THE SECRET (Part 9)

Selalu menyenangkan melihat perkembangan embrio di rahim Charlie melalui mesin USG. Antoine terlihat antusias mendengarkan penjelasan dokter Rae tentang bayi mereka. Usia kandungan Charlie tengah jalan tujuh minggu dan perkembangannya begitu menakjubkan. Walaupun Antoine tahu apa yang terjadi pada embrio di waktu itu, Antoine tetap mendengarkan penjelasan dokter Rae selaku dokter kandungan yang dia percaya untuk menangani Charlie.

“The growth is very amazing, look at its tiny hand. You must take care your wife carefully, Antoine,” keterangan dokter Rae berakhir dengan nada mewanti-wanti. Antoine tampak senyum-senyum malu, apalagi waktu Charlie memandang wajahnya dengan alis bertaut.

“Your husband look so happy,” bisik dokter Rae di telinga Charlie. Giliran Charlie yang tersipu. Antoine terlalu menikmati perannya sebagai calon ayah, Charlie tahu itu dari sikap Antoine yang semakin protektif terhadapanya.

“I think his heart began to split into two chambers,” respon Antoine sambil mengamati layar monitor mesin ultrasound. Dokter Rae tertawa renyah, “You know it very well, friend!” katanya sambil menepuk-nepuk pundak Antoine.

“When can we know the sex?” tanya Charlie, hal itu memang membuatnya tidak sabar.

“I think we can know it at second trisemester,” jawab dokter Rae.

“Oh, It so long,” sesal Charlie. Antoine menepuk-nepuk lengan Charlie untuk lebih menenangkan,”Be patient, petite,” nasihatnya bijak.

“Oke, It is enough! Your baby growth well,” kata dokter Rae sambil menurunkan gaun Charlie.  Antoine segera membantu Charlie untuk bangkit. Dokter Rae kembali ke kursinya dan Antoine membimbing istrinya untuk duduk di kursi di depan meja dokter Rae.

“I think this is a boy!” oceh Charlie sambil mengusap-usap perutnya. Dokter berkernyit mendengarnya. “How can you be sure? Tanyanya.

“Feeling!” jawab Charlie sambil mengangguk mantap.

Antoine terkekeh pelan. Charlie terlalu terobsesi pada anak laki-laki. “Never mind, Rae. She alaways dream of a boy.”

“It’s oke,” hela dokter itu bijak, lalu menatap Charlie secara serius,”But if I viewed from the morning sickness, I guess it is a girl,” ucapan dokter Rae membuat Charlie putus asa.

Antoine yang tahu kesedihan di pelupuk mata istrinya mulai menghibur,”Sudahlah, Sayang. Laki atau perempuan, sama saja bagiku. yang penting dia sehat.” Charlie tersenyum mendengarnya, namun harapan Charlie tetap sama, dia yakin kalau sedang mengandung anak laki-laki.

Mungkin ini hanya masalah jenis kelamin, karena Antoine seorang pria, dia menyukai anak perempuan. Charlie masih ingat begitu antusiasnya Antoine menggoda keponakan-keponakannya yang perempuan dibanding yang laki-laki. Dan Charlie yakin kalau dia melahirkan anak laki-laki, minimal posisinya sebagai menantu di keluarga d’ Varney akan kuat, tak dipungkiri kalau jalur patriarkhi masih dipegang teguh keluarga ini, dan mengingat usianya yang sudah dibilang tidak muda lagi, rasanya tak mungkin mengandung lagi jika anak itu perempuan.

Tapi Antoine selalu membesarkan hatinya. Kalimat di depan dokter Rae tadi selalu Antoine ucapkan jika Charlie merasa resah. Sebenarnya Antoine lebih resah. Kehadiran Nick Rothman membuatnya resah, juga kenyataan bahwa Charlie satu-satunya wanita yang dia cintai dan anak di kandungan Charlie adalah bagai mimpi yang akhirnya terwujud.

“Hanya kalianlah satu-satunya keluargaku,” ucap Antoine  sambil menciumi perut Charlie. Antoine langsung mengantar Charlie pulang setelah cek up kandungan dan langsung menyuruh wanita itu berbaring di ranjang mereka karena tahu kecapekan yang mendera Charlie.

Charlie mengelus pipi Antoine, wajah Antoine tepat di depannya sekarang dan dia bisa melihat tatapan mata Antoine yang teduh,” Kau masih punya orang tua yang lengkap. Mereka juga keluargamu, Sayang.”

Antoine menghela nafas, kenyataan bahwa orang tuanya bercerai saat dia berusia dua tahun membuatnya kurang kasih sayang selama ini, ditambah kabar Chamille, Ibunya yang mengejar kekasihnya ke Paris, membuat masa kecil Antoine penuh dengan olokan teman sebayanya.

Antoine mendesah,”Aku tidak tahu apakah bisa menganggap mereka sebagai orang tua. Seorang Ayah yang lebih memilih tenggelam dalam bisnisnya di New York dan Ibu yang mengejar pria ke Paris. Mereka meninggalkanku bersama seorang nenek yang kolot di Montreal.”

“Tapi aku melihat kalau nenek sangat menyayangimu,” sanggah Charlie.

Antoine mengangguk, “Iya, hanya dia yang menyayangiku, sampai aku bertemu denganmu,” kata Antoine sambil mengecup kening istrinya. Mata Charlie memejam, menikmati ciuman penuh kasih sayang itu.

“Kau tidak akan melakukan itu, kan?” tanya Antoine. Tiba-tiba ketakutan menderanya.

“Melakukan apa?” Mata Charlie membuka lagi, lalu menyipit, penuh selidik pada pertanyaan Antoine.

“Meninggalkanku demi pria lain,” jawab Antoine. Charlie menghela nafas,”Aku bukan Chamille yang penuh percaya diri, malahan aku selalu takut kalau-kalau kau meninggalkanku.”

“Demi Tuhan, untuk apa aku melakukan itu?” Antoine terkekeh pelan. “Aku sangat mengharapkan anak ini. Anak ini pengikat di antara kita,” Antoine berkata sambil menyingkirkan bayangan buruknya tentang Nick Rothman. Sekali lagi dia mencium dan membenamkan kepalanya sejenak di perut Charlie.

Charlie tertawa melihat tingkah Antoine, tangannya terangkat mengelus rambut Antoine yang agak menggelitik di perutnya. “Banyak hal yang bisa membuatmu melakukan hal itu, Sayang. Misalnya saja godaan Miss Longbotom.”

“Ya, Tuhan. Kau masih saja mencurigainya?” Antoine sama sekali tidak bisa percaya.

 Charlie mengangguk mantap. Jika saja dia mau, dia bisa menyuruh Antoine untuk memecat Stacy dan mencari asisten lain, tapi entah kenapa Antoine sepertinya begitu terikat dengan gadis itu. Lagi pula, bukankah gadis itu sudah cukup mampu membuka praktek sendiri? Hal itu selalu memicu kecurigaan Charlie. Antoine terlalu tampan dengan tinggi 190 centimeter  dan proporsi tubuh yang ideal, dan Stacy mempunyai kecantikan kaukasia klasik yang membuat iri Charlie. Sang istri menjelaskan semua itu dengan enggan bahkan menyesalkan perbuatan Antoine yang menolak “Cinderella”

Antoine terkekeh kemudian,” Karena aku lebih memilih putri salju.”

Charlie jadi tertawa lepas. Lalu Charlie menyadari bahwa istirahat siang Antoine sudah habis. “Kau tidak kembali ke rumah sakit?” tanyanya.

“Tidak sebelum kau tertidur,” jawab Antoine. Charlie menghela nafas. Antoine mengangkat kepalanya dari perut Charlie lalu berbaring di sampingnya. Mau tak mau Charlie harus tidur, Antoine memeluknya, berbuat seolah-olah dia anak kecil yang perlu dininabobokan. Sikap ‘overprotektif’ Antoine semakin meningkat akhir-akhir ini. Charlie bisa merasakan itu tanpa tahu penyebabnya.

Charlie tidak tahu betapa takutnya Antoine saat ini. Takut pada perbuatan nekat Nick Rothman untuk membuat Charlie kembali padanya. Tidak dipungkiri, kenekatan pria itu yang memicu penyakit jantung Williams Bouwens hingga meninggal.

Ketika nafas Charlie mulai teratur karena terlelap, Antoine mulai teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saat Williams Bouwens meyakinkannya untuk melakukan kecurangan. Dengan yakinnya, pria itu bersikeras bahwa,”Lost memory is better than death, doctor.”

Antoine tak habis pikir waktu itu. Kenapa Williams begitu yakin kalau dia akan melakukan kemauannya. “You said that both of them have similar face.”

“Yes, Mr. Bouwens. It is known that both of them were victim of kidnapping case twenty seven years ago.”

“So…, It doesn’t matter to do the exchange. Charlotte losts her memory and Charlie is death. I tell you before, Antoine. Lost memory is better than the death. It’s better for Charlotte to live with Charlie’s memory.”

Antoine melakukan semuanya waktu itu. Menukar posisi Charlotte yang koma dengan kemungkinan hilang ingatan total setelah tersadar ke posisi Charlie yang sudah terbujur kaku.

Semuanya berjalan begitu cepat. Begitu cepatnya hingga pada akhirnya Antoine mendapati dirinya mulai jatuh cinta pada Charlotte Whitely yang tersadar tanpa mengingat asal-usulnya, dan Antoine yang berusaha membuatnya teringat kembali, tentu saja dengan ingatan sebagai Charlie Adams.

Kini wanita itu di sini, terbaring di sampingnya dengan nafas teratur, terlelap di dekapannya, seakan tak terusik jika badai menerpa. Dan sumpah mati, Antoine semakin takut kehilangan istrinya saat ini.

 

———-THE SECRET———-

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

 

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

 

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

 

Antoine berjalan agak berjingkat, seakan takut jika gerakannya menimbulkan gempa yang mebuat sang istri terbangun. Dia harus kembali ke rumah sakit sekarang. Sambil menutup pintu kamar secara pelan, dia membuka handphonenya yang dimatikan sejak mengantar Charlie ke dokter Rae tadi. Beberapa pesan sudah menghiasi batang digital itu.

Antoine menghela nafas. Ketika menyetir mobilnya saat ini, dia membayangkan betapa monoton hidupnya sebelum menikah. Hari-harinya hanya berkutat pada rumah, rumah sakit dan kampus. Semuanya berakhir sejak tiga bulan yang lalu. Charlie membuat hidupnya lebih berwarna. Di antara semua gelar akademik dan kebangsawanan itu, Antoine mendapati Charlie lebih dari itu semua.

Satu pesan lagi muncul di handphone, pasien-pasien itu betul-betul mengganggunya bahkan ada mahasiswa yang menagih janjinya, melakukan bimbingan tesis. Antoine mendapatkan titel profesor di umurnya yang baru menginjak tiga puluh tujuh tahun, dan dia sangat sibuk di University of Toronto sebagai tenaga pengajar.

Stacy Longbotom adalah salah satu mahasiswanya dulu. Kesamaan nasib membuat Antoine menempatkan Stacy sebagai asistennya, dan ada alasan yang membuat Antoine enggan melepaskan Stacy walau pun Stacy sudah menyelesaikan studynya. Tentu saja bukan alasan yang dibayangkan oleh Charlie tadi.

Antoine memasuki ruangan dengan tergesa. Beberapa pasien sudah menunggu dan Stacy menyodorkan beberapa medical record padanya.

“How about your wife?” tanya Stacy.

Antoine masih serius membaca salah satu medical record di depannya saat menjawab, “She is oke.”

‘Thank  to God!” Stacy mengucapkan itu penuh syukur. Antoine mengesampingkan medical record. Kecurigaan Charlie menari-nari di otaknya. Dengan perasaan menggelitik, dia bertanya,” Stacy, do you love me?”

Stacy terperangah seketika, “What?”

Antoine tertawa sambil mengibaskan tangannya. “It’s oke. It’s just stupid imagination.”

“Your wife imagine that?” tanya Stacy.

Antoine mengangkat bahu. “So…, What do you think?”

Stacy tampak enggan menjawab. Dia memainkan jari-jarinya, serasa gugup dengan perasaannya. “You are married man. I can’t take my heart of you now.”

Antoine merasa lega mendengarnya. “Great! I think you realize your position.”

Stacy mendengus, dia merasa kecurigaan Charlie padanya semakin parah akhir-akhir ini. Dia tidak mungkin menyalahkan wanita hamil yang emosinya berubah-ubah hanya karena hormonal itu. Hubungan Antoine dan Stacy memang cukup lama, namun Stacy tahu kalau pria itu hanya mencintai istrinya.

“I will go to Mr. Ransom’s room,” pamit Stacy kemudian. Antoine mengangkat mukanya dan memberikan senyum perpisahan lalu meneruskan membaca medical record sebelum melakukan visite.

Medical record yang dipegangnya kini milik Nick. Antoine menahan nafas saat melihatnya. Dia ingin tahu apa yang dipikirkan lelaki itu, karenanya dia memutar rekaman yang dihasilkan oleh mesin ajaibnya. Memang ajaib karena apa yang dipikirkan Nick terbaca seluruhnya, dan dia bisa tahu apa yang menjadi pikiran Nick.

“Korea, dia bisa berbahasa Korea?”

Alis Antoine bertaut saat rekaman menunjukkan suara itu.

“Dokter itu bisa bahasa Korea?”

Antoine semakin yakin kalau Nick mencurigai sesuatu. Dia mulai mengumpat dalam hati. Dia bukan Williams Bouwens yang lemah, tapi dia menyesal karena prosedur yang harus ditempuh Nick masih panjang, jika tidak, dia bisa melakukan semuanya dalam waktu singkat dan Charlie bersamanya selamanya. Pertama kali dalam hidupnya, dia merasa bagai terhukum yang mencuri kehidupan orang lain dan begitu ketakutan orang itu mengambil kembali.

Antoine berusaha menyingkirkan semua itu. Williams Bouwens-lah yang menginginkan semua ini. Bisa dibilang bahwa orang yang sudah mati itu yang bersalah. Perasaannya pada Charlie tidak salah, bahkan wanita itu membalas cintanya dan semuanya berjalan begitu cepat.

“She did suicide attemps twice before the accident,” tiba-tiba Antoine teringat lagi ucapan Williams beberapa tahun yang lalu. Seluruh syaraf Antoine seakan tertarik ke masa lalu, dimana Williams dengan kursi rodanya masih terlihat berkuasa. “Believe me, d’ Varney. Living be Charlie Adams is better for Charlotte.”

Antoine merasa kepalanya semakin berat. Nick Rothman bahkan terlihat tidak begitu perduli waktu itu. Namun siapa yang tahu kalau pria itu juga mempunyai rasa bersalah yang teramat dalam. Mungkinkah Nick tahu kalau Charlotte sempat mau bunuh diri sebelum kecelakaan berlangsung? Mungkinkah Nick berusaha rujuk karena sudah sadar namun semuanya terlambat? Antoine memijit-mijit keningnya. Jika itu memang yang seharusnya terjadi, haruskah dia menyerahkan Charlie pada Nick Rothman? Wanita yang tengah mengandung anaknya itu? Lalu apa yang akan dilakukannya setelah itu? Memulai kehidupan yang monoton lagi? Melihat anaknya mungkin berada dalam pengasuhan Nick Rothman? Tidak!

Antoine semakin galau. Hingga pintu diketuk dari luar dan dia harus mengesampingkan angan-angan melodramanya. Dia mematikan mesin perekam dan menyuruh masuk. Nyonya Han yang ternyata mengetuk pintu duduk di depannya setelah itu, merasa prihatin pada keadaan Nick Rothman.

“I… i…ehm.. I want…

Antoine mengangkat tangan. “Saya bisa bahasa Korea, bicara saja dalam bahasa Korea.”

Nyonya Han tampak lega mendengar hal itu, lalu melanjutkan bicaranya dalam bahasa Korea yang kental dan Antoine agak kesulitan mencernanya, “Maaf, saya bisa bahasa inggris secara pasif, saya bisa mendengar orang bicara bahasa Inggris dan mengerti maksudnya tapi agak sulit mengucapkannya sendiri.”

Antoine tersenyum ramah. Dia menyetujui bahwa beberapa mahasiswa pertukaran pelajar yang berasal dari Negara-negara di Asia kadang mengalami hal itu, jadi dia maklum.

“Saya hanya ingin menanyakan keadaan Tuan Rothman,” lanjut Nyonya Han.

“Dia baru menyelesaikan beberapa tes awal,” terang Antoine.

“Apakah prosesnya memang lama?”

“Saya rasa dokter Kagawa sudah menerangkannya pada anda, Nyonya,” kilah Antoine.

Nyonya Han tampak bimbang, “Iya, dokter. Hanya saja… apakah kehisterisan tadi memang bagian dari prosedur?” tanya suster gemuk itu.

“Jika maksud anda adalah efek samping dari prosedur, jawabannya tidak! Ini hanya prosedur awal untuk mengetahui segala memory yang ada di otak Nick. Sebenarnya saya bisa melakukan hipnotis dan Nick yang bicara sendiri, tapi mengingat ketidakmampuan Nick dalam berkomunikasi secara verbal, terpaksa mesin dan alat rumit itu diperlukan.”

“Lalu apa sebenarnya yang membuat Tuan Rothman sehisteris itu?” tanya Nyonya Han yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri.

Charlotte! Ingin rasanya Antoine meneriakkan jawaban itu namun dia hanya mengangkat bahu. Nyonya Han mendesah, seakan beban berat itu terangkat dengan helaan nafas, dia melanjutkan bicaranya, “Dokter Kagawa pasti sudah memberitahu anda perihal obsesinya pada Charlotte Whitely.”

“Iya,” Antoine mengangguk lemah.

“Sebuah obsesi yang parah, semua orang tahu kalau wanita itu sudah meninggal, dan semua orang baru tahu kalau dia telah menikahi wanita itu secara diam-diam.”

Ya, aku tahu itu, Antoine membatin. Seperti mereview kembali ingatan, itulah yang Antoine pikirkan saat Nyonya Han menerangkan tentang Nick.

“Dia tidak sendiri, saya pernah mendengar pria di Vietnam dan Amerika yang mengawetkan mayat istrinya dan tetap menidurkannya di kamar, tapi Tuan Rothman menganggap Charlotte masih hidup bahkan menuduh pria tak bersalah, Williams Bouwens memalsukan surat kematian Charlotte dan bersikeras membuktikan bahwa Charlie Bouwens, istri Williams adalah Charlotte hanya karena wajahnya mirip.”

“Kasus yang menarik,” hanya respon pendek yang diberikan Antoine.

“Tentu saja Tuan Rothman kalah, dan dia dipermalukan. Seharusnya dia sadar ada anak yang musti jadi tanggungannya tapi malah mabuk-mabukkan dan akhirnya kecelakaan itu terjadi.”

Anak Paoli Harris, Antoine tahu cerita itu dari Williams. Dia semakin yakin keterpukulan Charlie disebabkan hal itu dan semakin tidak rela kalau Charlie harus kembali pada Nick.

“Dia sebenarnya sudah bangkrut dan mungkin sudah mati jika tidak ada dermawan yang menolongnya,” Nyonya Han masih saja mengoceh. Tentang bangkrutnya Nick, Antoine tidak perduli yang dia pikirkan adalah mengenyahkan Charlotte dari otak Nick.

“Robert Cassidy yang mendanai penyembuhannya,”

Ucapan Nyonya Han membuat Antoine tersentak. Robert? Bagaimana mungkin? Apa yang dimaui pria itu? Antoine benar-benar tak habis pikir.

“Robert Cassidy?” kening Antoine tambah berkerut.

“Iya,” Nyonya Han mengangguk mantap.

Antoine semakin puyeng saat Nyonya Han memuji-muji Robert, “Tuan Cassidy benar-benar baik hati. Dia membantu Tuan Rothman padahal jelas-jelas Tuan Rothman yang membuat pamannya meninggal. Orang seperti dia benar-benar langka….”

Suara Nyonya Han seakan berdenging di pikiran Antoine. Robert adalah orang dibalik semua kekacauan ini. Bukankah sebaiknya Robert membiarkan saja Nick koma dan akhirnya mati. Ada apa sebenarnya dengan Robert? Lupakah pria itu pada penderitaan Charlie? Dan lupakah dia pada budi baik Charlie yang menyerahkan seluruh harta Bouwens padanya. Ataukah ini hukuman karena pernikahan mereka? Antoine semakin menyerah dengan semua teka-teki yang harus segera terjawab. Dan suara soprano Nyonya Han semakin mendesing, sore itu segalanya begitu membingungkan.

 

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s