The Secret (Part 4)

Kali ini Jack Hoebe benar-benar tak habis pikir. Nick menggugat Williams Bouwens atas tuduhan pemalsuan akta kematian Charlotte Whitely dan mengakibatkan sang “Raja Media” itu meninggal. Dan anehnya, Nick tetap meneruskan gugatannya itu. Jack berdiri dan membanting Koran yang baru saja dibacanya itu di depan Nick sambil berteriak,”Hentikan semua ini, Nick!”

“Apa maksudmu?” Nick yang duduk di sofa mendongak padanya. Jack duduk di depan Nick, memandang dengan penuh intimidasi,”Justru aku yang harus bertanya padamu. Apa maksudmu melakukan ini?”

Nick menyandar dan memandang langit-langit.”Wanita itu adalah Charlotte, aku yakin itu. Dia bahkan menoleh saat aku memanggilnya ‘Charlotte Whitely’, bahkan menjawab dengan tepat saat wartawan suruhanku menyinggung-nyinggung tentang filmnya enam tahun yang lalu.”

“Jika memang dia Charlotte yang meninggal lima tahun yang lalu, apa untungnya dia mengganti nama?”

“Itulah kenapa aku menuntut Williams Bouwens. Aku yakin pria itu yang berada di balik semua ini.”

Jack menghela nafas. “Jika memang semua itu benar, aku yakin ada alasan tepat  tapi jika salah…,” Jack agak ragu mengatakan konsekuensi dari tindakan Nick. “Bersiap-siaplah jika mereka menuntut balik dengan alasan mencemarkan nama baik. Apa lagi dengan tindakanmu ini, Williams meninggal.”

Lengkungan sinis segera tampak di bibir Nick.”Pria jantungan itu tidak akan mati jika tuduhanku tidak benar.”

Jack hanya bisa angkat tangan. Lima tahun jadi manajer Nick, dia semakin bingung dengan jalan pikiran artisnya itu, “Terserahlah.”

————————–

“Nyonya Bouwens,” Paoli memandang Charlie dengan tatapan memohon. Dia yakin usulnya itu akan meringankan beban berat Charlie, tapi rupanya ada hal lain yang mengganjal di hati wanita anggun itu.

“Saya mohon, ijinkan saya membantu,” sekali lagi Paoli berharap.

Charlie menoleh padanya dengan desahan nafas yang berat.  Tampak oleh Charlie, perut Paoli yang membuncit karena kehamilan yang tinggal menunggu hari lahir. Mengikutsertakan Paoli di saat ini, benar-benar bukan ide yang bijak. “Kau harus lebih focus dengan kandunganmu sekarang, lagi pula masalah ini bukan urusanmu.”

“Dengan tuntutan saya, Nick tidak akan berkutik, dia mau tak mau melepaskan kasus itu,” Paoli kembali menegaskan usulannya.

“Kau pikir apakah itu bijak, dengan mengatakan Nick Rothman adalah ayah biologis dari anak pertamamu? Kau bahkan tidak memikirkan perasaan suamimu.”

“Dia sudah tahu!” pernyataan Paoli bagaikan palu yang dipukulkan berkali-kali di kepala Charlie. “Dia bahkan tahu sebelum kami menikah. Selama ini kami diam, karena memang menyayangi Brian dan suami  saya menyayangi Brian seperti putranya sendiri. Tapi melihat tingkah Nick yang sudah keterlaluan sekarang ini, saya rasa sekaranglah saat yang tepat.”

Sejenak Charlie terdiam. Mengalihkan suatu kasus dengan kasus yang lain? Itu bukan tipe Charlie. Sekali lagi dia menggeleng, lalu berdiri dari kursi kerjanya, mendekati Paoli bahkan memegang tangannya. “Pulanglah!”

Paoli yang masih duduk mendongak padanya,”Nyonya?” memandang dengan mata menyipit, tak mampu menebak jalan pikirannya.

“Aku terima usulmu, tapi tidak untuk dilakukan sekarang,” kata Charlie, begitu tenang walaupun hatinya penuh gejolak. Tangan lentik Charlie terulur, memegang perut Paoli dan mengelusnya lembut,”Umurmu lima tahun lebih muda dariku, tapi kau sudah akan mempunyai tiga orang anak.”

“Nyonya, sekali lagi, maafkan saya.”

Charlie tersenyum. Dia mulai mengingat semuanya sekarang. “Pulanglah, Paoli. Persiapkan kelahiran putramu dengan tenang. Aku akan menghubungimu jika saatnya tiba.”

———-THE SECRET———-

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

Charlie duduk menghadap jendela. Hujan di sore hari ini setidaknya membuat kerumunan wartawan yang selalu mengganggu di gerbang depan bubar sementara. Saat nafasnya terhela, bau tanah basah yang tercium melonggarkan paru-parunya. Dia sangat menyukai aroma itu. Begitu menenangkan walau dia bukan petani yang selalu bersorak jika hujan tiba di saat kemarau panjang. Mungkin saja hujan ini akan membentuk oase nantinya, menghalau dahaga bagi para perantau di gurun pasir. Ah, perumpamaan yang begitu berlebihan. Dahaga apa yang dialaminya kini. Dia adalah janda terkaya di korea selatan sekarang. Dengan masa lalu yang masih diperdebatkan, apakah Charlotte Whitely? Ataukah Charlotte Rothman? Atau mungkin Charlie Adams, seperti nama yang selama ini tercantum di sebuah kertas yang dia yakini sebagai akta lahirnya.

Pintu kamarnya diketuk dari luar. Itu pasti Robert, pria itu berjanji menemuinya sore ini. “Masuk!” tanpa pikir panjang Charlie memerintah. Wajah ramah Robert Cassidy terpampang jelas di depannya sekarang, berdiri setelah membungkuk penuh hormat.

“Ini adalah laporan dari pengacara kita, Nyonya,” kata Robert sambil mengulurkan map dokumen yang dijanjikannya pada Charlie.

Charlie mendekat, lalu merebut map itu sambil berkata ketus,”Sudah kubilang jangan memanggilku Nyonya jika hanya ada kita berdua!”

Tentu saja Robert merasa serba salah,”Sekali lagi, maaf, Bibi.”

Charlie menduduki sofa di dekat ranjang, lalu membaca lembaran-lembaran dokumen itu dengan kening berkerut. “Dia belum menyerah juga.”

“Benar, Bibi. Bahkan dia menantang Bibi untuk hadir di pengadilan, membuktikan kalau tuduhannya benar.”

“Aku tidak akan datang!” tegas Charlie sambil menutup dokumen-dokumen itu. “Biarkan surat-surat resmiku yang bicara di pengadilan.”

“Sebenarnya apa yang dia dapat dengan memaksa anda mengaku sebagai Charlotte Whitely?” pertanyan Robert yang sebenarnya dia sendiri tahu jawabannya.

“Uang,” jawab Charlie yang tepat sekali dengan tebakan Robert. “Aku tidak akan memberikan semua itu. Jika aku bisa membuktikan kalau aku bukan Charlotte Whitely, dia akan kalah, dan kita bisa menuntut balik dengan tuduhan pencemaran nama baik.”

Robert tersenyum sekarang. “Rupanya Bibi sudah ingat semuanya. Paman sempat kawatir karena Bibi tidak menemui Antoine de Vernay tahun ini. Saya rasa kekawatiran paman cukup beralasan.”

Pandangan mata Charlie mulai menyipit. Antoine de Vernay adalah dokter pribadinya sejak lima tahun yang lalu. Williams selalu menyuruhnya melakukan pemeriksaan rutin pada dokter keturunan Perancis itu walau pun Antoine berpraktek jauh di Kanada sana. “Apa hubungan Antoine dengan semua ini?”

“Memangnya apa yang Bibi lakukan jika menemuinya?”

“Pemeriksaan kesehatan biasa,” jawab Charlie mantap.

Robert menggeleng dengan senyum mengejek. Dia yakin Charlie mengira demikian. Soal kesehatan Charlie yang sebenarnya, hanya dia dan William yang tahu. “Bukan hanya pemeriksaan kesehatan biasa, Bibi.”

“Lalu?” Robert Cassidy benar-benar membuat Charlie penasaran.

“Biarkan Antoine de Vernay yang menjelaskannya.”

——————————

“Ini adalah dokumen-dokumen resmi dari Charlie Bouwens!” deglare pengacara dari keluarga Bouwens di pengadilan. Salinan dari surat-surat itu tentu sudah berada di meja hakim dan para juri, bahkan pengacara dari pihak lawan.

“Terlahir sebagai Charlie Adams di Kanada. Ibunya adalah keturunan Korea sedangkan ayahnya adalah Joshua Adams, warga asli Kanada,” pengacara itu menjelaskan dengan berapi-api.“Semuanya jelas di sini. Surat-surat ini resmi dikeluarkan di Kanada tiga puluh tiga tahun yang lalu.”

“Lalu bagaimana bisa Nick Rothman begitu yakin kalau dia Charlotte Whitely?” tanya jaksa penuntut umum.

“Pak Jaksa yang terhormat. Anda bahkan sudah tidak meragukan keaslian dari surat-surat ini sejak pertama menerimanya. Masalah keyakinan saudara penggugat, saya rasa kita musti membedakan antara kebenaran dan keyakinan, karena sesuatu yang kita yakini masih harus dibuktikan kebenarannya. Dan sekarang, inilah saatnya membuka tabir kebenaran itu. Kebenarannya adalah….

Pengacara itu menatap Nick dengan pandangan prihatin yang dibuat-buat,”Keyakinan Nick Rothman selama ini salah besar!”

“Brengsek!” Nick Rothman berdiri dengan emosi yang tersulut, menyerang pengacara itu. Pengadilan geger kemudian. Hakim mengetuk palu berkali-kali menenangkan masa yang beteriak huu dengan keras. Petugas keamanan pengadilan segera mengamankan Nick.

“Dia Charlotte Whitely! Aku yakin Dia Charlotte!”

Nick benar-benar memalukan. Teriakan itu masih saja dia dengungkan walau kini dalam keadaan setangah mabuk di sebuah bar. Kapalanya menelungkup di bartable, tangan kanannya yang memegang sloki mengetuk-ngetuk di meja. “Dia Charlotte.. hik. Aku yakin itu… .”

Jack yang duduk di sebelah kanannya geleng-geleng kepala. “Aku sudah bilang, hal ini lah yang nantinya akan terjadi.”

“Ah! Cerewet, kau!” Nick mendadak menarik kerah kemeja Jack dengan geram.

“Sebenarnya apa yang kau harapkan jika dia benar-benar Charlotte?” pertanyaan itu yang selama ini mengganggu benak Jack. Sebenarnya apa arti Charlotte Whitley bagi seorang Nick Rothman.

“Antarkan aku padanya!” pinta Nick dengan mata jalangnya yang memerah.

“Apa?” Jack benar-benar buntu menghadapi jalan pikiran Nick.

“Antarkan aku pada istriku!” jerit Nick  tepat di muka Jack.

Jack berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Nick yang serasa mencekik. “jika yang kau maksud istri adalah Charlotte Whitely! KAu lupa kalau pengadilan sudah memutuskan dia benar-benar meninggal?”

“Arkh!!” Nick benar-benar histeris. Dia berjalan sempoyongan keluar dari bar. Jack hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya bahkan membiarkan begitu saja Nick menyetir. Dia sudah eneg tingkat akut dengan ulah Nick. Kalau pun Nick mati gara-gara mabuk malam ini, dia rela sudah.

Nick Rothman mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan menuju kediaman Bouwens. Membuat heboh para kuli tinta yang masih bergerombol di depan pintu gerbang, menanti sambutan Charlie Bouwens atas kemenangan kasusnya.

Dengan frontal Nick menabrakkan mobil mewahnya di pintu gerbang, para gerombolan wartawan sontak bubar kocar-kacir. Alarm dari pintu gerbang berbunyi nyaring lengkap dengan cahaya merah berkerlap-kerlip tanda bahaya. Anehnya, Nick masih bisa keluar dari mobil peyok itu walau sempoyongan. Bahkan mengerak-gerakkan gerbang besi itu dengan kasar.

“Charlotte Whitely! Keluar!”

Para wartawan semakin heboh dengan adegan berikutnya.

“Keluar, kataku! Keluar!”

Nick Rothman lemas sudah. Orang yang selama ini dirindukan telah mengingkari semuanya. Akhirnya dia terduduk, bersimpuh di depan gerbang besi yang serasa dingin dan angkuh itu. “Aku mohon keluar,” tak pernah ada yang melihatnya menangis seperti itu. “Aku mohon…., Charlotte sayang… Aku mohon…. .”

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s