The Secret (part 1)

“Apa-apaan ini?” teriak pria itu kesal sambil menghempaskan tabloid yang menjadi sumber amarahnya. Artis kebanggaannya bikin ulah lagi. Wajah tampan Nick Rothman di depannya, sangat membuatnya muak kini. Dan anehnya aktor yang tengah naik daun itu bersiul-siul cuek, duduk dengan bersilang kaki mengitari pajangan demi pajangan di dinding kantornya.

“Sudah kubilang jangan ada scandal lagi!” tandas pria itu, Jack Hoebee, sang manajer Nick Rothman. Muka Nick yang benar-benar bikin eneg itu malah menyeringai. Dengan tanpa bersalah membela diri.

“Itu caraku menghormati lawan main, tahu?”

Oh, GoD! Ingin rasanya memukul makhluk menyebalkan ini. Tak ada hal yang bisa dilakukan Jack.  Belum selesai dengan gosip berkencan dengan mahasiswi, Nick kini menambah sederetan antis dengan statement bodohnya itu.

“Lalu gosipmu dengan mahasiswi itu? Kau benar-benar kehilangan kariermu jika begini terus-terusan!” cerca Jack. Setiap kali mendapat proyek baru, selalu saja ada skandal di kehidupan Nick.

Sekali lagi Nick tak bergeming, “Bukankah ada kau yang selalu bisa menangani masalah seperti ini?”

Oh, Damn!

—————————–

Hari sudah sangat malam, tentu saja wanita paruh baya itu begitu kuatir. Putri satu-satunya belum juga pulang. Dan berita yang baru saja diterimanya benar-benar membuatnya sesak napas. dia tahu kalau putrinya, Paoli, berkencan diam-diam dengan Nick Rothman, dan tak disangkanya, manajemen Nick Rothman menyangkal semua itu. bagaimana perasaan Paoli sekarang? Tentu sangat hancur.

Sudah berkali-kali dia mengingatkan Paoli keburukan dari Nick Rothman , tapi anak itu terlalu dibutakan cinta. ketenaran Nick memang mampu membuai mahasiswa sederhana macam Paoli.

Hatinya lega saat terdengar suara pintu depan terbuka. Itu pasti Paoli. Dan tebakan itu benar adanya. Disambutnya sang putri dengan keriangan hati.

“Oh, Sayang…, akhirnya kau datang juga. Sudah makan?” sapanya ketika Paoli terduduk lesu di sofa ruang depan. Sedapat mungkin dia menutupi kekawatiran dengan bersikap riang di depan Paoli. merangkul Paoli dengan hangat seperti sebelum-sebelumnya. tak disangkanya Paoli menghempaskan rangkulannya.

“Kenapa Ibu selalu gembira?” kata Paoli sengit.

“Paoli?” dia memanggil dengan tatapan penuh tanya.

“Ibu seorang janda! Ibu membesarkanku tanpa pria. Seharusnya ibu tidak seriang itu!” Paoli berteriak-teriak tak karuan.

Sang Ibu tahu dia sedang terpukul. Beberapa waktu yang lalu, Paoli bagaikan ratu, merasa berhasil menggaet aktor papan atas Nick Rothman, bahkan bermimpi seandainya dia Cinderella yang tersunting pangeran. Tapi kenyataannya berbading terbalik, bukan masalah manajemen sialan itu, bahkan Nick pun melepaskan hubungan. Paoli hanya bisa menangis sekarang. Entertainment yang penuh kemunafikan.

Paoli mendongak, menatap wanita yang telah melahirkannya itu dengan air mata yang masih terburai. Sang Ibu menatapnya prihatin. Dengan terbata-bata dia berucap,”Ibu…, aku hamil dan Ayah anak ini tak mau bertanggungjawab. Bagaimana menurutmu?”

Dunia serasa runtuh bagi ibu dan anak itu. Oh, IT’S ENOUGH !

—————————– THE SECRET—————————–

Theme Song :

I LOVE YOU THIS MUCH

MOUTH & MACNEAL

It’s enough to be needed is enough to be you

Through the holes in your head

The light is slowly coming through

All that is taken is for love to show its face

And if I ever get it on with you, then you lead the way

It’s enough to be with you, it’s enough to be there

And the words that you sent on getting through to me you care

Oh, what I give to come to talk with what you got

And if it means signing document then it matter’s not

#Oh, now and then I see myself for what I really am

Oh, but if I keep this cover up then I’ve got it in the can

But if it means that I ain’t gonna see you anymore

Take and shut up for a power stop to nail up all our doors

If I can be part of you that I don’t have to leave

Cause other than the love of mine I’ve nothing else to give

#Oh, now and then….

And if one night I left alone with nothing else to do

I just sit at the the piano singing song that speak for you

Yes, I might get lonely and completely out of touch

But I’ll sacrifice my friend because I love you this much

I’ll just sacrifice my friend because I love you this much

LIMA TAHUN KEMUDIAN

“Bagaimana menurutmu, Sayang?” tanya Charlie Bouwens pada suaminya.

Williams Bouwens mematikan DVD Player, lalu menggerakkan poros stick yang mampu membalikkan kursi roda yang selama sepuluh tahun ini menjadi pengganti kakinya yang lumpuh. Charlie kini mampu menatap wajah suaminya. “Menurutku film ini sangat buruk!” kata Williams.

Charlie beringsut ke sofa. Memberikan gerakan yang anggun, agak menarik rok pensilnya, duduk dengan punggung tegak bersilang kaki, “Aku juga berpikr begitu,” ucap Charlie. “Film ini tak layak mewakili Korea di ajang International Movie Festival.”

Williams tersenyum samar. “Kita memang punya penilaian sama. Kau benar-benar mirip Andrea.”

Mendadak Charlie menjadi kesal,”Kau masih juga mengingat wanita tua itu!” cerca Charli sengit.

“Kenapa? Kau cemburu?” Williams Bouwens hanya menggoda. Mereka berdua sama-sama tahu di balik pernikahan ini.

“Jangan meloncarkan guyonan yang tidak lucu!” omel Charlie sambil berdiri tegak.

“Hal yang tidak lucu menurutmu adalah keuntungan TBS,” sindir Will. Charlie menghela nafas,”Bagus jika kau sadar!” teriaknya dengan menunjuk muka Will lalu meninggalkan pria lumpuh itu sendirian di ruang kerjanya.

Will menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu mendongak ke arah lukisan wajah Andrea Bouwens, istrinya yang meninggal tujuh tahun yang lalu, yang tergantung di atas perapian.

“Semangat dan selera Charlie mirip denganmu, Sayang.” Lukisan itu seolah benda hidup yang bisa diajak ngobrol bagi Will.

“Tapi benar-benar disayangkan, kau telah membawa cintaku ke alam kubur,” sekali lagi Will tersenyum pada lukisan itu, lalu memberikan kissbye seromantis mungkin.

———————————————–

Keromantisan benar-benar merambat di sebuah apartemen mewah Jessica Harris. Nick Rothman benar-benar membuatnya gila. Cinta semalam yang membuahkan perasaan yang meletup-letup. Image ‘HOT ACTOR’ yang ditujukan pada pria itu bukanlah isapan jempol. Gaya bercinta Nick memang berbeda.

Jessica terbaring lemah sekarang, mengatur nafas yang terpacu kerana nafsu beberapa menit tadi. Hanya selembar selimut menutupi tubuh polosnya. Sedangkan Nick mulai duduk menyandar, meraih rokok dan pematik api di meja kecil dekat ranjang. Seperti halnya sehabis makan, Nick Rothman juga merokok setelah bercinta. Selimut yang dipakai bersamaan dengan Jess hanya menutupi bagian bawah tubuhnya, dada telanjangnya yang berpeluh tampak berkilat tertempa temaram lampu.

“Bagaimana hasil penjurian?” tanya Nick sambil menjepitkan rokok di mulutnya, lalu menyalakannya. Bau nikotin mulai memenuhi udara.

“Kau tahu bukan aku saja yang menjadi juri di festival,” jawab Jess. Nafasnya sudah mulai terkendali, mencondongkan tubuhnya pada Nick. Tangan lentiknya mengelus paha Nick, mencoba membangkitkan hasrat Nick lagi.

“Kau bisa memastikan filmku yang menjadi wakil di festival internasional?” tanya Nick. Benar-benar kemuraman dunia entertainment.

“Hmm, Aku harus meyakinkan juri yang lain untuk itu, Sayang,” desah Jess. Nick menghisap rokoknya pelan, lalu mehempaskan uap bernikotin itu di udara. Sesaat dia menggelinjang. Wanita gila itu mengulum daerah sensitifnya. “Jess… Hen… hen..tikan.. Oh, Shit!”

Nick menyerah. Juri perawan tua itu benar-benar liar. Untuk sementara Nick melayaninya… ‘lagi’ Sampai puas dan sama-sama terkapar lagi.

“Lawanku sangat berat di penjurian itu,” ujar Jess di sela-sela nafasnya. Nick meringkuk membelakanginya, tapi telinganya masih awas mendengarkan perkataan Jess berikutnya, “Ketiga juri sudah sepaham denganku, tapi… jika si ‘ratu media’ itu menolak filmmu…, maka ketiga juri itu mungkin sepaham dengannya.”

Kening Nick mulai berkerut,” Ratu media? Memangnya siapa, dia? Begitu berpengaruhnya,” Nick mulai sinis saat berbalik menghadap pada Jess.

“Charlie Bouwens,” jawab Jess.

Alis mata Nick semakin bertaut. “Charlie Bouwens? Ratu Media?”

————————–BERSAMBUNG———————-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s