LIFE FOR THE PAST (Ikrar , Part 2)

IKRAR

PART 2

Saat mata Shireen terbuka, suara adzan Maghrib menggema. Dilihatnya suasana kamarnya. Di pojok ruangan, di sebuah sofa, Sunny tertidur bersama keempat anaknya. Disampingnya, duduklah Wisnu, suaminya melontarkan senyum. Ah, apa pun akan kulakukan untuk membuat wajah itu selalu ceria.

Wisnu menyapa istrinya. Shireen tersenyum. Suara Wisnu membuat Sunny terjaga. Masih dari sofa, dia mengamati tingkah pasutri itu. Wisnu meraih tangan Shireen. Didekatkannya tangan itu ke pipinya lalu dicium. Semburat senja merambat melalui kaca jendela. Wisnu mencium kening Shireen lalu turun ke hidung dan akhirnya di bibir. Sesaat mereka terbuai oleh moment tersebut tanpa menyadari sepasang mata Sunny masih tetap memperhatikan. Sedikit rasa iri menyeruak di hati Sunny.

Suara pintu di ketuk seorang dokter, diikuti seorang pria berbaju putih dengan tagname “Farmasis” dan seorang perawat memasuki kamar. Sunny bangkit dari sofa dan menghampiri mereka. Tim medis segera memeriksa keadaan Shireen.

“Keadaan Anda pulih dengan cepat,”kata dokter. Diiyakan oleh rekan-rekannya.”Mereka juga anak-anak anda?” Pak dokter menunjuk keempat anak Shireen yang masih pulas. Shireen mengangguk.

“Wah, setelah anak kelima ini, sangat bagus jika anda mendirikan grup band Pandawa,” canda sang Farmasis. Keenamnya tertawa.

“Katanya mereka tidak akan berhenti sebelum mendapat anak perempuan, dok,” ujar Sunny. Pak dokter terkejut. Muka Shireen dan Wisnu jadi merah padam.

“Wah, jangan dong, Pak. Kasihan istrinya. Usia ibu sudah tiga puluh enam tahun, sangat beresiko jika melahirkan. Jika nanti kalian memutuskan untuk punya anak lagi, konsultasi dulu,ya.”

Mereka bertiga undur diri. Shireen mencubit lengan Sunny. Sunny meringis. Rasain,Lu. Omong sembarangan. Sang Farmasis tiba-tiba membalikkan badan. Seperti ada yang terlupa, dia mendekati Sunny. “Maaf, sepertinya saya pernah bertemu dengan anda sebelumnya.”

“Sepertinya belum pernah.” Sunny menggeleng.

“Tapi saya yakin kita pernah bertemu,”

Farmasis itu berpikir keras. “Oh ya, kamu Sunny Natalia, bukan?”

“Eee…, siapa, ya?”

“Sunny, ini aku, Eros. Sudah lupa,ya.”

“Oh, Eros. Ku ingat. Apa kabar?”

“Baik, sudah berapa anaknya?”

Shireen dan Wisnu sedari tadi memperhatikan mereka. Shireen menyahut,”Sunny belum menikah. Mau daftar, Mas?”

“Boleh minta kartu namamu, Sun?”

Sunny cengar-cengir. Dia mengambil kartu nama dari dalam tas dan menyerahkannya pada Eros.

“Terima kasih, Sun. Aku pasti akan menghubungimu agar kita lebih akrab lagi,” kata Eros penuh harap.Eros mohon diri.

“Ehm,ehm…” Shireen dan Wisnu menggoda Sunny. Apaan, sih!

Keluarga Jerry datang membesuk. Keempat anak Shireen terbangun dan segera bergabung dengan anak-anak Jerry.

“Kamu disini juga, Sun?” tanya Jerry saat melihat Sunny.

 “Iya, dong. Dia yang membawa Shireen ke rumah sakit. Untung saja tadi di rumah ada dia,” jawab Wisnu. Jerry tertawa. Dia tidak bisa membayangakn betapa paniknya Sunny menghadapi Shireen yang akan melahirkan.

“Jerry saja panik waktu aku melahirkan. Aku salut sama kamu, Sun,”kata Beb.

“Iya, itung-itung buat gambaran kalau nanti melahirkan,” jawab Sunny.

“Makanya, Sun. Segeralah menikah,” pesan Shireen. Mulai, deh. “Kamu dengar, kan tadi pak dokter bilang kalau usia tiga enam itu sangat beresiko untuk melahirkan.”

Sunny cemberut. Wisnu mengumumkan sesuatu,” Tenang, saudara-saudara. Sepertinya tadi ada yang love in the first sight sama Sunny!”

“Wah, orangnya ganteng, lo. Kayaknya sih keturunan tionghoa, gitu,” sambung Shireen. Dia melepaskan pandangan menggoda Sunny.

“Apaan, sih! Eros itu temenku waktu kita PUKA di Surabaya. Jadi diantara kami tidak ada apa-apa.”

“Ada apa-apa juga ndak papa,kok,” ujar Beb.

“Oke, oke, aku bersumpah pada kalian. Aku akan menerima orang pertama yang mengungkapkan cintanya padaku setelah ini, aku berjanji !”

Semua sahabatnya terdiam.

“Tak perduli siapa cowok itu. Asal dia mengungkapkan cintanya setelah ini aku akan menerimanya.’’

“Iya,” sambung Jerry. “Cepat saja ditindaklanjuti. Nanti kalau sudah positif, pesan bajunya di temapat istriku saja. Istriku ini wanita hebat, dia bisa menjahit dengan rapi dan halus.”

Jerry memeluk Beb. Beb tersanjung dengan pujian suaminya. Sunny menelan ludah kering. Dia benar-benar sendiri diantara mereka berempat dan menyaksikan kemesraan Jerry dan Beb, hatinya semakin teriris.

……………………………………………..

 

Malam merayap, dini hari dimulai. Sunny membawa mobilnya membelah jalan kota. Usia 36, bukan usia yang muda lagi. Lihat saja kedua sahabatnya sudah asyik dengan kehidupan perkawinan. Kalau saja dia hidup di dunia barat, pasti tidak akan ada yang menggunjingkannya. Dan kemesraan Jerry dan Beb  tadi. Sunny terisak, dia menghentikan mobil yang dikendarainya. Pandangan matanya mulai kabur dengan air mata. Sebenarnya siapa yang bodoh? Kenapa aku terus mengharapkan Jerry? Bukankah dia sudah tidak perduli padaku?

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s