The Secret (Part 5)

Ketenangan wajah Charlie bagaikan air telaga yang jernih. Di hadapannya kini, piano dengan tut-tutnya menanti uluran tangan halus Charlie. Partitur di depannya kini pun begitu mengingatkannya pada kenangan masa lalu. Sementara keadaan diluar masih saja heboh. Di awali dengan suara benturan yang sangat keras berseling teriakan-teriakan ngeri, disusul suara alarm yang cukup membuat bising. Bahkan teriakan Nick Rothman serasa begitu memuakkan baginya.

Robert memasuki ruang music itu karena yakin di situlah bibinya berada. Pelayan sudah begitu terganggu dengan ulah ‘pria gila’ di balik pintu gerbang. Lihatlah mereka yang segera terbangun begitu kebisingan itu terjadi. Lampu demi lampu di rumah mewah peninggalan Williams Bouwens yang separuhnya sudah mulai padam, kini dinyalakan kembali. Muncul juga pemandangan menggelikan dengan wajah-wajah di balik jendela kaca yang mengamati kejadian di luar dengan mata memicing. Dan Robert merasa perlu mengabarkan hal ini pada Charlie.

“Pria itu benar-benar gila, Bibi,” sungut Robert dengan wajah kelelahan dan setengah menguap. Tindakan Nick benar-benar telah membuat tidurnya kacau.

“Aku tidak akan keluar,” kata Charlie penuh dengan keangkuhan. Diamatinya penampilan ‘siap tidur’ Robert dari atas ke bawah. Piyama putih yang dilapisi  kimono hitam. Yang paling membuat Charlie geli adalah, pria itu menggunakan penutup mata sebagai bandana.

“Saya akan memanggil polisi,” Robert merogoh kantong celananya. Charlie tersenyum. Melaporkan Nick ke polisi betul-betul usul yang bagus. “Telephon pula pengacara kita,” perintah Charlie.

“Bibi?” panggil Robert dengan  nada bertanya. Apakah tuntutan betul-betul akan diproses sekarang?

“Suruh pengacara menuntut Nick Rothman melakukan pencemaran nama baik suamiku, Williams dan mengintervensi kehidupanku,” perkataan Charlie begitu tegas walaupun mimic wajahnya datar-datar saja.

“Anda benar-benar cerdas, Bibi. Dengan begitu, polisi akan memvonis dia tidak boleh mendekati anda dalam jarak beberapa yard.”

“Lakukan sekarang, Robert.”

“Tentu.”

Robert tahu betul arti dibalik perintah itu, Charlie tidak mau lagi diganggu dan dia harus segera enyah dari ruangan ini. Namun baru beberapa langkah, Robert mendekati pintu, Charlie memanggilnya kembali,”Oh, ya, Robert. Kau sudah membuatkan janji untukku bertemu Antoine De Varney?”

Robert memejamkan mata sebelum menjawab, “Semua beres, Nyonya. Dokter itu akan tiba di Korea dua hari lagi.”

“Bagus! Lakukan tugasmu, Keponakanku tersayang,” ucap Charlie demi  menghela Robert keluar ruangan.

“Aku mohon keluar,” suara Nick Rothman dari luar sayup-sayup terdengar.

“Sudah kelelahan dia rupanya,” batin Charlie.

“Aku mohon…., Charlotte sayang… Aku mohon…. ,” sekali lagi terdengar permohonan yang memilukan itu, tapi anehnya hal itu begitu menggelikan di benak Charlie.

“Sayang?” sekali lagi dia merasa sinis dengan panggilan itu. “Bodoh sekali.”

Mata lebar Charlie mengerjap. Kenangan itu begitu memuakkan baginya karenanya dia tersenyum dengan ekspresi mengerikan. Dia telah menjadi pemain antagonis bagi kehidupannya sendiri. Tangan lentiknya terulur. Partitur itu sudah terbuka pada lagu yang selalu dia mainkan lima tahun yang lalu. Tak disangkanya kehidupannya begitu mirip dengan lagu itu. “Menandatangani dokumen untuk menyembunyikan hal yang sia-sia?” Charlie menggelengkan kepala,”Tidak… , tidak akan pernah lagi, Nick Rothman.”

Dan akhirnya, suara alarm pintu gerbang tak terdengar lagi, berganti suara sirine dari mobil polisi yang mendekati Nick Rothman untuk menggelandangnya ke tahanan.

“Lepaskan aku, polisi bodoh!”

Malang bagi Nick. Umpatan itu menyulut emosi salah satu petugas dan bogem mentah mendarat mulus di bawah rahangnya. Nick yang tersungkur, mempermudah polisi untuk menyeretnya ke mobil patroli. Sementara dari dalam rumah, suara piano yang pada mulanya lirih itu, semakin lama merambati malam.

 

———-THE SECRET———-

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

 

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

 

Jack bersungut-sungut. Wajahnya benar-benar sudah tertekuk dua belas. Satu tekukan lagi… ingin rasanya meludahi Nick. Hampir dini hari saat polisi menelphone apartemennya karena actor-nya mengusik ketenangan Charlie Bouwens. Alhasil istrinya ngomel-ngomel, baru seminggu Jack rukun lagi dengan wanita yang sudah dinikahinya selama empat tahun itu, dan sekarang mereka bertengkar lagi. Dan lagi-lagi disebabkan tingkah konyol Nick Rothman.

“Bisakah dia bebas dengan jaminan?” tanya Jack pada petugas polisi yang sudah dikenalnya dengan baik. Tentu saja petugas itu menggeleng,” Dia bahkan berlaku kasar saat ditangkap.” Lalu mereka sama-sama menoleh pada Nick yang sepertinya melamunkan sesuatu di balik jeruji besi. “Polisi kesal padanya. Akan lebih baik dia menginap di sini malam ini. Biarkan dia merenungkan kesalahannya.”

Jack tertawa. Dengan pasti dia mengibaskan tangan di wajah petugas itu,”Nick Rothman merenungi kesalahan? Mimpi di siang bolong, Kau.”

“Pokoknya polisi kesal dengan ulahnya. Dia harus ditahan selama satu kali dua puluh empat jam.” Polisi itu tampak mengangkat kedua tangannya sembari berujar,”Maaf, Sobat. Untuk kali ini, aku tidak bisa membantu.”

“Tidak masalah,” kalau dipikir-pikir Jack merasa geli juga.”Hotel prodeo juga tidak terlalu buruk.”

Keduanya tertawa bersama. Jack menghampiri Nick kemudian. “Kau menginap di sini malam  ini,” sapa Jack sambil kedua tangannya menekan jeruji besi. “Nikmatilah hotel ‘istimewa’ ini, Nick Rothman yang terhormat.

Namun keesokan harinya, apa yang Jack takutkan selama ini benar-benar terjadi. Pihak Bouwens menuntut balik Nick. Pengacara yang Jack tunjuk tampak kewalahan menghadapi kasus ini. Dia menawarkan solusi damai bagi Nick.

“Kau harus minta maaf pada mereka, Tuan Rothman. Terutama pada Charlie Bouwens, dengan cara ini, mungkin mereka bisa menarik tuntutan,” kata pengacara itu yang terlihat serius. Di hadapannya rahang Nick Rothman begitu tegang. “Tuntutan mereka kali ini tak tanggung-tanggung. Kau akan bangkrut jika tidak menyerah.”

“Tidak!” rasa gengsi Nick Rothman sudah melebihi ambang batas kewajaran. “Sampai kapan pun, aku akan membuktikan kalau dia… Wanita dibalik rumah besar itu adalah Charlotte Whitely.”

“Ah, aneh sekali, kau!” pekik Jack yang berdiri menyandar di kusen pintu. “Pengadilan sudah membuktikan kalau dia adalah Charlie Adams. Charlotte Whitely yang kau maksud sudah meninggal di kecelakaan lima tahun yang lalu.”

“Dan Williams Bouwens yang mengurus semuanya lima tahun yang lalu,” seloroh Nick lirih, namun masih terdengar oleh Jack, membuat sang manajer mendekati meja di ruangan itu. Menghadapi Nick Rothman di seberang meja.

“Lalu di mana kau lima tahun yang lalu?” tanya Jack dengan pandangan menyelidik. Nick tampak gelagapan di depan Jack. “Kenapa baru sekarang kau permasalahkan kematian wanita itu dan mengkaitkan dengan Charlie Bouwens?” Jack memiringkan kepalanya, mengamati dengan serius perubahan roman muka Nick.

“Maaf, adakah rahasia lain di sini yang tidak saya ketahui? Saya adalah pengacara anda, Tuan Rothman. Akan lebih baik jika anda memberitahukan sekarang, sebelum mereka lebih mempermalukan kita.”

Jack mengalihkan pandangannya dari Nick ke sang pengacara,”Tanyakan saja pada klienmu ini, Pak pengacara. Anda memang hebat, instiusi pengacara anda berjalan sempurna,” kata Jack dengan tatapan mengejek. Ejekan yang diarahkan pada Nick,” Aku berhenti jadi manajermu, Nick.”

“Kau!” Nick berdiri dari duduknya. Tekad Jack sudah bulat. Robert Cassidy menawarkan hal yang lebih menjanjikan dari pada Nick Rothman. “Kau tidak akan pernah eksis tanpa uang dariku, Jack Idiot!” umpat Nick.

Jack yang sudah hampir sampai di pintu keluar berhenti, lalu mengangkat tangannya sambil menoleh. “Kita lihat saja, Nick Rothman yang terhormat. Kita lihat saja.”

Nick benar-benar menuju kehancuran. Pengadilan meluluskan tuntutan pihak Bouwens. Ganti rugi dengan nilai nominal tak tanggung-tanggung di depan mata. Sang ‘Ratu Media’ menampakkan taringnya. Kekalahan telak di pihak Rothman dan kecemerlangan bagi Janda Bouwens.

Seakan tak cukup dengan kemenangan itu, Charlie memutuskan, inilah saat bagi Paoli Harris berbicara. Semua media kembali dikejutkan dengan pengakuan seorang Ibu muda sederhana tentang rahasia putra pertamanya. Nick Rothman meradang, menuduh perempuan malang, Paoli mencari sensasi dan menantang tes DNA. Paoli menerima tantangan itu, dan akhirnya rasa malu yang teramat sangat bertambah di pihak Nick.

Keadaan Nick semakin porak poranda. Satu per satu teman menjauh. Proyek demi proyek terlepas begitu saja. Kecelakaan maut membuatnya hampir kehilangan nyawa. Dia terbaring tak berdaya dengan selang di beberapa titik tubuh entah sampai kapan.

Charlie Bouwens sebagai dalang yang terselubung dibalik kemenangan mutlak Paoli Harris tersenyum. Keadaan telah berbalik kini. Benar kata Almarhum Williams, media adalah hal yang ampuh untuk menguasai dunia. “Kuasai-lah media, maka  dunia akan berada dalam genggamanmu, Charlie sayang,” pesan Williams masih terngiang di telinga Charlie walau panggilan itu serasa ejekan bagi dirinya.

Selama Williams masih hidup, pria itu menolak semua perhatian yang Charlie berikan. Charlie pun merasa sebagai istri yang kurang berguna bagi Williams. Mereka berdua hidup dalam perkawinan yang penuh sandiwara. Dan Charlie begitu keheranan, mendapati dirinya bisa bertahan selama lima tahun.

Kegemilangan berhasil diraih Charlie, namun wanita ini memutuskan mundur sebelum kegemilangan itu surut. Tentu saja seluruh pihak begitu menyayangkan. Rapat direksi dikejutkan dengan keputusannya itu. “Segala hal mengenai kekayaan Bouwens, akan saya serahkan pada keponakan Williams Bouwens, Robert Cassidy,” ketokan palu yang serasa bagai hantaman bagi para direksi.

Mereka bahkan mengikuti Charlie sepanjang perjalanan dari ruang rapat menuju ruang kerjanya. Tak ketinggalan Robert yang merasa keputusannya itu konyol.  Di depan meja kerjanya, telah berdiri beberapa orang kepercayaannya yang sebenarnya juga mempertanyakan kemampuan Robert selain berusaha mempengaruhi Charlie agar merubah keputusan.

“Saya mohon, Nyonya Bouwens, pikirkan kembali keputusan anda. Selama ini media-media yang berada di bawah Bouwens Inc, melesat cemerlang berkat kepiawaian anda. Saya tidak bisa  membayangkan apa jadinya jika anda mundur,” kata salah satu dari mereka yang rupanya berlaku sebagai juru bicara.

“Nyonya, saya mohon. Saya belum siap menerima tanggung jawab sebesar ini. Sungguh!” Robert yang berdiri di sampingnya berusaha meyakinkannya juga, Charlie mendengus sebal, “Lima tahun bukanlah waktu yang singkat, Robert. Aku cukup bisa menilai kalau kerjamu selama ini bagus.”

“Tapi, Nyonya…

“Cukup, Robert,” potong Charlie. Dia mendongak pada kerumunan di depannya. “Keputusan ini sudah tidak bisa diganggu-gugat. Siapkan segala sesuatunya dan kalian akan menyaksikan penandatanganan pengalihan kekuasaan besok di ruanganku ini.”

“Bisa dipastikan ruangan ini sudah bukan menjadi ruangan anda besok, Nyonya Bouwens,” sesal manajer pemasaran yang membuat kerumunan itu hening seketika.

“Iya, dan aku gembira karena menyerahkan ruangan ini pada orang yang benar-benar tepat,” pandangan Charlie terarah pada Robert. “Kau sudah bekerja keras untuk membuktikan kau memang mampu, Robert. Pamanmu pasti bangga padamu.”

Charlie berdiri dari duduknya. Semua orang di ruangan itu sudah tak mampu berkata apa-apa lagi. Mereka beringsut menyingkir, memberi jalan bagi Charlie untuk keluar dari ruangan itu. Dibelakangnya, Robert mengikuti dengan wajah menunduk, seakan bagai anak ayam yang kehilangan induknya.

Kesedihan juga tampak di kediaman Bouwens keesokan harinya. Para pelayan menangisi tuan mereka yang dikubur, kini dikejutkan keputusan  Nyonya mereka yang memilih kembali ke Kanada, negeri kelahirannya itu. Dan perusahaan Bouwens sudah berpindah ke tangan Robert pagi tadi begitu juga dengan rumah ini dan seluruh asset milik Williams Bouwens.

Charlie menatap ruangan yang selama ini menjadi kamarnya lekat-lekat. Di sinilah saksi kerja kerasnya, lembur sampai malam buta demi menggolkan proyek demi proyek. Sementara Robert berdiri mengamati dengan tatapan penuh penyesalan, menyesali keputusan Bibinya.

“Bibi masih bisa tinggal di sini, saya tidak setuju bibi pergi.”

Charlie tersenyum tabah. “Seorang Charlie Bouwens tidak pernah merubah keputusannya, Keponakanku sayang.”

Robert menuju ke arah Charlie, membuat wanita itu terkesiap karena dia memegang tangan Charlie dan menekannya di dadanya. “Kita berlaku bagai Bibi dan keponakan, padahal umur kita hanya terpaut beberapa tahun.”

“Apa maksudmu?” tanya Charlie yang masih terkejut dengan tindakan Robert.

“Aku mencintaimu, Charlie Adams,” akhirnya pernyataan itu meluncur juga dari bibir Robert. Hal yang dia sembunyikan selama lima tahun ini, hal yang mengganggu hatinya sejak perjumpaan dengan Charlie, istri sang paman.

Namun Charlie tertawa bijak, “Janganlah kau kotori hubungan ini dengan perasaan itu, Robert,” ucap Charlie sambil menarik tangannya. “Terima kasih kerana kau mencintaiku tapi akan lebih baik jika aku mengingatmu sebagai keponakanku tersayang.”

Seorang pelayan memasuki ruangan setelah mengetuk pintu. Dia membungkuk hormat dan berkata,”Semuanya sudah siap, Nyonya Bouwens.”

Charlie menghirup nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Inilah helaan nafas terakhirnya dari udara ruangan ini. “Inilah saatnya, Robert.”

Charlie keluar dari kamar dengan berjalan tegak. Melewati koridor demi koridor di rumah ini untuk terakhir kalinya, menuruni tangga melengkung yang mennyimbolkan keglamloran tata interior kediaman Bouwens bahkan melirik lukisan Williams Biuwens yang tergantung di atas perapian ruang tengah. Charlie berhenti tepat di depan lukisan itu, lalu membungkuk sebagai penghormatan pada mendiang Williams, “Terima kasih atas kebaikan hatimu selama ini, Williams Bouwens.”

Robert yang setia mengekorinya masih tidak rela. Apalagi saat Charlie sudah hampir sampai di depan limousine yang akan mengantarnya menuju bandara. Wanita itu menyalami satu per satu pelayan yang begitu setia pada mereka selama lima tahun ini. Suasana kesedihan semakin terasa menjalar di hati mereka.

Robert berlari merebut peran sang sopir pribadi untuk membukakan pintu bagi Charlie. Charlie sekali lagi terperangah dibuatnya. Urunglah niatnya untuk memasuki mobil karena sesaat mereka berpandangan.

“Apakah yang akan terjadi esok, Bibi? Apakah Antoine De Varney benar-benar menyetujui usulan itu? Sungguh keputusan konyol yang bisa merenggut nyawa Bibi.”

Sekali lagi Charlie menampakkan senyum tabahnya. “Aku masih belum tahu, Robert.”

“Inikah akhirnya, Bibi? Aku mohon, janganlah seperti ini.”

Mata Robert semakin panas. Dia tak sanggup lagi membendung rasa kesedihan di pelupuk pandangannya. “Pandanglah aku, Bibi. Pandanglah aku untuk terakhir kalinya. Aku mohon jangan lupakan aku.”

Charlie memeluk tubuh tegap Robert di depannya. Tak ada seorang pun yang tahu apa  maksud dari obrolan itu. Tapi sepertinya keputusan Charlie memang tak bisa dianulir oleh apa pun bahkan oleh cinta yang ditawarkan Robert Cassidy. “Sekali lagi, biarlah aku mengingatmu sebagai keponakanku tersayang,” pesan terakhir Charlie sebelum memasuki limousine.

Robert dan para pelayan melambai lesu saat limousine itu beringsut menjauh. Melesatkan Charlie Bouwens di dalamya. Robert masih tetap memandang kelokan, tempat limousine yang  akhirnya lenyap tertelan jarak yang memisahkan wanita yang dicintainya itu dari pelukan asa hatinya yang tertolak.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s