LIFE FOR THE PAST (REUNI PART 2)

REUNI

PART 2

Gelap, suasana yang menyapa Sunny saat dia memasuki rumah yang dibangunnya dengan biaya sendiri yang kini ditinggali oleh kedua orang tuanya. Bisa dibilang rumah itu adalah salah satu simbol kesuksesan seorang Sunny Natalia. Kini dia sedang meraniti anak tangga menuju lantai kedua. Peristiwa demi peristiwa yang baru terjadi silih berganti memenuhi kepala. Puih! Selalu saja begitu, mereka selalu menanyakan kapan menikah dan seperti biasa dia selalu menyanyikan lagu koes plus dan berlalu, “Kapan-kapan…”

Sunny terperanjat saat ibunya sudah berada di depannya dan berkata,” Baru pulang?”

Sunny membuka pintu kamar, ibunya mengikuti dan duduk di tepi tempat tidur. Sunny meletakkan tas diatas meja, membantingkan badan di sofa dan melepas sepatu seenaknya. “Kenapa mama belum tidur?”

Sunny bangkit, membuka lemari dan mengeluarkan piyama yang akan dipakainya.

“Mama nunggu kamu.”

Sunny memasuki toilet dan berganti pakaian. Sekejap dia keluar dengan piyama dan  riasan wajah yang terhapus.

“Jerry juga datang ?” tanya mama. Sunny terhenyak.

“Bagaimana kabar Jerry sekarang ?”

Sunny menunjukkan pandangan penuh selidik.” Kenapa mama menanyakan Jerry?”

Mama menghela nafas. Dia tahu watak Sunny. Sunny akan berusaha balik bertanya jika enggan menjawab pertanyaan karena itu dia tidak terpancing. Dia tetap menunggu jawaban. Akhirnya Sunny mengalah, “Jerry sudah menikah dan mempunyai dua orang anak. Nah, sekarang mama belum jawab pertanyaanku.”

“Maafkan mama, Sun. Mama selama ini membaca buku harianmu dan mengetahui bahwa…”

“Apa ? Mama kok gitu, sih, itu melanggar privasiku.”

“Aku tahu, Sun. Maafkan mama.” Seketika sang mama bercerita bahwa pada waktu mereka pindah rumah dan Sunny masih di Papua. Mamanya bingung saat memasuki kamar Sunny untuk mengangkut barang mana yang penting, karena itu dia memeriksa satu per satu termasuk buku harian. Sunny merebahkan tubuh.

“Diakah alasanmu hingga kau secara tiba-tiba memutuskan ke Papua?”

Sunny terdiam.

“Kau masih mencintainya?”

“Ma, sudahlah ! Aku capek, “ Sunny merajuk.

“Kapan lagi aku mengatakan ini padamu, Sun ? Pagi ? Berani taruhan, besok pagi kamu pasti sudah pergi dan pulang jam-jam segini.”

“Bukankah mama sudah baca buku harianku? Seharusnya mama sudah bisa menyimpulkan.”

“Tapi dia sudah punya istri dan dua orang anak…”

Sunny bangkit. Dia merasa harus meluruskan keadaan. “Lalu kenapa? Mama pikir aku akan merusak rumah tangga mereka? Nggak mungkin!  Aku masih waras, Ma. Sebesar apa pun rasa cintaku pada Jerry dan sampai kini aku masih menyimpannya. Aku tidak mungkin mengecewakan wanita lain. Aku masih punya susila.”

Nafas Sunny turun naik. Sekejap sang mama terkejut. Sudah dapat diprediksi sebelumnya keadaan ini pasti terjadi. Sifat Sunny yang emosional membuat orang tuanya selalu mendiamkan apapun yang dia perbuat.

“Mama minta maaf, Sun. Mama hanya mau mengingatkanmu bahwa mencintai tidak harus memiliki. Kau punya kehidupan sendiri. Kau tahu, seharusnya saat ini kau mengalami hal yang sama dengan teman-temanmu alami. Menikah dan punya anak. Bukannya menenggelamkan diri dalam pekerjaan hanya untuk melupakan kegagalan cintamu.”

“Mulai, deh,” sepertinya Sunny mulai tahu arah pembicaraan, apalagi kalau bukan pemaksaan kehendak untuk segera menikah?

“Ngaku aja deh, Ma. Anak temen mama yang mana lagi yang mau Mama sodorin?”

“Kok kamu gitu, sih, Sun?”

“Mamaku sayang, Sunny ngantuk banget. Mau, ya Mama keluar dari kamar Sunny. Sunny mau tidur. Jangan lupa tutup pintunya.”

Sunny terbaring dan menutupi mukanya dengan bantal. Mama  Sunny  keluar dari kamar dengan perasaan dongkol. Dasar orang aneh, Papa juga, sih  gak mau bicara dari hati ke hati sama dia. Tapi mana Papa berani coba. Lihat saja tadi sikapnya yang langsung meradang. Masih untung tadi dia tidak ngamuk. Malu kan ma tetangga kalau malam-malam ribut.

Sunny mendengar langkah kaki mamanya yang semakin menjauh. Dia  menghempaskan bantal yang menutupi mukanya. Kenapa, sih setiap orang merasa berhak menentukan dengan siapa dia harus menikah? Tadi Jerry dan sekarang Mama. Dalam hati dia mengiyakan kata-kata Mamanya. Tapi dengan siapa dia harus menjatuhkan pilihan jika setiap ada cowok yang mendekati dia selalu membandingkan dengan Jerry. Jerry, Jerry dan selalu Jerry.

Jerry, bodinya sekarang sedikit gemuk. Tentu saja, sepertinya Beb mengurusnya dengan baik. Dulu bodynya atletis banget. Jerry selalu membicarakan apa saja yang menurutnya menarik untuk dibahas. Dia bahkan selalu membanggakan dirinya yang jadi rebutan cewek-cewek di kampus. Kalau sudah begitu Sunny cuma memonyongkan  bibir dan berpikir sombong benar nih anak. Tapi benar juga, dengan wajahnya yang tampan dan bodinya yang seperti itu, wow !

“Sunny, bagaimana kalau kita jadi kekasih?” tanya Jerry.

“Apa?” tanya Sunny.

“Tapi kali ini untuk selamanya,” sambung Jerry. Dia tersenyum. Manis banget. Seketika otak Sunny bekerja. Apa maksud cowok ini ? Seriuskah ?bercandakah ? enggak ! Dia pasti bercanda.

“Wah, berat, nih. Kalau untuk selamanya sudah pasti berat. Kita harus puasa dulu terus sholat Istiqarah mohon petunjuk apa benar kita ini berjodoh. Iya, nggak ?” seloroh Sunny.

Jerry memandang hampa. Sunny pun ragu dengan keputusannya yang menganggap Jerry hanya bercanda. Sebenarnya dia bercanda apa enggak, sih ?

Jam weker berbunyi. Ya ampun, jam enam pagi. Padahal hari ini dia janji sama Indra untuk jadi dosen tamu di kampusnya  dulu. Mana mimpi kaya gitu, lagi. Kenapa, sih peristiwa dua belas tahun yang lalu selalu saja mincul di mimpinya ?

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s