THE SECRET (Part 10)

Konsentrasi Antoine otomatis buyar saat visite sore. Kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Nyonya Han mengganggu benaknya. Robert Cassidy, pria yang dikenal Antoine sebagai sekutu Williams Bouwens selama ini ternyata berada dibalik pendanaan kesembuhan Nick.  Sungguh tidak dapat dipercaya.

Antoine ingin segera menelphon lelaki itu. Atau mungkin memaki Robert. Hari-hari Antoine sudah sangat berat dengan kehadiran Nick. Dia tidak tahu apakah masih bisa bersikap obyektif pada pasien yang satu itu, Nick Rothman.

Antoine langsung melesat ke ruang kerjanya sesampai di rumah. Untuk sementara dia mengabaikan Charlie. Waktu sudah sangat larut, dia yakin Charlie pasti sudah tidur. Setidaknya ada kebebasan jika dia berada di ruang kerja, tanpa Charlie yang selalu ingin tahu.

Dan Antoine menggunakan handphonenya untuk menghubungi Robert. Sambungan terhubung beberapa detik kemudian. Antoine bisa mengenali suara Robert yang menjawab bahkan mulai berbasa-basi. “Mr. D Varney, What a surprise? Congratulation with your marriage!”

“Oke! Cukup basa-basinya!” potong Antoine. Tangan Antoine yang memegang pensil mengetuk-ngetuk di atas meja, menandaskan setiap kata-katanya. Lalu dengan jengkel menanyakan kegusarannya,”Apa maksudmu dengan membantu Nick Rothman?”

Sedetik cukup hening. Antoine tahu Robert sejenak berpikir atau bahkan Robert cukup mampu mengendus kemarahan dibalik komunikasi via telephon ini. Dan kemudian terdengar Robert menghela nafas. “Saya yakin kalau anda cukup cerdas menangkap peringatan saya lewat majalah di bangku pesawat,” kata Robert.

“What?” pertanyaan itu bukan berarti pertanyaan karena Antoine cukup terkejut. Majalah di pesawat! Robert yang meletakkan majalah itu di pesawat. Jadi pesawat mewah itu adalah property dari Bouwens Inc? Benar ! Nick Rothman yang bangkrut tidak mungkin mempunyai akses penerbangan pribadi seglamor itu.

“Itu adalah isyarat agar anda menyegerakan tindakan pada Nick Rothman,” tekan Robert.

“Tidak mungkin segampang itu, Tuan Cassidy yang terhormat!” Antoine benar-benar muntab. “Pria itu sudah mulai mencurigai sesuatu.”

Antoine memijit-mijit kening. Punggung dan tengkuknya serasa kaku, bersandar di kursi. “Seharusnya kau tidak ikut campur,” sambung Antoine.

“Saya melakukan ini karena rasa kemanusiaan. Setidaknya firasat Nick memang benar selama ini. Charlotte tidak mati dan dia sudah cukup dihukum.”

“Dia menyakiti Charlotte, Cassidy!”

“Bukan!” Robert memotong dengan tegas. “Dia hanya jatuh cinta pada wanita lain dan istri yang dinikahinya diam-diam, menderita karena kenyataan itu. Apa salahnya jatuh cinta?”

“Tentu saja salah kalau kau sudah terikat,” Antoine sadar kalau ungakapan itu  serasa melankolis. Seorang pria yang sudah menikah pasti mempunyai kemungkinan untuk selingkuh, dan bagaimana bisa dia bilang itu salah, mengingat dia juga seorang pria. Pria yang tidak berhasrat pada wanita lain semenjak mengenal Charlotte Whitely.

Dan giliran Antoine yang mendesah. “Kau menghianati wanita yang kau cintai, Cassidy,” ujarnya.

“Wanita yang kucintai itu… lebih memilih anda, Dokter,” desah Robert.

Percakapan itu hanya membuahkan hasil yang menggantung bagi Antoine.

———-THE SECRET———-

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

Antoine benar-benar kacau. Kedua siku lengannya bertumpu pada meja kerja, menopang kepalanya yang menunduk. Robert membantu Nick hanya karena belas kasihan. Dia merasa kalau memang harus menyelesaikan semua masalah sendirian, namun tidak tahu harus memulai dari mana. Sekelilingnya serasa panas seketika. Pengatur suhu ruangan seakan-akan tak berarti.

Lamunan Antoine buyar saat pintu ruang kerja diketuk seseorang. Dengan jengkel dia mengangkat kepala dan bersuara, “Who is that?”

“Ini aku, Sayang,” suara lembut dari luar yang dia yakini sebagai Charlie. Wanita itu bahkan sudah menongolkan kepala di balik pintu. “Boleh aku masuk?”

Charlie memamerkan senyum tulusnya. Mau tak mau Antoine ikut tersenyum saat mengangguk, mengiyakan permintaan Charlie.

Charlie memasuki ruangan perlahan. Gaun tidur mewah terselip indah dibalik jubah panjangnya yang menyapu lantai. Gerakan kain berenda itu begitu selaras dengan gerakan tubuhnya. Charlie memang pandai menarik perhatian siapa pun. Tinggi wanita itu bahkan tak sampai bagian atas dada Antoine, tapi dia cukup cantik dengan caranya sendiri.

Langkah ringan Charlie tertuju padanya lalu berdiri di belakang kursi kerjanya, memijit-mijit pundak Antoine yang memang serasa kaku sejak berita tentang Robert. “Kau serasa tegang,” bisik Charlie.

Antoine menggerakkan bahunya dan juga kepalanya ke kiri dan ke kanan. “Hanya kau yang tahu apa saja kebutuhanku,” desah Antoine. “Sebelah sini!” perintahnya sambil mengusap bagian belakang lehernya.

Charlie tertawa pelan lalu memijit bagian yang ditunjuk Antoine. “Aku mendengar suara mobilmu saat kau datang.” Ujarnya.

“Hm, Aku berpikir apa yang membuatmu tidak segera menghampiriku begitu lama,” protes Charlie. Antoine mendesah, rasa bersalah muncul dalam hati,”Maaf, Ma Femme. Hanya saja ada beberapa dokumen yang harus kuurus.”

“Apakah dokumen ini?” Charlie hampir saja menyentuh dokumen tentang Nick di atas meja jika saja Antoine tidak segera memegang dokumen itu dan meletakkan dalam laci. “Kau cukup tahu kalau aku tidak suka kau ikut campur pekerjaanku, Petite!” kata Antoine sambil mendelik.

Charlie cukup terkejut dengan kelakuan Antoine. Ada kemarahan yang tersembunyi dibalik pernyataan suaminya. Kemarahan disebabkan kekuatiran akan sesuatu. Charlie hanya mengangkat bahu dan tersenyum, seakan masa bodoh pada kemarahan Antoine.

“Sudah malam, Monsieur.  Kau tidak mau meninabobokan anakmu?” Charlie mulai merajuk sambil mengelus-elus perutnya. Antoine terkekeh, lalu meraih pinggang Charlie yang berdiri di sampingnya. Posisi kepalanya sejajar dengan perut Charlie karena duduk di kursi kerja, sehingga dia dengan leluasa menciumi perut Charlie. “Apa kau sudah cukup memberi makan anak ini?” tanyanya.

Charlie mengangguk sambil tersenyum. “Kau juga sudah meminum obatmu?” tanya Antoine lagi.

“Semuanya beres, Pak dokter,” jawab Charlie setengah bercanda. Antoine semakin keras tertawa, sejenak dia bisa melupakan ketegangan akibat Nick Rothman. Namun dia berubah serius lagi saat melihat wajah Charlie memberengut,”Jadi… apa kau masih tetap mau bekerja, atau tidur?”

“Hm, Oke… Aku rasa ini waktunya untuk tidur.” Desah Antoine sambil berdiri.

Keduanya  berjalan beriringan menyusuri koridor menuju kamar mereka. Charlie cukup menyenangkan dalam menghibur Antoine. Dengan tawa yang seolah membujuk, dia memenuhi perasaan Antoine dengan imajinasi pria yang sedang kasmaran, walau dalam hati, Antoine semakin takut kehilangan Charlie.

“Oh, Iya. Kenapa pasien Korea-mu itu bisa begitu histeris siang tadi?” pertanyaan Charlie di depan pintu masuk kamar itu cukup membuat Antoine tersentak. Antoine berusaha tenang dengan mengalihkan pembicaraan, “Sayang, kau tahu, kan… kalau aku tidak pernah membicarakan pekerjaan di rumah.”

Sekali lagi Charlie menggedikkan bahu,”Aku tahu, hanya saja… dia sangat aneh, waktu dia meronta, pandangan matanya….” Charlie cukup kesulitan mengungkapkan uneg-unegnya. “Pandangan matanya seolah memohon padaku.”

Antoine masih tetap berusaha mengalihkan perhatian,”Itu hanya perasaanmu saja.”

Antoine segera membuka pintu kamar agar Charlie tidak berargumen lagi. Dan terkejut karena suasana kamar yang tak seperti biasanya. Charlie mematikan semua lampu kamar, dan sebagai gantinya, beberapa lilin menyala terpasang di beberapa sudut kamar. Aroma menenangkan tercium di dalam kamar, yang berasal dari tungku pemanas essensial oil, yang mereka beli saat bertamasya di Bali. Yang dipilih oleh Charlie saat ini adalah aroma Opium.

“Wow! Kau menghabiskan persediaan lilin di rumah ini, Ma Femme,” canda Antoine sambil mengamati ruangan.

“Tapi kamar jadi berkesan romantis, kan?” bisik Charlie di telinga suaminya setelah menutup pintu di belakang mereka.

Antoine membalikkan tubuh, menghadap Charlie lalu melingkarkan kedua lengannya di sekitar pinggang Charlie bahkan menarik tubuh mungil itu agar menempel di dadanya. “Dalam rangka apakah ini, Manis?” tanya Antoine sambil menaikkan alisnya. Seperti biasa jika dalam posisi ini, tangan Charlie mengelus dadanya, lalu naik, mengendurkan ikatan dasinya yang mencekik dan melepaskan kancing kemejanya. “Dalam rangka melemaskan otot-otot suamiku yang menegang,” jawab Charlie.

“Kau terlalu serius menanggapi keteganganku,” kata Antoine sambil tertawa.

Charlie memberenggut sambil melepaskan diri dari pelukan Antoine. “Tentu saja aku serius jika menyangkut kesehatanmu. Kau terlalu cemas memikirkan kesehatan pasien-pasienmu, lalu siapa yang akan mencemaskan kesehatanmu kalau bukan istrimu.”

Jika sudah begitu, Antoine tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia terpaku saat Charlie mengulurkan lengannya, dia menyambut uluran tangan itu seolah terhipnotis pandangan mata istrinya. Charlie menariknya hingga mereka sampai di dekat ranjang lalu tangan Charlie yang bebas menepuk pinggir ranjang, “Duduklah, Monsieur.”

Antoine mengikuti kemauan Charlie. “Apakah yang akan kau lakukan pada pasienmu ini, Manis?”

Charlie berjalan menuju lemari pakaian dan mengeluarkan piyama Antoine. Wanita itu juga mengambil sebaskom air di kamar mandi, lalu duduk bersimpuh di bawah, di depan kaki Antoine. “Kau pernah mendengar tentang layanan Spa?” tanya Charlie sambil melepas salah satu sepatu dan kaos kaki yang dikenakan Antoine.

“Sayang, tidak perlu…,”

“Sst! Diamlah, biarkan aku berlaku seperti para istri di Bali untuk malam ini,” potong Charlie sambil melepaskan sepatu Antoine di kaki satunya, menggulung celana Antoine sampai setinggi lutut lalu meletakkan kedua kaki Antoine di rendaman air dalam baskom yang ternyata bersuhu hangat.

“Kau masih ingat kenangan kita waktu di Bali,” kata Antoine sambil mengelus puncak kepala Charlie yang sekarang ini membalurkan air hangat di sepanjang tulang kering kakinya. Charlie mengangguk,”Wanita-wanita di sana terlalu menghormati suaminya. Bagaimana? Merasa enakan?”

Antoine mengangguk.

“Biarkan seperti ini beberapa saat, garam mineral di dalamnya akan melemaskan otot kakimu yang kaku,” ujar Charlie saat menengadah, menatap wajah Antoine. Seketika itu Antoine tersenyum, membuat perasaan Charlie sedikit lega. Setidaknya Antoine merasa relaks setelah hari beratnya dengan pasien-pasien itu.

Charlie menumpukan tangannya di pangkuan Antoine lalu menyandarkan kepala di atasnya. “Aku mencintaimu, Antoine. Sangat mencintaimu.”

Bisikan itu serasa lirih. Namun cukup terdengar oleh Antoine karena suasana kamar yang hening. Antoine memegang dagu Charlie, lalu mengarahkan pandangan Charlie hingga menatap ke arahnya. Hingga kedua tangan kokoh itu menangkup pipi wajah Charlie yang mungil lalu Antoine membungkuk, mencium kening Charlie yang masih duduk bersimpuh itu dengan lembut dan penuh perasaan.

“Aku juga sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

Dalam hati, Antoine bersumpah, tidak akan melepaskan Charlie, apa pun yang terjadi.

—————————-

Siang ini, Nick Rothman harus menjalani prosedur dengan mesin pembaca memory untuk kesekian kali. Antoine sudah benar-benar kehilangan obyektifitas terhadap Nick. Ingin rasanya dia mengundurkan diri dari kelompok tim medis yang menangani Nick, namun rasanya hal itu tidak  mungkin. Bukankah dia yang membawa Nick dari Korea? Bukankah dokter Kagawa menyerahkan kesembuhan Nick padanya?

Antoine menatap tanpa antusias saat Nyonya Han mendorong kursi roda yang diduduki Nick, memasuki ruangannya. Sesaat dia menghela nafas. Mengusir kegalauan hati. Lalu mulai menempelkan kabel penghubung mesin di beberapa titik di kepala Nick.

“Can you call Miss Longbottom to come here?” pinta Antoine pada Nyonya Han. Suster gemuk itu mengangguk lalu keluar ruangan.

Sekali lagi Antoine menghela nafas lalu duduk di kursi kerjanya selaku dokter yang menghadapi pasien. “Oke, I will repeat my pervious question.”

“Tidak usah berpura-pura, dokter,” mesin itu sudah mulai menyuarakan pikiran Nick.

“What?” kedua alis Antoine bersatu, tidak tahu maksud perkataan Nick.

“Kau bisa bahasa Korea. Jadi bicara saja bahasa Korea, jangan membuatku pusing dengan bahasa yang kurang begitu kukuasai.”

Antoine memeriksa medical record Nick. Tanda-tanda vital Nick normal dari hasil pemeriksaan pagi ini. “Oke kalau begitu,” Antoine menyanggupi permintaan Nick.

“Anda benar-benar ingin menghilangkan memori tentang Charlotte Whitely?”

“Charlotte belum meninggal,” suara mesin itu begitu tegas. Begitu juga sorot mata Nick yang begitu tajam padanya.

“Nyonya Han bilang kalau Charlotte sudah meninggal,” sanggah Antoine.

“Kita sama-sama tahu siapa yang kita maksudkan,” pancing Nick. Bahkan dengan segala kelemahan yang dialami, Nick Rothman mampu membuat perasaan Antoine gusar.

“Maaf, saya tidak mengerti maksud Anda,” Antoine masih berusaha mengalihkan topic lalu berdiri untuk menempelkan stetoskop di dada Nick, mendengar denyut jantungnya.

“Dia sangat cantik, bukan?” tanya mesin itu, oh.. bukan… tanya Nick! Antoine menatap wajah Nick, tampak menjulang di depan Nick  yang masih duduk di kursi pesakitan.

“Aku bisa yakinkan kalau Charlotte memang cantik dan…,” Nick benar-benar memancing di air keruh. “Dia sangat ahli membuat pria terperangkap.”

Tangan Antoine terkepal menahan emosi. Setidaknya dia tidak menjelek-jelekkan Charlie. Itu yang dipikirkan Antoine dan dia tidak bisa terus larut dalam intervensi Nick.

“Kita di sini membicarakan keadaan Anda, bukan tentang Charlotte. Sekali lagi saya bertanya, Apakah anda benar-benar akan menghilangkan ingatan tentang Charlotte Whitely?”

Nick menyeringai licik. Antoine terlalu beku untuk diledakkan. Benar-benar karakter yang kuat. Antoine bukanlah Williams Bouwens yang lemah dan jantungan. Lalu Nick berpikir hal frontal yang mungkin bisa membuat Antoine benar-benar meledak.“Bagaimana dengan permainan lidahnya? Dia sangat hebat di situ dan aku…

“Brengsek!” Tangan kiri Antoine mencengkeram kerah leher Nick. Perkataan Nick benar-benar membuat Antoine muntab bahkan tangan kanan Antoine mengacungkan tinju tepat di muka Nick.

“Dokter d’ Varney!”

“Antoine!”

Nyonya Han dan Stacy yang memasuki ruangan sama-sama terkejut. Antoine hendak memukul pasiennya. Nick menyeringai penuh kemenangan karena berhasil menyulut kemarahan Antoine, suatu tanda kalau kecurigaannya benar, Charlie d’Varney adalah Charlotte.

Nick berbicara seolah-olah Charlie adalah pelacur. Yang dibicarakan adalah istrinya, Antoine merasakan kesabarannya sudah benar-benar habis.

Kedua wanita yang tidak tahu apa-apa itu menatap penuh tanya. Mereka hanya mampu menebak-nebak. Stacy berpikir apa yang menyebabkan seseorang yang begitu professional seperti Antoine bisa tersulut oleh kerana pasien. Nyonya Han semakin tak habis pikir, Nick yang kemaren histeris, sekarang berhadapan dengan tinju d’Varney yang siap melayang ke mukanya.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s