LIFE FOR THE PAST (IKRAR part1)

IKRAR

Part 1

 

Pukul 12 siang, kesibukan Shireen di dapur belum juga kelar. Sesekali dia mengusap perutnya yang membuncit. Anak-anaknya bermain sepak bola di halaman rumah. Masih untung mereka tidak rewel. Sunny mana,sih? Bukannya semalam dia janji mau datang?

Telephone berdering. Shireen berteriak,” Sofyan, Tolong angkat telphonnya!”

Sofyan, anaknya yang pertama berlari mendekati telpon. Suara gedebugan terdengar karena matanya yang sedari tadi kena cahaya luar harus membiasakan diri dengan cahaya dalam rumah,.”Ibu! Dari Bapak!” teriaknya.

Shireen mematikan kompor. Dia lalu duduk di sofa dekat telephone.

“Sunny sudah datang?” tanya Wisnu di ujung telepon.

“Belum! Tau,nih. Lupa kali.”

“Jangan lupa tunjukin ke dia kalau berumah tangga itu enak. Biar dia segera nikah.”

“Iya, tapi mana dia percaya. Kalau yang jadi contoh keluarga dengan banyak anak seperti kita,” Shireen merajuk. Suara gelas jatuh terdengar.”Suara apa, tuh?”

Sikembar Ali dan Ari menangis. Sofyan segera masuk dapur, tempat suara berasal. Yang paling kecil, Restu, terbengong-bengong menatap pecahan gelas dan kedua kakaknya yang menangis.

Shireen menutup telpon. Dengan hati-hati dia bangkit dari sofa. Kali ini dia agak memijit-mijit pinggangnya yang tampak tegak menahan beban di perut. Di dapur, dia terkejut. Es limun sepoci yang dibuatnya sudah berceceran di atas meja. Sebuah gelas pecah di lantai. Dia ngomel dan memerintahkan Ali dan Ari untuk membereskan karena yakin merekalah yang berbuat salah. Dengan sesenggukan kedua anak itu menuruti perintahnya.

“Bukan begitu cara ngepelnya.” hardik Shireen saat si kembar buat kesalahan lagi. Akhirnya dia menyerah juga. Dengan tertatih, dia bersimpuh di lantai dan memunguti pecahan kaca. Ya begini ini kalau menuruti niat ayah kalian. Anak sudah empat, masih pengen punya anak perempuan.

“Selamat siang, semua!” Sunny yang baru datang nyelonong masuk. Diletakannya bungkusan oleh-oleh diatas meja.

“Sudah datang, Sun. Kok suara mobilmu gak kedengeran?”

Shireen mengeringkan lantai dengan lap. Dia menyuruh Sofyan membuang pecahan beling itu ke tempat sampah.

“Tolong aku berdiri,” pinta Shireen dengan menjulurkan tangan. Sunny menarik tangan Shireen untuk membantunya berdiri.”Ngapain sikembar nangis?”

“Biasa, mereka takut dimarahai karena nakal.”

Tiba-tiba Shireen merasa perutnya melilit.”Aku ke belakang dulu,ya.”

Shireen meninggalkan Sunny dengan keempat anaknya. Sunny jadi salah tingkah. Keempat anak itu menatapnya dengan pandangan penuh selidik. Sunny mencoba tersenyum. Respon mereka datar saja.

”Halo!” Sunny melambai-lambaikan tangannya. Mereka malah menganggapnya tambah aneh. Duh, Shireen lama bener, sih. Oh, iya kenapa aku tidak bagi-bagi kue saja.

“Tante bawa kue untuk kalian. Mau?”

Keempat anak itu mengangguk. Sunny segera membagi kue . Mereka memyambar kue itu dan berlari ke ruang tengah. Sunny tersenyum geli. Busyet…. Empat orang anak laki-laki semua dan umurnya rata-rata cuma selang dua tahun.  Subur amat,ya.

“Ngapain kamu senyum-senyum?” Shireen tiba-tiba muncul.

“Enggak! Lucu juga anak-anakmu.”

Shireen duduk menghadapi meja makan. Sunny menarik kursi dan duduk di samping Shireen. “Bawa apa, Sun?”

“Kue mandarin zebra. Tapi sebagian sudah kubagi-bagi ke anakmu.”

“Kayaknya enak,nih. Aduh..”

Bayi di perut Shireen menedang. Dia meringis kesakitan. Sunny jadi kawatir.

”Kau tidak apa-apa? Belum saatnya lahir,kan?”

“Belum, masih delapan bulan.”

Sunny bernafas lega. Tiba-tiba Shireen meremas tangannya. Sunny kaget. Mulut Shireen berdesis menahan sakit.

”Kamu yakin masih delapan bulan?” tanya Sunny lagi. Shireen mengangguk. Tapi bayi di perutnya tetap saja menendang-nendang. Rasa nyeri menyebar, otot-otot rahimnya meremas-remas.Wajahnya seketika memerah. Keringat dingin  mengalir. Dalam keadaan ini, dia berusaha mengatur nafasnya yang turun naik.

Sunny mulai panik. Baru kali ini dia melihat orang yang mau melahirkan.

“Tolong.. pindahkan aku ke sofa,” pinta Shireen. Apa! Yang benar aja?

“Kamu yakin?”

Shireen mengangguk. Dengan gemetar Sunny memapahnya ke sofa. Mereka melewati empat orang anak yang bermain di ruang tengah. Shireen masih saja mengerang kesakitan. Keempat anaknya menangis waktu melihatnya. Sunny tambah bingung. Dia keluar rumah untuk mencari pertolongan tapi keadaan perumahan itu sepi.

Sunny kembali masuk ke rumah. Keempat anak itu masih saja menangis mengelilingi ibunya. Sunny mengatur nafas. Aku harus berpikir jernih. Berpikir jernih…

“Nomor telepon kantor Wisnu berapa?” Tanya Sunny.

“Ayah tugas luar kota,” jawab Sofyan. Shit! Istri hamil besar kok malah tugas luar kota. Aduh… gimana lagi, ya? Mimpi apa aku semalam?

“Oke, “Sunny mulai bicara.”Sepertinya aku sendiri orang dewasa di rumah ini. Shireen mengangguk. “Dan kamu tidak mungkin melahirkan di rumah ini.”

Mata Shireen melotot. Dia tidak sabar dengan ulah Sunny. “Sepertinya aku harus membawamu ke rumah sakit dengan mobilku.”

Ya, ya… Tentu saja. Aku bisa angkut dia dengan mobilku. Tapi anak-anak itu? Ah, biarkan saja mereka ikut.

Sunny memapah Shireen menuju mobil. Bukan perkara mudah melakukan itu. Mereka terpaksa berhenti beberapa kali karena Shireen yang tak bisa menahan sakit. Dia merasakan kepala bayi di perutnya semakin mendesak ke bawah, ditambah rasa nyeri di punggungnya bila berjalan.

Sunny segera memasukkan Shireen ke mobil bagian belakang. Keempat anak itu masih saja menangis. Sunny menyuruh mereka segera masuk mobil. Lalu duduk di belakang kemudi.

“Ibu berdarah! Ibu berdarah!” Restu berteriak. Sunny menoleh ke belakang. Darah keluar dari vagina Shireen. Sudah bukaan berapa,sih?

Sunny menstarter mobil. Mobil itu melaju kencang. Setiap ada kendaraan yang menghalangi, selalu saja dia membunyikan klakson.

Shireen berteriak,”Kamu nyopir ato mabuk,sih?’

“Aku tidak mau kau melahirkan di mobilku. Sudahlah… ndak usah crewet.”

Sampai di rumah sakit, mobil itu direm mendadak. Kontan, semua tubuh penumpang tertarik ke depan. Sunny segera turun dari mobil dan mencari perawat. Dia baru tenang setelah Shireen berada di tangan tim medis. Dia terduduk. Menangis sembari memeluk keempat anak Shireen.

TBC PART 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s