The Secret (Part 8)

Before I am in long vacation, I will give you this present. Happy Reading!

Antoine d’ Varney sangat mengagumi istrinya. Dia tidak hanya memastikan segala hal berjalan sempurna bagi sang istri, tapi juga mencari tahu hal yang menarik perhatian istrinya, terutama tentang dirinya di benak sang istri. Seperti yang dilakukannya sekarang, tanpa sepengetahuan Charlie membuka buku hariannya. Mungkin ini adalah pelanggaran yang dilakukannya pada istrinya itu. Charlie tidak pernah tahu kalau Antoine bisa membaca huruf Halyu. Segala hal tentang Charlie selalu dipelajari oleh d’ Varney.

D Varney merasa tersanjung. Charlie menyebut-nyebut namanya di buku harian. Dan dia semakin bersemangat membaca huruf demi huruf yang tertulis di situ.

Ya Tuhan, aku mencintainya. Aku tidak tahu bagaimana bisa perasaan ini ada padaku. Seorang pasien seperti aku, jatuh cinta pada seseorang seperti d’ Varney. Mungkin dia akan menertawakanku jika mengetahui semua ini. Perasaan ini sungguh tidak pantas. Inginnya aku menganggap semua ini hanya angin lalu… namun tidak bisa. Apakah aku bisa memikat seseorang seperti d’ Varney sedangkan aku hanyalah salah satu pasiennya, pasien dengan ingatan buruk, yang harus selalu menghadapnya setiap tahun.

D Varney membuka beberapa halaman berikutnya. Tulisan di lemabr itu terlihat lebih riang, menggambarkan perasaan penulisnya.

Dia mencintaiku! Aku tidak percaya semua ini! Dia memperkenalkanku pada ibunya. Mengajariku berbahasa Perancis agar bisa berkomunikasi dengan Neneknya. Dia bilang neneknya adalah orang Perancis yang kolot, tidak mau belajar bahasa Inggris karena masih sakit hati dengan kekalahan Perancis atas Inggris di jaman Napoleon Bonaparte, dan aku sungguh tertawa mendengar penjelasannya, tapi sepertinya kebanyakan orang Perancis memang begitu. Dia terlihat semakin seksi saat bicara bahasa Perancis, aku tak pernah bisa lepas menatapnya.

D Varney tertawa membaca bagian itu. Rasa panas menjalar di sekitar wajahnya. Kalau saja Charlie tahu semua ini, mungkin keduanya sama-sama malu. Tapi d Varney tetap membuka halaman selanjutnya. Tertulis indah kebahagiaan Charlie menyambut pernikahan mereka, begitu tersanjungnya Charlie dengan segala perhatian yang diberikannya, menggambarkan keindahan pernikahan mereka dengan kata-kata puitis, serta hasrat selama perjalanan bulan madu mereka.

Angin besar tiba-tiba datang. Buku harian itu terlepas begitu saja dari tangannya. Angin menyerakkan satu persatu lembar-lembarnya ke segala arah. D Varney  mengejar lembaran-lembaran itu, mengumpulkannya satu persatu  dan menyusunnya kembali.  Untunglah Charlie begitu tertib mengatur buku hariannya, setiap lembar di beri nomor halaman dan tanggal, sehingga mudah d Varney menyusunnya kembali.

Namun kening d Varney berkerut sekarang. Ketika lembaran demi lembaran itu berubah warna menjadi kekuningan, seolah tertulis lebih lama dari sebelumnya. Dan tulisan di dalamnya sangat jauh berbeda dari yang tadi dibacanya.

Aku mencintainya. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ini bisa muncul setelah pertemuan demi pertemuan kami di lokasi syuting. Tapi apakah semua ini mungkin? Seseorang seperti dia, tidak mungkin terikat dengan seorang wanita untuk saat ini karena akan berakibat buruk bagi kariernya di masa depan, aku tahu itu. Tapi, aku juga tidak bisa menahan perasaan ini. Ketika di dekatnya, duniaku  seakan  tertarik padanya bagaikan magnet. Dan… saat ini, aku hanya bisa menikmati semua itu.

D Varney semakin terkejut mengetahui kelanjutan tulisan itu setelah melangkahi beberrapa lembar berikutnya,

Dia mencintaiku! Ya Tuhan, itu adalah hal yang sangat membuatku bahagia. Dia menyatakannya tanpa sungkan, bahkan berjanji untuk melamarku. Hal yang membahagiakan seorang wanita, adakah hal lain selain disunting pria yang dicintai dan mencintainya?

Sebuah pernyataan yang membuat dada d Varney bergemuruh.  Kemudian tibalah suatu kalimat yang membuat keringat dingin d Varney mengucur,

Kami menikah! Hanya dua orang saksi. Sebuah pernikahan rahasia. Texas yang penuh kenangan. Dan aku begitu bahagia. Sebuah surat yang sangat berharga walau pun hanya selembar saja. Aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia.

Dan sampailah D Varney pada lembar terakhir buku itu. Nada-nada kalimat didalamnya menggambarkan kesedihan yang teramat sangat.

Ini adalah kepedihanku. Kebahagiaan itu lenyap. Sekian lama aku menunggu, bahkan percaya kata-katanya untuk merahasiakan pernikahan kami. Bertahan tentang gossip demi gossip tentang dirinya, namun inilah akhirnya. Pada kenyataannya, dia begitu bahagia dengan hubungan yang baru. Aku menyusulnya ke Toronto, memaksanya mengakui pernikahan kami, namun yang terjadi adalah pertentangan di antara kami. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku buktikan? Selain selembar surat yang ditandatangani di suatu tempat yang jaraknya beribu-ribu mil dari Negara kami. Surat itu tidak begitu berharga baginya saat ini, karena dia bahagia dengan gadis itu dan aku harus selalu tampak tegar di antara kerapuhan hatiku. Di antara keping-keping separuh jiwaku saat ini. Aku tak bisa apa-apa lagi, selain melihat senyumnya yang mengembang bersama wanita itu. Dan surat itu… tak berharga lagi… aku tidak tahu…

Saat itulah bola mata d Varney bergerak bimbang. Dia yakin sekali telah menghancurkan buku harian Charlie yang lama tapi kenapa dia masih bisa membacanya? Angin itu pun datang lagi. Sekali lagi mencerai-beraikan lembaran-lembaran itu dan d’Varney harus mengumpulkannya kembali.

Sekarang… semuanya berubah lagi seperti awal mula yang dibacanya. Tentang cinta Charlie padanya, tentang kebahagian Charlie ketika diperkenalkan pada Ibunya, bahkan tentang kebahagiaan ketika mengetahui keberadaan bayi mereka yang akan lahir.

Namun semua itu membuat d Varney semakin gelisah, hingga terlihat sosok Williams Bouwens  muncul tiba-tiba, memberikan tatapan penuh amarah padanya. Dan Williams menunjuk padanya, berbicara dengan perkataan yang begitu tegas, “Percayalah, d Varney… Kau telah membawa ular pengganggu… di singgasanamu sendiri!

D Varney terbangun tiba-tiba dari tidurnya. Charlie yang tidur di sisinya juga ikut terbangun. Tangan lembut Charlie mengusap-usap punggungnya, menenangkannya yang masih tersenggal-senggal akibat mimpi aneh yang mengganggu tidurnya.

“Ada apa, Sayang?”

 

———-THE SECRET———-

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

 

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

 

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

Charlie masih memandangi Antoine dengan tatapan kawatir. Suaminya itu seakan masih shock dengan mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Charlie mengambil segelas air yang ada di meja kecil samping ranjang dan  menyodorkannya pada Antoine. Penuh perhatian menatap Antoine yang mulai meminumnya.

“Mimpi yang sangat buruk?” tanya Charlie. Antoine mengangguk sembari meletakkan gelas di meja sisi kirinya. “Sangat buruk,” kata Antoine sambil menatap Charlie.

“Hanya kembang tidur,” sanggah Charlie, lalu mengelus dada Antoine.”Jangan terlalu dipikirkan.”

Antoine mengangguk, masih tetap memandang teduh istrinya. Charlie tersenyum menenangkan, dia yakin ada dirinya di mimpi Antoine dan untuk lebih menenangkan, Charlie mencium pipi pria itu.

Antoine yang kaget mengusap-usap pipi. Charlie malah berbaring kembali sambil berucap,”Kau kelihatan tegang sepulang dari Korea.”

Antoine yang cukup tenang karena ciuman itu ikut berbaring, menghadap Charlie dengan menyangga tubuhnya di siku lengannya. “Benarkah? Bagian mana yang tegang?”canda Antoine. Charlie merajuk, “Tidak lucu.”

Antoine mencium pundak Charlie, memberikan bahasa tubuh kalau wanita itu begitu berarti baginya.

“Apa karena orang itu?” tanya Charlie tiba-tiba.

“Siapa?”

“Pasienmu dari Korea itu.”

“Nick Rothman?”

“Siapa lagi, Monseur? Apakah penyakitnya sangat berat?”

Antoine mengangguk. Sebenarnya bukan penyakit Nick yang berat tapi keberadaannya yang membuat kehidupan Antoine bertambah berat nantinya.

“Aku tidak suka orang itu,” kata Charlie lagi.

“Siapa?”

“Nick Rothman, ada aura aneh di matanya,” Charlie menjelaskan. Antoine mencium leher Charlie lalu membenamkan muka di lekukan lehernya, menghirup parfum di belakang telinganya. “Orang hamil tidak boleh berpikiran negatif tentang orang lain,” Antoine mengelus perut Charlie, memperingatkan pada keadaannya saat ini.

“Oh, terima kasih, Sayang. Kau sudah mengingatkanku.”

Antoine tersenyum di tengkuk Charlie.

“Tapi benar, kan? Buktinya kau tidak tidur tenang setelah kehadirannya. Bahkan setelah bercinta denganku.”

Antoine terkekeh mendengar semua itu. “Sudahlah, Sayang. Masih dini hari. Tidur lagi, ya?” desah Antoine sambil memejamkan mata. Charlie mengangguk dan sedetik kemudian, Antoine bisa mendengar desahan halus pernafasan Charlie. Antoine membuka mata karenanya, mengamati Charlie yang tertidur tenang di pelukannya. Dia tidak akan tidur lagi. Dia ingin mengamati wajah tenang yang sedang lelap itu. Wajah seorang wanita yang sangat dicintainya. Yang telah dipilihnya sebagai teman hidup dalam suka dan duka.

Aku mencintaimu, Charlotte Whitely. Siapa pun dirimu, aku mencintaimu. Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan yang selama ini seakan tak berpihak padamu. Aku yakin, aku bisa.

Antoine menyentuh kening Charlie, menuruni setiap lekuk wajahnya. Meraba lembut lembah pundaknya, lengannya yang seputih pualam lalu berakhir ke perutnya.

Anak kita, Sayang. Kalau kau ingat semuanya, tentu kau bisa membandingkan kebahagiaan ini lebih dari kehidupanmu yang lalu. Aku tahu dan yakin Williams Bouwens tidak mungkin menyentuhmu. Kau memperlihatkan itu saat malam pertama kita. Kau berlaku seperti perawan yang tak pernah tersentuh. Ya, Tuhan… Kau bahkan lupa sensasi itu. Semua pasti begitu lama bagimu, Sayang.

Semua pasti berat untukmu. Menganggap seseorang itu suamimu dan kenyataan pahit sebenarnya dibalik semua itu, kalau kau dikhianati pria yang kau cintai. Tidak! Tidak, Sayang. Aku pastikan kalau aku lebih baik darinya. Aku lebih baik dari Nick Rothman.

Mata Antoine memanas, dia begitu mellow akhir-akhir ini. Apalagi jika menyangkut Charlie Adams, Charlie Bouwens, atau siapa pun wanita itu, karena baginya wanita itu adalah Charlie d Varney, istrinya. Dia tidak tidur malam ini. Benar-benar melewati pagi hari itu dengan memandangi istrinya.

Charlie bergerak, melepaskan pelukan Antoine lalu berlari ke kamar mandi. Antoine menghela nafas. Terdengar suara Charlie muntah-muntah di kamar mandi, lalu suara air yang mengguyur toilet. Antoine bangkit dari ranjang, memakai kembali celananya yang ditemukannya di pojok kamar itu. Dia heran bagaimana celana itu bisa terlempar begitu jauh.

Suara orang muntah terdengar lagi. Antoine berjalan ke almari pakaian, mengambil salah satu kimono istrinya lalu menuju kamar mandi. Charlie lari dalam keadaan telanjang tadi, dan itu membuat Antoine sedikit kawatir.

“Jangan lari seperti itu lagi,” kata Antoine sambil menyelimutkan kimono di punggung Charlie. Wanita itu duduk bersimpuh menghadapi lubang toilet, “Morningsickness ini benar-benar menyiksa,” keluhnya, lalu memakai kimono yang sudah tersampir dipunggungnya.

Antoine mengelus punggung Charlie, “Aku akan menyediakan bejana di samping ranjang, jadi kau tidak perlu  ke kamar mandi jika mual.”

Perkataan Antoine membuat gelombang mual di rahim Charlie melanda lagi. Makan malam habis sudah tertumpah di toilet. “Kau membuatku muntah lagi dengan berkata seperti itu. Jorok sekali! Kamar kita pasti akan sangat bau.”

“Aku tidak perduli,” Antoine ikut berjongkok di sisi Charlie. “Aku yang akan membersihkannya. Apa pun itu, aku yang akan membereskannya. Kau lari begitu kencang tadi, bagaimana kalau kau jatuh? Itu yang lebih aku takutkan.”

Charlie tersenyum,”Jangan berpikir yang tidak-tidak, Sayang.”

Antoine menempelkan telunjuk di bibir Charlie, “Jangan membantah lagi. Ini perintah!”

Tiba-tiba kepala Charlie merasa pusing. Dia merasa ada yang pernah mengatakan kalimat itu sebelumnya, ‘Ini perintah.’ Pandangan Charlie sedikit mengabur, Antoine tahu itu dari gerak matanya. Mulai panik, bahkan menepuk-nepuk pipi Charlie.

“Oh, Antoine, aku pusing sekali. Aku tidak bisa ke dokter pagi ini,” desah Charlie sambil menahan sakit.

“Tapi kau sudah janji dengan dokter Rae, Ma femme,” sanggah Antoine.

“Bahkan menyangga kepala saja aku tak sanggup, Antoine. Kita ke sana jam makan siang saja.”

“Terserah katamu saja,” kata Antoine sambil mengangkat tubuh Charlie menuju ranjang lagi. Membaringkan tubuh lemah itu kembali ke ranjang.

“Kau memperlakukanku seperti kaca yang rapuh,” keluh Charlie.

“Kau adalah kaca rapuh bagiku,” kilah Antoine lalu menepuk-nepuk perut istrinya,”Tidurlah, Sayang. Lawan rasa mualmu dengan pejaman mata. Terimalah kalau anak ini sedikit bandel, menyiksamu dengan rasa mual.”

Charlie tertawa,”Kau mengatai anakmu ‘bandel’, Monseour?”

“Sstt! Jangan mengoceh lagi,” cegah Antoine. Mau tak mau Charlie harus tidur lagi, padahal matahari sudah tinggi dan waktunya bagi Antoine bekerja sekarang.

—————————————-

Nick Rothman menjalani prosedur awal dengan mesin-mesin yang dihubungkan ke kepalanya dengan kabel yang tertempel di beberapa titik. Antoine sedikit banyak telah mampu menangkap beberapa kenangan dari otak Nick. Antoine menahan emosi saat memory itu berkaitan dengan Charlotte Whitely, dan dia harus bertindak professional, berlagak tidak tahu apa pun soal itu. Bahkan di saat sekarang, saat dia berhadapan dengan Nick.

“Mr Rothman, I’ve gotten some memory at the procedur, so… this is the question, you can think the answer and then the machine will said what you think. Understand?”

Mesin itu mengatakan, “Yes.” Seperti yang dipikirkan Nick.

“From that I know, you will remove memory about Charlotte Whitely. Are you sure about it?”

Nick mengangguk.

“You know that the procedur so difficult and it can lose your memory totally. Do you ready with the side effect?”

“Yes, I am ready,” suara dari mesin itu lagi.

“Sayang, aku membawakanmu makan siang!” Charlie tiba-tiba memasuki ruangan itu, membuat Antoine dan Nick terkejut. Stacy yang berjaga-jaga diluar pun ikut-ikutan masuk, minta maaf karena tidak berhasil mencegah Charlie memasuki ruangan.

“It’s okey, Ms. Longbottom,” Antoine berkata lalu mengibaskan tangannya, mengusir Stacy.

“Kau lupa janjimu mengantarku ke tempat dokter Rae,” kata Charlie setelah Stacy menutup pintu. Mata Nick mengkernyit mendengar suara Charlie. “Korea, dia bisa berbahasa Korea?” batinnya.

“Aku membawakanmu sup kimchi untuk makan siang, jadi kita bisa memakannya sama-sama sebelum ke tempat dokter Rae,”kata Charlie sambil menggerak-gerakkan rantang makanan yang dibawanya.

Antoine berdiri kaku di tempatnya. Membuat Charlie merasa aneh dengan sikapnya. “Ada apa, sih?” tanya Charlie sambil bergeser dari tempatnya berdiri dan terlihat Nick Rothman ternyata juga di ruangan itu. “Oh, kau bersama pasienmu, rupanya.”

Antoine tersenyum. “Tidak apa, Sayang. Kau benar, ini jam makan siang. Aku rasa Tuan Rothman juga harus makan sekarang.”

Kening Nick semakin berkerut, “Dokter itu bisa bahasa Korean?” sekali lagi dia membatin.

Antoine membuka pintu ruangan dan mempersilakan Nyonya Han yang sejak tadi menunggu di depan pintu untuk masuk,”Take Mr. Rothman to his room. It time for him to lunch, the procedur will continue tomorrow morning and this afternoon, he will be at fisioteraphy department.”

Nyonya Han mengangguk. Antoine membebaskan kepala Nick dari kabel, lalu kursi roda yang menopang tubuh Nick didorong suster gemuk itu keluar dari ruangan Antoine.

Mata Nick masih menyiratkan kecurigaan, bahkan saat kursi roda lamat-lamat berjalan di lorong rumah sakit.

“Mungkinkah! Mungkinkah ini?” Bola mata Nick berputar ke segala arah.

Kecelakaan itu! Charlotte tidak mati! Williams Bouwens memalsukan surat kematian! Dan Charlotte… Charlotte juga mengalami cuci otak! Charlotte! Wanita itu Charlotte! Dia Charlotte!

Nick meronta, berniat bangkit dari kursi roda. Lupa kalau kakinya masih lumpuh akibat koma yang panjang. Dia tersungkur. Suster Han terlihat panic. Nick merayap dengan tangannya, berbalik arah ke pintu ruangan Antoine yang tertutup. Dia ingin meneriakkan nama Charlotte tapi yang ada hanya bunyi seperti orang tuna wicara.

“Aaaaa….!” Sekali lagi teriakan Nick menggema di lorong rumah sakit. Nyonya Han semakin panic. Suster-suster lain yang ada di situ membantu Nyonya Han untuk menanganinya, tapi Nick seperti orang kesurupan saja.

“Charlotte! Aku mohon keluar!” itulah sebenarnya yang diteriakkannya tapi dari mulutnya hanya berucap huruf A yang panjang.

“Dokter d Varney!” Suster Han terpaksa memanggil Antoine lagi. Antoine yang baru saja menikmati masakan istrinya satu suapan terpaksa keluar ruangan, disusul Charlie yang juga mengikutinya.

“Ada apa?” tanya Charlie saat  Antoine menangani Nick yang meronta. Nick yang tahu kehadiran Charlie semakin meronta. Antoine menyadari pandangan mata Nick terarah pada Charlie.

“Masuk ke ruanganku, Ma Femme!” perintah Antoine pada Charlie. Nick masih berteriak-teriak tak jelas.

“Tapi… .”

Antoine mendekati Charlie dan berbisik di telinganya. “Ini tidak ada hubungannya denganmu. Aku mohon masuklah, jaga kandunganmu. Aku tidak mau hal ini menjadi pikiran bagimu.”

Charlie menatap mata Antoine yang bersungguh-sungguh, lalu melangkah pelan memasuki ruangan, menuruti perintah suaminya. Antoine mendekati Nick lagi.

“Give him Valium!” perintahnya pada salah seorang perawat di sana.

Nick Rothman terbius setelah suntikan itu bekerja. Antoine menuliskan obat yang diberikan pada Nick Rothman di medical record lalu memerintah pada suster Han.”Take him to his room. Let him sleep for a while.”

Suster Han mengangguk. Perawat yang lain mengangkut Nick dengan belakar. Antoine mengamati Nick yang menghilang di tikungan dengan dahi berkerut, lalu berbalik ke arah pintu ruangannya yang tertutup. Pandangan Nick Rothman nyata-nyata tertuju pada Charlie. Bahkan posisi tubuh pria itu merangkak pada Charlie, bahkan mungkin sebenarnya Nick meneriakkan nama Charlie. Antoine berpikir keras. Nick Rothman telah mencurigai sesuatu. Antoine yakin itu.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s