THE SECRET (part 7)

Bisa dipastikan bahwa secara tehnis, metode yang akan diterapkan pada Nick Rothman tidak bisa dilaksanakan di Korea.  Peralatan dan sumber daya manusianya kurang memadai. Jika saja yang dilakukan adalah pencucian otak secara total dan memberikan identitas baru pada Nick Rothman, mungkin sangat mudah bagi Antoine, tapi kasus Nick lain. Hanya sebagian ingatan yang harus terhapus dan itu tentang Charlotte Whitely.

Masalah kedua adalah keterbatasan komunikasi antara pasien dan dokter, Antoine perlu menelusuri lebih lanjut seluruh memory otak Nick sebagai jaga-jaga jika terjadi hilang ingatan secara total. Di Toronto, tepatnya di rumah sakit miliknya, ada alat yang mampu mendeteksi hal itu tanpa harus melalui komunikasi verbal. Alat yang lebih mengutamakan gelombang ultrasound yang jika dihubungkan dengan kepala pasien, monitornya mampu memberikan titik demi titik kenangan dari otak dan memetakannya menjadi folder-folder.

Mereka mengandarai pesawat pribadi dari Incheon ke Toronto City Centre Airport, bandara yang melayani penerbangan pesawat pribadi. Hal ini sempat membuat Antoine heran, setahunya hanya orang-orang tertentu di Korea yang mempunyai akses perjalanan udara pribadi semewah itu, tapi Antoine akhirnya lebih mengabaikan. Sementara Nick Rothman dan dua perawat pribadinya di bagian sayap kanan pesawat, Antoine menikmati bacaan yang dia temukan di samping kursi.

Thanks, God! Dia bisa menemukan majalah dengan tulisan alphabet setelah bergumul dengan media-media local Korea yang berhuruf Halyu. Antoine mampu membaca huruf Halyu, bahkan huruf Kanji saat Kagawa dulu mengajarkan padanya. Namun jika harus berlama-lama membaca huruf njlimet itu, bisa-bisa otaknya seperti Nick Rothman sekarang, konslet!

Keheranannya semakin bertambah karena majalah itu edisi terbaru. Matanya membelalak saat salah satu postingan terbaca di  majalah itu, tentang pesta yang diadakan kaum Jetset Kanada di CN Tower dan bintang baru di pesta itu. Antoine menahan nafas saat foto istrinya terpampang di sana, tampak cantik dengan dress selutut berwarna biru toscha, berdansa dengan seorang pria yang Antoine kenal dengan image buruk. Antoine sampai pada titik kesimpulan bahwa istrinya benar-benar menjadi bintang baru di pesta. Mereka memuji-muji kesopanan, keramahan bahkan kecantikannya yang tentu saja membuat Antoine geram. Dia cemburu, hal yang membuat Antoine mengutuki dirinya sendiri karena harus mulai terbiasa dengan keadaan ini. Menikahi wanita secantik itu, yang bahkan kehamilan pun tak mampu membuyarkan keelokannya. Bersiaplah dengan hati yang selalu tergerus, Antoine.

Tak kuat dengan bayangan itu, Antoine menutup majalah dan mencoba memejamkan mata. Tidur ayam yang tidak membuahkan hasil karena selama perjalanan, kegelisahan semakin kentara dari gerakan tubuhnya.

Nick masih berkutat dengan buku hariannya sejak masuk pesawat tadi. Kebiasaan barunya setelah sadar dari koma, tapi dia selalu membawa dua buku tulis, buku harian untuk menuliskan uneg-unegnya dan satu buku lain untuk menuliskan hal yang ingin dia katakan mengingat ketidakmampuannya berbicara. Dia tak sabar untuk sampai di Toronto, dia ingin menghilangkan obsesinya walau pun jauh di lubuk hati, dia masih yakin Charlotte masih hidup. Dan Nick semakin girang saat pesawat akhirnya sampai di Toronto City Centre Airport.

Kedua perawat pribadi Nick dengan cekatan membopongnya menuruni tangga pesawat untuk didudukan di kursi roda. Ambulance sudah menunggu mereka di depan lobi bandara. Secara fisik, tubuh Nick tampak sangat kurus, dengan mata cekung dan pipi yang kempot. Apalah yang bisa diharapkan dari seorang pria yang koma selama setahun? Asupan  gizi tentu hanya di dapat dari infuse atau parenteral nutrition. Jika mau jujur, Nick Rothman yang tampan dan dipuja banyak wanita itu sudah tidak ada lagi.

Mata cekung Nick Rothman tiba-tiba memicing saat rombongan kecil itu sampai di lobi bandara. Seorang wanita dengan blaser putih selutut dan rambut dikucir ekor kuda melambai padanya dari jarak beberapa kaki. « Charlotte ? » batin Nick meneriakkan nama itu. Wanita itu masih melambai padanya, sontak tangan Nick mengucek-ucek mata, tak percaya dengan kejadian itu. Namun semua benar adanya, Charlotte ada di sana, melambai dengan penuh kebahagiaan bahkan berlari ke arahnya.

“Tidak mungkin, ini semua tidak mungkin,” batin Nick di antara hatinya yang gembira. Langkah kaki yang indah itu semakin mendekat, “Charlotte, cara berlarimu pun tidak berubah,” ingin rasanya Nick berteriak kencang, namun keterbatasan hanya membuat Nick menelan teriakan itu.

Bukan, ternyata wanita itu tidak lari padanya, tapi pada orang di belakangnya. Nick menoleh.  Nyonya Han, salah satu perawat pribadinya membalikkan kursi roda sehingga Nick bisa melihat wanita itu menubruk Antoine d Varney. Pria Kanada keturunan Perancis itu memeluknya, memutar-mutarkan tubuhnya sebentar, membuatnya berteriak-teriak senang dan akhirnya pemandangan indah bagi semua orang terpampang. Mereka berciuman tanpa memperdulikan kondisi lobi yang ramai, dan Nick menyaksikan itu dengan hati yang tersayat dan penuh tanya.

Wanita itu masih bergelanyut di dada Antoine, dan memulai percakapan berbahasa Perancis yang tidak dimengerti oleh Nick.

“Je t’aime ma chère,” ucap Antoine, dia tambah jatuh cinta pada istrinya saat ini. Wanita itu tersipu, menunduk sementara tangannya mempermainkan dasi yang dikenakan suaminya yang tampan. Dia sangat merindukan Antoine dan ingin tahu apakah Antoine juga merindukannya,” Vous ne me manqué pas, Beau?”

Antoine mengangguk, lalu mencolek hidung mungil istrinya,”Et j’aime ton petit nez,” katanya. Hidung mungil yang sangat disukai Antoine. Sang istri terlihat sangsi, hidung itu tidak termasuk mancung bagi orang Asia, dan dia lebih menyukai hidung suaminya karena itu dia bertanya ‘benarkah’ dengan masih berbahasa Perancis,” C’est vrai?”

“Croyez-moi, Madame,” Antoine meyakinkannya, bahkan memujinya sebagai wanita agung, membuatnya melayang sampai di langit lapis ke tujuh.

Sejenak mereka terlena dengan bujuk rayu masing-masing. Hingga sang istri mulai menyadari tiga pasang mata yang memperhatikan mereka, dan hal yang paling kontras yang menarik perhatian adalah keadaan Nick di kursi roda. “Qui est-l’homme?” dia menanyakan pria berkursi roda itu sambil menunjuk.

“Le patient,” Antoine menjawab kalau Nick adalah pasiennya.

“Coréennes?” tanya istrinya lagi.

“Oui,” Antoine membenarkan tebakan istrinya, bahwa Nick orang Korea.

Wanita itu bersorak, dia sama sekali belum pernah bertemu dengan orang sebangsa dengan Ibunya, “Je n’ai jamais rencontré quelqu’un qui meme son compatriot comme ma mere…..”

Lalu mendekati Nick Rothman, membungkuk sebentar dan mengulurkan tangan,” Heureux de faire votre connaissance,  Monsieur …. .”

(Senang bertemu denganmu, tuan….)

Kalimatnya terhenti saat dia mulai kebingungan memanggil nama Nick karena Antoine belum memperkenalkan mereka.  sementara kening Nick semakin berkerut, bingung dengan ucapan wanita yang diyakini sebagai Charlotte itu.

Antoine mendekat dan merangkul istrinya yang jadi tampak lebih mungil jika dibandingkan dirinya yang menjulang lalu menjelaskan tentang Nick Rothman dan masalah kejiwaan Nick yang membuatnya tidak bisa bicara. Istrinya jadi heran, biasanya orang Korea mempunyai nama dengan marga di depan, namun Nick mempunyai nama barat.

“A-t-Il a un nom occidental?”

(Dia mempunyai nama barat ?)

Antoine tersenyum.

“Il est acteurs internationaux donc le nom ouest est très important pour lui.”

(Dia aktor yang go internasional, jadi nama barat sangatlah penting baginya.)

Lalu berbisik pada istrinya kalau Nick pasti kebingungan mencerna ucapannya disebabkan Nick tidak bisa berbahasa Perancis. Seakan menyadari kekhilafannya, akhirnya wanita itu berkata,” I also have a western name, my name is Charlie D Varney. Pleased to meet you, Mr. Rothman.”

Nick Rothman pun melongo, tidak tahu lagi lakon apa yang akan dihadapinya. Dia bahkan tidak membalas jabat tangan Charlie d Varney.

“She is my wife, Mr. Rothman,” kata Antoine dengan senyum ramah, dan Nick masih termangu. Charlie terpaksa menarik tangannya kembali.

Antoine masih tersenyum saat memerintah pada Nyonya Han, “You can take Mr. Rothman to hospital by ambulance. I will go there latter.”

Nyonya Han mengangguk, lalu mendorong kursi roda Nick dengan bantuan rekan kerjanya. Pasangan suami istri itu berpelukan kembali. Sebelum kursi itu berbalik, Nick sempat melihat kalau Charlie-lah yang memulai pelukan. Dan kini… saat kursi roda membelakangi pasutri itu sepenuhnya, Nick masih bisa menyaksikan dengan hati perih, bayangan yang terpantul dari pintu kaca bandara bahwa mereka berciuman kembali.

———-THE SECRET———-

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

Malam sudah larut saat Nick akhirnya dapat menikmati kesedirian di kamarnya di d’ Varney Toronto Hospital. Sudah tiga jam berlalu sejak dia menjalani pemeriksaan awal, dan d’ Varney begitu professional menanganinya. Hal yang membuat Nick berpikir ulang tentang sosok Charlie d Varney, wanita yang dikenalnya sebagai istri d Varney.

“Jika dia adalah orang yang sama dengan Charlie Bouwens, bagaimana bisa dia tidak mengenaliku?” pertanyaan itu hanya menggantung di pikirannya, dan lebih disebabkan ketidakmampuannya berbicara.  Dia semakin tersiksa. Niatnya pergi begitu jauh dari Korea adalah untuk menanggalkan obsesinya tapi yang dia temukan adalah sosok Charlie d’ Varney yang begitu mirip dengan Charlotte maupun Charlie Bouwens.

Tangan tipisnya bergerak lincah di halaman kosong buku harian. Menuliskan kejadian yang dialaminya hari ini.

Saat wanita itu melambai, bahkan menampakkan senyum cerianya, aku begitu takjub. Charlotte yang kuidamkan menghantuiku lagi. Namun kepahitan yang musti kutelan bulat-bulat. Dia bukan menghambur padaku, melainkan pada pria di belakangku.  Aku bisa merasakan aura kebahagiaan di antara keduanya. Tawanya yang renyah, keantusiasannya, begitu mirip.

Namun, kenapa dia tak bergeming saat d’Varney menyebut namaku? Aku memang tak paham bahasa Perancis, tapi aku cukup tahu kalau d’Varney mengatakan namaku padanya. Bukan! Dia bukan Charlotte, sama seperti Charlie Bouwens yang kuanggap Charlotte. Wanita ini juga bukan Charlotte. Charlotte sudah meninggal. Dan sekali lagi obsesi ini benar-benar menyiksaku.

Maafkan aku, Charlotte. Benar-benar ku minta maaf. Aku begitu tega melihat penderitaanmu tapi aku tak mampu menerima kematianmu. Kau hidup dalam hatiku walau pun secara harfiah kau mati. Kau menghantuiku. Memberikan perasaan bersalah yang teramat sangat. Dia bukan dirimu. Dia bukan dirimu.

Gerakan tangannya semakin memelan, seiring aliran air mata di pipinya yang kurus. Dia menangis tanpa suara, dengan membatin, begitu tersiksa. “Ya, Tuhan, katakan padaku, dia bukan Charlotte. Jangan biarkan semua ini membuatku hancur untuk yang kedua kali.”

Lalu tangisan itu terhenti. Diusapnya air mata itu dengan punggung tangan begitu saja. “Apa yang kupikirkan, ada banyak keturunan Korea di Toronto ini, dan beberapa orang mungkin punya kembaran di belahan lain. Dia bukan Charlotte. Dia bukan Charlotte,” sekali lagi dia berusaha meyakinkan diri. Mencoba memelorotkan diri dari sandaran ranjang untuk berbaring,  dengan angan yang masih menerawang dan berusaha mencari pembenaran atas tindakannya.

Dia sekitar tujuh tahun yang lalu. Aktor muda yang sedang naik daun. Begitu sombong, bahkan mencabik perasaan wanita yang sangat mencintainya. Menghardik wanita itu saat bersujud padanya, “Dasar tak tahu malu! Memohon cinta pada lelaki yang bahkan sudah tak mencintaimu!”

Tangannya masih kuat waktu itu, mendorong tubuh yang gemetaran di depannya, mebuatnya terjengkang dalam satu dorongan. Tak perduli wanita itu yang masih memohon di kakinya sembari terisak, “Lalu bagaimana pernikahan kita? Lupakah,kau kalau kita sudah menikah?”

Dia berjongkok, mencengkeram pundak wanita itu, memberikan pandangan yang begitu mengancam,”Apa yang kau harapkan dari selembar kertas yang ditandatangani secara rahasia di suatu tempat yang bahkan sangat jauh dari asalmu, Charlotte Whitely?”

Wanita itu, Charlotte – berhenti terisak. Dia masih mencengkeram Charlotte, jadi sangat tahu kalau tubuh mungil itu gemetaran, dan dia begitu menikmati, ancamannya berhasil membuat Charlotte ketakutan. Charlotte berusaha mengatur nafasnya, seakan menghimpun kekuatan sebelum mengatakan sesuatu.

“Aku hamil.”

Pandangan matanya sekejap terbelalak, namun itu tidak lama karena sedetik kemudian, keegoisannya yang memutuskan, “Gugurkan!”

“Nick!”

Dia semakin memperkeras cengkeramannya di bahu Charlotte. “Aku bilang gugurkan! Aku tidak menginginkan anak itu!”

“Aku tidak mau!” Charlotte meronta, berusaha lepas dari kungkungan itu. Berjalan mundur sampai punggungnya membentur pintu keluar.

“Ini bukan tentang kau mau atau tidak mau. Ini perintah! Aku perintahkan, gugurkan kandunganmu!”

“Tidak!” Charlotte berteriak sambil keluar dari apartemen. Dan saat itulah terakhir kali, dia bertemu Charlotte, sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa wanita itu di Toronto.

Nick Rothman menangis lagi tanpa suara. Menggapai penyesalannya yang semakin membumbung di langit-langit kamar rumah sakit itu. “Maafkan aku. Maafkan aku.”

——————————————

Antoine d’Varney berdiri resah di lorong depan pintu kamarnya, menunggui istrinya keluar dari dalam kamar.. Satu jam yang lalu, saat dia selesai berpakaian, Charlie keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh berbalut kimono dan langsung meyuruhnya keluar kamar.

Antoine yakin kalau Charlie sedang berdandan. Memikirkan semua itu, dia jadi senyum-senyum sendiri. Hanya makan malam pribadi di ruang makan, dan Charlie membuat semuanya begitu istimewa hingga dia mulai mengkhayalkan penampilan istrinya nanti. Dan jika sudah begitu, entah apa yang akan terjadi nanti? Sebagai pria normal, sangat memungkinkan Antoine bisa lupa diri, apalagi ditambah ketidakbersamaan selama beberapa hari yang membuat hasrat itu menggoda, namun dia juga takut mengingat kandungan Charlie yang masih terlalu muda.

Suara pintu terbuka berdecit halus. Antoine membalikkan badan ke arahnya. Tampak Charlie keluar dari kamar, dengan penampilan yang mampu merontokkan iman Antoine. Begitu elegan dengan gaun terusan selutut berwarna merah, berpotongan leher rendah hingga menampilkan belahan dadanya yang sedikit penuh akibat kehamilan dan saat Antoine melihat kaki Charlie, kaki itu masih tampak indah dan Antoine bersyukur bisa menikmatinya sebelum kaki itu membengkak menahan beban perut yang juga akan semakin membengkak Sembilan bulan ke depan.

Antoine menatap teduh Charlie dengan senyuman yang terukir. Membuat wanita itu sedikit salah tingkah.

“Ce soir, vous êtes suffisamment tentrice, Jolie.” Antoine memuji penampilan istrinya, dia bilang kalau Charlie cukup menggoda sekarang dan memanggilnya ‘Cantik’. Panggilan yang membuat Charlie semakin salah tingkah, memuntir-muntir suluran rambutnya yang dia sisakan kiri dan kanan sementara keseluruhan rambut tergelung ke belakang.

Vouz aimez cette robe que je la porte? Si mes cheveux en conformité avec cette robe?

(kau suka gaun yang kukenakan ini? apakah tatanan rambutku sesuai dengan gaun ini?)

Antoine mendekati Charlie lalu memeluknya, membuat wanita itu bermanja-manja di dadanya, memainkan kancing bajunya dan dengan sedikit berbisik, Antoine menjawab.

“En est fait … Je préfère que vous ne portez rien ce soir, petite.”

(Sesungguhnya… aku lebih menyukai kau tidak memakai apa pun malam ini, mungil)

Antoine senang  karena berhasil menggoda istrinya. Kini Charlie menunduk dengan muka yang memerah, bahkan membenamkan roman malu itu di dada Antoine. Dan Antoine tertawa lepas karenanya, hembusan nafas Charlie terasa hangat di dadanya dan dia pun mencium ubun-ubun Charlie.

Pelayan hadir di antara mereka, memberitahu hal makanan yang tersaji di ruang makan. Antoine mengulurkan lengannya dan Charlie  menyelipkan tangannya di siku lengan Antoine, berjalan beriringan ke ruang makan.

Ruang makan tidak hanya penuh dengan makanan, tapi juga beberapa pelayan. Jika sudah begini, mereka menggunakan bahasa yang lebih dikuasai Charlie. Pelayan tidak tahu maksud perkatan mereka. itulah intinya.

“Hm, kau membuatnya seolah kita akan makan di restoran mahal, Mungil.” Antoine memuji sambil menarik  kursi untuk Charlie.

“Hidangan di rumah ini bahkan lebih lezat dari restoran termahal di Toronto, Monsieur,” ucap Charlie sambil duduk. Tentu saja Antoine medudukkannya dengan hati-hati, memperlakukannya bak kaca yang mudah pecah sebelum duduk di kursinya sendiri.

Hidangan pembuka disajikan, Antoine masih menikmati kecantikan wajah Charlie. Bahkan Charlie harus menyuapkan sup asparagus ke mulut Antoine agar pria itu sadar.  Antoine menerima suapan itu setelah terkesiap dan meneruskan makannya sendiri.

Charlie jadi geli melihat tingkah Antoine. Pria itu menyantap habis sup dalam waktu sekian detik dan berterima kasih pada pelayan saat disodorkan hidangan utama. Timbul niat Charlie untuk menggodanya. Di balik meja, Charlie mencopot sepatu, perlahan telapak kakinya mengarah ke kaki Antoine, dengan wajah seakan masih menikmati makanan. Saat kaki panjang itu terjangkau, telapak kaki Charlie menyelip di antara lubang celana Antoine, bergerak menaik sementara kain celana Antoine semakin terbuka ke atas.

Antoine merasakan getaran dingin telapak kaki Charlie di sepanjang tulang keringnya. Dia menatap Charlie yang masih berlagak menikmati makanan. Mungkin terlalu gugup, Antoine menjatuhkan garpunya. Suara dentingan garpu dengan lantai membuat Charlie menatap Antoine. Wajah pria itu sudah tak karuan, dan Charlie memberikan kerlingan menggoda.

Antoine menertawakan kegugupannya. Garpu yang jatuh itu segera diganti yang baru oleh pelayan. Charlie yang mulai beralih ke hidangan utama, merasa menang atas Antoine. Istrinya sudah pandai menggodanya sekarang. Sebenarnya Antoine-lah yang memulai segalanya. Siapakah yang pertama kali mulai melancarkan aksi semacam itu di sebuah restoran, saat bulan madu mereka di Paris? Antoine yang melakukannya. Waktu itu, di balik taplak meja, tangan Antoine mengelus paha Charlie, tentu saja dengan tangan satunya yang masih berkutat pada makanan, perlahan tangan usil itu menyingkap rok Charlie dan ketika segalanya semakin tak terkendali lihatlah siapa yang akhirnya kalah? Antoine tersenyum menang, karena makan malam romantic di restoran paris itu terselesaikan dengan hidangan penutup lain, akibat Charlie yang tak mampu membendung gairah.

Dan sekarang, Charlie menang satu kosong dari dirinya, dengan cara yang tak pernah Antoine duga, menggunakan kaki! Antoine ingin membalasnya, dia harus bisa membalasnya. Dia masih menggunkan cara yang sama seperti waktu di Paris, mengelus paha Charlie di balik taplak meja dan berlagak meminum wine. Charlie menghentikan makannya. Antoine tersenyum melihat Charlie yang perlahan memandang padanya, sementara tangannya semakin merambat ke atas. Namun kali ini, Antoine tetap kalah karena ternyata Charlie tidak memakai celana dalam dan dia semakin menginginkan istrinya malam ini.

“Bagaimana, monsieur?” tanya Charlie saat Antoine tiba-tiba mencium pipinya.

“Makan malam ini selesai sampai di sini,” jawab Antoine sambil berdiri lalu mengangkat tubuh Charlie dari kursinya. Menggendongnya sambil mencium menuju kamar mereka, tanpa memperdulikan para pelayan yang jadi malu melihat ulah mereka.

Charlie mampu mendengar suara pintu yang terbanting. Mungkin Antoine menutupnya dengan kaki. Antoine memang sama sekali tidak mematahkan ciuman sepanjang perjalanan dari ruang makan ke kamar. Gairah itu sudah benar-benar membakar keduanya. Hingga tubuh Charlie terbaring lembut di ranjang empuk mereka, Antoine menatapnya dalam, tatapan yang selalu membuat hari Charlie meleleh karena Antoine selalu menatap tepat di pupil matanya.

“Kau sungguh pandai merayu sekarang, Ma femme,” desah Antoine yang membuahkan lengkungan indah di bibir Charlie. “Kau mengajariku dengan baik, Monsieur.”

“Apakah ini tidak apa-apa? Kau tidak keberatan? Aku takut menyakiti anak kita,” Antoine rupanya masih ragu. Charlie melingkarkan tangannya di leher Antoine, membelai lembut rambut di leher pria itu. “Kau seorang dokter, Sayang. Kau yang lebih tahu. Tapi jujur saja. Aku juga sangat menginginkannya.”

Antoine tersenyum kemudian,”Benarkah?”

“Diam dan cepat cium aku!” bentak Charlie dengan mata membelalak yang dibuat-buat. Antoine tentu dengan sangat senang hati melakukannya. Dia membuai Charlie dengan sangat lembut. Melenakan kesadaran wanita itu sementara dirinya sendiri membumbung ke awan. Bagi Antoine, Charlie adalah kesayangannya, mendapati wanita itu begitu memujanya, meneriakkan namanya dalam desahan kepuasan, membuat Antoine semakin mencintai wanita itu. Charlie benar-benar membuatnya tergila-gila. Dia merasa menjadi pria paling beruntung. Dunianya teralihkan seketika, biarlah malam ini dirnya terbenam dalam cinta Charlie, karena jika dunia runtuh sekarang, dia bahagia bersama istrinya. Hingga akhirnya Antoine benar-benar merasa terpuaskan kasih sayang Charlie, Antoine mengelus perut istrinya berbisik lembut namun masih bisa tertangkap telinga Charlie,”Maafkan, Sayang. Papa mengunjungimu malam ini karena Papa dan Mama sangat mencintaimu, tumbuhlah sehat di dalam sana. Aku menantikan kelahiranmu.”Charlie tersenyum mendengarnya. Sekali lagi Antoine mencium perutnya lalu berbaring di sisinya.

Antoine mampu mendengar senyuman Charlie. Kepala Charlie ada di dadanya sekarang. “Kau tidak apa-apa, Sayang. Tidak merasakan hal yang aneh di perutmu.”

Charlie menggeleng. “Tidak ada yang aneh, aku bisa merasakan kau melakukannya dengan lembut.”

Antoine menghela nafas lega. Charlie mendongak menatap wajahnya,”Tidurlah, Sayang. Besok temani aku cek up kehamilan, ya? Jadi kau harus bangun pagi-pagi sekali.”

Antoine mengangguk lalu mempererat pelukan pada istrinya. Melanjutkan malam itu dengan alunan mimpi kebahagiaan mereka.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s