LIFE FOR THE PAST (Chapter II, part 2)

KARENA SAYA MENGAGUMI ANDA

PART 2

Mei memasuki ruang senat dengan wajah ditekuk. Di kamar mandi, Kevin asyik bersiul-siul, suara gemericik air dan bau sabun memenuhi ruangan. Mei menghidupkan komputer untuk melanjutkan proposal kegiatan yang kemarin dikerjakan.

“ Agh! “

Kevin yang muncul dari kamar mandi berteriak. Gimana tidak, ia muncul hanya dengan handuk yang dililitkan di pinggang. Mei juga tak kalah kaget. Dia segera menutup muka.

“ Cepat pakai baju! “ katanya.

“ Sejak kapan kamu di sini Mei? “ kata Kevin sambil memakai baju.

“ Sudah belum pakai bajunya? “

“ Sudah.“

Mei segera membuka mata, “ Sejak kamu bersiul-siul di kamar mandi tadi. “

Kevin duduk bersila di sebelah Mei. Dia menyisir rambut lalu memakai parfum.

“Gila, parfummu ngalah-ngalahi peri aja “, ejek Mei.

“ Iya dong, tapi gini-gini ada yang lebih parah lho. Gacoanmu tuh, si Cein bahkan ke salon segala.”

“ Uh… Tuh anak nyebelin banget deh, kayaknya dia lagi falling love ama si Sunny Natalia. “ Umpat Mei.

“ Sunny? Siapa tuh? “

“ Tau, penyanyi dangdut kali. “

“Terus Cein-nya mana? “

“ Tau.. “

“ Gimana sih sama gacoannya gak tau. “

Kevin segera memakai sepatu, membereskan buku dan keluar dari ruang senat. Beberapa mahasiswa menyapa ketika Ia sampai di halaman kampus. Dia menyebar pandangan. Dicarinya Cein di setiap sudut. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok Cein yang lagi mengelus-elus mobil Sunny.

“Lagi ngapain, kamu?” tanyanya saat Cein sudah ada di depannya.

“Bagus, kan mobilnya?”

“Iya, apa kamu mau beli mobil yang seperti itu? Mobilmu saja kreditnya belum lunas.”

“Boleh, kan mimpi?”

“Mau kamu bayar pake apa? Emang hasilmu jualan barang di internet cukup ?” ejek Kevin.

“Setidaknya hasil usaha itu bisa untuk membayar uang muka kredit mobilku. Daripada kamu? Kerja partime di kafe dengan gaji dua ribu per jam. Dapat apa coba? Sudah saatnya kamu keluar dari kotak.”

“Kotak?”

“Iya, kotak rutinitas kerjaan kafe dengan gaji sedikit.”

Kevin bersungut-sungut.”Emangnya ini mobil siapa,sih?”

Dua ratus meter dari tempat mereka berdiri, Sunny tengah ngobrol dengan Indra. Mereka sedang berjalan menuju mobil Sunny yang terparkir.

“Bagaiamana kesanmu dengan mahasiswa apoteker tahun ini?”  tanya Indra.

“Bagus, mereka kritis.”

“Mahasiswa apoteker tahun ini adalah mahasiswa angkatan terbaik di S1 farmasinya, bayangkan hampir 80% dari mahasiswa ini mempunyai IPK 3,5.”

“Oh, bagus sekali. Tapi sayang sekali ada yang kurang sopan dalam hal berpenampilan. Aku melihat ada dua orang yang masih pake tshirt dan celana jeans.”

“Masa?”

“Iya, seperti itu tuh, nah!” Sunny menunjuk ke Cein yang masih saja berdiri di dekat mobilnya. Cein cengar-cengir saat tahu Sunny datang bersama Indra. Dia jadi ingat hari ini dia bolos kuliah yang diampu Indra.

“Siang, Pak!” sapa Cein dan Kevin bersamaan.

“Oh, jadi kamu gak masuk kuliah karena ikut kuliah perdananya apoteker.”

Cein mengangguk. Busyet! Ngapain tuh dosen killer deket-deket cem-cemanku.

“Maaf, Sunny. Tapi anak ini baru tingkat satu S1 Farmasi,” kata Indra. “ Aku minta maaf jika dia buat ulah sama kamu.”

Tuh, pake acara sok baik, lagi. Tunggu! Si Indra kan belum nikah. Jangan-jangan…. Busyet! Enggak banget deh kalau dia dapetin Sunny.

“Ah, enggak! Dia tidak berulah,kok. Dia malah membuatku tersanjung dengan menyatakan kekagumannya padaku,” ujar Sunny.

Deg! Indra melongo. Kevin yang tidak tahu duduk persoalannya bengong, “Berani benar Cein bilang begitu.”

“Oke, sepertinya aku harus mohon diri. Aku ada janji mau ke rumah Shireen.”

“Salam buat Shireen, ya.”

Sunny tersenyum, dia masuk ke dalam mobil. Dalam hitungan detik, mobil itu sudah meninggalkan mereka bertiga.

“Permisi, Pak!” teriak Cein dan Kevin bersamaan. Mereka ancang-ancang mau pergi.

“Cein, tunggu!” cegah Indra. Kedua anak itu berhenti, “Tuh dosen Cuma panggil kamu, Lang. jadinya aku boleh pergi,dong.” Kata Kevin.

“Dasar Pengecut!” umpat Cein.

Kevin meringis kecut dan meninggalkan Cein. Sory, Cein. Lagian itu salahmu. Berani –beraninya godain dosen tamu. Mentang-mentyang kamu cowok paling populer di kampus.

Cein berbalik. Kini Indra ada di depannya. Mau apa lagi, nih?

“Karena kamu tadi tidak hadir di kelas, kamu tidak bisa lepas dari hukuman.”

“Lho. Bukannya hukuman itu buat yang terlambat saja, Pak!”

“Enak saja! Lalu biar gak kuhukum, kamu gak masuk aja sekalian, gitu!” bentak Indra. “Sebenarnya aku tadi lihat waktu kamu melongok dari jendela.”

Indra mengeluarkan kertas, “Tolong selesaikan soal ini. Di sini ada sepuluh soal dan harus kau jawab semua dengan benar.”

Gila! Soal hitungan Kimia Analisa Kuantitatif ? Yang bener aja,nih. Ada sepuluh lagi. Indra tersenyum penuh kemenangan.”Mampus kamu, Cein! Soal itu yang aku terangkan di Kuliah tadi, kamu pasti gak bisa ngerjakan. Salah sendiri bolos.”

Indra pergi meninggalkan Cein. Tuh dosen pilih kasih amat, sih? Padahal Mei yang hampir 50% absen aja, gak pernah dikasih tugas kayak gini. Apa dia sentimen sama aku?

Cein tertawa geli. Dilihatnya arloji sudah menunjuk pukul 11.00, waktunya praktikum Ilmu Resep. Dia memakai jas praktikum dan membaur bersama teman-temannya yang sibuk belajar pretes.

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s