LIFE FOR THE PAST (Chapter II)

KARENA SAYA MENGAGUMI ANDA

PART 1

Jam 7 pagi, jalan-jalan di kota Solo mulai menggeliat. Kehidupan dimulai. Bis-bis kota mulai dipadati anak-anak sekolah. Satu jam berlalu, kali ini anak sekolah sudah masuk. Jalan berganti ramai oleh pekerja kantoran. Bukannya semakin tertib, beberapa pelanggaran terjadi hingga terdengar bunyi klakson bersautan.

Di sebuah bengkel yang terletak di komplek perumahan Fajar Indah, beberapa pekerja memulai pekerjaan rutin mereka. Joni, pemilik bengkel, memeriksa mesin mobil milik Jerry. Ai, istrinya heran. Tidak biasanya Joni turun tangan. Dia mengira pemilik mobil itu pasti langganan penting. Ditinggalkannya pekerjaan rumah untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

“Mobil siapa, Yah?” tanya Ai.

“Mobil temennya Sunny.”

“Sunny? Kapan Ayah ketemu Sunny ?”

“ Tadi  malam dia telpon.”

“Sudah pulang dia rupanya. Seperti apa dia sekarang ? Sudah punya suami? Apa mungkin teman yang mobilnya mogok itu calon suaminya kali ya, Yah?”

“Hush ! Ngawur aja. Temennya itu sudah punya anak-istri. Tadi malam saja anak-istrinya juga ada. Sepertinya mereka secara tidak sengaja ketemu di jalan.”

“Terus, Ayah tanya, nggak dia sudah punya suami apa belum?”

Joni geleng-geleng kepala, “ Ya nggak sempatlah aku tanya-tanya kayak gitu. Kenapa nggak ke rumahnya saja, terus tanya sendiri sama orangnya ?”

“Rumahnya kan sudah pindah, Yah. Alamatnya yang baru aku juga belum tahu, tapi nomer HP masih yang dulu kan, Yah?”

“Gak tahu, Bu. Yang dia hubungi telpon bengkel. Coba nanti kalau yang punya mobil ini datang, aku tanyakan ke dia.”

Ai bersemangat. Joni mencoba  menghidupkan mobil, macet total. “Mobil bagus, kok mesinnya sowak,” pikir Joni. Dia keluar dari  mobil dan menuju dapur untuk minum. Dilihatnya sang istri sedang menyiapkan nasi goreng untuk sarapan.

 “Cein  belum pulang, Bu ?”

“Kemarin sore dia sudah ijin, katanya mau nginap di kampus. Dia jadi panitia Lustrum.”

Joni manggut-manggut. Cein memang bersemangat  dengan kuliahnya. Dari kecil Joni dan Ai selalu  mendorongnya untuk giat belajar. Apa pun akan mereka lakukan  untuk membiayai kuliah Cein. Ai selalu mensuport Cein dengan kisah hidup Sunny Natalia.

Ai dan Sunny adalah teman waktu mereka sama-sama sekolah di SMF dulu. Bedanya Sunny meneruskan kuliah, sedangkan Ai tidak. Dan sampai sekarang Ai menyesali keputusannya itu. Ai sangat senang waktu Cein mamutuskan masuk Fakultas Farmasi. Itu seperti membayar penyesalannya di  masa lalu.

…………………………………………

Cein tampak ragu-ragu saat akan memasuki ruang kuliah. Pagi ini dia telat banget. Apalagi sekarang ini  mata  kuliah  Kimia  AnaSunny  Kuantitatif  yang  diampu  Pak Indra, dosen paling  kiler  di  kampus. Dia  melongok  ke  dalam   ruang  kuliah.  Ya ampun, lima orang sudah berdiri di depan kelas. Bisa ditebak jika dia nekat masuk, pasti dia akan jadi orang keenam. Mending gak usah masuk aja. Dengan gontai dia menuju ruang senat. “Busyet, tuh dosen ngajar mahasiswa ato anak SMA, sih, pake acara disetrap segala kalo telat,” pikirnya dalam hati. Mei, temannya yang naksir berat sama dia memanggil. Cein menoleh. Mei segera mendekatinya.

“Gak masuk lagi, Mei?” tanya Cein.

Mei mengangguk,”Cein sendiri kenapa gak masuk?”

“Telat, sudah ada lima orang yang disetrap, daripada disetrap mending gak masuk saja.”

“Tumben kamu telat?”

“Iya, semalam habis acara reuni, aku gak pulang. Nginep di ruang senat ma Kevin. Eh, malah kesiangan.”

“Eh, Cein sudah sarapan,belom?”

“Belum. Emang kenapa? Mau nraktir?”

“Ayo!” wah, rejeki nomplok,nih. Mereka menuju kantin. Hati Mei jadi deg-degan. Wah, sarapan ma Cein ? Ngimpi apa ya semalam ? Dia senyum-senyum sendiri hingga tak sadar Cein sudah lima langkah di depannya. Dia berada di tengah jalan dan terkejut karena sebuah mobil membunyikan klakson. Cein menoleh ke belakang. Mei menepuk-nepuk dada. Untung aja jantungku gak copot. Siapa, sih  dilingkungan kampus bunyiin klakson? Gak sopan banget ! Mei menuju pengendara mobil yang masih dengan santai duduk di belakang kemudi.

“Eh, Mbak ! Kalau di kampus itu jangan berisik, ya !” Ujar Mei sinis. Sang  pengemudi  tak terpengaruh tetapi terus melaju dan meninggalkan Mei. Cein mendekati Mei.

“Uh, nyebelin banget sih tuh orang,’ umpat Mei sambil memandangi mobil itu yang kini berhenti setelah mendapatkan tempat parkir.

“Lagian kamunya, sih. Kalau jalan lihat-lihat. Jangan meleng aja..”

Mei masih saja memandangi mobil itu dengan geram. Seorang wanita turun dari mobil itu. Mata Cein berbinar, “Sunny Natalia !”

“Sunny Natalia? Siapa tuh?” tanya Mei. Cein tak memperdulikan, dia segera mendekati Sunny. “Pagi, Masih ingat saya?” Sapa Cein setelah berada di depan Sunny. “Saya Cein, semalam kita kenalan.”

“ Oh, mahasiswa tingkat satu yang semalam jadi panitia?” tanya Sunny. Cein mengangguk. “Ruang tiga belas sebelah mana, dik ?”

Cein memberi ancer-ancer ruangan yang dimaksud. Sunny manggut-manggut. Dia mengucapkan terimakasih dan setelah itu berlalu. Cein termangu. Wow, sungguh wanita yang angun, cantik, berkepribadian lagi. Mobil pribadi, rumah pribadi he he he…

Mei menepuk bahu Cein. “Cein, sepertinya aku sudah tahu siapa Sunny Natalia. Lihat ini! “

Mei memenyodorkan selebaran. Kuliah perdana? Dosen tamu? oh, Sunny jadi dosen tamu kuliah perdananya program profesi apoteker.

“Wah, kesempatan bagus, nih,” pekik Cein.

“Bagus? Bagus apanya?”

“Mei, sory. Aku kayaknya gak jadi sarapan.”

“Lho, kok ?”

Mei berteriak memanggil Cein. Cein lari menuju ruang tiga belas. “Ngapain sih tuh anak,” pikir Mei. Ah, mending kuikuti saja.

Cein dan Mei segera mengambil tempat duduk. Kuliah perdana program profesi apoteker segera dimulai. Agak grogi juga mereka berada diantara mahasiswa apoteker. Mei mencolek Cein,”Ngapain, sih kita mesti ke acara ini?”

Cein menunjuk ke Sunny, “ Wanita di depan itu Sunny Natalia, dia teman SMA ibuku. Dulu dia kuliah disini lalu merantau ke Papua dan berhasil membuka beberapa apotek dan hotel disana. Aku dengar dia selalu mematok harga tinggi untuk jadi pembicara, tapi kalau di kampus ini, sepertinya dia tidak memungut biaya sepeser pun. Bukankah dia alumnus sini.”

“ Kok aku gak pernah dengar, ya? ”

“ Makanya, Mei. Sekali-kali baca majalah bisnis dong, jangan tabloid gosip melulu”.

TBC PART 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s