LIFE FOR THE PAST (Reuni)

REUNI

(Part1)

Apa yang terpikir saat menghadiri reuni? Bergosip? Saling memamerkan keberhasilan masing-masing atau mengenang masa lalu.Waktu  seakan berputar ke belakang.

“Aneh, sebenarnya apa yang Sunny cari,ya?Kenapa dia tidak segera menikah? ”tanya Shireen sambil mengelus kandungannya yang telah jalan 8 bulan. Keempat temannya manggut-manggut. Alunan musik semakin manggentak. Lagu roman picisan Dewa 19 yang sudah out of date jadi seperti lagu baru karena audiens adalah orang-orang yang pernah muda waktu lagu itu diriSun.

“Mungkin cowok-cowok minder mendekati.” timpal Jerry.

“Sebenarnya siapa yang kalian bicarakan?” Beb, istri Jerry angkat bicara.

“Sunny Natalia, Asisten Apotekerku waktu di Cipta Farma,” jawab Jerry. “ Kamu masih sering kontak ma dia,Juli?”

“Begitulah, katanya dia mau mendirikan hotel lagi di Papua.”

“Memangnya dua hotel disana belum cukup?” kritik Shireen.

“Tahu, deh. Namanya juga orang kebanyakan duit,” kata Juli. Mereka sama-sama nyengir. “Ngomong-omong  reuni tahun ini dia datang, Nggak?” tanya Shireen.

“Di telpon dia bilang mau datang,” jawab Juli.

“Roman Picisan” berlalu. Hadirin bertepuk tangan disambut lagu “Dan” Sheila on 7. Lantai dansa penuh sesak.

Di luar gedung, seorang wanita tampak terburu-buru menuju lokasi dan terhadang oleh panitia di depan pintu masuk. Dia mencari-cari sesuatu di dalam tas,”Undangan reuni” Dia menunjukkannya ke pada panitia,”Sunny Natalia !”

“Sunny Natalia?” tanya salah seorang panitia.

“Iya. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Kenalkan, nama saya Cein, saya mahasiswa tingkat satu,” panitia itu memperkenalkan diri,” Saya sering mendengar nama anda dan saya kagum. Seorang apoteker wanita yang memilih melaksanakan MBA di Papua dan akhirnya sukses mendirikan hotel disana.”

“Ah, jangan terlalu memuji.”

Cein memandang takjub. Setengah melamun. Sunny melambai-lambaikan tangan tepat di depan mata Cein, “Maaf, bisa berikan pin saya.”

“Oh, maaf. Ini!” Cein menyerahkan pin tanda masuk.

Sunny masuk diiringi tatapan kagum Cein. Suasana meriah segera menyambut apalagi ditambah keempat temannya  yang sudah menunggu sedari tadi dan tentu saja menggosipkannya.

“Halo cewek Papua. Gimana kabarmu?” sapa Shireen.

Sunny mendekati empat sekawan itu dan menjawab, “Apa umur 36 masih bisa disebut cewek?”

“Bisa saja. Kamunya belum nikah,” kata Juli.

Tiba-tiba saja Jerry angkat bicara,”Sun, kamu mau, nggak aku kenalkan dengan temanku yang…

“Eh, itu Indra. Aku kesana dulu, ya. Daagh!” Sunny sengaja menghindar. Tinggallah mereka berempat yang melongo saat Sunny berlalu.

“Hmm. Mulai deh. Tuh anak menghindar jika diajak omong soal nikah,” seloroh Shireen.

“Sebenarnya kenapa, ya? Sunny itu kayaknya anti banget jika diajak bicara tentang pernikahan,”Jerry jadi bertanya-tanya sendiri.

……………………………………

Dengan sedikit mengantuk, Sunny mengendarai mobil membelah keramaian malam kota Solo. Solo telah berubah. Beberapa Mall berdiri megah di pusat kota. Sungguh berbeda dengan 12 tahun yang lalu, saat dia memutuskan merantau ke Papua. Dia ingat, saat itu dia begitu kecewa dengan keputusan Jerry yang menikahi Beb. Jerry, cowok  itu begitu dalam menorehkan kenangan di kehidupan Sunny. Sunny tertarik padanya sejak pertama mereka bertemu. Apalagi pada waktu itu, posisi Sunny sebagai Asisten Apoteker di Apotek Cipta Farma dan Jerry sebagai Apotekernya.

 Di suatu sore Sunny mengungkapkan perasaannya itu dengan bercanda. Dan betapa terkejutnya Liasa mendengar jawaban Jerry yang menganggap Sunny hanya sebagai teman bahkan adik.

Hanya sebagai adik? Jerry, tahukah kamu apa yang terjadi padaku setelah itu? Aku harus menekan perasaan itu bulat-bulat. Berusaha menganggap segalanya tidak pernah terjadi. Aku hancur, Jerry.Sangat hancur. Dan mendengarmu menawarkan pria lain tadi malam. Membuatku semakin hancur.

Aku menyambut niat baikmu yang menganggapku sebagai adik. Bahkan pada waktu itu, aku menyatakan padamu terserah anggapanmu padaku, apakah kau menganggapku sebagai adik, teman bahkan saudara pun terserah. Aku berpaling. Berusaha menjalani sore itu dengan tidak menangis.

Beturan keras terjadi. Sunny tersentak. Sesaat dia berusaha mengatasi laju mobil. Ternyata mobilnya menabrak mobil di depannya. Pengemudi mobil depan turun. Sunny masih saja duduk di belakang kemudi mempersiapkan pembelaan saat orang itu mendekatinya.

“Maaf, ya mbak. Saya yang salah karena berhenti mendadak. Entah kenapa tiba-tiba mobil saya macet, “kata orang itu. Sunny memandangi wajah orang itu dan terperanjat karena orang itu adalah …Jerry.

“Sunny!” pekik Jerry. Sunny heran. Dia segera turun mobil. Untung saja kejadian itu berlangsung di jalan yang tidak begitu padat.

“Mobilmu mogok?” tanya Sunny. Jerry mengangguk. Mereka bersama-sama menuju mobil Jerry. Anak dan istri Jerry melongokkan kepala ke jendela mobil.

“Aku tahu bengkel di sekitar sini, kebetulan yang punya bengkel temanku,” kata Sunny. “Kalau kalian mau, aku telephon dia biar kesini dengan mobil derek. Lalu kalian ikut mobilku saja. Sepertinya kita searah.”

“Gimana, Ma?”

“Terserah Papa aja, deh. Lagipula anak-anak sudah mulai ngantuk.”

Keluarga itu akhirnya menumpang mobil Sunny setelah memastikan mobil mereka bdiderek dan Jerry yang mengemudi. Anak-istrinya tertidur di kursi belakang, sementara di sebelahnya, Sunny sibuk dengan pikirannya sendiri yang merasa ini semua kebetulan yang aneh.

“Sepertinya orang-orang di belakang sudah pulas,” kata Jerry memulai pembicaraan.

“Ya,” jawab Sunny kurang antusias.

“Ini semua salahku. Aku yang ngotot mengajak anak-anak, padahal Beb melarang.”

Sunny tersenyum.

“Ya beginilah, Sun. Kalau berumah tangga, kadang harus ribut untuk hal-hal kecil, tapi semua itu selesai setelah salah satu mengalah.”

Jerry terkekeh. Sunny mengulum senyum.

“Bagaimana menurutmu acara reuni tadi?” tanya Jerry.”Lumayan,” jawab Sunny.

“Aku jadi geli melihat teman-teman sekarang. Badan mereka kelihatan tambun semua. Sudah makmur kelihatannya. Oh, iya. Kenapa kamu menghindar waktu kita tadi menyinggung pernikahan?”

“Aku tadi ingin membicarakan sesuatu dengan Indra jadinya…”

“ Tidak tadi aja kamu melakukan hal itu. Sepertinya kamu alergi dengan kata menikah.”

Sunny memutar otak. Pertanyaan Jerry bagaikan peluru yang siap mengkoyak. Tidak mungkin aku mengatakan yang sesungguhnya padamu, Jerry. Kau lihat, andai saja keadaan berbalik, mungkin saja akulah yang sekarang ini duduk di bagian belakang bersama anak-anak. Kalau saja keadaan tidak seperti ini dan anak-anak itu adalah anak-anak kita. Ya, kalau saja wanita yang kaunikahi adalah aku dan bukannya Beb. Mungkin saja saat ini aku tidak perlu susah-susah memikirkan jawaban dari pertanyaanmu itu.

Jerry merasakan suasana begitu hening, “Sunny, kau mengatakan sesuatu?”

Sunny tergagap,”Tidak, Maafkan  aku. Aku kurang konsen, maklum agak sedikit ngantuk.”

“Tidurlah, setelah sampai nanti, aku bangunkan, biar kamu sedikit fres waktu nyopir.”

Sunny mengangguk. Dia berusaha memejamkan mata namun pikirannya menerawang. Busyet! Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku tidak merelakan Jerry bahagia dengan keluarganya.

TBC PART 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s