The Secret (Part 2)

“Charlie Bouwens? Ratu Media?”

Satu nama yang selalu didesiskan Nick Rothman. Apalagi saat Jack Hoebee mulai menjereng beberapa lembar foto di meja kaca depan sofa yang mereka duduki. Nick mengambil salah satu lembaran itu. Alis tebalnya tambah mengkerut melihat wajah cantik di foto itu.

“Charlie Bouwens,” sekali lagi dia mendesah.

“Ya, si ‘ratu media’,” respon Jack dengan senyum sinis. “Kau tak bisa merayunya, Nick. Dia benar-benar wanita baja.”

Lengkungan ‘devil’ segera tampak di bibir Nick. Jack ternyata mampu menyelami Nick luar dan dalam.

“Dulu dia seorang artis didikan Bouwens Manajemen. Sangat cerdas hingga mampu menjadi sutradara dalam beberapa film pendek. Puncak kariernya adalah saat dia membuka sendiri production house dan tanpa ada kontroversi dengan manajemen yang menaunginya. Kau tahu sendiri, kan… kadang manajemen begitu cerewet jika artisnya memulai bisnis sendiri.”

Penjelasan Jack dicerna baik-baik oleh Nick. Sungguh wanita yang fantastis, semua orang pasti berpikiran begitu.

“Karena kecerdasan dan selera yang sama pada seni, si ‘raja media’ sekaligus sineas senior-Williams Bouwens, tertarik padanya. Mereka menikah lima tahun yang lalu.”

“Hah! Jadi dia menuju puncak dengan menikahi kakek-kakek lumpuh?” seringaian sinis tampak kentara di wajah Nick.

“Terserah apa katamu,” Jack mendesah sesaat, “setidaknya dalam empat tahun terakhir ini, dia adalah  analis film yang ditunjuk menjadi juri di festival, dan selama empat tahun itu pula….” Jack membentuk garis mendatar di lehernya, “Kariermu ‘stage on the midle’.”

“Hmm, Charlie Bouwens, si ‘ratu media’,” desis Nick. Matanya berkilat bagai elang yang ingin menyambar mangsa. Tiba-tiba dia teringat pada Jessica. Wanita itu berjanji akan menelphonenya mengenai hasil penjurian. Dia sudah tak sabar menunggu deringan telephon.

Nick merogoh HP di saku celananya. Sesaat dia memencet nomor Jessica yang ter’save’ di kontak list. Suara mendayu Jessica terdegar kemudian, “Hello, Sayang!”

Tenggorokan Nick langsung tersedak. Sungguh dia enggan mengulang keintiman dengan Jessica. “Kau berjanji memberi tahu hasil penjurian,” tidak ada lagi basa-basi Nick untuk Jessica.

Wanita di balik telephone itu cukup tanggap dengan isyarat dingin Nick. Actor Nick Rothman selalu dikelilingi wanita cantik, Jessica sadar betul, dirinya salah satu wanita semalam Nick. Dia mendapat kepuasan, Nick mendapat tambahan nilai bagi filmnya yang menurut Charlie Bouwens kurang bermutu. Nothing to lose here!

“Well, agak alot di sini, Sayang. Charlie bilang filmmu tahun ini bahkan lebih buruk dari tahun yang lalu.”

Nick langsung geram. Tangannya meremas foto-foto Charlie Bouwens di meja kaca.

”Dia juga bilang kau terlalu memaksakan diri menjadi sutradara sekaligus actor di film ini,” Jess agak berbisik di sini. Nick agak terheran, “Brengsek! Tahu apa dia tentang film! Hanya sutradara film pendek dan indy movie saja sudah belagu!” teriak Nick.

Jack terkejut mendengar semua itu. Dia tidak menyebut tentang indy movie sebelumnya.

“Wow, Take it easy, handsome. Kau lupa, Charlie Bouwens pernah menyutradari ‘long movie’ dan film itu tembus sebagai wakil korea di festival film asia.”

Nick Rothman bersungut-sungut merasa diingatkan. Sekali lagi Charlie Bouwens lebih unggul darinya.

“Aku tutup dulu telephonya, Nicky Sayang… . Kau akan tahu hasilnya secara resmi besok malam,” suara menggoda Jess mengakhiri telephon.

“Halo! Halo!” Nick seakan tidak terima Jessica menutup telephone. “Sial!” teriak Nick sambil membanting telephonnya yang malang.

—————————– THE SECRET—————————–

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

Malam puncak festival film korea tiba. Pekerja-pekerja seni berlenggak-lenggok di atas red carpet. Kegamloran yang begitu kentara. Semua tahu posisi masing-masing. Beberapa artis yang masuk nominator tersenyum lebar, termasuk Nick Rothman. Lima kali dia masuk nominasi actor terbaik, dan film terbaik. Tapi empat kali dia gagal membawa tropi.

Para penduduk menyambut artis-artis mereka dengan teriakan histeris saat satu persatu dari pesohor itu turun dari mobil-mobil mewah mereka. jepretan kamera mengiringi senyum-senyum yang melengkung dari makhluk-mekhluk elok yang tenar itu, saling memamerkan busana yang pasti akan menjadi trend bahkan topic pembicaraan di media tahun ini. Siapakan artis dengan busana terbaik atau pun terburuk,  Biasalah, namanya juga dunia entertainment.

Para wartawan tak kalah tumpah ruah, meliput acara ini. Bahkan ada yang mewawancarai salah seorang  penonton. “Film apa yang anda unggulkan sebagai pemenang tahun ini?”

“The Secret-nya Nick Rothman!” jawab penonton yang diiringi teriakan histeris dari yang lain.

“Siapakah artis terbaik yang akan menang?”

Sekali lagi mereka menjawab, “Nick Rothman!”

Nick Rothman tersenyum sumringah melayani pertanyaan wartawan. “Apa harapan anda di festival ini?”

“Tentu saja film saya menang dan menjadi wakil Korea di festival internasional. Wish me luck”

“Well, Good Luck!”

Charlie Bouwens masih dalam perjalanan menuju acara yang berlangsung. Mobil yang ditumpanginya berjalan lambat mengingat antusiasme penduduk Seoul terhadap pagelaran itu. Supir pribadinya harus meningkatkan kewaspadaan terhadap jalan yang ramai. Sementara sang asisten menyusun pidato penyambutan yang harus disampaikan Charlie pada acara pembukaan. Tahun ini dia didapuk sebagai ketua dewan juri, sungguh penghargaan yang luar biasa dari pekerja-pekerja seni itu mengingat apresiasi dan kerja kerasnya selama ini.

Charlie mengamati perempuan yang tengah menyeberang jalan, saat mobilnya berhenti karena trafictlight menyala merah. Tampak perempuan itu kewalahan menggiring ketiga anaknya sedangkan perutnya yang buncit  harus disangga begitu. Dan Charlie menghela nafas karenanya. “Kenapa orang miskin malah selalu diberi banyak anak.”

Sang asisten, Robert Cassidy,  menoleh padanya dengan kening berkerut. Lalu menelusur pandang pada obyek pengamatan Charlie,”Maksud, Nyonya…. wanita itu?”  telunjuknya mengarah pada perempuan dan ketiga anak kecil yang rupa-rupanya berhasil menyeberang.

“Paoli Harris,” ujar Charlie.

“Nyonya mengenalnya?” sang asisten tambah heran.

“Selidiki ada dimana dia sekarang!” perintah Charlie yang tentu saja bagaikan palu pengadilan yang terketok bagi sang asisten.

Para wartawan sudah mengerubungi limousine Charlie Bouwens. Hasil penjurian benar-benar bisa tertebak. Film Nick Rothman, tak mungkin lagi mewakili korea di ajang internasional. Seakan tak puas, mereka ingin mendesak Charlie perihal alasan keputusan itu. Bukankah film Nick Rothman secara komersial mampu meraup jumlah penonton tertinggi? Bertengger di bioskop selama dua bulan berturut-turut.

Seketika Charlie Bouwens keluar melalui pintu belakang gedung opera, para kuli tinta itu langsung mendesaknya dengan berondongan pertanyaan. Tiga orang bodyguardnya begitu waspada. Membentuk barikade membentengi sang majikan.

“Nyonya Bouwens, apa yang mendasari gagalnya film Nick Rothman tahun ini.”

“Nyonya Bouwens, bukankah anda tahu, secara komersil film itu cukup berhasil di pasaran.”

“Nyonya Bouwens,…..

Charlie tersenyum tipis demi menanggapi semua pertanyaan itu. Langkah kakinya masih tenang menuju Limousin yang dibuka asistennya. Williams Bouwens, suaminya memang berhasil mendidiknya sebagai pribadi yang tak tertebak, tenang bagaikan air, tapi keras bagaikan karang.

“Nyonya Bouwens, sebagai seorang sineas, bagaimana bisa anda menilai film Nick Rothman adalah plagiat?”

Charlie langsung menoleh kea rah wartawan yang menanyai masalah itu. Kaki kirinya yang sudah bertengger untuk memasuki limousine ditariknya lagi. “Bukan filmnya yang plagiat, tapi ada salah satu soundtrack di film  itu  yang menyamai lagu dari Negara Indonesia lebih dari delapan bar,” jawabnya.

“Ngomong-ngomong soal plagiat, bukankah film anda enam tahun yang lalu juga dicap oleh kritikus film sebagai plagiat Twilight saga?”

Di sini Charlie mulai geram. “Yup, dan film itu tidak masuk festival, tapi apa hubungannya di sini? Saya menilai film yang masuk nominasi tahun ini. Kenapa bukan kalian saja yang menjadi analis film?”

“Charlotte Whitely!” seseorang tiba-tiba meneriakkan nama itu. Charlie masih bisa mendengar samar, rupanya suara segerombolan wartawan itu lebih mendominasi telinga Charlie.

“Charlotte Whitely!” panggilan itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas karena sang empunya suara lebih mendekat. Charlie menoleh, dan terperangah seketika.

Di undakan ambang pintu keluar gedung yang dia lewati tadi, berdiri angkuh sosok Nick Rothman, dengan wajah garang berkacak pinggang. Charlie ngedumel dalam hati, tidak seharusnya dia menoleh. Tentu saja para wartawan ikut menoleh.  Kening gerombolan kuli disket itu sudah terlipat semuanya. Charlotte Whitely?

Nick berjalan ke arah Charlie. Sudah sangat emosi dengan wajah memerah padam, hatinya berkecamuk. Merasa harga dirinya terinjak-injak. Seakan terhipnotis oleh tatapan sangar Nick, gerombolan itu membelah, memberi jalan padanya hingga dia bisa berdiri tegak di depan Charlie dengan gaya menakhlukkan musuh. Tak ayal tangannya menarik paksa lengan Charlie. “Ikut aku!” perintahnya sambil menyeret Charlie.

Charlie meronta. Wartawan-wartawan pada kasak-kusuk.  Salah seorang bodyguard bertindak, mencengkeram tangan Nick hingga terlepas dari lengan Charlie lalu memelintirnya ke belakang. “Sial!” umpat Nick, tubuhnya sudah membungkuk, ditekan tubuh kekar sang bodyguard

“Masuk ke mobil, Nyonya,” kata Robert.

Charlie menurut. Situasi sudah di luar kendali. Jepretan kamera menghiasi langkahnya menuju limousine. Nick masih meronta, berusaha melepaskan diri dari kungkungan bodyguard. Tidak bisa! Charlie idak boleh terlepas lagi.

“Ikut aku atau semua usaha kerasmu sia-sia!” masih dalam keadaan membungkuk, Nick mengancam. Charlie berbalik perlahan. Suara nafas Nick yang terengah-engah terdengar jelas karena wartawan tiba-tiba hening. Mata elang itu masih memandang garang, seakan Charlie mangsa yang layak diincar. Terhukum yang musti masuk ke sangkar peradilan. Nick menyeringai saat Charlie melangkah pelan ke arahnya. Ancaman yang sungguh sempurna. Nick tahu betul ketakutan di diri Charlie Bouwens.

“Lepaskan dia!” perintah Charlie pada bodyguard yang mengkungkung Nick.

“Tapi, Nyonya.”

“Lepaskan kataku!”

Sang Bodyguard melepaskan Nick dengan tidak rela. Charlie berdiri dengan anggun di depan Nick yang tampak mengibas-ngibaskan jas yang kusut. Sedapat mungkin dia menampakkan muka datarnya kembali. Nick menggandeng tangannya, sekali lagi memaksa, tapi kali ini Charlie lebih tenang dan menurut.

“Nyonya…,” Robert memanggil dengan penuh kekawatiran. Bahkan para bodyguard membentuk barikade menghalangi langkah Nick. Charlie mengitarkan pandangan pada mereka, lalu menoleh pada Robert. “Aku akan memberi tahu dimana harus dijemput nanti.”

Robert menyerah. Dengan anggukan kepala memberi isyarat pada bodyguard-bodyguard yang membentengi langkah Nick. Alis Nick terangkat licik. Dengan mantap menarik Charlie ke arah mobilnya yang terparkir. Dihempaskannya tubuh Charlie ke dalam mobil, lalu menutup pintunya keras-keras. Bahkan masih dengan emosi tinggi menuju kursi kemudi dan menjalankan kendaraan itu dengan kecepatan yang langsung tinggi.

Dan para kuli tinta itu… terbengong tanpa ekspresi menikmati film action dadakan. Charlotte Whitely? Usaha keras?

BERSAMBUNG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s