THE SECRET (Part 3)

Di sinilah mereka, ditengah keheningan malam pinggiran sungai Han yang akhirnya terpecah oleh suara pintu mobil yang dibanting. Sungguh luapan amarah yang begitu terpendam. Charlie hanya bisa menutup matanya, memedam ketakutan yang teramat sangat. Bayangan demi bayangan samar di masa lalu bersliweran di otaknya.

“Keluar!” Nick sudah membuka pintu mobil di samping Charlie, bahkan menyeret tubuh gemeteran itu dan menghimpitnya ke badan mobil. Hal yang sungguh di luar dugaan, pria itu memaksa mencium dan dia meronta, menahan sekuat tenaga dengan dorongan tangannya yang bergetar, bahkan mengelak ciuman itu dengan menolehkan kepala dalam-dalam. “Lepas!”

Sepatu hak lancip akhirnya menginjak telapak kaki Nick, pria itu kini meloncat-loncat menahan rasa sakit. “Apa maksud semua ini, Bodoh!” bentak Charlie dengan ekspresi naik pitam.

Nick menyeringai sambil memegangi ujung sepatunya. Kecongkakan begitu kentara saat dia menegakkan tubuhnya dengan lengan yang sekali lagi mengukung Charlie. Tatapannya seolah mengintimidasi.  Hal yang begitu mengherankan bagi Charlie adalah pria itu memanggilnya Charlotte Whitely, dan anehnya alam bawah sadarnya mengklaim bahwa itu namanya dan menoleh.

“Kau yang meninggalkanku lima tahun yang lalu,” tegas Nick sambil menunjuk-nunjuk. Mata Charlie membulat seketika, apa-apaan ini?

“Dan ternyata selama ini kau menjadi duri dalam karierku, menghambat dengan penyamaran analissa film bernama Charlie Bouwens!” lanjut Nick berapi-api.

Charlie mengkerutkan kening. Sebuah limousin berhenti beberapa kaki dari mereka. Sang sopir turun, membuka pintu untuk tuannya dengan penuh rasa hormat. Pria berambut keperakan itu tidak turun dari mobil, hanya memanggil keras,”Charlie!” Serempak kedua orang yang berimpitan di mobil dengan pandangan saling mengintimidasi itu menoleh. Mau tak mau Nick melonggarkan kungkungannya. Charlie yang tersenyum lega,”Sayang.”

Nick mengatupkan rahangnya. Panggilan itu ditujukan untukknya lima tahun yang lalu dan ternyata… pria berumur lebih dari setengah abad itu yang kini menerima kasih sayang itu.

“Saatnya pulang sekarang,” ucap pria berambut perak. Charlie menurut, perlahan dia menuju limousine. Duduk di samping pria itu. Nick membungkuk memberikan rasa hormat, dia tahu betul siapa pria itu. Williams Bouwens, si Raja Media.

“Saya ikut membantu istri saya menganalisa film anda, Tuan Rothman,” kata Williams dengan tenangnya. Nick semakin melebarkan matanya, semua alasannya marah pada Charlie tidak beralasan. Dan Will menganggkat tangannya, seolah memberi tanda kalau dia lebih berkuasa darinya. “Film yang bagus, tapi akan lebih baik jika tidak ada plagiatisme di sountracknya.”

Kepala perak itu memberi isyarat pada sang sopir untuk menutup pintu. Limousin mewah milik Bouwens meninggalkan Nick yang terbengong begitu saja. Williams Bouwens, seorang pembisnis ulung di bidang media dan juga sineas senior hebat, jika semua film yang dianalisis Charlie juga dinilai oleh pria itu, berarti alasan kemarahan Nick sungguh keterlaluan.

Namun Charlie merasa tak terima dengan hal yang diungkapkan Williams tadi. Selama ini festival mengira dialah yang menganalisa film, dan fakta yang terungkap tadi tentu membuat kredibilitasnya hancur. Will segera  di bantu pelayan menuju kamar, sementara Charlie yang terlalu emosi menghentak-hentakkan kakinya. Memandang tajam ke arah suaminya yang kini tengah duduk di ranjang, menerima perawatan para pelayan yang mengganti pakaiannya dan membasuh kaki dan tangannya.

“Aku bisa mengatasi hal ini sendiri. Sudah kubilang aku akan menelphon jika harus dijemput!” Charlie berkacak pinggang. Will hanya bisa menghela napas. Para pelayan tetap pada tugasnya masing-masing. Hal semacam ini sudah sering terjadi. Dimana sang Nyonya marah-marah tak karuan pada Tuan mereka. Mereka baru akan pergi setelah Will memberi kode.

“Dan bagaimana bisa kau menemukanku? Lalu memberitahunya kalau kau juga ikut menganalisa! Kredibilitasku dipertaruhkan!”

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,” jawab Will dengan tenang. Pelayan mulai merebahkan tubuhnya di ranjang. “Dan apa kau lupa ada layanan GPS di ponselmu?”  Charlie mendengus. Will memberi kode agar pelayan-pelayan itu meninggalkan kamar.

“Kau bahkan tidak mirip dengannya,” ucap Will sambil menerawang, hanya ada dia dan Charlie di kamar itu sekarang. Charlie tahu betul siapa yang dimaksud. Siapa lagi kalau bukan Andrea yang selalu diagung-agungkan Will, dibanding-bandingkan dengannya.

“Hentikan !” teriak Charlie histeris.

“Cukup, Charlie Bouwens!” Will benar-benar marah sekarang. Dia segera mengatur nafas, jantungnya terlalu lemah untuk emosi yang berlebihan. Lalu pelan-pelan menoleh pada Charlie yang tentu saja mengatur nafas. “Hentikan sebelum jantung suamimu ini benar-benar berhenti.”

Air mata mengalir di pipi Charlie. Kehilangan pelindung seperti Williams Bouwens sungguh menakutkan baginya. “Tidak bisakah kau mencintaiku? Mencintaiku… sedikiiit saja,” pohon Charlia sambil menunjukkan ibu jari tangan kanan yang menekan telunjuk.

Williams berpaling pada foto Andrea yang tergantung  di dinding. “Apa yang kau harapkan lagi Charlie Bouwens? Semuanya telah kuserahkan padamu. Kau adalah janda terkaya setelah aku meninggal nanti.”

“Aku tidak butuh itu, Will,” Charlie mendekati ranjang, berjongkok dan menangis. “Persetan dengan semua itu, kenapa tidak kau ijinkan aku mengenal rasanya dicintai sekali saja? Kenapa kau tidak pernah menganggapku sebagai istrimu dan bukannya sebagai penerus ‘TBS’. Kenapa?”

Charlie benar-benar pilu. Di luar sana mungkin dia terlihat tegar. Namun tak dipungkiri, hatinya bukan terbuat dari kayu. Dia menginginkan lebih dari sekedar materi.

“Sudahlah, Charlie Bouwens. Tetaplah menjadi Charlie Bouwens dengan karakter kuatmu. Karena kau benar-benar akan membutuhkan kekuatan itu. Sebentar lagi, rahasia itu akan terungkap…., Charlotte Whitely.”

Charlie mendongak. Panggilan itu, Charlotte Whitely!

“Tidak! Tidak! Tidak!”  Charlie kembali histeris. Will mencoba menutup telinga dan memejamkan mata. Temperamental Charlie benar-benar tak ketulungan. Sekali lagi wanita itu tergugu. Terduduk lemah di lantai, meratapi hal yang baru saja diingatnya.

“Setelah selama ini …, pada akhirnya kau akan teringat kembali. Antoine sudah memperingatkan hal ini padaku berkali-kali.”

“Tidaaakkkk!” Charlie berlari keluar kamar sambil berteriak.

—————————– THE SECRET—————————–

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

 “Hah! Benar-benar fantastis!” kata seorang wartawan di kantornya. Sang teman nyengir dengan penuh kemenangan, seolah baru saja menemukan tambang emas.

“Mereka diam-diam berhubungan delapan tahun yang lalu!” sahut wartawan itu lagi.

“Bukan hanya berhubungan. Tapi lebih dari itu, teman.” Pria satunya manggut-manggut puas.

“Apa maksudnya?” tentu saja yang lainnya menoleh dengan pandangan bertanya. Pria yang manggut-manggut tadi menyodorkan foto tua yang mulai pudar. “Pernikahan rahasia di Texas.”

Foto itu terangkat. Diamati dengan penuh teliti dengan menggunakan lup. Foto seorang pria berpakaian santai seperti yang sering dipakai orang-orang yang bertamasya musim panas dan seorang wanita yang cukup manis berbalut babydool. Sementara partner kerjanya tadi sekali menegaskan. “Charlie Bouwens alias Charlotte Whitely.”

Pria yang mengamati foto tadi menoleh ke arahnya,”…Atau Charlotte Rothman.”

Sehari berikutnya sebuah berita heboh terpampang dengan tulisan besar-besar :

 

“Charlie Bouwens atau Charlotte Whitely. Ataukah mungkin Charlotte Rothman?”

Berita yang sungguh meledakkan media Negara itu. Nama Charlie Bouwens menggeser peringkat artis yang sedang naik daun di trend topic. Membuat sang empunya nama harus dikawal lebih ketat di setiap aktivitasnya. Seperti biasa para wartawan menghubungkan satu berita ke berita yang lain. Kredibilitas Charlie sebagai analisis film yang obyektif mulai dipertanyakan. Para sineas yang memenangi festival berunjuk rasa dengan mengembalikan tropi yang diperoleh secara serempak.

Gedung perkantoran ‘TBS’ selalu ramai dengan jejalan wartawan di pelatarannya. Charlie memandang semua itu dari dinding kaca ruangannya yang berada di lantai tujuh. Sudah berapa kali juru bicara yang mengatasi pertanyaan usil para kuli tinta itu dan dia benar-benar sangat lelah.

Pintu ruangan terbuka pelan-pelan. Robert Cassidy, sang asisten membungkuk hormat. Charlie tahu kehadirannya, tapi tetap saja menatap jendela. Wanita ini benar-benar ketakutan beberapa hari ini, bahkan setiap bisnis dialah yang harus mengambil alih.

“Nyonya…,” panggil Robert pelan. Charlie menoleh lambat-lambat. “Sudah kubilang jangan memanggil terlalu resmi jika hanya ada kita berdua,” tegas Charlie.

“Oh, maaf… Bibi,” agak canggung Robert mengatakan panggilan itu, walau pun dia adalah keponakan dari Williams Bouwens.

Charlie bergerak lambat ke kursi kerjanya. Menyandar secara anggun, bahkan memandang penuh selidik,”Ada apa?”

Robert berusaha santai sekarang. Karakter sang bibi sudah mulai kembali. “Kami sudah bertemu Paoli Harris. Dia berada di luar sekarang.”

Roman muka Charlie mulai menampakkan kegundahan. “Oh…, persilahkan dia masuk.”

—oOo—

Kamar mewah Williams masih terlihat sunyi pagi itu, saat seorang perawat membangunkannya. “Tuan.., waktunya anda membersihkan diri sekarang.”

Perawat itu menyentuh pundak Williams. Lengan Williams tiba-tiba terkurai di pinggir ranjang. Sang Perawat berkernyit, mulai panic saat menyadari tidak ada denyut nadi di lengan itu. Bahkan wajah tua itu sudah sangat pucat. Tubuh Williams sudah terbujur kaku, berubah menjadi mayat tak bernyawa.

“Tolong! Tolong!” teriakan sang perawat membuat semua orang di rumah mewah itu menuju kamar Williams termasuk Charlie. Tidak ada lagi yang tersisa sekarang, sang pelindung telah pergi.

“Tidaaakkkk!”

Dan pagi hari itu diawali dengan jeritan pilu seorang Charlie Bouwens di depan mayat suaminya.

 

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s