LIFE FOR THE PAST (Hati-hati dengan Ucapanmu, Playboy! Part 2)

Hati-hati dengan Ucapanmu, Playboy!

Part 2

Cein datang ke rumah Sunny untuk mengetahui keadaan Sunny. Dia segera mendapati Sunny duduk-duduk di pinggir kolam renang, menghadapi laptop yang penuh dengan laporan hotel terakhir yang dikirim anak buahnya di Jayapura. Sesaat Cein terpana dengan penampilan Sunny. Tubuh moleknya terbungkus bikini merah dengan luaran hem putih pendek. Hem itu jatuh tepat di pahanya yang tampak berkilat-kilat terterpa cahaya matahari. Sempurna!

Sunny menghentikan kegiatannya saat melihat Cein yang semakin mendekat. Cowok itu tersenyum. Sesaat wajah Cein mengingatkannya pada Jerry. Ya, Jerry duabelas tahun yang lalu, bukannya Jerry yang sekarang. Yang bertubuh agak tambun. Dia mempersilakan Cein untuk duduk.

“Bagaimana keadaan anda?”

“Baik, terima kasih dan sebagai balasannya, anda bisa minta apa saja.”

“Apa saja?”

Sunny mengangguk.

“Aku ingin kamu jadi guru privatku untuk mengerjakan soal-soal ini.” Cein mengeluarkan kertas soal yang diberikan Indra kemaren.

“Baik, akan aku coba.”

Yes! Cein bersorak. Dalam hati dia sangat berterima kasih pada Indra. Kalau saja dosen killer itu tidak memberikan tugas sulit padanya, pasti tidak akan ada kesempatan “PEDEKATE” sama Sunny. Dia mulai membayangkan hari-hari yang akan dilaluinya bersama Sunny dan soal-soal yang sulit itu. Hari ini dia keluar dari rumah Sunny dengan penuh semangat. Dia mengendarai mobilnya dengan urakan. Tak perduli kredit mobil itu belum lunas. Perasaannya meluap-luap seakan-akan jantung akan keluar dari tempatnya. Ada perasaan aneh yang menjalar. Perasaan senang saat saat dia bertemu Sunny. Rasa kagum pada Sunny. Dimatanya Sunny adalah sosok wanita yang dewasa. Mungkinkah aku sedang jatuh cinta? Ya, aku sedang jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada Sunny Natalia! Yuuu… Huuu.

…………………………………………….

“Hari demi hari berlalu. Tugas dari Indra sudah terselesaikan. Tapi Cein tidak kurang akal untuk cari alasan agar bisa bertemu dengan Sunny. Kadang dia membawa tugas-tugas yang lain. Sunny pun tidak bisa menolak.

Cein menyukai wajah serius Sunny saat menerangkan segala hal. Saat ini mereka membahas soal hitungan titrasi asam basa.

“Titrasi Acidi-Alkalimetri berdasarkan penetralan asam basa. Biasanya dipakai indikator untuk mengetahui titik akhir reaksi,”terang Sunny. Dia terus saja menerangkan tentang prinsip penetralan asam basa. Tapi Cein tidak memperhatikan yang diterangkan. Dia memperhatikan wajah Sunny. “Kamu cantik,” katanya tiba-tiba.

“Apa?”

Cein tersenyum, Sunny melanjutkan pelajaran. “Biasanya rumus yang dipakai dalam titrasi ini adalah perbandingan atom H plus dan OH minus. Jadi N satu kali V satu sama dengan N dua kali V dua.”

“Andai saja kamu H plus dan Aku OH minus,” sambung Cein.

“Apa maksudmu, Cein?”

“Kita pasti saling menetralkan satu sama lain.”

 “Cein!” Sunny melotot. “Kalau kamu tidak serius, lebih baik kita hentikan saja!”

Sunny menutup buku diktat dengan cepat. Cein terkejut dan berusaha minta maaf.

“Sepertinya kita hanya buang-buang waktu disini.”

Sunny segera masuk ke kamar dan mengunci pintu. Cein panik. Dia mengetuk-ketuk pintu. “Sun, maafkan aku. Aku berjanji akan serius.”

Cein berhenti megetuk pintu. Dia bersandar di pintu itu. Dalam hati dia menyesal. Aku mencintaimu, Sunny.

…………………………………………

Juli tampak kesal. Dia berkunjung ke rumah sepupunya, Eros. Tapi Eros ternyata belum pulang juga. Bi Mumun, pembantu Eros muncul dengan segelas teh lagi. Sudah gelas yang ketiga, pikirnya.

“Biasanya Eros pulang jam berapa,sih?” tanya Juli.

“Biasanya jam segini sudah pulang, kenapa tidak ditelpon saja.”

“Mailbox.”

“Mungkin dalam perjalanan, Bu.”

Mobil Eros berdiri di depan pintu. “Itu Pak Eros,Bu.”

Bi  Mumun segera membuka pintu pagar. Saat Eros keluar dari mobil, dia melihat sandal Juli di depan pintu. “siapa yang datang, Bi?”

“Bu Juli.”

“Oh, tolong letakkan tas ini di meja kerja saya.”

Eros segera menemui Juli yang tampak cemberut.

“Dari mana aja, sih. Ditelpon mailbox melulu.”

“Sori, Juli, lagi lembur, seminggu lagi pembaharuan formularium rumah sakit. Kenapa nggak bilang dulu kalau mau datang.”

Eros duduk di depan Juli. Dia melonggarkan dasinya.

“Ibumu kemarin telpon aku. Dia tanya kapan kamu memperkenalkan calon istrimu.”

Eros menghela nafas,”Bagaimana kabar suamimu?”

“Aku tanya apa, kamu malah tanya Aldi. Kabarnya baik, mungkin.”

Juli menyandarkan diri di sofa. Dia selalu malas jika ditanya tentang Aldi, suaminya.

“Kamu jangan gitu, Juli. Meskipun Aldi sibuk kerja, dia selalu perduli dengan keluarga. Buktinya, dia selalu bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anak,kan?”

“Sudahlah, kapan kamu akan memperkenalkan calon istrimu?”

Eros nyengir. Juli paham jawaban  apa yang akan diberikan Eros.

 “Jangan bilang kamu masih mengharapkan Sunny.”

Eros memang sangat mengagumi Sunny. Eros jatuh cinta padanya saat pertama mereka bertemu. Pada saat itu, sepuluh tahun yang lalu, saat keduanya sama-sama menjadi peserta PUKA di Surabaya. Rupanya rekan-rekan yang lain segera menangkap gelagatnya. Mereka menjodohkan Eros dengan Sunny.

Bi Mumun muncul dengan segelas air putih. Eros terjaga dari lamunannya saat Bi Mumun meletakkan air putih itu di hadapannya.

“Kemarin aku bertemu Sunny.”

“Lalu? Kau menyatakan perasaanmu?”

“Tentu saja tidak, Juli. Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu dan tiba-tiba aku muncul dengan ungkapan rasa cinta, pasti dia akan menganggapku gila. Dia bahkan hampir lupa padaku.”

“Lalu bagaimana?”

“Aku perlu waktu yang tepat.”

“Waktu yang tepat? Kapan? Sampai dia balik ke Papua lagi?”

“Entahlah, setiap aku melihatnya. Matanya itu selalu mencari seseorang.”

“Kau meragukannya?”

 “Dia pemabuk! Sehabis PUKA, dia mabuk berat sampai aku harus mengantarnya ke kamar hotel tempat dia menginap. Dan semalam aku melihatnya berhenti di sebuah kafe. Aku rasa dia akan minum-minum.”

“Kenapa kamu tidak mencegahnya?”

“ Aku tidak mungkin masuk ke tempat seperti itu.”

“Karena kau seorang mantan ketua LDK? Jadi kamu merasa tak mungkin masuk ke tempat seperti itu?” umpat Juli.

“Bukan begitu maksudku.”

“Lalu apa?”

Eros menghela nafas.

Juli segera undur diri,” Aku tahu, Eros. Kau meragukannya karena dia pemabuk. Tapi kalau kau benar-benar mencintainya, seharusnya kau bisa memahaminya. Pasti ada alasan di balik semua ini. Aku masih menunggu jawabanmu. Kapan kau akan membawa calon istrimu.”

Juli meninggalkan rumah itu dengan segudang pertanyaan. Apa benar Sunny pemabuk? Kamu itu aneh, Eros. Kenapa kau tidak melakukan hal yang teman-teman LDKmu lakukan? Ta’aruf dengan cewek lalu menikah. Bukankah itu yang selalu para ikhwan lakukan? Kenapa kau harus terpaku pada cinta Sunny?

Eros masih terpaku dengan kata-kata Juli, alasan dibalik sifat pemabuknya Sunny? Dia yakin Sunny melakukan semua itu  untuk melupakan seseorang.

Sepuluh tahun yang lalu, saat para pegawai hotel direpotkan dengan tingkah Sunny yang mabuk berat. Dia mendengar Sunny berteriak, menumpahkan kekesalannya pada seseorang yang  lebih memilih wamita lain. Pegawai hotel segera bertindak. Mereka membawa Sunny ke kamarnya.  Eros meyakinkan mereka bahwa dia bisa mengurus Sunny.

Eros menyeka wajah Sunny dengan air hangat, sementara Sunny terbaring di tempat tidurnya. Setengah sadar Sunny tersenyum padanya.

”Kau sangat baik. Bisakah kita jadi kekasih?”

Eros terkejut. Kata-kata Sunny itu,  sudah lama dia memimpikannya. Tapi Sunny sedang mabuk berat. Mungkinkah?

Sunny tertidur hingga esok harinya. Saat sadar dia mencari Eros dan mendapati Eros sedang sarapan di restoran hotel. Setelah duduk di depan Eros, dia berkata,” Terima kasih atas pertolonganmu semalam.’

“Ah, jangan sungkan.”

“Eros, apa saja yang aku katakan semalam?”

Eros diam. Dia ingat betul apa yang dikatakan Sunny semalam.

“Eros, apapun yang aku katakan semalam, lupakanlah. Aku bahkan tidak ingat lagi apa yang kukatakan semalam.Aku harap kau mengerti, Eros.”

Sepuluh tahun yang lalu, Eros meninggalkan Surabaya dengan kecewa. Kecewa karena dunia yang seakan mempermainkannya. Juga berbotol-botol minuman beralkohol itu yang membuat Sunny mabuk dan mengecewakannya.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s