THE SECRET (Part 11)

Stacy dan Nyonya Han masih terkejut dengan pemandangan di depannya. Wajah d’Varney masih tampak tegang dengan tinju yang teracung tepat di muka Nick Rothman. Antoine akhirnya bisa menguasai emosinya kembali dan mulai menghela nafas. Perlahan cekikannya di leher Nick merenggang dan tinju yang teracung itu diturunkan.

“Tuan Rothman, anda tidak apa-apa?” tanya Nyonya Han saat menghampiri Nick. Antoine melepaskan semua kabel penghubung dari kepala Nick dan berjalan menuju mesin untuk mematikannya.

“What happened?” Stacy memandang heran pada Antoine. Bukannya menjawab pertanyaan Stacy, Antoine berbicara pada Nyonya Han dengan bahasa Korea yang tidak dimengerti Stacy, “Saya rasa ini adalah pertemuan kita yang terakhir, Suster Han.”

Nyonya Han semakin terkejut, “Tapi, dokter. Bagaimana dengan cuci otaknya?”

Antoine menatap Nick. Wajah Nick masih menampakkan mimik menantang. Stacy menelusuri pandangan Antoine dan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi dengan dokter dan pasiennya itu. “Saya rasa, Tuan Rothman sudah tidak menginginkannya lagi,” penjelasan Antoine.

“Anda yakin, dokter?” Nyonya Han masih sangsi.

“Tanyakan  sendiri pada Tuan Rothman,” jawab Antoine sambil berjalan keluar dari ruangan itu.

Stacy tergagap. Ingin rasanya mengejar Antoine tapi tidak bisa melakukannya karena masih ada Nick dan susternya di ruangan itu. Dia harus menunggu keduanya keluar dulu lalu memastikan semua peralatan ada pada tempatnya dan mengunci pintu. Dia berlari saat semua urusannya beres. Bergegas mencari Antoine di seluruh penjuru rumah sakit.

Stacy melihat punggung Antoine di salah satu pojok balkon di lantai tiga. Pojok itu terkenal sebagai pojok bagi para perokok. Asap mengepul yang dia yakini dari mulut dan hidung Antoine. Antoine merokok!  Sejujurnya, baru kali ini Stacy melihat Antoine merokok.

“Antoine,” panggil Stacy saat sampai tepat di belakang Antoine.

Antoine tergagap. Tergesa dia mematikan rokok dengan menandaskannya di dinding balkon.

“Are you smoking?” nada bicara Stacy terlihat heran.

Antoine merasa tak perlu menjawab pertanyaan klise itu. Toh, Stacy juga sudah melihat sendiri kalau dia merokok. Stacy berdiri di sampingnya, menatapnya dengan penuh keheranan sementara dia sendiri yakin kalau saat ini wajahnya pasti menampakkan kebingungan.

“What happened between you and Nick Rothman?”

Antoine menghela nafas. Kata-kata Nick yang menjelek-jelekkan Charlie terngiang lagi di otaknya. “Oh, Damn!” teriaknya frustasi sambil mengacak-acak rambut.

“What?” Kelakuan Antoine membuat Stacy semakin heran. Antoine mengumpat? Baru kali ini Stacy mendengarnya.

“Do You know who he is?” Antoine malah membuat Stacy lebih penasaran.

“No! Who is He?”

Antoine memukulkan kedua tangannya di dinding balkon. “Nick Rothman is Charlotte’s husband,” jawaban Antoine membuat mata Stacy membelalak dan menutup mulutnya yang menganga saking kagetnya,”Unbelievable!”

“I think he knows everything now,” kata Antoine.

“does he knows that Charlie is Charlotte?”

“No, but… He just guess,” Antoine benar-benar malas menjelaskan kecurigaan Nick Rothman.  Stacy jadi ketularan bingung sekarang, “What should we do now?”

“I don’t know. Absolutly!”

Stacy memegang tangan Antoine memberi kekuatan dengan sentuhannya. “Antoine, do you really love Charlotte?” tanyanya.

“Yes. Of course I love her,” tentu saja Antoine sangat mencintai Charlie, hal itu tak terbantahkan lagi. Dia bahkan berani menunjukkan pada dunia kalau dia mencintai Charlie. Dia bukanlah pria pengecut seperti Nick Rothman yang memberikan janji kosong lewat pernikahan diam-diam.

“Do you know that love is sacrifice?”

“What do you mean? I can’t let her go!”

Stacy bisa melihat mata Antoine mulai panik. Stacy tahu kalau hal ini pasti berat bagi Antoine tapi ada kalanya Antoine harus merelakan semuanya. Mungkin ini penyelesaian yang terbaik, pikir Stacy.

“Tell the truth and give Charlotte the opportunity to choose,” Stacy mencoba bijak. Semua ini harus diakhiri dan mungkin Charlotte sendiri yang musti mengakhirinya.

“No!” ada sentakan keras saat Antoine mengucapkan kata itu. Dia yakin Charlotte akan terpuruk jika tahu yang sebenarnya dan dia tidak sanggup menerima kenyataan jika Charlotte tidak memilihnya.

Stacy merasa kasihan pada Antoine. Mentornya itu sedang jatuh cinta. Tak dipungkiri hal itu. Apa yang terjadi saat impiannya hancur jika bersitubruk dengan kenyataan? Stacy merasa pikirannya terlalu melodrama, dia harus berpikir rasional sekarang. Berpikir rasional? Bukankah Antoine yang seharusnya melakukan itu?

“Antoine, please think clearly. Believe her. Believe of  your love and all will be fine.”Stacy menepuk lengan atas Antoine sambil menekankan setiap kata-katanya.

Antoine perlu berpikir jernih sekarang. Stacy meninggalkannya di balkon untuk berpikir. Antoine menengadah, mengadukan kegundahannya di antara awan yang berarak. Mungkinkah ini adalah akhir dari segalanya?

———-THE SECRET———-

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

Dengan tangan terkepal dan dada membusung, Antoine memasuki rumahnya yang megah. Suara piano yang dimainkan Charlie sayup-sayup menyambut telinganya. Dia segera tahu dimana istrinya berada dan menghampiri ruang musik. Dia bertekad untuk menceritakan semuanya pada Charlie. Dia memutuskan untuk percaya pada Charlie, bahkan mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Charlie tersenyum padanya saat dia memasuki ruang musik. Lagu belum selesai, jemari Charlie masih menari di atas tut piano, mengikuti nada demi nada dengan apik, tak melenceng satu oktaf pun walaupun pandangan Charlie tertuju pada Antoine. Charlie ingin membuat Antoine terkesan. Dan melihat lelaki itu menikmati alunan musiknya sambil berpangku tangan di dek piano adalah kepuasan tersendiri.

Antoine tersenyum, menyusuri roman wajah Charlie yang jernih. Sejenak dia meragukan keputusannya. Ada cinta di mata Charlie tertuju padanya. Dia merasa harus mempertahankan cinta itu, namun dia tidak bisa terus-terusan berbuat tak adil pada Nick Rothman. Inilah saatnya! Dia tidak pernah sesiap ini sebelumnya. Hingga alunan irama itu semakin memelan dan jemari Charlie berhenti di nada penutup.

“Kau mau lagu yang lainnya, Sayang?” tawar Charlie sambil membuka-buka partitur, “Bagaimana kalau ‘Fly me to the moon’-nya Frank Sinatra? Versi Ballad tentu saja.”

Antoine menggeleng. Seleranya pada seni benar-benar hilang sekarang. Dia mendekati Charlie lalu merengkuhnya dari belakang dan berbisik, “Ada yang ingin ku bicarakan.”

Charlie menoleh. Dia membalikkan badan hingga posisi duduknya berhadapan dengan Antoine. Pada saat itulah Antoine berjongkok di depan Charlie, meraih kedua tangannya lalu menciuminya dan Charlie bisa merasakan kekawatiran hati Antoine merayap ke hatinya. “Ada apa? Jangan membuatku takut, Antoine.”

Antoine menengadah, pandangan matanya bertabrakan dengan tatapan Charlie yang memicing, penuh tanya dan tak sabaran.

“Ini tentang Nick Rothman,” ucap Antoine akhirnya.

“Kau bilang kalau tidak suka membicarakan pekerjaan de…

“Ini juga ada hubungannya denganmu.”

Mata Charlie semakin menyipit. Ada hubungan apa aku dengan Nick, orang Korea itu? Apakah dia saudara sepupuku? Ibu tidak pernah cerita tentang keluarganya di Korea, pikir Charlie.

“Charlie…,” Antoine menghirup udara lalu menghempaskannya lagi. Dia berusaha menyusun kekuatan untuk mengatakan yang sejujurnya, “Nick Rothman adalah… .”

Oh, Antoine benar-benar berharap  kalau semua ini hanya mimpi. Dia ingin kembali ke masa silam. Masa di mana akhirnya cinta mereka menyatu. Saat pertama kali dia menyatakan ketulusannya pada Charlie di bukit belakang rumah sakit. Dia harus memastikan cuaca cukup cerah waktu itu. Dia berkomplot dengan Stacy agar asistennya itu mengatur adanya makan siang di bukit. Mungkin ini kurang romantic, orang lain pasti akan memilih malam hari untuk menyatakan cinta.  Namun Charlie sangat mengagumi matahari. Matahari jarang bersinar di Toronto dan saat parkiraan cuaca di radio menyiarkan kalau cuaca hari ini cerah, Antoine memutuskan kalau inilah saatnya. Inilah saatnya mengungkapkan segalanya. Dia siap ditolak jika memang cintanya kurang memadai. Dia siap dengan segala resiko yang harus ditanggung.

Saat Charlie akhirnya datang. Dia menyambut dengan ramah, menarik kursi bagi Charlie dan wanita itu tersipu melihat tuksedonya yang berlebihan untuk dipakai pada acara siang hari. Tapi Antoine cukup percaya diri untuk menyimpulkan bahwa Charlie terkesan pada penampilannya.

Hingga hidangan makan siang ludes di tangan mereka dan anggur akhirnya terangkat untuk melakukan tos, Antoine sengaja memperlihatkan  jahitan lengan bajunya yang agak berantakan. Charlie melihat hal itu dan mengulurkan tangan setelah meletakkan kembali gelas piala di meja. “Tunggu, ada benang di lengan kananmu yang mencuat,” kata Charlie.

Antoine tersenyum. Charlie menarik benang yang mencuat. Benang itu semakin terulur saat ditarik, Charlie semakin tak habis pikir. Namun saat lingkaran cincin berlian tergantung di benang itu, berkilap-kilap terterpa sinar matahari, Charlie tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Tidak perlu ucapan yang berlebihan karena Charlie sudah menjawab sebelum Antoine bertanya, “Aku bersedia, Dokter. Benar-benar bersedia.”

Tidak ada kata-kata cinta waktu itu. Yang ada hanyalah bahasa tubuh, dan Charlie cukup cerdas menangkap maksudnya. Banyak kata untuk mengungkapkan cinta. Bahkan jika Antoine mau merunut berdasarkan bahasa yang dikuasainya, ada enam kata yang berarti sama yaitu cinta namun tak satu pun terucap waktu itu.

Namun, kata-kata itu selalu mengawali hari-hari Charlie berikutnya. Tak henti-hentinya Antoine ucapkan pada Charlie. Berkali-kali dan mendamba hingga sekarang, ketika Antoine sudah sangat jujur pada Charlie dan menyerahkan segalanya pada wanita itu, sementara dia sendiri berdiri mematung, di atas bukit belakang rumah sakit, mengenang masa-masa itu.

Semuanya harus benar-benar berakhir. Tak akan ada lagi cuci otak untuk penyembuhan pasien gangguan jiwa. Biarlah ini terkubur selamanya. Tak ada yang boleh meneruskan bahkan Stacy sekali pun. Biarlah ini semua kembali menjadi sekedar wacana. Karena aku ternyata juga korban. Ingin rasanya aku melakukan cuci otak juga untuk melupakanmu, Sayang. Namun…, aku tidak bisa kerana kau terlalu indah.

Dan angin dingin bertiup. Awal musim dingin telah tiba di Toronto. Antoine mulai mengikhlaskan semuanya.

 —————————————

Nick harus kembali ke Korea sekarang. Nyonya Han dan rekannya mempersiapkan segala sesuatunya. Kemaren, Nyonya Han sudah menghubungi Robert akan mundurnya Antoine dari upaya penyembuhan Nick. Hal yang tidak bisa dimengerti oleh Nyonya Han, ternyata cukup bisa dimengerti oleh Robert. Bahkan Robert sudah mempersiapkan pesawat pribadinya untuk menjemput Nick dan pesawat itu sudah siap di Toronto City Centre Airport.

Sementara kedua perawatnya mengepak barang-barang, Nick sudah rapi di kursi rodanya. Dia berpikir akan kembali ke Kanada setelah penyembuhannya. Dia akan menemui Charlie. Akan merebut Charlie dari d’Varney apa pun yang terjadi karena merasa masih berhak. Ya, semua itu akan dia lakukan.

Aktifitas kedua perawat terhenti saat pintu kamar diketuk. Keduanya saling melempar pandang, memutuskan siapa yang seharusnya membuka pintu, dan akhirnya perawat pria-lah yang membuka pintu.

Charlie muncul di ambang pintu yang terbuka. Mata Nick seperti hampir terlepas dari rongganya. Dia mengerjap seolah tak percaya semua ini terjadi. Charlotte di sini. Dia sendiri yang menemuiku, pikir Nick.

Nyonya Han keheranan dengan kehadiran istri Antoine d’Varney di kamar Nick. Charlie bisa merasakan tatapan herannya dan berkata tegas, “Can I speak with Mr. Rothman privately?”

Alis kedua perawat itu semakin bertaut. Charlie sebenarnya risih melihatnya dan untuk meyakinkan kedua perawat itu, dia menambahkan, “I just want to apologize for my husband.”

Kedua perawat itu mengangguk dan akhirnya keluar ruangan. Sementara koper-koper dan pakaian Nick terbengkalai ditinggalkan, Charlie berdiri di depan Nick. Pria yang duduk di kursi roda itu menengadah menatapnya. Tatapan penuh kerinduan yang diberikan padanya, namun dia membalasnya dengan mata menyipit karena rasa penasaran.

“Antoine bilang kalau kau  adalah mantan suamiku,” kata Charlie. Tatapan Nick seakan memprotes. Charlie mengangkat tangannya, “Oke! Dia bilang kalau kau suamiku.”

Nick tersenyum lega mendengarnya.

“Aku hanya mengungkapkannya karena Antoine adalah suamiku sekarang jadi kau adalah… anggap saja… my ex-husband,” namun kelanjutan ucapan Charlie sungguh diluar dugaan Nick.

“Aku adalah salah satu pasien Antoine. Aku tahu ada beberapa ingatanku yang dihapus karena aku bisa terpuruk jika mengingatnya. Aku sama sekali tidak ingat padamu, jadi aku bisa menyimpulkan kalau keberadaanmu bisa membuatku terpuruk,” Charlie berbicara berbelit-belit, tapi dia memang ingin mengatakan kesimpulan yang berhasil ditariknya.

“Dan yang menjadi pertanyaanku adalah…,” Charlie menarik kursi plastik di dekat ranjang ke depan Nick  lalu menduduki kursi itu dengan hati-hati karena kandungannya. “Apa yang terjadi diantara kita hingga kehadiranmu membuatku terpuruk?”

Nick menatap Charlie begitu lama. Dia tidak tahu harus berucap apa. Sikap tak bertanggungjawabnya di masa lalu membuahkan keterpurukan bagi Charlie. Apakah itu yang akan dikatakannya pada Charlie sekarang?

Oh ya! Katakan saja kalau aku adalah pria yang menikahimu secara diam-diam, lalu segera bosan padamu setelah jatuh cinta dengan wanita lain. Menghamilimu tapi menuntutmu supaya menggugurkan kandungan bahkan mengataimu wanita tak tahu malu karena mengemis cinta. Bodoh, Nick Rothman. Bersyukurlah dengan keadaanmu sekarang karena tak bisa mengatakannya.

Charlie menatap terus ke arah Nick. Menekuri garis-garis wajah Nick di depannya, mencoba mengingat tapi tak satu pun memori terbersit. “Ibuku pernah bilang kalau hubunganku dengan mantan-mantan pacarku selalu buruk kerana kebanyakan dari mereka memang menyakitiku. Apa kau juga melakukan itu?” Charlie semakin menuntut jawaban dengan menceritakan perkataan Ibunya, Ibu Charlie Adams maksudnya, “Menyakitiku?”

Nick merasa Charlie bagaikan anak kecil yang bertanya, pandangan mata Charlie benar-benar menandakan kalau wanita itu benar-benar tidak mengingat dirinya. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia malu dengan kenyataan di masa lalu. Iya, kau benar, Charlotte. Aku menyakitimu.

“Cukup!” sekali lagi Charlie mengangkat sebelah tangan dan memejamkan mata. Dia seakan kawatir Nick mengucapkan sesuatu padahal dia yakin benar keadaan Nick tak mampu untuk itu. “Kalau memang ingatan itu membuatku terpuruk, biarlah aku melupakannya.”

Charlie tersenyum, “Aku bahkan melarang Antoine mengatakan lebih jauh. Aku benar-benar tak mau mengingatnya,”Charlie berkata pelan namun tegas kemudian mengelus perutnya, “Aku sedang bersiap menyambut kehadirannya. Saat tahu kalau aku sedang hamil, Antoine senang sekali. Dia semakin memanjakanku.”

Perkataan itu bagaikan pukulan telak bagi Nick. Antoine sangat menyayangi Charlotte sedangkan dia… apa yang dia lakukan saat mengetahui Charlotte mengandung anaknya dulu? Menyuruh Charlotte menggugurkannya, bukan?

“Karena itu aku menjadikan kandunganku sebagai alasan agar Antoine tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi,” sambung Charlie, lalu tangan halusnya terulur, meraih kedua belah tangan Nick. “Aku sangat mencintai Antoine. Kami bahagia dengan pernikahan kami. Aku mohon… jangan membuatku mengingatnya… Aku benar-benar tidak ingin mengingatnya.”

Charlie masih berkata halus. Jika bisa, dia bisa mengatakan, “Go to hell! Live us alone!” Nick bisa memikirkan itu. Dia mampu merasakan sekarang, kalau dia benar-benar bajingan.

Charlie memandang sekeliling ruangan Nick dan mendapati beberapa koper yang masih terbuka. Lalu berkesimpulan kalau Nick memang benar-benar akan pergi. Dengan hati-hati dia bangkit, lalu mengucapkan kata perpisahan pada Nick, “Aku lihat kau sudah akan pergi. Selamat tinggal.” Charlie tersenyum lalu berbalik untuk keluar dari kamar Nick.

Seakan tersadar dengan lamunan, Nick terkesiap. Dia mencoba berdiri, namun kelumpuhan otot masih membuatnya terjerembab. Charlie semakin menjauh darinya. Nick berusaha memanggil, dia hanya ingin meminta maaf. Jika cintanya sudah tak berarti lagi bagi Charlotte maka permintaan maaf mungkin yang tepat sekarang. Dia tidak akan bertindak sebagai bajingan yang mengganggu Charlotte lagi tapi Charlotte semakin jauh dan dengan putus asa, di penghujung pengharapan… akhirnya suaranya keluar juga.

“Charlotteeee!!!”

Nyonya Han yang di luar kamar segera menghambur dengan ucapan syukur, “Puji Tuhan! Anda bisa bicara lagi! Ini mukjizat!”

Nick masih meraung. Menangisi kepergian Charlotte dan meminta maaf. “Maafkan aku, maafkan aku.” Sementara perawat pria menyangga tubuhnya untuk kembali duduk di kursi roda.

Dan Charlie benar-benar tak menoleh ke belakang. Dia sudah memilih dan tak seorang pun bisa mencela. Dia mencari Antoine ke segala penjuru rumah sakit, bertanya pada setiap petugas yang ditemuinya di lorong. Hatinya bersorak saat melihat Stacy karena yakin wanita itu tahu dimana Antoine.

“Where is Antoine?”

Stacy tersenyum sumringah. Tebakannya selama ini benar. Charlie memilih Antoine. “I saw him walk to hill behind the hospital,” jawab Stacy cepat karena Charlie segera melesat ke tempat yang dimaksud.

Charlie segera tahu tempat yang dimaksud. Pastilah tempat pertama kali Antoine mengungkapkan cinta padanya. Setengah berlari dia menuju ke sana sambil memegangi perut. Dia ingin mengatakan pada Antoine kalau dia mencintai pria itu. Dia ingin menghujani pria itu dengan banyak ciuman, tak perduli harus berjinjit untuk melakukannya.

Antoine benar-benar di sana. Antoine menatap Charlie  dengan pandangan tak percaya. Dan Charlie benar-benar melakukan niatannya itu. Charlie segera menghambur  ke dada Antoine. Dipeluknya pria itu erat-erat. Ditangkupnya wajah Antoine agar menunduk lalu mencium bibirnya penuh hasrat dan gairah.

“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu,” ucap Charlie di sela-sela ciumannya. Antoine membalasnya dengan tuntutan yang lebih akan cinta.

“Aku juga sangat mencintaimu, Ma Femme. Percayalah!” Antoine mencium Charlie lagi, kali ini lebih dalam dan lama karena Antoine sudah sadar dari keterkejutannya. Antoine tersadar pada ketulusan cinta Charlie. Dia memang bukan cinta pertama bagi Charlie, tapi dia tersanjung Charlie memilihnya sebagai cinta sejati.

Di akhir musim panas ini, Antoine  menyadari bahwa mencintai Charlie benar-benar membuatnya bahagia.

TAMAT

Eh…. Belum ding

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s