlie mencubit perut Antoine karena kesal, membuat Antoine meringis kesakitan. “Ah! Teganya kau membuatku terburu-buru. Kau tidak tahu betapa sulitnya aku menahan mual karena anak keduamu ini?” omel Charlie. Kehamilan keduanya, membuatnya berubah jadi galak.

“Aduh, Sory, Baby… Really.”

“No! Tidak ada maaf bagimu!”

“Ayolah, Sayang… gitu saja marah…”

Nathan tertawa melihat tingkah orang tua yang di jok depan. Charlie menoleh padanya. “Apa, Sayang…? Senang, ya… karena Papa bohongin Mama?” Charlie melirik Antoine yang sekarang bersiul-siul tambah tidak jelas. “Besok kalau sudah besar, jangan kau tiru perbuatannya, ya… ingat!”

“Iya, Mama,” Antoine bersuara seolah-olah Nathan yang menjawab. Charlie tambah sewot lalu mencubit perut Antoine semakin keras. “Au!” teriakan Antoine semakin keras juga dan Nathan semakin tergelak sambil menggerak-gerakkan kakinya.

Penobatan bersifat resmi, anak kecil tidak boleh masuk, terpaksa Charlie pun tidak bisa masuk. Mereka tidak bisa meninggalkan Nathan tanpa pengawasan walau pun terdapat penitipan bayi. Charlie memilih duduk-duduk di taman, di depan layar raksasa yang menayangkan jalannya acara di Auditorium. Dengan begitu, dia masih bisa menyaksikan Antoine berpidato. Nathan didudukan di meja taman yang terbuat dari semen di depannya. Antoine yang memilihkan tempat itu bagi mereka sebelum masuk auditorium dan sepertinya bayi itu cukup tenang di sana, sesekali dia meloncat-loncat dalam duduknya, melihat Ayahnya berpidato.

“Iya, Sayang… Itu Papa yang pidato,” ucap Charlie sambil mencium pipi bayinya. Lalu memegang salah satu mainan yang dia sebar di sekitar Nathan dan memainkannya di depan wajah Nathan. “Pesawat terbang! Wush!”

Nathan tertawa lagi. Nathan adalah bayi yang sangat bahagia. Bayi itu mewarisi sifat tenang Antoine walau pun kulitnya lebih mirip Charlie. Matanya yang coklat kemerahan sangat mirip Antoine dan lesung pipit yang Charlie yakini mirip dirinya.

Charlie mendongak saat ada seseorang mendekatinya, berdiri menjulang di depannya dengan senyum ramah, Nick Rothman.

Nick menyapa Charlie. Dua tatapan mata terarah padanya, yang satu berwarna hitam, yang satu coklat kemerahan. Mungkin karena ketakutan, empunya mata coklat kemerahan itu merengek dan memeluk ibunya.

“Oh, Sayang. Jangan takut, ini hanya…,”

“Maaf membuat anak anda takut, Nyonya d’Varney,” sesal Nick.

“Oh, tidak apa. Duduklah, Tuan…”

“Nick Rothman, anda lupa?” kata Nick sambil duduk di kursi di seberang meja taman.

Charlie berusaha mengingat-ingat, “Tuan Rothman? What a surprise! Anda kelihatan lebih baik dari saat terakhir kita bertemu.”

“Begitulah!” Nick menggedikan bahu.

“Apa yang membuat anda mengunjungi Toronto?” kata Charlie sambil menyodorkan dot susu ke mulut Nathan. Anak itu mulai tenang dan meminum susunya.

“Hanya urusan amal gereja,” jawab Nick. “Saya dengar hari ini dokter d’Varney dinobatkan jadi guru besar, karena itu saya kemari untuk mengucapkan terima kasih. Karena jasanya saya sembuh.”

“O,” Charlie membulatkan mulutnya.

“Anak anda sangat lucu,” kata Nick sambil memperhatikan Nathan yang masih ngedot.

Charlie mengangguk. “Antoine sangat memujanya. Dia semakin memanjakannya. Aku tidak tahu apakah setelah adik Nathan lahir, Antoine masih memanjakannya.”

“Jadi anda hamil?”

Charlie mengakui itu sambil tertawa malu-malu. “Aku harap anak kedua ini perempuan. Biar Nathan bisa bertanggung jawab menjaga adiknya. Biasanya anak laki selalu melindungi adik perempuannya. Iya kan, Sayang?” Charlie memandang wajah Nathan.

“Jadi namanya Nathan?”

“Iya, Jonathan Louis d’Varney. Nama ayah Antoine digabung dengan nama kakeknya.”

Tiba-tiba Nathan melonjak-lonjak senang. “Pa.. pa…,” berceloteh sambil tangannya mengacung-acung. Bayi itu  yang paling pertama tahu kalau Papanya sudah keluar dari auditorium dan berjalan ke arah mereka. Nick melihat semua itu dengan kekaguman. Anak itu sungguh cerdas, mampu mengenali kehadiran Ayahnya secepat itu. Antoine menggendong bayi itu dan membungkuk untuk mengecup pipi Charlie.

“Sudah selesai, Sayang?” tanya Charlie. Ngobrol dengan Nick membuatnya terlena, tak terasa acara suaminya sudah selesai.

Antoine mengangguk, lalu menyerahkan piagam penghargaannya pada Charlie. Dia menyipit saat menatap Nick.

“Saya Nick Rothman, dokter,” kata Nick memperkenalkan diri.

“What? Oh, My God! Unbelievable. You look better then few year ago!” seru Antoine menjabat tangan Nick.

“Iya, Dokter. Berkat anda.”

“Ah, Anda yang berusaha mencari kesembuhan sendiri. Berterima-kasihlah pada Tuhan.”

Nick mengangguk. Antoine menoleh pada Charlie yang masih duduk, “Sayang, teman-teman mengadakan pesta kecil-kecilan di kantorku, mereka menunggu kita,” lalu menoleh pada Nick, “Anda juga diundang, Tuan Rothman.”

Tapi ternyata Nick menolak undangan itu. “Tidak, terima kasih. Saya ada urusan lain yang harus segera diselesaikan.”

“Oh, Sayang sekali,” sesal Charlie.

“Saya sangat tersanjung, tapi saya benar-benar tidak bisa.”

Kedua suami-istri itu berpandangan. “Baiklah kalau begitu,” kata Antoine. “Sampai jumpa lagi. Kalau ada waktu ke Toronto, mampir ke rumah kami.”

Nick tahu kalau kalimat Antoine hanya basa-basi. Dia hanya mengangguk. Antoine segera mengajak anak dan istrinya meninggalkan taman. Nick melihat Antoine begitu melindungi Charlie. Antoine bahkan membantu Charlie memasukkan kembali mainan-mainan Nathan ke dalam tas, lalu menyampirkan tas itu di pundaknya, padahal masih menggendong Nathan. Charlie hanya membawa map yang tadi dia sodorkan. Sekali lagi ketiganya saling mengucapkan kata perpisahan. Nathan merebahkan kepala dengan nyaman di bahu Antoine dan masih mengedot. Lalu pasangan suami istri itu berjalan berangkulan menuju gedung dimana ruang kerja Antoine berada.

Nick Rothman memperhatikan semua itu dengan perasaan lega. Lega kerana orang yang dicintainya telah menemukan kebahagiaan hidup. Lega kerana Charlotte tidak lagi membencinya.

Angin dingin bertiup. Nick tiba-tiba merasakan rasa nyeri dan seperti terbakar di dadanya. Dia menekan dadanya yang sakit itu, meringis menahan derita sampai terbungkuk-bungkuk, hingga terkapar tak sadarkan diri.

Charlotte Whitely mungkin sudah memaafkannya, tapi Williams Bouwens… Semua itu bagaikan kutukan bagi Nick kerena sekarang… dia harus merasakan apa yang diderita Williams Bouwens dengan penyakit jantungnya.

TAMAT

MET IEDUL ADHA, YA…

BAGI DAGING KORBANNYA, DUNK…LUMAYAN BUAT NAMBAH TENSI GUE, BIAR TAMBAH EMOSIAN, HAHAHAHAHA

MAKASIH DAH MENGIKUTI CERITA INI DARI AWAL SAMPAI AKHIR

SISICIA

😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s