LIFE FOR THE PAST (Hati-hati dengan Ucapanmu, Playboy! Part 1)

Hati-hati dengan Ucapanmu, Playboy!

Part 1

Pikiran Sunny kalut. Dia merasa butuh pelampiasan. Dibelokkannya mobilnya di sebuah kafe. Dia memasuki kafe, memesan minuman beralkohol dan segera menegaknya. Rasa terbakar menjalar di tenggorokan. Tak puas dengan satu gelas, dia memesan lagi begitu seterusnya hingga teler.

Kevin yang bertugas di kafe itu, merasa tak asing dengan wajah Sunny. Dia heran wanita elit seperti Sunny bisa kacau seperti itu. Cein tiba-tiba muncul. Dia menepuk pundak Kevin, “Meleng aja.”

 “Ngapain kamu ke sini?”kata Kevin sembari membersihkan meja yang sudah ditinggalkan oleh pelanggan.

“Ada janji sama orang yang mau beli koleksi perangkoku,” jawab Cein. Kevin masih saja memandang ke arah Sunny.

“Lihat apa, sih?” Cein penasaran.

“Itu Sunny Natalia, kan?” tunjuk Kevin. Cein menuruti jari telunjuknya.

Benar, itu Sunny.

 “Sepertinya dia sedang kalut,” sambung Kevin.

Cein mendekati Sunny yang kini menelungkupkan kepalanya di meja bar. Wanita itu sudah mabuk berat. Dia bicara ngacau, dengan mulut berbau alkohol. “Halo, anak tingkat satu,” sapa Sunny dengan santai.

Cein terpana. Inikah Sunny Natalia yang hebat itu? Kini tepat di depannya dengan muka mupeng dan sangat jatuh,”Anda mabuk, Sunny,” kata Cein.

“Mabuk?” Sunny terbahak.”Aku tidak mabuk, sayang.”

Sunny menggebrak meja. Tamu kafe yang lain serempak menoleh ke arahnya. Sunny mencoba berdiri, sempoyongan, lalu mencengkeram krah Tshirt Cein, “Kau sangat tampan, sayang. Pasti banyak cewek yang naksir padamu.”

Sunny tertawa lagi. Dia melepaskan krah baju Cein.”Hati-hati dengan ucapanmu, playboy. Jangan sampe kau ungkapkan cinta pada cewek yang tidak benar-benar kau sukai. Karena apa?”

Sunny mencengkram krah baju Cein lagi.”Karena kau hanya akan membuat cewek itu menderita selamanya…. Selamanya!”

Sunny menangis. Cein segera tahu duduk persoalannya. Sunny menjatuhkan diri di dadanya. Dia tergugu. Cein berusaha menenangkan dengan mengelus-elus punggung Sunny. Tiba-tiba Sunny berteriak. Dia berlari ke panggung. Mengaktifkan pengeras suara dan mulai menyanyi.

“Ayo bernyanyi! Kau hancurkan hatiku. Hancurkan lagi. Kauhancurkan hatiku tuk melihatmu….”

Dia bernyanyi dengan suara sumbang dan akhirnya jatuh di lantai. Kevin dan Cein segera membopongnya keluar kafe. Di pelataran parkir, Sunny berusaha berdiri. Dia lalu berjalan ke arah mobil dengan gontai.

“sepertinya dia butuh orang untuk mengendarai mobil,” Cein berkata pada Kevin.

“Kau yakin mau mengantarnya pulang?”

Cein mengangguk.

“Tapi kamu tidak tahu alamat rumahnya.”

“Orang seperti dia pasti punya banyak kartu nama di tasnya.”

Cein segera mengejar Sunny yang masih berusaha mendekati mobilnya. Dia berusaha memapah Sunny. Sunny menolak dan mendorong tubuh Cein. Cein pantang menyerah. Dia tetap berusaha menolong Sunny. Tiba-tiba Sunny merasa perutnya mual. Sunny pun muntah-muntah.

“Anda benar-benar butuh pertolongan, Sun!”

Cein memasukkan Sunny ke mobil dengan paksa. Sebelum menghidupkan mobil, dia mencari kartu nama di tas Sunny. Benar, kan? Cewek seperti dia pasti tak bisa pergi tanpa kartu nama.

Cein segera memulangkan Sunny. Dilihatnya wanita itu masih saja meracau. Kira-kira dia patah hati dengan siapa,ya? Bodoh benar pria yang membuatnya patah hati.

Cein masih mengemudikan mobil Sunny. Dia ingat baru tadi siang dia mengelus-elus mobil ini. Dan sekarang, mobil ini sudah dia sopiri. Dan Sunny, idolanya itu benar-benar disampingnya. Begitu lemah, begitu pasrah. Dia cantik.

……………………………………….

Sunny membuka mata saat mentari mulai meninggi. Dia berusaha bangkit. Kepalanya terasa berat. Seakan ada yang membunyikan gong tepat di telinganya. Dia turun dari tempat tidur lalu menuju toilet, mencuci muka dan memandang wajahnya di cermin. Aneh… Siapa yang membawaku ke rumah?

Hal terakhir yang diingatnya adalah saat dia minum-minum di kafe. Dia memejamkan mata. Memijat-mijat lehernya yang begitu penat. Mamanya mengetuk kamar mandi,”Sudah bangun, Sun?”

Sunny keluar dan duduk di tempat tidur. Mama Sunny menyodorkan secangkir teh hangat yang sudah dibawanya.

“Ma, siapa yang membawaku pulang ke rumah?” tanya Sunny sembari menerima teh yang disodorkan mamanya. Mama duduk di sampingnya.

”Namanya Cein. Dia membawamu dengan mobil kita. Papamu akhirnya memanggilkan taksi. Kasihan kalau dia pulang jalan kaki.”

Sunny meneguk teh. Rasa hangat menjalar di kerongkongan. Tiba-tiba Sunny teringat sesuatu. Dia mencari ke sekeliling kamar dan menemukan tas yang dibawanya semalam tergeletak di sofa. Dia mengecek isi tas dan lega karena isinya masih utuh. Jujur juga, tuh anak…

“Ada yang hilang, Sun?” tanya Mama.

“Tidak, Ma.”

“Sepertinya anaknya jujur, Sun. Dia bahkan tidak menerima upah yang diberikan Papamu. Makanya Papamu mencarikan dia taksi sebagai ungkapan terima kasih.”

“Ya sudah, Mama keluar dulu,ya.”

Sunny terduduk di sofa. Dia membayangkan betapa konyolnya dia di depan Cein semalam. Dia bahkan tidak ingat apa yang diucapkan pada Cein. Siang kemaren aku masih memberi kuliah perdana dan semalam, salah satu dari mahasiswa itu melihatku dalam keadaan kacau. Cein pasti menganggapku perempuan munafik.

Sunny masuk ke kamar mandi. Dia berdiri di bawah sower dan menghidupkannya. Air yang keluar berjatuhan tepat di kepalanya. Dia berharap rasa pusing segera hilang. Persetan dengan apa yang Cein pikirkan! Persetan dengan semuanya. Kenapa setiap saat semua harus sempurna?  Sunny terduduk. Air masih saja mengguyur badannya. Dan dia masih saja menyumpah-nyumpah.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s